Rajawali Emas (Jilid ke-10)

“Kita harus dapat membuat tempat kita ini menjadi tempat yang tidak mudah dikunjungi orang luar. Aku sudah mempunyai rencananya lengkap. Kita minta bantuan penduduk di kaki gunung dan kurasa dalam waktu setahun tempat kita ini akan menjadi tempat persembunyian yang takkan gampang-gampang dimasuki orang luar, biarpun mereka memiliki kepandaian tinggi.”

Semenjak terjadi percakapan ini, Cia Hui Gan lalu mencari bantuan tenaga para penduduk di kaki gunung dan mulailah rencananya itu dibuat. Ia memilih sebuah puncak yang amat indah pemandangannya dan nyaman pula hawa udaranya, pula puncak ini dikelilingi jurang yang terjal dan tak mungkin dilalui manusia. Bagian-bagian yang dapat dipergunakan orang untuk mendaki puncak, sengaja digugurkan sehingga bagi orang luar tampaknya tempat itu tak mungkin didatangi. Menurut rencana kakek ini mereka akan membuat jalan rahasia ke puncak, melalui terowongan buatan dibawah tanah. Terowongan ini selain tak tampak dari luar, juga di dalamnya penuh alat-alat rahasia sehingga bagi orang-orang luar, amat berbahayalah untuk melaluinya, andaikata dia dapat menemukan pintu terowongan juga. Selain alat-alat rahasia juga terowongan ini dibuat berliku-liku, banyak cabangnya dan mudah sekali menyesatkan orang.

Akan tetapi untuk membuat semua ini membutuhkan tenaga dan waktu. Dan kekhawatiran Cia Hui Gan tentang musuh-musuh besar Beng San ternyata terbukti ketika pembuatan jalan terowongan itu baru mulai dibuat!

Pada waktu itu matahari baru saja terbit dan penduduk kaki gunung sudah berkumpul dan mulai bekerja mengangkuti batu-batu yang dibutuhkan untuk pembuatan terowongan. Cia Hui Gan dan Cia Li Cu sedang mengatur pekerjaan dan berada di puncak, di tempat terbuka yang akan dibangun menjadi tempat tinggal mereka. Beng San juga berada di situ, duduk di bawah sebatang pohon besar. Orang muda ini sekarang nampak sehat, wajahnya segar dan agak gemuk malah, akan tetapi sepasang matanya kehilangan cahaya yang biasanya bersinar tajam dan aneh. Sekarang malah kelihatan seperti orang bodoh. Pakaiannya bersih dan ia nampak tersenyum-senyum gembira memandang ke arah Li Cu. Ia merasa heran sekali mengapa orang-orang itu sibuk hendak membuat rumah, akan tetapi seperti biasa ia tidak mengganggu “isterinya”.

Di pagi hari yang sejuk ini timbul bermacam-macam pertanyaan di dalam otaknya yang tidak sehat. Kenapa isterinya menyebut “ayah” kepada orang tua yang katanya seorang ahli pedang berjuluk Bu-tek Kiam-ong bernama Cia Hui Gan? Ia sekarang sudah ingat bahwa ayah dari isterinya adalah Song-bun-kwi! Tapi kenapa Song-bun-kwi malah tidak kelihatan? Memang aneh isterinya sekarang! kelihatannya begitu mencinta padanya, akan tetapi kenapa amat berubah sehingga tidur pun mereka berpisah? Diam-diam ia merasa kecewa dan berduka, akan tetapi ia tidak berani membantah. Kalau isterinya marah dan meninggalkan dia, celaka!

Tiba-tiba terdengar kegaduhan hebat. Orang-orang berteriak-teriak dan ada yang memekik kesakitan, disusul gerengan seperti binatang buas mengamuk. Ada pula yang menjerit-jerit ketakutan disusul ketawa melengking. Cia Hui Gan dan Li Cu kaget sekali dan cepat mereka memandang. Apa yang mereka lihat membuat keduanya berubah mukanya. Para pekerja lari cerai-berai dan malah ada yang sudah roboh karena amukan dua orang yang bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun dan Kwa Hong! Dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa, kakek tua berpakaian putih ini menggereng-gereng dan kadang-kadang melengking seperti orang menangis sambil menghantam ke kanan kiri merobohkan para pekerja yang tidak sempat lari menjatukan diri. Lebih hebat mengerikan lagi adalah sepak terjang Kwa Hong yang duduk di atas rajawali emasnya dan menyambar-nyambar dari atas menyebar maut kepada para pekerja. Kasihan sekali para penduduk kampung yang tidak memiliki ilmu kepandaian silat itu. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, namun hanya sedikit saja yang berhasil. Sebagiaan besar tak mampu lagi menyelamatkan diri dan terpaksa menjadi korban keganasan dua orang itu. Apalagi mereka hanyalah petani-petani yang tidak berkepandaian, andaikata mereka memiliki ilmu silat sekalipun belum tentu mereka akan dapat menghindarkan diri dari dua orang yang memiliki kepandaian dahsyat dan keganasan seperti iblis itu.

Melihat kejadian ini, tentu saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan seperti dibakar dadanya. Kemarahannya tak dapat ia tahan lagi dan serentak ia lalu mencabut pedang dari belakang punggung, meloncat ke depan dari membentak keras,

“Iblis jahat Song-bun-kwi dan kau tentu siluman betina she Kwa murid Hoa-san-pai! Hari ini kalian berani datang ke Thai-san membunuhi orang-orang tak berdosa, aku Cia Hui Gan bersumpah akan membasmi kalian!” Pedangnya lalu digerakkan dan secepat kilat ia menerjang kepada Song-bun-kwi. Kakek ini pun sudah siap sedia cepat mengelak daripada sambaran sinar pedang yang luar biasa itu sambil memutar pedangnya sendiri untuk balas menyerang. Sementara itu Li Cu juga sudah melompat maju dan menggerakkan Liong-cu-kiam membantu ayahnya.

Akan tetapi dari atas terdengar suara ketawa mengikik dan menyambarlah sinar kehijauan lima buah banyaknya ke arah ayah dan anak itu. Cia Hui Gan dan Li Cu melompat ke samping sambil menggerakkan pedang menangkis. Terdengar suara keras dan bunga api muncrat menyilaukan mata. Li Cu merasa betapa telapak tangannya tergetar maka diam-diam ia kaget bukan main. Alangkah kuatnya wanita yang naik burung rajawaii itu! Sambil tertawa-tawa Kwa Hong juga sudah meloncat turun dari atas punggung rajawali yang segera terbang dan hinggap di atas puncak pohon besar sambil mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Empat orang musuh besar itu kini saling berhadapan, masih belum bergerak lagi setelah gebrakan pertama tadi.

Bagaimanakah Kwa Hong bisa datang bersama Song-bun-kwi di Puncak Thai-san? Hanya kebetulan saja. Ternyata bahwa Song-bun-kwi yang merasa sakit hati terhadap bekas mantunya itu tidak jauh meninggalkan Thai-san. Ia selalu menanti saat baik untuk menculik dan membunuh Beng San. Akhirnya pada pagi hari itu ia melihat Kwa Hong menunggang burung rajawali naik ke Thai-san, Giranglah hatinya karena ia dapat menduga bahwa kedatangan tokoh baru yang menggemparkan ini pasti akan memusuhi Beng San, maka ia segera menyusul naik dan melihat Kwa Hong menghajar para pekerja, ia pun lalu turun tangan menyerbu. Yang amat berat dihadapi bagi Song-bun-kwi hanya Bu-tek Kiam-ong, maka kalau ia mendapat kawan yang kosen, ia tidak takut. Sementara itu Kwa Hong sengaja datang ke Thai-san karena ia sudah mendengar tentang keadaan Beng San yang kehilangan kepandaiannya. Ia ingin sekali menyaksikan dan kalau betul demikian berarti ia akan dapat membalas sakit hatinya. Ketika, ia melihat Song-bun-kwi membantunya, ia tidak berkata apa-apa, malah tidak peduli sama sekali.

“Cia Hui Gan, kenapa kau begini tak tahu malu? Anak perempuanmu yang bermuka tebal itu telah melindunginya? Hemm, apakah begini saja orang yang berjuluk Kiam-ong? Ternyata hanya orang rendah…!” Kwa Hong memaki kalang-kabut.

Wajah Cia Hui Gan menjadi merah sekali, matanya bersinar-sinar memancarkan api kemarahan, “Iblis wanita kau sebenarnya siapa dan apa maksudmu ke sini?” bentaknya.

“He, perempuan muda, jangan kau sembarangan bicara!” Song-bun-kwi juga kaget mendengar ucapan Kwa Hong dan cepat memaki. “Beng San suami anakku, sekarang dirampas oleh anak orang she Cia, Kenapa kau berani mengakunya sebagai suami? Apakah kau orang yang dulu melahirkan anak di tempatku, ditolong oleh Bi Goat?”

Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa mengejek. “Kalian orang-orang tua tahu apa? Dengarlah baik-baik. Manusia bernama Tan Beng San itu, yang sekarang duduk di sana seperti patung hidup, sebelum dia menikah dengah Kwee Bi Goat, dia sudah lebih dahulu menjadi ayah dari anakku. Akulah orang yang paling berhak atas dirinya, siapa pun hendak menghalangi akan kubunuh mampus. Hee, Beng San! Hayo kau ikut denganku. Apakah kau tidak ingin menengok anakmu?”

Beng San hanya melongo, sama sekali ia tidak ingat lagi siapa adanya wanita yang bicara tidak karuan itu. Suara dan wajahnya serasa ia kenal baik, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Beng San memijit-mijit keningnya, mengingat-ingat.

“Ho-ho, nanti dulu!” Song-bun-kwi berseru sambil tertawa mengejek. “Bukankah kau yang bernama Kwa Hong, anak murid Hoa-san-pai? Aku banyak mendengar tentang kau! Orang bilang bahwa kau telah menjadi isteri Koai Atong Si Bocah Tua gila. Kalau kau punya anak, tentulah anakmu dengan Koai Atong itulah! Kau murid Hoa-san-pai jangan banyak membohong di sini.”

“Tutup mulutmu, tua bangka gila!” Kwa Hong membentak sambil mencabut pedang pusaka Hoa-san-pai. “Buka matamu dan lihat ini. Aku Ketua Hoa-san-pai, bukan murid lagi, tahu? Inilah pusaka Hoa-san-pai, berada di tangan Ketua Hoa-san-pai. Pedang pusaka ini kelak akan memenggal batang lehermu karena kau sudah berani berkurang ajar kepadaku. Sekarang hendak kupakai membasmi orang-orang yang berani merampas Beng San.”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarga Cia memang patut dibasmi. Mari kubantu kau!” kata Song-bun-kwi yang cerdik dan licin.

Semenjak tadi Cia Hui Gan hanya berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa susah dan malu sekali. Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan tentu saja ia tahu akan peraturan kang-ouw. Dua orang yang datang ini memang berhak atas diri Beng San, yang seorang bekas kekasih Beng San, yang seorang lagi mertuanya malah. Memang dia dan puterinya berada di pihak yang salah. Akan tetapi mana bisa ia tidak membela Li Cu?

Tentu saja Li Cu maklum pula apa yang dipikirkan ayahnya, maka dengan gagah ia melangkah maju dan berkata lantang,

“Kalian bicara mau menang sendiri saja! Song-bun-kwi, sudah jelas bahwa kematian puterimu bukan karena kesalahan Beng San, melainkan karena Kwa-Hong yang merupakan kenyataan yang menghancurkan hatinya. Malah Beng San demikian mencinta puterimu itu sehingga kematiannya membuat Beng San kehilangan ingatannya. Dan kau, Kwa Hong, kau sungguh tak tahu malu, perbuatanmu dengan Beng San itu sudah menunjukkan betapa rendah watakmu. Hubunganmu dengan Beng San terjadi karena pengaruh racun, akan tetapi kau begitu tak bermalu untuk menyatakan Beng San adaiah suamimu!”

“Setan betina tutup mulutmu!” Kwa-Hong menjadi marah, mukanya menjadi merah dan matanya liar. “Suami atau bukan dia adalah ayah anakku. Sebaliknya engkau ini bukan apa-apanya mengapa membela mati-matian? Bukankah kau yang tergila-gila kepada Beng San?”

“Memang, aku mencinta Beng San!” jawab Li Cu dengan suara tegas dan sikap gagah sambil mengedikkan kepala. “Aku mencinta Beng San dan aku berhutang budi kepadanya. Sebaliknya, dia menganggap bahwa aku adalah isterinya yang sudah meninggal. Demi cintaku, dan demi untuk membalas budi, aku hendak melindunginya dengan taruhan nyawa dan ragaku. Kalau kalian berdua manusia-manusia berhati iblis bermaksud membunuh atau menculiknya, kalian harus lebih dulu dapat membunuh aku!”

“Bagus, memang aku hendak membunuhmu!” Kwa Hong menjerit dan anak panah-anak panah pada ujung cambuknya menyambar.

“Trang-trang-trang!” Li Cu menangkis dengan Liong-cu-kiam. Ujung tiga batang anak panah itu patah semua sedangkan yang duah buah tidak mengenai pedang pusaka sehingga terhindar daripada kerusakan. Bukan main marahnya Kwa Hong melihat betapa dalam segebrakan saja senjatanya telah rusak oleh pedang lawan yang ternyata amat kuat itu. Ia mencabut Hoa-san Po-kiam dan menerjang lagi. Li Cu menangkis lagi dan kali ini ia terhuyung mundur dengan tangan sakit-sakit. Pedang di tangan Kwa Hong sama sekali tidak rusak! Hal ini tidak aneh karena Hoa-san Po-kiam juga, sebatang pedang pusaka yang ampuh.

Sementara itu Kwa Hong sudah menyerang lagi. Gerakannya dalam penyerangan amat aneh, menyambar-nyambar seperti gerakan seekor burung. Pedang Hoa-san Po-kiam meluncur ke arah tenggorokan Li Cu. Baru saja gadis ini hendak mengelak, ujung pedang itu sudah menyambar ke bawah membelah dada! Li Cu kaget dan cepat menggunakan Liong-cu-kiam menangkis, akan tetapi lagi-lagi ujung pedang lawan tidak melanjutkan serangannya dan tahu-tahu tangan kiri Kwa Hong yang memukul dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang! Li Cu benar-benar kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin dingin, menyambar dari sebelah kanannya. Cepat ia mengelak namun karena serangan ini memang tidak tersangka-sangka olehnya, ia terdorong hawa pukulan Jing-tok-ciang dan kembali ia terhuyung-huyung. Pada saat itu pedang Kwa Hong sudah mengejar pula dengan tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan maut yang amat sukar diketahui perubahannya.

“Li Cu, mundurlah!” kata Cia Hui Gan sambil meloncat maju. Pedangnya menyambar mengeluarkan sinar kilat dan sekaligus ia telah berhasil mengancam pergelangan tangan Kwa Hong dengan gulungan sinar pedangnya yang hebat.

“Ayaaaa….!” Kwa Hong berjengit sambil menarik tangannya ke belakang, juga melangkah mundur setindak, tidak melanjutkan desakannya kepada Li Cu.

“Ha-ha-ha, Raja Pedang tak tahu malu, mengeroyok seorang perempuan muda!” kata Song-bun-kwi sambil terjun ke dalam kalangan pertempuran. Dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ia segera menerjang Cia Hui Gan. Sementara itu, karena tadi kaget ketika pergelangan tangannya hampir putus oleh pedang Cia Hui Gan, Kwa Hong marah bukan main. Sambil mengeluarkan pekik melengking ia kini menerjang orang tua dari Thai-san itu sehingga dalam sekejap mata saja Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan sudah dikeroyok dua oleb Kwa Hong dan Song-bun-kwi.

Cia- Hui Gan berjuluk Bu-tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding), ilmu pedang Sian-li Kiam-sut adalah ilmu pedang keturunan yang aseli dari pendekar sakti Ang I Niocu ratusan tahun yang lalu. Semenjak ratusan tahun itu, Sian-li Kiam-sut boleh dibilang menjagoi diantara segala ilmu pedang. Sebetulnya, ilmu pedang ini masih bersumber dengan Im-yang Sin-kiam-sut atau boleh dikatakan cabangnya. Karena memiliki ilmu pedang ini yang sudah dilatihnya secara sempurna maka tidak heran apabila Cia Hui Gan merupakan jago pedang yang sukar dilawan.

Akan tetapi sekarang ia dikeroyok dua oleh dua orang lawan yang bukan orang sembarangan. Song-bun-kwi Kwee Lun adalah seorang tokoh kenamaan, malah tokoh nomor satu dari barat yang selain memiliki ilmu silat yang tinggi dan sakti, juga telah mendapatkan ilmu silat pedang Yang-sin Kiam-sut. Di dunia kang-ouw jarang ada yang dapat menandinginya. Adapun orang ke dua biarpun tidak ternama dan hanya merupakan murid Hoa-san-pai, akan tetapi Kwa Hong sekarang sama sekali tidak boleh disamakan dengan Kwa Hong dahulu ketika menjadi murid Hoa-san-pai. Kwa Hong telah mempelajari ilmu dari Koai Atong, terutama Jing-tok-ciang dan di samping ini, yang membuat ia sekarang sekaligus berubah menjadi seorang yang luar biasa adalah ilmu silat yang ia petik bersama Koai Atong dari gerakan-gerakan rajawali emas yang sekarang menjadi teman dan binatang tunggangannya.

Li Cu maklum bahwa kepandaian dua orang ini hebat sekali. Ketika ia ingat bahwa pedang di tangan Kwa Hong ternyata sebatang pedang pusaka yang ampuh, ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan terdesak dan rusak pedangnya. Maka ia segera berseru,

“Ayah, kaupergunakan Liong-cu-kiam ini!”

Karena Cia Hui Gan juga seorang yang bermata awas dan tadi dapat melihat betapa pedang Kwa Hong dapat menandingi Liong-cu-kiam, ia tidak mau banyak sungkan lagi. Diterimanya pedang Liong-cu-kiam pendek itu dengan tangan kirinya, lalu ia berseru,

“Li Cu, bawa Beng San pergi dari sini. Biar aku menandingi dua iblis jahat ini!”
Akan tetapi Li Cu sendiri adalah seorang pendekar yang berhati baja, mana dia sudi meninggalkan ayahnya terancam bahaya dan melarikan diri?

“Tidak, Ayah. Mati hidup aku harus bersamamu, aku harus membantumu. Berikan pedangmu kepadaku!”

“Jangan, Li Cu. Untuk menghadapi dua ekor manusia binatang ini aku sendirian sanggup. Kaubawa pergi Beng San, selamatkan dia lebih dulu!”
Li Cu ragu-ragu dan sejenak ia berdiri memandang betul saja, biarpun dikeroyok dua, sepasang pedang di tangan ayahnya itu benar-benar hebat, merupakan dua gulung sinar pedang yang berlainan warna, menyambar-nyambar laksana naga di angkasa raya. Ilmu pedang ayahnya benar-benar sudah sampai di puncaknya. Hebat bukan main sampai Li Cu dalam suasana tegang itu menjadi kagum akan keindahan Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang dimainkan ayahnya.

Andaikata Song-bun-kwi dan Kwa Hong mengeroyoknya tidak menggunakan pedang, kiranya takkan mungkin Cia Hui Gan kuat mempertahankan diri. Tingkat kepandaian Song-bun-kwi tidak lebih bawah daripada tingkatnya sendiri, adapun wanita muda itu benar-benar memiliki ilmu silat yang aneh dan mujijat sekali. Baiknya kedua orang itu pun bermain pedang, sedangkan senjata pedang adalah permainan Cia Hui Gan semenjak kecil, yang menjadi keahliannya sehingga ia dijuluki Raja Pedang, maka menghadapi permainan pedang kedua lawannya, Hui Gan merasa lebih mudah untuk tidak saja mempertahankan diri, malah mendesak dengan jurus-jurus yang lihai.

Selagi Li Cu berdiam bimbang, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang,

“Li Cu, kau benar-benar membikin malu aku yang menjadi kekasihmu!”

Li Cu kaget sekali karena tiba-tiba muncul Tan Beng Kui bersama Hek-hwa Kui-bo! Hek-hwa Kui-bo segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam pertempuran sambil berseru kepada Song-bun-kwi, “Hi-hi-hi, tua bangka keparat, jangan kauperlihatkan sendiri kelihaian Yang-sin-kiam. Mana lebih hebat dengan Im-sin-kiam ilmuku?” Seperti kita ketahui dalam cerita Raja Pedang, kalau Song-bun-kwi dapat merampas kitab pelajaran Ilmu Pedang Yang-sin-kiam, adalah Hek-hwa Kui-bo ini berhasil merarnpas kitab pasangannya, yaitu yang mengandung pelajaran Ilmu Pedang Im-sin-kiam! Dengan munculnya ahli Im-sin-kiam ini, boleh dibilang Cia Hui Gan menghadapi pasangan ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-Sut yang hebat bukan main. Tentu saja ilmu pedang ini tidak sehebat kalau dimainkan oleh satu orang seperti Beng San sebelum ia kehilangan ingatannya. Betapapun juga, dalam gebrakan-gebrakan pertama saja sudah terlihat betapa Cia Hui Gan menjadi sibuk menghadapi serangan-serangan pasangan dari dua orang tokoh ilmu silat kelas tinggi itu!

Li Cu kaget bukan main melihat kedatangan bekas suheng dan tunangannya beserta Hek-hwa Kui-bo itu. Ini berarti bertambahnya pihak lawan yang amat tangguh. Juga di samping kekuatirannya, ia menjadi marah sekali kepada Beng Kui. Tanpa banyak cakap lagi ia segera menerjang bekas tunangannya itu dengan pukulan-pukulan maut. Ia merasa menyesal sekali bahwa ia masih belum sempat mengambil pedang lain setelah Liong-cu-kiam dipinjamkan kepada ayahnya.

“Ha-ha, Li Cu. Kau tak tahu malu, melarikan laki-laki. Hah, perbuatan rendah dan hina,”

“Tutup mulut dan jangan mencampuri urusanku!” bentak Li Cu makin marah dan memperhebat serangannya. Akan tetapi dengan mudah Beng Kui dapat mengelak. Memang tingkat kepandaian Beng Kui lebih tinggi daripada kepandaian Li Cu, apalagi memang dahulu seringkali ia melatih ilmu silat kepada bekas sumoinya ini, maka gerakan-gerakan Li Cu ia sudah hafal benar.

Tiba-tiba Beng San datang berlari-lari dengan maksud hendak melerai mereka berdua yang sedang bertanding. Sejak tadi ia mendengarkan semua percekcokan dengan pikiran bingung dan hati berdebar. Ia menganggap mereka semua itu juga “isterinya”, bicara tidak karuan. Selagi ia mengerahkan pikirannya untuk menyelami maksud semua percakapan yang ganjil itu, tiba-tiba muncul Tan Beng Kui dan di dalam kebingungannya ternyata ia masih dapat ingat dan kenal kepada kakak kandungnya ini. Sekarang kakak kandungnya itu bertempur melawan isterinya, tentu saja ia menjadi makin bingung dan cepat lari menghampiri untuk mencegah.

“Kui-ko… jangan berkelahi dengan dia. Dia itu isteriku!” tegurnya sambil menggerakkan kedua tangan ke atas untuk mencegah.

“Aha, sudah menjadi isterinya, ya? Sejak kapan?” Beng Kui mengejek sambil memandang kepada Li Cu, gadis ini menjadi merah mukanya, akan tetapi ia mengedikkan kepala dan menjawab lantang,

“Kalau betul kau mau apa? Bukan urusanmu!”

“Bi Goat, dia ini adalah kakak kandungku, jangan kau bertengkar kepadanya,” kata pula Beng San, suaranya penuh permohonan.”

“Ha-ha-ha-ha, menjadi isteri seorang gila Beng Kui tertawa dan mengejek lagi, kemudian tiba-tiba tangannya menghantam ke depan, tepat mengeriai dada Beng San, “Blukk!” Tubuh Beng San terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan jatuh terguling. Akah tetapi ia segera bangun kembali dan bertanya dengan mata terbelalak heran.

“Kui-ko, kenapa kau memukulku?” tanyanya berulang-ulang sambil melangkah maju lagi.

Beng Kui tadinya girang karena kini mendapat kenyataan bahwa adik kandungnya yang dahulu lihai itu sekarang benar-benar telah kehilangan kepandaiannya. Tadinya ketika mendengar berita ini ia masih ragu-ragu. Ketika tadi ia mendengar Beng San mengaku Li Cu sebagai isteri dan menyebutnya “Bi Goat”, ia tahu bahwa adiknya benar-benar telah kehilangan ingatan. Akan tetapi hal ini belum berarti kehilangan kepandaian, maka untuk mencobanya ia cepat memukul. Pukulan ini cepat dan tak terduga-duga sehingga Li Cu sendiri tidak sempat mencegah. Giranglah hati Beng Kui melihat pukulannya tepat dan membuat adik yang ditakuti itu terlempar dan bergulingan, akan tetapi ia kaget bukan main melihat Beng San bangun lagi dan tidak apa-apa. Padahal pukulannya tadi ia lakukan dengan pengerahan tenaga Iwee-kang. Ia tidak tahu bahwa tenaga Iwee-kang dan hawa murni di tubuh Beng San masih ada dan secara otomatis bergerak melindungi bagian yang terpukul. Ia mengira bahwa Beng San masih lihai seperti dulu. Akan tetapi melihat sikap Beng San dan mendengar pertanyaan yang berkali-kali itu ia dapat menduga bahwa Beng San masih dilindungi oleh hawa murni di tubuhnya, tapi takkan dapat mempergunakan hawa dan tenaganya untuk menyerang karena semua ilmu telah dilupakannya.

Sementara itu Li Cu marah bukan main melihat Beng San dipukul tadi. Juga ia merasa kuatir kalau-kalau Beng San terluka parah, biarpun ia melihat Beng San sudah bangkit kembali dan malah mendekati Beng Kui. Karena kuatir kalau Beng Kui memukul lagi, Li Cu mendahuluinya dan menyerang hebat. Beng Kui tertawa-tawa dan segera melayaninya. Adapun Beng San berteriak-teriak mencegah mereka bertempur.

Hati Li Cu gelisah bukan main. Biar pun ia sedang berhantam dengan Beng Kui, namun ia dapat menangkap dengan pendengaran telinganya yang tajam bahwa keadaan ayahnya mulai terdesak hebat. Hal ini mengguncangkan hatinya dan mengacaukan gerakan kaki tangannya.

“Beng Kui anak durhaka! Lepaskan Li Cu!” tiba-tiba Gia Hui Gan berteriak keras. “Li Cu, bawa Beng San pergi jauh-jauh!”
Akan tetapi kata-katanya itu disambut dengan ketawa mengejek oleh Beng Kui, Cia Hui Gan tidak berdaya menolong puterinya karena tiga orang lawannya makin hebat mendesaknya. Rupanya karena maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang amat tangguh, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi dapat bekerja sama dan mempergunakan Yang-sin Kiam-sut dan Im-sin Kiam-sut untuk mengeroyok jago pedang itu. Sedangkan Kwa Hong dengan ilmu silatnya yang tidak karuan namun dahsyat sekali, terus melancarkan serangan-serangan maut.
Li Cu makin gelisah dan kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Beng Kui. Sebuah tendangan pada sambungan lutut membuat Li Cu roboh dan susulan totokah membuat gadis itu ‘tidak dapat bergerak pula,
“Jangan pukul isteriku….!” Beng San berseru dan menubruk Li Cu, akan tetapi ia pun segera lemas tak dapat bergerak karena ditotok oleh Beng Kui pada dua jalan darahnya yang penting. Kemudian sambil tertawa-tawa Beng Kui mengempit tubuh Li Cu dan Beng San, lalu di bawa pergi lari cepat dari tempat itu.
“Beng Kui… keparat….! Lepaskan Li Cu….!” Cia Hui Gan membentak dan pedang di tangan kanannya meluncur cepat mengejar bayangan Beng Kui. Orang muda ini maklum akan kehebatan ilmu melempar pedang dari gurunya, ia menjadi pucat dan kaget sekali. Cepat ia mengelak dan merendahkan tubuh, namun tetap saja pundaknya tertusuk pedang dari belakang dan Beng Kui sambil menjerit kesaktian mempercepat larinya. Tubuh Li Cu dan Beng San masih dikempitnya dan pedang itu pun masih menancap di pundaknya.
Masih untung bagi Beng Kui bahwa pada saat itu Kwa Hong, Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi mendesak Cia Hui Gan sehingga Raja Pedang ini tidak sempat lagi untuk mengejarnya. Malah kini keadaan Cia Hui Gan terdesak hebat karena di tangannya hanya terdapat sebatang pedang pendek, yaitu pedang Liong-cu-kiam karena pedangnya sendiri tadi telah disambitkan ke arah Beng Kui dalam usaha mencegah bekas murid itu menculik puterinya. Hai ini ditambah lagi oleh hatinya yang risau memikirkan puterinya, maka permainan pedang Cia Hui Gan menjadi agak kalut dan kurang kuat bagian pertahanannya. Kesempatan yang baik ini dipergunakan oleh tiga orang pengeroyoknya untuk menghujankan serangan pedang. Raja Pedang itu kurang cepat dan kulit lambungnya tergores pedang di tangan Kwa Hong. Darah mengucur dan membasahi bajunya.
Rasa perih menimbulkan kemarahan hebat dan mengobarkan semangat perlawanan Cia Hui Gan. Kakek yang gagah perkasa ini mengeluarkan seruan panjang dan pedangnya yang hanya pendek saja itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, dahsyat sekali. Bunyi nyaring beradunya pedang-pedang pusaka makin sering dibarengi berpijarnya bunga-bunga api. Namun tiga orang pengeroyoknya juga makin memperhebat tekanan karena mereka merasa penasaran sekali. Sambil mengerahkan tenaganya yang mujijat Kwa Hong memutar pedang tiga kali, lalu membalikkan arah pedang menusuk ke arah perut Raja Pedang itu. Pada saat yang sama Hek-hwa Kui-bo dengan gerakan lemas membabat kakinya. Dua penyerangan sekaligus dari dua jurusan ini benar-benar berbahaya dan hebat. Cia Hui Gan membentak nyaring, pedangnya berkelebat ketika menangkis tusukan Kwa Hong dan pada saat itu ia harus pula meloncat tinggi-tinggi untuk menghindarkan diri dari babatan pedang Hek-hwa Kui-bo. Detik berikutnya pedang di tangan Song-bun-kwi sudah menyambar datang, menusuk punggung. Cepat ia menurunkan lagi kakinya setelah babatan lewat, tubuhnya agak miring karena pedangnya masih tergetar dalam menangkis tusukan Kwa Hong, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis. Namun dengan gerakan tiba-tiba, lengan kirinya yang ditekuk itu digerakkan sedemikian rupa sehingga sikunya membentur pinggir pedang Song-bun-kwi. Tepat dan cepat sekali gerakan ini dan pedang Song-bun-kwi meluncur lewat pinggir tubuhnya, merobek pakaian dan melukai kulit, tapi ia selamat!
“Bagus!” Song-bun-kwi memuji dan kagum sekali melihat betapa dalam cengkeraman maut itu lawannya masih mampu menyelamatkan diri. Selanjutnya dengan penuh penasaran hati ia mendesak terus, mainkan Yang-sin Kiam-sut yang bersifat keras itu.
Tekanan makin hebat, Cia Hui Gan sudah mengerahkan seluruh tenaga, kegesitan dan mengeluarkan seluruh kemahiran bermain pedang. Namun tetap saja ia didesak terus dan tidak ada jalan keluar lagi baginya kecuali melawan mati-matian. Ia sudah menderita beberapa luka ringan. Darah membasahi seluruh pakaiannya. Ia sudah terluka di pundak, di pangkal lengan, di kedua paha, malah sebuah tusukan yang agak dalam di punggung membuat gerakannya makin lemah dan lambat. Namun semangatnya tak kunjung padam, sambil mengeluarkan bentakan-bentakan hebat kakek ini mengamuk terus seperti banteng terluka.
Tiba-tiba Kwa Hong mengeluarkan suara melengking yang aneh dan ternyata kemudian bahwa suara ini adalah suara panggilan untuk burung rajawali emas yang sejak tadi bertengger di cabang pohon besar yang tak jauh dari situ. Segulung sinar kuning emas meluncur turun dibarengi lengking yang seperti tadi keluar dari mulut Kwa Hong.
“Tiauw-heng (Kakak Rajawali), bantulah aku!” seru Kwa Hong sambil memperhebat desakannya kepada Cia Hui Gan.
Burung itu agaknya sudah hafal akan suara dan perintah Kwa Hong. Melihat bahwa nonanya itu bertempur melawan Gia Hui Gan, ia cepat menukik ke bawah menerjang Raja Pedang itu.Tiba-tiba burung itu terbang membalik, berputaran di atas sambil memekik-mekik nyaring. Agaknya ia ragu-ragu dan bingung, kemudian ia menukik lagi dengan kedua kakinya bergerak-gerak menyerang. Cia Hui Gan memang sudah terdesak dan terkurung hebat, sekarang mendadak ia melihat gerakan kedua kaki burung itu. Ia tidak dapat menangkis lagi dan… secara aneh sekali tahu-tahu pedang di tangannya sudah dicengkeram oleh burung itu dan dibetot terlepas dari tangannya. Cia Hui Gan ia kenal, kemudian teringatlah ia bahwa gerakan itu mirip, bahkan tidak ada bedanya dengan gerakan Sian-li-teng-liong (Bidadari Menunggang Naga), sebuah gerakan yang terahasia dari ilmu silatnya Sian-li Kiam-sut.
“Kau… kau….” serunya terheran-heran, akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu tiga batang pedang sudah ambles memasuki tubuhnya. Cia Hui Gan tidak me-ngeluarkan suara lagi, roboh dan tewas di saat itu juga! Sungguh patut disesalkan nasib seorang Raja Pedang yang namanya sudah puluhan tahun gemilang dikagumi orang, ternyata sekarang harus mengorbankan nyawa gara-gara asmara yang telah menguasai hati puterinya!
“Berikan Liong-cu-kiam itu kepadaku!” bentak Song-bun-kwi sambil melotot kepada Kwa Hong yang sudah menerima pedang pusaka itu dari burung rajawalinya.
“Tidak, harus kauberikan kepadaku!” bentak Hek-hwa Kui-bo sambil menerjang maju hendak merampas Liong-cu-kiam yang amat diinginkan itu. Akan tetapi sekali menggerakkan kaki secara aneh usaha Hek-hwa Kui-bo untuk merampas pedang itu gagal dan ia hanya menangkap angin. Diam-diam nenek ini kaget sekali. Biarpun tadi dalam pengeroyokan atas diri Raja Pedang ia sudah mendapat kenyataan betapa lihainya wanita muda ini, namun tak pernah disangkanya akan demikian hebat sehingga serangannya merampas pedang dapat digagalkan hanya dengan menggerakkan kaki saja!
“Kalian ini tua bangka tak tahu diri! Bukalah matamu baik-baik dan lihat kepada siapa kalian bicara! Kalau tidak ada aku dan rajawali emasku, mana bisa kalian mengalahkan Bu-tek Kiam-ong? Sekarang masih berlagak hendak merampas pedang? Lihat, yang di tangan kananku ini adalah Hoa-san Po-kiam pedang pusaka Hoa-san-pai yang menandakan bahwa aku adalah Ketua Hoa-san-pai. Dan di tangan kiriku ini adalah Liong-cu-kiam yang menandakan bahwa aku lebih lihai daripada Bu-tek Kiam-ong dan tentu saja lebih lihai daripada kalian tua bangka. Mau pedang? Hi-hi-hi, kalau kalian sudah mengidam kuburan, boleh, majulah untuk kutebas batang leher kalian, seorang satu!” Ia meyodorkan kedua pedang itu ke depan sambil tersenyum-senyum penuh ejekan.
Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi saling pandang. Baru satu kali selama hidup mereka itu mereka menerima hinaan dan kekalahan dari seorang muda, yaitu dari Beng San. Dan sekarang ada seorang gadis muda lagi yang mengejek dari menantang mereka. Tanpa mengeluarkan suara, saling pandang ini cukup bagi dua orang tokoh itu bersepakat mencoba kepandaian mereka yang sebetulnya berpasangan itu kepada gadis aneh ini. Serentak keduanya bergerak menyerang Kwa Hong!
Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa sambil menangkis dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi suara ketawanya tidak berlangsung lama karena ia segera menjadi repot sekali oleh pengeroyokan dua orang itu. Hek-hwa Kui-bo mainkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sedangkan Song-bun-kwi mainkan Yang-sin Kiam-sut dan mereka dapat bekerja sama secara baik sekali. Menghadapi pasangan ilmu pedang sakti ini, Kwa Hong segera terdesak hebat dan untung baginya ia sudah paham betul akan gerakan dan perubahan geseran kaki menurut gerakan rajawali emas, sehingga biarpun terdesak hebat ia masih dapat menyelamatkan diri secara aneh. Akhirnya ia melengking keras minta bantuan rajawali.
Rajawali emas menyambar-nyambar di atas kepala dua orang itu Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo tadi sudah menyaksikan ketika rajawali itu merampas pedang dari tangan Cia Hui Gan, maka mereka kaget dan cepat meloncat dan menjatuhkan diri. Kesempatan ini dipergunakan Kwa Hong untuk meloncat ke atas punggung burungnya, sambil tertawa-tawa berkata,
“Aku tidak ada waktu untuk main-main dengan kaiian dua orang tua bangka!” cepat burungnya terbang meninggalkan dua orang itu yang menyumpah-nyumpah saking mendongkol dan marahnya.
“Ah, kenapa begini tolol? Aku harus menangkap Beng San keparat!” tiba-tiba Song-bun-kwi teringat akan urusannya dan tanpa menoleh lagi kepada Hek-hwa Kui-bo ia berlari cepat mengejar ke arah larinya Beng San dan Li Cu tadi.
Hek-hwa Kui-bo datang bersama Beng Kui. Memang ia dimintai tolong oleh orang muda itu setelah Beng Kui mendengar bahwa Beng San telah kehilangan ingatan dan kepandaiannya. Seperti telah dituturkan di bagian atas, antara Hek-hwa Kui-bo dan Beng Kui terdapat kerja sama lagi ketika mereka membantu pemberontak-pemberontak yang hendak menggulingkan kedudukan Kaisar pertama dari Kerajaan Beng. Kini Beng Kui berhasil dengan usahanya, yaitu menculik Beng San dan Li Gu. Akan tetapi, di belakang orang muda itu mengejar Song-bun-kwi dan mungkin juga Kwa Hong, siapa tahu? Sudah menjadi tugasnya untuk membantu Beng Kui, maka ia pun lalu meninggalkan tempat itu dan menyusul Beng Kui karena ia tahu ke mana pemuda itu membawa pergi dua orang korbannya itu.
Dalam kempitan Beng Kui, Beng San tak berdaya. Akan tetapi diam-diam ia memutar terus otaknya yang sejak pertempuran di Thai-san tadi mengalami guncangan-guncangan hebat. Banyak hal yang membingungkannya. Sekarang kakak kandungnya menangkap dia dan isterinya. Apakah kesalahannya? Apa pula kesalahan isterinya? Dan ke mana mereka berdua hendak dibawa? Hendak diapakan?
Seingatnya, isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, puteri dari Song-bun-kwi. Kenapa tadi Song-bun-kwi, teringat ia sekarang, tidak menolongnya dan menolong isterinya?
“Aku tidak peduli itu semua….” akhirnya hatinya memutuskan karena kepalanya serasa pecah karena kepeningan ketika ia mencoba memecahkan semua rahasia itu. “…. asal saja Bi Goat jangan diganggu….” Ia merasa kuatir sekali kalau-kalau isterinya diganggu orang. Kalau sampai terjadi demikian biarpun yang mengganggunya itu kakak kandungnya, biarpun dia sendiri tidak bisa silat, hemm… dia akan mencegahnya dan melawan mati-matian mempertaruhkan nyawanya sendiri.
“Kui-ko, kenapa kau menangkap kami suami isteri dan ke mana kau hendak membawa kami?” Beng San akhirnya bertanya. Akan tetapi yang ditanya tidak menjawab, melainkan berlari makin cepat lagi. Beng San mengulang-ulang pertanyaannya, namun Beng Kui tetap tidak menjawab sedangkan Li Cu tidak dapat bersuara karena jalan darah di lehernya telah tertotok.
Semenjak Beng Kui gagal dalam rencana pemberontakannya dahulu, hatinya menjadi lebih sakit dan menaruh dendam kepada Beng San. Ia sudah mendengar betapa adik kandungnya itulah yang telah menggagalkan pencegatan terhadap Kaisar, malah ia mendengar betapa dengan kerja sama antara Beng San dan Li Cu,
Ho-hai Sam-ong tewas pula dalam pertempuran. Semua ini ditambah lagi dengan kenyataan betapa gurunya sendiri pun turun tangan di kota raja menghadapinya, maka ia menaruh sakit hati terhadap bekas gurunya, terhadap Li Cu dan terutama sekali terhadap Beng San. Inilah yang menyebabkan mengapa ia sengaja datang ke Thai-san bersama Hek-hwa Kui-bo ketika ia mendengar berita bahwa Beng San yang ia takuti itu telah kehilangan kepandaiannya dan menjadi orang gila.
Sebagai seorang bekas pemberontak, tentu saja Beng Kui tidak dapat bebas. Ia menyembunyikan diri sambil menunggu saat baik, malah membuat tempat persembunyian tak jauh dari Puncak Thai-san. Di sebuah hutan ia telah mendirikan rumah besar dan ia mempunyai banyak kaki tangan yang masih setia kepadanya dan Beng Kui kalau berada di tempatnya ini menganggap diri sendiri seolah-olah telah menjadi seorang “raja kecil”. Isterinya, puteri pangeran yang bertubuh lemah, tidak ia ajak dalam perantauan dan persembunyiannya ini, melainkan ia tinggalkan di tempat persembunyiannya dekat kota raja.
Menjelang senja. Beng Kui memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Thai-san sebelah utara. Hutan itu gelap dan amat liar, tak pernah didatangi manusia. Akan tetapi ternyata di tengah-tengah hutan besar itu terdapat sebuah rumah besar dikelilingi rumah-rumah agak kecil. Inilah “perkampungan” kecil yang dijadikan tempat persembunyian Beng Kui bersama pengikut-pengikutnya. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang kaki tangannya. Beng Kui langsung memasuki rumahnya dan membanting tubuh Beng san ke atas lantai. Pemuda ini terbanting dan bergulingan dan terdengar beberapa orang anak buah Beng Kui tertawa mengejek.
“Kui-ko, di manakah ini? Rumah siapa dan apa yang hendak kaulakukan terhadap kami? Kaulepaskan isteriku!” Beng San tidak pedulikan tubuhnya yang sakit-sakit lalu merangkak bangun. Andaikata Beng Kui tidak semarah itu, kiranya hal ini akan menimbulkan, keheranannya.
Akan tetapi ia lupa bahwa tadi ia telah menotok jalan darah di tubuh Beng San yang membuat adiknya itu lumpuh.
“Kau mau tahu apa yang hendak kulakukan? Ha-ha-ha, aku takkan membunuhmu sekarang! Kau harus melihat dulu apa yang akan kulakukan terhadap perempuan tak tahu malu ini!” ia melempar Li Cu ke atas sebuah dipan diruangan itu. Gadis itu jatuh lemas dan tak dapat bergerak, hanya sepasang matanya yang memandang tajam penuh kemarahan dan kebencian, Beng Kui mengejar maju dan sekali tangannya bergerak ia telah membebaskan totokan pada leher gadis itu sehingga Li Cu dapat bicara kembali. Saking marahnya sampai gadis itu tidak mampu mengeluarkan perkataan apa-apa!
“Kui-ko, kau tahu bahwa aku tidak takut mati. Kau mau bunuh aku, boleh bunuh. Akan tetapi kau harus bebaskan Bi Goat, dia itu tidak mempunyai dosa apa-apa terhadap dirimu. Kalau kau benci kepadaku, kalau kau marah kepadaku, boleh kauperlakukan aku sesukamu, tapi jangan, ganggu Bi Goat!” kembali Beng San memohon kepada kakaknya.
Beng Kui tertawa mengejek, “Sudah kukatakan tadi, kau tidak kubunuh sekarang. Kau perlu hidup untuk menyaksikan betapa aku akan membuat wanita tak tahu malu ini sebagai barang permainanku. Ya, aku harus membalas, dia harus menjadi permainanku, ha-ha… dan di depan matamu, Beng San! Kalau aku sudah bosan, baru kurusak mukanya dan kubebaskan dia dan kaupun akan kulempar ke dalam jurang di belakang rumah. Sudah terlalu sering kau merusak rencanaku, sudah terlalu banyak kau menggagalkan usahaku.” Ia ketawa lagi dan berpaling kepada beberapa orang anak buahnya yang berada di situ, berdiri seperti patung.
“Sediakan hidangan untukku!” Orang-orang itu memberi hormat sambil berlutut lalu mengundurkan diri. Beng Kui tertawa lagi. “Lihat Beng San, lihat baik-baik. Biarpun kau sudah menggagalkan semua rencanaku, namun aku tetap dapat hidup sebagai raja. Dan kau akan kujadikan anjing, manusia bukan binatang pun bukan, hidup tidak mati pun belum. Dan dia… ha-ha, perempuan yang mencintamu ini yang melempar aku memilih kau, dia akan melihat bahwa aku jauh lebih berharga daripadamu.”
Beng San sukar menangkap arti semua ucapan itu, ia berusaha mengingat-ingat dan memeras otaknya maka ia berdiri bengong seperti patung batu. Adapun Li Cu saking marahnya sampai seperti gagu tak dapat bicara, hanya pancaran matanya yang berapi-api seperti hendak membakar tubuh Beng Kui dengan api kebencian yang berkobar-kobar. Akan tetapi di samping kebencian dan kemarahannya ini, diam-dian Li Cu menjadi terheran-heran. Belum pernah ia melihat suhengnya itu seperti sekarang ini. Alangkah jauh bedanya dengan dahulu. Makin memuncak herannya ketika hidangan yang mewah disediakan di atas meja. Beng Kui makan minum seorang diri dengan sikap berlebihan. Orang-orang yang melayaninya kelihatan amat menghormat seakan-akan melayani seorang kaisar saja. Dilihat keadaannya sekarang dan dibandingkan dengan dahulu, agaknya lebih pantas kalau dikatakan bahwa Beng Kui telah berubah pikirannya atau tidak waras lagi pikirannya.
Setelah selesai makan, Beng Kui melemparkan beberapa potong tulang kepada Beng San sambil tertawa dan berkata, “He, anjing… nih kuberi tulang, makanlah! Ha-ha-ha!”
Beng San berdiri tak bergerak, hanya memandang kepada kakak kandungnya yang seperti orang gila itu. “Kui-ko ingatlah… kenapa kau menjadi begini….? kau seperti orang gila….”
“Keparat!” Tubuh Beng Kui bergerak tangannya kiri kanan menampar dan “plak-plak-plak!” muka Beng San sudah dihujani tamaparan yang keras sehingga Beng San terhuyung-huyung dan kedua pipinya menjadi merah.
“Bersihkan meja dan tinggalkan kami. Tutup pintu depan, jaga baik-baik!” Beng Kui memberi perintah kepada orang-orangnya yang dengan sigap lalu mengerjakan perintah orang muda itu. Tak lama kemudian mereka bertiga sudah ditinggalkan pergi oleh para pelayan.
Beng San masih berdiri tegak, bekas tamparan kakaknya masih tampak di kedua pipinya. Setelah semua pelayan pergi, Beng Kui mencabut pedang Liong-cu-kiam dari pinggangnya, lalu menghampiri Beng San yang berdiri dengan sikap tegak, sama sekali tidak kelihatan takut. Kiranya biarpun kehilangan ingatan dan kepandaian, namun Beng San tidak pernah kehilangan keberanian dan ketabahannya.
“Hemm, kau hendak bunuh aku, Kui-ko? Mau bunuh boleh bunuh, aku tidak takut. Akan tetapi jangan sekali-kali kau mengganggu isteriku. Dia… tidak berdosa, kenapa kau menawannya? Lekas kaubebaskan dia!”
“Beng San keparat, hayo kau lekas berlutut! Hayo!”
Akan tetapi Beng San berdiri tegak dan memandang dengan matanya yang kini bersinar tenang dan bodoh. Teringat ia akan segala pelajaran filsafatnya dan ia menjawab, “Kui-ko, aku hanya dapat berlutut kepada Tuhan, kepada nenek moyang, kepada ayah bunda, kepada guru, kepada pemimpin dan kepada orang yang telah kuperlakukan dengan keliru sehingga aku patut minta ampun kepadanya. Padamu aku tidak salah apa-apa, kenapa harus berlutut!”
“Keparat!” Kaki Beng Kui bergerak dan lutut Beng San keduanya telah kena ditendang dengan cepat. Beng San tak dapat mempertahankan diri lagi dan jatuh berlutut.
Beng Kui tertawa bergelak-gelak, “Ha-ha-ha, akhirnya kau berlutut juga di depanku. Hemm, kau mengaku adik kandungku, akan tetapi semenjak pertemuan kita kau selalu menjadi perintang, selalu menjadi penghalang dan selalu menjadi pengacau hidupku! Sudah sepatutnya kalau kau kubunuh!”
“Beng Kui, kau ini manusia apakah? Cih, tak tahu malu, curang, dan benar-benar pengecut besar! Kau berani bertingkah setelah melihat Beng San kehilangan ingatannya. Coba kalau dia masih seperti biasa, aku berani bertaruh kau akan lari tunggang-langgang kalau ber-temu dengan dia! Huh, muak perutku melihat mukamu!” Ucapan ini keluar dari mulut Li Cu yang marah bukan main menyaksikan betapa Beng Kui memperlakukan Beng San seperti itu.

Pucat muka Beng Kui mendengar cacian yang luar biasa menghinanya ini. Selama hidupnya belum pernah Li Cu berani bicara seperti ini kepadanya, kepada dia yang menjadi kakak seperguruannya, juga menjadi bekas tunangan! Benar-benar penghinaan yang melampaui batas. Sekali melompat ia telah berada di pinggir dipan, memandang kepada Li Cu yang rebah miring di atas dipan karena masih tertotok, namun sepasang matanya memandang tajam penuh kebencian.

“Kau berani menghinaku? Apa kaukira aku pun tak dapat mempermainkan dan menghinamu?” Pedangnya berkelebat dan “brettt” robeklah baju Li Cu. Baju luar berwarna merah itu robek lebar sekali sehingga tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda, Beng Kui tertawa terbahak-bahak sedangkan Li Cu menjadi pucat sekail, tak berani mengeluarkan kata-kata lagi saking ngerinya melihat perbuatan bekas suhengnya yang seperti kemasukan iblis itu,

“Kui-ko, jangan kauganggu isteriku!” Beng San lari menghampiri dan mengangkat tangan hendak mencegah kakaknya bertindak lebih jauh.

Akan tetapi sambil membalikkan tubuh Beng Kui menendang lagi dengan kerasnya sehingga tubuh Beng San terlempar dan terbanting pada dinding. Namun Beng San sudah nekat. Ia bangun lagi, menghampiri dan berseru.

“Tak boleh kau menghina isteriku… Tak boleh…”

Sekali lagi ia terjungkal karena tendangan Beng kui pada perutnya. Kali ini agak sukar Beng San untuk bangkit. Tendangan itu membuat napasnya menjadi sesak. Akan tetapi sambil merangkak mendekati kakaknya lagi dan merangkul kedua kakinya “Kui-ko, jangan…jangan kau menggangu isterku…, bunuhlah aku kalau kau kehendaki, tapi bebaskan dia….”

Beng Kui mehjadi gemas sekali, Pedang di tangannya berkelebat ke arah Beng San. Li Cu menjerit dan… rambut di kepala Beng San terbabat putus. Li Cu terisak-isak saking kuatirnya, akan tetapi Beng San sama sekali tidak kelihatan gentar biarpun tadi pedang itu hampir saja membabat putus batang lehernya.

“Kui-ko, sekali lagi kuminta, jangan kauganggu isteriku.”

“Bangsat, kalau aku mengganggunya kau mau apa? Hayo kau mau apa? Beng Kui menantang.

“Biarpun aku tidak pandai silat, aku akan melawanmu!” kata Beng San sambil berusaha untuk berdiri.

“Ha-ha-ha-ha, kau hendak melawan? Nah, terimalah bacokan ini!” Pedang di tangannya berkelebat dan kini benar-benar melayang ke arah batang leher Beng San dengan cepat dan kuat.

“Beng San….!!” Li Cu menjerit lagi dengan sekuat tenaga dan ia hampir pingsan melihat pedang itu menyambar leher kekasihnya.

Beng San terjungkal dan tak bergerak. Akan tetapi lehernya tidak putus dan tidak ada setetes pun darah keluar. Kiranya tadi Beng Kui hanya menakut-nakuti saja dan membalik pedangnya sehingga punggung pedangnya yang menghantam belakang kepala Beng San, bukan mata pedangnya. Pukulan ini keras sekali dan Beng San tersungkur, tak mampu bangun kembali. Ia merasa seperti melayang-layang dari tempat yang amat tinggi penuh bintang beraneka warna beterbangan di sekelilingnya. Ia jatuh terus ke bawah, makin lama makin cepat. Mula-mula melalui ruangan yang putih seperti salju, lalu ruangan merah seperti darah, Kemudian setelah melalui beberapa ruangan yang beraneka warna ia tidak melihat apa-apa lagi. Hanya perasaannya masih menyatakan bahwa ia terus melayang-layang ke bawah. Telinganya mendengar suara yang mengerikan, mengiang-ngiang dan mendengung-dengung, kadang-kadang rendah, lalu disusul suara ketawa terbahak-bahak yang bergema di sekelilingnya, disusul suara tangis yang memilukan!

Apakah aku sudah mati? Di mana aku berada? Bukan aku yang mati, melainkan Bi Goat! Ah, Bi Goat sudah mati dan ia mengunjungi kuburannya. Bi Goat isterinya yang tercinta, telah mati. Apakah aku juga sudah menyusulnya dan sekarang terseret?

“Bi Goat… Bi Goat….” Ia mencoba untuk memanggil, namun tidak terdengar suaranya.

“Beng San….!!” Teriakan ini seperti terdengar dari tempat yang amat jauh dan Beng San merasa seakan-akan ia berhenti melayang. Tahu-tahu ia merasa telah berada di atas bumi. Mimpikah aku? Siapa yang memanggilku tadi? Apakah Bi Goat? Ia merasa kini bahwa tubuhnya sedang rebah tertelungkup. Ah, tentu ia mimpi, tapi….

“Beng San….!!” Makin keras panggilan ini, suara wanita dan jerit itu menyayat hati benar. Ia membuka mata. Benar saja, ia sedang rebah tertelungkup. Akan tetapi mengapa di atas lantai? Kedua kakinya sakit dan lehernya juga sakit. Ia menoleh ke atas. Apa yang dilihatnya membuat ia bengong dan terbelalak. Gilakah dia? Kenapa dia melihat semua ini? Ia melihat Beng Kui kakaknya dan Li Cu yang tidak dapat bergerak di atas dipan dan Beng Kui yang berdiri di dekat dipan sambil tertawa-tawa. “Beng San…!!” Kembali Li Cu memekik dan kembali Beng Kui tertawa,

“Ha-ha-ha, kau boleh seribu kali memanggilnya. Dia tak dapat bangun lagi, anjing lemah itu. Ha-ha, Li Cu, benar-benar aku masih hampir tak dapat percaya kalau kau dapat jatuh cinta kepada orang gila!”

“Beng Kui, kenapa kau begini kejam? Apakah kau hendak membunuh adik kandungmu sendiri? Apakah kesalahannya? Kalau begitu, kau bunuh aku juga, Beng kui.”

“Tidak, kau takkan kubunuh. Sayang kecantikanmu. Aku masih cinta kepadamu, Li Cu. Dan kau, mau tidak mau, harus menemaniku di dalam hutan ini.”

“Tidak! Aku lebih baik mati! Beng Kui ingatlah. Aku… aku hanya cinta kepada Beng San. Aku mau mati atau tidak bersama dia. Kalau kau sudah membunuhnya, kaubunuhlah aku. Kalau kaulakukan itu, aku bersumpah takkan menaruh dendam kepadamu. Bunuhlah aku.” Li Cu terisak-isak menangis.

“Benar-benar aneh kau ini, Li Cu. Beng San sudah gila, dia selain gila juga menjadi orang lemah. Kau dianggapnya isterinya yang bernama Bi Goat, yang sudah mati. Terang bahwa ia tidak mencintamu sebagai Li Cu, melainkan mencintamu sebagai Bi Goat. Kenapa kau bisa membalas cinta kasih orang gila macam itu? Aku belum membunuhnya, Li Cu. Akan tetapi, kalau kau dengan suka rela mau menjadi isteriku, aku akan bebaskan dia. Sebaliknya, kalau kau tetap keras kepala, aku akan membunuhnya setelah menyiksanya seperti anjing gila, dan kau tetap akan kujadikan isteriku!”

Sepasang mata Li Cu terbelalak lebar dan kemarahahnya tak dapat ditahannya lagi. “Keparat, kau! Iblis kau! Tuhan akan mengutukmu, jahanam!”

“Ha-ha-ha, kau hendak mengamuk lagi? Ha-ha, Li Cu, mati hidupmu di tanganku, tahu?”
“Aku tidak takut! Kau iblis bermuka manusia. Terkutuklah kau!”

“Ha-ha-ha, makin manis saja kalau kau marah-marah.” Pedangnya bergerak perlahan dan “brettt!” sekarang pakaian dalam yang menempel di tubuh Li Cu robek pula oleh ujung pedang. Li Cu menjerit ngeri dan menutupkan matanya yang penuh air mata. Akan tetapi apa dayanya? Tubuhnya tak mampu bergerak. Tiba-tiba tubuh Beng Kui terlempar ke belakang, menimpa meja yang tadi ia pakai makan minum sampai meja itu patah-patah kakinya! Kaget bukan main Beng Kui yang tadi merasa seakan-akan tubuhnya bisa terbang melayang begitu saja. Cepat ia meloncat bangun sambil mempersiapkan pedang yang masih terpegang olehnya. Ketika ia membalikkan tubuh memandang, matanya terbelalak lebar seakan-akan hendak meloncat keluar dari tempatnya. Ia melihat Beng San sudah berdiri di depannya dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh api kemarahan, dan sepasang mata itu sekarang bercahaya ganjil dan menyeramkan seperti dahulu!

Ia masih belum mau percaya kalau , Beng San yang tadi melemparkannya. Tak mungkin! Bukankah tadi setelah ia hantam belakang kepala Beng San dengan punggung pedangnya, adiknya itu roboh dan pingsan? Tentu saja manusia yang sudah mabok kemenangan dan mabok pangkat ini tidak sadar bahwa di dunia ini kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan. Manusia yang merasa dirinya menang, yang merasa dirinya kuat sendiri, yang merasa dirinya benar sendiri, menyatakan bahwa manusia seperti ini adalah manusia yang berjiwa rendah. Atau setidaknya, pada saat itu hati nuraninya dikuasai oleh iblis. Segala kemenangan, kekuatan dan kebenaran seluruhnya terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Merupakan rahmat-Nya bagi manusia. Oleh karena itu, segala rahmat dari Tuhan harus dipersembahkan kemudian kepada-Nya dengan jalan mengakui dengan segala kerendahan hati bahwa sanya kesemuanya itu datang dari pada-Nya. Pengakuan yang tulus akan hal ini akan menjauhkan manusia dari mabok kemenangan serta kekuasaan.

Pada saat punggung pedang di tangan Beng Kui tadi menghantam belakang kepala Beng San, Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hantaman itu tepat mengenai jalan darah yang menjurus ke kepala, menggetarkan urat saraf di kepala Beng San yang terganggu ketika dia dahulu terpukul oleh kedukaan karena kematian isterinya. Bagaikan air yang mengalir kembali setelah bendungannya dibuka, ingatan Beng San kembali perlahan-lahan dan semua ini ditambah oleh pendengarannya ketika Beng Kui dan Li Cu berdebat. Terbukalah semua ingatan dan pengertiannya dan sekaligus membuat ia marah bukan main. Baiknya ia dapat cepat sadar kembali dan dapat mencegah sebelum Beng Kui melakukan perbuatan yang lebih biadab lagi.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: