Rajawali Emas (Jilid ke-21)

“Siapa kau? Jangan main-main di sini, orang gila. Keluar atau kau akan merasakan tajamnya golokku!” seru seorang di antara mereka sambil mencabut goloknya. empat orang yang lain juga sudah mencabut senjata masing-masing.

Namun kakek itu agaknya benar-benar gila. Ringik tangis di tenggorokannya masih terdengar terus dan bibirnya tiada hentinya berkata, “Serahkan padaku anak murid Hoa-san-pai….” Sementara itu kedua kakinya masih terus melangkah ke arah pintu, agaknya hendak memaksa memasuki istana itu.

“Orang gila sudah bosan hidup!” teriak para pengawal marah dan berbareng mereka menggerakkan senjata, ada yang menusuk paha, ada yang membacok pundak, pendeknya mereka hendak merobohkan kakek itu tanpa membunuhnya. Akan tetapi semua bacokan itu mengenai angin belaka, padahal kakek itu kelihatannya tidak mengelak sama sekali! Para pengawal itu terkejut bukan main dan mereka sadar bahwa orang gila ini bukanlah orang sembarangan. Namun kesadaran mereka terlambat karena dengan sekali renggut saja kakek itu telah mencabut sebatang pohon bunga di depan istana, tercabut berikut akar-akarnya pohon sebesar paha orang itu, kemudian tanpa banyak cakap lagi ia menghajar lima orang pengawal dengan pohon ini! Lima orang pengawal itu mencoba sedapat mungkin untuk menangkis atau mengelak, meloncat ke sana ke mari, namun sia-sia belaka, Tak sampai lima menit mereka semua telah roboh dengan kepala pecah dan tulang-tulang patah tanpa nyawa lagi! Setelah merobohkan lima orang ini, kakek gila tadi melemparkan batang pohon secara sembarangan, lalu berjalan terus dengan langkah lebar ke pintu. Pintu itu terpalang dari depan, namun sekali dorong daun pintu yang tebal itu terbuka, palangnya patah-patah dan sambil mengomel panjang pendek dan ringik tangis masih terdengar, kakek ini melangkah masuk.

Dua orang pelayan wanita muncul dengan kaget dari dalam. Mereka menjerit ngeri ketika melihat seorang kakek aneh berjalan masuk dan daun pintu telah roboh dan pecah. Kakek itu agaknya marah mendengar jeritan mereka. Tangannya bergerak ke arah mereka dan pelayan itu roboh terjungkal, mati tanpa dapat bersambat lagi. Lalu kakek ini melangkah terus.
“Anak murid Hoa-san-pai, mana anak murid Hoa-san-pai?” demikian terdengar ia bicara perlahan. Semua pintu kamar dibukanya dan ia mencari terus sampai ke kamar di sebelah belakang.

Pada saat itu, dua orang selir Pangeran dengan lagak genit dan centil sekali tengah membujuk Li Eng dan Hui Cu yang terbelenggu di atas pembaringan. Mereka membujuk-bujuk agar supaya dua orang gadis itu menurut saja menjadi selir Pangeran, malah tanpa malu-malu lagi dua orang wanita yang sudah tidak mengenal lagi kesusilaan ini menceritakan hal-hal yang tak patut didengar telinga sopan, memuji-muji Pangeran yang muda dan tampan itu dan betapa senangnya menjadi selirnya. Mula-mula Li Eng dan Hui Cu memaki-maki, akan tetapi lama-lama mereka lelah sendiri dan meramkan mata, sama sekali tidak mau melihat atau mendengar lagi. Kalau saja tangan mereka tidak terbelenggu, pasti sekali pukul mereka merobohkan dua orang yang tak tahu malu ini. Sementara itu, dua orang pelayan wanita juga berada di dalam kamar untuk melayani dua orang selir tadi.

Tiba-tiba pintu kamar itu terdorong dari luar, terbuka dan masuklah Si Kakek tadi. Dua orang selir Pangeran itu bukanlah wanita-wanita lemah, mereka melompat dan menyambar pedang masing-masing.

“Siapa kau….?” Belum habis gema suara ini, dua orang selir itu telah terlempar dan kepala mereka terbentur tembok, pecah dan tewaslah mereka. Diam-diam kaget sekali hati Li Eng dan Hui Cu melihat betapa dengan gerakan kedua tangannya, kakek ini melakukan pukulan jarak jauh yang mampu membinasakan dua orang selir itu. Adapun dua orang pelayan yang menjadi ketakutan segera menjerit-jerit. Akan tetapi dua kali tendangan menamatkan hidup mereka. Sekaligus kakek ini telah membunuh empat orang di dalam kamar itu, dua orang di luar kamar dan lima orang di luar rumah. Kemudian ia menghampiri Li Eng dan Hui Cu, memandang sejenak lalu terdengar ia berkata,

“Anak murid Hoa-san-pai….?” Li Eng dari Hui Cu tidak tahu siapa kakek ini dan apa gerangan maksudnya dengan perbuatannya yang mengerikan itu, tidak tahu pula apa maksudnya bertanya tentang anak murid Hoa-san-pai. Akan tetapi karena dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tokoh luar biasa di dunia kang-ouw dan tentu mengenal baik Hoa-san-pai, Li Eng yang lebih tabah itu menjawab,

“Benar, Locianpwe, kami berdua adalah murid Hoa-san-pai….” Tiba-tiba kakek itu menggerakkan kedua tangan dan lain saat tubuh Li Eng dan Hui Cu telah dipanggulnya di kanan kiri atas pundaknya, kemudian bagaikan terbang ia berlari keluar dari istana yang penghuninya telah dibunuhnya semua itu!

Ketika kota raja geger dan pintu pintu gerbang kota raja sudah ditutup dan dijaga keras, kakek ini telah lama meninggalkan kota raja dengan memanggul dua tubuh gadis itu. Ia berlari terus secepat angin menembus gelap malam dan menjelang tengah malam tibalah ia di sebuah hutan, langsung memasuki hutan itu dan menuju ke sebuah kelenteng, kuno yang sudah kosong.
Ia masuk di ruangan belakang kelenteng itu yang ternyata bersih. Melihat betapa di dalam gelap ia dapat bergerak leluasa, dapat diduga bahwa ia sudah hafal akan tempat ini. Sambil meringik-ringik terus ia melepaskan dua tubuh dara itu ke atas lantai secara kasar, mulutnya tiada hentinya berbisik.'”Anak murid Hoa-san-pai… hemm, anak murid Hoa-san-pai…”

Li Eng dan Hui Cu sudah terbebas dari totokan dan kini mereka berusaha melepaskan belenggu yang mengikat kedua tangan mereka. Tentu saja mereka dapat menggerakkan kaki dan andaikata menghadapi seorang biasa saja, dengan kaki mereka dua orang dara perkasa ini sanggup merobohkannya. Akan tetapi kini mereka menghadapi seorang kakek aneh yang saktl, tentu saja mereka tidak berani berlaku sembrono menyerang dengan kaki saja! Mereka mendapat kenyataan bahwa lantai itu licin dan bersih, dan mereka menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh kakek itu terhadap diri mereka, tiba-tiba terdengar bunyi benda-benda nyaring dan terjadilah api. Tak lama kemudian ruangan itu menjadi terang oleh sebatang lilin yang dipasang oleh kakek itu di atas sebuah meja sembahyang yang sudah butut. Ngeri juga hati dua orang gadis itu melihat wajah kakek yang tua dan menyeramkan tadi tersinar cahaya lilin. Kakek itu kini tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka.

“Heh-heh-heh-heh! Anak-anak murid Hoa-san-pai! Muda-muda dan cantik, tapi semua anak murid Hoa-san-pai genit-genit, cabul dan tidak tahu malu!”

“Kakek tua bangka gila!” Li Eng tak dapat menahan kemarahannya mendengar kata-kata yang amat menghina nama baik Hoa-san-pai ini. “Mulutmu kotor, kau manusia ataukah iblis? Kami orang-orang Hoa-san-pai selalu memegang tinggi kesopanan dan pribudi kebijaksanaan, jangan sembarangan kau menuduh!”

Kakek itu tertegun kaget mendengar suara ini dan melihat sikap Li Eng yang berani. Akan tetapi hanya sebentar karena ia terkekeh kembali.

‘”Heh-heh-heh! Sama saja semua. Kelihatannya memang sopan-sopan, lagaknya seperti pendekar-pendekar, akan tetapi begitu dekat laki-laki lalu menjadi cabul. Mempunyai anak di luar pernikahan, coba bilang, apakah itu tidak cabul dan tak tahu malu?”

“Keparat! tua bangka! Lepaskan belenggu ini dan mari kita bertanding untuk membela pendirian kita. Kau akan mampus di tanganku untuk menebus ucapanmu yang menghina Hoa-san-pai!” kata pula Li Eng.

“Heh-heh-heh, hendak kulihat kau akan mampu berbuat apa nanti. Tapi nanti, kau harus mengalami penghinaan lebih dulu. Semua wanita Hoa-san-pai harus mengalami penghinaan, sesuai dengan watak Hoa-san-pai yang hina” Ucapan ini disusul gerakan tangannya menyambar ke arah tubuh Li Eng.

“Brettt!” Baju yang menempel di tubuh Li Eng bagian atas hancur berkeping-keping dan bertaburan seperti daun-daun kering tertiup angin, Li Eng menjerit dan cepat menggunakan kaki menggulingkan tubuh sehingga yang hancur hanya pakaian bagian pundak dan leher saja, akan tetapi cukup banyak sehingga membuat tubuh atasnya setengah telanjang. Mula-mula ia memaki-maki marah, akan tetapi makiannya berubah menjadi jerit mengerikan ketika ia melihat kakek itu mendekatinya dengan muka seperti iblis dan dari pandangan matanya jelas tampak nafsu untuk menghina, untuk membikin malu dan merendahkan dua orang gadis itu. Sementara itu, Hui Cu sudah bangkit berdiri dan memandang dengan muka pucat. Gadis ini belum diganggu, mungkin karena sejak tadi ia diam saja, tidak seperti Li Eng yang memaki-maki sehingga agaknya kemarahan kakek aneh itu ditumpahkan kepada Li Eng semua.

Melihat kakek itu seperti gila, Li Eng menjadi nekat. Ia maklum bahwa akan sia-sia membujuk kakek ini agar tidak melakukan hal-hal yang tidak patut. Ketika kakek itu bergerak maju hendak mencengkeramnya, Li Eng secepat kilat mengangkat kaki kanan menendang. Tendangannya hebat dan cepat, yang diarah adalah pusar tempat yang paling berbahaya. Namun, sambil terkekeh-kekeh kakek itu menangkis ke bawah dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menjangkau ke depan.

Li Eng membuang dirinya ke belakang, bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan kakek itu. “Heh-heh-heh, anak murid Hoa-san-pai, kau hendak lari ke mana?” katanya sambil mengejar terus. Pada saat itu, dari belakangnya menyanbar angin tendangan Hui Cu yang tidak bisa berdiam diri saja melihat Li Eng terancam. Namun tubuh Hui Cu malah terpental dan gadis ini roboh terguling ketika tangan yang amat kuat menangkis kakinya.

“Enci Cu, lari….!” tiba-tiba lilin di atas meja padam, ternyata Li Eng telah mempergunakan kesempatan ketika Hui Cu menyerang kakek itu tadi untuk melompat ke dekat meja dan meniup padam lilin di atas meja, kemudian ia berteriak mengajak Hui Cu lari. Hui Cu maklum bahwa usaha itu tidak banyak harapannya, namun itulah jalan satu-satunya, yakni mencoba untuk melarikan diri ke dalam hutan yang lebat itu. Ia pun lalu meloncat berdiri dan secepat kilat ia lari menerobos pintu, keluar kelenteng. Dua orang gadis itu lari tersaruk-saruk, dan jatuh bangun di dalam gelap, akan tetapi akhirnya mereka sampai juga di luar kelenteng dan ternyata keadaan di situ tidak segelap di dalam karena bulan sudah muncul.

Namun, alangkah mendongkol, gelisah dan kecewanya mereka ketika mereka tiba di luar kelenteng, kakek tadi sudah berada di situ pula, berdiri tegak sambil terkekeh-kekeh mengejek. Entah kapan kakek itu keluar, dan hal ini saja menambah bukti betapa saktinya kakek aneh yang seperti orang gila ini.

“Locianpwe, harap kau jangan menganggu kami,” tiba-tiba Hui Cu yang sejak tadi diam saja kini mengeluarkan suara, menurutkan pikirannya yang mendapatkan sebuah akal. “Kami sedang dalam perjalanan menuju ke Thai-san untuk memberi hormat kepada paman kami Raja Pedang Tan Beng San. Harap kau orang tua memandang muka Paman Tan Beng San dan suka membebaskan kami berdua!” Hui Cu mendapatkan akal ini untuk membawa nama Tan Beng San yang tentu saja dikenal semua tokoh persilatan, agar kakek itu menjadi sungkan dan mundur.
Siapa kira, mendengar kata-kata ini kakek itu menjadi makin menggila. Ia membanting-banting kakinya dan berteriak,

“Tan Beng San si keparat jahanam? Mana dia biar kuhancurkan kepalanya, seperti ini!” Ia menghantam ke kiri dan sebatang pohon sebesar paha orang segera tumbang dengan sekali pukul.

Kemudian ia terkekeh-kekeh lebih menyeramkan. “Kau keponakan Tan Beng San? Heh-heh-heh kebetulan sekali, kau harus merasai bagaimana dihina dan disakiti orang!” kalau tadi ia menumpahkan kemarahannya kepada Li Eng yang memaki-makinya kini ia mulai menubruk ke arah Hui Cu. Gadis ini terkejut dan mengelak ke kiri, akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu, ia terhuyung-huyung, dan cengkeraman kakek itu mengenai tali rambutnya sehingga rambutnya terlepas, terurai ke atas pundaknya.

Sambil terkekeh-kekeh kakek itu menubruk lagi namun kini Li Eng maju menolong Hui Cu, mengirim tendangan berantai dari belakang. Betapapun lihainya gadis ini, dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang, keseimbangan tubuhnya sukar diatur maka tendangan berantai yang mestinya cepat dan dahsyat itu menjadi kurang daya serangan. Apalagi yang diserang adalah seorang kakek yang sakti. Dengan sedikit miringkan tubuhnya dan membabat dengan tangan kiri, tubuh Li Eng kena dibikin terpelanting dan untuk sekian kalinya gadis ini rebah mencium tanah!

Kakek itu kini melangkah perlahan mendekati Hui Cu yang sudah berdiri dengan tubuh gemetar saking lelah dan gelisahnya. Ia sudah mengambil keputusan nekat, kalau tidak dapat menghindarkan diri dari kakek gila ini, ia akan menyerang dengan kepalanya untuk membunuh atau terbunuh! Pada saat yang amat berbahaya bagi Hui Cu ini, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam disusul bentakan keras. “Kakek jahat, pergilah!” Bayangan itu menyambar ke arah kakek itu. “Dukk!” dua tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang, disusul seruan kaget bayangan itu dan seruan heran Si Kakek tadi. Agaknya pertemuan kedua tangan itu membuat mereka kaget karena ternyata bahwa lawan amatlah tangguh. Kembali bayangan itu dengan gerakan yang cepat sekali menyambar, tangan kiri menghantam akan tetapi segera disusul tangan kanan yang memukul sedangkan tangan kanan kiri ditarik pulang.

“Plak! Plak!” Kembali keduanya terhuyung hampir roboh karena telah saling bertukar pukulan. Pukulan bayangan itu mengenai sasaran tetapi pada saat yang sama Si Kakek berhasil pula memukulnya! Bayangan itu di samping kekagetannya, marah. Terdengar ia mengeluarkan bunyi melengking keras lalu tubuhnya berkelebat menyerang kakek itu dengan dahsyat sekali. Kakek itu pun tidak tinggal diam, menggereng dan menyambut serangan ini, malah kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking juga seperti orang menangis. Dua lengkingan aneh bercampur menjadi satu dan Hui Cu cepat mengerahkan Iwee-kangnya untuk menahan guncangan pada jantungnya. Demikian pula Li Eng segera maklum bahwa dua orang itu adalah ahli-ahli Iwee-keh yang amat tinggi kepandaiannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari jauh, lengking meninggi seperti tangisan, persis lengking yang keluar dari tenggorokan kakek itu.

“Ha, anak baik, lekas datang!” kakek itu berseru girang.

Bayangan yang melawan kakek itu tampak gelisah, lalu menyerang dahsyat lagi. Serangan yang amat aneh, kedua lengan memukul, tubuh menerjang seperti terbang dan kedua kakinya menendang di udara. Kakek itu berteriak keras dan menghadapi terjangan ini dengan keempat kaki tangannya pula. Akibatnya kakek ini terguling karena ia terkena sebuah pukulan dan sebuah tendangan, sebaliknya bayangan itu pun terhuyung karena pukulan keras Si Kakek. Namun bayangan itu tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menyambut Hui Cu pada pinggangnya dan membawa pergi gadis ini seperti burung terbang cepatnya.

Kakek itu yang agaknya maklum pula akan kelihaian lawan yang telah menculik atau merampas seorang tawanannya, tidak mengejar, sebaliknya, ia lalu menangkap Li Eng dan menyeret gadis ini kembali ke dalam kelenteng. Setelah melempar gadis itu ke atas lantai, ia menyalakan lilin yang tadi padam. Kemudian ia berbalik memandang Li Eng yang sudah bangkit berdiri kembali, sikapnya mengancam dan katanya dengan suara parau,

“Kau anak murid Hoa-san-pai sekarang kau akan merasai penghinaan sebesarnya, setelah itu kau mampus!” Ia melangkah mendekat, Li Eng melejit dan hendak lari namun sekali sambar tangan gadis itu telah dipegangnya, Li Eng mengangkat kaki menendang, namun tidak mengenai sasaran. Gadis ini tak dapat melepaskan diri lagi, menjerit dan meronta.

“Kong-kong (Kakek), apa yang kau lakukan ini??” tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan tahu-tahu seorang pemuda gagah telah berdiri di dalam kamar itu. Kakek itu melepaskan tubuh Li Eng yang menjadi lemas dan terpelanting saking lelah dan ngerinya tadi, kemudian kakek itu tertawa dan berkata,

“Aku pun muak dan sebal karena terpaksa harus melakukan perbuatan ini. Kalau saja dia bukan anak murid Hoa-san-pai, tentu sekali pukul kubikin remuk kepalanya, habis perkara. Tapi dia anak murid Hoa-san-pai. Ha-ha-ha, Kong Bu, kau tahu apa artinya itu. Anak murid Hoa-san-pai, terutama yang perempuan, semua adalah orang-orang hina. Pembunuh ibumu! Uh-uh, satu persatu harus dibasmi, dihina lebih dulu baru dibelek dadanya dikeluarkan jantungnya.”

Pemuda itu melangkah maju, memandang kepada Li Eng lebih tajam penuh perhatian, kemudian ia mendengus penuh kebencian. “Hemm, Kong-kong, seperti dia inikah anak murid Hoa-san-pai pembunuh mendiang ibuku?”

“Ya ya, seperti ini. Cantik menarik, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kong Bu, kau sudah datang, kebetulan sekali. Kuserahkan dia kepadamu, lakukanlah sesukamu terhadap dia, kau boleh hina dia, permainkan dia, kemudian bunuhlah. Aku akan mengejar yang seorang lagi, yang tadi dirampas orang lain. Nah, aku pergi… heh-heh, kebetulan kau datang, aku… aku muak dan sebal kalau harus menyentuh wanita… aku sudah tua.” Sekali berkelebat kakek itu sudah meluncur lewat dan lenyap.

“Kong-kong di mana kita dapat bertemu kembali?”

Dari jauh terdengar jawaban sayup-sayup,”…di Thai-san….”

Siapakah kakek aneh dan sakti ini dan siapa pula pemuda yang menjadi cucunya bernama Kong Bu? Kiranya pembaca yang sudah dapat menduga siapa adanya kakek itu. Dia bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung, tokoh nomor satu di dunia barat, seorang sakti yang berwatak aneh sekali dan kadang-kadang bisa bersikap kejam melebihi iblis. Adapun pemuda gagah dan tampan bernama Kong Bu itu bukan lain adalah anak dari Kwee Bi Goat dan Tan Beng San. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, bayi itu dibawa lari Song-bun-kwi dan dipeliharanya baik-baik, diajar ilmu silat sehingga menjadi seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya.

Tentu saja mudah diketahui sebabnya mengapa Song-bun-kwi bersikap sedemikian kejamnya terhadap Li Eng dan Hui Cu. Secara kebetulan sekali Song-bun-kwi sedang berada di kota raja dan ia mendengar dari para pengemis bahwa ada dua orang gadis anak murid Hoa-san-pai diundang oleh Pangeran Mahkota. Di dalam hati Song-bun-kwi, semenjak ia kematian anaknya, timbul dendam yang hebat terhadap Hoa-san-pai. Bukankah Kwa Hong yang menyebabkan kematian anaknya itu anak murid Hoa-san-pai?

Oleh karena inilah, begitu mendengar tentang dua orang gadis anak murid Hoa-san-pai di kota raja, ia menggunakan kesempatan ini untuk menawan dua orang gadis itu untuk dihina dan dibunuh sebagai pembalasan dendamnya terhadap Hoa-san-pai!

Memang jalan pikiran seorang seperti Song-bun-kwi amat aneh dan kadang-kadang lebih ganas dari iblis sendiri.

Kong Bu semenjak kecil hidup bersama Song-bun-kwi, tentu saja ia pun mempunyai watak aneh seperti kakeknya. Namun pada dasarnya ia tidak mempunyai watak kejam seperti Song-bun-kwi, malah agak pendiam seperti ibunya, keras hati pula. Semenjak kecil pemuda ini dijejali rasa dendam oleh kakeknya, diceritakan bahwa ibunya yang tercinta mati karena kekejian anak murid Hoa-san-pai. Diceritai pula bahwa ayahnya bernama Tan Beng San telah meninggalkan ibunya, karena tergoda oleh siluman cantik murid Hoa-san-pai, sehingga ibunya “makan hati” dan meninggal dunia. Ditanamkan bibit kebencian dan dendam sejak kecil sehingga pemuda ini mau tidak mau membenci apa-apa yang “berbau” Hoa-san-pai, malah selalu ditekan oleh kong-kongnya, bahwa kelak ia harus dapat membalaskan sakit hati ibunya dengan jalan membunuh ayahnya yang berdosa terhadap ibunya!

Demikianlah, kini Kong Bu dihadapkan dengan seorang gadis Hoa-san-pai. Di bawah penerangan api lilin, dia menatap wajah Li Eng yang kini perlahan-lahan bangkit berdiri dan balas memandangnya. Bukan main cantik jelitanya gadis ini. Pakaian sebelah atas yang koyak-koyak sebagian itu menambah hebatnya daya tarik sehingga Kong Bu tak kuat memandang lebih lama lagi. Kong Bu membuang muka dan merasa betapa bulu tengkuknya berdiri, meremang dan terasa dingin pada tulang punggungnya.

Cantik jelita, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kata-kata kakeknya ini berkumandang dalam telinganya dan kembali Kong Bu bergidik. Sifat siluman betina, iblis dalam tubuh seorang wanita cantik. Banyak sudah ia melihat wanita cantik, terutama kalau ia diajak kakeknya menyusup ke dalam istana untuk sekedar melihat-lihat atau mencuri makanan. Akan tetapi harus diakui bahwa belum pernah selama hidupnya ia berhadapan atau melihat seorang gadis seperti ini! Dan kakeknya sudah menahan gadis ini, sekarang memberikan kepada dia. Dia boleh membuat sesuka hatinya terhadap gadis ini dan kemudian membunuhnya. Dia boleh menghinanya, mempermainkannya, hemm, apakah maksud kakeknya? Sungguhpun pikiran Kong Bu tidak sampat ke situ, namun perasaannya membuat ia dapat menduga, penghinaan apakah yang paling hebat bagi seorang gadis. Melihat baju yang koyak-koyak itu, yang memperlihatkan sebagian dari kulit yang halus, jantungnya berdebar tidak karuan membuat ia membuang muka dan tidak berani lagi memandang kulit di balik baju koyak itu.

Di lain pihak, Li Eng merasa agak lega karena ia terlepas dari ancaman yang lebih mengerikan daripada maut di tangan kakek gila tadi. Malah ia mendapatkan harapan untuk terlepas pula dari tangan pemuda ini. Tak mungkin pemuda ini selihai kakek tadi. Kalau saja ada kesempatan bagiku, pikir Li Eng dan pandang matanya mengukur-ukur sementara kedua kakinya menegang, siap mengirim tendangan yang mematikan. Tapi bagaimana kalau tendangannya tak berhasil? Li Eng ragu-ragu. Kalau saja kedua tanganku bebas. Ataukah lebih baik ia merayu pemuda ini dan membujuknya agar suka membuka belenggunya? Kalau sudah bebas kedua tangannya, kiranya takkan sukar membunuhnya! Tapi pikiran ini membuat mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar. Sampai mati sekalipun tak mungkin ia dapat melakukan pekerjaan itu, membujuk rayu seorang laki-laki! Ia teringat kepada pamannya, Kwa Kun Hong. Biarpun lemah, pamannya itu cerdik. Apa yang akan dilakukan pamannya dalam keadaan begini? Apakah masih terus hendak mengalah saja? Ah, bagaimana nasib pamannya? Bagaimana pula nasib Hui Cu yang tadi dilarikan oleh seorang laki-laki yang luar biasa pula? Aku harus bebas dulu, baru dapat menolong Enci Cu dan Paman Hong, pikirnya.

Tiba-tiba Li Eng berseru keras dan kaki kanannya melayang menendang pusar pemuda yang sedang berdiri bengong, Li Eng menahan seruannya ketika kakinya bertemu dengan benda yang keras sekali, tapi tubuh Kong Bu terlempar seperti tertiup angin, terbanting pada dinding dan terpelanting jatuh. Akan tetapi seperti karet saja, ia sudah berdiri lagi dan memandang kepada Li Eng dengan alis terangkat. Ia tidak apa-apa. Celaka, Li Eng mengeluh dalam batin, kiranya pemuda ini tidak kalah lihainya dari kakek tadi. Tendangannya tepat sekali, akan tetapi pemuda itu hanya terlempar, luka sedikit pun tidak, malah kelihatannya tidak merasa sakit. Kini pemuda itu berjalan lambat-lambat menghampiri, dengan mata memandang tajam dan alisnya yang tebal itu bergerak-gerak.

“Kenapa kau menendangku? Benar-benar kau berhati curang, kenapa kau menendangku?”

Li Eng tertegun. Biarpun sama lihai, pemuda itu agaknya tidak seliar kakek tadi, sungguhpun sama pula anehnya. Pertanyaan yang aneh pula, bagaimana ia bisa menjawab? “Hemmm,” katanya dengan nada mengejek dan mengumpulkan semangat agar jangan kelihatan rasa takut dan gelisahnya, “Kenapa aku menendangmu? jawab dulu, kenapa kau menawanku?”

Kening pemuda itu makin berkerut “Karena kau anak murid Hoa-san-pai, yang cantik, muda belia, lihai, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Orang yang membikin celaka ibuku adalah anak murid Hoa-san-pai seperti kau. Maka sekarang kau harus mati setelah mengalami siksaan dan hinaan lebih dulu.”

Terbelalak mata Li Eng. Ancaman penghinaan lebih hebat dari maut baginya. Biarpun ia sendiri belum mengerti benar penghinaan apa yang dimaksudkan, namun seperti juga keadaan pemuda itu sendiri, gadis ini dengan perasaannya dapat menduga-duga yang membuat ia ketakutan dan ngeri setengah mati.

“Kau… kau pengecut besar!” tiba-tiba Li Eng berteriak dalam kengerian dan kebingungannya. Makiannya ini ternyata tepat mengenai sasaran, memukul kelemahan pemuda itu. Mendengar makian pengecut, Kong Bu meloncat dengan kedua tangan dikepal keras dan matanya seakan-akan hendak membakar diri Li Eng. Ia akan menerima dan dapat menahan dimaki apa saja, akan tetapi makian pengecut merupakan pantangan baginya. Dalam anggapannya, tidak ada sifat yang lebih rendah dari sifat pengecut!

“Apa kau bilang? Pengecut? Aku…pengecut?” Suaranya gemetar saking marahnya. “Buktikan… setan kau, hayo buktikan kalau aku… pengecut!”
Li Eng yang cerdik itu menahan gejolak hatinya yang girang karena akalnya berhasil. Ia sengaja menjebirkan bibirnya dengan lagak mengejek dan menghina.

“Seorang laki-laki yang mengganggap diri sendiri gagah, beraninya berlagak hanya kalau menghadapi lawan wanita yang dibelenggu kedua tangannya. Huh andaikata aku tidak terbelenggu, kiranya kau sudah lari jatuh bangun ketakutan. Apalagi namanya kalau bukan pengecut paling rendah!”

Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia mengeluarkan suara melengking tinggi yang membuat Li Eng kaget dan serem. Tiba-tiba pemuda ini mendekatinya, menggerakkan kedua tangan dan… belenggu yang mengikat Li Eng putus menjadi beberapa potong!

“Nah, putus sudah! Kau tidak terbelenggu lagi. Hayo, kau mau apa sekarang? Setan betina, tarik kembali makianmu pengecut tadi. Setan, kau menghinaku, ya? Hayo tarik kembali kata-kata pengecut tadi!”

Saking girangnya bebas, Li Eng untuk sejenak tak dapat menjawab, hanya menggosok-gosok pergelangan kedua tangan yang masih kaku-kaku untuk memulihkan jalan darahnya. Matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum manis, timbul kembali keberaniannya dan kepercayaan kepada diri sendiri.

“Sudah bebas kedua tanganku! Eh, kau belum juga lari jatuh bangun?”

“Tidak sudi! Mengapa harus lari? Aku bukan pengecut! Hayo katakan, aku bukan pengecut!” teriak Kong Bu makin marah.

Li Eng memandang dengan senyum ejekan yang amat menyakitkan hati pemuda itu.

“Apa? Kau tidak mau lari? Larilah, aku takkan mengejarmu sebagai upahmu sudah membebaskan tanganku dari belenggu.”

“Tidak sudi!!”

“Ah, kalau begitu ternyata kau sudah bosan hidup. Terpaksa kedua tanganku mengantar nyawamu ke neraka!” Li Eng cepat sekali menerjang maju dengan kedua tangannya memukul, susul-menyusul ke arah pelipis dan lambung.

Kong Bu yang marah sekali cepat menangkis kedua pukulan itu dan balas menyerang dengan sama keras dan dahsyatnya. Tadinya Li Eng memandang rendah dan mengejek sedangkan Kong Bu juga memandang rendah dan marah-marah. Akan tetapi makin lama mereka bertempur, makin lenyaplah perasaan merendahkan lawan, lenyap pula rasa mengejek dan marah, terganti oleh rasa keheranan besar dan sedikit kekaguman. Ternyata bahwa keduanya sama tangguhnya, atau hanya sedikit selisihnya! Kong Bu sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis ini demikian hebat ilmu silatnya, memiliki gerakan yang cepat bukan makin seperti burung walet saja sehingga kadang-kadang matanya berkunang. Di lain pihak, biarpun maklum bahwa pemuda itu bukan orang lemah, namun sama sekali di luar sangkaan Li Eng bahwa ternyata pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh, yang dapat mengimbangi Hoa-san Kun-hoat, malah memiliki tenaga dahsyat sehingga lengannya sakit-sakit dan panas tiap kali mereka beradu tangan. Mulailah ia merasa menyesal mengapa ia tidak bersenjata. Dengan pedang di tangan, kiranya ia takkan terdesak seperti ini. Mulailah nona yang cerdik ini mencari akal.

Ketika terdapat kesempatan baik, Li Eng berseru keras dan kedua kakinya bergerak dengan Ilmu Tendangan Soan-hong-tui (Tendangan Angin Puyuh), yang merupakan tendangan berantai dengan kedua kaki seperti kitiran angin. Yang dijadikan sasaran adalah pusar lawan. Menghadapi tendangan berantai yang amat berbahaya ini, Kong Bu berseru keras dan melompat mundur. Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Li Eng untuk melompat ke dekat meja dan menendang meja itu terbalik. Seketika keadaan menjadi gelap pekat karena lilin di atas meja itu terlempar dan apinya padam. Inilah yang dihendaki oleh Li Eng. Ia memiliki pendengaran tajam dan Iwee-kang yang sudah tinggi maka ia hendak mengandalkan dua kelebihan ini untuk melawan Kong Bu di dalam gelap!

Akan tetapi, sekali lagi ia kecele. Pemuda ini berseru keras, “Kau hendak lari ke mana?” Dan dari angin gerakannya tahulah Li Eng bahwa pemuda itu menerjang ke arahnya seakan-akan memiliki mata yang dapat menembus kegelapan. Terpaksa ia mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk menghadapi serbuan malam gelap ini. Kembali mereka bertempur, kini di dalam gelap dan ternyata malah makin seru dari tadi. Karena keadaan gelap sama sekali, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu bertempur hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan kegesitan gerakan saja. Makin lama makin terasa oleh Kong Bu akan kelihaian dara itu dan diam-diam ia merasa heran bagaimana kakeknya dapat menangkap gadis selihai ini dengan mudah. Apalagi berdua dengan gadis lain yang tidak ia ketahui sampai di mana tinggi kepandaiannya. Kalau dilihat keadaannya sekarang agaknya biarpun kakeknya sendiri, belum tentu dapat mengalahkan gadis ini dengan mudah.

Dengan penasaran sekali Kong Bu menggereng dan mengeluarkan ilmu yang paling ia andalkan, yaitu Yang-sin-hoat. Ilmu ini adalah inti ilmu Yang-sin Kiam-sut yang dahulu didapatkan oleh Song-bun-kwi dan telah diturunkan kepada pemuda ini. Yang-sin-hoat mengandalkan tenaga kasar dan ketika pemuda ini mainkan Yang-sin-hoat, Li Eng menjadi kewalahan. Sebagai seorang wanita, oleh kedua orang tuanya Li Eng dilatih ilmu-ilmu yang berdasarkan kehalusan, disesuaikan dengan keadaan tubuh dan sifat wanita. Maka ketika tadi lawannya menggunakan Iwee-kang, ia masih dapat melayani dengan baik. Sekarang, begitu lawannya berkelahi secara kasar dan keras, di mana pertemuan tenaga, mungkin dapat mematahkan tulang dan melecetkan kulit, Li Eng menjadi sibuk sekali. Ia mencari kesempatan dan begitu terdapat lowongan gadis ini melompat keluar dari kamar terus lari keluar dari kelenteng.

“He, kau hendak lari ke mana?” Kong Bu mengejar dengan lompatan keras sekali sehingga sekaligus ia dapat menyusul Li Eng. Dengan lompatan yang cepat sekali ini ia telah menubruk tubuh Li Eng dari belakang. Segera ia menggunakan kedua lengan untuk menangkapnya dan dua orang itu terguling roboh di luar kelenteng, bergumul di atas tanah. Namun Li Eng kalah tenaga, juga ia disikap dari belakang dengan mendadak, maka ia tidak berdaya dan Kong Bu berhasil menotok punggungnya, membuat gadis itu lemas tak dapat menggerakkan kaki tangannya lagi.

Kong Bu melepaskan Li Eng dan bangkit berdiri, mengatur napas. Ia terengah-engah dan lelah, juga tubuhnya sakit di sana-sini. Harus diakui bahwa baru kali inilah ia betul-betul berkelahi melawan seorang yang amat tangguh, Sekali lagi ia memandang ke arah di mana Li Eng rebah miring tak bergerak, di bawah sinar bulan seperti seorang gadis sedang tidur saja, ataukah seekor harimau betina sedang mendekam?

“Gadis liar!” gerutunya sambil mengelus lehernya yang mengeluarkan darah, terluka oleh kuku-kuku tangan Li Eng ketika bergumul tadi. Ia lari mengambil tali pengikat tangan Li Eng, keluar lagi dan setelah menyambung-nyambung tali yang kuat itu, ia membelenggu lagi kedua tangan Li Eng. Setelah itu ia membebaskan totokannya dan membentak,

“Hayo bangun berdiri!”

Begitu terbebas dari totokan, dengan marah, meluap-luap Li Eng meloncat bangun dan langsung kedua kakinya yang bebas itu mengirim tendangan berantai!

Kong Bu kaget dan dengan gugup ia mengelak ke sana ke mari karena tendangan-tendangan itu betul-betul mengarah bagian tubuh yang berbahaya dan mematikan. Akhirnya ia dapat menyambar kaki kiri Li Eng dan sekali dorong tubuh Li Eng roboh lagi.

“Gadis liar!” lagi-lagi ia memaki.

Li Eng sudah meloncat bangun lagi, berdiri tegak, kepala dikedikkan, mata berapi-api, gigi digeget, marah memenuhi dadanya.

“Hayo jalan, ikut denganku!” kata Kong Bu lagi.

“Tidak sudi! Mau bunuh boleh bunuh!” balas Li Eng, tak kalah ketus.

“Kepala batu!” Kong Bu memaki lagi dan tiba-tiba sebelum Li Eng sampai menduga apa yang akan dilakukannya, pemuda ini menubruk ke depan, langsung menangkap kedua kaki gadis itu dan mengangkat tubuhnya, terus dipanggul di atas pundaknya. Li Eng meronta-ronta, menendang-nendang, akan tetapi karena kedua tangannya diikat dan kedua kakinya dipeluk keras-keras oleh pemuda yang besar sekali tenaganya itu, ia tidak berhasil melepaskan dirinya. Akan tetapi, dengan menggerak-gerakkan tubuhnya bagian atas, mulutnya berhasil mendekati pundak dan dengan gemas ia menggigit pundak pemuda itu.

“Aduh… perempuan liar!” Kong Bu terpaksa melepaskan tubuh Li Eng yang terpelanting ke atas tanah. Pemuda ini memegangi dan mengusap-usap pundaknya yang luka berdarah dan bajunya robek tertembus gigi yang kecil-kecil putih akan tetapi kuat bukan main itu. Sakit sekali pundaknya, perih dan panas. Dengan marah ia maju lagi, mengangkat tangan hendak memukul pecah kepala Li Eng, akan tetapi entah bagaimana, ketika bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api dan penuh keberanian itu, kepalannya berubah menjadi totokan dan kembali Li Eng telah tertotok jalan darahnya, lemas dan tak dapat bergerak lagi.

“Hemmm, perempuan liar. Anak murid Hoa-san-pai, cantik jelita, muda belia, lihai tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kau harus disiksa dulu sebelum dibiarkan mati. Keparat, rasakan kau nanti!” Ia lalu mengangkat tubuh Li Eng yang sekarang tidak mampu meronta lagi itu, lalu memanggulnya.

Tiba-tiba ia berseru, “Ihhhh!” dan melepaskan tubuh Li Eng yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi terbanting di atas tanah. Apa yang membuat pemuda itu berseru kegelian dan melepaskan tubuh gadis itu? Li Eng sendiri tidak mengerti. Sebetulnya adalah karena ketika memanggul, kebetulan sekali sebagian pundak Li Eng yang tak tertutup bajunya yang sudah koyak-koyak itu menumpang pada pundak dan leher Kong Bu, tepat di bagian baju yang robek oleh gigitan Li Eng tadi. Sentuhan kulit halus hangat pada kulit leher dan pundaknya itulah yang membuat Kong Bu kaget dan geli tubuhnya serasa dimasuki aliran listrik yang membuat ia menggigil dan seketika membanting tubuh Li Eng ke atas tanah. Pemuda itu kini berdiri dengan leher terasa tebal dan tengkuknya berdiri semua. Akan tetapi mukanya terasa panas dan jantungnya berdebar keras. Perlahan-lahan dilepasnya baju luarnya, lalu diselimutkan pada tubuh atas Li Eng. Setelah melihat bahwa pundak gadis itu yang telanjang telah tertutup rapat, barulah ia membungkuk dan memanggul gadis itu kembali, dibawa lari secepatnya dari tempat itu, memasuki hutan.

Sementara itu, tanpa terasa selama dua orang ini ribut-ribut tadi, malam terganti fajar dan ketika Kong Bu memanggul Li Eng berlari-lari, ayam hutan mulai berkokok. Namun pemuda itu berlari terus, menuju ke arah tertentu. Pemuda itu tidak berkata apa-apa, juga Li Eng tidak mengeluarkan suara sungguhpun kemarahan gadis itu membuat kedua matanya meneteskan air mata. Ia tidak takut, hanya marah dan penasaran mengapa ia tidak mampu mengalahkan laki-laki gila ini.

Tiba-tiba terdengar suitan saling bersahut di dalam hutan itu. Cuaca mulai remang-remang karena dalam hutan penuh embun yang dingin menyusupi tulang-tulang. Tak lama kemudian suara suitan makin sering dan makin keras. Ketika tiba di dalam hutan yang penuh pohon-pohon besar, mendadak berlopmpatan belasan orang dari balik batang pohon dan Kong Bu terkurung oleh enambelas orang laki-laki yang tinggi besar, bercambang bauk dan membawa senjata tajam. Melihat sikap mereka yang kasar, mudah diduga mereka tentulah sebangsa perampok. Kong Bu tidak menjadi gugup, ia menurunkan tubuh Li Eng setelah terlebih dulu membebaskan totokannya pada punggung gadis itu. Tadinya saking marah dan lelahnya, Li Eng hampir pulas dalam panggulan pemuda itu, sekarang ia kaget dan sadar ketika merasa tubuhnya terguling  di atas tanah. Cepat ia menggerakna kaki dan girang mendapat kenyataan bahwa ia tidak lemas tertotok lagi, maka ia meloncat berdiri. Ia terheran-heran melihat belasan orang laki-laki kasar itu berdiri di situ dengan menyerigai dan sikap mengancam.

“Kalian menghadang perjalananku ada keperluan apa ?”  Kong Bu membentak, alisnya yang tebal menghitam itu berkerut tanda kesal hati menghadapi gangguan ini.

Sekarang di antara mereka, yang paling tinggi, melangkah maju dan tertawa bergelak sambil memandang ke arah Li Eng yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu “Ha-ha-ha, kiranya saudara seorang ahli pemetik bunga !  Wah, kawan-kawan, kita kecele kali ini !”  Belasan orang laki-laki mengeluarkan suara kecewa, akan tetapi ada yang ketawa-tawa dan memuji-muji kecantikan Li Eng.

“Sebetulnya kalian ini mau apakah ?”  Kong Bu membentak lagi, tak senang hatinya mendengar pujian-pujian tentang kecantikan Li Eng, dan lebih tak senang lagi melihat sikap mereka yang ceriwis terhadap gadis tawanannya.

“Hai, saudara muda, karena sealiran, kami takkan mengganggu. Kau boleh pergi melanjutkan perjalananmu akan tetapi kau tinggalkan bunga ini untuk kami, hitung-hitung tanda mata dan tanda persahabatan,”  kata pula pemimpin gerombolan itu memandang kepasa Li Eng dengan mata berminyak.

“Apa maksudmu ?  Bunga apa yang kau minta ?” Kong Bu yang belum mengerti itu membentak lagi.

“Aih-aih………kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu !”  Seorang perampok berolok-olok, “Tentu saja perempuan ini yang ditinggal………..” Baru saja sampai sini ia bicara, tiba-tiba tubuhnya terlempar jauh, terbanting ke atas tanah dan tidak dapat bangun kembali !

Bukan main marahnya para perampok ketika melihat orang muda yang mereka sangka lemah itu sekali tangkap sanggup melemparkan kawan tadi. Apa lagi kepalanya, dengan marah berteriak, “Kawan-kawan, bunuh anjing jantan ini, biar aku tangkap yang betina !”

Terjadilah pengeroyokan hebat. Akan tetapi, alangkah kaget hati para pengeroyok itu ketika pemuda itu menggerakan kaki tangan, empat orang perampok roboh dan mengaduh-aduh. Lebih-lebih kekagetan mereka ketika melihat kepala mereka begitu mendekati gadis yang terbelenggu itu tiba-tiba tertendang dadanya oleh gadis itu dan roboh sambil muntahkan darah segar. Tidak berhenti sampai di situ saja, gadis terbelenggu ini menggerak-gerakan kedua kakinya dan sebentar saja empat orang perampok roboh pula tak dapat bangun kembali.  Juga Kong Bu yang sudah marah menghajar para perampok itu. Sebentar saja beberapa orang roboh lagi. Mereka bagaikan rombongan laron mengeroyok api lilin. Setelah lebih setengah jumlah mereka yang roboh, yang lain lalu melarikan diri menyelinap di antara gerombolan pohon.

Kong Bu tidak memperdulikan mereka, lalu memandang kepada Li Eng. Sejenak ia bengong terlongong, menatap wajah gadis itu yang juga memandang kepadanya dengan mata terbelalak. Aduh hebatnya maya itu, demikian kesan pertama dihati Kong Bu. Malam tadi ia tidak dapat melihat wajah Li Eng dengan terang, tidak sejelas sekarang. Wajah yang luar biasa dan terutama matanya, seperti sepasang bintang pagi. Tapi ia teringat lagi akan kenyataan bahwa gadis ini adalah anak murid Hoa-san-pai, maka kemarahannya timbul pula. Apa lagi kalau teringat betapa dengan susah payah ia mengalahkan gadis ini malam tadi, malah masih perih dan panas pundaknya yang digigit. Sebaliknya, Li Eng juga tercengang ketika menyaksikan wajah yang tampan dan ganteng, yang sama sekali juh berlainan dengan wajah kakek malam tadi. Pemuda ini benar-benar gagah, mukanya lebar bulat, matanya jeli, alisnya hitam tebal, mulutnya membayangkan kekerasan hati. Tapi kalau ia teringat akan perlakuan pemuda ini kepadanya, hatinya marah dan mendongkol bukan main. Dan dia sudah dipanggul setengah malaman oleh pemuda ini !  Tiba-tiba Li Eng merasa mukanya panas dan ia berkata ketus.

“Aku tidak sudi kau …………pondong lagi !”

Merah kedua pipi Kong Bu, dan dengan ketus pula ia menjawab, “Siapa sudi memondongmu ?  Kalau kau tidak rewel dan mau jalan sendiri, akupun tidak sudi memanggulmu !”

Sejenak keduanya diam, saling pandang penuh kemarahan. Kong Bu marah mengapa gadis ini begini kasar dan galak, andaikata sikapnya halus dan penurut, agaknya ia takkan tega memperlakukannya seperti ini. Li Eng marah mengapa pemuda seperti itu bersikap sombong dan memandang rendah kepadanya. Andaikata tidak demikian sikap pemuda itu tentu ia akan menerangkan bahwa mereka mempunyai musuh sama, yaitu Kwa Hong.

Ia merasa yakin bahwa yang membuat pemuda ini dan kakeknya itu membenci anak murid Hoa-san-pai terutama yang perempuan, tentulah Kwa Hong.

“Kau hendak memaksaku pergi ke mana ?”

“Akan kau lihat sendiri nanti !”

“Akan kau apakan aku ?”

“Hemm, kau akan lihat sendiri !”

“Iblis kau !  Kalau hendak bunuh padaku, bunuhlah. Siapa takut mampus ?”

“Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja. Kata kakek, anak murid Hoa-san-pai terutama yang perempuan adalah siluman-siluman jahat, harus disiksa dan dipermainkan dulu sebelum dibunuh.”

“Kakekmu gila !”

“Mungkin, tapi tidak palsu dan hina seperti murid Hoa-san-pai yang menggoda ayahku dan membunuh ibuku !”

“Ah, kau juga gila !”

Kong Bu memandang dengan mata berapi, kemudian ia balas memaki, “Kau seorang gadis gila !”

“Kau hanya bisa meniru-niru !”

“Tidak, kau memang gila. Gadis normal tentu akan menangis dan minta ampun, tidak seperti kau yang begini nekat menantang maut.”

“Aku tidak takut !”

“Ha, ingin ku melihat nanti apakah betul-betul kau tidak mengenal takut.”

“Mau kau apakan aku ?”

Kong Bu tersenyum dan karena ingin ia melihat gadis ini membayangkan ketakutan pada wajah yang cantik dan selalu menantang penuh keberanian itu, ia berkata, “Aku hendak melepaskan kau di tempat yang penuh dengan anjing-anjing hutan, biar kau dikeroyok anjing hutan !”

Namun keinginan hatinya tidak terpenuhi, malah gadis itu menjebikan bibirnya yang merah sambil mengejek, “Phuuhh, siapa percaya omong kosongmu ?  Anjing kaki dua seperti kau aku tidak takut apa lagi segala macam anjing hutan !”

Kong Bu kalah bicara, lalu berkata marah, “Sudah jangan cerewet !  Hayo jalan, ikut denganku !”

“Tidak sudi !”  Li Eng berjebi lagi.

“Kepala batu !”  Kong Bu menerjang maju, disambut tendangan oleh Li Eng. Untuk kesekian kalinya dua orang ini saling serang, Li Eng berusaha merobokan dengan tendangan-tendangannya yang dahsyat, sedangkan Kong Bu berusaha merobohkan gadis itu untuk dapat dipanggulnya seperti malam tadi. Tentu saja dengan kedua tangan terbelenggu dan tubuh lemas dan lelah, Li Eng tak dapat melakukan perlawanan berarti dan akhirnya ia kena diringkus kedua kakinya, diangkat dan dipanggul oleh Kong Bu yang berlari cepat.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: