Rajawali Emas (Jilid ke-28)

Demonstrasi yang diperlihatkan Lai Tang itu menunjukkan bahwa tenaga Iwee-kangnya cukup hebat, agaknya sengaja ia perlihatkan untuk mengejek bahwa seorang anak murid Thai-san-pai yang tidak ada nama itu tidak cukup berharga untuk menyambut seorang tamu yang berkepandaian selihai dia! terdengar Oei Sun tertawa ramah, lalu berkata,

“Maaf, maaf, Lai-kauwsu (Guru Silat Lai), Suhu telah memesan agar supaya menyampaikan maafnya dan memesan supaya siauwte melayani semua tamu dengan hormat. Biarlah siauwte yang meringankan kalau Kauwsu merasa berat kaki.” Setelah berkata demikian, dengan tenang ia berjalan pula melangkah dekat jejak kaki guru silat itu dan… bekas kaki yang amblas sepuluh senti meter itu segera lenyap karena tanahnya sudah rata kembali! Semua tamu kembali berseru memuji dan guru silat Lai itu menengok, melihat apa yang dilakukan Oei Sun. Mukanya menjadi merah dan ia segera membalikkan tubuh mengangkat tangan memberi hormat kepada Oei Sun.

“Panglima yang pandai mempunyai perajurit yang hebat pula! Sahabat, dengan kepandaian seperti yang kau miliki, tentu saja aku sudah merasa cukup terhormat mendapat penyambutanmu!” Setelah berkata demikian, Lai Tang berjalan menuju ke pondoknya sambil tertawa. Senang hati Oei Sun karena biarpun pongah dan kasar, kiranya guru silat she Lai itu cukup jujur dan terbuka hatinya,

Di kaki puncak itu telah dibuat tanah datar yang amat luas dan di tengah dibangun teratak tinggi, setinggi dua meter dengan bentuk persegi empat berukuran lima meter. Di ujung teratak yang lantainya terbuat dari papan tebal dan tiang-tiangnya di bawah dari balok besar-besar ini dipasangi meja sembahyang. Teratak tanpa atap inilah yang akan menjadi tempat dilakukan upacara pendirian Thai-san-pai dan sengaja dibuat dalam bentuk seperti biasa orang membuat panggung lui-tai di mana orang akan dapat bermain silat cukup leluasa. Bukanlah hal aneh kalau setiap pertemuan di antara para jago silat atau dalam partai-partai persilatan, dibuat teratak semacam ini untuk memberi kesempatan orang bermain silat atau bertanding kepandaian silat.

Banyak juga tamu-tamu yang datang, sampai tidak kurang dari lima puluh orang yang mendapat istirahat di pondok-pondok darurat di kaki puncak. Akan tetapi rombongan-rombongan besar dari partai-partai terkenal seperti dari Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, adalah partai-partai yang dipimpin oleh orang-orang terkenal. Mereka ini tahu diri dan tidak suka mendesak-desak, maka sebelum tiba hari yang ditentukan, mereka tidak mau naik ke kaki puncak, melainkan berhenti di lereng-lereng dan mencari tempat peristirahatan didalam hutan-hutan yang indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Juga tokoh-tokoh besar perorangan belum ada yang muncul ke kaki puncak karena orang-orang seperti mereka ini pun tentu saja bersikap “jual mahal” dan tidak muncul sebelum Ketua Thai-san-pai keluar dari sarangnya. Pendeknya, biarpun yang kelihatan berkumpul di kaki puncak hanya ada lima puluh orang, namun di lereng-lereng Thai-san telah datang banyak orang yang masih menyembunyikan diri di tempat peristirahatan masing-masing, di dalam hutan-hutan yang banyak terdapat di seluruh permukaan Pegunungan Thai-san itu.

Selama menanti datangnya hari penentuan itu, mereka yang datang ke Thai-san, baik yang sudah diterima oleh murid kepala maupun yang masih berdiam menanti di hutan-hutan, setiap hari berjalan-jalan menikmati pemandangan alam yang bukan main indahnya. Mereka yang dalang dari gunung-gunung lain, membandingkan pemandangan di situ dengan tamasya alam di tempat masing-masing. Mereka memuji akan keindahan Thai-san dan diam-diam menyatakan kagum kepada Raja Pedang Tan Beng San yang pandai memilih tempat untuk dijadikan pusat perkumpulannya, ada yang memuji nasib baik Raja Pedang itu karena telah menjadi mantu Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan yang dahulu merajai daerah pegunungan ini.

Banyak di antara tamu yang merasa penasaran melihat bahwa tempat upacara dan pertemuan tidak diadakan di puncak, melainkan di kaki puncak.

“Hemmm, Ketua Thai-san-pai benar-benar tidak memandang kepada kita!” beberapa orang di antara mereka berkata, “Apakah puncak tempat tinggal mereka itu terlalu bersih sehingga takut dikotori kaki kita?”

Ada pula yang mengomel, “Kabarnya jalan rahasia Thai-san-pai benar-benar amat hebat dan yang paling sulit dipecahkan di antara tempat-tempat rahasia di dunia ini. Aku ingin mendapat kesempatan ini untuk melihatnya. Siapa tahu, Ketua Thai-san-pai begini pelit tidak mau memperlihatkan puncak. Apakah ia takut kalau kita akan mencuri barang-barang yang berharga?”

Macam-macam pendapat orang, pada pokoknya banyak yang merasa penasaran. Malah perasaan ini mendatangkan kejadian bermacam-macam, dan ada yang hebat pula akibatnya, Beberapa kelompok malah berusaha untuk mencari sendiri jalan rahasia, bermaksud untuk mendaki puncak dan mencari jalannya. Akan tetapi akibatnya, mereka ini berkeliaran di hutan-hutan, sesat tidak karuan dan selama dua hari baru dapat keluar dari hutan-hutan yang sulit dilalui, dengan tubuh lemas dan perut lapar, malah ada yang hampir mati dikeroyok ular atau binatang lain!

Lebih celaka lagi, ada yang pergi seorang diri, diam-diam mempergunakan kepandaian menawan seorang anak murid Thai-san-pai, menyeretnya ke dalam hutan dan memaksanya untuk mengaku dan membuka rahasia jalan ke puncak. Orang ini terlalu memandang rendah anak murid Thai-san-pai. Biarpun murid yang ia lawan itu tidak sanggup melawannya karena kalah tinggi tingkat kepandaiannya, namun setiap orang murid Thai-san-pai adalah orang pilihan yang mempunyai kesetiaan luar biasa. Murid Thai-san-pai itu tidak mau membuka rahasia pertanyaannya, biarpun ia disiksa oleh Si Penawannya, malah kemudian sampai tewas dan ditinggalkan mayatnya begitu saja di dalam hutan itu. Si Penawan ternyata gagal mendapatkan rahasia Thai-san-pai dan dengan hati kecut ia meninggalkan orang tawanannya yang telah menjadi mayat, takut kalau-kalau akan ketahuan rahasianya. Dengan wajah biasa dan sikap tenang orang ini kembali di antara para tamu.

Ributlah para anak murid Thai-san-pai ketika mereka mendapatkan seorang saudaranya tewas di dalam hutan. Namun mereka tidak memperlihatkan kegugupannya.

Dengan tenang Oei Sun yang mendengar tentang ini, menyuruh seorang murid melapor kepada suhunya yang membawa mayat saudara seperguruannya itu naik ke puncak pula untuk diperiksa ketua mereka. Kejadian ini berlangsung tanpa banyak menimbulkan keributan, namun tentu saja berita ini tersiar luar di antara para tamu sehingga mereka ini diam-diam menjadi tegang karena menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat antara Thai-san-pai dengan orang-orang yang memusuhinya, di antaranya, orang-orang, yang telah membunuh anak murid Thai-san-pai itu!

Lima hari sebelum bulan pertama, yaitu hari pendirian Thai-san-pai, datanglah Tan Cui Bi bersama Tan Kong Bu ke tempat penyambutan. Tentu saja para anak buah murid Thai-san-pai menyambut kedatangan Cui Bi dengan gembira, Akan tetapi Oei Sun memandang sumoinya (adik perempuan seperguruan) ini dengan mata diliputi kemuraman, lalu menarik tangan sumoinya masuk ke dalam pondok. Sambil tertawa ia memberi tanda kepada Kong Bu untuk ikut pula ke dalam. Ketika Oei San melihat ini, keningnya berkerut, akan tetapi Cui Bi berkata,

“Oei-suheng, dia ini bukan orang luar. Dia… hemm, belum waktunya kau mengetahui hal ini. Aku dan Kong Bu-koko ini tidak akan segera naik menemui Ayah Ibu, karena kami berdua hendak menanti datangnya tiga orang murid Hoa-san-pai. Aku sendiri yang harus menyambut mereka dan setelah mereka mendapat pondokan yang baik, barulah aku akan menghadap Ayah Ibu. Eh, Suheng, kenapa kau kelihatan tak senang dan gelisah? Apakah yang terjadi?”

Biarpun Cui Bi merupakan adik seperguruan namun tentu saja Oei Sun menganggap gadis muda ini seperti atasannya karena gadis ini adalah puteri gurunya dan ia maklum bahwa dalam hal kepandaian, ia tidak ada setengahnya sumoinya yang nakal ini. “Sumoi, aku merasa kecewa bahwa kau sama sekali tidak muncul lebih siang untuk membantu keperluan kita. Kau tahu, baru saja kemarin terjadi hal yang menggemaskan.”

Lalu murid tertua ini bercerita tentang tewasnya seorang murid Thai-san-pai secara aneh itu.

“Ternyata di antara para tamu terdapat musuh-musuh curang dari Suhu sehingga mereka itu melakukan pembunuhan sebelum Suhu sendiri turun dari puncak. Bukankah ini amat menggemaskan?” kata Oei Sun sambil membanting-banting kaki. “Thai-san-pai belum diresmikan pendiriannya saja sudah harus menelan penghinaan ini. Hemm, ingin aku mengetahui siapa yang melakukan perbuatan ini dan ingin aku berhadapan dengan dia!”

Tentu saja Cui Bi juga marah mendengar ini. “Benar-benar jahat dan curang sekali! Kalau memang mau mencari perkara dengan kita, kenapa tidak terang-terangan saja? Hemm, coba dia berani memperkenalkan diri, takkan mau sudah aku kalau belum kupenggal batang lehernya. Suheng, biarlah sambil menanti datangnya teman-teman dari Hoa-san-pai, aku akan memasang mata. Kurasa, orang yang membunuh itu tentu telah menculik saudara kita itu untuk dipaksa memberi tahu tentang rahasia jalan ke puncak. Apakah di tubuh Suheng itu terdapat tanda luka-luka berat?”

Oei Sun memandang kagum. Memang harus ia akui bahwa sumoinya ini biarpun masih muda, namun memiliki kecerdikan luar biasa. “Kau betul, Sumoi. Memang begitulah agaknya, namun derita yang diderita oleh Sute itu hebat, seperti ditusuki benda panas, tentu sebelum meninggal dia menderita sekali.”

Cui Bi lalu minta disediakan sebuah pondok yang berada menjauh dan tersembunyi karena ia hendak melakukan pengintaian selama menanti kedatangan Kun Hong dan Li Eng. Juga Ia mengharapkan kedatangan Hui Cu yang sampai sekarang belum ia ketahui bagaimana nasibnya itu. Sebentar saja kedukaan akan kematian seorang suhengnya telah tak berbekas pula. Di dalam pondok ia menggoda kakak tirinya.

“Bu-ko, hatimu tentu berdebar-debar, bukan?”

“Apa maksudmu? Kenapa kita harus menanti di sini? Bukankah lebih baik terus saja, ke puncak menemui… Ayah?” Kaku juga pemuda ini menyebut ayah yang selamanya tak pernah ia lihat itu.

“Hish, benarkah kau begitu terburu-buru? Ataukah kau diam-diam ingin segera melihat kedatangan… dia?”

“Bi-moi, kau selalu mengadaku tentang Nona Kui Li Eng itu. Hmmm, tahukah kau apa yang akan terjadi kalau aku dan dia bertemu? Kami berdua sudah saling menantang, kalau sekali bertemu akan mengadu pedang!”

Akan tetapi Cui Bi tidak heran malah tertawa manis. “Tentu saja, maksud dia itu hendak menjatuhkan hatimu, bukan pedangmu. Padahal, tanpa usaha itu pun kau sudah jatuh. Bukan begitu?”

Kong Bu benar-benar merasa bohwat (tak berdaya) menghadapi adik tirinya yang nakal ini. “Sudahlah… sudahlah, Moi-moi. Siapa tidak tahu, bahwa kaulah yang rindu kepada… kutu buku itu?”

Seketika wajah Cui Bi berubah, matanya membelalak. Seakan-akan hal ini merupakan hal baru baginya, atau sesuatu yang baru saja teringat olehnya. Hatinya berdebar keras, membuat wajahnya seketika menjadi merah sekali. Ia seorang gadis yang jujur, tak suka berpura-pura, apalagi terhadap kakak tirinya yang baginya sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri itu. Ia menunduk, termenung, tak dapat berkata-kata lagi, seakan-akan lupa bahwa kakak tirinya berada di situ.

Melihat adiknya tiba-tiba menunduk dan termenung itu, Kong Bu kuatir kalau ia membuat adiknya tak senang. Ia menyentuh pundaknya dan berkata, “Kau kenapa? Aku hanya main-main, jangan marah. Kau tukang menggoda orang, kalau digoda sedikit saja, lalu ngambek!”

Akan tetapi ketika adiknya itu mengangkat muka memandangnya, hati Kong Bu tertegun. Adiknya ini tidak ngambek, tidak marah, kelihatan terharu dan bingung! “Bu-ko, apakah kau pikir betul-betul aku rindu kepadanya?”

“Lho, mengapa urusan begitu kau bertanya kepadaku? Habis, kau sendiri bagaimana?”

“Aku… aku tidak tahu, Bu-ko, aku tidak tahu. Hanya terus terang saja, aku memang… Ingin sekali melihatnya. Lucunya ia mengira aku seorang laki-laki.

“Ah, Bu-ko, aku meragu. Apa yang harus kulakukan?”

Kong Bu terharu. Adik tirinya ini benar-benar seorang yang berhati polos, terhadap dia tidak mau menyimpan rahasia apa-apa, begitu jujur dan menaruh kepercayaan yang besar sekali. Hal ini membuatnya terharu dan makin mendalam rasa sayangnya kepada adik tiri ini. Aku harus membelanya, aku harus melindunginya, aku ingin melihat dia berbahagia, adikku sayang ini, pikirnya. “Bu-ko, kau lihat orang she Kwa itu orang bagaimana?” tanya pula Cui Bi dengan mendadak.

“Hemm, mana aku tahu? Hanya sebentar aku bertemu dengan dia. Dia memang orang aneh, semuda itu kata-katanya mengandung filsafat-filsafat tinggi. Kau… kau yang sudah cukup lama melakukan perjalanan bersama dia tentu kau lebih mengenal sifat-sifat. Tapi dia itu… kutu buku yang lemah, seperti kau katakan sendiri. Apakah sifat ini sesuai dengan kau… seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi dan jiwa gagah perkasa?”

Cui Bi menggeleng kepalanya berkali-kali. “Entahlah… entahlah… dia aneh, Koko. Ah, aku bingung….”

Kedatangan dua orang itu tidak menarik perhatian para tamu. Siapa memperhatikan dua orang muda yang bersahaja itu? Hanya dua orang pemuda yang ganteng, tidak ada apa-apanya yang aneh. Tentu saja tidak ada di antara mereka yang tahu bahwa seorang di antara dua pemuda itu adalah puteri dari Ketua Thai-san-pai dan tidak ada yang tahu pula bahwa pemuda yang seorang lagi adalah cucu yang tergembleng dari Kakek Song-bun-kwi!

Alangkah girangnya hati Cui Bi, dan diam-diam juga hati Kong Bu, ketika pada keesokan harinya tiba tiga orang muda yang bukan lain adalah Kun Hong, Li Eng, dan Hui Cu di kaki puncak itu! Lebih besar kegirangan Cui Bi karena melihat bahwa Hui Cu juga sudah berada dengan pemuda itu dalam keadaan selamat. Berlari-larian ia menyambut kedatangan tiga orang itu, diikuti oleh Kong Bu yang agak meragu berjalan di belakangnya.

“Adik Cui Bi….!” Kun Hong berseru dan tanpa ragu-ragu lagi memegang kedua tangan sahabat ini. “Alangkah girangku melihat kau di sini! Ah, adik yang nakal, kenapa tempo hari kau pergi begitu saja tanpa pamit? Aku… aku ingin memperkenalkan kau dengan keponakan-keponakanku. Ini dia Li Eng yang seringkali kuceritakan kepadamu, dan ini Hui Cu. Anak-anak, inilah pemuda aneh murid Thai-san-pai yang seringkali kuceritakan kepada kalian. Dia hebat!”

Diam-diam Cui Bi yang mukanya menjadi merah sekali itu bertukar pandang dengan Kong Bu yang juga sudah sampai di situ. “Eh, kau juga di sini? Bersama-sama Bi-laote?” Kun Hong menegur kaget dan heran melihat Kong Bu berada pula di situ dengan sahabatnya itu. Namun yang ditegur hanya mengerling kepada Li Eng yang sebaliknya memandang kepadanya dengan mata merah! Panas rasa dada Li Eng. Tentu saja panas melihat pemuda yang dibencinya itu berada bersama Cui Bi! Hemm, dia tak sebodoh pamannya. Akan tetapi terpaksa ia menahan panas hatinya itu karena Cui Bi sudah merangkapkan kedua tangan memberi hormat kepadanya dan kepada Hui Cu.

“Syukur kalian sudah datang!” seru Cui Bi gembira. “Aku sudah menyediakan sebuah pondok besar untuk kalian. Mari, mari silakan ke pondok beristirahat sambil bercakap-cakap. Hong-ko kita masih banyak waktu, masih empat hari lagi hari yang ditentukan. Kalian bisa beristirahat sambil menikmati keindahan tempat kami.” Ia lalu menggandeng tangan Kun Hong ke pondok besar yang agaknya menyendiri letaknya, berdekatan dengan pondok Cui Bi sendiri. Memang dia sengaja memilih dua pondok berjajar yang agak terpisah jauh dari pondok para tamu itu untuk sahabat-sahabatnya dari Hoa-san-pai.

Ketika melihat bahwa pondok itu tidak mempunyai kamar-kamar terpisah. Kun Hong menjadi agak bingung. “Ah, mengapa pondok ini tanpa kamar? Habis, bagaimaha kita bisa bermalam di sini?” Ia memandang kepada dua orang keponakannya.

Li Eng tertawa, lalu berkata, “Mengapa bingung? Aku dan Enci Hui Cu tentu saja tidur sepondok dengan dia! Hayo, Saudara Cui Bi, kita mengobrol di pondok yang satunya.” Tanpa ragu-ragu lagi Li Eng menggandeng tangan Cui Bi, ditariknya memasuki pondok kedua diikuti oleh Hui Cu yang tersenyum-senyum.

Kun Hong melongo, kemudian membentak, “Eng-ji, apa kau gila….??” Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Cui Bi tidak menjadi marah atau malu, malah tertawa-tawa dan merangkul Li Eng, juga Hui Cu lalu mendekat dan merangkul sehingga tiga orang itu, Cui Bi di tengah-tengah, dirangkul oleh dua orang gadis keponakannya, memasuki pondok sambil tertawa-tawa!

“Gila…mereka gila semua… atau aku yang gila….?” Kun Hong berkata seorang diri dengan mata tetap terbelalak.

Diam-diam Kong Bu memperhatikan pemuda Hoa-san-pai itu dan ia menjadi geli hatinya. Pemuda Hoa-san-pai ini benar-benar tidak berpura-pura dan memang tidak pernah mengira bahwa Cui Bi adalah seorang wanita. Ia tidak terlalu menyalahkannya karena dia sendiri juga tadinya tertipu oleh adik tirinya yang nakal itu. Agaknya dua orang gadis Hoa-san-pai itu, karena sama-sama wanita, begitu bertemu sudah dapat mengenal keadaan sesungguhnya dari Cui Bi.

“Saudara Kwa Kun Hong bukan mereka yang gila, juga kau tidak gila, hanya kau itu telah tertipu. Adik Cui Bi bukanlah seorang pria, melainkan seorang gadis, puteri tunggal Ketua Thai-san-pai.”

“Ohhh….” Kun Hong makin melongo, kemudian mukanya tiba-tiba berubah merah sekali karena ia teringat betapa tadi dalam pertemuan itu ia begitu girang dan, memegang kedua tangan “pemuda” itu begitu mesra. Kalau ia tahu ia seorang gadis! Kalau tahu mau apa? Ia pernah ditempiling, pernah dihina dimaki. Tapi, mengapa gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia? Mau membelanya? Ah, apa artinya semua ini?

Kong Bu tertawa dan menepuk-nepuk Kun Hong. “Tak usah heran, aku sendiri pun pernah tertipu olehnya. Sudahlah, kau kelihatan lelah sekali, kau mengasolah, malam ini aku mempunyai tugas penting, tak usah kau menunggu aku. Nanti akan ada anak murid Thai-san-pai yang mengantar hidangan untukmu. Sebelum Kun Hong sempat bicara, pemuda itu telah meninggalkannya, keluar dari pondok, Kun Hong tidak berani mencegah karena ia belum mengenal betul pemuda cucu Song-bun-kwi itu. Otaknya diputar, dan banyak hal menimbulkan keheranan dan kebingungannya. Banyak hal hendak ia tanyakan kepada pemuda itu, namun pemuda itu telah meninggalkannya dan betul-betul ia merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh itu.

Benar saja, menjelang malam, seorang anak murid Thai-san-pai yang gagah dengan sikap hormat sekali mengantarkan hidangan sederhana. Anak murid ini pendiam sekali dan penuh hormat sehingga Kun Hong merasa tidak enak bahwa sebagai seorang tamu ia banyak bertanya-tanya, apalagi mengenai diri putera Ketua Thai-san-pai. Ia makan seorang diri, lalu merebahkan diri di atas pembaringan kayu yang berada di dalam pondok. Mengapa Hui Cu atau Li Eng tidak muncul? Apakah mereka juga lelah? Ah, aku harus mencari mereka. Tidak enak sekali rasa hatinya. Kalau ia teringat akan pengalamannya dengan Cui Bi yang disangkanya seorang pria itu, ia merasa amat malu.

Bagaimana ia akan berani berhadapan dengan Paman Tan Beng San? Ke mana ia harus menaruh mukanya kalau nanti bertemu dengan Cui Bi? Malam itu terang bulan, akan tetapi banyak awan hitam di angkasa raya yang sebentar-sebentar menutupi bulan. Kun Kong keluar dari pondoknya. Memang pondok ini agak jauh dari pondok-pondok lain yang penuh tamu. Pondok-pondok lain itu tidak kelihatan dalam kegelapan malam, hanya sinar api penerangan yang berkelap-kelip nampak dari jauh. Siapa tahu kalau-kalau dua orang keponakannya itu berada di luar pondok mereka, pikirnya dan ia berjalan hati-hati menghampiri pondok yang hanya terpisah beberapa puluh meter itu dari pondoknya. Sunyi di pondok itu, malah api penerangannya juga sudah padam. Agaknya tiga orang itu sudah tidur. Kun Hong menghampiri hati-hati sekali dan ketika bulan menyinarkan cahayanya menembus awan tipis, hatinya girang melihat bayangan seorang gadis duduk di belakang pondok, di atas sebuah batu besar. Tak salah lagi, itulah Hui Cu, seorang diri melamun! Hui Cu duduk membelakanginya dan dengan hati-hati tapi cepat Kun Hong menghampirinya.

“Ssttt, Hui Cu, kau belum tidur?” bisiknya menghampiri.

Hui Cu diam saja, seakan-akan tidak mendengarnya.

“Cu-ji (Anak Cu), celaka sekali….” Kun Hong kini mendekat dan berdiri di belakang gadis itu. “Kita harus lekas-lekas pergi meninggalkan tempat ini! Ah, celaka, tak mungkin aku dapat menghadap Paman Tan Beng San setelah semua kejadian ini. Tak dapat aku berhadapan dengan… dia. Ah, siapa tahu, kiranya ia seorang gadis….”

Terdengar Hui Cu tertawa perlahan, ditahan-tahan, tubuhnya bergerak sedikit akan tetapi mukanya tidak kelihatan jelas karena bulan tertutup awan hitam,

“Hui Cu, kau malah mentertawakan aku? Kau tidak tahu, betapa memalukan dan tak patut kelakuanku terhadap dia. Aku maki dia pemuda pesolek, aku menyatakan benci, aku marah dan dia agaknya benci kepadaku, dia menampar pipiku, memaki aku pemuda sombong. Ah, kau tidak tahu, Hui Cu, aku tidak ada muka untuk bertemu dengannya. Lekas kau beritahukan Li Eng, bangunkan perlahan-lahan dan kita pergi meninggalkan tempat ini. Kalau kau dan Li Eng tidak mau, terpaksa aku sendiri akan pergi, aku tidak berani bertemu dengan dia dan orang tuanya.”

Hui Cu sudah turun dari batu dan berdiri di depannya. Melihat keponakannya ini diam saja, Kun Hong memegang kedua tangannya diguncang-guncang dan ia berkata penuh permintaan, “Hui Cu, jangan anggap hal ini sebagai main-main.

“Aku benar-benar malu, kenapa kau acuh tak acuh? Lekas masuk ke pondok dan beri tahu Li Eng, malam ini juga aku akan pergi.”

Perlahan-lahan awan hitam tertiup angin meninggalkan bulan sehingga perlahan-lahan sinar bulan menerangi tempat itu.

“Hui Cu, kenapa kau diam saja? Kenapa… aihhhh, kau ini siapa… ahhh…,” Kun Hong terbelalak dan mulutnya ternganga memandang wajah gadis yang disangkanya Hui Cu itu. Wajah yang seperti bulan purnama itu sendiri, gilang-gemilang dengan sepasang mata bening bersinar-sinar, hidungnya kecil mancung di atas sepasang bibir yang setengah tersenyum mengejek, yang manis sekali, yang pernah membuat ia kehilangan rasa bencinya… wajah seorang gadis cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, wajah… Cui Bi!

“Aduh, celaka… aduh… aku tolol… ah….” Kun Hong gagap-gugup akan tetapi lupa bahwa sejak tadi ia masih memegangi kedua tangan gadis itu!

“Hong-ko….” suara merdu yang sudah amat dikenalnya, terlalu dikenalnya, suara yang dahulu pun ketika gadis ini disangkanya pria, sering mendatangkan rasa nikmat dan nyaman di hatinya. “Hong-ko, kenalkah kau padaku?”

“Hemm, eh, tentu saja, kau… eh, kau Bi-laote (adik laki-laki Bi).”

Cui Bi tertawa, suara ketawanya perlahan, ditahan-tahan menyatakan bahwa ia merasa geli sekali. “Bi-laote….?” ia mengulang, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri tertimpa cahaya bulan keemasan. Bibirnya tersenyum lebar sehingga tampak gigi putih berkilau sebentar. “Eh… Oh… bagaimana aku ini….? Kau… Nona Tan…” Kemudian Kun Hong yang hendak mengangkat tangan memberi hormat baru sadar bahwa sejak tadi ia memegangi kedua tangan orang! “Maaf… maaf sebanyak-banyaknya….” ia cepat melepaskan pegangannya dan menjura sambil membungkuk-bungkuk, “maafkan aku, Nona.”

“Hong-ko, apa-apaan kau ini? mendadak sontak menyebut nona-nonaan segala? Kalau begitu lebih baik kau seterusnya menyebut aku laote (adik laki-laki)!” Suara Cui Bi terdengar merajuk dan manja. Juga sikap ini amat dikenal oleh Kun Hong dan suara inilah yang dahulu membuat ia memaki Cui Bi sebagai anak manja, anak pesolek!

“Maaf… habis, bagaimana….?”

“Kau lebih tua daripada aku. Kalau aku laki-laki, kau memanggil laote, kalau perempuan, masa kau tidak tahu Harus memanggil apa? Kau menyebut ayahku paman, bukankah aku ini adik perempuanmu adik misanmu?”

“Oh, ya… ya, baiklah Siauw-moi (Adik Perempuan Cilik).”

“He, aku sudah berusia tujuh belas kau masih menyebut siauw-moi? Apakah kau anggap aku ini masih bocah?”

“Bi-moi-moi….” Kun Hong membetulkan kesalahannya.

Cui Bi nampak puas, lalu tiba-tiba ia menyambar tangan Kun Hong, dipegangnya seperti tadi Kun Hong memegang tangannya, seperti dulu sebagai “Cui Bi pria” ia memegang tangan sahabatnya.

“Hong-ko, marahkah kau kepadaku? Aku sudah menipumu.”

“Tidak, tidak… kenapa mesti marah? Aku yang tolol.”

“Tidak senangkah hatimu mendapat kenyataan bahwa, sahabat baikmu itu ternyata adalah seorang wanita?”

“Tentu, senang… senang sekali, eh, aku….” Bingung Kun Hong teringat akan semua ucapannya tadi.

“Kau… apa? Kau datang ini hendak ke manakah? Hendak mencari Enci Hui Cu? Atau Li Eng?” Cui Bi melihat kebingungan pemuda itu sengaja menggoda.

“Tidak. Aku… aku tadi hendak… eh, mencari tempat buang air….”

Mendengar jawaban yang tak tersangka-sangka ini Cui Bi menahan gelak tawanya, membuat Kun Hong makin bingung. “Aiih, perutmu sakit, Hong-ko? Di sana itu, di belakang kelompok pohon kate itu, ada sebatang anak sungai, di sana kau bisa buang air. Hendak ke sanakah?”

“Ah, tidak… maksudku, eh, tidak jadi sakit Aku… aduh, Bi-moi, mengapa kau menggodaku? Bukankah kau sudah mendengar semua tadi? Aku malu, lebih-lebih sekarang aku malu sekali, Moi-moi….”

Cui Bi mempererat genggaman tangannya. “Hong-ko, mengapa malu? Akulah yang seharusnya malu kepadamu, karena aku yang banyak berbuat tak baik terhadapmu.”

“Tidak, tidak! Akulah yang bodoh, yang buta, bagaimana aku berani kurang ajar terhadap puteri Paman Tan Beng San?”

“Aku sudah pernah menampar pipimu. Hong-ko, kau sudah berjanji takkan melaporkan hal itu kepada ayahku, tapi aku masih merasa salah kepadamu. Kau boleh menampar aku sekarang sebagai pembalasan.”

“Wah, mana bisa? Malah aku akan girang kalau kau mau mengulang tamparanmu itu, untuk semua ucapanku yang kurang patut.”

Cui Bi melepaskan pegangannya, berkata lembut, “Hong-ko duduklah.”

Kun Hong dengan kikuk duduk di atas batu, gadis itu duduk didepannya. Mereka saling pandang di antara cahaya bulan yang kadang-kadang terang kadang-kadang gelap. Kun Hong merasa seakan-akan kerongkongannya tersumbat, hatinya berdebar tidak karuan dan ia tidak tahu harus berkata apa. Kikuk sekali rasanya setelah berhadapan dengan sahabat baiknya yang ternyata seorang gadis itu.

“Hong-ko, sore tadi kau menyatakan amat girang bertemu denganku, Apakah kau sekarang juga masih merasa girang?”

“Aku girang sekali.”

“Hong-ko, kau… sukakah kau kepadaku?”

Bukan main gadis ini, pikir Kun Hong. Pertanyaan yang seperti todongan pedang tajam di depan ulu hatinya. Gadis yang jujur dan terbuka hatinya. Ia menggigit bibir lalu menekan debaran jantungnya dan menjawab, suaranya bersungguh-sungguh,
“Bi-moi, aku suka kepadamu, aku suka sekali kepadamu. Entah mengapa, dahulu ketika kau menampar pipiku dan merampas pedangku, aku benci sekali kepadamu. Aku benci dan selalu mendongkol kepadamu, setelah itu aku terheran sendiri mengetahui bahwa kebencian dan kemarahanku kepadamu itu bukan karena pribadimu, melainkan karena aku merasa bahwa kau tidak suka kepadaku! Aku tak senang karena kau tidak suka kepadaku, begitu perkiraanku dahulu. Setelah kita saling jumpa kembali, dan kau… kelihatan suka kepadaku, tidak membenciku, malah membelaku, aku… ah, sejak itu lenyap semua kebencianku kepadamu, menjadi suka sekali. Ketika kau pergi, ah… memalukan sekali, aku merasa rindu, ingin bertemu, ingin berdekatan. Kuanggap kau sebagai sahabat yang luar biasa, entah mengapa, rasa sayang memenuhi hatiku. Setelah sekarang ternyata kau seorang wanita, ah… tak tahu aku, aku bingung, Moi-moi.”

Bulan bersembunyi di balik awan sehingga Kun Hong tidak melihat betapa mata gadis itu menjadi basah air mata, tapi mulut gadis itu tersenyum bahagia.

“Hong-ko, katakanlah terus terang, apakah kau sekarang, setelah melihat bahwa sahabatmu ini seorang wanita, masih sayang kepadaku?”

“Itu… itu… ah, mana aku berani begitu kurang ajar, Moi-moi? Mana aku berani menyatakan hal demikian kurang ajar? Kau puteri Paman Tan Beng San, kau berkepandaian tinggi, kau cantik jelita, sedangkan aku….”

“Kau seorang pemuda luar biasa, Hong-ko, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang seperti kau. Kau hebat, kau mengagumkan hatiku dan aku… aku amat suka kepadamu, Hong-ko Sayang…”

“Sayang… apakah, Moi-moi?”

“Hong-ko, benar-benarkah kau tidak mengerti ilmu silat? Enci Hui Cu dan Enci Li Eng bercerita banyak tentang kau, katanya kau mengerti banyak teori ilmu silat, tapi tidak pernah melatihnya. Betulkah?”

“Hemm, agaknya betul begitu.”

“Kalau begitu, mudah saja kau berlatih silat. Kau berbakat baik sekali, aku yakin, kalau kau sudah berlatih, aku sendiri pun takkan mampu melawanmu!” Cui Bi nampak gembira sekali.

“Sstttt….!” Tiba-tiba Kun Hong berdiri dan menoleh, Cui Bi juga menoleh dan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali, menghilang di dalam gelap.

“Ada orang….” kata Cui Bi, terheran-heran mengapa ia kalah dulu oleh Kun Hong melihat orang itu tadi. Kun Hong juga sadar bahwa tanpa terasa ia telah memperlihatkan kelihaian matanya, maka cepat-cepat ia berkata,

“Aku kebetulan menengok dan melihat bayangannya. Adik Cui Bi, lebih baik kita berpisah, biarlah besok masih banyak waktu bercakap-cakap. Tak baik orang melihat kita bicara berdua di sini.”

Cui Bi mengangguk. “Dan… Hong-ko, apakah kau masih bersikeras hendak pergi meninggalkan aku?”

“Tidak, tidak nanti!” kata Kun Hong.

“Selamanya?” desak Cui Bi. Makin berdebar hati Kun Hong, apalagi melihat gadis itu berdiri amat dekat. Tanpa serasa lagi ia memegang kedua tangan gadis itu, ditekannya erat-erat untuk beberapa detik sambil berkata,

“Selamanya tidak akan kutinggalkan kau….” Lalu dilepaskannya pegangan tangannya dan gadis itu berdiri memasuki pondoknya, meninggalkan suara keluhan panjang, setengah tertawa setengah menangis. Untuk beberapa menit Kun Hong berdiri mematung di tempat itu, lalu perlahan berjalan pulang ke pondoknya dengan wajah berseri-seri. Wajahnya berubah dan menjadi merah ketika ia memasuki pondok, ia melihat Kong Bu sudah berbaring di atas dipan sambil memandang kepadanya dengan tersenyum,

“Kau sudah pulang….?” tanyanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Kong Bu tersenyum lebar, “Sudah dari tadi. Aku menantimu, ke manakah kau pergi, Saudara Kun Hong?”

“Aku… aku pergi buang air ke anak sungai di sana….”

“Oh, begitukah?”

Kun Hong tidak mau banyak bicara lagi dan segera merebahkan diri di atas dipan yang lain, lalu pura-pura tidur. Padahal sampai jauh tengah malam ia tidak dapat tidur, wajah yang cantik itu terbayang-bayang terus di depan matanya. Lewat tengah malam barulah dapat tidur.

Pagi-pagi sekali Kun Hong terbangun karena mendengar suara orang di luar pondok. Ketika ia bangkit duduk, ia tidak melihat lagi Kong Bu, maka ia segera memburu keluar. Tersipu-sipu pemuda ini ketika melihat Cui Bi sudah berada di luar dengan pakaian pria. Ia tidak jadi keluar dan berhenti di belakang daun pintu. Ia mendengar Cui Bi berkata,

“Kalau kau tidak melayaninya dan mengalahkannya, ia akan selalu memandang rendah kepadamu, Bu-ko.”

“Aih, kau ini ada-ada saja. Bagaimana kalau terlihat oleh seorang tamu?”

“Tidak mungkin,” jawab Cui Bi, “aku yang akan membawa kalian ke tempat rahasia. Kau ikutlah.”

Kong Bu mengomel dan agaknya ragu-ragu, akan tetapi mereka lalu berjalan meninggalkan pondok. Kun Hong tertarik sekali, lalu diam-diam ia mengintai dan setelah dua orang itu pergi jauh, ia cepat menyelinap keluar dan mengikuti dari belakang. Udara amat dingin dan masih agak gelap, memudahkan ia mengikuti mereka itu. Dua orang itu berhenti sebentar di depan pondok ke dua di mana Li Eng dan Hui Cu telah menanti, kemudian empat orang muda itu berjalan cepat ke arah utara, menjauhi kelompok pondok para tamu. Kun Hong makin terheran-heran dan diam-diam ia terus mengikuti mereka. Ia melihat Cui Bi memimpin perjalanan, memasuki hutan. Heran betul ia melihat cara gadis itu membawa teman-temannya pergi. Pertama-tama masuk hutan baru lewat seratus meter itu membelok ke kanan dan… keluar lagi dari hutan, lalu masuk lagi dan keluar lagi dari sebelah kiri. Kun Hong amat cerdik. Ia tadi sudah curiga ketika Cui Bi bicara tentang tempat rahasia, maka diam-diam ia menaruh perhatian dan selalu mengikuti jejak mereka. Karena perhatiannya itu maka ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu selalu berbelok setelah melewati sembilan buah pohon besar. Setelah keluar masuk hutan sembilan kali, tibalah mereka di tempat terbuka, sebuah padang rumput yang luas. Cui Bi dan teman-temannya berhenti. Kun Hong juga berhenti tak jauh dari situ bersembunyi dalam segerombol pohon kembang, ia berjongkok dan mengintai.

Ia melihat Cui Bi membuat guratan diatas tanah, guratan yang merupakan garis kurung selebar sepuluh meter. Hebat gadis ini. Dengan jari telunjuk ia menggurat dan rumput di atas tanah seperti dicabuti, tampak nyata garis lingkaran itu seperti dipacul saja!
“Nah, kalian sudah berjanji kalau bertemu kembali akan mengadu kepandaian. Keduanya penasaran dan hal ini harus dilakukan untuk menentukan siapa di antara kalian yang lebih pandai. Aku tidak suka melihat kalian saling mendendam dan penasaran. Sekarang bertandinglah, lapangan luas tidak ada yang mengganggu. Siapa yang pedangnya jatuh terlempar atau badannya terdesak dari lingkaran ini dianggap kalah. Setuju?”
Tanpa menjawab Li Eng mengangguk dan mencabut pedangnya, dilintangkan di depan dada dan memandang tajam kepada Kong Bu. Pemuda ini mula-mula nampak ragu-ragu, lalu dengan sikap “apa boleh buat” dari menggeleng-geleng kepala serta menarik napas panjang, mencabut keluar pula pedangnya dan memasang kuda-kuda.
Kun Hong terheran-heran dan mendongkol. Mengapa Cui Bi seakan-akan hendak mengadu keponakannya itu dengan Kong Bu? Semua ini adalah gara-gara Cui Bi. Di dalam pondok, gadis ini menggoda Li Eng yang dikatakannya menyukai Kong Bu. Li Eng menyangkal, malah menyatakan ia akan menantang pemuda itu yang dijawab oleh Cui Bi dengan memanaskan hati katanya Li Eng takkan menang. Demikianlah, dengan perantaraan Cui Bi lalu diajukan tantangan pertandingan ini. Kun Hong tidak tahu akan kecerdikan Cui Bi yang bermata tajam itu. Gadis ini sudah dapat menduga bahwa kakak tirinya dan Li Eng ini saling mencinta, akan tetapi Keduanya berkeras kepala menyangkal. Maka jalan satu-satunya untuk “saling menemukan” mereka hanyalah memancing mereka bertanding!
Dua orang muda itu sudah mulai menggerakkan pedang masing-masing dan terjadilah pertandingan pedang yang bukan main hebat dan serunya. Bayangan keduanya lenyap ditelan sinar pedang masing-masing dan sebentar kemudian terdengar angin bersuitan diseling suara nyaring kalau pedang itu bertemu mengeluarkan suara berdenting disusul muncratnya bunga api.
Tadinya Kun Hong hendak melompat keluar untuk mencegah, akan tetapi maksud hatinya ini ia batalkan, ia melihat sesuatu yang aneh dalam pertandingan itu. Ia memasang mata dan memperhatikan. Tak salah lagi, dua orang muda yang tampaknya bertempur mati-matian itu sebetulnya saling mengalah dan tidak rnenyerang dengan sungguh-sungguh! Li Eng menang cepat, kalau mau mempergunakan kecepatannya, kiranya ia akan dapat melakukan serangan maut yang akan membahayakan keselamatan Kong Bu. Sebaliknya, dengan ilmu pedangnya yang ganas, yaitu Yang-sin Kiam-sut, pemuda ini sebetulnya menang setingkat. Dengan geli hatinya Kun Hong melihat betapa setiap kali Kong Bu melancarkan serangan ganas dan ujung pedangnya sudah mengancam lawan, tiba-tiba pedangnya itu menyeleweng ke samping, tidak melanjutkan serangan. Kalau hanya terjadi sekali dua kali saja hal ini kiranya tidak akan kentara, akan tetapi karena terlalu sering, jelas bahwa hal itu ia sengaja karena ia tidak mau melukai lawannya! Demikian pula di pihak Li Eng. Kecepatan pedangnya pada saat ditangkis lawan, demikian hebat sehingga kalau ia mau, menurut penglihatan Kun Hong yang tajam, pedang itu dapat dilanjutkan untuk terus menusuk lawan, namun kerap kali Li Eng hanya menarik pedang yang tertangkis, sama sekali tidak mau mencelakai lawan.
Dua ratus jurus telah lewat dan agaknya sikap mengalah itu diketahui juga oleh keduanya, buktinya muka mereka menjadi merah akan tetapi sinar mata mereka berseri. Ketika Kun Hong melirik ke arah Cui Bi, gadis ini pun tertawa-tawa, hanya Hui Cu yang tidak setinggi itu tingkatnya, memandang penuh kekuatiran dan tentu saja berdoa untuk kemenangan Li Eng!
Kong Bu mulai mundur teratur dan Li Eng dengan gembira mendesaknya. Memang maksud keduanya sama sekali tidak mau melukai lawan yang mereka “benci”, melainkan hendak mencari dengan mendesak lawan mundur dari lingkaran atau memukul jatuh pedangnya. Terdesaknya Kong Bu ini bukanlah pura-pura lagi, karena memang saking terus-menerus mengalah dan memang kalah dalam kegesitan, akhirnya Kong Bu yang terdesak. Hui Cu berseri mukanya akan tetapi Cui Bi mengerutkan kening. Ia maklum bahwa kakak tirinya sebetulnya tidak kalah, kalau sampai keluar dari lingkaran, bukankah akan memalukan dia juga? Ia mengepal tangan menggigit bibir dan pada saat itu Kong Bu sudah tinggal selangkah lagi keluar dari lingkaran. Li Eng gembira, mendesak dengan tusukan digetarkan yang mengancam leher terus ke pusar lawan. Kali ini mau tidak mau Kong Bu harus melompat keluar lingkaran! “Tranggg!” Kong Bu benar-benar keluar lingkaran, akan tetapi pedangnya secepat kilat menangkis dari atas ke bawah sambil mengerahkan tenaga sehingga pedang itu terlepas dari cekalan tangan Li Eng.
Kong Bu cepat mengambil pedang dan mengembalikan kepada Li Eng sambil berkata, “Aku menyerah kalah, aku keluar dari lingkaran. Hebat benar ilmu pedangmu, Nona.”
Merah wajah Li Eng namun wajahnya berseri. Ia menerima pedang dan menjura berkata, “Bukan, akulah yang kalah. Pedangku terpukul jatuh.”
Cui Bi bertepuk-tepuk tangan dan menari-nari. “Hi-hi-hi, bagus… bagus! Kalian sudah saling mengalah, hi-hi, bagus! Lenyaplah benci, muncullah perasaan suci!”
“Idihhh… kau… ceriwis….!” Li Eng melompat dan mencubit bibir Cui Bi, namun sekali mengelak serangan ini luput. Li Eng lalu lari meninggalkan tempat itu.
“Eng-moi, tunggu….!” Hui Cu yang kuatir kalau-kalau adiknya itu marah-marah lalu mengejar.
“Heeiii, kalian jangan pergi, nanti tersesat jalan. Tidak mudah jalan pulang!” Cui Bi berseru, akan tetapi dua orang gadis Hoa-san-pai itu tidak mempedulikan seruannya dan terus berlari, Li Eng lebih dulu, dikejar Hui Cu.
“Biarlah, anak-anak nakal itu tidak kapok kalau belum kebingungan dan tersesat di sini. Hemm, biar mereka melihat kelihaian jalan rahasia Thai-san-pai!” kata Cui Bi. “Jangan kuatir,” katanya kepada Kong Bu, “Nanti mereka akan kucari.” Setelah berkata demikian, Cui Bi menghampiri Kong Bu, menggandeng tangan pemuda itu diajak duduk dl bawah pohon yang besar, agak jauh dari tempat sembunyi Kun Hong. Pemuda ini sekarang hanya dapat memandang dari jauh akan tetapi tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ia hanya melihat mereka bercakap-cakap, kadang-kadang Cui Bi tertawa, kadang-kadang menggelengkan kepala dan kelihatan berduka. Apakah yang dipercakapkan oleh dua orang muda itu?
“Hi-hik Bu-koko, sekarang apakah kau mau menyangkal lagi? Jelas kau mengalah dan tidak tega melukai Enci Li Eng, itu hanya berarti bahwa kau sama sekali tidak membencinya, sebaliknya kau… mencintanya. Nah, coba kalau berani menyangkal sekarang!” kata Cui Bi sambil tertawa-tawa menggoda.
Kong Bu menarik napas panjang. “Sudahlah, aku mengaku. Memang dia itu amat menarik hatiku, aku… aku kagum kepadanya.”
“Katakanlah cinta, masa hanya kagum?” desak Cui Bi.
“Kau anak nakal! Ya, baiklah, aku cinta kepadanya. Akan tetapi, jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kaupun mencinta… kutu buku itu! Hayo, coba kalau kau berani menyangkal setelah pertemuan kalian malam tadi.”
Berubah merah wajah Cui Bi ketika dengan mata membelalak ia memandang kakak tirinya. “Heee….?? Jadi bayangan itu… kaukah itu?”
Tiba-tiba Cui Bi menutupi muka dengan kedua tangan dan terdengar ia menangis terisak-isak. Kong Bu kaget dan memegang tangan adik tirinya itu, “Eh, Bi-moi, kenapa kau menangis? Maafkan, aku tidak sengaja hendak menyakiti hatimu, maafkan godaanku tadi.”
Sambil menangis tersedu-sedu Cui Bi menggeleng-geleng kepala, “Tidak… kau tidak menggodaku… Bu-ko, memang aku… aku cinta kepadanya… tapi, ah, bagaimana takkan hancur hatiku karena aku dipaksa berjodoh dengan orang lain…?” Saking sedih dan hancur hatinya Cui Bi menjatuhkan diri, menubruk Kong Bu dan menangis di atas dada kakak tirinya itu. Ayah dan ibunya hendak memaksa dia berjodoh dengan lain orang, sekarang hanya ada kakak tirinya inilah yang menjadi satu-satunya orang yang kiranya dapat ia sambati, dapat ia mintai tolong.
“Tenanglah, Moi-moi, tenanglah… nanti didepan Ayah, aku pasti akan bilang untukmu….” Kong Bu dengan terharu mengusap-usap rambut kepala adiknya dan membiarkan gadis itu menangis dan menyembunyikan muka di atas dadanya.
Di tempat persembunyiannya, Kun Hong yang hanya dapat melihat adegan ini dari jauh tanpa dapat mendengar pembicaraan itu, seketika menjadi pucat dan seluruh tubuhnya gemetar, kepalanya terasa berputar matanya berkunang. Hampir ia tidak dapat mempercayai adegan yang dilihatnya. Dua orang itu, berpeluk-pelukan. Ah, jahat benar cucu Song-bun-kwi, sejahat kakeknya. Dan keji benar Cui Bi, setelah malam tadi demikian mesra sikapnya. Hemm, gadis keji ini hendak mempermainkannya rupanya. Hati Kun Hong sakit sekali. Belum pernah selama hidupnya ia merasa sakit hati seperti ini. Kedua matanya yang berapi-api meneteskan dua butir air mata. Kong Bu, kau keparat….! Sudah jelas bahwa kau berusaha menarik hati Li Eng, jelas dalam pertandingan tadi kalian saling mengalah. Malah Cui Bi mengucapkan kata-kata menyindir tentang perasaan Kong Bu dan Li Eng. Tapi sekarang… ah, kalian dua orang berhati binatang. Tak bermalu! Hampir Kun Hong tak kuat menahan hatinya, hampir ia melompat dan menerjang mereka dengan kata-kata pedas. Akan tetapi ia menahan hatinya ketika melihat dua orang itu bangkit berdiri, berjalan bergandengan tangan sampai dekat tempat ia bersembunyi.
“Bu-ko, biarlah sekarang kususul Enci Li Eng dan Enci Hui Cu. Akan kubawa kalian semua menghadap Ayah.”
Kong Bu hanya mengangguk dan Cui Bi lalu lari dari tempat itu, lenyap di antara pohon-pohon. Kun Hong yang sudah tak dapat menahan hatinya lagi, melompat keluar. Kong Bu memandang kaget,
“Eh, Saudara Kun Hong, kau di sini?”
Kekagetan Kong Bu bukan hanya karena munculnya Kun Hong yang tak disangka-sangkanya itu, akan tetapi terutama sekali melihat pemuda “kutu buku” ini beringas mukanya, matanya berapi-api dan memegang sebatang pedang yang sinarnya kemerahan. Bengis sekali kelihatannya pemuda yang biasanya sopan santun dan lemah-lembut ini, wajahnya tersinar cahaya matahari pagi yang mulai menerobos di antara celah-celah daun pohon. “Kong Bu, cabut pedangmu!” tiba-tiba Kun Hong berkata, suaranya menggeledek tidak seperti biasa. Kong Bu makin kaget dan heran.
“Eh, apa maksudmu, Saudara Kun Hong?” tanyanya bingung.
“Jangan berpura-pura. Aku sudah melihat semua perbuatanmu yang tak senonoh dengan… Nona Tan Cui Bi. Kau… kau manusia rendah! Kau memikat hati Li Eng dengan kepandaianmu, kau memperlihatkan sikap mengalah dalam pertandingan sehingga ia jatuh dan mengira bahwa kau cinta kepadanya. Kiranya kau hanya mempermainkannya, diam-diam kau main gila dengan Nona Cui Bi! Hemm, Kong Bu, aku seorang penyabar, akan tetapi kali ini kita harus mengadu nyawa! Bersiaplah!”
Melihat ini, melihat sikap menantang dari Kun Hong, melihat pula cara Kun Hong memegang pedang seperti orang memegang pisau dapur, tiba-tiba Kong Bu tak dapat menahan gelak tawanya yang bergema di sekitar tempat itu.
“Keparat, tak usah mentertawakan! Kalau memang jantan, cabut pedangmu!”
Makin panas hati Kun Hong, “Tak dapat aku membiarkan kau merusak hati Li Eng!”
“Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong. Hebat benar kau! Aku kagum melihat keberanianmu. Akan tetapi mengapa kau aku merusak hati Nona Li Eng? Katakanlah saja aku merusak hatimu, kau anggap aku merampas Cui Bi darimu! Ha, ha, apa kau kira aku tidak tahu akan pertemuanmu dengan Cui Bi malam tadi? Kau mencinta Cui Bi dan sekarang kau cemburu kepadaku.”
Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. “Hemm, apalagi kalau sudah tahu akan hal itu, berarti makin jahatnya hatimu dan rendahnya Bi-moi.”
“Tak boleh kau memaki Cui Bi!”
“Aku tidak memaki, kenyataan yang amat rendah membuktikan.”
“Eh, Kun Hong, kau makin menghina. Kau kira aku takut kepadamu?” Kong Bu mencabut pula pedangnya. “Mari, mari… kalau kau ingin main-main denganku, boleh!”
“Majulah, tak usah banyak cakap!” Kun Hong menantang.
Melihat betapa pemuda Hoa-san-pai itu memegang pedang dengan ujung pedang terseret, di atas tanah, Kong Bu makin geli dan ia menggertak,
“Awas pedang!” Cepat seperti kilat menyambar pedangnya menusuk ke arah dada Kun Hong. Akan tetapi secepat itu pula ia menarik kembali pedangnya ketika melihat betapa Kun Hong sama sekali tidak melakukan gerakan untuk menangkis maupun mengelak.
“Eh, benar-benarkah kau hendak mengadu pedang denganku?”
“Siapa mau main-main denganmu?” jawab Kun Hong.
“Kenapa kau tidak menangkis atau mengelak?”
“Hemmm, pedangmu belum menyentuh bajuku, kau sudah ribut-ribut? Hayo seranglah, kalau kau memang laki-laki!”
Kong Bu kembali menggerakkan pedangnya, kali ini membacok ke arah leher lawannya itu. Ketika pedangnya tinggal beberapa sentimeter lagi dari leher Kun Hong dan kali ini juga Kun Hong tidak menangkis maupun mengelak, Kong Bu terkejut sekali dan cepat merubah arah pedang sehingga membabat atas kepala Kun Hong. Kun Hong tersenyum. Tentu saja ia sudah siap sedia dan ia dapat mengikuti gerakan pedang itu dengan baik sekali sehingga tak perlu ia menangkis atau mengelak sebelum benar-benar ia terancam.
“Mengapa tidak jadi menyerang? Apakah kau takut?” ejeknya.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: