Rajawali Emas (Jilid ke-26)

Orang she Kang itu tertawa bergelak sampai tubuhnya yang gendut itu bergerak-gerak semua. “Ha-ha-ha! Betulkah janjimu ini? Aku akan menggebukmu dengan cambukku ini seratus kali dan kau takkan lari dan menerima begitu saja?”

“Siapa akan membohongimu? Kau boleh menggebuk. terus-menerus sampai seratus kali jangan berhenti.”

“Bagus, kalau kau mampus, dagingmu akan hancur lebur, tak usah ribut dikubur lagi. Kalau sampai seratus kali kau benar-benar tidak apa-apa, biarlah aku Kang Houw mengaku kalah dan berlutut seratus kali kepadamu. Ha-ha-ha!”

“Mulailah, dan hitung baik-baik!” kata Kun Hong, suaranya tiba-tiba berubah aneh seperti suara yang datang dari angkasa, bergema kuat membuat Toat-beng Yok-mo dan hwesio itu saling pandang dan nampak kaget, bahkan Cui Bi juga terkejut sekali mendengar suara ini. Ia teringat bahwa ketika pemuda itu mula-mula muncul di hutan tiga hari yang lalu, juga pernah bersuara seperti itu.

“Awas, lihat cambuk. Satuuu….!” Disusul bunyi “tarrr!” keras sekali. Cui Bi sudah siap melompat, akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Kun Hong betul-betul, tidak bergeming dari tempatnya dan anehnya… cambuk itu bukan digebukkan kepada kepala Kun Hong, melainkan kepada sebuah batu besar di sebelah kiri pemuda itu.

“Duaa… tarrrt! Kang Houw mencambuk lagi, kelihatannya penasaran dan marah sekali. Debu-debu batu beterbangan terkena hantaman cambuk yang digerakkan tenaga Iwee-kang raksasa itu. “Tigaaa… tarrr!”

Kang Houw mencambuk terus sambil menghitung, peluh membasahi jidatnya sedangkan Kun Hong enak-enak berdiri, bahkan dengan tenang ia meninggalkan tempat itu, berjalan menghampiri Toat-beng Yok-mo dan hwesio itu yang berdiri terlongo-longo menyaksikan peristiwa luar biasa ini. Cui Bi lupa akan peranannya berpura-pura pingsan tadi, ia bangun dan duduk bengong menyaksikan betapa Kang Houw menggebuki batu sambil menghitung-terus!
“Yok-mo, kau juga mencari aku mau apakah?” Kun Hoing bertanya tenang-tenang saja kepada Yok-mo.

Sejenak kakek ini bingung, memandang kepada Kun Hong lalu menoleh kepada Kang Houw, sampai lama berganti-ganti ia memandang. Kemudian ia terbatuk-batuk dan berkata, “Orang muda yang aneh, aku datang hendak bertanya apakah kau telah membaca habis tiga buah kitabku yang kau kembalikan itu?”

“Tentu saja! Bukankah dahulu kau sendiri yang memberi ijin kepadaku untuk membacanya?” jawab Kun Hong sewajarnya, karena memang ia tidak membohong.

“Hemm, kalau begitu kau harus mampus. Tak seorang pun boleh mempelajari ilmuku.”

“Nanti dulu, Yok-mo. Mampus ya mampus, biarlah aku bicara dulu dengan Lo-suhu ini. Lo-suhu, kau sebagai paman dari Kang Houw, apakah kau juga bermaksud membunuh aku?”

Hwesio itu nampak bingung. Sudah beberapa kali pemuda ini menyindirnya tentang pelajaran Agama Buddha. Memang, pada waktu itu banyak penjahat yang mencukur rambut masuk menjadi hwesio agar terbebas dari pengejaran yang berwajib. Juga selain ini, dengan menjadi hwesio mereka lebih leluasa melakukan kejahatan sambil memperdalam ilmu silat yang banyak dimiliki para hwesio. Hwesio ini adalah seorang di antara mereka itu.

“Pinceng (aku) datang untuk menangkap pemuda Thai-san-pai itu, tidak ada urusan denganmu. Lebih baik kau lekas pergi dari sini, jangan mencampuri urusan pinceng.”

“Hemm, enak saja kau bicara, Lo-suhu. Sebetulnya, biarpun kau berjubah hwesio dan kepala gundul, namun isi hatimu tiada bedanya dengan orang sebangsa Kang Houw. Sebetulnya aku tidak sudi melayani orang palsu seperti engkau, juga aku tidak sudi berurusan dengan Yok-mo yang wataknya plin-plan ini. Akan tetapi karena kalian sudah datang, yang seorang hendak membunuh aku, seorang lagi hendak membunuh temanku. Padahal termanku itu tak dapat melawan dan akulah yang melindunginya. Nah, kalian berdua majulah berbareng, kalau malu seorang demi seorang, aku tidak sudi melayani, seorang saja kurang berharga bagiku. Hayo, majulah kalau memang berani, melawan aku!” Setelah berkata demikian, Kun Hong mencabut pedang Ang-hong-kiam dari balik bajunya.

Cui Bi diam-diam memperhatikan dan ingin sekali ia melihat apakah betul-betul Kun Hong seorang ahli pedang seperti yang ia sangka. Akan tetapi hampir saja ia terkekeh geli melihat cara Kun Hong memegang pedang, seperti seorang pemotong kambing memegang golok penyembelihan atau seperti seorang tukang mencacah bakso memegang goloknya. Juga Yok-mo dan hwesio itu saling pandang dengan ragu-ragu. Gilakah pemuda ini?
“Hayo maju, boleh kalian rasai ilmu pedangku! Lihat, pedang pusaka ini akan membereskan kalian dengan mudah saja. Ha-ha!”

“Bocah edan, apakah kau betul-betul sudah bosan hidup?” Hwesio itu membentak.

“Kun Hong, kau pernah menggendongku. Kalau kau suka minta ampun dan bersumpah takkan mengingat lagi isi kitab-kitabku, biarlah kuampuni jiwamu dan hanya mengambil sepuluh buah jari tanganmu agar kau tidak melanggar janji,” kata Toat-beng Yok-mo.

Bergidik Kun Hong. Benar-benar dua orang ini iblis-iblis yang tak patut disebut manusia lagi. Ia menyimpan kembali pedangnya dengan hati-hati. Lalu ia menepuk kedua telapak tangannya. “Hemm, kalau aku menggunakan pedang, tentu darah kalian tercecer dan akan menjadi sialan bagiku kalau sampai terkena darah kalian berdua. Hanya aku akan membagi-bagi tempilingan kepadamu, majulah dua ekor iblis tua!”

Toat-beng Yok-mo adalah tokoh besar yang jarang bandingannya, juga hwesio itu yang bernama Tok Kak Hwesio, merupakan tokoh besar yang lihai sekali ilmunya, apalagi ilmunya Kauw-jiauw-kang (Cengkeraman Tangan Monyet) sukar sekali dilawan, biar oleh lawan bersenjata sekalipun. Sekarang bocah yang lagaknya seperti orang berotak miring ini menantang mereka berdua maju bersama. Alangkah gilanya. Penghinaan yang tiada taranya.

“Yok-mo, bukan kita akan mengeroyok, tapi marilah kita berlumba, siapa yang lebih dulu mematahkan batang leher bocah ini, dialah yang menang!”

“Heh-heh-heh, bagus, Tok Kak Hwe-sio, mari mulai!”

Dua orang kakek itu menubruk ke depan, seperti orang-orang menubruk swike (Katak Hijau) saja, berlumba. Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu lenyap dari depan mereka. Keduanya bingung dan Kun Hong sudah tertawa di belakang mereka.

“He, aku di sini!”

Keduanya membalik dan secepat kilat menerjang maju, mempergunakan pukulan-pukulan yang mematikan. Diam-diam Cui Bi menonton dengan mata terbelalak. Sekali lagi ia melihat Kun Hong terhuyung-huyung ke samping, kedua lengan berkembang, tubuh berputaran dengan pantat ditarik-tarik ke atas seperti lagak burung hendak terbang. Lucu sekali gerakannya, akan tetapi anehnya, sekali lagi serangan kedua orang tokoh besar itu mengenai angin!

“Hayo serang terus… serang terus, aku membalas, awas. Heeiiiitt, ayaaa… awas, kanan… kiri… muka… belakang….!”

Cui Bi sekarang bangun berdiri. Bukan hanya matanya yang terbuka lebar melotot, malah mulutnya yang kecil itu juga terbuka lebar-lebar. Ia berdiri seperti patung saking herannya. Ia melihat Kun Hong berjalan melenggang tenang dan enak sekali keluar dari kalangan pertempuran dan dua orang jago tua itu kini saling serang dengan hebatnya!

“Eh, kau berdiri dengan mulut terbuka lebar seperti itu, bagaimana kalau ada lalat masuk?”

Buru-buru Cui Bi menutup mulutnya dan ia seperti baru sadar dari mimpi. Saking heran dan bingungnya, ia merasa bulu tengkuknya berdiri dan ia menurut saja ketika Kun Hong menarik tangannya dan mengajaknya lari dari tempat itu.

Sekali lagi ia menengok dan memandang tajam. Gila betul! Apakah dia sudah gila sehingga pandang matanya kacau? Ataukah mereka bertiga itu yang gila? Ia masih melihat Kang Houw menggebukl batu yang sudah setengah hancur sambil menghitung, “Lima puluh empat… tarrr!” dan melihat Yok-mo bersama hwesio itu terengah-engah dan mati-matian saling gebuk, saling jotos! Sekall lagi ia mengkirik, lalu tak menoleh lagi, menurut saja diseret oleh Kun Hong.

Hari telah mulai gelap ketika keduanya berhenti dan memasuki sebuah kuil kosong di luar sebuah kampung kecil. Dengan napas terengah-engah, aneh sekali, bukan karena lelah melainkan saking ngeri dan seremnya, Cui Bi menjatuhkan diri di atas lantai yang kasar dan kotor, memandang Kun Hong.

“Eh, kenapa kau memandangku begini rupa? Laote (Adik), kulihat kau tadi sudah berdiri. Kau tidak pingsan lagi, kenapa kau tidak segera mempergunakan kepandaianmu memberi hajaran kepada mereka?” tanya Kun Hong, diam-diam merasa tidak enak karena ilmu yang ia pergunakan itu membuat pemuda ini terheran-heran dan ia sibuk mencari alasan untuk menyembunyikan kepandaiannya.

“Hong-ko… apa yang kau lakukan tadi? Mimpikah aku? Bagaimana mereka itu bisa… bisa….”

“Bisa apa?”

“Bisa begitu… ah, ngeri aku melihatnya. Apakah tiba-tiba Kang Houw itu sudah menjadi gila, memukuli batu seperti itu? Dan kenapa pula Yok-mo malah bertempur sendiri dengan hwesio itu?”

“Ha-ha-ha, apanya yang aneh? Laote, agaknya kau tadi pingsan, kau tidak mendengar jelas percakapan kami. Aku menantang dia supaya mencambuki batu seratus kali, kalau batu itu dapat habis aku mengaku kalah. Adapun Yok-mo dan hwesio itu, mereka berkelahi karena berebutan untuk membunuh aku. Mereka tidak mau saling mengalah, hendak berlumba untuk membunuhku. Memang untungku, juga untungmu, bisa terlepas dari tangan orang-orang jahat itu.”
Cui Bi memandang tajam, tentu saja ia tidak dapat mempercayai keterangan ini. Akan tetapi kalau tidak begitu, habis apa sebabnya terjadi peristiwa yang begitu aneh? Ia benar-benar tidak mengerti.

“Hong-ko, apakah benar-benar kau tidak pandai bersilat? Apakah kau bukannya tengah berpura-pura padahal kau telah mewarisi semua kepandaian ayahmu?”

Kun Hong tersenyum. “Laote, sudah kuceritakan bahwa Ayah tidak suka aku belajar silat, bagaimana aku bisa mewarisi kepandaiannya? Tentu saja aku tahu banyak tentang Hoa-san Kun-hoat karena aku telah membaca semua kitab-kitabnya.”

Cui Bi benar-benar tidak mengerti bagaimana orang bisa membaca kitab pelajaran ilmu silat tanpa melatihnya. Apa gunanya? Dan pemuda ini… benar-benar mengherankan. Dikatakan pandai silat, gerakan-gerakannya tadi ketika berhadapan dengan lawan begitu kaku dan kacau, jelas membayangkan bahwa ia memang tidak pandai bersilat. Akan tetapi, dikatakan tak pandai, mengapa sikapnya demikian tabah dan berani, malah dapat menyelamatkan diri dari ancaman tokoh-tokoh seperti Song-bun-kwi, Toat-beng Yok-mo, dan yang lain-lain secara begitu aneh!

Malam hari itu mereka bermalam di dalam kuil kosong, memilih tempat yang agak bersih di sebelah belakang. Cui Bi mengeluarkan roti kering yang dibelinya di dalam dusun yang mereka lewati tadi, lalu membaginya dengan Kun Hong. Mereka makan roti kering dan minum air dari sumur yang berada di belakang kuil, Kemudian mereka merebahkan diri, Cui Bi di atas meja sembahyang yang sudah tidak ada isinya apa-apa lagi, Kun Hong menemukan bangku panjang dan berbaring di situ.

Malam itu tidak terjadi sesuatu yang penting. Akan tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda itu mendengar suara orang di depan kuil. Kun Hong dan Cui Bi saling pandang ketika mendengar suara seorang laki-laki, suara yang keras dan nyaring penuh nada mengejek,

“Heeei, semalam suntuk kau nekat berjalan terus setelah pagi malah berhenti! Agaknya sudah tidak waras otakmu!”

Terdengar jawaban, nyaring, akan tetapi ketus, “Tutup mulut! Kau tawananku, ingatkah? Aku hendak berbuat apa yang kusuka, kau tak berhak membuka mulut mencampuri urusanku, mengerti?”

Kun Hong mendengar suara ini seketika berseri wajahnya. Ia hendak menyerbu keluar, Cui Bi yang melihat gerakannya, cepat menangkap lengan tangan Kun Hong dan menaruh telunjuk pada bibirnya, minta temannya itu supaya jangan berisik.

“Dia itu… dia itu Li Eng….” bisik Kun Hong dekat telinga Cui Bi, akan tetapi segera ia menjauhkan mukanya dan bergidik karena mencium bau harum dari sekitar telinga itu. Alangkah pesoleknya laki-laki ini, memakai minyak segala!

Cui Bi nampak terkejut, akan tetapi ia tetap memberi isyarat supaya temannya tidak membuat gaduh dan mereka akan mengintai dulu. Berindap-indap mereka keluar dan mengintai ke ruangan depan. Kun Hong menuruti kehendak temannya karena ia pun lalu ingat bahwa mungkin Li Eng datang bersama musuh-musuh tangguh, juga ia ingin tahu siapakah laki-laki yang bicara dengan Li Eng itu.

Betul juga dugaan Kun Hong, Memang yang datang sepagi itu di kuil ini adalah Li Eng dan tawanannya. Seperti telah kita ketahui, karena mempergunakan kesempatan selagi Kong Bu, pemuda yang menawannya itu berusaha menyedot keluar racun dari luka di kakinya, Li Eng memukul roboh Kong Bu dan balas menawannya. Tentu saja Li Eng tidak sudi memanggul tubuh Kong Bu yang sengaja membalasnya dengan sikap ketus dan melawan, sehingga terpaksa gadis ini yang sudah membelenggu kaki Kong Bu, lalu mengikatnya dengan akar dan menyeretnya sepanjang jalan!

Li Eng cukup cerdik untuk mengambil jalan yang sunyi melalui hutan-hutan dan gunung-gunung. Sewaktu-waktu kalau terpaksa melalui dusun-dusun, ia berhenti dan melanjutkan perjalanan di waktu malan. Ia tidak mau dijadikan tontonan karena tentu saja mereka menjadi perhatian orang. Mana ada seorang gadis melakukan perjalanan dengan menyeret seorang laki-laki yang terbelenggu?

Demikianlah, pagi hari itu ia tiba di kuil tua. Semalam suntuk ia telah berjalan sambil menyeret tubuh Kong Bu, lelahnya dan ngantuknya bukan main, maka ia lalu berhenti dan mengambil keputusan untuk beristirahat dan tidur di kuil tua ini. Tentu saja ia sama sekali tidak penah mengira bahwa pamannya berada di belakang kuil dan bahwa sekarang “Paman Hong” itu sedang mengintainya.

Jalan masuk ke dalam kuil itu melalui anak tangga, lumayan juga tingginya, ada satu setengah meter.

“Hayo bangkit, kita masuk ke kuil! Tak mau aku orang yang lewat di depan ini melihat kita.” Li Eng membentak sambil menarik-narik ujung tali akar yang kuat itu.

Kong Bu masih rebah telentang diatas tanah. Pemuda ini sudah tidak karuan lagi macamnya. Mukanya kotor penuh debu, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya di bagian punggung sudah habis, robek-robek ketika tubuhnya terseret. Akan tetapi hebatnya, tiada sedikit pun kulit tubuhnya yang rusak biarpun gadis itu menyeretnya sepanjang hari.

Mendengar perintah Li Eng, Kong Bu tersenyum dan memandang dengan mata bersinar-sinar penuh ejekan, “Memang aku ingin sekali orang-orang melihat kita. Biar mereka melihat dengan mata kepala sendiri betapa liar dan buasnya gadis murid Hoa-san-pai. Ha, kau benar-benar hendak mempropagandakan kebusukan Hoa-san-pai di depan umum. Seorang gadis menyeret-nyeret tawanannya seperti seekor binatang, di dunia ini mana ada keganasan melebihi ini? Huh, anak murid Hoa-san-pai, memang betul kata-kata Kakek. Anak murid Hoa-san-pait terutama yang perempuan, jahat seperti siluman.”

“Tutup mulutmu!” Li Eng memekik marah. “Kau yang jahat, kau yang seperti iblis, kau yang palsu, Setelah menjadi tawananku, kau sengaja tidak mau menurut, tidak mau jalan mengikuti, Habis kalau tidak menyeretmu bagaimana aku bisa membawamu ke Thai-san? Dasar kau licik dan jahat.”

“Itulah kalau dasarnya jahat. Ketika aku menawanmu, kau kugendong ke mana-mana, sekarang setelah kau berbalik menawan aku, kau seret-seret!”

“Cihhh, tak bermalu! Masa aku harus menggendongmu? Puuhhh! Hayo naik, masuk ke kuil.”

“Tidak sudi!” Kong Bu menjawab, tetap tersenyum mengejek, tersenyum lebar sehingga deretan giginya yang putih rata dan kuat itu tampak berkilat di atas dagunya yang membayangkan kekerasan hati yang luar biasa.

“Kepala batu!” seru Li Eng dan sekali ia membetot ujung tali akar itu, tubuh Kong Bu melayang melewati anak tangga, ke dalam kuil. Akan tetapi ketika tubuh itu turun ke atas lantai kuil, seperti sehelai daun kering saja, sama sekali tidak terbanting keras.

Diam-diam Cui Bi yang mengintai bersama Kun Hong, terkejut dan kagum sekali melihat ini. Cara gadis cantik jelita ini membetot tali membuat tubuh pemuda itu melayang ke dalam kuil, membuktikan kehebatan Iwee-kang Si Gadis dan hanya seorang ahli silat tinggi saja yang dapat melakukan hal itu. Di lain pihak tubuh pemuda itu turun seperti sehelai daun kering, hal ini membuktikan pula kehebatan gin-kang dari Si Pemuda. Jelas dalam pandang mata Cui Bi bahwa sepasang muda-mudi yang bermusuhan ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat!

Sementara itu, Kun Hong yang sejak tadi mengerutkan keningnya, tak dapat menahan kemarahannya lagi melihat “keponakannya” memperlakukan seorang tawanan seperti itu. Tanpa dapat dicegah lagi oleh Cui Bi, ia melompat keluar sambil berseru,

“Eng-ji, benar-benar kelakuanmu sekali ini tidak patut!”

Li Eng menengok kaget, wajahnya lalu berseri dan matanya bersinar-sinar.

Tanpa terasa ia melepaskan ujung tali dan lari menubruk Kun Hong,

“Paman Hong….! Gadis itu memegang kedua lengan Kun Hong, meloncat-loncat seperti anak kecil diberi permen. “Aduh, Paman Kun Hong… siapa mimpi bertemu dengan kau di sini?”

Kun Hong mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng kepala dan berkata, suaranya tenang akan tetapi berpengaruh sekali.

“Li Eng, sebelum kita bicara lebih dulu kau harus lepaskan belenggu dia itu!” Ia menuding ke arah Kong Bu yang memandang pertemuan itu dengan mata tajam akan tetapi ia tidak mengerti siapa adanya pemuda yang pakaiannya seperti anak sekolah akan tetapi sudah butut, sikapnya lemah lembut dan dipanggil paman oleh Li Eng ini.

“Aih, mana bisa, Paman Hong! Dia ini adalah cucu dari iblis tua Song-bun-kwi yang telah menawan aku dan Enci Hui Cu. Enci Hui Cu dirampas pula olel orang lain entah siapa, sedangkan aku oleh iblis tua Song-bun-kwi diserahkan kepada… iblis muda ini. Baiknya aku dapat… eh….”

“… menipu, berlaku curang dan membalas susu dengan air tuba,” Kong Bu menyambung.

“Diam kau, setan alas!” Li Eng memaki.

“Li Eng, segala urusan dapat didamaikan, kesukaran dapat diatasi, pertikaian dapat dirundingkan. Tak patut kau memperlakukan seorang manusia seperti ini. Hayo, kaubuka ikatan tangannya.”

“Tapi… tapi dia berbahaya sekali, Paman Hong. Kalau dia terlepas, mungkin… aku… belum tentu dapat menguasainya. Dia lihai dan kejam sekali, seperti binatang buas….”

Sementara itu, Kun Hong memandangi wajah Kong Bu dengan penuh perhatian dan dengan tajam sekali. Serasa ia mengenal wajah ini, akan tetapi entah di mana. Tak mungkin wajah segagah dan setampan ini dihuni watak yang rendah. “Kau lepaskan, aku yang tanggung.” Li Eng adalah seorang gadis yang manja dan selalu ingin menang sendiri.

Akan tetapi semenjak bertemu dengan Kun Hong, ia menjadi penurut dan lenyaplah segala kekerasannya. Baginya serasa tak mungkin ia membantah perintah pamannya yang muda ini. Setelah menarik napas berulang-ulang, ia melangkah maju, mencabut pedangnya dan sekali tabas ia hendak memutuskan belenggu pada kedua tangan Kong Bu. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat ke belakang tidak melanjutkan babatannya, matanya memandang dengan terbelalak dan wajahnya berubah. Kiranya Kong Bu sambil tertawa sudah memberontak, menggerakan kedua tangannya dan… Belenggu akar pohon itu seketika putus-putus!

Dengan gerakan ringan sekali Kong Bu meloncat bangun, berdiri dengan baju bagian belakang hancur sehingga punggungnya yang kuat itu tampak nyata berlumur debu. Pemuda ini dengan berdiri tegak memandang kepada Li Eng dengan mata memancarkan sinar penuh ejekan. Gadis itu merah seluruh mukanya, hatinya mengkal bukan main. Kiranya pemuda itu kalau mau, dalam perjalanan mereka itu dapat melepaskan belenggunya. Kiranya, pemuda itu membiarkan dirinya ditawan, hanya untuk menggodanya.

“Setan kau!” desisnya dan pedangnya berkelebat hendak menyerang. “Eng-ji, jangan!” Kun Hong membentak dan… gadis itu dengan lemas menurunkan kembali pedangnya.
“Dia… dia musuh kita, Paman Hong. Dia menghina Hoa-san-pai, hendak kuseret dia ke depan Sukong (Kakek Guru) agar dihukum!”

Kun Hong bukanlah seorang bodoh. Biarpun ia kelihatan tak suka menonjolkan diri, namun sesungguhnya dia seorang yang cerdas dan cerdik. Dia pun dapat menduga bahwa pemuda yang gagah di depannya itu tertawan oleh Li Eng hanya pura-pura menyerah saja. Gin-kang yang didemonstrasikan tadi, juga tenaga memutuskan tali, akar yang amat kuat, cukup membuat ia dapat menduga bahwa kepandaian pemuda ini tidak di bawah tingkat Li Eng.
“Sahabat, harap kau maafkan kalau keponakanku ini melakukan kekerasan terhadap dirimu. Aku percaya kau cukup jantan untuk menyudahi perselisihan dengan seorang gadis, keponakanku ini. Kau boleh meninggalkan kami dan kuharap kau suka memberi tahu mengapa kakekmu Song-bun-kwi menawan dua orang keponakanku dan ke mana pula perginya keponakanku yang seorang lagi.”

Kalau tadi perhatian Kong Bu hanya tertuju kepada Li Eng untuk menggodanya, sekarang ia memandang kepada pemuda yang mengaku paman dari Li Eng ini. Dan ia tertegun. Mata itu. Terang bukan mata biasa, begitu tajam menusuk jantung, penuh wibawa dan kekuasaan. Dan kata-kata yang halus itu! Diam-diam ia kagum, akan tetapi mendengar pertanyaan terakhir ini, ia tertawa!

“Sahabat, kakekku membenci semua anak murid Hoa-san-pai, memang beralasan. Ibuku mati karena anak murid perempuan Hoa-san-pai. Kakek menawan dua orang murid Hoa-san-pai, yang seorang dirampas oleh orang lain, entah siapa. Seorang lagi diserahkan kepadaku.
Aku tawan keponakanmu ini, aku malah sudah melemparnya kepada anjing-anjing hutan untuk dimakan, Akan tetapi aku menolongnya dan sepanjang jalan aku memanggulnya. Kemudian aku tertipu, tertawan olehnya. Dia menyeret-nyeret aku sepanjang jalan. Balas-membalas sudah punah, sudah lunas untuk sementara ini. Tidak ada yang harus dimaafkan dan memaafkan. Kita sudah seri. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, juga tidak, mau disalahkan.”

Kun Hong mengerutkan kening. Begitu melihat dan mendengar omongan pemuda ini, ia dapat meraba isi hati orang, dapat menaksirkan watak orang. Pemuda ini berjiwa gagah, jujur dan sama sekali tidak jahat. Hanya keras hati, dan aneh. Ia menggeleng kepala.

“Apakah yang menyebabkan kematian ibumu itu seorang di antara kedua keponakanku ini?” tanyanya, menegur.

“Bukan! Akan tetapi mereka pun anak murid perempuan Hoa-san-pai.”

“Hemmm, kau teracun oleh nafsu dendam kakekmu, sahabat. Seorang anak murid Hoa-san-pai membuatmu penasaran, apakah oleh karena itu kau harus memusuhi semua orang Hoa-san-pai? Kalau begitu pendirianmu, apakah kalau ada seorang petani menyakiti hatimu, kau lalu memusuhi seluruh petani di permukaan bumi ini? Lagi, kalau kau disakiti hatimu oleh seorang manusia, apakah kau pun akan memusuhi seluruh manusia di jagat ini?”

“Ngaco!” Kong Bu membentak. “Itu lain lagi!”

“Bukan ngaco, apa bedanya? Kalau ada anak murid Hoa-san-pai yang bersalah, belum tentu semua anak murid Hoa-san-pai juga bersalah, sama halnya kalau ada seorang petani bersalah belum tentu seluruh petani harus bersalah, atau kalau ada seorang manusia bersalah, tidak semestinya kita menyalahkan seluruh umat manusia. Apalagi kalau diingat bahwa menyalahkan orang lain sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan, setiap orang pun bisa melakukannya. Cobalah tengok diri sendiri dan mencari kesalahan sendiri, kalau bias berbuat begitu barulah terhitung seorang gagah sejati.”
Kong Bu termenung, memandang aneh, lalu menggaruk-garuk kepalanya. Ia membalikkan tubuh, berkata, “Sudahlah, aku pergi!” Sambil mengerling ke arah Li Eng ia berkata, “Sampai berjumpa lagi.”

“Apa?” Li Eng menyerang ketus. “Sekali lagi berjumpa, kalau tidak ada Paman Hong aku ingin bertempur seribu jurus denganmu sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!”

Kong Bu tertawa mengejek, “Bagus, boleh sekali. Akan kunanti saat itu.” Kemudian ia meloncat jauh dan berlari cepat, sebentar saja lenyap di sebuah tikungan jalan.

Kun Hong menarik napas panjang, berbalik memandang Li Eng yang masih merah kedua pipinya. “Kenapa kau begitu membencinya, Li Eng?”

“Aku benci padanya! Benci… benci setengah mati! Dia kurang ajar sekali, Paman. Dia bilang semua murid Hoa-san-pai adalah orang jahat dan hina. Dia tidak memandang sebelah mata kepadaku!” Suara gadis ini makin parau seakan-akan ia hendak menangis, saking gemas dan mendongkolnya.

Kun Hong tersenyum. “Benci atau cinta itu sama saja….”

“Hisss! Kau bilang apa, Paman….??”

Li Eng berseru sambil memandang dengan kedua matanya terbelalak. Indah sekali sepasang mata itu dan Kun Hong harus mengakui dalam hatinya bahwa yang paling indah di antara anggauta tubuh keponakannya ini adalah matanya yang seperti bintang itulah. Ia kagum sejenak, lalu menyambung sambil tersenyum,

“Baik cinta maupun benci hanyalah merupakan pencetusan perasaan yang dipengaruhi oleh keadaan, berdasarkan sifat keakuan (egoisme) yans sudah menjadi watak dasar setiap manusia. Siapa yang menguntungkan dan menyenangkan diupah rasa cinta, sebaliknya siapa yang merugikan dan tidak menyenangkan diupah rasa benci. Karena itu, kalau hari ini kita membenci seseorang, bukan tak mungkin esok hari kita mencintanya.”

“Apa….?” Merah sekali kedua pipi Li Eng, menambah kecantikannya. “Kau mau bilang aku akan mencinta… dia….?”

Kun Hong mengangkat tangan seperti hendak menangkis tamparan. Andaikata ia bukan paman Li Eng, agaknya gadis ini akan menamparnya. “Bukan kau… bukan kau… aku hanya bicara menurutkan renungan, semua orang bisa saja mengalami hal ini dan… heee, mana dia?”

“Dia siapa?” Li Eng menengok ke kanan kiri belakang.

“Dia tadi di dalam bersamaku. Heee, Bi-te (Adik Bi)… keluarlah!” Kun Hong memanggil-manggil, malah segera masuk ke dalam mencari-cari. Namun orang yang dicarinya, Cui Bi, tidak nampak mata hidungnya lagi. Dan di belakang pintu, pada tiang kayu yang keras di mana mereka berdua tadi bersembunyi dan mengintai, terdapat tulisan, ditulis dengan tekanan jari tangan pada kayu yang keras itu.

“Hong-ko, aku pergi dulu, sampai jumpa pula.”

“Siapakah dia itu, Paman Hong?” tanya Li Eng tertarik setelah ia ikut membaca tulisan ini. “Hebat juga Iwee-kangnya!”

Kun Hong menarik napas panjang lalu tersenyum, sinar matanya berseri karena ia teringat akan persamaan watak antara Li Eng dan pemuda itu.

“Dia anak murid Thai-san-pai, ilmu silatnya lihai. Ah, sayang ia pergi. Aku tidak tahu mengapa ia buru-buru pergi, aku ingin sekali memperkenalkan dia kepadarmu Eng-ji. Biarlah, kelak kita pasti akan bertemu juga dengan dia. Sekarang lebih baik kita lekas-lekas pergi ke Thai-san, banyak hal kita jumpai di jalan yang ada hubungannya dengan Thai-san-pai, agar kita dapat memberi tahu kepada Paman Tan Beng San dan di sana dapat bersiap-siap menghadapi maksud orang-orang jahat.”

“Baiklah, Paman Hong. Sayang, kalau aku ingat kepada Cici Hui Cu….” Li Eng nampak gelisah dan berduka.

“Jangan kuatir. Orang yang tidak melakukan kejahatan pasti akan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Adil. Semoga saja kita akan dapat bertemu dengan Hui Cu dan aku seperti mendapat firasat bahwa kita akan berjumpa dengan dia di Thai-san juga.”

Berangkatlah dua orang muda itu dan aneh sekali, baik Li Eng maupun Kun Hong melakukan perjalanan dengan wajah, muram. Mereka itu seperti hendak memberi kesan kepada masing-masing bahwa mereka murung memikirkan Hui Cu, padahal keduanya merasai sesuatu yang kosong di dalam dada, yang diam-diam hendak mereka bantah sendiri bahwa hal itu bukan dikarenakan perpisahan mereka dengan orang-orang yang mereka “benci” dan yang membikin mengkal hati mereka selama ini.

Kong Bu berlari cepat keluar masuk hutan. Bayangan Li Eng terbayang-bayang di pelupuk mata, tak mau lenyap biarpun ia berusaha mengusirnya. Ah, anak murid Hoa-san-pai, mengapa harus diingat-ingatnya? Tapi senyumnya, sinar mata yang indah itu… ah! Tiba-tiba ia berhenti merenung memandangi daun-daun di depannya. Hatinya serasa kosong, sunyi. Aneh sekali, sekelilingnya tampak sunyi tak berarti, alangkah bedanya dengan perasaan ketika ia masih diseret-seret tadi. Ia menepuk kepala sendiri. “Bodoh kau! Dia benci dan tak suka kepadamu, kau musuhnya, kenapa dipikir-pikir? Tolol celaka!” Dan ia lalu lari lagi cepat-cepat.

Mendadak ia melihat bayangan berkelebat di sebelahnya dari terdengar suara orang berseru,

“Sahabat, berhenti dulu!”

Kong Bu tidak lari secepat ia bisa, akan tetapi cukup cepat sehingga gerakan bayangan yang menyusulnya itu cukup membuat ia terkejut dan maklum bahwa orang ini memiliki ilmu lari yang hebat juga. Ia berhenti dan memandang. Seorang pemuda, masih amat muda, tampan sekali, berdiri di depannya. Mata yang tajam memandangnya penuh selidik. Pakaian pemuda ini amat indah dan rapi, kuku-kuku tangannya terpelihara baik-baik, segalanya begitu bersih sedangkan dia sendiri begini kotor. Kong Bu menghela napas.

“Kau siapa dan mau apa menahan perjalananku?” tanyanya, suaranya penuh kecurigaan dan ketidaksenangan. Memang hatinya sedang risau, sedang tak senang karena ia tidak puas dengan keadaan hatinya sendiri.

“Apakah Song-bun-kwi itu kakekmu?” pemuda tampan yang bukan lain adalah Cui Bi itu bertanya.

“Tak perlu aku sembunyikan hal itu. Benar, Song-bun-kwi adalah kakekku. Kau siapa dan mau apa?”

“Dan orang tuamu… apakah mendiang ibumu bernama Kwee Bi Goat dan ayahmu bernama Tan Beng San?” Pemuda tampan itu bertanya terus tanpa mempedulikan pertanyaan Kong Bu.

Kong Bu terkejut sekali. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tak peduli bagaimana aku bisa tahu.

“Cucu Song-bun-kwi, cabutlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kelihaian cucu dari Song-bun-kwi!” setelah berkata demikian, Cui Bi menggerakkan tangan kanannya dan “srattt!” pedangnya telah berada di tangan.

Kong Bu membelalakkan matanya, membusungkan dadanya yang bidang. “Sombong kau! Tanpa sebab kau menantangku, kau kira aku takut kepadamu?” Dengan marah ia pun lalu mencabut pedangnya. Diam-diam ia bersyukur bahwa Li Eng gadis liar itu tidak merampas pedangnya ketika gadis itu menawannya.

Cui Bi tersenyum mengejek, “Hendak kukenal dengan ilmu pedangmu. Lihat pedangku!” Tanpa banyak rewel lagi pemuda tampan ini lalu menggerakkan pedangnya menusuk.
Melihat datangnya tusukan yang cepat dan kuat seperti kilat menyambar, Kong Bu terkejut. Itulah gerakan yang hebat dan ia tidak berani memandang ringan. Cepat ditangkisnya sepenuh tenaga.

“Trangggg!” Bunga api berpijar dan Cui Bi merasa tangannya tergetar. Diam-diam ia memuji tenaga dari pemuda gagah itu. Akan tetapi ia tidak memberi hati dan segera bersilat pedang dengan amat cepat dan indahnya. Kong Bu kagum sekali. Amat indah gerakan-gerakan ilmu pedang ini, lagipula cepat dan berbahaya. Ujung pedang itu berkembang menjadi banyak, dan setiap bayangan ujung pedang mengarah jalan darah yang penting. Ia pun berseru keras dan tanpa ragu-ragu lagi lalu mainkan ilmu pedang yang paling ia andalkan, yaitu warisan dari kakeknya, Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat. Sampai mengaung-ngaung suara pedangnya memecah udara, menimbulkan angin di sekeliling tubuhnya, pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang hendak menelan lawan.

“Yang-sin Kiam-hoat! Bagus, keluarkan semua kepandaianmu!” seru Cui Bi sambil menangkis dan balas menyerang tak kalah hebatnya. Sekali lagi Kong Bu terkejut. Pemuda tampan itu tidak hanya segera mengenal ilmu pedangnya yang jarang dikenal orang-orang kang-ouw itu, bahkan sekaligus dapat mengimbanginya, agaknya mengenal pula jurus-jurus Yang-sin Kiam-hoat. Heran benar, semuda ini sudah begitu lihai, siapa dia? Namun pikiran ini tidak lama mengganggunya karena ia harus mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang benar-benar berat ini.

Begitu cepat gerakan kedua orang muda itu sehingga tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan pedang mereka yang saling membelit. Makin lama Kong Bu makin terheran-heran. Tidak saja semua jurus Yang-sin Kiam-sut yang ia mainkan itu dapat dihindarkan oleh lawan, malah setiap jurusnya tertindih oleh tangkisan Yang-sin Kiam-sut juga yang disusul serangan jurus-jurus yang asing baginya, tapi merupakan kebalikan dari Yang-sin Kiam-sut. Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa pemuda tampan ini ternyata memiliki Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut, jadi artinya kalau ia hanya mengenal setengahnya, pemuda itu telah mengenal selengkapnya! Tentu saja ia kalah angin dan segera terdesak hebat.

Namun, Kong Bu adalah seorang anak gemblengan yang semenjak kecil sudah digembleng secara hebat oleh Song-bun kwi. Tidak hanya Yang-sin Kiam-hoat yang ia warisi, melainkan semua kepandaian kakeknya yang banyak sekali macamnya. Selain ini, dalam hal tenaga, ternyata Kong Bu lebih menang setingkat sehingga mengandalkan kesemuanya ini, ia masih dapat mempertahankan diri dan sengaja ia hendak mengadu pedang untuk memukul jatuh pedang lawan.

Siapa kira, pemuda tampan itu walaupun usianya lebih muda darinya, ternyata memiliki kecerdikan tinggi. Buktinya, pemuda tampan itu sama sekali tidak mau mengadu pedang karena agaknya maklum bahwa tenaganya kalah besar. Ia mengandalkan kegesitan di samping kelihaian llmu pedangnya untuk terus mendesak hebat.

Yang membuat Kong Bu terheran-heran, setelah tiga ratus jurus lebih mereka bertempur, mulailah ia merasa bahwa andaikata pemuda tampan itu menghendaki, ia tentu sudah terkena sasaran pedang lawan. Anehnya, pemuda tampan itu agaknya tidak bertempur sungguh-sungguh, atau setidaknya, tidak mempunyai maksud buruk untuk merobohkannya, lebih tepat disebut menguji kepandaiannya. Hal ini malah mendatangkan rasa penasaran di hatinya karena ia merasa terhina dan dipermainkan. Sambil mengeluarkan lengking meninggi seperti orang menjerit menangis, Kong Bu memutar pedangnya dan melakukan tekanan-tekanan dengan serangan maut! “Wah, ganas… ganas…!” Cui Bi berseru karena ia merasa tergetar jantungnya mendengar lengking yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khi-kang dan Iwee-kang ini. Ia harus mengempos semangat dan hawa murni di tubuhnya agar jangan terpengaruh.

Memang hebat sekali Kong Bu. Setelah mengeluarkah lengking yang aneh ini, tenaga serangannya seakan-akan menjadi jauh lebih kuat dan biarpun tadi ia sudah terdesak hebat terkurung oleh ilmu pedang lawan yang amat luar biasa itu, sekarang ia dapat mengimbangi lagi permainan lawan, Cui Bi merasa betapa dalam jarak satu meter jauhnya, pedang lawannya itu sudah mengeluarkan tenaga pukulan yang kuat!

Lima ratus jurus telah lewat, dan kedua orang muda itu sudah mulai berkeringat. Tiba-tiba Cui Bi membentak nyaring, pedangnya berkelebat dengan gerakan bergelombang, sukar sekali ditangkis dan tahu-tahu sudah menyambar ke arah pusar Kong Bu. Kong Bu berseru keras saking kagetnya, melihat betapa pedang lawan yang sedianya sudah menusuk lambung itu tiba-tiba menyeleweng dan “bret!” ujung bajunya yang terbabat putus. Saking kagetnya melihat pedang itu tadi hendak menusuk lambungnya, ia mengerahkan seluruh tenaga, menangkis dari bawah ke atas dan, “tranggg!” Cui Bi menjerit lirih, pedangnya terlepas dari pegangan, melayang ke atas. Bagaikan seekor burung walet, pemuda tampan ini sudah meloncat ke atas dan di lain detik pedangnya yang “terbang” tadi sudah ditangkapnya kembali.

Kini mereka berhadapan, saling pandang, pedang melintang di tangan. Diam-diam Kong Bu harus mengakui dalam hatinya bahwa ia sudah kalah. Bahwa lawannya telah memperlihatkan kelebihannya dan sekaligus membuktikan bahwa lawan ini tidak bermaksud jahat. Kalau demikian halnya tentu ia telah roboh dengan pusar tertusuk pedang.

Cui Bi memandang tajam, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri-seri, lalu ia menyimpan kembali pedangnya. “Kau… kau hebat, patut menjadi putera Raja Pedang di Thai-san!” katanya.

Merah sekali wajah Kong Bu. Ia pun menyarungkan pedangnya, menarik napas panjang beberapa kali. “Lebarnya dunia tak dapat diukur, dalamnya lautan sukar dijajaki, kepandaian manusia sukar dibatasi. Sahabat aku benar-benar takluk kepadamu, belum pernah seumur hidupku aku bertemu dengan tandingan seperti kau. Siapakah kau dan apa maksudmu menahanku dan mengajakku main-main seperti ini?”

“Kau… kau puteranya… kenapa kau memusuhi orang-prang Hoa-san-pai, dan…. dan kenapa kau tidak mencari ayahmu…” Cui Bi berkata perlahan, suaranya gemetar.

Kong Bu terheran. Ia menduga-duga siapa adanya pemuda aneh ini. Akan tetapi ia tidak dapat mengirakannya.

“Untuk apa kau bertanya-tanya? Apa pedulimu dengan urusanku?”

“Ada hubungannya erat sekali dan aku ingin sekali tahu. Ah… agaknya kau tidak berani mengaku,” Cui Bi menarik napas panjang. Memang ia cerdik. Begitu bertemu ia sudah dapat menduga bahwa pemuda gagah ini tentu memiliki jiwa gagah juga, dan biasanya orang yang menghargai kegagahan, paling pantang kalau disebut “tidak berani”. Maka sengaja ia mengatakan demikian untuk membakar hati orang. Akalnya berhasil baik. Kong Bu menjadi merah mukanya, matanya terbelalak mendelik dan suaranya menggeledek,

“Siapa tidak berani? Bocah, jangan kau sombong. Biarpun harus kuakui bahwa kepandaianmu hebat sekali, namun aku belum mampus ditanganmu dan sewaktu-waktu takkan mundur menghadapi kau atau siapapun juga. Kau bilang aku tidak berani mengaku? Baik dengarlah! Ibuku meninggal karena seorang anak perempuan Hoa-san-pai, karena itulah maka semua perempuan murid Hoa-san-pai kumusuhi! Nah, tahukah kau sekarang?”

“Hemm, kau tentu maksudkan perempuan Hoa-san-pai bernama Kwa Hong itu, bukan? Sayangnya kau ngawur dan membabi buta, sampai-sampai dua orang gadis yang tidak ikut apa-apa kau ganggu juga. Hemm, kau tersesat. Kenapa kau tidak mencari ayahmu di Thai-san?”

Kong Bu tercengang. Bagaimana bocah ini mengetahui segalanya? Ingin ia balas bertanya, akan tetapi karena tidak mau dianggap “tidak berani” ia mengaku, “Ayahku Tan Beng San di Thai-san adalah seorang laki-laki yang telah menghancurkan penghidupan mendiang ibuku. Dia tergila-gila kepada perempuan Hoa-san-pai siluman betina itu. Mengapa aku harus mencarinya? Huh, aku malah ingin bertemu untuk menantangnya bertempur, untuk membalaskan sakit hati ibuku!”

Tiba-tiba Cui Bi membentak marah, “Jangan mengacau! Kau agaknya sudah dirusak oleh kebohongan dan fitnahan-fitnahan Song-bun-kwi. Kau menurutkan nafsu yang dikobarkan oleh kakekmu yang jahat itu. Kau mau tahu duduknya perkara yang betul? Nah dengarlah aku bercerita.” Cui Bi lalu duduk di atas sebuah akar pohon yang menonjol keluar dari pohon. Kong Bu tidak peduli, tetap berdiri dan memandang penuh curiga. Bocah ini tahu banyak sekali, entah apa kehendaknya, akan tetapi karena ingin tahu ia diam saja, mendengarkan.

“Kau tidak adil sekali menyumpah dan memaki ayahmu sendiri. Dia seorang pendekar besar, seorang gagah perkasa, seorang berbudi mulia yang nasibnya buruk, patut dikasihani. Akan tetapi kau puteranya, kau malah memaki-makinya dan hendak menantangnya. Cih, memualkan perutku! Kau mau mendengar kenyataan? Nah, dengarlah. Tan Beng San sama sekali tidak tergila-gila kepada perempuan Hoa-san-pai, atau kepada perempuan yang manapun juga, kecuali kepada Kwee Bi Goat, mendiang ibumu. Biarpun kakekmu telah memperlakukannya dengan jahat, tetap saja, dia mencinta Kwee-Bi-Goat dengan sepenuh jiwa raganya. Memang tak dapat disangkal bahwa Tan Beng San pernah mengadakan hubungan dengan Kwa Hong, akan tetapi hal itu terjadi sebelum ia menjadi suami ibumu, pula hal itu terjadi karena muslihat musuh, karena keracunan dan dalam keadaan tidak sadar. Biarpun sudah terjadi hal itu, dia menolak menjadi suami Kwa Hong dan tetap mencari ibumu lalu menikah dengan ibumu atas dasar saling cinta yang suci murni….”

Cui Bi berhenti sebentar dan Kong Bu sudah menjadi begitu tertarik sehingga tanpa terasa lagi ia pun duduk di atas batu, di depan pemuda tampan itu. Belum pernah ia mendengar cerita tentang ayah bundanya sejelas ini. Biasanya kakeknya hanya mengatakan secara singkat bahwa ayahnya telah tergila-gila wanita lain sehingga ibunya mati karena duka.

Melihat perhatian Kong Bu itu, Cui Bi melanjutkan ceritanya penuh semangat, matanya berapi-api, kedua pipinya merah.

“Lalu terjadinya malapetaka menimpa, Kwa Hong ternyata telah mengandung dari perhubungan yang berlangsung di luar kesadaran Tan Beng San itu. Malah Kwa Hong yang tak tahu malu itu mengunjungi ibumu di Min-san, dan melahirkan anaknya di sana. Hal itu terjadi ketika kakekmu sedang merantau dan ayahmu, Tan Beng San itu, sedang sibuk membantu perjuangan. Setelah Kwa Hong pergi bersama anaknya, ibumu menjadi berduka sekali, maklum hati wanita, penuh sakit hati, penuh iri dan cemburu, merasa bahwa cinta kasihnya yang mendalam itu dicemarkan. Dan… saking tak kuasa menahan kesedihan hatinya, ia meninggal dunia setelah melahirkan kau….”

Sampai di sini suara Cui Bi terdengar serak. Jelas membayangkan keharuan hatinya. Kong Bu nerasa dadanya sesak, sedu-sedan naik ke kerongkongannya, akan tetapi ia menguatkan hati, menggigit bibir, hanya kedua matanya saja yang menjadi merah, sikapnya menakutkan. “Kau tahu bagaimana keadaan ayahmu ketika ia rendengar tentang kematian isterinya yang tercinta itu? Dia menjadi… menjadi gila….” kembali suara itu parau dan lirih, dan Cui Bi terpaksa berhenti karena terbatuk-batuk, agaknya menahan keharuan hatinya.

“Gi… gila….??” Kong Bu sempat bertanya di antara sedu-sedan yang naik lagi ke kerongkongannya. “Ya, gila, atau hilang ingatan. Pada waktu itu… hemm, di antara dia dan… Cia Li Cu…. Isterinya yang sekarang,”

“Ya, di antara mereka itu terjalin persahabatan yang amat erat, namun jangan salah artikan. Tan Beng San tetap tidak dapat mencinta lain orang kecuali isterinya, ini terbukti ketika mendengar kematian isterinya. Melihat hal ini, Cia Li Cu amat terharu dan harus diakui Cia Li Cu mencintanya sepenuh jiwa. Ia hendak menghibur pendekar ini dan apa yang terjadi? dalam pandangan Tan Beng San yang sudah hilang ingatan itu, Li Cu kelihatan seperti ibumu yang sudah meninggal dan seterusnya menganggap bahwa Cia Li Cu adalah Kwee Bi Goat!”

“Ahh….” Kong Bu menahan napas, amat tertarik dia dan keharuan bergumul di hatinya.

“Cia Li Cu, puteri Raja Pedang Tanpa Tanding Cia Hui Gan, demi cintanya mengorbankan nama baiknya, malah nekat menantang ayahnya, memelihara Tan Beng San dengan hati hancur karena melihat orang yang dicintanya itu menganggapnya sebagai wanita lain. Adakah pengorbanan lebih besar dari ini? Adakah cinta kasih yang lebih besar dari ini?” Cui Bi nampak bangga. Kong Bu mulai bingung. Kalau betul begini jalan ceritanya, ah ayahnya tidak bersalah, malah patut dikasihani.

“Nah, kau tahu, sampai sekarang pun Cia Li Cu yang kini sudah menjadi isteri sah dari Tan Beng San yang akhirnya mendapatkan kembali ingatannya dan mengawini Cia Li Cu, sama sekali tidak ada hati yang memusuhi mendiang Kwe Bi Goat ibumu, apalagi kau sebagai putera suaminya yang semenjak kecil dibawa lari oleh kakekmu. Kau dicari-cari oleh ayahmu, tapi tidak bertemu dan kakekmu hendak mengadu kau dengan ayahmu sendiri.”

Kong Bu menundukkan mukanya, mukanya merah sekali dan ia berusaha menahan sedu-sedan yang sudah hampir meledak di dadanya. “Ibu…. Ayah….” bisiknya, keadaannya mengharukan sekali. Pemuda itu teringat betapa ia tidak pernah melihat ibunya yang sudah mati, juga tidak pernah melihat ayahnya yang harus diakui amat mendatangkan rasa rindu di hatinya. Namun bujukan-bujukan kakeknya membuat ia membenci ayahnya yang disangkanya menyeleweng dan menyakiti hati ibunya. Siapakah yang benar? Cerita kakeknya ataukah cerita orang ini? Siapakah orang ini? Apakah dia tidak berbohong? Ia cepat mengangkat kepala memandang dan kagetlah dia, pemuda tampan di depannya itu memandang kepadanya dengan mata merah, air mata membanjir di kedua pipinya, dan bibirnya yang gemetar itu dikatupkan menahan isak tangis! Wajah Kong Bu pucat sekali, mukanya membayangkan hati yang hancur dan seorang yang bagaimanapun keras hatinya sekalipun tentu akan kasihan melihatnya pada saat itu.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: