Raja Pedang (Jilid ke-44)

Melihat sekian banyaknya tokoh besar yang hadir, diam-diam Cia Hui Gan terkejut dan bangga. Kali ini jauh lebih banyak jago-jago datang dari empat penjuru untuk memperebutkan gelar Raja Pedang. Untuk melawan mereka mengandalkan kepandaian, dia merasa amat berat karena maklum bahwa tingkat mereka itu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri. Akan tetapi kalau yang dimaksud ini pertandingan ilmu pedang, dia boleh merasa yakin akan menang. Ilmu-ilmu pedang di dunia persilatan telah dikenalnya semua dan kiranya tidak akan ada yang dapat menangkan ilmu pedangnya, Sian-li Kiam-sut. Hanya agak gelisah juga hatinya kalau dia teringat akan gerakan ilmu pedang yang dimainkan gadis gagu tadi.

Setelah rombongan tamu berhenti, Cia Hui Gan berdiri dan mengucapkan pidato sambutan singkat. la menghaturkan selamat datang kepada semua tamu lalu ditambahkannya keterangan tentang pertandingan. “Siauwte sudah terlalu tua untuk main gila memperebutkan gelar kosong Raja Pedang. Oleh karena itu siauwte hendak memberi kesempatan kepada yang muda-muda dan yang masih haus akan gelar itu. Siauwte mengadakan tiga macam peraturan. Para peserta harus mempelihatkan ilmu pedangnya lebih dulu untuk dinilai, kemudian siauw-te mengajukan jago yang sekiranya akan dapat mengalahkannya. Di fihak kami ada tiga tingkat, yaitu pertama tingkat terendah adalah murid-murid siauwte yang juga menjadi pelayan di Thai-san, jumlahnya dua belas orang. Peserta yang siauwte anggap masih rendah tingkatnya, akan dilayani oleh dua belas orang pelayan itu. Kalau dia menang, barulah dia akan berhadapan dengan murid siauwte yang termuda, yaitu Lee Giok. Setelah dapat memenangkan Lee Giok, barulah akan berhadapan dengan anak siauwte sendiri Cia Li Cu. Sayang bahwa murid kepala siauwte tidak hadir di sini karena sedang bertugas. Jika ada peserta muda dapat mengalahkan Li Cu, kemudian mengalahkan murid kepala siauwte apabila dia datang, maka dia berhak menerima gelar Raja Pedang dari kami. Tentu saja para cianpwe boleh pula maju, dan tentu saja lawannya adalah siauwte sendiri.”

Ucapan ini jujur, singkat dan juga penuh tantangan sehingga membikin jerih hati beberapa orang yang hadir. Akan tetapi mereka yang merasa dirinya berkepandaian, menjadi penasaran juga. Cia Hui Gan tidak mempedulikan reaksi para tamunya, malah mempergunakan kesempatan itu untuk menyatakan maksud sesungguhnya daripada pertemuan itu.

“Cu-wi sekalian yang mulia. Memperebutkan gelar adalah perbuatan bodoh dan gelar adalah kosong melompong, tidak berjiwa. Apa artinya kita semua ini mempelajari kepandaian sampai berpuluh tahun? Apakah hanya berebutan gelar kosong belaka? Apa artinya kalau kepandaian kita tidak dipergunakan untuk membuat jasa terhadap tanah air? Cuwi sekalian, sekarang tanah air sedang terancam bahaya, perjuangan suci sedang bergolak, kalau kita tidak mempergunakan kepandaian untuk mengabdi pada nusa dan bangsa, alangkah kecewanya!”

“Cia Hui Gan! Urusan perebutan gelar jangan kau campur adukkan dengan urusan pemberontakan!” Hek-hwa Kui-bo mencela dengan suaranya yang nyaring dan galak.

Cia Hui Gan tersenyum. “Mengapa tidak? Selama kita masih menginjak tanah air, masih menghirup hawa udara tanah air, kita harus memperjuangkan kesuciannya. Begitu baru bisa disebut orang gagah.”

“Apa-apaan semua pidato kosong ini? Aku ingin melihat sampai di mana kehebatan Sian-li Kiam-sut dari Raja Pedang!” Orang yang berkata ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang bertubuh tinggi kurus, di tangan kanannya sudah memegang pedang yang tajam berkilau. Dia ini adalah Bhe Liong, seorang jago pedang anak murid Bu-tong-pai yang berwatak kasar dan mau menang sendiri. “Raja Pedang, kau boleh menilai permainan pedang Bu-tong-pai ini!” Pedangnya diputar cepat sampai mengeluarkan suara mengiung-ngiung.

Melihat beberapa jurus saja, Cia Hui Gan tersenyum lalu memberi tanda kepada dua belas orang pelayannya. “Kalian layani Bhe-taihiap ini.”

Bagaikan barisan yang diatur, dengan gerak lincah seperti kupu-kupu melayang-layang sehingga para pelayan yang beraneka warna pakaiannya ini kelihatan seperti penari-penari indah, sebentar saja orang she Bhe telah dikurung di tengah-tengah.

“Silakan, Bhe-taihiap,” seorang pelayan yang paling cantik berkata.

Bhe Liong tertegun, agak malu juga dikurung oleh gadis-gadis cantik itu yang ketika dekat telah menyiarkan ganda harum. Namun karena dia hendak memperlihatkan kepandaian dan kalau mungkin merebut gelar Raja Pedang, dia sudah memutar pedangnya dan berkata, “Hati-hati kalian!”

Ilmu pedang Bu-tong-pai memang boleh dibilang tinggi juga tingkatnya, dan ternyata ilmu pedang orang she Bhe ini tidak rendah. Akan tetapi, dia sekarang dikurung oleh Sian-li Kiam-tin (Barisan Pedang Bidadari), dua belas orang pelayan itu bergerak berbareng dan berlari-lari mengitari dirinya. Pedang di tangan dua belas orang pelayan itu silih berganti menyerangnya, kalau menangkis juga sekaligus ada empat pedang menangkisnya, maka biarpun Bhe Liong lebih kuat tenaganya dan lebih gesit gerakannya, dia sebentar saja sudah menjadi pening. Lewat tiga puluh jurus, permainannya kacau dan beberapa guratan pedang di lengannya membuat dia terpaksa melepaskan pedangnya, melompat keluar dari kalangan dan kembali ke rombongan Bu-tong-pai sambil berseru, “Lihai sekali. Aku terima kalah!”

Para tamu tertawa, akan tetapi ada pula yang memuji sifat orang she Bhe ini yang biarpun kasar namun jujur dan tidak malu-malu mengakui kekalahannya. Setelah orang she Bhe ini, maju lagi beberapa orang, ada yang dilayani oleh dua belas orang pelayan, ada pula yang dilayani oleh Lee Giok, tapi kesemuanya dikalahkan dengan mudah.

Kim-thouw Thian-li berbisik-bisik kepada Giam Kin. Pemuda muka pucat ini tertawa lalu meloncat maju menghadapi Lee Giok yang baru saja mengalahkan seorang jago dari Thai-san-pai dengan susah payah. Sambil menyeringai dan cengar-cengir Giam Kin berkata, “Nyonya Liong….. eh, Ji-enghiong….. eh, salah lagi, nona Lee Giok. Kiranya kau adalah murid dari Raja Pedang! Pantas saja kau berani banyak lagak di kota raja. Hemmm, kebetulan sekali kita bertemu dl sini, biarlah aku mencoba kepandaianmu!” Sambil berkata demikian, dia mencabut keluar sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang suling di tangan kiri.

Angin bertiup dan Cia Hui Gan sudah berdiri di depan pemuda itu dengan sikap keren. “Giam Kin, aku tahu kau murid Siauw-ong-kwi! Akan tetapi kalau kedatanganmu hanya untuk mengacau, aku orang she Cia tidak takut untuk mengusirmu. Hanya yang ingin berlumba ilmu pedang boleh bertempur.”

“He-he-he, aku pun ingin jadi Raja Pedang!”

“Tapi pertandingan ini hanya terbatas dalam ilmu pedang, dan kau bersenjata suling beracun.”

“Eh, suling ini hanya pelengkap saja.

“Ha-ha-ha, Raja Pedang! Kalau kau takut terhadap suling muridku, jangan berani pakai gelar Raja Pedang segala. Kalau muridmu Lee Giok itu takut menghadapi muridku, suruh dia bersembunyi di dapur. Ha-ha-ha!” Siauw-ong-kwi yang nakal wataknya itu mengejek, membuat banyak orang tertawa.

Cia Hui Gan berpaling kepada Lee Giok dan melihat sinar mata muridnya penuh kemarahan. “Lee Giok, ilmu pedangnya sih tidak seberapa, tapi kau hati-hatilah terhadap sulingnya.”

“Teecu takkan mengecewakan Suhu,” jawab Lee Giok sambil memutar pedangnya. Giam Kin tertawa lagi dan segera dua orang ini bertempur dengan seru. Akan tetapi segera ternyata bahwa Lee Giok bukanlah lawan Giam Kin. Sebentar saja ia amat terdesak dan baiknya Giam Kin adalah seorang pemuda mata keranjang. Melihat kecantikan Lee Giok, tentu saja hatinya tidak tega untuk melukai nona ini. Andaikata Lee Giok bukan seorang wanita, tentu dalam belasan jurus saja Giam Kin sudah menjatuhkan tangan keji. Sekarang Giam Kin hanya cengar-cengir sambil menggoda, mengeluarkan kata-kata yang kotor tidak sopan.

“Ehm, begini saja kepandaian Ji-enghiong? Kalau kau benar-benar seorang nyonya Liong yang tua dan buruk, tentu pedangku sudah akan menabas lehermu. Tapi kau….. hemmm, sayang kalau terluka lecet kulitmu. Kalau aku menjadi Raja Pedang, kau akan kujadikan selir Raja Pedang, maukah? Heh-heh-heh!”

“Si keparat bermulut kotor!” tiba-tiba dari fihak Hoa-san-pai melompat keluar seorang pemuda yang bukan lain, adalah Thio Ki adanya. Pemuda yang patah hati karena tak terbalas cinta kasihnya oleh Kwa Hong ini semenjak melihat munculnya Lee Giok di Hoa-san dahulu, telah amat tertarik oleh gadis ini. Menyaksikan kegagahan Lee Giok, apalagi mendengar bahwa Lee Giok adalah “Ji-enghiong”, sekaligus timbul kagum dan sukanya. Malah kenyataan bahwa dengan berterang Lee Giok mengaku cinta kepada Kwee Sin tidak mengurangi rasa sukanya. Sekarang melihat gadis ini dipermainkan Giam Kin, hatinya menjadi panas dan tak dapat menahan kesabarannya pula, dengan pedang di tangan dia menyerbu dan langsung menyerang Giam Kin dengan serangan maut. Pada saat itu, Giam Kin sedang mendesak Lee Giok dan telah mengirim tusukan yang ditujukan untuk merobek pakaian sebelah atas gadis itu. Lee Giok sudah terkejut sekali dan maklum bahwa ia akan menderita malu yang bukan main besarnya andaikata serangan ini berhasil dan bajunya akan terobek ujung pedang. Maka ia merasa berterima kasih ketika tiba-tiba Thio Ki melompat dan menyerang Giam Kin sehingga pemuda muka pucat ini terpaksa menarik kembali serangannya dan dengan marah menghajar Thio Ki dengan sebuah tendangan kilat. Kepandaian Thio Ki masih kalah jauh oleh Giam Kin, maka tendangan itu merobohkannya. Namun, dengan nekad Thio Ki bangkit kembali dan dengan kaki terpincang-pincang dia menerjang lagi, tidak memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk mendesak Lee Giok.

“Thio Ki, kau mundur!” Dari tempat duduknya Lian Bu Tojin menegur muridnya.

“Li Cu, kauhadapi manusia sombong itu!” Cia Hui Gan memerintah puterinya.

“Orang she Giam! Biarpun kau sudah mengalahkan Enci Lee Giok, jangan kira kau boleh bersombong dan sudah menjadi Raja Pedang. Lihat pedangku!” Cia Li Cu menggerakkan sebatang pedang yang ia pinjam dari pelayannya. Gerakannya cepat sehingga sinar pedangnya menyilaukan mata. Giam Kin cepat melompat mundur dan memutar senjatanya pula. Hatinya berdebar-debar tidak karuan menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari lawan barunya.

Sementara itu, Thio Ki dan Le Giok mundur keluar dari kalangan pertempuran. “Thio-enghiong, terima kasih atas pertolonganmu.” kata Lee Giok sambil menjuru.

“Ah, tidak apa, Nona. Untuk memantumu yang gagah dan mulia, biar berkorban nyawa aku Thio Ki akan rela!” Ucapan yang terang-terangan bersifat pernyataan cinta ini membuat nona Lee Giok menjadi merah wajahnya dan cepat mundur ke dekat suhunya, dan Thio Ki juga mundur ke rombongannya sendiri.

Pertempuran kali ini hebat sekali. Biarpun Giam Kin adalah murid utama dari Siauw-ong-kwi dan kepandaiannya pun tinggi, namun menghadapi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut dari Li Cu, dia repot bukan main. Sudah kalah murni ilmu pedangnya, ditambah lagi kecantikan lawan membuat dia kacau pikirannya. Dalam jurus ke lima puluh, sulingnya kena dibabat putus dan lengan kanannya tergores pedang. Tanpa malu-malu lagi Giam Kin melompat mundur dan lari mendekati gurunya. Sorak-sorai menyambut kemenangan nona rumah ini. Siauw-ong-kwi menjadi pucat mukanya dan sudah berdiri hendak maju sendiri menghadapi Cia Hui Gan untuk menebus kekalahan muridnya. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan merah dan Bi Goat si gadis gagu sudah berdiri berhadapan dengan Li Cu dengan pedang di tangan! Semua penonton tertegun menyaksikan dua orang nona yang sama-sama berpakaian merah dan keduanya cantik jelita ini.

“Bagus, sekarang baru ramai!” Toat-beng Yok-mo bertepuk-tepuk dan bersorak gembira sambil melangkah maju untuk mencari tempat duduk lebih dekat supaya enak menonton. la sudah seringkali menghadapi ilmu pedang Bi Goat dan merasa ngeri karena kehebatan Yang-sin Kiam-sut dan sekarang melihat Bi Goat hendak bertanding melawan Cia Li Cu, dia merasa gembira sekali.

Cia Li Cu tersenyum dan bukan main manis wajahnya ketika ia tersenyum. “Eh, adik gagu, apakah kau juga hendak merebut gelar Raja Pedang?”

Bi Goat yang mengerti kata-kata orang, menggeleng kepala, hanya menudingkan pedangnya ke arah Toat-beng Yok-mo yang seketika menjadi pucat.

Kembali Cia Li Cu tersenyum. “Ah, jadi kau penasaran karena Yok-mo itu? Dengarlah, adik yang manis. Kalau sudah selesai pertemuan ini, kau boleh saja mengejar dia dan boleh kau bacok putus lehernya, mana sudi aku ikut campur? Tapi sekarang karena dia seorang tamu, kau tidak boleh mengganggunya.” Di dalam hatinya Li Cu amat suka dan kasihan kepada Bi Goat, maka bicaranya manis.

“Bi Goat, lekas serang, jangan bikin malu orang tua.” terdengar Song-bun-kwi berkata dan kagetlah banyak orang mendengar ini. Baru mereka tahu bahwa gadis cantik yang gagu ini kalau bukan anak tentulah murid Song-bun-kwi. Gembira hati mereka karena sebagai murid Song-bun-kwi yang sudah mereka ketahui kesaktiannya, gadis gagu itu tentu lihai sekali dan pertandingan ini tentu akan hebat.

Akan tetapi, siapa duga, begitu Bi Goat menggerakkan pedangnya menyerang dan ditangkis Li Cu, terdengar suara nyaring dan pedang Li Cu patah menjadi dua! Banyak orang menahan napas karena kalau dalam pertandingan ilmu pedang sampai ada pedang yang terpatahkan, maka orang itu boleh dianggap kalah. Wajah Li Cu agak pucat dan terdengar jerit tertahan dari para pelayannya. Akan tetapi Bi Goat sama sekali tidak menyerang lagi. Gadis gagu ini dengan wajah tenang memberi isyarat dengan tangannya agar supaya Li Cu mempergunakan pedang baru. Merah wajah Li Cu karena malu, akan tetapi diam-diam ia memuji kehalusan budi lawannya. Sekarang ia maklum bahwa lawannya menggunakan pedang pusaka yang ampuh dan kuat, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menggerakkan tangan kanan. Sinar menyilaukan berkelebat ketika pedang Liong-cu-kiam yang pendek tercabut dari sarung-nya. Yang panjang masih tinggal di dalam sarung. Semua orang kaget dan ka-gum sekali, terdengar golongan tua berbisik, “Inikah Liong-cu Siang-kiam?”

“Bi Goat, hati-hati jangan sampai beradu pedang!” Song-bun-kwi berseru kepada anaknya.

Akan tetapi mana Bi Goat mau percaya bahwa pedangnya akan kalah oleh pedang lawan? la telah menyerang lagi dan dua orang gadis berbaju merah ini sebentar saja sudah bertanding hebat. Makin lama makin cepat gerakan mereka sampai lenyap tergulung dua sinar pedang. Yang nampak hanya dua bayangan merah terbungkus oleh dua gulungan sinar pedang yang keemasan dan keperakan, segulung putih berkilau, yang lain kuning emas. Semua tamu menahan napas, ‘ kagum sekali menyaksikan dua ilmu pedang yang hebat ini. Juga Cia Hui Gan menahan napas. Makin lama dia makin terheran, kemudian berseru.

“Song-bun-kwi, apakah ini Yang-sin Kiam-sut yang berhasil kau dapatkan itu?”

Song-bun-kwi merah mukanya lalu menjawab. “Yang-sin Kiam-sut apa? Masih belum dapat menangkan Sian-li Kiam-sut punyamu!”

“Trang! Tranggg!” Pertempuran terhenti, Bi Goat meloncat mundur dengan muka pucat. Pedangnya telah patah! Li Cu menahan pedangnya, nampak bangga lalu berkata.

“Adik gagu, kauambillah lain pedang.”

Song-bun-kwi marah sekali kepada Bi Goat. Tangannya bergerak dan tahu dia telah mengambil pedang dari pinggang seorang tamu tanpa si tamu mengetahuinya! Pedang ini sudah melayang ke arah Bi Goat disertai seruannya.”Pakailah ini!”

Semua orang kaget. Pedahg telanjang itu meluncur seperti anak panah dan seakan-akan hendak menembus dada gadis gagu berpakaian merah itu. Namun dengan mudah Bi Goat menekuk lututnya dan menyambar pedang dari bawah dengan kedua tangan. Kembali mereka bertempur, tapi hanya dalam tiga jurus pedang ini pun patah menjadi tiga po-tong! Kembali Song-bun-kwi “mencopet” pedang yang dilemparkan kepada Bi Goat. Patah lagi. Berkali-kali Bi Goat berganti pedang dengan paksaan ayahnya, tapi mana ada pedang yang dapat menahan pedang Liong-cu-kiam? Pertandingan itu tidak menarik lagi, lebih berupa demonstrasi ketajaman pedang Liong-cu-kiam.

“Bi Goat belum kalah!” Song-bun-kwi membentak ketika terdengar suara para tamu supaya pertandingan itu disudahi saja dan gadis gagu dinyatakan kalah. “Pedangnya patah bukan karena dalam ilmu pedang, melainkan karena pedangnya kalah baik. Kalau dia sudah roboh mandi darah, barulah boleh disebut kalah. Bi Goat, serang lagi, biar dengan gagang pedang atau kepala!”

Bi Goat memang sudah merasa malu sekali karena berkali-kali pedangnya patah. Sekarang mendengar suara ayahnya ia menjadi nekat dan menubruk maju dengan pedang sepotong! Li Cu kaget sekali, tidak mengira bahwa gadis gagu yang gagah ini akan berlaku nekat. Kepandaiannya memang tidak terlalu jauh selisihnya, maka menghadapi serangan nekat ini ia tentu akan celaka kalau tidak mendahului. Liong-cu-kiam di tangannya bergerak naik turun dan la sudah mematahkan lagi pedang Bi Goat yang tinggal sepotong lalu ditambah dengan serangan balasan. Bagaikan anak panah Liong-cu-kiam meluncur ke arah tenggorokan Bi Goat. Baiknya sebelumnya sudah timbul perasaan suka dan kasihan dalam hati Li Cu, maka gadis ini pun memaksa diri menurunkan tusukannya mengarah pundak. Para tamu menahan napas bahkan Song-bun-kwi sendiri mengepal tinjunya melihat puterinya terancam bahaya.

“Plakkk!” Pedang di tangan Li Cu tergetar dan gadis ini sendiri terhuyung mundur dua langkah dengan wajah pucat. Pedangnya tadi telah kena dihantam oleh sebuah benda hitam kecil yang membuat tangannya gemetar dan pedangnya hampir terlepas dari pegangan.

“Song-bun-kwi, jangan main gila!” Cia Hui Gan membentak marah, mengira bahwa tentu Song-bun-kwi yang menolong gadis gagu dan mengirim serangan gelap kepada Li Cu.

“Cia Hui Gan, jangan sembarangan menuduh!” Song-bun-kwi balas membentak marah. Dua orang tua itu sudah berdiri dan saling pandang dengan mata menantang dan mengancam. Keadaan menjadi tegang. Akan tetapi tiba-tiba banyak orang berseru kaget dan heran dan semua perhatian sekarang ditujukan kepada bayangan seorang laki-laki yang baru saja naik ke tempat itu dengan langkah limbung. Laki-laki ini masih seorang pemuda, tapi keadaannya mengerikan sekali. Rambutnya awut-awutan, mukanya hijau, warnanya seperti orang terserang racun hebat, matanya merah, mukanya luka-luka berdarah, pakaiannya kusut tidak karuan.

Selagi semua orang terheran-heran, mereka dibikin lebih heran dan kaget ketika melihat Bi Goat mengeluarkan suara “uh-uh” dan gadis gagu yang cantik jelita ini berdiri menyambut orang itu, terus dipeluknya sambil menangis!

Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo segera mengenal orang ini, bahkan yang lain-lain akhirnya mengenalnya pula. Orang itu bukan lain adalah Beng San!

Memang dia Beng San. Pemuda ini hampir menjadi gila semenjak terjadi peristiwa antara dia dan Kwa Hong di dalam benteng tentara kerajaan. Sekarang, bertemu dengan Bi Goat yang amat mencintanya sehingga tanpa ragu-ragu menunjukkan cinta kasihnya di tempat ramai seperti itu, hatinya makin perih seperti ditusuk-tusuk, merasa berdosa. Dengan halus dia membelai rambut gadis gagu itu, lalu berkata perlahan dan mendorong Bi Goat ke samping, “Bi Goat, kau mengasolah…..” Kemudian dengan sekali melompat dia telah berdiri menghadapi Li Cu yang memandang dengan wajah pucat.

“Kau….. kau pencuri pedang! Kembalikan Liong-cu Siang-kiam kepadaku!” kata Beng San, matanya yang merah memandang tajam seakan-akan hendak menusuk dada gadis cantik itu dengan pandang matanya. Li Cu yang tadinya merasa ngeri, sekarang berbalik marah ketika mendengar ia dimaki pencuri. la tidak mengenal lagi pemuda yang hanya satu kali ia lihat dahulu di puncak Hoa-san-pai sebagai Seorang sastrawan lemah yang berani mati mencampuri urusan Hoa-san-pai dengan Kun-lun-pai.

“Keparat, kau barangkali sudah gila. Pergi!” Li Cu mengancam dengan pedangnya, akan tetapi sekali melangkah maju Beng San mengulur tangan hendak merampas pedang itu. Hampir saja pedangnya kena dirampas kalau Li Cu tidak segera cepat menarik kembali pedangnya. Ia kaget. Gerakan orang ini cepat dan tidak terduga sekali. Teringat ia akan sambitan gelap tadi.

“Kaukah penjahat yang menyambit pedangku tadi?”

Beng San mengangguk. “Tak boleh kau melukai Bi Goat. Dan pedang-pedang itu, dia milikku, kembalikan sekarang juga. Aku segan mempergunakan kekerasan terhadapmu.” Ucapan ini keras sehingga terdengar semua orang. Orang yang belum mengenalnya tertawa geli, menyangka bahwa dia benar-benar seorang gila. Akan tetapi Beng San tidak peduli dan melangkah lagi. Kini Li Cu tidak ragu-ragu. Tentu orang ini berilmu tinggi, maka tidak memalukan kalau kuserang dia.

“Banggat, kau mencari mati sendiri. Lihat pedang!” Pedangnya menusuk seperti kilat menyambar. Bi Goat kebingungan dan memandang pucat. Akan tetapi sedikit miringkan tubuhnya saja Beng San berhasil mengelak. Li Cu penasaran dan mengirim serangan berantai. Namun, tujuh kali sambaran pedangnya, selalu mengenai tempat kosong seakan-akan pemuda ini sudah tahu ke mana pedang hendak menyerang. la makin penasaran dan hendak menyerang mati-matian akan tetapi tiba-tiba Ciu Hui Gan melompat datang.

“Saudara muda, kau siapakah dan apa sebabnya kau mendakwa anakku mencuri pedang Liong-cu Siang-kiam darimu?” tanyanya.

Beng San mengangkat muka memandang. Cia Hui Gan adalah seorang pendekar besar, akan tetapi dia bergidik ketika melihat muka yang bersinar kehijauan ini. Diam-diam dia kaget, karena orang yang bermuka seperti ini hanyalah orang keracunan atau orang yang memiliki Iweekang yang sudah mencapai dasar tenaga Im. Melihat seorang tua gagah, Beng San segera memberi hormat.

“Agaknya aku berhadapan dengan Raja Pedang Cia Hui Gan. Ketahuilah, anakmu ini telah menyamar sebagai aku dan menipu mendiang guruku sehingga Liong-cu Siang-kiam diberikan kepadanya. Sebelum mati guruku berpesan kepadaku supaya aku mencari pencuri pedang itu, kalau sudah bertemu, kalau laki-laki harus kubunuh dan kalau….. hemmm…..” Beng San dalam gugupnya tak dapat bicara lagi, dia merasa diri bodoh sekali dan menyesal setengah mati mengapa dia menceritakan hal ini.

“Dan kalau perempuan bagaimana…..?” Cia Hui Gan mendesak, mata pendekar pedang bersinar-sinar. Sekarang baru tampak olehnya wajah Beng San yang aseli, wajah seorang pemuda tampan dan jujur, membayangkan kehalusan budi.

Seketika sinar kehijauan yang meliputi wajahnya lenyap berubah putih segar seperti biasa, kemudian berubah merah sekali sampai hitam. Kembali Cia Hui Gan kaget setengah mati. Inilah wajah seorang yang memiliki Iweekang yang sudah mencapai dasar tenaga Yang! “Kalau wanita…..” kata Beng San “menurut mendiang suhu harus menjadi…, eh, menjadi isteriku…..”

“Ha-ha-ha-ha-ha….. lucu betul si maling Lo-tong Souw Lee…..” kata Cia Hui Gan.

Beng San merasa lengannya dipegang orang erat sekali. la menoleh dan ternyata yang memegang lengannya adalah Bi Goat yang memandang dengan air mata berlinang. la menepuk-nepuk tangan Bi Goat, lalu berkata cepat-cepat.

“Cia-enghiong, biarpun mendiang suhu memesan demikian, aku….. aku tidak akan mengambil isteri puterimu….. eh, tidak siapapun juga, eh….. aku hanya ingin mengambil kembali Liong-cu Siang-kiam…..” la menoleh lagi lalu mendorong pergi Bi Goat. Gadis ini tersenyum dan segera mengundurkan diri. Pertunjukan romantis ini ditonton oleh semua orang dan di sana-sini orang tertawa, ada juga yang terharu. Jelas sekali terlihat bahwa antara pemuda yang mukanya berubah ubah seperti bunglon dan gadis yang gagu terdapat jalinan kasih sayang yang besar,

Sekarang Cia Hui Gan menoleh kepada puterinya, suaranya keren ketika bertanya.

“Li Cu, kau bilang berhasil merampas kembali Liong-cu Siang-kiam. Bagaimana sekarang pemuda ini menuduhmu menipu?”

Li Cu melangkah maju dan membentak Beng San, “Orang gila, kau berani menuduhku. Siapa namamu?”

“Aku….. namaku Beng San…..” Pemuda ini gugup juga menghadapi nona cantik jelita seperti bidadari yang marah itu. Seketika wajah Li Cu berubah merah “Ayah….. aku…. aku bertemu Lo-tong Souw Lee. Dia….. dia mengira aku….. aku muridnya yang bernama Beng San. Karena aku berpakaian sebagai pria dan dia….. dia buta, dia lihai dan aku….. aku khawatir takkan berhasil merampas maka aku membiarkan saja dia menyangka aku muridnya, dan memberikan pedang kepadaku ….”.

“Hemmm, kau memalukan!” bentak Cia Hui Gan, kemudian jago pedang ini berpaling kepada Beng San. “Beng San, kau dengar sendiri. Anakku sudah mengaku, memang licik perbuatannya. Akan tetapi kau hanya tahu satu tidak tahu dua. Pedang Liong-cu Siang-kiam sebetulnya adalah hakku, karena pedang itu dahulu ratusan tahun yang lalu adalah milik sucouw kami, Ang I Niocu. Setelah terjatuh ke dalam tangan kaisar, dicuri oleh Lo-tong Souw Lee. Kalau sekarang kami kembali merampas dari dia, bukankah itu sudah sewajarnya?”

“Tidak bisa! Suhu mengambilnya dengan kepandaian, puterimu mengambilnya dengan tipu daya. Dan aku sudah bersumpah di depan suhu…..”

“Hemmm, kau boleh sekarang merampasnya kembali kalau kau ada kepandaian!” tantang Li Cu.

“Baik, kau jagalah!” Beng San menubruk maju, sekaligus kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok leher yang kanan merampas pedang. Cia Hui Gan melompat mundur membiarkan anaknya menghadapi Beng San. Gadis itu marah sekali dan memutar pedang membabat tangan Beng San. Akan tetapi gerakan Beng San ini hanyalah gerak tipu belaka, tahu-tahu pemuda ini sudah menyelinap ke belakang tubuh Li Cu dan sekali dia menggerakkan tangan, pedang Liong-cu Siang-kiam yang panjang dan yang tadinya tergantung di punggung gadis itu sudah kena dia rampas!

Pucat wajah Li Cu. “Keparat, hari ini aku Cia Li Cu hendak bertanding mati-matian denganmu!” Pedang pendeknya diputar cepat merupakan segulungan sinar keemasan menerjang diri Beng San. Beng San juga menggerakkan pedangnya dan dua pedang bertemu, mengeluarkan bunga api menyilaukan mata. Di saat berikutnya dua orang muda ini sudah bertanding seru. Alangkah herannya semua tamu ketika melihat betapa pemuda yang mengerikan ini biarpun gerakan-gerakannya kacau-balau, dan amat buruk kalau dibandingkan ilmu pedang Li Cu, namun selalu gulungan sinar pedang Li Cu dapat ditahannya dan dipukul kembali. Malah dengan gerakan-gerakan selanjutnya Beng San mulai mendesak Li Cu dengan Ilmu Pedang Im-yang Kiam-sut yang amat lihai dan ternyata dasar ilmu pedang mereka adalah satu sumber, hanya pecahan Im-yang Kiam-sut lebih ruwet dan kuat. Apalagi karena dalam diri Beng San sudah terdapat sari tenaga Im dan Yang, maka setiap kali bertemu pedang, Li Cu merasa seluruh tubuhnya panas dingin dan gemetar,

Cia Hui Gan menonton pertempuran ini dengan mata bersinar-sinar dan timbul rasa kagum dan sukanya kepada Beng San. Pemuda inilah yang sebetulnya dapat mengatasi anaknya, malah agaknya akan dapat mengalahkan dia sendiri. Bukankah ilmunya itu ilmu peninggalan Bu Pun Su. la sudah mendengar bahwa Yang-sin Kiam-sut terjatuh ke tangan Song-bun-kwi dan Im-sin Kiam-sut jatuh ke tangan Hek-hwa Kui-bo. Akan tetapi kenapa pemuda ini demikian mahir Im-yang Sin-kiam-sut? Sayang bahwa anaknya telah mempunyai pilihan hati sendiri, yaitu muridnya yang pertama. Kalau tidak begitu…..”ah, pemuda ini benar-benar hebat!”

Selagi Beng San dan Li Cu bermain pedang dengan amat hati-hati karena keduanya maklum akan kelihaian lawan sedangkan Beng San juga merasa segan untuk melukai gadis jelita ini, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk seakan akan gunung itu meletus. Kemudian dari bawah puncak berlari-lari seorang laki-laki dikejar oleh banyak orang. Setelah tiba di tempat itu, ternyata orang itu adalah Tan Beng Kui yang menderita beberapa luka ringan pada pundak dan lengannya. Darah membasahi bajunya. Begitu tiba di tempat itu dan melihat Beng San masih bertanding melawan Li Cu, Beng Kui melompat maju dan membentak, “Beng San, berani kau kurang ajar di sini?”

Beng San terkejut dan melompat mundur. Sebelum dia menjawab, para pengejar sudah tiba di tempat itu pula dan kelihatan Pangeran Souw Kian Bi bersama belasan orang perwira lain. Pangeran ini kelihatan marah sekali dan begitu tiba di depan Tan Beng Kui dia memaki. “Manusia tak kenal budi! Jadi ternyata engkau telah mengkhianati kami dan ternyata kau yang selama ini disebut Ji-enghiong? Bagus, bagus…..! Kau melarikan diri ke sini, ha-ha-ha! Kaukira sebagai Ji-enghiong kau sudah merasa diri paling pandai dan siasatmu selama ini mengacaukan kerajaan? Pengkhianat Tan Beng Kui! Pada saat ini puncak ini sudah dikurung oleh selaksa orang perajuritku! Kau dan semua orang yang berada disini, kecuali saudara-saudara yang membantu kerajaan, akan dibasmi habis! Ha-ha-ha!” Semua orang terkejut sekali, apalagi ketika mendengar sorakan dan melihat bahwa di lereng gunung sudah kelihatan banyak sekali tentara negeri mengurung tempat itu. Kekagetan ini bukan hanya karena ancaman si Pangeran Mongol, terutama sekali mereka yang sudah mengenal Beng Kui merasa kaget ketika mendengar kenyataan bahwa Tan Beng Kui ternyata adalah Ji-enghiong yang terkenal sebagai seorang pemimpin pejuang di kota raja!

Ketika Pangeran Souw Kian Bi melihat Lee Giok di situ, dia tertawa lagi, suara ketawanya seperti iblis. “Ha-ha-ha-Ha-ha! Lee Giok, nyonya Liong, bagus sekali kau pun sudah bersiap menerima mampus di sini. Tubuhmu akan kuserahkan kepada. para perajurit, kemudian kau akan dicincang hancur dan kuberikan kepada anjing! Kau dahulu mengaku sebagai Ji-enghiong untuk mengelabuhi mataku, kiranya antara kau, Beng Kui, dan Kwee Sin terdapat kerja sama mengepalai para mata-mata di kota raja. Kau ternyata adalah adik seperguruan Tan Beng Kui si keparat murid si Raja Pedang. Ha-ha-ha, semua julukan yang muluk-muluk akan hancur lebur pada hari ini.”

Tan Beng Kui yang kelihatan gagah dan bersemangat, berdiri dengan kedua. kaki terpentang, matanya bersinar-sinar dan dia menjawab, “Pangeran Souw Kian Bi! Kau terlampau memandang rendah para pejuang. Kaukira kali ini akan dapat menghancurkan kami? Huh, manusia serendah engkau mana mampu menghancurkan kekuatan perjuangan rakyat? Kau bilang di puncak ini terkurung oleh prajurit-prajuritmu? Ha-ha-ha, apa kau kira percuma saja aku bertahun-tahun berjuang di kota raja? Bukan kami yang akan kau hancurkan, sebaliknya kau dan pasukan-pasukanmu itulah yang akah hancur. Kaulihat!” Beng Kui mengeluarkan panah api, dilepaskan ke atas dan sinar biru melesat ke udara. Tak lama kemudian terdengar tambur dan terompet disusul sorak-sorai menggegap gempitakan puncak.

“Lihat, Pangeran Souw Kian Bi. Lihat baik-baik, puluhan ribu teman-teman kami sudah mengurung di kaki gunung, siap menggempur pasukan-pasukanmu!” Tidak hanya Souw Kian Bi yang menengok, melainkan semua orang melihat ke bawah dan betul saja, seperti ular naga besar tampak pasukan pejuang sudah merayap ke atas dan sudah mulai diadakan pertempuran di bawah gunung.

“Dan kau tidak pernah mimpi bahwa pada saat ini di kota raja terjadi pula penyerbuan, Pangeran. Kau tidak ada tempat lagi untuk maju atau mundur. Ha-ha-ha!” Tan Beng Kui tertawa dan pangeran itu membentak marah.

“Kau bohong!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: