Rajawali Emas (Jilid ke-1)

RAJAWALI EMAS

by Kho Ping Hoo


PEGUNUNGAN Lu-liang-san terkenal sebagai gunung yang indah dan subur, terutama sekali hal ini disebabkan oleh Sungai Kuning yang mengalir di antara pegunungan ini. Banyak terdapat hutan-hutan lebat dan bagian-bagian yang amat indah penuh dengan pohon-pohon berbuah dan tanaman berbunga. Hutan-hutan ini sebagian besar masih merupakan hutan liar yang aseli, belum terjamah tangan dan terinjak kaki manusia.

Oleh karena itu, penghuni aseli hutan-hutan |itu, binatang-binatang besar kecil berkembang biak amat suburnya sehingga daerah Pegunungan Lu-liang-san terkenal sebagai tempat yang amat baik akan tetapi juga amat berbahaya bagi para pemburu.

Keindahan alam yang belum terjamah tangan manusia memang merupakan keindahan aseli. Apalagi dimusim semi diwaktu pohon-pohon penuh daun, sedangkan dimusim rontok saja terdapat keindahan aseli yang menggerakan hati setiap orang yang dapat menghargai keindahan alam yang aseli. Lihatlah daun-daun yang melayang-layang turun, rontok dari tangkainya. Melayang-layang bebas lepas seakan-akan kupu-kupu bercanda menimbulkan suara gemerisik yang tiada hentinya. Daun-daun kering merontok dengan rela untuk memberi kesempatan berseminya daun-daun baru yang akan menggantikan kedudukannya. Daun-daun kering merontok untuk membusuk dan menjadi pupuk bagi daun-daun baru. Rontok dan semi, hilang yang tua muncul yang baru. Di dunia ini mana yang tidak terlewat oleh hukum alam ini? Yang tua lenyap untuk memberi tempat bagi yang muda, yang muda akhirnya pun tua dan lenyap untuk mengulang sejarah yang lalu.

Gemerisik daun-daun kering rontok melayang turun diselingi suara air Sungai Huang Ho yang tidak penuh airnya, Air bermain dengan batu-batu, berdendang lagu bahagia tak kunjung henti. Suara daun kering rontok dan air sungai berdendang merupakan perpaduan suara yang amat indah, kadang-kadang diramaikan suara burung di pohon dan sekali-kali terdengar raungan binatang buas dari dalam semak-semak belukar.

Betapapun besar bahaya rnengancam keselamatan manusia yang berani memasuki hutan-hutan ini, yaitu bahaya dari ancaman binatang-binatang buas, namun tetap saja akhirnya ternyata bahwa manusialah mahluk yang paling kuat di antara segala mahluk hidup di dunia ini. Pagi hari itu, dikala sinar matahari berebutan menerobos ke celah-celah daun pohon yang mulai menggundul dan burung-burung tengah ramai bersaing kemerduan kicau mereka terdengar suara lain di dalam hutan itu. Suara manusia! Burung-burung. yang terdekat menghentikan kicaunya, sebagian terbang pergi ketakutan. Binatang-binatang kecil lari menyelinap ke dalam semak-scmak, binatang-binatang besar mengintai penuh kecurigaan dari balik gerombolan. Seluruh perhatian para mahkluk dalam hutan tertuju kepada mahkluk aneh yang tak pernah mereka lihat itu. Manusia!

Manusiakah yang menjadi pusat perhatian para binatang-binatang itu? Jangankan para binatang yang tak pernah atau jarang sekali melihat manusia, sedangkan manusia-manusia sendiri kiranya akan tercengang keheran-heranan kalau melihat orang yang tengah berada di dalam hutan seorang diri ini.

Dia seorang laki-laki tinggi besar, Pakaiannya berpotongan longgar, terbuat dari bemacam-macam kain berwarna-warni yang disambung-sambung. Sepatunya, sepatu besar, Juga berkembang! Sukar menaksir usia orang ini. Yang terang dia sudah lewat dewasa, Karena tubuhnya demikian tinggi besar. Melihat perawakan dan wajahnya yang sudah masak, sedikitnya dia berusia empat puluh lima tahun, Akan tetapi melihat kebodohan kanak-kanak yang membayang pada wajahnya, melihat bentuk pakaian dan warna sepatunya serta sikapnya yang sedang main-main seorang diri, dia masih seorang kanak-kanak!. Memang dia seorang kanak-kanak yang sudah tua, atau seorang tua yang berjiwa kanak-kanak. Karena keanehan inilah maka di dunia kang-ouw ia terkenal sekali dengan nama poyokan Koai Atong (Bocah Aneh).

Jangan dipandang rendah Koai Atong ini. Banyak orang Kang-ouw, jagoan ternama yang berkepandaian tinggi, akhirnya kecele ketika mereka berani memandang rendah Koai Atong. Dia adalah murid tunggal seorang sakti dari Tibet, seorang hwesio yang bernama Ban-tok-sim Giam Kong. Melihat nama julukannya saja, Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun), mudah dibayangkan orang macam apa hwesio Tibet ini. Namanya saja cukup membuat seorang tokoh Kang-ouw lari tunggang langgang.

Koai Atong tertawa-tawa dan berkata-kata sorang diri di dalam hutan itu. Ia sedang melatih Jing-tok-ciang (Tangan Racun Hijau), semacam ilmu pukulan yang paling diandalkan oleh suhunya. Biarpun anak tua ini kelihatan ketolol-tololannya, akan tetapi bakatnya dalam hal ilmu silat bukan main hebatnya. Kalau tidak demikian, masa seorang sakti seperti Ban-tok-sim Giam Kong mau mengambilnya sebagai murid tunggal? Hampir seluruh ilmu kepandaian Giam Kong sudah diwarisi Koai Atong, malah dalam hal ilmu Pukulan Jing-tok-ciang, Koai Atong tak pernah berhenti untuk berlatih dan memperdalam.

“Kau harus roboh, harus roboh!” katanya sambil memutar lengan kirinya seperti orang memutar gilingan kopi, kemudian tiba-tiba tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah sebatang pohon. Tidak terdengar suara apa-apa akan tetapi semua daun kering di pohon itu merontok dan… pohon yang batangnya sebesar paha orang itu mulai tumbang karena batangnya sudah membusuk. Bukan main lihainya pukulan Jing-tok-ciang ini, dan demikian jahatnya sehingga batang pohon yang tadinya masih segar menjadi busuk terkena hawanya yang beracun.

Koai Atong terkekeh-kekeh girang, lalu melanjutkan latihannya dari memukul pohon yang lebih besar. Sebentar saja di situ telah rebah beberapa batang pohon, akan tetapi ia juga terduduk kelelahan karena terlampau banyak mengerahkan tenaga Iwee-kang dalam latihan pukulan mujijat ini. Seperti orang gendeng anak tua ini tertawa-tawa girang karena hasil latihannya tadi memuaskan hatinya. Akan tetapi tiba-tiba ia kaget mendengar bunyi kelepak sayap burung besar dan ia melihat seekor burung rajawali berbulu putih menukik turun tak jauh dari tempat ia duduk beristirahat. Cepat ia melompat dan berindap-indap mendekati tempat itu.

Bukan main hebatnya burung ini. Besar sekali, kalau berdiri semeter lebih tingginya. Burung ini menukik turun dan menerjang ke arah semak-semak dan… dalam sekejap mata saja ia menerkam seekor kijang yang bersembunyi di situ. Kasihan binatang ini, sama sekali tak dapat melawan. Sekali cengkeram, kuku-kuku runcing melengkung itu menusuk perut menembus kulit dan daging. Kijang berkelojotan sebentar dan mati tak lama kemudian. Rajawali dengan sepasang matanya yang bening berapi itu mendengus, melepaskan korbannya lalu terbang pergi meninggalkan bangkai kijang begitu saja. Koai Atong terheran-heran. Gilakah burung itu, pikirnya. Sudah membunuh kijang kenapa tidak terus dimakan, malah ditinggal pergi? la masih bersembunyi, seperti anak kecil ia girang dapat mengintai perbuatan “orang” lain.

Akhirnya ia jemu juga karena si rajawali yang amat gagah dan bagus itu tidak datang kembali. Tadinya ia berniat menanti kalau burung itu datang kembali akan ditubruk dan ditangkapnya. Selagi ia hendak keluar dari tempat sembunyinya untuk mengambil bangkai kijang dan dipanggang, dagingnya, terdengar auman keras dan muncullah se-ekor harimau dari balik semak belukar. Harimau itu keluar perlahan-lahan, hidungnya mendengus-dengus dan mulutnya menyeringai dengan air liur menetes-netes turun. Agaknya ia telah mencium bangkai kijang, atau bau darah maka ia datang ke tempat itu. Begitu melirik ke kanan kiri tidak terdapat bahaya, hari-mau itu memburu ke arah bangkai kijang. Akan tetapi tiba-tiba dari arah lain muncul seekor harimau hitam yang langsung menerjang harimau belang itu. Terjadi pergumulan seru, cakar-mencakar, gigit-menggigit amat hebatnya.

Koai Atong terkekeh-kekeh senang, bertepuk-tepuk tangan seperti anak kecil menonton pertunjukan wayang di mana tokoh-tokohnya berperang tanding.

“Hayo gigit hidungnya, cakar kupingnya. Hah-hah, heh-heh-heh!”

Akhirnya si harimau belang harus tunduk terhadap hukum rimba yang berlaku semenjak dunia berkembang sampai sekarang ini. Siapa kuat dia benar dan menang. Siapa lemah dia salah dan kalah! Sambil meraung-raung dan lehernya terluka berdarah, harimau belang lari tunggang-langgang. Lawannya, si harimau hitam tidak mengejarnya, sebaliknya segera menghampiri biang keladi pertempuran tadi, si bangkai kijang. Ia mencium-cium, agaknya menikmati bau bangkai dan darah kijang, lalu menjilat-jilat darah yang mulai mengering.

“Heh-heh-heh, sergap! Sergap dari atas!” tiba-tiba Koai Atong berteriak-teriak girang, anak tua itu dengan pandang matanya yang tajam dan telinganya yang , terlatih, dapat mendengar ,suara menggelesernya tubuh ular besar di pohon, sebelah atas harimau hitam itu. Mendengar suara Koai Atong, si harimau kaget, akan tetapi tiba-tiba ia menjadi lebih kaget dan marah lagi ketika pada saat itu seekor ular sebesar paha manusia meluncur dari atas dan serta-merta menyerang, kembali terjadi pertandingan mati-matian untuk menentukan berlakunya hukum rimba. Harimau hitam itu ganas sekali, mencakar menggigit sampai robek-robek kulit ular. Akan tetapi setelah ia kena dibelit, mulailah ia merasa-payah, lalu membanting diri ke kanan kiri. Si ular tidak mau melepaskan belitannya, malah segera menggigit leher harimau itu, tak mau melepaskan lagi.

Ramai sekali pertandingan ini dan makin Sukalah hati Koai Atong. Akhirnya harimau roboh tak berkutik lagi, mati karena gigitan dan belitan ular yang amat kuatnya itu. Binatang yang kali ini menang, melepaskan lilitannya, lalu terjadilah hal lucu yang membuat Koai Atong terkekeh-kekeh ditempat persembunyiannya. Ular besar itu agaknya bimbang ragu, yang mana harus ia ganyang lebih dulu di antara dua hidangan lezat ini. Sebentar merayap ke bangkai kijang, menjilat-Jilat,lalu kembali merayap kebangkai harimau hitam. Ada empat lima kali ia beragu seperti itu.

Tiba-tiba Koai Atong berseru,

“Ha-ha-ha, pemiliknya datang!”

Benar saja. Dari atas melayang turun dua ekor burung rajawali putih. Sekarang tahulah Koai Atong bahwa rajawali yang menerkam kijang tadi pergi untuk memanggil anaknya. Sekarang ia datang kembali bersama seekor rajawali putih lain yang lebih kecil dan kelihatan masih amat muda. Dan sekarang ternyata bahwa binatang ular itu agaknya lebih cerdik daripada binatang-binatang yang lain, Begitu melihat dua ekor burung yang besar dan kuat ia maklum bahwa ia takkan kuat melawannya. Ia mengeluarkan suara mendesis karena kecewa dan marah, akan tetapi lalu menggeleser lari bersembunyi ke dalam semak-semak.

“Heei!! Pengecut kau! Datang yang kuat lari tunggang-langgang!” Koai Atong berteriak-teriak dan memaki-maki ular.

Dua ekor burung rajawali putih itu kaget mendengar suara orang. Mereka menengok ke kanan kiri, nampaknya marah sekali. Pada saat itu Koai Atong sudah siap sedia untuk meloncat keluar dan menangkap burung yang besar, akan tetapi kembali ia terkejut mendengar suara melengking yang amat nyaring dari atas dan daun-daun pohon bergerak-gerak tertiup angin keras. Mendadak tanpa memperdengarkan kelepak sayap seperti dua ekor rajawali putih tadi, dari atas menyambar turun bayangan kuning keemasan yang menyilaukan mata. Ternyata yang menyambar turun ini adalah seekor burung rajawali pula. Besarnya tidak luar biasa, tidak lebih besar daripada rajawali putih itu, malah kepalanya lebih kecil dan dadanya lebih kurus. Akan tetapi yang aneh adalah bulunya yang berwarna kuning keemasan, bersih dan mengkilap amat indahnya seakan-akan bulu-bulunya terbuat daripada sutera emas.

Ketika dua ekor burung rajawali putih itu melihat si rajawali emas, mereka kelihatan ketakutan, mengeluarkan suara merintih-rintih. Sebaliknya rajawali emas yang baru datang mengeluarkan suara melengking yang nyaring dan menyakitkan anak telinga, nampaknya marah sekali, kemudian tiba-tiba wajahnya bergerak ke depan, patuknya yang runcing agak melengkung itu begerak-gerak seperti bibir orang bicara, lehernya bergerak dan… Koai Atong mengeluarkan seruan heran, kaget, dan kagum. Dia adalah seorang ahli silat yang berpemandangan tajam, biarpun ia dalam urusan umum rnerupakan seorang yang tolol seperti kanak-kanak, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia termasuk seorang ahli.

Namun gerakan rajawali emas tadi sama sekali tak dapat ia ikuti dengan pengelihatannya, tahu-tahu dua ekor rajawali putih tadi sudah roboh dengan kepala berlubang dan mati pada saat itu juga! Saking herannya Koai Atong sampai berdiri bengong dan melihat ke arah rajawali emas itu.

Rajawali emas itu berdiri dengan gagahnya, mengangkat dada, mengeluarkan suara tiga kali lalu menghampiri bangkai harimau yang menggeletak disitu. Kepalanya bergerak, paruhnya meyambar. Cratt! Ketika paruhnya dicabut ternyata paruh itu telah menggigit sebuah benda merah yaitu jantung harimau tadi. Sekali telan lenyaplah jantung itu, kemudian ia menghampiri kijang dan seperti juga tadi, sekali paruhnya menyambar ia telah berhasil mengarnbil jantung kijang. Setelah itu ia mengambil dan makan jantung dua ekor rajawali putih itu seperti cara tadi. Koai Atong tak dapat menahan kekagumannya melihat gerakan ini. Ternyata paruh rajawali emas itu lebih hebat daripada sebatang pedang ditangan seorang ahli, Ahli pedang yang manapun juga kiranya takkan mungkin dapat meniru rajawali emas itu, sekali tusuk dapat mengambil jantung didalam dada binatang-binatang tadi.

“Hebat! Kim-tiauw-heng (Kakak Rajawali Emas) kau benar-benar lihai sekali!” Sambil berkata demikian Koai Atong  berjingkrak – jingkrak dan keluar dari tempat sembunyinya, menghampiri rajawali emas itu dan mengacung-acungkan ibu jari tangan kanannya.

“Sherrr!” Secepat kilat sayap kanan burung itu menyambar, didahului angin pukulan yang amat dahsyat ke arah tubuh Koai Atong.

“Heee…, jangan….!” Koai Atong berseru kaget dan cepat ia mengelak sambil merebahkan diri ke kanan, akan tetapi celaka baginya, gerakan sayap kanan burung itu temyata merupakan tipuan belaka karena yang bergerak sesungguhnya adalah sayap kirinya yang menyambar tanpa menerbitkan angin. Tak dapat dicegah lagi tubuh Koai Atong terpukul oleh sayap kiri, kekuatan pukulan ini hebat luar biasa sehingga tubuh Koai Atong mencelat dan menggelundung sampai lima meter jauhnya! Baiknya Koai Atong sudah memiliki ilmu tinggi dan ketika merasa bahwa ia tak dapat menghindarkan diri dari pukulan tadi, ia cepat menggerahkan Iwee-kang dan membiarkan tubuhnya didorong sampai bergulingan. la hanya merasa kepalanya agak pusing, tapi tidak terluka. Cepat ia bangun berdiri dan matanya membelalak lebar. Pukulan rajawali itu benar-benar membuatnya makin kagum dan terheran-heran lagi. Seorang ahli silat kelas tinggi belum tentu akan sanggup merobohkannya dalam satu jurus saja! Dan gerakan burung ini benar-benar mengandung gerak tipu silat yang luar biasa.

“Kim-tiauw-heng, apa kau hendak main-main denganku? Hemm, kalau kau mampu merobohkan lagi, benar-benar kau lihai dan aku mengangkatmu menjadi guruku!” la meloncat maju lagi ke depan burung itu yang memandang kepadanya mata emasnya yang mengandung sinar mengejek dan menghina.

Koai Atong sekarang telah siap sedia untuk bertempur, maka begitu burung itu menyerangnya dengan gerakan seperti tadi, yang memukul dengan sayap kanan yang mengeluarkan angin menderu, ia tidak mengelak ke kanan dan selalu memperhatikan gerakan sayap kiri. Akan tetapi ternyata burung itu tidak mengubah gerakannya, seperti tadi sayap kirinya menyusul dengan tamparan yang tidak mengeluarkan angin, tamparan yang tadi membuat Koai Atong terguling-guling.

“Ha-ha-ha, tidak kena sekarang, kakak rajawali!” Koai Atong tertawa-tawa mengejek sambil mengelak cepat dari serangan sayap kiri berbahaya ini. Akan tetapi suara tertawanya segera disusul seruan kaget ketika mendadak burung itu menyambar ke depan dengan kedua kaki digerak-gerakkan seperti orang melakukan tendangan! Kedua kaki itu menendang bergantian, susul menyusul sehingga sukar diduga kaki mana yang sesungguhnya akan menyerang. Koai Atong tak dapat menghadapi serangan luar biasa ini dan sekali lagi tubuhnya mencelat dan terguling-guling, malah lebih jauh daripada tadi!

Dengan pipi agak membengkak dan mata terbelalak heran Koai Atong merayap bangun. Dalam pandangan matanya, burung itu seperti tersenyum mengejek dan mata burung itu seperti berseri-seri menertawakannya. Timbul marah dalam hatinya.

“Kau curang!, Kau licik! Aku masih belum kalah.” la melompat maju sambil memutar-mutar lengan kirinya kemudian ia memukul kearah sebatang pohon. Pohon itu segera roboh dalam keadaan layu!

Rajawali emas agaknya kaget melihat ini, mengeluarkan bunyi aneh lalu terbang keatas tetapi bukan untuk melarikan diri, melainkan dari atas ia menukik kebawah dan menyerang Koai Atong dengan dahsyatnya!

Tadi berhadapan di atas tanah saja sudah dua kali Koai Atong roboh dalam segebrakan saja, apalagi sekarang burung itu menyerangnya dari atas. Betapapun juga, Koai Atong Seorang ahli silat yang sudah banyak ka menghadapi lawan-lawan lihai, tidak menjadi gugup atau takut. Tadi ia memukul roboh pohon untuk memamerkan kepandaiannya, sekarang melihat bahwa burung itu tidak takut kepadanya, ia segera memutar lengan kirinya dan. mendorong ke arah burung yang menyerangnya dari atas.

“Plakk!” Lengan tangannya bertemu dengan kaki burung yang bergerak seperti rnenangkisnya. Koai Atong terlempar oleh dorongan tenaga yang mujijat, sebaliknya burung itu pun mencelat dan hinggap di atas tanah. Sekali lagi Koai Atong tertegun. Seorang ahli silat yang lihai sekali pun belum tentu akan dapat menangkis pukulan Jing-tok-ciang dari tangan kirinya dan agaknya burung itu sama sekal tidak terluka. Koai Atong makin penasaran. Masa ia kalah oleh seekor burung? Memalukan sekali! Sambil berseru marah ia menerjang maju, kali ini tanpa ragu-ragu lagi mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan Ilmu Pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi ia kecele, burung itu cerdik bukan main dan mengenal kelihaian pukulan lawan. Kali ini rajawali tidak mau menangkis, dan kedua kakinya dibantu pergerakan sepasang sayapnya bergerak ke sana ke mari mengelak. Bukan main gerakan kaki ini karena selain gesit, ringan, juga teratur langkah-langkah tertentu yang sehingga pukulan-pukulan Jing-tok-ciang itu satu kalipun tak pernah mengenai tubuhnya. Sebaliknya, setiap kali burung itu menghantam dengan sayapnya, tentu Koai Atong roboh terguling-guling. Kadang-kadang seperti seorang pemain bola yang ulung, kaki burung itu menendang dan membuat tubuh Koai Atong menggelinding seperti bola pula.

Marah sekali Koai Atong. Begitu dia marahnya sampai dia menangis berkaok-kaok sambil memaki-maki, persis tingkah laku seorang anak kecil nakal kalau kalah berkelahi. Sambil menangis dan memaki ia mengeluarkan senjatanya yang paling lihai, yaitu sebatang anak panah berwarna hijau. Inilah anak panah yang mengandung racun hijau yang bukan main lihainya. Lawan yang terkena tusukan anak panah ini tubuhnya akan diracuni oleh racun hijau dan jangan harap bisa hidup lagi. Dengan anak panah ditangan kanan Koai Atong maju lagi. Burung itu agaknya jerih melihat anak panah ini. la selalu mengelak dan sudah lewat puluhan jurus belum juga Koai Atong dapat mengenai tubuh lawannya, sebaliknya sudah lima kali ia terguling-guling oleh sambaran sayap burung. la diam-diam mengeluh karena andaikata tubuhnya tidak kebal dan andaikata sambaran sayap itu rnerupakan pukulan manusia yang mengandung Iwee-kang, tentu ia sudah mampus!

Alangkah malu kalau tak dapat membalas, pikirnya.

Pikiran ini membuat ia nekat. Betapapun juga, pikiran seorang manusia biarpun berjiwa kanak-kanak agaknya masih lebih berakal daripada pikiran seekor burung. Ketika burung itu untuk kesekian kalinya menampar, Koai Atong sengaja menerima tamparan ini dan berbareng menggunakan anak panahnya memapaki sayap burung.

Hebat pukulan itu, membuat Koai Atong terlempar dan terbanting sampai matanya berkunang-kunang. Akan tetapi burung itu sendiri mengeluarkan suara kesakitan. Anak panah hijau itu telah menancap di sayap kirinya. la kebingungan, sayap kirinya menjadi lumpuh dan dengan paruhnya ia menggigit gagang anak panah, lalu dicabutnya. Dengan kemarahan berkobar burung itu menggunakan paruh dan kaki kanannya mencengkram dan… anak panah itu patah dan dilempar ke tanah. Sekarang burung itu marah sekali, mengeluarkan bunyi melengking tinggi.

Ia menggerak-gerakkan sayap hendak terbang, tetapi sayapnya yang kiri tak dapat digerakkan. Burung itu mematuk-matuk ke arah sayap kirinya. Ternyata bahwa ujung anak panah hijau masih tertinggal disayapnya itu. Ketika ia tadi mencabut anak panah, saking kuat gerakannya, anak panah itu patah pada ujungnya. Koai Atong juga marah karena pukulan terakhir itu membuat ia merasa sakit-sakit semua tubuhnya. la meniru suara burung itu, memekik-mekik juga malah lebih keras sambil memutar-mutar lengan kirinya, siap mengirim pukulan Jing-tok-ciang lagi karena sekarang senjatanya telah rusak. Sekali lagi Koai Atong memukul dengan Jing-tok-ciang dan sekali lagi burung itu walaupun sudah terluka, dapat mengelak menggunakan gerak kaki yang aneh sekali dan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya Koai Atong sudah terdorong oleh pukulan sayap kanan lagi sampai terguling-guling.
Koai Atong bangun sambil menggoyang-goyang kepala keras-keras karena matanya makin berkunang.

Sekarang timbul akalnya. Setelah pusingnya hilang ia menyerang membabi-buta, mengeluarkan semua kepandaian yang pernah ia pelajari, akan tetapi semua serangannya ia tujukan dari arah kiri burung itu. Memang betapapun juga, akal Koai Atong lebih menang daripada akal binatang itu sehingga kali ini burung rajawali itu menjadi sibuk sekali mengelak tanpa dapat menyerang kembali karena sayap kirinya sudah terluka dan tak dapat digerakkan lagi.

Agaknya hal ini membuat ia menjadi gentar. Sambil memekik-mekik burung itu lalu lari meninggalkan Koai Atong.

“Kau hendak lari ke mana? Sebelum berlutut minta ampun mana aku mau melepaskan kau?” Koai Atong memaki-maki dan mengejar, akan tetapi larinya burung itu bukan main cepatnya! Seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak tanah, padahal sayapnya yang kiri sudah tak dapat dipergunakan untuk terbang lagi. Apalagi kali ini agaknya pembawaan binatang itu mengatasi akal manusia, karena larinya menyusup-nyusup melalui semak belukar sehingga payahlah bagi Koai Atong untuk dapat mengikuti terus. Akhirnya ia tertinggal jauh dan sesampainya di tengah hutan yang lebat ia bingung karena tidak tahu harus mengejar ke mana. Burung rajawali emas itu lenyap seperti ditelan bumi. Namun, orang seperti Koai Atong mana mau sudah begitu saja? la seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan bagus, maka sambil memaki-maki dan marah-marah ia mencari terus.

Seorang wanita muda berjalan seorang diri di dalam hutan itu. Wanita ini masih muda sekali, berusia sekitar dua puluh satu tahun. Sungguhpun badannya tidak terpelihara baik-baik, dapat dilihat dari pakaiannya yang tidak teratur dan rambutnya yang kusut, namun tak dapat disangkal oleh siapapun juga bahwa dia adalah seorang wanita muda yang amat cantik jelita. Sayang bahwa pada waktu itu, tidak saja pakaian dan badannya tidak terawat baik-baik, juga pada wajah yang cantik manis itu nampak kedukaan dan kesengsaraan hati yang amat hebat. Wajah itu suram-suram dan pada pipinya nampak bekas-bekas air mata. Sambil menundukkan mukanya, wanita itu berjalan di dalam hutan, tanpa tujuan seperti orang dalam mimpi. Berulang-ulang ia menarik nafas panjang, kadang-kadang mengeluarkan air mata.

Tiba-tiba ia dibangunkan dari lamunannya oleh suara lirih yang datang dari semak-semak belukar. Suara yang mengandung keluh kesakitan, merintih-rintih. Wanita itu tertarik hatinya dan menyelinap memasuki belakang semak-semak yang amat rapat dan liar. Ternyata disitu mendekam seekor burung yang merintih-rintih kesakitan. Wajah wanita itu nampak kaget melihat seekor burung yang begitu besarnya dan bulunya seperti emas berkilauan. Ketika melihat sayap kiri burung itu tergantung lemas dan darah bercucuran dari luka nya yang masih tertancap ujung anak panah, wanita itu berkata, suaranya penuh perasaan kasihan.

“Ahh, sayapmu terluka? Kasihan sekali, mari kucabut ujung anak panah itu. Siapa orangnya yang begitu kurang ajar melukai burung begini indah?” Dari suaranya saja mudah diketahui bahwa pada dasarnya wanita ini bersikap gagah dan pembela kaum lemah, sayang bahwa dia sedang disiksa oleh penderitaan batin agaknya.

Burung itu bukan lain adalah rajawali emas yang terluka oleh anak panah Koai Atong. Biarpun dia hanya seekor burung, namun ia termasuk binatang yang cerdik juga dan dapat mengenal kawan atau lawan.

Agaknya ia berkesan baik terhadap wanita ini, buktinya ia lalu mengeluarkan suara merintih dan menjulurkan sayap kirinya seperti seorang anak kecil memperlihatkan tangannya yang sakit kepada ibunya.

Wanita itu meraba sayap itu, memeriksa sebentar. “Ah, kasihan sekali kau, alangkah kejam orang yang melukaimu. Tentu sakit dan perih….” tiba-tiba ia meramkan mata dan menyambung, “Namun, burung yang baik, betapapun sakitnya sayapmu, takkan sesakit hatiku….” la membuka mata lagi lalu menggunakan jari-jari tangan yang runcing mungil mencabut ujung anak panah yang masih menancap dalam-dalam di sayap kiri burung itu. Dengan amat mudahnya anak panah tercabut dan darah hijau menghitam bercucuran keluar. Dari gerakan mencabut ini saja dapat diketahui bahwa wanita muda yang cantik jellita itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga. Melihat darah agak kehijauan itu wanita ini nampak kaget dan berseru,

“Celaka, anak panah ini beracun! Ah, mungkin kau takkan tertolong lagi….” suaranya terdengar sedih sekali. “Tapi biarlah kucoba mengobatinya dengan obat luka yang kubawa dari Hoa-san.” Wanita itu mengeluarkan bungkusan kecil lalu mengobati luka di sayap burung itu dengan obat bubuk putih. Burung itu diam saja hanya merintih-rintih perlahan kemudian dengan mesra lehernya ia gosok-gosokkan kepada leher dan kepala wanita itu. Wanita itu pun membelai kepala burung itu sambil berkata terharu, “Ah, burung yang baik, kau seekor binatang saja tahu terima kasih….”

Tiba-tiba terdengar suara berisik daun-daun kering terinjak disusul bentakan parau, “Ah, kiranya kau bersembunyi di sini, rajawali iblis?” Dan muncullah Koai Atong yang mukanya masih bengkak-bengkak dan matang biru karena tadi beberapa kali dihajar oleh burung rajawali itu sampai terguling-guling.

Akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan wanita cantik itu, seketika kemarahan Koai Atong lenyap dan matanya terbelalak memandang wanita itu, mulutnya yang masih membengkak tlba-tiba terbuka dan tertawa lebar, wajahnya berseri-seri gembira.
“Enci Hong….! Ha-ha-ha, benar, kau Enci Hong….!” ia bersorak gembira dan meloncat-loncat seperti anak kecil menari-nari mendekati wanita muda itu.

Wanita muda itu menarik napas panjang. “Hemm, Koai Atong, jadi kaukah yang melukai burung ini?”

“Ah, jadi dia ini burungmu, Enci Hong?”

Wanita itu meragu sebentar, lalu mengangguk, “Betul.”

“Waduh, celaka! Kalau aku tahu dia burungmu, tentu aku tidak berani mengganggunya.” Koai Atong lalu menghampiri burung itu dan menjura sangat dalam. “Kim-tiauw-ko (Kakak Burung Rajawali Emas), kaumaafkan aku, ya? Aku tidak tahu bahwa kau adalah peliharaan Enci Hong.”

Melihat Koai Atong mendekat, burung itu marah dan hendak mematuk, tapi wanita itu mencegahnya sambil merangkul lehernya. “Dia ini orang sendiri, jangan ganggu.” Dan aneh sekali, burung itu tidak jadi menyerang.

“Koai Atong, jadi burung ini adalah seekor kim-tiauw (rajawali emas)?”

“Lho, kok aneh sekali kau ini. Masa tidak mengenal burung peliharaan sendiri?”

“Baru sekarang aku mendengar bahwa dia adalah rajawali emas. Koai Atong, kau telah melukainya dengan racun hijau, sekarang kau harus memberi obat padanya.”

“Baik… baik… ah Enci Hong. Kalau dia burungmu, benar-benar aku harus dipukul!” Kaoi Atong cepat mengeluarkan obat bubuk dari dalam sakunya. Sebagai seorang ahli Jing-tok (Racun Hijau), tentu saja ia tahu bagaimana harus mengobati luka karena Jing-tok itu. Beberapa kali ia menyedot luka di sayap itu dengan mulutnya, kemudian ia menaruhkan obat bubuknya yang berwarna kuning.

Benar saja, dalam waktu tak berapa lama burung itu telah dapat menggerak-gerakkan kembali sayap kirinya.

Siapakah wanita muda itu? Dia bernama Kwa Hong cucu murid Hoa-san-pai akan tetapi oleh karena ia secara langsung menerima gemblengan dari kakek gurunya, yaitu ketua Hoa-san-pai yang bernama Lian Bu Tojin, maka ilmu silatnya amat tinggi. Beberapa bulan yang lalu Kwa Hong gadis gagah perkasa ini mengalami peristiwa yang amat menghancurkan hatinya. la tertawan musuh dan ditahan di benteng bala tentara Mongol. Beng San, pemuda sakti yang telah menjatuhkan hatinya, telah menolongnya dan kemudian mereka berdua terjebak oleh tipu daya musuh. Musuh yang jahat telah menaruhkan obat mujijat dalam makanan sehingga dia dan Tan Beng San dalam keadaan tidak sadar telah jatuh dalam kekuasaan obat mujijat itu dan telah melakukan pelanggaran susila, telah melakukan hubungan seperti suami isteri.

Hal ini sesungguhnya tidak mendukakan hati Kwa Hong karena memang ia mencinta Tan Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika pada keesokan harinya setelah sadar dari pengaruh obat itu, Beng San menyatakan penyesalannya, minta mati dan malah mengaku Beng San tak mungkin dapat memperisterinya karena pemuda itu sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain! Semua peristiwa ini telah diceritakan dengan jeias dalam cerita RAJA PEDANG.

Demikianlah, dengan hati hancur, perasaan malu dan amat kecewa, Kwa Hong lalu lari pergi dengan maksud menjauhkan diri dari segala keramaian dunia. Apa lagi yang dapat ia harapkan? Orang yang dicintanya, yang tidak hanya merebut hati dan jiwanya, malah sudah pula memiliki badannya, tidak mau menerimanya dan menyatakan cinta kepada gadis lain!

Ibu, dia sudah tidak punya. Adapun ayahnya… ah, makin sedih kalau Kwa Hong teringat ayahnya. Ayahnya adalah seorang pendekar besar yang ternama, seorang jagoan Hoa-san-pai, murid tertua dari Lian Bu Tojin. Hoa-san It-kiam (Pedang Tunggal dari Hoa-san) Kwa Tin Siong adalah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama besar dan harum. Akan tetapi, nasib manusia memang tidak dapat dipastikan. Ayahnya yang sudah lama menjadi duda itu terlibat dalam persoalan asmara dengan adik seperguruannya sendiri, yaitu Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) Lim Sian Hwa. Karena marahnya Lian Bu Tojin hendak membunuh Lim Sian Hwa, namun serangan pedangnya ditangkis oleh Kwa Tin Siong, membuat lengan kirinya putus dan ayahnya itu kemudian membawa lari Sian Hwa yang pingsan, pergi entah ke mana! (Baca Raja Pedang).

Siapa lagi yang dapat diharapkan oleh Kwa Hong? Hatinya perih sekali, dan lebih-lebih lagi bingung serta perih rasa hatinya ketika dalam perantauannya ini ia mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung! Tuhan menjatuhkan hukuman-Nya terhadap mahluk-Nya yang sesat! Perhubungannya dengan Tan Beng San tidak saja menghancurkan hatinya, tapi juga akan mendatangkan aib dan malu. la telah mengandung di luar pernikahan yang sah. la akan mempunyai anak tanpa mempunyai suami! Setelah mendapat kenyataan ini, beberapa kali Kwa Hong hendak membunuh diri saja, namun wataknya yang keras menimbulkan satu tekad padanya. la tak boleh mati karena ia harus melakukan pembalasan! Kepada siapa? Kepada siapa saja yang telah membuat ia menjadi begini, kepada siapa saja yang telah membuat penghidupannya hancur lebur.

Demikianlah, secara kebetulan ia tiba di hutan itu dan bertemu dengan Koai Atong. la memang mengenal baik Koai Atong ini, semenjak kecil dahulu Koai Atong selalu baik kepadanya. Teringatlah ia setelah berjumpa dengan Koai Atong ini, akan kata-katanya di depan Tan Beng San. Kata-kata terakhir untuk menyatakan kehancuran hatinya. “Aku akan menikah dengan laki-laki yang paling buruk dan paling bodoh yang pertama kali kujumpai.”

“Ah, bukankah Koai Atong ini boleh dibilang laki-laki yang paling buruk dan paling bodoh? Dan melihat ketaatan Koai Atong kepadanya… ha, siapa lagi di dunia ini yang boleh ia percaya?

“Koai Atong, apakah kau masih suka kepadaku?” tiba-tiba Kwa Hong bertanya sambil memandang tajam kepada laki-laki tinggi besar yang bermuka bodoh itu.

Koai Atong tertawa senang, “Tentu saja, Enci Hong. Aku suka sekali padamu, kau seorang teman yang amat baik.”

“Apakah kau suka menurut semua kata-kataku? Kalau kau tidak suka menuruti permintaan dan kata-kataku, lebih baik kautinggalkan aku dan selama hidup jangan kau bertemu dengan aku lagi!”

“Tentu… tentu….” jawab Koai Atong gugup, agaknya laki-laki ini memang takut sekali kalau-kalau tak boleh bertemu dengan Kwa Hong, “Aku akan menuruti semua kata-katamu, Enci Hong. Biar disuruh mati pun aku mau!”

Seketika kedua mata Kwa Hong menjadi basah, hatinya tertusuk sekali, Perih dan terharu ia melihat Koai Atong yang demikian mencintanya sehingga bersedia mati untuknya. Kasihan Koai Atong. Kau seperti aku nasibmu, demikian ia berpikir. Mencinta mati-matian tanpa mendapat balasan.

“Lho, kok menangis, Enci Hong? Siapa yang mengganggumu? Bilanglah, Koai Atong akan menghancurkan kepalanya!” la berdiri dan mengepal-ngepal tinjunya, nampaknya marah sekali seakan-akan sudah melihat pengganggu Kwa Hong berada di depannya.

“Kau duduklah, Koai Atong,” Kwa Hong memegang tangannya dan menariknya duduk di atas tanah. Sementara itu burung rajawali emas yang sudah sembuh juga mendekam di belakang Kwa Hong membelai-belai punggung gadis itu dengan kepala dan lehernya.

Koai Atong nampak girang sekali disuruh duduk di dekat Kwa Hong. Sinar matanya seperti mata seorang anak kecil minta dipuji.

“Atong, kaudengarlah baik-baik. Aku sekarang hidup seorang diri di dunia ini. Maukah kau bersamaku? Menjadi temanku selamanya dan tak pernah meninggalkan aku?”

“Aku suka… aku suka sekali!” .

“Tapi kau tidak boleh pergi ke mana pun juga, harus selalu mengikuti aku dan mentaati permintaanku.”

“Boleh… boleh Enci Hong.”

“Kalau suhumu datang dan minta kau meninggalkan aku, bagaimana?” Kwa Hong memancing.

Koai Atong menjadi bengong. Orang yang paling ditakuti di dunia ini hanyalah gurunya seorang, yaitu Ban-tok-sim (Hati Selaksa Racun) Giam Kong, hwesio dari Tibet yang amat terkenal sebagai tokoh dari Tibet, ahli Jing-tok-ciang. Mendengar pertanyaan Kwa Hong ini, ia menjadi bingung dan nampak gugup.

“Waah, kalau Suhu datang… sulit….!”

Kwa Hong cemberut, “Kaiau kau lebih suka kepada suhumu, sudahlah, sekarang juga kau boleh tinggalkan aku!”

“Tidak… tidak begitu, Enci Hong. Mana bisa aku lebih suka kepada Suhu yang gundul dan galak? Aku lebih suka kepadamu tentu.”

Diam-diam geli juga hati Kwa Hong mendengar ucapan dan melihat sikap Koai Atong ini. “Nah, kalau kau memang suka kepadaku, kau tidak boleh membantah, harus menurut segala kata-kataku. Biarpun suhumu datang, kau harus berani menghadapinya dan selamanya kau tidak boleh meninggalkan aku, mengerti?”

Koai Atong mengangguk-angguk seperti ayam makan beras, “Mengerti… mengerti….”

“Kalau begitu baru baik dan aku suka menjadi temanmu. Sekarang soal kedua, mulai sekarang, kepada siapapun juga, kepada gurumu sekalipun, kau harus Bilang bahwa aku ini adalah… adalah isterimu,”

Sepasang mata Koai Atong terbuka lebar sampai bundar, hidungnya kembang kempis dan mulutnya cengar-cengir seperti orang merasa nyeri dan ketakutan.

“Kau… kau adalah temanku yang baik yang kubela sampai mati… mana bisa is… isteri segala….?

Kembali Kwa Hong cemberut marah. “Lagi-lagi kau mau membantah. Ah, Koai Atong, kalau belum apa-apa kau sudah membantah saja tidak mau menuruti kehendakku, sudahlah kau pergi, biar aku mati seorang diri di sini!”

“Jangan… jangan usir aku, Enci Hong. Baiklah, kau isteriku. Biar kepada setan sekalipun aku akan bilang bahwa kau adalah isteriku. Nah, sudah senangkah hatimu?”

Kwa Hong mengangguk, kemudian dengan pandang mata jauh seperti orang melamun sedih, ia berkata lagi, “Mulai sekarang aku adalah isterimu dan kau… suamiku. Kelak kalau aku melahirkan anak kau harus bilang bahwa anak itu adalah anakmu.”

Wajah Koai Atong sampai menjadi pucat mendengar ini, mulutnya ternganga dan matanya terbelalak. Kiranya dia akan terus begini kalau saja tidak kebetulan sekali ada lalat terbang memasuki mulutnya, membuat ia mencak-mencak dan mau muntah.

“Kau mau menolak lagi? Mau membantah lagi?” Kwa Hong benar-benar jengkel kali ini. Koai Atong ketakutan dan cepat ia menjatuhkan diri duduk lagi setelah dengan terpaksa menelan lalat yang nekat itu.

“Tidak, Enci Hong. Aku tidak membantah. Baiklah, anak itu anakku… eh, mana anak itu? Apa engkau mau melahirkan anak, Enci Hong?”

Sekarang Kwa Hong tersenyum, tersenyum sedih. Orang seperti Koai Atong ini bodohnya jauh lebih baik dan murni hatinya daripada orang-orang yang tampan dan pandai. “Koai Atong, beberapa bulan lagi aku akan melahirkan anak dan ingat baik-baik, anak itu harus kauanggap, anakmu sendiri. Aku isterimu dan anak itu anakmu, mengerti?”

“Baik… baik… aku mengerti.”

“Andaikata gurumu sendiri datang dan marah, kau harus tetap mengakui aku isterimu dan anak itu anakmu, kau harus berani melawannya.”

“Tapi….”

“Apa tapi lagi? Ah, Koai Atong, jangan kaubikin aku kehabisan sabar dengan membantah.”

“Tidak membantah… tidak membantah, Enci Hong yang baik. Tapi Suhu lihai sekali… mana aku kuat melawannya? Kau dan aku akan tewas semua kalau melawannya.”

“Takut apa? Kepandaianmu tinggi, dan sedikit-sedikit aku pun berkepandaian. Kita bisa melatih diri memperdalam ilmu, kalau kelak ada yang datang mengganggu, dengan kepandaian kita, masa kita harus takut?”

Akan tetapi Koai Atong ragu-ragu, menggeleng-geleng kepala. Biarpun dalam persoalan umum ia bodoh dan seperti anak kecil, namun dalam perkara ilmu silat ia jauh di atas Kwa Hong tingkatnya dan tahu bahwa melawan suhunya merupakan hal yang mustahil sekali. Tiba-tiba ia teringat dan seperti orang gila ia meloncat dan menari-nari, lalu ia merangkul burung rajawali emas mendekam di belakang Kwa Hong, burung itu kaget dan hendak menyerangnya, akan tetapi Kwa Hong membentak,

“Kim-tiauw, jangan serang dia!” Kemudian ia membentak Koai Atong.

“Apa-apaan kau ini, kegirangan tidak karuan?”

“Ada jalan… ada jalan baik Enci Hong, Kim-tiauw-heng ini, kita bisa belajar ilmu silat dari dia. Wah, dia lihai sekali, kiranya suhuku sendiri takkan mampu melawannya!”

“Kau gila! Mana ada burung lebih lihai ilmu silatnya dari gurumu? Sedangkan melawanmu saja ia sampai terluka sayap kirinya.”

Koai Atong tertawa geli, “Memang ia agak bodoh, tapi lihai bukan main. Kalau aku tidak sengaja mengakalinya, membiarkannya diriku dihantam lalu membarengi menusuk sayapnya dengan anak panah, mana aku bisa melukainya? Seratus kali aku menghantamnya, seratus kali luput dan setiap kali ia menyerangku, aku terguling-guling. Benar, gerakan-gerakannya adalah ilmu silat yang hebat, ilmu silat ajaib, ha-ha-ha!” Kemudian ia menghampiri burung itu dan berkata, “Enci Hong, kaulihat sendiri, ya? Aku akan menyerangnya dengan Jing-tok-ciang, ilmu pukulanku yang paling hebat. Tapi kalau dia nanti marah, kau harus menyabarkannya.” Setelah berkata demikian ia memutar-mutar lengan kirinya dan siap menyerang burung itu. Burung itu pun cepat berdiri dan melirik ke arahnya dengan marah.

“Hati-hati Koai Atong. Pukulanmu itu hebat sekali, jangan kaubikin mati dia!” seru Kwa Hong yang sudah mengenal Jing-tok-ciang ini. Dia suka kepada burung yang bulunya seperti emas itu.

“Jangan kuatir, kaulihat saja.” Tiba-tiba Koai Atong memukul, dan terus memukul secara bertubi-tubi sampai lima kali. Akan tetapi benar saja, dengan gerakan aneh sekali tapi mudah dan ajaib, burung itu melangkah ke sana ke mari dan… semua serangan itu tidak mengenai sasaran. Kemudian, entah bagaimana caranya tahu-tahu sayap kanannya bergerak dan… Koai Atong terdorong sampai terguling-guling. Burung itu mengejar dan dengan marahnya hendak mencengkeram. Koai Atong berteriak-teriak minta tolong.

“Kim-tiauw, jangan serang dia!” bentak Kwa Hong sambil meloncat maju. Aneh, burung itu benar-benar tunduk kepada Kwa Hong. la membatalkan niatnya dan kelihatan girang ketika Kwa Hong merangkul lehernya.

“Hebat… kim-tiauw yang gagah. Kau benar-benar hebat….!” kata Kwa Hong yang sekarang percaya akan kelihaian burung itu. Koai Atong merayap bangun dan pada jidatnya bertambah sebuah benjolan sebesar telur. la menyumpah-nyumpah tapi segera tertawa melihat wajah Kwa Hong berseri gembira.

“Ha-ha, kau tidak menangis lagi, Enci Hong. Baik, bagus, aku senang melihat kau gembira sekarang. Jangan kuatir, kalau aku sudah mempelajari ilmu silat burung kim-tiauw ini, biar ada lima orang selihai Suhu, aku tidak takut!”

Kwa Hong masih tidak mengerti bagaimana harus mempelajari ilmu silat dari seekor burung, akan tetapi melihat kesungguhan Koai Atong, ia percaya, maka ia menjadi girang sekali. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mempelajari segala ilmu silat dari Koai Atong, kalau mungkin melalui Koai Atong mempelajari gerakan yang ajaib dari burung itu. Kalau dia sudah memiliki kepandaian tinggi, hemmm, akan tercapai maksudnya menghukum mereka yang membuat hidupnya merana.

Hoa-san-pai adalah partai persilatan yang besar dan sudah terkenal semenjak ratusan tahun. Sayang sekali partai besar ini menjelang berakhirnya pemerintahan Goan menjadi berantakan. Semenjak dahulu Hoa-san-pai menggembleng pendekar-pendekar budiman sehingga nama baiknya makin harum saja. Mungkin sudah kehendak Tuhan bahwa segala apa di dunia ini, sampai nama sekalipun, tidak akan kekal adanya. Adakalanya naik dan adakalanya turun, ada pasang surutnya.

Nasib yang menimpa Hoa-san-pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin memang amat menyedihkan. Karena kesalah pahaman disebabkan hal-hal yang amat berbelit-belit dalam masa perjuangan meruntuhkan Kerajaan Mongol dan mengusir penjajah itu dari tanah air, Ketua Hoa-san-pai ini kehilangan semua muridnya yang paling ia andalkan dan sayang. Empat orang muridnya yang dahulunya terkenal sebagai Hoa-san Sie-eng (Empat Pendekar Hoa-san) sekarang sudah tidak ada lagi. Yang pertama, Kwa Tin Siong, telah minggat entah ke mana setelah tangannya buntung oleh pedang gurunya, pergi bersama murid ke empat, Liem Sian Hwa. Dua yang lain, yaitu murid kedua dan ke tiga, telah tewas dalam permusuhan dengan Kun-lun-pai yang terjadi karena kesalahpahaman yang hebat.

Memang masih ada empat orang cucu muridnya, yaitu Kwa Hong yang entah ke mana perginya, kemudian yang didengar oleh kakek Ketua Hoa-san-pai itu bahwa Kwa Hong telah hidup bersama Koai Atong. Cucu murid yang lainnya adaiah Kui Lok yang sekarang menjaga Hoa-san-pai bersama Thio Bwee. Kakek ini sudah mengambil keputusan untuk merangkapkan dua orang cucu muridnya ini yaitu Kui Lok dan Thio Bwee menjadi suami isteri. Cucu murid ke empat adalah Thio Ki kakak dari Thio Bwee yang sekarang sudah bekerja sebagai kepala perusahaan piauw-kiok (pengawal pengantar barang) di Sin-yang. Juga Thio Ki sudah ia jodohkan dengan murid Raja Pedang Cia Hui Gan, yaitu Nona Lee Giok yang patriotik.

Akan tetapi Lian Bu Tojin amat berduka kalau ia teringat akan muridnya yang terkasih, yaitu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Ke manakah perginya dua orang itu? Pula, ia merasa sedih dan kecewa sekali kalau ia teringat akan Kwa Hong yang kabarnya tinggal di puncak Lu-Liang-san bersama Koai Atong! Kalau perbuatan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa itu dapat dianggap merusak nama dan kehormatan Hoa-san-pai, maka yang merusak itu adalah dua orang murid Hoa-san-pai sendiri. Akan tetapi kalau sampai terdengar orang kang-ouw tentang Koai Atong dan Kwa Hong, bukankah itu berarti bahwa Koai Atong sengaja hendak menghina Hoa-san-pai dan memandang rendah dan ringan kepadanya? Pikiran inilah yang selalu mengganggu kakek ini dan membuat ia mengambil keputusan untuk mencari Ban-tok-sim Giam Kong untuk diminta pertanggungan-jawabnya terhadap perbuatan Koai Atong dan kalau guru Tibet ini tidak mau mempertanggungjawabkannya, ia sendiri akan mencari Kwa Hong dan Koai Atong di Lu-liang-san.

Dan adalah keputusan ini yang membuat pada suatu hari Lian Bu Tojin berhadapan dengan Ban-tok-sim Giam Kong di tepi gurun pasir di luar tembok besar sebelah utara. Ban-tok-sim Giam Kong adalah seorang hwesio bertubuh tinggi besar berkulit hitam sekali, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih namun masih nampak kuat dan tongkat hwesio yang selalu berada di tangannya juga berat tanda bahwa tenaga hwesio tua ini besar. Sepasang mata hwesio ini memancarkan sinar penuh semangat dan matanya sekarang juga bersinar-sinar ketika ia bertemu dengan Lian Bu Tojin di tempat yang tak disangka-sangkanya itu.

“Omitohud….!” la mengeluarkan kata-kata pujian sambil merangkap kedua tangan ke depan dada, menyembah sebagai tanda hormat. “Angin apakah yang meniup Toyu datang ke tempat ini?”

Lian Bu Tojin merangkap kedua tangan lalu menjura, “Bagus sekali, agaknya memang Thian sudah menghendaki pertemuan kita. Losuhu, sengaja pinto mencarimu untuk membicarakan sesuatu urusan amat penting.”

“Omitohud, pinceng tidak hendak mendahului kehendak Thian. Akan tetapi, bukankah Toyu mencari pinceng karena urusan muridmu dan muridku?”

“Siancai… siancai….” Lian- Bu Tojin berkata heran. “Kiranya Losuhu sudah maklum pula akan hal itu. Losuhu, di antara kita ada pertalian persahabatan ketika kita bersama menghadapi bangsa Mongol. Oleh karena itu pula, pinto mohon Losuhu sudi mengingat hubungan baik itu dan suka meluruskan jalan yang bengkok.” Kata-kata meluruskan jalan bengkok ini berarti membetulkan sesuatu yang salah atau yang tidak wajar.

Giam Kong Hwesio tertawa sambil berdongak, giginya yang masih lengkap dan kuat itu berkilat-kilat putih di balik kulit mukanya yang hitam.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: