Rajawali Emas (Jilid ke-24)

“Sombong kau! Siapa mengobrol kosong? Song-bun-kwi dan seorang kakek lain bernama Siauw-ong-kwi sedang bertempur hebat di sana. Mereka benar-benar sakti dan jahat.”

Berubah wajah pemuda itu mendengar nama-nama ini dan diam-diam Kun Hong merasa girang. Nah, baru tahu kau sekarang, baru takut mendengar dua nama itu. Akan tetapi pemuda itu segera mencabut pedang dan berseru, “Betulkah Song-bun-kwi di sana?” Tanpa banyak cakap lagi pemuda itu lalu berlari meninggalkan Kun Hong menuju ke hutan di depan.

Sejenak Kun Hong terlongong. Gilakah orang muda itu? Ataukah saking sombongnya maka tidak mengenal keadaan seperti seekor anak kerbau tidak gentar menghadapi singa? Celaka, dia tentu mampus, pikirnya. Kembali ia merasa tidak enak terhadap Tan-taijin dan di luar kehendaknya kedua kakinya sudah bergerak, mengejar pemuda itu!

“Heee, jangan ke sana….!” serunya berkali-kali dan Kun Hong kagum sekali ketika melihat betapa pemuda itu berlari cepat sekali laksana terbang. Tubuhnya demikian ringan sehingga terlihat dari belakang seakan-akan pemuda itu tidak menginjak tanah! Ia juga mempergunakan ilmu lari cepat yang ia miliki tanpa ia sadari, akan tetapi Kun Hong menjaga agar jangan sampai ia menyusul pemuda itu, melainkan mengikuti dari belakang.

Ketika ia tiba di dalam hutan di mana tadi Song-bun-kwi bertempur, ia melihat pemuda itu berdiri tegak seorang diri, menanti kedatangannya dengan wajah tak senang. Begitu Kun Hong datang, pemuda itu menyambut dengan suara marah,

“Kau pembohong besar. Mana dia Song-bun-kwi? Bayangannya pun tidak ada di sini?”

Kun Hong berpura-pura terengah-engah napasnya karena ia tidak ingin diketahui orang bahwa ia pun pandai ilmu lari cepat. “Waah? kau lari seperti kijang melompat. Bagus sekali Song-bun-kwi sudah pergi, kalau tidak kau tentu akan dipukul mati dan aku pun tidak diampuni. Tadi dia berada di sini bertempur dengan kakek aneh itu. Siapa membohong? Hayo kau kembalikan pedangku yang kau rampas tempo hari!”

Pemuda itu mendengus marah. “Orang macam kau, mana pantas mempunyai pedang pusaka?”

“Eh-eh, soal pantas atau tidak bukan urusanmu. Yang terang pedang Ang-hong-kiam adalah pedangku, apakah kau nekat hendak merampas pedang orang? Benar-benar tak bermalu!”

Mendengar kata-kata ini, pemuda itu marah sekali. Pedang Ang-hong-kiam yang tergantung di pinggangnya itu segera diambilnya dan sekali tangannya diayun pedang itu berikut sarungnya amblas ke tanah sampai setengahnya! “Nah, nih pedangmu pemotong ayam!”

Kun Hong menghampiri pedang itu dan dengan kedua tangannya mencabut. Pemuda itu memandang dengan mulut mengejek. Melihat sikap orang itu, Kun Hong malah sengaja pura-pura mengerahkan seluruh tenaganya sehingga ketika pedang itu tercabut ia terjengkang ke belakang dengan pedang di tangan.

Pemuda itu terkekeh geli, “Kutu buku macam kau mempunyai pedang itu untuk apa? Paling-paling di tengah jalan dirampas orang jahat. Kau telah berhasil lari dari tahanan, siapa yang menolongmu? Apakah Kakek Song-bun-kwi? Dan dua orang gadis Hoa-san-pai itu, ke mana mereka?”

“Aku… aku tidak tahu bagaimana aku bisa keluar. Eh… para penjaga tahanan yang mengeluarkan aku, kukira Tan-taijin yang memerintahkannya. Tentang dua orang keponakanku itu, justeru aku hendak mencari mereka.”

“Ke mana kau hendak mencari mereka?”

“Mungkin mereka ke Thai-san… eh, kau… kenapa kau memperhatikan mereka?” Kun Hong memandang dengan tajam penuh curiga. Melihat pandang mata Kun Hong ini, pemuda itu mencibirkan bibir dan berkata,

“Kudengar mereka cantik-cantik, aku senang gadis-gadis jelita!”

Wajah Kun Hong merah sekali. Dengan telunjuknya ia menuding ke arah hidung pemuda itu dengan lagak seorang tua memberi peringatan seorang anak nakal ia berkata, “Hemm, kau bocah kurang ajar, dengarlah baik-baik! Kalau bukan keponakan Tan-taijin yang menjadi sahabat ayahku, tak sudi aku memberi nasihat kepadamu. Jangan kau mengumbar nafsumu yang bejat, jangan kau bertingkah seperti laki-laki yang gagah sendiri, yang tampan sendiri, yang kaya sendiri. Kau berlagak seperti… seperti seorang banci, laki-laki pesolek yang mata keranjang. Kau kira semua perempuan akan jatuh olehmu? Awas kau kalau kau berani mengganggu kedua orang keponakanku, hemm….”

Pemuda itu membusungkan dada, mengedikkan kepalanya dan berkata menantang, “Kalau aku ganggu mereka, kau mau apakah? Apa kau berani berkelahi melawanku?”

Merah muka Kun Hong. Ia tidak suka berkelahi, tidak sudi, apalagi dengan p-muda yang seperti kanak-kanak ini. Juga ia tidak mau memperlihatkan kepada siapapun juga bahwa ia pandai ilmu silat. Akan tetapi pemuda ini benar-benar memanaskan perutnya.

“Huh, lagakmu! Kalau kau berani mengganggu kedua orang keponakanku, hemmm, tentu ada seorang laki-laki muda penuh aksi roboh dan mampus oleh dua orang gadis keponakanku itu! Sudah, tak sudi aku bicara lagi denganmu!” Dengan marah Kun Hong lalu membalikkan tubuh hendak melanjutkan perjalanannya. Di dalam hatinya ia betul-betul marah kepada pemuda ini, belum pernah seingatnya ia marah dan mendongkol kepada orang lain seperti kepada orang muda sombong ini.

“He! kau bilang hendak ke Thai-san. Kenapa ke sana?”

Tanpa menoleh Kun Hong menjawab, “Banyak cerewet! Kalau ke sana mengapa?”

Terdengar pemuda itu tertawa mengejek, “Soalnya, tolol, Thai-san berada di sebelah sini, bukan sana!”

Kalau tadinya Kun Hong mengambil sikap tidak peduli, ketika mendengar kata-kata itu ia kaget dan cepat-cepat menghentikan tindakannya dan menengok. Pemuda itu dengan lagak angkuh sudah berjalan pergi ke jurusan yang berlawanan. Ia ragu-ragu. Betulkah kata pemuda itu bahwa ia menuju ke arah yang berlawanan dengan Thai-san? Tadi dalam kegugupannya ketika dibawa lari Song-bun-kwi, dia tidak sempat memperhatikan jalan lagi. Karena ia tidak kenal jalan dan pemuda itu agaknya tidak asing lagi dengan wilayah itu, terpaksa ia lalu berjalan ke arah perginya pemuda itu dengan hati mengkal. Akan tetapi di samping rasa mendongkol terhadap pemuda yang penuh aksi dan angkuh itu, juga hatinya senang karena Ang-hong-kiar telah dikembalikan. Ia tidak mengira bahwa pemuda congkak itu begitu mudah mau mengembalikan pedangnya, padahal melihat gerak-gerik pemuda itu, kiranya dia memiliki kepandaian silat yang tinggi juga. Biasanya orang di kalangan kang-ouw kalau melihat senjata pusaka, amat tamak dan ingin memilikinya.

Ketika melewati sebuah dusun di luar hutan, Kun Hong mencari keterangan dan dengan lega mendengar bahwa memang arah Thai-san yang ditempuh pemuda itu betul. Maka ia lalu mempercepat jalannya akan tetapi tak dapat menyusul pemuda itu yang melakukan perjalanan cepat sekali. Beberapa hari kemudian sampailah Kun Hong di sebuah kota kecil yang cukup ramai. Karena hari sudah menjelang senja ketika ia tiba di kota Tiang-bun ini, ia lalu menuju ke sebuah rumah penginapan. Seorang pelayan menyambutnya dengan muka menyesal sambil berkata,

“Maaf, Tuan Muda. Kamar sudah penuh semua, sayang sekali kau terlambat datang karena kamar terakhir yang cukup besar telah disewa oleh seorang kongcu.”

Kun Hong kecewa sekali. “Apakah di kota ini tidak terdapat rumah penginapan lain?”

Pelayan itu menggeleng kepala, dan memandang dengan kasihan melihat pemuda ini kelihatan lelah sekali. “Ada dua jalan untuk menolongmu, Tuan Muda. Pertama, harap kau menjumpai kongcu yang menyewa kamar besar itu karena dia hanya seorang diri dan kamar itu cukup besar sehingga kalau dia tidak keberatan, tentu kongcu itu dapat membagi kamarnya denganmu. Jalan ke dua, kalau toh dia berkeberatan, yaaah, untuk melepas lelah saja, kiranya Tuan Muda dapat tidur di bangku di ruangan tengah.

Kun Hong menghela napas. Apa boleh buat, dalam keadaan seperti itu terpaksa menerima usul ini. “Sebetulnya aku tidak suka mengganggu lain orang, akan tetapi karena menurut katamu dia seorang kongcu, kiraku tiada salahnya untuk mencoba. Twako, antarkan aku ke kamar pemuda itu.”

Dengan gembira karena mengharapkan hadiah, pelayan itu segera mendahuluinya. Kun Hong yang berjalan di belakang pelayan itu ketika sampai di ruangan tengah, melihat dua orang laki-laki tinggi besar duduk menghadapi arak di atas meja. Ketika Kun Hong melewat, dua orang yang tadinya bercakap-cakap itu tiba-tiba berhenti dan biarpun mereka tidak berkata apa-apa, namun mereka memandang penuh kecurigaan ketika melihat pelayan itu membawa Kun Hong ke kamar yang berada di ujung belakang. Kun Hong bermata tajam dan ia dapat melihat betapa sinar mata kedua orang itu amat tajam dan mengandung kecurigaan terhadap dirinya. Akan tetapi ia tidak mengacuhkan mereka karena tidak merasa mengenal orang-orang itu.

Sementara itu pelayan tadi telah mengetuk pintu kamar. Dari dalam kamar terdengar suara, tidak begitu jelas karena pintu itu rapat sekali.

“Siapa?”

“Maaf, Kongcu, aku pelayan!” kata pelayan itu dengan suara manis, “Harap Kongcu suka membuka pintu sebentar, ini ada seorang tuan muda yang tidak kebagian kamar, hendak mohon Kongcu sudi membagi kamar dengan dia.”

“Hemm, aku tidak suka diganggu!” terdengar jawaban dan pintu kamar di buka dari dalam.

Begitu pintu kamar dibuka dan Kun Hong melihat seorang pemuda di ambang pintu, ia segera membuang muka dan menarik tangan pelayan itu sambil berkata,

“Twako, aku lebih suka tidur di bangku di luar atau kalau perlu di emper rumah penginapan ini daripada tidur di kamar ini!” Kemarahan dan kemendongkolan hati Kun Hong ini dapat dimengerti ketika ia mengenal “kongcu” itu bukan lain adalah Si Pesolek tadi.

“Hemm, siapa sudi tidur sekamar dengan kutu buku jembel ini?” kata Si Pemuda menghina sambil menutupkan pintunya kembali, akan tetapi seperti kilat pandang matanya menyambar ke arah dua orang laki-laki tinggi besar yang mendengar dan melihat semua itu dari ruangan tengah. Pelayan itu hanya bisa melongo dan mengangkat pundak, tapi dengan baik hati ia lalu menyediakan sebuah bangku panjang yang ia letakkan di dalam ruang belakang untuk memberi tempat istirahat kepada Kun Hong. Setelah mandi dan makan, saking lelahnya Kun Hong terus saja menggeletak berbaring di atas bangku panjang, berselimutkan sebuah baju luar yang lebar.

Ia mendengar betapa pemuda sombong itu berteriak memanggil pelayan dan memerintahkan pelayan menyediakan air hangat untuk mandi, banyak sekali air yang dimintanya, kemudian memesan makanan yang mahal-mahal. Hemm, seorang pemuda kaya yang mewah dan pesolek, pikirnya. Juga dilihatnya betapa dua orang laki-laki tinggi besar tadi beberapa kali memandang ke arah kamar pemuda itu dan mereka bicara berbisik-bisik. Diam-diam ia menaruh curiga, pemuda mewah yang bodoh pikirnya. Melakukan perjalanan dengan cara demikian mencolok, jelas sekali membayangkan bahwa kantongnya penuh bekal emas, menarik perhatian kaum penjahat. Biarpun dia sendiri masih belum matang pengalamannya dalam perjalanan jauh, akan tetapi kiranya tidak setolol pemuda itu. Akan tetapi karena ia masih merasa jengkel karena beberapa kali dimaki kutu-buku, jembel, ia tidak mengacuhkan pemuda itu dan kalau pemuda itu keluar kamar, ia pura-pura tidur mendengkur. Akan tetapi entah mengapa, mungkin karena gangguan kegemasannya terhadap pemuda yang tentu enak tidur di dalam kamar yang hangat, tidak seperti dia yang kedinginan karena angin malam bebas menghembus memasuki ruangan itu, dia tidak segera dapat pulas.

Keadaan rumah penginapan itu sudah sunyi sekali, agaknya semua tamu sudah tidur pulas. Hanya Kun Hong saja masih gelisah dan mendongkol karena bayangan nyamuk yang mengiang-ngiang di sekitar telinganya.

Ia menimpakan kemendongkolannya kepada pemuda sombong itu. Andaikata pemuda itu tidak sesombong itu, atau andaikata tamu itu orang lain, sudah tentu ia akan dapat bagian dalam kamar dan tidak menderita seperti ini. Dalam kemendongkolannya, Kun Hong tidak ingat bahwa sebenarnya bukanlah hawa dingin atau nyamuk yang membuat ia tidak dapat tidur karena biasanya ia dapat tidur nyenyak walau di atas atau di bawah pohon dalam hutan. Sesungguhnya, wajah pemuda itu selalu terbayang di pelupuk matanya, mendatangkan rasa mengkal dalam hati.

Tiba-tiba ia mendengar suara perlahan sekali. Dari balik selimutnya ia mengintai dan melihat sesosok bayangan melayang turun ke dalam ruangan itu. Ternyata dia adalah seorang laki-laki tinggi kurus yang gerakannya amat gesit dan ringan, tanda bahwa orang itu memiliki kepandaian tinggi. Orang itu menghampiri kamar kedua orang laki-laki tinggi besar tadi dan mengetuk perlahan, Pintu segera dibuka dan orang itu masuk, pintu kamar segera ditutup lagi. Kun Hong menjadi curiga sekali dan merasa tidak enak hatinya. Dua orang tinggi besar tadi selalu memandang ke arah kamar Si Pemuda, sekarang ada tamu yang demikian mencurigakan dan aneh, tentu mereka mempunyai niat yang tidak baik. Pikirannya berjalan cepat. Ia lalu mengatur bantalnya memanjang lalu diselimutinya seperti orang tidur berselimut, sedangkan dia sendiri lalu melompat turun dengan hati-hati, kemudian dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh ia melompat ke atas genteng.

Hatinya berdebar keras karena baru sekarang inilah ia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya di puncak itu untuk melompat naik ke atas genteng dengan maksud mengintai kamar orang lain! Di puncak dahulu sudah biasa ia melompati jurang-jurang lebar, tentu saja, meloncat ke atas genteng merupakan pekerjaan mudah baginya, akan tetapi karena tidak biasa, ia menjadi berdebar dan berhati-hati sekali. Cepat ia bersembunyi di belakang wuwungan rumah dan memasang telinga mendengarkan percakapan di dalam kamar dua orang laki-laki tinggi besar itu. Segera ia mendengar suara orang laki-iaki yang parau, agaknya suara orang yang baru datang tadi,

“Ji-Wi laote, Twako kita melarang kalian mengganggu pemuda yang hendak pergi ke Thai-san itu. Menurut Twako, kalau kita turun tangan di sini, paling banyak hanya dapat merampas bekal dan pedangnya, sedangkan resikonya kalau sampai hal ini terdengar oleh Thai-san-pai, tentu mereka akan berhati-hati.”

“Hemm, habis, apa yang harus kita lakukan?” terdengar suara lain.

“Sekarang Twako sedang mengumpulkan semua saudara, malah kabarnya Ji-ko dan Sam-ko (Kakak ke Dua dan ke Tiga) juga datang, bersama Hui-liong Sam-heng-te yang bersedia membantu. Twako menyuruh aku datang memberi tahu Ji-wi (Kalian Berdua) untuk bersamaku sekarang juga datang ke sana, mendengar petunjuk-petunjuk lebih jauh dan mengadakan perundingan.”

“Baiklah.”

Terdengar jendela dibuka dari dalam dan berturut-turut tiga sosok bayangan orang melesat keluar terus meloncat ke atas genteng. Kun Hong bersembunyi cepat dan ia berhati-hati sekali, tidak segera memperlihatkan diri. Perbuatannya ini menolongnya karena ia melihat bayangan lain yang gerakannya cepat sekali berkelebat mengejar tiga sosok bayangan yang sudah berlari lebih dulu itu. Ia menahan napas. Untung ia tidak cepat-cepat muncul, kalau demikian halnya tentu orang ke empat itu akan melihatnya. Ia merasa heran, menduga-duga siapakah adanya orang ke empat itu yang seperti juga dia, melakukan pengintaian. Orang itu tidak terlihat mukanya, hanya bayangannya memperlihatkan tubuh yang ramping kecil. Karena ia tidak ingin dilihat orang, baik oleh tiga orang pertama maupun oleh orang ke empat yang, mengikuti tiga orang itu, Kun Hong sengaja berlari mengejar dari jauh.

Kurang lebih sejam mereka berkejaran di dalam gelap dan ternyata tiga orang itu memasuki sebuah kuil tua yang sudah rusak, terletak di luar kota dekat sebuah rawa yang sunyi. Kun Hong membiarkan pengintai di depannya itu melompat ke atas genteng lebih dulu, baru kemudian ia menyelinap di antara pohon-pohon di belakang kuil dan mencari tempat sembunyi dan pengintaian dari sebuah jendela yang sudah tidak dipakai dan rusak daun jendelanya.

Di dalam kuil itu terdapat ruangan yang luas dan kotor, akan tetapi sekarang di, situ berkumpul beberapa orang mengelilingi meja bobrok, agaknya bekas meja sembahyang. Lima batang lilin menyala menerangi ruangan dan keadaan amat seram dengan beberapa patung rusak menghias pojok ruangan. Seorang penakut tentu akan menyangka mereka itu setan-setan yang berpesta-pora di dalam kuil tua itu. Karena ruangan itu cukup terang, Kun Hong dapat melihat wajah mereka itu.

Pertama-tama ia melihat wajah dua orang laki-laki tinggi besar yang berada di rumah penginapan. Dua orang laki-laki ini berusia empat puluh tahun. Orang ke tiga yang duduk dekat mereka agaknya adalah orang yang menyusul ke rumah penginapan tadi, orangnya kecil kurus dengan muka ciut seperti tikus dan di punggungnya tergantung pedang, agaknya pedang pasangan karena kelihatan dua gagang pedang. Sekarang Kun Hong mencurahkan perhatian kepada orang-orang yang duduk di kepala meja. Seorang bertubuh pendek gemuk berperut besar berusia lima puluh tahun lebih akan tetapi mukanya segar kemerahan dan bundar seperti muka kanak-kanak, gerak-geriknya halus akan tetapi Kun Hong yang sudah membaca kitab-kitab ilmu pengobatan dari Yok-mo, tahu bahwa orang itu adalah seorang ahli Iwee-keh (tenaga dalam) yang lihai. Dari percakapan mereka, orang inilah yang dipanggil Twako (Kakak Tertua) tadi. Orang di sebelah kirinya adalah seorang yang usianya lebih tua, rambutnya sudah putih semua, tubuhnya sedang akan tetapi punggungnya agak bongkok, matanya juling, di punggungnya tampak gagang senjata ruyung. Orang ini disebut Ji-ko (Kakak ke Dua). Orang yang disebut Sam-ko (Kakak ke Tiga) oleh Si Muka Tikus adalah seorang yang masih muda, paling banyak tiga puluh lima tahun usianya, wajahnya tampan dan di pinggangnya kelihatan ruyung lemas semacam cambuk. Diam-diam Kun Hong heran dengan panggilan-panggilan mereka itu. Kakak ke dua lebih tua daripada kakak tertua, sedangkan yang disebut kakak ke tiga oleh Si Muka Tikus adalah seorang yang masih muda. Ia tidak tahu bahwa empat orang termasuk Si Muka Tikus ini adalah tokoh-tokoh terkenal di daerah selatan yang disebut Lam-thian Si-houw (Empat Harimau Dunia Selatan)!

Girang hati Kun Hong ketika ia mendengar Si Muka Tikus itu tiba-tiba memperkenalkan dua orang tinggi besar tadi dengan tiga orang yang duduk berendeng di sebelah kanan karena hal ini sama dengan memberi tahu kepadanya siapa adanya orang-orang itu.

Dari perkenalan itu ia tahu bahwa tiga orang yang berendeng sebelah kanan itulah yang tadi oleh Si Muka Tikus disebut Hui-liong Sam-heng-te (Tiga Kakak Beradik Si Naga Terbang). Adapun dua orang laki-laki tinggi besar yang bermalam di rumah penginapan itu adalah dua orang saudara she Kam, lengkapnya Kam Ki Hoat dan Kam Siong.
“Ji-wi Kam-laote,” antara lain Si Twako yang bermuka kanak-kanak itu berkata kepada kedua orang saudara Kam, “menurut keterangan Si-te (Adik keEmpat), Ji-wi (Kalian Berdua) hendak mengenyahkan seorang muda dari Thai-san-pai. Betulkah itu?”

“Betul sekali, karena dua pasang mata kami takkan salah melihat orang. Sungguhpun tldak jelas bagi kami siapa sebenarnya dia, namun yang sudah pasti sekali kami pernah melihat dia itu di Thai-san. Siapa tahu dia itu orang Thai-san-pai yang sengaja bertugas memata-matai gerakan kita, bukankah celaka kalau begitu? Kami rasa lebih baik turun tangan di jalan sebelum terlambat. Akan tetapi Twako menghendaki lain, habis bagaimana selanjutnya?”

Twako itu tersenyum. “Seorang muda dari Thai-san-pai memata-matai kita? Heh-heh, lucu kalau benar demikian. Apakah dia berkepala tiga berlengan enam?” Kun Hong yang mendengar pertanyaan ini bingung, tidak tahu maksudnya. Akan tetapi Kam Ki Hoat menja-wab,
“Lagaknya seperti seorang pemuda kaya-raya yang ahli dalam bun (ilmu sastra) dan sedikit mengerti ilmu silat.

“Akan tetapi aku sendiri sangsi apakah dia itu ada isinya.”

“Kalau begitu, mengapa harus takut dia dapat memata-matai kita? Jangan pedulikan bocah masih ingusan itu, Ji-wi Kam-laote. Sekarang dengarlah rencanaku yang tadi sudah kuberitahukan kepada Hui-liong Sam-heng-te. Dengan berpencar kita naik ke Thai-san, menggunakan kesempatan Thai-san-pai dibuka pendiriannya, kita mengaku orang-orang kang-ouw yang akan memberi selamat dan menghaturkan sekedar sumbangan atau barang perkenalan. Akan tetapi setelah tiba di sana kita harus dapat berkumpul di dekat meja penerimaan sumbangan dan hadiah. Seorang tokoh besar seperti orang she Tan itu, sudah pasti akan menerima barang-barang luar biasa dari para tokoh kang-ouw di empat penjuru. Nah, kalau saatnya tiba, mudah untuk kita sembilan orang menyikat barang-barang itu, tentu saja yang tidak berharga kita tinggalkan.”

“Twako, apakah kau sudah merasa yakin benar bahwa saat keributan itu pasti akan tiba?” Kam Ki Hoat bertanya ragu.

Si Twako ini tertawa lagi, mukanya menjadi makin bulat. “Siapa bilang takkan tiba? Aku yakin dan berani bertaruh memotong daun telinga! Saat ini sudah pasti akan dipergunakan oleh mereka yang telah dihina oleh Si Raja Pedang. Bahkan aku dapat menduga bahwa iblis-iblis empat penjuru akan muncul, berlumba untuk menjatuhkan Si Sombong yang hendak membentuk Thai-san-pai itu.”

Kun Hong yang mendengarkan semua ini mulai agak mengerti persoalannya. Ia dapat menduga bahwa orang-orang ini yang berjumlah sembilan dan terdiri dari tiga rombongan atau tiga golongan, adalah orang-orang jahat yang hendak merampok Thai-san-pai, mempergunakan kesempatan di waktu pertemuan itu kacau karena terjadinya keributan. Agaknya Tan Beng San yang amat dikagumi ayahnya, yang sudah seringkali ia dengar namanya, yang digelari orang Raja Pedang itu, telah menanam bibit permusuhan yang banyak sekali. Diam-diam Kun Hong mengerutkan keningnya. Andaikata sembilan orang yang berada di ruangan kuil bobrok ini mempunyai hati dendam terhadap Tan Beng San dan ingin membalasnya dengan cara bertempur, tentu ia takkan dapat berpihak sebelum tahu sebab-sebab permusuhannya. Akan tetapi sembilan orang ini hendak merampok benda-benda berharga. Hemm, kalau sudah begini tak perlu diselidiki lagi sebab-sebab permusuhan, karena jelas bahwa mereka ini bukanlah orang-orang baik. Aku harus dapat mendahului mereka, pikirnya, mendahului mereka naik ke Thai-san dan memberitahukan apa yang ia lihat ini kepada Tan Beng San. Kalau sudah diberi tahu tentu dapat berjaga-jaga dan kalau sembilan orang ini kelak naik ke Thai-san boleh diusir saja!

Baru saja ia hendak keluar dari tempat persembunyian dan pergi, tiba-tiba pengintai di depan itu pun bergerak perlahan dan segera lari meninggalkan tempat itu. Kun Hong heran. Siapakah dia itu? Gerakannya demikian gesit dan ringan, sebentar saja lenyap. Ah, kiranya kalau tadi ia dapat mengikuti bayangan itu adalah karena bayangan itu pun mengikuti Si Muka Tikus dan dua orang saudara Kam. Maka gerakan dan larinya juga tidak begitu cepat. Sekarang kembalinya, karena tidak mengikuti orang-orang yang lebih rendah tingkatnya, ternyata bayangan ini dapat melesat seperti burung terbang cepatnya, membuat Kun Hong melongo dan makin kagum terheran-heran.

Hati-hati ia memasuki rumah penginapan, tersenyum melihat bantal guling yang diselimutinya masih tetap tidak berubah, lalu tidur lagi, pulas sampai pagi hari. Ia terbangun karena mendengar suara pemuda pesolek itu berteriak-teriak memanggil pelayan,

“Hee, pelayan, tulikah engkau? Lekas ambilkan air hangat, cepat! Aku hendak berangkat pagi-pagi!”

Kun Hong memang malam tadi berniat bangun dan berangkat pagi-pagi untuk mendahului orang-orang itu ke Thai-san, akan tetapi meiihat pemuda itu ribut-ribut tanpa menghiraukan orang lain yang masih tidur, ia mendongkol dan berkata, “Benar-benar tak tahu adat! Apakah tidak melihat orang lain masih tidur?”

Pemuda itu hanya menoleh dan mencibirkan bibirnya mengejek, kemudian masuk lagi ke kamar tanpa mempedulikan Kun Hong. Dengan hati mengkal Kun Hong lalu berkemas, membersihkan mata dan membeli sarapan di warung depan rumah. Ketika ia kembali ke rumah penginapan untuk membayar sewa ia bermalam, ia mendapat kenyataan bahwa pemuda yang menyebalkan hatinya itu telah berangkat.

“Hemmm, anak manja itu sudah pergi?” tanyanya kepada pelayan yang memberinya tempat bermalam.

Pelayan itu tertawa, mengangguk. “Anak orang kaya sudah biasa dimanja memang, Tuan Muda,” katanya. “Segala keinginannya harus terkabul.”
Pada saat itu Kun Hong melihat dua orang laki-laki tinggi besar semalam, yaitu Kam Ki Hoat dan Kam Siong, juga sudah siap dan dengan suara keras memanggil pelayan, mengadakan perhitungan lalu meninggalkan rumah penginapan itu tanpa menengok sedikit pun kepada Kun Hong. Pemuda ini kaget. Ah, sama sekali ia tidak mengira kalau mereka pun sepagi itu berangkat. Lebih baik ia mengikuti mereka. Tidak akan terlambat kiranya mendahului mereka kelak di kaki Gunung Thai-san. Siapa tahu dengan mengikuti mereka secara diam-diam, ia akan dapat lebih banyak memberi keterangan penting kepada Paman Tan Beng San, demikian pikirnya. Dan siapa tahu kalau-kalau mereka yang memusuhi Raja Pedang ini, ada hubungannya dengan mereka yang menculik Li Eng dan Hui Cu.

Akan tetapi alangkah kaget dan kecewa hatinya ketika melihat betapa dua orang itu ternyata mempunyai dua ekor kuda yang dititipkan di dalam kandang kuda di belakang rumah penginapan dan sekarang mereka telah menunggang kuda dan membalap keluar. Mau rasanya Kun Hong menempeleng kepalanya sendiri. Mengapa ia tidak menduga akan hal ini?

Terpaksa ia melanjutkan perjalanan dengan bersungut-sungut. Tak mungkin ia harus berlari-lari mengejar dua ekor kuda itu. Hal ini tentu akan menimbulkan keheranan dan kecurigaan orang-orang yang melihatnya. Setelah ia keluar dari dusun itu, dan berada di tempat yang sunyi, barulah ia berani berlari-iari cepat untuk sedapat mungkin menyusul dua orang penunggang kuda tadi.

Ia telah tiba di dalam hutan malam tadi dan dari jauh ia sudah melihat kuil tua yang dijadikan tempat pertemuan orang-orang yang memusuhi Tan Beng San. Berdebar hatinya meiihat beberapa orang di depan kuil dan mendengar suara pertengkaran. Cepat ia menyusup-nyusup di antara pohon dan semak-semak mendekati tempat itu. Alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat pemuda pesolek sombong itu berdiri di depan kuil berhadapan dengan sembilan orang yang semalam telah ia lihat di dalam kuil. Ia merasa kuatir sekali karena dapat menduga bahwa akhirnya sembilan orang penjahat itu toh akan mengganggu juga pemuda yang mereka anggap sebagai seorang anak murid Thai-san-pai. Yang membuat Kun Hong mendongkol adalah melihat sikap pemuda itu sendiri. Di hadapan sembilan orang yang terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw dengan nama-nama menyeramkan, mengapa masih tersenyum-senyum dengan bibir yang selalu mengejek? Alangkah sombongnya! Biarpun hatinya menjadi gemas dan ingin ia melihat pemuda pesolek macam ini menerima hajaran keras, namun mengingat bahwa pemuda itu boleh jadi benar-benar orang Thai-san-pai, tak enak kalau ia harus membiarkan saja pemuda itu dalam bahaya. Diam-diam Kun Hong bersiap sedia, kalau nanti melihat pemuda itu terancam, pasti ia akan keluar dan membantunya. Sementara itu, ia mencari persembunyian yang lebih dekat dan menonton.

Orang pendek gemuk bermuka kanak-kanak yang mengepalai rombongan sembilan orang itu terdengar berkata sambil tertawa, “Orang muda, apakah niatmu menghadang kami di sini? Siapakah kau?”

Pemuda itu dengan lagak sombong mengerutkan kening menjawab, “Kong Houw perut gendut, tak usah kau berpura-pura lagi. Kau tahu bahwa aku datang dari Thai-san-pai, akulah anak murid Thai-san-pai.”

“Kau kenal namaku??” Si Gendut itu berseru kaget.

“Hemm, siapa tidak mengenal nama busukmu? Kau tokoh tertua dari Lam-thian Si-houw, di selatan menjadi momok yang ditakuti rakyat. Akan tetapi jangan kira Thai-san-pai takut kepadamu!”

Kang Houw melirik kepada teman-temannya, kemudian ia tertawa lagi dengan muka ramah dan berkata, “Aha, kiranya saudara ini adalah orang Thai-san-pai. Bagus sekali, kalau begitu kita adalah orang-orang sendiri. Saudara muda, ketahuilah bahwa kami sembilan orang ini adalah orang-orang yang mengagumi ketuamu, Raja Pedang Tan-tai-hiap dan kami sengaja hendak pergi ke Thai-san untuk memberi selamat dan hormat atas pendirian Thai-san-pai. Harap kau orang muda jangan salah duga.”

Orang muda itu mencibirkan bibirnya, suatu kebiasaan yang memanaskan perut Kun Hong karena gerakan ini benar-benar membuat orang menjadi gemas dan mendongkol! “Kang Houw perut gendut! Siapa sudi membeli daganganmu? Kalian hanya pura-pura saja hendak memberi selamat kepada Thai-san-pai, akan tetapi kalian sebetulnya adalah maling-maling kecil yang sudah mengilar begitu mengingat akan barang-barang sumbangan yang berada di meja penerimaan di Thai-san-pai! Siapa yang tidak tahu akan hal itu? Hemm, kalian ini sama dengan tikus-tikus kecil yang mau coba-coba meraba kumis harimau.”

Berubahlah sikap sembilan orang itu mendengar kata-kata ini, juga Kun Hong yang berada di tempat persembunyiannya tercengang keheranan. Bagaimana pemuda itu bisa tahu akan hal ini? Hatinya berdebar penuh dugaan. Jangan-jangan bayangan yang bergerak cepat seperti iblis malam tadi adalah dia ini! Mungkinkah pemuda sombong ini memiliki kepandaian begitu tinggi?

“Twako, ternyata dia mata-mata seperti yang kami sangka. Menghadapi bocah seperti ini perlu apa banyak bicara? Twako, biarlah kami berdua membereskannya di sini, siapa yang akan tahu?” kata Kam Ki Hoat. Ketika melihat Kang Houw si gendut muka kanan-kanak itu mengangguk perlahan, Kam Ki Hoat berkata kepada adiknya, “Mari kita tamatkan setan ini.” Dengan sikap mengancam dan menakutkan, kedua orang tinggi besar yang kelihatan amat kuat itu menghampiri pemuda yang tubuhnya kecil dan kelihatan lemah itu.

“Bocah yang telalu lebar telinganya, terlalu besar matanya dan terlalu lebar mulutnya! Bersiaplah menghadap raja akhirat!” teriak Kam Ki Hoat.

Kun Hong memandang tajam, akan tetapi melihat sikap yang tenang sekali dari pemuda itu, ia merasa yakin bahwa pemuda itu belum terancam bahaya, maka ia hanya memegangi dua buah batu kecil di kedua tangannya, siap menolong.

Pemuda itu benar-benar amat tenang menghadapi dua orang yang tinggi besar dan mengancamnya itu. Dengan tersenyum mengejek ia berkata, “Dua ekor monyet besar menjual lagak. Siapa takut gertakanmu?”

Kam Ki Hoat dan Kam Siong berseru keras, dengan berbareng mereka maju menerjang dari kanan kiri. Kam Ki Hoat menggunakan gerakan Harimau Menerkam Domba, kedua tangannya meluncur ke arah leher pemuda itu untuk memukul patah atau mencengkeramnya. Dari kiri Kam Siong menggunakan gerakan Kilat Menyambar Batu, kedua tangannya yang terkepal sebesar kepala orang itu memukul bergantian ke arah lambung dan ulu hati lawan. Sekaligus pemuda itu diserang dari kanan kiri ke arah atas dan bawah tubuhnya, dengan penyerangan yang dahsyat dan penuh tenaga yang amat kuat. Anehnya, pemuda itu diam saja tak bergerak, seakan-akan tidak tahu bahwa dia diserang orang dari kanan kiri! Akan tetapi, ketika empat buah tangan itu sudah mendekati tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebatan, tangan kakinya bergerak dan… dua orang saudara Kam itu berteriak kesakitan. Apa yang terjadi? Ternyata serangan Kam Hoat malah mengancam leher Kam Siong sedangkan pukulan-pukulan Kam Siong mengancam ulu hati dan lambung kakaknya! Mereka kaget dan berusaha menarik kembali serangan, akan tetapi tetap saja masih saling menggebuk yang membuat keduanya terpental dan jatuh terduduk, saling memandang dengan mata, melotot heran. Adapun pemuda itu masih! berdiri di tempat tadi, tersenyum penuh ejekan yang memanaskan perut.

Tujuh orang lainnya yang melihat ini, menjadi terbelalak, terheran-heran karena mereka tidak dapat melihat nyata gerakan pemuda itu, tahu-tahu dua orang saudara Kam sudah saling memukul sendiri. Gilakah dua orang saudara Kam itu? Ataukah memang tadi gerakan mereka itu keliru dan justeru saling bertentangan? Hanya Kun Hong yang diam-diam kagum sekali juga kaget karena ternyata olehnya bahwa pemuda itu benar-benar seorang yang pandai sekali. Sekarang makin besar dugaannya bahwa bayangan hitam tadi tentulah pemuda ini pula orangnya. Ia tidak mengenal gerakan Si Pemuda ketika menjatuhkan kedua lawan tadi, akan tetapi dapat mengikuti dengan pandang matanya dan ia tahu bahwa pemuda menggunakan kelincahannya dan ilmu “menggunakan sedikit tenaga meminjam tenaga lawan”, sambil mengelak cepat sekali ia menggencet kaki kedua lawannya bergantian selagi kedua lawan itu menyerang, melejit ke kanan mendorong Kam Ki Hiat ke depan sehingga tak dapat dicegah lagu kedua saudara itu berubah arah penyerangan mereka dan terjadi saling gebuk sendiri!

Tentu saja Kam Ki Hoat dan Kam Siong marah sekali, juga malu karena terang-terangan mereka tadi dipermainkan oleh pemuda itu. Sambil mengeluarkan gerengan seperti macan kelaparan, keduanya menerjang kembali dari kanan kiri. Kam Ki Hoat mengeluarkan ilmu tendangan yang jarang dapat dihadapi lawan, tendangan geledek yang akan dapat menumbangkan sebatang pohon besar. Sedangkan dari kiri Kam Siong juga mengeluarkan ilmu pukulannya, pukulan geledek yang akan dapat meremukkan kepala seekor harimau! Pendeknya, sekali ini dua orang saudara ini hendak menghancurkan tubuh pemuda kurus itu dari atas dan bawah agar menjadi hancur dan lumat seperti tahu dicacah!

Seperti juga tadi, pemuda itu kelihatannya tenang dan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kini tujuh orang penjahat lainnya memandang penuh perhatian. Takkan salah lagi, pikir mereka, sekarang pemuda ini pasti akan mampus! Hanya Kun Hong yang diam-diam tersenyum karena timbul kekaguman dan kepercayaan besar dalam hatinya terhadap kelihaian pemuda ini. Ia juga memandang penuh perhatian, ingin sekali melihat dengan cara bagaimana pemuda ini akan mengalahkan lawan-lawannya. Dan ia kembali kagum sekali melihat cara pemuda itu berkelebat mengelak sambil mengerahkan ginkangnya, menyelinap di antara pukulan dan tendangan. Ketika kaki Kam Ki Hoat menyambar lewat, tangan kirinya bergerak menangkap tumit lawan dan mendorong, dan pada saat yang hampir bersamaan, pukulan geledek Kam Siong juga meluncur lewat, tangan kanannya bergerak menangkap pergelangan tangan itu dan mendorong. Akibatnya… tubuh Kam Ki Hoat terlempar ke atas sampai tiga meter sedangkan tubuh Kam Siong terdorong ke depan berjungkir-balik dan terguling-guling sampai lima enam meter! Kedua orang ini agak nanar, menggerak-gerakkan kepala dengan mata menjuling dan berkunang-kunang. Beberapa lama kemudian keduanya dapat merangkak bangun dan kemarahan mereka memuncak. Tampak benda berkilat ketika kedua orang saudara Kam ini mencabut golok mereka yang besar, tajam dan meruncing.

“Bocah iblis, rasakan pembalasanku!” Kam Ki Hoat berteriak sambil lari menerjang.

“Mampus, kau setan!” Kam Siong juga berseru marah sambil memutar-mutar goloknya menyerang.

Agak kuatir juga hati Kun Hong melihat betapa dua orang tinggi besar itu mainkan golok yang demikian tajamnya. Mengerikan sekali. Apalagi karena ia dapat melihat bahwa ilmu mereka bermain golok agaknya lebih lihai daripada ilmu pukulan mereka. Bagaikan kilat menyambar-nyambar, dua batang golok itu menyerang dari kanan kiri, sedangkan pemuda itu tetap saja bertangan kosong, tidak mau mencabut pedangnya dan malah enak-enak saja menanti datangnya dua batang golok yang mengancamnya!

Penyerangan maut kali ini akibatnya hebat sekali. Tujuh orang penjahat itu sampai terbelalak mata mereka saking kaget dan herannya. Hanya tampak dua tubuh saudara Kam yang tinggi besar itu seperti bola-bola ditendang melayang ke arah pohon besar, disusul melayangnya dua benda gemerlapan dan tahu-tahu dua orang saudara Kam itu telah tergantung di batang pohon dengan leher baju terpantek pada batang itu oleh golok mereka sendiri! Agaknya pemuda yang aneh dan luar biasa itu secara cepat bukan main telah berhasil melontarkan tubuh mereka ke arah pohon sambil merampas golok, kemudian menggunakan golok-golok itu sebagai golok terbang yang langsung memantek dua orang tinggi besar itu melalui leher baju mereka. Kini tubuh dua orang itu tergantung, kedua kaki mereka bergerak-gerak dan mereka kelihatan ketakutan sekali karena golok mereka sendirl begitu dekat dengan leher!

Kun Hong mengerutkan keningnya. Hatinya memang girang sekali melihat bahwa pemuda ini walaupun sombong, kiranya tidak kejam dan tidak mau menbunuh atau melukai berat kepada lawan. Akan tetapi diam-diam ia mulai ragu apakah perlu ia membantu karena melihat gerakan-gerakan tadi, terutama ketika menyambit dengan golok-golok itu, ia sangsi apakah dia sendiri becus melakukannya. Ia sangsi apakah dia sendiri mampu mengalahkan pemuda yang benar-benar luar biasa ini. Tak terasa lagi dua buah batu yang tadi dipegangnya dalam persiapan menolong, terlepas dari tangannya dan ia menonton lagi dengan penuh perhatian dan dengan hati tertarik.

Tiba-tiba dua bayangan orang melesat ke arah pohon itu dan cepat sekali dua bayangan itu telah melayang turun lagi sambil mengempit tubuh kedua saudara Kam dan memegang golok yang tadi memantek dua orang ini pada pohon. Hebat gerakan itu, sekaligus melayang, mencabut golok dan mengempit orang sambil melayang turun kembali. Kiranya dua orang ini adalah dua orang di antara Hui-liong Sam-heng-te. Setelah menurunkan kedua orang saudara Kam itu, tiga orang kakak beradik Si Naga Terbang ini maju menghampiri pemuda tadi. Sikap mereka tenang akan tetapi pandang mata mereka penuh ancaman. Tiga orang ini berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh kurus-kurus sesuai dengan keahlian mereka, yaitu ilmu meringankan tubuh yang membuat mereka dijuluki Naga Terbang. Mereka ini adalah kakak beradik she Cong berasal dari daerah Kang-lam dan nama mereka sudah amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai ahli-ahli ginkang dan ahli pedang yang jarang bandingnya.

Pemuda itu tersenyum. “Ah, pantas kalian dijuluki Hui-liong (Naga Terbang), hanya sayang bahwa julukan itu terlalu muluk untuk tiga saudara maling kecil. Sayang orang-orang yang sudah memiliki kepandaian sebaik itu merusak nama sendiri dan menjadi maling-maling tak tahu malu.”

Tiga orang itu kaget juga. Pemuda ini kelihatannya masih hijau, akan tetapi ternyata sudah mengenal nama mereka. Apakah karena nama mereka yang sudah terlalu populer. Akan tetapi berbareng mereka juga merasa marah sekali dimaki sebagai maiing-maling kecil.

“Bocah bermulut lancang! Kami Hui-liong Sam-heng-te bukanlah maling-maling kecil, keparat!”

“Ah? Betulkah? Kalau begitu tentulah maling-maling besar. Bukankah kalian juga ingin mencuri barang-barang berharga dari Thai-san-pai nanti?”

Merah muka tiga orang kurus itu. Tak dapat disangkal lagi, memang mereka menerima ajakan Lam-thian Si-houw untuk merampok barang-barang hadiah di Thai-san-pai, akan tetapi hal itu bukan hanya karena barang-barang itu tentulah merupakan barang-barang pusaka yang luar biasa, melainkan juga untuk melampiaskan dendam kemarahan mereka terhadap Raja Pedang yang pernah merobohkan mereka beberapa tahun yang lalu. Niat usaha mereka ini sama sekali tidak boleh dianggap sebagai perbuatan “maling-maling kecil”!

“Kami bermusuhan dengan Tan Beng San Ketua Thai-san-pai ada sangkutan apakah denganmu? Kau siapa?” tanya seorang di antara mereka, yang tertua.

Pemuda itu tersenyum mengejek, matanya berkilat. “Bukankah kalian tadi menganggap aku anak murid Thai-san-pai? Nah, aku memang murid Thal-san-pai. Kalian ini monyet-monyet kurus memiliki kemampuan apakah berani bermusuhan dengan Ketua Thai-san-pai? Ih, benar-benar tak tahu diri! Bercerminlah lebih dulu dan lihat, apakah monyet-monyet macam kalian ini cukup patut untuk mengganggu Thai-san-pai!”

Kemarahan Hui-liong Sam-heng-te tak dapat mereka kendalikan lagi. Sekali bergerak, mereka telah mencabut pedang mereka yang tajam berkilauan. Si Pemuda tetap tersenyum-senyum tenang, seperti seorang tua melihat kenakalan tiga orang bocah. Tiba-tiba tiga orang kurus itu menggerakkan pedang dan berpencar mengurung pemuda itu dari tiga jurusan. Berbareng mereka memekik dan pedang mereka berkelebat menyerang. Pemuda itu berkelebat dan tiga serangan tadi mengenai tempat kosong.
“Eh, eh, kalian menggunakan jurus-jurus dari Kun-lun-pai!” pemuda itu berseru. Tiga orang itu tertegun dan saling pandang, karena herannya menunda penyerangan mereka.

“Hemm, lucu benar. Melakukan jurus-jurus Kun-lun Kiam-hoat saja kalian masih belum becus, sudah menyerang aku. Hi-hi, melihat tingkat, kalian ini lebih patut menyebut kakek guru kepadaku!”

“Bocah sombong, kau tahu apa tentang Kun-lun Kiam-hoat?” teriak orang yang termuda.

“Eh, kalian tidak percaya? Nih, lihat!”

Pemuda itu memungut sebatang ranting kering dan memegangnya di tangan kanan seperti sebatang pedang.

“Kalian tadi menggunakan jurus Iblis Menukar Bayangan, yang seorang lagi menyerang dengan gerakan Burung Sakti Membuka Sayap, dan yang ke tiga dengan jurus Ayam Emas Mematuk Gabah. Bukankah begitu? Nah, jurus-jurus yang kalian mainkan tadi salah semua, bukan ilmu Kun-lun yang aseli, melainkan sudah campur aduk seperti masakan cap-cai! Kalau tidak percaya, jurus-jurus kalian tadi dapat dipunahkan semua dengan ilmu pedang Kun-lun-pai yang bernama Ilmu Pedang Lima Serangkai.”

Tiga orang Naga Terbang itu saling pandang, lalu tertawa. Memang tepat sekali ucapan pemuda itu ketika menyebutkan jurus-jurus yang mereka mainkan. Memang amat mengherankan bagaimana dalam keadaan diserang berbareng, selain dapat menyelamatkan diri, juga sekaligus pemuda itu dapat mengenal jurus-jurus mereka. Akan tetapi mendengar bahwa pemuda itu akan menggunakan Ilmu Pedang Lima Serangkai dari Kun-lun-pai, mereka mau tidak mau tertawa. Karena ilmu pedang yang disebutkan itu adalah ilmu pedang yang paling rendah dari Kun-lun-pai, merupakan dasar pelajaran bagi para murid yang akan belajar ilmu pedang. Mana dapat dipakai untuk menghadapi mereka? Biarpun mereka bukan murid-murid aseli dari Kun-lun-pai, namun ilmu pedang Kun-lun-pai yang tinggi telah mereka pelajari dan dicampur dengan ilmu-ilmu pedang lain.

“Manusia sombong, kau agaknya sudah ingin mampus! Nah, sambutlah kami dengan Ilmu Pedang Lima Serangkai! Keluarkan pedangmu,” kata orang tertua dari ketiga Naga Terbang.

Pemuda itu membolang-balingkan ranting di tangannya., “Menghadapi ilmu pedang cap-cai kalian itu untuk apa harus menggunakan pedang. Dengan ranting ini dan dengan Ilmu Pedang Lima Serangkai, aku akan menghadapi kalian. Majulah!”

Selama mereka hidup, tiga orang ini belum pernah dihina seperti sekarang. Mereka malu sekali kalau harus mengeroyok seorang pemuda yang hanya bersenjata ranting. Akan tetapi karena sikap pemuda itu benar-benar amat menghina, mereka tidak mempedulikan aturan-aturan di kalangan kang-ouw lagi dan serentak mereka menyerang, mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang paling lihai. Bagaikan tiga ekor naga terbang, pedang mereka berubah menjadi gulungan sinar panjang yang menyambar dari tiga jurusan ke arah pemuda itu.

Alangkah besar keheranan mereka ketika pemuda itu benar-benar mainkan Ilmu Silat Pedang Lima Serangkai! Mereka menahan gelak ketawa mereka dan dengan sungguh-sungguh mereka menyerang untuk merobohkan pemuda sombong ini. Akan tetapi, ranting yang digerakkan secara lambat dan perlahan itu kiranya benar-benar dapat menyusup di antara pedang mereka sedemikian rupa dan mengancam jalan darah pergelangan tangan mereka bertiga! Tentu saja mereka tidak mau membiarkan jalan darah yang terpenting ini tertotok dan tidak pernah jurus serangan mereka dilanjutkan. Nampaknya memang lucu sekali. Tiap kali seorang di antara mereka menusuk atau membacok, sebelum serangan ini mengenai tubuh Si Pemuda, sudah buru-buru ditarik kembali oleh penyerangnya untuk diubah dengan jurus lain.

“Ha-ha, lihat, bukankah ilmu pedang cap-cai kalian ini tidak ada gunanya sama sekali?” pemuda ini masih dapat mengejek ketika ia melompat ke sana ke mari untuk memapaki setiap serangan dengan totokan-totokan yang betul-betul dilakukan sesuai dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Lima Serangkai!

Tiga orang itu betul-betul dibikin bingung dan tidak mengerti. Akhirnya mereka penasaran, malu dan marah sekali, lalu melakukan serangan bertubi-tubi secara nekat dan lebih gencar. Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan seruan panjang, ranting di tangannya berkelebat cepat sekali dan di lain saat ia sudah melompat keluar dari gelanggang pertempuran sambil tertawa-tawa. Kun Hong kagum bukan main, akan tetapi enam orang teman penjahat itu menjadi merah muka mereka melihat betapa Hui-liong Sam-heng-te itu ternyata berdiri seperti patung, dalam sikap masing-masing, sikap orang bersilat. Mereka telah kaku tak dapat bergerak karena masing-masing telah kena ditotok oleh pemuda itu.

Melihat hal ini, Kang Houw Si Twako melangkah maju mendekati tiga orang yang telah tertotok itu, lalu berseru tiga kali sambil menotok dengan dua jari tangannya. Seketika terbukalah jalan darah tiga orang yang segera mengeluh dan roboh terguling. Demikian hebatnya pengaruh totokan pemuda itu sehingga tubuh mereka terasa lemas dan baru beberapa lama kemudian mereka dapat berdiri kembali. Akan tetapi mereka sekarang seperti tiga ekor naga yang sudah dicabuti kuku dan siungnya, tidak berani lagi mengeluarkan suara.

Sementara itu, Si Pemuda dengan lagak sombong lalu berkata, “Eh, bagaimana sekarang? Apakah Lam-thian Si-houw juga hendak memperlihatkan kuku dan taringnya? Kalau begitu, majulah dan rasai kelihaian anak murid Thai-san-pai sebelum kalian tak tahu diri berani naik ke Thai-san.”

Wajah Kang Houw menjadi merah. Ia merasa marah, penasaran, dan malu sekali. Benarkah pemuda ini anak murid Thai-san-pai? Kalau hanya anak murid yang masih muda saja begini lihai, ah, kiranya takkan mungkin bergerak di Thai-san.

“Tuan Muda, sebenarnya, siapakah kau?”

“Hi-hik, sudah kalian tahu, anak murid Thai-san-pai, mengapa tanya-tanya lagi?”

Bi Houw Si Muka Tikus melangkah maju. “Twako, biarkanlah Si-te mencoba-coba bocah ini.” Twakonya mengangguk.

“He-he, Si Muka Tikus yang suka merayap ke penginapan!” seru Si Pemuda. “Apakah kehendakmu? Lebih baik kau ajak tiga orang saudaramu itu maju bersama, supaya segera beres urusan ini!”

Bi Houw mencabut pedangnya yang ternyata adalah pedang pasangan yang berhiaskan benang-benang merah. “Bocah mulut besar, tuanmu saja sudah cukup untuk memenggal lehermu.”

Pemuda itu mengulur lehernya yang kecil panjang, seperti lagak seekor kura-kura. “Iihh, leher hanya sebuah hendak dipenggal? Habis ke mana mencari gantinya nanti? Jangan sembrono, tikus, jangan-jangan ekormu malah yang akan kau penggal sandiri.”

“Bangsat, lihat pedang!” Dua gulung sinar pedang menyambar ke arah pemuda itu yang berseru lucu,

“Hayaaaa, ada tikus bermain siang-kiam (pedang pasangan). Jangan-jangan buntutmu sendiri yang akan putus!”

Karena melihat betapa pemuda itu dengan mudah dapat menghindarkan diri dari sambaran sepasang pedangnya. Bi Houw mempercepat gerakan pedangnya yang menyambar-nyambar dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Mengagumkan sekali gerakan pemuda itu. Bagaikan sebuah, bayang-bayang saja, tubuhnya tak pernah terbabat pedang. Atau, lebih tepat seperti asap saja tubuhnya, selalu menyelinap di antara sinar pedang dengan gerakan seenaknya.

“Awas, pedangmu beradu!” pemuda itu berseru di antara bacokan-bacokan itu dan “traaanggg!” benar saja, dengan sentuhan-sentuhan dan sentilan di belakang telapak tangan Si Muka Tikus membuat pedang kanan Bi Houw itu menyeleweng dan membentur pedang kirinya sendiri.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: