Rajawali Emas (Jilid ke-14)

“Nanti dulu, kalau kau betul-betul datang hendak memusuhiku, hal itu adalah wajar asal ada alasannya yang kuat. Kaujelaskanlah mengapa kau hendak merampas Hoa-san Po-kiam dan hendak membunuhku? Apa sebabnya?”

“Apa sebabnya kau tak perlu tahu. Pendeknya aku harus merampas kembali hoa-san Po-kiam dan membunuh Ketua hoa-san-pai she Kwa! Hayo majulah dan serahkan pedang dan kepalamu, aku sudah hilang sabar!”

Kwa Tin Siong orangnya memang berwatak sabar, akan tetapi tidak demikian dengan Liem Sian Hwa. Nyonya ini menjadi marah bukan main, tak dapat ia menahan perasaan hatinya yang terbakar ketika ia mendengar orang menghina suaminya. Cepat ia mencabut pedangnya yang sudah buntung ujungnya tadi dan membentak,

“Siluman cilik, enak saja kau bicara! Siluman macam kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kalau memang kedatanganmu hendak memusuhi kami, kau matilah dan lawan pedangku!”

Li Eng tertawa mengejek dan memandang pedang buntung itu. “Hi-hik, dengan pedang itu kau hendak melawanku? Ah sedangkan ilmu pedangmu Hoa-san Kiam-sut saja baru kau pelajari setengah-setengah, matang tidak mentah tidak, bagaimana kau hendak melawanku mempergunakan pedang buntung? Bibi yang cantik, aku hanya ingin mengambil kepala orang she Kwa. Kalau kau ingin mencoba kepandaianmu yang masih setengah matang, kau….majulah!”

Sampai pucat wajah Liem Sian mendengar ejekan ini. Dia adalah seorang tokoh Hoa-san-pai, boleh dibilang menjadi orang ke dua sesudah suaminya, Ia sudah mempelajari ilmu silat Hoa-san-pai semenjak ia kecil dan untuk kehebatan ilmu pedangnya ia malah sudah menggemparkan dunia kang-ouw dan mendapat julukan Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang). Masa sekarang ia dihina oleh seorang bocah cilik yang menyatakan bahwa ilmu pedangnya Hoa-san Kiam-sut matang tidak mentah pun tidak? Biarpun ia hanya berpedang buntung, namun ia masih sanggup untuk menghadapi lawan yang tangguh.

“Bocah setan, kau benar-benar terlalu sombong. Keluarkan senjatamu dan mari kau boleh merasakan ilmu pedangku yang mentah tidak matang pun tidak ini!” tantangnya.

“Untuk menghadapi kau dan pedang buntungmu cukup dengan tangan kosong

“Sombong, lihat pedang!” Sian Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya segera bergerak menyerang. Dengan gerakan cepat sekali sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, ia mengirim tiga kali tikaman berantai dengan jurus Lian-cu Sam-kiam.

“Hemmm Lian-cu Sam-kiam yang baik sekali. Sayang tidak ada isinya!” Li Eng mengejek dan cepat mengelak. Karena ia tahu benar agaknya akan perubahan gerak dari jurus ini, maka dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri.

Sian Hwa merubah gerakannya, mengirim bacokan dari kanan kiri sambil mempergunakan kecepatannya.

“Aha, Hun-in Toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung)! Juga tidak mengandung inti sari, masih mentahl” Lagi-lagi Li Eng mengelak dan mengejek. Sian Hwa makin marah, juga diam terkejut sekali karana semua serangannya selalu dikenal oleh lawan. Dalam penyerangan-penyerangan berikutnya baru saja ia bergerak gadis cilik itu sudah menyebutkan jurus dan malah mengelak dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah dari ilmu silat Hoa-san-pai aseli.

“Tahan dulu!” tiba-tiba Kwa Tin Siong maju, melerai yang sedang bertempur setelah pertempuran itu berjalan puluhan jurus. Ketua Hoa-san-pai , ini menjadi curiga karena tadi ia melihat dengan jelas betapa ilmu silat gadis itu betul-betul aseli Hoa-san Kun-hoat, akan tetapi dimainkannya demikian aneh dan hebat. “Nona kau sebetulnya murid siapakah?”

Juga Sian Hwa di samping kemarahan dan kegemasan karena penasaran, merasa heran sekali. Belum pernah selama hidup nya ia bertemu dengan lawan yang begini muda tapi begini hebat ilmu silatnya, apalagi ilmu silat dari Hoa-san-pai pula!

Li Eng tersenyum mengejek. “Murid siapa juga kau peduli apakah? Pendeknya, kau harus menyerahkan Po-kiam dari Hoa-san-pai berikut kepalamu. Kau tidak berhak menjadi Ketua Hoa-san-pai!”

Kwa Tin Siong mencabut pedangnya, pedang Hoa-san Po-kiam, lalu melangkah maju. “Nah, ini pedangnya dan ini kepalaku, kau boleh ambil kalau kau bisa.” Ia menjadi marah juga melihat sikap gadis yang bandel dan nekat ini dan ia ingin mencoba sendiri kepandaian gadis itu. Setelah suhunya meninggal, yaitu Lian Bu Tojin, kiranya tidak berlebihan kalau dia menganggap bahwa ahli silat Hoa-san-pai yang paling tinggi ilmunya pada saat itu adalah dia sendiri. Kalau gadis ini pun ahli ilmu silat Hoa-san-pai, mana mungkin lebih tinggi tingkatnya daripada dia sendiri?

“Bagus, kau kehendaki kekerasan? Awas!” Li Eng menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah pedang dan kakinya menyapu dengan kecepatan kilat.

Namun Kwa Tin Siong melangkah mundur dan pedang berkelebat membacok tangan gadis itu. Li Eng menarik tangannya, meloncat ke kiri dan kembali menyerang dengan maksud hendak merampas pedang. Kini tubuhnya bergerak-gerak cepat, kadang-kadang melakukan pukulan yang amat cepat dan berbahaya, lain saat ia berusaha merampas pedang dari tangan Kwa Tin Siong. Akan tetapi, kali ini ia betul-betul menghadapi seorang ahli silat yang sudah matang oleh pengalaman, juga yang memiliki tenaga dalam kuat sekali. Sampai lima puluh jurus belum juga ia berhasil merampas pedang. Di lain pihak, diam-diam Kwa Tin Siong makin terheran-heran. Harus ia akui bahwa ilmu silatnya sendiri kalau dibandingkan dengan ilmu silat gadis itu, ia jauh lebih ahli, juga lebih matang. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh pada ilmu silat yang dimainkan gadis cilik ini, gerakan-gerakannya mengandung daya serang yang hebat sekali, yang tak ada pada ilmu silat aseli Hoa-san Kun-hoat.

“He, Nona kecil, apakah kau pernah belajar pada Supek Lian Ti Tojin?” Tiba-tiba Kwa Tin Siong bertanya karena ia mendapat dugaan yang aneh,

“Aku adalah murid ayah ibu sendiri, sudahlah jangan banyak cakap, lihat dalam beberapa jurus aku akan merampas pedangmu!” Tiba-tiba benda hitam panjang seperti ular hidup menyambar ke arah muka Kwa Tin Siong yang menjadi kaget bukan main. Cepat Ketua Hoa-san-pai ini menyabet dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membabat putus benda itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu tiba-tiba malah melibat pedangnya dan tak dapat dllepaskan lagi. Ia mengerahkan tenaga menarik dan gadis itu pun menahan sehingga keduanya saling betot. Kiranya benda itu adalah sutera hitam yang dipakai mengerek tubuh Yok-mo dan Sekarang sudah berada lagi di tangan gadis aneh itu.

Melihat keadaan suaminya dalam bahaya, Sian Hwa tidak dapat tinggal diam saja. Sambil berseru keras ia menggerakkan pedang buntungnya dan menerjang Li Eng. Gadis ini tertawa. “Bagus, kalian boleh maju bersama-sama!” Sabuk sutera hitam terlepas dan ia lalu bersilat dengan senjata aneh ini, sekarang dikeroyok dua!

Pada waktu itu, tingkat kepandaian suami isteri ini sudah amat tinggi dan kiranya tidak sembarang lawan dapat mengalahkan mereka. Mereka merupakan pasangan yang amat hebat dengan ilmu pedang mereka. Akan tetapi ternyata keduanya tidak mampu mendesak Li Eng, sungguhpun gadis ini harus mengaku bahwa kini ia menghadapi dua lawan yang amat tangguh. Gadis itu mainkan senjatanya yang aneh secara cepat dan yang hebat sekali adalah bahwa ilmu silatnya tak salah lagi adalah ilmu silat Hoa-san Kun-hoat! Benar-benar amat penasaran bagi Kwa Tin Siong dan isterinya yang merupakan tokoh-tokoh pertama dari Hoa-san-pai, sekarang tak berdaya menghadapi seorang gadis yang juga mainkan ilmu silat Hoa-san-pai, padahal gadis itu hanya bersenjatakan sehelai sabuk sutera!

Makin lama pertempuran itu berjalan makin seru dan akhirnya menjadi pertandingan mati-matian. Pada suatu saat, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menerjang sedemikian hebatnya, dan dalam waktu yang sama sehingga tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh gadis itu. Li Eng kaget dan berseru keras, tubuhnya mencelat ke belakang dan sabuk suteranya berkibar, seperti kilat menyambar cepat sekali dan seperti kupu-kupu melayang indahnya, kedua ujung sabuk itu tahu-tahu telah membelit kedua pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Sian Hwa yang mengancamnya. Gadis ini memegangi sabuk di tengah-tengah dan berada agak jauh sehingga suami isteri itu tak dapat menyerangnya lagi dengan tangan kiri karena mereka tidak suka mengambil risiko pedang mereka terampas. Ketiganya berdiri memasang kuda-kuda, mengerahkan tenaga dan terjadilah adu tenaga memperebutkan pedang.

Li Eng mulai berpeluh. Tak kuat ia dikeroyok, dua dalam adu tenaga ini. Wajahnya agak pucat. Kalau ia melepaskan libatan sabuknya, ia dapat terluka di dalam tubuhnya. Ia bertekad, akan tetapi kedudukannya mulai bergerak dan terseret ke depan sedikit demi sedikit. Keringat dingin mulai membasahi jidat yang halus itu. Akan tetapi sepasang mata yang jeli dan bening itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun juga.

“Li Eng, jangan kurang ajar!” terdengar bentakan suara wanita.

“Kwa-supek, maafkan anakku yang nakal!” terdengar pula suara seorang laki-laki.

Dua suara ini disusul dengan berkelebatnya dua sosok bayangan yang tahu-tahu sudah tiba di tempat pertempuran dan langsung bayangan laki-laki itu maju menengah. Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa merasa betapa tenaga mereka yang tadi dipersatukan untuk mempertahankan pedang masing-masing itu seperti terlolos dan mencair, lenyap tak tentu sebabnya dan tahu-tahu pedang mereka telah terlepas dari libatan sabuk sutera yang juga sudah ditarik kembali oleh Li Eng.

Ketika suami isteri ini memandang, dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan girangnya hati mereka karena yang sekarang berdiri di depan mereka ini bukan lain adalah Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai yang dahulu lenyap setelah terusir oleh Kwa Hong!

Kui Lok segera menjatuhkan diri berlutut di depan paman guru dan bibi gurunya, sedangkan Thio Bwee juga cepat menyeret tangan Li Eng kemudian ia sendiri bersama gadis itu pun berlutut di depan suami isteri Ketua Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai yang juga mengenal Kui Lok dan Thio Bwee, menjadi gempar dan terdengar seruan-seruan gembira serta isak tertahan.

Memang mengharukan sekali pertemuan itu. Kwa Tin Siong segera memeluk Kui Lok sedangkan Liem Sian Hwa merangkul Thio Bwee. Mereka bertangisan. Hanya Li Eng gadis nakal itu yang sekarang berdiri bingung memandang kedua orang tuanya yang berpelukan sambil bertangisan dengan dua orang Ketua Hoa-san-pai yang baru saja bertanding mati-matian dengannya.

“Ayah, Ibu… dia ini adalah Ketua Hoa-san-pai she Kwa!” akhirnya ia tak dapat menahan lagi hatinya, menegur ayah bundanya.

Ibunya, Thio Bwee telah dapat menetapkan hatinya dan melepaskan pelukan Liem Sian Hwa, bibi gurunya. Ia memandang kepada puterinya dengan mata penuh teguran lalu berkata, “Li Eng, tanpa perkenan Ayahmu, mengapa kau berani lancang sampai ke sini dan mengacau Hoa-san-pai?” kemudian nyonya ini memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat manusia yang amat banyak, lalu suaranya makin bengis, “Kau telah mengacau dan membunuh orang-orang ini?”

“Aku… tidak, tidak, Ibu. Aku tidak membunuh siapa-siapa!” Li Eng menjawab cepat dan ketakutan, apalagi ketika melihat ayahnya pun memandangnya dengan wajah bengis. “Aku… aku keluar dari tempat kita dan aku melihat serombongan orang-orang di Im-kan-kok yang bicara tentang maksud mereka menyerbu Hoa-san-pai. Karena mereka bicara tentang Ketua Hoa-san-pai pula, hatiku jadi tertarik dan aku lalu datang ke sini untuk merampas kembali Hoa-san Po-kiam dari Ketua Hoa-san-pai dan membunuh orang she Kwa ini. Bukankah orang she Kwa ini yang ayah ibu katakan jahat dan merusak Hoa-san-pai?”

“Anak tolol, sama sekali bukan! Dia ini adalah paman guruku, dan yang itu adalah bibi guruku, juga paman guru dan bibi guru ibumu. Jadi kau masih terhitung cucu murid mereka. Hayo lekas berlutut dan minta ampun!” kata Kui Lok.

Li Eng kaget sekali dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. “Kakek dan Nenek guru, aku Kui Li Eng mohon ampun….”

Liem Sian Hwa menubruk cucu muridnya itu dan memeluknya. “Tak kusangka aku mempunyai cucu murid begini hebat….” katanya girang.

Kwa Tin Siong menarik napas panjang “Sudahlah… sekarang aku tahu siapa yang ia maksudkan orang she Kwa itu. Tentu Kwa Hong bukan?”

Kui Lok dan Thio Bwee hanya mengangguk. Pada saat itu terdengar suara berseru, suara wanita, “Supek….!” orang memandang dan melihat orang berlari cepat ke puncak itu. Mereka ini bukan lain adaiah Thian-Beng Tosu bersama dua orang wanita, yang seorang setengah tua dan yang kedua seorang gadis yang cantik dan berpakaian sederhana. Melihat wanita setengah tua itu, Liem Sian Hwa segera lari memapaki dan mereka berangkulan.

“Lee Giok… kau benar-benar telah membuat suamimu hidup menderita!”

Memang benar, wanita itu bukan lain adalah Lee Giok, isteri dari Thio Ki atau Thian Beng Tosu. Dan gadis cantik sederhana itu adalah puterinya! Bagaimana mereka bisa muncul di saat itu bersama Thian Beng Tosu? Untuk mengetahui hal ini mari kita mengikuti perjalanan Thian Beng Tosu beberapa saat yang lalu.

Telah diceritakan bagaimana Thian Beng Tosu berhasil mendesak musuh lamanya, yaitu Hek-houw Bhe Lam. Kepala rampok ini melarikan diri dikejar oleh Thian Beng Tosu dan kejar-mengejar ini membawa mereka turun dari puncak, tiba di hutan tak jauh dari Im-kan-kok. Bhe Lam sudah terluka pangkal lengannya, tapi larinya masih cepat sekali. Betapapun juga, karena Thian Beng Tosu lebih biasa di tempat itu, setibanya di dalam hutan ini ia tersusul dan tosu Hoa-san-pai ini membentak,

“Hek-houw, percuma saja kau lari. Kejahatanmu sudah melampaui takaran, hari ini kau harus tewas di tanganku!”

Hek-houw Bhe Lam yang tahu bahwa tak mungkin ia dapat lari lagi mendadak membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak. Belasan buah senjata piauw melayang ke arah lawannya. Namun Thian Beng Tosu sudah menduga akan hal ini, cepat memutar pedangnya menangkis. Pada saat itu Hek-houw Bhe Lam bersuit ketika ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya. Dengan perlahan tapi tentu Tian Beng Tosu mendesak penjahat itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suitan dari dalam hutan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang tinggi besar yang segera menerjangnya dengan golok di tangan. Mereka ini adalah orang-orang yang sengaja disuruh menjaga di situ oleh kepala rampok ini dan tadi ia memang sengaja memancing Thian Beng Tosu memasuki hutan ini agar ia bisa mendapatkan bantuan tiga orang temannya.

Setelah tiga orang itu mengeroyok, keadaan menjadi terbalik. Kini tosu inilah yang terdesak dan dihujani serangan dari kanan kiri, depan dan belakang. Ia mulai sibuk dan terpaksa hanya dapat mempertahankan dirinya tanpa mampu balas menyerang. Keadaannya benar-benar berbahaya sekali dan Hek-houw Bhe Lam mulai mengejek dan mentertawakan.

Akan tetapi tiba-tlba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis muda yang cantik manis dengan sederhana, diikuti oleh seorang wanita setengah tua yang berpakaian seperti seorang pertapa tahu-tahu muncul dari balik pepohonan dan langwng kedua orang wanita itu menerjang empat orang penjahat tadi. Hebat sekali permainan pedang gadis sederhana itu, akan tetapi lebih hebat permainan silat wanita pertapa yang hanya memegang sebatang ranting kecil. Dalam beberapa gebrakan saja empat orang penjahat itu telah terjungkal dalam keadaan terluka.

Gadis itu dengan gemas menggerakkan pedang hendak membunuh Hek-houw Bhe Lam, akan tetapi tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru, “Jangan bunuh!” Gadis itu menahan pedangnya dan memandang kepada tosu Hoa-san-pai ini dengan sinar mata penuh keharuan. Sebaliknya Thian Beng Tosu dan wanita pertapa ini berdiri seperti patung dan saling pandang seperti terkena pesona.

“Lee Giok… kau Lee Giok….” bibir Thian Beng Tosu bergerak-gerak mengeluarkan bisikan.

Wanita pertapa itu meramkan kedua.. matanya dan menitiklah air mata di atas kedua pipinya yang masih segar kemerahan. Memang benar dia adalah Lee Giok, isteri Thian Beng tosu!

“Dan dia ini…?” lagi-lagi Thian Beng Tosu berkata perlahan sekali menoleh ke arah gadis yang cantik gagah perkasa itu.

“… dia Hui Cu… anak kita…” terdengar wanita pertapa itu berkata.

Mendengar ini, gadis itu yang bernama Thio Hui Cu, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Beng Tosu sambil berkata, “Ayah….!”

Tosu ini membungkuk dan meraba kepala anaknya, air matanya bercucuran, kemudian ia menarik bangun anaknya, memandangi sampai lama sekali lalu berdongak ke atas dan berkata, “Siancai… Tuhan Maha Adil… siapa sangka aku akan dapat bertemu dengan kalian dalam keadaan selamat? Ya Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu….”

Setelah keharuan mereka mereda, Lee Giok berkata, “Dia ini… bukankah dia penjahat Bhe Lam yang dahulu itu?”

Baru sekarang Thian Beng Tosu teringat akan empat orang penjahat yang masih berada di situ karena tidak berani melarikan diri. “Betul, dan mereka inilah yang menjadi lantaran pertemuan kita. Karena itu, biarlah kita ampunkan mereka. “Bhe Lam, sekali lagi kami mengampunimu, harap saja kau dapat sadar dan insyaf bahwa menyimpang dari jalan kebenaran bukanlah hal yang akan dapat menyelamatkan dirimu. Nah, pergilah dan semoga Thian akan memberi bimbingan kepada jiwamu.”

Dengan malu sekali, juga bersyukur karena kembali dia diampuni, Bhe Lam dan teman-temannya pergi terpincang-pincang. Setelah mereka pergi, suami isteri dan anak mereka ini saling berpandangan, penuh kebahagiaan dan penuh keharuan.

“Kau… selama ini di manakah? Kenapa tidak kembali ke Hoa-san mencariku?” Dalam pertanyaan yang halus ini sama sekali tidak terkandung suara penyesalan, namun cukup membuat Lee Giok kembali mengucurkan air mata.

“Bagaimana aku berani? Aku… aku… telah ternoda oleh si jahat Giam Kin. Baiknya ada Adik Hong yang menolongku…. dan aku lari ke sini, aku… aku bersembunyi dalam hutan, bertapa… dan mendidik anak kita ini… aku telah mengambil keputusan tidak akan menggangumu kecuali kau yang mendapatkan aku. Siapa duga… kau bertempur dengan mereka itu dan… dan… ah, kenapa kau sekarang telah menjadi tosu?”

Thian Beng Tosu tersenyum, lalu dengan penuh kebahagiaan ia memegang tangan isterinya di tangan kanan, tangan Hui Ci di tangan kiri. “Dan kau sendiri? Kau pun menjadi seorang tokouw (pendeta perempuan). Bagus sekali! Ternyata bukan aku saja yang sudah menemukan jalan benar, juga kau, isteriku Lee Giok, sekarang tinggal kita mendoakan saja demi kebahagiaan hidup anak kita. Marilah ikut aku ke puncak menemui Supek. Tahukah kau bahwa sekarang yang menjadi ketua adalah Supek Kwa Tin Siong?”

Dengan penuh kegembiraan Thian Beng Tosu bersama anak dan isterinya lalu menuju ke Puncak Hoa-san dan di tengah perjalanan mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang pahit dan penuh penderitaan. Dapat dibayangkan betapa kebahagiaan ini menjadi makin berlimpah ketika mereka tiba di tempat pertempuran tadi melihat bahwa Kui Lok dan Thio Bwee berada pula di situ, malah Li Eng gadis nakal yang lihai itu ternyata adalah puteri mereka!

Hujan tangis terjadi ketika Thian Beng Tosu muncul bersama Lee Giok dan
Hui Cu. Segera Kwa Tin Siong memerintahkan para murid untuk mengurus mayat-mayat itu dan merawat mereka yang terluka. Dia sendiri dengan perasaan duka bercampur suka ria mengajak para murid Hoa-san-pai itu masuk ke dalam kuil. Akan tetapi tiba-tiba Liem Sian Hwa berkata dengan kaget,

“Eh, di mana Kun Hong?”

Beberapa orang tosu menjawab bahwa mereka tadi melihat Kun Hong lari pergi dari tempat itu, turun dari puncak. Ketika para tosu hendak mencegah dan memberi tahu bahwa mungkin ada orang jahat di lereng gunung, Kun Hong malah marah-marah dan membentak mereka, “Jangan bicara padaku, kalian semua juga jahat, pembunuh-pembunuh kejam. Aku tidak sudi lagi tinggal di sini!”

Tentu saja Liem Sian Hwa berkuatir sekali, akan tetapi Kwa Tin Siong yang sekarang merasa betapa puteranya itu amat lemah dan tak dapat dibandingkan dengan Li Eng atau Hui Cu yang biarpun merupakan anak-anak perempuan namun memiliki kegagahan, segera berkata,

“Biarkanlah, memang sudah tiba waktunya bagi dia untuk meluaskan pengalaman ke bawah gunung. Kalau sudah banyak menghadapi kesukaran, baru ia menjadi dewasa dan dia tentu akan kembali ke sini.” Ia pun mencegah dan menghibur isterinya yang tadinya bermaksud untuk mengejar dan mencari puteranya. Sian Hwa sendiri karena merasa malu kalau harus memperlihatkan kelemahan puteranya dan juga kelemahannya sendiri yang terlalu menguatirkan seorang anak laki-laki, terpaksa menurut walaupun hatinya penuh kegelisahan. Mereka semua lalu masuk ke dalam kuil dan menceritakan pengalaman masing-masing. Yang membuat Ketua Hoa-san-pai ini girang dan bangga sekali adalah ketika ia mendengar bahwa Kui Lok dan Thio Bwee kini telah mewarisi ilmu kepandaian yang ditinggalkan oleh Lian Ti Tojin sehingga tingkat kepandaian dua orang murid keponakan ini jauh melampaui tingkatnya sendiri. Hal ini berarti memperkuat kedudukan Hoa-san-pai. Keluarga besar keturunan Lian Bu Tojin ini sekarang telah berkumpul di Hoa-san-pai dan dengan adanya mereka, kiranya tidak akan ada sembarang orang berani mengacau Hoa-san-pai lagi.

Hati Kun Hong penuh kedukaan dan kemarahan. Sama sekali di luar dugaannya bahwa ayah bundanya, juga para tosu Hoa-san-pai yang setiap hari belajar tentang kebajikan, sekarang berubah menjadi pembunuh-pembunuh yang amat kejam menurut pendapatnya. Puluhan orang manusia dibunuh di puncak Hoa-san.

“Aku tidak mau melihat mereka lagi, aku tidak sudi lagi kembali ke Hoa-san-pai!” demikian hatinya menjerit penuh kengerian ketika terbayang di depan matanya mayat-mayat manusia menggeletak tumpang-tindih itu. Celaka, pikirnya, ibunya dan semua tosu Hoa-san-pai tentu akan ditangkap dan dimasukkan penjara!
Biarpun ia, tidak pernah belajar ilmu silat, namun Kun Hong memang pada dasarnya memiliki tubuh yang sehat kuat dan berkat kemauannya yang luar biasa kokoh kuatnya, ia tidak merasakan kelelahan kedua kakinya. Ia berlari terus menuruni puncak. Maksudnya hendak mencari dusun terdekat untuk menemui kepala dusun dan melaporkan tentang pertempuran di puncak itu, Biarlah yang berwajib yang mengurusnya, tapi ia tidak akan kembali ke sana, pikirnya.

Tiba-tiba ia melihat orang berjalan terhuyung-huyung, mengeluh lalu roboh tak jauh dari tempat ia berdiri. Cepat Kun Hong lari menghampiri dan kagetlah ia ketika melihat bahwa orang itu bukah lain adalah Toat-beng Yok-mo, kakek bongkok yang tadi ia lihat mengamuk di Puncak Hoa-san. Hatinya memang penuh welas asih, melihat kakek itu luka-luka di pundak dan lambung, mengucurkan darah, ia segera berlutut dan bertanya, “Toat-beng Yok-mo, kau kenapakah?” Kakek itu mengeluh dan membuka matanya, kelihatan kesakitan sekali. Ketika ia melihat Kun Hong, sekejap ia kelihatan kaget, akan tetapi kemudian terheran-heran.

“Lekas… tolong kauambilkan bumbung (tabung bambu) dalam buntalanku di punggung ini… lekas… dan hati-hati, jangan menyentuh tanganku….” katanya dengan suara terengah-engah.

Kun Hong melihat ke arah kedua tangan kakek itu dan bergidik ngeri. Kedua tangan kakek itu telah hitam seperti hangus terbakar dan teringatlah ia akan racun hebat yang mengakibatkan kematian tosu Hoa-san-pai dan kemudian karena dipegang oleh Bu Tosu mengakibatkan hal yang amat mengerikan. Ingin ia lari pergi menjauhi kakek yang seperti iblis ini, akan tetapi melihat orang tua itu terluka dan berada dalam keadaan payah sekali, hatinya tidak tega. Ia lalu menurunkan bungkusan dari punggung kakek itu dan membukanya. Di antara bungkusan-bungkusan obat dan pakaian, ia mengambil sebatang bambu besar dan pendek yang disumbat kayu dan tabung itu diberi lubang untuk hawa, seperti tempat jengkerik akan tetapi tabung itu besar.

“Inikah bumbung itu?” tanyanya.

“Betul, buka sumbatnya dan keluarkan isinya. Hati-hati, katak putih hijau ini jangan sampai terlepas. Kaupeganglah erat-erat!” Toat-beng Yok-mo berkata tergesa-gesa dan sinar kegembiraan terpancar keluar dari sepasang matanya yang tadi sayu dan penuh kegelisahan

“Katak?” Kun Hong terheran-heran sambil membuka sumbatnya dan tiba-tiba seekor katak yang besar dan berkulit seperti salju meloncat keluar dari tabung itu.

“Wah, terlepas….!” kata Kun Hong.

“Goblok kau! Celaka…, lekas tangkap jangan sampai hilang. Kalau dia hilang aku mati….!” Mendengar ucapan ini Kun Hong menjadi pucat, lalu ia mengejar katak itu sampai jatuh bangun. Ini urusan nyawa orang, pikirnya. Katak itu tidak begitu cepat gerakannya, akan tetapi selambat-lambatnya katak, pandai melompat sehingga tiap kali Kun Hong menubruk, katak itu melompat membuat pemuda itu terpaksa mengejar lagi dan menubruk lagi sampai jatuh bangun dan pakaiannya kotor semua. Akan tetapi akhirnya dapat juga ia menangkap katak itu. Biarpun pakaiannya kotor semua dan kedua lengannya babak-belur tertusuk duri, namun Kun Hong girang sekali karena dapat menangkap kembali katak itu yang segera dibawanya lari kepada Toat-beng Yok-mo.

“Sudah dapat kutangkap kembali, Yok-mo,” katanya girang.

Keadaan Toat-beng Yok-mo makin payah, napasnya terengah-engah. “Lekas… dekatkan mulutku katak itu….” Kedua tangan yang hangus itu dapat digerakkan lagi. Kun Hong mendekatkan katak itu ke mulut Yok-mo dengan heran karena tidak tahu apa yang dimaksudkan, akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat kakek itu membuka mulut dan… menggigit kaki belakang katak itu sampai mengucurkan darah yang lalu dihisap!

“Eh…, eh, kau makan katak hidup ini?” teriaknya heran dan mencoba untuk menarik katak itu. Akan tetapi tiba-tiba kaki Yok-mo bergerak menendang dan tubuh Kun Hong mencelat jauh. Pemuda ini merayap bangun dan bersungut-sungut.

“Kau memang jahat! Katak tidak berdosa kaugigit dan kau menendangku!” Akan tetapi ia melihat keanehan setelah kakek itu minum darah katak. Kedua tangannya yang tadinya hangus itu cepat sekali pulih kembali dan lenyaplah warna hitam tadi. Tak lama kemudian kakek itu mengambil katak dari mulutnya, memasukkannya kembali ke dalam tabung dan… tertidurlah kakek itu mengorok enak sekali!

Kun Hong adalah seorang yang cerdik. Melihat ini tahulah ia bahwa darah katak itu adalah obat yang amat mujarab bagi racun hitam. Ia ingin sekali bertanya karena merasa tertarik bukan main. Akan tetapi karena kakek itu tertidur nyenyak, ia tidak mau mengganggunya dan perhatiannya segera tertarik oleh tiga jilid kitab yang terletak di dalam bungkusan kakek itu yang masih terbuka.

Segera ia mendekati lalu mengambil buku-buku itu. Ternyata adalah kitab-kitab pengobatan. Kitab pertama berjudul “SELAKSA MACAM OBAT”, kitab ke dua berjudul “SELAKSA MACAM CARA PENGOBATAN” dan yang ke tiga berjudul “RAHASIA PEREDARAN DARAH DALAM TUBUH” Kun Hong adalah seorang kutu buku. Melihat kitab sama dengan seorang kelaparan melihat roti. Dengan lahapnya ia lalu membuka kitab-kitab itu dan membacanya. Yang dibukanya adalah kitab rahasia tentang peredaran darah dalam tubuh. Biarpun pusing kepalanya membaca huruf-huruf kuno dengan gambar tentang perjalanan darah disertai ribuan macam istilah yang asing baginya namun karena nafsunya membaca amat luar biasa, ia memaksa diri membaca terus.

Setengah hari Yok-mo tidur nyenyak dan setengah hari pula Kun Hong membaca kitab itu. Sekarang ia mengerti bahwa peredaran darah erat sekali hubungannya dengan pernapasan dan bahwa pernapasan menjadi sumber dari tenaga dalam di tubuh manusia. Asyik sekali ia membaca dan mulai banyaklah hal-hal menarik dalam kitab itu terutama yang mengenai pengertian tentang keadaan tubuh yang berhubungan dengan cara pengobatan.

“Aduh… keparat…. pundak dan lambungku panas sekali….” Tiba-tiba suara ini membangunkannya dari alam mimpi yang amat menarik hati. Akan tetapi ia segera mengerti bahwa yang mengeluh itu adalah Toat-beng Yok-mo, maka ia tidak mempedulikan dan melanjutkan bacaannya.

“Uh… uhh… sakit dan panas… heee! Jangan baca kitab-kitabku!”

Kun Hong menutup buku itu dan meletakkannya dalam bungkusan, lalu menoleh. Kakek itu masih rebah telentang nampak lemah dan kesakitan. Ia cepat menghampiri.

“Bagaimana, Yok-mo? Sudah sembuhkah tanganmu?”

Tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu pergelangan tangan Kun Hong sudah dicengkeram erat-erat. Pemuda ini merasa tangannya kesakitan, mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu namun tak berhasil.

“Eh, kau ini ada apakah? Lepaskan tanganku!”

“Tak boleh kau membaca kitab-kltab-ku!”

“Baca saja apa salahnya, sih? Kalau kau tidak membolehkannya, aku pun tidak memaksa. Hemm, tanganmu panas sekali, lepaskan aku.”

Yok-mo melepaskan pegangannya, mengeluh lagi dan berkata dengan napas sesak, “Luka-lukaku… mengakibatkan demam panas… lekas kau carikan daun pohon sari darah, akar buah ular dan cacing hitam….”

Kun Hong menjadi bingung. “Ke mana aku mencari? Dan yang bagaimanakah macamnya daun dan akar serta cacing yang kausebutkan itu?”

“Ah… benar juga… kau mana tahu? Celaka…, selain demam aku pun… banyak kehilangan darah… ah, kautolonglah aku, orang muda….”

Kun Hong merasa kasihan sekali. Ia meraba jidat kakek itu dan ternyata panas sekali. “Ah, Yok-mo, aku benar-benar ingin sekali menolongmu. Akan tetapi bagaimana caranya? Mencarikan obat-obat yang kausebutkan tadi aku tentu mau, akan tetapi aku tidak tahu…”

“Tak usah mencari… kauantarkan saja aku… ke tempat tinggalku… di sana terdapat segala obat yang kubutuhkan….”

“Mengantar kau kembali ke tempat tinggalmu? Tentu, boleh saja. Mari kuantar kau….” jawab Kun Hong cepat. Tentu saja pemuda yang berwatak jujur ini tidak tahu akan maksud kakek itu sebenarnya. Toat-beng Yok-mo maklum bahwa dalam keadaan terluka seperti sekarang ini, kalau sampai ia bertemu dengan musuh-musuhnya, dalam hal ini orang-orang Hoa-san-pai, tentu ia akan celaka dan tidak dapat melakukan perlawanan. Dengan membawa Kun Hong di dekatnya, ia dapat rnempergunakan pemuda ini sebagai jaminan untuk keselamatannya!

“Kau baik sekali… uhhh… uhhh….” Ia mencoba berdiri akan tetapi merasa pusing dan terguling kembali.

“Bagaimana? Apakah kau tidak bisa jalan….?” tanya Kun Hong kuatir dan penuh perasaan iba.

Sebagai seorang cerdik yang sudah banyak pengalaman, Toat-beng Yok-mo sudah dapat menyelami watak Kun Hong, maka kembali ia sengaja mengeluh dan mengaduh untuk memperdalam perasaan iba di hati pemuda itu. Kemudian dengan suara bisik-bisik seperti orang yang amat payah keadaannya ia berkata, “Aku… aku tidak bisa jalan… berdiri pun tidak kuat… ah, anak yang baik… kalau kau kasihan kepada aku orang tua… kau gendonglah aku….”

Kun Hong benar-benar sudah tergerak hatinya dan merasa amat kasihan kepada kakek itu. “Baiklah, Yok-mo, kau akan kugendong.” Ia lalu membungkus kembali bawaan kakek itu, mengikatnya di punggung Toat-beng Yok-mo, setelah itu lalu menggendong kakek ini di punggungnya sendiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Toat-beng Yok-mo! Kun Hong bertubuh kuat dan bertenaga besar, maka menggendong tubuh yang kecil kering dan tua itu tidaklah sukar baginya. Akan tetapi karena ia tidak terlatih dan tidak biasa bekerja berat, perjalanan mereka ini berlangsung lambat sekali dan sering kali terpaksa beristirahat.

Diam-diam Toat-beng Yok-mo terheran-heran mengapa Ketua Hoa-san-pai yang gagah itu mempunyai seorang putera yang begini tidak ada gunanya. Karena ia membutuhkan bantuan Kun Hong untuk menggendongnya dan dijadikan jaminan akan keselamatannya, maka di waktu istirahat ini ia mengajar Kun Hong cara berduduk diam (bersamadhi), mengatur pernapasan untuk memperkuat daya tahan tubuhnya sehingga membuat pemuda ini lebih tahan berjalan jauh.

“Toat-beng Yok-mo, aku sudah membaca kitab-kitabmu biarpun hanya sedikit dan aku tertarik sekali. Baik sekali memiliki kepandaian untuk mengobati orang sakit. Kalau kau suka mengajarku dalam ilmu pengobatan, aku suka menjadi muridmu.”

Diam-diam kakek ini menyeringai. Ia sudah mengambil keputusan untuk membawa kepandaiannya sampai mati, tidak akan ia turunkan kepada siapapun juga. Kecuali kalau ada murid yang suka berjanji bahwa murid itu akan membunuh setiap orang yang sudah diobatinya. Akan tetapi ia tahu pula bahwa pemuda ini tak mungkin mau menerima syarat itu, maka ia berpura-pura.

“Kau anak baik sekali, tentu saja aku suka menerima kau menjadi muridku. Dan kau tahu, pelajaran samadhi dan mengatur napas yang kuajarkan ini adalah tingkat pertama dari ilmu pengobatan. Maka kau berlatihlah baik-baik setiap kali kita beristirahat.”

Karena kurang pengalaman, Kun Hong mempercayai omongan ini dan betul saja ia berlatih giat sekali di waktu beristirahat dan di waktu malam, Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakek itu melatih ia samadhi dan mengatur pernapasan agar badannya kuat dan tahan lebih lama melakukan perjalanan jauh itu sambil menggendong! Baiknya kakek itu ternyata mempunyai simpanan banyak emas dalam buntalan sehingga untuk makan dan menyewa rumah penginapan bukan soal yang sulit lagi bagi mereka. Sebetulnya, dengan makan obat yang dibeli di kota yang mereka lalui, kakek itu sudah banyak mendingan sakitnya dan sudah kuat berjalan lagi. Akan tetapi, kesehatannya belum pulih semua dan andaikata ia bertemu lawan tangguh, ia masih belum sanggup melawan. Maka untuk membuat Kun Hong sungkan meninggalkannya, ia berpura-pura masih tidak kuat jalan dan membiarkan pemuda itu terus menggendongnya sepanjang jalan!

Pada suatu hari, menjelang tengah hari yang panas terik, Kun Hong dan Yok-mo beristirahat di sebuah hutan yang amat liar. Mereka sudah tiba di daerah lembah Sungai Huai di mana banyak sekali terdapat hutan-hutan lebat dan gunung-gunung yang masih liar. Daerah ini sudah dekat dengan tempat tinggal Toat-beng Yok-mo, yaitu di pusat gerombolan Ngo-lian-kauw yang dikepalai oleh Kim-thouw Thian-li. Karena merasa bahwa ia sudah berada dl daerah sendiri dan kiranya sekarang tak mungkin orang-orang Hoa-san-pai dapat mengejarnya, Yok-mo mengambil keputusan untuk mencabut nyawa pemuda yang selama ini mengantar dan menggendongnya. Ia tidak memerlukan lagi pemuda ini, baik sebagai pengantar maupun sebagai jaminan. Sesungguhnya dalam beberapa hari ini ia sudah merasa bosan sekali digendong oleh pemuda yang tidak dapat berjalan cepat itu. Andaikata ia melakukan perjalanan sendiri, dengan ilmunya berlari cepat, kiranya ia sudah sampai di rumahnya. Semata-mata untuk menjamin keselamatannya belaka ia terpaksa membiarkan dirinya digendong oleh Kun Hong.

Melihat betapa pemuda ini sekarang tekun duduk bersila, mengumpulkan panca inderanya dan mengatur pernapasan, kakek ini tersenyum menyeringai. Diam-diam ia harus mengakui bahwa pemuda ini sesungguhnya memiliki tulang bersih dan bakat yang amat baik, pula amat cerdas sehingga sekali membaca atau mendengar sudah hafal dan takkan melupakannya lagi.

“He, Kun Hong… bangunlah jangan tidur saja!” ia menegur. Kun Hong membuka matanya dan terheran-heran melihat kakek itu duduk bersandar pohon seperti biasanya sambii tensenyum-senyum aneh,

“Yok-mo, aku tidak tidur, melainkan melatih samadhi seperti biasa. Latihan ini baik sekali, aku merasa sehat dan kuat semenjak berlatih. Kitabmu itu benar-benar mengandung pelajaran pengobatan yang luar biasa.”

“Heh-heh-heh, apa kau ingin membaca lagi?”

Wajah Kun Hong nampak kecewa. “Semenjak pertemuan kita dahulu kau sudah tahu jelas bahwa tidak ada keinginan lain padaku kecuali membaca tiga kitabmu itu. Tapi kau selalu melarang.”

“Heh-heh-heh, kau benar-benar ingin membacanya? Kun Hong, kau sudah melepas budi kepadaku, merawat dan mengantarkan, aku sampai di sini. Kalau sekarang aku membolehkan kau membaca ketiga kitabku, apakah aku boleh menganggap budimu itu sudah terbalas dan sudah lunas?”

Kun Hong memang seorang yang berwatak polos dan bersih. Ia menolong kakek itu tanpa pamrih apa-apa, tanpa mengharap balasan malah sama sekali tidak ada ingatan dalam hatinya bahwa ia telah melepas budi kepada orang. Mendengar kakek itu membolehkan ia membaca kitab-kitab itu, ia menjadi girang sekali dan berkata, “Terima kasih, Yok-mo, kau baik sekali!” Tanpa mempedulikan yang lain-lain lagi ia lalu membuka buntalan yang ditaruh di bawah pohon, mengeluarkan tiga kitab itu dan segera ia mulai membaca.

Belum lama ia membaca, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang menggetarkan isi hutan itu. Kun Hong terkejut sekali dan lebih-lebih herannya ketika ia melihat kakek bongkok itu sudah berdiri dengan tongkat di tangan, memandang ke depan dengan mata terbelalak. Keheranannya ini bercampur rasa girang karena kalau kakek itu sudah dapat berdiri, berarti kesehatannya sudah
mulai pulih. Akan tetapi segera ia kaget sekali melihat cahaya kuning emas menyambar turun dari atas, tak jauh dari tempat itu. Seekor burung yang amat besar meluncur turun untuk menyusup ke dalam semak-semak, Akan tetapi burung itu cepat sekali gerakannya, dan tahu-tahu kelinci itu sudah dapat dicengkeramnya. Akan tetapi sebelum burung itu dapat terbang kembali, dengan satu kali melompat saja Toat-beng Yok-mo sudah berada di dekatnya.

“Rajawali emas! Bagus sekali… aku harus menangkap burung ini!” sambil berkata demikian kakek itu menerjang dengan kedua tangan terpentang, siap menangkap burung besar itu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika burung itu tiba-tiba menggerakkan sayap kanannya menghantam ke arah kepalanya. Yok-mo cepat mengelak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah terpukul oleh sayap kiri burung itu yang ternyata menggunakan cara penyerangan aneh sehingga kelihatannya sayap kanan yang menampar, tidak tahunya sayap kiri yang betul betul bergerak.

Akan tetapi Yok-mo adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Pukulan itu membuat tubuhnya terpental akan tetapi tidak melukainya. Ia cepat meloncat bangun dan sepasang matanya bersinar-sinar.

“Hebat….! Inilah kim-tiauw (rajawali emas) yang jarang bandingannya! Jantung dan otaknya akan menjadi bahan obat kuat yang mujijat!” Ia melompat lagi dan kembali ia menyerang. Burung itu agaknya marah dan anehnya, ia tidak mau terbang pergi. Malah kini ia melepaskan bangkai kelinci tadi dan tegak, seperti seorang pendekar siap menghadapi datangnya penyerangan lawan.

Toat-beng Yok-mo dengan hati-hati sekali menerjang maju, siap untuk mencengkeram leher burung itu sambil memperhatikan gerakan binatang ini, agar jangan tertipu seperti tadi. Ia sengaja memukul ke arah dada burung dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah leher. Hebat sekali serangannya ini. Akan tetapi kembali ia melengak ketika melihat betapa dengan langkah-langkah kaki yang amat aneh, diikuti gerakan kedua sayapnya, burung itu telah dapat mengelakkan kedua serangannya ini dengan amat mudahnya. Malah bukan hanya mengelak, burung itu dengan kecepatan yang luar biasa telah menggerakkan kepala mematuk mata kiri Toat-beng Yok-mo!

“Celaka….!” Yok-mo cepat melompat ke kanan. Gerakannya belum cepat karena kesehatannya memang belum pulih benar-benar. Kagetnya bukan kepalang melihat penyerangan yang lebih dahsyat daripada tusukan pedang itu. Akan tetapi, sekali lagi ia tertipu karena begitu ia melompat ke kanan, burung itu menarik kembali kepalanya dan kaki kirinya bergerak ke depan menendang. Sekali lagi tubuh kakek itu terlempar, malah bergulingan seperti seekor trenggiling! Hebatnya, gerakan kaki burung itu persis tendangan kaki manusia, dan digerakkan dengan cepat dan mengandung tenaga amat kuat.

Yok-mo mengeluh dan merangkak bangun, bermacam perasaan mengaduk di hatinya ketika ia memandang kepada burung itu dengan mata terbelalak. Heran, kaget dan marah sekali. Sudah bertahun-tahun ia ingin mendapatkan seekor burung seperti ini, burung rajawali emas yang jarang sekali terdapat di dunia ini dan hanya muncul dalam dongeng-dongeng kuno. Menurut pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, jantung burung rajawali emas dapat dibuat menjadi obat penguat tubuh yang luar biasa sedangkan otak burung itu dapat dibuat menjadi bahan obat terhadap bermacam-macam luka berbisa. Sekarang, tak terduga-duga olehnya, ia bertemu burung ini, akan tetapi siapa sangka bahwa burung Ini ternyata bukanlah burung biasa, gerakan-gerakannya hebat sekali seperti seorang ahli silat kelas tinggi! Betapapun juga, Yok-mo menjadi penasaran. Ia masih belum mau kalah. Mungkin karena tubuhnya belum pulih benar maka tenaganya berkurang dan kecepatannya pun tidak seperti biasa sehingga dua kali ia dibikin roboh oleh burung itu. Sekarang ia telah mengeluarkan tongkatnya, tongkat hitam yang selama ini ia sembunyikan saja di balik bajunya.

Dengan kemarahan meluap kakek ini lalu melompat maju dan menyerang burung itu dengan tongkat hitamnya. Aneh sekali, burung itu agaknya tahu akan keampuhan tongkat hitam itu. Ia mengeluarkan bunyi melengking lalu terbang dan dari atas ia menyambar kepala Toat-beng Yok-mo. Kakek ini sudah siap sedia, cepat mengelak dan membalas dengan tusukan tongkatnya. Burung itu ternyata gentar menghadapi tongkat sehingga serangannya selalu gagal karena ia harus mengelak dari sambaran tongkat yang ampuh itu. Pertempuran itu menjadi seru sekali, burung itu menang gesit akan tetapi dengan mengandalkan tongkatnya yang ditakuti lawannya, Yok-mo dapat mempertahankan dirinya malah dapat balas menyerang dengan hebat.

Sementara itu, semenjak tadi Kun Hong melongo. Kagumnya bukan main melihat burung yang indah sekali, dengan bulu berwarna mengkilap kuning keemasan itu. Segera ia merasa suka dan sayang kepada binatang itu. Lebih-lebih kagumnya ketika ia melihat betapa burung itu dengan mudahnya dapat membuat Toat-beng Yok-mo yang berkepandaian tinggi itu terguling-guling. Pemuda ini sebetulnya mempunyai rasa kagum dan suka akan kegagahan sungguhpun ia benci sekali akan pembunuhan dan penyiksaan. Baginya, kegagahan seharusnya dipergunakan untuk menegakkan keadilan tanpa melakukan pembunuhan, cukup dengan mengalahkan yang jahat dan memaksanya kembali ke jalan benar. Melihat burung indah itu mengalahkan Yok-mo, ia kagum sekali. Akan tetapi kekagumannya itu berubah menjadi kekuatiran besar ketika Yok-mo mengeluarkan tongkatnya yang mengerikan dan terjadi pertempuran seru antara dua lawan yang memiliki gerakan cepat membuat ia bingung memandangnya itu.

Karena tadi terpesona oleh keindahan burung dan sekarang menjadi bingung menyaksikan pertempuran mati-matian itu, tanpa disengaja tiga jilid kitab yang dipegangnya itu ia masukkan daiam saku bajunya yang lebar. Ia lalu berdiri dan menyambar tabung bambu terisi katak putih. Hanya itulah yang akan dapat mengobati luka mengerikan yang diakibatkan oleh tongkat hitam itu, pikirnya. Sambil membawa tabung itu ia berlari sambil berteriak,

“Jangan bunuh burung itu! Yok-mo, sayang sekali kalau sampai ia terluka….!”

Setelah dekat dengan tempat pertempuran, Kun Hong makin suka dan kagum melihat burung itu yang memang amat indah. Juga ia melihat adanya sebuah kalung mutiara tergantung di leher burung itu. Maka tahulah ia bahwa burung ini tentulah ada yang punya, tentu burung peliharaan orang.

“Yok-mo, jangan bunuh dia, tentu ada pemiliknya. Lihat kalung itu!”

Tentu saja Toat-beng Yok-mo juga sudah melihat kalung mutiara besar-besar yang tergantung di leher burung itu. Akan tetapi sudah tentu saja ia tidak ambil peduli. Ada yang punya atau tidak, burung ini harus ia tangkap, ia bunuh untuk diambil jantung dan otaknya. Ia memperhebat permainan tongkatnya dan makin lama ia bersilat, ia merasa bahwa kekuatannya mulai pulih kembali.

Burung itu pun mulai menjadi marah sekali. Apalagi ketika ia melihat Kun Hong datang berlari-lari, dianggapnya bahwa tentu ia akan dikeroyok. Ia memekik keras dan menerjang Yok-mo dengan serbuan yang dahsyat sekali. Yok-mo juga kaget, tak menduga bahwa burung itu dapat melakukan serangan demikian hebatnya. Dalam kegugupannya melihat sepasang sayap berikut sepasang cakar dan sebuah paruh yang kuat dan runcing itu sekaligus menyerangnya, Yok-mo memutar tongkatnya, melindungi diri. Namun secara aneh sekali cakar kiri burung itu dapat menyelinap di antara gulungan sinar tongkatnya dan mencengkeram ke arah muka Yok-mo.

“Mati aku….!” Yok-mo berteriak kaget dan ia menjadi nekat. Ia menarik tongkatnya itu lalu ia tusukkan ke arah kaki berkuku runcing mengerikan yang hendak mencengkeram mukanya. Tepat sekali ujung tongkatnya menusuk telapak kaki burung itu, akan tetapi pada saat itu sayap kanan burung itu menghantam kepala dan pundaknya.

“Blukkk!” Tubuh Toat-beng Yok-mo terlempar jauh dan kakek ini roboh pingsan. Bukan main hebatnya hantaman sayap tadi yang akan dapat menghancurkan kepala seekor harimau. Burung itu menjerit-jerit kesakitan dan anehnya, kaki kirinya menjadi putih sekali seperti kaki mati. Dalam kesakitan itu ia menjadi makin marah dan segera ia melompat ke arah tubuh Yok-mo.

“Hee… jangan… dia sudah kalah, jangan kauserang lagi!” Kun Hong berteriak mencegah sambil menghadang di antara Yok-mo dan burung itu. Kebetulan sekali tadi tubuh Yok-mo terlempar ke arahnya sehingga ia dapat mendahului burung itu dan menghadang di tengah jalan sambil mengacungkan tabung bambu untuk menakuti.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: