Rajawali Emas (Jilid ke-11)

“Beng San….!” Li Cu berseru lirih, namun di dalam seruan lirih ini terkandung jerit yang memecahkan kesunyian angkasa, penuh kekagetan, penuh keheranan, penuh gairah dan harapan.

Beng San melirik ke arah Li Cu, akan tetapi cepat-cepat ia membuang muka ketika melihat keadaan nona itu yang tubuhnya bagian atas tidak tertutup lagi baik-baik karena bajunya yang koyak-koyak lebar itu. Tanpa banyak cakap ia lalu meloloskan bajunya sendiri dan melemparkan bajunya ini di atas tubuh Li Cu yang tidak tertutup. Barulah ia berani berpaling. Mereka berpandangan sejenak, keduanya dengan mata berlinang air mata. Beng San sudah tahu semua ketika tadi ia mendengar percakapan antara Li Cu dan Beng Kui.

“Nona, biarlah kubebaskan kau dari totokan….”

“Beng San, awas!” teriak Li Cu.

Beng San dengan tenang tapi cepat menggeser kakinya dan tangannya bergerak ke kiri Pedang Liong-cu-kiam menyambar lewat di pinggir kepalanya.

“Beng Kui, kau benar-benar tak tahu diri….” ia mencela sambil melompat ke tengah ruangan, terpaksa belum dapat membuka totokan atas diri Li Cu.

Namun kemarahan Beng Kui sudah memuncak. Sepasang matanya menjadi merah dan berputar-putar liar.

“Kau orang gila banyak tingkah… mampuslah!” bentaknya dan pedangnya kembali menyambar-nyambar. Banyak orang bilang bahwa orang gila menganggap diri sendiri waras dan menganggap orang waras sebagai orang gila. Kiranya keadaan Beng Kui cocok dengan pendapat ini. Dia memaki gila akan tetapi dia sendirilah yang mengamuk seperti orang gila. Pedangnya mengeluarkan suara dan berubah menjadi segulung sinar panjang yang melayang-layang dan menyambar-nyambar hebat ke arah Beng San. Namun, sekaligus Beng San sudah mendapatkan kembali semua kepandaiannya yang memang tak pernah hilang, hanya “terlupa” oleh ingatannya. Secara otomatis kakinya bergerak-gerak dan semua serangan pedang itu dapat ia hindarkan dengan amat mudahnya.

“Beng Kui, kau orang tua yang tidak mau dihormati adiknya. Sekali lagi sekarang aku beri kesempatan kepadamu untuk pergi dari sini dengan aman. Pergilah tapi tinggalkan Liong-cu-kiam.”

“Jangan banyak cakap!” Beng Kui malah memaki dan pedangnya terus menyerang. Tiga kali Beng San minta kepada kakaknya untuk pergi dengan aman, namun jawabannya selalu serangan maut yang ditujukan kepadanya secara nekat. “Kau memang keras kepala!” seru Beng San kemudian. Pada saat itu pedang di tangan Beng Kui menusuk dadanya. Beng San tiba-tiba menggunakan gerakan merendahkan tubuh, kemudian dari bawah tangannya bergerak ke atas, yang kanan merampas gagang pedang yang kiri memukul dengan pukulan Pek-in Hoat-sut. Hawa pukulan yang mengandung uap putih itu melumpuhkan seluruh tenaga Beng Kui dan dengan mudah pedang di tangannya berpindah tempat! Ia masih hendak menerjang dengan tangan kosong, namun kaki kiri Beng San menendangnya sehingga ia tepental keluar ruangan itu dan bergulingan sampai jauh.

Beberapa orang anak buah Beng Kui menyerbu ke dalam. “Pergilah kalian!” seruan Beng San ini demikian berpengaruh, apalagi disertai dorongan tangan kiri ke depan yang membuat tiga orang sekaligus terjengkang tanpa tersentuh tubuhnya, sehingga merekat semua menjadi kaget dan jerih. Pada saat itu, terdengar hiruk pikuk di luar dan terdengar suara banyak orang berlari-lari pergi meninggalkan tempat itu, seakan-akan takut menghadapi sesuatu yang hebat.

“Song-bun-kwi setan tua jangan ganggu orang-orang ini! Nona Kwa Hong, orang-orang ini adalah teman-teman Tan Beng Kui-enghiong, jangan ganggu!” Terdengar suara Hek-hwa Kui-bo.

Beng San terheran-heran dan hanya berdiri di tengah ruangan itu, pedang Liong-cu-kiam di tangan celananya robek-robek dibagian yang ditendang Beng Kui tadi, sedangkan tubuhnya bagian atas telanjang karena bajunya tadi ia lemparkan kepada Li Cu. Ia kelihatan seperti seorang bajak sungai!

Berturut-turut mereka meloncat masuk. Mula-mula Song-bun-kwi, disusul Kwa Hong dan kemudian sekali Hek-hwa Kui-bo. Tiga orang itu begitu memasuki ruangan berdiri tertegun seperti melihat setan di tenga hari! Adapun Beng San begitu , melihat Song-bun-kwi, segera menjura dengan hormat dan berkata,

“Gak-hu (Ayah Mertua)….”
Song-bun-kwi masih mengira bahwa Beng San kehilangan kepandaiannya, maka ia membentak, “Aku bukan ayah mertuamu! Keparat, kau pembunuh anakku Bi Goat dan karenanya sekarang akan kupatahkan batang lehermu!” Ia menerjang ke depan. Tapi sinar hijau menyambar dan menghalangi gerakan kakek ini. Sinar itu tidak lain adalah panah-panah hijau dari Kwa Hong.

“Perlahan dulu Song-bun-kwi!” Memang Kwa Hong tidak ingin melihat Beng San terbunuh oleh orang lain. Mati atau hidupnya Beng San dialah sendiri yang berhak memutuskan pikirnya.

“Hong-moi kau juga di sini?” tegur Beng San dengan suara halus.

Kwa Hong seketika menjadi pucat, apalagi ketika melihat pedang Liong-cu-kiam di tangan pemuda itu. “Kau…sudah ingatkah….?”

“Bangsat, kau sudah membunuh anak perempuanku. Kalau kau sudah ingat, tentu kau takkan mungkir lagi!” Song-bun-kwi membentak sambil melangkah maju.

Beng San tersenyum sedih, “Gak-hu, aku amat mencinta Bi Goat. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Bi Goat meninggal karena berduka dan marah yang ditimbulkan oleh Hong-moi. Memang aku lama meninggalkan Bi Goat, akan tetapi hal itu adalah karena aku merasa amat berduka dan menyesal serta malu karena perbuatanku bersama Kwa Hong dahulu. Kemudian aku membantu orang-orang gagah melindungi Kaisar dari pengkhianatan beberapa orang, maka pulangku terlambat. Aku menyesal sekali, Gak-hu, tapi sesungguhnya bukan aku yang menyebabkan kematian isteriku. Dia tahu bahwa aku mencintanya. Tapi Tuhan lebih kuasa dari segala di dunia ini….” Beng San nampak sangat berduka.

“Keparat, kau bisa saja memutar omongan. Isteri melahirkan anak sampai mati tapi kau sebagai suami tidak menjaganya!” “Ah, Gak-hu. Memang aku merasa berdosa besar. Sekarang di manakah anakku itu, Gak-hu? Biarlah aku akan merawatnya penuh kasih sayang, sebagai pengganti Bi Goat dan….”

“Tutup mulut! Kau laki-laki mata keranjang, kau laki-laki hina-dina, kau… kau sudah main gila dengan perempuan lain. Hemmm hendak menyangkal, kau?” Kakek ini menudingkan telunjuknya ke arah Li Cu yang masih rebah terselimut baju luar Beng San, rebah miring tak bergerak di atas dipan! Semua mata memandang dan Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan suara ketawa genit penuh arti ketika melihat baju Beng San menyelimuti tubuh Li Cu. Wajah Li Cu sebentar pucat sebentar merah sekali. Namun Beng San tetap tenang.

“Aku tidak main gila dengan siapapun juga. Mungkin karena kehilangan ingatan aku menjadi seperti gila dan syukurlah… berkat pertolongan Nona Cia yang berbudi mulia sampai sekarang aku masih terlindung. Gak-hu, kauberikanlah puteraku.”

“Putera apa? Pedang inilah yang akan menghabisi nyawamu!”
“Nanti dulu, Song-bun-kwi. Aku pun hendak bicara dengan Beng San!” Kwa Hong menghadang di depan dan terpaksa Song-bun-kwi menunda penyerangannya Kwa Hong kini menghadapi Beng San. Orang muda itu menjadi agak pucat. Baginya jauh lebih berat menghadapi Kwa Hong daripada menghadapi musuh yang manapun juga.

“Adik Hong, apakah selama ini kau baik-baik saja?” tanyanya, suaranya halus sewajarnya karena di lubuk hatinya orang muda ini benar-benar merasa kasihan sekali kepada gadis itu.

Tersedu kerongkongan Kwa Hong mendengar pertanyaan yang halus ini. Akan tetapi ia segera menjawab, “Baik-baik saja, San-ko, aku sengaja mencarimu dan syukurlah kalau kau hendak sembuh kembali. Marilah kauikut dengan aku, San-ko. Mari kita pelihara anak kita baik-baik. Tentang musuh-musuhmu ini, jangan kuatir, San-ko, Hong-moimu ini sanggup membunuh mereka seperti orang membunuh anjing!” Setelah berkata demikian, Kwa Hong tertawa, suara ketawanya melengking menyeramkan sekali.
Ucapan terakhir dan suara ketawa Kwa Hong itu menusuk jantung Beng San, karena ia maklum bahwa Kwa Hong sekarang sudah bukan Kwa Hong yang dulu lagi. Wajahnya jelas membayangkan watak yang sombong, kejam, dan tidak wajar.

“Hong-moi, kau tahu bahwa tak mungkin aku memenuhi permintaanmu ini. Kau dan aku telah melakukan perbuatan terkutuk, itu memang benar. Akan tetapi hal itu terjadi di luar kesadaran kita, Hong-moi. Tentang anak itu kau sendiri hendak mendidiknya syukurlah. Kalau kau keberatan, boleh kauberikan kepadaku karena juga menjadi tanggung jawabku.”

“Kau… kau…! Kwa Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia sudah menangis terisak-isak. Hatinya sedih bukan kepalang. tadinya ia mengharapkan akan dapat membawa Beng San dengan secara paksa karena Beng San sudah kehilangan kepandaiannya dan ia sanggup merampas Beng San dari tangan siapapun juga. Akan tetapi sekarang Beng San kelihatannya sudah sembuh kembali, bagaimana mungkin?

“Beng San, katakan di mana adanya Beng Kui? Pedangnya kaupegang, kau apakan dia?”

“Dia sudah pergi…” jawab Beng San acuh tak acuh, kemudian ia menoleh ke arah Li Cu dan berkata “Nona Cia, agaknya lebih baik kita segera pergi dari tempat ini. Tapi aku harus membebaskan kau dari totokan lebih dulu…” ia melangkah maju, tapi sebelum ia sempat meyembuhkan Li Cu, tiga bayangan orang berkelebat dan angin-angin pukulan dahsyat, datang menyambar dari tiga jurusan disusul berkelebatnya senjata-senjata tajam! Beng san maklum bahwa tiga orang sakti itu “sudah turun tangan”. Ia menarik napas panjang dengan sedih, akan tetapi tubuhnya bergerak didahului sinar pedang Liong-cu-kiam tangannya.

Tiga orang itu menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kepandaian mereka. Namun Beng San sekarang memegang Liong-cu-kiam panjang. Kalau ia boleh diumpamakan seekor harimau, sekarang harimau itu tumbuh sayap dan pandai terbang. Memang ilmu silatnya yang paling hebat adalah ilmu Im-yang Sin-kiam-sut, sekarang ilnu pedang ini dimainkan dengan sebatang pedang seperti Liong-cu-kiam yang panjang, sudah tentu hebatnya bukan kepalang. Tiga orang itu, biarpun masing-masing memiliki kepandaian luar biasa, namun menghadapi Beng San mereka tak dapat berdaya banyak, seakan-akan menghadapi benteng baja yang tidak saja sukar tembus, malah dari dalam benteng menyambar ujung-ujung pedang runcing dan ampuh, setiap saat mengancam nyawa mereka.

Beng San bukanlah orang yang suka membunuh orang. Sebetulnya dia menpunyai watak yang pantang membunuh orang. Apalagi sekarang yang ia hadapi adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah ada hubungan dengannya, yang sudah dikenalnya baik. Tak mungkin ia mau membunuh mereka.

Kelihaiannya bermain pedang memungkinkannya menggoreskan luka ringan pada pundak Hek-hwa Kui-bo dan Song-bun-kwi. Dua orang tua ini menjadi malu dan jerih. Sambil mengeluh mereka berturut-turut lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. Kwa Hong yang seorang diri menghadapi Beng San, tadinya menjadi nekat. Pedang Hoa-san Po-kiam di tangan kiri sedangkan di tangan kanannya memegang pedang Liong-cu-kiam yang pendek. Permainan pedangnya hebat dan liar, dahsyat bukan main sehingga diam-diam Beng San terkejut juga. Namun ilmu pedang itu dimainkan dengan cara yang masih mentah.

Lebih-lebih terhadap Kwa Hong, Beng San, sama sekali tidak mau melukainya. Setelah ia menindih pedang Hoa-san Po-kiam dengan pedangnya sendiri, tangan bergerak mencengkeram ke depan dan di lain saat pedang Liong-cu-kiam yang pendek telah berpindah ke tangan kirinya.

“Kembalikan pedang itu!” teriak Kwa Hong sambil menangis.

“Yang ini bukan pedangmu, Hong-moi. Tak boleh kau merampasnya,” jawab Beng San.

Dengan pekik panjang Kwa Hong memanggil burungnya. Terdengar suara genteng hancur berantakan, langit-langit di atas ruangan itu tiba-tiba menjadi rusak dan berlubang besar di mana menerobos masuk seekor burung rajawali emas. Beng San pernah melihat burung ini dan kembali ia menjadi kagum bukan main. Kwa Hong terisak lalu meloncat ke punggung burung, kemudian burung itu terbang menerobos melalui pintu depan dan sebentar saja menghilang dari situ. Sampai beberapa lama Beng San berdiri bengong. Pedang Liong-cu-kiam berada di kedua tangannya. Kemudian ia membalikkan tubuh menghampiri Li Cu yang masih rebah tak bergerak dan tadi menonton semua itu dengan hati terharu. Ternyata bahwa pengorbanannya terhadap diri Beng San tidak sia-sia. Buktinya baru saja sembuh Beng San lagi-lagi telah melindungi dan membebaskannya dari ancaman bahaya maut.

“Nona Cia, maafkan kelancanganku!” kata Beng San. Tangannya bergerak cepat menotok dua jalan darah di tubuh Li Cu, lalu mengurut punggungnya sebentar. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan berkata,

“Nona, setelah kau dapat bergerak, harap bajuku itu kaupakai dulu.”

Li Cu menjadi merah mukanya. Ia bergerak perlahan, tubuhnya masih sakit semua rasanya. Ketika ia bangun, baju yang menyelimuti tubuhnya itu jatuh dan cepat-cepat ia menutupi dadanya. Akan tetapi usahanya ini sebetulnya tak perlu karena Beng San berdiri membelakanginya. Karena terpaksa dan tak mungkin hanya memakai bajunya yang sudah dikoyak-koyak pedang Beng Kui tadi, ia mengenakan baju Beng San yang terlalu besar itu. Setelah selesai, ia berkata,

“Kenapa… kau tidak membunuh mereka?” ,

“Membunuh siapa?” tanya Beng San tanpa menoleh.

“Beng Kui jahanam itu….”

“Dia itu jelek-jelek kakak kandungku, bagaimana aku tega membunuhnya?” jawab Beng San cepat.

“Hek-hwa Kui-bo yang pernah melukaiku dengan racun dan hampir membunuhku….” desak pula Li Cu yang merasa penasaran mengapa semua orang yang jahat itu dibiarkan pergi oleh Beng San.

“Dia itu dahulu pernah menurunkan ilmu silat kepadaku, secara tidak resmi dia adalah guruku pula. Bagaimana aku dapat membunuhnya? Dan pula, Nona, bukankah kau selamat terhindar dari racunnya itu?” Jantung Beng San berdebar ketika ia teringat cara ia menolong gadis itu dari pengaruh racun di paru-parunya!

Di belakangnya, wajah Li Cu juga tiba-tiba menjadi merah. Gadis ini merasa heran bukan kepalang. Hampir dua tahun ia merawat Beng San, otomatis ia sudah merasa menjadi isteri Beng San biarpun hanya dalam sebutan. Akan tetapi kenapa sekarang ia menjadi begini canggung, sungkan dan malu-malu kepada Beng San? Diam-diam rasa kuatir dan gelisah menggerogoti hatinya. Beng San yang kehilangan ingatannya, mau saja hidup di sampingnya, malah menganggap dia sebagai isterinya yang bernama Bi Goat. Akan tetapi setelah sekarang sadar dan mendapatkan kembali ingatannya, apakah masih mau hidup seperti itu? Apakah ini bukan berarti saat perpisahan?

“Kwa Hong itu… kenapa tidak kau-bunuh….?” Ia berusaha menekan hatinya dengan melanjutkan pertanyaan ini.

“Tak mungkin, Nona. Dia itu… secara tidak sadar… telah menjadi ibu anakku… perbuatan terkutuk di luar kesadaran kami berdua… dia sudah amat menderita… karena aku, mana bisa aku membunuhnya? Biarpun dia akan membunuhku, agaknya aku tetap akan mengalah….”

“Hemm….” suara Li Cu terdengar kaku dan kalau Beng San melihat sinar matanya ia akan tahu-bahwa gadis itu marah! “Dan Song-bun-kwi,…?”

“Apalagi dia. Dia itu ayah mertuaku, sama juga dengan ayahku. Mana boleh aku membunuh ayah Bi Goat?”

Sudah jelas! Beng San sekarang sudah kembali ingatannya. Beng San yang terlalu mencinta isterinya, Bi Goat. Sampai-sampai mengorbankan Kwa Hong. Mana sudi hidup bersama dia? Teringat akan ini, tak tertahankan lagi Li Cu terisak menangis.

Beng San cepat membalikkan tubuh. “Eh, kenapa kau menangis, Nona?” Suara ini mengandung penuh perhatian sehingga tangis Li Cu makin menghebat. Beng San sampai menjadi bingung, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam pendek.

“Ini… ini pedangmu… jangan kau menangis….”

Li Cu menerima pedang tanpa berkata apa-apa.

“Nona Cia, setelah semua pertanyaanmu kujawab, kenapa kau menangis?” Beng San bertanya, matanya yang tajam memandang penuh selidik.

Li Cu yang sekarang menjadi gugup. Tentu saja ia tidak sudi menyatakan isi hatinya. Ia mencari alasan dan pada saat itu ia teringat akan ayahnya. Wajahnya menjadi pucat dan serentak ia meloncat sampai Beng San menjadi kaget.

“Celaka! Ayahku….! Mereka tadi mengeroyoknya… tak mungkin bisa sampai ke sini kalau tidak… ah, Ayah….!” Li Cu menjerit lalu melompat keluar dan berlari cepat sekali. Beng San baru saja kembali ingatannya, maka yang diketahui olehnya hanyalah semenjak saat ia sembuh tadi. Sebelum itu gelap baginya maka ia tidak ingat betapa Bu-tek Kiam-ong untuk melindunginya telah dikeroyok oleh tiga orang tokoh sakti tadi. Meiihat Li Cu yang berlari-lari sambil menjerit memanggil-manggil ayahnya dan menangis, ia pun ikut pula berlari dan sebentar saja ia dapat menyusul gadis itu, lalu lari di sebelahnya tanpa banyak bertanya.

Setibanya di puncak Gunung Thai-san, dua orang muda ini melihat betapa penduduk perkampungan di kaki gunung sedang sibuk mengurus dan menangisi jenazah Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan!

“Ayaaaahhh….!!” Li Cu menubruk mayat ayahnya dan roboh pingsan.

Li Cu jatuh sakit. Demam panas menyerang tubuhnya setelah berkali-kali ia pingsan. Sampai sepekan ia rebah di pembaringan dalam keadaan setengah sadar.

Selama itu Beng San merawat dan melayaninya dengan penuh perhatian. Beng San mengalami hal-hal aneh ketika ia berhadapan derigan para penduduk yang dulu membantu Cia Hui Gan merampungkan rencana tempat tinggalnya. Mereka itu menyebutnya “tuan muda” yang dianggapnya sebagai suami dari “nyonya muda” yang sekarang sakit. Kemudian, setelah mereka semua menyatakan kegembiraan hati bahwa nyonya muda dan suaminya dapat kembali dengan selamat, mereka menyatakan kegirangan pula bahwa tuan muda sudah sembuh dari sakitnya lupa ingatan. Mereka pulalah yang menceritakan tentang pertempuran itu sehingga terbuka mata Beng San akan segala yang telah terjadi kepada dirinya selama hampir dua tahun ini. Tahulah ia bahwa ia sebagai seorang gila menganggap Li Cu sebagai isterinya, sebagai Bi Goat dan betapa selama hampir dua tahun ini Li Cu merawatnya penuh kecintaan. Juga ia tahu sekarang bahwa Cia Hui Gan tewas dalam membela dia!

Semua ini ditambah lagi dengan keadaan Li Cu yang mengigau ketika demam panas menyerangnya. Li Cu mengigau tentang masa lalu, tentang cinta kasihnya kepada Beng San. Semua ini membuat Beng San demikian terharu sehingga ia menitikkan air mata ketika duduk di pinggir pembaringan gadis itu. Dengan amat tekun ia merawat Li Cu dan siang malam tidak pernah meninggalkan kamar itu.

Sembilan hari kemudian demam meninggalkan tubuh Li Cu dan gadis ini pada pagi hari itu sadar. Dilihatnya Beng San duduk di kursi tertidur! Namun suara gerakan Li Cu cukup untuk membangun-kannya. Mereka berpandangan sejenak.

“Kau… kau masih di sini….?”

“Di mana lagi kalau tidak di sini….?” jawab Beng San halus, sinar matanya gembira sekali.

“Ayah… bagaimana….?” Matanya meragu dan ia memandang ke arah pintu kamarnya, agaknya ingin menjenguk keluar.

“Sudah beres, sudah kuurus pemakamannya.”

Li Cu menarik napas panjang, hatinya menjerit-jerit namun air matanya sudah kering. “Berapa lama aku rebah di sini…?”

“Kau terserang demam, Nona. Sembilan hari sembilan malam kau dalam keadaan tidak sadar. Karena itulah aku lancang mewakilimu mengurus pemakaman ayahmu.”

Li Cu bergerak hendak duduk. Melihat kelemahan gadis itu, Beng San cepat membantunya. Ia merasa kasihan sekali dan cepat ia menghibur, “Harap kaukuatkan hatimu. Nona. Ingatlah bahwa mati hidup seorang manusia berada di tangan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki kematian seseorang, ada saja yang menjadi lantarannya. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah perkasa, mati dikeroyok tokoh-tokoh besar dalam melindungi… aku yang tak berharga….”

“Tidak! Bukan melindungi kau, melainkan membela aku!” Cepat Li Cu membantah.

“Apa bedanya, Nona? Membela engkau karena kau berusaha melindungi aku.”

“Kau merawatku terus-menerus selama aku sakit?” cepat Li Cu memotong omongan Beng San, mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah.

Beng San mengangguk dan memandang dengan mata penuh perasaan. “Nona Cia, apa artinya perawatan sembilan hari kalau dibandingkan dengan perawatanmu selama hampir dua tahun? Kau amat mulia, kau mengorbankan….”

“Kau dalam sakit, kau kehilangan ingatan!” Li Cu cepat memotong, mukanya kini menjadi merah sekali. “Siapa lagi kalau bukan aku yang akan merawatmu? Kaupun sudah beberapa kali menyelamatkan nyawaku, sudah sepatutnya aku membalas kebaikanmu.”

Dengan keras kepala Beng San melanjutkan setelah menggeleng kepala untuk menyangkal alasan Li Cu yang lemah itu. “Kau mengorbankan dirimu, mengorbankan nama baik ayahmu. Dalam gilaku aku menganggap kau isteriku, menganggap kau Bi Goat. Namun… kau menerima semua itu, kau malah memaksa ayahmu membawaku ke sini mengorbankan segalanya untuk aku, malah berusaha membuat tempat perlindungan yang aman untukku. Li Cu… Nona Cia… mengapa kaulakukan semua itu?”

Li Cu menunduk, menyembunyikan mukanya di belakang bantal yang diangkatnya. Suaranya terdengar lirih bertanya, “Semua itu bohong. Kau yang kehilangan ingatan bagaimana kau bisa tahu itu semua? Bohong….”

“Aku mendengar percakapanmu dengan Beng Kui pada saat aku sadar. Kemudian aku mendengar penuturan saudara-saudara yang berada di sini, dan ketika kau sakit, kau mengigau….”

Cepat bantal itu diturunkan dan sepasang mata itu memandangnya penuh pertanyaan. Wajah itu merah dan tidak tampak lagi bahwa gadis ini habis sakit kecuali tubuhnya yang agak kurus itu.

“Beng San….” terhenti kata-kata Li Cu ketika ia teringat betapa janggal panggilan ini yang begitu saja keluar dari bibirnya dengan suara mesra.

“Ya….? Kau hendak bilang apakah, Nona….?”

Makin gugup Li Cu. Biasanya, ketika belum sembuh, Beng San selalu menyebutnya “isteriku” sehingga ia sudah biasa benar dengan sebutan itu. Sekarang, orang yang telah ia anggap sebagai suaminya dalam batin itu, menyebutnya nona!

“… andaikata benar semua itu…, tapi waktu itu keadaanmu dalam lupa ingatan. Kau mau tinggal di sini karena… karena kau mengira bahwa aku Bi Goat, kau mengira bahwa aku isterimu yang sudah meninggal dunia itu….” ia berhenti lagi.

“Betul, Nona. Lalu bagaimana?” Beng San bertanya tenang dan sabar,

“…. sekarang kau sudah sembuh…, kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu… kau tahu bahwa aku bukan isterimu Bi Goat… kau tahu bahwa aku hanya seorang gadis yatim piatu sebatang kara…” Sampai di sini ia terisak dan menutup mukanya dengan bantal. Beng San tidak berkata apa-apa hanya menanti dengan sabar.

“…. aku… aku bukan apa-apamu… tak berhak menahanmu… kau tentu akan pergi dari sini.” Tiba-tiba ia menurunkan bantalnya dan dengan mata basah ia bertanya, “Mengapa kau masih belum juga pergi dari sini? Aku bukan Bi Goat!”

Wajah Beng San tiba-tiba menjadi pucat dan matanya membayangkan kegelisahan besar. “Tapi… tapi kau… isteriku…”

Li Cu menggigit bibirnya, bukan main jengahnya. Ia merasa malu sekali kalau teringat akan semua perbuatannya itu. Tapi ia harus membela diri, tak mungkin ia mengaku begitu saja bahwa ia mencinta Beng San. Ia harus mencari alasan mengapa ia berbuat demikian, untuk membela diri.

“Isterimu adalah Bi Goat….”

“Tapi….. bukankah hampir dua tahun kau mengaku sebagai isteriku….?”

Li Cu membuang muka. “Karena kau menganggap aku Bi Goat. Aku harus merawatmu dan karenanya tiada lain jalan kecuali membiarkan kau menganggap aku isterimu Bi Goat. Sekarang kau sudah sembuh, sudah sadar dan ingat bahwa aku bukanlah isterimu Bi Goat, bahwa aku bukan apa-apamu dan kau boleh pergi meninggalkanku sekarang juga!” Beng San merasa tubuhnya lemas, seakan-akan dilolos semua urat-urat dari tubuhnya. Jantungnya terasa ringan kosong, perasaannya hampa. Ah, mengapa aku tidak tahu diri, pikirnya. Sudah terang bahwa Li Cu melakukan semua itu karena hanya hendak membalas budi pertolongannya karena kasihan, apa lagi? Tak mungkin gadis seperti Li Cu bisa cinta kepadanya, seorang laki-laki yang menjadi hina namanya karena urusannya dengan Kwa Hong, seorang duda yang sudah mempunyai anak. Dua malah anaknya, satu anak Kwa Hong, ke dua anak Bi Goat. Mana sudi Li Cu kepadanya?

“…ah… maaf… maaf…. sungguh aku tak tahu diri….” bagaikan mimpi kedua kakinya bergerak menuju ke pintu kamar, dengan langkah limbung seperti orang mabuk arak ia keluar dari kamar itu. Jiwanya menjerit-jerit, musnah semua harapannya untuk dapat hidup mengenyam kebahagiaan. Hanya sekelumit harapan untuk hidup baru setelah ditinggal Bi Goat. Li Cu, Li Cu….. Jerit hatinya, tak kuat aku berpisah dari sisimu!

Ia tidak melihat betapa dari atas pembaringan Li Cu memandangnya dengan wajah pucat pula dan sepasang mata itu mengucurkan air mata yang jatuh berderai membasahi kedua pipinya. Tak tahu ia betapa gadis itu turun perlahan-lahan dari pembaringan dan berjalan pula mengikutinya keluar dari kamar itu. Tak tahu pula betapa jiwa Li Cu menjerit-jerit minta ia kembali pula. Jeritan jiwa mengetar-getar penuh kekuatan gaib. Seakan-akan terasa oleh kedua orang muda itu. Dalam detik itu juga terjadilah peluapan rasa melalui bibir dan gerakan masing-masing. Pada saat itu pula Li Cu menjatuhkan diri berlutut. Berbareng pula jerit mereka keluar dari lubuk hati melalui bibir-bibir yang bergetar.

“Li Cu, tak kuat aku berpisah dari sisimu….!”

“Beng San, kembalilah Beng San….!” Keduanya terpaku kaget oleh suara masing-masing dan setelah pengertian mereka dapat menangkap apa yang diucapkan oleh yang lain, Beng San segera berlari maju dengan kedua lengan terbuka diterima oleh Li Cu dengan kedua lengan terbuka pula. Beng San menjatuhkan diri berlutut dan kedua orang itu saling berdekapan sambil berlutut, tak kuasa mengeluarkan suara kecuali isak dan sedu.

Sunyi senyap saat itu, sunyi yang membahagiakan hati masing-masing yang merasa seakan-akan baru saja mereka mendapatkan kembali semangat mereka yang hampir hilang. Sampai lama mereka berpelukan tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Li Cu berkata tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Beng San.

“Tapi… kau hanya mencinta Bi Goat…”

“Itu dahulu, Li Cu. Setelah ia meninggal… kaulah orang yang menggantikannya… lebih daripada itu malah… kau mulia, setia, penuh pengorbanan. Ah… alangkah mulianya engkau… aku cinta kepadamu, Li Cu dan aku tidak kuat untuk berpisah dari sisimu.”

“Beng San….” Li Cu menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.

“Li Cu… cintakah kau kepadaku? Dan bersediakah kau menjadi isteriku?”

“Masih perlukah kau bertanya, Beng San? Di waktu kau sakit dan hilang ingatan, aku sudah suka menjadi isterimu walaupun hanya sebutan belaka. Apalagi sekarang setelah engkau sembuh. Tentang cinta… belum pernah selama hidupku aku mencinta orang seperti cintaku kepadamu.”

“Li Cu, dewiku sayang….”

Hening lagi sejenak dan keduanya terbenam dalam lautan madu, mabok oleh kemesraan asmara yang bergelora dalam hati masing-masing.

“Beng San, orang bilang kau mata keranjang. Betulkah?”

Beng San tersenyum ditahan. “Memang aku mata keranjang. Akan tetapi, bidadari dari kahyangan sekalipun belum tentu dapat menggerakkan hatiku. Hanya engkaulah yang membuat aku lupa segala, melihat engkau aku jadi mata keranjang! Ah, andaikata ada seribu engkau, aku akan sanggup untuk mencinta semua!”

“Ah, kau memang mata keranjang!” tegur Li Cu manja.

“Bertemu dengan seorang dewi seperti engkau, Li Cu, siapa orangnya takkan mencinta? Siapa orangnya takkan jatuh hati? Kau cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, kau setia dan gagah perkasa, pendekar wanita sejati, kau berbudi mulia seperti Kwan Im, kau dewi pujaan hatiku, cinta kasihmu suci murni semoga
aku dapat mengimbanginya….” Beng San merayu.
“Iihh, kau selain mata keranjang juga…. ceriwis!”

Hati siapa takkan ikut merasa bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang orang muda seperti Li Cu dan Beng San? Hati siapa takkan ikut merasa senang melihat orang lain bahagia? Hanya hati yang dikotori iblis iri cemburu jua yang tak tahan menyaksikan orang lain berbahagia. Untung, di dunia ini tak banyak orang demikian. Kita merasa berbahagia melihat orang lain seperti sepasang orang muda itu berbahagia dalam pertemuan dua hati menjadi satu, diikat dan dikekalkan oleh cinta kasih nan suci.

Sayang, di samping mereka yang berbahagia oleh asmara, banyak pula yang sengsara oleh asmara yang sama. Memang asmara mendatangkan bahagia dan sengsara silih berganti, menimbulkan banyak cerita yang aneh-aneh. Beng San sendiri hampir saja binasa karena asmara kandas, baiknya ia bertemu dengan Li Cu dan sebaliknya malah menemukan kembali kebahagiaan hidup.

Memang demikianlah hidup di dunia ini. Kebahagiaan duniawi takkan kekal, berubah-ubah dan hal yang demikian ini memang berlaku bagi segala benda, mati atau hidup, di dunia ini. Ada siang ada malam, ada dingin ada panas, adakalanya hujan adakalanya terang, adakalanya sengsara adakalanya bahagia. Kebahagiaan datang tak terduga-duga seperti halnya kebahagiaan Beng San. Demikian pula kesengsaraan datang tanpa disadari seperti halnya penderitaan Bi Goat yang telah tiada. Kenyataan ini merupakan pelajaran hidup yang amat penting, yaitu bahwa manusia tak perlu berputus asa di waktu menghadapi kegagalan, juga tidak semestinya bangga dan tidak mabok dikala mendapatkan kemenangan. Tidak membanjir di waktu pasang, tidak kering di waktu surut, seperti air laut yang tenang teguh sehingga dapat menerima perubahan keadaannya tanpa rnenderita kerusakan.

Di antara sekian banyaknya orang yang sedang “surut” nasibnya, adalah Thio Ki. Telah diceritakan di depan betapa Thio Ki dan isterinya, Lee Giok, diserbu oleh Kim-thouw Thian-li yang dibantu oleh Hek-hwa Kui-bo dan Giam Kin sehingga akhirnya Lee Giok terculik oleh Siauw-coa-ong Giam Kin. Seperti kita ketahui, Thio Ki terbebas daripada kematian karena mendapat bantuan Li Cu dan kemudian Beng San dan atas permintaan Beng San, Thio Ki pergi ke Hoa-san untuk berobat dan membereskan urusan Hoa-san-pai yang dikacau oleh Kwa Hong.

Besarlah hati para tosu di Hoa-san-pai ketika mereka melihat munculnya Thio Ki, karena pada waktu itu Hoa-san-pai benar-benar sudah kacau-balau, tidak ada yang mengurusnya semenjak Lian Bu Tojin tewas di tangan Kwa Hong. Bukan main sedihnya hati Thio Ki ketika mendengar dari para tosu tentang nasib Lian Bu Tojin dan Hoa-san-pai. Ia merasa amat marah dan gemas kepada Kwa Hong, juga terheran-heran mengapa Kwa Hong sekarang berubah seperti iblis dan juga amat lihai?

Para tosu tadinya hendak mengangkatnya sebagai Ketua Hoa-san-pai, namun Thio Ki menolak keras. “Mana bisa aku menjadi Ketua Hoa-san-pai?” teriaknya kaget. “Tingkatku di Hoa-san-pai amat rendah, pula aku masih muda. Banyak para susiok dan supek di sini, bagaimana aku berani mengangkat diri menjadi Ketua? Pula, orang dengan kepandaian seperti Sukong Lian Bu Tojin sendiri masih tidak kuat menjaga keselamatan Hoa-san-pai, apalagi orang seperti aku? Tidak, aku tidak berani menjadi ketua, akan tetapi aku sanggup untuk sementara berada di sini untuk mempertanggung-jawabkan Hoa-san-pai. Biarlah kita menanti sampai kembalinya Tan Beng San Tai-hiap, karena kiranya hanya dia yang akan dapat menolong kita.”

Akan tetapi sampai berbulan-bulan Thio Ki dan para tosu Hoa-san-pai menanti dengan sia-sia. Malah akhirnya dia minta bantuan para tosu yang disebarnya ke segenap penjuru untuk melakukan penyelidikan, kemudian dia sendiri lalu pergi mencari isterinya atau Beng San. Hasilnya juga nihil. Sama sekali Thio Ki tidak tahu apa yang terjadi atas diri isterinya, juga tidak tahu bahwa pada waktu itu Beng San sendiri juga menghadapi malapetaka yang hebat. Hatinya makin risau dan ia mendapat firasat tidak enak dalam hatinya bahwa isterinya tentu mengalami malapetaka besar. Ia berduka sekali, terutama kalau teringat bahwa isterinya itu sedang mengandung.

Beberapa bulan kemudian pada suatu hari selagi Thio Ki berlatih silat membimbing para tosu di belakang kuil, tiba-tiba terdengar suara melengking aneh. Para tosu menjadi pucat mendengar ini. Mereka pernah dahulu mendengar suara ini, yaitu suara burung rajawali emas yang menjadi binatang tunggangan Kwa Hong. Bagaikan anak-anak kelinci takut mendengar auman harimau, mereka berlari ke belakang Thio Ki dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, jantung berdebar keras. Thio Ki sendiri terkejut dan menengok ke atas di mana ia melihat seekor burung yang besar dan indah terbang berkeliling.

“Eh, burung apakah itu? Besar sekali!” katanya.

“…. celaka… dia datang kembali….!” seorang tosu tua berkata.

Seketika Thio Ki teringat akan cerita yang ia dengar tentang Kwa Hong dan rajawalinya, maka ia pun terkejut dan menanti penuh perhatian. Ketika ia menengok, ia melihat dengan heran dan kaget bahwa semua tosu yang berada di belakangnya sudah pada berlutut! Burung itu terbang makin dekat, menukik ke bawah dan terdengarlah bentakan nyaring.

“Siapa ini berani menyambut Ketua Hoa-san-pai tanpa berlutut? Apa kau sudah bosan hidup?” Ucapan ini disusul menyambarnya sinar hijau ke arah kepala Thio Ki.

“Hong-moi….!” Thio Ki berteriak dan inilah yang menyelamatkan nyawanya karena sinar itu tiba-tiba menyeleweng tidak jadi mengenai kepalanya akan tetapi ada hawa pukulan yang demikian dahsyatnya sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi Thio Ki terguling dan terbanting ke atas tanah!

“Sumoi….!” Thio Ki memanggil lagi sambil merangkak bangun. Kiranya Kwa Hong sudah berdiri di atas tanah, burung raksasa itu telah terbang ke atas sambil bercuitan. Thio Ki cepat bangun, akan tetapi kaki kiri Kwa Hong bergerak ke arah lututnya dan… untuk kedua kalinya Thio Ki roboh lagi. Ia mengangkat muka dengan heran. Bukan main terkejutnya ketika ia melihat Kwa Hong. Jelas bahwa wanita ini adalah Kwa Hong, masih semanis dan secantik dahulu. Akan tetapi tarikan mulut itu benar-benar menimbulkan kengerian padanya.

“Heh, kiranya engkau? Thio Ki, biarpun engkau sendiri juga harus berlutut di depanku, di depan Ketua Hoa-san-pai!”

“Sumoi, apakah kau sudah gila?” Thio Ki melompat bangun. “Betulkah kau telah membunuh Sukong, mengangkat diri menjadi Ketua Hoa-san-pai? Sumoi, kenapa begitu? Kau yang dulu berjiwa gagah….” Kata-kata Thio Ki terhenti karena ia sudah roboh lagi, kini agak parah karena ia kena ditampar pundaknya oleh tangan kiri Kwa Hong yang memiliki hawa pukulan luar biasa dahsyatnya. Mata Kwa Hong berkilat marah.

“Memang aku bunuh dia. Kau pun akan kubunuh karena kau berani bersikap kurang ajar kepadaku! Kau bicara tentang kegagahan? Hi-hi-hik, kau sendiri gagah apanya? Isteri dibawa lari orang lain, dipermainkan, kau enak saja di sini. Huh, laki-laki apa kau ini? Lebih baik mampus!”

Thio Ki seketika bangun lagi, lupa akan rasa nyeri luar biasa pada pundaknya. Mukanya pucat. “Sumoi… kau melihat Lee Giok? Di mana dia? Bagaimana dengan dia….? Apakah si bangsat Giam Kin….” Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, napasnya sesak karena gelisah dan marah.

“Hi-hi-hik, isterimu dibawa lari orang, dipermainkan orang. Syukur, baru senang ya rasanya terpisah dari orang yang kau kasihi? Hu-hu-hu….” Tiba-tiba Kwa Hong menangis tersedu-sedu karena ia teringat akan dirinya sendiri yang juga tak dapat berkumpul dengan orang yang ia cinta.

Thio Ki kaget dan juga bingung, akan tetapi berita itu terlalu mengguncangkan hatinya sehingga ia tidak pedulikan lagi yang lain. Ia bangun dan memegang tangan Kwa Hong. “Sumoi… demi Tuhan… katakanlah, di mana Giam Kin yang menculik isteriku….?”

Kwa Hong menghentikan tangisnya, lalu matanya liar lagi, penuh kebengisan. “Kau mau mencari dia? Boleh kuantar kau menyusul dia ke akhirat. Dia sudah kubunuh!”
“Dan Lee Giok bagaimana….? Ah, sumoi….” mata Thio Ki terbelalak dan sikapnya mengancam, “apakah kau juga membunuh dia….?”

Kwa Hong tertawa lagi, tertawa menyeramkan. “Kalau betul, kau mau apa?”

“Kau… kau… iblis kejam…..!” Dengan nekat Thio Ki menerjang bekas adik seperguruannya itu. Akan tetapi pada waktu itu tingkat kepandaiannya tidak berarti apa-apa kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwa Hong. Sekali menangkis dan sekali mendorong saja kembali Kwa Hong berhasil merobohkannya. Kwa Hong tertawa lagi sambil mengeluarkan pedang Hoa-san Po-kiam.

“Hi-hik, kau manusia rendah berani melawan Ketua Hoa-san-pai? Mampuslah kau!” Pedang Hoa-san Po-kiam itu diangkat tinggi-tinggi untuk ditebaskan ke arah leher Thio Ki.

Pada saat itu sebutir batu kecil menyambar ke arah pedang itu sehingga gerakan pedang tertahan di udara, disusul bentakan nyaring, “Hong Hong!!”

Kwa Hong kaget bukan main. Sambaran batu itu hebat sekali akan tetapi baginya tidaklah terlalu mengagetkan. Yang membuat ia kaget adalah suara bentakan tadi. Cepat ia memandang dan … tubuhnya tiba-tiba gemetar dan pedang yang dipegangnya itu terlepas, jatuh ke atas tanah. Ia berdiri terpaku seperti patung, matanya terbelalak memandang laki-laki yang melangkah lebar menghampirinya, laki-laki setengah tua yang berwajah keren dan gagah perkasa, yang tangan kirinya putus sebatas pergelangan tangan.

“Ayah….!” Hati Kwa Hong menjerit akan tetapi bibirnya hanya mengeluarkan suara yang serak.

Di lain saat laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya dengan mata berapi-api dan alisnya terangkat naik, wajahnya membayangkan kemarahan, kedukaan dan sesal yang amat besar. Laki-laki itu memang ayah Kwa Hong, yaitu Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong. Di dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan betapa murid pertama dari mendiang Lian Bu Tojin ini melarikan diri dari Hoa-san bersama sumoinya, Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa setelah tangan kirinya buntung oleh pedang gurunya sendiri dalam usahanya menolong nyawa sumoinya dari serangan pedang Lian Bu Tojin.

Kwa Tin Siong tak dapat menyangkal bahwa ia memang jatuh cinta kepada Liem Sian Hwa, sumoinya sendiri itu dan sebaliknya Sian Hwa juga diam-diam mencinta suhengnya ini setelah hatinya hancur lebur oleh kelakuan tunangannya, yaitu mendiang Kwee Sin murid Kun-lun-pai. Setelah melarikan diri dari Hoa-san, keduanya lalu mengasingkan diri, hidup berdua di sebuah puncak gunung. Mereka merasa malu untuk turun gunung dan karena senasib, pula karena mereka memang saling mencinta, maka keduanya lalu bersumpah saling setia dan menjadi suami isteri. Dengan tekun kedua orang ini lalu memperdalam ilmu silat mereka dan karena keduanya memang telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Hoa-san-pai, memiliki dasar-dasar yang amat kuat, maka ketekunan mereka berhasil baik sehingga ilmu kepandaian mereka maju pesat sekali.

Betapapun juga, ketika Kwa Tin Siong mendengar akan sepak terjang puterinya terhadap Hoa-san-pai, malah sudah membunuh Lian Bu Tojin, ia tidak dapat terus tinggal diam berpeluk tangan mendengar Hoa-san-pai dirusak dan dikacau oleh puterinya sendiri yang terkasih. Setelah bermufakat dengan isterinya, ia lalu turun dari gunung dan menuju ke Hoa-san-pai. Kedatangannya tepat pada saat Kwa Hong hendak membunuh Thio Ki sehingga ia dapat mencegahnya.
Di belakang Kwa Tin Siong terlihat seorang wanita cantik dan gagah, menggendong seorang anak kecil. Inilah Liem Sian Hwa dan anak itu adalah Kun Hong, anak suami isteri ini.

Kita kembali ke pertemuan antara ayah dan anak yang menegangkan ini. Para tosu yang segera mengenal Kwa Tin Siong segera bangkit dari berlutut dan memandang penuh ketegangan, juga kelegaan hati.

“Hong Hong, jadi benarkah semua berita yang kudengar? Benarkah kau berubah menjadi iblis, membunuh Lian Bu Tojin sukongmu sendiri, merampas kedudukan ketua Hoa-san-pai, membunuh banyak orang tosu Hoa-san-pai, dan sekarang kulihat kau malah hendak membunuh Thio Ki? Hong Hong…, bagaimana kau bisa berubah begini….?”
Naik sedu-sedan dari dada Kwa Hong. Dua butir air mata menitik turun dan ia hanya dapat berbisik, “Ayah….”

“Kau membunuh Suhu, malah membunuh Supek Lian Ti Tojin, mengusir Kui Lok dan Thio Bwee, melakukan perbuatan gila-gilaan di luar! Aku mendengar bahwa kau telah memiliki kepandaian yang luar biasa. Hemmm, sekarang aku, Kwa Tin Siong ayahmu telah berada di sini. Coba kaukeluarkan kepandaianmu itu untuk membunuh ayahmu sendiri! Hayo, kau tunggu apa lagi?” Suara Kwa Tin Siong yang tadinya bengis sekarang berubah serak mengandung penyesalan besar yang menusuk hatinya.

“Ayah….”

“Tak usah kau ragu-ragu. Lawanlah aku! Kau boleh mencoba membunuh ayahmu ini, kalau tidak akulah yang akan membunuhmu!”

“Ayah….!”

“Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya takkan luntur selama dunia belum kiamat, akan tetapi kasih sayang seorang gagah selalu berdasarkan kebenaran dan keadilan! Demi kasih sayangnya, seorang ayah yang gagah takkan segan-segan menghukum anaknya sendiri yang menyeleweng dari keadilan dan kebenaran. Perbuatan-perbuatanmu melampaui segala garis, hukumannya hanyalah mati! Kalau aku tidak mampu menghukum mati kepadamu, lebih baik aku mati dalam tanganmu. Majulah!”

“Ayah….!”

Kemarahan Kwa Tin Siong memuncak. Keraguan anaknya ini dianggapnya sebagai sifat pengecut. “Terimalah hukuman dariku!” Ia membentak dan menerjang maju dengan tangan kanannya. Pukulan yang ia lakukan adalah pukulan Hoa-san-pai yang hebat, pukulan penuh tenaga Iwee-kang yang akan dapat membikin pecah sebuah batu besar. Maksudnya hendak membunuh anaknya dengan sekali pukul agar lekas selesai urusan yang menghancurkan hatinya itu. Juga pukulan ini adalah jurus yang disebut Pukulan Dewa Mabuk yang biasa dipergunakan kalau keadaan sudah amat terdesak sehingga tak ada jalan keluar lagi. Biarpun amat hebat dan berbahaya bagi yang diserang, namun tidak kurang berbahayanya bagi yang menyerang sendiri karena sekali dapat dielakkan atau ditangkis, kedudukan Si Penyerang menjadi lemah dan tidak terjaga sehingga mudah dirobohkan lawan yang mampu menghindarkan pukulan ini.

Akan tetapi, alangkah kaget hati Kwa Tin Siong ketika melihat betapa puterinya itu sama sekali tidak mengelak! Betapapun marahnya terhadap anaknya ini, tadi Kwa Tin Siong sengaja melakukan pukulan ini karena ia sudah mendengar betapa lihai Kwa Hong sehingga gurunya sendiri, Lian Bu Tojin, tak mampu melawannya. Tentu ia sudah memperhitungkan bahwa Kwa Hong pasti akan dapat menghindarkan serangan ini dan berbalik akan merobohkannya. Ia rela mati di tangan anaknya untuk menebus dosa yang diperbuat oleh Kwa Hong. Demikian sucinya kasih sayang orang tua ini terhadap puterinya. Oleh karena inilah maka ia kaget sekali ketika pukulannya sama sekali tidak ditangkis maupun dielakkan oleh Kwa Hong yang menerimanya dengan mata meram! Untuk menarik kembali pukulan itu tidak mungkin lagi.

Tiba-tiba bayangan kuning emas menyambar dan tepat pada saat pukulan Kwa Tin Siong mengenai tubuh Kwa Hong, jago Hoa-san-pai ini terlempar ke belakang karena dipukul sayap rajawali emas. Kwa Hong terjengkang roboh dan nyawanya tertolong oleh serbuan rajawali emas itu sehingga pukulan ayahnya hanya mempunyai kekuatan setengahnya saja. Sambil melengking keras rajawali itu mengamuk, menerjang dengan marah ke arah Kwa Tin Siong yang terlempar empat meter lebih jauhnya. Akan tetapi sambil membentak marah Liem Sian Hwa sudah menerjang maju dengan pedang di tangan. Wanita muda ini berjuluk Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya gesit bukan main dan permainan pedangnya lihai sekali. Biarpun serangannya dapat dielakkan oieh burung itu, namun ia berhasii menyelamatkan suaminya dari cengkeraman kim-tiauw. Sementara itu, para tosu serentak bangkit dan mengeroyok dengan pedang mereka. Juga Kwa Tin Siong yang tidak terluka berat, sudah bangun dan menyambar pedang Hoa-san Po-kiam yang jatuh dari tangan Kwa Hong. Sekarang burung itu dikeroyok oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan puluhan orang tosu Hoa-san-pai.

Hujan pedang menyambar ke arah tubuh kim-tiauw yang melawan dengan hebat sekali. Setiap kali sayapnya menampar, sedikitnya ada dua orang tosu roboh, patuk dan cakarnya sudah membinasakan banyak lawan. Namun jumlah pengeroyoknya terlampau banyak sehingga setiap kali ada pedang mengenai tubuhnya, beberapa helai bulu rontok beterbangan. Juga pedang di tangan Liem Sian Hwa telah berhasil melukai kakinya sehingga mengeluarkan darah. Namun burung itu terus mengamuk dan sekali lagi Kwa Tin Siong yang agaknya paling ia benci itu terpukul roboh oleh kibasan sayapnya yang lihai.

Tiba-tiba Kwa Hong yang sudah siuman kembali mengeluarkan bunyi melengking panjang. Rajawali itu cepat menyambar tubuh Kwa Hong, dicengkeramnya baju di bagian punggung dan membawa nonanya itu terbang pergi dengan kecepatan yang luar biasa. Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan para tosu hanya dapat berdongak memandang dengan penuh kengerian dan kekaguman sampai burung itu lenyap dari pandangan mata. Kwa Tin Siong menarik napas panjang ketika melihat betapa dalam pertempuran yang hanya sebentar itu ada delapan orang tosu yang tewas dan banyak yang terluka!

Pertemuan ini mendatangkan banjir air mata dan Kwa Tin Siong tak dapat menolak ketika para tosu mengangkatnya sebagai ketua Hoa-san-pai. Ketika Kwa Tin Siong mendengar tentang Lee Giok yang katanya pun terbunuh oleh Kwa Hong, ia menggigit bibirnya dan menghibur Thio Ki. “Dia terlampau lihai,” katanya. “Baru burungnya saja tak terlawan oleh kita, untungnya tadi dia tidak berani melawanku. Andaikata dia turun tangan, kita semua kiranya takkan dapat hidup lagi.” Semenjak saat itu Kwa Tin Siong memimpin para tosu dan memperhebat latihan ilmu silat di antara para murid Hoa-san-pai untuk menjaga kalau-kalau kelak terjadi penyerbuan ke Hoa-san-pai. Juga Thio Ki tekun memperdalanm ilmu silatnya.

Kwa Tin Siong berusaha menyelidiki dengan menyebar para tosu untuk menyatakan kebenaran berita tentang Lee Giok, lupa berusaha mencari Li Cu dan Beng San yang mereka harapkan akan dapat memberi keterangan tentang isteri Thio Ki itu. Akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Akhirnya karena putus asa, Thio Ki malah meninggalkan keduniaan dan masuk menjadi seorang tosu. Ia sekarang tekun mempelajari Agama To sambil memperdalam ilmu silatnya di bawah pimpinan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Di bawah pimpinan suami isteri perkasa ini, lambat laun Hoa-san-pai mendapatkan kembali keangkerannya dan merupakan partai persilatan yang kuat. Hanya terdapat satu hal yang aneh, yaitu pada diri Kwa Kun Hong, putera Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Kiranya semua orang akan menduga bahwa suami isteri ini tentu akan memberi gemblengan istimewa kepada putera mereka agar kelak menjadi seorang yang berkepandaian tinggi dan gagah perkasa. Namun dugaan ini keliru. Mungkin sekali karena melihat akibat pada diri puterinya, Kwa Hong, maka ketua Hoa-san-pai itu agaknya merasa kuatir kalau-kalau puteranya kelak pun akan mengalami nasib buruk karena pandai ilmu silat. Ia sama sekali tidak melatih ilmu silat kepada Kun Hong, sebaliknya melatih bun (ilmu kesusastraan) dan tentang agama!

Kakek waktu mempunyai kekuasaan yang amat mengherankan dan tak dapat dilawan oleh siapa dan apapun juga. Segala yang berada di dalam dunia ini ditelan oleh waktu, tidak pengecualian, mempergunakan daya keampuhannya yang berupa usia tua. Benda paling keras macam besi pun akhirnya menyerah kepada waktu, diganyang hancur oleh usia tua. Manusia yang paling pandai, yang paling gagah perkasa dengan kedudukan tertinggi, kekuasaan terbesar, akhirnya akan menyerah kepada Kakek Waktu. Semua akan musnah sedangkan waktu akan berjalan terus, menelan segala apa yang dihadapannya.

Yang, sudah lampau hanya merupakan kenangan sepintas lalu saja, seakan-akan masa puluhan tahun hanya terjadi dalam sekejap mata. Sebaliknya, yang akan datang merupakan dugaan dan teka-teki yang takkan diketahui oleh seorang pun manusia. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat menguasai Kakek Waktu, karena Tuhahlah pengatur dan pengisi waktu dengan segala macam peristiwa di dunia seperti yang dikehendaki-Nya.

Waktu memang amat aneh. Kalau diperhatikan dan diikuti jalannya, amat-lah lambat ia merayap, lebih lambat daripada jalannya siput. Akan tetapi kalau tidak diperhatikan, amat cepatlah ia melewat, lebih cepat daripada terbangnya pesawat jet atau roket sekalipun.

Demikian pula dengan keadaan waktu di dalam cerita ini. Tanpa kita sadari lagi, tahu-tahu kita sudah dibawa oleh waktu terbang cepat tujuh belas tahun lamanya semenjak Kwa Tin Siong datang kembali ke Hoa-san-pai dan menjadi Ketua Hoa-san-pai sebagai pengganti gurunya, Lian Bu Tojin yang telah tewas oleh Kwa Hong dan Koai Atong. Tujuh belas tahun telah lewat bagaikan dalam sekejap mata saja!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: