Raja Pedang (Jilid ke-31)

Sambil tertawa Beng San menenma kelinci itu. Tiba-tiba terdengar auman keras sekali sampai bumi yang mereka Pijak seakan-akan tergetar, daun-daun Pohon bergoyang-goyang dan yang kering rontok berhamburan. Kwa Hong menjadl pucat dan mencabut pedangnya.

“Beng San….. cepat, kaupanjat pohon ini'” la mendorong-dorong tubuh Beng San arah batang pohon, dia sendri menjaga keselamatan Beng San dengan pedang di tangan.

“Kenapa aku mesti memanjat pohon?”

“Rewel kau! Ada harimau….. biar aku melawannya, tetapi kau….. kau harus memanjat pohon. Susah kalau melawan dan sekaligus melindungimu…..” Gadis itu berbisik, matanya tetap memandang ke arah gerombolan alang-alang yang sudah mulai bergerak-gerak.

Beng San tersenyum geli dan juga kagum disertai terima kasih. Betapapun galaknya, gadis ini ternyata berhati baik terhadapnya. Seorang diri hendak menghadapi harimau, sedangkan dia disuruh menyelamatkan diri di atas pohon! Gadis mana segagah ini? Karena Kwa Hong sedang mencurahkan perhatiannya ke arah gerombolan alang-alang, gadis ini tidak melihat betapa dengan amat mudah-nya, sambil membawa kelinci itu, Beng San sebentar saja sudah duduk di atas dahan pohon yang tinggi.

Dugaan Kwa Hong terbukti. Seekor harimau muncul perlahan-lahan dari gerombolan alang-alang itu. Beng San sampai kaget melihatnya. Harimau yang besar sekali, sebesar anak sapi Kepalanya besar, matanya sipit berkilauan, taringnya diperlihatkan dan kulitnya loreng-loreng agak putih.

“Hati-hatilah kau…… Hong-moi (adik Hong)…..!” kata-kata ini keluar dari hati Beng San. Pemuda ini belum pernah menghadapi seekor harimau yang kelihatan demikian mengerikan, tentu saja dia menjadi gelisah sekali. Biarpun dia sudah maklum bahwa dirinya memiliki bekal ilmu yang tinggi dan tenaga yang hebat, namun karena belum pernah berhadapan dengan binatang buas sebesar itu, dia merasa khawatir akan keselamatan Kwa Hong.

Kwa Hong mengangkat tangan kiri arah Beng San dengan maksud supaya pemuda itu tenang dan jangan khawatir. Hatinya lega mendengar suara Beng San dari atas, tanda bahwa pemuda itu sudah berada di atas pohon. Akan tetapi, agaknya gerakan tangan kirinya itu menjadi isyarat bagi sang harimau untuk bergerak. Dengan suara geraman hebat, tubuhnya yang tadi agak mendekam sekarang meloncat tinggi menerkam ke arah Kwa Hong dengan tenaga yang dasyat.

“Awas …..!” Beng San berseru, seluruh urat di tubuhnya menegang dan dia sudah siap dengan kelinci di tangan untuk turun tangan menolong seandainya gadis itu terancam bahaya. Akan tetapi, lega hatinya ketika dia melihat betapa dengan gerakan yang amat lincah gadis itu telah dapat meloncat ke sisi dan tubuh harimau yang besar itu lewat cepat menubruk tempat kosong. Pedang gadis itu berkelebat, tapi meleset tak dapat menusuk perut harimau karena ekor harimau yang panjang itu menyabet dan menangkis!

Dengan geraman mengerikan harimau itu sudah membalik dan menubruk lagi, lebih dahsyat daripada tadi. Akan tetapi, begitu melihat gerakan Kwa Hong tadi, Beng San lenyap kekhawatirannya. Sekarang dia malah memandang kagum. la mendapat kenyataan bahwa gerakan gadis ini benar-benar lincah dan cepat sekali, dan dari gerakan-gerakan itu dia bisa mendapat kenyataan bahwa kepandaian. Kwa Hong tidak kalah oleh Thio Bwee maupun Kui Lok dan Thio Ki. Namun, setelah diserang empat lima kali, belum juga Kwa Hong dapat menusuk harimau itu, selalu tusukannya meleset saking cepatnya harimau itu mengelak, atau menangkis dengan cakar dan ekornya.

“Bacok kaki belakangnya…..!” Beng San yang mulai khawatir lagi memberi nasihat.

Harimau melompat lagi, gadis itu yang agaknya sadar akan akal yang diteriakkan Beng San, tidak meloncat ke pinggir untuk mengelak seperti tadi, malah menerobos ke depan, ke bawah tubuh harimau yang sedang melompat tinggi menubruknya. Kemudian, sebelum tubuh harimau tiba di tanah, gadis ini sudah menggerakkan kaki membalik, pedangnya berkelebat dan….. harimau itu roboh dengan paha belakang sebelah kanan robek oleh sabetan pedang! la menggereng, mencoba untuk menyerang lagi namun karena luka itu gerakannya menjadi kurang cepat. Dengan mudah Kwa Hong mengelak dan mengirim bacokan-bacokan bertubi-tubi ke arah kedua kaki belakang. Setelah binatang buas itu roboh tak berdaya karena kedua kaki belakangnya hampir putus, dengan mudahnya Kwa Hong menusukkan leher dan perutnya. Harimau itu mengeluarkan auman terakhir, tubuhnya berkelojotan lalu diam tak bergerak lagi. la mati mandi darah di depan kedua kaki dara perkasa itu!

Beng San melorot turun, lalu bertepuk tangan. “Hebat….. hebat….. kau gagah sekali, Hong Hong…..”

“Kau tadi menyebutku Hong-moi…..”

Beng San mengingat-ingat. Betul saja, dalam kekhawatirannya tadi dia menyebut adik Hong kepada gadis itu. Wajahnya memerah.

“Memang aku lebih tua, sudah pantas menyebutmu Hong-moi. Boleh, kan?”

“Tentu saja boleh. Kau malah berjasa. Kalau tidak kauingatkan untuk menyerang kaki belakangnya, agaknya akan lama untuk dapat merobohkannya. Eh, mana kelinci tadi?”

Beng San mengambil kelinci yang tadi dikempit di antara kedua pahanya ketika dia bertepuk tangan. Gadis itu tertawa dan membersihkan pedang pada bulu harimau. “Hayo kita pulang, sudah hampir gelap dan perutku makin lapar saja oleh perkelahian tadi.”

“Bangkai harimau itu….. kan dagingnya enak dan dapat menambah kuat tubuh. Pula, kulitnya juga indah sekali, sayang kalau dibiarkan saja membusuk di sini.”

“Bawalah kalau kau mau. Tapi….. terlalu banyak daging itu, tidak akan habis. Kalau sukong melihatnya, bukankah akan terbuka rahasiaku?”

“Jangan khawatir, kau yang membunuhnya karena diserang harimau, aku yang makan dagingnya.”

“Dan aku akan mendapat bagian dengan diam-diam.” Kwa Hong tertawa-tawa. “Kau cerdik sekali, Beng San….. eh, tak enak juga kalau kau menyebutku adik tapi aku menyebut namamu begitu saja. Kau bilang leblh tua, sebetulnya berapa sih usiamu? Aku sudah delapan belas tahun!”

Beng San tertawa. “Sedikitnya aku dua tahun lebih tua dari padamu. Kau seharusnya menyebut kakak kepadaku.”

“Hemmm, San-ko (kakak San)….. hemmm, enak juga terdengarnya. Baiklah Beng San koko, kaubawa bangkai harimau itu. Tapi dagingnya terlalu banyak, akan termakan habis olehmu dibantu olehku secara diam-diam.”

“Jangan khawatir, selebihnya dapat kubuat dendeng. Kau punya banyak garam, kan?”

“Bisa kucuri dari dapur para supek tukang masak!” Kwa Hong tertawa nakal.

“Aha, kulihat kau hanya maju dalam ilmu silat, Agaknya segala petuah sukongmu tentang kebajikan tak pernah kautaati, buktinya kau mau nyolong garam.” Keduanya tertawa lagi dan Beng San segera memanggul bangkai harimau setelah menyerahkan kelinci kepada Kwa Hong.

“Eh, tak kusangka. Kau kuat juga, Bangkai harimau ini sedikitnya ada lima puluh kilo! Kwa Hong memandang kagum. Beng San terhuyung-huyung, kelihatan berat Baru teringat bahwa dia hendak menyembunyikan kepandaian. Hampir saja dia lupa kalau Kwa Hong tidak memujinya. la cepat-cepat beraksi dan kelihatan amat berat menggendong bangkai itu.

“Wah, berat sekali…..”

Kwa Hong tersenyum, “Tapi kau kuat menggendongnya. Hemmm, kiranya kau tidak begitu lemah seperti yang kukira. Sayang kau tidak belajar ilmu silat.”

“Tadi kaubilang lebih baik aku tidak bisa silat,” Beng San memperingatkan.

Kwa Hong mengangkat kedua pundaknya, gerakan yang manis dipandang.

“Bukan begitu maksudku….. entahlah, yang tak kusuka adalah sikap angkuh dan jumawa, menganggap diri sendiri paling pandai dan kuat. Sikap inilah yang tak kusuka, sikap yang banyak terdapat di kalangan orang kang-ouw.”

“Kau benar,” Beng San nnengangguk-angguk, “dan kiranya sikap yang demikian itu pula, sikap mau menang sendiri dan tidak mau mengalah sedikit pun juga, yang menimbulkan keributan-keributan dan permusuhan-permusuhan di antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya.”

Dua orang muda itu makin lama merasa makin cocok. Watak Beng San yang sederhana, jujur, sabar dan kadang-kadang dapat pula jincah jenaka dapat mengimbangi watak Kwa Hong yang lincah, gembira dan ada kalanya keras ada kalanya halus lembut penuh kemesraan. Tak mengherankan bahwa dalam beberapa hari itu mereka nampak makin akrab dalam pergaulan. Kwa Hong yang mempunyai hati terbuka, secara terang-terangan memperlihatkan kesukaannya bergaul dengan Beng San sehingga tentu saja dua orang pemuda Hoa-san-pai, Kui Lok dan Thio Ki, merasa dada mereka seperti mau meledak saking panas hatinya. Akan tetapi, Beng San adalah seorang tamu Hoa-san-pai, selalu agaknya sukong mereka suka kepada Beng San, juga Kwa Hong selalu “melindunginya”. Di lain fihak, Thio Bwee bernapas lega melihat bahwa Kwa Hong teryata tidak menaruh perhatian kepada Kui Lok, pemuda idaman hatinya itu.

* * * *

Beng San mendapat kenyataan betapa cocok kata-kata Tan Hok ketika men-ceritakan tentang keadaan Hoa-san-pai dalam permusuhannya dengan Kun-lun pai. Tidak saja dia melihat banyaknya tosu Hoa-san-pai yang berkumpul di gunung itu, mendekati seratus jumlahnya, namun menjelang datangnya hari perayaan ulang tahun ke seratus dari Hoa-san-pai, berturut-turut datang murid-murid Hoa-san-pai yang tinggal jauh dari Gunung Hoa-san. Tiga hari sebelum hari perayaan, di situ sudah berkumpul seluruh anggauta Hoa-san-pai yang jumlahnya mendekati seratus dua puluh orang! Keadaan Hoa-san-pai benar-benar angker. Tosu-tosu dengan pakaian putih seragam melakukan penjagaan dengan sikap mereka yang alim dan gagah. Jalan kecil yang menuju ke pendakian puncak itu, dihias dengan bunga-bunga kertas, setiap seperempat kilometer dijaga oleh tiga orang tosu di pinggir jalan, merupakan tiang-tiang hidup. Hal ini diadakan bukan hanya untuk memberi penghormatan kepada para tamu, akan tetapi kiranya terutama sekali untuk “unjuk gigi” kepada tamu yang datang dengan maksud-maksud buruk tertentu.

Sebagai sebuah partai besar yang sudah terkenal namanya di seluruh dunia kang-ouw, kali ini Hoa-san-pai mengadakan persiapan besar-besaran. Jauh beberapa hari sebelumnya, para tosu sudah sibuk berbelanja, menyediakan segala bahan makanan dan minuman untuk menjamu para tamu. Ratusan bangku baru dibuat dan diatur di ruangan depan. Ruangan ini menjadi luas sekali karena diberi tambahan darurat. Ruangan yang amat luas ini dibagi-bagi, untuk para tamu kehormatan di sebelah dalam menghadap keluar, untuk tamu wanita di sebelah kiri ,agak tertutup, dan untuk yang muda-muda di sebelah kanan. Di belakang tempat ke tiga ini yang paling luas, disediakan bangku-bangku panjang untuk tempat para tamu lain yang dianggap sebagai pengikut-pengikut saja. Fihak tuan rumah mengambil tempat di ruangan yang mepet dinding dalam, dekat tempat tamu kehormatan, membelakangi pintu besar yang menuju ke dalam “rumah besar”. Di tengah-tengah ruangan merupakan tempat terbuka yang cukup luas untuk memberi tempat bagi para pelayan hilir-mudik.

Menurut berita yang dibawa oleh para tosu penjaga kaki gunung, dua hari sebelum pesta dimulai, sudah banyak sekali tamu datang sampai di kaki Gunung Hoa-san. Mereka menginap di kampung-kampung, menanti datangnya hari yang ditentukan untuk mendaki puncak. Tentu saja para tosu itu di antaranya ada yang bertugas menyelidiki siapa-siapa yang akan datang, kawan ataukah lawan!

Pada hari itu, pagi-pagi sekali telah kelihatan para tamu berbondong-bondong mendaki puncak Hoa-san. Banyak sekali dan para tosu Hoa-san-pai yang menjaga di sepanjang jalan sampai ke puncak, mewakili ketua mereka, melihat dengan kaget betapa partai-partai lain datang lengkap dengan anak murid yang pilihan. Bahkan partai-partai Khong-tong-pai, Bu-tong-pai, dan Bu-eng-pai datang dengan puluhan orang anak murid masing-masing merupakan pasukan yang kuat! Lian Bu-Tojin memang tidak mau memperlihatkan diri lebih dulu, malah dia sengaja melarang Kwa Tin Siong, Liam Sian Hwa dan cucu-cucu muridnya untuk keluar lebih dulu sebelum para tamu lengkap. Kakek ini amat berhati-hati. la mau melihat murid-murid dan cucu-cucu muridnya muncul lalu dipancing oleh fihak lawan untuk mengacaukan pesta ulang tahun perkumpulannya. Setelah ruangan tamu di depan telah penuh oleh para tamu, barulah Lian Bu Tojin diiringkan oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa, Kwa Hong, Thio Bwee, Thio Ki dan Kui Lok, keluar dari dalam menuju ke tempat duduk yang disediakan untuk fihak tuan rumah. Para tamu segera berdiri memberi hormat yang dibalas oleh Kwa Tin Siong. Lian Bu Tojin sebagai seorang yang tingkatnya lebih tinggi, hanya mengangguk dan hanya mengangkat kedua tangan membalas penghormatan para tamu yang duduk di bagian terhormat.

Biarpun baru sekarang Lian Bu Tojin keluar, namun kakek ini sudah tahu siapa saja tamu-tamunya yang hadir. Tadi Kwa Tin Siong mengintai dari dalam dan memberi tahu kepada gurunya tentang para tamu yang sebagian besar dikenal oleh jago pertama dari Hoa-san-pai ini. Yang amat mengherankan hati Lian Bu Tojin dan Kwa Tin Siong adalah ketidakhadiran orang-orang Kun-lun-pai. Padahal mereka melihat bahwa Khong-tong-pai dan Bu-eng-pai, dua partai yang selalu memperlihatkan sikap membela Kun-lun-pai, sudah lengkap hadir di situ. Diam-diam mereka juga merasa girang dengan hadirnya jago-jago dari Bu-tong-pai, karena partai ini selalu memperlihatkan sikap baik kepada Hoa-san-pai dengan Kun-lun-pai.

Banyak terdapat jago-jago silat yang sudah terkenal namanya hadir di ruangan itu. Nama Hoa-san-pai sudah terlalu terkenal sehingga kali ini dapat menarik kedatangan jago-jago silat dari seluruh negeri. Tapi yang paling penting disebutkan di sini hanyalah beberapa orang saja. Di antaranya pemimpin rombongan Khong-tong-pai, seorang laki-laki gemuk pendek berusia lima puluh tahun. Dia adalah murid pertama dari Khong-tong-pai bernama Liu Ta, seorang ahli Iweekang dan ahli golok. Karena terlalu dipercaya oleh gurunya yang sudah tua, Liu Ta ini sering kali bertindak mewakili Khong-tong-pai tanpa setahu gurunya.

Dari fihak Bu-eng-pai, rombongannya dipimpin oleh dua orang jago Bu-eng-pai yang sudah terkenal namanya, yaitu Ang Kim Seng yang tinggi kurus berusia empat puluh tahun lebih dan adiknya, Ang Kim Nio yang cantik genit berusia tiga puluh tahun lebih. Kakak beradik ini terkenal sebagai ahli pedang dari Bu eng-pai. Seperti juga fihak Khong-tong-pai, kakak beradik ini lebih condong membantu Kun-lun-pai daripada Hoa-san-pai.

Beng Tek Cu, seorang tosu yang tinggi besar bermata lebar adalah seorang tokoh Bu-tong-pai, usianya lima puluh lima tahun. Orangnya jujur dan keras hati, tapi kepandaiannya tinggi dan namanya ditakuti orang-orang jahat karena tosu Bu-tong-pai ini tak pernah menaruh kasihan kepada para penjahat. la menjadi sahabat Kwa Tin Siong, maka dalam urusan antara Hoa-san dan Kun-lun, tosu tinggi besar ini dan rombongannya berfihak kepada Hoa-san-pai.

Masih banyak tokoh-tokoh besar yang hadir di pertemuan itu, akan tetapi agak-nya akan terlalu panjang kalau disebut-sebut satu persatu. Yang patut disebut kiranya hanya mereka yang duduk di ruang tamu kehormatan, yaitu pemimpin tiga rombongan yang telah disebut tadi untuk menghormat nama besar partai yang mereka wakili dan ada beberapa orang kakek lagi, yaitu dua orang hwe-sio, dua orang kakek petani dan tiga orang tosu. Mereka ini adalah tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang kenal dengan pribadi Lian Bu Tojin, jadi tidak mewakili sesuatu partai. Akan tetapi karena mereka ini tergolong orang-orang lihai dan setingkat, maka mereka dipersilakan duduk di ruang tamu kehormatan.

Di antara ramainya para tamu yang saling bicara seperti bunyi tawon madu diganggu, para tamu mulai menyerahkan sumbangan-sumbangan dan barang-barang tanda mata untuk memberi selamat pada Hoa-san-pai. Riuh rendah suara tertawa karena gembira ketika Lian Bu Tojin berkenan menerima sendiri barang-barang hadiah yang diberikan para tamu kepada Hoa-san-pai. Kakek ini berdiri di tengah ruangan di mana disediakan meja kosong yang panjang, diapit di kanan kiri oleh Kwa Tin Siong dan Liem Sian. Adapun Kwa Hong dan tiga orang saudara seperguruannya membantu untuk menerima barang-barang hadiah dan mengaturnya di atas meja. Hampir semua tamu membawa sebuah barang hadiah. Karenanya kini mereka berdiri dalam antrian panjang. Setiap orang yang sudah sempat di meja itu, menghormat kepada Lian Bu Tojin, mengucapkan selamat dan menyerahkan barang sumbangannya. Lian Bu Tojin dan dua orang muridnya menghaturkan terima kasih dan barang itu diterima oleh Kwa Hong dan saudara-saudara seperguruannya untuk diatur di atas meja panjang tadi.

Kwa Hong menjadi heran dari juga geli hatinya ketika ia melihat Beng San juga ikut-ikutan berdiri di dalam antrian. Pemuda ini mengenakan pakaiannya yang paling bersih, wajahnya yang berseri kelihatan gagah dan tampan sekali, yakni dalam pandangan Kwa Hong.

Tadi pemuda ini duduk di ruang kelas kambing, yaitu tempat luas di mana terdapat bangku-bangku panjang di mana berkumpul tamu-tamu yang menjadi pengikut rombongan. Eh, sekarang tahu-tahu dia ikut dalam antrian membawa sebuah bungkusan besar! Kwa Hong dengan heran dan geli hati menduga-duga apakah gerangan hadiah yang dibawa orang muda itu untuk Hoa-san-pai? Juga Thio Bwee melihat pemuda ini dan di bibir gadis ini pun tampak senyum geli. Dalam pandang mata Thio Bwee, biarpun Beng San merupakan seorang pemuda yang ia suka karena sikapnya selalu sopan dan baik, apalagi dahulu di waktu kecil pernah menolongnya, namun tetap saja Thio Bwee memandangnya sebagai seorang pemuda yang tidak punya guna, seorang pemuda yang lemah dan tidak tahu akan ilmu silat.

Berbeda dengan dua orang gadis itu yang melihat Beng San berdiri di dalam antrian para pemberi hadiah merasa lucu dan ingin sekali tahu apakah gerangan barang hadiah yang dibawanya dalam bungkusan besar itu, adalah Thio Ki dan Kui Lok memandang dengan mata penuh curiga, iri hati dan cemburu. Dua orang pemuda ini dalam beberapa hari saja telah tahu betapa Kwa Hong amat suka bergaul dengan Beng San, betapa wajah gadis itu selalu berseri-seri kalau bercakap-cakap dengan “bocah dusun” itu. Betapa Kwa Hong agaknya lebih suka bercakap-cakap dengan Beng San daripada dengan mereka. Kalau saja tidak berada di tempat perjamuan dan kalau saja tidak takut kepada sukong mereka, agaknya dua orang pemuda ini sudah akan mengusir Beng San dari situ. Menurut pendapat mereka, Beng San tidak patut hadir di dalam ruangan ini, yang sekarang penuh dengan para tamu ahli silat belaka.

Akan tetapi Beng San sendiri agaknya tidak peduli akan cucu-cucu murid Hoa-san-pai, tidak peduli bagaimana mereka memandangnya. Dia sendiri tersenyum dan berseri-seri wajahnya melihat ke kanan kiri kepada para tokoh kang-ouw yang sekarang sebagian besar berkumpul di situ. Baru sekarang dia mendapat kesempatan bertemu dengan mereka, siapa tidak akan girang? Dari seorang di dekatnya, dia tadi mendapat keterangan satu demi satu tentang para tamu yang dianggap tamu kehormatan. Malah teman di dekatnya tadi, seorang anak murid Bu-tong-pai, agaknya senang sekali bercerita sehingga membocorkan rahasia partainya bahwa Bu-tong-pai membantu Hoa-san-pai, sebaliknya menceritakan pula betapa Khong-tong-pai dan Bu-eng-pai selalu membantu Kun-lun-pai dalam memusuhi Hoa-san-pai. Juga dia menceritakan kehebatan setiap orang tokoh yang dia anggap memiliki kesaktian seperti dewa-dewa! Selain gembira karena mendapat kesempatan melihat orang-orang kang-ouw, juga hatinya gembira ketika mendengar bahwa fihak Kun-lun-pai tidak hadir. Bukankah dengan demikian maka kenbutan takkan terjadi dan dia tidak usah bersusah payah untuk mencegahnya?

Setelah tiba giliran Beng San menyerahkan sumbangannya, pemuda ini dengan wajah sungguh-sungguh memberi hormat dengan menjura dalam di depan Lian Bu Tojin sambil berkata, “Dengan hati tulus dan hormat saya menghaturkan selamat kepada Hoa-san-pai yang mencapai usia seratus tahun. Semoga Hoa-san-pai akan melewati ratusan tahun lagi dan melahirkan patriot-patriot yang gagah perkasa, pembela-pembela rakyat yang adil dan bijaksana. Harap Totiang sudi menerima kenang-kenangan tidak berharga ini.” la membuka bungkusannya dan terdengar sedak tertahan dari Kwa Hong ketika gadis ini melihat isi bungkusan besar. Ternyata isinya….. kulit harimau yang besar dan amat indahnya. Harimau yang kemarin dulu ia bunuh di hutan!

Muka ketua Hoa-san-pai berseri gembira. “Terima kasih, terima kasih…..” Sebagai layaknya seorang, tuan rumah, dia niembalas penghormatan tamu bersama Kwa Tin Siong, sedangkan Thio Bwee menerima kulit harimau itu, diletakkan di atas meja. Ketika Beng San kembali ke tempat duduknya, telinganya yang tajam pendengarannya itu menangkap seruan-seruan heran dan kagum dari para tamu.

“Siapa dia itu? Dapat mengambil kulit harimau sebesar itu tanpa melukainya..,., hemmm, agaknya pandai juga dia…..”‘ Diam-diam Beng San tersenyum dan me-rasa lucu. Harimau itu yang membunuhnya adalah Kwa Hong dan dia dengan hati-hati telah menutup luka-luka bekas tusukan pedang Kwa Hong sehingga dilihat sepintas lalu saja seakan-akan tidak ada bekas luka, seakan-akan dia telah menangkapnya dengan tangan kosong, atau membunuhnya dengan kepalan saja!

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bagian depan. Orang-orang memandang dan membelalak kaget. Seorang pemuda yang bukan lain adalah Giam Kin, berlenggang masuk. Orangnya sih tidak mendatangkan kaget pada para tamu, hanya apa yang di bawanya yang mendatangkan heboh. Pemuda ini datang membawa seekor ular besar yang melilit-lilit tubuhnya. Ular sebesar paha yang kelihatan galak! Beng San memandang dengan perasaan mendongkol. Terang sekali bahwa pemuda itu sengaja berlagak untuk menarik perhatian orang. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu menghampiri meja dan menjura kepada Lian Bu Tojin.

“Lian Bu-totiang, saya mewakili suhu datang untuk mengucapkan selamat dan terimalah semacam hadiah saya ini.” Semua orang kaget dan mengira bahwa pemuda, ini akan menghadiahkan ular besar itu. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan wajah tenang membalas penghormatannya dan berkata.

“Ah, saudara Giam terlalu sungkan. Terima kasih atas pemberian selamat.”

Giam Kin merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan dua buah tabung bambu yang tersumbat. Tercium bau yang amat amis ketika dia membuka sumbat daripada sebuah di antaranya, “Agar Totiang tahu apa isinya, baik saya buka dan perlihatkan.” la mengetuk bambu itu dan keluarlah….. seekor ular bersisik merah yang kecil dan liar. Dengan gerakan seorang ahli ditangkapnya leher ular itu dan diangkatnya ke atas, tinggi-tinggi. la berkata, jelas kata-katanya ditujukan kepada semua tamu seperti seorang penjual obat mempropagandakan obatnya.

“Harap Lian Bu totiang tidak menganggap saya memberi tanda mata yang tidak ada harganya. Sungguhpun hanya merupakan dua ekor ular kecil dalam tabung bambu, namun kurasa dibandingkan dengan semua barang sumbangan yang berada di atas meja ini, hadiahku adalah yang paling berharga. Sepasang ular ini adalah yang disebut Ngo-tok-coa (Ular Lima Racun), dapat digunakan untuk menyembuhkan lima macam bahaya akibat terkena racun. Biarpun hanya merupakan dua ekor ular kecil, namun sewaktu-waktu dapat berjasa dan menyambung nyawa, benda-benda yang lain ini hanya indah dipandang tapi tidak ada gunanya, mana dapat dibandingkan dengan ular-ular pemberianku ini?”

Dengan bangga dia menyerahkan dua tabung itu kepada Kwa Hong dan Thio Bwee seorang satu. Gerak-geriknya bebas dan tak tahu malu, akan tetapi karena dia merupakan seorang tamu yang memberi hadiah ulang tahun Hoa-san-pai terpaksa biarpun dengan muka merah dan mulut cemberut, Kwa Hong dan Thio Bwee menerimanya juga. Adapun Kwa Tin Siong mewakili suhunya menjura dan mengucapkan terinia kasih.

Giam Kin lalu menoleh ke kanan kiri, agaknya mencari tempat duduk yang sudah penuh. Seorang tosu Hoa-san-pai segera menghampiri dan sambil membungkuk-bungkuk tosu itu berkata.

“Tuan muda, silakan duduk di sebelah sana masih ada tempat kosong.” la hendak mengantar Giam Kin duduk di ruangan sebelah kanan di mana berkumpul tamu-tamu muda. Akan tetapi Giam Kin mengerutkan hidungnya ketika melihat betapa tempat itu adalah tempat duduk orang-orang yang bukan “orang atas”. la menggelengkan kepala dan berkata sambil tertawa.

“Biarlah aku di sana saja, sudah membawa tempat duduk sendiri.” la lalu melangkah lebar menuju ke ruangan tamu kehormatan!

Liu Ta pemimpin rombongan Kho-tong-pai agaknya mengenal pemuda ini karena dia segera berdiri dan tersenyum memberi hormat. Akan tetapi yang pa-ling menyolok adalah sikap Ang Kim Seng dan Ang Kim Nio, dua orang jago Bu-eng-pai. Ang Kim Nio melirik-lirik dengan senyum genit sedangkan Ang Kim Seng bahkan cepat berdiri dan menyilakan Giam Kin menduduki tempat duduknya.

“Duduklah Ang-twako. Duduklah, biar aku duduk di tempat yang sudah kubawa sendiri. la lalu melepaskan lilitan ular di pinggang kemudian ular besar dan panjang itu dia gulung dan lingkar-lingkar sehingga merupakan gundukan yang lebih tinggi daripada bangku-bangku yang berada di situ. Di atas gundukan atau lingkaran tubuh ular inilah dia duduk, nampak bangga dan jelas sengaja melakukan semua ini untuk menarik perhatian dan memancing pujian!

Bukan main mendongkolnya hati orang-orang Hoa-san-pai menyaksikan sikap pemuda itu. Thio Ki dan Kui Lok sudah mengepal tinju dan mereka ini diam-diam berjanji bahwa kalau pemuda setan itu berani main gila, mereka akan menghadapinya lebih dahulu. Kwa Hong dan Thio Bwee juga marah sekali, dengan kerling tajam menyambar mereka diam-diam memaki pemuda itu. Namun Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa kelihatan tenang-tenang saja, apalagi Lian Bu Tojin, kakek ini malah tersenyum-senyum nampak gembira. Padahal di dalam hatinya, guru dan dua orang muridnya ini selalu terheran mengapa fihak Kun-lun-pai belum juga muncul. Tidak hanya fihak tuan rumah yang terheran, juga para tamu terheran-heran, malah para tamu rnuda menjadi kecewa sekali. Sesungguhnya, mereka naik ke Hoa san bukan semata-mata untuk memberi penghormatan kepada Hoa-san-pai, melainkan terutama sekali tertarik akan harapan melihat pertandingan hebat antara Hoa-san-pai dan Kun lun-pai. Mereka semua sudah tahu bahwa antara dua partai persilatan ini terdapat permusuhan, maka sekali ini dalam pertemuan terbuka, tentu akan diadakan pertandingan terbuka pula untuk menentukan siapa yang lebih kuat.

Giam Kin menoleh ke kanan kiri seperti orang mencari-cari. Diam-diam dia memperhatikan para tamu dan mencari seorang pemuda muka hitam. la bernapas lega ketika tidak dapat menemukan orang bermuka hitam itu, akan tetapi dia masih merasa gelisah yang ditutup-tutupinya dengan sikap yang jumawa. Sebetulnya dia merasa khawatir kalau-kalau “setan muka hitam” itu akan muncul di sini.

“Ah, kenapa aku tidak melihat seorang pun dari Kun-lun-pai?” tiba-tiba Giam Kin berkata, suaranya nyaring dan terdengar banyak orang, terutama oleh para tamu kehormatan yang hadir di situ. Semua mata memandangnya karena memang pertanyaan ini sudah sejak tadi berada dalam benak semua tamu berikut tuan rumah, hanya tak seorang pun berani lancang mulut bertanya seperti yang dilakukan Giam Kin.

Ang Kim Seng tertawa, lalu menjawab, juga dia sengaja mengerahkan tenaga sehingga suaranya terdengar nyaring, “Giam-taihiap, apakah kau juga ingin sekali menonton keramaian? Tentu mereka akan datang!”

“Kabarnya ketua Kun-lun-pai juga mau datang memberi selamat? Betulkah berita ini?” Giam Kin bertanya lagi, tidak peduli akan pandang mata tak senang dari seorang tosu yang tinggi besar dan duduk di dekatnya.

“Memang ada berita itu,” jawab Ang Kim Seng, “dan malah murid-murid Kun-lun-pai sudah memberi tahu kepadaku sendiri. Aku pun sudah lama tidak berjumpa dengan Pek Gan Siansu, ingin aku menyampaikan hormat.”

“Ha-ha-ha, Ang-twako. Agaknya kau ini sahabat karib Kun-lun-pai!” Giam Kin terang-terangan menegur tertawa.

Ang Kim Seng juga tertawa. “Kun-lun-pai adalah partai terbesar di dunia ini, partai terbesar dan terkuat, juga terkenal sebagai tempat pendekar-pendekar gagah perkasa. Siapa orangnya yang tidak bersahabat dengan mereka?

Sudah jelas bahwa percakapan antara Giam Kin dan Ang Kim Seng ini adalah percakapan yang menyerempet-nyerempet ketenangan dan para tamu serentak menghentikan percakapan mereka dan mendengarkan dengan hati tegang. Kwa Tin Siong sendiri mulai melirik-lirik ke arah tempat duduk para tamu kehormatan. Adapun Thio Ki, Thio Bwee, Kui Lok, dan Kwa Hong sudah terang-terangan memandang ke arah Ang Kim Seng dengan mata tajam.
Tiba-tiba Beng Tek Cu, tosu dan Bu-tong-pai yang sejak tadi merasa muak melihat lagak Giam Kin, berdiri dan bangkunya. la memang seorang yang galak dan jujur, di dalam hatinya dia pro kepada Hoa-san-pai. Kini mendengar percakapan yang menyinggung-nyinggung urusan Kun-lun-pai, dia tak dapat menahan lagi kesabarannya. Seperti orang bicara kepada diri sendiri, tosu tinggi besar yang sudah tua tapi masih kelihatan muda ini menengadahkan kepalanya dan berkata keras.

“Siapa yang menjilat dan bermuka-muka pada yang besar dan kuat, tiada bedanya dengan kutu anjing yang hidupnya hanya mengandalkan tubuh anjing yang ditumpanginya!”

Mendengar ucapan yang keras ini, Semua tamu diam dan semua memandang ke arah ruangan tamu kehormatan itu. Tak seorang pun mengira bahwa dari ruang ini akan disulut api yang akan membakar perayaan itu. Giam Kin tertawa-tawa geli seakan-akan dia merasa betapa lucunya kata-kata tadi. Ang Kim Seng melompat bangun dari bangkunya, memandang ke arah Beng Tek Cu sambil bertanya.

“Kau berani menyamakan aku dengan kutu anjing?”

Beng Tek Cu menoleh kepadanya, seakan-akan tak peduli, lalu balas bertanya, “Kau merasa menjadi kutu anjing atau tidak?”

“Tentu saja tidak!” Ang Kim Seng marah, mukanya sudah menjadi merah sekali, matanya melotot.

“Kalau tidak ya sudah! Aku tidak memaki siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa kalau ada yang menjilat dan bermuka-muka pada yang besar dan kuat, dia itu seperti kutu anjing. Kalau kau bukan kutu anjing, ya sudahlah, kenapa ribut-ribut?” Terdengar suara ketawa di sana-sini.

“Hi-hi-hi… ” Kwa Hong menutupi mulutnya dengan tangan untuk menahan ketawanya. Tentu saja gadis ini sudah maklum bahwa fihak Bu-eng-pai memang selalu menangkan Kun-lun, adapun fihak Bu-tong-pai membantu fihaknya. Apalagi ia mengenal Beng Tek Cu sebagai sahabat karib ayahnya, maka ia girang dan geli melihat betapa tosu yang memang berwatak berangasan, kasar dan jujur tapi pandai berdebat itu mempermainkan Ang Kim Seng.

“Satu nol…..” kata Beng San. Pemuda ini sejak tadi telah memperlihatkan keringanan tangannya, tanpa diminta telah membantu ke sana ke sini, kadang-kadang membantu para tosu yang menghidangkan makan minum kepada para tamu, kadang-kadang membantu memberes-bereskan barang-barang sumbangan di atas meja panjang itu ketika dia mendengar Kwa Hong tertawa. Ia sendiri juga merasa geli maka tanpa disengaja dia tadi berkata, “Satu nol…..”

“Apanya yang satu nol?” Kwa Hong bertanya lirih tanpa pedulikan lirikan ayahnya yang hendak mencegah ia bicara tentang hal yang meributkan.

“Tosu hitam tinggi besar itu menang satu, si tinggi kurus itu kalah dan belum menangkan apa-apa, maka kedudukan mereka menjadi satu nol untuk si tosu tinggi besar,” jawab Beng San.

Sementara itu, mendengar ucapan Beng Tek Cu, Ang Kim Seng makin marah, akan tetapi tentu saja dia ini berada di fihak salah kalau dia mulai memaki. Ia menahan kemarahannya dan pura-pura bersikap tenang, bertanya.

“Eh, tosu yang bersikap kasar. Tidak tahu siapakah kau?”

“Ang Kim Seng sicu (orang gagah) sebagai jagoan besar Bu-eng-pai, tentu saja tidak mengenal pinto (aku) Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai.”

Ang Kim Seng nampak kaget sekali dan dia merasa menyesal mengapa tadinya dia tidak mencari keterangan lebih dulu siapa sebenarnya tosu tinggi besar yang kasar ini. Kiranya tokoh Bu-tong-pai! Jawaban Beng Tek Cu tadi sekaligus memukul lawannya karena jawaban itu juga merupakan sindiran tajam sekali. Dengan mengenal nama Ang Kim Seng dan partainya merupakan tanda betapa tajam pandangan dan luas pengetahuan Beng Tek Cu, sebaliknya kalau orang sampai tidak mengenal tokoh Bu-tong-pai, hal itu boleh dikatakan keterlaluan dan picik pengetahuannya.

“Dua nol…..” kata pula Beng San, tapi sebelum Kwa Hong sempat bicara, pemuda ini sudah pergi untuk membantu para tosu mengisi lagi arak bagi para tamu.

Sementara itu, Ang Kim Seng berusaha menyembunyikan perasaan malunya.

“Ah, kiranya Bu-tong-pai…..” Sambil berkata demikian, dia pun duduk kembali dan mengajak Giam Kin bercakap-cakap. Sikapnya ini jelas sekali hendak membalas, kelihatan memandang rendah kepada Bu-tong-pai. Beng Tek Cu sentu saja merasai ini, mukanya sudah merah, hatinya sudah panas, akan tetapi oleh karena tidak ada alasan, dia pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ketegangan antara dua orang ini makin terasa, dan semua orang tahu bahwa apabila ada sedikit saja dasar dan alasannya, tentu kedua orang ini akan saling tantang.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: