Raja Pedang (Jilid ke-32)

Pada saat itu, ketegangan yang ditimbulkan oleh tokoh Bu-eng-pai dan Bu-tong-pai ini seketika lenyap dengan masuknya seorang gadis berpakaian serba hijau yang cantik dan gagah. Dara ini masih remaja sekali, memakai pakaian serba hijau yang sederhana potongannya tapi ringkas, gagang pedang tersembul di balik punggungnya. la memasuki ruangan itu seorang diri saja dan inilah yang menarik perhatian orang, terutama sekali perhatian para tamu rnuda. Tanpa menoleh ke kanan kiri gadis itu segera menghampiri Lian Bu Tojin dan memberi hormat dengan sopan.

“Totiang yang mulia, teecu mewakili suhu Swi Lek Hosiang mengucapkan selamat kepada Hoa-san-pai dan menyampaikan tanda mata ini.” Ternyata gadis itu membawa barang sumbangan berupa sebuah mainan burung dara terbuat daripada perak yang diukir indah sekali, bermata kumala.

Lian Bu Tojin tersenyum lebar, nampak gembira sekali dan menerima benda sumbangan itu. “Ha-ha-ha, benar-benar pinto yang sudah tua ini menerima peng-hormatan besar yang amat membanggakan hati. Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang sampai sudi mengingat hari ulang tahun Hoa-san-pai, benar-benar menggirangkan sekali. Terima kasih, anak yang baik. Bahagialah Swi Lek Hosiang mempunyai murid seperti engkau. Hong Hong dan Bwee-ji, ajak nona ini duduk bersama.” Sebagai murid Swi Lek Hosiang, kiranya sudah sepantasnya kalau nona ini diberi tempat duduk bagian tamu kehormatan, akan tetapi Lian Bu Tojin melihat betapa tak pantasnya kalau nona muda jelita ini harus duduk dalam satu ruangan dengan orang-orang laki-laki terutama di situ terdapat Giam Kin. Oleh karena inilah maka dia sengaja menyuruh Kwa Hong dan Thio Bwee mengajak nona itu duduk bersama, dengan demikian dia dapat menjaga nama besar Thai-lek-sin Swi, Lek Hosiang, juga di samping itu dapat menjaga nona muda ini dari pandang mata atau ucapan yang kasar mengandung kekurangajaran. Diam-diam kakek ini sudah dapat menilai watak daripada orang muda semacam Giam Kin.

Kwa Hong dan Thio Bwee sudah pernah mendengar nama besar Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, maka sekarang bertemu dengan muridnya yang begini cantik dan sebaya dengan mereka, tentu saja mereka dapat menerimanya dengan girang dan sebentar saja tiga orang nona ini bercakap-cakap dengan ramah dan akrab. Hanya menjadi keheranan hati dua orang nona Hoa-san-pai itu ketika melihat betapa nona berbaju hijau ini sering kali memandang ke arah para tamu, sinar matanya menyambar-nyambar penuh selidik seakan-akan dia mencari seseorang antara para tamu.

Mendadak terdengar teriakan tosu penjaga pintu gerbang depan.

“Pek Gan Siansu dari Kun-lun-pai datang…..!”

Serentak suara berisik dari para tamu terhenti. Muka-muka menjadi tegang, mata menatap keluar penuh perhatian, dada berdebar-debar. Terutama sekali murid-murid Hoa-san-pai, mereka siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka mengira bahwa tentu Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai ini datang membawa banyak anak muridnya dari Kun-lun-pai. Akan tetapi mereka semua itu kecele ketika melihat bahwa yang muncul hanya seorang kakek tua sekali, usianya hampir delapan puluh tahun, jenggotnya putih panjang sampai ke perut, sepasang matanya juga kelihatan putihnya saja seperti mata yang sudah lamur, tubuhnya tinggi kurus, mulutnya tersungging senyuman ramah dan tenang, tangan kanannya membawa sebatang tongkat bambu yang panjang. Di belakangnya, sambil menundukkah mukanya, berjalan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, bermuka tampan gagah. Usia pemuda ini takkan lebih dari dua puluh empat tahun. la berjalan di belakang kakek itu membawa sebatang pedang yang diletakkan di atas kedua lengannya yang ditelentangkan, seperti orang membawa baki, Di pinggangnya sendiri tergantung puja sebatang pedang. Dapat diduga bahwa pedang yang dibawanya itu tentulah pedang pusaka Kun-lun-pai, dan agaknya kakek tua itu sudah menyuruh pemuda ini sebagai tukang membawanya.

Dengan sikap yang amat manis, Pek Gan Siansu berjalan mernasuki ruangan itu, mengangguk ke kanan kiri kepada tokoh-tokoh yang dia kenal, kemudian dengan langkah halus dia terus masuk menghampiri Lian Bu Tojin yang siang-siang sudah berdiri dari tempat duduknya, berdiri tegak menyambut, sikapnya halus wajahnya berseri ramah akan tetapi sepasang matanya memandang penuh keangkeran seorang ketua partai besar.

“Pek Gan Siansu, selamat datang di Hoa-san-pai. Kedatanganmu benar-benar amat melegakan hati pinto,” kata Lian Bu Tojin sambil mengangkat kedua tangan ke dada dan membungkuk.

“Ah, kau baik sekali, Lian Bu toyu,” kata kakek tua itu sambil tersenyum dan balas memberi hormat. “Tidak hanya engkau, aku pun merasa lapang dadaku dapat bertemu muka dengan ketua Hoa-san-pai. Perkenankanlah aku mengucapkan selamat kepada Hoa-san-pai.”

“Terima kasih…… terima kasih….. dan silakan duduk, Siansu. Silakan duduk dan pengiringmu itu juga. Dan suruhlah anak-anak muridmu masuk semua, pinto persilakan mereka duduk dan menerima jamuan sederhana dan seadanya dari Hoa-san-pai.”

Akan tetapi, biarpun masih tersenyum-senyum kakek Kun-lun-pai itu tidak mau duduk, tetap berdiri di situ dan pemuda yang gagah tampan tadi masih berdiri pula di belakangnya, tunduk membawa pedang pusaka.

“Terima kasih, Lian Bu toyu. Aku datang hanya dengan muridku yang paling muda ini. Aku datang tidak membawa maksud buruk, mengapa harus datang membawa anak-anak Kun-lun-pai? Lian Bu toyu, sudah terlalu lama kau dan aku diam-diam saja melihat kebodohan anak-anak kita. Kurasa sekaranglah saatnya kita harus bertindak.”

Kembali suasana menjadi tegang, orang-orang diam tak bergerak, tak bersuara, semua perhatian dicurahkan kepada dua orang kakek tua yang kini berdiri saling berhadapan itu. Lian Bu Tojin masih tersenyum, akan tetapi keningnya bergerak-gerak.

“Pek Gan Siansu, tindakan apa gerangan yang hendak kaulakukan?”

Pek Gan Siansu menoleh ke kanah kiri, jenggotnya yang panjang itu bergerak-gerak. “Toyu (sahabat dalam To), lajimnya urusan seperti yang hendak kubicarakan ini dilakukan di dalain sebuah kamar tertutup atau di lingkungan keluarga saja. Akan tetapi melihat keadaan kedua partai kita yang selama ini telah terjadi kesalahfahaman dan bentrokan-bentrokan, maka kurasa malah ada baiknya kalau pembicaraan ini disaksikan oleh para orang gagah yang hadir di sini. Justeru memerlukan saksi-saksi inilah maka aku sengaja memilih hari baik ini.”

“Katakanlah maksudmu, pinto mendengarkan penuh perhatian,” Lian Bu Tojin berkata ketika melihat kakek tua itu berhenti sejenak.

Pek Gan Siansu menarik napas panjang. “Lian Bu toyu, berpuluh tahun kau dan aku menjadi sahabat karib sampai-sampai dahulu kita pernah mempererat hubungan dengan menjodohkan murid-murid kita satu dengan yang lain.”

“Celakanya, justeru perjodohan itulah yang menyebabkan semua keributan,” Lian Bu Tojin menceta sambil menarik napas panjang penuh penyesalan”.

“Segala sesuatu memang sudah ditentukan oleh Thian Yang Maha Kuasa,” Pek Gan Siansu menghibur. “Tapi bagi orang-orang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan seperti kita ini, kiranya mengingatkan hal-hal lama bukanlah perbuatan yang benar. Lebih baik kita memandang ke depan daripada menengok ke belakang. Tidakkah kaupikir demikian juga, Toyu?”.

Tiba-tiba tosu penjaga di pintu gerbang berkata keras.

“Souw-kongcu (tuan muda Souw) dan Tan-kongcu datang…..’

Lian Bu Tojin mengangkat muka memandang, juga semua tamu. Yang masuk adalah dua orang laki-laki muda yang berpakaian indah dan bersikap gagah. Seorang di antaranya adalah Souw Kian Bi, Pangeran Mongol yang pernah menggoda Liem Sian Hwa dahulu, kemudian menculik Thio Bwee dan Kwa Hong, kemudian dapat membujuk Lian Bu Tojin memberikan janjinya untuk tidak membantu pemberontak Pek-lian-pai. Hal ini telah dituturkan di bagian depan, yaitu terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu. Biarpun semenjak itu tidak ada lagi hubungan antara Hoa-san-pai dengan Pangeran Mongol ini, namun tidak mengherankan apabila Souw Kian Bi datang pula untuk menghadiri perayaan Hoa-san-pai.

Melihat orang yang pernah menculiknya, Kwa Hong dan Thio Bwee menjadi merah mukanya, marah sekali. Juga Liem Sian Hwa memandang dengan sinar mata penuh kebencian. Begitu masuk, Souw Kian Bi segera menujukan pandang matanya ke dalam, ke arah wanita-wanita cantik itu. Mulutnya tersenyum-senyum dan matanya liar memandang. Tiba-tiba dia melihat gadis baju hijau yang duduk bersama Kwa Hong dan Thio Bwee, dia nampak kaget lalu berseru gembira.

“Heeeee….. Nona Thio Eng! Kau disini juga…..?”

Bagi orang-orang Hoa-san-pai, bukanlah aneh kalau Souw Kian Bi mengenal nona baju hijau yang sekarang baru mereka ketahui bernama Thio Eng itu. Bukankah dahulu juga Souw Kian Bi berada di markas Mongol bersama dengan Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang guru nona itu?

Thio Eng, nona baju hijau yang pernah kita kenal ketika ia bertemu dengan Beng San dan mengaku bernama Eng, hanya mengangguk kaku ke arah Souw Kian Bi dan berkata, “Aku mewakili suhu.”

“Ah, suhumu di mana sekarang? Bertahun-tahun hwesio tua itu tidak pernah muncul. Dan kau….. hemmm, sudah besar sekarang dan….. cantik….”

Terdengar suara orang tertawa di sana-sini dan Souw Kian Bi menjadi merah mukanya, sadar dia bahwa di depan banyak orang itu dia telah bersikap terlalu bebas dan mungkin agak ceriwis! Cepat-cepat dia menarik tangan temannya diajak menghampiri Lian Bu Tojin, menjura dan menghaturkan selamat. Lian Bu Tojin mengucapkan terima kasih, lalu Kwa Tin Siong yang mempersilakan dua orang muda itu mengambil tempat duduk. Karena maklum bahwa Souw Kian Bi seakan-akan mewakili Pemerintah Mongol, maka Kwa Tin Siong memberinya tempat duduk selayaknya, di dekat ruang tamu kehormatan.

Kwa Hong duduk di bangkunya dengan bengong. Sepasang matanya tiada henti-nya menatap wajah pemuda yang menjadi teman Souw Kian Bi. Orang itu benar-benar mirip Beng San, pikirnya terheran-heran. Ingin ia bicarakan hal ini dengan Thio Bwee, akan tepat ia melihat Thio Bwee memeluk lengan gadis baju hijau sambil berkata.

“Eh, Cici Eng yang baik, kiranya kita masih satu keturunan! Jadi kau juga bernama keturunan Thio?”

Akan tetapi gadis baju hijau itu, Thio Eng, tidak menyambut sikap Thio Bwee dengan gembira, sebaliknya ia hanya menundukkan muka dan mengerutkan kening.

“Enci Eng, siapakah ayahmu…..?'”Thio Bwee dalam kegembiraannya mendesak.

“Ayah….. ayah sudah meninggal dunia, juga ibu, aku yatim piatu.” .

Thio Bwee terharu dan memeluk pinggang gadis itu. “Ah, kasihan kau, Enci Eng. Ayahku juga sudah meninggal dunia, tapi ibuku masih ada, di Gi-nam…..”

Kwa Hong yang tak jadi mengajak Thio Bwee bicara tentang orang muda teman Souw Kian Bi yang ia anggap mirip Beng San, segera memutar leher mencari-cari Beng San dengan matanya. Tapi kemanapun ia mencari dengan pandang matanya, di situ tidak kelihatan adanya Beng San.

Kemanakah perginya pemuda ini?. Memang Beng San pergi bersembunyi! Pemuda ini mengalami hal-hal yang mengguncangkan hatinya. Pertama-tama melihat munculnya Thio Eng yang dia kenal sebagai nona Eng berperahu, dia sudah cepat menyingkirkan diri agar jangan terlihat oleh nona itu. Pengalamannya dengan Thio Eng membuat dia terharu dan juga merasa malu untuk bertemu muka di tempat umum seperti itu. Kemudian munculnya Pek Gan Siansu dengan orang muda yang membawa pedang pusaka, membuat hatinya cukup merasai ketegangan hebat. Inilah tugasnya dan inilah mengapa dia datang ke tempat ini. la harus menjaga agar Hoa-san-pai jangan sampai bentrok lebih hebat dengan Kun-lun-pai, dan ini pula sebabnya mengapa pemimpin para pemberontak, Ciu Goan Ciang, menitipkan dua pucuk surat untuk ketua masing-masing partai, untuk mendamaikan. Sekarang kedua orang ketua itu sudah saling berhadapan, kata-kata sudah mulai menyinggung-nyinggung persoalan. Beng San biarpun menyembunyikan diri di belakang orang-orang lain, dia memasang telinga mendengarkan penuh perhatian dan siap untuk bertindak sebagai penengah apabila keadaan menjadi panas. Kemudian muncullah Souw Kian Bi itu. Hatinya ikut panas melihat Souw Kian Bi yang sudah pernah dikenalnya, dan melihat sikap yang kurang ajar dari laki-laki ceriwis dan mata keranjang ini. Akan tetapi segera jantungnya serasa berhenti berdetak ketika dia melihat orang muda yang menjadi teman Souw Kian Bi. la menggosok-gosok kedua matanya dan wajahnya perlahan-lahan menjadi pucat dan tentu akan berubah hijau sekali kalau saja dia tidak lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan hawa yang menjalar ke mukanya.

“Ya Tuhan…..” bisiknya dalam batin. Tak salahkah ingatannya! Itulah wajah Kui-ko (kakak Kui), wajah Tan Beng Kui kakaknya, kakak kandungnya…..! Dan tadi tosu penyambut juga meneriakkan nama Tan-kongcu untuk orang itu. Betulkah? Beng San menjadi pusing. Wajah kakak-nya sering kali terbayang semenjak dia dilemparkan ke sungai oleh Song-bun-kwi dahulu itu. Biarpun dia mengenal wajah kakaknya ketika dia masih kecil, namun wajah orang muda yang sekarang duduk dengan anteng di kursi itu tak salah lagi. Tapi benarkah? Bagaimana kalau dia keliru? Bukan tak mungkin ada orang lain ber she Tan yang wajahnya ada persamaan dengan wajah kakaknya!

Setelah gangguan kecil ini mereda, yaitu kedatangan Souw Kian Bi dan temannya, perhatian semua orang dialihkan lagi kepada dua orang ketua yang berdiri saling berhadapan itu. Memang Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin masih berdiri, di tempat tadi. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa juga masih berdiri di belakang suhunya, sedangkan pemuda, yang oleh Pek Gan Siansu diaku sebagai muridnya termuda, juga masih berdiri di situ tak bergerak seperti patung. Wajahnya yangitampan dari pemuda tinggi tegap ini malah agak pucat, matanya redup. Agaknya Souw Kian Bi segera dapat merasai ketegangan suasana ini, maka dia pun tidak banyak tingkah lagi dan segera menujukan perhatiannya ke dalam.

Pek Gan Siansu mulia membuka mulut. “Lian Bu toyu, seperti kukatakan tadi, segala apa di dunia ini, betapapun hebat manusia berusaha, keputusannya diambil oleh Thian Yang Maha Kuasa. Buktinya, kau dan aku dua orang tua berusaha untuk kebaikan, untuk eratnya hubungan antara kita dengan jalan menjodohkan murid-murid kita. Akan tetapi apa dayanya, agaknya Thian menghendaki lain. Betapapun juga, kita jangan habis daya upaya, sahabatku. Oleh karena itu, kedatanganku ini selain memberi selamat atas ulang tahun Hoa-san-pai, juga ingin aku mengajukan sebuah usul baik kepadamu demi untuk meredakan suasana panas dan sekalian untuk menyambung kembali persahabatan yang hampir diputus oleh sepak terjang anak-anak murid kita.” la berhenti dan mengambil napas panjang.

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. “Ucapan-ucapanmu dapat pinto terima. Akan tetapi tentang usul yang hendak kauajukan itu, hemmm….. baiklah kita lihat-lihat dulu. Usul apakah gerangan itu, Siansu?”

Kakek Kun-lun-pai itu menengok ke arah pemuda yang membawa pedang pusaka, lalu dia tersenyum berkata, “Lian Bu totiang, pemuda ini adalah muridku yang termuda, dia ini adalah anak tunggal dari mendiang muridku Bun Si Teng…..” la berhenti sebentar mengumpulkan tenaga mengusir ingatan bahwa Bun Si Teng muridnya itu tewas di tempat ini. “Dia inilah ahli warisku satu-satunya dan dia pula yang kuserahi pedang pusaka Kun-lun-pai, kelak menggantikan kedudukanku. Muridku yang termuda ini bernama Bun Lim Kwi, berusia dua puluh dua tahun. Lian Bu totiang, jika kau masih suka melihat mukaku, masih suka mengingat perhubungan lama dan masih ada niat baik untuk menyambung kembali tali persahabatan, aku datang untuk mengusulkan kepadamu agar diadakan pengikatan jodoh antara muridku ini dengan seorang di antara cucu muridmu perempuan.” Setelah berkata demikian, Pek Gan Siansu menengok ke arah Thio Bwee dan Kwa Hong yang seketika menjadi pucat.

Hening di tempat itu. Semua orang memandang dengan hati tegang. Hebat sekali usul ini, sekaligus ketua Kun-lun-pai itu seperti orang takluk dan menyerah kalah, mengulurkan jalan perdamaian. Muka pemuda itu, Bun Lim Kwi, juga pucat sekali dan perlahan-lahan dua titik air mata mengalir keluar dari kedua matanya yang dia meramkan. Memang hebat usul dari gurunya ini. Bayangkan saja, Bun Lim Kwi adalah putera tunggal Bun Si Teng yang tewas di Hoa-san-pai dalam pertandingan melawan Hoa-san Sie-eng! Dan dia, putera tunggalnya, hendak dijodohkan dengan anak dari pembunuh ayahnya! Kedua tangannya yang memegang pedang pusaka gemetar.

Semua ini terlihat oleh Beng San dari tempat sembunyinya. la sudah mendekat dan bukan main terharu hatinya. Terngiang dalam telinganya pesan terakhir dari mendiang Bun Si Teng ketika hendak menghembuskan nafas terakhir dahulu. Bagaimana kata-kata terakhir itu? …………. kau berJanjilah bahwa kelak kau akan mengamat-amati putera tunggalku, Bun Lim Kwi…..” Biarpun Beng San tak pernah mengeluarkan ucapan janji itu, akan tetapi di dalam hatinya dia tak pernah melupakan kata-kata terakhir yang merupakan pesan itu. Dan sekarang dia melihat Bun Lim Kwi berdiri di sana, di belakang Pek Gan Siansu sebagai murid kakek itu, sebagai ahli waris tunggal dari Kun-lun-pai! Dan dia melihat Bun Lim Kwi hendak dijadikan alat pendamai antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. la merasakan betapa hebatnya keperihan hati pemuda tinggi tegap itu, disuruh mengawini anak musuh besar yang telah membunuh ayahnya. Dan diam-diam simpati di hati Beng San tercurah kepada pemuda tinggi besar itu, perasaan kasihan dan juga kagum. la melihat Bun Lim Kwi sebagai seorang pemuda yang amat berbakti kepada guru, seorang pemuda yang baik dan juga dapat menahan hati. Terharulah dia melihat dua butir air mata yang mengalir turun dari sepasang mata Bun Lim Kwi.

Wajah Lian Bu Tojin juga berubah Nampaknya kakek ini bimbang sekali, terpukul dan bingung oleh usul yang tak tersangka-sangka dari Pek Gan Siansu itu. Sampai lama kakek ini hanya memandang kepada Pek Gan Siansu yang masih berdiri tegak memegangi tongkat bambunya. Kemudian memandang kepada Bun Lim Kwi yang masih tunduk sambii mernegangi pedang pusaka. Terharu juga hati Lian Bu Tojin. Terang bahwa biarpun hatinya hancur, pemuda Kun-lun pai itu tunduk akan keputusan gurunya, seorang murid yang baik dan patuh. Akhirnya ketua Hoa-san-pai ini menengok ke arah murid-muridnya, kemudian setelah melihat pandang mata keras bercahaya dari mata Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, dia berkata kepada Pek Gan Siansu.

“Hebat sekali usulmu, Siansu. Benar-benar pinto tidak pernah menyangkanya bahwa usaha untuk jalan damai yang kauadakan sampai demikian jauhnya. Untuk maksud baik itu saja pinto sudah wajib menghaturkan terima kasih kepadamu. Akan tetapi, urusan yang kauusulkan ini bukanlah urusan kecil, dan sungguh pinto merasa ragu-ragu dan bahkan tidak berani memutuskannya. Ada banyak sahabat yang duduk menjadi saksi di sini, dan kiranya sudah sepatutnya kalau kita minta nasihat dan pertimbangan mereka. Akan tetapi tentu saja lebih dahulu aku harus minta pendapat kedua orang muridku, karena mereka adalah orang-orang yang Secara tangsung tersangkut urusan pertentangan dengan fihakmu.”

“Baiklah, Lian Bu toyu, kaubicarakanlah urusan ini, aku masih sabar menanti.” Kakek itu lalu melangkah mundur dua langkah dan berdiri bersandar pada tongkatnya. Bun Lim Kwi juga melangkah mundur dan menggunakan kesempatan ini untuk mengusap dua titik air mata dari pipinya dengan ujung lengan bajunya.

“Tin Siong, Sian Hwa, bagaimana pendapat kalian?” Lian Bu Tojin bertanya kepada dua orang muridnya dengan suara nyaring. Memang kakek ini sengaja hendak merundingkan usul ini secara terbuka sehingga banyak saksi akan melihat bahwa Hoa-san-pai tidak sekali-kali mempunyai maksud buruk.

“Suhu, teecu dalam urusan besar ini hanya menyerahkan segala keputusan kepada Suhu. Hanya teecu mengharap kelonggaran Suhu supaya mengingat bahwa Hong-ji sudah teecu rencanakan tentang calon suaminya.” Dengan ucapan ini secara halus Kwa Tin Siong tidak menyetujui kalau puteri tunggalnya yang akan dijadikan pengikat antara dua partai itu dan menjadi jodoh putera Bun Si Teng!

“Suhu, teecu rasa amat tidak baik kalau mengulang lagi urusan busuk yang pernah menjadi sebab penghinaan terhadap Hoa-san-pai kita. Apakah kita tidak kapok setelah apa yang terjadi dengan diri teecu? Orang Kun-lun-pai tak dapat dipercaya. Siapa tahu kalau-kalau urusan perjodohan nanti hanya akan menghancurkan penghidupan seorang murid lama dari Hoa-san-pai seperti yang telah teecu derita?” Sampai di sini tak tertahan lagi air mata bercucuran dari mata Liem Sian Hwa.

Lian Bu Tojin menarik napas panjang ”Pek Gan Siansu kaulihat, pinto tak dapat memutuskan usulmu itu begitu saja, harus pinto mendengarkan keterangan fihak lain.” la menoleh ke arah Beng Tek Cu,”Beng Tek Cu toyu, kau sebagai sahabat baikku, coba kaukeluarkan pendapatmu tentang usul fihak Kun-lun-pai agar hati pinto tidak bimbang ragu.”

Beng Tek Cu, tosu tokoh Bu-tong-pai yang tinggi besar dan jujur ini segera bangkit berdiri lalu terdengar suaranya yang keras dan parau.

“Pinto adalah orang luar, akan tetapi karena Lian Bu toyu sudah menaruh penghargaan terhadap pendapat pinto, baiklah pinto keluarkan pendapat secara jujur dengan terus terang. Terserah kalau ada pihak yang tidak setuju pendapat pinto ini, pokoknya bagi pinto, pendapat ini keluar dari hati yang jujur. dan tidak berat sebelah.” Sampai di sini tosu tinggi besar ini melirik ke arah Ang Kim Seng dan Ang Kim Nio

“Beng Tek Cu toyu, teruskanlah” Lian Bu Tojin mendesak. ”Pinto yang sudah mendengar seluruhnya tentang persoalan Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai dari Lian Bu toyu, dapat menarik kesimpulan bahwa segala pokok pangkal persoalannya ini yang menjadi biang keladinya adalah Kwee Sin. Sudah jelas bahwa dia bersekongkol dengan fihak Ngo-Jian-kauw mengadakan kerusuhan, membunuh orang tua Liem-lihiap dan karenanya dia menyeret Kun-lun-pai ke dalam permusuhan dengan fihak Hoa-san-pai. Karena dia pula maka dua orang saudara Bun dari Kun-lun-pai sampai tewas dalam pertandingan di Hoa-san, dan permusuhan menjadi berlarut-larut.”

“Pertandingan apa?” tiba-tiba Liu Ta, jago Khong-tong-pai berdiri dan mencela, suaranya tinggi kecil tidak sesuai dengan tubuhnya yang pendek gemuk. “Kedua Bun-enghiong itu datang berdua saja, mengantarkan sute mereka Kwee Sin naik ke puncak. Naik berdua saja berarti mempunyai maksud baik, akan tetapi tahu-tahu mereka terbunuh di sini. Aku heran, kalau tidak dikeroyok mana bisa dua orang gagah she Bun itu tewas?”

“Liu-sicu'” Lian Bu Tojin menegur, mendahului Beng Tek Cu yang sudah memandang dengan mata melotot. “Pinto harap Liu-sicu sudi bersabar. Tentu saja sebagai tamu dan saksi, Sicu berhak mengukirkan pendapat, akan tetapi tunggulah saat dan giliran'” Ucapan Lian Bu Tojin penuh kehalusan, namun di dalam kehalusan ini tersembunyi celaan dan kekerasan. Semua ini dilakukan oleh ketua Hoa-san-pai, selain untuk menjaga keangkeran partainya, juga untuk mencegah terjadinya bentrokan antara Beng Tek Cu dan Liu Ta.

Liu Ta nienjadi merah mukanya, mengangguk dan duduk kembali. Beng Tek Cu juga merah mukanya dan melanjutkan, “Tadi sudah pinto katakan, pendapat pinto keluar dari hati yang jujur, tak peduli diterima atau tidak oleh yang mendengarkan. Pinto ulangi lagi, pokok pangkal urusan permusuhan ini terjadi karena gara-gara Kwee Sin. Ketika itu menurut Lian Bu totiang, Kwee Sin ditolong dan dilarikan oleh Hek-hwa Kui-bo, guru dari ketua Ngo-lian-kauw. Di sini saja sudah terbukti bahwa lagi-lagi Kwee Sin yang bersekongkol dengan fihak Ngo-lian-kauw dan akhir-akhir ini kita semua sudah mendengar sepak terjangnya membantu Ngo-lian-kauw. Oleh karena itu, menurut pendapat pinto begini, usul Pek Gan Siansu untuk mengakhiri permusuhan dengan ikatan jodoh antara murid Kun-lun-pai dan murid Hoa-san-pai adalah usul yang amat sempurna dan boleh dipuji dan dihormati. Akan tetapi sudah tentu saja luka di hati fihak Hoa-san-pai takkan terobati kalau di samping usul baik ini fihak Kun-lun-pai tidak mengambil tindakan yang tegas terhadap bekas anak muridnya. Kwee Sin. Maka sebaiknya fihak Hoa-san-pai mengadakan syarat bahwa Kwee Sin harus dapat diantar ke Hoa-san-pai oleh fihak Kun lun mati atau hidup, dan setelah itu barulah diadakan perundingan tentang ikatan jodoh. Nah, pinto sudah bicara, terserahlah!” la duduk kembali menghapus keringatnya dengan ujung lengan baju.

Liu Ta meloncat berdiri, memandang kepada Pek Gan Siansu. “Siansu, harap kau orang tua izinkan saya bicara untuk membersihkan nama baik Kun-lun yang dicoreng hitam oleh orang sombong!”

Pek Gan Siansu sejak tadi sudah menjadi muram wajahnya, hatinya kecewa bukan main bahwa maksud baiknya ternyata tidak mendapatkan sambutan dengan baik. la sudah ribut lebih dulu di Kun-lun dengan muridnya Bun Lim Kwi sebelum datang ke Hoa-san. la sudah menggunakan banyak kata-kata untuk membujuk Lim Kwi supaya mentaati kehendaknya dan mau dijodohkan dengan anak murid Hoa-san-pai demi untuk memperbaiki dan melenyapkan ketegangan. Ketua Kun-lun-pai ini maklum betapa,beratnya hal ini bagi Lim Kwi akan tetapi karena ketaatan dan kebaktiannya, pemuda itu akhirnya tunduk. Siapa kira di sini kembali dia menghadapi pertentangan-pertentangan yang agaknya akan berakibat tidak baik.

Sekarang melihat fihaknya dibantu orang, tentu saja dia hanya dapat mengangguk sambil berkata, “Boleh saja, Liu-enghiong, hanya kuharap kau tidak melupakan maksud baik yang kubawa jauh-jauh dari Kun-lun.”

“Lian Bu totiang,” kata tokoh Khong-tong-pai ini sambil menjura kepada ketua Hoa-san-pai. “Harap saja Totiang tidak mendengarkan omongan mereka yang memanaskan suasana. Pek Gan Siansu sudah datang membawa maksud yang amat mulia dan sikap yang sudah amat mengalah. kalau hendak bicara tentang pokok pangkal pertentangan, aku sama sekali tidak setuju kalau dalam hal ini Kun-lun-pai dipersalahkan. Boleh orang menyalahkan Kwee Sin, akan tetapi harus diingat bahwa Kwee Sin sudah tidak diakui sebagai murid Kun-lun-pai lagi oleh ketuanya. Jika diingat lagi tentang soal sakit hati, mana yang lebih sakit hatinya? Dua orang murid Kun-lun-pai terang-terangan terbunuh di Hoa-san oleh murid-murid Hoa-san-pai. Sedangkan fihak Hoa-san-pai yang tewas, apakah ada yang terbunuh oleh Kun-lun-pai? Semua ini adalah gara-gara satu orang saja, Kwee Sin yang bukan orang Kun-lun-pai. Maka, menurut pendapatku usul yang amat mulia dari Pek Gan Siansu ini sudah sewajarnya kalau diterima oleh Totiang sehingga permusuhan berakhir sampai di sini saja.”

Ang Kim Seng yang memang sudah tak senang kepada Beng Tek Cu, menyambung omongan Liu Ta dengan suara keras.

“Sudah terang musuh besar Hoa-san-pai bukanlah Kun-lun-ipai melainkan Kwee Sin dan Ngo-lian-kauw. Kenapa Hoa-san-pai tidak pergi menangkap sendiri Kwee Sin dan memusuhi Ngo-lian-kauw? Apakah takut karena di sana ada Hek-hwa Kui-bo? la tertawa mengejek sambil melirik ke arah Beng Tek Cu.

Beng Tek Cu adalah seorang tosu, artinya seorang yang memeluk Agama To, akan tetapi dasar dia berwatak keras, Jujur dan galak, maka mendengar omongan ini dia serentak bangun berdiri dan berkata.

“Siapa bicara tentang takut dan berani? Kalau mengira Hoa-san-pai takut, boleh dia buktikan, tak usah Hoa-san-pai, pinto saja juga tidak mengenal takut!

Kita berunding tentang cengli (peraturan), bukan mau menang sendiri atau mengadu-adu golongan. Terang sudah bahwa Kwee Sin adalah orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, jadi terang dia murid Kun-lun-pai. Kalau dia melakukan kejahatan, biarpun dia dinyatakan bukan murid Kun-lun lagi, namun sudah sewajarnya kalau Kun-lun-pai bertanggung jawab dan menghukumnya. Ataukah barangkali Kun-lun-pai memang diam saja kalau namanya dirusak oleh seorang anak muridnya yang menyeleweng? Hemmm, kami dari Bu-tong-pai mempunyai satu peraturan khusus, yaitu apabila ada seorang anak murid yang menyeleweng dan melakukan kejahatan menodai nama baik Bu-tong-pai, tidak boleh ada orang lain bertindak, kami sendiri dari fihak pimpinan akan menghukumnya!”

“Bu-tong-pai mana bisa disejajarkan dengan Kun-lun-pai?” Liu Ta membentak sambil bangkit berdiri, matanya membelalak.

“Memang tidak bisa, apalagi dengan Khong-tong-pai dan Bu-eng-pai, kami dari Bu-tong-pai menang jauh dalam hal memegang peraturan!” Beng Tek Cu membentak sambil membusungkan dada, menantang.

“Beng Tek Cu manusia sombong! Kau-kira aku takut kepada Bu-tong-pai”, bentak Liu Ta melangkah maju.

“Jagoan Khong-tong-pai adalah tukang pukul, mana kenal takut? Baru takut kalau sudah kalah!” Beng Tek Cu meng-ejek.

“Wakil Bu-tong-pai sombong! Hal ini lebih baik diselesaikan di ujung pedang!” Ang Kim Seng dan Ang Kim Nio berteriak sambil berdiri dan meraba gagang pedangnya. Keadaan sudah menjadi tegang sekali, bahkan kini para pengikut masing-masing fihak sudah siap untuk bertempur begitu mendapat perintah pimpinan masing-masing. Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin memandang penuh kekhawatiran. Di lubuk hati dua orang kakek ini sebetulnya sama sekali tidak menghendaki permusuhan yang makin hebat berlarut-larut. Mereka adalah orang-orang yang selain memiliki ilmu silat tinggi, juga memiliki ilmu batin yang kuat, maka tentu saja lebih luas pandangan dan tidak menyukai dipergunakannya kekerasan, apalagi sampai menyangkut dan menyeret golongan-golongan lain.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa keras sekali. Yang tertawa ini adalah Giam Kin. Pemuda ini sudah berdiri, ular yang tadi didudukinya sekarang merayap dan melingkar-lingkar di tubuhnya “Ha-ha-ha-ha-ha, memang bagus begitu! Belum pernah aku melihat partai persliatan mengadakan perayaan tanpa pertunjukan silat! Lian Bu totiang dan Pek Gan Sian-su! Kita adalah laki-laki gagah, tidak seperti perempuan, tidak pandai banyak bicara, lebih pandai menggunakan kepalan dan pedang. Ada urusan? Tak perlu bicara bertele-tele, tarik pedang gunakan kepalan mencari keputusan siapa yang menang, siapa yang kaiah. Yang menang dialah yang benar, yang kalah tentu saja salah! Ha-ha-ha!”.

Souw Kian Bi, Pangeran Mongol yang pesolek tampan.itu, juga berdiri dan bertepuk-tepuk tangan. “Tepat sekali! Ucapan Giam-taihiap adalah ucapan seorang jantan. Memang lebih baik diadakan pertandingan, ruangan cukup lebar! Semua dibagi menjadi dua golongan, fihak Hoa-san-pai dan fihak Kun-lun-pai. Masing-masing mengeluarkan seorang jago secara bergiliran, lalu diadakan pertandingan. Yang kalah harus mengakui kesalahannya. Bukankah ini tepat sekali bagi kita orang-orang yang biasa membawa pedang?”

Sebagian besar orang-orang muda yang hadir di situ menjadi gembira dan tentu saja mereka setuju jika diadakan pibu (adu kepandaian), maka dari sana-sini terdengar sorakan tanda setuju. Bagi orang-orang yang sudah biasa bermain pedang untuk menyelesaikan sesuatu urusan, tentu saja mereka tidak suka men-dengarkan banyak kata-kata yang muluk-muluk. Apalagi di waktu keadaan negara sekacau itu, di mana hukum seakan-akan tidak berlaku lagi dan hukum yang mereka kenal hanyalah siapa menang dia benar, siapa kalah dia salah. Hukum rimba selalu berkuasa di dalam kekacauan.

Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin menjadi serba salah. Mereka juga adalah ketua-ketua dari partai persilatan yang besar. Tentu saja mereka pun sukar untuk melangkah mundur, sukar untuk menyatakan sikap ragu-ragu menghadapi perlombaan adu kepandaian. Di dalam dunia kang-ouw sudah jelas bahwa siapa mundur dalam menghadapi pibu, dia dianggap takut dan pengecut! Apalagi sekarang Thio Ki dan Kui Lok sudah me-ompat maju dengan tangan meraba gagang pedang, keduanya berlumba berkata, “Akulah jago pertama yang maju membela nama baik Hoa-san-pai!” Dan Bun Lim Kwi yang tadinya bermuka muram, sekarang nampak berseri-seri mukanya, matanya yang lebar itu bersinar-sinar dan dia memandang kepada suhunya dengan pandang mata penuh permohonan supaya diberi ijin untuk mempertahankan nama baik Kun-lu-pai! Agaknya pertandingan sebagai gantinya perjodohan untuk menyelesaikan perkara itu tak dapat dihindarkan lagi.

Tiba-tiba seorang pemuda berlari-lari keluar dari kelompok pengikut yang berada paling belakang. Pemuda ini bukan lain adalah Beng San. Melihat keadaan demikian gawat, pemuda ini tak dapat menyembunyikan dirinya lagi. Ia tidak peduli akan pandangan orang banyak kepadanya, juga dia menahan hatinya untuk tidak menengok ke arah dua orang yang pada saat itu mengeluarkan seruan heran. Yang seorang adalah Thio Eng. Begitu gadis baju hijau ini melihai Beng San berlari-lari menghampiri dua orang ketua yang sedang bersitegang gadis ini berseru.

“Saudara Tan…..”. Ia dapat segera menahan keheranannya dan tidak melanjutkan kata-katanya, hanya memandang dengan mata terbuka lebar ke arah Beng San yang tersaruk-saruk lari mendekati dua orang kakek ketua itu.”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: