Raja Pedang (Jilid ke-30)

“Bagus…… bagus….. Saudara Thio Ki dan Kui Lok, lekaslah kalian bertari pedang biarkan aku menontonnya, tentu indah dilihat.” Beng San muncul dari balik sebatang- pohon sambil bertepuk tangan dan tertawa-tawa.

Kui Lok dan Thio Ki yang tadinya sudah tegang dan siap untuk saling serang, menjadi kaget dan menengok. Mereka melihat seorang pemuda tampan berpakaian sutera biru seperti seorang pemuda pelajar. Tentu saja mereka tidak mengenal Beng San yang dulu mereka kenal sebagai seorang anak yang berpakaian seperti jembel. Namun karena mereka ini memang jago-jago muda Hoa-san-pai yang berwatak angkuh dan merasa diri sendiri paling gagah dan paling lihai, mereka segera merasa tak senang dengan datangnya seorang asing ini.

“Kau siapa? Mau apa lancang masuk ke sini?” tanya Thio Ki mengerutkan keningnya. juga Kui Lok memandang tajam dengan mata dipelototkan untuk memperlihatkan ketidaksenangan hatinya.

Beng San tertawa, wajahnya berseri-seri. “Saudara-saudara Thio dan Kui agaknya sudah lupa lagi kepadaku. Padahal belum ada sepuluh tahun kita berpisah. Aku Beng San.”

Thio Ki dan Kui Lok saling pandang, untuk detik itu lenyap permusuhan di antara mereka. Terang bahwa mereka heran melihat Beng San yang sekarang sudah berubah menjadi seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan.

“Uuuhhhhh…… Beng San…..?” Thio Ki berkata dengan suara menghina.

“Hemmm, kau di sini? Mau apa kau ke sini? Kau mengintai kami, ya?” kata Kui Lok, mengancam.

“Ah, tidak. Aku datang dan melihat kalian hendak bermain pedang, sungguh aku ingin melihatnya. Dahulu pun kalian amat pandai, apalagi sekarang, tentu indah permainan pedang kalian.”

Kembali Kui Lok dan Thio Ki saling pandang dan keduanya menjadi curiga. Tentu Beng San sudah mendengar pertengkaran mereka tadi!

“Kau tadi sudah lama mengintai kami? Mendengar apa yang kami bicakan?” Thio Ki menuntut.

Beng San tersenyum. “Tidak tahu, agaknya kalian bicara tentang angin atau burung.” la sengaja mengatakan demikian tanpa menyinggung nama Kwa Hong, sedangkan kata-kata Hong dapat diartikan angin atau juga nama burung hong!

Thio Ki yang keras hati itu timbul keangkuhannya. “Beng San, kau kurang ajar sekali. Orang macam kau ini mengapa berani muncul di sini tanpa ijin? Kau patut dipukul”.

“Benar, Suheng. Kita pukul saja jembel ini biar minggat dari sini!” kata Kui lok yang teringat betapa dahulu bersama Thio Ki dia pernah memukuli Beng San. Dua orang pemuda itu melangkah maju dan tangan mereka melayang untuk menampar pipi dan memukul pundak. Betapapun juga, sebagai jago-jago muda dari Hoa-san mereka tidak sudi membunuh orang yang lemah, hanya memukul untuk memberi hajaran saja dan untuk mengusir Beng San.

“Eh, eh, eh….. kenapa main pukul? Aku tidak bersalah apa-apa…..” Beng San terhuyung-huyung ke belakang setelah terkena gamparan dan pukulan. Tentu saja serangan-serangan yang dilakukan tidak untuk membunuhnya ini sama sekali tidak dia rasakan, akan tetapi dia pura-pura kesakitan dan terhuyung-huyung ke belakang.

Thio Ki dan Kui Lok tidak peduli, mendesak terus hendak memukuli Beng San sampai pemuda itu melarikan diri. Beng San pura-pura mengangkat kedua tangan melindungi kepala dan mukanya sambil berteriak-teriak, “Jangan pukul…… jangan pukul!”

“Ki-ko dan Lok-ko, siapa yang kalian pukuli itu?” Tiba-tiba Kwa Hong sudah berdiri di situ. Wajah dara ini agak pucat, apalagi ketika ia melihat bahwa di tangan Thio Ki dan Kui Lok masih memegang pedang terhunus. Memang ketika memukuli Beng San, Kui Lok masih memegang pedang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan Thio Ki juga masih memegang pedang. Kedatangan Kwa Hong itu sebetulnya karena ia merasa amat gelisah, takut kalau-kalau dua orang pemuda itu mengadu nyawa, maka melihat mereka memegang pedang, ia menjadi khawatir sekali. Hanya ia merasa terheran-heran mengapa dua orang pemuda itu malah memukuli seorang pemuda yang kelihatan lemah dan tidak pandai ilmu silat.

Thio Ki dan Kui Lok dengan muka merah karena jengah lalu meloncat mundur. Setelah dua orang pemuda yang keranjingan itu mundur, baru Beng San berani menurunkan kedua tangan dari mukanya. la memandang Kwa Hong, sebaliknya gadis itu memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu, dari fihak Beng San penuh kekaguman. Sekarang dia dapat melihat jelas keadaan Kwa Hong. Benar-benar melebihi yang sering kali dia bayangkan. Cantik molek dan gagah perkasa. Sepasang mata yang melebihi beningnya daripada mata ikan emas, rambut yang hitam mengkilap, alis yang panjang kecil dan hitam sekali di atas kulit muka yang putih kemerahan, hidung yang kecil, mulut yang manis, ah … bukan main, sekarang Kwa Hong si kuntilanak itu telah berubah menjadi seorang dara yang jelita. Di fihak Kwa Hong, sinar mata gadis ini perlahan-lahan berseri-seri, mulutnya tersenyum lucu ketika ia mengenal Beng San, lalu terbukalah bibirnya berkata setengah tertawa.

“Kau….. kau….. eh, si bunglon…..!”

Beng San cemberut. “Benar,” katanya dingin, “dan kau si kuntilanak masih tetap galak….”

Thio Ki dan Kui Lok melangkah maju, hendak memukul lagi. Akan tetapi Kwa Hong yang sudah maklum akan maksud mereka, segera mendahului.

“Aha, Beng San. Benar-benar kaukah ini? Eh, Ki-ko dan Lok-ko, apakah kalian lupa? Dia ini Beng San. Hi-hi-hi, benar Beng San…..!” Serta-merta Kwa Hong melangkah maju dan memegang tangan Beng San, mengamat-amati wajah pemuda itu yang seketika menjadi agak kemerahan.

“Hi-hi-hi, kau Beng San yang bisa berubah-ubah mukamu. Benar, kau sudah menjadi….. orang sekarang. Ah, hampir aku pangling kalau tidak melihat matamu. Kau dari mana? Hendak ke mana? Ada keperluan apa datang ke sini?”

Bingung juga Beng San dihujani petanyaan dari mulut yang manis itu.

“Aku….. aku sengaja datang, mendengar bahwa Hoa-san-pai hendak mengadakan perayaan seratus tahun. Aku datang sampai ke sini, melihat dua saudara Thio dan Kui bertari pedang. Mereka agaknya tidak mengenalku, dan menyangka aku orang jahat maka aku hendak dipukuli. Baiknya kau keburu datang…… eh, Nona Hong…….”.

Kwa Hong tertawa. Lega bahwa dua orang suhengnya itu tidak jadi mengadu nyawa. la seorang yang cerdik sekali. Tentu dua orang itu tadinya memang sudah hendak bertempur, buktinya sudah mencabut pedang. Kalau hanya menghadapi seorang lemah seperti Beng San, tak mungkin dua jago muda itu menghunus pedang. Tentu selagi mereka hendak bertempur, tiba-tiba datang Beng San, membuat mereka marah dan memukulinya.

“Bagus sekali kau datang, Beng San. Apa kau sudah bertemu dengan ayah? Dengan sukong? Mereka tentu terheran-heran melihat atau datang. Baik sekali kau mau datang, jadi tidak melupakan hubungan lama.” Dengan ramah-tamah Kwa Hong bicara dan dua orang kakak seperguruannya memandang dengan hati penuh cemburu dan iri hati. Tak pernah Kwa Hong memperlihatkan sikap demikian manis terhadap mereka.

“Ki-ko dan Lok-ko, masa kalian tidak mengenalnya. Lihat itu sepasang matanya, mana ada orang lain bermata seperti dia? Semestinya kalian mengenalnya dan tidak memukulinya. Dia jauh-jauh sudah datang untuk menghadiri perayaan, menjadi seorang tamu, masa harus dipukuli? Kalian benar-benar sembrono sekali, kalau terdengar ayah atau sukong bukankah mendapat marah?”

Tiba-tiba ia berhenti bicara karena mendengar suara kaki mendatangi, dan tak lama kemudian muncullah Thio Bwee, Kwa Tin Siong, dan Liem Sian Hwa. Mereka bertiga ini baru saja kembali dari tempat di mana mereka bertemu dengan Giam Kin. Karena baru saja ada seorang pemuda membuat onar, kini melihat bahwa tiga orang anak murid Hoa-san-pai berdiri berhadapan dengan seorang pemuda asing lagi, segera Kwa Tin Siong menjadi curiga dan cepat menghampiri sambil memandang tajam.

“Siapakah saudara muda yang asing ini?” tanyanya.

Kwa Hong lari menghampiri ayahnya memegang tangan ayahnya dengan sikap manja. “Ki-ko dan Lok-ko, jangan beri tahu ayah dulu! Ayah, coba lihat baik-baik, dan Bibi juga. Kau pun lihatlah baik-baik Enci Bwee, perhatikan dia dan coba katakan, siapa dia ini?”

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa memandang penuh perhatian, akan tetapi dua orang dari Hoa-san Sie-eng ini tidak dapat mengenal pemuda tampan berbadan tegap yang berpakaian seperti seorang pelajar itu. Terlalu banyak persoalan dan urusan yang meruwetkan pikiran membuat mereka sama sekali tidak dapat ingat lagi kepada Beng San. Akan tetapi tidak demikian dengan Thio Bwee. Seperti juga Kwa Hong, gadis ini pernah ditolong oleh Beng San, biarpun ia tak pernah mengenangkan Beng San, namun kiranya wajah pemuda ini tak dapat ia lupakan begitu saja.

“Bukankah kau….. saudara Beng San?” tanyanya penuh ragu karena biarpun ia masih mengenal pemuda yang bermata tajam aneh ini, namun ia tetap ragu-ragu melihat pemuda ini seperti seorang terpelajar. la tidak ingat bahwa Beng San yang dulu, yang berpakaian buruk itu, memang semenjak kecil adalah seorang yang pandai baca tulis, jauh lebih pandai daripada dia sendiri mau pun para murid Hoa-san-pai yang lain. Karena itulah sukongnya, Lian Bu Tojin, sayang kepada Beng San dan dijadikan kacungnya dan diberi pelajaran tentang kebatinan To.

Kwa Hong tertawa. “Enci Bwee masih ingat.” la memuji dan Beng San juga tersenyum sambil menjura kepada Thio Bwee sebagai penghormatan.

“Ah, benar….. kau Beng San…..!” Kwa Tin Siong juga teringat sekarang setelah mendengar kata-kata Thio Bwee, juga Liem Sian Hwa teringat dan memandang kagum ketika Beng San menjura untuk memberi hormat kepada mereka.

Kwa Tin Siong teringat akan peristiwa dahulu, ketika kedua orang saudara Bun dari Kun-lun-pai tewas di Hoa-san-pai dan bagaimana sikap Beng San yang membela fihak Kun-lun. Biarpun ucapan bocah ini dahulu ternyata cocok dengan keadaannya, yakni bahwa Ngo-lian-kauw yang melakukan fitnah sehingga dua partai besar itu bermusuhan, namun sikap bocah ini dahulu sudah mencurigakan. Mengapa membela Kun-lun-pai sedangkan bocah itu mondok di Hoa-san?

“Beng San, kau dulu yang sudah meninggalkan kami, sekarang kau datang ke sini dengan maksud apakah?” tanya Kwa Tin Siong, suaranya membayangkan kecurigaan. Kwa Hong memandang ayahnya dengan kening berkerut dan ia menoleh ke arah Beng San, pandang matanya penuh kekhawatiran. Akan tetapi pemuda itu tersenyum kepadanya penuh arti, minta supaya dara itu jangan khawatir. Kemudian dia menjura kepada Kwa Tin Siong dan berkata.

“Kwa-enghiong, mohon maaf sebanyaknya kalau kedatangan saya ini merupakan gangguan terhadap Lo-enghiong sekalian. Sesungguhnya kedatangan saya ke Hoa-san ini mempunyai dua maksud. Pertama, karena saya merasa rindu kepada Lian Bu totiang dan Lo-enghiong sekalian, kedua kalinya, karena dalam perjalanan saya mendengar bahwa sebentar lagi Hoa-san-pai hendak merayakan ulang tahun, maka saya sengaja datang hendak memberi selamat dan menonton keramaian. Betapapun juga, saya masih belum lupa akan kebaikan budi Lian Bu totiang sekalian yang dulu sudah sudi menerima saya menjadi kacung di sini.”

Ucapan ini terang sekali amat merendahkan diri, dua orang pemuda Hoa-san-pai mendengarkan sambil bersikap angkuh. Hanya bekas kacung, perlu apa diladeni? Kwa Tin Siong dan Lienn Sian Hwa mendengarkan dengan hati senang menyaksikan sikap yang amat sopan santun dari Beng San, sedangkan Thio Bwee dan Kwa Hong memandang dengan mata berseri. Dua orang dara ini mana bisa melupakan ketika Beng San memanggul mereka seorang satu di kedua pundak ketika menyeberangi rawa-rawa? Dan sekarang Beng San telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan tegap, bahkan bagi Kwa Hong, di dalam lubuk hati kecilnya ia mengakui bahwa dibandingkan dengan dua orang suhengnya, dalam hal ketampanan Beng San jauh lebih menang! Di dalam pergaulannya dahulu dengan Beng San, ia memandang Beng San sebagai seorang anak perempuan nakal memandang seorang bocah laki-laki yang dianggapnya nakal pula. Akan tetapi sekarang, pandang matanya adalah pandang mata seorang dara remaja terhadap seorang jejaka. Tentu jauh berbeda.

“Bagus kalau kau masih ingat kepada kami, Beng San. Tapi kedatanganmu agak terlampau pagi. Perayaan baru diadakan sepekan kemudian. Biarlah sementara itu kau berada di sini. Mari kubawa kau pergi menghadap suhu.”

Beramai-ramai mereka semua kembali ke puncak. Hanya Thio Ki dan Kui Lok yang merasa tidak puas. Pertama karena urusan di antara mereka belum juga diselesaikan, kedua kalinya mereka merasa iri hati dan cemburu menyaksikan Beng San anak jembel itu sebagai tamu, apa-lagi melihat sikap Kwa Hong yang tersenyum-senyum dan manis terhadap Beng San.

Beng San dengan hati terharu melihat bahwa Lian Bu Tojin, kakek tua ketua Hoa-san-pai yang baik hati itu sekarang kelihatan amat tua, mukanya berkerut-kerut tanda bahwa di hari tuanya kakek ini menderita tekanan batin yang hebat. Beng San dapat menduga bahwa yang menyebabkan ini semua tentulah pertentangan dengan Kun-lun-pai itu. la cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.

“Totiang yang mulia, teecu Beng San datang menghadap dan memberi hormat, semoga Totiang selalu bahagia dan panjang usia.”

Lian Bu Tojin, ketua Hoa-san-pai, kelihatan lebih tinggi dan lebih kurus daripada delapan tahun yang lalu, tongkat bambu yang butut selalu masih dipegangnya dan tangan kirinya mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan yang sekarang sudah hampir putih semua. la mengangguk-angguk dan tersenyum tenang.

“Ah, Beng San, kau mengingatkan pinto akan kejadian dahulu.” la menarik napas panjang. “Ternyata kau lebih waspada daripada pinto. Kalau saja pinto dahulu mendengarkan omonganmu ketika kau masih kecil….. ah, kau benar, memang Hoa-san-pai telah menjadi kotor, menanam permusuhan. Baiknya kau pergi dari sini, kalau tidak, kiranya kau pun akan terseret.” Tosu itu menarik napas berulang-ulang dan nampaknya berduka. Beng San merasa kasihan sekali.

“Totiang, tidak baik dalam usia tua bersedih! Teecu teringat akan ujar-ujar dalam To-tik-king yang berbunyi:

“Aku menderita karena mempunyai diri, Andaikan tak mempunyai diri, penderitaan apa dapat kualami?”

Tosu tua itu tertawa. “Bagus! Kalimat dalam ujar-ujar nomor tiga belas! Memang demikianlah, Beng San. Malapetaka menimpa manusia hanya semata-mata karena manusia selalu mementingkan diri sendiri. Karena manusia mementingkan diri pribadi maka selalu hendak menang, selalu hendak senang sendiri, enak sendiri tanpa mempedulikan keadaan lain orang. Ingatkah kau akan beberapa kalimat dalam ujar-ujar nomor dua puluh tiga?”

Beng San berpikir dan menghubungkan kalimat-kalimat dalam ujar-ujar yang sudah dihafalnya baik-baik itu dengan keadaan yang dihadapi oleh tosu in. la lalu menjawab, “Apakah yang Totiang maksudkan itu kalimat yang berbunyi:

Angin keras takkan berlangsung sepenuh pagi,
hujan lebat takkan berlangsung sepenuh hari.
Siapakah penyebab ini selatedar pada langit dan bumi?
Kalau langit dan bumi pun tidak dapat berbuat tanpa henti,
apalagi seorang manusia?”

“Ha-ha-ha, bagus sekali, Beng San Ah, memang kau lebih benar. Seribu kali lebih baik mempelajari filsafat dan mengerti, sadar, dan menuruti inti sannya disesuaikan dalam hidup, daripada mempelajari segala macam ilmu kasar seperti ilmu silat yang hanya mendatangkan malapetaka dan permusuhan belaka….. Kembali dia menarik napas panjang. Kemudian wajahnya berseri lagi ketika dia bertanya, “Bagaimana, anak yang baik, bagaimana kabarnya dengan Lo-tong Souw Lee? Apakah jago tua yang sakti itu pun masih kuat menentang kehendak alam?”

“Tidak ada kekekalan di dunia ini, Totiang. Lo-tong Souw Lee sudah kembali ke tempat asalnya, beberapa bulan yang lalu.”

“Aaahhh, ke sanalah jua tujuan akhir dari hidup. Siapa kuat melawannya? Baik dia raja maupun jembel, semua akan berakhir sama. Bertentangan? Pertempuran mati-matian? Yang kalah akan mati, apakah kiranya yang menang akhirnya takkan mati juga? Menang kalah hanyalah soal sementara, kalau sudah seperti Lo-tong Souw Lee, mana letak kemenangan dan kekalahan? Aaahhh, kalau manusia ingat akan hal ini…..”

Beng San merasa betapa kata-kata Ini amat mendalam artinya dan dia yang sejak kecil memperhatikan filsafat, termenung. Keadaan di ruangan itu menjadi sunyi. Di waktu menghadap ini, Beng San menghadap seorang diri, karena semua murid Hoa-san-pai maklum bahwa tanpa diundang mereka sama sekali tidak boleh mengganggu kakek itu.

“Kedatanganmu ini apakah hanya untuk menengok kami?” tiba-tiba kakek itu bertanya setelah sadar daripada lamunannya.

“Teecu mendengar berita bahwa Hoa-san-pai hendak merayakan ulang tahun yang ke seratus, maka teecu sengaja datang untuk memberi selamat dan juga menonton keramaian.”

“Tidak diperingati berarti tidak menghormati kepada pendiri Hoa-san-pai. Diperingati pasti akan memancing datangnya kekeruhan. Di jaman yang keruh ini, setiap peristiwa memancing datangnya peristiwa lain yang selalu memusingkan. Beng San, pinto mempunyai firasat bahwa dalam perayaan sepekan kemudian ini pasti akan terjadi hal-hal yang tidak enak. Pertentangan antara kami dan Kun-lun-pai makin menjadi-jadi, makin diperpanas oleh para anak murid kedua fihak. Aku mendengar desas-desus bahwa Pek Gan Siansu sendiri akan datang. Baik sekali demikian, kami orang-orang tua tentu akan dapat membikin perhitungan secara damai. Kau seorang anak yang mendalam pengertianmu, Beng San. Pinto girang sekali kau datang, kau tinggallah di sini dan kau menjadi saksi dari usaha kami orang-orang tua mencari jalan damai. Dengan hadirmu di sini, pinto merasa lebih tenang.”

Beng San merasa heran sekali. Apa gerangan yang mendatangkan perasaan ini dalam hati Lian Bu Tojin? la merasa bangga dan juga berterima kasih sekali, maka tanpa ragu-ragu dia berkata, “To-tiang, percayalah, teecu yang bodoh pasti akan membantu dan menyokong pendirian Totiang yang mulia ini”.

“Beng San, apakah kau sudah mewarisi kepandaian Lo-tong Souw Lee?” pertanyaan ini tiba-tiba diajukan dan ketika Beng San mendongak, ia terkejut sekali melihat sepasang mata tua itu mencorong dengan tajamnya memandangnya penuh selidik. Celaka, pikirnya. la hendak menyembunyikan kepandaiannya, dan dia pun tidak mungkin dapat berbohong kepada kakek ini.

“Semenjak kecil teecu amat suka mempelajari filsafat dan kiranya selama teecu berkumpul dengan Lo-tong Souw Lee, semua petuah dan wejangan orang tua itu telah teecu pelajari dengan baik”. Jawabannya menyimpang dan dia berpura-pura tidak tahu menahu tentang maksud pertanyaan tadi yang tentu saja dimaksudkan pelajaran ilmu silat

“Kau tidak mempelajari ilmu silat?” Sifat pertanyaan ini menggirangkan hati Beng San. la tak usah berbohong lagi sekarang.

“Teecu pernah mempelajari satu dua macam pukulan, akan tetapi tidak pantas disebut-sebut di depan Totiang.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Kau benar. Ilmu silat tidak patut dibicarakan, karena hanya mendatangkan keributan belaka. Andaikata Hoa-san-pai dahulu tidak mengembangkan ilmu silat, kiranya sampai sekarang pun Hoa-san-pai takkan mempunyai musuh.”

Mulai hari itu, Beng San diperkenankan tinggal di Hoa-san, malah mendapat kehormatan, untuk, tinggal satu rumah dengan Lian Bu Tojin. Kakek ini amat suka bercakap-cakap dengan Beng San yang Juga amat rajin tidak melupakan pekerjaannya yang dahulu, yaitu dia dengan tekun membersihkan tempat tinggal kakek itu, melayani segala keperluan Lian Bu Tojin. Pada suatu hari Lian Bu Tojin yang melihat Beng San mencuci lantai rumahnya, menarik napas panjang, mengelus-elus jenggotnya dan berkata.

“Sayang kau tidak suka ilmu sitat, Beng San. Kalau kau suka, pinto tentu akan merasa senang dan lega sekali menarik kau menjadi murid pinto. Kau memenuhi syarat-syarat untuk menjadi murid terbaik, kau mengenal bakti, mengenal pribudi, mengenal kesetiaan dan wawasanmu tepat, pandanganmu jauh dan luas. Pinto benar-benar mengharapkan bantuanmu dalam menghadapi percobaan beberapa hari yang akan datang ini. Kiranya pandanganmu dan kata-katamu akan dapat membantu banyak untuk meredakan ketegangan.”

“Akan teecu coba sekuat tenaga teecu, Totiang,” demikian jawaban Beng San, jawaban yang keluar dari lubuk hatinya.

Sementara itu, sikap Thio Ki dan Kul Lok masih angkuh sekali terhadap Beng San. Kwa Hong dan Thio Bwee bersikap manis, akan tetapi juga kelihatan memandang rendah. Tentu hal ini karena mereka berempat merasa menjadi murid-murid Hoa-san-pai yang memiliki ilmu silat tinggi, sedangkan Beng San itu pemuda apakah? Lemah dan “hanya pandai membersihkan lantai” kata Thio Ki. Malah Kui Lok pernah menyatakan kekhawatirannya bahwa Beng San yang pandai menjilat-jilat itu akan membujuk Lian Bu Tojin untuk menurunkan ilmunya.

“Ha-ha-ha, andaikata dia pandai menjilat dan berhasil membujuk, tanpa memiliki dasar ilmu silat, mana dia bisa berlatih?”

Kadang-kadang kalau Beng San berada di taman, empat orang murid Hoa-san-pai ini berlatih silat dengan sungguh-sungguh. Memang hebat ilmu pedang mereka, masing-masing memiliki gaya tersendiri dan memiliki keampuhan sendiri. Agaknya mereka sengaja memamerkan kepandaian mereka di depan Beng San dan pemuda ini cukup cerdik untuk memperlihatkan muka kagum. Malah pada suatu hari, setelah melihat Thio Ki dan Kui Lok bermain pedang, dia berkata.

“Aduh….. aduh, sampai silau mataku, pening kepalaku….. hebat sekali tarian pedang saudara Thio dan saudara Kui! Hebat, seperti kilat menyambar-nyambar!”

Thio Ki dan Kui Lok girang juga mendengar pujian ini. Biarpun mereka kadang-kadang masih merasa iri hati dan cemburu melihat sikap Kwa Hong yang manis terhadap Beng San, namun mereka tidak berani memukuli lagi karena Kwa Hong mengancam demikian.

“Kalau kalian berani mengganggu Beng San, aku akan melaporkan kepada sukong. Kalian tahu, sukong amat sayang kepadanya!”

Bangunan darurat yang didirikan oleh para tosu Hoa-san-pai sudah hampir selesai. Waktu yang ditentukan kurang dua hari lagi. Beng San selalu turun tangan membantu para tosu sehingga para tosu juga merasa suka kepada pemuda yang sopan, merendah dan ringan tangan ini. Sore hari itu sebelum gelap bulan sudah muncul, merupakan bola merah yang amat besar dan indah. Beng San baru saja mandi setelah sehari sibuk membantu para tosu menghias halaman depan.

“Beng San, kenapa kau sembunyi saja?” tiba-tiba dia mendengar suara.

Ternyata Kwa Hong yang datang, lalu gadis ini bisik-bisik, “Di mana sukong?” Gadis ini memang paling takut terhadap Lian Bu Tojin.

“Totiang berada di dalam, sedang siulian,” bisik Beng San kembali.

Kwa Hong menaruh jari di depan bibir, lalu memberi isyarat supaya Beng San keluar. Setibanya di luar ia berkata, “Beng San, semenjak datang kau sibuk dengan sukong atau dengan para supek menghias puncak. Kau sama sekali tidak peduli kepadaku. Kenapa?”

Beng San tersenyum. la menatap wajah yang hebat itu, wajah yang sekarang agak cemberut memandang kepadanya, sepasang mata yang bening bercahaya memandang penuh selidik.

“Nona Hong…..”

“Apa itu nona-nonaan segala? Sudah kukatakan beberapa kali, aku memanggil kau Beng San saja, kau pun tidak boleh pakai nona-nonaan segala macam!”

“Habis, bagaimana?”

“Semua orang memanggil aku Hong Hong, kau pun harus begitu.”

“Baiklah Hong Hong…… tentang pertanyaanmu tadi, sebagai tamu tentu saja aku harus melayani totiang dan membantu para tosu di sini. Tentang kau….. bukankah kau sudah ada tiga orang teman baik? Aku….. aku bodoh dan lemah, mana kau suka bicara dengan aku?”

“Rendah hati! Selalu rendah hati, ke mana kenakalanmu yang dulu? Aku lebih suka kau seperti dulu. Berani dan sombong! Eh, Beng San, tahukah kau?” Gadis itu mendekat dan bicaranya bisik-bisik, “Menghadapi perayaan seratus tahunan ini, sukong dan ayah menganjurkan kami semua ciak-jai (makan sayur pantang barang berjiwa). Wah, setengah mati aku. Harus satu bulan penuh ciak-jai, mana aku kuat? Tadi aku melihat di sana….. ada kelinci gemuk sekali. Hayo kau temani aku ke sana, aku tangkap kelinci, kau yang memanggangnya, aku yang makan.”

Menghadapi seorang dara seperti ini, mana bisa orang bersikap dingin dan pendiam? Demikian pun Beng San. Timbul kenakalannya yang dulu. Kalau dituruti saja gadis ini, bisa-bisa dia disuruh menggunduli kepalanya sendiri!

“Enaknya kau ini! Kalau kau ingin makan daging, pergi kautangkap sendiri, kau masak sendiri. Setelah matang, baru kau panggil aku dan beri bagian. Sebagai tamu sudah sepantasnya aku menerima jamuanmu.”

“Eh, banyak bantahan, bodoh kau! Bukannya karena aku tidak bisa memanggang sendiri. Aku minta bantuanmu karena kalau sampai ketahuan sukong, aku tldak akan mendapat marah. Bukankah kau yang memanggang daging dan bukan aku? Kautolonglah aku, aku sudah kemecer (ingin sekali)…..!”

Beng San tersenyum menggoda “Kalau aku tidak mau…..?”

Mulut yang manis itu cemberut. “Kalau tak mau, aku akan maki kau…..bung…..” la berhenti dan tidak melanjutkan makiannya. Beng San tahu bahwa dia akan dimaki bunglon, maka dia tertawa.

“Nona….. eh, Adik Hong. Kau ini aneh. Punya teman baik tiga orang di sini, kenapa tidak mengajak mereka? Kenapa kau mengajak aku bersekongkol. Ajaklah mereka bertiga itu.”

“Huh, kau tahu apa? Mereka bertiga itu tidak mempunyai nyali.”

“Tidak punya nyali? Apa maksudmu?”

“Mana mereka berani melanggar larangan sukong? Hayolah, jangan putar-putar omongan. Kau mau atau tidak?”

Tentu saja tidak mungkin bilang “tidak mau” terhadap desakan seorang dara seperti Kwa Hong. “Baiklah….. baiklah…..” Beng San berkata dan serentak Kwa Hong memegang lengannya terus menariknya mengajaknya lari cepat sekali.

“Eh….. eh….. bagaimana ini….. ih, Nona….. eh, Hong Hong, aku jatuh nanti…..” Beng San berteriak-tenak lirih.

“Cepat sedikit kenapa sih? Kau ini laki-laki atau perempuan?”

Jantung Beng San berdebar. Teringat dia akan gadis baju hijau bernama Eng. Kenapa sama benar pendapat Eng dan Hong? Eng dahulu juga bertanya seperti itu.

“Kaulihat saja sendiri. Aku ini laki-laki atau perempuan?” balasnya seperti dulu pula ketika dia menjawab pertanyaan Eng. Gadis baju hijau itu dahulu mengatakan bahwa dia bukan laki-laki bukan perempuan, tapi banci. Apa yang akan dikatakan Kwa Hong?

Kwa Hong tertawa, lalu membentot lagi tangan Beng San diajak lari melalui tempat yang tersembunyi. “Tentu saja kau laki-laki, tapi laki-laki yang lemah melebihi perempuan.”

“Kau tidak suka? Kau kecewa melihat aku lemah seperti perempuan?”

“Tidak…… tidak…..! Aku malah suka melihat kau lemah seperti ini. Laki-laki yang berkepandaian selalu bertingkah, berlagak pandai dan gagah sendiri. Cih, menjemukan malah. Kalau kau berkepandaian tentu kau pun akan berubah tingkahmu, tentu berlagak dan sombong seperti….. seperti…..”

“Seperti Kui Lok dan Thio Ki?” Beng San menyambung.

Kwa Hong melepaskan tangannya. Mereka berdiri berhadapan di bawah sinar bulan purnama, saling pandang.

“Kenapa kau berkata begitu?” tuntut Kwa Hong.

“Mudah saja. Kau hanya melihat dua orang itu di sini, tentu merekalah yang kaujadikan perbandingan. Akan tetapi kau keliru, Adik Hong yang manis. Banyak di dunia ini laki-laki berkepandaian yang tidak sombong seperti mereka.”

“Coba ulangi lagi…..”

“Ulangi apa?”

“Sebutanmu terhadapku tadi…..”

“Adik Hong yang manis?”

Kwa Hong tertawa girang, matanya berseri memandang kepada Beng San. Pemuda ini merasa kagum dan heran akan kepolosan hati gadis ini. Masih seperti kanak-kanak saja, begitu girang kalau dipuji. Ia tidak ingat sama sekali betapa Kwa Hong tidak senang, malah nampak marah dan bosan ketika dipuji-puji oleh Kui Lok dan Thio Ki. Kini gadis itu tertawa-tawa memandang kepadanya, mukanya menjadi merah dan matanya bersinar-sinar.

“Beng San, tidak bohongkah kau?”

“Bohong tentang apa?”

“Bahwa aku manis….. betulkah itu?”

Beng San merasa geli. Aneh memang wanita, kadang-kadang seperti kanak-kanak, sewaktu-waktu malah seperti ibu. “Tentu saja kau manis, kau cantik sekali, Hong Hong. Ketika melihatmu, hampir aku tidak mengenalmu lagi.”

“Kau dulu bilang aku seperti kuntilanak ……….”

Beng San tertawa ditahan. “Habis, kau pun memaki aku seperti bunglon sih. Apa mukaku benar-benar seperti bunglon? Hayo katakan!”

Kwa Hong berhenti melangkah, menoleh dan memandang kepada Beng San.

“Tidak, dulu memang kau buruk sekali, lebih buruk daripada seekor bunglon! Tapi sekarang….. hemmm, kalau saja kau pandai silat, kiranya kau lebih gagah dan ganteng daripada Lok-ko atau pun Ki-ko”.

Muka Beng San menjadi merah juga menerima pujian yang begini terus terang dari Kwa Hong. Gadis ini memang heran dan jujur bukan main. Mereka berlari lagi.

“Hayo cepatan sedikit, takut kemalaman” kata Kwa Hong sambil mempercepat larinya.

“Nah, itu dia ….” Mata Kwa Hong yang tajam sudah melihat beberapa ekor kelinci berlari-larian menyusup rumpun ilalang. Cepat ia mengejar. Akan tetapi binatang-binatang itu biarpun pendek pendek kakinya, ternyata dapat berlari cepat dan gesit sekali. Ditubruk sana menyusup sini, dicegat sini lari ke sana. Kwa Hong sambil tertawa-tawa seperti anak kecil mengejar-ngejar kelinci memilih yang paling gemuk.

Beng San menjadi gembira juga melihat ini. Timbul sifat kanak-kanaknya dan dia pun ikut tertawa-tawa dan mengejar ke sana-sini. Tapi kelinci yang paling gemuk lari ketengah hutan, dikejar kwa Hong. Beng San juga mengejarnya. Kelinci itu memang amat gemuk lag pula masih muda dan bulunya putih bersih. Tentu enak lunak dan sedap dagingnya.

Di bawah sebatang pohon besar Kwa Hone berhasil menangkap kelinci, dipegang pada dua telinganya. Gadis itu tertawa-tawa gembira, sambil memegangi binatang yang meronta-ronta itu.

“Nah, dapat yang gemuk ini. Beng San, nih kaubawa dan kau yang bertugas menyembelih dan memanggangnya!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: