Raja Pedang (Jilid ke-38)

Kwee Sin sebelum pergi sempat berkata kepada Beng San, “Orang muda, sebetulnya aku masih penasaran. Kau ini….. murid siapakah? Dan sampai di manakah kepandaianmu…..”

Beng San buru-buru menjawab, “Ah, Kwee-enghiong jangan main-main. Mana aku memiliki kepandaian apa segala? Sudahlah, selamat jalan, Kwee-enghiong, dan kalau ada jodoh kelak kita pasti akan bertemu kembali.”

Thio Eng, hanya memandang saja ketika paman dan keponakan itu pergi, kemudian ia menoleh kepada Beng San “Tan-ko, aku sendiri heran…..”

“Hemmm, heran apa lagi? Sudah terang pemuda she Bun itu amat gagah perkasa, tampan, lagi bukan musuh besarmu dan dia….. hemmm, dia suka kepadamu, apalagi yang diherankan?”

Wajah Thio Eng menjadi merah sekali, lalu berubah pucat. “Tan-ko, jangan kau main-main. Siapa pedulikan dia? Yang aku herankan adalah kau. Kau ini seorang sastrawan muda, nampak lemah dan memang aku tahu kau tidak becus apa-apa. Kenapa kau berani mati mencampuri urusan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, urusan tokoh-tokoh persilatan? Pula, bagaimana kau sampai dapat berhasil membawa Kwee Sin pergi dari kota raja?”

“Aku pernah bekerja sebagai kacung di Hoa-san-pai, tentu saja aku tidak senang melihat Hoa-san-pai bermusuhan dengan Kun-lun-pai. Tentang Kwee Sin, agaknya dia sudah insyaf akan kesalahannya dan dengan suka rela dia ikut aku ke Hoa-san, apa anehnya? Adik Eng, setelah kau sekarang mendengar bahwa pembunuh ayahmu bukan Bun Lim Kwi, melainkan Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw, apa yang hendak kaulakukan?”

“Tentu saja aku akan mencari siluman betina itu dari membunuhnya!” jawab Thio Eng dengan gemas.

Beng San teringat betapa gadis ini pernah menyerangnya ketika dahulu dia menolong Tan Hok di luar tahu gadis ini, dan teringat pula dia betapa gadis ini adalah murid Thai-lek Swi Lek Hosiang yang dahulu pernah dia lihat membantu Pangeran Mongol Souw Kian Bi. Pula ketika Thio Eng bertempur melawan Lim Kwi, bukankah gadis ini dibantu pula oleh Giam Kin? Untuk mengetahui hatinya, Beng San sengaja memancing.

“Adik Eng, kurasa kau sembrono sekali kalau hendak mencari Kim-thouw Thian-li. Aku mendengar bahwa dia adalah ketua Ngo-lian-kauw yang berada di kota raja, kedudukannya tinggi dan berpengaruh besar. Bagaimana kau bisa masuk kota raja dengan selamat? Kurasa tidak baiklah kalau kau menurutkan hati dendam dan nafsu membalas. Kiranya akan lebih baik kalau kau menyalurkan dendam hatimu itu, dengan jalan yang lebih baik lagi.”

“Hem, hemmm, kau memang tukang memberi kuliah. Kuliah apalagi yang akan kauberikan sekarang? jalan lebih baik apa yang kaumaksudkan?” Thio Eng memandang dengan tajam, tapi mulutnya tersenyum manis dan kembali Beng San merasa jantungnya berdetak-detak menyaksikan sikap dan senyum ini, teringat dia akan pengalamannya dahulu dengan Thio Eng di atas perahu.

“Begini, Eng-moi aku mendengar bahwa mendiang ayahmu, Thio San, adalah seorang tokoh Pek-lian-pai, seorang pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsanya. Karena itu, sudah selayaknya kalau kau sebagai puterinya melanjutkan jejak langkah ayahmu, ikut membantu para pejuang yang sedang berusaha membebaskan tanah air dan bangsa daripada cengkeraman penjajah. Kalau pada waktu sekarang ini musuhmu, Kim-thouw Thian-li merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, maka jika kau membantu para pejuang, bukankah itu sama halnya dengan kau memusuhinya? Nah, kaupikirlah baik-baik, daripada mengantarkan nyawa sia-sia ke kota raja dan usahamu membalas dendam belum tentu berhasil, lebih baik kau membantu Pek-lian-pai dan para pejuang lainnya.”

Berkerut kening yang halus itu. Mudah saja kau bicara. Suhu takkan membiarkan aku terbawa-bawa dalam peperangan. Orang-orang yang berfihak pada pemerintah banyak yang jahat, tetapi juga para pejuang itu bukan orang baik-baik. Demikian kata suhu. Mendiang ayahku apakah akan tewas kalau dia tidak menjadi tokoh Pek-lian-pai? Hemmm, Tan-ko, aku tidak mau terseret dalam urusan perang dan pemberontakan.”

Beng San merasa kecewa. Tahulah dia sekarang. Kiranya Thio Eng tidak mau berfihak dalam urusan perjuangan ini, sesuai dengan perintah suhunya. Agaknya Swi Lek Hosiang sudah terkena bujukan orang-orang licin seperti Souw Kian Bi sehingga tidak mau membantu para pejuang.

“Jadi kau hendak nekat pergi ke kota raja?” tanyanya, khawatir.

“Aku hendak mencari dan membunuh musuh besarku, kemudian kalau masih panjang umurku, aku akan mengikuti perebutan gelar Raja Pedang di Thai-san. Tan-ko, terutama sekali aku mengharapkan akan dapat bertemu kembali dengan kau.” la melangkah maju dan memegang lengan Beng San, menekannya dengan jari-jari gemetar, lalu lari cepat meninggalkan tempat itu. Beng San menarik napas panjang. la pun lalu berlari cepat menuju ke arah yang sama dengan gadis itu. Memang dia harus kembali ke kota raja untuk mencari orang yang dianggap kakaknya, dan sekarang dia masih harus menjaga agar Thio Eng tidak sampai tertimpa malapetaka di tempat berbahaya itu.

Ilmu lari cepat Beng San sudah tentu lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Thio Eng, maka sebentar saja dia sudah dapat menyusul gadis itu. Diam-diam dia mengikuti dari belakang dalam jarak yang tidak terlalu jauh, akan tetapi juga tidak terlalu dekat sehingga gadis itu takkan dapat melihatnya. Ternyata olehnya bahwa Thio Eng mengambil jalan lain dan yang lebih dekat ke kota raja. Jalan yang melalui hutan dan gunung yang sunyi lagi sukar. Di kaki sebuah gunung kecil, di pinggir jalan yang sunyi sekali, dengan heran dia melihat sebuah rumah yang membuka warung arak. Dilihatnya gadis itu berhenti, memasuki warung ini dan terdengar memesan arak dan makanan. Beng San menelan ludah karena dia pun merasa dahaga ingin minum. Akan tetapi oleh karena dia tidak ingin gadis itu melihatnya, terpaksa dia hanya bersembunyi di bawah sebuah pohon besar tak jauh dari situ dan mengambil keputusan akan singgah di warung ini setelah Thio Eng selesai makan dan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, sudah dua jam dia menunggu belum juga tampak Thio Eng keluar dari warung itu. Masa makan sampai sedemikian lamanya? la memang tidak berani dekat-dekat karena khawatir terlihat oleh Thio Eng, akan tetapi karena dianggapnya terlalu lama sehingga tidak sewajarnya lagi, dia lalu bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju ke warung itu.

Ternyata warung itu kosong, tidak kelihatan Thio Eng maupun penjaga warung. la menjadi curiga dan pada saat dia hendak membuka mulut, dia mendengar suara orang dari dalam.

“Celaka sekali kau ini! Apa matamu sudah buta? Dia ini kan murid Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?” Suara ini suara seorang wanita. Beng San menjadi tak sabar lagi karena kegelisahannya akan keselamatan Thio Eng. Segera dia berseru.

“Dimana tukang warung?” Sambil berkata demikian, dia melangkah masuk dan hendak terus memasuki ruangan dalam dari mana dia mendengar suara tadi, Hampir saja dia bertumbukan dengan dua orang yang ke luar dari pintu dalam, seorang laki-laki dan seorang wanita. Tiga pasang mata berpandangan dan ketiga orang ini berubah mukanya.

“Hemmm, kiranya kalian ini…..?” Beng San berkata dengan senyum pahit, teringat akan pengalamannya dahulu ketika dua orang mengaku-ngaku dia sebagai anak!

Dua orang itu memang suami isteri yang dahulu pernah mengakui Beng San sebagai anak, yaitu adalah Hui-sin-liong Ouw Kiu yang tinggi besar dengan muka pucat dan kumis melintang bersama Bi-sin-kiam Bhe Kit Nio si pesolek cantik genit Suami isteri penjahat ini segera mengenal Beng San. Keduanya kaget bukan main, akan tetapi Bhe Kit Nio masih sempat berseru sambil menubruk Beng San.

“Aduh, anakku….. ke mana saja kau pergi selama ini?”

“Ah, Beng San anakku. Akhirnya kau pulang juga…..!” Ouw Kiu segera menyambung seruan isterinya.

Akan tetapi Beng San mengelak dari tubrukan-tubrukan itu dan berkata marah.

“Aku bukan anak kalian Tak perlu bermain sandiwara lagi, karena aku sudah tahu bahwa kalian bersama Hek-hwa Kui bo sengaja dahulu hendak menipuku. Hayo katakan, di mana adanya nona baju hijau yang tadi makan di sini?”

Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio saling pandang kemudian Ouw Kiu membentak marah, “Anak durhaka kau'” Kepalan tangannya yang besar dan berat itu melayang ke arah kepala Beng San. Tapi dengan amat mudahnya Beng San miring kan kepala mengelak.

“Kita lenyapkan dulu bedebah ini.” Tiba-tiba Bhe Kit Nio kehilangan kemesraannya dan mencabut pedang, terus menyerang Beng San dengan hebat. Lihai juga kiranya perempuan yang berjuluk Bi-sin-kiam (Pendekar Sakti Yang Cantik) ini, sekalipun pedangnya sudah melakukan serangan tiga jurus banyaknya, mengarah leher, dada, dan pusar! Pada saat yang sama, Ouw Kiu sudah mengirim serangkaian serangan lagi yang amat diandalkan, yaitu tendangan berantai yang dia beri nama Ban-liong-twi (Tendangan Selaksa Naga)! Kedua kakinya bergerak susul-menyusul dalam tendangan yang cepat dan kuat. Entah sudah berapa banyaknya lawan roboh oleh ilmu tendangan yang amat dibanggakan dan diandalkan oleh Ouw Kiu ini.

Pengeroyokan dua orang suami isteri ini yang mengeluarkan kepandaian masing-masing sudah terang dimaksudkan untuk membunuh Beng San yang dulu diaku sebagai anak kandung ini! Beng San menjadi gemas dan marah. la anggap sepasang suami isteri ini amat jahat dan palsu, apalagi kalau dia ingat bahwa mereka sudah menangkap Thio Eng, mungkin dengan maksud keji pula. Betapapun juga, sebelum mempelajari ilmu silat, Beng San adalah seorang anak yang tekun mempelajari ilmu kebatinan dan filsafat dari kitab-kitab suci, semenjak kecil menerima petuah dan pelajaran batin, dari para hwesio, maka membunuh manusia baginya merupakan pantangan besar. Ketika dia melihat datangnya Serangan-serangan dua orang itu yang amat hebat mengancam jiwanya, dia menggunakan Ilnnu Silat Khong-ji-ciang (Tangan Kosong) yang dulu dia warisi dari kakek Phoa Ti, digabung dengan Ilmu Silat Pat-hong-ciang yang dia warisi dari kakek The Bok Nam. Dalam beberapa gebrakan saja dia sudah berhasil mengetuk pergelangan tangan Bhe Kit Nio sehingga pedangnya terlepas, mencelat dan menyambar ke arah suaminya sendiri. Pada saat itu, Ouw Kiu sedang sibuk dengan ilmu tendangannya, maka pedang isterinya itu dengan keras menyambar lengan kanannya sehingga hampir putus bagian atas sikunya. Ouw Kiu berteriak kesakitan, akan tetapi melanjutkan tendangannya ke arah perut Beng San. Pemuda ini menggeser kaki ke kiri, tangannya bergerak dan sekali sampok tendangan Ouw Kiu itu menyeleweng dan….. mengenai perut isterinya sendiri. Bhe Kit Nio menjerit dan tubuh-nya terlempar ke belakang, lalu terbanting dengan napas kempas-kempis! Ouw Kiu kaget bukan main, tapi juga gentar menghadapi pemuda yang lihai itu. Sekali melompat dia telah mendekati isterinya, dengan sebelah tangan membangunkannya, kemudian dua orang suami isteri yang sudah terluka itu tergesa-gesa lari pergi sambil saling bantu, terhuyung-huyung.

Beng San tidak pedulikan mereka lagi, cepat dia berlari masuk. Dalam ruangan yang agak gelap itu dia melihat tubuh seorang gadis menggeletak di atas sebuah dipan dalam keadaan pingsan.

“Eng-moi….!” serunya sambil meloncat maju. Alangkah kaget dan herannya ketika dia sudah dekat dengan gadis itu, dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu Sama sekali bukan Thio Eng si gadis baju hijau, melainkan seorang gadis cantik lain yang berbaju merah!

“Hong-moi.. tak terasa lagi Beng San berseru kaget. Gadis ini adalah Kwa Hong yang entah sejak kapan dan bagaimana tahu-tahu bisa berada di tempat itu dalam keadaan pingsan. Ketika mendapat kenyataan bahwa Kwa Hong pingsan karena tertotok, cepat Beng San membebaskannya. Setelah jalan darahnya bebas dan kepalanya dibasahi air, Kwa Hong siuman kembali.

“Kau….. kau…..?” teriaknya, kaget, heran dan juga girang.

“Benar aku Beng San. Hong-moi, kenapa kau bisa berada di sini dan mengapa pula pingsan?”

Ditanya begini tiba-tiba Kwa Hong menangis dan segera Beng San merangkulnya karena tubuh gadis itu masih lemas sehingga tiba-tiba terguling, tentu akan jatuh ke bawah dipan kalau tidak dipeluknya. Setelah merasa dipeluk pemuda itu makin keras tangisnya dan Kwa Hong menyembunyikan mukanya di dada Beng San. Tentu saja Beng San menjadi bingung, hatinya berdebar-debar. la merasa betapa canggung dan “tidak beres” adegan ini, akan tetapi untuk memisahkan diri dia pun tidak tega. Semenjak kecil dahulu dia memang merasa amat suka kepada Kwa Hong, sekarang dara itu tanpa malu-malu menangis di dadanya, siapa orangnya tidak berdebar jantungnya? Hati kasihan bercampur sayang mendorong Beng San untuk mengelus elus dan membelai rambut yang hitam halus itu.

“Sudahlah, Hong-moi, kenapa menangis? Lebih baik kauceritakan pengalamanmu, ia menghibur.

“Semua orang membenci aku ….ah, semua orang membenciku…..”

Beng San makin heran. “Eh, apa yang kaukatakan ini, Hong-moi? Siapa bilang semua orang membencimu? Yang terang aku tidak membencimu, aku….. aku…. suka dan sayang kepadamu.” Ucapan ini biarpun keluar dari kejujuran hatinya, akan tetapi kiranya takkan diucapkan kalau saja keadaan Kwa Hong tidak seperti itu dan memang dia hendak menghiburnya. Akan tetapi ucapan ini mendatangkan perubahan hebat pada diri Kwa Hong. Gadis ini merenggutkan kepalanya dari dada Beng San, matanya yang masih basah dan indah itu memandang tajam, berkedip-kedip lalu bertanya, “Betulkah itu? Coba katakan lagi, betulkah kau suka dan sayang kepadaku?”

Mendadak wajah Beng San menjadi merah sekali. Ah, pikirnya, mengapa ragu-ragu dan malu-malu? Bukankah memang dia suka dan sayang kepada Kwa Hong?

“Tentu saja, Hong-moi. Tentu saja aku suka dan sayang kepadamu.”

Aneh! Tiba-tiba Kwa Hong tersenyum lebar, sehingga tampak giginya yang putih dan rapi biarpun matanya masih merah dan basah. “Kalau begitu aku tidak sedih lagi, San-ko. Lihat aku bisa tertawa! Orang sedunia boleh benci kepadaku, asal kau suka dan cinta. Hi-hi-hi, San-ko, lucu, ya? Semenjak dulu aku…. aku suka sekali kepadamu, aku cinta seorang yang lemah, tolol tapi gagah perkasa. Eh, siapa tahu, kiranya kau….. kau pun mencintaku.” Sampai di sini Kwa Hong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

Kagetlah Beng San. Ketika tadi dia mengatakan suka dan sayang, sama sekali dia tidak berpikir tentang cinta, tentang cintanya pemuda-pemudi yang diakhir dengan perjodohan.

“Ini….. ini…..” ia tergagap.

“San-ko, kau mau bilang apa?” Kwa Hong sudah turun dari dipan, tubuhnya sudah tidak selemas tadi, tenaganya sudah hampir pulih. Dengan mesra gadis ini memegang tangan Beng San.

“Kau….. kau belum menceritakan pengalamanmu, Hong-moi.”

Gadis itu cemberut ketika diingatkan kepada ini. “Sesudah perayaan di Hoa-san, ayah hendak memaksaku supaya aku suka dengan Thio-suheng. Aku tidak mau, biarpun suhu juga mendesakku. Kemudian ketika ayah membentak-bentak dan menanyakan mengapa aku menolak, dengan marah pula akn berterus terang bahwa aku suka kepadamu, San ko!”

Celaka, pikir Beng San. Bisa runyam nih! Masa di depan semua orang gadis ini terang-terangan mengaku kepadanya? “Lalu bagaimana, Hong-moi?”

“Melihat semua orang marah dan benci kepadaku, malam harinya aku lalu minggat dari Hoa-san, dan aku hendak menyusul ke kota raja. Aku tahu bahwa untuk mencari Kwee Sin, kau tentu pergi ke kota raja.”

“Kenapa kau menyusul aku?”

“Ah, tidak senang di Hoa-san kalau semua orang marah kepadaku, di samping itu, aku….. ah, aku tidak tega membiarkan kau sendiri mencari Kwee Sin di kota raja. Kau tentu akan menemui bahaya, maka aku menyusul untuk membantu.” Gadis itu memandang mesra, kemudian melanjutkan, “Siapa duga, sesampainya di sini, suami isteri iblis tukang warung itu, ketika aku membeli makanan dan minuman, agaknya dalam minuman diberi racun yang memabukkan. Aku pingsan tak ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu kau telah berada di sini menolongku. Ah, Beng San-ko….. benar-benar aneh. Lagi-lagi kau yang lemah tidak berkepandaian apa-apa muncul sebagai penolong, menolong orang-orang yang memiliki kepandaian. Aneh dan ajaib…..”

“Hong-moi, selain kau, masih ada lagi seorang gadis lain masuk perangkap penjahat-penjahat itu. Tadi kulihat nona Thio Eng memasuki warung ini dan tidak keluar lagi. Biarlah aku mencari dan menolongnya.” la lalu melangkah ke dalam sebuah kamar tak jauh dari ruangan itu dan benar saja, di dalam kamar ini dia melihat Thio Eng rebah di lantai tidak pingsan lagi, akan tetapi kaki tangannya diikat tali kuat-kuat dan mulutnya disumpal kain!

Cepat-cepat Beng San melepaskan tali pengikat kaki tangan gadis itu dan membuang pula kain penyumbat mulut. Akan tetapi, siapa kira, begitu terbebas Thio Eng melompat bangun dan “plak! plak!” dua kali pipi Beng San ditampar dari kanan kiri! Selagi Beng San melongo saking herannya, gadis itu sambil menudingkan telunjuknya berteriak.

“Tak usah tolong aku! Tak usah kau peduli keadaanku lagi, biarkan aku mampus dan teruskan kau berkasih-kasihan dengan siluman itu!” Kebetulan sekali Kwa Hong juga sudah masuk ke kamar ini dan dengan kemarahan meluap-luap Thio Eng menudingkan telunjuknya ke arah Kwa Hong. Gadis Hoa-san-pai ini menjadi merah sekali mukanya, merah karena malu dan juga karena marah. Kiranya semua yang ia ucapkan tadi telah didengar oleh gadis baju hijau ini! Yang repot adalah Beng San. Wah, celaka nih, pikirnya.

“Eh, eh….. sabar dulu….. Eng-moi, kita bicara di ruangan depan…..”

Kwa Hong yang masih merah mukanya itu mendahului meloncat keluar dari kamar juga Beng San yang berdebar-debar hatinya cepat-cepat keluar dari kamar itu, memutar otak bagaimana dia harus bertindak untuk menguasai keadaan yang amat gawat dan sulit ini. Tiba-tiba dia mendengar sambaran angin, cepat dia menoleh dan kiranya Thio Eng yang sudah meloncat keluar dan gadis ini menggerakkan jari tangan menotok jalan darahnya. Tentu saja gerakan ini terlampau jelas bagi Beng San dan sekiranya mau, pemuda ini dengan mudah akan dapat mengelak atau menangkis. Akan tetapi dia sengaja diam saja, membiarkan hiat-to (jalan darah) di tubuhnya tertotok. la mengeluh dan roboh lemas.

“Perempuan keji, kauapakan San-ko?” Kwa Hong membentak marah sekali dan melangkah maju. Akan tetapi Thio Eng sudah mencabut pedangnya yang tadi dia dapatkan di dalam kamar, dengan sikap menantang ia berdiri menghadapi Kwa Hong dan berkata dingin.

“Kau perempuan tak tahu malu! Semestinya tinggal di rumah mentaati perintah ayah sebagai seorang anak berbakti, eh, malah minggat dan mengejar-ngejar laki-laki! Perempuan macam engkau ini patut mampus di ujung pedangku!”

“Keparat!” Kwa Hong juga mencabut pedangnya yang tadi sudah dapat la ketemukan di sudut ruangan itu. “Peduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kau-kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau cemburu! Ya, kau cemburu dan iri hati melihat kami saling mencinta. Cih, tak tahu malu!”

“Tutup mulutmu!” Thio Eng makin marah, mukanya sebentar merah sebentar pucat. “Laki-laki tak berbudi macam ini, siapa menaruh hati? Mulutnya terlalu manis, satu hari mencinta gadis, lain hari mencinta lain orang gadis. Seperti engkau, dia pun harus mampus!”

Kwa Hong pucat mukanya dan mengerling ke arah Beng San. Mungkinkah Beng San juga pernah menyatakan cinta kasih kepada gadis ini? Akan tetapi hatinya sudah terlampau panas, sepanas hati Thio Eng dan tak dapat dicegah lagi dua orang gadis ini sudah saling terjang, bertanding pedang dengan hebatnya seperti dua ekor harimau betina memperebutkan seekor kelinci! Trang-tring-trang-tring bunyi pedang mereka dan bunga api berkilat di daiam ruangan yang sunyi itu. Thio Eng adalah murid tunggal Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, kepandaiannya tentu saja hebat. Kwa Hong adalah cucu murid Lian Bu Tojin yang sudah menerima latihan dari ketua Hoa-san-pai ini sendiri, maka ilmu pedangnya juga tak boleh dipandang ringan. Betapapun juga, menghadapi Thio Eng, ia menemukan lawan terlalu berat dan segera ia mendapat kenyataan bahwa biarpun ilmu pedangnya tak usah mengaku kalah dari ilmu pedang lawannya, namun dalam hal tenaga Iweekang ia toh kalah banyak. Setiap kali dua pedang bertemu, tangannya tergetar dan makin lama ia makin terdesak oleh gadis baju hijau itu.

Beng San merasa batinnya tersiksa bukan main menyaksikan pertempuran ini. Dengan amat terheran-heran dia tadi mendengarkan percakapan antara dua orang gadis itu dan benar-benar dia tidak mengerti. Mengapakah dua orang gadis yang disukai dan disayanginya ini seperti bertempur karena dia? Beng San masih terlampau hijau untuk dapat menangkap bahwa dua orang gadis ini sesungguhnya mencintanya dan kini mereka bertanding karena iri hati dan cemburu, atau secara kasarnya, untuk memperebutkan dia. Malah dalam kekecewaannya Thio Eng mempunyai nafsu untuk membunuh Kwa Hong dan dia pula. Dengan penuh kekhawatiran dia melihat betapa Kwa Hong makin terdesak hebat dan setiap saat ujung pedang di tangan Thio Eng mengancam keselamatan nyawanya.

“Eng-moi! Hong-moi! Sudahlah, jangan berkelahi!” Tiba-tiba Thio Eng dan Kwa Hong tergetar mundur pada saat pedang mereka saling bertemu dan pada saat itu Beng San sudah berdiri di antara mereka. Diam-diam Thio Eng kaget sekali, dan terheran-heran mengapa pemuda itu sudah terbebas daripada pengaruh totokannya. Apakah totokanku tadi kurang tepat sehingga pengaruhnya juga kurang lama? Tentu saja dia dan Kwa Hong tidak tahu bahwa mereka tadi keduanya mundur tergetar bukan karena pertemuan pedang mereka, melainkan karena getaran hawa dorongan tangan Beng San yang sengaja melerai mereka.

Kiranya dalam kebingungannya tadi, terbayang oleh Beng San ketika Thio Eng di dalam perahu pernah menangis dalam pelukannya seperti yang dilakukan Kwa Hong tadi, maka perasaannya membisikkan dugaan yang membuat dia segera melompat dan mencegah perkelahian itu. Memang sejak tadi dia tidak terpengaruh totokan karena begitu tertotok, dia telah menghentikan jalan darahnya dan hanya pura-pura roboh lemas.

“Eng-moi dan Hong-moi, jangan berkelahi…..” katanya pula.

“Kau mau bicara apakah? Hayo bicara cepat, atau kau hendak membantu dia ini?” bentak Thio Eng yang sudah tidak sabar lagi

“Bukan, Eng-moi, bukan begitu…..”

“Hemmm, San-ko, apakah kau hendak membela siluman hijau ini?” Kwa Hong bertanya dengan suara dingin.

“Tidak, tidak sekali-kali…… ahhh ….”

Beng San menggeleng-geleng kepalanya, mukanya merah sekali lalu berganti kehijau-hijauan karena dia merasa marah, menyesal, malu dan bingung. “Kalian berdua janganlah salah faham, aku….. aku tidak berat sebelah….. aku sayang dan suka kepada Eng-moi, juga sayang dan suka kepada Hong-moi. Aku tidak pilih kasih, kalian berdua kuanggap seperti adikku sendiri, maka jangan….. jangan bertempur…..”

Seketika pucat wajah Kwa Hong, sepucat wajah Thio Eng. “San-ko….. jadi kau….. kau tadi…..?” Tak dapat Kwa Hong melanjutkan kata-katanya dan air matanya jatuh berderai.

“Setan, sudah kuduga! Kau palsu! Di perahu dulu itu…..? Ah, laki-laki tak berbudi!” Agaknya Thio Eng tak sesabar Kwa Hong karena segera ia menggerakkan pedangnya menusuk dada Beng San. Akan tetapi kali ini Beng San tidak berpura-pura lagi, cepat dia mengelak sambil berkata.

“Di perahu aku berbuat apa? Eng-moi, aku hanya kasihan dan suka kepadamu, juga Hong-moi aku suka dan sayang, tapi keduanya kuanggap seperti dua orang teman baik, atau sebagai adik-adikku yang akan kubela, bu….. bukan….. sebagai kekasih…..”

“Ah, kau mempermainkan aku…..” Kwa Hong menjadi malu sekali kalau ia ingat betapa tadi ia telah menyatakan cinta kasihnya begitu terus terang, tidak hanya didengar oleh Beng San, malah juga oleh Thio Eng. Pikiran ini membuat ia marah sekali dan otomatis pedangnya juga digerakkan menyerang Beng San. Dua orang gadis yang dikecewakan hatinya itu kini hanya mempunyai satu kandungan hati, yaitu membunuh laki-laki yang mereka cinta dan yang kini mereka benci karena tidak membalas Cinta kasih mereka. Dua pedang yang tadinya saling gempur itu kini saling bantu untuk berlumba dalam merenggut nyawa Beng San.

Aduh, Beng San bergidik. Benar-benar berbahaya permainan cinta. Cinta kasih dua orang dara ini sama berbahayanya dengan dua ujung pedang mereka. Ia terpaksa mengeluarkan kepandaiannya, sekali tangannya bergerak dia telah dapat merampas dua pedang itu dari tangan Thio Eng dan Kwa Hong. Dua orang gadis itu seketika melongo karena tidak tahu bagaimana caranya pedang mereka tahu-tahu sudah terampas dan kini Beng San dengan muka sedih mengembalikan pedang mereka, mengangsurkan dengan gagang pedang di depan. Thio Eng dan Kwa Hong seperti mendapat komando lalu merenggut pedang masing-masing dari kedua tangan Beng San dan otomatis kedua pedang mereka sudah menyerang lagi! Tapi kembali dengan gerakan aneh, tahu-tahu pedang mereka sudah berpindah tangan. Lagi-lagi Beng San mengangsurkan pedang itu terbalik sambil berkata,

“Adik-adikku yang baik, kasihanilah aku. Aku benar-benar sayang kepada kalian.”

Mendadak dua orang gadis itu bercucuran air mata. “San-ko….. kiranya kau….. kau tidak hanya mempermainkan cinta orang…… juga telah mempermainkan orang dengan berpura-pura tolol dan bodoh,…..” Setelah berkata demikian, dengan isak tertahan Kwa Hong membalikkan tubuh dan lari pergi.

“Orang she Tan….. jadi kau….. sejak di perahu dulu….. kau telah mempermainkan aku? Ah, alangkah kejam kau…..” Sambil menangis Thio Eng juga berlari pergi dari situ dengan terhuyuhg-huyung dan lemas.

Tinggal Beng San yang berdiri melongo, memandangi dua pedang di kedua tangannya, berulang-ulang menarik napas panjang dan menjadi bingung. Apakah artinya itu semua? Benarkah dua orang gadis itu mencintanya? Ah, tak mungkin rasanya. Mencinta dia, cinta sebagai seorang kekasih yang menghadapkan dia menjadi suami mereka? Aneh! Dengan kedua pedang masih dipeganginya, ter-bayanglah wajah gadis gagu, tersenyum-senyum kepadanya dengan wajah diliputi kesayuan, kemudian terngiang di telinganya pesan mendiang Lo-tong Souw Lee bahwa dia harus mengawini perampas Liong-cu Siang-kiam kalau pencurinya itu wanita, maka terbayang pula wajah puteri Cia yang cantik jelita, gadis yang luar biasa ilmu pedangnya itu.

Hatinya terasa perih kalau teringat kepada dua orang gadis tadi. Akan tetapi apakah yang dapat dia lakukan? Mereka cinta kepadanya, itu bukanlah kesalahannya. Tak mungkin dia mengimbangi cinta kasih setiap orang gadis Dan memang sesungguhnya hatinya masih bersih daripada perasaaan ini. Agaknya hanya kepada gadis gagu itulah dia dapat mencinta, atau….. kepada puteri pencuri pedangkah?

“Setan!” Beng San memaki diri sendiri mengusir bayangan semua gadis itu. Sepasang pedang rampasannya dia simpan, dijadikan satu dan disembunyikan di balik jubahnya. “Tak mungkin memikirkan gadis-gadis itu, paling perlu sekarang aku pergi mencari kakakku di kota raja.” Makin diingat makin yakinlah hatinya bahwa pemuda she Tan yang datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Souw Kian Bi itu tentulah Tan Beng Kui, kakaknya. Masih ingat betul dia akan muka kakaknya itu. Hanya satu hal yang amat meragukan. Andaikata benar pemuda itu kakaknya, bagaimana dia bisa menjadi seorang yang begitu tinggi kedudukannya dan menjadi sahabat si Pangeran Mongol. la harus menemui Tan Beng Kui atau pemuda itu dan bicara secara terang-terangan. Dengan cepat Beng San lalu kembali ke kota raja, berusaha sekuat hatinya untuk melupakan peristiwa yang dia alami dengan Kwa Hong dan Thio Eng.

Setibanya di kota raja, dia mendengar berita yang amat mengejutkan hatinya. la sengaja bermalam di rumah penginapan di mana dia mengintai lima orang gagah itu dan mendengar berita bahwa empat orang kakek gagah itu, ialah Kim-mouw-sai Lim Seng jago Kwi-bun, Kang-jiu Bouw Hin jago Bi-nam murid Siauw-lim-pai dan dua orang kakek Phang pejuang dari Hun-lam, telah tewas semua dikeroyok perajurit-perajurit kerajaan yang dipimpin oleh Tan-ciangkun (Panglima Tan)! Jadi kakaknya sendiri yang telah memimpin barisan membunuh empat orang tokoh pejuang gagah perkasa! Sebetulnya apakah yang terjadi di situ?

Seperti telah diketahui di bagian depan, Phang Khai dan Phang Tui dua orang kakek itu, gagal menangkap Kwee Sin malah mereka sendiri hampir celaka kalau tidak tertolong oleh penolong rahasia. Setelah mereka sadar dan mendapatkan diri mereka berada di halaman kelenteng di mana mereka bermalam, keduanya menjadi terheran-heran dan juga marah terhadap seseorang yang mereka anggap telah mengkhianati mereka. Pada malam, ketiga, seperti telah dijanjikan, mereka mengunjungi rumah penginapan itu dan mengadakan pertemuan dengan Kang-jiu Bouw Hin, Kim-mouw-sai Lim Seng, dan nyonya Liong yang menjadi perantara dan orang kepercayaan Ji-enghiong dan Ji-enghiong, yaitu dua orang tokoh perjuangan yang menjadi pemimpin-pemimpin daripada gerakan rahasia atau jelasnya menjadi kepala jaringan mata-mata yang bergerak di dalam kota raja!

Bouw Hin dan Lim Seng sudah hadir di situ lebih dulu. Nyonya Liong belum juga datang. Terhadap Bouw Hin dan Lim Seng, dua orang kakek Phang tidak mau menceritakan pengalaman mereka di gedung Kwee Sin. Akhirnya datang juga nyonya Liong yang kelihatan gelisah dan berduka. Semua ini tak terlepas dari pandang mata kedua kakek Phang yang penuh selidik. Mereka melihat betapa mata yang bening itu sekarang nampak sayu dan ada bekas-bekas air mata. Begitu memasuki kamar itu nyonya Liong segera memberi pesannya dengan suara perlahan dan tergesa-gesa.

“Kalian lekas pergi dari sini, keadaan berbahaya. Saudara Bouw Hin dan Lim Seng harap segera berangkat ke tempat markas para pendekar yang dipimpin oleh saudara Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang. Katakan bahwa Ji-enghiong sendiri yang memesan supaya mereka memutar pasukan ke arah selatan untuk bergabung dengan pasukan besar Panglima Kok Ci Seng, dan ji-wi Saudara Phang-lopek harap segera mencari pasukan saudara Tan Hok dan minta pasukannya membantu teman-teman di barat yang mengalami pukulah hebat. Harap kalian cepat-cepat pergi dan jalankan tugas dengan baik, keadaan amat gawat di sini.” Sambil berkata demikian, nyonya itu memandang kepada kedua orang saudara Phang itu dengan sinar mata menyesal.

Phang Tui yang tidak sabar lalu berkata, “Tentu saja semua tugas itu kami terima dengan baik dan akan kami jalankan seperti biasa. Akan tetapi ada satu hal yang kami minta supaya nona Lee bicara terus terang dan memberi penjelasan yang sewajarnya.” Mendengar Phang Tui menyebutnya nona Lee, “nenek” itu mengeluarkan suara tertahan.

“Phang-lopek, apa….. apa maksudmu…..?” Dalam gugupnya, nenek ini lupa akan penyamarannya, suaranya tidak parau seperti biasanya melainkan merdu dan halus, suara seorang wanita muda!

Phang Khai sekarang berdiri di samping adiknya, suaranya terdengar keren penuh tuntutan. “Nona Lee, tak usah kau berpura-pura lagi, kami sudah tahu bahwa kau adalah seorang nona muda yang menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi dan Tan-ciangkun. Semua itu tidak apa dan kami takkan peduli karena kenyataannya kau bekerja untuk perjuangan kita. Akan tetapi apa artinya pengkhianatanmu kepada kami dan memberi tahu kepada Kwee Sin akan ancaman kami hendak menangkapnya? Katakanlah, apa artinya semua ini? Siapa sebenarnya engkau ini? Seorang teman pejuang ataukah seorang pengkhianat, ataukah seorang mata-mata musuh?” Suara Phang Khai lerdengar penuh ancaman.

Tubuh “nenek” itu gemetar. “Phang-lopek, ahhh….. tiada kesempatan lagi. Terlalu panjang untuk diceritakan, juga rahasia….. ah, kalian percayalah kepadaku. Pergilah cepat-cepat meninggalkan kota raja, aku tak sempat bercerita….. entah lain kali, sudahlah, pergilah kalian ..”

“Kau harus terangkan lebih dulu!” Phang Tui membentak, sedangkan dua orang lain, yaitu Bouw Hin dan Lim Seng, hanya memandang dengan heran. Mereka belum tahu apa yang telah terjadi dan melihat sikap dua orang saudara Phang itu, timbul pula kecurigaan mereka terhadap nyonya Liong yang sekarang jelas adalah seorang nona muda she Lee adanya.

“Tidak ….tidak bisa , tak sempat lagi…..”

“Kalau begitu, kami akan memaksamu!” Phang Tui dan Phang Khai bergerak dan menghadapi “nenek” itu dengan pedang di tangan.

Pada saat itu terdengar suara gerakan orang di luar dan terdengarlah bentakan keras, “Tangkap mata-mata pemberontak!” Sinar senjata rahasia melayang masuk kamar dan terdengar suara keras disusul padamnya lampu penerangan.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: