Rajawali Emas (Jilid ke-9)

“Apa katamu?” bentaknya dan tangannya menangkis tangkisan ini hebat, membuat tubuh Song-bun-kwi seketika terpental ke belakang dan hampir roboh! Teringat kepandalan Beng San memang sudah hebat sekali dan Sons-bun-kwi maklum bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan mantunya. Maka ia menyeringai keji dan berkata penuh geram.

“Kau pembunuh anakku, lain kali aku pasti akan mencarimu mengadu nyawa!” setelah berkata demikian kakek ini menggereng dan lari cepat sekali membawa bayi dalam gendongannya.

Untuk sesaat Beng San berdiri dengan muka berubah hijau karena hatinya gelisah bukan main. Kemudian ia teringat akan bayi di gendongan mertuanya itu. Ia menghitung-hitung dalam benaknya dan teringat bahwa sudah lewat beberapa bulan sejak waktu kandungan isterinya tiba saatnya dilahirkan. Anak itu tadi…..? Apa yang terjadi? Tiba-tiba seperti orang gila Beng San memekik.

“Bi Goat….!” Dan tubuhnya melesat seperti seekor burung terbang, pergi dari tempat itu.

Sementara itu, terjadi keanehan pada diri Li Cu. Seperti dituturkan di atas tadi, setelah mendorong tubuh Beng San ke samping, pukulan yang dilakukan oleh Song-bun-kwi mengenai pundak Li Cu yang membuat tubuh Li Cu terlempar. Pukulan itu bukan pukulan biasa, karena tadi Song-bun-kwi sengaja melakukan pukulan dari Ilmu Yang-sin-hoat untuk membunuh Beng San. Pukulan itu mengandung hawa Yang-kang yang amat kuat. Dan biarpun sudah dielakkan oleh Li Cu, pukulan itu mengenai pundaknya dan terasalah hawa yang luar biasa panasnya menjalari tubuhnya. Dan hawa panas ini lalu bertemu dengan sisa hawa dingin yang masih mengeram di tubuhnya, yang masih belum disedot keluar oleh Beng San. Dua hawa dahsyat ini bertemu dan… buyarlah keduanya. Pukulan maut dari Song-bun-kwi tadi malah menyembuhkan sama sekali penderitaan Li Cu akibat racun asap Hek-hwa Kui-bo!

Tadinya hati Li Cu penuh dengan kemarahan dan ia menganggap bahwa Beng San sudah berlaku jahat dan kurang ajar kepadanya, sudah menciuminya di waktu ia pingsan! Bukan main sakit hatinya pada saat itu. Akan tetapi setelah ia mendengar pengakuan Beng San kepada Song-bun-kwi tadi bahwa perbuatannya itu adalah usaha menolongnya dari bahaya maut, tak terasa pula air matanya jatuh berderai dan ia terisak-isak. Hatinya terharu bukan main. Sudah terlalu sering ia menyangka Beng San sebagai orang jahat, sebagai laki-laki kurang ajar, laki-laki mata keranjang. Dan ternyata ia telah menuduh yang bukan-bukan, telah memasukkan fitnah terhadap diri Beng San ke dalam pikirannya. Padahal sudah berkali-kali Beng San menolongnya, menolong keselamatan nyawanya dengan hati tulus iklas. Apalagi ketika ia melihat keadaan Beng San hatinya ikut hancur.

Li Cu menyambar pedangnya yang ditinggalkan Beng San di dekatnya, lalu melompat dan lari mengejar Beng San yang sudah lari jauh dengan kecepatan laksana terbang itu. Tak dapat ia menyusul Beng San, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang muda itu tentulah pergi ke Min-san. Sebetulnya ia boleh tak usah pedulikan Beng San. Akan tetapi ada sesuatu yang terjadi di dalam hatinya. Ia setengah dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan pada diri isteri Beng San. Ia seperti melihat awan gelap di atas mengancam Beng San. Di samping ini, ia merasa bahwai ia harus selalu berdekatan dengan orang itu. Tak dapat lagi ia ditinggalkan, tak dapat lagi ia berpisah. Ia merasa kasihan kepada Beng San, juga kasihan kepada… diri sendiri karena ia pasti akan merana dan sunyi hidupnya kalau berjauhan dengan Beng San.

“Beng San….” rintihnya sambil mengusap air matanya yang berderai turun membasahi pipinya. “Ya Tuhan… mengapa aku menjadi begini….?” ia mengeluh bingung. Tidak semestinya ia mengejar Beng San. Ia seharusnya kembali, seharusnya malah meninggalkan Beng San jauh-jauh. Setanlah yang menggodanya ini, setan yang membisikkan hal-hal yang tak boleh ia lakukan. Tapi… ah, mengapa hatinya bulat-bulat menyerah? Mengapa kakinya seperti tidak mau disuruh pergi ke lain jurusan? Ia teringat ayahnya, lalu bersambat lirih,

“Ayah… anakmu telah gila… telah gila….” Dan sementara itu kedua kakinya terus berlari cepat, menuju Min-san! Di dunia ini, apakah yang lebih berkuasa dan aneh daripada cinta? Apakah yang lebih gila daripada orang muda yang sudah mabok madu asmara? Cinta kasih atau asmara telah banyak sekali menimbulkan cerita dan peristiwa yang lebih aneh daripada dongengan!

Dengan muka pucat kurus dan mata merah rambut awut-awutan pakaian compang-camping, setelah melakukan perjalanan terus-menerus, akhirnya Beng San sampai juga di puncak Min-san. Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dua orang pelayan wanita yang masih tinggal di situ hampir-hampir tidak mengenalnya. Sampai lama mereka memandang dengan bengong dan curiga, karena laki-laki muda yang berdiri di depan mereka itu lebih patut menjadi seorang pengemis yang liar daripada tuan muda mereka yang tampan.

“Bi Goat… mana Bi Goat….?” Suara Beng San serak, entah sudah berapa ribu kali kalimat pertanyaan ini keluar dari mulutnya di sepanjang perjalanan pulang. “Mana nyonya muda….?”

Setelah mendengar pertanyaan ini barulah dua orang pelayan tua itu merasa yakin bahwa yang berdiri di depan mereka sekarang ini adaiah “tuan muda” mereka.

“Siauw-ya (Tuan Muda)….!” keduanya lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis bersaing keras,

“Apa yang terjadi? Mana nyonya muda. Dia kenapa?” Akan tetapi dua orang pelayan itu menangis makin keras. Beng San tak sabar lagi. Sekali melompat ia telah memasuki rumah dan berlari-lari di dalam semua ruangan dan kamar, membuka dan menutup pintu seperti orang mengejar sesuatu. Seluruh bagian rumah, sampai ke kamar mandi, ia masuki namun sunyi sepi, tidak ada seorang pun manusia lagi kecuali dua orang pelayan wanita yang sedang menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya terpaksa Beng San kembali ke ruangan depan di mana dua orang pelayan itu menangis. Tubuh Beng San menggigil, matanya berputaran, jantungnya serasa berhenti berdetik.

“Mana dia? Mana Bi Goat? Katakanlah, mana Bi Goat? Ahh… kuhancurkan kepalamu kalau tidak bicara!” ia mengguncang-guncang pundak seorang pelayan yang menjadi ketakutan. Dengan muka pucat keduanya berhenti menangis, lalu dengan suara terputus-putus mereka bercerita,

“Mula-mula datang seorang nyonya bernama Kwa Hong… dia naik burung menakutkan… dia melahirkan anak di sini ditolong oleh Nyonya Muda… setelah dia dan anaknya pergi, Nyonya Muda jatuh sakit… tak pernah sehat lagi, lalu minta minta kepada Lo-ya (Tuan Tua) pergi menyusul Siauw-ya… tapi pulang tanpa Siauw-ya. Nyonya Muda makin sedih… lalu melahirkan dan… dan… tidak kuat… Nyonya Muda meninggal dunia….” Tak dapat tertahan lagi dua orang pelayan itu menangis terisak-isak.

Beng San meramkan mata, meringis kesakitan. Dadanya sebelah kiri serasa tertusuk, ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut. Ia tidak bisa menangis lagi, lehernya seperti dicekik dan bibirnya yang putih seperti kertas itu bergerak-gerak perlahan, lalu berhenti bergerak, ternganga dan pandang matanya jauh ke depan tak bersinar, seakan-akan ia sudah menjadi tubuh tak bernyawa, kehilangan semangatnya.

“Siauw-ya… Siauw-ya….” Pelayan yang tertua menubruk kaki Beng San tak tahan melihat majikannya berhal demkian itu, Beng San bergerak perlahan lalu terdengar suara dari mulutnya, suara yang terdengar seperti suara dari jauh.

“Di mana makamnya… di mana dikuburnya….?”

“Maafkan hamba, Siau-ya… karena Lo-ya membawa anak bayi itu, hamba sekalian terpaksa mengajak saudara-saudara dari kaki gunung untuk mengubur jenazah Nyonya Muda di pekarangan belakang rumah secara sederhana….”

Beng San lalu melangkah perlahan dan lemas, menuju ke pekarangan belakang, diikuti dua orang pelayan yang masih menangis terisak-isak. Akhirnya ia berdiri tegak di depan sebuah kuburan yang masih baru, kuburan sederhana yang tidak diberi batu nisan, hanya ditanami bunga mawar gunung kesukaan Bi Goat dan pohon kembang itu sudah mulai berbunga.

“Bi Goat… ampun… isteriku… ampun…” Beng San roboh ke depan, mukanya terbanting dan terbenam pada gundukan tanah kuburan.

Dua orang pelayan itu cepat menolong Beng San yang sudah pingsan sambil turut menangis. Akan tetapi setelah siuman kembali Beng San menyuruh dua orang pelayan itu pergi meninggalkannya seorang diri di kuburan isterinya. Malam itu hujan turun deras, namun Beng San tidak beralih dari tempatnya, tidak bergerak dan terus-menerus terdengar suaranya memanggil-manggil nama Bi Goat dan minta ampun. Semenjak saat ia roboh pingsan di kuburan isterinya, sampai berhari-hari ia tidak pernah pergi meninggalkan tempat itu, tak pernah makan tak pernah tidur! Beberapa kali dua orang pelayan yang setia itu datang menangis dan membujuk-bujuknya, namun Beng San malah marah-marah dan mengusir mereka pergi dari depannya.

Sepuluh hari kemudian tubuh Beng San telah menjadi kurus dan wajahnya pucat kehijauan, matanya makin liar. Hanya karena tubuhnya yang terlatih dan mengandung tenaga luar biasa itu saja yang membuat ia masih dapat menahan. Dua orang pelayan itu sudah tak berdaya lagi, tidak berani mendekati Beng San karena tuan muda ini marah-marah kalau di “ganggu”. Mereka menjadi putus asa dan merasa ngeri kalau membayangkan betapa pada suatu pagi mereka akan melihat tuan muda itu menggeletak dalam keadaan tak bernyawa karena kelaparan di kuburan itu.

Akan tetapi, seperti juga kelahiran takkan ada, kematian takkan menimpa diri seorang manusia kalau Tuhan belum menghendakinya. Demikian pula dengan Beng San. Orang muda ini bukannya sengaja bermaksud membunuh diri, akan tetapi ia sudah tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya, ingatannya sudah berubah karena tekanan batin yang amat hebat. Kedukaan yang hebat, penyesalan yang bertubi-tubi menghantam batinnya, tak kuat ia menahannya sehingga ia seperti orang yang sudah tidak waras lagi otaknya. Namun agaknya Tuhan Maha Pengasih suka mengampunkan dosanya.

Malam hari itu hujan turun rintik-rintik. Dinginnya bukan main di Puncak Min-san. Di kuburan Bi Goat, Beng San duduk bersila menghadap kembang mawar yang sudah rontok dari tangkainya, mengeluh dan bersambat dengan suara lirih,

“Bi Goat, isteriku. Kau begitu mulia, begitu suci cintamu kepadaku… dahulu kau sampai rela hendak mengorbankan nyawamu untukku…., ah, Bi Goat, tidak kelirukah kau memilih aku? Aku tidak berharga mendapatkan cintamu… aku seorang yang rendah. Aku telah mengadakan hubungan dengan Hong-moi… menjadi ayah dari anak Hong-moi, tapi aku tidak berterus terang kepadamu… Bi Goat… aku laki-laki mata keranjang, laki-laki berhati lemah, mudah runtuh menghadapi wanita cantik. Ia berhenti sebentar dan terdengar isaknya tertahan.

“Bi Goat, kenapa kau belum juga datang? Marahkah kau kepadaku? Sudah sepatutnya kau marah… aku minta ampun, Goat-moi… aku berdosa kepadamu. Sekarang kuakui semua dosaku… betul, aku telah berlaku serong… aku merusak hidup Hong-moi, malah sebelum itu… aku pernah mencinta Thio Eng. Ah, aku laki-laki mata keranjang, dan aku hampir runtuh pula ketika bertemu dengan Nona Cia Li Cu… hatiku mencinta mereka semua itu, ah… padahal kau begitu suci cintamu… aku berdosa, ampunkan aku….”
Sesosok bayangan muncul di belakang kuburan itu. Bayangan seorang wanita cantik berbaju merah! Perlahan-lahan bayangan ini melangkah maju dan terdengar suaranya lirih menggetar ditimpa suara hujan gerimis di malam gelap

“Beng San….”

Beng San mengangkat kepala perlahan. Matanya yang pedas dan merah itu ia gosok-gosok, kemudian ia menubruk maju, berlutut dan merangkul kaki wanita itu.

“Ah, Bi Goat… akhirnya kau datang juga….? Bi Goat, ampunkan aku… ampunkan aku…..”

Wanita itu mengucurkan air mata sehingga air mata itu bercampur dengan air hujan gerimis yang menimpanya, mengalir di sepanjang pipinya. Jari tangannya mengelus-elus rambut kepala Beng San dan ia berkata terharu.

“Bi Goat sejak dulu mengampunimu… Beng San….”

“… ah, betulkah? Betulkah kau sudi mengampuni dosaku? Aku telah gila… aku telah gila… aku… aku menyakiti hatimu… sudikah kau mengampuniku?”

“Aku mengampuni semua kesalahanmu….” jawab wanita itu, “… asal saja… asal saja kau suka menurut segala kata-kataku.”

“Aku akan taat, akan kuturut semua, demi Tuhan. Aku bersumpah akan mentaati segala perintahmu, biar kausuruh masuk ke lautan api sekalipun!”

“Kalau begitu, bangunlah dan mari kita masuk ke rumah, tak baik berhujan-hujan di sini, hayo kauikuti aku, Beng San!”

Beng San bangun berdiri, tersenyum-senyum dan wanita itu makin terharu ketika melihat betapa wajah laki-laki itu berubah seperti wajah seorang anak kecil yang diampuni orang tuanya karena kenakalannya.

“Aku ikut… aku ikut….” kata Beng San yang berjalan terhuyung-huyung saking lemas badannya di belakang wanita itu. Wanita baju merah itu segera memegang lengannya dan membantunya berjalan menuju ke rumah itu.

Dua orang pelayan sudah menyambut di pintu belakang, wajah mereka tampak
lega. “Ah, syukur, Nona. Syukur kau berhasil….” kata mereka.

“Sttt….” Wanita itu mencegah mereka bicara. “Lekas sediakan air panas dan pakaian Siauw-ya, kemudian sediakan makanan yang lunak… jangan lupa hangatkan arak….”

Dengan tersenyum gembira dua orang pelayan itu pergi mempersiapkan permintaan wanita itu. Beng San benar-benar menurut sekali terhadap wanita yang dianggapnya Bi Goat itu. Disuruh membersihkan tubuh dan menukar pakaian, ia menurut seperti anak kecil, disuruh makan bubur panas ia pun menurut saja. Kemudian ia pun tidak membantah ketika disuruh tidur di kamarnya sendiri, diselimuti oleh wanita itu yang duduk di pinggir ranjang dan yang melayaninya dengan penuh perhatian.

Siapakah wanita baju merah itu? Benarkah dia Bi Goat? Tidak mungkin, Bi Goat sudah mati, sudah dikubur. Ia bukan lain adalah Li Cu! Seperti dituturkan di bagian depan, Li Cu tak dapat menahan hati dan kakinya sendiri menyusul Beng San di Min-san. Ia kalah cepat oleh Beng San, maka baru sepuluh hari kemudian ia tiba di puncak Min-san. Bukah main sedih dan terharu hatinya ketika ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu tentang keadaan Beng San. Ia mengaku menjadi sahabat baik Beng San dan Bi Goat. Setelah ia mendengar penuturan dua orang pelayan itu, serta-merta pada hari itu juga ia menyusul Beng San ke kuburan dan akhirnya ia berhasil membujuk Beng San pulang, sungguhpun perih hatinya karena Beng San mau menuruti permintaannya setelah mengira bahwa dia adalah Bi Goat!

Bulan-bulan mendatang merupakan masa yang amat sulit bagi Li Cu. Beng San benar-benar telah berubah ingatannya, atau telah kehilangan ingatannya sehingga ia menjadi seperti anak kecil saja, anak kecil yang amat manja. Akan tetapi kemanjaan ini tertuju kepada……

isterinya, kepada Bi Goat! Dia telah lupa segalanya, keinginannya hanya berdekatan dengan Bi Goat, tak boleh ditinggalkan sebentar juga. Lebih hebat lagi, dia agaknya telah lupa akan semua kepandaiannya. Beberapa kali Li Cu mencobanya, namun benar-benar Beng San tidak ingat lagi bagaimana untuk bersilat sungguhpun tenaga murni dalam tubuhnya masih tetap kuat dan tidak ikut lenyap.

Cia Li Cu adalah keturunan orang-orang yang terkenal keras hati. Agaknya watak ini diwariskan oleh nenek moyangnya, yaitu Ang I Niocu, pendekar wanita sakti yang terkenal keras hati. Sekali mengambil keputusan takkan dapat diubah lagi, sekali menjatuhkan hati takkan dapat pula diubah. Setelah hatinya dikecewakan Beng Kui dan membuat ia benci sekali kepada suhengnya itu, barulah ia sadar bahwa semenjak dahulu sebetulnya ia tidak pernah mencinta Beng Kui. Perasaannya dahulu terhadap Beng Kui hanyalah kagum saja karena semenjak kecil suhengnya itu selalu lebih tinggi segala-galanya daripada dirinya sendiri, juga dalam ilmu silat. Maka begitu ia melihat watak yang buruk dalam diri Beng Kui, apalagi karena ia dikesampingkan dan suhengnya itu menikah dengan wanita lain, kekagumannya sekaligus buyar dan otomatis ia pun tidak ada rasa suka kepada kakak seperguruan itu.

Terhadap Beng San lain lagi perasaannya. Sebetulnya lebih banyak perasaan terharu dan iba akan nasib orang muda itu daripada kekaguman. Malah sering kali ia merasa gemas kepada Beng San, anehnya, bukan gemas karena perlakuan pemuda itu kepadanya melainkan gemas karena Beng San begitu banyak kekasihnya! Memang cinta itu aneh sekali. Mendatangkan cemburu, kadang-kadang mendatangkan benci! Semua ini hanya dapat terasa oleh mereka yang menjadi korban panah asmara. Demikian hebat kekerasan asmara sehingga mampu menundukkan seorang gadis seperti Li Cu yang terkenal keras hati, berubah menjadi demikian jinak, demikian telaten dan sabar dalam merawat orang yang dicintanya.

Benar-benar bukan ringan pekerjaan Li Cu ini. Terutama sekali tekanan batin yang dideritanya. Bayangkan betapa beratnya bagi perasaan seorang gadis yang jatuh cinta untuk merawat orang yang dicintanya itu dan mendengarkan kekasihnya itu setiap saat memuji-muji dan menyatakan cinta kasihnya kepada seorang wanita lain. Lebih hebat lagi bagi Li Cu, Beng San menyatakan cinta kasih kepadanya karena menganggap dia Bi Goat! Seringkali ia harus menahan-nahan air matanya karena hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Kadang-kadang terbayang pula senyum di bibirnya yang manis dan cahaya harapan di matanya yang indah itu manakala Beng San dalam ketidaksadarannya “mengaku” kepada Bi Goat bahwa dia tertarik kepada Li Cu! Sungguhpun hanya sedikit sekali pengakuan cinta ini, namun sudah merupakan setetes embun menyegari bunga yang kekeringan di dalam hati Li Cu.

Betapapun juga, Li Cu adalah seorang gadis yang patut dipuji kebersihan dan kekuatan batinnya. Biarpun ia jatuh cinta kepada Beng San dan berbulan-bulan tinggal serumah dengan pemuda itu, namun gadis itu tetap dapat mempertahankan garis pemisah, tetap ia dapat mencegah terjadinya pelanggaran susila yang terdorong oleh iblis nafsu yang memabokkan. Bagi Li Cu, cintanya murni dan timbul dari hati nurani yang bersih. Ia hanya mempunyai sebuah keinginan, yaitu merawat orang yang dicintanya, melihatnya sembuh dan harapan terakhir adalah harapan semua wanita yang mencintanya, yaitu, berhasil merebut hati kekasihnya, berhasil membuat dirinya dicinta kembali berlipat ganda dan akhirnya dapat menjadi seorang isteri yang terkasih. Hal ini mudah saja ia pertahankan oleh karena kini Beng San benar-benar amat penurut dan mentaati segala kehendaknya.

Dua orang pelayan setia itu masih merasa bersyukur dan berterima kasih sekali kepada Li Cu yang sekarang mereka anggap sebagai pengganti nyonya muda, sungguhpun diam-diam mereka terheran mengapa seorang nona cantik dan muda suka bersikap demikian baiknya terhadap Beng San. Namun sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman akhirnya mereka dapat menarik kesimpulan bahwa semua itu adalah akibat daripada asmara yang mendalam dan suci. Maka tanpa ragu-ragu lagi mereka pun lalu bercerita kepada Li Cu akan segala yang mereka ketahui tentang diri Beng San dan Bi Goat. Malah mereka memperingatkan nona itu agar hati-hati karena mereka berdua itu takut sekaii kalau-kalau lo-ya-cu, yaitu Song-bun-kwi Kwee Lun kembali dan mengamuk lagi.

“Entah bagaimana nasib bayi puteri Siauw-ya yang belum diberi nama itu,” pelayan tertua menutup kisahnya. “Semoga saja ia tidak menjadi korban keganasan Lo-ya yang sudah demikian kalap. Hamba benar-benar kuatir, ah… kalau Lo-ya pulang… apa yang terjadi?”

“Tenangiah, tak perlu kuatir. Kematian Bi Goat bukanlah karena kesalahan Beng San. Pula andaikata dia datang dan mau menang sendiri, ada aku di sini untuk melindungi Beng San,” kata Li Cu dengan suara yang gagah. Akan tetapi sesungguhnya hatinya kecut-kecut kalau ia memikirkan kakek itu. Ia maklum bahwa kata-katanya di depan para pelayan itu hanya omong besar saja, karena kalau disuruh sungguh-sungguh menghadapi kakek Song-bun-kwi yang sakti itu, sedikit sekali harapan dia akan menang.

Oleh karena inilah pedang Liong-cu-kiam tak pernah terpisah dari tubuhnya, selalu terpasang di belakang punggung untuk menjaga segala kemungkinan. Sampai tiga bulan lebih Li Cu dengan tekun dan sabar merawat Beng San. Kesehatan Beng San sebetulnya sudah pulih, akan tetapi hanya kesehatan jasmani saja, Ingatannya masih belum sembuh sama sekali.

Pagi hari itu, seperti biasa Li Cu mengajak Beng San duduk di taman bunga di sebelah kiri rumah. Setiap pagi gadis ini mengajak Beng San berjemur matahari pagi di tempat itu. Dan seperti biasa, dengan sikap manja sekali Beng San merebahkan diri di atas bangku panjang dan kepalanya telentang di atas pangkuan Li Cu! Gadis ini dengan kasih mesra mengusap-usap rambut Beng San sambil memandangi wajah yang nampak bodoh itu.

“Beng San, masih belum ingatkah kau? Masih belum ingat benarkah bahwa aku adliah Li Cu?” perlahan Li Cu bertanya dengan suara lirih dan hati-hati sekali.

Beng San tersenyum, “Bi Goat, jangan kau menggoda aku. Kau tahu bahwa aku suka kepada Nona Cia Li Cu, bahwa aku tertarik dan kagum sekali kepadanya, lalu kau sekarang meggodaku, ya?”

Seperti biasa kalau mendengar kata-kata ini, Li Cu merasa tertusuk jantungnya. Ia menggigit bibir, matanya menjadi sayu, tapi ia menguatkan hatinya dan berkata lemah-lembut.

“Beng San, aku sungguh bukan Bi Goat. Aku Cia Li Cu, Beng San, aku pun suka kepadamu, tapi… tapi jangan kau menyangka aku Bi Goat. Bi Goat sudah… sudah mati….” hati-hati sekali ia mengucapkan ini sambil menatap tajam-tajam muka orang di atas pangkuannya itu dan tangannya membelai dengan halus.

Beng San serentak bangkit dan duduk, kedua tangan Li Cu dipegangnya lalu ia berlutut di atas tanah. “Bi Goat, isteriku, jangan kau mempermainkan aku. Kalau Bi Goat sudah mati bagaimana kau bisa berada di sini? Bi Goat, aku memang berdosa kepadamu, ampunkanlah aku… aku menurut segala kehendakmu, tapi… tapi jangan kau marah, jangan tinggalkan aku….”

Li Cu menarik napas panjang dan menggoyang-goyang kepalanya. Tidak ada kemajuan sama sekali. Kalau sudah merengek-rengek minta ampun begini Beng San tidak mau sudah kalau belum ia ampunkan. Terpaksa berkata,

“Sudahlah, aku ampunkan kau.”

Dengan girang Beng San rebah lagi dengan kepala di atas pangkuan Li Cu. Ia tersenyum-senyum dengan wajah berseri girang. Li Cu makin terharu melihat ini. Selama berbulan-bulan ini Beng San memasuki kamarnya yang terpisah, dan hal ini pun selalu diturut oleh Beng San biarpun dengan wajah kelihatan berduka sekali! Li Cu sendiri mulai merasa ragu-ragu akan kekuatan pertahanan hatinya sendiri. Ia makin kasihan kepada Beng San. Selama berbulan-bulan menggantikan kedudukan Bi Goat ini, tampaklah jelas olehnya bahwa Beng San sama sekali bukanlah laki-laki mata keranjang perusak wanita seperti yang telah ia dengar dari suhengnya. Buktinya, terhadap isteri sendiri saja Beng San begini lemah lembut, menaruh hormat dan tidak mau bersikap menang sendiri. Apalagi terhadap wanita lain? Peristiwa yang terjadi antara Beng San dan Kwa Hong tentu terdorong oleh sesuatu, tidak sewajarnya. Beng San pernah bercerita kepadanya tentang itu, dikatakannya bahwa Beng San dan Kwa-Hong lupa karena pengaruh racun yang sengaja ditaruh dalam makanan oleh musuh dalam ketentaraan Mongol. Tapi Beng San hanya menyebut nama Pangeran Souw Kian Bu. Adapun tentang pengalaman Beng San dalam asmara dengan Thio Eng, dengan dia sendiri, ah, ia tidak percaya bahwa Beng San sengaja berlaku sebagai seorang pemuda mata keranjang. Ia sama sekali tidak mau percaya bahwa Beng San berwatak kotor, rendah atau cabul.

“Beng San, cobalah kauingat-ingat, apakah kau benar-benar lupa akan kepan daian ilmu silatmu?”

Beng San tertawa, matanya berseri jenaka. “Bi Goat, jangan kaugoda aku seperti itu! Kau tahu bahwa aku adalah seorang kutu buku, seorang yang sejak kecil hanya mempelajari kitab-kitab filsafat. Kitab To-tik-keng aku hafal di luar kepala. Kau boleh tanya tentang Su-si Ngo-keng, tentang filsafat hidup dan pelajaran agama. Akan tetapi ilmu silat? Huh, untuk apa ilmu silat itu? Hanya untuk menakut-nakuti orang, menyombongkan diri dan paling banyak hanya menjadi kepandaian tukang-tukang pukul dan buaya-buaya darat, tukang-tukang berkelahi saja!”

Sekali lagi Li Cu menarik napas kecewa. Ia tadinya tidak percaya dan pernah ia menyerang Beng San dan ternyata menghadapi sebuah pukulan biasa saja Beng San tidak mampu menghindarkan diri. Akan tetapi Iwee-kang di tubuhnya masih tetap ada dan kuat sungguhpun agaknya Beng San lupa pula bagaimana untuk menyalurkan hawa murni di tubuhnya itu. Tadinya ada pikiran padanya untuk melatih Beng San, akan tetapi pikiran ini ia buang lagi ketika ia teringat betapa tingkat kepandaian Beng San sebetulnya sudah jauh melampauinya sehingga kalau sekarang Beng San menerima pendidikan mulai pertama daripadanya, apakah akan jadinya? Jangan-jangan malah pelajaran itu menyeleweng dan tidak cocok dengan hawa murni di tubuh Beng San.

Ia menunduk dan memandang wajah yang tampan itu. Ah, kalau ia teringat betapa dahulu Beng San dengan berani mati menyerbu ke sarang Ho-hai Sam-ong, mati-matian datang untuk menolongnya! Kalau ia teringat akhir-akhir ini betapa Beng San tanpa mempedulikan diri sendiri telah menyedot asap beracun yang berada di dadanya, menyedot begitu saja dari mulut ke mulut! Ah, ia tidak saja berhutang budi, juga berhutang nyawa. Hanya dapat ia balas dengan cinta kasih. Kalau sudah mengenangkan itu semua, ingin ia mendekap kepala itu, ingin membelainya dan menunjukkan kasih sayangnya. Akan tetapi Li Cu menahan hatinya, hanya memandang dengan wajah sayu dan mata redup setengah dikatupkan.

Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa sudah semenjak ia keluar bersama Beng San dari dalam rumah tadi, sepasang mata menyaksikan semua yang terjadi antara dia dan Beng San. Sepasang mata yang tajam, dilindungi alis tebal yang kadang-kadang mengerut, kadang bergerak-gerak. Sepasang mata itu kadang-kadang menjadi redup terharu, kadang-kadang menyorotkan api kemarahan. Sepasang mata milik seorang laki-laki tua yang tampan dan gagah perkasa, seorang pendekar yang bukan lain adalah Bu-tek Kiam-ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan) Cia Hui Gan, ayah dari Cia Li Cu!

Dan baru saja, dari lain jurusan, datang pula seorang tokoh lain yang gerakannya demikian ringan sehingga tidak terdengar oleh Si Raja Pedang sekalipun. Orang ini pun mengintai dan matanya yang liar menjadi makin berputaran marah ketika ia melihat adegan mesra itu, yaitu Beng San rebah telentang di bangku dengan kepala di atas pangkuan seorang dara cantik jelita yang mengelus-elus rambutnya! Orang ini bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung! Song-bun-kwi Kwee Lun masih dapat mendengar tanya jawab antara Li Cu dan Beng San tentang ilmu silat tadi dan kegirangan hatinya bukan main ketika ia mendengar bahwa Beng San telah hilang ingatannya dan telah hilang atau terlupa pula ilmu silatnya.

“Si keparat Beng San! Kau telah kehilangan kepandaianmu, sekarang kau akan kehilangan nyawamu yang harus menghadap Bi Goat untuk menebus dosa,” demikian katanya dalam hati. Tiba-tiba ia melompat keluar sambil tertawa bergelak. Tanpa berkata apa-apa serentak maju menubruk dan menghantam dada Beng San yang rebah telentang di atas bangku.

Li Cu berseru panjang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi tubuhnya otomatis bergerak dan ia mendorong tubuh Beng San sekuat tenaga sambil ia sendiri melompat ke belakang dan mencabut pedangnya. Biarpun tubuhnya sudah terdorong dan terlempar dari bangku, tetap saja punggung Beng San keserempet pukulan Song-bun-kwi. Beng San terpelanting dan terguling-guling sambil muntahkan darah segar dari mulutnya. Baiknya Iwee-kang di tubuhnya masih ada dan otomatis tenaga dalam ini bekerja untuk menahan atau melindungi tempat yang terpukul, maka Beng San hanya, mengalami luka ringan di sebelah dalam saja dan nyawanya selamat. Di dalam tubuh Beng San terkandung dua hawa yang amat besar, hawa Im dan Yang, dua hawa yang bertentangan akan tetapi telah teratur kedudukannya. Berbeda dengan orang lain apabila terpukul dan menderita luka dalam, muntah darah berarti membahayakan. Sebaliknya Beng San dengan muntah darah ini malah menyatakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya bekerja dan darah yang dimuntahkan itu sajalah yang menjadi akibat pukulan tadi.

Melihat Beng San muntah darah, Li Cu kaget setengah mati dan mengira bahwa Beng San pasti terluka parah. Ia marah bukan main dan pedangnya lalu diputar ke depan.

“Song-bun-kwi manusia iblis! Kau keji dan curang. Kalau memang ada kepandaian, mengapa menyerang orang sakit? Majulah, aku musuhmu!” Pedangnya menyambar-nyambar ke depan dan sekejap mata saja gulungan sinar pedang mengurung Song-bun-kwi dengan hebatnya.

Song-bun-kwi tertawa bergelak, pedangnya cepat menangkis dari samping lalu ia berkata,

“Perempuan tak tahu malu! Aku hendak membunuh mantuku sendiri yang telah menyebabkan kematian anakku, yang telah meninggalkan anakku untuk bermain gila dengan segala perempuan busuk, kau menghalangi ada hubungan apakah? Apakah kau kekasihnya yang baru?”

Kemarahan Li Cu membuat ia hampir menangis mendengar caci-maki kotor ini. Akan tetapi ia harus membela Beng San, membela nyawanya juga membela nama baiknya.

“Song-bun-kwi, kau seorang kakek tua bangka yang sudah mau mati tapi ucapanmu seperti orang gila atau seperti anak kecil saja! Beng San bukan menjadi sebab kematian Bi Goat. Selama ini dia pergi karena dia membantu Kaisar untuk membasmi orang-orang jahat yang hendak memberontak. Dia dimintai bantuan oleh Pek-lian-pai dalam tugas yang mulia. Yang menyebabkan kematian anakmu adalah iblis wanita Kwa Hong. Kalau kau memang mendendam, mengapa kau tidak mencari dan membalas kepada Kwa Hong? Andaikata kau hendak membalas kepada Beng San, sebagai orang gagah kau pun harus menanti sampai dia sembuh agar dia dapat melayanimu. Apakah kau sudah berubah menjadi pengecut?”

Song-bun-kwi mengeluarkan suara menggereng hebat, matanya liar. “Kwa Hong akan kubunuh, Beng San akan kubunuh, dan kau yang membelanya akan kubunuh lebih dulu!” Setelah berkata demikian ia menubruk maju dan menyerang dengan pedangnya. Pedangnya ber gerak menusuk kemudian ditarik ke bawah. Kalau serangan ini berhasil tentu korbannya akan terbelah dada dan perutnya, Namun dengan gerakan lincah dan indah sekali Li Cu sudah mengelak ke kanan, tubuhnya berputar seperti orang menari kemudian membabat dengan pedangnya ke arah pedang lawan. Ia hendak mengandalkan ketajaman Liong-cu-kiam untuk mematahkan senjata lawannya.

Akan tetapi Song-bun-kwi bukanlah seorang tokoh yang masih hijau. Ia cukup mengenal Liong-cu-kiam. Biarpun yang ia pegang juga sebatang pedang yang baik dan kuat, namun ia tidak berani mengadukan pedangnya secara langsung dengan Liong-cu-kiam. Ia hanya menyampok pedang lawan yang ampuh bukan main itu dari samping dengan pedangnya sehingga terhindar peraduan. kedua pedang pada bagian tajamnya.

Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya, dan mati-matian. Ilmu kepandaian Song-bun-kwi hebat bukan main, dia adalah tokoh besar dalam dunia persilatan. Biarpun Li Cu juga telah mewarisi ilmu pedang yang sakti, namun ia kalah pengalaman bertempur biarpun di tangannya ada pedang pusaka Liong-cu-kiam. Song-bun-kwi tidak mengenal ampun, mendesak terus sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat karena ia maklum bahwa lawannya biarpun hanya merupakan seorang gadis muda namun cukup lihai dan berbahaya. Malah kakek ini di samping pedangnya yang dimainkan dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut dicampur ilmu pedangnya Sendiri, juga mulai melancarkan pukulan-pukulan maut dengan tangan kirinya, menggunakan pukulan jarak jauh yang bukan main dahsyatnya. Tiap kali pukulan ini datang, Li Cu merasa sambaran angin yang hebat ke arahnya. Ia kaget sekali dan maklum bahwa biarpun kepadaian lawan tidak mengenai tubuhnya, hawa pukulan itu kalau tepat mengenai bagian berbahaya, bisa mendatangkan celaka. Maka ia selalu mengelak kalau diserang pukulan ini. Kali ini membuat keadaannya terhimpit.

“Heeei, jangan serang isteriku. Eh, kakek yang baik, orang setua engkau seharusnya memberi contoh baik kepada yang muda, mengapa malah suka berkelahi? Heee! Hati-hati, jangan main-main dengan pedang yang begitu tajam, jangan-jangan kau nanti mencelakai isteriku!” Beng San berteriak-teriak penuh kekuatiran. Tadi ia agak nanar maka ia setengah pingsan oleh pukulan yang membuat ia muntah darah. Akan tetapi setelah ia dapat bangun, ia segera berteriak-teriak melarang Song-bun-kwi menyerang “isterinya”.

Mana Song-bun-kwi mau pedulikan dia? Makin hebat Song-bun-kwi mendesak sehingga pada suatu saat Li Cu terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja menjadi korban pukulan mautnya. Beng San tak dapat menahan kesabarannya lagi, ia melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.

“Orang tua, kenapa kau begini nekat? Isteriku pandai main pedang, kalau sampai dia marah… hemmm, apakah kau sudah bosan hidup?”

Song-bun-kwi kaget juga menyaksikan sikap Beng San ini. Dilihat sikapnya yang begitu berani, agaknya pemuda ini masih memiliki kepandaiannya sejenak ia tertegun dan ini membuat gerakannya agak kalut dan terlambat sehingga Li Cu dapat memperbaiki kedudukannya dan berbalik gadis yang tadinya terdesak itu sekarang dapat balas menyerang.

“Bagus, Beng San. Kau majulah, pukul dia mampus dengan ilmu saktimu!” Li Cu berseru keras. Song-bun-kwi makin bingung dan kaget, dikiranya betul-betul Beng San hendak menyerangnya. Kembali kesempatan ini dipergunakan oleh Li Cu untuk mainkan pedangnya dan… “brett” ujung baju kakek itu terbabat putus! Song-bun-kwi kaget sekali dan cepat ia melompat ke arah Beng San sambil mengayun pedangnya.

Girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa sama sekali Beng San tidak dapat mengelak, malah Li Cu yang menangkisnya serangan ini.

“Aha, kalian mau menipu aku? Ha-ha-ha, kalian harus mampus sekarang juga!” Dengan ucapan ini Song-bun-kwi mendesak makin, hebat sehingga Li Cu menjadi sibuk menangkis dan mengelak. Sekali pundaknya terkenal pukulan tangan kiri Song-bun-kwi sehingga gadis itu terpaksa menggulingkan diri dan bergulingan menjauhkan diri dari Song-bun-kwi. Namun sambii tertawa-tawa kakek ini mengejar terus dengan pedang diangkat, siap untuk membacok.

“Tranggg!” Pedang Song-bun-kwi terpental dan biarpun pedang itu tidak terlepas dari pegangannya dan ia cepat dapat melompat mundur, namun lengannya agak di atas pergelangan telah tergores pedang di tangan Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan yang sudah berdiri dengan gagah di situ. Pendekar pedang inilah yang tadi menangkis bacokan Song-bun-kwi untuk menolong nyawa puterinya.

Melihat datangnya Raja Pedang ini, Song-bun-kwi mendengus marah, “Huh, kau juga ikut-ikut urusanku?”

“Song-bun-kwi iblis tua! Seorang ayah melihat puterinya hendak dibunuh orang bagaimana bisa diam saja?”

Sejenak Song-bun-kwi tertegun. Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Cia Hui Gan, maka tidak berani berlaku sembrono. Kemudian ia menoleh ke arah Beng San yang berdiri bengong di pinggiran.

“Bagus, kau betul sekali, Kiam-ong. Anakku dibunuh orang, mana aku bisa diam saja?” Sambil berkata demikian ia menubruk ke depan dan menyerang Beng San dengan pedangnya.

Melihat itu Li Cu kembali menggerakkan senjatanya menangkis serangan kakek itu. Kali ini Song-bun-kwi terlalu bernafsu dalam penyerangannya maka pedangnya bertemu dengan telak sekali dengan pedang di tangan Li Cu. Dengan mengeluarkan bunyi nyaring, pedang di tangan Song-bun-kwi terbabat putus menjadi dua potong oleh Liong-cu-kiam!

“Li Cu, jangan mencampuri urusan mereka!” Cia Hui Gan membentak anaknya, mukanya menjadi merah dan malu melihat sikap puterinya itu.

Akan tetapi, Li Cu dengan pedang di tangan berdiri memandang ayahnya dengan mata bersinar. “Ayah, Beng San tidak pernah membunuh anak Song-bun-kwi yang mati karena melahirkan. Beng San bahkan amat mencintanya. Mana bisa aku membiarkan orang membunuhnya? Kalau Song-bun-kwi menantang Beng San dalam keadaan seperti biasa, aku pun tidak peduli. Akan tetapi Beng San sedang sakit, sama sekali tidak dapat melawan!”

SONG-BUN-KWI marah sekali akan tetapi juga gentar. Menghadapi gadis itu saja sudah payah untuk mencapai kemenangan, apalagi sekarang muncul ayahnya yang tentu saja tidak membiarkan ia mengganggu Li Cu. Pada saat itu terdengar tangis seorang anak tak jauh dari situ. Mendengar ini Song-bun-kwi mengeluarkan gerengan-gerengan marah lalu ia melompat pergi ke arah suara tangisan anak kecil itu. Dari jauh terdengar suaranya, “Bu-tek Kiam-ong, kau mengandalkan nama besarmu bersikap sewenang-wenang. Tunggulah, kelak aku mencarimu di Thai-san!”

Sejenak hening. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Si ayah dengan sinar mata penuh kemarahan, Si anak tenang-tenang saja namun tarikan mukanya jelas membayangkan keteguhan hatinya.

“Li Cu, apa artinya semua ini?” akhirnya suara si ayah terdengar memecah kesunyian.

“Artinya, Ayah, bahwa aku cinta kepada Beng San dan sisa hidupku akan kuhabiskan di sampingnya,” jawab gadis itu dengan suara penuh ketetapan hati.

Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan mengerutkan keningnya. “Tapi… tapi ia seorang gila….”

“Dia tidak gila, Ayah. Hanya kehancuran hati membuat ia demikian. Ia kematian isterinya yang tercinta dan ia merasa berdosa besar terhadap isterinya sehingga kesedihan membuat ia kehilangan ingatan. Akan tetapi… dia seorang berbatin mulia, Ayah, telah beberapa kali menyelamatkan nyawaku tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri. Aku ingin membalas budinya dan….”

“Tapi dia tidak menganggapmu sebagai Cia Li Cu….”

“Memang dia menganggap aku sebagai isterinya yang sudah meninggal dunia.
Dan ini lebih mempertebal keyakinanku betapa setia hatinya, penuh cinta kasih murni. Aku tak dapat meninggalkannya, Ayah karena hal itu berarti dia akan celaka.”

“Li Cu, apa kau juga sudah menjadi gila? Anakku hendak mengorbankan sisa hidupnya untuk seorang gila? Tak mungkin! Kakak kandungnya seorang berwatak durhaka dan busuk, adiknya takkan jauh bedanya. Dia harus mampus saja daripada merusak hidupmu!” Tiba-tiba sinar terang berkelebat dan tahu-tahu kakek ini sudah menerjang ke arah Beng San yang berdiri melongo melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.

“Ayah….!!” Li Cu bergerak dan “trangg!” bunga api berpijar, pedang Liong-cu-kiam di tangan Li Cu terlepas menancap di atas tanah, akan tetapi pedang di tangan Cia Hui Gan sudah patah menjadi dua potong!

Kembali ayah dan anak berpandangan, bertentangan mengadu kekuatan kemauan yang sama kerasnya. “Aku mendengar ejekan si bangsat Beng Kui….” kata Cia Hui Gan, suaranya perlahan penuh penyesalan, “bahwa anakku tergila-gila kepada seorang laki-laki pengrusak wanita! Bahwa Beng San ini sudah merusak penghidupan seorang gadis murid Hoa-san-pai yang ditinggalkannya untuk menikah dengan anak Song-bun-kwi. Sekarang agaknya ia menjadi sebab kematian isterinya itu dan dia sekarang menempel engkau!”

“Ayah….! Semua itu bohong belaka! Semua itu terjadi bukan karena kesalahan Beng San. Tentang aku…, bukan dia yang menempel, melainkan aku sendiri yang tidak dapat berpisah lagi daripadanya.”

Bergerak-gerak alis mata Cia Hui Gan. “Hemm, pendapat seorang bocah masih hijau! Cintamu mudah berubah dan berganti-ganti. Orang ini lebih baik mati daripada merusak hidupmu!” Dengan pedang yang tinggal sepotong itu Cia Hui Gan melompat ke depan dan menyerang Beng San lagi.

“Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, kau boleh melihat anakmu menggeletak tanpa nyawa lebih dulu!” Li Cu berseru keras dan cepat ia menyambar” Liong-cu-kiam dari atas tanah, langsung ia bacokkan ke lehernya sendiri!

“Anak gila….!” Pedang buntung di tangan Cia Hui Gan terlepas meluncur ke arah Li Cu dan menghantam Liong-cu-kiam di tangan gadis itu. Hebat sekali sambitan ini yang merupakan kepandaian istimewa dari Si Raja Pedang, sehingga Li Cu sendiri tidak sanggup mempertahankan pedangnya yang runtuh terlepas dari tangannya. Gadis ini menangis dan menutupi mukanya.

“Ayah…, kau boleh bunuh dia… tapi aku pun tidak sudi lagi hidup di dunia ini….” tangisnya.

Cia Hui Gan menarik napas panjang. Ia amat sayang kepada puteri tunggalnya ini. Ia hidup hanya berdua dengan puterinya karena ibu Li Cu sudah sejak dahulu meninggal dunia. Bagaimana ia dapat merelakan anaknya mati? Tadi pun ia hanya ingin menyelami hati Li Cu sampai di mana perasaan yang dianggapnya cinta kasih oleh anaknya itu terhadap Beng San. Kakek ini maklum betapa sakit dan hancurnya hati Li Cu karena sikap dan perlakuan Beng Kui kepadanya. Dan kakek ini maklum pula bahwa biarpun di mulutnya tidak pernah menyatakan sesuatu, namun di dalam hatinya gadisnya itu tentu menaruh penyesalan kepada ayahnya sendiri, karena sesungguhnya dialah yang dahulu menjodohkan anaknya itu dengan Beng Kui. Beng Kui adalah pemuda pilihan Cia Hui Gan untuk anaknya yang hanya mentaati kehendak ayah. Setelah pilihan itu ternyata keliru, sekarang anaknya mencari pilihan hatinya sendiri, bagaimana dia tega untuk menghalanginya? Sebetulnya, sejak dahulu ketika untuk pertama kali bertemu dengan Beng San (baca Raja Pedang), memang Cia Hui Gan menaruh rasa simpati yang besar terhadap pemuda ini dan diam-diam ia mengakui bahwa Beng San sebetulnya lebih cocok untuk menjadi jodoh puterinya. Akan tetapi sekarang pemuda itu selain sudah menjadi duda yang ditinggali anak, juga keadaannya tidak normal lagi, kehilangan ingatan dan lupa akan kepandaiannya sama sekali!

“Kau memang bandel….” akhirnya ia berkata. “Baiklah kalau kau memang sudah yakin akan cinta kasihmu kepada Beng San, akan tetapi kelak jangan kau salahkan ayahmu kalau kau kecewa.”

“Ayah… terima kasih, Ayah….” Li Cu menubruk dan merangkul ayahnya sambil menangis.

“Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini, tak boleh mengacau di tempat orang lain. Hemm, bocah itu hanya akan memancing datangnya banyak musuh ke Thai-san….”

Li Cu tidak memberi komentar apa-apa atas ucapan ayahnya ini, melainkan dengan girang ia lalu menggandeng tangan Beng San sambil menariknya dan berkata,

“Beng San, hayo kau ikut aku ke Thai-san.”

“Bi Goat, kenapa kita ke Thai-san?” Beng San bertanya seperti orang bingung.

“Mulai sekarang kita akan tinggal di sana, kau ikutlah saja dengan aku dan jangan banyak bertanya.”

Beng San mengangguk-angguk. “Baiklah…baiklah, kita ke Thai-san…aku menurut dan takkan membantah asal selalu berada di dekatmu.”

Melihat dan mendengar ini Cia Hui Gan menggeleng kepalanya dan diam-diam ia berdoa kepada Tuhan semoga keputusan yang diambil oleh anaknya itu tidak keliru dan tidak akan merusak penghidupan anaknya dikelak kemudian hari.

Dalam perjalanan menuju ke Thai-san itu, atas pertanyaan Li Cu, Cia Hui Gan menceritakan apa yang telah terjadi di kota raja. Seperti telah diceritakan di bagian depan, orang-orang gagah berusaha untuk menggagalkan rencana jahat yang diatur oleh Pangeran Lu Siauw-Ong dan Ho-hai Sam-ong. Di antara mereka itu terdapat Cia Hui Gan dan anaknyai Li Cu sendiri pergi menyusul rombongan Kaisar untuk melindunginya, adapun Cia Hui Gan pergi ke kota raja untuk hukum muridnya yang murtad dan durhaka. Telah dituturkan di bagian depan betapa Kaisar telah terhindar dari malapetaka pencegatan Ho-hai Sam-ong dan anak buahnya dan teman-temannya. Sebagian besar adalah jasa Beng San yang lebih dahulu secara sembunyi telah menjumpai Kaisar di tengah perjalanan dan mengajukan usul agar supaya Kaisar diam-diam kembali ke kota Raja, dan menyuruh orang lain menggantikan Kaisar di dalam joli, Seperti telah kita ketahui, Ho-Hai Sam-ong tertipu dan usaha mereka tidak saja hancur berantakan, malah mereka tewas.

Adapun Cia Hui Gan yang mencari muridnya, Tan Beng Kui di kota saja, datang dalam saat yang kebetulan pula. Pemberontakan telah pecah, terjadi penyerbuan para pemberontak ke dalam istana. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka ketika tiba-tiba, tidak saja muncul para pengawal yang serba lengkap dan kuat, juga muncul banyak sekali anggota Pek-lian-pai di bawah pimpinan Tan-Hok yang gagah perkasa. Lebih hebat lagi kekagetan para pemberontak ketika tiba-tiba muncul pula Kaisar sendiri yang memimpin tentaranya untuk menghancurkan barisan pemberontak yang menyerbu. Sudah terang bahwa Kaisar pergi ke utara dengan rombongannya, mengapa tiba-tiba bisa berada di situ? Keadaan menjadi kacau-balau dan para pemberontak itu berkurang semangatnya. Apalagi di pihak Kaisar terdapat orang-orang gagah, terutama sekali Cia Hui Gan yang mengamuk seperti seekor naga terbang dan masih ada lagi raksasa muda Tan Hok yang mengamuk dengan anak buahnya yang gagah.

Cia Hui Gan yang sengaja mencari muridnya, akhirnya dapat berhadapan muka dengan Beng Kui yang berpakaian seperti seorang jenderal besar dan mengamuk dengan pedangnya, Liong-cu-kiam. Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ia melihat gurunya. Akan tetapi Beng Kui malah menegur,

“Suhu, mengapa Suhu menghalangi cita-cita teecu yang tinggi?”

“Keparat, kau membikin malu gurumu saja dengan perbuatanmu yang hina. Mulai saat ini aku bukan gurumu lagi!”

“Aha, jadi Suhu juga berpandangan picik seperti Li Cu dan merasa sakit hati karena teecu menjadi mantu Lu Siauw Ong? Apakah Suhu tidak melihat bahwa kalau teecu kelak menjadi mantu Kaisar dan calon kaisar, masih belum terlambat menikah dengan sumoi dan Suhu sendiri tentu memperoleh kedudukan tinggi?”

“Bangsat, tutup mulutmu!” dengan amarah meluap-luap Cia Hui Gan menyerang.

Beng Kui menangkis dan melakukan perlawanan. Namun, betapapun juga, pedang pusaka Liong-cu-kiam di tangannya tak dapat membantu banyak terhadap serangan-serangan gurunya yang lihai bukan main itu. Apalagi ketika ia melihat betapa barisan yang dipimpinnya itu mulai berantakan dan cerai-berai karena memang kalah kuat, hatinya menjadi risau dan permainan pedangnya kacau-balau. Kesempatan, ini dipergunakan oleh Cia Hui Gan untuk mendesaknya dan pada saat yang baik pundak kiri Beng Kui tertusuk oleh pedang gurunya. Ia menjerit dan melompat ke belakang, menghilang di antara anak buahnya yang mulai berlarian ke sana ke mari mencari jalan keluar. Cia Hui Gan mengejar karena ia bermaksud membunuh bekas muridnya itu, namun Beng Kui sudah mendapatkan seekor kuda dan sudah lari jauh.

Demikianlah pengalaman Cia Hui Gan di kota raja. Kaisar sendiri menyatakan terima kasih kepadanya, akan tetapi Cia Hui Gan tidak lama berdiam di kota raja, melainkan terus menyusul puterinya. Ia mendengar bahwa pencegatan rombongan Kaisar dapat digagalkan dan dihancurkan pula, akan tetapi dengan hati kecut ia mendengar bahwa puterinya telah terluka dan ditolong oleh Beng San. Hal ini ia dengar daripada anggota Pek-lian-pai yang masih tertinggal di tempat itu karena terluka.

Cia Hui Gan tidak percaya lagi kepada Beng San setelah kekecewaannya pada Beng Kui. Kalau kakaknya seperti itu, mana bisa adiknya baik pula? Dengan hati kuatir ia lalu cepat-cepat melakukan perjalanan menyusal ke Min-san dan akhirnya ia menyaksikan semua kejadian yang membuat hatinya menjadi penuh kegelisahan akan hari depan puterinya.

Setahun lebih Li Cu merawat Beng San dengan penuh kesabaran dan penuh cinta kasih. Melihat keadaan puterinya itu yang rela mengorbankan segala untuk Beng San yang masih saja belum kemball ingatannya, Cia Hui Gan merasa terharu dan kasihan sekali. Karena keadaan Beng San yang boleh dibilang telah berubah menjadi seorang yang lemah, maka Raja Pedang ini lalu menggembleng puterinya dengan ilmu yang lebih tinggi agar kelak sepeninggalannya Li Cu dapat mempertahankan diri dari segala bahaya yang menimpanya.

Memang Cia Li Cu seorang gadis yang hebat, jarang bandingannya di dunia ini. Cintanya terhadap Beng San benar-benar cinta yang murni dan suci, cinta yang tidak dikotori nafsu, tidak tercemar oleh keinginan menyenangkan diri sendiri. Oleh karena sifat cintanya yang mulus inilah maka ia tahan menderita segala tekanan batin. Beng San masih saja menganggap dia sebagai Bi Goat dan masih saja belum mendapatkan kembali ilmu-ilmu silatnya.

Seringkali Cia Hui Gan menyatakan kekuatirannya kepada puterinya itu dengan kata-kata nasihat,

“Li Cu, keputusan hatimu untuk mengorbankan diri demi cintamu kepada Beng San, aku orang tua tidak akan mengganggu-gugat lagi. Akan tetapi kau harus mengerti bahwa keputusan ini memancing datangnya banyak musuh. Sudah pasti Song-bun-kwi akan membalaskan anaknya yang ia anggap mati karena kesalahan Beng San. Juga wanita yang bernama Kwa Hong, murid Hoa-san-pai itu… hemm, kiraku dia juga merupakan ancaman bahaya dalam hidupmu. Belum kalau kita ingat kepada musuh-musuh Beng San yang amat banyak dan yang semuanya terdiri dari orang-orang sakti.”

“Aku tidak takut, Ayah,” jawab Li Cu gagah. “Biarkan mereka datang, orang-orang jahat itu. Aku akan membeia Beng San mati-matian. Pula, Ayah berada di sini, aku takut apa lagi?” Ucapan terakhir ini bernada manja.

Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah mulai penuh rambut putih. “Tentu saja aku akan melindungimu selama aku masih hidup, Li Cu. Akan tetapi, kau harus mengerti bahwa usia manusia ada batasnya, demikian pula kepandaian. Menghadapi musuh-musuh Beng San itu, kiranya biar aku sendiri maju masih belum cukup kuat. Oleh karena itu, mari bantulah aku dalam pembuatan rencanaku yang sudah lama kupikir dan kuciptakan.”

“Rencana apakah, Ayah?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: