Rajawali Emas (Jilid ke-23)

Ke mana aku harus mencari mereka? Ke mana gerangan kakek iblis itu membawa pergi Li Eng dan Hui Cu? Benar-benar gelisah hati Kun Hong memikirkan nasib dua orang keponakannya itu dan menyesallah ia mengapa ia mengajak mereka menerima undangan Pangeran Mahkota.

. Alangkah gembira tadinya mereka bertiga melakukan perjalanan, dan sekarang, gara-gara pangeran mata keranjang, mereka berpisah dan ia tidak tahu harus menyusul ke mana.

Ke mana lagi kalau tidak ke Thai-san, pikirnya, Li Eng dan Hui Cu bermaksud hendak pergi ke Thai-san. Bukan tidak mungkin setelah ditolong oleh kakek itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Thai-san. Hanya satu hal yang membuat ia ragu-ragu, kalau dua orang gadis itu selamat, mengapa mereka itu tidak berusaha menolongnya? Ia merasa yakin bahwa dua orang keponakannya itu pasti tidak akan meninggalkannya begitu saja. Tidak ada lain jalan lagi bagiku, pikirnya, selain melanjutkan perjalanan ke Thai-san. Syukur kalau di sana aku dapat berjumpa dengan mereka, kalau tidak, aku akan minta pertolongan Paman Tan Beng San untuk menggunakan kekuatannya sebagai tokoh besar dunia persilatan, untuk mencari dan menolong Li Eng dan Li Cu.

Setelah mendapat keterangan tentang jurusan jalan menuju ke Thai-san, Kun Hong tidak mau membuang waktu lagi, langsung ia melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Thai-san. Sekarang ia melakukan perjalanan seorang diri, maka ia melakukan perjalanan cepat. Keindahan pemandangan di tengah jalan tidak terasa indah lagi karena hatinya terganggu oleh persoalan hilangnya Li Eng dan Hui Cu yang masih belum ia ketahui nasibnya. Tanpa ia sadari, Kun Hong sekarang telah memiliki tubuh yang amat kuat dan dapat melakukan perjalanan dengan cepat. Hatinya risau kalau ia teringat akan pengalaman-pengalamannya di kota raja. Menguatirkan keadaan Li Eng dan Hui Cu, juga kecewa dan mendongkol sekali kalau ia teringat akan pedang Ang-hong-kiam yang dirampas oleh pemuda pesolek yang kurang ajar di rumah Tan-taijin itu. Kalau saja ia tidak ingin cepat-cepat ke Thai-san untuk mencari kalau-kalau dua orang keponakannya selamat berada di sana, tentu ia akan mencari pemuda tampan yang menampar pipinya itu di rumah Tan-taijin untuk ia minta kembali pedangnya. Biarlah, sepulangnya dari Thai-san, kalau semua urusan ini sudah beres, dia pasti akan mencari pemuda itu di rumah Tan-taijin dan dengan baik ia akan minta kembali pedangnya, kalau tidak diberikan, terpaksa ia akan menggunakan kekerasan. Pedang itu adalah pemberian dari gurunya Bu Beng Cu, dan biarpun ia tidak suka membawa-bawa apalagi menggunakan pedang, ia tahu bahwa pedang itu benda pusaka dan akan ia berikan kepada ayahnya.

Ketika ia mulai memasuki sebuah hutan yang besar dan penuh ditumbuhi pohon-pohon raksasa, tiba-tiba dari jauh ia melihat tiga bayangan orang berlari cepat sekali. Semenjak mengalami hal-hal yang pahit di kota raja, Kun Hong menjadi hati-hati. Cepat ia menyelinap ke belakang sebatang pohon besar dan mengintai. Tiga orang itu makin dekat dan berdebarlah hati Kun Hong ketika mengenal mereka sebagai tiga orang di antara tujuh jagoan istana pengawal Pangeran Mahkota! Ia mengingat-ingat tujuh orang jagoan yang pernah diperkenalkan kepadanya dan tahu bahwa yang sekarang berlari cepat memasuki hutan itu adalah Tiat-jiu Souw Ki Si Tangan Besi yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam bersama sepasang saudara kembar Ho-pak Siang-sai (Sepasang Singa dari Ho-pak. Setelah mereka lewat, Kun Hong diam-diam mengikuti mereka dari belakang, menyelinap di antara pepohonan. Mereka itu adalah kaki tangan Pangeran Mahkota, sangat boleh jadi kedatangannya ini ada hubungannya dengan dua orang keponakannya.
Heran hati Kun Hong ketika ia mengikuti tiga orang itu sampai di tengah hutan ia melihat sebuah sungai besar dan di pinggir sungai itu di antara pohon-pohon tampak bangunan tembok. Kiranya di tempat terpencil ini terdapat bangunan yang amat berbeda dengan dusun-dusun biasa, pikirnya. Ia mengikuti terus, ketika tiga orang itu berhenti di depan sebuah jembatan, ia pun berhenti, bersembunyi dan mengintai.

Ternyata bahwa bangunan-bangunan yang besar-besar berjumlah lima terkurung pagar tembok yang tinggi dan di sekeliling pagar tembok itu terdapat anak sungai yang agaknya menjadi cabang sungai besar yang mengalir di sebelah utara dusun ini. Jalan dari darat menuju ke dalam dusun hanya dihubungkan oleh jembatan kecil itu, jembatan yang bentuknya seperti bunga teratai, terbuat dari kayu berukir indah dan di atas jembatan ini terdapat belasan orang penjaga yang berpakaian seperti pendeta Agama To. Kun Hong memperhatikan dan menduga-duga. Apakah dusun itu merupakan sekumpulan kuil besar dari para tosu. Akan tetapi, biasanya tosu-tosu kuil pegangannya hanya kitab-kitab, tasbeh dan paling-paling kipas atau kebutan, kenapa belasan orang tosu yang menjaga di jembatan itu tubuhnya tegap-tegap dan semua membawa senjata pedang atau golok?

Tiga orang pengawal Pangeran itu berdiri di mulut jembatan dan agaknya mereka tidak diperkenarikan masuk. Kun Hong mendengar suara Tiat-jiu Souw Ki yang parau dan keras,

“He, para tosu Ngo-lian-kauw! Kalian menganggap kami orang apakah? Bukalah mata dan telingamu baik-baik, aku adalah Tiat-jiu Souw Ki dan dua orang temanku lni adalah Ho-pak Siang-sai! Kami mana bisa bicarakan urusan dengan kalian? Hayo lekas kalian beritahukan kepada Ngo-lian-kauwcu (Ketua Perkumpulan Agama Lima Teratai), bahwa kami, bertiga adalah utusan-utusan Pangeran Mahkota, perlu ketemu dan bicara dengan Toat-beng Yok-mo!”

Jelas sekali kelihatan para tosu itu kaget dan gentar, juga Kun Hong ketika mendengar disebutnya nama Yok-mo, menjadi kaget dan heran. Apakah kakek itu berdua di tempat ini?

“Ah, kiranya para busu istana utusan Pangeran Mahkota yang datang. Harap Sam-wi (Tuan Bertiga) sudi menanti sebentar, kami hendak melaporkan kepada Kauwcu (Ketua Agama) tentang maksud kedatangan Sam-wi, kata para tosu itu dengan sikap berubah hormat sekali.

Tiat-jiu Souw Ki dan dua orang temannya kelihatan tidak puas dan uring-uringan, akan tetapi karena mengindahkan nama besar dari Ngo-lian-kauw, mereka menanti di ujung jembatan dengan tidak sabar. Tak lama kemudian terdengar bunyi seruling ditiup orang, banyak sekali sehingga suaranya amat nyaring dan meriah. Dari pintu di ujung jembatan sebelah dalam itu muncullah pasukan terdiri dari dua puluh orang wanita yang berpakaian lima warna dan di kepala masing-masing anggauta pasukan terhias bunga-bunga teratai. Rata-rata para wanita ini cantik dan usianya takkan lebih dari tiga puluh tahun. Setiap anggauta pasukan memegang pedang telanjang yang melintang di depan dada, nampak gagah dan berpengaruh sekali. Di tengah pasukan ini berjalan seorang wanita tua. Umurnya takkan kurang dari lima puluh tahun, namun mukanya yang memang cantik itu masih dibedaki dan diberi merah-merah, pakaiannya mewah sekali, di punggungnya tergantung pedang dan pinggangnya diikat sehelai sabuk merah. Inilah Ketua Ngo-lian-kauw, Ngo-lian-kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li (Dewi Kepala Emas) yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Di sebelahnya berjalan seorang kakek bongkok, umurnya sudah tua sekali, mulutnya yang selalu melongo itu sudah ompong semua.sedangkan matanya besar sebelah. Kakek ini memegang sebatang tongkat hitam yang bengkak-bengkok. Inilah dia Toat-beng Yok-mo yang beberapa tahun terakhir ini mempunyai hubungan erat dengan Ketua Ngo-lian-kauw.

“Sungguh merupakan penghormatan besar sekali tempat kami yang buruk ini mendapat kunjungan Sam-wi Busu dari istana. Entah ada urusan apakah sampai Pangeran Mahkota mengutus Sam-wi datang ke sini?” terdengar Kim-thouw Thian-U bertanya, suaranya jelas menyatakan kebanggaan hatinya,

Tiga orang jagoan Istana itu cukup mengenal siapa wanita di depan mereka itu. Bukan tergolong tokoh baik, malah dahulu terkenal pembela Kaisar Mongol dan dalam pemberontakan para pembesar belasan tahun yang lalu wanita ini pun ikut campur. Pendeknya dalam perkara yang buruk-buruk sudah terlalu sering wanita ini mengotorkan tangannya. Oleh karena itu dengan suara keras dan angkuh Souw Ki berkata,

“Kami bertiga memang utusan Pangeran Mahkota, akan tetapi Pangeran Mahkota sama sekali tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Ngo-lian-kauw dan tidak mengutus pi pergi ke sini, melainkan mengutus kami menyelidiki seorang kakek yang telah mengacau di Istana Kembang.”

Kim-thouw Thian-li merasa juga akan keangkuhan pengawal istana itu yang tidak memandang mata kepada Ngo-lian-kauw, maka mukanya menjadi merah dan ia bertanya dengan nada mengejek, “Kalau memang tidak ada urusan dengan Ngo-lian-kauw, mengapa Sam-wi Busu mencapaikan diri datang ke sini? Urusan di istana sudah tentu saja kami tidak bisa membantumu.”

Tiat-jiauw Souw Ki adalah seorang bekas bajak, wataknya keras dan kasar, tidak takut kepada siapapun juga karena ia mengandalkan kedudukan dan mengandalkan teman-temannya. “Kami pun tidak membutuhkan bantuan Ngo-lian-kauw. Akan tetapi kakek yang berani mengacau Istana Kembang, yang kami ketahui hanya seorang saja yang tinggal di Ngo-lian-kauw. Eh Toat-beng Yok-mo, mengaku sajalah, bukankah kau yang main-main di Istana Kembang? Kalau betul, kau menyerahlah kami tangkap, dan kembalikan dua orang gadis yang kau culik.”

Mata Yok-mo yang besar sebelah itu menjadi makin besar sebelah, yang besar jadi melotot? dan yang kecil sampai meram, mulutnya mengeluarkan bunyi, “heh-heh-heh” tiada hentinya.

Bu Sek, yang pertama dari Ho-pak Sian-sai, tak sabar berkata, “Seorang laki-laki harus, berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Sudah berani mengacau Istana Kembang masa takut mengakui?”

Tiba-tiba Yok-mo tertawa bergelak, “He-he-he, lucunya! Di sini pun tidak kekurangan gadis-gadis yang cantik manis, kenapa harus menculik ke istana? Harap kalian jangan main-main dengan seorang tua seperti aku!”

Souw Ki saling pandang dengan sepasang saudara kembar itu, lalu Si Tangan Besi berkata, “Bagaimana kami dapat meyakininya bahwa kau tidak melakukan perbuatan itu, Toat-beng Yok-mo?”

“Heh-heh-heh, urusan menculik tentu ada buktinya. Kalian bertiga boleh mencari, apakah benar dua orang gadis itu berada di sini, heh-heh-heh!” Sebetulnya Yok-mo sudah marah sekali dan kalau menurutkan perasaan hatinya, ingin ia turun tangan memberi hajaran kepada tiga orang ini. Akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah utusan Pangeran Mahkota, tentu saja ia tidak berani bertindak sembrono, maklum akan hebatnya pengaruh pangeran itu yang tentu akan membuat hidupnya tidak aman lagi kalau ia sampai mengadakan permusuhan.

“Baiklah, kami akan melakukan penggeledahan di Ngo-lian-kauw. Kalau betul-betul tidak terdapat dua orang gadis yang kami cari, untuk sementara kami akan mencabut tuduhan kami,” setelah berkata demikian Souw Ki lalu mengajak dua orang temannya untuk menyeberangi jembatan itu. Akan tetapi tiba-tiba Kim-thouw Thian-li memberi tanda dan pasukan wanita yang mengawalnya tadi bergerak memenuhi jembatan, menghadang tiga orang busu ini.

“Hemm, apa artinya ini?” Souw Ki membentak sambil menoleh kepada Kim-thouw Thian-li. Wanita ini tertawa, masih genit suara ketawanya dan masih terbayang kecantikan wajah nenek yang sudah tua ini.

“Tiat-jiu Souw Ki dan Ho-pak Sian-sai! Sudah lama aku mendengar nama besar kalian sebagai tiga di antara tujuh orang jagoan istana yang amat terkenal.

“Sebaliknya kiraku kalian bertiga juga sudah mendengar nama, Ngo-lian-kauw yang selamanya tidak akan mengijinkan orang luar masuk tanpa persetujuanku. Andaikata kalian membawa surat perintah Pangeran Mahkota, sudah tentu saja kami sebagai rakyat tidak akan berani membangkang, karena bukan maksud kami akan rnemberontak terhadap pemerintah. Akan tetapi, kalian datang tanpa surat perintah, siapa tahu kalau kalian hanya mengandalkan kepandaian sendiri dan nama Pangeran untuk menghina kami? Bicara tentang kepandaian, kaiian mengandalkan apakah hendak melanggar larangan Ngo-lian-kauw?”

Tiat-jiu Souw Ki adalah seorang tokoh yang terkenal dengan kekuatannya sehingga tangannya dianggap sebagai tangan besi. Juga permainan senjata ruyung bajanya amat terkenal, senjata yang sesuai dengan tenaganya yang besar. Mendengar ejekan Ketua Ngo-lian-kauw ini, mukanya yang hitam menjadi makin gelap. Ia menghampiri sebuah singa-singaan batu di sebelah kiri jembatan, lalu berkata, “Singa-singaan batu ini mengandalkan kekerasannya, akan tetapi aku mengandalkan apakah? Tidak lain mengandalkan tanganku ini!” Tangan kanannya bergerak memukul perlahan dan kepala singa batu itu remuk berhamburan. Sauw Ki tertawa bergelak, “Ha-ha, hanya kelihatannya saja keras singa batu ini, kiranya begini lunak!”

“Saudara Souw, setelah kami berdua datang, sepasang singa batu ini memang tidak berhak berdiri lagi. Tapi kenapa kau hanya melenyapkan kepalanya?” kata Bu Sek, seorang di antara Ho-pak Siang-sai yang bermuka kuning dan karenanya berjuluk Ui-bin-sai (Singa Muka Kuning).

Adiknya, Bu Tai ,yang berjuluk Ang-bin-sai (Singa Muka Merah) juga tertawa dan berkata, “Sungguh tak enak melihat Souw-twako menghancurkan singa-singa batu. Bagi yang tidak tahu dikiranya Souw-twako menghina kami!”

Dua orang saudara kembar itu menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba tampak sinar pedang berkelebat, sebuah ke sebelah kiri jembatan, satu lagi ke sebelah kanannya dan tahu-tahu terdengar suara keras dan singa batu yang sudah pecah kepalanya tadi tahu-tahu terguling roboh, sedangkan yang berada di sebelah kanan jembatan juga roboh terbabat pedang. Gerakan pedang sepasang saudara kembar ini cepat dan hanya kelihatan sinar pedangnya saja, dapat diduga bahwa ilmu pedang mereka memang hebat.

“Bagus, bagus! Tiga orang busu dari Pangeran Mahkota benar-benar hebat dan gagah, sudah menang melawan dua ekor singa batu, heh-heh-heh!” Toat-beng Yok-mo tertawa, setengah mengejek.

Akan tetapi Kim-thouw Thian-li menjadi merah mukanya saking menahan marah. Kalau bukan utusan Pangeran yang melakukan pengrusakan terhadap hiasan jembatannya, tentu ia langsung sudah turun tangan sendiri memberi hajaran.

“Yok-mo, kalau kami belum menggeledah ke dalam, bagaimana kami bisa merasa yakin bahwa kau tidak bersalah?” Souw Ki berkata nyaring, namun Kakek Setan Obat itu hanya tertawa ha-ha he-he saja.

“Souw-busu, Toat-beng Yok-mo hanya tamuku dan yang bertanggung jawab tentang tempat ini adalah aku. Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang boleh memasuki tempat kami, kecuali orang yang dianggap cukup berharga dan gagah. Kalau Sam-wi Busu sanggup melewati lapisan Ngo-lian-tin kami yang ada tiga buah, biarlah kami anggap Sam-wi cukup berharga dan gagah untuk memasuki tempat kami.” Kim-thouw Thian-li memberi isyarat dengan tangannya dan para pengawalnya tadi segera bergerak.Lima belas orang di antara para pengawalnya dengan pedang di tangan lalu berpencaran menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang, sekelompok menjaga di kepala jembatan, sekelompok kanan kiri. Mereka berdiri berjajar, sekelompok lima orang. Souw Ki saling pandang dengan dua orang saudara kembar itu, lalu tertawa. “Kim-thou Thian-li, kau benar-benar memandang rendah kepada kami. Kalau kami tidak memperlihatkan kepandaian, tentu kau tidak dapat mengenal kelihaian kami!” kata Souw Ki sambil mengeluarkan ruyung bajanya yang berat.

“Bu-Siang-te, hayo kita gempur Ngo-lian-tin ini tidak perlu kita sungkan-sungkan lagi!”

Bu Sek dan Bu Tai juga mencabut pedang mereka, lalu masing-masing melompat menghadapi sekelompok Ngo-lian-tin.

Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai) ini adalah ciptaan Kim-touw thian-li sendiri, sebuah barisan terdiri dari lima orang wanita yang gerak-geriknya diambil dasarnya dari Ngo-heng-tin, lima orang wanita yang cukup tinggi ilmu pedangnya dilatih untuk bergerak saling bantu dengan cara yang amat berbahaya bagi lawan.

Tiga orang busu ini cepat menggerakan senjata mereka dan masing-masing menyerbu sekelompok Ngo-lian-tin. Ruyung baja ditangan Souw Ki mengeluarkan angin ketika ia memutarnya dan menerjang lima orang wanita cantik yang cepat menggunakan pedang untuk menghadapinya dalam bentuk Ngo-lian-tin itu.

Kaget juga jagoan istana ini ketika seorang anggauta Ngo-lian-tin yang diserangnya sama sekali tidak mengelak, “hanya mengangkat pedang menangkis, akan tetapi empat batang pedang lain dari empat jurusan membarengi gerakannya menyerang empat bagian berbahaya dari tubuhnya. Terpaksa ia menarik kembali senjatanya dan menangkis serangan-serangan itu dengan memutarkan ruyung sekuat tenaga. Empat orang wanita itu mengeluarkan seruan tertahan karena hampir saja pedang mereka terlempar dari tangan, begitu hebat tenaga Si Tangan Besi ini. Souw Ki maklum bahwa kalau ia menyerang seorang lawan, yang empat tentu akan membarengi serangannya sehingga dasar Ngo-lian-tin ini adalah mengorbankan seorang anggauta untuk mengalahkan lawan. Tentu saja ia tidak mau dan ia segera mengerahkan tenaganya memutar ruyungnya, mengambil keuntungan dari tenaganya yang besar untuk mengadu senjata dengan lima batang pedang itu. Usahanya itu berhasil baik karena lima orang wanita yang menjadi lawannya terdesak mundur sampai ke tengah jembatan!

Juga sepasang saudara kembar she Bu itu ternyata memiliki ilmu pedang yang hebat dan cepat sehingga kelompok Ngo-lian-tin yang mengeroyok mereka tak dapat Mengimbanginya. Terdengar jerit susul-menyusul ketika beberapa orang wanita, anggauta Ngo-lian-tin terluka oleh pedang mereka disusul Souw Ki yang berhasil menendang dua orang pengeroyoknya masuk ke dalam anak sungai! Tingkat kepandaian para busu yang menjadi tangan kanan Pangeran Mahkota ini benar-benar tak boleh dipandang rendah. Sampai pucat muka Kim-thouw Thian-li saking malu dan marahnya. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Ia sudah berjanji bahwa kalau tiga orang itu dapat mengalahkan Ngo-lian-tin, mereka diperbolehkan masuk ke dalam untuk melakukan penggeledahan, Sebagai Ketua Ngo-lian-kauw tentu saja ia tidak suka menjilat ludah sendiri. Ia memberi isyarat dengan tepukan tangan dan sisa barisan Ngo-lian-tin itu yang tahu bahwa mereka takkan dapat menang, cepat mengundurkan diri.

Souw Ki tertawa bergelak dan bersama kedua Saudara Bu ia lalu menyeberangi jembatan memasuki lima bangunan berbentuk bunga teratai itu. Mereka melakukan penggeledahan, memasuki semua kamar dan ruangan, akan tetapi tentu saja mereka tidak bisa mendapatkan dua orang gadis pilihan Pangeran yang terculik pada malam itu, karena memang bukan Yok-mo penculiknya. Tiga orang itu menjadi kecewa sekali karena tadinya mereka menduga keras bahwa satu-satunya kakek yang selihai itu, yang berani mengacau Istana Kembang siapa lagi kalau bukan kakek ini? Apalagi kalau dipikir bahwa Yok-mo menjadi “teman baik” Ketua Ngo-lian-kauw yang dahulu pernah memusuhi Kaisar.

Sementara itu, Kun Hong yang bersembunyi sambil mengintai, melihat betapa jagoan-jagoan istana itu mencurigai Yok-mo, diam-diam juga ikut menjadi curiga. Ia cukup mengenal Yok-mo yang berwatak palsu, bukan tidak mungkin kakek ini yang menculik Li Eng dan Hui Cu! Maka ia menanti hasil penyelidikan tiga orang jagoan itu dengan hati berdebar. Ia pun ikut kecewa ketika tiga orang itu keluar dengan tangan kosong, dan wajah muram, Yok-mo terkekeh-kekeh mentertawakan lalu berkata, “Heh-heh-heh, apakah kalian menemukan dua orang gadis itu?”

Souw Ki makin marah ketika ditertawakan. “Kakek jahat! Siapa tahu kalau kau sembunyikan dua orang gadis itu di tempat lain?”

“Heh-heh, kewajibanmulah untuk mencari dan menemukannya andaikata benar kusembunyikan.” Souw Ki dan kedua orang Saudara Bu marah, akan tetapi karena tidak ada bukti, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hendak pergi, akan tetapi Kim-thouw Thian-li menggerakkan kakinya dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan tiga orang itu, menghadang. Mulut Ketua Ngo-lian-kauw ini tersenyum mengejek,

“Hemm, kalian sewenang-wenang datang merusak hiasan jembatan, lalu memasuki tempat tinggal kami dengan fitnah jahat. Setelah semua itu, apakah kalian hendak pergi begitu saja?”

“Kim-thouw Thian-li, setelah Ngo-lian-tin yang kau ajukan itu dapat kami hancurkan, apakah kau masih belum puas?” Souw Ki mengejek sambil melintangkan ruyungnya di depan dada.

“Justeru karena Sam-wi Busu telah memecahkan Ngo-lian-tin, aku yang bodoh ingin sekali berkenalan dengan kelihaian Sam-wi. Bukan sekali-kali Ngo-lian-kauw hendak memandang rendah kepada Pangeran Mahkota, akan tetapi ini adalah urusan mengenai pribadi kita, tidak tahu apakah Sam-wi Busu sudi memberi petunjuk?”

Biarpun kata-kata ini sifatnya halus, namun mengandung tantangan. Orang seperti Tiat-jiu Souw Ki yang semenjak mudanya mengumbar nafsu berkelahi, tidak mau. mengalah dan selalu menganggap diri sendiri paling jagoan, mana bisa menghadapi tantangan tanpa melayaninya? Ia tertawa bergelak lalu berkata,

“Kim-thow Thian-li! Sudah lama aku mendengar namamu yang amat tenar.Tentu saja aku pun ingin sekali merasai kelihaianmu dan urusan di antara kita ini tiada sangkut-pautnya dengan Pangeran. Setelah kami bertindak sebagai utusan, sekarang kami akan bertindak atas nama diri pribadi kami sendiri. Kalau kau ada kepandaian, boleh memberi petunjuk”

Kim-thouw Thian-li mendengus lalu tangannya bergerak, tahu-tahu tangan kanan sudah memegang pedang dan tangan kiri memegang sehelai sabuk berwarna merah. “Tiat-jiu Souw Ki, ingin aku berkenalan dengan ruyung bajamu yang ganas!” Sambli berkata demikian, pedangnya berubah menjadi sinar ketika bergerak menusuk ke arah dada Souw Ki. Orang tinggi besar ini tidak berani memandang remeh karena ia pun sudah mendengar bahwa Ketua Ngo-lian-kauw ini adalah seorang wanita yang ganas dan dahsyat sekali sepak-terjangnya. Cepat ia menggeser kaki ke kiri sambil menyabetkan ruyungnya ke arah sinar pedang untuk menangkis. Akan tetapi, sinar pedang itu ditahannya dan sebagai gantinya, tangan kiri wanita itu bergerak dan sinar merah melayang-layang menotok ke arah ulu hati Souw Ki. Jangan dipandang rendah sabuk merah ditangan kiri Kim-thouw Thian-li ini. Biarpun hanya sehelai kain halus, namun, ditangan wanita ini berubah menjadi senjata yang amat ampuh, yang ujungnya mampu, merobek jalan darah lawan dan karena lemasnya maka lebih berbahaya dan sukar dilawan dari sebatang pedang!

Souw Ki mengeluarkan, seruan panjang, ruyungnya diputar menjadi benteng baja melindungi dirinya sehingga totokan ujung sabuk sutera ini pun dapat ditangkisnya. Akan tetapi Kim-thouw Thian-li kembali mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan, lalu pedangnya bergerak menjadi gulungan sinar memanjang, menyambar-nyambar tubuh Souw Ki dari pelbagai jurusan sehingga jagoan istana ini menjadi kaget dan sibuk sekali. Kim-thouw Thian-li adalah murid tersayang dari tokoh besar Hek-hwa Kui-bo Si Iblis Betina, malah ilmu pedang Im-sin Kiam sut yang luar biasa hebatnya itu sebagian telah diajarkan kepada Kim-thouw Thian-li. Biarpun hanya sebagian saja Im-sin Kiam-sut dimiliki oleh Ketua Ngo-lian-kauw ini, namun cukup untuk menghadapi lawan yang sakti.

Souw Ki boleh menungulkan dirinya sebagai jagoan yang bertangan besi dan bersenjata ruyung yang dahsyat, namun menghadapi Kim-thouw Thian-li dia repot sekali. Andaikata Ketua Ngo-lian-kouw ini hanya bermain pedang saja, ia pun sudah repot dan takkan dapat melawannya dengan ruyungnya, apalagi sekarang Kim-thouw Thian-li membantu permainan pedangnya dengan sabuk merahnya, membuat jagoan yang galak itu menjadi makin kewalahan. Untung baginya bahwa Kim-thouw Thian-li masih jerih untuk mencelakai orangnya Pangeran Mahkota, kalau tidak, sekali Ketua Ngo-lian-kauw ini mengeluarkan senjata-senjata yang paling ampuh, yaitu senjata rahasia yang mengandung racun berbahaya, kiranya dalam waktu tak lama Souw Ki tentu akan roboh.

Sepasang saudara Bu yang tadinya hanya menonton pertandingan ini, ketika melihat bahwa teman mereka terdesak hebat dan sekarang hanya main mundur dan berputaran untuk menyelamatkan diri dari serangan lawan yang amat gencar itu, menjadi marah. Tujuh orang jagoan istana pengawal Pangeran Mahkota adalah jagoan-jagoan yang ditakuti, yang sudah dianggap sebagai sekelompok jagoan tanpa tanding. Kalau sekarang seorang di antara mereka dijatuhkan lawan, berarti nama tujuh orang jagoan ini akan tercemar. Oleh karena itu, keduanya bertukar pandang, kemudian sepasang saudara kembar ini menggerakkan pedang dan Bu Sek membentak,

“Kim-thouw Thian-li, jangan menjual lagak di depan kami!”

Ilmu pedang dari sepasang saudara Bu ini adalah ilmu pedang keturunan yang bersumber pada ilmu pedang Go-bi Kiam-hoat dari Go-bi-pai. Karena mereka adalah dua saudara kembar, maka dalam permainan pasangan ini mereka seakan-akan merupakan pasangan yang amat cocok, seperti dua orang satu perasaan saja sehingga kelihatan mereka kalau maju bersama amat hebat. Tadi saja masing-masing dapat memecahkan Ngo-lian-tin, ini berarti bahwa tingkat mereka bukanlah tingkat jago silat sembarangan, sekarang mereka maju bersama mengeroyok Kim-thouw Thian-li, sekali serang merupakan gulungan sepasang sinar pedang yang amat kuat. Ketua Ngo-lian-kauw itu diam-diam terkejut dan cepat menahan desakannya terhadap Souw Ki untuk menghadapi dua orang lawan baru ini. Cepat dan kuat gerakan dua pedang dari saudara kembar itu, maka terpaksa Kim-thouw Thian-li harus mengeluarkan Im-sin Kiam-sut lagi untuk menghadapinya. Wanita tua Ketua Ngo-lian-kauw ini benar-benar hebat, biarpun dikeroyok tiga ia masih dapat mengimbangi permainan lawannya.

Kun Hong yang menonton di balik batang pohon, merasa gembira juga karena ia sekarang dapat menonton dengan penuh pengertian. Ia dapat mengikuti semua permainan itu, malah ia dapat menduga bahwa kalau pertandingan ini dilanjutkan, Kim-thouw Thian-li akan kalah, biarpun mungkin wanita ini akan dapat melukai seorang di antara tiga orang pengeroyoknya. Ia ingin melerai mereka, akan tetapi merasa bahwa pertandingan itu bukanlah urusannya dan ia tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Agaknya penilaian Kun Hong ini sama dengan penilaian Yok-mo. Setan Obat ini pun maklum bahwa setelah dua saudara Bu itu memasuki gelanggang pertempuran, Kim-thouw Thian-li tentu takkan kuat menahan. Tentu saja kalau ia membantu Ketua Ngo-lian-kauw itu, takkan sukar bagi mereka berdua untuk mengalahkan tiga orang busu ini, akan tetapi mengingat bahwa mereka adalah utusan-utusan Pangeran Mahkota, amatlah berbahaya untuk bermusuhan dengan mereka. Maka ia lalu meloncat ke tengah lapangan, tongkat hitamnya bergerak dan mulutnya berseru, “Cukup… cukup… untuk apa bertempur terus?”

Terdengar bunyi “trang-trang” beradunya senjata dan baik ruyung baja di tangan Souw Ki maupun pedang dl tangan kedua orang saudara Bu itu terpental ke belakang ketika terbentur tongkat hitam. Tiga orang busu ini kaget dan melompat ke belakang, diam-diam mengakui kelihaian Si Setan Obat.

“Sam-wi Busu, setelah mendapat kenyataan bahwa aku bukanlah pengacau Istana Kembang, harap laporkan kepada Pangeran dan janganlah melanjutkan pertempuran yang tak ada artinya ini. Kauwcu (Ketua), harap kau mengalah.”

Kim-thouw Thian-li tersenyum dan mendengus lalu mengejek, “Ah, sekarang aku merasa sendiri betapa lihainya Sam-wi Busu!”

Wajah tiga orang jagoan itu menjadi merah. Mereka merasa disindir karena tadi jelas bahwa mereka bertiga tidak mampu mengalahkan Ketua Ngo-lian-kauw yang lihai itu, apalagi Yok-mo yang sekali menggerakkan tongkat telah mampu membuat senjata mereka terpental. Mereka maklum bahwa Ketua Ngo-lian-kauw dan Yok-mo itu telah berlaku dan bersikap mengalah karena takut akan nama Pangeran Mahkota, maka mereka pun tidak bodoh untuk tidak tahu diri dan mencari perkara. Kedatangan mereka untuk menyelidik tentang kakek yang mengacau Istana Kembang, setelah sekarang tidak terdapat bukti, kiranya tidak perlu mengacau di situ lebih lama lagi.

“Kauwcu sungguh lihai,” kata Souw Ki, “dan Yok-mo karena tidak ada bukti terpaksa sementara ini kami mencabut dakwaan kami. Selamat tinggal!” Setelah berkata demikian, tiga orang busu itu lalu meninggalkan tempat itu dengan mengangkat dada. Betapapun. juga, mereka belum kalah, dan andaikata mereka datang bertujuh, biarpun di situ ada Yok-mo, tanggung mereka takkan mendapat malu dan akan dapat mengalahkan pihak Ngo-lian-kauw.
Setelah tiga orang itu pergi, Yok-mo dan Kim-thouw Thian-li tertawa, lalu Kim-thouw Thian-li memerintahkan para pengawalnya untuk kembali ke dalam benteng Ngo-lian-kauw. Akan tetapi Yok-mo tiba-tiba berkata, “Nanti dulu, ada tamu yang sejak tadi bersembunyi, harus kita sambut dulu.” Ia lalu memandang ke arah tempat sembunyi Kun Hong dan berseru keras,

“Sahabat tak perlu bersembunyi lagi, kalau ada perlu keluarlah!”

Kun Hong kaget dan diam-diam memuji ketajaman mata Yok-mo. Tentu tadi dalam keasyikannya menonton pertempuran ia kurang hati-hati dan memperlihatkan diri dari balik batang pohon sehingga terlihat oleh kakek itu. Ia berjalan keluar dan berkata,

“Toat-beng Yok-mo, aku memang datang hendak menemui kau dan mengembalikan kitab-kitabmu!” Ia segera berjalan menghampiri dan mengambil tiga buah kitab dari dalam kantong bajunya yang selama ini ia simpan dan ia pelajari.

Sejenak Toat-beng Yok-mo memandang heran. Akan tetapi begitu melihat tiga buah kitab di tangan pemuda itu, ia segera teringat dan berseru girang dan heran,

“Kau… masih hidup….??” Tentu saja ia sekarang ingat akan pemuda yang telah menggendongnya ketika ia terluka dari Bukit Hoa-san, pemuda yang ia kira mati digondol burung rajawali emas yang lihai itu. Ia bukan girang, karena pemuda itu masih hidup, melainkan girang karena tiga buah kitabnya yang ia sangka sudah lenyap itu kini ternyata masih utuh. Cepat ia menyambar tiga buah kitab itu dan segera disusulnya pertanyaan,

“Dan manakah katak putih dalam tabung itu?”

“Ah, menyesal sekali, Yok-mo, katak itu telah ditelan habis oleh Kim-thiauw-ko (Kakak Rajawali Emas).” Kemudian pemuda ini segera balas bertanya, “Yok-mo, aku tadi mendengar tentang urusan para busu mencari dua orang gadis. Gadis-gadis itu adalah dua orang keponakanku. Betulkah kau tidak melihat mereka, Yok-mo?”

Pada saat itu, sebelum Yok-mo menjawab, terdengar suara,

“Bagus sekali, Toat-beng Yok-mo, kau telah menipu kami!” Dan muncullah Souw Ki, dua orang saudara kembar Bu, dan seorang tosu. Tosu ini bukan lain adalah Thian It Tosu tokoh Ngo-lian-kauw, tangan kanan Kim-thouw Thian-li. Seperti kita ketahui, Thian It Tosu menggabungkan diri dan menjadi seorang di antara tujuh jagoan istana. Inilah sebabnya mengapa Kim-thouw Thian-li berlaku mengalah dan tidak suka bermusuhan dengan Souw Ki bertiga tadi, akan tetapi juga ini yang menyebabkan ia merasa penasaran melihat sikap Souw Ki yang sombong dan tidak mengindahkannya. Ketika Souw Ki bertiga kembali ke istana, di tengah jalan bertemulah mereka dengan teman mereka, Thian It Tosu. Mereka berterus terang tentang kecurigaan mereka terhadap Toat-beng Yok-mo dan menceritakan pula peristiwa di Ngo-lian-kauw tadi. Thian It Tosu mencela mereka dan merasa menyesal telah terjadi peristiwa itu.
“Marilah kita kembali ke sana, kalau tidak begitu, sungguh pinto akan merasa tidak enak sekali terhadap Kauwcu.”

Souw Ki dan dua orang saudara kembar itu menurut, maka empat orang ini segera kembali ke situ dan kebetulan sekali mereka melihat Kun Hong bercakap-cakap dengan Toat-beng Yok-mo, tentu saja Souw Ki menjadi marah dan mengeluarkan bentakan tadi. Mereka mengenal Kun Hong sebagai pemuda yang lenyap secara aneh dari tahanan. Sekarang ternyata pemuda ini bercakap-cakap dengan Yok-mo, siapa lagi kalau bukan Setan Obat yang menolongnya keluar dari tahanan? Juga Thian It Tosu menjadi curiga. Tosu ini memang diam-diam merasa iri hati dan tidak suka melihat perhubungan antara Yok-mo dengan ketuanya. Sebelum Yok-mo datang, dialah orang yang paling “dekat” dengan Kim-thouw Thian-li dan setelah ia menjadi pengawai Pangeran lalu mendengar kedatangan Yok-mo tentu saja ia menjadi iri hati dan cemburu.

“Toat-beng Yok-mo, kau tadi bilang tidak tahu menahu tentang pengacauan di Istana Kembang, tapi ternyata kau mengenal baik orang muda ini. Hemmm, andikata benar bukan kau yang mengacau di Istana Kembang, sudah dapat dipastikan bahwa yang menolong pemuda ini keluar dari tahanan adalah kau!” kata Souw Ki dengan suara marah.

“Toat-beng Yok-mo dengan perbuatanmu menentang Pangeran Mahkota ini, jangan kau menyeret nama baik Ngo-lian-kauw. Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri!” kata Thian It Tosu sambil melirik ke arah Kim-thouw Thian-li yang masih berdiri di jembatan.

Melihat empat orang jagoan istana ini bersikap hendak menyerangnya, Toat-beng Yok-mo hanya terkekeh lalu berkata, “Tidak kusangkal bahwa aku mengenal pemuda ini, habis kalian mau apakah? Heh-heh-heh!”

“Yok-mo, kami harus menangkap kau dan pemuda ini!” seru Souw Ki.

Sementara itu, ketika Kun Hong melihat datangnya empat orang pengawal istana ini, mukanya menjadi pucat. Celaka, pikirnya, tentu aku akan ditangkap lagi. Ketika mendengar kata-kata Souw Ki yang terakhir, tanpa pikir panjang lagi Kun Hong lalu membalikkan tubuh dan lari dari situ!

“Hee, hendak lari ke mana kau?” Souw Ki melompat dan ruyungnya dipergunakan menyerampang kaki Kun Hong dari belakang. Ia memang gemas kepada pemuda ini dan ingin memberi hajaran. Akan tetapi alangkah herannya ketika sudah yakin hatinya akan dapat mematahkan dua kaki pemuda itu, ternyata ruyungnya hanya mengenai angin karena kaki pemuda itu bergeser ke arah yang berlawanan dan secara aneh sekali. Ternyata dalam keadaan berbahaya itu Kun Hong sudah mempergunakan langkah dari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun sehingga dengan mudah ia dapat menghindarkan kedua kakinya dari sambaran ruyung. Melihat pemuda itu hendak lari, sepasang saudara kembar Bu dan Thian It Tosu juga lari mengejar. Kun Hong terkurung oleh empat orang busu. Pemuda ini bingung, lalu mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmu yang telah dipelajarinya, yaitu Kim-tiauw-kun untuk melakukan perlawanan. Kalau tidak terpaksa sekali, pemuda ini tidak suka mempergunakan ilmu ini untuk bertanding dengan orang lain.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara parau dan disusul suara melengking yang menusuk telinga dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek tinggi besar yang berpakaian serba putih. Melihat kakek ini, Toat-beng Yok-mo dan Kim-thouw Thian-li segera menghampiri, memberi hormat dan menegur,

“Kiranya Locianpwe Song-bun-kwi yang datang, silakan… silakan,”

Empat orang pengawal itu tentu saja pernah mendengar nama besar Song-bun-kwi, maka mereka menegok. Thian It Tosu yang juga sudah pernah melihat kakek ini, segera memberi hormat kepada Song-bun-kwi, akan tetapi, kakek itu menerimanya acuh tak acuh. Souw Ki dan dua orang saudara kembar, biarpun pernah mendengar nama Song-bun-kwi, akan tetapi belum pernah bertemu muka. Mereka adalah pengawal istana kepercayaan Pangeran Mahkota, maka tentu saja sikap mereka angkuh dan terhadap Song-bun-kwi mereka tidak memandang sebelah mata! Setelah memandang sejenak, Souw Ki dan dua orang saudara itu lalu mengurung Kun Hong lagi.

“Yok-mo, siapakah tiga manusia ini?” Song-bun-kwi bertanya dan diam-diam kakek ini heran sekali karena tadi ia melihat geseran kaki Kun Hong yang dalam pandangannya merupakan ilmu langkah yang ajaib sekali.

Yok-mo tertawa, “Heh-heh, mereka adalah pengawal-pengawal istana yang datang dengan fitnah bahwa aku telah mengacau Istana Kembang, kemudian mengira lagi bahwa aku telah mengeluarkan pemuda itu dari dalam tahanan. Lucu sekali!”

“Ah, kiranya anjing-anjing istana. He, dengarlah kalian. Yang mengacau Istana Kembang, menculik dua orang gadis adalah aku. Kalian mau apa?”

Bukan main kagetnya Souw Ki dan teman-temannya, juga Thian It Tosu.

Kalau Thian It Tosu merasa kaget dan gelisah, adalah Souw Ki dan kedua saudara Bu kaget berbareng girang.

“Aha, dicari susah payah tidak ketemu, sekarang datang sendiri menyerahkan diri. Bagus! Kakek, dosamu terlalu besar, kau menyerahlah saja daripada rusak badanmu oleh ruyungku!” Souw Ki menggertak dan serta merta bersama teman-temannya lupa akan Kun Hong, meninggalkan pemuda itu dan menghampirl Song-bun-kwi.

Song-bun-kwi tertawa bergelak dan ia melengking tinggi ketika melihat sambaran ruyung Souw Ki. Hebat dan dahsyat sekali sambaran ruyung baja itu dan sekiranya mengenai kepala kakek ini, kiranya akan pecah berhamburan karena ruyung baja ini di tangan Souw Ki sanggup menghancurkan batu karang yang keras. Karena maklum bahwa kakek ini sakti, di samping hantaman ruyungnya ke arah kepala, tangan Souw Ki juga mengirim pukulan ke arah dada.

Hebat sekali Song-bun-kwi. Diserang seganas itu, kakek ini berdiri tak bergerak, dalam arti kata mengelak, seakan-akan ia tidak melihat datangnya dua serangan dahsyat itu. Baru setelah ruyung tinggal satu dim lagi dari keningnya kakek ini membabat senjata lawan itu dari bawah dengan tangan kiri dimiringkan, sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka menerima pukulan tangan kiri Souw Ki.

“Souw-busu, jangan….!” Thian It Tosu mencoba untuk mencegah temannya yang sembrono menyerang Song-bun-kwi, namun terlambat. Terdengar suara keras ruyung baja itu terpental dari tangan Souw Ki, melayang jauh, disusul jeritan Souw Ki ketika kepalan tangan kirinya kena dicengkeram oleh tangan kanan kakek itu. Sambil tertawa bergelak-gelak, Song-bun-kwi mendorong tubuh Souw Ki yang melayang seperti daun kering tertiup angin dan jatuh ke dalam air di dekat jembatan. Thian It Tosu cepat meloncat dan menolong Souw Ki keluar dari air, namun jagoan ini terpaksa harus digotong karena tulang tangan kirinya remuk dan mukanya biru matanya mendelik! Baiknya, Song-bun-kwi tidak menghendaki nyawanya maka jagoan yang galak ini tidak sampai mati.

“Song-bun-kwi, iblis tua, lihat pedang!” Sepasang saudara kembar she Bu itu marah sekali, melihat teman mereka dirobohkan sedemikian mudahnya oleh kakek ini, Pedang mereka berkelebat dan mengurung diri kakek itu dengan ganas. Mereka bekerja sama baik sekali dan dalam gebrakan pertama Bu Sek menikam sedangkan Bu Tai melindungi kakaknya dari samping dengan memutar-mutar pedangnya, siap untuk menanti kesempatan menyerang apabila serangan kakaknya gagal.

Song-bun-kwi mengeluarkan lengking tinggi tanda bahwa dia sudah marah. Tentu saja sama sekali ia tidak gentar menghadapi serangan pedang ini, dengan mengebutkan lengan bajunya pedang itu meleset dan tangan Bu Sek serasa hendak robek kulitnya. Malah Bu Tai yang memutar pedangnya, terhuyung mundur dua langkah karena sambaran angin kebutan ujung lengan baju itu.

Thian It Tosu yang melihat betapa dua orang saudara kembar itu sudah bertempur mengeroyok Song-bun-kwi, segera meloncat ke depan dan berkata,

“Locianpwe Song-bun-kwi, terpaksa pinto berlaku kurang ajar karena kau berani menghina utusan-utusan Pangeran Mahkota!” Tosu ini mencabut pedangnya dan menerjang ke depan, pedangnya membabat ke arah pinggang Song-bun-kwi yang cepat mengelak sambil tertawa mengejek. Dikeroyok tiga orang jagoan istana yang lihai ini, Song-bun-kwi enak saja melayaninya dengan tangan kosong. Serangan senjata tiga orang lawannya itu kalau tidak dilegos, tentu ditangkis dengan ujung lengan bajunya, kadang-kadang malah dengan tangan yang dimiringkan!

Kim-thouw Thian-li dan Toat-beng Yok-mo saling pandang. Ketua Ngo-lian-kauw itu merasa serba salah, akan tetapi setelah melihat Thian It Tosu terjun dalam lapangan pertempuran, ia segera dapat memilih pihak mana yang harus dibantu. Memihak Song-bun-kwi tidak ada keuntungannya sama sekali, sebaliknya kalau tidak membantu utusan-utusan Pangeran Mahkota, tentu akan merupakan bahaya bagi pendirian Ngo-lian-kauw. Cepat ia melolos pedang dan sabuk merahnya, tubuhnya ringan ketika meloncat ke depan dan suaranya halus membentak,

“Song-bun-kwi, melawan utusan-utusan Pangeran Mahkota berarti memberontak dan terpaksa aku menghalangimu!” Pedangnya menyambar-nyambar diikuti sinar merah sabuknya.

“Ha-ha-ha, Kim-thouw Thian-li, sejak kapan kau menjadi anjing Pangeran? Baik, baik, bagus, majulah hendak kulihat apakah kau sudah mempelajari Im-sin Kiam-sut dengan baik!”

Marahlah Kim-thouw Thian-li dan benar saja ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat, Im-sin Kiam-sut! Sementara itu, Toat-beng Yok-mo setelah mengantongi tiga buah kitabnya lalu maju pula dengan tongkatnya.

“Song-bun-kwi, kau makin tua makin jahat, suka bikin kacau saja! Perbuatanmu mengacau Istana Kembang membikin namaku rusak, orang mengira aku yang melakukannya. Kau harus mencuci namaku!” Tongkatnya melayang dan sekali bergerak telah mengirim lima totokan ke arah tubuh kakek itu.

“Ha-ha-ha, maju semua, hayo majulah!” Song-bun-kwi berteriak dan tiba-tiba ia mengeluarkan lengking tinggi memanjang dan tahu-tahu kedua saudara Bu menjerit kaget karena pedang mereka terpental dan tangan mereka sampai berdarah sedangkan Thian It Tosu terjengkang ke belakang keserempet ujung lengan baju. Song-bun-kwi tertawa bergelak, tubuhnya berkelebat ke dekat Kun Hong,

“Hayo kau ikut aku!” Tangan Kun Hong sudah dicekalnya dan pemuda ini dibawahya lari seperti terbang cepatnya! Biarpun ganas dan tidak takut siapapun juga, Song-bun-kwi masih cukup cerdik untuk menanam permusuhan dengan Ngo-lian-kauw. Maka ia lalu pergi saja setelah memperlihatkan kelihaiannya dan ia membawa pergi Kun Hong, karena tadi melihat gerakan pemuda itu yang aneh sekali ketika mengelak serangan Souw Ki.

“He, kakek tua, hendak kaubawa ke mana aku?” Kun Hong berteriak-teriak sepanjang jalan, akan tetapi kakek itu membisu saja dan menarik tangannya yang dicekal erat.

“Kakek tua, kalau kau ada urusan denganku, mari kita bicara baik-baik, kenapa kau lari seperti orang dikejar setan? Apakah kau takut kalau mereka itu mengejarmu?”

Kalau saja Kun Hong mengeluarkan ucapan lain, agaknya kakek aneh ini takkan mempedulikannya dan lari terus. Akan tetapi sekali Kun Hong mengucapkan sangkaan takut, kakek itu tiba-tiba berhenti dan memandang marah,
“Aku takut kepada mereka? Eh, bocah, kau tidak tahu siapa aku!”

“Tentu saja aku tahu. Kau adalah seorang tokoh di Min-san bernama Kwee Lun berjuluk Song-bun-kwi,” jawab Kun Hong.

Kakek tua itu nampak tercengang. Di Ngo-lian-kauw tadi, orang-orang hanya menyebut julukannya, bagaimana bocah ini bisa kenal namanya yang jarang disebut-sebut dunia kang-ouw?

“Bocah, kau siapakah dan bagaimana kau bisa kenal namaku?”

“Locianpwe, aku adalah Kwa Kun Hong dan aku telah banyak mendengar tentang Locianpwe dari Ayah.”

“Siapa ayahmu? Lekas katakan!”

“Ayah adalah Kwa Tin Siong Ketua Hoa-san-pai.”

Tiba-tiba kakek itu mendelikkan matanya. “Kau anak Kwa Tin Siong? Kau adik siluman betina? Ha-ha-heh-heh, bagus sekali! Tak kusangka untungku sebaik ini. Ha-ha, Bi Goat anakku, lihat betapa adik musuhmu kuhancurkan kepalanya dan kucabut keluar jantungnya!” Dengan buas ia lalu maju menerkam Kun Hong.

Pemuda ini kaget setengah mati karena penyerangan yang sama sekali tak pernah disangkanya itu. Disangkanya tadi bahwa dengan memperkenalkan nama ayahnya sebagai seorang tokoh kang-ouw juga, kakek ini tidak akan mengganggunya, siapa tahu malah justeru nama ayahnya membuat kakek ini marah sekali.

Akan tetapi ternyata yang kaget sekali malah Song-bun-kwi sendiri ketika tubrukannya mengenai angin dan tubuh pemuda itu sudah melejit seperti seekor belut dengan geseran kaki yang ajaib. Tanpa menghentikan gerakannya Song-bun-kwi melempar tubuh ke kiri mengejar, kini tangan kanannya mencengkeram ke arah kepala dan tangan kiri menyambar lambung dengan gerak tipu yang ampuh sekali dan tak mungkin dapat ditangkis atau dihindarkan orang yang diserangnya. Angin yang panas hawanya mendahului penyerangan ini. Sekarang Song-bun-kwi mengeluarkan suara gerengan keras saking marah dan herannya karena kembali penyerangannya tadi hanya mengenai angin belaka, jangankan mengenai tubuh Si Pemuda, menyentuh ujung bajunya pun tidak. Kemarahan dan penasarannya memuncak. Kakek ini lalu menyerang dengan segenap tenaga dan kepandaiannya, memukul-mukul dan menendang-nendang sambil mengeluarkan suara melengking berkali-kali.

Kun Hong mengerahkan tenaga dan hawa sakti dalam tubuhnya untuk menahan isi dadanya yang tergetar-getar karena suara lengkingan itu, dan menghadapi serangan-serangan Song-bun-kwi, ia terpaksa mengeluarkan langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun. Namun belum pernah ia balas menyerang karena memang tidak ada niat di hatinya untuk menyerang orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak mempunyai urusan dengannya ini.

“Locianpwe, kenapa kau menyerangku? Apa salahku?” berkali-kali ia bertanya, namun hal ini malah merupakan minyak yang disiramkan kepada api kemarahan Song-bun-kwi karena masih dapatnya pemuda itu mengajukan pertanyaan berarti bahwa semua penyerangannya itu dipandang rendah saja. Kalau saja ia tidak ingat bahwa lawannya seorang pemuda, tentu telah ia cabut pedangnya.

Song-bun-kwi adalah seorang tokoh sakti. Biarpun sampai belasan jurus ia belum mampu memukui roboh Kun Hong, namun ia sebetulnya cukup membuat pemuda itu bingung sekali. Hanya karena gerakan-gerakannya yang aneh dan langkah-langkah yang ajaib maka sebegitu lama pemuda ini dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, karena ia tidak balas menyerang, kalau ia terus-menerus mengelak, kiranya lambat-laun kakek itu akan mengenal sedikit gerakan-gerakannya dan akan dapat memecahkan rahasia lalu memukulnya. Sekali saja terkena pukulan kakek ini, kiranya akan celakalah pemuda itu.

Kun Hong tidak berani mencobakan ilmu sihirnya atas diri kakek yang sakti ini. Celaka, pikirnya, apakah dia gila mendadak? Lebih baik lari saja. Setelah berpikir demikian, ia menanti kesempatan baik. Ketika dilihatnya Song-bun-kwi tiba-tiba berjongkok dengan kedua tangan dibuka di kanan kiri seperti seekor katak hendak melompat tanpa pikir panjang lagi Kun Hong lalu memutar tubuh dan melarikan diri. Ia merasa datangnya hawa pukulan yang luar biasa dari belakang, cepat kakinya digeser ke kanan dan tubuhnya seperti terhuyung-huyung ke depan sedangkan kedua tangannya diam-diam, menggunakan gerakan Dewa Menyambut Mustika. Ia merasa kedua tangannya itu bertemu dengan hawa yang panas, akan tetapi dengan pengerahan Iwee-kang yang dilatih selama berada di puncak bukit, ia dapat menolak serangan itu.

Kembali Song-bun-kwi mengeluarkan gerengan heran dan kagum, lalu ia mengejar sambil mengerahkan ginkangnya. Beberapa kali lompatan saja membuat ia dapat menyusul Kun Hong. Akan tetapi anehnya, ketika sudah dekat, tiba-tiba tubuh pemuda itu bergerak aneh dan sudah menjauh lagi beberapa tombak jauhnya. Adakalanya kalau ia melompat menyusul, tahu-tahu pemuda itu seperti mundur dan lompatannya terlewat jauh. Kalau sudah berhasil ia mendekat, selalu uluran tangannya tak berhasil mencengkram pemuda aneh itu. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Song-bun-kwi. Belum pernah selama hidupnya ia mengalami hal seaneh ini. Banyak sudah ia menghadapi lawan-lawan sakti dan sering mengalami pertempuran-pertempuran mati-matian dan hebat, akan tetapi belum pernah ia menghadapi perlawanan begini aneh. Pemuda itu seperti bayangan saja, susah dijamah, akan tetapi juga sama sekali tidak pernah membalas dan kelihatan takut-takut dan bingung, seperti orang tidak bisa ilmu silat. Gerakan-gerakannya itu pun tidak patut disebut ilmu silat, seperti ayam dikejar atau seperti burung. Mereka berkejaran keluar masuk hutan dan sudah setengah jam lebih Song-bun-kwi mengejar, belum juga ia dapat memegang pemuda itu. Saking marahnya ia lalu mencabut keluar pedangnya dan membentak,

“Anak setan, rasakan ketajaman pedangku!” Ia masih merasa malu kepada diri sendiri untuk mempergunakan senjata rahasia. Menggunakan pedang saja sebetulnya sudah merupakan hal yang amat memalukan, apalagi kalau harus menggunakan senjata gelap! Kali ini benar-benar kehormatannya tersinggung sekali. Diam-diam Song-bun-kwi hanya mengharap jangan sampai perbuatannya ini diketahui lain orang.

Akan tetapi pengharapannya itu ternyata bahkan sebaliknya karena tiba-tiba terdengar suara orangmengejek,

“Ha-ha, sejak kapan Song-bun-kwi tua bangka menjadi pengecut, mengejar-ngejar seorang pemuda dengan pedang di tangan? Ha-ha-ha!”

Kaget bukan main Song-bun-kwi, mukanya menjadi merah padam dan otomatis ia menghentikan pengejarannya, lalu membalikkan tubuh. Ia melihat seorang kakek bertubuh sedang, agak membungkuk saking tuanya. Segera ia mengenal kakek ini dan makin malulah ia. Dari malu ia menjadi marah sekali.

“Siauw-ong-kwi, berani kau mengatakan aku pengecut? Kau sudah bosan hidup!” Cepat ia lalu menyerang kakek itu dengan pedangnya tanpa memberi kesempatan lagi.

Kakek itu memang benar Siauw-ong-kwi adanya, seorang tokoh besar dari utara. Belasan tahun kakek ini tidak pernah memperlihatkan diri di dunia kang-ouw, seperti halnya Song-bun-kwi sendiri. Seperti pembaca masih ingat, dalam cerita Raja Pedang diceritakan bahwa Siauw-ong-kwi ini adalah seorang di antara Empat Besar dan dia adalah jago nomor satu dari utara, guru dari Giam Kin. Mengapa ia tiba-tiba bisa muncul di situ?

Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, Giam Kin telah bertemu dengan Kwa Hong dan disiksa setengah mati oleh rajawali emas dan Kwa Hong ketika Giam Kin menculik Lee Giok. Semenjak itu Giam Kin tak pernah ada kabar ceritanya lagi. Karena inilah maka sekarang Siauw-ong-kwi yang selama ini mengasingkan diri, menjadi kuatir akan keselamatan muridnya dan sengaja ia sekarang turun gunung untuk mencarinya, sekalian ia hendak datang pada upacara pembukaan Thai-san-pai karena sebagai tokoh besar ia pun ingin mencoba lagi kelihaian Si Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi pendiri dari Thai-san-pai. Kebetulan sekali di hutan ini ia melihat Song-bun-kwi yang mengejar-ngejar seorang pemuda yang kelihatan ketakutan, maka ia lalu muncul dan mengejek.

Ketika Song-bun-kwi dengan marah menyerangnya, Siauw-ong-kwi mengeluarkan teriakan keras dan menggerakkan kedua lengan bajunya yang merupakan senjatanya yang ampuh. Dua orang tokoh besar ini segera bertempur dengan hebat. Sambaran angin pukulan mereka membuat daun-daun di puncak pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin besar dan pertempuran hebat ini diselingi teriakan-teriakan aneh Siauw-ong-kwi dan suara melengking dari tenggorokan Song-bun-kwi.

Sementara itu, untuk sejenak Kun Hong berdiri bengong. Bukan main kagumnya menyaksikan pertandingan yang hebat itu sampai pandang matanya berkunang melihatnya. Diam-diam ia menarik napas panjang dan harus mengakui bahwa dua orang kakek itu benar-benar memiliki kesaktian yang luar biasa. Ketika teringat bahwa mungkin ia akan celaka kalau tertawan oleh dua orang ini, segera ia mengangkat kaki melarikan diri secepat mungkin pergi dari tempat itu.

Ia masih berlari-iari ketika tiba-tiba ada orang menegurnya, “He, kenapa kau berlari-lari seperti dikejar setan?”

Kun Hong menoleh dengan kaget karena mengira bahwa yang berseru itu adalah kakek yang hendak menawannya. Akan tetapi ketika ia melihat seorang pemuda yang tampan sekali, timbul kemendongkolan hatinya. Ia mengenal pemuda itu sebagai pemuda tampan pesolek yang pernah menampar pipinya di rumah gedung Tan-taijin! Segera ia berhenti dan memandang dengan muka merengut.
“Ada keperluan apa kau mencampuri urusanku?”

Pemuda itu balas memandang dan agaknya baru sekarang ia mengenal Kun Hong. Alisnya yang hitam itu bergerak-gerak, matanya berkilat dan ia lalu tersenyum.

“Eh, kiranya kaukah ini? Kutu buku yang sombong itu?” katanya dengan nada seakan-akan kecewa telah menegurnya tadi. Tanpa bilang apa-apa lagi pemuda itu lalu melanjutkan perjalanannya, menuju ke arah dari mana Kun Hong datang.

Kun Hong mendongkol sekali kepada pemuda itu. Hemm, sampai-sampai di dalam hutan begini dalam melakukan perjalanan, pemuda itu masih berpakaian indah dan bersih, seperti orang berjalan-jalan menjual aksi saja, Dan alangkah angkuh dan sombongnya. Akan tetapi ketika melihat pemuda itu menuju ke arah dari mana ia datang, ia menjadi kuatir juga. Betapapun juga, pemuda itu yang menyebut Tan-taijin pek-hu (uwa), berarti masih keponakan pembesar itu dan Tan-taijin berkesan baik di hati Kun Hong. Apalagi pembesar itu menyatakan bahwa dia adalah sahabat baik ayahnya. Kalau sampai pemuda angkuh ini bertemu dengan dua orang kakek sakti dan tertimpa malapetaka, tentu Tan-taijin akan menjadi susah hatinya.

“He, tunggu dulu!” teriaknya mengejar.

Pemuda itu menoleh. “Mau apa kau?” caranya bertanya memandang rendah sekali.

Kun Hong menahan gemas hatinya. “Jangan kau pergi ke sana, di sana ada dua orang kakek sakti sedang bertanding. Kalau kau terlihat oleh mereka, kau akan celaka!”

Pemuda itu mencibirkan bibir mengejek, “Huh, mana aku takut segala obrolan kosongmu?”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: