Raja Pedang (Jilid ke-22)

Souw Kian Bi membanting-banting kaki. “Apa kau bilang?” Cepat tubuhnya berkelebat dan lari memburu ke tempat ditahannya dua orang anak itu. Yang lain, termasuk orang-orang Hoa-san-pai, ikut pula mengejar ke belakang.

Ke manakah perginya Kwa Hong dan Thio Bwee? Betulkah dua orang anak perempuan yang sudah ditotok tak berdaya dan dikurung dalam kamar tahanan itu dapat melarikan diri? Memang kenyataannya betul demikian. Akan tetapi tentu saja ada orang menolongnya. Penolong ini bukan lain adalah Beng San yang diam-diam terus mengikuti larinya Souw Kian Bi sampai memasuki perkemahan pasukan Mongol. Menggunakan, kecepatan dan keringanan tubuhnya, dilindungi pula oleh gelapnya malam, Beng San berhasil membobol pagar yang mengelilingi perkemahan tanpa dilihat oleh para penjaga. la berhasil pula mendengarkan pesan Souw Kian Bi kepada para penjaga. Mendengar bahwa bagian belakang perkemahan itu tidak terjaga kuat, dia mendapat pikiran untuk menolong dua orang nona kecil itu melarikan diri melalui belakang perkemahan.

Dapat dibayangkan betapa herannya hati Kwa Hong dan Thio Bwee ketika mereka berada di dalam kamar tanpa dapat bergerak itu, tiba-tiba mereka melihat munculnya Beng San! Anak ini memberi tanda agar supaya Kwa Hong dan Thio Bwee jangan mengeluarkan suara. Alangkah lucunya. Tak usah dilarang sekalipun memang dua orang nona cilik itu tak dapat bersuara lagi. Lalu Beng San memberi isyarat supaya mereka ikut, akan tetapi bagaimana mereka bisa ikut kalau mereka tidak mampu bergerak?

Melihat keadaan mereka, Beng San curiga. la sudah mempelajari secara teliti tentang perjalanan darah ini, dahulu diajar oleh Lo-tong Souw Lee. Karena keadaan mendesak, tanpa ragu-ragu, dia mendekati Kwa Hong dan meraba lehernya. Benar saja dugaannya, Kwa Hong telah terkena totokan yang luar biasa. Beng San mengeluh. Biarpun dia sudah mempelajari tentang jalan darah, namun dia sendiri belum bisa menotok, apalagi membebaskan. Di luar kemah terdengar suara serdadu-serdadu tertawa. Beng San gugup dan tanpa berpikir panjang lagi dia lalu menangkap dua orang nona cilik itu dan memanggul tubuh mereka di afas pundaknya, satu di kanan dan satu di kiri! Dengan beban ini dia menyelinap keluar melalui jalan belakang. Tanpa ia sadari sendiri, Beng San telah memiliki tenaga yang luar biasa sehingga memanggul dua orang anak perempuan itu seperti tidak terasa sama sekali olehnya, begitu ringan!

Benar sekali seperti yang diperintahkan oleh Souw Kian Bi tadi, jalan belakang ini sama sekali tidak terjaga. Mula-mula Beng San merasa girang sekali dan juga heran mengapa serdadu-serdadu itu begitu bodoh. Akan tetapi baru saja dia lari sejauh satu li, dia kaget sekali karena di depannya terbentang rawa yang amat luas la mencari jalan agar jangan melalui rawa, akan tetapi setelah berlari ke sana ke mari, dia tidak dapat menemukan jalan yang lebih baik. Selain melalui rawa, dia terhadang oleh jurang yang tak mungkin dapat dilewati saking lebarnya, juga menghadapi dinding karang yang menjulang tinggi. Tanpa membawa beban belum tentu dia akan dapat mendaki dinding karang ini dengan selamat, apalagi memanggul dua orang anak itu. Sungguh berbahaya.

“Celaka…..” pikir Beng San. la menjadi serba salah. Kembali tak mungkin. terus juga bagaimana? Akhirnya dia menjadi nekat. Hati-hati dia memasuki rawa yang gelap dan mengerikan itu, dengan airnya yang diam bercampur tanah dan rumput. Hanya suara katak yang memenuhi rawa itu terdengar amat menyeramkan. Ia menjadi lega ketika kakinya menginjak tempat dangkal, hanya selutut dalamnya. Ia melangkah maju, hati-hati sekali karena dasar rawa itu penuh batu licin. Sampai sepuluh Jangkah lebih dia selamat karena tempat itu dangkal. Tiba-tiba dia tergelincir batu yang jicin. Beng San mengerahkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuh. Ia selamat tidak sampai roboh, akan tetapi dua orang anak perempuan yang dia panggul menjadi basah dan kotor oleh lumpur. la berjalan terus, maju bermaksud menyeberangi rawa. Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan mengapa para serdadu sengaja tidak menjaga tempat itu. Memang bukan main sukar dan berbahayanya jalan ini. Segera dia tiba di bagian air yang berlumpur dan tempat pun tidak sedangkal tadi, sudah mencapai ping-gangnya. Sukar sekali untuk maju melalui lumpur yang ditumbuhi rumput ini, apalagi di bawah amat licinnya. Yang paling mengerikan adalah kalau memikirkan apa isi rawa-rawa itu, binatang mengerikan apa yang berada di bawah rumput dan di dalam lumpur itu. Akan tetapi Beng San tidak ingat akan ini semua, melainkan melangkah terus maju dengan tabah.

“Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri!” Tiba-tiba Kwa Hong yang dipanggul di pundak kanannya bergerak dan berseru. Juga Thio Bwee di atas pundak kirinya mulai bergerak-gerak.

“Syukur kalian sudah bisa bergerak lagi,” kata Beng San sambil menurunkan Kwa Hong dari pundaknya. Akan tetapi karena tak dapat bergerak, tubuh Kwa Hong masih lemas dan ketika ia diturunkan berdiri di dalam air berjumpur, hampir saja ia terguling roboh kalau tidak cepat-cepat disambar pinggangnya oleh Beng San. Thio Bwee juga minta turun dan diturunkan dengan hati-hati.

“Beng San, kau hendak membawa kami ke mana?” Kwa Hong bertanya, suaranya agak marah karena tadi ia dengan jengkel dan mendongkol sekali melihat tanpa berdaya betapa tubuhnya dirangkul dan dipanggul oleh bocah ini. Tentu saja ia sudah marah dan memaki-makinya kalau saja tidak sedang berada dalam keadaan seperti ini. Malah diam-diam ia merasa bersyukur bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Mengapa bukan bibi gurunya atau kakek gurunya, atau setidaknya mengapa bukan Kui Lok dan Thio Ki?

“Ke mana? Tentu saja pulang ke puncak Hoa-san. Kalau saja kita bisa melewati rawa-rawa yang berbahaya ini. Heee…… hati-hati, Nona Bwee.,…!”. Thio Bwee tergelincir dan lenyap dari permukaan air. Ternyata ia telah menginjak bagian yang amat dalam sehingga tak dapat dicegah lagi ia tenggelam ke dalam air berlumpur itu!

“Celaka!” Beng San cepat menubruk maju dan dia pun kena injak tempat yang dalam itu sehingga dia pun lenyap dari permukaan air. Kwa Hong meng-gigil ketakutan dan ingin dia menjerit-jerit kalau saja tidak teringat bahwa dia sedang melarikan diri dari musuh. la tidak berani sembarangan bergerak, takut mengalami nasib seperti Beng San dan Thio Bwee, akan tetapi hatinya takut bukan main, gelisah melihat hilangnya dua orang teman itu tanpa dapat me-nolongnya sama sekali. Keadaan amat gelap dan Kwa Hong sudah mulai me nangis. Tiba-tiba air di depannya ber-gerak dan muncullah kepala Beng San. Anak ini berenang ke tempat dangkal di dekat Kwa Hong sambil menyeret Thio Bwee yang sudah pingsan. Cepat-cepa Kwa Hong menyusuti muka Thio Bwee yang penuh lumpur itu. Setelah dipijat-pijat pundaknya dan digoyang-goyang akhirnya Thio Bwee siuman kembal Anak ini menangis dan berkata ketakutan.

Bawa aku ke darat..,,. bawa aku pulang…..” la menangis ketakutan. Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami kejadian yang begini menakutkan. Siapa orangnya yang tidak takut kalau melihat sekeliiingnya hanya air lumpur ditumbuhi rumput, gelap pekat dan di sekeliling situ, tak diketahui dengan pasti di mana terdapat lubang-lubang jebakan yang amat dalam?

“Lebih baik kalian kupanggul seperti tadi. Biarlah aku yang mencari jalan keluar dari rawa ini…..” kata Beng San setelah berhasil membersihkan lumpur dan mulut, hidung dan matanya.

Saking takutnya dan mengharapkan pertolongan, Thio Bwee tanpa ragu-ragu lagi laju merangkul Beng San sambil berkata, “Tolonglah, Beng San….. tolong keluarkan aku dari tempat neraka ini…”‘ , la menurut saja ketika dipanggul oleh Beng San, tidak seperti tadi, sekarang disuruh duduk di atas pundak kirinya. Thio Bwee agak besar hatinya setelah duduk di pundak itu, duduk sambil merangkul kepala Beng San, masih menggigil ketakutan.

“Jangan khawatir, Nona Bwee. Memang aku datang untuk menolong kalian,” katanya, suaranya dibikin setenang mungkin, akan tetapi sebetulnya dia sendiri masih sangsi apakah dia akan berhasil menyeberangi rawa-rawa yang amat ber-bahaya ini. “Nona Hong, kau pun sebaiknya duduklah di pundakku yang sebelah ini.” la pikir, lebih baik dua nona muda itu duduk di pundaknya agar jangan sampai tergelincir dan masuk ke dalam lubang dalam seperti yang dialami Thio Bwee tadi. Kalau terjadi demikian, amat berbahaya. Tadi secara kebetulan saja di dalam air keruh itu dia dapat menangkap tubuh Thio Bwee, kalau tidak, bukankah nyawa nona Thio itu akan terancam bahaya maut?

“Apa…??” Tidak sudi aku!” bentak Kwa Hong yang sudah kumat lagi kegalakannya. Akan tetapi agaknya ia segera teringat bahwa Beng San berusaha menolongnya, maka segera disambungnya dengan suara yang tidak galak lagi, “Aku bisa jalan sendiri dan pula … memanggul Enci Bwee saja sudah berat, aku tidak mau memberatkan engkau lagi …”.

Di dalam gelap Beng san tersenyum. la tidak marah karena memang dia sudah mulai mengenal watak Kwa Hong, malah watak semua yang berada di puncak Hoa-san. Biarpun Kwa Hong tidak mau dipanggul, malah tidak mau digandeng tangannya, namun dia selalu siap menjaga dan melindungi gadis galak ini.

“Baiklah sesukamu, Nona Hong. Mari kita maju lagi. Hati-hatilah…..” katanya sambil melangkah perlahan, meraba-raba dengan ujung kakinya sebelum menginjak agar tidak terjeblos ke dalam lubang dalam. Thio Bwee masih menangis kecil di atas pundaknya sambil memeluk lehernya, amat ketakutan dan kedingilnan karena ia tadi basah kuyup dari kaki sampai kepala.

Langit bersih dari awan. Bintang-bintang penuh bertaburan di langit biru, mendatangkan cahaya yang lumayan sehingga keadaan tidak segelap tadi. Tiga orang anak itu dapat melihat ke depan, sungguhpun tidak amat jauh, namun cu-kuplah untuk mengurangi keseraman. Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh.

“Aduh kakiku….. apa ini gatal-gatal?” la mengangkat kaki kirinya ke atas sampai melewati permukaan air dan….. dalam cuaca yang remang-remang itu terlihatan seekor lintah menempel pada betis kakinya, mengisap darahnya melalui kain celana yang tipis. Lintah itu gemuk bulat, agaknya sudah banyak juga darah Kwa Hong diisapnya.

“Hiiui….. apa itu…..? Hiiiii!” Kwa Hong menggigil saking jijiknya dan ia menubruk Beng San, merangkul lehernya dengan ketakutan.

Beng San tahu apa adanya binatang itu. “Tenanglah, Nona Hong. Itu adalah lintah, binatang penghisap darah. Dia sudah penuh darah, kalau sudah kenyang akan terlepas sendiri…..”

Hampir pingsan Kwa Hong oleh kengerian dan kejijikan. “Buanglah….. lepaskan dari betisku….. huiii…..”

“Kalau diambil secara paksa, kulit betismu akan terluka, Nona. Biarkan sebentar.” Tanpa ragu-ragu Beng San memegang kaki Kwa Hong yang diangkat itu, melihat lintah dari dekat. Betul saja dugaannya, lintah itu segera melepaskan kaki Kwa Hong karena sudah kekenyang-an, jatuh ke dalam air dan lenyap. Kwa Hong meremang bulu tengkuknya, ia ketakutan sekali dan tanpa diminta lagi ia segera meloncat ke pundak Beng San, duduk di atas pundak kanan, tangannya memegangi leher.

“Binatang celaka, binatang menjijikkan, terkutuk…..” ia memaki-maki, tapi ia masih menggigil ketakutan.

Beng San merangkul kaki dua orang nona itu agar tidak jatuh dari atas pundaknya, kemudian dia melangkah maju lagi. Setelah dua orang nona itu duduk di atas pundaknya, dia lebih lancar bergerak maju, tidak usah menjaga orang lain di sisinya seperti tadi. Air sekarang sudah mencapai dadanya. Celaka, pikir Beng San. Kalau air itu makin dalam, bagaimana? Tentu saja dia dapat berenang, akan tetapi bagaimana dengan dua orang nona ini? Dengan berenang sukar kiranya membawa mereka itu. la memutar-mutar otak mencari akal untuk menghadapi kemungkinan ini. Begini saja, pikirnya, untuk sementara kutinggalkan dulu mereka di tempat yang tidak dalam, kemudian aku berenang melalui tempat dalam mencari tempat berpijak lain yang dangkal. Kemudian kubawa mereka seorang demi seorang menyeberangi ke tempat itu. Lalu pergi mencari lagi. Kukira dengan demikian akhirnya kita akan sampai juga ke seberang. la berbesar hati dan melanjutkan langkahnya, hati-hati agar jangan sampai tergelincir ke dalam lubang dalam.

“Hong-jiiiii…..!”

“Bwe-jiiiii…..!”

Suara panggilan ini terdengar keras, bergema sampai ke tengah rawa.

“Ayah memanggilku!” seru Kwa Hong gembira.

“Itu suara ayahku!” Thio Bwee juga berseru.

“Hong-ji! Bwee-ji! Kembalilah kesini, ayah kalian menanti di sini!” terdengar suara Sian Hwa yang tinggi nyaring.

“Ah, semua orang sudah menyusul di sana Beng San, hayo kita kembali saja. Ayah dan bibi sudah di sana, kita sudah aman sekarang,” Kwa Hong mendesak.

“Betul, hayo antar aku ke sana, Beng San. Ayah menanti di sana,” kata pula Thio Bwee dengan gembira. Hilangiah kekhawatiran dan ketakutan dua orang anak perempuan itu setelah mereka mendengar suara ayah mereka.

Beng San ragu-ragu. “Tapi….. apakah tidak lebih baik terus saja mendahului dan menanti di rumah ? Jalan kembali lebih jauh…..”

“Eh, kau berani membantah? Kalau tidak mau antar, biar aku jalan sendiri!” Kwa Hong merosot turun dari atas pundak Beng San, juga Thio Bwee. Dua orang anak ini mendadak timbul keberaniannya. Beng San menarik napas panjang. Sebetulnya dia keberatan untuk kembali karena takut kalau-kalau dia akan mendapat marah. Akan tetapi, tidak tega pula kalau harus membiarkan dua orang nona ini kembali berdua saja. Bagaimana nanti kaiau Thio Bwee tergelincir seperti tadi? Bagaimana kalau kaki Kwa Hong digigit lintah seperti tadi? Kalau sampai sebrang diantara dua orang nona ini terkena celaka, bukankah tanggung jawabnya akan lebih besar pula dan lebih berat?

“Baiklah,” akhirnya dia berkata. “Mari kita kembali.” la lalu menggandeng tangan dua orang nona cilik itu yang tidak menolak. Sambil bergandengan tangan Beng San ditengah-tengah, tiga orang anak itu menyeberang dan kembali ke tempat tadi.

“Ayah…..! Tunggulah, kami kembali ke sana…..!” Kwa Hong berteriak keras-keras ke arah tepi rawa. Mendadak mereka melihat lampu penerangan dipasang di tepi rawa itu sehingga makin mudahlah bagi mereka karena sekarang tempat yang dituju kelihatan nyata.

Setelah dekat tepi rawa, dengan he-ran mereka melihat Hoa-san Sie-eng lengkap bersama Lian Bu Tojin dan tokoh-tokoh Hoa-san ini bersama Souw Kian Bi si penculik, seorang hwesio tinggi besar dan beberapa orang panglima Mongol? Bagaimana mereka bisa rukun seperti itu setelah Souw Kian Bi menculik mereka? Kwa Hong dan Thio Bwee terheran, akan tetapi juga girang sekali. Setelah tiba di tempat dangkal, mereka berlari meninggalkan Beng San, untuk menjumpai ayah masing-masing. Pakaian mereka, bahkan muka mereka kotor berlumpur. Apalagi Beng San! Ketika anak ini tiba di tempat dangkal, baru dia melihat bahwa lebih dari tujuh ekor lintah menempel di tubuhnya, di kaki kanan kiri dan di paha dan perut! la marah sekali dan andaikata mukanya tidak berlumpur, tentu muka itu akan kelihatan merah. la mengerahkan hawa di tubuhnya dan seketika itu lintah-lintah itu bergelimpangan, terlepas dari tubuhnya dalam keadaan mati! Tak seorang puh memperhatikan hal ini karenai lintah-lintah yang penuh lumpur itu pun tidak kentara.

“Keparat, berani kau mengganggu nona-nona tawananku?” Tiba-tiba Souw Kian Bi meloncat dan sebelum lain orang dapat mericegahnya, putera pangeran ini sudah menyambak rambut Beng San dan diseretnya ke tepi rawa sambil dipukulinya sekehendak hatinya.

Beng San marah sekali, akan tetapi ketika merasa betapa pukulan orang itu mengandung hawa panas, dia cepat mengerahkan tenaga dalamnya dan meng-gunakan tenaga Im untuk melawannya. Pada saat itu, Kwa Hong dan Thio Bwee sudah meloncat dan menerjang Souw Kian Bi sambil berteriak-teriak.

“Jangan pukul Beng San!” bentak Kwa Hong.

“Kau yang jahat menculik kami, dia penolong kami!” bentak Thio Bwee.

Menghadapi serbuan dua orang nona cilik yang hendak membalas dendam ini, Souw Kian Bi tentu saja tidak takut. Akan tetapi dia merasa tidak enak sendiri untuk melayani anak-anak kecil, maka sekali lagi dia memukulkan tangannya ke arah dada Beng San kemudian meloncat mundur.

“Bleeek!” Pukulan itu keras sekali, Beng San sampai terpental ke belakang, akan tetapi dia tidak terluka.

“Dia adalah kacung Hoa-san-pai, tak boleh diganggu orang luar!” tiba-tiba Lian Bu Tojin berkata dengan suaranya yang berpengaruh. Tadinya kakek ini marah sekali kepada Beng San yang dianggapnya lancang sekali. Pertama, lancang karena berani meninggalkan puncak Hoa-san, ke dua, lancang karena berani mencoba-coba menolong dua orang cucu muridnya sehingga hal ini mendatangkan malu kepadanya. Masa cucu muridnya harus ditolong oleh seorang kacungnya? Padahal di situ ada Hoa-san Sie-eng lengkap dan ada dia pula. Maka ketika tadi melihat Beng San dipukuli, kakek ini diam saja dengan keputusan hati akan diobati kelak kalau terluka. Akan tetapi ketika melihat betapa dua orang cucu muridnya menyerbu, kakek ini baru ingat bahwa betapapun juga, Beng San sudah berjasa dan memperlihatkan pribudi yang baik dalam usahanya menolong tanpa memperhitungkan bahaya untuk diri sendiri yang tiada kepandaian. Maka dia lalu mengeluarkan kata-kata itu untuk mencegah pihak Mongol menyerang Beng San. Kemudian dia memberi tanda kepada murid-muridnya untuk meninggalkan tempat itu. juga Beng San berjalan di sebelah belakang sambil menundukkan mukanya.

Apalagi Hoa-san Sie-eng atau dua orang gadis cilik itu, bahkan Lian Bu Tojin sendiri tidak tahu betapa sepergi mereka, Souw Kian Bi terguling roboh dan muntah-muntah darah, mukanya berubah kehijauan seperti orang keracunan. Tentu saja di situ menjadi geger. Swi Lek Hosiang cepat memeriksa dan hwesio tua ini kaget setengah mati. Ternyata bahwa putera pangeran itu telah menderita luka dalam yang hebat juga. Cepat dia memberi pengobatan dan tak habis heran bagaimana Souw Kian Bi bisa menderita luka seperti ini.

Setelah putera pangeran itu sembuh tiga hari kemudian, Swi Lek Hosiang minta penjelasan. “Siapakah yang melukaimu?”

Souw Kian Bi sendiri juga tidak mengerti. “Aku tidak bertempur dengan siapa juga. Hanya kupukul dada anak kotor itu….. ah, benar dia! Aku sudah merasa aneh sekali mengapa ketika aku memukul dadanya, aku merasa seakan-akan memukul benda yang lunak sekali dan terasa sakit pada dadaku!”

Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Tak mungkin. Anak itu kelihatan tidak tahu apa-apa, lagi pula hanya kacung di Hoa-san-pai, masa memiliki kepandaian yang tinggi seperti itu? Aneh sekali!”

“Betul, Losuhu. Aku ingat sekarang. Anak itu tentu mempunyai sesuatu yang luar biasa. Siapa tahu kalau-kalau dia itu menerima warisan kepandaian dari Lian Bu Tojin. Dia kacungnya, bukan? Siapa tahu diam-diam kakek tosu bau itu menurunkan ilmunya…..”

“Mungkin, akan tetapi tetap saja aneh.” Hwesio itu merenung karena dia teringat akan murid angkatnya yang ditinggalkan di kelenteng. Muridnya itu biarpun hanya seorang anak perempuan, namun juga memiliki bakat yang luar biasa dalam ilmu siiat. Apakah anak laki-laki kotor itu sedemikian baik bakatnya sehingga sekecil itu sudah menyimpan tenaga dalam yang dapat menangkis pukulan Souw Kian Bi bahkan melukainya? Agaknya tak mungkin!

* * *

Lima bulan telah lewat semenjak Kun-lun Sam-hengte berjanji hendak mengunjungi Hoa-san Sie-eng di puncak Hoa-san. Hoa-san Sie-eng sudah berkumpul di puncak Gunung Hoa-san, setiap hari menanti kedatangan tiga orang murid Kun-lun-pai, terutama Kwee Sin, dengan hati tak sabar lagi.

Kwa Tin Siong setelah melihat Beng San segera mengenalnya sebagai bocah aneh yang pernah dia jumpai dahulu di tengah hutan. la segera memberitahukan hal ini kepada adik-adik seperguruannya, juga kepada suhunya dan menyatakan kecurigaannya. “Sekarang ini jamannya sedang kacau-balau, banyak terjadi fitnah dan musuh rahasia mengelilingi kita. Siapa tahu kalau-kalau anak ini seorang mata-mata yang sengaja dilepas lawan untuk menyelidiki keadaan kita.” Demikian kata-katanya dan adik-adik seperguruannya membenarkan wawasan ini. Hanya Lian Bu Tojin yang tidak setuju di dalam hatinya karena dengan adanya surat pengenal dari Lo-tong Souw Lee. Tiba-tiba berpikir sampai di sini, ketika teringat kepada Lo-tong Souw Lee, sekaligus kakek ini teringat pula kepada Souw Kian Bi. Dua orang she Souw itu. apakah tidak ada hubungan apa-apa? Souw Kian Bi dihormati panglima-panglima Mongol, sedangkan dia tahu benar bahwa Lo-tong Souw Lee berasal dari keluarga bangsawan Mongol pula Ah jangan-jangan benar kecurigaan muridnya yang tertua, siapa tahu kalau-kalau antara Beng San dan Souw Kian Bi memang ada permainan sandiwara! Kakek ini mengerutkan keningnya. Besar sekali kemungkinannya. Beng San tidak mengerti ilmu silat, mengapa ketika dipukul oleh Souw Kian Bi tidak terluka? Bukankah itu menandakan bahwa Souw Kian Bi hanya pura-pura memukul saja? Ataukah Beng San yang tahu akar ilmu silat akan tetapi sengaja berpura-pura tidak tahu?

“Ucapanmu berdasar juga, Tin Siong. Akan tetapi tanpa bukti tak mungkin kita menuduh Beng San yang bukan-bukan. Dia hanya seorang anak kecil, kita lihat-lihat sajalah. Kaiau betul dia kaki tangan orang jahat, dia bisa berbuat apa terhadap kita,” demikian kakek ketua Hoa-san-pai ini berkata. Selanjutnya kakek ini lalu memanggil Beng San dan memesan kepada anak itu agar supaya jangan mencampuri lagi urusan luar dan selalu berada di dalam kelenteng dan melakukan tugas pekerjaannya baik-baik.

Hari yang dinanti-nantikan dengan hati berdebar tiba juga. Pada suatu hari matahari belum naik tinggi benar, seorang tosu berlari-lari melaporkan bahwa Kun-lun Sam-hengte telah datang mendaki puncak Hoa-san! Karena urusan yang dihadapi adalah urusan besar dan karena tidak ingin melihat murid-muridnya berlaku lancang, Lian Bu Tojin sendiri berkenan menerima kedatangan tiga orang jago dari Kun-lun-pai itu. Liang Bu Tojin dengan diikuti empat orang muridnya melakukan penyambutan di luar tempat kediamannya, di halaman yang bersih dan luas, halaman yang dikelilingi pohon-pohon besar, amat sejuk dan enak untuk dijadikan tempat, perundingan soal yang amat pelik dan penting itu.

Kun-lun Sam-hengte datang berjalan dengan langkah tegap. Kwee Sin tampan dan mukanya putih sekali seperti pucat tampaknya, pedangnya tergantung di pinggang kiri. la berjalan di tengah-tengah diapit oleh Bun Si Teng dan Bun Si Liong. Bun Si Teng yang tinggi besar dan gagah itu benar-benar menarik perhatian, pedangnya di pinggang dan busurnya terselip di sebelah kanan. Bun Si Liong yang bermuka hitam itu berjalan dengan langkap tegap, mukanya berseri dan matanya yang bersinar-sinar seperti orang sedang gembira, mukanya lebih menunjukkan kegembiraan seorang yang sedang pelesir daripada kesungguhan seorang menghadapi urusan besar. Sepasang senjatanya, golok dan pedang, tergantung di kanan kiri.

Dari jauh tiga orang gagah itu sudah mengangkat tangan memberi hormat. Mereka agak tercengang, akan tetapi juga bangga melihat bahwa ketua Hoa-san-pai sendiri menyambut kedatangan mereka. Kwee Sin ketika bertemu pandang dengan tunangannya dan melihat sepasang mata tunangannya itu berapi-api tapi berlinangan air mata, merasa hatinya seperti tertusuk. la sudah mendengar dari para suhengnya bahwa ayah tunangannya itu terbunuh orang dan si nona menyangka bahwa dialah yang membunuhnya. Kepanasan hatinya ketika me-nyaksikan tunangannya menangis di dada Kwa Tin Siong dahulu itu menjadi dingin karena sekarang dia dapat menduga bahwa nona itu sedang berduka hatinya dan dihibur oleh Kwa Tin Siong. la merasa menyesal sekali telah terburu nafsu. juga dia diam-diam merasa malu sekali kalau teringat akan hubungannya dengan Coa Kim Li si cantik jelita.

“Kami bertiga saudara jauh-jauh sengaja datang memenuhi janji kami terhadap Hoa-san Sie-eng. Tidak nyana bahwa Hoa-san-ciangbunjin (ketua) juga ikut menyambut. Sungguh membikin lelah kepada orang tua yang terhormat,” kata Bun Si Teng mewakili rombongannya.

“Kun-lun Sam-hengte datang, itulah bagus. Memang murid Pek Gan Siansu terkenal gagah dan takkan mungkir janji, juga adil dan jujur. Pinto orang tua hanya menjadi saksi saja dalam urusan ini, harap kalian bertiga berurusan dengan murid-murid pinto secara langsung.” Kakek ini lalu melangkah ke pinggir, membiarkan tiga orang jago Kun-lun itu menghadapi empat orang muridnya.

Kwa Tin Siong mewakili rombongannya melangkah maju dan mengangkat tangan memberi hormat. “Kami merasa lega sekali bahwa ternyata Kun-lun Sam-hengte memenuhi janji dan penjahat Kwee Sin sudah diajak pula datang ke sini untuk menebus dosa.

Bun Si Teng tersenyum sedangkan Kwee Sin menjadi makin pucat mukanya.

“Harap Hoa-san It-kiam suka bersabar dan jangan datang-datang suteku dijatuhi fitnah yang bukan-bukan. Sebelumnya aku sendiri sudah memeriksa Sute dan ternyata bahwa semua yang dituduhkan kepada Kwee-sute hanyalah fitnah kosong belaka. Kwee-sute tak pernah melakukan pembunuhan terhadap ayah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa seperti telah kalian katakan,” kata Bun Si Teng, senyumnya mengeras. Kwee Sin mengangguk-angguk membenarkan ucapan suhengnya.

“Lidah memang tak bertulang!” tiba-tiba Sian Hwa membentak, tak dapat menahan kemarahannya lagi. “Tidak ada pencuri yang mengaku, menyangkal adalah pekerjaan yang paling mudah. Akan tetapi, aku tidak sudi menjatuhkan fitnah kepada siapapun juga. Bukti-buktinya jelas bahwa ayahku telah dibunuh secara pengecut oleh pukulan Pek-lek-jiu dan paku Pek-lian-ting, di samping ini masih ada saksi utama, yaitu almarhum ayahku sendiri!”

Kwee Sin makin pucat mendengar kata-kata dan melihat sikap tunangannya itu.

“Biarlah aku bersumpah disaksikan langit dan bumi, apabila aku membunuh ayahmu, Thian semoga menghukumku dengan kematian yang mengerikan!” seru Kwee Sin dengan muka pucat dan suara lemah.

Kwa Tin Siong tertawa mengejek. “Urusan pembunuhan keji sebesar ini mana bisa diselesaikan dengan segala macam sumpah? Sumoi, agar persoalannya dapat dibicarakan dari awalnya, harap kauulangi lagi ceritamu tentang kematian ayahmu.”

Dengan lantang Sian Hwa mengisahkan kembali semua yang dialami ayahnya dan dia sendiri, matanya tajam menantang Kwee Sin yang tunduk dan muka pemuda ini sebentar merah sebentar pucat. Akan tetapi ketika ia menceritakan bagian ayahnya yang terluka dan meninggalkan kesaksian terakhir bahwa yang membunuhnya adalah Kwee Sin dan perempuan Pek-lian-pai, Sian Hwa tak dapat menahan air matanya mengucur deras. Setelah selesai menuturkan semua ini, ia menggerakkan tangannya dan “sraaattt!” pedangnya yang sepasang itu sudah tercabut di kedua tangan.

“Ayah terbunuh secara keji. Kalau penasaran ini tidak dibalas, aku Liem Sian Hwa tidak mau hidup lagi di muka bumi!” Kwee Sin hanya mengangkat muka dan memandang sedih, tapi sama sekali dia tidak mengeluarkan pedangnya.

Bun Si Teng melangkah maju dan berkata, suaranya mengandung ejekan.

“Bagus! Apa Hoa-san-pai hendak menghukum orang tanpa memberi kesempatan membela diri dan tanpa bukti-bukti yang sah dan saksi-saksi yang masih hidup?”

“Sudah terang jahanam Kwee Sin ini pembunuh ayahku, aku harus membalas dendam!” bentak Sian Hwa.

“Enak saja orang bicara! Andaikata Kwee-sute segan melawan, apakah kami akan mendiamkan saja orang membunuh sute kami tanpa dosa?” Bun Si Teng meraba gagang pedangnya, siap melawan. Juga Bun Si Liong meraba gagang golok dan pedangnya. Pendeknya, kakak beradik ishe Bun ini tjdak nanti akan membiarkan sute mereka dibunuh orang begitu saja. Mereka datang untuk membuktikan kebersihan diri Kwee Sin, bukan untuk mengantar sute mereka dihukum bunuh!

“Manusia Kun-lun sombong! Sudah terang jahanam she Kwee main gila dengan perempuan jalang dan bersekongkol ” membunuh ayah Sumoi, masih hendak dibela? Kalau begitu, kewajiban orang-orang gagah untuk membasmi gerombolan orang jahat!” Thio Wan It sudah mengeluarkan pedangnya dan meloncat maju.

“Keparat, siapa takut kepada Bu-eng-kiam?” bentak Bun Si Liong. Dengan ke-marahan meluap-luap, Sian Hwa sudah berhadapan dengan Bun Si Teng, sedang-kan Thio Wan It sudah saling melotot dengan Bun Si Liong. Pertempuran agak-nya takkan dapat dicegah lagi.

“Twa-suheng, Ji-suheng….. jangan….. ah, siauwte yang menjadi gara-gara semua ini…., Ji-wi Suheng, simpanlah pedangmu…..” Kwee Sin bicara dengan suara mengandung isak tertahan.

Kwa Tin Siong juga maju menahan dua orang adik seperguruannya yang hendak turun tangan itu. “Ji-sute, Sumoi, tahan senjata kalian! Tidak semestinya kalau urusan ini diakhiri dengan pertempuran tanpa sebab-sebab yang jelas. Kita berpegang kepada keadilan dan kebenaran! maka seharusnya kita memberi kesempatan kepada Kwee Sin untuk membela diri dan memberi keterangan-keterangan.” Biarpun sedang marah sekali, Thio Wan It dan Liem Sian Hwa terpaksa mundur juga ketika ditahan oleh twa-suheng mereka ini.”

“Kwee Sin!” kata Kwa Tin Siong” dengan suara keras dan tegas. “Sudah kau dengar baik semua keterangan sumoiku yang menuduhmu sebagai pembunuh ayahnya dan mengadakan persekongkolan dengan perempuan jahat dari Pek-lian-pai. Bagaimana jawabmu? Kalau memang kau melakukan hal itu, bagaimana tanggung jawabmu dan apabila kau tidak melakukan, bagaimana keterangan pembelaanmu? Ingat, sudah jelas bahwa sebelum meninggal dunia, ayah Sumoi terang-terangan menyatakan bahwa kau dan seorang perempuan yang menyerang dan melukainya.

Muka Kwee pucat sekali, kedua matanya agak basah dan merah menahan mengucurkan air mata. la maklum bahwa dirinya kena fitnah. Tentu saja dia percaya bahwa Hoa-san Sie-eng takkan mau memfitnahnya kalau tidak ada dasarnya. Ia tahu bahwa dia telah difitnah oleh orang-orang yang memusuhinya, entah siapa orang-orang itu. Bagaimana dia harus menjawab?

“Hoa-san Sie-eng,” katanya, tidak berani langsung kepada Sian Hwa, “apa yang harus kukatakan lagi? Aku sudah bersumpah bahwa aku sama sekali tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap ayah Nona Liem Sian Hwa. Sebagai orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, aku selamanya tidak pernah membohong. Aku tidak melakukan pembunuhan itu dan kalian percaya atau tidak, terserah. Aku hanya mengharapkan kebijaksanaan dan keadilan Hoa-san-ciangbunjin.” la menjura ke arah Lian Bu Tojin yang semenjak tadi berdiri di pinggiran sambil menundukkan mukanya.

Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong tertawa lirih. “Ha-ha-ha, lagi-lagi Kwee Sin yang dijuluki orang Pek-lek-jiu, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte terkenal gagah perkasa, lari sembunyi di balik sumpah-sumpahnya. Orang she Kwee, tak perlu bersumpah keras-keras. Sebaliknya kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku agar jelas.”

Kwee Sin sebetulnya mendongkol sekali menyaksikan sikap Hoa-san Sie-eng yang amat menghinanya. Akan tetapi dia tidak ingin melihat persoalan ini menjadi makin panas, maka dia menjawab tenang.

“Tanyalah, Hoa-san It-kiam, aku akan menjawab.”

“Mula-mula terjadi urusan ini, ayah Sumoi, Liem-lopek, melihat kau bersama seorang perempuan muda cantik berpelesir di Telaga Pok-yang, sehingga menimbulkan marahnya. Betulkah pada waktu itu kau berpelesir bersama seorang perempuan cantik dari Pek-lian-pai di Telaga Pok-yang?”

Wajah Kwee Sin menjadi merah sekali, lalu pucat dan merah lagi. la menundukkan muka menggigit-gigit bibir dan sampai lama tak dapat menjawab! Semua mata memandang kepadanya, bahkan Lian Bu Tojin yang semenjak tadi tunduk saja, sekarang juga mengerling ke arahnya. Apalagi Sian Hwa, gadis ini memandang dengan sepasang mata berapi-api.

Kwee Sin benar-benar merasa bingung. Bagaimana dia harus menjawab? Tak dapat disangkal lagi bahwa dahulu dia telah berpelesir di Telaga Pok-yang bersama Coa Kim Li! Dan tentu pada saat itu, celaka sekali baginya, ayah Liem Sian Hwa melihat dia bersama Coa Kim Li dan pulang sambil marah-marah. Bagaimana dia harus menjawab? Untuk berterus terang mengaku bahwa dia berpelesir bersama seorang wanita muda cantik, tentu saja dia amat malu. Akan tetapi juga bukan wataknya untuk membohong. Oleh karena berada dalam keadaan yang terjepit inilah Kwee Sin tak dapat menjawab, hanya menunduk dengan bingung dan malu.

“Kwee Sin, bagaimana jawabmu? Kenapa kau diam saja?” Kwa Tin Siong bertanya dengan nada mengejek.

“Kwee-sute jawablah, jangan diam saja!” Bun Si Teng juga menegur sutenya mendongkol melihat sikap Kwa Tin Siong.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: