Rajawali Emas (Jilid ke-27)

Makin deras air mata mengalir sepanjang pipi Cui Bi dan tiba-tiba pemuda tampan ini memegang kedua tangan Kong Bu, bibirnya berbisik perlahan dan menggetar,

“Aduh…, kasihan sekali kau… Koko…”

Kong Bu tersentak kaget dan balas memegang tangan pemuda itu. “Kau… kau siapakah….?” Tentu saja ia heran dan kaget mendengar pemuda itu memanggilnya koko (kakak).

Dengan lengan bajunya pemuda tampan itu mengusap air matanya di kedua pipinya sebelum menjawab, akan tetapi air matanya mengalir terus.

“Aku… aku adalah adik tirimu…. aku… aku anak dari ayahmu dan ibuku adalah Cia Li Cu….”

Kong Bu merenggutkan tangannya terlepas, meloncat mundur sambil berdiri dan berseru, suaranya keras sekali, “Bohong! Kau penipu bohong! Sudah sering aku mendengar bahwa… Ayah dan Cia Li Cu hanya mempunyai seorang anak tunggal, seorang anak perempuan… bagaimana kau ini….?”

Cui Bi sudah berdiri pula, air matanya masih membasahi kedua pipinya.

“Koko, tidak tahukah kau bahwa aku….?” Ia menggosok kedua anak telinganya sehingga tampak lubang anak telinga yang tadinya ditutup semacam bedak, dibukanya penutup kepala sehingga terurailah rambutnya yang panjang dan halus berombak.
Muka Kong Bu makin pucat. “Kau… kau seorang gadis….?”

“Koko, tak dapatkah melihat bahwa ilmu pedangku adalah warisan Ayah dan Ibu? Koko, Ayah banyak menderita kalau memikirkan kau, kau amat dirindukan Ayah… juga Ibu, percayalah, Ibu sama sekali tidak menganggap kau sebagai orang lain, demikian pula aku… kau sebagai kakakku sendiri….”

Tak dapat tertahan lagi, air mata yang sejak tadi sudah menekan di kedua mata Kong Bu, kini berlinang jatuh menetes, pemuda itu menutupkan kedua tangan di depan muka untuk menyembunyikan tangis, namun air mata yang tak banyak itu menetes keluar dari celah-celah jari tangannya dan sedu-sedan yang ditahan-tahannya membuat kedua pundaknya yang bidang itu bergerak-gerak.

“Koko….” suara halus itu dekat sekali karena gadis itu sudah mendekatinya. Kong Bu menurunkan kedua tangan, melihat wajah yang memandang penuh iba, penuh permohonan agar diakui sebagai saudara, dengan air mata membasahi pipi.

“Moi-moi (adik perempuan)….” Kong Bu memeluk dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya, kepalanya berdongak dan kedua matanya meram, air matanya bertetesan ke atas rambut Cui Bi. “Ibu… semoga kau mengampuni anakmu….”

Sampai beberapa lama dua orang muda seayah ini saling peluk dan bertangisan. Akhirnya keduanya dapat menguasai hati masing-masing dan dengan agak malu-malu mereka melepaskan pelukan dan saling pandang. Setelah keharuan mereda, mereka saling memandang kagum dan perlahan-lahan tersembullah senyum di bibir Cui Bi yang ternyata adalah seorang gadis yang amat cantik jelita itu.

“Koko, alangkah bahagianya hatiku. Ayah dan Ibu setiap hari menangis kalau mengingat kau. Mereka amat berkuatir kalau-kalau hatimu sudah diracuni, kuatir kalau-kalau kau akan datang dan mengganggu Ayah Ibu sebagai musuh besar. Syukur bahwa kau ternyata memiliki jiwa ksatria, seperti yang diharapkan ayah karena kata Ayah, ibumu pun seorang yang berbudi halus.”

“Aku pun bahagia sekali dapat bertemu dengan kau, Moi-moi. Ah, alangkah bodohku….” ia menghela napas panjang. “Aku memang tahu akan watak Kakek yang keras dan aneh… tapi diam-diam aku sudah tidak cocok. Baiknya aku bertemu dengan kau dan insyaf. Ah, kalau tidak… bagaimana mungkin aku dapat menjual lagak memamerkan kebodohanku di depan ibumu, sedangkan terhadap kau saja aku sudah kalah jauh?”

Cui Bi tertawa dan memegang tangan kanan kakaknya. “Iiih, kau memang pandai merendah. Siapa bilang kau akan kalah jauh? Hemmm, sedangkan kau belum menerima apa-apa dari Ayah saja, sudah setengah mampus aku melawanmu, apalagi kalau kau sudah menerima warisan dari ayah, pendeknya aku bukan apa-apa bagimu.”

“Moi-moi, kau manis sekali, ah, alangkah bangga hatiku mempunyai adik seperti kau!” Kong Bu meraba dagu gadis itu dengan hati penuh kasih sayang.
Cui Bi melengos, manja. “Ah, bisa saja kau, siapa tidak tahu bahwa aku jelek? Kaulah yang gagah perkasa, benar-benar Ayah akan menari kegirangan kalau nanti melihatmu. Eh, Koko, bagaimana kita ini? Kakak beradik tidak saling mengetahui namanya!” Keduanya berpandangan lalu tertawa bergelak!

Memang, dua orang ini adalah keturunan orang sakti dan aneh, maka watak mereka juga aneh. Lebih-lebih jiwa muda mereka membuat mereka mudah merasa gembira.

“Namaku Kong Bu, Tan Kong Bu. Namamu siapa, adikku yang manis?”

“Aku Cui Bi, Tan Cui Bi.”

“Bi-moi, kenapa kau menyamar sebagai seorang pemuda? Ha, hampir saja aku kena terpedaya olehmu. Benar-benar tidak dapat diduga bahwa kau seorang gadis yang manis, pandai benar kau menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan ganteng lagi pesolek. Sampai-sampai lubang daun telingamu dapat kau tutupi dengan baik, tidak kentara sama sekali.”

Heran sekali Kong Bu melihat wajah adiknya yang tadinya berseri-seri itu tiba-tiba menjadi muram. “Menyamar sebagai pria sudah biasa kulakukan, Ko-ko, dan dalam hal ini Ayah dan Ibu memberi nasihat-nasihatnya. Memang kalau aku melakukan perjalanan di dunia kang-ouw, lebih leluasa kalau menyamar sebagai seorang laki-laki. Akan tetapi kali ini… ah, tidak apa aku berterus terang, bukankah kau kakakku sendiri? Dan siapa tahu, kau akan dapat membantu aku meringankan penderitaan yang amat membingungkan hatiku ini, Bu-ko.”

“Eh, semuda ini, segembira ini dapat menderita kesusahan? Ada apakah, Bi-moi? Apa yang kau susahkan? Tentu saja aku siap sedia menolongmu.” Gadis ini menarik tangan kakaknya, diajak duduk di tempat yang teduh. Lalu menarik napas panjang, kelihatan berduka.”

“Kau tidak tahu, Bu-ko. Kali ini aku bukan melakukan perjalanan untuk bersenang-senang seperti biasa, melainkan … aku telah lari dari Thai-san, pergi meninggalkan rumah tanpa pamit!”

“Heee?? Kenapa kau dimarahi ayah ibumu?”

“Bukan, bukan mereka yang marah melainkan akulah yang marah kepada mereka.”

“Aaiiih, kenapa kau ini? Tak baik marah-marah kepada orang tua, durhaka kau nanti,”

“Panjang ceritanya, Bu-ko. Tapi biarlah kusingkat saja. Kau tahu, Koko, selama aku berada di Thai-san bersama orang tuaku, entah sudah berapa belas kali, mungkin puluhan kali selama dua tahun ini, orang tuaku menerima lamaran orang atas diriku.” Gadis yang masih berpakaian pria itu merah sekali wajahnya.

“Mengapa kau tertawa-tawa?” tanyanya, cemberut.

“Ha-ha-ha, kau gadis cantik jelita dan manis, usiamu juga tentu ada tujuh belas tahun, apa anehnya menerima banyak lamaran? Aku sendiri andaikata bukan kakakmu, mau melamar. Ha-ha-ha!”

“Iihh, ceriwis kau!” Wajah itu makin merah. “Jangan mentertawakan aku, Ko-ko, hatiku benar-benar baru resah, nih!”

“Ya sudahlah, kau teruskan ceritamu.”

“Ayah dan Ibu sudah merasa jengkel karena aku selalu menolak keras kalau ada pinangan orang. Akhirnya, Ayah dan Ibu menerima baik pinangan putera Ketua Kun-lun-pai, katanya puteranya seorang she Bun yang menjadi Ketua Kun-lun-pai dan yang menjadi sahabat baik Ayah. Malah menurut cerita Tan-pek-hu di kota raja yang dahulunya adalah tokoh Pek-lian-pai yang terkenal dalam perjuangan, orang she Bun itu adalah keturunan pendekar besar dari Kun-lun-pai sedangkan isterinya adalah keturunan dari patriot pemimpin Pek-lian-pai, she Thio.” “Waduh, kiong-hi… kiong-hi (selamat, selamat), adikku….!”

“Selamat hidungmu!” Cui Bi memotong dan melerok, mulutnya cemberut marah. “Orang berkeluh-kesah, berduka dan bingung, kok diberi selamat. Bukankah kau ini malah memperolok aku, Ko-ko? Bagus benar ya menjadi kakak orang begini kejam!”

“Lho-lho-lho, nanti dulu, jangan marah-marah tidak karuan. Orang muda she Bun itu dilihat dari keturunannya, baik dari ayah maupun dari ibunya, benar-benar hebat. Kalau ayah bundamu sudah menerima pinangan itu, bukankah berarti pemuda she Bun itu menjadi calon adik iparku? Tentu saja aku senang mempunyai calon adik ipar keturunan orang-orang ternama dan gagah begitu. Apakah kau tidak senang menjadi… eh, anunya?”

Dengan gemas Cui Bi mengulur tangan mencubit lengan kakaknya sampai Kong Bu mengaduh-aduh kesakitan. “Kau nakal benar, Bu-ko. Benci aku kalau begini. Kau mau menolong adikmu atau tidak?”

“Tentu, tentu… tapi lepaskan dulu cubitanmu ah, pecah-pecah kulit lenganku nanti. Teruskanlah ceritamu, aku berjanji takkan menggodamu lagi.” Kong Bu yang baru sekarang merasai kenikmatan bergurau dengan seorang yang mendatangkan rasa sayang, benar-benar gembira sekali, akan tetapi juga kuatir melihat betapa adiknya itu bersungguh-sungguh.

“Tentu saja aku menolak keras. Aku tidak sudi menikah apalagi dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat. Ayah dan Ibu marah-marah, aku pun marah dan akhirnya aku lari meninggalkan rumah tanpa pamit. Aku bersembunyi di rumah Pek-hu di kota raja. Nah, Bu-ko, sukakah kau menolongku kalau nanti kau bertemu dengan Ayah dan Ibu, kau bujuklah mereka supaya jangan memaksa aku menikah, supaya pinangan yang sudah diterima itu dibatalkan saja dan katakan bahwa aku masih kecil.”

Mau tak mau Kong Bu menahan ketawanya. Senang dan sayang benar ia kepada adiknya yang lucu ini. “Usiamu berapa sih, Moi-moi.”

“Kata Ayah, hanya selisih dua tahun denganmu.”

“Nah, kalau begitu sudah tujuh belas tahun. Mana bisa dibilang masih kecil?”

“Kau menggoda lagi. Mau tidak membantuku?”

“Ya, baik… baik… biar kelak aku membujuk orang tuamu.”

Cui Bi memegang tangan kakaknya dan ditarik bangun, menari-nari seperti orang yang kegirangan sekali. “Terima kasih, terima kasih… wah, aku percaya Ayah pasti akan meluluskan permintaanmu, kau seorang anak yang disayang, dan baru saja bertemu. Eh, Bu-ko, kau nakal sekali, ya? Gadis Hoa-san-pai yang cantik manis itu, hemmm, kau pura-pura kena ditawan. Hemmm, senang sekali, ya? Hi-hik, kau pembohong besar. Katanya benci perempuan murid Hoa-san-pai, akan tetapi yang satu ini, aku berani bertaruh potong kepala bebek bahwa kau suka kepadanya!”

Kong Bu merenggut lepas tangannya, melotot. “Gila kau! Jangan main-main, ya? Siapa suka perempuan galak seperti setan itu?”

“Galak-galak tetapi manis, seperti setan tapi menarik hati, bukan begitu? Ah, Koko, aku tidak boleh kau bohongi, ya? Biarlah aku berjanji, kelak kalau kau benar-benar mau menolongku sehingga ikatanku dengan pemuda Ku-lun-pai itu dapat dibatalkan, aku akan membalas budimu. Aku akan menjadi perantara, akan kubujuk Ayah agar supaya pergi mengajukan pinangan ke Hoa-san!”

“Hush, jangan ngaco!” Kong Bu mendelik dan membentak-bentak, akan tetapi ia sendiri merasa aneh mengapa jantungnya jadi berdebar begini macam? “Bi-moi, aku heran sekali kenapa kau dapat melihat kedatanganku di kuil dengan… ehm, gadis Hoa-san-pai itu? Kulihat tadi yang berada di kuil hanyalah seorang pemuda Hoa-san-pai yang bijaksana dan halus budi, seorang pemuda lemah akan tetapi bicaranya menusuk perasaan benar, tepat dan bijaksana. Katanya dia adalah paman dari gadis Hoa-san-pai itu.” “Ah, kau maksudkan Hong-ko?” “Eh, Hong-ko siapa? Kau kenal dia?” Cui Bi tersenyum. “Seorang kutu buku, tapi dia itu putera tunggal Ketua Hoa-san-pai, pandai ilmu surat tidak pandai ilmu silat. Memang dia orang luar biasa.Tentu saja aku kenal dia, malah berhari-hari aku melakukan perjalanan bersama dia.” “Hee….?”

“Jangan memandang seperti itu. Ih, pikiranmu agaknya penuh dengan dugaan yang bukan-bukan dan fitnah-fitnah keji. Sampai sekarang dia menganggap aku sebagai laote (adik laki-laki).” Cui Bi tertawa geli dan Kong Bu juga tertawa. “Sudahlah, mari kita cepat-cepat ke Thai-san, Bu-ko. Kalau bersamamu aku berani pulang. Akan tetapi karena Ayah hendak merayakan pendirian perkumpuian Thai-san-pai, lebih baik kita melihat-lihat di kaki Gunung Thai-san dan menyelidiki kalau-kalau ada orang jahat hendak datang mengacau. Kau tahu, sudah terlalu banyak Ayah membasmi golongan-golongan jahat sehingga dapat diduga bahwa akan banyak musuh datang mengacau dan berusaha menggagalkan pendirian Thai-san-pai. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu Ayah.”

Kong Bu hanya mengangguk-angguk dan berangkatlah dua orang kakak beradik ini. Mereka sengaja menguji kepandaian masing-masing dan berlari cepat. Alangkah kagum hati mereka karena dalam kemahiran ilmu lari cepat ini mereka berimbang. Cui Bi menang ringan tubuhnya dan menang gesit gerakannya, namun ia kalah napas melawan kakak tirinya itu.

***

“Apa kaubilang, Li Eng? Jadi pemuda gagah tadi sakit hati terhadap Hoa-san-pai? Mengapa demikian?” tanya Kun Hong.

“Dia cucu Song-bun-kwi dan Song-bun-kwi agaknya benci sekali kepada Hoa-san-pai karena… Hmmm, apakah kau belum mendengar tentang… Enci (Kakak Perempuan) tirimu, Paman Hong?”

“Enci tiri. Mana aku mempunyai Enci tiri? Ayah dan Ibu tak pernah bercerita tentang itu!”

Sebetulnya Li Eng juga takkan berani lancang bercerita, akan tetapi keterangan Kun Hong ini malah membangkitkan keinginan hatinya untuk menyampaikan rahasia itu. Ia sendiri merasa heran mengapa orang tidak menceritakan hal Kwa Hong kepada pamannya ini.

“Paman Hong, dahulu sebelum ayahmu menikah dengan ibumu yang menjadi sumoi sendiri dari ayahmu, ayahmu telah mempunyai seorang anak perempuan bernama Kwa Hong. Nah, Bibi Kwa Hong inilah yang menimbulkan permusuhan hebat di mana-mana, karena sepak terjangnya yang…. hemm, malah orang tuaku sendiri pun mendendam sakit hati kepada Bibi Kwa Hong yang betul-betul seperti iblis wanita itu.”

“Li Eng, yang betul kau bicara. Kalau memang betul dia itu kakak tiriku berarti dia itu masih bibimu. Bagaimana kau bisa bicara tentang bibimu sendiri?”

“Ah, ternyata kau tidak tahu apa-apa, Paman Hong. Nah kaudengarlah aku bercerita, tapi jangan tersinggung, ya? Aku hanya menceritakan apa yang kudengar dari Ayah dan Ibu. Ingatkah dahulu ketika kau bercerita kepada aku dan Enci Hui Cu tentang burung rajawali emas dan kami bertanya kepadamu tentang dia, siluman betina? Nah, yang kami maksud dahulu itu bukan lain adalah Kwa Hong, encimu itulah!”

“Hemm, kau benar-benar kurang ajar. Kalau benar aku mempunyai kakak perempuan berarti dia bibimu.”

“Memang betul, akan tetapi bibi macam bagaimana. Kau dengarlah!” Li Eng lalu menceritakan tentang Kwa Hong, betapa wanita ini karena jebakan musuh, mengadakan hubungan dengan Tan Beng San dan betapa wanita ini lalu berubah seperti Siluman, naik burung rajawali emas dan mengacau ke mana-mana. Malah Kwa Hong hampir membunuh ayah bunda Li Eng, mengusirnya dan menduduki Hoa-san-pai sebagai ketua. Ia menceritakan pula mengapa Song-bun-kwi mendendam, yaitu dalam hubungannya dengan puterinya, Kwee Bi Goat yang menjadi nyonya Tan Beng San kemudian meninggal dunia karena berduka.

“Dia jahat sekali, Paman Hong. Dia seperti iblis betina, naik burung rajawali menyebar maut di mana-mana. Entah bagaimana, menurut Ayah dan Ibu, kepandaiannya hebat sekali sampai-sampai Sucouw Lian Bu Tojin, guru ayahmu, juga tewas di tangannya. Dia telah menyakitkan hati isteri Paman Tan Beng San sehingga tak kuat menahan dan tewas setelah melahirkan… heeiii! Tentu dia orangnya!” Tiba-tiba Li Eng meloncat berdiri dan termenung.

“Dia siapa? Apa maksudmu?” tanya Kun Hong. Li Eng menepuk-nepuk pahanya. “Siapa lagi kalau bukan dia! Pemuda itu, cucu Song-bun-kwi, si keparat itu, siapa lagi kalau bukan putera Kwee Bi Goat, putera Paman Tan Beng San.”

“Apa?? Pemuda gagah perkasa tadi putera Paman Tan Beng San yang lahir dari Bibi Kwee Bi Goat itu?” Kun Hong tertarik sekali akan cerita tadi dan diam-diam ia merasa menyesal bukan main bahwa semua hal yang sekarang menimbulkan permusuhan hebat itu adalah gara-gara kakak perempuannya, Kwa Hong. Tahulah ia sekarang mengapa ayahnya begitu keras kepadanya, melarang dia berlatih ilmu silat. Kiranya di sini letak rahasianya. Ayahnya sudah kapok, tidak ingin melihat anaknya rusak lagi karena kepandaian silat! Wajahnya menjadi muram.

“Ah, nasib Ayah yang buruk… ah, ingin aku bertemu dengan Enci Kwa Hong, ingin kunasihatkan kepadanya agar minta ampun kepada ayah, kepada semua orang yang pernah disakiti hatinya.”

“Hemmm, aku sangsi apakah dia akan mau… haiii, di sana ada orang bertempur?” Li Eng menunjuk ke depan dan ketika Kun Hong memandang, benar saja ia melihat seorang pemuda dengan hebatnya bertempur dikeroyok oleh dua orang lawannya. Cepat ia mengikuti Li Eng yang sudah lari lebih dulu ke tempat pertempuran itu.

“Enci Hui Cu….!” Di lain saat Li Eng sudah berpelukan dengan Hui Cu.

“Eng-moi….!” Paman Hong….!” Saking girangnya, Hui Cu menangis dalam rangkulan Li Eng. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dua orang itu berada dalam keadaan selamat, malah dapat bertemu dengannya di situ. Mereka tak dapat bicara banyak karena perhatian mereka kembaii tertuju kepada pertempuran hebat yang masih berlangsung. Hebat sekali pemuda itu, akan tetapi kedua orang pengeroyoknya pun luar biasa, yaitu seorang nenek tua sekali dan seorang wanita tua yang masih berwajah cantik. Siapakah mereka ini? Pemuda itu bukan lain adalah Sin Lee, adapun pengeroyokannya adalah Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li!

“Adik Eng…. lekas, kaubantulah dia….” kata Hui Cu kepada Li Eng. “Aku… aku sendiri terluka….”

Kun Hong yang tadinya bengong karena menyaksikan sesuatu yang membuat ia terheran-heran yaitu gerakan pemuda gagah yang dikeroyok itu. Ilmu silat pemuda itu! Bukankah gerakan kaki itu mirip benar dengan Kim-tiauw-kun? Kaki yang meloncat-loncat itu, kedua lengan yang dikembangkan seperti sayap burung. Ah, biarpun menyimpang dari aselinya, namun tak salah lagi, pemuda itu tentu pernah mempelajari Kim-tiauw-kun. Inilah yang membuat ia bengong dan membuat ia lengah, tidak melihat bahwa Hui Cu telah terluka. Sekarang mendengar ucapan ini, cepat ia memandang dan berseru, “Ah, Hui Cu. Kau terluka dengan senjata beracun!” Cepat ia memegang tangan kiri gadis itu dan menariknya dekat, tanpa ragu-ragu lagi ia merobek lengan baju bagian atas dan benar saja, di balik lengan baju yang sudah sedikit robek dan berdarah itu tampak kulit pangkal lengan dekat pundak hitam membengkak!

Li Eng mengeluarkan seruan tertahan, namun ia segera bertanya, “Enci, ia siapakah dan kenapa harus dibantu?”

“Lekas… dua orang itu, Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, amat jahat dan lihai. Tolong bantulah dia… dia itu… eh, dia penolongku.”

Tak usah diperintah dua kali, mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah penolong Hui Cu, apalagi mendengar bahwa nenek buruk rupa saking tuanya itu adalah Hek-hwa Kui-bo dan wanita tua yang cantik itu Kim-thouw Thian-li, Li Eng cepat mencabut pedang dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran sambil berseru,

“Bagus sekali! Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, sudah lama aku mendengar nama kalian yang busuk, lihat, aku Kui Li Eng dari Hoa-san-pai datang menagih hutang-hutangmu kepada Hoa-san-pai!” Memang gadis ini sudah mendengar dari ayah bundanya tentang kejahatan dua orang tokoh ini, terutama tentang perbuatan Kim-thouw Thian-li yang dulu banyak berbuat jahat terhadap Hoa-san-pai (baca cerita Raja Pedang).

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya kaget sekali melihat serbuan seorang gadis cantik yang mengaku sebagai murid Hoa-san-pai itu. Tadinya mendengar suara Li Eng, mereka tidak pandang sebelah mata, karena apa sih kepandaian seorang anak murid Hoa-san-pai yang masih begitu muda? Akan tetapi begitu pedang di tangan Li Eng berkelebat, mereka menjadi terkejut sekali. Menghadapi pemuda ini saja, biarpun mereka berhasil mendesak dengan keroyokan mereka, namun tidak mudah untuk merobohkannya. Apalagi sekarang muncul seorang gadis yang demikian ganas ilmu pedangnya.

“Kau bereskan anak iblis ini, biar kubunuh gadis liar ini!” kata Hek-hwa Kui-bo kepada muridnya. Ia percaya bahwa Kim-thouw Thian-li akan dapat menahan Si Pemuda sedangkan ia akan cepat-cepat membunuh gadis itu sebelum dua orang muda yang lain itu dapat membantu.

Akan tetapi, bicara memang mudah. Kepandaian Sin Lee hebat sekali dan kini menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang diri saja, segera keadaan berubah hebat. Kalau tadi Sin Lee terdesak, hal itu tidaklah amat mengherankan karena Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, setingkat dengan tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi dan yang lain-lain, apalagi nenek ini mengandalkan ilmu pedangnya yang sakti, yaitu Im-sin Kiam-hoat. Lebih-lebih karena nenek ini dibantu oleh muridnya yang hampir sama lihainya, Kim-thouw Thian-li ketua dari Ngo-lian-kauw. Betapapun lihainya Sin Lee, ia terdesak hebat juga oleh dua orang pengeroyoknya itu. Kim-touw Thian-li hebat permainan goloknya yang dibantu sehelai selampai merah yang mengandung racun. Gurunya, Hek-hwa Kui-bo juga menggunakan dua senjata, yaitu sebatang pedang dan sehelai. saputangan beraneka warna yang lebih jahat lagi racunnya.

Juga Hek-hwa Kui-bo kecele kalau tadi ia memandang rendah gadis muda belia yang cantik murid Hoa-san-pai ini. Sejak dahulu Hek-hwa Kui-bo memandang rendah kepada Hoa-san-pai, sama sekali ia tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan besar di Hoa-san-pai. Hoa-san-pai sekarang jauh bedanya dengan Hoa-san-pai dua puluh tahun yang lalu. Setelah Kui Lok dan isterinya, Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai ini mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai aseli dari Lian Ti Tojin, yang sekarang diwarisi pula oleh Kui Li Eng, hebatlah ilmu silat Hoa-san-pai itu. Baru sekarang Hek-hwa Kui-bo mendapat kenyataan bahwa sama sekali salah memandang rendah golongan lain. Begitu ia mulai serang-menyerang dengan Li Eng, nenek itu kaget dan terpaksa segera mengeluarkan ilmu pedangnya yang ampuh, Im-sin Kiam-hoat dibantu permainan saputangan aneka warna yang mengeluarkan bau yang memuakkan. Li Eng harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan menjaga diri dari pengaruh racun itu dengan hawa murni. Beberapa kali selama perjalanannya bertemu dengan orang-orang sakti membuat Li Eng berhati-hati kali ini.

Sementara itu, setelah memeriksa sebentar, Kun Hong berkata, “Hui Cu, jahat benar orang yang melepas Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Bunga) ini. Jarum yang halus itu masih berada di lenganmu. Kau diamlah, kendurkan semua urat dilengan kananmu!” Hui Cu memandang pamannya dengan keheranan, akan tetapi mentaati permintaan ini.

Kun Hong lalu menggunakan jari telunjuknya menotok beberapa jalan darah dipundak dan siku dan seketika gadis itu merasa lengannya lumpuh!

“Diam saja, sakit sedikit, hendak kuambil keluar jarum itu,” kata Kun Hong dan pemuda ini segera memijit-mijit lengan yang luka itu. Tak lama kemudian tersembullah ujung jarum dari luka itu. Hui Cu menggigit bibir menahan sakit dan sekali lagi memencet, jarum itu keluar dari luka, jarum yang amat lembut, sebesar ujung rambut.

“Nah, sekarang tidak berbahaya lagi, tunggu kita kelak mencari obat untuk menyembuhkannya sama sekali. Biar kukeluarkan sebagian darah yang teracun.” Ia mengurut lengan itu dari atas ke bawah dan dari luka itu keluarlah darah menghitam. Setelah itu ia membebaskan totokannya.

“Aih, Paman Hong. Tidak kusangka… kau begini pandai….” Hui Cu berkata, penuh kekaguman.

“Pandai apa? Hanya sedikit ilmu pengobatan yang kuketahui dari membaca kitab-kitab Yok-mo. Lihat, Li Eng dan penolongmu itu masih bertempur hebat.”

Keduanya lalu memandang ke arah pertempuran. Ternyata Sin Lee kini dapat mendesak Kim-thouw Thian-li dengan hebatnya. Pedang pemuda ini amat kuat dan aneh gerakannya dan sekali lagi Kun Hong tertegun karena ia mengenal ilmu pedang ini yang mengandung inti Ilmu Silat Kim-tiau-kun. Akan tetapi sifatnya sudah berubah, ganas dan merupakan tangan maut mengintai korban.
“Ah, ganas… ganas….” katanya penuh kekuatiran.

Ia makin terheran-heran ketika mengenal bahwa inti sari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun yang dimainkan pemuda itu bercampuran dengan ilmu pedang Hoa-san-pai sehingga merupakan ilmu silat kombinasi yang tidak menyerupai Hoa-san Kiam-hoat maupun Kim-tiauw-kun lagi.

Desakan-desakan Sin Lee terhadap Kim-thouw Thian-li makin hebat. Wanita itu benar-benar merasa kewalahan menghadapi serangan-serangan yang banyak memakai gerak-gerak tipu ini. Mulailah ia ketakutan ketika pundaknya tercium ujung pedang lawannya. Hebat serangan Sin Lee. Mula-mula pedangnya menyambar ke arah pusar, ketika Kim-thouw Thian-li menangkis sambil mengebutkan sabuk merah ke arah muka Sin Lee, pemuda ini mengibaskan tangan kiri menangkis dengan hawa pukulannya, melanjutkan dengan tusukan pedang yang diputar-putar di depan muka wanita itu. Kim-thouw Thian-li menjadi silau matanya dan cepat-cepat menarik pedang untuk menangkis lagi. Siapa kira, serangan ini hanya pancingan belaka agar ia mengangkat pedangnya karena tahu-tahu pemuda itu mengirim pukulan keras ke arah ulu hati, menggunakan tangan kiri yang diputar-putar lebih dulu.

Kim-thouw Thian-li mengeluarkan jeritan kaget karena hawa pukulan tangan kiri dari pemuda itu mendatangkan angin dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya menggigil dan lemas. Cepat-cepat wanita itu mengerahkan Iwee-kangnya sambil membanting tubuh ke kanan untuk menghindarkan diri dari pukulan dahsyat itu, namun ujung pedang Sin Lee sudah menyambar datang memenggal leher!

“Celaka!” Kim-thouw Thian-li menggerakkan kepalanya menjauh, namun pundaknya masih saja tercium ujung pedang, bajunya robek berikut kulit pundak dan sedikit dagingnya.

Mulailah ia menjadi gentar apalagi ketika Sin Lee terus menerus mendesaknya dengan serangan pedang yang gencar diselingi pukulannya yang dahsyat itu. Kun Hong yang menyaksikan pukulan dengan tangan lebih dulu diputar-putar ini, menjadi bingung. Di dalam Kim-tiauw-kun tidak ada pukulan macam itu. Memang, ilmu pukulan ini adalah ilmu dari kaum sesat, yang hanya dipergunakan oleh golongan hitam. Inilah ilmu pukulan Jing-tok-ciang (Pukulan Racun Hijau) yang Sin Lee warisi dari ibunya dan di lain pihak Kwa Hong ibunya itu dahulu menerimanya dari Koai Atong. Dahsyat sekali Jing-tok-ciang ini karena baru angin pukulannya saja sudah mengandung hawa luar biasa yang dapat mematikan lawan.

Dengan marah sekali Kim-thouw, Thian-li mengebutkan sabuk merahnya sambil berseru nyaring. Debu kemerahan menyambar ke arah Sin Lee. Inilah racun berbahaya yang keluar dari dalam sabuk itu, yang dipergunakan Ketua Ngo-lian-kauw hanya kalau menghadapi lawan tangguh. Debu merah ini berbau harum sekali, begitu harumnya sampai dapat merampas ingatan dan semangat orang! Namun sudah banyak Sin Lee mendengar tentang Ketua Ngo-lian-kauw ini dari ibunya, dan sudah tahu pula ia apa artinya debu merah ini. Ia tidak berani memandang rendah, terdengar ia melengking tinggi dan tubuhnya meloncat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan. Hebatnya dari udara ia bisa melakukan gerakan menerjang ke depan bawah sambil memutar dari kiri sehingga tidak bertemu dengan awan debu merah. Pedangnya dikerjakan cepat dan tangan kirinya juga diputar-putar, siap melakukan pukulan.

Kim-thouw Thian li terhasil menangkis pedang Sin Lee, namun sebuah pukulan Jing-tok-ciang yang tak tersangka-sangka datangnya, mengenai pundak kirinya. Perlahan saja pukulan itu namun ketika jari-jari tangan pemuda itu menyentuh pundaknya, wanita ini memekik keras dan terhuyung-huyung lalu roboh! Dengan sekuat tenaga ia menghimpun hawa Im-sin-kang di tubuhnya untuk melawan pukulan yang membuat seluruh isi dadanya dan pada saat itu Sin Lee sudah tidak mau memberi hati lagi, menerjang dengan pedang diputar lalu ditusukkan seperti lagak seekor burung mematuk mangsanya.

“Heee, jangan bunuh orang….!” Kun Hong sudah sampai di situ dan menyelinap di antara sinar pedang Sin Lee, Hui Cu kaget sekali dan hendak menarik tangan pamannya ketika ia melihat pamannya dengan gerakan tidak karuan dan kacau menubruk Sin Lee, akan tetapi secara aneh sambarannya meleset dan tubuh Kun Hong terus menyerbu ke depan. Hui Cu hampir menjerit karena kuatir kalau-kalau pamannya itu yang tidak pandai silat terkena senjata Sin Lee. Akan tetapi ia melihat Sin Lee mencelat mundur sambil berseru, ” Kau?”

Kuatir kalau-kalau Sin Lee akan menyerang Kun Hong, Hui Cu segera lari menghampiri dan berkata, “Jangan… dia adalah pamanku.”

Sin Lee tertegun. Tadi ia terpaksa harus menarik kembali pedangnya dan mencelat ke belakang karena pemuda aneh itu yang menyelinap masuk telah memasang dua jari tangannya memapaki tangannya yang memegang pedang sehingga kalau ia meneruskan tusukannya kepada Kim-thouw Thian-li, sudah tentu pergelangan tangannya akan tertotok dan pedangnya akan terlepas. Heran ia bagaimana paman dari Hui Cu dapat mengenal kelemahan pergerakannya tadi? Dan sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa “paman” ini masih seorang muda sebaya dia!

“Dia… dia pamanmu yang bernama Kun Hong itu?” tanyanya memandang ke arah Kun Hong yang menghampiri Kim-thouw Thian-li yang sudah duduk bersila mengerahkan Iwee-kang untuk melawan hawa dingin yang menyerang isi dadanya.

“Ya, maklumlah dia… dia paling anti bunuh membunuh, karena itu maka tadi mencegah kau membunuh Kim-thouw Thian-li….”

“Kau… tidak apa-apa?” tanya Sin Lee memandang penuh perhatian.

“Tidak, Paman Hong sudah mengobatiku, tak kusangka dia pandai. Saudara Tiauw, kau tolong bantulah adik Li Eng melawan Hek-hwa Kui-bo.”

Pada saat itu pertempuran antara Li Eng dan Hek-hwa Kui-bo masih berjalan seru sekali. Akan tetapi betapapun lihainya Li Eng, menghadapi tokoh sakti ini ia terdesak juga apalagi pedang nenek itu menyambar-nyambar ganas dengan ilmu pedangnya Im-sin Kiam-sut. Mendengar permintaan Hui Cu, Sin Lee segera melompat dan menerjang nenek itu dengan pedangnya.

“Iblis tua, kau mampuslah!” Pedangnya menyambar-nyambar seperti kilat dan Hek-hwa Kwi-bo terpaksa mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang berkepandaian tinggi itu. Li Eng diam-diam merasa lega bahwa ia mendapat bantuan seorang yang begini kuat. Diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan cucu Song-bun-kwi. Ada persamaan wajah dan bentuk badan antara kedua pemuda ini, hanya cucu Song-bgn-kwi itu lebih kekar dan lebih tampan dalam pandangannya. Juga dalam ilmu kepandaian, keduanya sama-sama hebat.

Kun Hong menghampiri Kim-thouw Thian-li yang duduk bersila. Wajah wanita itu muram, mengandung cahaya kehijauan yang aneh. Kun Hong tahu bahwa wanita ini telah terluka berat, luka dalam yang mengandung hawa pukulan beracun. Ia pernah bertemu dengan Ketua Ngo-lian-kauw ini dan ia dapat menduga bahwa orang ini bukanlah orang baik-baik, akan tetapi hatinya yang penuh welas asih membuat ia berkasihan melihat orang itu terluka dan bermaksud untuk mengobatinya.

“Kauwcu, kau terluka hebat” dan tanpa ragu-ragu ia memegang pergelangan tangan kiri wanita tua itu. Beberapa detik ia memeriksa keadaan orang melalui ketukan jalan darahnya, dan ia kaget sekali.

“Kauwcu, kau terkena racun hawa pukulan yang mengandung daya Im-kang. Jangan kerahkan tenaga keluar, jangan pula melawan dari dalam. Aku akan berusaha menolongmu.” Setelah berkata demikian, Kun Hong menotok ke bagian pundak dan mengurut bagian punggung.

Kim-thouw Thian-li membuka matanya, kaget bukan main melihat bahwa orang yang bicara hendak menolongnya adalah orang Hoa-san-pai yang pernah datang ke tempatnya kemudian dibawa pergi Song-bun-kwi. Orang ini terang pihak musuh, mana ia percaya hendak mengobatinya? Tentu hendak menipunya dan hendak mencelakainya. Ia cepat mengangkat tangan mengirim pukulan keras.

“Eh, jangan kerahkan tenaga, berbahaya Kun Hong berseru namun terlambat, tubuhnya mencelat dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya! “Paman Hong… kau… kau tidak apa- apa?” Hui Cu mendekati, melupakan lukanya sendiri dan ia terheran-heran melihat pamannya ini merangkak bangun, sama sekali tidak terluka, hanya keningnya yang bertumbukan dengan batu ketika ia terlempar tadi agak benjol setengah telur besarnya. Pemuda ini menggeleng kepala dan memandang ke arah Kim-thouw Thian-li, lalu menarik napas panjang.

“Kehendak Thian tak dapat diubah… dia seperti membunuh diri….”

Hui Cu tidak mengerti dan menengok ke arah Ketua Ngo-lian-kauw dan… ternyata wanita itu telah rebah telentang dengan wajah kehijauan. Ketika ia mendekati, ternyata bahwa Kim-thouw Thian-li telah tewas! Diam-diam Hui Cu girang sekali, karena ia benci wanita Ketua Ngo-lian-kauw yang terkenal jahat dan yang dahulu sudah banyak membikin susah orang-orang tua di Hoa-san-pai.

Hek-hwa Kui-bo benar-benar hebat sekali. Nenek ini usianya sudah amat tua, mukanya sudah penuh keriput dan matanya cekung seperti mata tengkorak.

Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang sudah mendekati lubang kubur. Namun dalam pertempuran dia benar-benar seperti iblis betina, tenaga Iwee-kangnya masih mengatasi kedua orang muda yang mengeroyoknya itu, juga ilmu pedangnya yang berdasarkan ilmu sakti Im-sin Kiam-sut bercampur dengan ratusan macam gerakan ilmu silat yang dimilikinya, membuat dua orang pengeroyoknya itu harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk menekannya. Kali ini nenek ini benar-benar menghadapi lawan berat. Sin Lee adalah putera Kwa Hong yang sudah mewarisi kepandaian ibunya yang luar biasa, kepandaian campuran antara ilmu silat Hoa-san-pai, Ilmu Silat Jing-tok-ciang ditambah lagi ilmu silat yang dipelajari oleh Kwa Hong dari rajawali emas. Adapun Kui Li Eng memiliki ilmu silat Hoa-san-pai yang aseli, yang tadinya merupakan rahasia bagi Hoa-san-pai sendiri sebelum ayah bundanya bertemu dengan Lian Ti Tojin. Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang aseli ini berlipat kali lebih lihai dari ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya.

Perlahan tapi tentu, Hek-hwa Kui-bo mulai terdesak. Dua buah pedang di tangan dua orang muda itu benar-benar membuat ia sebentar-sebentar memekik marah dan heran. Akan tetapi ketika nenek ini melihat bahwa muridnya yang terkasih itu tewas sebagai akibat pukulan pemuda yang sekarang mengeroyoknya, ia menjadi marah sekali dan juga kuatir. Sambil memekik keras, sabuknya dikebut-kebutkan dan mengepullah debu yang bermacam-macam warnanya dan diantara debu ini berkelebatan sinar-sinar yang menyembunyikan jarum-jarum lembut yang mengandung racun sama hebatnya dengan racun debu beraneka warna itu! Inilah penyerangan hebat luar biasa yang jarang dapat dihindarkan oleh lawan yang bagaimana tangguh pun.

“Awas….!!” teriakan ini sekaligus keluar berbareng dari mulut Li Eng dan Sin Lee dan berbareng pula seperti mendengar komando, dua orang muda ini membanting tubuh ke belakang, berjungkir-balik dan menggelundung pergi seperti binatang trenggiling turun gunung. Kiranya keduanya sudah mendengar dari orang tua masing-masing tentang kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan tentang senjata rahasia yang amat ampuh dari nenek iblis ini, yaitu debu beracun yang disebut Ngo-hwa Tok-san (Bubukan Racun Lima Kembang) dan jarum-jarum beracun Ngo-hwa Tok-ciam. Karena inilah maka mereka berdua tidak berani menyambut atau menangkis, melainkan membuang diri dengan cara pengelakan yang paling tepat untuk menghindarkan diri dari serangan debu dan jarum-jarum itu. Biarpun begitu, kedua orang muda ini merasa angin berseliweran di atas punggung mereka, hanya beberapa senti meter saja jauhnya, tanda bahwa jarum-jarum beracun itu hampir saja mengenai tubuh mereka.

Setelah menggelundung jauh, keduanya berloncatan bangun dengan keringat dingin mengucur. Hampir saja mereka menjadi korban. Keduanya cepat memutar tubuh untuk menghadapi nenek yang ganas itu, akan tetapi nenek itu sudah tidak kelihatan lagi. Kiranya ketika melihat dua orang pengeroyoknya bergulingan tadi, Hek-hwa Kui-bo yang tahu betul bahwa melanjutkan pertempuran melawan dua orang muda itu merupakan bahaya sedangkan muridnya sudah tewas, cepat ia melompat, menyambar jenazah Kim-thouw Thian-li dan membawanya lari secepat terbang dari tempat itu. Kun Hong dan Hui Cu yang melihat ini, hanya dapat memandang saja. Bagi Hui Cu yang maklum akan tingkat kepandaiannya, tak berani ia menghalangi, ada pun Kun Hong memang tidak mau menghalangi, malah ia bersyukur bahwa jenazah Kelua Ngo-lian-kauw itu ada yang membawa pergi dan mengurusnya.

Hui Cu dengan muka gembira memperkenalkan Sin Lee kepada Li Eng dan Kun Hong, Li Eng yang berwatak lincah gembira itu menjura dan berkata,

“Tiauw-enghiong benar-benar gagah perkasa dan lihai sekali, membuat aku kagum sekali. Apalagi karena Tiauw-enghiong telah menolong Enci Hui Cu dari tangan Song-bun-kwi, benar-benar merupakan budi yang takkah pernah dilupa oleh… Enci Hui Cu.” Setelah berkata demikian ini, dengan sinar mata yang nakal sekali Li Eng mengerling kepada Hui Cu yang menjadi merah dadu warna pipinya.

“Menyesal sekali bahwa dahulu itu aku tidak sempat pula menolongmu dari tangan kakek itu, Nona, karena kakek itu memang lihai sekali. Terpaksa aku hanya dapat mengajak Nona Hui Cu pergi,” jawab Sin Lee yang tadi merasa tersindir mengapa dahulu itu yang ditolongnya hanya Hui Cu seorang.
Sementara itu, Kun Hong memandang kepada Sin Lee dengan mata tajam penuh selidik. Ia mengenal ilmu silat pemuda ini dan karena otaknya yang cerdik ia lalu membuat rangkaian dan dugaan. Gurunya, Bu-beng-cu sudah lama meninggal dunia dan kiranya sampai mati pun guru besar itu tidak pernah menerima murid, buktinya ilmunya ditinggalkan dalam bentuk kitab. Kalau ada orang lain mampu mewarisi Kim-tiauw-kun, tentulah melalui burung rajawali emas itu. Dan Kim-tiauw-kun yang dimainkan pemuda ini kacau-balau dan tercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, malah ada pula ilmu silat Hoa-san-pai di dalamnya. Satu-satunya orang selain dia, yang ada hubungannya dengan rajawali emas, seperti yang ia dengar dari dua orang murid keponakannya, hanyalah Kwa Hong, kakak perempuannya lain ibu itu. Jadi pemuda ini… kiranya takkan terlalu ngawur kalau ia menduga bahwa pemuda ini tentulah anak dari Kwa Hong!

“Saudara Sin Lee she Tiauw, bukan? Bagus, she yang bagus akan tetapi juga jarang ada. Membikin aku teringat akan burung rajawali raksasa. Eh, Saudara Tiauw Sin Lee, pernahkah kau melihat seekor burung rajawali emas raksasa yang memakai kalung mutiara?”

Berubah wajah Sin Lee. Jantungnya berdebar keras. Tadi ketika diperkenalkan, ia mendengar bahwa orang muda yang halus gerak-gerik dan tutur sapanya ini bernama Kwa Kun Hong putera Ketua Hoa-san-pai. Ini saja sudah membuat ia berdebar-debar karena Kwa Kun Hong yang berdiri di depannya ini adalah adik ibunya! Adik lain ibu, jadi adik tirinya, Kwa Kun Hong ini adalah paman tirinya sendiri. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani memperkenalkan diri dengan sesungguhnya. Ia adalah anak Kwa Kun Hong dan kepergiannya ke Thai-san mempunyai maksud menyeret Tan Beng San ke hadapan ibunya. Orang-orang muda ini sedang menuju ke Thai-san, agaknya mempunyai hubungan baik dan erat sekali dengan Ketua Thai-san-pai. Kalau ia mengaku dan menceritakan maksudnya, sudah tentu akan terjadi hal-hal tidak enak sekali. Oleh karena itu ia tetap memalsukan shenya. Siapa kira di sini ia bertemu dengan paman tirinya, yang entah dengan cara bagaimana, agaknya mengetahui rahasianya! Bagaimana paman tirinya ini tahu tentang kim-tiauw? Sudah tentu saja ia mengenal rajawali emas yang berkalung mutiara. Siapa tidak mengenal kalau kalung yang berada dileher burung itu adalah dia sendiri yang memasangnya?

Mendengar ini, baik Hui Cu maupun Li Eng menjadi kaget dan heran, lalu memandang kepada Sin Lee. Terutama sekali Li Eng. Sebagai seorang gadis yang cerdik sekali, ia dapat menghubung-hubungkan sesuatu. “Kalau pernah melihat kim-tiauw berkalung mutiara tentu pernah melihat… dia!” …. Ia memandang tajam. Hui Cu mendengar ini mengeluarkan seruan tertahan. Betulkah dugaan Li Eng bahwa pemuda penolongnya dan yang sekaligus perampas hatinya ini ada hubungan dengan… dia yang dimaksudkan tentu Kwa Hong?

Adapun Sin Lee ketika mendengar ucapan Kun Hong dan kemudian Li Eng, melihat pula pandang mata Hui Cu dan yang lain-lain, berubah air mukanya. Tidak mengakui tentang kim-tiauw bukanlah hal yang sukar baginya, akan tetapi bagaimana ia bisa tidak mengakui tentang ibunya sendiri? Ia menjadi gugup dan gelisah karena rahasianya hampir terbongkar.
“Aku… aku… ah, tidak tahu siapa yang kalian maksudkan… setelah Nona Hui Cu bertemu dengan kalian, biarlah aku pergi!” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan ia sudah melompat jauh sekali.

“Saudara Sin Lee….!” Tak terasa lagi Hui Cu berseru memanggil dan lari mengejar, namun ia segera menahan kakinya dan mukanya berubah merah ketika teringat bahwa sikapnya ini benar-benar telah membuka perasaan hatinya, sedangkan di situ terdapat Kun Hong dan Li Eng!

Dari jauh, lapat-lapat terdengar suara pemuda yang telah menjatuhkan hatinya itu, “Nona Thio Hui Cu, selamat tinggal, kelak kita pasti akan saling bertemu kembali….”

“Engci Hui Cu, jangan kuatir, aku yakin kau akan bertemu lagi dengan dia. Hemm, dia baik sekali kepadamu, Cu-cici.” Li Eng lalu tertawa dan Hui Cu menjadi makin merah mukanya.

“Adik Eng, jangan kau main-main!”

“Siapa main-main, memang dia… eh, hebat sekali, bukan begitukah pendapatmu?”

“Kau… nakal….!” Hui Cu maju dan mengulur tangan hendak mencubit pipi Li Eng yang menggodanya. Li Eng mengelak dan menjerit-jerit.

“Eh… eh, jangan… uhh, kenapa marah-marah? Lihat, tuh dia datang kembali!” Seketika Hui Cu berhenti dan menengok ke arah perginya pemuda tadi. Ketika tidak melihat siapa-siapa, ia menjadi makin jengah, maklum bahwa sekali lagi ia digoda oleh adik misan yang nakal itu.

“Sudahlah, jangan bergurau saja Kita harus bersyukur bahwa akhirnya kita bertiga dapat berkumpul kembali dengan selamat.”
Sambil melanjutkan perjalanan, tiga orang muda ini lalu saling menuturkan pengalaman mereka masing-masing.

Puncak Thai-san yang tinggi menjadi tempat tinggal Raja Pedang Tan Beng San dan isterinya Cia Li Cu. Seperti telah kita ketahui dalam permulaan cerita Rajawali Emas, Tan Beng San setelah mengalami banyak sekali derita hidup, dipermainkan oleh asmara yang membuatnya banyak mengalami pahit getir penghidupan, akhirnya berjodoh dengan Li Cu dan hidup sebagai suami isteri yang penuh kebahagiaan di Thai-san ini. Tentu saja, sebagai sepasang pendekar yang berjiwa gagah, mereka tidak dapat terus menerus menyembunyikan diri di tempat sunyi ini. Kadang-kadang mereka bersama-sama atau Tan Beng San seorang diri, turun gunung untuk melaksanakan tugas sebagai pendekar pembasmi kejahatan dan penegak kebenaran dan keadilan, sehingga nama sepasang pendekar itu makin terkenal di seluruh dunia.

Tan Beng San adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, pewaris dari ilmu Silat Im-yang Sin-hoat adapun isterinya Li Cu, adalah puteri tunggal dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan. Sudahlah tentu saja sepasang suami isteri ini mempunyai cita-cita untuk memperkembangkan kepandaian mereka, membentuk sebuah partai persilatan di Thai-san yang akan menyebar-luaskan ilmu dari mereka dan dijadikan modal untuk membantu usaha pembasmian kejahatan di dunia ini. Cita-cita inilah yang membuat mereka akhirnya bersepakat untuk mendirikan partai persilatan Thai-san-pai. Mereka memilih orang-orang atau lebih tepat anak-anak yang berbakat diambil dari dusun-dusun dan dipilih anak-anak yang telantar untuk dididik dan dijadikan murid.

Kebahagiaan hidup mereka meningkat ketika setahun kemudian terlahir seorang anak perempuan yang mereka beri nama Tan Cui Bi. Tentu saja anak kesayangannya ini mendapat gemblengan dari kedua orang tuanya sehingga setelah berusia tujuh belas tahun, Cui Bi menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga berkepandaian tinggi. Namun, sebagai anak tunggal, Cui Bi amat manja. Darah ayah bundanya, darah ksatria, mengalir dalam tubuhnya dan anak ini semenjak berusia lima belas tahun tak dapat ditahan lagi oleh kedua orang tuanya, kadang-kadang melakukan perantauan seorang diri dan melakukan perbuatan-perbuatan gagah berani yang menggemparkan dunia kang-ouw. Dan dalam setiap perjalanan ia selalu berpakaian sebagai laki-laki, hal ini adalah nasehat dari ayahnya yang maklum bahwa betapa pun tingginya kepandaian puterinya, namun dalam pakaian laki-laki ia akan dapat melakukan perjalanan lebih leluasa, daripada sebagai seorang gadis cantik dan muda.

Semestinya Tan Beng San dan isterinya akan merasa amat bahagia setelah mereka mendapatkan murid-murid yang cukup banyak untuk dapat dijadikan anggauta partai Thai-san-pai yang akan mereka resmikan pendiriannya. Akan tetapi, sebagaimana lajimnya kehidupan manusia di dunia ini, selalu tidak sempurna, tidak ada kebahagiaan sempurna selama manusia masih hidup, ada saja gangguan.

Hal yang amat menggelisahkan hati kedua orang ini adalah sikap Cui Bi dalam hal perjodohan. Telah banyak sekali datang pinangan-pinangan dari putera orang-orang berpangkat, putera tokoh-tokoh kenamaan di dunia kang-ouw, dari pendekar-pendekar muda yang benar-benar mengagumkan. Namun semua pinangan itu ditolak mentah-mentah oleh Cui Bi. Akhirnya datang pinangan dari Ketua Kun-lun-pai yang menjadi sahabat baik dari Tan Beng San sendiri.

Pembaca kiranya masih ingat kepada Bun Lim Kwi, pendekar Kun-lun-pai yang terjodoh dengan Thio Eng puteri tokoh Pek-lian-pai dan murid Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Setelah Ketua Kun-lun-pai yang sudah tua meninggal dunia, Bun Lim Kwi diangkat menjadi ketua baru dari Kun-lun-pai Bun-paicu ini mempunyai seorang putera tunggal dan diberi nama Bun Wan.

Bun Wan seorang pemuda yang ganteng dan gagah, bertubuh tinggi besar dan berwatak jujur, ilmu silatnya pun tinggi. Ketika dalam perantauan, Tan Beng San dan isterinya pernah singgah di Kun-lun dan pernah melihat Bun Wan ini yang mendatangkan kesan baik dalam hati mereka.

Oleh karena itulah, ketika tiba lamaran dari Kun-lun, serta-merta Tan Beng San dan isterinya setuju karena dalam pandangan mereka, sudah patut sekali kalau puteri mereka menjadi isteri pemuda Bun Wan itu. Bun Wan tampan dan gagah, keturunan orang-orang gagah, putera Ketua Kun-lun-pai yang besar dan terkenal, mau apalagi? Sukar kiranya mencari mantu yang melebihi Bun Wan ini. Maka, setelah bersepakat, suami isteri Thai-san ini menerima pinangan itu, tanpa bertanya lagi kepada Cui Bi karena gadis ini sedang merantau. Bun Lim Kwi yang datang sendiri ke Thai-san, menjadi girang dan berterima kasih, lalu kembali ke Kun-lun-pai setelah mendapat keterangan dari suami isteri Thai-san bahwa persoalan itu selanjutkan akan ditentukan hari pernikahannya sehabis peresmian pendirian Thai-san-pai. Akan tetapi alangkah mengkal dan duka hati suami isteri ini ketika Cui Bi datang dan diberi tahu tentang ikatan jodoh ini gadis itu marah-marah, malah pada malam harinya lari pergi dari Thai-san tanpa memberitahukan ayah bundanya.

“Hemmm, anak itu terlalu manja!” Beng San membanting kaki dan mendongkol sekali. “Kali ini ia mau tidak mau harus menurut kehendak kita! Aku akan menyusul dan mencarinya.”

Li Cu memegang tangan suaminya. “Jangan, terburu nafsu. Ingatlah bahwa Cui Bi baru berusia tujuh belas, mungkin perkawinan merupakan hal asing yang menakutkan hatinya. Tak perlu disusul dan dipaksa, jangan-jangan ia akan makin keras kepala dan nekat menolak. Tunggulah, aku yakin dia akan pulang menjelang pendirian Thai-san-pai dan perlahan-lahan nanti kita bujuk. Serahkan saja kepadaku untuk membujuknya.”

Beng San mengerutkan keningnya. “Ah, kau selalu memanjakan dia, maka sekarang dia begitu keras kepala, selalu hendak membantah kehendak orang tua.”

“Suamiku, bagaimana takkan begitu jadinya kalau Bi-ji itu merasa bahwa dia adalah anak tunggal, kesayangan kita? aku bersalah,” ia menundukkan mukanya. “Aku terlalu memanjakan dia. Tapi… tapi kiraku kalau adiknya ini sudah terlahir, dia takkan begitu manja lagi….” Li Cu meraba perutnya yang sudah mengandung empat bulan lebih itu.

Beng San berubah mukanya, cepat ia memegang kedua tangan isterinya dan dibawanya ke muka, diciuminya. “Ah, maafkan aku… Li Cu, kau tahu, aku tidak menyalahkan kau, bukan begitu maksudku… ah, aku hanya terlalu bingung dan gelisah memikirkan Cui Bi. Kita sudah menerima pinangan dari Kun-lun-pai, bagaimana kalau dia berkeras menolaknya?”

Li Cu menarik kedua tangannya, memandang kepada suaminya dengan penuh cinta kasih. “Kau selalu baik sekali. Percayalah, aku akan membujuk Bi-ji (Anak Bi).”

Suami isteri ini mengatur persiapan perayaan yang dilakukan oleh para anggauta Thai-san-pai. Murid Thai-san-pai ada tiga puluh orang lebih jumlahnya dan mereka ini rata-rata sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Malah mereka yang sudah berumah tangga dan tinggal di luar, sekarang pada datang untuk membantu. Ramai dan gembira keadaan di puncak Thai-san ini dan di sana-sini, selain mengatur hiasan-hiasan, juga dibangun pondok-pondok darurat untuk para tamu yang diduga akan membajiri Thai-san-pai. Para murid ini telah menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi juga, yaitu Ilmu Silat Thai-san Kun-hoat yang diciptakan oleh Tan Beng San dengan jalan menggabung ilmu silatnya dan ilmu silat isterinya yang mengutamakan keindahan, kecepatan dan cara yang praktis untuk merobohkan lawan tanpa membunuhnya, sesuai dengan jiwa Beng San yang tidak suka membunuh orang.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini bahwa Beng San dan isterinya melanjutkan usaha Cia Hui Gan, yaitu membuat jalan rahasia yang menuju ke puncak tempat tinggal mereka. Hanya mereka berdua, anak mereka, dan para murid saja yang tahu akan jalan rahasia yang amat sulit ini, Dilihat dari jauh, agaknya tidak mungkin mendatangi puncak di mana terdapat tempat tinggal mereka atau yang menjadi pusat dari Thai-san-pai, karena puncak itu dikurung jurang-jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia, kecuali kalau manusia itu dapat terbang seperti burung. Bahkan anak murid yang belum tamat, tidak diberi tahu tentang jalan rahasia ini dan karenanya mereka tak dapat meninggalkan puncak sebelum pelajaran mereka tamat. Karena adanya jalan rahasia inilah maka musuh-musuh besar suami isteri itu, di antaranya Song-bun-kwi, tidak berdaya menyerbu Thai-san-pai.

Jalan rahasia ini dapat dirubah-rubah sehingga andaikata seorang musuh berhasil mendapatkan rahasia pada hari itu, pada lain harinya pengetahuannya itu akan sia-sia belaka karena setelah dirubah, rahasia itu jauh berlainan dengan yang sudah-sudah. Untuk menjaga rahasia gunungnya, Beng San sengaja hendak mengadakan perayaan pendirian Thai-san-pai itu di bawah puncak, sehingga ia tidak usah mendatangkan para tamu ke puncak dan karenanya tidak perlu ia membuka rahasia itu.

Para anak murid Thai-san-pai sudah siap siaga di bawah puncak. Sebelum hari ditetapkan tiba, kurang seminggu anak murid sudah siap menyambut para tamu, mewakili ketua mereka. Beng San sendiri tidak mau turun dari puncak sebelum hari yang ditentukan tiba. Ia dan isterinya menanti datangnya para anak murid yang bertempat tinggal jauh, juga menanti datangnya puteri mereka, Tan Cui Bi.

Para tamu mulai mendatangi dan sibuklah anak murid Thai-san-pai menyambut, mereka. Yang mewakili Beng San mengadakan penyambutan dan menyampaikan maaf ketuanya karena sibuk sehingga baru akan muncul pada hari yang telah ditetapkan, adalah Oei Sun, murid tertua, seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus berusia empat puluh tahun.

Macam-macam sikap para tamu ketika menerima penyambutan yang hanya dilakukan oleh murid tertua Thai-san-pai ini. Mereka ini kesemuanya amal menghormat dan mengagumi Raja Pedang Tan Beng San, namun apakah artinya murid Thai-san-pai yang baru saja berdiri ini? Ada yang menerima penyambutan dengan hormat, ada yang berterima kasih dan berdiam diri saja, akan tetapi ada pula yang bersungut-sungut, menganggap bahwa Ketua Thai-san-pai tidak memandang mata kepada mereka. Namun, karena sungkan mendatangkan keributan, mereka ini menerima saja dan mendiami tempat masing-masing, yaitu bangunan-bangunan darurat yang sudah disediakan untuk mereka.

Seorang di antara para tamu. Lai Tang yang berjuluk Cakar Naga, seorang guru silat dari kota raja yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan berwatak kasar pongah, ketika mendapat sambutan ini segera berkata sambil berjalan ke arah pondok yang ditunjuk baginya, “Hemm, hemm, Thai-san-pai Ciangbunjin (Ketua) sedang sibuk dan tidak ada kesempatan menyambut kedatanganku? membikin kakiku terasa berat saja menaiki Thai-san.” Semua tamu mendengar ini melihat dan beberapa orang di antaranya berseru kagum ketika melihat betapa jejak kaki guru silat tinggi besar ini memperlihatkan bekas sedalam sepuluh sentimeter lebih dalam tanah yang keras itu!

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: