Rajawali Emas (Jilid ke-3)

Tapi Kui Lok dan Thio Bwee tidak mempedulikan orang tinggi besar ini, karena mereka masih marah bukan main mendengar ucapan Kwa Hong tadi, Kui Lok segera membentak,

“Kwa Hong! Jadi kau hendak menggunakan kekerasan dan merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai? Jangan kau berlaku sewenang-wenang, mengingat bahwa kau adalah bekas murid Hoa-san-pai sendiri, hayo lekas kembalikan pedang pusaka dan berlutut menerima dosa.”

Mata Kwa Hong berkilat. “Kui Lok, kau begini kurang ajar terhadap ketuamu? Hayo kau yang berlutut!” Sambil bertolak pinggang Kwa Hong memerintah.

“Suheng, mari kita bunuh siluman ini!” Thio Bwee berseru keras dan biarpun ia sudah tak berpedang lagi, dengan nekat ia lalu menyerang Kwa Hong dengan pukulan maut yang amat keras. Akan tetapi dengan enak Kwa Hong miringkan tubuhnya dan sekali kakinya bergerak, Thio Bwee sudah kena ditendang roboh!

Kui Lok marah sekali dan menyerang dengan pedangnya. Kepandaian Kui Lok sudah maju pesat sekali dan dalam hal ilmu pedang, boleh dibilang ia sudah menjagoi di Hoa-san-pai. Apalagi permainan pedangnya dilakukan dengan tangan kiri, maka sifatnya pun istimewa dan sukar diketahui perubahan-perubahannya. Ketika Kwa Hong belum meninggalkan perguruan, kalau dibuat ukuran antara mereka, agaknya ilmu pedang Kui Lok tidak kalah oleh kepandaian Kwa Hong, maka pemuda itu dengan penuh semangat menyerang dan mengira bahwa tak mungkin ia akan kalah.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tahu-tahu cambuk bertali yang berada di tangan kiri Kwa Hong bergerak, tahu-tahu lima ujung cambuk dengan anak panah itu telah membelit pedangnya dan sekali renggut Kui Lok tak dapat mempertahankan pegangannya lagi. Pedang terampas oleh Kwa Hong. Sambil tertawa melengking tinggi Kwa Hong mengambil pedang itu, menggigit ujungnya, menggerakkan tangan dan… “pletakk!” pedang itu patah menjadi dual Gerakannya sama benar dengan cara burung rajawali mematahkan pedang.

Kui Lok menjadi pucat, akan tetapi untuk menjaga nama Hoa-san-pai ia harus melawan mati-matian. Sambil berseru keras ia menerjang maju dan menyerang Kwa Hong dengan pukulan-pukulan dahsyat.

“Atong, kauhajar dan usir bocah ini, tapi jangan bunuh dia!” kata Kwa Hong.

Terdengar Koai Atong tertawa-tawa berkakakan dan tiba-tiba Kui Lok merasa tubuhnya diangkat orang lalu dilontarkan ke atas sampai empat lima meter tingginya. Tubuhnya melayang dan berjungkiran di udara, ketika turun diterima lagi oleh Koai Atong lalu dilontarkan lagi. Benar-benar Kui Lok dijadikan bola oleh Koai Atong yang mempermainkannya.

“Siluman jahat!” Kui Lok memaki, akan tetapi makin lama ia menjadi makin lemah dan ketika Koai Atong melemparnya ke depan, tubuhnya terbanting dan bergulingan. Dengan payah Kui Lok mencoba untuk berdiri, akan tetapi kepalanya pening dan ia roboh kembali, ditertawai oleh Koai Atong dan Kwa Hong.

Thio Bwee lari mendekat dan membantu Kui Lok bangun. la menyuruh Kui Lok duduk kemudian dengan marah sekali Thio Bwee meloncat lagi untuk menyerang Kwa Hong. Tadi ia hanya terbanting saja dan hal ini belum membuat ia kapok. Hatinya terlalu sakit menyaksikan betapa kekasihnya dipermainkan dan dihina seperti itu.

Melihat kenekatan Thio Bwee, Kwa Hong menjadi marah sekali. “Perempuan rendah, kau tidak tahu bahwa aku sudah berlaku murah kepada kalian? Agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit!” Setelah berkata demikian, cambuknya bergerak, sinar hijau berkelebat. Thio Bwee menjerit dan terjungkal, juga Kui Lok mengaduh dan roboh. Keduanya dapat merayap bangun kembali, dan ternyata bahwa dua murid Hoa-san-pai ini telah terluka oleh panah hijau, masing-masing pada pundaknya. Perih dan panas rasanya, akan tetapi tidak seperih dan sepanas hati mereka.

“Pergi….!” Kwa Hong menudingkan cambuknya keluar. “Pergi sebelum berubah lagi pikiranku dan kuhancurkan kepala kalian!”

Thio Bwee memandang dengan mata melotot, maksud hatinya hendak melawan lagi sampai mati. Akan tetapi Kui Lok yang melihat sikapnya ini segera memegang lengannya dan menariknya pergi dari situ. Dua orang muda itu pergi meninggalkan puncak seperti dua ekor anjing diusir saja, benar-benar merupakan hal yang amat menyakitkan hati mereka.

Seperginya dua orang muda itu keadaan menjadi sunyi. Puluhan orang tosu Hoa-san-pai tidak ada yang berani bergerak, bernapas pun mereka takut keras-keras. Kwa Hong menyapu mereka dengan pandang matanya yang tajam melebihi pedang.

“Siapa mau pergi? Siapa tidak mau menurut perintahku? Lihat contohnya.”

Gambuknya menyambar beberapa kali dan… kepala dari sepuluh mayat para tosu tadi telah terpukul hancur oleh panah-panah di ujung cambuknya! Benar-benar amat mengerikan.

“Hayo katakan, kalian mau mengangkatku sebagai ketua ataukah tidak?”

Seorang tosu yang sudah agak tua maklum bahwa melawan berarti mati dengan cara yang mengerikan, dan melawan pun akan sia-sia saja. Maka ia lalu mendahului teman-temannya berlutut dan menyatakan suka mengangkat Kwa Hong sebagai ketua. Saudara-saudaranya pun menjatuhkan diri berlutut.

Kwa Hong tertawa gembira, tapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti ketika ia melihat Koai Atong masih berdiri tegak sambil tertawa-tawa.

“Heiii… kenapa kau tidak berlutut?”

Koai Atong kaget dan bingung. “Lho…, berlutut? Aku kan suamimu….”

“Tidak peduli, saat ini semua orang harus berlutut kepadaku!” bentak Kwa Hong dan terpaksa Koai Atong berlutut pula. Kwa Hong mengangkat dada, mengedikkan kepala dengan penuh kebanggaan dan merasa seakan-akan ia telah menjadi seorang ratu!

Semenjak saat itu Kwa Hong tinggal di Hoa-san-pai sebagai ketua, dibantu oleh “suaminya” Koai Atong. Kwa Hong amat ditakuti oleh para tosu, akan tetapi juga diam-diam ada sebagian besar tosu Hoa-san-pai amat membencinya. Di samping ini, tentu saja terdapat tosu-tosu yang merasa amat girang oleh karena semenjak Kwa Hong yang menjadi ketua, peraturan-peraturan tidak tegas lagi, dan larangan-larangan juga seakan-akan dihapuskan oleh Kwa Hong. Oleh karena ini banyak tosu yang mulai melakukan penyelewengan-penyelewengan tidak mentaati hukum dan peraturan Agama To. Orang-orang inilah yang benar-benar setia kepada Kwa Hong dan Koai Atong sehingga secara tersembunyi di antara kelompok tosu Hoa-san-pai ini terdapat pemisah antara rombongan yang pro Kwa Hong dengan rombongan yang diam-diam kontra. Namun kesemuanya tidak berani berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Kwa Hong dan Koai Atong. Sementara itu, Kwa Hong dan Koai Atong terus memperdalam latihan-latihan mereka secara sembunyi, mempelajari semua gerakan-gerakan aneh dari burung rajawali emas dan mereka berdua menggabungkan pendapat masing-masing untuk menciptakan ilmu silat yang hebat, gabungan dari ilmu silat Hoa-san-pai, ilmu silat Tibet, Jing-tok-ciang, dan gerakan dari burung rajawaii emas!

Peristiwa perampasan kedudukan ketua di Hoa-san-pai ini menimbulkan geger di dunia kang-ouw yang baru saja tenang karena tumbangnya Pemerintahan Mongol. Banyak tokoh besar di dunia kang-ouw mengerutkan kening dan merasa penasaran sekali.

Mari kita ikuti Kui Lok dan Thio Bwee yang meninggalkan puncak Hoa-san-pai dengan perasaan hancur. Mereka terluka hebat di pundak mereka, terkena racun panah hijau yang amat berbahaya. Namun luka di hati mereka lebih hebat lagi. Mereka tidak saja telah dikalahkan secara mudah dan memalukan sekali, akan tetapi lebih daripada itu, mereka telah terhina. Di sepanjang jalan menuruni puncak Thio Bwee menangis, dan Kui Lok menghiburnya.

“Kui-koko, daripada mengalami penderitaan dan penghinaan seperti ini lebih baik aku mati saja… kenapa tadi kita tidak melawan terus saja sampai mati? Untuk apa hidup lebih lama menghadapi penghinaan seperti ini…?” Saking sedihnya dan juga karena luka beracun di pundaknya membuat tubuhnya lemas, gadis ini terhuyung-huyung ke depan.

Kui Lok cepat mengejar dan merangkulnya. Ia merasa amat kasihan kepada gadis ini dan sinar matanya memandang penuh kasih sayang. Sejenak mereka berpandangan, akhirnya Thio Bwee menangis terisak-isak di atas dadanya. Kui Lok menggunakan tangannya dengan mesra dan halus mengusap air mata yang bercucuran membasahi pipi Thio Bwee.

“Bwee-moi, jangan berduka, jangan putus harapan. Selama kita masih berdua, kesukaran apa yang takkan kuat kita hadapi? Ah, Bwee-moi… setelah ini hari aku melihat Kwa Hong, baru terbuka betul-betul mataku betapa bodohku dahulu, tak dapat membedakan antara batu permata dan batu karang. Dia begitu jahat, begitu kejam dan ganas seperti siluman sedangkan kau… kau begini gagah perkasa, mulia dan halus. Bwee-moi, marilah kita pergi mencari Supek Lian Ti Tojin untuk mohon pertolongannya, tidak hanya kepada kita yang terluka hebat… tapi terutama sekali… untuk menyelamatkan Hoa-san-pai kita….”

Mendengar ini, Thio Bwee mengangkat mukanya, memandang dengan mata terbelalak. “Pergi… ke… Im-kan-kok??” . .

Mau tak mau tersenyum juga Kui Lok melihat wajah kekasihnya begitu ketakutan. Ah, gadis yang tidak takut menghadapi kematian ini sekarang takut begitu mendengar nama Im-kan-kok! “Bwee-moi, apa kau takut?”

“Tidak… tidak asal bersama engkau… tapi… aku ngeri juga, Koko….”

“Setelah keadaan kita seperti ini, apa lagi yang harus ditakuti, Moi-moi? Hayo kita percepat usaha untuk mencari Supek.” Keduanya lalu berjalan lagi bergandengan tangan, hati mereka telah bulat nekat untuk mencari supek mereka.

Yang disebut Im-kan-kok (Lembah Akhirat) adalah sebuah lembah gunung di Hoa-san yang amat mengerikan keadaannya dan tidaklah aneh kalau tempat yang terlarang bagi para anggauta Hoa-san-pai ini jarang atau tak pernah didatangi manusia. Kalaupun ada manusia kebetulan datang ke tempat itu, hendak apa dan mencari apakah? Jurang yang amat luas dan dalamnya tak dapat diukur pandangan mata itu sunyi mengering di sebelah kirinya, penuh batu-batu karang yang merupakan lerengnya atau tebingnya, tajam runcing licin tak mungkin dituruni manusia. Di sebelah kanan lain lagi pemandangannya, penuh pohon-pohon dan di antara pohon-pohon yang tumbuhnya tidak karuan dan liar malang-melintang itu terdapat tiga buah air terjun yang amat tinggi. Keadaan di sebelah kiri dan kanan benar-benar merupakan pemandangan yang berlawanan sekali, padahal keduanya merupakan bagian dari Im-kan-kok itu.

Dengan susah payah Kui Lok dan Thio Bwee berjalan melalui jalan liar yang amat sukar, merayap-rayap melalui pinggir lembah. Kaki mereka sakit-sakit dan bagian tubuh yang tidak tertutup kain baret-baret terkena duri-duri tetumbuhan liar yang selalu menghadang di depan mereka. Setengah hari mereka berjalan dengan penuh kesukaran ini, dengan hati berdebar-debar pula karena sebagai murid-murid Hoa-san-pai mereka maklum bahwa mereka telah memasuki daerah terlarang bagi orang-orang Hoa-san-pai.

Tentang Lian Ti Tojin di Im-kan-kok ini, hanya sedikit mereka mendengar dari mendiang Lian Bu Tojin. Ketua Hoa-san-pai itu hanya mengatakan bahwa Lian Ti Tojin telah memilih Im-kan-kok sebagai tempat untuk mengasingkan diri dan menghukum diri, dan Im-kan-kok dianggap sebagai tempat pelaksanaan hukuman. Tidak diceritakan kesalahan apakah yang dilakukan Lian Ti Tojin itu maka dia menghukum diri sendiri di situ. Hanya berkali-kali Ketua Hoa-san-pai itu melarang murid-muridnya memasuki daerah terlarang ini dengan ancaman mati, malah berkata pula bahwa ilmu silat yang dimiliki oleh Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-san-pai yang amat tinggi, beberapa kali lebih tinggi dari pada ilmu silat yang dimiliki Lian Bu Tojin sendiri. Selain ini, juga ketika mengasingkan diri empat puluh tahunan yang lalu, Lian Ti Tojin mengancam bahwa siapa saja berani mengganggunya di Im-kan-kok pasti akan dibunuhnya!

“LEMBAH ini begitu luas, ke mana kita dapat mencarinya?” bisik Tio Bwee kepada Kui Lok ketika mereka beristirahat di bagian yang penuh pohon-pohon yang merupakan hutan-hutan liar dan di depan mereka tampak air terjun pertama yang airnya berwarna-warni tertimpa sinar matahari.

“Memang sukar kalau harus mencari begitu saja. Akan tetapi jangan kau khawatir, Moi-moi. Dahulu aku pernah mendengar dari mendiang ayahku ketika ayah mendongeng tentang Supek di Im-kan-kok. Menurut ayah, di bagian terbawah dari air terjun yang berada di tengah-tengah dan yang terbesar, terdapat sebuah gua yang amat besar. Gua ini terletak di belakang air terjun dari atas. Nah, agaknya di situlah Supek Lian Ti Tojin bertapa.”

Thio Bwee memandang ke depan. Dari tempat itu sudah kelihatan air terjun yang paling besar itu, di tengah-tengah antara dua air terjun lainnya. Suara air terjun bergemuruh menimbulkan pendengaran yang menyeramkan dan melihat air terjun yang ratusan meter dalamnya itu membuat Thio Bwee merasa ngeri. Tak terasa lagi ia memegang tangan Kui Lok erat-erat.

“Aduh,..!” Kui Lok mengeluh. Thio Bwee kaget dan menengok. Ternyata ia tadi telah memegang lengan yang kiri dengan tangan kanannya dan lengan kiri Kui Lok telah agak membengkak dengan warna kehijauan. Bukan main kagetnya, apalagi ketika pada saat itu baru ia tahu bahwa tangan kirinya juga membengkak dan agak kehijauan, dan sakit sekali kalau ditekan. Ternyata bahwa luka di pundak kiri mereka telah makin menghebat, agaknya racun telah menjalar sampai ke lengan tangan.

Mereka berpandangan, maklum akan keadaan mereka itu yang amat berbahaya. Sinar mata mereka sudah banyak menyatakan isi hati mereka dan keduanya menjadi berduka sekali. Kui Lok menarik tangan kanan Thio Bwee diajak berdiri.

“Moi-moi….” katanya dengan suara gemetar, “kita harus cepat-cepat pergi dan cepat menjumpai Supek, kalau tidak… aku khawatir tak ada waktu lagi…

Thio Bwee mengangguk dan kedua orang muda ini kembali berjalan dengan susah payah, menyelinap di antara tetumbuhan berduri, menuju ke arah air terjun ke dua. Akhirnya sampai juga mereka di tempat itu. Air selebar lima meter lebih terjun dari atas, berkilauan ditimpa sinar matahari. Biarpun air itu terjun amat dalamnya, namun suara air menimpa batu-batu di bawah terdengar dari tempat itu, malah berkumandang di empat penjuru gunung. Ketika dua orang itu menengok ke bawah, hati mereka berdebar menyaksikan betapa dalamnya lembah itu. Bagaimana mereka harus turun mendekati dasar lembah?

Setelah mencari-cari dengan pandang matanya, akhirnya Kui Lok berkata,
“Bwee-moi, terpaksa kita harus turun melalui pohon-pohon dan tetumbuhan, kita harus merayap ke bawah. Perjalanan ini amat sukarnya, dan amat berbahayanya, akan tetapi, Moi-moi, kali ini kita berjuang untuk nyawa kita.”

Thio Bwee menjenguk ke bawah lalu memandang kekasihnya sambil tersenyum pahit. “Aku mengerti, Koko. Bersamamu aku akan kuat menghadapi apa saja.”

Mendengar pernyataan ini, dengan terharu Kui Lok lalu mengusap rambut kepala Thio Bwee kemudian berbisik, “Mati hidup kita takkan berpisah lagi, adikku.” Setelah berkata demikian pemuda ini lalu mulai menuruni tebing yang amat dalam dan curam itu, diikuti oleh Thio Bwee. Baiknya. dua orang ini adalah orang-orang yang sudah terlatih semenjak kecil, tubuh mereka kuat dan ginkang mereka sudah mencapai tingkat tinggi. Andaikata mereka tidak terluka, kiranya, pekerjaan menuruni tebing sambil bergantungan atau berpegangan pada akar-akar dan pepohonan ini akan merupakan hai yang amat mudah bagi mereka. Akan tetapi keadaan mereka sekarang amat buruk. Selain tubuh lemas akibat penderitaan batin, juga tangan kiri mereka sakit dan hampir lumpuh sehingga untuk menuruni tebing hanya mengandalkan kedua kaki dan tangan kanan saja. Sedangkan tangan kiri mereka hanya dipergunakan untuk membantu belaka.

Dua jam lebih mereka merayap dan bergantungan di antara akar-akar pohon dan batu-batu, akhirnya mereka bergantungan pada pohon terakhir dan tidak bisa turun ke bawah lagi! Bagaimanapun mereka mencari-cari, tidak ada lagi tempat untuk berpegang atau berinjak, jalan ke bawah sudah putus. Ketika mereka menengok ke bawah, tampak oleh mereka air terjun itu menimpa dasar lembah dan menimbulkan uap air yang tebal. Samar-samar tampak air di bawah mereka, air yang berputaran seperti air mendidih tapi amat lebarnya seperti sebuah telaga kecil yang terjadi karena air terjun itu.

“Bagaimana, Koko?” tanya Thio Bwee terengah-engah kelelahan.

Kui Lok mengerutkan kening. “Tidak mungkin turun lagi secara tadi, Moi-moi. Kembali naik juga lebih sukar. Jalan satu-satunya kita harus berani terjun ke bawah.”

“Terjun ke air itu….?”

“Sedikit-sedikit kita dapat berenang, tak perlu takut, Bwee-moi. Mari, ikuti aku!” Dengan nekat Kui Lok lalu meloncat ke bawah dan Thio Bwee segera mengikutinya. Dua orang muda itu melayang-layang turun dari tempat yang tingginya masih ada belasan meter akan tetapi yang keadaan bawahnya tidak dapat tampak nyata karena uap air yang tebal.

“Byurr! Byurr!” Air muncrat tinggi ketika tubuh dua orang muda itu tiba di permukaan air yang luar biasa dinginnya. Akan tetapi alangkah kaget rasa hati Kui Lok dan Thio Bwee ketika mereka mendapat kenyataan bahwa air itu berputar amat kuatnya, merupakan ulekan (air berputar) besar, Tubuh mereka hanyut terseret oleh putaran itu, tenaga putaran demikian besarnya sehingga mereka tak berdaya, tak mampu berenang ke pinggir. Kui Lok maklum bahwa kalau terus-menerus begini, mereka akan celaka.

“Bwee-moi, tahan napas, menyelam terus berenang ke arah pinggir sana, ke belakang air terjun!” teriaknya dengan napas terengah-engah payah. Setelah gadis itu memberi isyarat bahwa ia telah mengerti apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya, mereka lalu menyelam dan benar saja, di bagian bawah ternyata tenaga putaran itu tidak hebat lagi dan dengan mudah mereka dapat berenang melalui air terjun. Akhirnya keduanya dapat mendarat di belakang air terjun dengan napas hampir putus dan tenaga habis. Namun, bukan main girang hati mereka karena melihat kekasih berada di sampingnya. Baru saja mereka terlepas dari bahaya maut dan Thio Bwee tak kuasa menahan air matanya, Kui Lok memeluknya dan pada saat itu hati ke dua orang muda ini makin bersatu dan rnakin teguh cinta kasih mereka.

“Bwee-moi, biarpun aku tahu kau amat lelah, akan tetapi terpaksa kita harus melanjutkan penyelidikan kita. Kita sudah sampai di tempat yang dimaksudkan.”

Keduanya berdiri dan memeriksa tempat itu. Di balik air terjun ini benar saja terdapat gua yang amat besar dan dalam. Suara air terjun bergemuruh amat hebatnya sehingga kalau mereka ingin bicara, mereka harus saling berdekatan dan bersuara keras-keras. Sambil begandeng tangan dua orangg muda ini merangkak-rangkak memasuki gua itu, kemudiari dengan berani dan nekat mereka terus maju memasuki lubang besar yang merupakan terowongan gelap. Mula-mula terowongan yang panjang dan lebar itu gelap sekali dan amat licin sehingga dua orang muda ini harus meraba-raba dan merangkak, akan tetapi setelah masuk kurang lebih dua ratus meter, mulai tampak sinar terang dari depan dan jalan tidak begitu licin lagi.

Setelah membelok tiga kali mereka tiba di sebuah ruangan di bawah tanah yang amat luas dan terang karena sinar matahari masuk dari atas kanan kiri yang terbuka. Tempat ini bersih sekali dan kelihatan beberapa buah benda berbentuk meja kursi terbuat daripada batu. Malah di sebelah depan tampak dua buah lubang berbentuk pintu. Tak salah lagi, tempat seperti ini sudah pasti didiami manusia.

Tiba-tiba terdengar suara parau. “Apa kalian mempunyai nyawa rangkap maka berani masuk ke sini?” Dua orang muda itu membelalakkan mata memandang tajam, namun mereka hanya melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu mereka roboh dengan pandang mata berkunang-kunang.Thio Bwee segera roboh pingsan, sedangkan Kui Lok sebelum pingsan masih sempat berkata perlahan, “Teecu dari Hoa-san-pai….”

Entah berapa lama mereka berdua roboh pingsan, tahu-tahu ketika ia siuman, Kui Lok mendapatkan dirinya bersama Thio Bwee sudah berada di dalam sebuah kamar batu yang kering dan berhawa hangat nyaman. Cepat ia bangun dan menolong Thio Bwee. Hatinya lega ketika mendapat kenyataan bahwa kekasihnya itu juga sudah mulai sadar. Penerangan di kamar ini suram, hanya diterangi oleh sebuah lampu sederhana di atas meja batu.

“Ah, kiranya sudah malam….” pikir Kui Lok dan ia melihat Thio Bwee bergerak hendak bangun. Dua orang ini berpandangan dan keduanya bersyukur masih dapat melihat masing-masing dalam keadaan selamat.

“Koko…. mana… mana dia?” bisik Thio Bwee.

“Tenanglah, Moi-moi. Siapa yang menempati tempat ini, tentulah orang baik-baik, buktinya kita tidak diganggu malah dibawa ke tempat ini. Lebih baik kita beristirahat dan memulihkan tenaga sambil menanti datangnya pagi.”

Dua orang muda itu yang maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi hal-hal yang hebat, mungkin hal yang amat berbahaya, segera duduk bersila dan bersamadhi untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan hati serta memulihkan tenaga yang telah terlalu banyak dikerahkan ketika mencari gua ini. Mula-mula memang sukar bagi mereka untuk bersamadhi, selalu saja timbul dalam pikiran mereka bayangan yang berkelebat tadi, dan terngiang di telinga mereka suara parau yang membentak marah. Akan tetapi karena dua orang ini adalah orang-orang gemblengan dari Hoa-san-pai, maka akhirnya dapat juga mereka menenangkan hati dan mendiamkan pikiran, duduk bersamadhi dengan tekun.

Menjelang pagi, di antara suara gemuruh air terjun, terdengar kicau burung dari luar. Kui Lok dan Thio Bwee sadar dari samadhinya dan menikmati pendengaran-pendengaran yang aneh itu. Suara air terjun, kicau burung, kokok ayam hutan, benar-benar mendatangkan ketenangan dan mendatangkan suara penuh damai dan tenteram di dalam hati. Yang mengherankan mereka, bagaimana suara-suara penghuni hutan itu dapat terdengar dari dalam kamar itu. Lama mereka masih duduk termenung, tidak merasa betapa matahari makin lama makin terang cahayanya.
Ada angin bertiup dari arah pintu dan lampu kecil itu padam. Tapi kamar ini tidak menjadi gelap karena ternyata bahwa cahaya matahari telah sampai juga ke tempat itu. Kui Lok merasa tidak enak kalau diam saja di situ, maka sambil memberanikan hatinya ia mengajak Thio Bwee untuk keluar dari kamar. Begitu keluar dari kamar mereka mendengar suara orang bicara, suaranya parau dan jelas,

“Kenapa tidak kaubunuh saja? Huh, kau sudah ingin keluar dari sini agaknya! Tua bangka bodoh!”

Mendengar ini, Kui Lok dan Thio Bwee bergidik. Namun dengan nekat mereka malah menuju ke arah suara dan di dalam sebuah ruangan batu mereka melihat seorang kakek tinggi kurus sedang duduk bersila dan menuding-nuding ke arah hidungnya sendiri sambil memaki-maki! Kakek itu rambutnya panjang sekali, dibiarkan terurai sampai ke pahanya, pakaiannya sederhana dari kain kasar berwarna putih.

“Apa kau kasihan melihat pemuda ganteng? Ataukah jatuh hati melihat gadis cantik manis? Aha, tidak semua itu, kau tergila-gila untuk sekali lagi melihat manusia ramai! Waah, tak tahu malu, tua bangka gila!”

Orang tua itu seakan-akan tidak melihat kedatangan Kui Lok dan Thio Bwee. Dua orang muda itu cepat berlutut setelah mereka memasuki ruangan dan Kui Lok segera berkata,

”Teecu berdua Kui Lok dan Thio Bwee datang menghadap Locianpwe.” Pemuda itu tidak berani menyebut supek karena selama hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Lian Ti Tojin, mana dia tahu apakah kakek ini betul supeknya itu ataukah bukan?

Tanpa menengok ke arah mereka kakek itu tiba-tiba bertanya, “Kalian masih ada hubungan apa dengan Lian Bu?”

“Beliau adalah Suhu teecu berdua….” kata Kui Lok, masih meragu apakah orang ini benar-benar tokoh aneh dari Hoa-san-pai yang selama ini merupakan iblis yang amat ditakuti oleh seluruh anggauta Hoa-san-pai.

“Jangan bohong! Lian Bu hanya lebih muda beberapa tahun dariku, sebagai Ketua Hoa-san-pai masa mempunyai murid-murid begini muda dan tidak becus apa-apa?”

“Teecu berdua… tadinya memang cucu-cucu murid, akhir-akhir ini berlatih langsung di bawah petunjuk Lian Bu Tojin suhu.”

“Tidak becus… tidak becus.., he, orang-orang muda, apakah gurumu tidak memberi tahu bahwa orang tidak boleh datang ke Im-kan-kok? Bahwa siapapun yang mendatangi tempat ini akan kubunuh mampus?” pertanyaan ini diucapkan dengan suara keren.

“Teecu memang sudah tahu… dan sekiranya Locianpwe ini benar adalah Supek Lian Ti Tojin, teecu berdua hanya mohon ampun….”

“Kalian sudah tahu tapi berani juga datang ke sini?” Sebelum Kui Lok dan Thio Bwee dapat melihat apa yang dilakukan kakek itu, tahu-tahu mereka berdua sudah terguling dan pingsan lagi!
Mereka tadi hanya melihat kakek itu menggerakkan lengan kanannya dan tahu-tahu mereka roboh tidak ingiat apa-apa.

Ketika mereka sadar kembali, kakek itu masih duduk bersila seperti tadi dan Kui Lok segera menolong Thio Bwee. Keadaan mereka makin payah karena selain terluka pundak mereka dan dua kali dipukul roboh, juga semenjak kemarin perut mereka kosong sama sekali. Kui Lok girang bahwa Thio Bwee juga segera sadar kembali dan agaknya pukulan jarak jauh dari kakek itu hanya membuat mereka roboh dan pingsan saja, tapi tidak teluka hebat. Kedua orang muda ini heran mengapa kakek itu tidak membunuh mereka.

“Anak murid Hoa-san-pai sampai terluka oleh Jing-tok-ciang (Racun Hijau)…, hemmm, memalukan sekali….!” Kakek itu berkali-kali mengucapkan kata-kata ini seorang diri, sedikit pun tidak menoleh ke arah dua orang muda itu. Mendengar ini, timbul harapan dalam hati Kui Lok. Serta-merta ia berlutut di depan kakek itu dan berkata, “Teecu berdua datang menghadap Supek untuk memohon pertolongan Supek…. Hoa-san-pai terancam bahaya kemusnahan. Supek harap maklum bahwa Suhu telah tewas terbunuh orang….”

“Hemmm, tidak dulu-dulu terbunuh orang sudah amat mengherankan. Sebodoh dia menjadi ketua, hemmm….”

Bingung dan mendongkol juga hati Kui Lok melihat sikap orang yang menjadi supeknya ini. Benar-benar berwatak aneh dan luar biasa.

“Supek, tidak saja Suhu telah tewas, akan tetapi musuh besar itu juga menewaskan sepuluh orang suheng….”

“Gurunya tolol mana murid-muridnya tidak goblok? Mampus karena ketidak becusan sendiri, untuk apa kauceritakan kepadaku?” kakek itu memotong tanpa menoleh kepada Kui Lok.
“Supek, musuh itu masih merampas pedang pusaka Hoa-san-pai dan sekarang malah menduduki Hoa-san-pai dan mengangkat diri sendiri sebagai ketua!”

Untuk sejenak kakek itu diam tak bergerak tak bersuara seakan-akan kaget juga dan berpikir akan tetapi segera ia mengangguk-angguk dan berkata, “Biar, lebih baik begitu! Biarpun murid Hoa-san-pai sendiri yang menjadi ketua kalau tidak becus macam Lian Bu, untuk apa?

“Biarlah dipegang orang lain, tentu lebih lihai dari Lian Bu dan lebih bijaksana!”

Kui Lok tercengang dan habis akal. Thio Bwee semenjak tadi diam saja akan tetapi hatinya panas bukan main.

“Sudahlah, Suheng, untuk apa bicara lagi kepada seorang murid Hoa-san-pai yang tidak berbudi ?  Didengar kata-katanya apa sih bedanya dia dengan iblis betina Kwa Hong yang telah merampas kedudukan Suhu? Keduanya sama-sama murid Hoa-san-pai yang murtad dan khianat!”

Tiba-tiba kakek itu menoleh ke arah mereka dan dua orang muda itu hampir mengeluarkan suara jeritan saking kaget dan ngerinya. Muka kakek itu bukan muka manusia lagi, akan tetapi muka tengkorak! Muka itu sama sekali tidak ada dagingnya, hanya tulang tengkorak terbungkus kulit kering, mulutnya terbuka kosong, lubang hidungnya menjadi satu dan sepasang matanya bersembunyi amat dalam sehingga sepintas lalu seakan-akan kedua lubang matanya itu kosong saja!

“Apa kaubilang?” tanyanya dan sepasang biji mata yang bersembunyi dalam-dalam di kepala itu mengintai kepada Thio Bwee amat tajam menakutkan.

“Oh…. tidak… tidak….” Thio Bwee memalangkan lengan kanan di depan muka sambil mundur-mundur ketakutan.

Mulut yang ompong kosong itu terbuka lebar mengeluarkan suara ketawa yang menyeramkan, kemudian disambung kata-katanya dengan suara keren, “Bocah, coba katakan lagi. Betulkah yang menewaskan Lian Bu dan yang merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai adalah seorang murid Hoa-san-pai sendiri?”

Karena Thio Bwee masih belum dapat menguasai dirinya, Kui Lok cepat berkata, “Betul sekali, Supek. Orang itu malah seorang gadis muda dan masih terhitung saudara seperguruan teecu berdua. Akan tetapi dia telah murtad, menikah dengan seorang ahli racun hijau bernama Koai Atong kemudian bersama suaminya itu mengacau Hoa-san-pai dan merampas kedudukan ketua.” Kemudian secara singkat namun jelas Kui Lok menceritakan kejadian hebat yang menimpa Hoa-san-pai.

“Ha-ha, aku mau lihat! Mau lihat macam apa bocah yang berani menyaingi Lian Ti Tojin dalam hal pengkhianatan terhadap partai itu, Apakan dia selihai aku? Ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu ia telah meloncat sampai ke pintu ruangan. Sekarang tampak oleh Kui Lok dan Thio Bwee betapa tubuh kakek itu pun hampir sama dengan keadaan mukanya, kurus kering seperti rangka hidup! Sesampainya di situ tiba-tiba ia berhenti dan berkata seorang diri,

“Tidak bisa… tidak bisa… kalau aku pergi harus ada yang menggantikan aku di sini. Ha, benar juga. Kalian berdua harus menggantikan aku di Im-kan-kok sini, seharusnya sampai empat puluh tahun. Akan tetapi karena kalian berdua, maka hukuman buat kalian hanya dua puluh tahun seorang. Sebelum dua puluh tahun tak boleh keluar dari sini, Bersumpahlah!”

Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang. Thio Bwee nampak ragu-ragu. Bagaimana mungkin mereka harus berdiam di situ selama dua puluh tahun? Akan tetapi Kui Lok segera berkata,

“Bwee-moi, kita sudah terluka parah. Agaknya biarpun kuat keluar dari tempat ini, belum tentu bisa hidup lebih lanjut. Lian Ti supek, teecu berdua sanggup tinggal di sini sampai dua puluh tahun asal saja Supek suka pergi ke Hoa-san-pai dan menyelamatkan partai daripada cengkeraman siluman betina Kwa Hong.”

“Bersumpahlah!”

Tanpa ragu-ragu lagi Kui Lok dan Thio Bwee bersumpah takkan meninggalkan tempat itu sebelum dua puluh tahun! Mendengar sumpah ini, kakek itu tertawa terbahak-bahak. “Ha-ha-ha-ha, senang hatiku. Ada dua orang sekarang yang akan dapat merasakan betapa hebat penderitaanku di sini selama empat puluh tahun lebih, ini. Ha-ha-ha!”

Diam-diam Kui Lok merasa gemas juga. Kiranya supeknya ini pun bukan orang baik-baik, yang merasa girang melihat orang lain menderita. Saking gemasnya ia berkata untuk mengecewakan hati kakek itu, “Supek keliru sangka. Teecu berdua sudah terluka hebat oleh racun Jing-tok, kiranya takkan lama hidup di dunia ini dan tidak akan lama merasai penderitaan seperti yang Supek rasakan!”

“Uh-uh, goblok! Kaukira aku sebodoh kau dan gurumu? Sebelum aku pergi kalian sudah akan sembuh. Hayo kalian pelajari ini dan ikuti perbuatanku!” Setelah berkata demikian kakek itu berjungkir balik, kedua kakinya ke atas dan kepalanya di bawah di atas tanah, dengan jungkir balik ini ia “berdiri” di atas kepalanya dengan tubuh lurus.

Kui Lok dan Thio Bwee tidak berani membantah, apalagi mereka dapat menangkap maksud kakek itu yang hendak menyembuhkan mereka. Keduanya segera berjungkir balik dan menggunakan kepandaian untuk “berdiri” di atas kepala dengan tubuh lurus-lurus.

“Lihat baik-baik, tiru gerakan kedua tanganku, terutama gerakan tangan kiri!” Kakek itu dengan perlahan lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti orang bersilat. “Salurkan hawa Thai-yang dari pusar ke dada, tekan dengan kekuatan dalam supaya berputar tiga belas kali di dada lalu kerahkan tenaga ke pundak yang terluka terus ke sepanjang lengan kiri sambil pukulkan begini!” Kakek itu bergerak-gerak dan memberi petunjuk yang dituruti oleh dua orang itu dengan taat. Pelajaran ini ada hubungannya dengan ilmu silat Hoa-san-pai, maka sebagai anak murid Hoa-san-pai yang sudah tinggi ilmunya tentu saja mereka dapat melakukan semua petunjuk itu dengan baik dan tepat.

Tiba-tiba Kui Lok dan Thio Bwee berseru girang karena dari pundak mereka mengucur darah kental hijau, tanda bahwa racun yang berada di tubuh mereka mulai mengucur keluar. Makin giat mereka melakukan gerakan itu dan terus-menerus darah kehijauan mengalir keluar dari pundak mereka. Saking gembira hati mereka melihat hasil pengobatan ini, mereka sampai lupa tidak memperhatikan lagi kepada kakek yang tadi memberi petunjuk kepada mereka dan yang sekarang sudah tidak terdengar suaranya lagi. Ketika mereka kelelahan dan beristirahat, barulah ternyata oleh mereka bahwa kakek itu telah lenyap darl situ!

Kedua orang muda itu saling pandang. Darah kehijauan membasahi lantai. Dalam pertemuan pandang mata ini jalan pikiran mereka sama. Mereka maklum bahwa kakek itu sudah keluar dan mereka sudah bersumpah untuk tidak keluar dari tempat itu selama dua puluh tahun! Mulut tidak bicara akan tetapi sinar mata mereka bicara banyak dan tak tertahankan lagi Thio Bwee menubruk Kui Lok sambii menangis tersedu-sedu. Untuk sesaat Kui Lok memeluknya dan membiarkan kekasihnya itu menuangkan kedukaan hatinya melalui air matanya, kemudian sambil mengelus-elus kepala Thio Bwee, ia berkata,

“Lapangkan hatimu, Moi-moi. Asal kita masih selalu berdampingan, kiranya kita tidak perlu takut atau berduka. Andaikata tidak akan terjadi, perubahan dalam kehidupan kita dan harus berada di sini sampai dua puluh tahun, apa boleh buat, hitung-hitung kita berkorban untuk Hoa-san-pai! Sekarang yang penting kita harus memeriksa tempat ini, kalau Supek sampai bisa hidup di sini selama empat puluh tahun tentu di sini cukup bahan makanan dan kebutuhan hidup. Sementara itu, kita betul-betul sehat dan terhindar dari bahaya keracunan.”

Lambat laun Thio Bwee terhibur juga, apalagi karena apabila mereka keluar dari gua, pemandangan di sekitar air terjun benar-benar hebat dan indah bukan main, lagipula banyak terdapat buah-buahan dan binatang-binatang yang akan menjadi makanan mereka. Yang paling menggembirakan hati adalah ketika di sebuah ruangan di bawah tanah, mereka melihat betapa dinding ruangan itu penuh dengan ukir-ukiran yang berupa huruf-huruf dan gambar-gambar. Inilah pelajaran ilmu silat yang selama ini diciptakan oleh supek mereka di tempat itu Ilmu silat aneh yang bersumber kepada ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli, jauh lebih hebat daripada ilmu silat yang pernah mereka pelajari di Hoa-san-pai.

Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang saling mencinta dan yang terpaksa hidup sebagai suami isteri di Lembah Akhirat itu. Hidup seperti Adam dan Hawa di Taman Firdaus! Jauh dari dunia ramai berteman bunga-bunga, buah-buahan dan binatang-binatang hutan.
Ramai sekali di Puncak Hoa-san-pai pada pagi hari itu, tanda bahwa tentu telah terjadi hal-hal luar biasa. Memang sudah sering kali, hampir setiap hari di Puncak Hoa-san terjadi hal-hal aneh semenjak Kwa Hong menjadi Ketua Hoa-san-pai. Hampir setiap hari ada saja tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi sahabat baik mendiang Lian Bu Tojin naik ke puncak, tidak saja mengabarkan tentang kematian kakek itu, juga untuk menyaksikan sendiri kekacauan Hoa-san-pai karena merasa penasaran. Dan hebatnya, setiap kali ada tokoh persilatan naik ke puncak, sebagian besar daripada mereka ini tidak bisa turun lagi karena mereka itu binasa di bawah tangan Kwa Hong, Koai Atong, atau rajawali emas!

Pagi hari ini Beng Tek Cu, tosu dari Bu-tong-pai yang semenjak dahulu menjadi sahabat baik Lian Bu Tojin bersama empat orang adik seperguruannya, naik ke Puncak Hoa-san-pai. Perlu diketahui bahwa Beng Tek Cu ini adalah tokoh Bu-tong-pai yang dahulu di waktu Hoa-san-pai bermusuhan dengan Kun-lun-pai, tosu ini berpihak kepada Lian Bu Tojin. Oleh karena itu, tidak heranlah apabila tosu tua ini sengaja mendaki Puncak Hoa-san-pai ketika ia mendengar berita mengejutkan bahwa Lian Bu Tojin tewas oleh seorang cucu muridnya sendiri yang sekarang telah menduduki kursi ketua di Hoa-san-pai! Beng Tek Cu ini orangnya tinggi besar dan gagah, biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih namun masih tampak kuat dan bersemangat, wataknya sejak muda galak dan jujur dan ilmu pedangnya sudah terkenal di empat penjuru dunia persilatan. Empat orang sutenya juga bukan tokoh-tokoh rendah, melainkan jago-jago Bu-tong-pai yang sudah menguasai ilmu silat dan Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat.

Bukan main rnarah dan herannya hati Beng Tek Cu ketika ia mendengar bahwa sahabat baiknya Lian Bu Tojin, tewas oleh muridnya sendiri. la sudah mengenal Kwa Hong, malah semua murid Hoa-san-pai sudah dikenal oleh tosu Bu-tong-pai ini. Maka dengan amarah meluap-luap dan juga terheran-heran ia segera membawa adik-adik seperguruannya untuk “membereskan” kerusuhan di Hoa-san-pai.

Baru saja memasuki wilayah Hoa-san-pai di kaki Hoa-san itu ia dan adik-adiknya sudah melihat perubahan hebat yang terjadi pada partai persilatan besar di puncak itu. Para tosu anggauta Hoa-san-pai tidak ada yang menyambut dengan penuh penghormatan dan ramah-tamah seperti dulu lagi. Malah di sana-sini terdapat tosu-tosu yang segera menyelinap pergi dan memandang penuh curiga ketika lima orang tosu Bu-tong-pai ini naik ke gunung itu. Telinga mereka yang terlatih sudah mendengar di sebelah atas orang-orang berteriak sambung-menyambung ke atas, melaporkan kedatangan mereka, begini,

“Beng Tek Cu dan empat orang sutenya dari Bu-tong-pai hendak menghadap Nio-nio (Dewi)….!!”

Beng Tek Cu mendongkol sekali, apa-lagi mendengar sebutan Nio-nio itu. Hemm, bukan main sombongnya. Apakah Kwa Hong gadis muda itu yang kini mengangkat diri menjadi ketua dan disebut Dewi? Kedatangannya sudah diketahui, tuan rumah atau nyonya rumah tentu sudah mengadakan persiapan. Entah sambutan apa yang akan ia terima. Beng Tek Cu mengajak adik-adiknya mempercepat perjalanan ke puncak.

Setelah mereka makin tinggi mendaki, di kanan kiri jalan makin sering mereka melihat tosu-tosu Hoa-san-pai melakukan penjagaan, tidak seperti dulu dengan ramah-tamah dan hormat menyambut kedatangan para tamu, melainkan dengan cara bersembunyi-sembunyi. Akan tetapi tak dapat mereka menahan kemarahan hati mereka ketika sampai di lereng terakhir bawah puncak, mereka melihat kuburan-kuburan baru berderet-deret, tidak kurang dari dua puluh jumlahnya. Di depan kuburan itu terdapat bong-pai (batu nisan) sederhana dan kasar yang ditulisi nama-nama yang dikubur. Lima orang tosu Bu-tong-pai ini sudah mendengar akan korban-korban yang jatuh semenjak Hoa-san-pai dipegang oleh Kwa Hong, yaitu mereka yang datang karena tidak senang dan hendak membela mendiang Lian Bu Tojin. Jadi dengan maksud yang sama dengan maksud mereka sekarang. Agaknya sengaja korban itu dikubur di pinggir jalan naik ke puncak agar semua pendatang melihatnya! Alangkah sombongnya!

“Kwa Hong murid durhaka! Kejahatanmu sudah melampaui takaran, pinto datang untuk mengakhiri keganasanmu!” Beng Tek Cu berteriak dengan pengerahan khi-kangnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema sampai ke puncak gunung.

Belum lenyap gema suaranya yang keras itu, dari puncak gunung tampak bayangan seorang tinggi besar berlari-lari cepat turun ke arah mereka. Para tosu Hoa-san-pai yang tadinya bersembunyi di kanan kiri jalan, sekarang juga muncul dengan pedang di tangan dan dengan sikap siap untuk mengeroyok. Akan tetapi Beng Tek Cu dan kawan-kawannya berdiri dengan tenang, sama sekali tidak gentar terhadap munculnya para tosu Hoa-san-pai itu. Mereka menujukan pandangan mata mereka kepada orang tinggi besar yang berlari turun seperti terbang cepatnya itu. Diam-diam Beng Tek Cu kaget dan kagum menyaksikan gin-kang orang itu. demikian hebatnya sehingga gerakannya seperti burung terbang saja, kedua kaki seakan-akan tidak menyentuh tanah dan kedua lengan yang panjang itu dikembangkan ke kanan kiri dan digerakkan seperti gerakan sayap burung!

Orang itu bukan lain adalah Koai Atong! Bocah tua ini marah sekali mendengar orang memaki-maki Kwa Hong. Maka cepat ia menyambut musuh-musuh baru ini. Di lain pihak, Beng Tek Cu dan teman-temannya yang belum pernah melihat Koai Atong, merasa heran dan juga geli setelah Koai Atong datang dekat. Mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar setengah tua yang pakaiannya berkembang-kembang dari topi sampai sepatunya pun berkembang, gerak-geriknya seperti anak kecil dan lebih pantas kalau orang itu dimasukkan golongan orang gila. Melihat keadaan orang ini, dapatlah Beng Tek Cu dan kawan-kawannya menduga bahwa mereka berhadapan dengan Koai Atong, tokoh aneh di dunia kang-ouw yang sekarang kabarnya menjadi menjadi suami Kwa Hong! Kalau gadis murid Hoa-san-pai yang cantik jelita itu tidak menjadi gila otaknya, mana mungkin sudi menjadi isteri orang macam ini?

Sementara itu, setelah berhadapan dan melihat bahwa yang memaki-maki “isterinya” adalah lima orang tosu yang tidak dikenalnya, Koai Atong menuding dan membentak,

“Tosu-tosu bau dari mana berani mampus, datang-datang memaki Enci Hong!”

“Sobat yang baru datang ini apakah bukan Koai Atong?” tanya Beng Tek Cu karena masih ragu-ragu apakah betul Koai Atong yang terkenal itu hanya seperti orang gila ini.

Koai Atong membelalakkan kedua matanya yang sudah lebar itu. “Eh?? Kau tahu namaku? Siapakah kau tosu yang sudah kenal namaku?”

“Pinto Beng Tek Cu dari Bu-tong-pai dan mereka ini adalah sute-suteku. Koai Atong, pinto mendengar bahwa kau dan Kwa Hong murid murtad dari Hoa-san-pai itu telah membunuh Lian Bu Totiang, membunuh tosu-tosu Hoa-san-pai dan banyak orang-orang gagah yang datang ke sini, kemudian malah merampas kedudukan Ketua Hoa-san-pai. Benarkah semua pengacauan ini? Koai Atong, kau sebagai murid seorang sakti seperti Giam Kong Hwesio, kenapa menjadi tersesat sampai begini jauh?”

Menghadapi ucapan ini dan melihat pandang mata Beng Tek Cu yang tajam berpengaruh, Koai Atong menjadi jerih juga. la menundukkan muka dan tidak dapat menjawab, seperti anak kecil dimarahi ayahnya! Pada saat itu, terdengar suara melengking tinggi, datangnya dari udara dan amat nyaring menyakitkan anak telinga.

“Beng Tek Cu! Kau dan sute-sutemu pergilah dari sini, jangan mencampuri urusan Hoa-san-pai!” Jelas bahwa itu adalah suara wanita yang merdu tapi nyaring dan melengking tinggi. Beng Tek Cu dapat menduga bahwa suara itu tentulah suara Kwa Hong, akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana suara itu datangnya dari atas!

“Kwa Hong murid murtad, pinto datang untuk mengakhiri riwayatmu yang busuk!” teriak Beng Tek Cu.

“Koai Atong, tolol! Orang memaki aku, kenapa diam saja? Serang dan bunuh mereka semua, tosu-tosu bau ini!” Suara Kwa Hong terdengar lagi dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan pekik melengking seperti burung dan tahu-tahu ia telah menggerakkan kedua lengannya yang panjang untuk menyerang kalang-kabut kepada lima orang tosu itu. Beng Tek Cu dan sute-sutenya cepat mengelak, akan tetapi tetap saja dua orang tosu Bu-tong-pai itu terkena pukulan yang amat aneh gerakannya sehingga mereka roboh terguling! Beng Tek Cu marah dan juga heran bukan main. Sute-sutenya itu terhitung murid-murid Bu-tong-pai tingkat dua, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga Iwee-kang yang sudah kuat sekali. Akan tetapi bagaimana begitu mudah roboh hanya oleh sekali serangan Koai Atong ini? la sendiri ketika mengelak tadi sengaja mengebutkan lengan baju untuk menahan pukulan, akan tetapi lengan bajunya terpukul membalik dan ujungnya sudah hancur.

“Koai Atong, kau menjadi antek siluman betina jahat. Patut dibasmi lebih dulu!” Beng Tek Cu membentak sambil mencabut pedangnya. Dua orang sutenya yang tadi roboh oleh pukulan Koai Atong, juga sudah bangun kembali dan seperti yang lain-lain, dengan marah mereka pun mencabut pedang. Baiknya dalam gebrakan pertama tadi Koai Atong hanya menggunakan gaya serangan rajawali emas tanpa mempergunakan hawa pukulan Jing-tok-ciang, maka dua orang tosu yang terpukul roboh tidak mengalami luka hebat. Sekarang lima orang tosu itu dengan pedang di tangan mengurung Koai Atong. Orang tinggi besar ini nampak kebingungan. Memang bertempur bagi Koai Atong merupakan permainan yang menyenangkan, maka ia tertawa-tawa ha-ha-hi-hi sambil berputaran perlahan dan melirik-lirik lima orang lawannya, kedua kakinya berjungkit, kedua lengan dikembangkan dan bergerak-gerak seperti sayap burung hendak terbang, sikapnya lucu sekali tapi juga aneh dan membuat lima orang tosu Bu-tong-pai itu berhati-hati sekali tidak segera menyerang.
Beng Tek Cu memberi tanda isyarat kepada adik-adiknya dan lima orang tosu ini secara otomatis lalu mengambil kedudukan masing-masing dan membentuk barisan Bu-tong Ngo-heng-tin. Dengan teratur dan otomatis kelimanya lalu bergerak melangkah maju mengitari Koai Atong, tanpa menyerang akan tetapi sikap dan kedudukan mereka sering berubah-ubah, kelihatan indah sekali seperti gerakan tarian yang teratur. Pedang mereka berkelebatan berpindah-pindah pasangan kuda-kuda, ke mana pun mereka melangkah, mata mereka mengincar ke arah Koai Atong.

Biarpun pada umumnya Koai Atong amat bodoh dan sederhana pikirannya seperti kanak-kanak, namun dalam hal ilmu silat ia telah berpengalaman banyak. Selama mengikuti suhunya dahulu, ia telah merantau dari dunia barat sampai ke lautan timur, entah sudah berapa ratus kali pertempuran ia alami. Tentu saja melihat Bu-tong Ngo-heng-tin ini, ia segera maklum bahwa ia menghadapi barisan yang amat tangguh dan berbahaya. Sama sekali ia tidak gentar, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa ia merasa bingung juga. la dan Kwa Hong hanya meniru gerakan-gerakan rajawali emas dalam menghadapi lawan seorang, belum pernah melihat bagaimana gerakan burung sakti itu kalau menghadapi keroyokan seperti sekarang ini. Maka sudah tentu saja ia takkan dapat mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari rajawali emas dan terpaksa menggunakan kepandaiannya sendiri, terutama sekali Jing-tok-ciang.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: