Rajawali Emas (Jilid ke-16)

“Ibu, agaknya aku akan berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke depan kakimu. Tapi… dia itu orang macam apakah?”

Kwa Hong menarik napas panjang. “Kau tidak boleh memandang rendah Song-bun-kwi Kwee Lun, kau harus berhati-hati terhadap Cia Li Cu. Akan tetapi menghadapi orang ini, Anakku… aku benar-benar sangsi apakah kau akan dapat melawannya. Dia itulah sesungguhnya Raja Pedang, ilmu pedang dan ilmu silatnya luar biasa sekali, belum pernah aku melihat dia dikalahkan orang. Dia hebat… dia hebat….” Kwa Hong merenung, wajahnya agak berseri, bangkit kembali cinta kasihnya kalau ia merenungkan bekas kekasihnya itu.

“Dia laki-laki hebat….” kembali ia berkata dan kali ini dengan keluhan.

Panas hati Sin Lee mendengar ini. Biasanya ibunya hanya menganggap bahwa dialah orang yang paling pandai di dunia ini, sekarang ibunya memuji seorang musuh! “Ibu, aku bersumpah akan menyeret Tan Beng San itu ke depan kakimu. Kalau belum terjadi hal ini, aku bersumpah takkan kembali ke sini.” Sin Lee cepat berkemas, membawa pedang pusaka pemberian ibunya, membuntal pakaian dan membawa beberapa potong emas, lalu turun gunung. Kwa Hong mengantar puteranya sampai di lereng gunung dan membekalinya banyak nasihat dan memesannya agar berhati-hati.

Kun Hong dibawa terbang jauh sekali oleh rajawali emas, Burung ajaib ini semenjak meninggalkan Lu-liang-san tidak mau kembali lagi dan selama itu ia terbang dan tinggal di tempatnya yang lama, yaitu di puncak sebuah bukit yang tak pernah didatangi manusia. Kadang-kadang ia meninggalkan tempatnya ini dan tidak seperti dulu ketika masih dipelihara oleh Kwa Hong, sekarang ia bebas lepas dan pergi ke mana saja ia suka. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong. Binatang ini memang amat mengenal budi orang. Sekali saja orang melepas budi kepadanya, ia tentu akan membalasnya dengan penuh kesetiaan. Akan tetapi sebaliknya, kalau ia disakiti, ia pun akan membenci yang menyakitinya.

Tanpa disengaja Kun Hong telah memberi katak putih yang segera dikenal oleh burung ajaib ini dan ditelan, maka selamatlah ia dari racun hebat yang melukai kakinya. Pertolongan ini membuat ia amat suka dan setia kepada Kun Hong dan sekarang ia hendak membawa pemuda itu terbang ke tempat tinggalnya, di puncak sebuah bukit yang di jaman dahulu dikenal sebagai Bukit Kepala Naga. Puncak ini disebut Kepala Naga karena bentuknya dilihat dari barat memang menyerupai bentuk kepala naga.

Kun Hong tidak tahu ke mana ia akan dibawa oleh burung itu. Anehnya, pada waktu tengah hari dan malam, burung itu selalu berhenti di sebuah hutan dan tanpa diminta lagi lalu mencarikan buah-buahan yang segar dan enak untuk pemuda itu. Tentu saja Kun Hong girang sekali mendapatkan kawan yang baik, apalagi selamanya ia tidak pernah turun gunung, sekarang begitu turun gunung ia mengalami hal-hal yang amat aneh. Biarpun ayahnya adalah Kwa Tin Siong dan juga menjadi ayah Kwa Hong, namun Kun Hong belum pernah diceritakah tentang kakak perempuannya lain ibu itu, maka ia pun tidak pernah mendengar tentang adanya rajawali emas. Para tosu Hoa-san-pai yang sudah dipesan keras oleh Kwa Tin Siong, tidak ada yang pernah bercerita tentang peristiwa yang mencemarkan nama baik Ketua Hoa-san-pai itu. Andaikata ia pernah mendengar tentang Kwa Hong yang datang menyerbu Hoa-san-pai naik rajawali emas, kiranya pemuda ini akan dapat mengenal burung itu.
Setelah lewat lima hari, sampailah burung rajawali emas itu ke puncak gunung Kepala Naga. Ia menukik ke bawah dan Kun Hong merangkul leher burung, mencengkeram kalung mutiara itu sambil meramkan matanya. Ia merasa ngeri sekali melihat betapa dia dan burung itu meluncur turun, seakan-akan hendak tertumbuk kepada jurang-jurang dan batu-batu yang menanti di bawah, jurang-jurang menganga seperti mulut harimau dan batu-batu meruncing seperti ujung pedang dan golok.

Setelah burung itu hinggap di atas tanah barulah ia berani membuka kedua matanya. Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa burung rajawali itu telah berdiri di depan sebuah gua yang bentuknya seperti mulut naga. Gua batu itu amat lebar dan dalam, letaknya di depan jurang yang sangat terjal sehingga kalau bukan burung yang pandai terbang, manusia biasa kiranya tak mungkin dapat mendatangi tempat ini. Pemandangan alam dari tempat itu, dari depan gua, amat indahnya, seakan-akan dunia terletak di bawah kaki gua, Kun Hong segera melompat turun dari punggung rajawali. Ia mendekati gua, akan tetapi tidak berani masuk karena ia merasa seakan-akan ia berdiri di depan tempat tinggal seseorang sehingga ia tidak berani masuk begitu saja tanpa perkenan si pemilik tempat tinggal! Akan tetapi tiba-tiba burung itu mengeluarkan bunyi perlahan dan dari belakangnya burung itu mendorong punggungnya perlahan-lahan, seakan-akan hendak menyuruh pemuda itu memasuki gua.

Karena kemudian dapat menduga bahwa tak mungkin di dalam gua yang letaknya demikian sukar dapat didiami, manusia Kun Hong lalu memasukinya. Ia terheran-heran melihat bahwa di dalam gua itu terbagi menjadi tiga, yaitu bagian depan dan di sebelah dalam terdapat dua buah ruangan tertutup. Pintunya juga merupakan pintu batu akan tetapi bentuknya jelas adalah buatan manusia!

Dengan hati berdebar-debar ia mendorong pintu batu di sebelah kiri. Akan tetapi betapapun ia mengerahkan tenaga, pintu batu itu bergerak sedikit pun tidak! Tiba-tiba terdengar burung itu bersuara di belakangnya, kemudian dengan sayap kanannya burung itu mendorong perlahan dan… pintu batu itu terbuka!

“Tiauw-ko, kau benar-benar kuat sekali!” Kun Hong memuji dan makin berdebar hatinya ketika ia melangkah masuk.

“Locianpwe (sebutan untuk orang tua pandai) atau arwahnya yang mulia, harap sudi mengampuni kelancanganku ini.” katanya dengan bisikan perlahan dan mulailah ia merasa serem karena di dalam kamar batu ini ia melihat sebuah meja sembahyang! Tempat lilin yang amat kuno terletak di kanan kiri ujung meja dan di atas dua tempat lilin ini masih tertancap dua batang lliin merah. Lilin-lilin itu tidak menyala, akan tetapi lilin yang meleleh bekas terbakar masih kelihatan seakan-akan baru saja dipadamkan. Ketika Kun Hong mendekati, tampak nyata olehnya bahwa lilin sudah lama sekali tidak dinyalakan orang, buktinya di atasnya terdapat banyak sarang laba-laba. Di tengah-tengah meja kelihatan sebuah kitab yang tebal dan sudah tua sekali. Melihat sebuah kitab kuno, bukan main girangnya hati Kun Hong. Ingin segera menyambar kitab itu untuk dibacanya, akan tetapi karena semenjak kecil ia dijejali pelajaran dan tata-susila, ia tidak berani melakukan hal itu.

Karena keinginannya melihat buku itu amat keras, ia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan meja sembahyang lalu berkata keras-keras,

“Locianpwe pemilik kitab di atas meja, harap sudi memberi perkenan kepada teecu untuk mengambilnya dan membaca isinya.” Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata ini sambil membentur-benturkan jidatnya kepada lantai untuk memberi hormat kepada pemilik kitab yang tidak diketahuinya siapa dan yang ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati itu.

Ketika ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di atas lantai depan meja sembahyang itu, matanya melihat ukiran-ukiran huruf kecil-kecil di bawah meja. Ukiran huruf-huruf itu demikian kecilnya sehingga kalau orang tidak mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh lantai kiranya takkan dapat melihatnya. Tidak akan ada huruf-huruf yang terlewat begitu saja oleh sepasang mata Kun Hong yang selalu haus akan bacaan, apalagi kalau huruf-huruf itu berada di tempat yang begitu aneh dan goresan huruf-huruf itu amat indahnya. Ia segera membacanya,

Dapat masuk berarti jodoh. Dapat membaca berarti tahu sopan dan murid yang baik. Untuk ambil kitab singkirkan anak-anak panah di bawah meja. Setelab hafal kitab baru ambil pedang di kamar samadhi.

Beberapa kali Kun Hong membaca tulisan kecil-kecil itu dan ia merasa seakan-akan surat itu ditujukan kepadanya! Setelah jelas akan pesan dalam surat berukir yang aneh itu, ia lalu melongok ke bawah meja dan betul saja, di bawah meja itu tersembunyi tiga batang anak panah yang dipasangi per sehingga kalau ada orang mengambil kitab di atas meja itu, per akan menggerakkan tiga batang anak panah tadi yang tentu akan tertendang dan menyerang orang yang berdiri di depan meja. Karena anak-anak panah itu akan menyerang dari bawah meja, kiranya tak mungkin orang akan dapat menghindarkan penyerangan gelap yang amat dekat ini. Kun Hong bergidik dan cepat-cepat ia mengulur tangan mengambil tiga batang anak panah itu. Tercium bau yang harum dan di ujung tiga batang anak panah itu berwarna hijau. Pemuda ini dapat menduga bahwa ujung anak panah itu tentu diberi racun yang amat berbahaya. Dengan jijik ia lalu menaruh tiga batang anak panah itu di atas meja, lalu ia memberi hormat lagi sambil berkata,

“Terima kasih atas kepercayaan dan petunjuk Locianpwe.”

Ia lalu mengulur tangan mengambil kitab kuno itu dari tengah meja dan pada saat itu terdengarlah jepretan per di bawah meja. Biarpun sudah dapat menduga akan hal ini dan sudah yakin bahwa anak panah itu telah ia singkirkan, namun kaget jugalah Kun Hong mendengar jepretan ini. Dilihatnya bahwa di bawah kitab tadilah yang menghubungkan per-per itu sehingga apabila kitab diambil per-per itu bekerja di bawah meja. Ah, kalau tadi ia berlaku lancang dan terus saja mengambil kitab itu sudah dapat dipastikan bahwa berbareng pada saat terdengar suara menjepret, ia akan roboh telentang dengan tiga anak panah tertancap di perutnya! Dengan kitab di tangan, Kun Hong cepat-cepat memberi hormat lalu keluar dari kamar itu. Ternyata setibanya di ruangan depan, rajawali emas telah menantinya dan burung ini telah memperoleh banyak sekali buah-buahan, malah di antaranya terdapat seekor kelinci yang sudah mati.

“Aduh, kau mendapatkan kelinci gemuk? Sayang, Tiauw-ko, bagaimana kita akan dapat memakannya?”

Burung itu lalu mendorong Kun Hong ke pojok ruangan di mana terdapat sebuah batu halus rata berbentuk meja. Di situ bertumpuk rumput-rumput kering dan dengan paruhnya burung luar biasa ini mengambil sedikit rumput kering, di taruhnya di atas meja. Kemudian ia menggerakkan kepalanya, paruhnya runcing dan keras seperti baja itu memukul pinggir meja dan… bunga api berpijar. Kun Hong girang sekali dan pemuda yang cerdik ini segera dapat menangkap maksud si burung. Ia cepat mengambil rumput kering lagi dan menaruh dekat pinggiran meja. Beberapa kali burung itu memukul batu itu dengan paruhnya dan akhirnya bunga api- menyentuh rumput kering dan terbakarlah rumput itu. Dengan cara demikian Kun Hong dapat membuat api unggun dan dapat memanggang daging kelinci.

Setelah makan kenyang, pemuda itu mulai membuka-buka lembaran kitab kuno tadi. Pada lembar pertama terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar yang berbunyi: SALINAN IM YANG BU TEK CIN KENG.

Karena ia tidak tahu apa itu artinya Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kun Hong membuka lembaran ke dua dan segera ia amat tertarik membaca tulisan yang bersifat keluhan dan penjelasan. Tulisan itu berbunyi demikian,

“Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat, Anggapan yang sesat! Aku tidak bisa memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhiri kehidupan? Aku berdosa! Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahat si manusia itu, bukanlah perbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula.”

Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang lalu mengangguk-angguk. Betul sekali Locianpwe ini, soal mati dan hidup manusia bukanlah urusan manusia, melainkan Yang Maha Kuasa. Membunuh orang lain, bukankah melancangi dan mendahului Tuhan itu namanya? Sayang, agaknya Locianpwe ini baru sadar setelah melakukan pembunuhan ratusan kali. Ia membaca terus tulisan yang merupakan permulaan isi kitab itu.

“Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang mengandung pelajaran ilmu silat sakti, tiada keduanya di dunia ini. Orang macam aku mana dapat menyalinnya? Pengertianku terbatas dan salinanku tentu banyak menyeleweng. Karena itu aku hanya menyalin apa yang kuketahui saja dan kucampur dengan gerakan-gerakan burungku rajawali emas. Karena itu maka ilmu dalam kitab ini kuberi nama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas). Muridku yang membaca kitab ini harus bersumpah dalam hatinya bahwa ke satu dia tidak boleh membunuh sesama manusia dengan alasan apapun juga. Ke dua dia tidak boleh mempergunakan ilmu ini untuk menyerang orang. Ke tiga ilmu Kim-tiauw-kun ini hanya untuk membela diri dari serangan orang, dan hanya terbatas untuk mengalahkan lawan saja”

Kun Hong makin tertarik. “Bagus”, pikirnya. “Inilah ilmu yang baik sekali. Aku sendiri paling benci melihat pembunuhan antara sesama manusia. Kalau aku dapat mempelajari ilmu ini, kiranya aku akan mampu mencegah orang-orang berkepandaian main hakim sendiri membunuhi orang sesuka hati. Kalau ada orang jahat, gunakan kepandaian untuk mengalahkannya dan menangkapnya untuk diserahkan kepada yang berwajib agar dijatuhi hukuman. Bagus sekali! Locianpwe, teecu bersumpah akan memenuhi semua syarat itu.”

Semenjak saat itu, dengan tekun Kun Hong membaca kitab yang berisi pelajaran ilmu silat sakti itu. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa secara tak sengaja atau sadar ia telah mewarisi ilmu silat yang bukan main hebatnya, yang hanya setaraf dengan Im-yang Sin-hoat karena dari satu sumber. Ia tidak tahu pula siapa gurunya, siapa penulis kitab itu yang hanya menandai dengan tiga buah huruf berbunyi Bu Beng Cu yang artinya TIADA NAMA!
Di samping membaca kitab Kim-tiauw-kun ini, tidak lupa Kun Hong yang dengan girang mendapat kenyataan bahwa tiga buah kitab milik Yok-mo masih berada di saku jubahnya, membaca pula tiga buah kitab pengobatan itu. Pengetahuannya tentang perjalanan darah yang secara lengkap tertulis di dalam kitab Yok-mo, memperlancar pengertiannya terrhadap isi kitab Kim-tiauw-kun.

Kun Hong memang memiliki kecerdasan luar biasa. Dalam waktu setahun lebih saja ia sudah mampu membaca habis empat buah kitab itu, tidak hanya membaca habis, malah sudah dapat menghafalnya di luar kepala! Tentu saja, ilmu silat tidak dapat disamakan dengan ilmu pengobatan yang cukup dihafal, melainkan harus dilatih dalam praktek. Karena di dalam kitab Kim-tiauw-kun itu terdapat peringatan bahwa si murid harus betul-betul menyempurnakan latihan gerakan kaki, maka Kun Hong juga melatih dirinya dalam pergerakan ini, dalam langkah-langkah ajaib yang kadang-kadang membuat kepalanya pening dan mau muntah-muntah. Baiknya kalau ia sedang bergerak seperti itu, burung rajawali tentu dengan mengeluarkan suara girang mendekatinya dan bergerak-gerak persis seperti langkah-langkah dalam pelajaran itu, sengaja memberi contoh kepadanya! Bukan main girangnya hati Kun Hong dan mulai saat itu ia selalu berlatih bersama burung rajawali emas. Orang yang menamakan dirinya Bu Beng Cu dan yang menyalin ilmu silat itu, sebenarnya adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di tempat ini karena merasa menyesal sekali akan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang jahat yang banyak ia lakukan. Bu Beng Cu ini telah mewarisi sebagian dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Setelah tua dan menyesali perbuatannya, Bu Beng Cu membawa burung peliharaannya ke puncak Gunung Kepala Naga ini, menyembunyikan diri dan menuliskan sari dan pokok dari semua ilmu yang ia punyai. Kemudian ia meninggal dunia di tempat itu, hanya ditemani burungnya yang setia.

Tentu saja setelah majikannya meninggal, burung itu merasa kesepian dan akhirnya ia terbang dari tempat itu sampai ia berjumpa dengan Kwa Hong dan dipelihara oleh Kwa Hong. Betapapun juga, burung ini mempunyai perasaan atau naluri ,yang tajam. Agaknya ia maklum bahwa Kwa Hong dan kemudian puteranya Sin Lee, bukanlah orang yang memiliki budi luhur maka tidak ia bawa mengunjungi gua di puncak Gunung Kepala Naga itu. Baru setelah ia bertemu dengan Kun Hong, segera perasaan atau nalurinya menyatakan kepadanya bahwa pemuda inilah yang paling tepat untuk dihadapkan kepada peninggalan majikan tuanya.

Waktu satu setengah tahun bukanlah waktu lama untuk orang yang belajar. Akan tetapi, satu setengah tahun di dalam gua di puncak gunung yang tak pernah dikunjungi manusia, benar-benar membuat Kun Hong berubah menjadi manusia lain! Tidak saja dalam ilmu langkah ajaib itu ia sudah hafal benar sehingga dalam latihan-latihannya, burung rajawali itu betapapun menyerangnya dengan hebat tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya, akan tetapi juga dalam pengertiannya tentang pengobatan, membuat ia seakan-akan terbuka mata batinnya akan diri manusia. Dari pelajaran ini ia seakan-akan lebih mengenal dirinya sendiri, lebih mengenal manusia pada umumnya, tidak hanya lahiriah, akan tetapi mendalam sampai ke jalan darahnya, sampai kepada alat-alat terkecil dalam tubuh. Semua pengertian baru ini ia gabungkan dengan pelajaran yang banyak ia dapatkan dahulu tentang kebatinan, tentang kehidupan, sehingga pemuda yang baru berusia dua puluh tahun ini sekarang memiliki pandangan yang amat tajam tentang diri manusia.

Setelah ia hafal benar akan isi kitab Kim-tiauw-kun, barulah Kun Hong berani menghampiri pintu kamar ke dua di dalam gua itu. Seperti pintu pertama, pintu ke dua ini pun terbuat dari batu yang tebal dan berat. Akan tetapi, alangkah jauh bedanya dengan satu setengah tahun yang lalu, dengan sekali dorong saja Kun Hong dapat membuka daun pintu yang tebal itu! Sama sekali ia tidak menjadi girang atau bangga dengan hal ini, karena sesungguhnya ia sudah tidak ingat lagi betapa dahulu tanpa bantuan rajawali emas, tak mungkin ia dapat membuka pintu ini. Semua ini adalah hasil dari latihannya dalam samadhi dan pernapasan, sesuai dengan petunjuk dalam kitab Kim-tiauw-kun itu. Tenaga dalamnya telah bangkit dan bergerak tanpa ia sadari. Hawa sakti dalam tubuh telah ada dalam diri tiap manusia, hanya saja hawa ini seakan-akan tertidur karena semenjak kecil sampai mati tua, sebagian besar manusia di dunia ini kerjanya hanya mengumbar hawa nafsunya belaka.

Kun Hong yang sudah mengangkat sebelah kaki untuk melangkah memasuki kamar ke dua itu, tiba-tiba menahan kakinya karena mendengar burung rajawali yang berdiri di belakangnya mengeluarkan suara aneh sekali. Seakan-akan burung itu bersusah hati dan menangis. Ketika ia menengok ke belakang, burung itu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali lalu mencoba untuk menggigit baju Kun Hong dan menariknya mundur.

“Jangan Tiauw-ko. Bagaimanapun juga aku harus memasuki kamar ini, sesuai dengan petunjuk Locianpwe bahwalah aku hafal akan isi kitab, aku boleh masuk dan mengambil pedang. Bukan sekali-kali karena aku ingin sekali memiliki pedang, ah, bukan, Tiauw-ko. Bagiku, sebatang pedang apa artinya? Untuk apa pula? Hanya karena Locianpwe sudah memesan, mana aku berani membangkang?”

Setelah berkata demikian dan menghindarkan diri dari gigitan patuk burung itu, dengan tabah Kun Hong melangkah memasuki kamar yang agak gelap itu. Begitu masuk ia tertegun dan memandang dengan mata terbelalak ke depan. Di ujung kamar itu terdapat sebuah kursi batu dan di atas kursi batu ini duduk sebuah… kerangka manusia! Tengkorak manusia ini masih utuh dan sepasang lubang bekas mata itu seakan-akan sedang memandang kepadanya. Tangan kanan kerangka ini mencengkeram sebatang pedang yang bersinar kemerahan.

Dari kaget Kun Hong berbalik menjadi terharu. Inikah kiranya Bu Beng Cu, gurunya yang meninggalkan kitab itu? Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kerangka itu.

“Locianpwe, alangkah buruknya nasibmu, sampai meninggal pun tidak ada yang menguburmu….”

Ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba lantai yang diinjaknya bergoyang-goyang keras. Cepat ia meloncat bangun dan tiba-tiba dari sebelah kanannya menyambar anak panah! Kun Hong cepat menggeser kakinya, menarik tubuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu. Akan tetapi terdengar lagi suara “ser-ser-ser!” dan banyak anak panah menyambarnya dari empat jurusan, sementara itu lantai masih bergoyang-goyang.

Kun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali. Ia memusatkan pikiran dan kedua kakinya cepat bergerak-gerak dalam langkah ajaib, tubuhnya bergerak-gerak dalam Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Sedikitnya ada lima puluh batang anak panah yang terus-menerus menyambar, akan tetapi setelah pemuda ini melakukan gerak langkah ajaib, semua penyerangan itu sama sekali tidak menyentuhnya. Setelah anak panah habis menyambar, lantai berhenti sendiri dan yang terlihat hanyalah puluhan batang anak panah berserakan di atas lantai.

Kun Hong tidak mengerti apa maksudnya penyerangan itu, siapa yang menyerang dan mengapa lantai bergoyang-goyang, Akan tetapi karena ia memasuki kamar ini atas pesan Locianpwe untuk mengambil pedang, ia melangkah maju terus dengan hati-hati sekali. Dengan halus ia menarik pedang itu dari dalam tangan kerangka itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kerangka yang tadinya duduk itu menjadi runtuh dan terlepaslah tulang-tulang rangka itu ber jatuhan ke atas lantai pula. Tengkoraknya menggelinding sampai ke tengah kamar. Di antara tulang-tulang ini, melayang sehelai kain kuning yang ternyata ada tulisannya begini:

KALAU KAU TERLUKA ATAU MATI. TIDAK PATUT MENJADI PEWARIS KIM-TIAUW-KUN.

Setelah membawa tulisan itu, tersenyumlah Kun Hong. Kiranya semua itu merupakan ujian baginya. Locianpwe Bu Beng Cu yang aneh dan sakti ini telah mengatur sebelum tiba ajalnya, membuat semua alat rahasia itu agar setelah ia mati, ia masih dapat menguji calon muridnya, baik menguji pribudinya seperti yang terdapat di bawah meja sembahyang, juga menguji kepandaiannya setelah mempelajari ilmu silat itu. Benar-benar seorang manusia hebat. Pantas saja burung rajawali tadi seakan-akan hendak mencegahnya memasuki kamar, agaknya burung itu sudah tahu akan bahaya ujian ini dan hendak mencegahnya memasuki, kamar itu.

Sebagai seorang yang memiliki pribudi luhur, tidak tegalah hati Kun Hong melihat kerangka orang sakti itu berserakan di dalam kamar. Ia lalu mengumpulkan kerangka itu dan dengan khidmat dibawanya kerangka itu keluar, lalu digalinya lubang di ruangan depan menggunakan pedang itu lalu dikuburnya kerangka tadi. Selama ia melakukan semua ini, burung rajawali emas mengeluarkan suara keluhan seperti orang berkabung dan menangis!

Kun Hong lalu berkata kepada burung itu, “Tiauw-ko, sekarang sudah tiba waktunya aku harus pergi dari tempat ini. Kitab ini kutinggalkan di tempat semula karena aku sudah membaca semua isinya. Adapun pedang yang indah ini, karena telah diberikan kepadaku oleh mendiang Locianpwe, akan kubawa dan kuserahkan kepada Ayah yang amat suka akan pedang-pedang pusaka.”

Pemuda itu mengembalikan kitab Kim-tiauw-kun di atas meja sembahyang, sedangkan tiga buah kitab lain milik Yok-mo ia kantongi kembali karena ia hendak mengembalikan kitab itu kepada pemiliknya. Pedang indah itu ia masukkan ke dalam sarung pedang yang sederhana dan yang ia temukan juga di kamar ke dua, lalu ia ikat di pinggang, ditutupi jubahnya. Pakaian pemuda ini sudah lapuk dan berlubang di sana-sini, maklum sudah setahun setengah ia tidak pernah berganti pakaian.

Kim-tiauw agaknya maklum bahwa pemuda itu hendak pergi. Ia kelihatan berduka akan tetapi karena tak dapat bicara, ia hanya mengeluarkan suara mencicit seperti burung kecil.

“Nah, Tiauw-ko, tolonglah kauantarkan aku turun dari puncak ini,” kata Kun Hong setelah untuk penghabisan kali ia memberi hormat kepada kuburan kerangka Bu Beng Cu.

Burung itu lalu mendekam di depan Kun Hong. Pemuda ini segera meloncat ke atas punggungnya dan sekali lagi pemuda ini mengalami “terbang” di angkasa. Ia masih merasa ngeri seperti dulu, akan tetapi entah bagaimana, setelah satu setengah tahun ia melatih diri di gua itu, ia merasa hatinya lebih tenang dan tabah. Dengan gembira ia sekali lagi menyaksikan pemandangan alam yang amat luar biasa dilihat dari angkasa, dari atas punggung burung raksasa itu.

Akan tetapi, pengalaman hebat ini tidak lama ia rasakan karena burung itu segera melayang turun ke bawah kaki gunung, lalu hinggap di atas tanah. Ia mengeluarkan suara melengking yang tidak diketahui artinya oleh Kun Hong. Akan tetapi pemuda ini segera meloncat turun.

“Tiauw-ko, kenapa hanya sampai di sini? Kalau bisa, tolong antarkan aku kembali ke Hoa-san.”

Burung itu kembali mengeluarkan suara melengking tinggi, lalu burung itu mengangguk di depan Kun Hong tiga kali, setelah itu ia pentang kedua sayapnya dan… terbang naik lagi ke puncak.

“Ah, jadi dia tidak mau ikut dan hendak kembali ke sana? Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan ini dengan jalan kaki.” Kun Hong tidak menjadi kecewa, malah ia berterima kasih sekali kepada burung itu. Sebetulnya kalau boleh ia tidak ingin berpisah dari sahabatnya yang baik itu.

“Kim-tiauw-ko, terima kasih atas semua kebaikanmu!” ia berteriak ke arah burung yang sudah terbang meninggi. Ia kaget dan terheran sendiri ketika suaranya itu mendatangkan gema di empat penjuru, amat nyaring teriakannya. Semua ini adalah berkat kemajuannya dalam latihan-latihan sehingga tanpa disadarinya, ia telah memiliki tenaga khi-kang yang tinggi,

Setelah burung itu lenyap, baru Kun Hong melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mengenal jalan, maka ia jalan ke mana saja yang ia rasa senang dengan harapan untuk tiba di sebuah dusun, berjumpa orang dan menanyakan jalan ke Hoa-san. Memang tadinya ia merasa tak senang kalau mengenang akan pembunuhan di Hoa-san dan tidak ada keinginan kembali, akan tetapi betapapun juga ia merasa rindu kepada orang tuanya dan ingin bertemu dengan mereka untuk menceritakan pengalamannya yang hebat.

Sudah menjadi kenyataan semenjak dunia berkembang, di dalam hidup menderita sengsara, manusia akan mencari Tuhan karena sudah kehabisan akal dan tidak berdaya untuk memperbaiki hidupnya yang penuh penderitaan itu. Berpalinglah manusia yang menderita sengsara, mencari-cari Kekuasaan Tertinggi yang tadinya terlupa olehnya dikala ia tidak berada dalam penderitaan hidup. Sebaliknya, diwaktu menikmati hidup penuh kesenangan dan kecukupan, manusia sama sekali lupa akan Tuhannya, lupa bahwa segala kesenangan yang dapat ia rasa pada hakekatnya adalah rahmat dari Tuhan. Manusia dalam mabuk kesenangan menjadi sombong, mabuk kemenangan dan kemuliaan duniawi, merasa seakan-akan semua hasil gemilang itu adalah hasil kepandaiannya sendiri. Manusia yang sedang ditimpa kesengsaraan suka mencari kesalahan sendiri yang menyebabkan ia menderita, suka mengakui kesalahannya dan bertobat, berjanji takkan mengulangi perbuatannya yang sesat. Sebaliknya, di dalam mabuk kemuliaan, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain mengira bahwa dirinya sendiri yang benar dan karena kebenarannya itulah maka ia dapat hidup dalam kemuliaan.

Alangkah bodohnya manusia, alangkah pelupa dan mudah mabuk oleh kesenangan duniawi! Lupa sudah bahwa segala apa yang dipisah-pisahkan manusia dan diberi istilah kesenangan atau kesengsaraan itu adalah sesuatu yang sifatnya sementara belaka. Baik kesenangan dan kesengsaraan yang sebetulnya bukanlah merupakan sifat dari sesuatu keadaan, melainkan lebih merupakan pendapat menurut selera seorang, takkan abadi dan tidak merupakan hal yang sementara terasa, malahan umurnya amat pendek, sependek umur manusia di dunia ini.

Baik mereka yang mabuk kemenangan di waktu usahanya berhasil gemilang, maupun mereka yang putus asa dan nelangsa di waktu mengalami derita kekalahan, mereka ini adalah manusia-manusia yang bodoh dan, mau membiarkan dirinya diombang-ambingkan dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri. Bahagialah orang yang selalu berpegang kepada kebenaran, yang selalu waspada akan langkah hidupnya sendiri agar tidak menyeleweng dari kebenaran, dan dalam pada itu selalu mendasarkan segala sesuatu yang menimpa dirinya, baik itu menyenangkan badan maupun sebaliknya, sebagai kehendak daripada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menentukan segalanya, yang tak dapat diubah oleh kekuasaan manapun juga di dunia ini.

Jika diadakan perbandingan, jauh lebih bahagia mereka yang tertimpa kesengsaraan hidup dan membuat mereka berpaling mencari Tuhannya, daripada mereka yang hidup bergelimang dalam kemewahan dan membuat mereka lupa akan Tuhannya.

Demikian pula dengan Kaisar dan para pembesar Kerajaan Beng. Pada mulanya, dalam perjuangan rnereka mengusir penjajahan Mongol dari tanah air, mereka berpegang kepada kebenaran jiwa, mereka penuh oleh sifat patriotisme, sepak terjang dalam perjuangan hanya didasarkan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Dalam keadaan seperti itu mereka yakin sepenuhnya akan kebenaran mereka, dan yakin bahwa manusia dalam kebenaran sepak terjang hidupnya selalu akan diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, sungguh menyedihkan, setelah usaha perjuangan mereka berhasil, terjadilah hal yang agaknya merupakan penyakit turunan bagi manusia. Terjadilah perebutan kemuliaan. Lebih menyedihkan lagi, setelah mereka yang berhasil dalam perebutan ini menduduki tempat tinggi dan mengenyam kemuliaan, mereka lalu mabuk!

Banyak di antara pembesar, sampai Kaisar sendiri, yang dahulunya terkenal sebagai pejuang-pejuang patriotik, setelah mendapat kemuliaan dan kebesaran, lalu lupa akan kebenaran. Mereka dirangsang oleh nafsu-nafsu mereka sendiri. Ada yang tamak akan harta benda, kerjanya hanya mengumpulkan harta dengan jalan yang tidak halal, melakukan korupsi besar-besaran tanpa menghiraukan sedikit pun nasib rakyat jelata yang dahulunya mereka bela dengan perjuangan mati-matian. Ada yang menurutkan nafsu binatang saja, tanpa mengenal malu mengumpulkan wanita-wanita muda dan cantik untuk mereka jadikan alat pengumbar nafsu. Banyaklah macamnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang mabuk kemulian duniawi ini.

Akibat dari semua ini, pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri tetap saja tidak dapat mengangkat rakyat jelata dari kemlskinan dan kesengsaraan hidup. Tetap saja rakyat yang dijadikan sapi perahan, diperas keringat dan darahnya oleh pemimpin-pemimpin kecil, di lain pihak pemimpin-pemimpin kecil ini diperas oleh atasan mereka, dan si atasan ini diperas lagi oleh atasannya yang lebih tinggi kedudukannya. Sogok dan fitnah merajalela dan kebenaran yang berlaku bukanlah kebenaran sejati karena siapa yang beruang, dialah yang menang.

Semenjak penjajah Mongol terusir dan Ciu Goan Ciang menjadi kaisar, rakyat tetap saja masih menderita. Penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan oleh bangsa Mongol dari utara, pemberontak-pemberontak dari suku bangsa kecil di barat dan utara, gangguan bajak-bajak laut bangsa Jepang, menambah beban hidup rakyat yang sudah menderita.

Seperti tercatat dalam sejarah, di mana tidak atau belum ada kemakmuran dalam kehidupan rakyat jelata, di situ tentulah muncul rasa penasaran, dan kembali yang kuat merajalela dan pada umumnya lalu berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia menang. Orang-orang jahat bermunculan, mengganas sewenang-wenang karena pembesar-pembesar dan alat-alat pemerintah hanya rnengurus isi kantongnya sendiri. Karena banyaknya orang-orang jahat, maka di sana-sini timbullah kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan yang mempunyai wilayah sendiri-sendiri. Dan hal ini tentu saja mengakibatkan permusuhan dan persaingan di antara golongan ini.

Syukurlah bahwa masih banyak terdapat orang-orang gagah yang tidak sudi ikut memperebutkan kedudukan dan kemuliaan untuk diri sendiri. Banyak di antara para bekas pejuang yang masih terbuka mata batinnya, dapat melihat betapa tersesatnya mereka yang mabuk kemuliaan itu, dan mereka orang-orang gagah sejati ini tetap hidup di antara rakyat jelata, tidak segan-segan untuk mencari nafkah dengan pekerjaan kasar, bahkan ada yang hidup hanya mengandalkan belas kasihan orang! Makin lama makin banyaklah orang-orang yang hidupnya seperti pengemis. Sudah tentu saja sebagian besar di antara mereka ini adalah orang-orang malas dan karena makin lama jumlahnya makin banyak mulailah orang jahat mengincar mereka yang dianggap sebagai golongan tersendiri yang bukan tidak kuat. Dimasukinyalah kelompok ini dan didirikan perkumpulan-perkumpulan pengemis! Celakanya, kai-pang (perkumpulan pengemis) ini dibentuk atas prakarsa orang-orang yang memang jahat sehingga pendirian ini sama sekali bukan diadakan untuk usaha perbaikan nasib orang-orang gelandangan itu, sama sekali bukan. Memang, ada juga manfaatnya bagi keadaan hidup para pengemis ini, namun dengan cara yang tiada bedanya dengan penjahat. Dengan adanya perkumpulan-perkumpulan ini, para pengemis lalu diharuskan mentaati peraturan perkumpulan, hasil mengemis harus dikumpulkan dan tidak boleh dipakai sendiri, sebaliknya soal makan mereka dijamin oleh perkumpulan. Melihat para pengemis yang bergabung ini, tidak ada yang berani menolak permintaan mereka, karena hal ini bisa mengakibatkan si penolak itu celaka, dianiaya dan dirampok hartanya! Jadi tegasnya, cara para pengemis dari kai-pang-kai-pang itu bekerja hanya tampaknya saja mengulurkan tangan minta sedekah, akan tetapi pada hakekatnya sama dengan perampok yang datang mengacungkan golok!

Mula-mula memang penduduk setiap kota dan para pembesar dan petugas, berusaha membasmi kai-pang-kai-pang ini. Akan tetapi, karena para pengemis itu sudah bercampuran dengan para penjahat yang merasa lebih aman bersembunyi di antara kaum jembel itu, usaha ini sia-sia belaka. Apalagi setelah organisasi pengemis itu makin meluas sehingga di setiap tempat ada cabangnya, kemudian para pengurus pengemis terdiri dari ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi, petugas-petugas keamanan menjadi tak berdaya.

Seperti dikatakan tadi, syukur bahwa tidak semua manusia di dunia ini berpikiran cepat dan berwatak remeh. Orang-orang gagah yang melihat adanya gejala-gejala tak baik ini, yang berarti akan menambahi beban rakyat jelata karena pemerasan para perampok-perampok berpakaian pengemis ini, segera turun tangan. Ada yang secara langsung mempergunakan kekerasan menentang para kai-pang ini. Namun akhirnya mereka itu dikeroyok dan kalah, malah ada yang tewas. Ada yang menentang secara diam-diam, menanti saat baik, kemudian mereka ini malah memasuki kai-pang-kai-pang itu, menjadi anggauta dengan maksud untuk membelokkan kejahatan para pengemis ke arah kebaikan. Demikianlah, jangan kira bahwa semua anggauta kai-pang itu jahat karena di dalamnya banyak terdapat orang-orang gagah yang senantiasa menanti saat baik untuk menggulingkan kedudukan ketua masing-masing sehingga jika pimpinan terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak jahat ini, sudah tentu perkumpulan itu akan dibawa ke jalan benar.

Karena hai ini terjadi selama penjajah jatuh, jadi dua puluh tahunan, maka sekarang sudah banyaklah perkumpulan pengemis yang dipimpin oleh ketua-ketua yang baik sehingga perkumpulan ini benar-benar merupakan perkumpulan untuk memperbaiki nasib para anggauta. Di dalam kai-pang yang bersih ini diadakan latihan-latihan semacam sekolah, di mana para anggautanya diajar untuk memiliki sesuatu kepandaian tertentu, misalnya pertukangan dan lain-lain. Sesudah itu mereka itu diharuskan mencari pekerjaan sebagai sumber nafkah dan setelah mendapatkan pekerjaan sudah tentu mereka ini tidak lagi diperbolehkan mengemis dan tidak lagi menjadi anggauta biarpun masih ada hubungan persaudaraan. Nah, demikianlah keadaan di waktu itu, di satu pihak kai-pang-kai-pang yang dipimpin oleh orang-orang jahat masih mengganas, di lain pihak ada kai-pang-kai-pang yang bersih sehingga terkenallah sebutan Pek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Putih) dan Hek-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hitam). Sudah tentu Pek-kai-pang adalah golongan yang baik sedangkan Hek-kai-pang golongan yang jahat. Dan karena ada dua golongan yang berlainan sifatnya, tak dapat dicegah lagi adanya persaingan dan permusuhan di antara dua golongan ini sehingga sering kali terjadi pertempuran-pertempuran dan pertumpahan-perturnpahan darah.

Di antara Pek-kai-pang, yang paling terkenal dan kuat adalah perkumpulan pengemis Hwa I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang). Perkumpulan pengemis ini memiliki anak buah paling banyak dan karena ketuanya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan pengurusnya juga mendapat latihan ilmu silat tinggi, maka banyak kai-pang lain yang tunduk kepada Hwa-i Kai-pang. Pusat perkumpulan ini di kaki Gunung Ta-pie-san, sebelah barat kota raja Nan-king. Adapun ketuanya adalah seorang kakek gagah perkasa yang usianya sudah tua sekali namun memiliki kepandaian yang hebat. Kakek pengemis ini tidak pernah memperkenalkan namanya, dan hanya mengaku berjuluk Hwa-i Lo-kai (Pengemis Tua Berbaju Kembang). Setelah para pengemis berkali-kali ditolong oleh kakek ini yang berkepandaian tinggi, maka ia lalu diangkat menjadi ketua dan perkumpulan yang dipimpinnya lalu diberi nama Hwa-i Kai-pang. Semua anggauta Hwa-i Kai-pang selalu memakai baju berkembang, biarpun sudah lapuk atau penuh tambalan!

Pada suatu hari terjadilah berita yang menggemparkan “dunia pengemis” itu. Pengemis mana yang takkan kaget mendengar berita bahwa Ketua Hwa-i Kai-pang hendak mengundurkan diri dan di pusat perkumpulan itu hendak diadakan pemilihan pengurus baru? Hal itu menjadi bahan percakapan yang ramai, tidak saja di antara para pengemis, bahkan boleh dibilang juga di antara para orang gagah di dunia kang-ouw karena sebagai perkumpulan besar, Hwa-i Kai-pang mengundang para orang gagah untuk menjadi saksi dalam pemilihan ketua baru ini.

Menjelang datangnya hari pemilihan ketua, keadaan di sekitar kaki Gunung Ta-pie-san menjadi ramai. Banyak tokoh-tokoh perkumpulan pengemis dari daerah lain datang dengan pakaian mereka yang beraneka ragam dan macam. Kalau melihat banyak pengemis dari berbagai aliran berkumpul di tempat yang luas itu, benar-benar mereka itu seperti bukan pengemis-pengemis, melainkan anak buah dari pasukan-pasukan! Biarpun pakaian mereka itu tambal-tambalan, ada pula yang sudah lapuk, namun warnanya seragam. Ada yang serba hitam, ada yang serba merah, ada yang putih, hijau, biru dan banyak lagi macam warnanya. Para anggauta Hwa-i Kai-pang tentu saja berbaju kembang semua! Mereka yang sudah datang bertanya-tanya mengapa Hwa-i Lo-kai hendak mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Akan tetapi tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini, bahkan para anggauta Hwa-i Kai-pang sendirian tidak ada yang dapat memberi keterangan.

Hwa-i Kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang pada waktu itu sudah merupakan perkumpulan yang besar, mungkin terbesar di antara perkumpulan pengemis yang ada di daerah itu. Malah dapat dikatakan bahwa perkumpulan ini paling makmur, memiliki rumah pertemuan yang besar dengan perabot-perabot rumah yang lengkap, mempunyai ruangan tempat para, pengemis cilik belajar sesuatu pekerjaan dan lain-lain. Hal ini adalah karena sepak terjang perkumpulan ini yang betul-betul merupakan perkumpulan sosial hendak memberi bimbingan kepada kaum gelandangan itu agar dapat hidup lebih baik dan terangkat nasibnya, telah menarik hati banyak dermawan yang banyak memberi sumbangan-sumbangan kepada Hwa-i Kai-pang.

Tidak hanya dalam soal usaha memperbaiki nasib para pengemis, juga dalam organisasi sendiri, makin lama perkumpulan ini menjadi makin kuat. Makin banyak saja pemuda yang tinggi ilmu silatnya dan ini boleh dibilang semua telah menjadi murid Hwa-i Lo-kai. Tentu saja para pengurus ini tadinya memang sudah memiliki kepandaian dari macam-macam aliran, akan tetapi setelah mereka menggabungkan diri di Hwa-i Kai-pang, dan menyaksikan sendiri betapa tingginya ilmu silat ketuanya, mereka lalu minta diberi pelajaran ilmu silat. Ketua Hwa-i Kai-pang ini selalu suka menurunkan kepandaiannya dan ia mengajarkan beberapa ilmu pukulan yang ia sesuaikan dengan watak dan keadaan jasmani si murid. Makin lama makin banyaklah anggauta Hwa-i Kai-pang yang mendapatkan kemajuan hebat dalam kepandaian ilmu silat mereka. Malah kemudian hampir tidak ada seorang pun anggauta pengurus yang tidak berilmu tinggi.

Hwa-i Lo-kai sendiri maklum bahwa di antara perkumpulan pengemis yang amat banyak itu, tidak jarang merupakan perkumpulan pengemis palsu yang sesungguhnya lebih patut disebut perkumpulan penjahat. Juga ia tahu betapa perkumpulan-perkumpulan jahat ini mengandalkan kekerasan, tidak hanya melakukan pemerasan terhadap penduduk, juga kadang-kadang berani menindas perkumpulan lain yang lebih lemah. Karena itu, kakek ini melihat betapa pentingnya bagi perkumpulan yang dipegangnya untuk memperkuat diri dengan pengurus-pengurus yang pandai ilmu silat. Ini pulalah yang membuat ia lalu mulai mengadakan susunan dalam pengurusnya, membagi-bagi tugas sesuai dengan kemampuan dan kepandaian mereka. Untuk membedakan tingkat kepandaian ilmu silat, ia mengadakan percobaan lalu memberi tanda tingkat pada para muridnya itu. Tanda tingkat ini merupakan tali ikat pinggang berwarna putih dari serat biasa. Makin banyak tali ini mengikat pinggang seorang pengemis Hwa-i Kai-pang, makin tinggilah tingkat ilmu silatnya.

Di antara para pengurus dan pembantu ketua itu, rata-rata hanya memiliki empat helai ikat pinggang. Jumlahnya ada dua puluh orang lebih. Yang memiliki lebih dari empat helai amat jarang. Yang paling tinggi tingkatnya di antara mereka hanya tiga orang. Mereka ini telah mempunyai tujuh helai tali putih yang mengikat pinggang mereka. Tiga orang inilah yang dalam segala hal mewakili Hwa-i Lo-kai dan mereka boleh dibilang sudah memegang seluruh urusan perkumpulan itu sebagai wakil ketua. Mereka adalah Coa-lokai, Beng-lokai, dan Sun-lokai. Lokai artinya “pengemis tua” akan tetapi sebutan ini dalam perkumpulan itu berarti menghormat, karena yang berhak menyebut diri lokai hanyalah ketua mereka dan tiga orang tangan kanan inilah! Jadi panggilan lokai ini seakan-akan merupakan panggilan penghormatan seperti lajimnya sebutan “yang mulia” dan “paduka”! Memang dalam perkumpulan yang aneh ini banyak terdapat aturan dan hal-hal aneh pula.

Sudah dapat dibayangkan bahwa kalau Hwa-I Lo-kai mengundurkan diri, calon penggantinya tentulah seorang di antara tiga kakek ini. Hal ini tidak hanya menjadi pendapat para anggauta, malah juga pendapat orang-orang luar dan juga demikianlah kata hati tiga orang itu sendiri. Oleh karena itu, diam-diam seperti ada persaingan di antara mereka dan secara diam-diam pula tiga orang pembantu ini mendekati para anggauta dan sedapat mungkin menarik sebanyak-banyaknya sahabat agar mendukungnya dalam “pemilihan umum” itu nanti. Sudah bukan hal aneh lagi apabila mereka ini menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk kepada para anggauta yang suka memilihnya.

Pagi hari pada waktu pemilihan, di pekarangan yang amat luas di depan rumah pertemuan Hwa-i Kai-pang, para anggauta sudah berkumpul. Pengemis-pengemis berpakaian baju kembang yang tidak kurang dari seratus orang jumlahnya duduk di belakang ketua dan para pengurus mereka. Adapun para tamu merupakan kelompok-kelompok yang duduk di atas tanah juga, menghadap tuan rumah. Ada kelompok pengemis berpakaian hijau, merah, hitam, putih dan lain-lain yang dipimpin oleh ketua atau wakil masing-masing. Uniknya, pertemuan ini sama sekali tidak dilengkapi kursi, bangku ataupun meja dan semua yang hadir duduk begitu saja di atas tanah, ada yang bersila, ada yang berjongkok.

Hwa-i Lo-kai tampak duduk bersila sambil meramkan mata. Dia adalah seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, rambutnya yang panjang tidak terawat, pakaiannya berkembang sederhana, terdapat tiga tambalan di pundak dan dada. Pinggangnya diikat dengan tali putih terbuat dari sutera. Di pinggang kiri tergantung sebuah guci arak dari perak dan ia tidak kelihatan membawa senjata, Di sebelah kanannya duduklah tiga orang pembantunya yang terkenal, yaitu Coa-lokai yang bertubuh tinggi besar bermata lebar dan gerak-geriknya kasar. Beng-lokai orangnya gemuk pendek berkulit kuning bermata sipit, tersenyum-senyum gembira. Sun-lokai orangnya kecil agak bongkok, matanya tajam bergerak ke sana ke mari. Tiga orang pembantu ini semua memakai baju berkembang dengan ikat pinggang tali putih tujuh helai membelit pinggang. Berbeda dengan Sang Ketua, ketiga orang ini masing-masing memanggul sebatang pedang di punggungnya. Para pembantu lain yang lebih rendah tingkatnya, yaitu yang bertali pinggang enam ada dua orang, yang bertali pinggang lima ada tujuh orang dan sebelas orang bertali pinggang empat duduk di sebelah kiri ketua ini dengan sikap menghormat.

Keadaan di situ cukup ramai. Biarpun semua orang sudah duduk di atas tanah tak seorang pun kelihatan berdiri, namun mereka saling bicara perlahan, ada yang berbisik-bisik sehingga tempat itu menjadi berisik juga. Akhirnya Hwa-i Lo-kai membuka kedua matanya, memandang ke kanan kiri lalu ia mengangkat tangan kanannya ke atas. Siraplah suara berisik dan semua orang memandangnya dengan penuh perhatian.

“Saudara para tamu sekalian dan saudara-saudaraku anggauta Hwa-i Kai-pang yang tercinta. Tak kepada seorang pun pernah kuberi tahu, bahkan para pembantuku juga tidak, mengapa secara mendadak aku hendak meninggalkan Hwa-i Kai-pang dan menyerahkan pimpinan kepada seorang saudara. Sekarang, terus terang saja untuk menghilangkan dugaan yang bukan-bukan, aku jelaskan bahwa aku mempunyai seorang musuh pribadi….”

Kembali keadaan menjadi berisik, terutama di kalangan anggauta Hwa-i Kai-pang yang banyak mengeluarkan suara marah. Kalau ada musuh, mengapa harus meninggalkan kedudukan? Apakah takut? Hwa-i Kai-pang amat kuat, siapa berani mengganggu ketuanya?

Kembali Hwa-i Lo-kai mengangkat tangannya memberi isyarat supaya semua orang jangan berisik. “Urusan ini adalah urusan pribadiku, dan hari ini adalah hari janji kami berdua untuk membuat perhitungan terakhir. Aku tidak suka membawa-bawa perkumpulan ke dalam urusan pribadi, juga aku tidak mau menyeret musuh pribadiku menjadi musuh perkumpulan. Biarlah hal ini kuselesaikan sendiri sebagai urusan pribadi yang tak boleh orang lain mencampurinya. Nah, sekarang lega hatiku karena saudara semua sudah mendengar penjelasanku. Sekarang, marilah kita semua memilih seorang ketua baru yang tepat, yang kiranya akan dapat memimpin saudara-saudara sekalian lebih baik dari yang telah kulakukan.”

Kembali para anggauta Hwa-i Kai-pang menjadi berisik karena mereka saling berbisik dan banyak terdengar suara-suara tidak setuju. Malah tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari Coa-lokai, yang bicara dengan sepasang mata lebar membelalak.

“Saya tidak setuju dengan uraian Lo-kai! Selama saya membantu Lo-kai, tidak pernah satu kali pun saya ragu-ragu dan membangkang terhadap perintah, akan tetapi sekali ini terpaksa saya tidak setuju! Lo-kai tidak saja menjadi ketua, bahkan menjadi pendiri dari Hwa-i Kai-pang. Oleh karena itu segaia urusan Hwa-i Kai-pang adalah urusan Lo-kai, sebaliknya urusan Lo-kai berarti juga urusan semua anggauta Hwa-i Kai-pang! Kita semua sudah bersumpah, susah sama dipikul, senang sama dinikmati. Mana ada aturan sekarang Lo-kai hendak meniggalkan kita hanya karena ada urusan pribadi? Kalau ada musuh Lo-kai, katakan saja siapa dan di mana, saya Coa-lokai takkan mundur untuk mewakili Lo-kai, biarpun nyawaku yang tak berharga ini akan melayang karenanya!” Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar yang usianya belum ada lima puluh itu meloncat berdiri, tegak siap sedia dengan mata memandang ke sana ke mari seolah-olah hendak mencari musuh pribadi ketuanya.

Hwa-i Lo-kai menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Coa-lokai, terima kasih atas kesetiaanmu ini. Akan tetapi urusan ini benar-benar adalah urusan pribadiku dan kali ini terpaksa aku harus menebus sifatku yang pengecut, yang selalu kupertahankan belasan tahun lamanya. Ya… aku telah bersikap pengecut sehingga belasan tahun aku menyembunyikan nama dan paling akhir aku menggunakan nama Hwa-i Lo-kai. Dahulu…. hemmm, sekarang tiba saatnya aku meninggalkan sikap pengecut dan membuka rahasiaku sendiri, dahulu aku bernama Sin-chio (Tombak Sakti) The Kok.”

Semua pengemis dan yang hadir di situ, terutama kaum tuanya tercengang mendengar nama ini. Belasan tahun yang lalu nama Sin-chio The Kok amatlah terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Kabarnya ilmu tombaknya belum pernah terkalahkan sehingga ia dijuluki orang Sin-chio (Tombak Sakti). Setelah mendengar siapa adanya Hwa-i Lo-kai, semua orang menjadi berisik, ada yang merasa kecewa bahwa Hwa-i Kai-pang ternyata dipimpin oleh seorang bekas perampok. Akan tetapi ada suara yang membantah dengan pernyataan bahwa biarpun seorang perampok, nama The Kok tetap bersih sebagai perampok budiman yang tidak sembarang merampok orang. Yang menjadi sasaran dan korbannya adalah pembesar-pembesar jahat dan hartawan-hartawan kikir, malah kabarnya hasil perampokannya selalu ia bagi-bagikan kepada rakyat yang miskin.

Hwa-I lo-kai atau Sin-chio The Kok mengangkat tangannya dan suara berisik segera sirap. “Nih, sekarang saudara sekalian tahu siapa saya dan saya sendiri merasa tidak pantas menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Bukan karena saya bekas perampok, akan tetapi terutama sekali karena saya seorang pengecut yang karena takut menghadapi musuh lalu bersembunyi di balik nama palsu. Sekarang musuh besarku sudah mengetahui dan hendak menuntut balas, karena inilah aku akan meninggalkan Hwa-i Kai-pang untuk membereskan perhitungan dengan dia dan sebelum aku pergi, aku ingin melihat bahwa perkumpulan kita mendapatkan seorang ketua baru yang tepat.”

Beng-lokai yang gemuk pendek segera berdiri dan dengan senyum yang tak pernah meninggalkan bibirnya ia berkata,

“Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Pangcu (Ketua). Harap Pangcu segera tetapkan saja calon-calon pengganti Pangcu agar pemilihan dapat dilakukan segera.”

“Siapa lagi yang kucalonkan kecuali kalian bertiga pembantu-pembantuku? Kalian bertigalah calon-calon ketua dan pemilihannya siapa di antara kalian bertiga terserah kepara para anggauta,” jawab Ketua itu.

“Saya tidak setuju…!” Coa-lokai kembali berkata dengan suaranya yang nyaring. “Setetah kita ketahui bahwa ketua kita adalah Sin-chio The Kok, seharusnya kita bangga mempunyai seorang ketua yang gagah perkasa dan terkenal sebagai seorang yang budiman. Biarpun sekarang lokai menghadapi urusan itu dan saya percaya Lo-kai akan dapat mengatasinya dengan baik. Setelah itu, bukankah Lo-kai dapat kembali memimpin perkumpulan kita?”

“Heh, Coa-lokai banyak cerewet!” Terdengar suaranya yang parau dan seperti kaleng dipukul dan pembicara ini adalah Sun-lokai yang sudah berdiri dan memandang tajam. “Apakah kau hendak membangkang terhadap perintah Pangcu? Lupakah kau apa hukumannya apabila seorang anggauta membangkang terhadap perintah?”

Pengemis tinggi besar itu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Sun-lokai dengan mata berapi. “Ho-ho, Sun-lokai, tak usah kau mengingatkan Aku sendiri tahu bahwa tugasku meneliti dan menghukum para anggauta yang menyeleweng, tentu aku maklum akan aturan-aturan di perkumpulan kita. Kalau ketua kita memerintah kepadaku untuk melaksanakan sebuah tugas, biarpun harus mempertaruhkah nyawa, aku tidak akan mundur. Akan tetapi sekarang ini lain lagi. Pangcu kita hendak pergi meninggalkan kita dan menunjuk seorang di antara kita untuk menjadi ketua. Aku tidak setuju sama sekali memilih ketua baru selama Lo-kai masih hidup! Sun-lokai, agaknya kau sudah terlalu mengilar untuk memperoleh kursi ketua?” Sepasang mata dari pengemis bongkok ini bersinar dan bercahaya. “Hemm, Pangcu mencalonkan kita bertiga, bukan hanya aku. Kau sendiri pun, kalau kau mampu membuktikan bahwa kau lebih gagah dan pandai dari aku dan Beng-lokai, kau boleh menjadi ketua.”

“Aku tidak sudi selama Lo-kai masih ada, aku tidak sudi menjadi ketua dan tidak sudi membiarkan seorang di antara kamu menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Apalagi seorang seperti kau!” Coa-lokai menudingkan telunjuknya ke arah muka Sun-lokai sehingga pengemis bongkok ini menjadi merah sekali.

“Berani kau menghinaku di depan banyak orang?”

“Aku tidak menghina, melainkan bicara sejujurnya. Kau tahu aku suka berterus terang dan aku pun terus terang saja menyatakan bahwa aku tidak suka melihat dan mendengar kau berhubungan erat dengan golongan merah dan hijau.”

“Kau keparat, kau menuduh yang bukan-bukan. Apakah kau mengajak berkelahi?” Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Berkelahi atau apa saja masa aku takut?” Coa-lokai juga marah. Dua orang ini sudah saling berhadapan dan saling mendekat, siap hendak menggunakan kekerasan.

“Coa-lokai, Sun-lokai, sudahlah. Tak perlu ribut-ribut!” Hwa-i Lo-kai berseru untuk melerai mereka.

“Biarlah, Lo-kai, biar kuberi hajaran kepada si Bongkok ini!” Coa-lokai berkata keras.

“Pengemis busuk, kaulah yang akan mampus di tanganku!” Sun-lokai yang tidak pandai bicara itu mendengus. Adapun para anggauta Hwa-i Kai-pang yang berada di situ memang sudah terpecah-pecah dalam pemilihan ketua, ada yang pro Coa-lokai, ada yang pro Sun-lokai. Melihat dua orang jagoan mereka itu sudah saling berhadapan, mereka menjadi tegang dan terdengar seruan-seruan kedua pihak untuk memberi semangat kepada jagoan mereka. Keadaan menjadi berisik sekali sehingga suara Hwa-i Lo-kai hendak mencegah pertarungan itu tidak terdengar nyata. Dua orang pengemis tua itu sekarang sudah saling serang. Mula-mula Sun-lokai yang membuka serangan. Dia seorang ahli Cu-see-ciang, yaitu kedua tangannya telah digembleng dan diperkeras dengan latihan mencacah pasir panas. Ia bersilat dengan kedua tangan terbuka, dengan jari-jari lurus dan ibu jari ditekuk ke dalam sehingga kedua tangannya itu seakan-akan sepasang golok yang diserangkan dengan bacokan atau tusukan maut, Di lain pihak, Coa-lokai adalah seorang ahli gwa-kang, tenaganya seperti gajah, gerakannya tenang. Kalau sambaran tangan Sun-lokai seperti sambaran golok yang tajam, adalah sambaran kepalan tangan Coa-lokai yang besar itu seperti sambaran toya baja yang keras dan berat.

Keduanya adalah ahli-ahli silat yang kemudian mendapat latihan dari Hwa-i Lo-kai, maka biarpun mereka memiliki keistimewaan masing-masing, boleh dibilang tingkat mereka seimbang. Para pengemis yang menonton pertempuran ini, menjadi, tegang dan gembira, dari sana sini terdengar seruan-seruan memihak.

Hwa-i Lo-kai menjadi bingung, Tentu saja mudah baginya untuk datang memisah, akan tetapi apa gunanya? Sekali mereka menanam bibit kebencian satu kepada yang lain, hal itu takkan mudah dipadamkan. Biarlah mereka menentukan siapa yang lebih kuat, malah ini merupakan saringan pula untuk memilih seorang ketua baru. Ia hanya berdiri dengan kedua lengan di belakang, namun siap setiap saat apabila seofang diantara kedua pembantunya itu terancam bahaya maut, tentu ia akan turun tangan mencegah.

Pada saat dua orang itu sedang saling gempur dengan ramainya, tiba-tiba dari jauh dengar orang berteriak-teriak, nyaring menusuk telinga semua orang. “Heii… dua orang pengemis tua saling tempur memperebutkan apa sih?”

Karena suara ini hebat dan nyaring semua orang menengok, bahkan Coa-lokai dan Sun-lokai juga otomatis berhenti untuk melihat siapa orangnya yang berteriak demikian nyaringnya itu. Dari jauh tampak dua orang berjalan menuju ke tempat itu Yang di depan adalah seorang pemuda tampan yang pakaiannya sama lapuknya dengan pakaiannya para pengemis sungguhpun potongan pakaian itu seperti pakaian seorang pemuda terpelajar. Pemuda inilah yang berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya tidak keruan seperti orang gendeng. Adapun orang yang berjalan di sampingnya, agak terbelakang, adalah seorang kakek tua sekali, terbongkok-bongkok jalannya, pakaiannya juga compang-camping, dengan tangan memegang tongkat yang diperlukannya untuk membantu ia berjalan.

Siapakah dua orang ini? Pemuda itu bukan lain orang adalah Kwa Kun Hong! Seperti kita ketahui, pemuda ini telah turun dari puncak Bukit Kepala Naga, kenapa dia bisa berada di sini dan datang bersama seorang kakek pengemis tua renta itu? Baiklah kita mengikuti perjalanannya sebentar semenjak pemuda ini meninggalkan Bukit Kepala Naga dan sampai ke tempat ini, yaitu di kaki Pegunungan Ta-pie-san, pusat dari perkumpulan Hwa-i Kai-pang.

Telah dituturkan di bagian depan betapa Kun Hong meninggalkan Bukit Kepala Naga dengan maksud mencari dusun untuk bertanya kepada orang ini di mana arah perjalanan menuju ke Hoa-san. Memang tak lama kemudian ia bertemu dengan penduduk dusun, akan tetapi penduduk dusun yang jarang meninggalkan kampung halaman itu, mana ada yang tahu tentang Hoa-san? Keterangan yang didapat oleh Kun Hong sama sekali tidak mendekatkannya dengan tempat tinggalnya, malah membuat ia tersesat makin jauh dari Hoa-san. Akhirnya ia mendengar bahwa ia sudah tiba di daerah kota raja selatan (Nan-king). Ia tertegun ketika mendengar dari orang yang mengetahui bahwa ia salah jalan dan malah menjauhi Hoa-san. Akan tetapi sebaliknya ia gembira ketika mendengar bahwa ia telah berada di kota raja. Setelah ia berada di tempat yang dekat dengan kota raja, apa salahnya untuk sekalian melihat-lihat keadaan kota raja? Sudah lama ia mendengar tentang kota raja yang hanya dapat ia lihat dalam alam mimpi saja. Sekarang, tanpa disengaja ia mendekati kota raja, sudah tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan sebaik ini.

Ketika Kun Hong melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja, ia melalui Pegunungan Tapie-san. Setelah turun naik lereng bukit, ia merasa lelah dan mengaso di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di lereng gunung. Pemandangan indah, hawa amat nyaman. Kun Hong lalu menuruni jurang kecil di mana terdapat air terjun yang kecil akan tetapi amat jernih airnya. Dengan sedap dan segar ia minum air itu, lalu mencuci muka, tangan, dan kakinya. Setelah merasa tubuhnya segar kembali, perutnya menggeliat minta isi. Kun Hong kembali ke bawah pohon dan mengeluarkan bekalnya roti kering yang ia terima dari seorang hwesio sebuah kelenteng tua yang amat baik hati, di mana ia semalam menginap.

Terpaksa ia menunda tangannya yang sudah mengantar roti kering ke mulutnya, ia kaget dan terheran-heran mengapa di tempat sesunyi itu terdengar suara orang. Orang itu bicara dengan keras suaranya terbawa angin, sayup-sayup sampai tidak dapat ia tangkap artinya. Akan tetapi kenapa tidak pernah, ada suara lain yang menjawabnya? Biasanya orang bercakap-cakap tentu sedikitnya membutuhkan dua orang. Suara itu makin jelas dan kini tertangkap oleh telinga Kun Hong, suara orang mencari sesuatu!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: