Rajawali Emas (Jilid ke-8)

“Heh-heh, galaknya tapi malah lebih manis!” Giam Kim mengejek. “Kau perempuan tak tahu disayang orang! Aku ingin membikin kau bahagia dan ingin mencintamu selamanya. Kiranya kau seorang yang tidak punya jantung. Baiklah, aku akan menjadikan kau barang permainanku, kalau sudah bosan akan kulempar ke jurang biar menjadi makanan serigala!”

Lee Giok tidak sudi mendengarkan lagi, terus saja ia menerjang dengan kaki tangannya, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membunuh manusia yang dibencinya ini, yang telah merusak hidupnya. Namun, seperti beberapa kali yang sudah-sudah, kali ini pun ia tidak berhasil mengalahkan Giam Kin yang memang amat lihai itu. Ia malah dipermainkan oleh Giam Kin yang mengelak ke sana ke mari, berloncatan sambil mengejek dan menggoda. Ia ingin membuat Lee Giok kelelahan lebih dulu untuk kemudian ditawan lagi dan dipermainkan. Memang pada dasarnya hati Giam Kin memiliki kekejaman yang luar biasa, sudah bukan seperti manusia lagi. Hal ini tidak aneh kalau dipikir bahwa dia adalah murid tunggal dari manusia iblis Siauw-ong-kwi dan semenjak kecil sudah banyak melakukan kekejaman-kekejaman.

Tubuh Lee Giok masih amat lesu, maka dipermainkan oleh Giam Kin ia menjadi makin payah dan lemas. Namun dengan nekat nyonya muda ini menyerang terus mati-matian dengan tekad membunuh atau mati dalam pertempuran ini.

Tiba-tiba terdengar suara aneh di atas, suara melengking yang amat nyaring menggetarkan jantung. Kemudian dari puncak pohon raksasa di bawah mana dua orang itu sedang bertempur, melayang turun seekor burung raksasa yang …. berbulu kuning emas. Di punggung burung itu duduk seorang wanita muda cantik yang sinar matanya tajam dan liar. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk berekor lima di mana terikat lima batang anak panah hijau. Di punggungnya tergantung sebuah pedang pusaka. Inilah Kwa Hong yang menunggang burung rajawali emas yang sakti itu.

“Hi-hi-hik, Giam Kin, kebetulan sekali! Tak usah aku mencarimu kau sekarang mengantar nyawa kepadaku!” kata Kwa Hong ketika ia mengenal isteri dari suhengnya, Thio Ki. Akan tetapi ia tidak menegur Lee Giok yang tadi amat terdesak hebat oleh Giam Kin itu. Sinar kuning emas menyambar turun dan burung itu telah menerkam ke arah kepala Giam Kin.

Bukan main kagetnya Giam Kin melihat penyerangan ini. Cepat ia melompat mundur dan membentak, “Siapa kau?”

Bergidik juga ia melihat wanita cantik menunggang burung rajawali yang bermata liar itu, sementara itu Lee Giok segera mengenal Kwa Hong. Ia girang mendapat bala bantuan, akan tetapi juga heran dan kaget sekali menyaksikan keadaan Kwa Hong yang tidak wajar ini.

“Adik Hong….!” serunya.

Burung itu masih beterbangan berputar-putar di atas mereka. Kwa Hong berkata dengan suara mengejek,

“Lee Giok, tidak lekas lari menanti apalagi? Apa kau mengharapkan tertawan oleh lawanmu yang tampan ini? Heh-heh-heh, kau mau main gila di belakang suamimu, ya?”

Kalau ada halilintar menyambar kepalanya, kiranya Lee Giok takkan begitu kaget seperti ketika ia mendengar ejekan ini. Sejenak ia memandang dengan mata terbelalak kepada Kwa Hong yang duduk di punggung burung. Lalu terlihat olehnya, sepasang mata yang mengerikan itu. Lee Giok tertusuk hatinya, sambil terisak-isak ia lalu lari pergi dari situ, diikuti suara ketawa yang mengerikan dari Kwa Hong. Dasar watak Giam Kin mata keranjang dan keji. Melihat nona cantik jelita di punggung burung itu, ia segera tertarik sekali hatinya. Ia sudah mengenal sekarang wanita muda yang duduk di punggung burung itu. Kwa Hong murid Hoa-san-pai yang cantik itu, yang dulu pernah membuat ia tergila-gila juga (baca Raja Pedang). Karena dia sendiri seorang berwatak keji, maka sinar ganas dan liar pada sepasang mata Kwa Hong itu baginya malah mendatangkan perasaan menyenangkan, malah menjadikan Kwa Hong makin manis dalam pandang matanya. Pula ia memandang rendah kepada Kwa Hong, karena murid Hoa-san-pai saja sampai di mana sih kelihaiannya?

“Aha, kukira tadi siapa. Tidak tahunya adik manis dari Hoa-san-pai. Turunlah Nona manis dan mari bersenang-senang dengan aku. Boleh aku membonceng di punggung burungmu yang indah itu?”

Tiba-tiba sinar hijau menyambar, sebagai jawaban. Giam Kin tertawa mengejek akan tetapi segera ketawanya berubah seruan kaget ketika lima batang anak panah itu menyambar kepadanya dengan kecepatan yang amat luar biasa, seperti kilat menyambar, Ia menjatuhkan diri di atas tanah dan hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan dirinya.

Celaka baginya, wanita yang duduk di punggung rajawali emas itu lihai bukan main. Burungnya menyambar-nyambar rendah dan anak panah-anak panah di ujung cambuk itu terus menyambar-nyambar dengan pukulan dahsyat sekali. Giam Kin mencabut suling ularnya dan berusaha menangkis, akan tetapi baru dua kali menangkis saja sulingnya itu terlepas dari tangannya dan mencelat entah ke mana. Demikian hebatnya tenaga pukulan Kwa Hong sampai-sampai dia sendiri tidak mampu menangkisnya. Mulailah pengejaran yang mengerikan. Giam Kin lari ke sana ke mari, namun burung itu terus mengejar dan sinar hijau bersuitan di atas kepalanya. Giam Kin menjadi pucat sekali, keringat dingin bercucuran keluar. Ia menjatuhkan diri, bergulingan, tapi ke manapun juga ia selalu dikejar sinar hijau itu yang diikuti suara ketawa. Baru sekarang telinga Giam Kin mendengar suara ketawa yang mengerikan sekali, tidak semerdu tadi.

“Mampus kau….. hi-hi-hik, mampus kau…!”

Akibatnya Giam Kin yang belum sekali juga terkena anak panah itu, menjadi lemas saking lelah dan ketakutan. Gerakannya lambat dan tiba-tiba sepasang cakar burung yang kuat sekali mencengkeram tubuhnya bagian dada dan kepala. Terdengar suara daging dan kulit dirobek-robek diiringi suara ketawa melengking tinggi dari Kwa Hong. Beberapa kali Giam Kin mengeluarkan pekik kesakitan dan ketakutan, kemudian hening kembali di situ.

Ketika burung rajawali yang ditunggangi Kwa Hong itu terbang lagi ke atas, di bawah pohon raksasa itu tertinggal tubuh Giam Kin yang tak bergerak dan dalam keadaan mengerikan sekali. Pakaiannya robek-robek, dan penuh darah yang bercucuran dari dada dan mukanya yang juga sudah terobek-robek oleh cakar cakar tajam tadi. Matanya sebelah kiri hancur, telinga kirinya juga lenyap, mulutnya robek lebar, dadanya terbeset kulitnya dan lengan kirinya dicengkeram sedemikian rupa oleh cakar rajawali sehingga semua urat-urat besarnya terputus dan lengan itu kiri kaku dengan jari-jari mencengkeram saking menahan sakit. Matikah Giam Kin? Pada saat itu masih belum, karena terdengar rintihan perlahan dari dadanya. Tapi kalau orang menyaksikan keadaannya, tentu takkan dapat mengharapkan dia dapat hidup lagi. Sementara itu, Lee Giok terus berlari cepat sambil menangis terisak-isak. Ia telah terlepas dari cengkeraman tangan Giam Kin. Akan tetapi apa gunanya? Lebih baik ia mati saja. Mana mungkin ia dapat menentang wajah suaminya lagi. Lebih baik dia mati daripada menanggung aib yang hebat. Lebih baik ia terjun ke dalam jurang yang curam. Akan tetapi, apa pula artinya kalau ia mati tanpa ada yang mengetahuinya kelak? Tetap saja ia akan mati dalam keadaan menanggung malu. Lebih baik dia ke Hoa-san dan mati di sana agar suaminya kelak tahu bahwa ia telah menebus aib itu dengan nyawanya. Di Hoa-san ia harus mati, agar suaminya tahu bahwa sampai detik terakhir ia masih teringat kepada suaminya, masih ingin mendekatinya biarpun hanya dengan maksud mendekatkan arwahnya dengan Hoa-san! Selain itu, alangkah akan besar dosanya kalau ia mati membawa anak dalam kandungannya. Bukankah jtu berarti ia akan membunuh anak itu?, Anaknya? Anak suaminya? Tidak, ia harus menanti, biarpun hatinya akan remuk-remuk. Harus menanti sampai anak dalam kandungannya yang sudah tiga bulan itu lahir.

Lee Giok berlari terus sampai akhirnya tubuhnya terguling menggeletak di tengah hutan saking tidak kuat lagi, saking lelahnya. Sambil merintih-rintih ia merangkak ke bawah pohon yang bersih, lalu membaringkan tubuh dan pikirannya melayang-layang. Hidupnya rusak oleh Giam Kin. Yang menjadi biang keladi adalah Kim-thouw Thian-li dan Hek-hwa Kui-bo. Semangatnya sebagai seorang gagah dalam diri Lee Giok bangkit ketika ia mengingat akan tiga orang ini. Akan sia-sia belaka kalau ia mati sebelum ia mampu membalas, sebelum ia mampu melenyapkan tiga manusia iblis itu dari permukaan bumi. Kepandaiannya memang masih belum begitu tinggi untuk mengalahkan mereka, akan tetapi ia dapat memperdalam kepandaiannya.

Setelah tidur semalam di hutan itu, pada keesokan harinya Lee Giok melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sudah mengambil dua buah keputusan, yaitu sebelum ia membunuh diri untuk mencuci noda pada dirinya, ia harus lebih dulu melahirkan anak dalam kandungannya, kemudian tugasnya yang kedua ialah membunuh tiga orang musuh besarnya itu! Ia tidak boleh mati sekarang, ia malah harus kuat dan harus dapat memperdalam ilmunya. Pikiran inilah yang menyelamatkan nyawa Lee Giok dan dengan hati teguh nyonya muda ini melanjutkan perjalanannya menuju Hoa-san.

Gunung Min-san berada di tapal batas antara Propinsi Se-cuan, Cing-hai, dan Kan-su. Gunung ini amat indah pemandangannya dan merupakan pegunungan yang subur. Sungai-sungai besar yang amat terkenal seperti Sungai Kuning dan Sungai Yang-ce-kiang, boleh dibilang mendapatkan sumber mata airnya dari Pegunungan Min-san ini, sungguhpun masih banyak pegunungan lain yang menjadi sumbernya pula.

Di antara puncak-puncak Pegunungan Min-san inilah menjadi tempat tinggal Song-bun-kwi Kwee Lun yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Song-bun-kwi. Ia dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) karena selalu memakai pakaian putih berkabung semenjak isterinya meninggal dan ia hidup merantau dengan puteri tunggalnya, Kwee Bi Goat.

Setelah sekarang Kwee Bi Goat menikah dengan Tan Beng San dan hidup bahagia di Min-san, Kwee Lun ini tidak patut lagi dijuluki Song-bun-kwi karena ia tidak lagi berpakaian berkabung, juga tidak lagi hidup seperti yang sudah-sudah, yaitu seperti manusia iblis yang ditakuti orang. Kakek ini sekarang hidup tenang dan tenteram di Pegunungan Min-san ini, malah setiap hari bertani atau samadhi memperdalam ilmu batinnya.

Adapun Kwee Bi Goat yang dahulunya gagu (baca cerita Raja Pedang), tapi sekarang telah sembuh, menjadi isteri yang cantik jelita dan penuh kasih sayang bagi Beng San. Suami isteri ini bersama Kakek Kwee hidup aman dan damai di Min-san. Namun, nasib manusia memang tidak menentu seperti air laut, kadang-kadang surut. Baru beberapa bulan saja mereka hidup penuh madu kasih dan kebahagiaan di Min-san, datanglah seorang tosu dari Hoa-San-pai yang minta bantuan Beng San untuk menolong Hoa-san-pai yang sedang ditimpa malapetaka karena pengamukan Kwa Hong. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Beng San yang mengingat akan hubungannya dengan Hoa-san-pai dahulu, terpaksa pergi meninggalkan isterinya yang tercinta yang diakhiri dengan kehancuran hatinya se hingga membuat ia tidak berani pulang dan tidak berani bertemu muka dengan isterinya!

Berbulan-bulan Bi Goat menanti kembalinya suaminya dengan hati penuh rindu dan kekuatiran. Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi hatinya yang penuh rasa kegelisahan. Ia takut kalau-kalau suaminya tertimpa bencana karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ada kabar beritanya dan juga tidak kelihatan pulang. Bi Goat lalu minta pertolongan ayahnya untuk pergi menyusul Beng San ke Hoa-san dan mencarinya sampai dapat.

“Hemmm, baru ditinggal beberapa bulan saja kau sudah rewel!” Kwee Lun mengomel. “Sudah lama aku tidak meninggalkan gunung, kalau turun gunung kutakut akan kumat penyakitku yang lama!” Kakek yang dulu dijuluki setan berkabung itu mula-mula menolak permintaan puterinya. Ia sudah mulai senang dengan hidup bersunyi di puncak yang indah itu, menikmati ketenteraman hidup di hari tua.

“Ayah, jangan salah mengerti. Bukan sekali-kali karena aku terlalu manja dan tidak bisa ditinggalkan suami yang pergi menjalankan tugas sebagai orang gagah. Tetapi, harap Ayah ketahui bahwa sekarang kandunganku sudah lima bulan. Bagaimana kalau sampai tiba saatnya melahirkan tidak ada ayahnya di sini? Ayah, apa kau tidak kasihan kepadaku?” Suara Bi Goat menggetar dan hati kakek yang dulu dianggap manusia iblis itu mencair.

“Baiklah… baiklah… dasar bocah yang jadi mantuku itu tidak tahu diri! Akan kucari dia dan kuseret pulang!” Sambil mengomel panjang pendek, kakek yang pernah menjadi tokoh nomor satu di dunia kang-ouw sebelah barat itu akhirnya turun gunung meninggalkan Min-san untuk menyusul dan mencari anak mantunya, Tang Beng San.

Sebulan sudah Song-bun-kwi Kwee Lun meninggalkan Min-san. Pada suatu sore Bi Goat duduk seorang diri di pekarangan depan rumahnya. Dengan penuh harapan, seperti setiap sore yang lalu, ia duduk menanti kalau-kalau ayah dan suaminya pulang. Para pelayan yang tidak kurang enam orang banyaknya, sudah selesai bekerja dan sedang asyik mengobrol di belakang rumah. Bi Goat duduk seorang diri menghadapi cangkir teh dan makanan yang mengandung daya penguat badan. Ayahnya banyak memberikan makanan seperti ini untuknya.

Mendadak ia mendengar suara aneh di udara. Ketika ia mengangkat muka, Bi Goat terheran-heran melihat seekor burung yang besar dan indah sekali terbang berputaran di atas puncak itu. Cahaya matahari senja yang merah membuat bulu burung itu kelihatan kuning kemerahan, amat indahnya seperti emas.

“Ah, burung rajawali kalau aku tidak salah….” kata Bi Goat kagum sekali. Mendadak wajahnya berubah dan nyonya muda ini cepat bangkit berdiri dari kursinya. Ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang ajaib. Ada seorang wanita menunggang burung rajawali itu!

“Mimpikah aku?” gumamnya seorang diri sambil menggosok-gosok matanya. Tidak, ia tidak mimpi. Malah kini burung itu menukik turun dan tak lama kemudian burung itu sudah sampai di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari tempat Bi Goat berdiri. Wanita muda dan cantik itu melompat turun dari punggung rajawali dan dengan hati berdebar Bi Goat mendapat kenyataan bahwa wanita itu sedang mengandung. Malah perutnya lebih besar daripada perutnya sendiri. Kandungannya sudah tua. Wanita itu melangkah maju, agak terhuyung-Huyung.

Bi Goat adalah seorang yang pada dasarnya memiliki budi yang halus. Melihat wanita yang mengandung tua ini terhuyung-huyung dan nampak letih, mukanya pucat, ia cepat lari menghampiri dan merangkul pundaknya.

“Hati-hatilah, Cici….” katanya halus.
Wanita itu bukan lain adalah Kwa Hong! Kemarahannya ketika tadi turun dan menduga bahwa wanita cantik yang juga sudah mengandung di depannya itu tentulah isteri Beng San, agak mereda oleh sikap halus Bi Goat. Pernah ia melihat Bi Goat, akan tetapi hanya sebentar maka ia sudah lupa lagi (baca cerita Raja Pedang). Demlkian pula Bi Goat, biarpun pernah bertemu dengan Kwa Hong, tapi karena baru sekali dan hanya sebentar, ia pun sudah lupa lagi.

“Di mana Beng San? Aku ingin bicara padanya,” kata Kwa Hong menahan marah, suaranya agak ketus dan sama sekali ia tidak menyambut baik sikap halus dari Bi Goat tadi.

Bi Goat terkejut, tapi ia menjawab juga. “Suamiku sudah beberapa bulan turun gunung, sampai sekarang belum pulang,” jawabnya masih halus dan hati-hati ia bertanya, “Tidak tahu siapakah Cici ini dan ada keperluan apalah mencari suamiku?”

“Hemm, jadi kau ini Bi Goat, dara baju merah yang dulu gagu itu?” tanya Kwa Hong, suaranya mengejek dan pandang matanya menyapu Bi Goat dari atas ke bawah.

Kini Bi Goat mulai curiga. Pandang matanya tajam menyelidik. “Kau siapakah dan apa keperluanmu datang ke Puncak Min-san ini?”

“Heh, kau sudah lupa kepadaku. Aku Kwa Hong….”

“Ohhh, murid Hoa-san-pai?”

“Bodoh! Ketua Hoa-san-pai, bukan murid! Aku datang mencari Beng San. Mana dia?”
“Sudah kukatakan tadi, dia sedang pergi.” Bi Goat mulai tak senang hatinya.
“Aku mencari Beng San, bukan suamimu.”

“Ben-San adalah suamiku!” jawabnya Bi Goat sekarang agak ketus.
Kwa Hong tersenyum mengejek, lalu melirik ke arah perut Bi Goat. Tanyanya penuh ejekan, “Berapa bulan kau mengandung?”

“Heee?? Kenapa….??” Wajah Bi Goat menjadi merah sekaii. Kalau ia tidak ingat bahwa yang mengajukan pertanyaan ini pun sedang mengandung, tentu ia akan menjadi marah. “Sudah enam bulan mengapa?”

Kembali Kwa Hong tersenyum mengejek. “Seharusnya kau bilang baru enam bulan, bukannya sudah enam bulan. Jadi baru enam bulan, kan? Lihat kandunganku ini sudah sembilan bulan! Mana lebih dulu? Sebelum menjadi suamimu, Beng San sudah menjadi ayah anak yang kukandung ini, tahu??”

Seketika wajah Bi Goat menjadi pucat sekali. Ucapan Kwa Hong itu betul-betul merupakan pedang yang menusuk tembus jantungnya. Gemetar seluruh tubuhnya dan suaranya menggigil ketika ia berseru, “Kau… kau bohong….!!”
Kwa Hong memperlebar senyumnya. “Kalau tidak percaya kautanyakan saja kepada Beng San. Hayo, mana dia? Panggil dia keluar, dia harus menyaksikan kelahiran anaknya….” Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh sambil memegangi perutnya.

“Dia sedang pergi… hee, bagaimana ini?? Kau kenapa, Cici….?” Bingung juga Bi Goat melihat Kwa Hong tiba-tiba terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat ia tangkap lengannya. Ia melihat wajah Kwa Hong pucat sekali, mulutnya merintih-rintih dan keadaannya hampir pingsan.

Memang pada dasarnya Bi Goat seorang yang berhati mulia. Biarpun ia tadi marah sekali dan perasaannya seperti ditusuk-tusuk mendengar ucapan Kwa Hong, namun melihat keadaan nyonya muda yang akan melahirkan itu ia menjadi tidak tega dan cepat-cepat menolong.

“Biarlah… aku… aku harus melahirkan… di tempat tinggal… Beng San….” demikian Kwa Hong mengeluh perlahan ketika siuman. Sementara itu, Bi Goat sudah berseru memanggil para pelayannya dan Kwa Hong lalu digotong masuk ke dalam rumah. Karena dia sendiri sedang mengandung, maka Bi Goat memang sudah mengundang seorang wanita tua yang ahli menolong orang beranak dan yang disuruh tinggal di rumahnya. Maka Kwa Hong dapat menerima pertolongan yang cepat.

Dalam keadaan setengah sadar saking menahan sakit, Kwa Hong mengigau dan bercerita Bi Goat tentang perhubungannya dengan Beng San dahulu, juga tentang pertemuannya yang terakhir. Semua diceritakan oleh Kwa Hong sehingga Bi Goat yang mendengarkan ini hanya dapat menangis dengan hati hancur. Dia amat mencinta Beng San, sejak dahulu ia mencinta Beng San dengan seluruh jiwa raganya. Ia tidak rela kalau Beng San membagi cintanya dengan wanita lain, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan parah luka yang ditimbulkan oleh penuturan Kwa Hong ini di dalam hatinya.

Pada tengah malam hari itu, dari dalam rumah Bi Goat terdengarlah suara pertama dari seorang bayi yang terlahir. Tangisnya memecahkan kesunyian malam, nyaring melengking. Tangis seorang bayi laki-laki yang montok dan sehat. Tak lama kemudian terdengar lengking lain susul-menyusul menjawab tangis bayi ini, suara lengking tinggi yang datangnya dari atas rumah. Itulah suara lengking rajawali emas yang menanti munculnya Kwa Hong sambil mendekam di atas wuwungan genteng rumah itu. Entah mengapa binatang itu melengking, mungkin karena tangis bayi itu hampir sama dengan suaranya sendiri.

Biarpun hatinya hancur, Bi Goat siang malam menunggu Kwa Hong dan merawatnya dengan baik. Sepekan kemudian Kwa Hong sudah sembuh, Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu ia keluar dari rumah itu memanggil rajawali emas. Burung itu yang mulai tak sabar dan setiap hari berkaok-kaok di depan rumah, menjadi girang sekali dan menyambar turun, Bi Goat yang berwajah pucat sekali mengikuti Kwa Hong dari belakang.

“Cici Hong, kau baru sepekan melahirkan, jangan pergi dulu….” katanya menahan.

Akan tetapi Kwa Hong tidak peduli, membawa anaknya melompat ke arah punggung rajawaii, lalu berkata,

“Katakan kepada Beng San kalau dia pulang, bahwa aku tidak bisa membunuhnya karena kalah kuat, dan aku tidak bisa membunuhmu karena kau telah menolongku ketika aku melahirkan. Akan tetapi kelak anak inilah yang akan membunuh Beng San, kau dan semua anak anak dan keluargamu!” Setelah berkata demikian, Kwa Hong menepuk leher rajawali emas yang segera melengking tinggi dan melesat, terbang ke atas dengan cepat sekali.

Untuk beberapa lama Bi Goat berdiri bengong kemudian ia mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas. Ia roboh pingsan di depan pintu rumahnya! Para pelayan segera mengejar keluar dan sibuk menolong nyonya muda yang menderita kehancuran hati ini. Bie Goat jatuh sakit dan semenjak hari itu ia tidak kuat lagi bangun dari tempat tidurnya. Badannya panas dan setiap kali panasnya naik, ia mengigau menyebut-nyebut nama suaminya dan Kwa Hong. Setiap kali ia berusaha untuk tidak mempercayai semua omongan Kwa Hong, namun hal itu amat sukar baginya. Diharap-harapkan kedatangan suaminya agar dapat ia bertanya tentang Kwa Hong. Pengharapan bahwa suaminya akan menyangkal semua itu merupakan sinar kecil yang masih menerangi hatinya, penuh harapan. Akan tetapi, suaminya tak kunjung pulang, malah ayahnya juga yang mencari dan menyusul suaminya itu, belum juga pulang.

Dua bulan ia jatuh sakit itu, sementara kandungannya makin besar, sudah delapan bulan ia mengandung. Pada suatu sore, datanglah Song-bun-kwi Kwee Lun, Bi Goat yang sudah agak kuat segera turun dari tempat tidurnya dan keluar meyambut.

“Ayah, mana dia? Mana Beng San….?” tanyanya dengan nada suara penuh harapan.

Kwee Lun kaget sekali melihat puterinya menjadi begini kurus dan wajahnya begini pucat. “Bi Goat, kau kenapakah? Sakitkah kau? tanyanya gugup sambil melangkah maju. “Ayah, mana suamiku? Mana Beng San?” Bi Goat tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya, tapi mendesak menanyakan suaminya.

Terpaksa Kwee Lun menjawab, “Aku tidak dapat menjumpai dia. Kabarnya dia ke utara, mungkin terlibat lagi dalam urusan pemberontakan terhadap kaisar baru. Ah, anak itu memang tak tahu diri!”

Kekecewaan hebat merupakan palu godam yang menghantam pertahanan terakhir di hati Bi Goat. Matanya terbelalak, lalu tertutup dan tubuhnya limbung. Cepat Kwee Lun merangkul dan ayah yang gelisah dan keheranan ini segera memondong tubuh puterinya, dibawa masuk ke dalam kamar Bi Goat. Dengan suara parau Kwee Lun memanggil pelayan-pelayan yang segera berlari mendatangi, memaki-maki mereka yang dikatakan tidak melayani Bi Goat sebaiknya.

Setelah siuman kembali Bi Goat menangis terus, tidak mau menjawab pertanyaan ayahnya. Dan pada malam itu juga Bi Goat melahirkan kandungannya yang belum penuh sembilan bulan itu. Kelahiran yang sukar sekali, membuat nenek yang membantunya bermandi peluh, para pelayan kebingungan dan semua ini membuat Kwee Lun yang menjaga di luar kamar menjadi makin gelisah.

Beberapa kali Bi Goat pingsan dan kalau sudah siuman ia memanggil-manggil
nama Beng San, mengeluh tak kuat lagi. Akhirnya menjelang pagi lahirlah bayi dalam kandungannya. Tangisnya keras sekali membuat Kwee Lun melonjak kaget dari tempat duduknya. Bagaikan gila kakek ini lalu mendorong pintu kamar untuk segera melihat wajah cucunya. Apa yang ia lihat?

Ia berdiri tegak seperti patung raksasa, mukanya pucat, matanya melotot bukan memandang kepada bayi laki-laki yang bergerak-gerak dan menangis hebat itu, melainkan ke atas ranjang, memandang kepada Bi Goat yang telentang tak bergerak, dengan mata setengah terbuka dan mulut menyeringai kesakitan, wajah yang putih dan mata yang tak bersinar lagi karena berbareng dengan lahirnya bayinya ibu muda yang malang ini telah ditinggalkan nyawanya.

Untuk beberapa lama Song-bun-kwi Kwee Lun berdiri tegak dengan muka pucat, telinga seperti tuli tidak mendengar suara tangis bayi yang bercampur dengan tangis para pelayan, tidak melihat betapa nenek pembantu kelahiran itu sibuk membersihkan bayi kemudian membungkusnya dengan kain putih bersih.

Akhirnya tampak air mata berkumpul di pelupuk mata tua itu, kemudian setetes demi setetes air mata mengalir turun. Bibir kakek itu bergerak-gerak, lalu terdengar suaranya parau, “Bi Goat… kenapa kau mati….? Habis aku bagaimana….” Berulang-ulang kalimat ini keluar dari mulutnya, kemudian ia menubruk maju dan kakek ini menangis menggerung-gerung sambil memeluki mayat Bi Goat.

Sampai lama ia menangis seperti anak kecil. Ketika ia mengangkat kembali mukanya yang menjadi basah air mata, matanya merah dan mengerikan. Ia sudah berhenti menangis secara tiba-tiba, lalu ia memandang ke sana ke mari, menyapu ruangan itu dengan sinar matanya yang beringas. Ketika ia melihat nenek pembantu kelahiran yang duduk di pojok dengan ketakutan, ia melompat maju dan sekali terkam nenek itu sudah diangkatnya lalu dibantingnya ke lantai. Sekali banting saja nenek itu tidak berkutik lagi, kepalanya pecah dan nenek yang malang itu tewas tanpa dapat bersambat lagi, Song-bun-kwi Kwee Lun makin beringas, matanya liar.

“Ampun, Lo-ya (Tuan Tua)… ampun hamba semua tidak berdosa. Nyonya muda jatuh sakit setelah kedatangan seorang nyonya yang mengaku bernama Kwa Hong dan yang melahirkan anak di rumah ini. Menurut pengakuannya, Nyonya Kwa Hong itu adalah isteri pertama Siauw-ya (Tuan Muda)… eh, bukan isteri… hubungan di luar nikah… datangnya menunggang rajawali emas, mengerikan sekali, Lo-ya… semenjak itulah Nyonya Muda lalu jatuh sakit….”

Mendengar ini, Kwee Lun mengeluarkan suara menggereng seperti seekor binatang buas, lalu terdengar suaranya, “Beng San, keparat kau… mampus kau olehku….!” Dan tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak lagi, kini sekali sambar ia telah mencengkeram buntalan kain yang terisi bayi yang masih menangis nyaring itu. Bukan main tangis bayi itu, seakan-akan dalam kelahirannya ia me nangisi kematian ibunya. Begitu lahir anak ini sudah harus menghadapi kematian ibunya. Betapa memilukan.

“Mampus kau….!” Kwee Lun mengangkat buntalan itu tinggi-tinggi seperti hendak membantingnya!

“Lo-ya…, ampunkan anak itu yang tidak berdosa….”
“Lo-yaaaa, ampun….!”
“Jangan, Lo-ya, jangan….!” Para pelayan itu menjerit-jerit.

Jerit tangis pelayan ini seakan-akan menyadarkan Kwee Lun, matanya tidak lagi menatap buntalan, melainkan liar menyapu ke kanan kiri, kemudian terdengar ia menggereng dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. Kakek itu lari keluar dan turun gunung membawa buntalan bayi, cucunya yang baru saja lahir!

Tak ada jalan lain bagi para pelayan itu kecuali mengurus jenazah Bi Goat dan nenek bidan itu. Dengan bantuan penduduk kampung di kaki bukit yang mereka mintai bantuan, dua jenazah itu dikuburkan di belakang rumah dengan upacara sederhana. Para pelayan itu hanya dua yang tinggal untuk mengurus rumah dan menanti kembalinya Beng San.

Rencana yang masih dirundingkan oleh utusan Raja Muda Lu Siauw Ong dan Ho-hai Sam-ong, benar-benar dilaksanakan oleh dua golongan yang haus akan kedudukan dan berusaha menggulingkan kekuasaan kaisar baru, Thai Cu. Mereka ini benar-benar terlalu percaya kepada kekuatan sendiri sehingga biarpun rahasia mereka itu telah diketahui oleh Li Cu dan Beng San yang sudah berhasil meloloskan diri, namun tetap saja mereka melanjutkan rencana itu. Mereka berhasil mengumpulkan banyak sekali pasukan bajak dan perampok, juga pihak Raja Muda Lu Siauw Ong yang bertugas merampas tahta selagi Kaisar pergi, berhasil menghasut pasukan besar tentara.

Pada hari yang sudah ditentukan, rombongan Kaisar Thai Cu berangkat dari kota raja menuju ke utara, yaitu ke kota raja lama di Peking. Rombongan ini dikawal oleh sepasukan tentara pilihan, yaitu para pengawal pribadi kaisar. Sebagai seorang bekas panglima perang, Kaisar Thai Cu tidak gentar melakukan perjalanan jauh ini walaupun ia sudah tahu akan adanya banyak golongan yang tidak suka kepadanya karena tidak diberi kedudukan tinggi seperti yang mereka inginkan. Akan tetapi sama sekali Kaisar ini belum tahu akan siasat busuk yang direncanakan Ho-hai Sam-ong dan Raja Muda Lu Siauw Ong yang sudah bersekongkol itu.

Di sepanjang jalan rakyat dusun menyambut Kaisar baru itu dengan meriah. Agaknya rakyat amat mengagumi Kaisar yang telah berhasil membebaskan negara dari penjajahan bangsa Mongol itu. Orang-orang bersorak dan memberi hormat, di mana-mana rombongan Kaisar disambut tari-tarian daerah. Malah setiap dusun tentu mengutus orang-orang muda yang gagah perkasa untuk mengiring rombongan ini sampai di dusun lain, lalu diganti oleh para muda dusun ini, demikian seterusnya.

Kaisar amat gembira dengan ini semua. Disangkanya bahwa hal itu memang sudah semestinya karena rakyat merasa gembira dapat terbebas daripada penjajahan. Sama sekali Kaisar ini tidak tahu bahwa biarpun sudah terbebas daripada penjajahan Mongol, sesungguhnya rakyat kecil apalagi para petani masih sama sekali belum bebas daripada belenggu penjajahan para tuan tanah yang kadang-kadang malah lebih keras dan kejam daripada penjajah Mongol sendiri! Juga Kaisar ini tidak tahu bahwa sebagian sebagian besar dari para pengiring ini, yang sebagai orang-orang kampung, adalah orang-orang gagah dari Pek-lian-pai dan para bekas pejuang yang setia kepadanya. Mereka ini anak buah dari Tan Hok yang sudah mengatur sedemikian rupa sehingga rombongan Kaisar selalu terkawal anak buahnya. Malah yang mengawal secara sembunyi masih banyak lagi, ada yang mendahului rombongan ada yang mengiring dari jauh di belakangnya.

Tan Hok memang hebat. Raksasa ini semenjak berkecimpung dalam perjuangan ternyata telah makin matang sebagai seorang pemimpin dan pengatur siasat yang ulung. Secara cepat sekali ia mendengar penjelasan dari Beng San tentang persekongkoian antara Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, ia pergi ke kota raja dan bersama para panglima pasukan yang setia kepada Kaisar itu lalu berunding dan membuat rencana.

Cepat pula ia menyiapkan pasukan Pek-lian-pai dan teman-teman seperjuangan
yang terpilih, yaitu orang-orang yang memiliki kepandaian cukup, untuk secara diam-diam mengiringi, mengawal atau melindungi rombongan Kaisar yang hendak pergi ke utara. Juga Beng San sendiri ia serahi tugas yang paling berat, yaitu mengawal Kaisar secara sembunyi. Tan Hok maklum akan kelihaian Beng San, maka tugas penting ini ia serahkan kepada Beng San, sedangkan ia sendiri perlu mengatur pasukan gabungan di kota raja untuk menindas dan mengempur pemberontakan dari dalam yang hendak
dilakukan oleh Raja Muda Lu Siauw Ong.

Ketika Kaisar menggunakan perahu naga menyeberangi Sungai Huang-ho, keadaan di sungai juga ramai bukan main.

Para nelayan seakan-akan datang segenap penjuru untuk mengelu-elukan kaisar baru ini. Juga di sini Kaisar tidak tahu bahwa para nelayan ini sebagian besar adalah anggauta-anggauta Pek-lian-pai, malah ada pula beberapa orang anak buah Ho-hai Sam-ong menyelinap, dan ada beberapa orang pembunuh datang untuk mencari kesempatan baik menghabiskan nyawa Kaisar Thai Cu! Maka, amat kagetlah Kaisar dan para pengiringnya ketika perahu sampai di tengah sungai di kanan kiri perahu tiba-tiba timbul enam mayat di permukaan air. Mayat-mayat ini adalah mayat orang-orang yang tadinya berusaha melubangi perahu dengan jalan menyelam di bawahnya. Namun anak buah Tan Hok yang waspada dan memang sudah dipilih ahli-ahli dalam air, telah mengetahui akan hal ini dan cepat mereka itu pun menyelam. Terjadi pertandingan di bawah perahu, di dalam air yang amat hebat tanpa diketahui oleh mereka yang berada di permukaan air. Tahu-tahu mayat para penjahat itu timbul di permukaan air mengagetkan semua orang. Kaisar buru-buru memerintahkan agar perahu dipercepat penyeberangannya.

Setelah tiba di seberang Sungai Huang-ho sebelah utara dan rombongan memasuki sebuah hutan yang lebat, mulailah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Ho-hai Sam-ong dan pasukannya yang sudah beberapa hari menghadang di tempat ini. Mendadak terdengar sorak-sorai bergemuruh dan pasukan bajak dibantu oleh pasukan mereka yang tidak puas melihat Cu Goan Ciang menjadi Kaisar, berserabutan keluar dari tempat persembunyian dengan senjata di tangan.

“Bunuh Ciu Goan Ciang!”

“Seret Kaisar lalim!”
Demikianlah ucapan-ucapan yang ditujukan kepada Kaisar dan mulailah terjadi pertempuran hebat antara para penyerbu dan para pengawal Kaisar. Makin lama makin banyaklah penyerbu. Kaisar sendiri agaknya tenang-tenang saja karena semenjak penyeberangan tadi tidak memperlihatkan diri, bersembunyi saja di dalam tandunya yang sekarang terpaksa diturunkan dan dilindungi oleh beberapa orang pengawal pribadi.

Tiba-tiba Ho-hai Sam-ong sendiri, tiga orang kepala bajak yang lihai itu, meloncat ke dekat tandu Kaisar ini. Mereka memang sengaja mencari Kaisar dan hendak turun tangan sendiri. Melihat tandu dengan tanda pangkat Kaisar, dan bendera berkibar di atasnya, Ho-hai Sam-ong girang sekali. Mereka mengeluarkan tanda suitan. Bermunculan Hek-hwa Kui-bo, Kim-thouw Thian-li, dan banyak lagi kepala rampok dan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam) datang menyerbu ke tempat itu.

Para pengawal pribadi dengan gigih menyambut serbuan orang-orang ini, namun dalam beberapa gebrakan saja robohlah belasan orang pengawal dan Lui Cai Si Bajul Besi sendiri dengan sebuah loncatan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang menandingi para pengawal pribadi itu, langsung mendekati tandu. Senjatanya berupa dayung baja yang besar berat itu sudah diayunnya, mulutnya berseru,

“Ha-ha-ha, Ciu Goan Ciang! Lihat baik-baik, ini Lui Cai datang menghancurkan kepalamu!”

Tiba-tiba kain tenda dari joli itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki tua dengan tubuh menggigll dan muka pucat. Tangan Lui Cai yang memegang dayung gemetar, ia berteriak sambll melangkah mundur. Kiranya orang yang berada di dalam joli bukanlah Kaisar, melainkan seorang yang menyamar sebagai Kaisar dan memakai pakaian kaisar!

“Celaka….!” serunya dengan muka pucat. “Kita telah terjebak… dia bukan Kaisar!”

Sementara itu, para pengawai pribadi Kaisar amat repot menghadapi amukan kepala-kepala bajak itu yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li yang ganas. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan marah berkelebat cepat didahului sinar pedang yang gemilang. Robohlah beberapa orang penjahat bagaikan alang-alang dibabat dan dalam waktu singkat saja pengamuk ini sudah berhadapan dengan Ho-hai Sam-ong dan dua orang pembantunya yang paling dahsyat bersama sepuluh orang lagi kepala rampok.

“Ho-hai Sam-ong, kalian benar-benar ingin mampus!” teriakan yang nyaring tapi merdu terdengar lantang. Kiranya yang muncul ini bukan lain adalah Cia Li Cu yang sebetulnya sudah sejak tadi mengamuk di sebelah luar hutan untuk menerjang masuk. Seperti diceritakan di bagian depan, Li Cu juga mendengar semua rencana busuk yang diatur oleh Beng Kui dan Ho-hai Sam-ong, maka cepat-cepat gadis ini pulang menemui ayahnya dan menceritakan semua yang ia alami, kecuali pengalamannya dengan Beng San! Sebagai seorang patriot berjiwa besar, Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan marah bukan main mendengar bahwa muridnya yang pertama, murid yang dicintanya dan malah yang akan menjadi mantunya, telah menyia-nyiakan Li Cu. Hal ini masih belum berapa hebat seperti ketika ia mendengar bahwa Beng Kui hendak berkhianat. Wajahnya menjadi merah, matanya berkilat-kilat lalu ia menyuruh Li Cu berangkat lagi untuk diam-diam melindungi Kaisar sementara dia sendiri menuju ke kota raja untuk berhadapan dengan Beng Kui, muridnya.

Demikianlah, Li Cu segera melakukan perjalanan cepat dan kedatangannya tepat sekali pada saat para pemberontak itu menyerbu ke dalam peperangan dan mengamuk dengan pedang pendek Liong-cu-kiam yang tajam dan ampuh.

Ketika Ho-hai Sam-ong melihat Li Cu mereka menjadi marah sekali. Lui Cai melompat maju dan memaki, “Siluman cilik! Tentu kau yang telah membuka rahasia dan Kaisar sengaja bersembunyi. Kaulah yang bosan hidup, sekarang kami takkan mau mengampunimu lagi!” Dayungnya menyambar dahsyat, akan tetapi segera ia tarik kembali ketika pedang Liong-cu-kiam sengaja dibabatkan oleh Li Cu sambil tersenyum. Lui Cai sudah mengenal ketajaman pedang itu dan kelihaian gadis ini, maka untuk bertempur seorang melawan seorang kiranya dia takkan dapat menang.

“Ji-te, Sam-te, hayo kita binasakan bocah ini dulu!” teriaknya sambil memutar dayung. Kiang Hun dan Thio Ek Sui yang juga merasa amat kecewa melihat bahwa yang duduk di dalam joli itu bukan Kaisar segera memutar senjata dan mengeroyok Li Cu. Sebentar saja Li Cu sudah sibuk dikeroyok tiga oleh Ho-hai Sam-ong, seperti ketika ia dikeroyok di atas perahu dahulu itu. Akan tetapi ia tidak gentar dan pedangnya diputar cepat untuk melayani tiga orang musuhnya yang benar-benar tangguh itu.
Sementara itu, Hek-hwa Kui-bo dan muridnya, juga para kepala rampok yang tadinya menyerbu ke situ untuk bersama-sama membinasakan Kaisar, sekarang sudah mulai bertempur kembali menghadapi para pengawal yang kini dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai yang tadinya menyamar sebagai petani dan nelayan. Makin banyaklah anggauta-anggauta Pek-lian-pai berdatangan, malah yang mendahului rombongan Kaisar sudah pula diberi tahu dan sekarang mereka datang menyerbu dari utara. Hal ini membuat para pemberontak terdesak hebat, apalagi karena di pihak Pek-lian-pai terdapat banyak orang-orang gagah yang tinggi kepandaiannya.

Melihat pihaknya terdesak hebat, Ho-hai Sam-ong menjadi gelisah. Bagaimana dapat muncul demikian banyaknya yang membantu Kaisar? Tak salah lagi, ini tentu jebakan yang sengaja diatur oleh Kaisar yang dulunya juga seorang panglima perang yang pandai. Dan tentu karena rahasia mereka sudah dibocorkan oleh gadis puteri Bu-tek Kiam-ong ini. Kemarahan Ho-hai Sam-ong terhadap Li Cu makin menjadi.

“Hek-hwa Kui-bo, harap bantu kami menangkap gadis liar ini!” seru Lui Cai. Mendengar ini, Hek-hwa Kui-bo yang tadinya sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang Pek-lian-pai, bersuit keras. Inilah tanda bagi para anggauta perampok untuk menahan penyerbuan musuh agar dia dan Ho-hai Sam-ong tidak terganggu dalam usaha mereka menangkap Li Cu. Sebentar saja Li Cu terdesak makin hebat setelah Hek-hwa Kui-bo datang mengeroyoknya. Gadis ini dengan gigih mempertahankan dirinya.

“Ho-hai Sam-ong dan Hek-hwa Kui-bo jangan banyak bertingkah!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu di situ sudah muncul Beng San dengan tangan kosong!

Diam-diam Li Cu girang bukan main, akan tetapi melirik pun ia tidak mau ke arah Beng San. Adapun Ho-hai Sam-ong ketika melihat kedatangan pemuda yang amat lihai itu, seketika menjadi pucat. Serentak mereka menyerang pemuda yang bertangan kosong itu. Yang paling cepat menyambar tubuh Beng San adalah tambang di tangan Kiang Hun. Beng San menggerakkan tangan menangkap ujung tambang dan sekali membetot tambang itu putus menjadi dua, tepat di tengah-tengah sehingga separoh tambang itu berada di tangan Beng San dan menjadi senjatanya! Ketika Beng San menggerak-kan tambang itu, kiranya ia tidak kalah hebat memainkan senjata aneh ini dari pada Kiang Hun!

Li Cu mendapat angin. Pedangnya bergerak cepat dan robohlah Thio Ek Sui sambil menjerit keras. Dadanya tertembus Liong-cu-kiam, Kiang Hun menjadi gugup sehingga kembali pedang Liong-cu-kiam menyerempet pundaknya. Ia memekik dan meloncat hendak lari, tetapi dari belakangnya menyambar dua batang tombak anggauta Pek-lian-pai sehingga Kiang Hun juga roboh binasa. Dengan tambangnya Beng San menghadapi Lui Cai yang mengamuk mati-matian, dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo. Sedikit saja Lui Cai terlambat bergerak, jalan darahnya di dada telah disentuh oleh ujung tambang itu. Ia roboh lemas dan kembali pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu bekerja, menamatkan riwayat kepala Ho-hai Sam-ong ini.

“Nona Cia, awas….!” Beng San cepat meniup dengan mulutnya ke depan, malah mengebut-ngebutkan kedua tangan untuk mengusir asap beracun berwarna merah. Namun terlambat, Hek-hwa Kui-bo tadi dengan cepatnya mengebutkan saputangannya dan asap kemerahan menyambar ke depan, ke arah Li Cu. Gadis ini baru saja menewaskan Lui Cai dan kurang waspada. Biarpun ia sudah mengelak karena seruan Beng San, namun masih ada asap yang memasuki hidungnya. Ia mengeluh, terhuyung-huyung dan pedangnya terlepas dari pegangan. Beng San cepat memeluk dan memondongnya sambil menyambar Liong-cu-kiam. Ia masih melihat Hek-hwa Kui-bo menyambar tangan muridnya melarikan dirl di antara banyak orang yang bertempur. Ia tidak peduli lagi. Yang paling perlu Li Cu harus dibawa pergi dari tempat berbahaya itu. Sekali meloncat ia sudah lolos dari kepungan musuh, lalu mengerjakan kakinya untuk merobohkan setiap orang penghalang, langsung ia membawa Li Cu ke tempat sunyi di lain bagian dari hutan itu.

Di bawah sebatang pohon besar yang amat sunyi di dalam hutan itu, Beng San cepat menurunkan Li Cu dan memeriksanya. Sedikit banyak dia telah mempelajari ilmu pengobatan dari mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun, terutama mengenai akibat senjata beracun. Ketika ia menurunkan tubuh Li Cu dan melihat muka gadis itu, ia kaget bukan main. Wajah Li Cu sepucat salju dan napasnya sesak hampir berhenti. Dari mulut yang terengah-engah itu tercium bau wangi yang memuakkan, yaitu bau racun asap kemerahan yang tadi kena tersedot oleh gadis ini.

Beng San memutar otak. Menurut keterangan dari mertuanya, mengobati akibat dari keracunan hanya dua macam, pertama memasukkan racun yang berlawanan atau obat penawar ke dalam tubuh si sakit untuk memerangi racun itu. Ke dua, mengeluarkan racun dari tubuh si sakit. Kalau Li Cu terluka oleh senjata beracun, ia dapat mengeluarkan racun itu dengan menyedot lukanya sehingga racun yang sudah bercampur dengan darah itu dapat tersedot keluar. Adapun Li Cu terserang racun bukan melalui luka, melainkan racun itu langsung memasuki paru-parunya melalui mulut, bagaimana ia akan dapat mengeluarkan racun dari dalam paru-paru?

Dalam bingungnya karena baru pertama kali ini menghadapi orang keracunan oleh racun asap, Beng San dapat mengambil keputusan. Ia merasa yakin bahwa satu-satunya jalan untuk menolong gadis itu adalah mengeluarkan asap yang masuk ke dalam paru-parunya. Ia maklum pula atau dapat menduga bahwa cara pertolongan ini amat berbahaya bagi dirinya sendiri. Akan tetapi pada saat itu ia tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Untuk menolong orang, terutama orang seperti Li Cu ini, ia tidak perlu takut-takut mengorbankan diri sendiri!

Ketika ia sudah mengambii keputusan ini dan hendak mulai dengan usaha pertolongannya, tiba-tiba mukanya menjadi kehijauan karena ia merasa jengah dan malu. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Pada saat nyawa Li Cu terancam bahaya seperti itu, ia tidak perlu ingat lagi akan tata susila kosong dan akan hukum adat yang berlaku mengenai kesopanan antara pria dan wanita.

Cepat ia mengangkat kepala Li Cu, lalu tanpa ragu-ragu ia membuka mulut gadis itu dengan jari tangannya. Kemudian ia menunduk dan menempelkan mulutnya sendiri pada mulut Li Cu lalu ia menyedot dengan pengerahan tenaga khi-kang sekuatnya! ia merasa betapa hawa yang dingin seperti es memasuki rongga dadanya. Tubuhnya menggigil dan cepat ia melepaskan mulutnya, perlahan-lahan menurunkan kepala gadis itu dan ia lalu duduk bersila, mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, menyalurkan Iwee-kang nya untuk melawan hawa dingin di rongga dada itu. Hawa Thai-yang di dalam tubuhnya segera bekerja. Dari pusarnya naik hawa panas seperti api membara, terus hawa panas ini ia desak ke atas, menyerbu ke rongga dada dan menghan-tam hawa dingin yang tadi memasuki dadanya melalui mulut Li Cu. Terjadinya perang tanding antara kedua hawa ini, akan tetapi tenaga dalam dan hawa Thai-yang di tubuh Beng San memang mujijat sekali. Dengan hati lega orang muda itu merasa betapa perlahan-lahan tapi tentu hawa dingin itu buyar dan lenyap.

Setelah hawa dingin di dalam rongga dadanya itu lenyap, ia membuka mata. Li Cu masih belum sadar dan napasnya masih terengah-engah biarpun tidak seberat tadi. Ia kembali menempelkan mulutnya pada mulut Li Cu dan menyedot lagi. Seperti tadi, hawa dingin memasuki dadanya, tapi sebentar saja buyar dihantam tenaga Thai-yang. Girang hati Beng San. Tubuh gadis yang tadinya sudah dingin itu sekarang agak hangat dan ketika ia menyedot untuk ke empat kalinya, ia merasa betapa tubuh Li Gu ber-gerak sedikit.

Kalau saja Beng San tahu bahwa pada saat itu Li Cu sudah setengah sadar, sudah pasti ia akan cepat-cepat melepaskan mulutnya yang menyedot! Di lain pihak, Li Cu yang mulai sadar, seolah-olah dalam mimpi. Hampir ia tak dapat percaya akan pandangan mata dan perasaan tubuhnya sendiri. Benarkah orang itu Beng San? Dan benarkah Beng San melakukan perbuatan seperti ini terhadap dirinya? Saking kaget, malu, ngeri dan marah, Li Cu pingsan kembali, bukan pingsan karena pengaruh racun asap, melainkan pingsan karena hantaman perasaannya melihat perbuatan Beng San terhadap dirinya!

Ketika Li Cu siuman kembali, ia membelalakkan kedua matanya. Ia melihat betapa muka Beng San sudah mendekati mukanya dan dalam anggapannya, Beng San sedang berbuat kurang ajar dan hendak “menciumnya” lagi. Di samping pemandangan yang mengagetkan ini, ia melihat hal lain yang membuat ia cepat menjerit sambil mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga. Tubuh Beng San terpental dan Li Cu merasa betapa tenaga dorongannya tadi mendatangkan rasa dingin yang menyakitkan di dadanya. Dan pada saat itu juga, ia mencoba untuk mengelak dengan menggulingkan tubuhnya, namun tetap saja pukulan yang datang itu mengenai pundaknya, membuat tubuhnya terpental lebih jauh daripada Beng San! Terdengar suara orang menggereng seperti binatang buas, gerengan orang yang tadi memukul. Pukulan itu sebetulnya ditujukan ke arah punggung Beng San. Baiknya pada saat itu Li Cu siuman dan pukulan orang inilah yang membuat ia menjerit dan mendorong tubuh Beng San, malah pukulan itu setelah tidak mengenai tubuh Beng San, malah mengenai dirinya sendiri.

Beng San melompat bangun dengan kaget sekali. Tadi seluruh perhatiannya ia tujukan untuk mengobati Li Cu sehingga kesadaran gadis itu pun tidak diketahuinya. Maka kedatangan orang yang menyerangnya secara diam-diam itu pun sama sekali tidak ia ketahui. Kini ia merasa kaget sekali setelah tadi tubuhnya didorong ke pinggir oleh Li Cu, kaget bukan main karena ia melihat ayah mertuanya, Song-bun-kwi Kwee Lun sudah berdiri di depannya seperti seorang iblis mengerikan. Pakaian ayah mertuanya yang semenjak ia ikut ke Min-san dahulu sudah menjadi biasa seperti seorang kakek petani, sekarang ia lihat kembali seperti dulu lagi, yaitu pakaian putih, pakaian berkabung! Anehnya lagi di dada kakek ini tergantung seorang bayi dalam gendongannya, bayi yang nampaknya tidur nyenyak.

“Gak-hu (Ayah Mertua)….”

“Bangsat! Laki-laki mata keranjang, kau meninggalkan isteri untuk main gila dengan perempuan lain?” bentak Song-bun-kwi Kwee Lun dengan kemarahan meluap-luap.

“Tidak… tidak demikian…. Gak-hu, harap jangan salah sangka….! Dia telah menyedot racun Ngo-hwa dari Hek-hwa Kui-bo… aku berusaha menyedot keluar racun itu dan….”

Song-bun-kwi menggereng lagi. “Apapun juga alasanmu, anakku tak dapat hidup lagi!” Mendadak ia menyerang dengan hebatnya, menghantam kepala mantunya itu.

Semenjak dahulu Beng San memang tidak suka kepada Song-bun-kwi yang memang pernah hidup sebagai seorang yang keji. Malah beberapa kali sudah Beng San hampir dibunuhnya di waktu pemuda ini masih kecil (baca Raja Pedang). Sekarang pun ia menjadi marah karena disangka yang bukan-bukan oleh mertuanya ini dan malah sekarang ia diserang dengan pukulan maut. Akan tetapi ketika ia mendengar kalimat terakhir “anakku tak dapat hidup lagi”, ia merasa matanya gelap dan serasa jantungnya berhenti berdetik.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: