Rajawali Emas (Jilid ke-20)

“Hui Cu, tahan! Mundurlah dan simpan pedangmu, Li Eng, kaulah yang maju menghadapi kelima orang nyonya besar ini, akan tetapi ingat, jangan sekali-kali membunuh orang!”

Hui Cu kecewa akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak pamannya, dengan mata berkilat ia menarik kembali pedangnya, menyimpannya dan melangkah mundur. Li Eng sambil tersenyum-senyurn menggantikannya maju dan gadis lincah jenaka ini maklumlah sudah tahu apa maksud pamannya menyuruh dia menggantikan Hui Cu. Memang sesungguhnya melihat Hui Cu yang sudah marah sekali itu, Kun Hong menjadi kuatir kalau-kalau Hui Cu salah tangan membunuh orang. Apalagi dalam sebuah pertempuran yang ramai, sukarlah untuk mengalahkan lawan tanpa membunuh. Berbeda dengan Li Eng yang ia tahu memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari Hui Cu. Apalagi Li Eng memiliki senjata istimewa, yaitu sabuk sutera yang lemas maka lebih mudahlah bagi Li Eng untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

Anehnya, melihat pertempuran yang akan pecah ini, baik Pangeran Kian Bun Ti maupun tujuh orang jagoannya sama sekali tidak mencampurinya. Malah mereka berdiri menonton dengan wajah berseri, seakan-akan yang terjadi di depan mereka adalah sebuah adegan sandiwara yang menyenangkan dan menarik. Hal ini saja menimbulkan kerut di kening Kun Hong dan pemuda ini mengambil keputusan bahwa kalau Li Eng sudah berhasil mengalahkan lima orang wanita galak itu, ia cepat-cepat minta pamit dan mengajak dua orang keponakannya meninggalkan tempat ini, malah harus cepat-cepat meninggalkan kota raja dengan segalanya yang serba aneh.

Li Eng yang dapat menangkap maksud hati pamannya, dengan gerakan tenang sekali meloloskan sabuk suteranya yang hitam panjang, menggulungnya di tangan kanan. Dengan senyum dikulum dan mata berseri ia memandang kepada lima orang puteri di depannya itu, menatap seorang demi seorang, lalu berkata dengan suaranya yang nyaring dan mengandung ejekan,

“Eh, lima orang nenek siluman betina, sungguh kau tak tahu diri. Kalau tidak paman kami yang menaruh kasihan, bukankah sekarang kalian berlima sudah menjadi bangkai di bawah pedang enci-ku?” Li Eng memang berani bersikap demikian karena ia sudah tahu pasti bahwa lima orang ini bukanlah lawan Hui Cu, apalagi lawan dia. Dari gerakan orang pertama ketika menyerang Kun Hong tadi saja tahulah dia bahwa lima orang wanita ini hanya lagaknya saja hebat, pada hakekatnya tidak memiliki kepandaian berarti.
Dimaki sebagai nenek dan siluman betina, karuan saja lima orang selir Pangeran itu menjadi marah bukan main. Tanpa banyak cakap lagi mereka berlima menerjang maju sambil menggerakkan pedang menyerang Li Eng.

Li Eng tidak mau berlaku sungkan lagi. Kedua tangannya bergerak, sinar hitam berkelebat dan terdengarlah bunyi, “tar-tar-tar-tar!” berulang kali. Lima orang pengeroyoknya itu belum pernah selama hidupnya mengalami pertempuran seperti ini. Mereka merasa seakan-akan ada petir menyambar-nyambar di atas kepala dan berturut-turut lima batang pedang melayang jauh terlepas dari pegangan lima orang wanita itu. Li Eng menggerakkan sabuk suteranya yang menyambar-nyambar dari atas ke bawah mengeluarkan bunyi melecuti muka dan tubuh kelima orang pengeroyoknya. “tar-tar-tar-tar-tar!” Lima orang wanita itu menjerit-jerit, perih dan sakit kulit yang terkena cambukan, lalu sambil menutupi muka dengan tangan, mereka lari meninggalkan tempat itu kembali ke dalam. Amat lucu melihat mereka lari dikejar sabuk sutera yang masih sempat mencambuki tubuh belakang mereka, membuat mereka memindahkan tangan dari muka ke tubuh belakang yang sakit semua dihajar cambuk!

“Cukup, Li Eng!” Kun Hong berteriak dan Li Eng menyimpan kembali sabuknya, lalu berdiri di dekat pemuda ini.

“Harap Paduka memaafkan keponakanku.” Kun Hong menjura. “Dan perkenankan kami bertiga mohon diri, hendak melanjutkan perjalanan.”

Pangeran Kian Bun Ti menggerak-gerakkan tangan, lalu tertawa, “Ah, Saudara Kun Hong apakah marah karena peristiwa tadi? Mereka berlima hanyalah selir-selirku yang bodoh, yang merasa diri sendiri pintar. Kalau mereka tadi bersikap kurang ajar, biarlah sekarang juga kusuruh masukkan ke dalam penjara.”

Mendengar ini terkejutlah Kun Hong. “Ah, tidak… tidak… mereka tidak apa-apa, Pangeran. Tak usah dihukum….”

“Baiklah, dan untuk menebus kelancangan mereka, biarlah mulai sekarang mereka berlima menjadi pelayan dua orang keponakanmu ini.”

Pucat muka Kun Hong sedangkan Hui Cu dan Li Eng saling pandang, masih belum mengerti apakah sebetulnya maksud hati dan kehendak Pangeran yang tampan dan selalu tersenyum-senyum itu.

Lagi-lagi Kun Hong menjura dan bicara sepertl orang yang belum mengerti akan maksud pangeran itu, “Banyak terima kasih atas anugerah Paduka kepada dua orang keponakan saya, juga terima kasih atas penyambutan serta kehormatan besar yang kami bertiga telah menerima dari Paduka. Akan tetapi terpaksa kami bertiga mohon diri, Pangeran. Perjalanan kami masih jauh dan harus kami lanjutkan sekarang juga.”

“Perjalanan itu boleh dibatalkan atau ditunda!” Suara Pangeran itu kini terdengar sungguh-sungguh dan ketus. “Saudara Kun Hong, mulai saat ini aku mengangkat Li Eng sebagai selir pertama dan Hui Cu sebagai selir ke dua dan kedudukan mereka merangkap sebagai selir pengawal pribadiku!”

Baru sekaranglah dua orang dara remaja itu tahu akan maksud hati Pangeran itu. Muka mereka otomatis menjadi merah seperti udang direbus, mata mereka berkilat saking marah dan jengah, keduanya tanpa terasa telah meraba gagang pedang, Dengan dahi berkerut-kerut saking gelisah dan bingungnya, Kun Hong menjura berulang-ulang kepada Pangeran Mahkota itu, lalu bertanya,

“Pangeran, semenjak nenek moyang kita dahulu, bangsa kita selalu memegang teguh peraturan dan kesopanan. Dua orang keponakanku ini masih mempunyai orang tua, maka kiranya untuk urusan ini sebaiknya kalau Paduka berurusan dengan ayah bunda mereka seperti lazimnya. Sekarang, karena kami bertiga mempunyai tugas yang penting dan perjalanan masih jauh, perkenankanlah kami mengundurkan diri dan keluar dari sini.”
“Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong benar-benar mengagumkan, hafal akan segala pelajaran filsafat dan ujar-ujar kuno. Aku sama sekali tidak melanggar peraturan, karena bukankah kau ini paman dari mereka? Seorang paman, dalam hal ini, boleh menjadi wakil dan pengganti orang tua, karena itu, dihadapanmu aku mengajukan pinangan untuk menjadikan dua orang nona ini sebagai selir-selirku yang terkasih. Adapun kau sendiri, sesuai dengan bakat dan kepintaranmu, kuangkat menjadi pembesar yang mengurus perpustakaan istana!”

Tujuh orang jagoan itu mengeluarkan seruan kagum dan mereka segera mejura kepada Kun Hong sambil bersuara saling tunjang,

“Kionghi, kionghi (selamat)! Begini muda sudah menerima anugerah pangkat yang tinggi. Juga kionghi kepada dua orang Li-hiap ini!”
Akan tetapi Kun Hong cepat mengangkat kedua tangan dan menggoyang-goyangnya tanda bahwa ia menolak kesemuanya itu. Juga Li Eng dan Hui Cu sudah hampir tak dapat menahah kemarahan mereka. Mereka merasa terhina sekali oleh sikap Pangeran ini yang begitu mau menang sendiri, mengambil orang sebagai selirnya tanpa bertanya, baik kepada yang bersangkutan maupun kepada orang tuanya. Apakah dikiranya mereka itu seperti lima orang wanita tadi, dan dianggap sebagai perempuan murahan belaka?

“Terpaksa saya tidak dapat menerima semua itu, Pangeran. Pertama, saya yang muda mana berani mewakili orang tua mereka? Apalagi dalam soal perjodohan. Sama sekali saya tidak berani! Ke dua, saya merasa amat bodoh dari tidak terpelajar, bagaimana saya berani menerima kedudukan dari Paduka? Tidak, sungguhpun saya berterima kasih sekali, namun terpaksa saya menolak dan harapan saya hanya perkenan Paduka agar kami bertiga dapat pergi dari sini.”

Merah wajah Pangeran Mahkota Kian Bun Ti. Selama hidupnya baru kali ini ia menghadapi orang-orangnya yang tidak lekas-lekas berlutut menghaturkan terima kasih setelah ia beri anugerah seperti itu. Wanita mana yang tidak ingin, bahkan saling berebut untuk menjadi selir terkasih dari Pangeran Kian Bun Ti yang terkenal muda, tampan, halus budi, dan calon kaisar? Laki-laki mana yang tidak ingin menjadi pembesar dan kedudukannya diberi sendiri oleh Pangeran Mahkota? Akan tetapi, pandang matanya tidak buta, pendengarannya tidak tuli, kali ini benar-benar dua orang dara muda, yang hendak diambil menjadi selirnya itu malah berdiri dengan muka marah sedangkan orang yang hendak diangkatnya menjadi pembesar perpustakaan malah menampik! Saking heran, marah dan kecewanya, Pangeran ini hanya berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.

Seorang di antara tujuh jagoan pengawal Pangeran itu melompat maju, dan orang ini usianya sudah lewat lima puluh tahun, mukanya merah dan matanya jelas membayangkan bahwa dia adalah seorang pemarah dan sombong. Dia inilah yang terkenal dengan julukan Sin-toa-to (Golok Besar Sakti) bernama Liong Ki Nam. Di daerah Selatan namanya sudah amat terkenal dan ilmu goloknya memang hebat, boleh dibilang belum pernah ia menemui tandingan. Watak orang ini memang paling berangasan dari teman-temannya, maka melihat sikap tiga orang muda dan mendengar jawaban Kun Hong tadi, ia segera memaki,

“Bocah! Kau diberi hati makin melonjak, Pangeran telah berlaku baik hati dan menghormat, kau malah makin besar kepala. Kau berani membantah perintah Pangeran, berarti memberontak! Apakah kau sudah bosan hidup?”

Sementara itu, Pangeran Kian Bun Ti nampak kesal, lalu berkata kepada tujuh orang jagoannya, “Harap para busu membereskan ini, aku menanti kabar.” Tanpa menoleh lagi kepada Kun Hong atau kepada dua orang dara remaja itu, Pangeran ini membalikkan tubuh dan dengan langkah yang membayangkan keagungan seorang calon kaisar, Pangeran ini memasuki rumah gedung.

Setelah Pangeran itu pergi, tosu rambut panjang, Thian It Tosu, mendekati Kun Hong dan berkata dengan suara halus,

“Orang muda, harap kau pikirkan baik-baik dan jangan membawa kemauan sendiri yang tidak wajar. Ingatlah, semua orang muda, bahkan yang tua-tua sekalipun, di seluruh negeri akan mengiri kalau melihat peruntunganmu yang amat bagus ini. Kau diangkat menjadi pembesar dalam istana dan dua orang keponakanmu dapat merebut hati Pangeran Mahkota.
Siapa tahu kelak kalau Pangeran telah menjadi kaisar, dua orang keppnakanmu itu akan tetap menjadi kekasih, tentu kau akan diangkat menjadi menteri!”

Kun Hong tersenyum lemah dan menggerakkan kepala. “Tidak bisa, To-tiang. Sama sekali aku tidak bermaksud membantah Pangeran, apalagi memberontak. Akan tetapi sungguh-sungguh aku tidak bisa menerima jabatan karena aku memang tidak suka menjadi pembesar. Adapun tentang persoalan jodoh, kedua orang keponakanku ini mempunyai orang tua-orang tua, bagaimana aku berani melancangi mereka?”

“Eh, bocah goblok. Kau masih berkepala batu?” Sin-toa-to Liong Ki Nam lagi-lagi membentak dengan mata melotot. “Tidak usah banyak cerewet, pilih mana. Kau dan dua orang nona ini menurut dan menerima kemuliaan ataukah kalian ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, mungkin dihukum penggal kepala!”

Tentu saja Kun Hong tidak takut mendengar ancaman maut ini. Baginya, tidak ada di dunia ini sesuatu yang dapat menimbulkan takut dalam hatinya asalkan ia yakin akan kebenarannya. Dan dalam hal ini ia sama sekali tidak merasa telah melakukan sesuatu kesalahan. Ia menarik napas panjang dan berkata,

“Belum pernah aku mendengar tentang pinangan dan pemberian anugerah yang bersifat paksaan. Baru saja dua orang keponakanku telah menolong pangeran dari bahaya maut akibat penyerangan dua orang jahat, akan tetapi sekarang dua orang keponakanku hendak dipaksa menjadi selir dengan ancaman hukuman penjara kalau tidak mau menurut. Benar-benar di tempat yang mewah ini tidak dikenal lagi kebenaran dan keadilan!”

Tujuh orang jagoan itu tertawa, agaknya geli mendengar ucapan ini, Malah Thian It Tosu lalu berkata, “Orang muda, kau benar-benar seperti katak dalam tempurung, berlagak pintar akan tetapi bodoh. Kau tidak tahu sampai di mana kekuasaan Pangeran Mahkota. Beliau adalah calon kaisar tahukah kau? Mana bisa orang jahat sembarangan hendak menyerang dan membunuh beliau? Kau kira kedua keponakanmu tadi menolong Pangeran dari penyerangan orang jahat? Ha-ha. Sebenarnya hanya karena Pangeran yang suka melihat dua orang gadis ini, ingin menguji sampai di mana tinggi kepandaian kedua Nona ini.” Tosu itu bertepuk tangan dan dari luar berlari datang dua orang yang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tujuh orang jagoan itu. Ketika Kun Hong dan dua orang keponakannya memandang, mereka ini kaget sekali karena mengenal bahwa dua orang yang baru datang ini bukan lain adalah… dua orang “penjahat” yang tadi menyerang Pangeran dan dihajar oleh Li Eng dan Hui Cu!

Kun Hong bengong, dan tahulah ia sekarang bahwa kiranya Pangeran hanya ingin menguji kepandaian dua orang keponakannya. Selagi ia kebingungan mengingat urusan sulit yang dihadapinya, terdengar Li Eng membentak keras dan mencabut pedangnya.
“Aturan mana semua ini? Biar Pangeran sekalipun, tidak boleh memaksa orang lain sesuka hatinya. Kami tidak sudi menuruti kehendak Pangeran, habis kalian ini mau apa?” Dengan gagah gadis ini berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan dan sabuk sutera di tangan kiri, memasang kuda-kuda dan perbuatannya ini segera diturut oleh Hui Cu.
“Li Eng, jangan….” Kun Hong mencegah.

“Paman Hong, betapapun baik dan sabar hati orang, tak mungkih bisa memenuhi kehendakmu, mau dan diperhina oleh orang lain. Kita menolak paksaan mereka dan kalau mereka hendak menggunakan kekerasan, boleh dilihat. Orang-orang dari Hoa-san-pai bukanlah sebangsa pengecut yang takut mati demi membela kebenaran!” Suara Lie Eng penuh semangat dan baru kali ini terhadap Kun Hong ia bicara keras dan sungguh-sungguh.

“Kalian tidak boleh membunuh orang!” kata pula Kun Hong ketika melihat dua orang dara remaja itu sudah siap dengan pedang mereka dan tujuh orang jagoan itu pun tampaknya sudah siap untuk turun tangan.

“Kalau orang lain hendak mencelakakan kita, masa kita harus diam saja? Kalau orang lain hendak membunuh kita, masa kita harus mandah saja?” kata pula Li Eng penasaran.

“Lebih baik dibunuh daripada membunuh!” Kun Hong tetap membantah.

Sementara itu, tujuh orang jagoan itu saling pandang dan mereka ini rata-rata memandang rendah kepada Li Eng dan Hui Cu. Harus diketahui bahwa tujuh orang ini adalah tokoh-tokoh besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka bukanlah jago-jago biasa macam dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, melainkan tokoh-tokoh yang benar-benar termasuk ahli silat kelas tinggi.

Tiat-jiu Souw Ki yang bermuka hitam dan tinggi besar adalah seorang bajak tungal yang dahulu namanya malah lebih tenar daripada nama Ho-hai Sam-ong, tiga raja bajak di Huang-ho itu. Sesuai dengan nama. julukannya, Tiat-jiu berarti Kepalan Besi, tenaga luar dari tubuhnya hebat sekali, kepalan tangannya juga sekeras besi sehingga orang kata sekali pukul ia mampu membikin remuk kepala seekor harimau. Di samping kedahsyatan pukulan tangannya ini, ia pun seorang ahli bermain silat ruyung dengan ruyung bajanya yang besar dan berat.

Thian It Tosu adalah seorang tosu yang tingkatnya sudah tinggi di perkumpulan Ngo-lian-kauw, boleh dibilang merupakan tangan kanan dari Ketua Ngo-lian-kauwcu Kim-thouw Thian-li. Thian-It Tosu ini selain ilmu silatnya tinggi, tenaga dalam di tubuhnya amat kuat, juga sebagai seorang tosu ia mahir ilmu sihir dari Ngo-lian-kauw. Semenjak dahulu (baca cerita Raja Pedang) perkumpulan Ngo-lian-kauw ini memang selalu mencari kesempatan baik untuk menempel pihak yang menang, merupakan perkumpulan yang bersifat plin-plan. Sekarang, melihat betapa Pangeran Kian Bun Ti merupakan satu-satunya orang terkuat untuk menjadi calon pengganti Kaisar, perkumpulan ini tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu menempel Pangeran ini malah Thian It Tosu sendiri sebagai tokoh besar Ngo-lian-kauw masuk menjadi pengawal Pangeran Kian Bun Ti.

Orang ke tiga dan ke empat dari tujuh jagoan istana ini adalah sepasang saudara kembar dari Ho-pak. Dua orang yang usianya empat puluh lima tahun ini mempunyai muka yang sama bentuknya sehingga orang luar akan sukar untuk membedakan mereka kalau saja muka mereka tidak berbeda warnanya. Bu Sek, yang tua bermuka kuning sedangkan Bu Tai yang ke dua, bermuka merah.

Mereka berdua ini terkenal dengan sebutan Ho-pak Siang-sai (Sepasang Singa dari Ho-pak) dan ilmu pedang mereka amat terkenal sebagai ilmu pedang warisan dari keluarga Bu yang sudah turun-temurun menjadi panglima perang. Apalagi kalau sepasang saudara kembar ini maju bersama, ilmu pedang mereka menjadi ilmu pedang pasangan yang amat sukar dilawan, karena sebagai saudara kembar, mereka tidak saja memiliki persamaan dalam segala gerak-gerik, juga mereka mempunyai hubungan rasa yang amat erat sehingga permainan ilmu pedang mereka dapat digabung menjadi satu seolah-olah hanya seorang saja yang mainkan dua buah pedang.

Orang kelima adalah seorang kakek yang memegang sebuah tongkat bengkok, tongkat hitam yang terbuat dari kayu yang aneh dan kelihatan seperti sebatang tongkat pengemis. Kakek ini pendiam dan kelihatan selalu seperti orang yang kurang semangat dan mengantuk, sama sekali tidak patut kalau disebut seorang jagoan. Usianya sudah enam puluh lima tahun lebih. Akan tetapi jangan dikira bahwa dia itu kurang bersemangat atau lemah. Kalau orang mendengar namanya, apalagi orang-orang kang-ouw tentu akan kaget setengah mati karena dia ini bukan lain adalah Bhong-lo-koai yang terkenal disebut Koai-tung (Tongkat Gila). Ilmu tongkatnya, untuk bagian tenggara tidak ada yang dapat menandingi!

Orang keenam adalah orang yang paling berangasan dan sombong, yaitu si ahli golok Sin-toa-to Liong Ki Nam. Usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi ia terkenal pemarah dan bertenaga besar. Juga dia ini memiliki ilmu golok tunggal yang tidak dikenal asal-usulnya. Dahulunya Sin-toa-to Liong Ki Nam ini adalah seorang guru silat bayaran. Akan tetapi ternyata ia hanya memeras uang dari orang-orang kaya dan tidak pernah menurunkan ilmunya yang terkenal, yaitu ilmu goloknya. Ia hanya menurunkan ilmu silat pasaran saja sehingga tak pernah ia mempunyai murid yang berarti.

Betapapunjuga,tidak ada orang berani mengganggu murid-muridnya itu, karena biarpun Si Murid ini tidak memiliki kepandaian berarti, sebaliknya Liong Ki Nam ini betul-betul seorang yang tangguh dan kosen, sukar dikalahkan. Akhirnya ia ditarik oleh Pangeran Kian Bun Ti dan dijadikan pengawal. Orang ke tujuh adalah orang yang paling kuat, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dialah yang paling aneh di antara tujuh jagoan ini. Orangnya tinggi kurus, sudah tua tapi pakaiannya selalu serba merah! Melihat mukanya yang terus-menerus tersenyum-senyum dan kalau bicara lucu, orang lain takkan menyangka bahwa dia seorang tokoh yang dihormati di istana. Kiranya lebih patut kalau ia dianggap orang yang miring otaknya. Akan tetapi kalau ada yang mendengar namanya, yaitu Ang-moko (Setan Merah), orang akan bergidik mengingat akan kekejaman orang ini yang dapat membunuh orang sambil tersenyum-senyum seperti, orang menyembelih ayam saja! Jangan dikira bahwa Ang-moko ini tidak lihai dan kalah oleh enam orang yang lain itu. Biarpun ia tidak pernah kelihatan membawa senjata namun ilmu kepandaiannya ternyata malah paling tinggi di antara mereka yang berada di situ. Dan dalam hal kekejaman dan ketenaran namanya dia hanyalah di bawah tokoh-tokoh seperti Song-bun-kwi, Siauw-ong-kwi, Swi Lek Hosiang dan Hek-hwa Kui-bo, yaitu empat besar di dunia persilatan!

Demikianlah kedaan tujuh orang pengawal atau pembantu Pangeran Kian Bun Ti, maka juga tidaklah terlalu mengherankan apabila mereka ini sebagai tokoh tua memandang rendah kepada Li Eng dan Hui Cu yang masih belum ada nama. Kemenangan dua orang dara ini atas diri dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, tidaklah berkesan apa-apa kepada mereka karena tingkat kepandaian dua orang ini pun hanya patut menjadi murid mereka.

Mendengar ucapan Li Eng dan melihat sikap dua orang gadis yang menantang itu, Sin-toa-to Liong Ki Nam yang berangasan itu tak dapat menahannya lagi. Ia melangkah maju dan membentak, “Bocah cilik, kalian sombong sekali! Lebih baik lekas kau berlutut dan mentaati perintah Pangeran, jangan sampai membuat guru besarmu ini marah dan kehabisan kesabaran, lalu turun tangan kepadamu.

Li Eng adalah seorang yang juga memiliki kekerasan hati. Dengan mata berkilat ia memandang Liong Ki Nam, lalu mengeluarkan dengus mengejek dan berkata, “Keledai sombong! Keluarkan golok babimu itu, kutanggung dalam beberapa jurus kau akan minta ampun kepadaku!”

Berdiri alis Liong Ki Nam. “Keparat, gadis liar! Kau tidak tahu siapa aku? Akulah Sin-toa-to Liong, Ki Nam! Golok saktiku ini kalau sudah kucabut harus membikin melayang jiwa orang, dan kau berani menyebutnya golok babi?”

“Hi-hik, mungkin untuk menyembelih babi juga kurang tajam. Entah kalau untuk memotong leher ayam. Eh, manusia sombong, tentu sudah banyak jiwa ayam kau bikin melayang dengan golokmu itu, ya?
Asal jangan ayam tetangga masih boleh juga,” Li Eng melampiaskan kemarahannya dengan cara mengejek dan menghina.

“Setan perempuan!!” Tampak sinar berkelebat disusul gulungan sinar itu menyambar ke arah Li Eng. Kiranya dengan amat cepat Si Golok Sakti ini sudah mencabut senjatanya dan membacok ke arah Li Eng. Memang gerakannya hebat dan luar biasa cepatnya, namun kini ia menghadapi Li Eng dara perkasa yang sudah mewarisi ilmu sakti dari Im-kan-kok (Lembah Akhirat).

“Trang! Tar-tar” Bunga api berpijar dan terpaksa Si Golok Sakti meloncat ke ke belakang untuk menghindari serangan ujung sabuk sutera hitam itu. Sebaliknya diam-diam Li Eng terkejut sekali karena telapak tangannya terasa menggetar ketika ujung sabuk suteranya menangkis golok lawan tadi. Ia maklum bahwa lawan ini benar-benar tak boleh dibuat main-main. Namun ia masih mengejek,

“Hi-hik, kenapa mundur? takutkah?” Di pihak Sin-toa-to Liong Ki Nam yang sudah banyak pengalaman, ia pun terkejut karena mendapat kenyataan bahwa dara remaja ini benar-benar lihai, tidak saja dapat menangkis serangan goloknya, malah dapat membalas dengan serangan sabuk sutera hitam yang aneh itu. Namun tentu saja ia tidak takut. Ia mengeluarkan suara menggereng ketika mendengar ejekan ini, lalu ia membentak,

“Siluman betina, kau tunggu golokku menamatkan riwayatmu!” Goloknya diputar-putar di atas kepala, berubah menjadi gulungan sinar mengerikan yang mengeluarkan suara mendesing-desing.

Tiba-tiba sebatang sinar hitam berkelebat memasuki gulungan sinar putih itu dan terdengar Liong Ki Nam berseru tertahan disusul loncatannya ke belakang dan ia berjungkir-balik lalu memandang kepada Bhong Lo-koai yang sudah berdiri di depannya bersandarkan tongkat hitam, matanya penuh pertanyaan dan teguran mengapa temannya ini tadi menahannya.

“Liong-kauwsu, sudah seringkali aku beri tahu bahwa amatlah tidak baik menurutkan nafsu amarah, membuat orang lupa diri. Kau pun tadi tak mampu mengendalikan kemarahan sampai kau lupa bahwa yang hendak kau serang itu adalah siuli-siuli pilihan Pangeran. Andaikata kau dapat membunuh mereka, apakah yang akan dikatakan kelak oleh Pangeran?”

Muka yang merah dari Liong Ki Nam tiba-tiba berubah pucat dan ingatlah ia bahwa tadi ia telah menurutkan nafsu dan sama sekali tidak ingat bahwa hampir saja ia mencelakai dirinya sendiri. Memang, sudah jelas bahwa Pangeran tergila-gila kepada dua orang gadis manis ini dan Pangeran menyerahkan persoalan ini, yaitu agar supaya dua orang gadis ini dapat menjadi selir-selir terkasih. Kalau sampai dia salah tangan membunuh mereka bukankah ia akan mendapat marah dari Pangeran? Bukan tak mungkin karena mengecewakan dan menyusahkan hati Pangeran, lehernya sendiri akan terpenggal tanpa ia mampu mempertahankannya lagi. Karena ini ia cepat mundur, menyimpan goloknya dan tidak berani berkata apa-apa lagi.

Sementara itu Bhong-lokai sudah melangkah maju. Tongkatnya yang hitam dan buruk itu bergerak perlahan ke arah Li Eng dan Hui Cu. Dua orang gadis ini adalah ahli-ahli silat tinggi tak dapat ditipu dengan gerakan yang kelihatannya lemah dan lembut ini. Segera keduanya mengangkat pedang menangkis. Dua batang pedang di tangan gadis itu bertemu dengan tongkat dan… tanpa mengeluarkan suara dua batang pedang itu menempel pada tongkat, tak dapat dilepaskan lagi seperti dua batang jarum menempel pada besi sembrani yang amat kuat.

“Nona berdua, lebih baik menyerah saja. Tiada gunanya memberontak terhadap perintah Pangeran, kalian akan berdosa besar,” kata kakek aneh itu, matanya yang sipit itu makin meram. Diam-diam kakek ini mengerahkan seluruh tenaga Iwee-kangnya, karena selain ia harus menempel sepasang pedang dua orang gadis itu, juga ia berusaha menarik dan merampasnya. Alangkah kagetnya ketika ia menghadapi perlawanan tenaga Iwee-kang yang juga tidak lemah, apalagi dari pihak Li Eng. Demikianlah, biarpun tampaknya tiga orang ini tidak bergerak dengan senjata mereka saling tempel, sebetulnya mereka sedang mengadu hawa sakti dalam tubuh untuk mencapai kemenangan.

Li Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi. Orang-orang ini menganggap dia orang apakah maka berani main gila? Dengan seruan nyaring dan merdu tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah leher Bhong Lo-koai. Cepat sekali sambaran ini dan dengan jitu mengarah jalan darah yang amat berbahaya bagi keselamatan kakek itu.

Bong Lo-koai mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya. Tiba-tiba tongkatnya melepaskan tempelannya pada dua batang pedang, bergerak menangkis sabuk sutera itu. Ia mengalami kekagetan hebat namun berhasil menyelamatkan diri. Adapun Li Eng terkejut ketika merasa betapa sabuk suteranya terbetot dan lengannya kesemutan ketika tongkat itu menangkisnya. Malah Hui Cu terhuyung sedikit ketika pedangnya terlepas dari tempelan tongkat. Ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga Iwee-kang dari kakek ini luar biasa.

Kini maklumlah Li Eng dan Hui Cu bahwa mereka berdua menghadapi lawan-lawan tangguh. Baru dua orang itu saja, Sin-toa-to Liong Ki Nam dan terutama kakek ini, Bhong Lo-koai, memiliki kepandaian yang tinggi, malah Li Eng dapat menduga bahwa tingkat dua orang ini lebih tinggi dari tingkat Hui Cu, dan agaknya kakek aneh ini bukan merupakan lawan ringan baginya. Apalagi kalau tujuh orang itu semua maju, siapa tahu di antara mereka malah ada yang lebih lihai dari Bhong Lo-koai. Akan tetapi urusan ini menyangkut kehormatan mereka, tak mungkin mereka menyerah menjadi selir Pangeran! Biar mereka harus mempertaruhkan nyawa, mereka akan melawan sekuat tenaga. Dengan mata berkilat-kilat Li Eng dan Hui Cu memasang kuda-kuda dan Lie Eng berteriak marah,

“Anjing-anjing penjilat! Majulah kalian, majulah semua. Jangan harap kami akan menyerah sebelum leher kami putus!”

Ang-moko, yaitu seorang di antara para jagoan, yang tertua dan yang sejak tadi hanya tersenyum saja, kini berkata, “Kalau kalian tidak berhasil menawan dua ekor kuda betina liar ini, tidak saja Pangeran akan marah kepada kalian, juga nama kalian akan menjadi rusak. Masa tua bangka-tua bangka seperti kalian tidak mampu menangkap dua ekor kuda betina yang muda ini? Heh-heh-heh, memalukan sekali!”

“He, Ang-moko kakek tua! Kau hanya membuka mulut saja tapi tidak mau turun tangan. Habis apa kerjamu di sini?” teriak Souw Ki kasar.

Ang-moko tertawa lagi terpingkal-pingkal. “Aku suka mengurus pkerjaan besar, bukan segala macam usaha menangkap kuda betina yang liar. Kau lebih patut untuk pekerjaan macam ini.”

“Sudahlah, untuk apa melayani kegilaan Ang-moko?” kata Sin-toa-to Liong Ki Nam. “Kita beramai tangkap dan tawan dua orang gadis ini, tangkap hidup-hidup jangan sampai lolos atau terluka.” Enam orang itu memasang kuda-kuda, adapun Ang-moko hanya menonton sambil tertawa-tawa.

“Paman Hong, kalau aku mati di sini, tolong sampaikan kepada ayah dan ibu bahwa anaknya mati sebagai seorang gagah!” kata Li Eng tanpa mengalihkan perhatiannya kepada para jagoan yang sudah siap hendak menerjangnya itu.

“Sampaikan hormatku kepada ayah ibuku, Hong susiok,” kata Hui Cu, berbeda dengan Li Eng suaranya agak terharu dan sungguh-sungguh.

Kun Hong gelisah sekali, seperti diremas rasa hatinya. Ia tak kuasa mencegah pertempuran yang pasti akan berlangsung hebat ini, karena ia maklum bahwa dua orang keponakannya itu sudah tentu lebih baik berjuang sampai mati daripada menyerah menjadi selir Pangeran mata keranjang itu. Akan tetapi tidak benar ini, pikirnya. Melawan pemerintah, sama pula memberontak. Biarpun tidak salah, dunia akan mengecapnya sebagai pemberontak dan pengkhianat dan hal ini akan menyeret nama baik seluruh keluarga. Tak boleh ia membiarkan dua orang keponakannya itu melakukan dosa seperti ini. Dikumpulkannya tenaga batinnya yang gelisah, dipusatkan hawa sakti di tubuhnya, semua ditarik ke pusat pandangan mata lalu ia membentak,

“Li Eng dan Hui Cu! Simpan pedangmu dan jangan melawan.”

Ketika ia berteriak demikian itu, para jagoan, sudah mulai bergerak maju mengeroyok Li Eng dan Hui Cu. Suara beradunya senjata sudah terdengar bertubi-tubi dan tubuh kedua orang gadis itu sudah lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka sendiri. Namun begitu teriakan ini terdengar, dua orang gadis itu melompat ke dekat Kun Hong seperti ditarik oleh tenaga gaib.

“Baiklah, Paman Hong,” kata keduanya seperti dari satu mulut dan berbareng pula keduanya menyimpan pedang dan berdiri tegak menghadapi para jagoan itu yang saling pandang dan merasa terheran-heran. Hanya dua orang gadis itu saja yang merasakan betapa hebat dan ampuhnya pengaruh suara Kun Hong tadi, suara yang tak mungkin terbantah oleh mereka, suara yang harus mereka turut dan taati karena seakan-akan adalah suara dari hati mereka sendiri yang melumpuhkan seluruh daya kemauan. Kun Hong sendiri sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan yang tegang dan menggelisahkan tadi, ia telah mempergunakan tenaga batin dari ilmu hoat-sut yang ia baca dari kitab pemberian Sin-eng-cu Lui Bok sehingga ia telah “menyihir” dua orang keponakannya sendiri sehingga dua orang dara itu menuruti perintah tanpa syarat lagi!

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Kiranya tidak keliru Pangeran memilih kau sebagai pengurus perpustakaan. Agaknya kau tidak sebodoh yang kami kira,” kata Thian It Tosu. “Memang jauh lebih baik menyerah dan hidup penuh kemuliaan di sini daripada melawan kekuasaan Pangeran karena akan membuang nyawa sia-sia belaka.”

“Kami bertiga menyerah untuk ditawan, bukan menyerah untuk menerima kedudukan,” jawab Kun Hong dengan suara dingin.
Kembali tujuh orang itu saling pandang lalu Thian It Tosu mengangkat pundak. “Kalian orang-orang aneh, tapi urusan kami sudah selesai, biarlah selanjutnya Tan-taijin yang akan mengurus kalian. Serahkan senjata!” Li Eng dan Hui Cu tidak melawan ketika pedang mereka dan sabuk sutera Li Eng dilucuti, sedangkan pedang di pinggang Kun Hong tidak ada yang menganggap karena memang tidak ada yang tahu. Siapakah orangnya dapat menduga bahwa pemuda yang lemah ini membawa-bawa pedang?

Mereka ditahan dalam tempat terpisah dan sebelum berpisah, Kun Hong berkata kepada dua orang gadis itu, “Jangan kuatir, aku akan berdaya upaya untuk menginsyafkan Pangeran agar kita dibebaskan kembali. Kita tidak berdosa.

“Jangan kalian menggunakan kekerasan. Percayalah, orang yang benar pasti dilindungi Tuhan Yang Maha Adil.”

Akan tetapi alangkah kaget hati Kun Hong ketika tiba-tiba Ang-moko dan Bhong Lo-koai bergerak ke depan menggerakkan tangan menyerang dua orang gadis itu. Karena Li Eng dan Hui Cu sama sekali tidak mengira akan datangnya serangan mendadak ini, mereka tak dapat mengelak dan roboh lemas dalam keadaan tertotok. Kiranya dua orang jagoan tua ini telah saling memberi tanda-tanda dan karena mereka tidak ingin melihat dua orang gadis yang kosen ini akan menimbulkan kerewelan lagi, keduanya turun tangan menotok jalan darah mereka.

“He, apa yang kalian lakukan?” Kun Hong berteriak-teriak. “Akan kulaporkan ini, kalian akan dihukum! Kami sudah menyerah, kenapa kalian merobohkan dua orang keponakanku? jahat sekali kalian….” Akan tetapi tujuh orang itu tidak mempedulikannya lagi, malah ia segera diseret ke lain jurusan sedangkan dua orang gadis yang sudah lemas tidak berdaya lagi itu dibawa ke tempat lain. Percuma saja Kun Hong berteriak-teriak sampai suaranya serak. Ia dilempar ke dalam sebuah kamar kosong yang berjendela kecil beruji besi. Hanya ada sebuah bangku panjang dan sebliah meja kecil di kamar ini, selebihnya kosong. Dengan hati risau Kun Hong melempar diri ke atas bangku dan dengan gelisah memikirkan nasib kedua orang keponakannya.

Pembesar yang oleh Kaisar dikuasai untuk mengatur semua urusan yang timbul dan terjadi di lingkungan istana, adalah Tan-taijin. Tan-taijin ini orang yang berwatak jujur dan setia, orangnya tinggi besar seperti raksasa dan mempunyai wibawa besar. Kiranya para pembaca masih ingat akan tokoh cerita ini yang bernama Tan Hok, pemimpin kaum Pek-lian-pai yang amat berjasa terhadap perjuangan. Malah dalam pergolakan belasan tahun yang lalu ketika para bekas pejuang saling brebutan kedudukan malah ada yang memberontak kepada Kaisar, kembali Tan Hok ini memperlihatkan jasanya dan menolong Kaisar dari serbuan kaum petualang yang hendak merebut kekuasaan. Akhirnya,Tan Hok yang tubuhnya tinggi besar dan gagah ini diangkat oleh Kaisar menjadi pengawal pribadinya dan kemudian malah diberi pangkat untuk mengurus segala persoalan yang terjadi di lingkungan istana. Karena ini maka Tan Hok yang sekarang disebut Tan-taijin ini mempunyai pengaruh yang amat besar, semua kata-katanya. dipercaya oleh Kaisar dan sebagai seorang jujur dan keras hati, ia ditakuti dan disegani kerabat istana.

Seperti telah kita ketahui dalam bagian depan dari cerita ini, antara Tan Hok dan Tan Beng San terdapat pertalian persahabatan yang amat erat, malah pendekar sakti Tan Beng San menganggap raksasa ini sebagai kakak angkatnya. Oleh karena inilah maka semenjak Tan Beng San bersama isterinya, Cia Li Cu, tinggal di Thai-san, kedua orang gagah ini seringkali mengadakan hubungan. Tan-taijin seringkali pergi mengunjungi Thai-san, malah sudah beberapa kali Tan Beng San sekeluarganya berkunjung ke kota raja dan bermalam di gedung Tan-taijin, Karena Tan-taijin sendiri yang menikah dengan seorang gadis kota raja tidak mempunyai keturunan, maka seringkali puteri tunggal Tan Beng San tinggal di situ sampai berbulan-bulan. Malah atas anjurannya, juga karena sayangnya ayah bundanya, puteri tunggal ini mempelajari segala kerajinan tangan wanita di kota raja sehingga selain mewarisi ilmu silat sakti dari ayah ibunya, gadis ini pun memiliki kepandaian puteri-puteri istana seperti sastra, menyulam, bermain musik, bermain catur dan lain-lain.

Urusan Kun Hong dan dua orang keponakannya pun otomatis terjatuh ke dalam tangan Tan-taijin, karena urusan itu merupakan urusan dalam. Para jagoan sudah maklum akan kelihaian Tan-taijin dalam menyelesaikan urusan yang sulit-sulit, maka setelah menjebloskan Kun Hong ke dalam penjara di dalam istana dan memasukkan dua orang gadis itu ke dalam kamar para selir Pangeran, mereka lalu melaporkannya kepada Tan-taijin.

Mula-mula Tan-taijin mengomel ketika mendengar bahwa secara mendadak Pangeran Mahkota mengangkat seorang pemuda menjadl pengurus perpustakaan dan dua orang gadis begitu saja menjadi selir. Watak orang muda omelnya, segala tergesa-gesa menurutkan nafsu hati. tetapi ia segera tertarik sekali mendengar bahwa “pemuda kepala batu” yang menolak anugerah besar ini ternyata adalah seorang dari Hoa-san-pai, demikian pula dua orang gadis yang katanya menolak pula anugerah Pangeran. Tadinya ia pun hampir tak dapat percaya kalau ada dua orang gadis muda yang menolak diangkat sebagai selir Pangeran Mahkota, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa dua orang dara remaja itu adalah orang-orang Hoa-san-pai, ketidak percayaannya berubah dan ia tertarik sekali. Ia cukup mengenal pendekar-pendekar wanita yang tidak boleh disamakan dengan wanita-wanita biasa. Kalau yang menolak anugerah tertinggi itu adalah pendekar-pendekar wanita dari Hoa-san-pai, hal itu bukanlah hal yang aneh. Dia harus dapat mengurus hal ini, mengatasinya dan mencari jalan pemecahannya yang baik. Karena ia mendengar bahwa pemuda yang diangkat menjadi pengurus perpustakaan itu adalah paman dari kedua gadis tadi, maka ia segera memberi perintah agar supaya pemuda bandel itu malam itu juga diantar ke gedungnya, akan ditemui dan diperiksa. Diam-diam ia menduga-duga siapakah pemuda ini dan putera siapa karena ia mengenal semua tokoh Hoa-san-pai.

Sebagai seorang tawanan, biarpun orang-orang tahu bahwa dia seorang laki-laki yang lemah, kedua tangan Kun Hong dibelenggu ketika orang membawanya menghadap Tan-taijin di ruangan tengah. Waktu itu hari sudah gelap dan di ruangan itu dipasangi lampu yang amat terang. Tan-taijin sendiri duduk menghadapi meja besar dalam pakaian kebesaran karena ia sedang memeriksa seorang tahanan. Amat gagahlah pembesar ini dalam pakaiannya yang mentereng seperti Kwan Kong saja. Benar-benar berwibawa setiap orang pesakitan tentu akan tunduk dan takut kalau diperiksa oleh seorang seperti Tan-taijin ini.

Melihat seorang pemuda kurus dan tampak lemah digiring masuk, Tan-taijin merasa kecewa. Tak patut pemuda ini menjadi murid Hoa-san-pai. Tadinya ia menduga akan bertemu dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, seorang kesatria keturunan pendekar besar. Akan tetapi pemuda itu mempunyai keistimewaan pada matanya, yang mengingatkan Tan-taijin kepada sahabat dan saudara yang tercinta, pendekar besar Tan Beng San Si Raja Pedang! Banyak persamaan antara mata kedua orang itu, pikirnya, begitu tajam, begitu cemerlang dan berani menentang segala.

Setelah pemuda itu berlutut di depan meja, Tan-taijin memberi isyarat kepada dua orang pengawal untuk meninggalkan ruangan itu. Ia ingin bicara empat mata dengan pemuda ini, ingin melakukan pemeriksaan mendalam tanpa disaksikan orang lain. Sejenak ia melihat kepala yang menunduk itu, lalu terdengar suaranya yang besar, tetap dan nyaring,

“Orang muda, kau berdirilah!” Kun Hong bangkit berdiri dan mereka berpandangan. Sejenak sinar mata mereka saling mengukur, saling menentang, kemudian meragu dan masing-masing seperti sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang lawan yang tidak mudah menyerah kalah.

“Orang muda, siapakah namamu, dari mana asalmu dan mengapa kau sampai ke kota raja sehingga menjadi seorang tahanan. Ceritakan semua dari awal sejelasnya, siapa tahu dari pengakuanmu itu aku akan dapat membebaskanmu.” Suara Tan-taijin jelas, lambat, keras dan sekata demi sekata berkesan dalam hati Kun Hong. Namun, ketika pemuda ini tadi melihat pakaian yang indah mentereng, ruangan yang serem dan sikap yang agung dari pembesar yang memeriksanya, diam-diam ia mengeluh dan tidak dapat banyak mengharapkan keadilan.

Mendengar pertanyaan yang sekaligus mencakup seluruh persoalan yang harus ia ceritakan itu, Kun Hong menjawab singkat tanpa mengangkat muka yang menunduk memandang lantai.

‘”Nama saya Kwa Kun Hong berasal dari Hoa-san, tidak sengaja sampai ke kota raja karena bersama dua orang keponakanku hanya hendak melihat-lihat saja. Kebetulan terdengar oleh Pangeran dari kami menerima undangan, Siapa tahu, Pangeran hendak memaksa kedua keponakan saya menjadi selirnya dan saya menjadi pengurus perpustakaan. Kami tidak mau dan ditahan.”

Melihat sikap pemuda yang tenang-tenang dan sama sekali tidak takut ini, diam-diam Tan-taijin kagum juga. Apa lagi mendengar nama keturunan pemuda ini Kwa. Pernah apakah dengan Kwa Tin Siong? Pada saat itu, pintu di sebelah dalam terbuka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang. Kun Hong sejenak terbelalak kagum, akan tetapi segera timbul ketidak senangannya karena ia melihat bahwa pemuda yang tampan itu ternyata hanya pemuda pesolek yang terlalu halus gerak-geriknya. Sebaliknya pemuda tampan itu seakan-akan tidak melihat kehadiran Kun Hong yang berdiri dengan keduua tangan terbelenggu, langsung berkata kepada Tan-taijin.

“Pek-hu (uwa), kautolonglah… aku, mendengar ada dua orang gadis muda jelita dari Hoa-san-pai ditahan dan hendak dipaksa menjadi selir oleh Pangeran!”

Tan-taijin dengan gerak matanya memberi isyarat bahwa di situ ada orang lain. Pemuda itu mencari dan melihat Kun Hong, maka ia segera melanjutkan, “Pangeran sudah terlalu banyak selir-selirnya? Yang sudah punya banyak ingin tembah terus, aku yang belum punya seorang pun tidak kebagian!”

Makin muak perasaan Kun Hong terhadap pemuda tampan itu, maka ia memandang dengan mata melotot, terang-terangan ia menyatakan kemarahannya.

Pemuda itu balas memandang, mengerutkan alisnya dan bertanya,

“Ah, kiranya aku mengganggu Pek-hu. Bajingan apakah yang Pek-hu periksa malam-malam begini? Apakah dia tukang colong ayam Istana? Ataukah tukang copet? Jangan-jangan dia maling kuda, kabarnya banyak kuda hilang secara aneh dari kandang istana. Tapi dia tidak patut menjadi pencuri kuda, pantasnya menjadi maling ayam!” Terang bahwa pemuda ini sengaja menghina Kun Hong yang melotot marah itu.

Begitu pemuda tampan itu muncul wajah Tan-taijin yang tadinya bersungguh-sungguh berubah terang berseri. Ia segera menggerakkan tangannya dan berkata, “Kau duduklah, Tan-ji (Anak Tan) dan justeru dua gadis yang kaubicarakan itu ada hubungannya dengan orang ini. Kau duduk dan dengarlah.”
Pemuda itu duduk tak jauh dari meja, duduk di atas bangku dan menumpangkan paha kiri ke atas paha kanannya, dengan sikap angkuh memandang Kun Hong yang menjadi makin gemas. Tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut, turun dari bangku, menghampiri Kun Hong dan begitu tangannya bergerak ia telah mengambil pedang di balik baju Kun Hong. “Ih, dia menyembunyikan pedang, Pek-hu!” katanya memperlihatkan pedang itu. Diam-diam Kun Hong terkejut dan kecewa. Tadinya ia sudah merasa girang bahwa tidak ada orang menaruh curiga kepadanya. Kiranya pemuda ini yang dapat melihat pedangnya, malah kini pedang itu dirampasnya.

Kening pembesar itu berkerut. “Hemmm, menurut laporan kau seorang pemuda sastrawan yang lemah mengapa kau menyembunyikan pedang?”

Kini marahlah Kun Hong. Ia menentang pandang mata pembesar itu dan menjawab, “Pedang tetap pedang, benda yang tidak berdosa. Tergantung tangan yang memegangnya. Pedang itu adalah pemberian orang suci kepadaku, kenapa takkan kubawa? Tapi sama sekali bukan untuk… membunuh orang atau untuk beraksi seperti dia itu!” Matanya memandang pemuda yang kini sudah mencabut pedang itu dari sarungnya dan memegang serta memandanginya seperti seorang ahli!

“Hemmm, sebuah po-kiam (pedang pusaka) yang baik. Eh, dari mana dia mencuri pusaka ini?” Pemuda tampan itu menoleh dan pandang matanya tajam penuh selidik, mengiris jantung, bukan karena keindahannya melainkan karena penghinaannya yang bagi Kun Hong terasa amat perih. Saking marahnya Kun Hong sampai tak dapat mengeluarkan suara. Ia sendiri merasa heran mengapa terhadap pemuda pesolek yang terlalu tampan ini ia mudah sekali tersinggung dan marah, padahal biasanya ia tenang dan sabar saja menghadapi segala sesuatu. Ketika bertemu pandang, sengaja ia membuang muka seperti orang melihat binatang yang menjijikkan.

Sementara itu, Tan-taijin tidak begitu heran melihat Kun Hong menyembunyikan pedang di balik jubahnya. Sebagai seorang murid Hoa-san-pai sudah tentu saja soal membawa pedang bukan merupakan soal aneh lagi. Yang aneh hanya karena pemuda ini tidak pandai ilmu silat, mengapa membawa pedang segala!

“Kwa Kun Hong” kata pula pembesar itu dengan suara keren, “Pangeran Mahkota begitu baik kepadamu, belum kenal sudah diundang, diadakan pesta, kemudian malah kau diberi anugerah pangkat. Mengapa kau menolaknya? Penolakanmu itu berarti kau tidak kenal budi, berarti kau tidak menghormat putera Kaisar, dan tidak taat. Padahal aku mendengar laporan bahwa kau menerima ketika diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis, mengapa sekarang kau malah menolak ketika diberi kedudukan betul-betul oleh Pangeran Mahkota. Bukankah itu menunjukkan bahwa kau tidak setia kepada junjungan dan punya hati memberontak?”

“Eh-eh, orang macam ini jadi raja pengemis?” lagi-lagi terdengar pemuda tampan itu yang membuat kedua telinga Kun Hong serasa dibakar. Ia mengangkat muka, berdiri tegak dan suaranya menggeledek ketika menjawab pembesar itu, jawaban yang diselimuti kemarahannya yang bangkit karena sikap dan kata-kata Si Pemuda Tampan tadi.
“Taijin, saya ingin bicara terus terang, kalau menyinggung harap Taijin suka maafkan atau hukum, terserah, Setelah melihat keadaan di dalam istana-istana kerajaan, melihat kerajaan, melihat pembesar-pembesar istana, selaksa kali saya lebih suka menjadi ketua pengemis jembel daripada menjadi pembesar di istana! Menjadi ketua pengemis setidaknya masih mengingat akan nasib para pengemis, biarpun tampaknya hina namun merupakan pekerjaan mulia. Akan tetapi sebaliknya, orang-orang yang menyebut diri sendiri pembesar, yang hidup bergelimang dengan kemewahan, kemuliaan, dan kesenangan, apakah jasa mereka terhadap rakyat jelata? Pembesar-pembesar seperti Taijin ini, yang amat banyak jumlahnya di kota raja, pernahkah memikirkan nasib si kecil? Pernahkah mimpi bahwa kalau Taijin sedang tidur nyenyak di dalam gedung istana indah, ratusan ribu rakyat di gunung-gunung kedinginan karena dinding gubuk bobrok dan atap daun bocor? Kalau Taijin sedang makan masakan kota raja yang enak dan lezat, ingatkah akan ratusan ribu rakyat yang mengerang kelapar, bahkan ada yang mati karena perutnya kosong? Kalau setiap pagi dan sore berganti pakaian-pakaian indah dan mempersolek diri seperti Tuan Muda ini, pernahkah ingat akan ratusan ribu rakyat yang telanjang dan kedinginan? Padahal…” Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang, lalu disambungnya lebih bersemangat lagi,

“padahal kalau tidak ada rakyat, takkan ada raja, takkan ada pembesar seperti Taijin ini, takkan ada istana-istana indah ini. Hemmm, sudah banyak kubaca tentang manusia-manusia yang menyebut diri sendiri pemimpin dan pembesar seperti Taijin dan sebangsanya. Di waktu perang? Ah, ada rakyat yang maju! Di waktu banjir? Musim kering panjang? Ada rakyat yang menanggulangi. Tapi kalau sudah mabuk penghidupan mewah dan enak rakyat dilupakan!”

Saking kaget, heran dan kagumnya, wajah Tan-taijin berubah-ubah dan wajah pemuda tampan itu kini menjadi merah sekali. Melihat wajah pembesar itu, Kun Hong makin bersemangat.

“Ah, Taijin terheran? Ha-ha, aku berani bertaruh bahwa orang seperti Taijin ini tak pernah keluar dari kota raja, setiap hari hanya mencium bau masakan sedap, melihat wanita cantik dan memakai pakaian indah. Coba Taijin tengok ke dusun-dusun, ke gunung-gunung, ke pinggir-pinggir laut, tengoklah kehidupan rakyat kecil di sana. Mungkin Taijin akan terbuka mata dan tidak berani lagi menari-nari di atas kemelaratan rakyat, berlaku sewenang-wenang, menangkap orang-orang tak berdosa, merampas gadis-gadis begitu saja…”

“Tutup mulutmu! Kau tak tahu dengan siapa kau bicara!” Tiba-tiba pemuda tampan itu melompat maju dan “plak! Plak!” kedua pipi Kun Hong ditamparnya kanan kiri. Mata pemuda tampan itu berapi-api, marah sekali ia rupanya.

“Jangan, Tan-ji….! Mundurlah… betapapun juga, dia bicara tentang kenyataan, tentang kebenaran dan keadilan!”

“Tapi ia kurang ajar, Pek-hu. Ah, muak perutku melihatnya!” Pemuda tampan itu dengan marah lalu meninggalkan ruangan. Tan-taijin lalu bangkit dari bangkunya dan maju melepaskan belenggu tangan Kun Hong. Pemuda ini tidak merasa girang atau heran, hanya mengangkat kedua tangan mengusap kedua pipinya yang masih ada tanda lima jari merah bekas ditampar tadi. Panas tamparan tadi, tapi lebih panas lagi hatinya.

“Huh, laki-laki macam apa dia? pesolek dan galak, seperti banci saja!” gerutu Kun Hong dengan hati mengkal. Tan-taijin tersenyum ketika berkata,

“Kaumaafkanlah dia, dia itu masih seperti anak kecil saja, Kwa-sicu, semua omonganmu tadi memang tepat, akan tetapi kau hanya tahu ekor tak melihat kepalanya, tahu satu tidak tahu dua. Kau mengaku dari Hoa-san dan she Kwa, sebetulnya kau masih ada hubungan apakah dengan Ketua Hoa-san-pai, Kwa Tin Siong Tai-hiap?”

“Saya… anaknya….” jawab Kun Hong agak gagap, sama sekali tidak mengira bahwa agaknya pembesar ini mengenal ayahnya.

“Ha-ha-ha, sudah kuduga!” kata Tan-taijin girang, kemudian ia mengelus jenggot dan menarik napas panjang. “Kau bersemangat seperti ayahmu. Hemm, tapi sebagai putra Ketua Hoa-san-pai, bagaimana kau tidak pandai ilmu silat? Tapi, hal itu bukan urusanku. Sekarang tentang dua orang gadis itu, kaubilang mereka itu adalah keponakanmu. Kalau begitu….” Pembesar itu mengingat-ingat, “apakah mereka itu keturunan dari Saudara Thio Ki ataukah Saudara Kui Lok!”

Makin heranlah Kun Hong. Kiranya pembesar ini banyak mengenal keluarga Hoa-san-pai!

“Dugaan Taijin tidak keliru, Li Eng adalah puteri Paman Kui Lok, sedangkan Hui Cu adalah puteri Paman Thio Ki,” katanya tepat dan kini ia mulai memperhatikan wajah yang tampan dan gagah dari pembesar bertubuh raksasa itu.

Bukan main kagetnya hati Tan-taijin. “Ah, aku harus cepat membebaskan mereka! Kwa Kun Hong, ketahuilah, aku adalah sahabat baik dari ayahmu dan semua orang Hoa-san-pai, bahkan sahabat seperjuangan. Sekarang terpaksa kau berdiam dulu dalam kamar tahanan, aku perlu pergi ke Istana Kembang membebaskan dua orang gadis itu.” Kun Hong girang sekali akan tetapi sebelum ia sempat menyatakan terima kasihnya, pembesar itu menepuk tangan dan masuklah beberapa orang pengawal.

“Antarkan kembali pemuda ini ke dalam kamar tahanan, akan tetapi jangan dibelenggu dan perlakukan sebagai tamuku!” Para pengawal itu memberi hormat dan dengan halus Kun Hong digandeng pergi dari ruangan itu. Dengan sudut matanya Kun Hong berusaha mencari pemuda tampan yang tadi menampar pipinya, akan tetapi tidak terlihat dan diam-diam ia berjanji kelak akan membalas tamparan ini. Baru kali ini bisa timbul dendam di hati Kun Hong, suatu hal yang baginya sendiri teramat aneh.

Tergesa-gesa Tan-taijin malam hari itu juga pergi menuju ke Istana Kembang dengan maksud membebaskan Li Eng dan Hui Cu dari tahanan. Ia kuatir sekali kalau-kalau kedatangannya terlambat. Kalau sampai dua orang gadis itu diganggu oleh Pangeran, hal ini akan mempunyai akibat yang hebat sekali. Mereka adalah putera-puteri tokoh Hoa-san-pai, kalau terjadi hal ini berarti Pangeran telah menodai nama baik Hoa-san-pai. Tidak saja pihak Hoa-san-pai tentu takkan dapat menerimanya, bahkan dunia kang-ouw akan geger karenanya, terutama sekali saudara angkatnya, Si Raja Pedang Tan Beng San yang mempunyai hubungan erat dengan Hoa-san-pai, tentu akan menyesal bukan main, paling perlu ia membebaskan dua orang gadis itu dulu, baru pada keesokan harinya ia boleh bicara dengan Pangeran Mahkota. Kalau ia menceritakan keadaan yang sebenarnya dan tentang jasa-jasa Hoa-san-pai, kiranya Pangeran takkan menyesal dengan dibebaskannya dua orang gadis itu. Andaikata Pangeran tetap menyesal, ia dapat mempergunakan pengaruh Kaisar untuk meredakannya atau kalau perlu, demi kepentingan ini, ia rela mengundurkan diri, kembali ke dusun. Kata-kata Kun Hong tadi membangkitkan semangatnya, membuat ia terkenang akan keadaan dahulu dan diam-diam ia harus mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia hidup di istana, memang hampir terlupa olehnya bahwa rakyat hingga sekarang masih banyak yang menderita!

Akan tetapi, setibanya ia di Istana Kembang, ternyata kedatangannya telah terlambat! Bukan terjadi seperti yang ia kuatirkan. Pangeran Mahkota tidak sempat mengganggu dua orang gadis itu karena belum datang malam itu, masih di istana. Akan tetapi terjadi lain hal yang hebat, yaitu, dua orang gadis itu telah berhasil melarikan diri dan seluruh penghuni Istana Kembang itu, dua orang selir Pangeran yang bertugas membujuk dua orang gadis itu, empat orang pelayan wanita yang bertugas melayani, dan lima orang perajurit pengawal yang tinggi juga kepandaiannya, semua telah tewas! Dua orang gadis Hoa-san-pai itu lenyap dan sebelas orang manusia terbunuh. Istana Kembang yang indah, yang biasanya menjadi tempat peristirahatan Pangeran, sekarang menjadi tempat menyeramkan dengan darah berceceran dan mayat ber-gelimpangan!

Tan-taijin kaget sekali, membanting-banting kedua kaki. Ia menyesal mengapa Pangeran begitu gegabah, bermain kasar terhadap murid-murid Hoa-san-pai, juga ia menyesal sekali mengapa dua orang gadis itu setelah berhasil melarikan diri, berlaku begini ganas dan kejam? Cepat ia melakukan pemeriksaan dan sebentar saja para jagoan dari istana berdatangan ketika mendengar peristiwa hebat itu. Sebetulnya apakah yang telah terjadi?

Seperti telah kita ketahui, karena sama sekali tidak menyangka akan diserang dan juga karena memang kepandaian Ang-moko dan Bong-lokai amat tinggi, Li Eng dan Hui Cu secara tiba-tiba tertotok roboh dan mereka ini sama sekali tidak melawan ketika dibawa ke dalam Istana Kembang dan ditahan di dalam sebuah kamar yang indah dan mewah. Sebelum meninggalkan dua orang gadis tawanan ini kepada dua orang selir Pangeran yang diserahi tugas untuk membujuk halus, lebih dulu mengikat tangan nona itu agar kalau nanti kembali dari totokan, takkan mengamuk. Kemudian para jagoan meninggalkan Istana Kembang untuk memberi laporan kepada Pangeran yang tadi pulang terlebih dulu. Pada malam hari itu, selagi Tan-taijin memeriksa Kun Hong dan Pangeran Mahkota dengan girang mendengarkan laporan para jagoannya bahwa dua orang dara remaja yang dirindukannya itu telah tertawan, terjadilah hal yang hebat di Istana Kembang itu. Sesosok bayangan berjalan lambat memasuki pekarangan istana itu. Orang ini sudah tua, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kekar, jalannya sempoyongan dan tenggorokannya mengeluarkan suara meringik-ringik atau merintih-rintih seperti orang menangis. Akan tetapi mulutnya terdengar menggerutu, “Anak murid Hoa-san-pai? Ha, anak murid Hoa-san-pai….”

Lima orang perajurit pengawal yang bertugas menjaga Istana Kembang di malam itu, terheran-heran melihat datangnya seorang kakek berpakaian putih di situ. Mereka mengira bahwa tentulah seorang pengemis gila, maka seorang di antaranya segera membentak,

“Hee! Kakek gila, keluar kau”

Akan tetapi kakek berpakaian putih ini seperti tidak mendengar bentakannya, terus melanjutkan perjalanannya melewati pekarangan menuju ke pintu depan. Tentu saja lima orang pengawal itu menjadi marah dan juga curiga. Dengan gerakan cepat mereka melompat dan tahu-tahu mereka sudah berdiri menghadang di depan kakek itu.

“He, Kakek! Apa kehendakmu dan siapa kau?” tegur seorang di antara mereka dengan sikap mengancam.

Kakek itu tetap tidak mengacuhkan mereka, memandang pun tidak, hanya menggumam, “Anak murid Hoa-san-pai…”

Lima orang itu makin curiga dan mereka sudah meraba gagang golok dan pedang. Jangan-jangan orang ini adalah teman gadis-gadis yang ditahan dan hendak merampasnya, pikir mereka.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: