Raja Pedang (Jilid ke-36)

Bun Lim Kwi menghela napas panjang, nampak berduka sekali. “Aku sendiri tidak tahu, tapi yang jelas bukan dia…..”

“Dia siapakah?”

Kembali pemuda Kun-lun-pai itu menarik napas panjang. “Saudara Beng San yang budiman, aku benar-benar berterima kasih kepadamu dan aku tidak akan me-nyimpan rahasia terhadapmu. Setelah aku dan suhu pergi dari Hoa-san, suhu terus pulang ke Kun-lun dan aku….. hemmm, terus terang saja aku ingin mencari bekas susiokku Kwee Sin. Tiba-tiba muncul nona baju hijau yang menyerangku di puncak Hoa-san itu. Dia menuduh mendiang ayahku dan pamanku membunuh ayahnya dan berkeras hendak membalas kepadaku. Ahhh…..” Lim Kwi menghela napas, kelihatan berduka sekali. “Aku tidak ingin bermusuhan dengannya, aku sudah mengalah….. dia mendesak terus, aku lari, dia mengejar. Terpaksa aku mempertahankan diri. Setelah itu ada orang menyerangku dari belakang secara menggelap, entah siapa karena aku roboh tak ingat lagi. Tahu-tahu sudah berada di sini.”

Beng San mengerutkan keningnya dan hatinya diam-diam lega bahwa temyata sekarang bukan Thio Eng yang melakukan penyerangan menggelap mempergunakan senjata rahasia mengandung racun yang demikian keji. Ia sayang kepada Thio Eng, kasihan kepada nona itu, maka dia senang mendengar bahwa bukanlah gadis itu yang melakukan penyerangan curang dan keji.

“Tentu ada orang ke tiga yang berbuat curang,” katanya. “Saudara Bun, aku melihat kau menggeletak di hutan itu. Kubawa kau kembali ke Hoa-san dan Lian Bu Tojin sudah berusaha keras menolongmu, menggunakan ular-ular pemberian Giam Kin. Celaka sekali, ular-ular itu sama sekali bukanlah Ngo-tok-coa yang mengandung obat pemunah racun, malah sebaliknya setelah diobati dengan ular-ular itu, kau bertambah payah. Ternyata Giam Kin yang jahat itu telah menipu Hoa-san-pai.”

Tercengang juga Bun Lim Kwi mendengar ini. “Ah, memang tepat sekali wawasan suhu….. sebenarnya Hoa-san-pai adalah tempat orang-orang baik. Aku yang dianggap musuh masih mereka usahakan untuk menolong….. hemmm, kenyataan ini makin menguatkan hasrat hatiku hendak mencari Kwee Sin sampai dapat. Dialah yang bertanggung jawab menerangkan segala keruwetan ini, termasuk urusanku dengan nona Thio Eng…..”

“Tapi akulah yang sudah berjanji untuk mencari Kwee Sin…..”

“Tidak, saudara Beng San. Kau sudah terlalu banyak melakukan kebaikan terhadap Kun-lun-pai dan kami berterima kasih sekali. Akan tetapi untuk mencari Kwee Sin adalah tanggung jawabku karena dia adalah bekas murid Kun-lun-pai juga. Aku hanya mohon petunjuk petunjukmu.”

Beng San tertegun. la tidak tahu bahwa Lim Kwi teringat akan pesan suhunya agar supaya mendengarkan nasihat Beng San. Dia sendiri menganggap Beng San hanya seorang sastrawan muda yang berhati mulia dan yang sudah memberi pertolongan kepadanya dengan taruhan nyawa. Tentu saja Beng San terheran mengapa seorang pemuda segagah Lim Kwi sampai tidak malu-malu minta petunjuknya.

“Saudara Bun, aku seorang lemah dan bodoh dapat memberi petunjuk apakah? Hanya kuharap saja kau berlaku hati-hati. Penyerangan gelap atas dirimu sudah membuktikan bahwa kau diincar oleh inusuh-musuh gelap. Kwee Sin menurut kabar telah memihak pemerintah penjajah yang sedang hendak digulingkan oleh para pejuang, maka mencari dia sama artinya dengan memasuki gua harimau dan lubang naga. Apalagi kalau diketahui bahwa kau anak murid Kun-lun-pai yang hendak menangkap Kwee Sin, tentu kau dikurung bahaya.”

Bun Lim Kwi menjura dan memberi hormat. “Nasihat-nasihatmu akan kuingat selalu. Semoga saja kelak Thian memberi kesempatan kepadaku untuk membalas semua budi kebaikanmu, saudara Beng San. Perkenankan sekarang aku melanjutkan perjalanan.”

Beng San menjadi makin suka kepada pemuda Kun-lun-pai yang amat sopan dan merendah ini. Diam-diam dia membenarkan diri sendiri yang hendak memenuhi pesan terakhir dari ayah pemuda ini. Mereka berpisah dan Beng San tidak menahannya lebih lama lagi karena pemuda ini masih selalu gelisah kalau memikirkan perginya Bi Goat yang mengejar Toat-beng Yok-mo. la sendiri menghadapi banyak urusan penting. Di samping dia harus mencari Kwee Sin, juga dia berkewajiban merampas kembali Liong-cu Siang-kiam dan di sana masih ada orang yang dia duga adalah kakaknya dan yang sekarang agaknya menjadi kaki tangan Mongol pula. Apalagi sekarang muncul Bi Goat yang melakukan pengejaran terhadap seorang berbahaya seperti Toat-beng Yok-mo, dia harus membantu dan melindungi gadis gagu itu.

Dengan cepat Beng San lari mengejar untuk menyusul Bi Goat. Akan tetapi sampai berjam-jam dia tidak melihat bayangan gadis itu maupun bayangan Toat-beng Yok-mo. Tentu dua orang yang berkejaran itu telah mengambil jalan lain. Beng San kecewa. Rindu hatinya terhadap Bi Goat masih menebal, pertemuan yang hanya sebentar itu tidak mencukupi baginya. Aku harus ke sana pikirnya. Harus ke Min-san. la teringat akan Song-bun-kwi dan menjadi ragu-ragu. Bukankah orang sakti itu selalu memusuhinya? Malah bermaksud membunuhnya kalau tidak dapat merampas Im-sin Kiam-sut? Akan tetapi, dia sekarang bukanlah dia dahulu. Dia tidak takut, kalau perlu dia akan melawan Song-bun-kwi, asal dia bisa dapat ber-temu dengan Bi Goat!

“Ah, tugasku masih banyak. Kenapa aku selalu teringat dia? Setelah semua tugas selesai dikerjakan, baru aku akan mencari Bi Goat,” Setelah mencela diri sendiri Beng San menghentikan usahanya mencari dan mengejar Bi Goat. Urusan merampas kembali Liong-cu Siang-Kiam bukanlah urusan yang terlalu mendesak, tidak perlu dia tergesa-gesa. Akan tetapi urusan mencari Kwee Sin adalah yang paling mendesak, kemudian urusan tentang kakaknya, Tan Beng Kui. Dan dia maklum bahwa untuk mencari dua orang ini dia harus berani memasuki kota raja.

Kwee Sin kabarnya bekerja sama membantu Ngo-lian-kauw, yang menjadi kaki tangan Mongol, adapun orang yang dia duga kakaknya itu datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Mongol Souw Kian Bi. Setelah menetapkan hatinya, Beng San lalu mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Kwee Sin.

* * *

Perjuangan rakyat yang berupa pemberontakan-pemberontakan di sana-sini terhadap pemerintah penjajah makin lama makin berkembang luas. Pemerintah Goan yang didirikan oleh bangsa Mongol mulai goyah kedudukannya. Di seluruh daerah pedalaman selalu terjadi perang gerilya yang dilakukan oleh para petani di bawah pimpinan orang-orang gagah. Pemberontakan-pemberontakan ini bagaikan api yang makin lama makin besar, makin lama makin menjalar dekat kota raja. Oleh karena ini maka keluarga Kerajaan Goan berkhawatir sekali dan tak dapat enak makan nyenyak tidur. Penjagaan di sekitar wilayah kota raja diperketat, mata-mata pun disebar di seluruh kota dan desa. Orang-orang dengan kepandaian tinggi yang dapat ditarik di fihak pemerintah Mongol dengan pancingan harta benda dan kedudukan tinggi, dikumpulkan di kota raja sebagai pelindung keselamatan keluarga Kerajaan Goan.

Sunyi malam itu di sebuah dusun yang letaknya di pinggir kota raja sebelah selatan. Malam belum larut benar, belum pukul sembilan. Akan tetapi keadaan sudah amat sunyi dan ketegangan seperti biasanya menyelubungi semua tempat yang berada dekat kota raja. Hal ini tidak mengherankan oleh karena semenjak terjadinya pemberontakan-pemberontakan, di sekitar kota raja selalu terjadi hal-hal yang hebat. Seakan-akan terjadi pertentangan antara petugas-petugas keamanan dan para pejuang yang keduanya secara rahasia melakukan tugas masing-masing. Semacam perang rahasia antara para mata-mata pemerintah kontra para mata-mata pejuang. Para pejuang yang berahasia itu amat gagah berani dan entah sudah berapa banyaknya pembesar Mongol dan perwira yang tahu-tahu telah kedapatan mati di dalam kamar masing-masing. Akan tetapi tidak sedikit pula mata-mata pejuang itu tertangkap dan diseret ke depan pengadilan yang cepat memutuskan hukuman mati bagi mereka ini.

Dua bayangan manusia berkelebat cepat sekali dalam kegelapan malam itu. Dengan ginkang yang tinggi kedua orang ini berlompatan menuju ke sebuah rumah yang tua dan buruk, tapi cukup besar. Kiranya rumah ini adalah sebuah rumah penginapan merangkap warung nasi yang sederhana, sebagai tempat menginap para saudagar dan pelancong yang hendak memasuki kota raja. Dua bayangan itu memasuki rumah dengan jalan aneh, yaitu melalui belakang dengan melompati pagar tembok. Di luar sebuah jendela mereka berhenti dan mengetuk jendela itu perlahan tiga kali. Dari dalam ada jawaban ketukan dua kali lalu jendela terbuka. Dua orang itu sekali melompat sudah melayang masuk.

Kamar itu cukup luas. Di dalamnya sudah duduk tiga orang, yaitu orang berpakaian tentara berusia empat puluh tahun, seorang laki-laki pengemis yang berpakaian jembel bertubuh kurus dan pucat berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang seorang adalah seorang nenek tua bongkok berambut putih.

Adapun dua orang yang baru datang ini ternyata adalah dua orang kakek berpakaian seperti petani bercaping topi tani lebar. Yang hebat adalah barang yang dibawa oleh dua orang itu. Ternyata sekarang di bawah penerangan lampu bahwa dua orang kakek petani ini masing-masing menjambak rambut sebuah kepala manusia! Begitu masuk, keduanya tertawa dan melemparkan dua buah kepala orang di atas meja.

Tiga orang itu segera bangkit dah memandang ke arah dua buah kepal itu penuh perhatian. Mereka mengenal dua buah kepala itu sebagai kepala dua orang perwira pemerintah Mongol yang kuasa di kota tak jauh dan situ segera nenek itu bangkit dan menyambar dua buah kepala tadi, dimasukkan dalam keranjang lalu dia berkata, “Lebih dulu kusingkirkan kepala anjing ini.” Setelah berkata demikian dia menyelinap ke belakang dan menghilang.

Tentara dan pengemis itu menjura kepada dua orang petani yang baru datang. “Tentulah ji-wi (saudara berdua) ini dua saudara Phang dari Hun-lam, bukan?” tanya pengemis itu.

Dua orang kakek petani itu menjura dan yang tertua menjawab, “Benar, siauwte adalah Phang Khai dan ini adikku Phang Tui. Karena tergesa-gesa, kami tak dapat memilih tanda pengenal yang lebih berharga, harap maafkan.”

Nenek yang tadi pergi ke belakang membawa dua buah kepala, kini sudah datang kembali ia mengomel, “Kepala perwira atau kepala pembesar sama saja, dapat mengurangi jumlah musuh cukup baik. Sayangnya ji-wi terlampau sembrono. Ji-wi adalah tokoh-tokoh terkenal di Hun Lam, mengapa datang ke sini tidak menyamar?”

Phang Khai tersenyum memandang nenek itu, lalu berkala, “Aku sudah lama mendengar bahwa orang kepercayaan Si-enghiong (pendekar ke empat) adalah seorang wanita muda yang gagah dan lihai. Kau menyamar sebagai nenek, bagus sekali, akan tetapi bagaimana seorang nenek dapat memiliki sepasang mata sejeli ini?”

Nenek itu kelihatan terkejut. “Ah, Phang-lohiap benar-benar bermata tajam sekali. Apakah penyamaranku kurang sempurna?” Suara nenek itu yang tadinya parau dan gemetar seperti suara orang tua, sekarang berubah menjadi nyaring dan seperti suara wanita muda.

Phang Khai tertawa. “Ah, tidak, sama sekali tidak, Nona. Hanya aku mau me-nyatakan bahwa jika menyamar malah lebih berbahaya dan mencurigakan karena tidak sewajarnya. Bentuk dan suara dapat disamar, akan tetapi bagaimana dengan warna dan sinar mata? Sudahlah, andaikata anjing-anjing Mongol mengetahui kedatangan kami, apa sih yang kami takuti? Paling-paling kalau tidak bisa membasmi mereka, kita yang akan kehilangan nyawa! Bukankah sudah lama kita menyerahkan nyawa kita yang tak berharga ini kepada tanah air dan bangsa? Ha-ha-ha!”

Tentara itu yang sejak tadi diam saja sekarang mencela, “Ucapan Phang-twako tak dapat kuterima. Memang bagi seorang pejuang, mati hidupnya tidak berarti lagi asal demi perjuangan. Akan tetapi Phang-twako harus ingat bahwa tugas kita dalam perjuangan ini agak berbeda dengan tugas pejuang yang bertempur melawan musuh. Kalau kita sedang bertugas di bidang itu, tentu saja aku yang bodoh takkan ragu-ragu untuk mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi dalam kedudukan kita sekarang yang bertugas sebagai mata-mata, mengumpulkan keterangan dan dalam hal ini, mengabdi kepada Si-enghiong, tentu saja segala hal harus kita lakukan dengan rahasia agar jangan sampai gerakan kita ini terbongkar. Seorang saja tertangkap bisa membahayakan seluruh anggauta gerakan. Bukankah celaka kalau begini?’

Phang Khai dan Phang Tui memandang tajam kepada “tentara Mongol” itu, lalu Phang Tui menjura. “Betul sekali ucapan ini,” katanya kagum.

Phang Khai tiba-tiba berkata, “Saudara, maafkan aku!” Dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan, tiga pukulan bertubi menyerang leher, dada dan perut . orang berpakaian tentara Mongol itu. Orang itu kaget juga karena dia maklum betapa lihainya petani tua ini, akan tetapi secepat kilat kedua tangannya diputar dalam lingkaran untuk menangkis, malah dia segera dapat mencengkeram pergelangan tangan kanan Phang Khai sambil berseru, “Phang-twako harap jangan main-main!”

Phang Khai menarik tangannya sambil tertawa bergelak. “Aha, kiranya Bouw-enghiong yang menyamar sebagai tentara. Aduh, penyamaranmu benar-benar hebat, tentu dapat mengelabuhi musuh!”

Orang itu tertawa. Memang dia adalah Bouw Hin jago Bi-nam yang berjuluk Kang-jiu (Tangan Baja). Kiranya tadi Phang Khai menyerangnya untuk memancing ilmunya Kang-jiauw-ciang (Tangan Cakar Baja) tadi dikeluarkan, segera Phang Khai dapat mengenal siapa sebetulnya teman seperjuangan yang menyamar sebagai tentara musuh ini.

“Bagus, Phang-twako memang cerdik”, kata Bouw Hin sambil tertawa. “Tapi Phang-twako tentu belum mengenal dia ini.” Ia menuding kepada pengemis tadi. “Biarlah kuperkenalkan dia kepada ji-wi Phang-twako. Dia ini adalah she Lim.”

“Aha, bukankah Lim Seng yang berjuluk Kim-mouw-sai (Singa Bulu Emas) dan Kwi-bun?” kata Phang Tui

Pengemis itu berdiri dan menjura. Ji-wi Phang-enghiong benar-benar bermata tajam.”

Nona yang menyamar sebagai nenek itu berkata, “Maaf, aku sendiri tidak boleh memperkenalkan diri. Tidak tahu urusan penting apakah yang hendak ji-wi sampaikan kepada Si-enghiong?”

“Hemmm, urusan ini penting sekali. Kami harus berjumpa sendiri dengan Si-enghiong,” kata Phang Khai.

“Nenek” itu mengerutkan kening, lalu menggeleng kepalanya. “Phang-lopek apakah tidak pernah mendengar dari teman-teman bahwa ada hal yang amat tidak mungkin orang menemui Si-enghiong? Si-enghiong, seperti juga Sam-enghiong (pendekar ke tiga) adalah tokoh-tokoh rahasia yang tak boleh bertemu teman seperjuangan di kota raja ini, karena hal itu amat berbahaya. Sekali saja musuh membongkar rahasia pribadi Sam-enghiong dan Si-enghiong, akan rusak binasalah semua usaha kita yang berjuang di bawah tanah di kota raja ini. Segala kepentingan harap Lopek beritahukan aku saja karena akulah satu-satunya orang yang dapat menghubungi Si-enghiong.”

Phang Khai menghela napas. “Aku sudah mendengar akan hal itu, tapi ini adalah urusan yang amat penting.” la tampak ragu-ragu.

Melihat keraguan ini, Kang-jiu Bouw, Hin yang berpakaian tentara Mongol itu berkata, nada suaranya tegas, “Siapa pun juga jangan harap dapat bertemu dengan Si-enghiong, malah aku sendiri pun tidak pernah bertemu dengannya, apalagi melihatnya atau mengenal siapa dia. Kalau ada urusan yang menyangkut kepentingan perjuangan, lekas ji-wi Twako memberi tahu kepada Nyonya Liong ini. Kalau berkeras hendak menemui Si-enghiong, lebih baik berita itu kalian bawa pergi lagi saja.” Biarpun kata-katanya keras, akan tetapi lucu juga nenek yang nyata-nyata adalah penyamaran seorang nona muda ini disebut sebagai “nyonya Liong”.

Phang Khai menjadi merah mukanya. “Maaf kalau tadi aku ragu-ragu. Sesungguhnya banyak hal yang akan kusampaikan. Pertama-tama tentang pertemuan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai di puncak Hoa-san. Kami berdua menghadiri pertemuan itu dan…..”

Nyonya Liong tersenyum, aneh kalau tersenyum karena seorang nenek setua itu giginya putih berjajar rapi. “Phang lopek tak perlu menceritakan hal ini. Ketahuilah bahwa Si-enghiong sendiri juga hadir dalam pertemuan itu.”

Dua orang saudara Phang ini tertegun dan saling pandang. Mereka adalah dua orang petani yang ketika dalam pertemuan itu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan, akan tetapi tidak melihat adanya orang yang patut menjadi Si-enghiong, pemimpin ke empat dari pasukan mata-mata di kota raja. Mungkin dia bersembunyi di antara rombongan para tamu yang tidak penting sehingga sukar dikenal, pikir mereka.

“Ah, kalau begitu hal itu tak perlu kami kemukakan lagi,” kata Phang Khai. “Sekarang soal ke dua. Aku ingin memberitahukan tentang kedudukan teman-teman seperjuangan kita. Saudara-saudara kita Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang sekarang sudah mendapat kemajuan memperluas gerakan pemberontakan di sepanjang Sungai Huang-ho. Thio Si Cen sudah menyeberang Sungai Hui dan pasukan saudara Tan Hok sudah mendekati kota raja dari pergerakannya sepanjang Sungai Yang-ce. Akan tetapi, aku mendapat berita bahwa gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja mendapat pukulan hebat dari bala tentara musuh dan membutuhkan bantuan segera.”

Nyonya Liong mengangguk-angguk. “Sebagian besar beritamu sudah kami ketahui. Gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja memang sengaja dijadikan umpan agar musuh mengerahkan tenaga ke sebelah sana. Kalau sudah tiba saatnya, pasukan-pasukan kita dari selatan dan timur akan menyerbu.”

Phang Khai kagum sekali. “Ah, sama sekali tak pernah kusangka bahwa kalian dapat bekerja sesempurna itu. Benar-benar menggembirakan sekali. Akhirnya, harap kausampaikan kepada Si-enghiong bahwa kedatangan kami berdua ini selain menyampaikan berita dan menerima tugas baru, juga bahwa kami mengambil keputusan untuk mencari tahu tempat tinggal Kwee Sin murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu. Harap saudara-saudara memberi tahu di mana kami dapat menemukannya. Kami percaya bahwa Sam-wi (saudara bertiga) sudah pasti akan dapat memberi petunjuk.”

Nyonya tersenyum dan memandang tajam. “Tentu saja kami tahu di mana murid Kun-lun-pai itu yang sekarang sudah menjadi pembantu pemerintah dan bekerja sama dengan orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan tetapi, pada saat seperti sekarang ini, di mana tenaga semua rakyat dibutuhkan untuk perjuangan menghalau penjajah, bagaimana Ji-wi masih ada kesempatan untuk mencampuri sggala urusan pribadi?’

“Keliru…… keliru pendapat seperti itu!” Phang Tui yang sejak tadi membiarkan kakaknya bicara mewakili mereka berdua, sekarang berkata dengan sungguh-sungguh. “Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai bertengkar terus sampai-sampai tidak ada waktu membantu kita. Semua ini gara-gara si Kwee Sin seorang. Kami berdua berpendapat bahwa apabila kami dapat menangkap Kwee Sin, mati atau hidup dan membawanya ke Hoa-san, tentu fihak Hoa-san maupun fihak Kun-lun akan menghabisi permusuhan mereka dan apabila dua golongan itu sudah berdamai lalu suka membantu kita, bukankah pekerjaan ini juga merupakan pekerjaan yang amat berguna bagi perjuangan?”

Nyonya Liong mengangguk-angguk sedangkan dua orang temannya juga menyatakan kebenaran ucapan Phang Tui. Jadi ji-wi berkeras hendak menangkap Kwee Sin lebih dulu.

Ketika dua orang kakek petani itu mengangguk, Nyonya Liong lalu berkata, “Baikiah kalau begitu. Tempat tinggal Kwee Sin adalah di gedung ke lima sebelah barat perempatan jembatan Naga, rumah yang di atasnya ada hiasan ukiran naga. Harap ji-wi berhati-hati karena selalu dia bersama dengan ketua Ngo-lian-kauw yang berkepandaian tinggi. Ji-wi kerjakan dulu maksud hati ji-wi, setelah itu baru kita mengadakan pertemuan lagi, tiga hari kemudian pada waktu seperti ini dan bertempat di sini pula dan pada waktu itulah saya akan menyampaikan tugas-tugas baru bagi ji-wi. Nah, selamat berpisah.”

Mereka berpisah dan keluar dari rumah secara diam-diam. Hanya nyonya Liong dan Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara itu keluar secara biasa saja, dari pintu depan tanpa ada yang menaruh curiga. Ketika dua orang saudara Phang itu melompat ke dalam gelap keluar dari tembok yang mengelilingi rumah, mereka baru melihat seseorang berkelebat di dekat mereka. Mereka kaget, akan tetapi bayangan itu berbisik, “Selamat sampai bertemu kembali, ji-wi Phang-twako.” Ternyata bayangan itu adalah si pengemis tadi, yaitu Kim-mouw-sai Lim Seng yang cepat meloncat ke kiri dan menghilang di dalam gelap. Dua orang saudara Phang itu kagum karena ginkang dari orang she Lim itu ternyata hebat juga.

* * *

Lima orang rahasia yang berkumpul dan mengadakan pertemuan rahasia di malam hari itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi gerak-gerik mereka telah diintai oleh Beng San. Pemuda ini dalam usahanya untuk mencari Kwee Sin, telah pula sampai di kota raja dan kebetulan sekali bermalam di rumah penginapan sederhana itu. Malam tadi secara kebetulan dia yang berada di kamarnya mendengar desir angin yang hanya terdengar oleh seorang yang memiliki Iweekang setinggi dia. la kaget dan tahu bahwa ada orang mempergunakan ilmu ginkang bergerak di luar rumah, maka cepat dia keluar dari kamarnya secara diam-diam dan melihat dua bayangan berkelebat, yaitu bayangan dua orang saudara Phang. Demikianlah, secara diam-diam dia mengintai dan mendengar segala percakapan yang dilakukan oleh lima orang itu. Hatinya kagum bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa lima orang itu adalah pejuang-pejuang, orang-orang gagah seperti Tan Hok yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsa menghalau penjajah. Akan tetapi, lebih girang lagi hatinya karena tanpa sengaja dia mendapat petunjuk di mana dia bisa mencari Kwee Sin.

Malam berikutnya Beng San sudah mengikuti lagi perjalanan dua orang sau-dara Phang yang menuju ke rumah gedung Kwee Sin seperti yang telah ditunjuk oleh nyonya Liong pada kemarin malam. la mengenal dua orang ini sebagai tamu terhormat di Hoa-san-pai, maka diam-diam dia tidak mau mengganggu mereka.

“Betapapun juga, mengajak Kwee Sin ke Hoa-san-pai adalah tugasku,” pikirnya. “Aku yang sudah berjanji dan akulah yang harus memenuhi janji itu.”

Dengan ginkang mereka yang sudah tinggi, dua orang saudara Phang itu dapat memasuki halaman rumah gedung itu dengan mudah. Mereka melompati pagar tembok dan merasa girang karena ternyata rumah gedung ini tidak ada yang menjaga. Di lain saat mereka sudah mengintai ke sebuah kamar di mana duduk seorang laki-laki yang tampan dan gagah, berusia tiga puluh tahun lebih, wajah yang tampan itu angker dan agung, sedang menulis sesuatu di atas meja. Tak jauh dari situ duduk pula seorang perempuan cantik berpakaian mewah, memandang kepada laki-laki itu sambil tersenyum dan mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas. Laki-laki itu bukan lain adalah Pek-lek-jiu Kwee Sin, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, jago muda Kun-lun-pai yang telah mengakibatkan keributan antara Hoa-san dan Kun-lun. Adapun perempuan cantik yang pesolek dan bersikap genit itu bukan lain adalah Ngo-lian-kauwcu (ketua Ngo-Lian kauw) yang berjuluk Kim-thouw Thian li (Dewi Kepala Emas) dan yang oleh Kwee Sin dikenal dengan nama Coa Kim Li gadis yang telah merayu dan merobohkan hatinya

“Sin-ko (kanda Sin), Kim-thouw Thian-li berkata dengan suara merdu, “Malam ini kau harus menemani aku. Di rumah amat sunyi, jangan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tak usah kau membanting tulang, para pembesar sampai hong-siang (kaisar) sendiri cukup maklum betapa besarnya jasamu kepada pemerintah.”

“Aku banyak pekerjaan, Li-moi (adik Li). Biarlah besok siang kalau aku pulang dari kantor, aku akan mengunjungi rumahmu. Kau seorang ketua perkumpulan besar seperti Ngo-lian-kauw, bagaimana bisa kesepian?” Kwee Sin tertawa dan menunda tulisannya.

“Biarpun ada seribu orang teman, mana bisa dibandingkan dengan kau?” Coa Kim Li berkata genit lalu menarik bangkunya mendekat.

Pintu kamar terketok dari luar. Cepat-cepat Kim-thouw Thian-li menjauhkan lagi bangkunya. Ketika pelayan masuk Kwee Sin sudah bersikap keren seperti tadi.

“Kwee-ciangkun, di luar ada Lee-siocia (nona Lee) mohon menghadap Ciangkun (Panglima),” pelayan itu dengan sikap hormat dan tanpa mengangkat muka memberi laporan.

“Baik, minta nona Lee masuk ke ruangan ini,” jawab Kwee Sin. Pelayan itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan.

“Huh, Sin-ko, awas kau kalau di belakangku kau berani main gila dengan nona muda itu!” tiba-tiba Kim-thouw Thian-li berkata lirih, matanya bersinar penuh cemburu.

Kwee Sin tersenyum pahit. “Kim Li-moi apa-apaan cemburu ini? Kau tahu aku bukan….. bukan mata keranjang dan kau tahu pula bahwa Lee-siocia adalah seorang yang mendapat kepercayaan semua panglima di kota raja, juga lihai ilmu silatnya. Pertemuanku dengan dia tentu hanya berhubung pekerjaan, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Dia datang, kau pun di sini, boleh kausaksikan sendiri apa yang hendak dia sampaikan kepadaku!”

“Huh, biar dia lihai, siapa takut padanya? Dan siapa sudi bertemu dengannya? Melihat mukanya yang muda, jangan-jangan timbul seleraku untuk mencakar mukanya! Aku akan bersembunyi di belakang pintu, awas kau, sekali saja kau dan dia main gila, kalian akan kubunuh!” Dengan gerakan cepat sekali tubuhnya berkelebat menghilang di balik pintu samping. Kwee Sin menarik napas lega, wajahnya nampak girang dan tersenyum ketika pintu depan terbuka dan seorang nona berpakaian kuning berjalan masuk.

“Nona Lee, kau membawa kabar penting apakah?” Kwee Sin menyambut kedatangan nona ini dengan suara nyaring. “Apakah kali ini kau diutus oleh Pangeran Souw? Ataukah Tan-ciangkun yang mengutusmu?”

Nona berpakaian kuning itu amat dikenal di kalangan atas kota raja. Dia bernama Lee Giok, puteri seorang bangsawan di kota raja. Usianya baru sembilan belas tahun, wajahnya yang cantik itu nampak muram dan seperti diliputi kesedihan, matanya tajam dan gagang pedang menonjol di pinggangnya. Biarpun ia masih muda, namun ia sudah terkenal sebagai seorang yang amat berjasa dalam menindas kaum pemberontak berkat ilmu silatnya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang.

Menghadapi pertanyaan Kwee Sin, nona itu menghela napas, memandang kepada Kwee Sin dengan matanya yang tajam, lalu katanya perlahan, “Kwee ciangkun, kalau memang Kim-thouw Thian-li sudah berada di sini, mengapa ia bersembunyi dan mengintai? Kuharap Ciangkun suka mempersilakan dia keluar karena kedatanganku ini toh bukan hendak mengadakan pertemuan yang bukan-bukan!”

Tentu saja Kim-thouw Thian-li kaget sekali. Akan tetapi dia pun seorang wanita yang cerdik. Dengan tenang ia muncul dari balik pintu dan tertawa. “Hebat benar kecerdikan nona Lee! Tadi memang saudara Kwee dan aku sengaja hendak menguji kecerdikanmu yang sudah lama kudengar dibicarakan orang, kiranya benar-benar kau cerdik. Hanya aku yang tolol, tidak ingat bahwa kepergianku dari sini meninggalkan ganda harum. Ehm, benar lihai!”

Diam-diam nona itu, Lee Giok terkejut juga. la dipuji cerdik, akan tetapi ketua Ngo-lian-kauw itu dengan sendirinya telah pula membuktikan bahwa otaknya tidak kalah cerdiknya. Memang tepat sekali kata-katanya tadi, dia dapat mengetahui bahwa Kim-thouw Thian-li baru saja meninggalkan ruangan itu karena tercium olehnya bau harum seperti yang biasa ia cium kalau ia bertemu dengan ketua Ngo-lian-kauw itu. Setiap orang wanita sudah tentu memiliki kesukaan masing-masing tentang wangi-wangian yang dipakainya dan wangi-wangian yang dipakai oleh Kim-thouw Thian-li mempunyai bau yang khas.

“Kwee-ciangkun, kedatanganku tidak lain hanya untuk menyampaikan peringatan kepadamu. Ada berita sampai kepadaku bahwa pada waktu ini di kota raja datang dua orang saudara Phang dari Hun-lam yang sengaja mencari Kwee-ciangkun dan hendak memaksa Kwee-ciangkun, mati atau hidup, ikut pergi ke Hoa-san.”

Berubah wajah Kwee Sin mendengar berita ini. “Nona, apakah kaumaksudkan Phang Khai dan Phang Tui Sepasang Naga dari Hun-lam?” katanya setengah berbisik. Nona itu mengangguk, wajahnya nampak makin murung lalu ia membalikkan tubuh berkata.

“Tugasku sudah selesai, Ciangkun. Aku tak dapat lama-lama di sini, khawatir kalau-kalau membuat orang lain mendongkol saja.” Tanpa melirik kepada Kim-thouw Thian-li yang disindirnya itu, nona ini segera keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan dan cepat sekali.

“Hi-hi-hi, baru mendengar ada dua orang tua bangka dari Hun-lam datang saja, kau kelihatan gelisah?” kata Kim-thouw Thian-li.

”Li-moi, jangan kauanggap ringan dua orang kakek itu. Nama besar Phang-hengte (kakak beradik Phang) dari Hun-lam sudah lama kudengar. Aku memang tidak takut, hanya sebab-sebab mengapa mereka hendak menangkapku inilah yang menggelisahkan hati.”

“Sin-ko, mengapa kau begini bodoh? Mudah sekali diduga. Mereka tentulah bergabung dengan para pemberontak maka hendak memusuhimu, atau mungkin sekali mereka itu disuruh oleh perempuan she Liem yang tak tahu malu itu untuk ….”.

“Li-moi, kau berjanji takkan menyebut-nyebut namanya!” Tiba-tiba Kwee Sin berkata, jidatnya berkerut tak senang.

“Hi-hi-hi, sudahlah. Hanya dua ekor anjing tua dari Hun-lam itu untuk apa diributkan? Biarkan mereka datang, masih ada aku di sini, mereka bisa berbuat apa terhadap dirimu?”

Phang Khai dan Phang tui adalah dua orang kakek ternama di Hun-lam. Tentu saja mendengar mereka dimaki anjing-anjing tua oleh wanita itu, mereka tak dapat menahan kemarahan mereka, lagi. Serentak mereka meloncat dan menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

“Kwee Sin, kami dua saudara Phang dari Hun-lam datang untuk menjemput kau ke Hoa-san!” kata Phang Khai sambil melirik penuh kemarahan ke arah Kim-thouw Thian-li yang sudah berdiri dengan alis berkerut marah.

Kwee Sin juga berdiri dan menjawab, “Ji-wi Phang-enghiong, dengan maksud apakah ji-wi hendak mengajak siauwte pergi ke sana?”

“Murid Kun-lun-pai yang murtad. Kau menjadi biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu terhadap Hoa-san-pai!” kata Phang Tui tak sabar lagi.

Kwee Sin menghela napas. “Ji-wi Phang-enghiong, urusan itu adalah urusan pribadiku, harap ji-wi sebagai orang luar jangan mencampurinya. Mengingat ji-wi adalah tokoh-tokoh terkemuka dan Hun-lam, maka siauwte persilakan ji-wi pergi dengan baik-baik.”

“Setan, siapa takut kepadamu? Kami sudah bersumpah untuk mmbawamu ke Hoa-san, hidup atau mati. Tui-te (adik Tui), kautangkap dia, biar aku menjaga siluman ini!”

Phang Tui maju menubruk Kwee Sin dengan Ilmu Kim-na-jiu-hoat, kedua lengannya bergerak-gerak dan yang kanan mencengkeram ke arah pundak kiri sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di leher. Terpaksa Kwee Sin cepat menggeser kaki ke belakang dan memutar lengan untuk menangkis. Tentu saja jago muda Kun-lun-pai ini tidak mau membiarkan dirinya ditangkap begitu saja.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: