Rajawali Emas (Jilid ke-17)

“Ah, di manakah dia? Haaa, boleh jadi inilah! Ya betul, inilah agaknya yang kucari-cari puluhan tahun sampai sampai saat ini. Tak salah lagi…, tapi betulkah ini dia? Jangan-jangan aku salah duga kecele lagi….”

Tergerak hati Kun Hong. Suara agak menggetar, dan dapat diduga pembicaranya tentu seorang yang sudah tua. Ia menyimpan kembali roti keringnya, berdiri dan berjalan menuju arah suara tadi. Setelah ia melalui sebuah gundukan batu karang, tampaklah olehnya seorang kakek berpakaian compang-camping, berdiri dengan tongkat tertekan tangan seakan-akan tongkat itulah yang membantu ia berdiri, tangan kiri ditaruh melintang di kening untuk melindungi kedua mata tuanya dari sinar matahari, dan menoleh kian ke mari memandangi tamasya alam di bawah gunung. Ataukah sedang mencari sesuatu?

Segera timbul welas dalam hati Kun Hong melihat kakek yang amat tua ini. Tubuhnya kurus, tinggal kulit dan tulang, pakaiannya sudah tak patut disebut pakaian lagi, hanya robekan-robekan kain menutupi tubuh di sana-sini, sepatunya sudah bolong sehingga tampak beberapa buah jari kaki tersembul keluar dari pinggir sepatu. Aduh kasihan, pikir Kun Hong. Sudah begini tua mengapa pergi susah payah ke gunung yang tidak mudah dilalui jalannya? Begitu kurus, tentu sudah berhari-hari tidak makan.

“Kakek yang baik, kau sudah begini tua dan lemah mengapa sampai di tempat seperti ini? Kau sedang mencari apakah, Kek?” tanyanya sambil maju mendekat.

“Ya, aku memang mencari sesuatu,” jawab kakek itu tanpa menoleh kepada si penanya.

“Mencari apakah yang hilang? Di mana hilangnya? Biarlah kubantu kau mencarinya,” kata Kun Hong dengan ramah dan dengan suara mengandung hiburan yang membesarkan hati.

“Heh… tidak ada yang hilang… tapi sudah puluhan tahun aku mencarinya….” tiba-tiba ia menoleh dan terkejutlah Kun Hong ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang luar biasa tajamnya seakan-akan menembus sampai ke dalam dadanya. Tak kuat Kun Hong menatap sepasang mata yang hebat itu, terpaksa ia menundukkan pandang matanya.

“Kaubilang kau hendak bantu aku mencarinya? Huh, betulkah itu? Aku yang sudah puluhan tahun mencari belum juga bertemu. Tapi… hemmm, mungkin sekali ini aku akan dapat bertemu dengannya!” Kata-kata ini penuh semangat dan kakek itu berdongak memandang ke atas.

Otomatis Kun Hong juga mendongakkan kepalanya, akan tetapi di atas sana tidak ada apa-apa, kecuali mega-mega putih berarak di angkasa. Celaka, pikirnya, kasihan benar kakek ini, agaknya dia sudah miring otaknya! Kun Hong menggeleng-geleng kepalanya, lalu memegang tangan kakek itu, menuntunnya perlahan menuju ke bawah pohon.

“Kakek yang baik, marilah kita beristirahat di tempat yang teduh sana, aku mempunyai beberapa potong roti kering, marilah kita makah bersama,” bujuknya.

Kakek itu sejenak memandang kepadanya dengan heran tapi menurut saja ketika dituntun ke bawah pohon. Malah ia segera ikut Kun Hong duduk di bawah pohon itu dan menerima pemberian roti kering dari Kun Hong yang dimakannya lambat-lambat.

“Orang muda, jarang ada orang semacam kau ini di jaman yang sulit ini… hemm, senang juga bertemu dengan orang macam kau di tempat sunyi.”

Kun Hong memadang penuh perhatian dan sekarang ia merasa yakin bahwa tak mungkin kakek ini miring otaknya. Mungkin hanya karena berwatak aneh saja maka kelihatan serti orang tidak waras pikirannya.

“Aku pun merasa gembira dapat berjumpa dengan kau di sini kakek yang baik. Sebetulnya, siapakah yang kaucari itu? Benda ataukah manusia? Aku akan merasa girang kalau kau segera dapat bertemu dengannya, Kek.”

Kakek itu tiba-tiba tampak gembira dan wajahnya berseri-seri. “Ya, betul sekali, pasti aku akan dapat bertemu dengannya setelah aku membunuh manusia she The itu!” Ia nampak bersemangat dan gembira, tidak melihat betapa muka Kun Horng sekilas menjadi pucat dan kembali menjadi merah. “Waaahhh…. jangan, Kek. Tidak boleh kau membunuh orang biar dia itu she The atau she apa pun!”

Kini kakek itu menatap tajam wajah Kun Hong, agaknya marah. Roti kering yang baru dimakan separuh itu lalu dilemparkannya ke atas tanah.

“Siapa bilang tidak boleh? Dia itu musuh besarku, dia telah membunuh muridku yang tercinta. Belasan tahun aku mengejar-ngejarnya, mencari-carinya akhirnya aku tahu bahwa dia telah berganti nama… ha-ha-ha… berganti nama menjadi Hwa-i Lo-kai ketua perkumpulan Hwa-i Kai-pang. Ha-ha-ha, manusia she The, ke mana pun kau bersembunyi, pasti akan terpegang kau olehku.”

“Kau salah, Kek. Betapapun juga, tidak boleh membunuh orang. Berdosa sekali perbuatan itu, dan manusia takkan terlepas dari hukum karma, kecuali kalau dengan budi kebaikan dia melepaskan diri dari hukum, karma yang lalu, barulah dia itu seorang manusia yang bebas dan mulia.”

“Uahhh, kau anak kecil tahu apa? Aku hendak membunuh orang she The itu sekali-kali bukan hanya karena dia telah membunuh muridku. Aku membunuhnya karena aku hendak mencari kebahagiaan, kau tahu? Tak pernah aku dapat menemukan kebahagiaan, seluruh dunia kujelajahi, perbuatan apa pun kulakukan, samadhi, bertapa, menyiksa diri, tapi kebahagiaan belum pernah dapat kumiliki. Orang bilang harta benda mendatangkan kebahagiaan? Phuah! Omong kosongnya seorang kepala angin. Kaulihat ini? Emas murni. Bahhh, jemu aku melihatnya karena mengingatkan aku akan manusia kepala angin yang menyatakan bahwa kebahagiaan dapat dicapai kalau memiliki harta benda sebanyaknya!” Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan sebongkah emas murni yang berkilauan, lalu ia melempar emas murni itu jauh ke dalam jurang yang tak mungkin dapat didatangi manusia!

Kun Hong mendengarkan dengan tenang dan sabar, lalu mengangguk-angguk, tidak heran melihat oraog membuang sebongkah emas yang berharga itu.

“Kau betul, Kek. Memang kebahagiaan tidak dapat dimiliki melalui emas itu.”

“Bagus, kau sependapat, kalau kau menyayangkan emas tadi, kau pun akan kulempar ke dalam jurang itu!” Kakek aneh itu berkata lagi. “Ada pula orang tolol bilang bahwa kalau memiliki kesaktian sehingga tak terkalahkan orang lain, barulah memiliki kebahagiaan. Uhhh, si goblok. Apa artinya kepandaian tinggi? hemm, apakah ini yang dianggap dapat membahagiakan manusia?” Kakek itu menoleh ke kiri, tangan kirinya meremas dan batu hitam itu bagaikan tanah lempung saja dalam tangannya, sekali remas hancur lebur! “Apakah ini yang dapat mendatangkan bahagia? Celaka, si manusia sombong. Kalau penyakit datang, usia lanjut menggerayang, kematian menjangkait, bisa apakah dia dengan, ilmu saktinya? Ha-ha-ha, pikiran katak dalam tempurung!”

Diam-diam Kun Hong terkejut dan sama sekali tidak mengira bahwa kakek yang ia anggap hampir mati kelaparan ini, ternyata adalah seorang yang memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.

Sekali remas saja batu hitam hancur lebur, wah, hampir ia tidak percaya kalau tidak melihat sendiri. Akan tetapi ia lebih tertarik oleh filsafat yang terkandung dalam ucapan Si Kakek itu, maka ia lalu mengangguk-angguk kembali dan membenarkan.

“Kembali kau benar, Kek. Kebahagiaan memang tidak terletak dalam ilmu kepandaian atau kesaktian.”

“Juga tidak dalam kedudukan dan pangkat kemuliaan dan harta?”

“Betul tidak dalam kedudukan dan pangkat”

“He-he-he, kau pintar juga, orang muda. Kaisar-kaisar di jaman dahulu kurang begaimana hebatnya? Kedudukannya setinggi langit, dianggap putera Tuhan, pangkatnya nomor satu di dunia, mulia dan dihormat semua orang, kekayaannya berlimpah, tapi mana ada kaisar yang tak pernah maran-marah, jengkel, bermusuh-musuhan dan selalu terancam keselamatannya? Mana ada kaisar yang telah memiliki kebahagiaan di samping segala yang dimilikinya itu?”

“Mungkin kau betul, kakek yang baik. Mungkin mereka yang berlimpahan dengan harta dan kemuliaan dunia, malah tidak memiliki kebahagiaan, akan tetapi agaknya kau sendiri pun sedang mencari kebahagiaan. Kenapa kau tadi katakan bahwa kau akan bahagia kalau kau sudah dapat membunuh seorang she The? Bagaimana ini? Harap kaujelaskan, Kek,” agar hatiku tidak mengandung penasaran.

“Heh-heh-heh, kau baik, biarlah kujelaskan. Puluhan tahun aku mencari tapi tidak dapat menemukan kebahagiaan. Selain itu, aku pun mencari musuh besarku, yaitu The Kok yang telah membunuh muridku. Sekarang aku sudah mendapatkan tempat persembunyian The Kok. Nah, timbullah dalam hatiku bahwa agaknya yang menjadi penghalang kebahagiaanku adalah karena aku belum berhasil membalaskan sakit hatiku. Kalau aku sudah berhasil membunuh si manusia she The itu, sudah pasti aku akan dapat menemukan kebahagiaan. Ha-ha-ha, orang muda yang baik, yang pintar, bukankah betul pendapatku ini?”

Kun Hong mengerutkan keningnya, menarik napas panjang lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Sayang sekali, Kek. Terpaksa aku tidak dapat membenarkan pendapatmu itu. Menurut perkiraanku, apabila kau sudah berhasil membunuh orang she The yang kaumaksudkan itu, kau malah makin jauh dari kebahagiaan yang kaucari. Hal ini aku merasa yakin sekali, seyakin kenyataan bahwa kau berhadapan dengan aku di saat ini,” Di wak tubicara, Kun Hong mengerutkan kening, matanya menatap tajam dan suaranya begitu sungguh-sungguh. Mula-mula kakek itu melengak heran, selalu merah mukanya dan ia menjadi marah sekali.

“Hati-hati kalau bicara orang muda. Jangan-jangan kau malah akan kubunuh lebih dulu, sebelum membunuh The Kok.”

“Apa boleh buat kau bermaksud begitu, Kek, Akan tetapi kalau demikian makin tebal keyakinanku bahwa kau selama hidupmu takkan dapat menemui kebahagiaan.”

“Keparat kau kurang ajar sekali akan tetapi… hemmm, kau juga aneh dan bukan main beraninya. He, orang muda yang bernyali naga bermulut wanita, apa alasanmu bahwa orang membunuh orang, akan menjauhkannya dari kebahagiaan?”

“Aku yakin akan hal ini, Kek. Apalagi setelah aku membaca tulisan yang ditinggalkan oleh suhuku, betapa dia merana dan menderita hebat sekali karena terlampau banyak membunuh orang, biarpun yang dibunuhnya itu menurut anggapannya adalah orang-orang jahat belaka. Kau hendak membunuh The Kok, katakanlah bahwa menurut anggapanmu, dia membunuh muridmu dan dia itu jahat. Akan tetapi apakah demikian pula dengan anggapan sahabat-sahabatnya, sanak keluarganya, gurunya, muridnya, orang tua dan anak-anaknya? Ketika muridmu dibunuhnya, kau menjadi sakit hati. Kalau kau sekarang membunuhnya, apakah kaukira mereka-mereka yang dekat dengan dia tidak akan sakit hati? Kau tentu akan dicari-cari oleh mereka, musuh-musuhmu makin banyak dan hidupmu tidak tenteram lagi! Kalau sudah begitu, mana bisa kaubilang bahwa kau sudah menemui kebahagiaan?”

Kakek itu tertegun, memandang aneh, matanya agak dipejamkan, tampak memutar otak. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya memandang tajam dan bertanya, “Orang muda, kau murid siapakah? Siapa itu gurumu yang meninggalkan pesan penyesalannya karena banyak membunuh orang?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan suhuku, hanya membaca kitabnya dan peninggalan tulisan-tulisannya, dia menuliskan namanya sebagai Bu Beng Cu, aku hanya sempat bertemu dengan burung rajawali emas, agaknya binatang peliharaannya.”

“Dia….? Bu Beng Cu….? Kau muridnya??” Kakek itu terkejut sekali dan kedua tangannya memegang pundak Kun Hong. Pemuda ini merasa betapa pundaknya seakan-akan ditindih gunung, merasa seakan-akan tulang-tulangnya remuk dan patah-patah. Ia mengempos semangat dan hawa murni mengalir dari pusarnya menuju ke pundak sehingga penderitaannya berkurang banyak.

“Heh, kaubilang muridnya? Bohong kau! Sedikit kepandaianmu ini mana membolehkan kau mengaku sebagai muridnya? Dia itu suhengku (kakak seperguruan), kau tahu? Kalau betul kau telah mewarisi tulisan-tulisan harap kaujejaskan bagaimana bunyi peninggalannya itu!”

Kun Hong mendongkol sekali, akan tetapi ia menyabarkan hatinya. Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti yang berwatak aneh dan kiranya soal membunuh orang bukanlah soal baru bagi kakek ini. Akan tetapi ia tidak takut dan malah ia mengambil keputusan untuk sedapat mungkin menyadarkan kakek itu agar tidak sampai membunuh orang!

“Percaya atau tidak terserah. Aku masih hafal akan tulisan peninggalan Locianpwe itu, begini: Telah bertumpuk dosaku. Ratusan orang telah kubunuh dengan anggapan bahwa perbuatan itu baik karena yang kubunuh adalah orang-orang yang kuanggap jahat. Anggapan yang sesat! Aku yang tidak bisa memberi kehidupan bagaimana aku berhak mengakhirr kehidupan? Aku berdosa! Mengandalkan kepandaian untuk membunuh sesama manusia, betapapun jahatnya si manusia itu, bukanlah berbuatan baik, melainkan perbuatan jahat pula. Nah, begitulah tuiisan peninggalan Locianpwe Bu Beng Cu, Kek.”

Kakek itu terlongong kembali, tiba-tiba ia berkata, “Keluarkan pedangmu itu, hendak kulhat apakah benar pedang suhengku!”

Kun Hong kaget sekali. Bagaimana kakek ini bisa tahu akan pedangnya yang ia sembunyikan di balik jubahnya itu? Ia tidak membantah, lalu mengeluarkan pedangnya yang selama dalam perjalanan ia sembunyikan itu. Kakek itu menerima pedang, menghunusnya dan tiba-tiba ia menangis terisak-isak!

“Ah… Ang-hong-kiam… Ang-hong-kiam…. ah, Twa-suheng… jadi kau benar-benar telah mati lebih dulu dan… meninggalkan pesan melalui mulut bocah ini….”

“Agaknya betul dugaanmu itu, Locianpwe,” kata Kun Hong yang sekarang menyebut locianpwe karena tahu bahwa kakek ini sebetulnya adalah seorang berilmu yang wataknya aneh sekali. “Kiranya Locianpwe Bu Beng Cu sengaja meninggalkan pesan itu untukmu. Kaulihat sendiri, setelah membunuh ratusan orang, Locianpwe Bu Beng Cu merasa berdosa dan menyesal, maka kalau kau tadi menyatakan bahwa dengan membunuh si orang The Kok kau akan menemukan kebahagiaan, alangkah jauhnya menyeleweng dari kebenaran!”

Sepasang mata kakek itu tidak mengucurkan air mata lagi, kini memandang ? kepada Kun Hong penuh kebingungan, tangannya gemetar mengembalikan pedang. Kun Hong menerima pedangnya dan menyimpannya kembali.

“Kau betul… orang muda yang aneh, kau benar sekali. Ah… selamanya suhengku itu memang bijaksana…. agaknya kau mewarisi kebijaksanaannya … memang aku bodoh, Suheng sudah kakek-kakek ketika aku masih menjelang dewasa. Orang muda yang baik, kau sebagai wakil Suheng, lekas kaukatakan kepadaku ke mana aku harus mencari kebahagiaan!”

Kun Hong kaget sekali. Dia seorang pemuda yang masih hijau, pengetahuannya tentang filsafat kehidupan hanya diperolehnya dari membaca kitab-kitab kuno yang ia selaraskan dengan suara hati nuraninya sendiri. Bagaimana dia bisa menerangkan kakek yang hendak mencari kebahagiaan ini? Akan tetapi dia bertekad untuk mencegah kakek ini melakukan pembunuhan, maka ia akan mencobanya.

“Locianpwe, aku mau bicara tentang kebahagiaan kalau kau suka berjanji bahwa kau takkan membunuh orang bernama The Kok itu.”

“Baik… baik… setelah mendengar pesan Suheng, aku sendiri ngeri untuk membunuh orang. Aku berjanji mulai sekarang aku takkan mau membunuh orang lagi. Tapi kau harus segera memberitahukan kepadaku ke mana aku harus mencari kebahagiaan.”

Lega hati Kun Hong. Betapapun juga, kakek ini adalah seorang cianpwe, tak mungkin mau menarik kembali janjinya atau melanggarnya. Dengan demikian berarti dia telah dapat membatalkan niat orang untuk membunuh. Tentang pendapatnya mengenai kebahagiaan, adalah menurut jalan pikirannya, sesuai pula dengan hati nuraninya yang disesuaikan dengan ilmu kebatinan yang ia baca dari kitab-kitab filsafat kuno.

“Menurut pendapatku, Locianpwe. Kebahagiaan hidup itu tidak dapat dikejar, karena bagaimanapun orang mengejar-ngejarnya, takkan mungkin dia dapat menemukannya. Bahagia tak dapat dicari-cari….”

“Apa kaukata? Kebahagiaan tak dapat dikejar, tak dapat dicari, kalau begitu kebahagiaan itu tidak ada? Jangan kau main-main!”

Berkerut kening Kun Hong, tanda bahwa dia sedang mempergunakan penjelasan tentang persoalan yang mengandung filsafat hidup dan sulit itu.

“Locianpwe, bukan maksudku mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak ada. Kebahagiaan memang ada. Akan tetapi jangan keliru menafsirkan apa sebetulnya kebahagiaan itu. Banyak sekali orang tertipu oleh kesenangan dan menganggap bahwa kesenangan itulah kebahagiaan. Yang dapat dikejar dan dapat dicari adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. Adapun kesenangan itu bukan lain adalah pemuasan nafsu jasmani dan nafsu perasaan. Kesenangan duniawi adalah pemuasan kehendak yang terdorong oleh nafsu semata. Contohnya keinginan Locianpwe tadi hendak membunuh The Kok, bukan lain adalah karena dorongan kehendak memuaskan nafsu dendam dan andaikata hal itu terjadi, kiranya akan dapat merasai kesenangan karena nafsu dendam itu dipuaskan. Akan tetapi orang lupa bahwa kesenangan mempunyai saudara kembar yang bernama kesusahan. Di mana kesenangan berada, di situ akan muncul pula saudara kembarnya, yaitu kesusahan. Apabila orang, mencari kesenangan, memang dia akan mendapatkannya, namun sifat kesenangan hanyalah sementara saja. Rasa senang akan segera lenyap dan kalau sudah begitu, muncullah kesusahan dan ia akan kecewa karena segera ternyata bahwa kesenangan yang dicari-carinya itu setelah dapat ternyata tidaklah begitu menyenangkan, apalagi membahagiakan. Siapa mencari dia akan kecewa, karena yang dicarinya itu hanyalah kehendak dari nafsunya, bukanlah kebutuhan jiwanya,” Sampai berkeringat, kening pemuda itu karena pengerahan otaknya yang diperas untuk menerangkan hal yang amat gawat ini. Akan tetapi hasilnya hebat, Muka kakek itu mula-mula membayangkan keharuan, kemudian matanya membelalak dan wajahnya berseri-seri.

“Aduh, kau hebat…, kau orang muda luar biasa… teruskanlah, teruskanlah uraianmu yang menarik ini.. Kau bicara tentang kesenangan dunia, sekarang bagaimana dengan kebahagiaan yang ajaib itu? Aku sendiri telah tertipu dan mengacau-balaukan kesenangan dengan kebahagiaan. Orang muda yang hebat, apakah kebahagiaan itu dan mengapa tidak boleh dikejar dan dicari?”

“Locianpwe, maafkan kalau aku yang muda bodoh ini lancang berani bicara tentang hal yang pelik ini.”

“Tidak apa, tidak apa, teruskanlah….”

“Lebih dulu aku akan mengulangi sajak yang pernah kubaca, hasil karya seorang pujangga kuno yang tidak diketahui namanya, begini sajak itu:

Kebahagiaan seperti bayangan serasa tergenggam di jari tanpa bekas kau lari tak dikejar mendekati dikejar kau menjauhi memang kau bayanganku tak pernah berpisah dariku bagaimana orang dapat mengejar bayangan sendiri?

“Demikianlah, Locianpwe. Kebahagiaan adalah keadaan, memang ada, yaitu sudah ada dalam diri setiap mahluk, setiap yang mengejarnya dia tersesat jauh karena memang tidak dapat dan tidak semestinya dikejar. Kebahagiaan adalah keadaan jiwa seseorang yang sudah sadar akan keadaan hidupnya, yang sadar bahwa ada yang menghidupkannya. Kebahagiaan adalah keadaan jiwa seseorang yang tenang tenteram damai dan tahu bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu ia dapat menerima dengan hati Ikhlas, tak dapat kecewa, tak dapat berduka, adanya hanya puas dan dapat menikmati kekuasaan Tuhan yang dilimpahkan atas dirinya, baik kekuasaan yang mendatangkan rasa tidak enak ataupun yang sebaliknya bagi badan dan pikiran. Hanya manusia yang sadar akan kekuasaan Tuhan, dapat menerima segala yang terjadi atas dirinya dengan penuh penyerahan, dengan tunduk, taat dan menganggap segala peristiwa, baik yang dianggap menyenangkan atau menyusahkan oleh badan dan pikiran serta perasaannya, sebagai berkah Tuhan, manusia seperti itulah yang berhasil menemukan kebahagiaan yang memang sudah berada dalam dirinya. Karena menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia akan tetap tenang, tenteram dan menerima dengan hati tulus ikhlas, dan kepercayaannya akan kekuasaan Tuhan takkan tergoyah. Nah, hanya sekian saja pendapatku, Locianpwe, sekali lagi maaf kalau kau anggap tidak cocok dengan pendapat Locianpwe.”

Kakek itu merangkul Kun Hong. “Ah, anak yang baik… kau telah membuka mataku yang buta! Kau benar sekali… anak yang baik, coba kauterangkan, kalau ada orang membunuh muridku, mengapa aku tidak boleh membunuhnya juga sebagai hukumannya?”

“Menurut pendapatku, pendirian itu keliru, Locianpwe. Locianpwe sendiri mengakui bahwa membunuh murid Locianpwe adalah perbuatan jahat, dan sudah menjadi anggapan umum bahwa membunuh sesama manusia adalah perbuatan jahat. Kalau kita sudah tahu bahwa membunuh itu jahat, mengapa justeru untuk menghadapi kejahatan membunuh kita pun harus berlaku jahat dan membunuh pula? Kalau sudah terjadi bunuh-membunuh, bagaimana kita dapat membedakan mana yang jahat mana yang baik, mana yang benar mana yang salah? Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, dan untuk itu manusia sudah mengadakan hukum bagi yang jahat. Kalau ada yang melakukan pembunuhan, tangkaplah dan hadapkan kepada yang berwajib yang mengurus tentang hukuman bagi si jahat dengan mengadakan pengadilan ciptaan manusia. Akan tetapi menghukumnya sendiri dengan jalan membunuh? Ah, Locianpwe, hendak kutanyakan kepada Locianpwe, apa perbedaannya dalam soal kejahatan antara pembunuhan yang dilakukan The Kok terhadap murid Locianpwe dengan pembunuhan yang akan dilakukan oleh Locianpwe terhadap The Kok?”

Kakek itu merenung sejenak. “Bedanya, karena kalau aku membunuhnya, aku mempunyai alasan untuk membalaskan sakit hati muridku.”

“Ah, Locianpwe, setiap orang manusia di dunia ini sudah pasti mempunyai alasan untuk perbuatannya. Ada akibat pasti bersebab. Apakah kiranya orang yang bernama The Kok itu ketika membunuh murid Locianpwe juga tidak mempunyai alasan? Kiraku pasti ada alasannya. Betapapun juga, dia bersalah besar ketika membunuh muridmu dan bagiku, dia telah melakukan perbuatan jahat. Kalau Locianpwe membunuhnya pula, apa pun alasan yang Locianpwe ajukan, perbuatan membunuh itu tak dapat tidak juga termasuk perbuatan jahat. Dan kebahagiaan tidak mungkin dicapai dengan melalui perbuatan jahat. Di samping penyerahan akan kekuasaan Tuhan, juga setiap tindakan dalam hidup haruslah menjauhi kejahatan dan memupuk kebaikan sebanyak mungkin. Inilah yang dinamakan menyesuaikan diri dengan sifat alam. Adakah alam pernah menuntun sesuatu demi kesenangannya sendiri? Tidak pernah, alam dan segala isinya selalu memberi kebaikan kepada siapa saja tanpa pernah minta dan menuntut. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, tiada yang dikecualikan, berkah-Nya melimpah-limpah seperti aliran Sungai Kuning yang tak pernah kering, akan tetapi, pernahkah Tuhan menuntut dan minta sesuatu dari kita? Alam merupakan cermin kecil dari sifat Maha Pengasih dan Penyayang itu. Lihatlah pohon berbuah itu, Locianpwe. Tanpa diminta ia memberikan segala-galanya, batangnya, daunnya, bunganya, buahnya kepada siapa saja yang membutuhkan.

Ia memberikan dengan segala keikhlasan tanpa diminta, segala kenikmatan kepada yang dapat menikmatinya. Akan tetapi, pernahkah pohon itu minta sesuatu, menuntut sesuatu dari siapapun juga? Ah, alangkah akan indahnya dunia ini kalau manusia dapat memetik pelajaran dari sikap pohon buah itu, di mana manusia hanya mengenal pemupukan kebaikan dari sifat alam tanpa menuntut kesenangan bagi diri sendiri.”

“Ah… kau betul, Anakku… kau betul sekali… ha-ha-ha-ha, Lui Bok, kau dijuluki orang Sin-eng-cu (Garuda Sakti), tapi kau goblok dan patut berguru kepada bocah ini!” Ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri dan kelihatan girang sekali. “Eh orang muda, kau masih murid keponakanku sendiri, tapi aku patut menjadi murid mu. Siapakah namamu?”

“Aku bernama Kwa Kun Hong, Locianpwe. Aku banyak mengharapkan banyak petunjuk dari Locianpwe.”

“Heran sekali… kau menjadi pewaris kitab peninggalan suhengku, tapi kenapa kau tidak memiliki kepandaian silat sebaliknya malah menjadi ahli filsafat? Kun Hong, coba kau bersilat dari pelajaran dalam kitab yang kauhafal itu, hendak kulihat.”

Merah muka Kun Hong. “Ah, sesungguhnya Locianpwe, aku hanya menghafal saja akan tetapi aku tidak dapat bersilat.”

“Hee….?? Habis untuk apa kau menghafal kitab itu?”

“Menurut pendapatku, ilmu silat yang diwariskan dalam kitab Suhu itu, hanya untuk menjaga diri agar jangan sampai dicelakakan orang. Akan tetapi kalau hendak dipergunakan untuk memukul orang… ah, aku tidak sudi melakukannya, Locianpwe.” .

Kembali kakek itu melengak, lalu mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berseru, “Aku akan menyerangmu dan kalau kau, terkena pukulanku, mungkin kau akan mati!” Cepat sekali, tidak sesuai dengan tubuhnya yang kelihatan lemah itu, kakek ini lalu maju memukul dengan pukulan kilat.

Kun Hong kaget sekali dan otomatis kedua kakinya melangkah dengan langkah ajaib yang ia pelajari dari kitab, kedua lengannya bergerak-gerak sebagai imbangan tubuhnya dan… pukulan itu tidak mengenai tubuhnya. Kakek itu mengeluarkan seruan aneh dan menyerang terus, makin lama makin cepat dan keras. Kun Hong terpaksa terus melangkah ke sana ke mari, langkah-langkahnya ganjil dan kacau, namun sampai sepuluh jurus kakek ,itu hanya memukul angin belaka.

Tiba-tiba ia berhenti dan bertepuk tangan.

“Bagus… bagus….! Inilah agaknya Kim-tiauw-kun yang dahulu hendak diciptakan oleh Suheng berdasarkan Im-yang bu-tek-cin-keng! Hebat… hebat!” Ia merangkul lagi Kun Hong diajak duduk bawah pohon.

“Mana roti keringmu tadi? Keluarkan aku lapar sekali!”

Girang hati Kun Hong. Memang masih ada ia menyimpan roti kering dalam buntalannya, lalu ia mengeluarkan roti-roti kering itu dan memberikan kepada kakek aneh yang menyebut namanya Sin-eng-cu Lui Bok ini..

“Silakan makan, Locianpwe, tapi hanya roti kering yang keras dan tengik.”

“Heh-heh-heh, jangan kau merendah, Kun Hong. Rotimu begini empuk, harum, masih hangat dan di dalamnya diberi cacahan daging yang begini gurih, kau katakan roti kering tengik? Ha-ha-ha benar-benar kau merendah. Bukan main sedapnya roti ini!”

Tiba-tiba Kun Hong terbelalak matanya. Mimpikah dia? Roti kering yang tadinya keras dan memang agak tengik yang dipegangnya, sekarang kenapa sudah berubah sama sekali? Roti itu menjadi roti yang besar dan empuk, benar-benar masih hangat dan berbau harum malah ketika ia melihat bagian yang sudah ia gigit, tampak cacahan daging matang yang benar-benar gurih!

“Eh…, ini… ini… bagaimanakah ini? Mengapa bisa begini, Locianpwe….?” tanyanya gagap saking herannya.

“Ha-ha-ha! Biarpun kesenangan bukan termasuk kebahagiaan sejati, namun kesenangan pun anugerah Tuhan dan kita berhak menikmatinya, bukan? Nah, marilah kita menikmati roti yang enak ini!”

“Memang benar, Locianpwe. Tapi… tapi… bagaimana ini….? Kenapa roti keringku bisa berubah?”

“Tak usah tanya-tanya, nanti kuberi penjelasan. Makan dulu.” Keduanya lalu makan dan Kun Hong harus mengakui bahwa selama ini belum pernah ia makan roti seenak itu.

“Wah, habis makan roti tidak ada minuman. Kalau saja ada arak baik di sini, alangkah sedapnya.”

Melihat kakek itu agaknya kesereten (Bhs. Jawa=makanan mengganjal di kerongkongan), Kun Hong menjadi kasihan dan segera ia berlari mencari air mancur dan menyendok air menggunakan daun yang lebar. Dibawanya air itu ke bawah pohon.

“Heh-heh-heh, kau betul-betul hebat. Orang ingin minum arak kau datang membawa arak wangi dalam cawan perak. Ha-ha-ha!”

“Ah, Locianpwe, hanya air biasa dalam daun, mana ada arak?” Kun Hong tertawa dan memandang daun di tangannya yang penuh air. Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget dan heran karena yang berada di tangannya benar-benar adalah arak dalam cawan perak yang indah.

“Eh, bagaimana pula ini….? Locianpwe, apakah aku sudah gila? Ataukah aku sedang mimpi….??” teriaknya terkejut.

“Ha-ha-ha, minumlah, nikmatilah kesenangan untuk lidah dan mulut kita. Nanti kuceritakan,” kata kakek itu sambil menenggak arak dalam cawannya. Terpaksa Kun Hong juga minum araknya dan ternyata, betul seperti dikatakan kakek itu, arak di dalam cawannya amat harum dan enak.

“Kaulihat baik-baik, yang di dalam tanganmu itu hanya daun biasa,” Kun Hong melihat dan… betul saja, cawan yang kosong tadi sudah berubah pula menjadi daun yang tadi, tanpa ia ketahui.

“Ini… kau main sulap, Locianpwe,” katanya tertawa.

“Kau sudah menggirangkan hatiku, Kun Hong. Maka aku harus membikin senang sedikit hatimu. Ketahuilah, yang kuperlihatkan tadi adalah ilmu yang disebut menguasai pikiran orang lain (semacam hypnotisme). Memang amat berbahaya memiliki ilmu ini dan sebagian orang yang tidak mengerti akan menganggapnya sebagai hoat-sut (ilmu sihir) yang jahat, semacam ilmu hitam. Akan tetapi anggapan itu keliru. Ilmu kepandaian tidak ada yang jahat. Hitam atau putihnya, jahat ataupun baiknya, tergantung dari si pemilik ilmu itu sendiri. Hoat-sut (menguasai pikiran orang) ini kalau dimiliki oleh orang yang berjiwa bersih, tentu akan banyak mendatangkan kebaikan seperti yang baru saja kuperlihatkan. Bukankah makan roti kering dan minum air tawar tidak begitu sedap? Dan bukankah menambah kenikmatan setelah ingatanmu kukuasai sehingga kau menganggapnya sebagai roti enak dan arak wangi? Nah, untuk segala petunjukmu tadi tentang kebahagiaan, aku harus membalas. Kau adalah ahli membaca kitab, nah, ilmu ini terdapat dalam kitab ini. Kaubaca dan pelajarilah, tentu kelak berguna untukmu. Ilmu yang kuperlihatkan tadi baru sepersepuluhnya saja dari isi kitab ini.” Ia mengeluarkan sebuah kitab yang sudah lapuk dan Kun Hong menerimanya dengan pernyataan terima kasih. Tentu saja ia girang sekali mendapat hadiah kitab istimewa itu.

“Sekarang, marilah kau ikut denganku, Kun Hong. Ikutlah dengan aku pergi ke kaki gunung ini untuk menjumpai The Kok yang sekarang menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang.”

Kun Hong terkejut dan memandang. “Locianpwe, kau tidak….”

Kakek itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Jangan kuatir. Sudah lenyap semua nafsuku untuk membunuh orang. Aku harus menemuinya. Ha-ha-Ha! kau benar. Dia telah membunuh muridku, biarlah kesadarannya sendiri yang akan menghukumnya.” Kakek itu lalu berdiri dan mengajak Kun Hong turun gunung.

Demikianlah kisah pertemuan Kun Hong dengan Sin-eng-cu Lui Bok dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Hong dan Sin-eng-cu Lui Bok. telah tiba di tempat para pengemis Hwa-i Kai-pang. Dari jauh Kun Hong melihat ribut-ribut di antara pengemis yang memenuhi pekarangan depan rumah perkumpulan itu dan ia mendapat keterangan dari pengemis yang dijumpainya bahwa dua orang pembantu ketua sedang ribut hendak bertempur dalam perebutan kedudukan ketua. Kun Hong merasa kuatir sekali dan ia dari jauh segera berteriak-teriak,

“Heeiii…, berhenti… dua orang pengemis tua saling pukul memperebutkan apa sih?”
Semua pengemis dan para tamu yang hadir di tempat pertemuan itu terkejut dan segera menengok. Bahkan dua orang pembantu ketua yang sedang bertempur itu pun menghentikan perkelahian mereka dan menengok karena suara teriakan itu benar-benar nyaring dan mengejutkan semua orang.

Sementara itu, Kun Hong sudah mendahului Sin-eng-cu Lui Bok, memasuki gelanggang pertempuran menghadapi Coa-lokai dan Sun-lokai yang memandangnya dengan heran.

“Ji-wi Lo-enghiong, kenapa saling hantam sendiri ? Aku mendengar bahwa Ji-wi memperebutkan kedudukan Ketua Hwa-i Kai-pang. Kalau tidak salah Hwa-i Kai-pang adalah perkumpulan pengemis, kenapa yang hendak menjadi ketuanya menggunakan kekerasan? Apakah hendak menjadi ketua perkumpulan tukang pukul? Benar-benar salah sekali.”

Coa-lokai memandang dengan mata terbelalak marah. “Kau ini bocah kurang ajar datang dari mana dan apa urusanmu dengan kami?”

Beng-lokai pengemis tua gemuk pendek yang semenjak tadi hanya diam saja melihat dua orang temannya saling serang, sekarang berdiri dan dengan marah membentak “Bocah tak tahu adat! Kau ini datang-datang mengacau, kau disuruh kai-pang dari manakah?”

Diserang bentakan-bentakan ini, Kun Hong tenang saja akan tetapi sebelum ia menjawab, kakek pengemis tua yang berdiri di situ, Hwa-i Lo-kai, berseru keras,

“Bagus sekali, Sin-eng-cu Lui Bok! Kau akhirnya datang juga mencariku. Akan tetapi, kuharap kau tidak membawa Hwa-i Kai-pang ke dalam urusan pribadi kita berdua. Kau tunggulah aku menyelesaikan dulu pemilihan ketua baru, setelah itu aku siap untuk mati di tanganmu!”

Semua mata sekarang menengok dan memandang ke arah kakek yang memasuki tempat itu yang bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok.

“Heh-heh-heh, Sin-chio The Kok. Tak nyana orang gagah seperti engkau ternyata wataknya pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab dan kasihan sekali kau melarikan diri dan bersembunyi sampai belasan tahun.” Kakek ini terkekeh-kekeh menertawakan.

Muka Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai menjadi merah sekali. Ia merasa malu dikatakan pengecut di depan begitu banyak orang dan namanya tentu akan menjadi buah tertawaan di dunia kang-ouw. Maka cepat ia menjawab dengan suara keras,

“He, Sin-eng-cu Liu Bok, dengarlah baik-baik. Memang perbuatanku melarikan diri dan bersembunyi darimu itu adalah perbuatan pengecut, akan tetapi adalah sebab-sebabnya. Secara kebetulan aku bermusuhan dengan muridmu ketika aku merampok seorang pembesar korup dan muridmu itu membela pembesar tadi, Terjadi pertempuran antara kami dan dalam pertempuran itu ia tewas di ujung tombakku. Celakanya, setelah ia tewas, barulah aku mendengar bahwa dia adalah murid Sin-eng-cu Lui Bok. Hatiku menyesal bukan main. Telah puluhan tahun aku kagum dan menjunjung tinggi nama pendekar besar Sin-eng-cu Lui Bok. Sekarang aku telah membunuh muridnya. Aku menyesal dan ada dua hal yang menyebabkan aku melarikan dan menyembunyikan diri. Pertama, karena aku maklum bahwa aku takkan menang, ke dua dan ini sebetulnya yang terberat bagiku, aku tidak mungkin dapat bertanding sebagai musuh dengan pendekar yang sejak lama kukagumi dan kujunjung tinggi sebagai seorang pendekar budiman. Itulah Sin-eng-cu, yang menyebabkan aku menebalkan muka melarikan diri dan bersembunyi. Akan tetapi hukum karma tak dapat dihindarkan manusia, agaknya Thian yang menuntunmu sampai ke sini sehingga kau dapat menantang padaku dan agaknya memang Tuhan hendak menghabisi nyawaku sekarang juga. Hanya permintaanku, biarkanlah aku menyelesaikan lebih dulu pemilihan ketua Hwa-i Kai-pang setelah itu terserah kepadamu, aku tidak takut mati karena aku memang sudah cukup tua, Sin-eng-cu.”

Lega hati Sin-chio The Kok setelah mengeluarkan isi hatinya yang juga didengar oleh semua orang itu, akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok hanya tertawa-tawa saja dan diam-diam hati kakek ini pun girang bahwa dia sebelumnya bertemu dengan Kun Hong. Kalau sampai dia membunuh orang yang segagah ini memang sayang sekali. Apalagi ia pun maklum bahwa muridnya telah membela orang yang terkenal sebagai seorang pembesar korup dan sewenang-wenang, sungguhpun pembesar itu adalah paman muridnya.

Akan tetapi Coa-lokai yang amat setia kepada Hwa-i Lo-kai, ketika mendengar bahwa kakek tua renta yang kelihatan kurus kering itu adalah musuh besar ketuanya, segera membentak marah, “Kau tua bangka berani menghina pangcu kami! Rasakan tanganku!” Coa-lokai menerjang dan langsung menyerang.

“Coa-lokai, jangan….!” Sin-chio The Kok atau Hwa-i Lo-kai mencegah, namun terlambat sudah. Coa-lokal sudah menyerang dengan hebat, malah mempergunakan pedangnya. Semua orang melihat betapa pedang di tangan Coa-lokai itu menyambar ganas dan agaknya kakek yang diserangnya itu sama sekali tidak bergerak, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu terdengar pedang berkerontangan di atas lantai dan tubuh Coa-lokai terlempar ke belakang. Padahal kakek itu hanya mengangkat sedikit tongkatnya yang butut! Ketika dilihat ternyata Coa-lokai yang merintih-rintih itu patah tulang lengannya!

Sin-chio The Kok terkejut sekali. Bukan main hebatnya kepandaian dari Sin-eng-cu Lui Bok ini. Ia cepat menjura dan berkata,

“Pembantuku telah tak tahu diri menyerangmu, akulah yang mintakan maaf dan harap Sin-eng-cu suka bersabar menanti sampai aku selesai mengadakan pemilihan ketua.”

Sin-eng-cu Lui Bok tertawa dan hanya berkata, “Silakan…, silakan….”

Kun Hong melangkah maju dan menjura kepada Ketua Hwa-i Kai-pang itu.
“Tidak tahunya Locianpwe ini yang bernama Sin-chio The Kok dan sekarang menjadi Ketua Hwa-i Kai-pang. Pangcu, aku kebetulan datang bersama Susiok Sin-eng-cu mendengar bahwa di sini hendak diadakan pemilihan ketua baru. Kenapa kau membiarkan saja orang-orangmu berebutan kedudukan ketua? Kalau kau sendiri yang menjadi ketuanya, perlu apa diganti lagi? Kulihat kau seorang yang berjiwa gagah, kenapa hendak mundur? Kalau perkumpulan yang bertujuan memperbaiki nasib orang-orang jembel yang sengsara ini terjatuh ke dalam tangan ketua tukang berkelahi, bukankah akan celaka?”

“Ha, betul sekali omonganmu, Siauw-kongcu!” Tiba-tiba Coa-lokai yang sudah berdiri lagi dengan tangan dibalut berkata keras. “Memang Pangcu tidak perlu diganti lagi!”

“Pangcu, kalau terpaksa dilakukan penggantian ketua, kurasa satu-satunya orang yang patut menggantimu adalah orang tua tinggi besar ini,” Kun Hong menudingkan telunjuknya ke arah Coa-lokai. “Dia jujur dan setia sekali kepadamu.”

Memang biarpun masih muda, pandangan mata Kun Hong amat mendalam dan sekali melihat saja ia tahu bahwa Coa-lokai adalah seorang yang setia dan jujur, sama sekali tidak memiliki pamrih untuk memperebutkan kedudukan, terbukti dari pembelaannya kepada ketuanya dan menyerang Sin-eng-cu tadi, kemudian kata-katanya sekarang.

Diam-diam Hwa-i Lo-kai kagum memandang Kun Hong. Bocah ini benar-benar luar biasa dan ucapannya seperti orang yang sudah matang pengalamannya saja. Kalau bocah ini menyebut susiok (paman guru) kepada Sin-eng-cu, tentulah dia memiliki kepandaian hebat pula.

Pada saat itu, Sun-lokai dan Beng-lokai sudah siap mendekati Kun Hong. Sun-lokai berseru marah, “Untuk apa mendengarkan omongan bocah gila itu? Usir saja dia dari sini, mengacaukan pemilihan ketua!”

“Betul, Pangcu. Bocah ini mencampuri urusan kita. He, bocah tak tahu aturan, lebih baik kau tutup mulutmu dan pergi dari sini. Kalau tidak, mulutmu akan kuhancurkan dengan kepalanku!”

“Ji-wi Lo-kai jangan kurang ajar terhadap tamu!” Hwa-i Lo-kai cepat mencegah karena ia merasa tidak enak sekali terhadap Sin-eng-cu.

Kun Hong tersenyum dan Sin-eng-cu hanya tersenyum-senyum saja. “Pang-cu, apakah dua orang ini juga pembantu-pembantumu? Alangkah jauh bedanya dengan Coa-lokai.”

“Eh, orang muda, kau tadi datang-datang melawan kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Ada hak apakah kau mencampuri urusan Hwa-i Kai-pang?” bentak, Sun-lokai.

Kini Kun Hong bicara dengan muka sungguh-sunggu,”Lo-kai, aku mendengar bahwa perkumpulan ini adalah perkumpulan Hwa-i Kai-pang dan perkumpulan pengemis tentu bertujuan untuk menolong para pengemis dan memperbaiki nasib mereka. Akan tetapi mengapa untuk menentukan seorang ketua harus memilih yang pandai ilmu silat dan kalian tadi saling gempur sendiri? Apakah Hwa-i Kai-pang mau dijadikan perkumpulan tukang pukul?”

“Kau mengaku keponakan Sin-eng-cu, tapi omongan apa yang kau keluarkan ini?” Sun-lokai membentak, makin marah, “Kalau ketua kita seorang yang lemah, mana bisa memimpin Hwa-i Kai-pang?”

“Ah, salah sama sekali!” Kun Hong berseru penasaran, “Apakah hanya seorang tukang pukul saja yang dapat memimpin? Memimpin dengan cara kekerasan dan kekuatan sama sekali tidak baik.”

Kini Beng-lokai juga mendekati Kun Hong. “Kau anak kecil bicara besar! Kalau seorang pemimpin tidak memiliki ilmu silat tinggi dan menggunakan kekerasan, mana bisa para anggauta dipimpin dan mana mereka bisa menaati ketuanya?”

Kun Hong mengalihkan pandangnya kepada pengemis tua gemuk pendek ini.

“Inilah sebabnya kukatakan salah. Memimpin dengan kekerasan mengandalkan kepandaian silat memang bisa membikin anggautanya taat, akan tetapi taat karena terpaksa! Bukan taat yang timbul dari hati sejujurnya, melainkan taat untuk menjilat. Seharusnya kalian mempunyai seorang ketua yang bijaksana, yang betul-betul dapat mengatur sehingga di antara para pengemis tidak saling gempur, dapat menuntun mereka ke arah kejujuran, kesetiaan dan jalan benar sehingga mereka dapat menemukan kembali lapangan pekerjaan yang terhormat.”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membuat semua orang menengok karena yang tertawa terkekeh-kekeh ini adalah Sin-eng-cu Lui Bok yang kini semua orang di situ tahu sebagai musuh besar Ketua Hwa-i Kai-pang. “Heh-heh-heh, Sin-chio The Kok, kalau benar-benar sayang kepada perkumpulanmu, kalau kau ingin melihat perkumpulanmu menjadi maju dan sempurna, kau angkatlah Kwa Kun Hong ini menjadi ketua menggantikanmu!”

Merah muka Ketua Hwa-i Kai-pang itu dan ia memandang tajam. “Sin-eng-cu, apakah selain datang hendak mengambil nyawaku kau pun bermaksud merampas kedudukan kai-pang untuk murid keponakanmu?” Pertanyaan ini keras dan pedas dan para anggauta Hwa-i Kai-pang juga menjadi berisik.

“Ho-ho-ho, setelah berkumpul dengan orang-orang jahat kau makin tersesat, Sin-chio The Kok. Memang tadinya ketika aku mengabarkan kedatanganku kepadamu, sudah bulat dalam hatiku untuk membunuhmu, membalaskan muridku yang kaubunuh dahulu. Akan tetapi ketahuilah, setelah aku bertemu dengan murid keponakanku yang hebat ini, sekaligus dia bisa mengusir niatku itu dari otakku! Aku tidak ingin membunuhmu lagi, The Kok. Ha-ha-ha, benar dia ini, kau sudah cukup tersiksa akibat perbuatanmu sendiri. Biarpun dia ini murid keponakanku, dalam hal kebijaksanaan aku boleh berguru kepadanya. Karena itu, kalau dia yang menjadi ketua, aku tanggung Hwa-i Kai-pang akan menjadi perkumpulan yang besar dan maju, dan anak buahmu ini sebentar saja akan berubah menjadi manusia-manusia benar. Tidak seperti kalau kau atau pengemis-pengemis bangkotan ini yang menjadi ketua, para pengemis diajar silat, kelak dari pengemis berubah menjadi perampok. Heh-heh-heh!”

Kaget bukan main hati The Kok mendengar ini. Ada perasaan lega, girang, terharu dan juga malu. Ia menoleh dan memandang kepada Kun Hong yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali. Jadi bocah yang sikapnya aneh ini malah telah menolong nyawanya dari ancaman Sin-eng-cu! Ia tadinya sudah maklum bahwa ia pasti akan tewas di tangan Sin-eng-cu karena dalam hal ilmu silat, ia jauh di bawah tingkat kakek itu. Sekarang Sin-eng-cu malah mengusulkan supaya pemuda yang bernama Kwa Kun Hong ini menjadi ketua Hwa-i Kai-pang.

“Sin-eng-cu, kau mengaku dia sebagai murid keponakanmu, sebetulnya pemuda ini murid siapakah?” tanyanya, agak meragu.

Kakek kurus itu tertawa lagi, “Ha-ha-ha, jangan bicara tentang ilmu silat dengan Kun Hong, karena mungkin dia tidak akan mampu dan tidak suka membunuh seekor kucing pun, akan tetapi dia ini murid suhengku, gurunya adalah mendiang Bu Beng Cu.”

Tidak ada yang mengenal Bu Beng Cu, juga Sin-chio The Kok tak pernah mendengarnya. Akan tetapi kalau pemuda ini murid suheng dari Sin-eng-cu, sudah dapat dipastikan kepandaiannya tinggi juga. Persoalan Ketua Hwa-i Kai-pang bukanlah hal yang remeh, untuk memilih ketua harus dipilih orang yang betul-betul tepat. Bagaimana ia bisa menerima seorang pemuda yang sama sekali belum ia ketahui keadaannya ini untuk memimpin anggauta. Hwa-i Kai-pang yang ratusan orang jumlahnya?

Selagi ia ragu-ragu, Beng-lokai dan Sun-lokai sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Beng-lokai berkata kepada Kun Hong,

“Bocah ini mau menjadi ketua kami? Ha-ha-ha, boleh saja asalkan dia mampu mengalahkan aku!”

“Juga harus bisa merobohkan aku, baru berhak menjadi ketua!” kata Sun-lokai sambil menggeser kaki mendekati.

Melihat ini, tiba-tiba Sin-chio The Kok mendapatkan pikiran amat bagus. Dua orang pembantunya ini memang tepat untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia berkata kepada Sin-eng-cu, “Kalau pemuda ini berani menghadapi Beng-lokai dan Sun-lokai serta mengalahkan mereka, aku menerimanya menjadi ketua Hwa-i Kai-pang menggantikan aku. Memang betul bahwa untuk membimbing para anggauta tak perlu dipergunakan ilmu silat, akan tetapi tanpa memiliki kepandaian tinggi, mana mampu menjaga keamanan perkumpulan dan mana bisa menghalau segala orang-orang jahat?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: