Rajawali Emas (Jilid ke-29)

Kong Bu benar-benar kagum sekali. Belum pernah ia menemui seorang yang begini besar keberaniannya, menanti datangnya pedang dengan mata tidak berkedip sedikit pun.

“Hebat! Kau benar-benar gagah berani, Saudara Kun Hong. Biarlah tak perlu aku menggodamu lebih lama lagi.”
Kong Bu menyimpan pedangnya. “Ketahuilah, kau yang gagah dan cerdik ini, kali ini kau seakan-akan buta karena cinta kasih mengeruhkan hati dan pikiranmu sehingga kau tidak melihat kenyataan bahwa apa yang kau lihat antara aku dan Cui Bi itu bukanlah hal yang perlu kau ributkan. Ketahuilah, dia dan aku adalah saudara tiri, kami sama-sama anak Ayah Tan Beng San, dia lahir dari Ibu Cia Li Cu dan aku dari Ibu Kwee Bi Goat. Kau tahu apa yang kami bicarakan tadi? Dia menangis karena cintanya kepadamu!”
Lemas seluruh sendi tulang di tubuh Kun Hong. Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya dan memegang lengan Kong Bu yang kuat, “Ah, Saudaraku, aku benar-benar buta! Aku layak kau maki, layak kau pukul. Hemm, orang macam aku ini mana ada harga untuk mencintanya?”
Kong Bu tertawa gembira. “Sudahlah, Saudara Kun Hong, tak perlu kau merendahkan diri. Salah mengerti ini sudah dapat dilenyapkan, bagus sekali. Tentang adikku Cui Bi, tak usah kau kuatir, dia betul-betul mencintamu. Hanya aku masih sangsi apakah cintamu kepadanya betul-betul sebesar perasaannya terhadapmu.”
“Saudara Kong Bu,” kata Kun Hong bernafsu. “Biarlah bumi dan langit menjadi saksi, dan dengarlah sumpahku bahwa aku mencinta Bi-moi sepenuh jiwaku, aku rela berkorban nyawa untuknya!”

“Bagus! Aku menjadi saksi!”

“Jangan mau menang sendiri, Saudara Kong Bu. Sikapmu terhadap keponakanku Li Eng juga tidak berterus terang. Dahulu kau mengalah dan membiarkan dirimu ditawan, lalu tadi kau sengaja berlaku mengalah dalam pertandingan. Apa artinya? Seorang laki-laki tidak akan ragu-ragu untuk menyatakan perasaannya secara jujur.”

Merah muka Kong Bu, akan tetapi sambil tersenyum ia mengangkat dada berkata, “Kau telah memberi contoh. Aku pun bersumpah bahwa aku betul-betul mencinta Nona Kui Li Eng dengan sepenuh jiwaku.”

Tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan tertawa, “Bagus, bagus… telah kudengar sumpah dua orang. Awas, aku menjadi saksi utama!” Muncullah Hui Cu dari balik sebatang pohon dan gadis ini dengan wajah berseri-seri berkata sambil menoleh ke belakang. “Adik Eng, Adik Cui Bi, keluarlah, mengapa malu-malu kucing bersembunyi saja?”

Dengan muka merah dan ditundukkan, dua orang gadis itu membiarkan mereka tertarik keluar oleh Hui Cu. Kun Hong dan Kong Bu kaget dan tentu saja menjadi malu sekali, wajah mereka merah sampai ke telinga. Kiranya tempat rahasia itu hebat sekali sehingga di tempat ini ada tiga orang gadis muncul tanpa mereka ketahui sama sekali! Tentu mereka bertiga tadi sudah melihat dan mendengar segala-galanya.

Terdengar Li Eng berkata malu-malu kepada Cui Bi sambil merangkul gadis berpakaian pria itu, “Adik Bi, maafkanlah aku….”

Apakah yang terjadi? Seperti telah kita ketahui, Cui Bi pergi menyusul Hui Cu dan Li Eng. Karena jalan rahasia itu memang sulit sekali, akhirnya Li Eng tersesat, malah Hui Cu yang mengejarnya juga tersasar sehingga dua orang gadis ini terpisah, makin lama makin jauh. Cui Bi yang mengenal jalan rahasia itu mengejar Li Eng dan… tanpa disadari oleh Li Eng sendiri, sebetulnya Li Eng telah mengambil jalan memutar kembali ke tempat semula. Karena inilah maka tadi ia sempat menyaksikan, seperti juga Kun Hong, adegan mesra antara Cui Bi dan Kong Bu.

Begitu melihat Cui Bi hendak mencari, Li Eng sengaja menunggu dan segera memaki setelah melihat Cui Bi muncul di depannya, “Bagus, kau perempuan tak tahu malu! Kau mendorong-dorongku kepada Kong Bu, kau sendiri menyatakan cintamu kepada Paman Hong, tapi apa yang kau lakukan tadi? Benar-benar tak tahu malu!” Tentu saja Cui Bi kaget sekali, akan tetapi ia segera dapat menduga apa yang menjadi sebabnya, maka ia tersenyum manis.

“Enci Li Eng, kemarahanmu ini malah menggirangkan hatiku, tanda bahwa rasa cemburu di hatimu ini membuktikan betapa besar cinta kasihmu kepada kakak tiriku Kong Bu.”

“Kakak tiri? Apa maksudmu?”

“Dia putera Ayah, dari Ibu Kwee Bi Goat, tentu saja kakak tiriku. Nah, apa kau masih cemburu?”

Bukan main menyesal dan malunya hati Li Eng maka ia hanya bengong saja dan tidak membantah ketika Cui Bi menarik tangannya untuk menyusul Hui Cu dan setelah bertemu, mereka bertiga kembali ke tempat tadi melalui jalan rahasia yang amat dekat sehingga mereka sempat menyaksikan keributan antara Kun Hong dan Kong Bu, sempat pula mendengar sumpah cinta kasih mereka. Kini tibalah giliran Hui Cu untuk menggoda mereka dan menyatakan kegembiraannya.

Di dalam pertemuan yang serba menggembirakan ini, Kun Hong agak gelisah melihat betapa wajah kekasihnya itu muram seperti matahari tertutup awan. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani untuk bertanya. Di lain pihak, Cui Bi yang masih amat sungkan dan likat, segera berkata,

“Sekarang tiba waktunya kita naik ke puncak menghadap Ayah. Hati-hati, jalan rahasia ini amat sulit, dan aku kuatir kalau-kalau perjalanan kita ada yang mengikuti. Kong Bu-koko, aku menjadi petunjuk jalan di depan dan biarlah kau jalan paling belakang sambil meneliti kalau-kalau ada musuh yang mengikuti perjalanan kita ke puncak.”

“Adik Bi, apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan?” tanya Kong Bu. “Agaknya selama  ini ada orang memata-matai kita. Malam itu….” Cui Bi melirik ke arah Kun Hong yang juga teringat akan bayangan semalam. “Apakah itu bayanganmu Bu-koko?” Kong Bu menggeleng kepala, wajahnya serius. “Aku hanya melihat dari jauh dari belakang pondok, mana bisa kau melihat bayanganku?” “Hemm, agaknya orang lain. Mari jangan membuang waktu.” kata Cui Bi yang segera memimpin perjalanan itu dengan hati-hati dan perlahan.

Jalan rahasia itu memang amat sukar. Kalau bukan orang Thai-san-pai, takkan mungkin dapat mencarinya. Jalan yang luas dihindari, akan tetapi gerombolan pohon yang amat lebat malah dimasuki, semua ini memakai perhitungan, dan sebagai tanda-tanda hanyalah pohon-pohon yang tumbuh malang melintang tidak teratur di sekitar puncak. Cui Bi membawa mereka menyusup di antara dua batang pohon yang berdampingan sehingga mereka hanya dapat bergerak maju dengan tubuh miring, menyeberangi tetumbuhan penuh duri dan akhirnya mereka terhalang oleh sebuah rawa yang lebarnya tidak kurang dari lima puluh meter. Di atas rawa ini dipasangi jembatan bambu melintang, terdiri dari dua batang bambu disambung-sambung tanpa pegangan. Jembatan itu kecil dan kalau dilalui orang tentu membutuhkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Pendeknya, orang biasa takkan mampu melewati jembatan yang cukup panjang ini.

Akan tetapi, para muda itu terheran-heran melihat Cui Bi tidak mengajak menyeberangi rawa melalui jembatan itu, melainkan langsung turun ke dalam rawa!

“Eh, ada jembatan mengapa menyeberang rawa yang airnya begitu kotor, dan siapa tahu kalau membuat kita tenggelam?” teriak Li Eng yang berjalan di belakang Cui Bi.

Cui Bi berhenti, menoleh dan tertawa. “Di antara seratus orang, tentu tak ada seorang pun yang tidak mengira bahwa perjalanan selanjutnya tentu melalui jembatan yang sukar ini. Akan tetapi ini hanya perangkap bagi musuh yang mencoba-coba memasuki jalan rahasia ini. Siapa yang menyeberang melalui bambu ini, akan tersesat jauh dan akan menghadapi bahaya yang hebat di sebelah sana. Sekarang ikutilah saja bekas jejak kakiku, jangan terpeleset!”

Dengan perlahan agar dapat diikuti dengan seksama oleh kawan-kawannya, Cui Bi lalu melangkahkan kaki ke dalam rawa dan… kiranya di dekat permukaan air rawa yang hitam itu dipasangi patok-patok tertentu yang cukup lebar untuk injakan kaki, Patok-patok ini dipasang sedemikian rupa sehingga hanya mereka yang hafal saja yang akan dapat mencarinya. Cui Bi melangkah, ke kanan sembilan langkah, memutar ke kiri sembilan langkah, lurus sembilan langkah lalu membelok lagi ke kanan dan kemudian melalui bawah jembatan bambu itu, sama sekali tidak menyeberang, melainkan menyusur sepanjang rawa itu memanjang ke kiri. Dilihat dari jauh, lima orang muda itu seakan-akan berjalan di atas air rawa! Sama sekali bukan seberang di sana jembatan itu berakhir yang dituju oleh Cui Bi, melainkan membelok dan lenyap di tikungan yang penuh dengan tetumbuhan liar.

Setelah melangkah sebanyak sembilan puluh sembilan langkah, sampailah mereka di seberang sana dan meloncat ke daratan yang indah, penuh kembang dan rumput hijau.

“Kita berhenti di sini, di sebelah sana ada terowongan yang menuju ke puncak. Biarlah aku sendiri yang akan, naik melaporkan kepada Ayah, biasanya Ayah kalau hendak menemui para murid tentu keluar dari terowongan. Tak sembarang orang diperbolehkan melalui terowongan. Nah, kalian tunggu sebentar, aku segera kembali bersama Ayah.” Lin Eng, Hui Cu, Kun Hong dan Kong Bu terpaksa menanti di situ sungguhpun Kong Bu dan Li Eng yang keras hati itu tidak sabar dan tidak puas mengapa diadakan peraturan seperti ini. Mereka tentu saja tidak tahu betapa dahulu Beng San mempunyai banyak sekali musuh-musuh lihai yang selalu berusaha menyerbu tempat tinggalnya untuk membalas dendam sehingga terpaksa pendekar ini untuk menjaga keselamatan keluarganya, membuat tempat yang penuh rahasia ini.

Baru saja Cui Bi lenyap di sebuah tikungan, tiba-tiba Kun Hong yang kebetulan menengok ke belakang berseru, “Ada orang datang!”

Semua orang menengok dan cepat meloncat berdiri dari tempat duduk mereka di atas tanah. Benar saja, sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit dan ringan sekali berloncatan dari patok ke patok, persis seperti yang mereka lakukan dengan hati-hati dan perlahan tadi.

“Wah, dia tadi tentu mengikuti kita dan diam-diam memperhatikan jalan rahasia menyeberangi rawa!” Kata Li Eng sambil siap untuk menghadapi lawan. Empat orang muda ini maklum bahwa yang datang adalah seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh hebat sekali.

Kong Bu melompat ke dekat rawa. “Dia lihai, biarlah aku menghadapinya!” dengan kata-kata demikian ia hendak mencegah kekasihnya itu berhadapan dengan lawan yang demikian lihainya. Orang yang berloncatan itu tiba-tiba terhenti agaknya ragu-ragu melihat bahwa orang-orang yang diikutinya itu ternyata berhenti dan telah melihatnya. Akan tetapi agaknya ia sudah merasa kepalang dan kini malah meloncat-loncat lagi dengan cekatan dan lebih cepat dari tadi. Kedua lengannya berkembang ke kanan kiri, pakaian di tubuhnya berkibar, dipandang dari jauh seperti seekor burung besar. Kun Hong hampir berseru kaget karena ia mengenal bahwa langkah-langkah dan gerakan itu mirip betul dengan langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun.

“Dia bukan musuh…!” Tiba-tiba Hui Cu berseru. Dia… dia Saudara Tiauw…!”

Memang benar dugaan gadis ini yang tak pernah dapat melupakan pemuda penolongnya itu sehingga dari jauh saja ia telah mengenalnya. Bayangan yang datang berlompatan seperti terbang itu bukan lain adalah Sin Lee! Akan tetapi Kong Bu yang tidak mengenal tidak terpengaruh oleh seruan ini. Ia membiarkan Sin Lee melakukan loncatan terakhir dan berada di darat, lalu ia memapaki dan berkata, suaranya ketus,

“Siapa kau dan apa maksudmu mengikuti kami?”

Sin Lee adalah seorang pemuda yang berwatak kasar, juga jujur dan tidak pernah merasa takut terhadap siapapun juga. Ia dapat merasai ketusnya suara pemuda tampan yang menyambutnya, maka ia menjawab sama ketusnya,

“Tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu sobat, perlu apa kau banyak bertanya?” Lalu ia menoleh ke arah Hui Cu, mengangkat tangan memberi hormat pula kepada Kun Hong sambil berkata,

“Maafkan aku, sengaja aku menyusul karena aku ingin sekali bertemu dengan Ketua Thai-san-pai.”

Di sini sudah tidak ada Cui Bi dan tiga orang muda Hoa-san-pai itu termasuk tamu, tentu saja mereka tidak berhak melarang orang lain hendak bertemu dengan Ketua Thai-san-pai. Apalagi Kun Hong dan dua orang keponakannya itu seperti orang kesima melihat betapa dua orang muda yang sama gagah sama tampan itu benar mirip satu kepada yang lain! Akan tetapi, Kong Bu yang merasa bahwa sebagai putera Ketua Thai-san-pai ia pun berhak melindungi kehormatan Thai-san-pai, segera membentak,

“Kau datang memata-matai kami. Kau mengikuti kami dengan diam-diam, perbuatanmu ini saja sudah cukup menyakinkan bahwa kau tentulah seorang jahat! Hayo mengaku kau siapa dan apa maksud kedatanganmu?”

“Saudara Kong Bu, dia bukan orang jahat!” serta merta Hui Cu membela, suaranya mengandung kemarahan. “Dialah yang menolong aku ketika kakekmu menculikku!” Karena panas mendengar penolongnya dimaki, Hui Cu tak dapat mengendalikan hatinya dan sengaja ia mencela kakek Kong Bu.

Hal ini tentu saja membuat Kong Bu makin tak senang kepada pendatang ini. Hemm, kiranya inilah orangnya yang oleh kakeknya dianggap lihai dan yang ternyata berhasil merampas Hui Cu dari tangan kakeknya. Ia memandang tajam, sinar matanya berapi-api.

Adapun Sin Lee ketika mendengar pembelaan Hui Cu, diam-diam merasa puas sekali, kemudian ia bertanya, suaranya mengandung ejekan, “Sobat, kau bersikap seolah-olah kau raja tempat ini. Apa hubunganmu dengan Ketua Thai-san-pai dan betulkah kata-kata Nona Hui Cu bahwa kau cucu iblis tua Song-bun-kwi?”

Kong Bu memandang dengan mata melotot, “Keparat, tutup mulutmu yang kotor! Song-bun-kwi memang kakekku Ketua Thai-san-pai ayahku, kau mau apa?”

“Bagus! Kiranya kau si keparat, keturunan para pembunuh ayahku! Hemm, setelah kita bertemu di tempat ini, jangan harap kau lepas dari tanganku!” Sin Lee mencabut pedangnya dan memandang penuh kebencian.

“Ho-ho, manusia sombong, bukan aku yang akan roboh, melainkan kau yang akan menggeletak tak bernyawa di depan kakiku! Hayo, kalau kau memang jantan katakan siapa namamu dan tentang kematian ayahmu, memang entah sudah berapa ratus manusia jahat tewas di tangan Ayah dan kakekku, agaknya termasuk ayahmu itulah!” Kong Bu mengejek dan mencabut pula pedangnya.

Sin Lee menggerakkan pedangnya menerjang sambil berkata, “Ibuku Kwa Hong dan ayahku terbunuh oleh kakekmu. Mampuslah kau!” terjangan ini hebat sekali, seperti seekor burung menyerbu. Akan tetapi Kong Bu waspada, pemuda ini sudah mengerti bahwa ia menghadapi lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Cepat ia mengeluarkan suara melengking dan pedangnya menangkis, tubuhnya menggeliat dan tiba-tiba ia sudah balas menyerang tidak kalah cepatnya. Namun, serangan yang biasanya sukar dihindarkan oleh lawan ini ternyata dengan mudah dielakkan oleh Sin Lee yang menggeser kakinya secara aneh. Segera dua orang muda ini bertanding dengan hebat sekali. Pedang di tangan mereka bersuitan, mengeluarkan angin yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin, mata pedang menyambar-nyambar mencari mangsa dan di antara mereka terdengar lengking-lengking saling sahut, suara yang menggetarkan jantung karena suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam.

Melihat “kekasihnya” bertempur, Li Eng sudah mencabut pedangnya, siap untuk maju membantu, akan tetapi Hui Cu menyentuh lengannya dan ketika Li-Eng menengok, ia terheran melihat bahwa Hui Cu menangis!            “Adik Eng…, jangan… jangan serang dia… dia itu penolongku….”

Li Eng bingung sekali. “Tapi…. tapi… pertandingan ini begini hebat, salah seorang    tentu akan celaka….” katanya penuh kekuatiran, tentu saja kuatir kalau-kalau Kong Bu yang terluka.

Sementara itu, Kun Hong amat tertarik, terheran-heran melihat gerakan pedang dan gerakan kaki yang dimainkan

Sin Lee. Itulah Kim-tiauw-kun, pikirnya. Kim-tiauw-kun yang tidak sempurna dan tidak lengkap namun dilengkapi dengan ilmu silat lain yang aneh. Melihat cara dua orang pemuda itu bertanding, Kun Hong maklum bahwa dengan pedangnya ia sanggup memisahkan mereka, sanggup melerai akan tetapi karena ia melihat bahwa keduanya setingkat dan seimbang kepandaiannya, ia tidak terburu-buru melerai. Ia ingin melihat lebih lama lagi ilmu silat yang dimainkan oleh Sin Lee.

“Kalian tak usah kuatir, mereka takkan celaka, keduanya sama tangguh, kita nonton saja,” katanya.

Li Eng mengerutkan kening, juga Hui Cu. Entah mengapa, ada sesuatu perasaan yang membuat mereka saling menjauhi! Memang keduanya terpisah oleh perasaan yang saling bertentangan, yang seorang memihak Kong Bu yang seorang lagi memihak Sin Lee. Biarpun mereka berdua merasa sungkan untuk membantu namun diam-diam mereka sudah mengambil keputusan, terutama Li Eng, bahwa kalau sampai orang yang dicintai terluka, tentu  dia akan menyerbu dan menuntut balas.

Pertandingan itu benar-benar seru sekali. Ketika di antara permainan pedangnya Sin Lee kelihatan memutar-mutar tangan kiri, diam-diam Kun Hong menjadi gelisah dan otomatis ia mengambil beberapa buah batu kecil siap untuk disambitkan ke arah pergelangan tangan kiri Sin Lee andaikata ia melihat Kong Bu terancam bahaya. Ia sudah mengenal kehebatan pukulan tangan kiri dengan tangan diputar-putar ini. Pernah ia melihat Sin Lee merobohkan Kim-tiauw Thian-li dengan pukulan macam ini yang mengakibatkan luka dalam yang hebat dan mengandung hawa beracun. Benar saja, setelah memutar-mutar tangan kiri beberapa kali, Sin Lee lalu mengeluarkan seruan dan mendorongkan tangan kiri itu ke depan. Kun Hong sudah menegang urat tangannya, akan tetapi ia menjadi lega ketika melihat Kong Bu mengeluarkan seruan keras sekali, tangan kirinya juga mendorong ke depan dengan jari tangan terbuka. Dua hawa pukulan yang sama hebatnya bertemu dan…  akibatnya keduanya terjengkang ke belakang!

“Ah… kau tidak apa-apa….?” Li Eng memburu Kong Bu sedangkan Hui Cu memburu Sin Lee, juga bertanya,

“Kau tidak apa-apa….?”

Dua orang pemuda itu menggeleng kepala, lalu dengan beringas menerjang maju lagi, bertanding lebih hebat daripada tadi. Li Eng dan Hui Cu sudah mencabut pedang, agaknya sudah gatal-gatal tangan mereka hendak membantu kekasih masing-masing, namun Kun Hong segera mendatangi mereka, menarik tangan mereka diajak duduk di bawah pohon, menjauhi pertempuran.

“Kalian bocah-bocah nakal, untuk apa mesti turut-turut? Yang seorang anak Bibi Bi Goat dan paman Beng San, yang seorang lagi anak Enci Kwa Hong dan Paman Beng San, mengapa turut-turut? Kulihat mereka sama pandai, sama kuat, nanti kalau memang ada yang terdesak, barulah kita maju untuk melerai sebelum ada yang terdesak, kalau kita memisah, tentu mereka penasaran dan tidak mau menerima. Biarlah saja, kita nonton di sini.”

Sin Lee yang selama ini belum pernah menemui tandingan berat kecuali ketika ia bergebrak sejurus saja dengan Kakek Song-bun-kwi, menjadi penasaran sekali. Ia memekik-mekik dan tubuhnya kadang-kadang meloncat tinggi, kadang-kadang menerjang dari kanan kiri seperti orang terhuyung-huyung beberapa kali mempergunakan gerakan seperti rajawali emas, menyerang dengan pedang tapi yang betul-betul merupakan serangan adalah pukulan tangan kiri, kadang-kadang menerjang hebat dengan pedang, pukulan tangan kiri dan tendangan bertubi-tubi dengan kedua kakinya! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Namun Kong Bu benar-benar kuat sekali penjagaannya. Juga cucu Song-bun-kwi ini merasa penasaran sampai mukanya menjadi merah, matanya mendelik marah. Selamanya, kecuali ketika bertanding melawan Li Eng, belum pernah ia bertemu tanding sehebat pemuda ini. Kadang-kadang ia dibikin bingung oleh gerakan-gerakan yang aneh dan ajaib, namun berkat gemblengan kakeknya yang amat hati-hati mengajar cucunya, Kong Bu dapat menangkis semua serangan lawan, bahkan mampu membalas tak kalah hebatnya. Ia malah mengeluarkan Yang-sin Kiam-sut yang berhawa panas, dan setelah ia mainkan ilmu pedang ini benar saja ia mampu mendesak lawan.

Namun Sin Lee dengan langkah ajaib yang ia warisi dari ibunya, dapat menghindarkan kurungan-kurungan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ini, sehingga biarpun ia terdesak oleh ilmu pedang aneh ini, namun belum pernah pedang lawan dapat menyentuh ujung bajunya.

Sudah empat ratus jurus lebih dua orang muda itu bertanding seperti dua ekor naga atau dua ekor singa. Kun Hong sudah mulai meragu dan sudah timbul niat dihatinya untuk turun tangan melerai. Kalau ia turun tangan, tentu saja berarti ia membuka rahasia sendiri, karena kalau bukan seorang yang memiiiki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat mendekati dua orang muda yang sedang bertanding itu, apa pula memisah.

Pada saat Kun Hong meragu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang. Kun Hong melihat bahwa orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, memelihara jengot pendek, pakaiannya sederhana dan tubuhnya sedang, matanya berkilat-kilat seperti mata harimau, di punggungnya tergantung pedang. Bayangan orang ini langsung menyerbu ke dalam gelanggang pertandingan itu, gerakannya gesit dan luar biasa sekali sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata. Akan tetapi tahu-tahu dua orang yang bertanding tadi, seperti terdorong oleh angin yang mengandung kekuatan tak terlawan, keduanya terpental kebelakang, terhuyung-huyung mundur masing-masing lebih dari tujuh langkah! Beberapa detik kemudian muncullah seorang wanita cantik, usianya juga hampir empat puluh, dandanannya sederhana pula, ringkas dan rambutnya yang hitam itu digelung ke atas, sebatang pedang menempel pula di punggung. Biarpun sudah setengah tua wanita ini masih tangkas dan cantik, sepasang pipinya masih segar Kemerahan dan gerakannya tangkas biarpun melihat perutnya yang agak besar itu mudah diketahui bahwa ia sedang mengandung muda. Di belakang wanita ini berlari-lari Cui Bi yang kini berpakaian sebagai seorang gadis cantik sehingga untuk sejenak Kun Hong memandang dengan muka merah dan mata melotot sukar dikejapkan!

Sudah diduga bahwa laki-laki yang memisah pertandingan itu bukan lain adalah Si Raja Pedang Tan Beng San sendiri, sedangkan wanita cantik yang mengandung itu adalah Cia Li Cu. Setelah berhasil memisah dua orang muda yang bertanding hebat itu, Beng San berdiri memandang dengan penuh kekaguman dari keheranan. Ia bingung juga karena menurut puterinya, Cui Bi, di sini ia akan bertemu dengan puteranya, putera Bi Goat yang bernama Kong Bu. Tidak tahunya sekarang ada dua orang pemuda yang bertanding demikian hebatnya, sama-sama muda, sama-sama gagah dan yang aneh, ia seakan-akan sudah mengenal wajah keduanya!

Cui Bi serta-merta menghampiri Kong Bu dan menarik tangan kakak tirinya ini, dibawa mendekat ayahnya. “Bu-ko, inilah Ayah. Ayah, inilah Kakak Kong Bu!”

Keduanya berdiri saiing pandang, seperti terpesona dan beberapa detik kemudian, menitiklah dua air mata dari mata Beng San. Ia seakan-akan melihat Bi Goat dalam diri Kong Bu, mulut itu, mata itu….

“Ayah….” Kong Bu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng San.

“Anakku… kau anakku….!” Beng San lalu memeluk pundaknya, mendekap kepala puteranya itu seperti ia mendekap kepala Bi Goat, isteri yang amat dikasihinya dahulu, “Terima kasih, Tuhan. Kau telah mempertemukan kami dalam keadaan begini….” Memang selama ini Beng San selalu berkuatir kalau-kalau anak-anaknya dari Bi Goat dan Kwa Hong akan dididik orang untuk membenci dan memusuhinya.

“Ayah, terus terang saja, memang tadinya anak mengandung pikiran yang tidak baik terhadap  Ayah, syukur anak bertemu dengan Adik Cui Bi….” kata Kong Bu yang jujur. Berseri wajah Beng San. “Cui Bi anak baik!” Ia berdiri dan Li Cu lalu mendekati Kong Bu, memandang dengan wajah berseri. “Kong Bu-koko, ini ibuku,” kata Cui Bi memperkenalkan

Kong Bu memandang sejenak, melihat wajah   cantik berseri-seri, lalu ia pun menjatuhkan diri berlutut. “Anak Kong Bu menghaturkan hormat.” Sepasang mata yang bening itu menjadi basah, suaranya agak serak karena terharu ketika wanita ini merangkul Kong Bu sambil berkata, “Kau anakku! Belasan tahun aku menanti-nanti datangnya saat ini. Ayahmu banyak menderita karena memikirkan kau, Anak,” Diam-diam Kong Bu terharu sekali. Sama sekali tak pernah ia membayangkan bahwa ibu tirinya adalah seorang wanita yang selain cantik jelita dan gagah, juga demikian baik hati dan mau menerimanya sebagai anak dengan tulus ikhlas. Hal ini tak dapat disangkal lagi, tak mungkin sikap seperti ini dibuat-buat dan diam-diam ia makin bersyukur bahwa ia telah percaya akan segala omongan adik tirinya, Cui Bi. Dalam kegirangan dan keharuannya, Kong Bu teringat kepada lawannya, maka ia segera berkata kepada ayahnya, “Ayah, dia adalah anak… siluman betina Kwa Hong yang merusak hidup mendiang ibuku! Harap Ayah jangan takut-takut, biar kubinasakan dia!”

“Hemmm, Kong Bu bocah sombong, kau hendak mengandalkan teman banyak untuk menjual lagak? Kau kira aku takut? Boleh maju mengeroyok, aku Sin Lee takkan mundur setapak!”

Sementara itu, ketika Beng San dan Li Cu mendengar kata-kata Kong Bu tadi, suami isteri ini berdiri kesima dan mereka memandang kepada Sin Lee seperti patung. Anehnya, wajah Beng San pucat sekali dan air mata makin deras mengalir dari sepasang mata Li Cu.

“Thian Yang Maha Adil!” Beng San akhirnya mengeluh. “Sudah terasa di hatiku tadi, aku… aku seperti mengenali wajahnya….” Ia melangkah mendekati Sin Lee yang memandang dengan mata tajam curiga. “Kau… kau anak Hong Hong? Kau… kau juga anakku… anakku….!” Dengan kedua lengan dikembangkan, Beng San hendak memeluk Sin Lee.

Pucat seketika wajah Sin Lee dan ia cepat menghindarkan diri. “Bohong! Aku bukan anakmu! Bukankah kau yang bernama Tan Beng San?”

Berseri wajah Raja Pedang ini, girang bahwa puteranya, keturunan Kwa Hong, ternyata mengenal namanya. Dengan penuh gairah ia menjawab, “Betul, anakku, betul… akulah Tan Beng San!”

Muka Sin Lee mengeras. “Bagus, memang kedatanganku ini hendak bertemu dengan Tap Beng San Ketua Thai-san-pai. Menurut ibuku, kaulah seorang di antara mereka yang menjadi sebab kematian ayahku dan sebab kesengsaraan hidup ibuku. Tan Beng San, kau harus ikut dengan aku ke Lu-liang-san untuk menghadap Ibu dan menerima hukuman yang akan diputuskan oleh Ibu sendiri!”

Semua kaget mendengar ini, kecuali Beng San yang mendengarnya dengan senyum duka.

“Kanda Sin Lee….!” Tiba-tiba Hui Cu berseru dan mendekati pemuda ini, dalam sedih dan bingungnya nona ini sampai lupa diri dalam panggilannya yang demikian penuh perasaan dan mesra. “Jangan … jangan kau memusuhi Paman Tan Beng San… ah, mengapa begini….?” Gadis itu lalu menangis terisak-isak.

Sin Lee mengerutkan kening. Kekerasaan batinya tertusuk dan kelemahannya tersinggung. Namun ia mengeraskan perasaan, menyentuh tangan Hui Cu yang diulurkan, hanya sedetik saja tangan mereka bersentuhan, dan pemuda ini berkata, suaranya halus namun penuh ketegasan,

“Dinda Hui Cu… menjauhlah kau… urusan ini tak dapat dirubah lagi. Ini kehendak Ibu dan aku harus berbakti kepada Ibu, biar untuk itu aku harus berkorban nyawa sekalipun. Ibu selamanya hidup menderita, ditinggal Ayah dan dihina banyak orang, kalau aku sebagai putera tunggalnya tidak berbakti kepadanya, habis apa balasku terhadap Ibu yang melahirkan aku? Dinda, jangan kau turut-turut, jangan beratkan hatiku, mundurlah….”

“Kalau begitu. kau memang patut mampus!” Tiba-tiba Kong Bu membentak dan pemuda ini mengirim pukulan keras sekali. Sin Lee mendengus mengangkat tangan menangkis. “Dukk!” Dua lengan tangan yang sama kuatnya bertemu, membuat keduanya terpental ke belakang tiga langkah. Kong Bu masih hendak menyerang lagi namun Beng San segera berseru,

“Kong Bu, tahan! Jangan kau serang dia! Sin Lee, kau adalah anakku, kau mau mengaku atau tidak, kau adalah anakku!” Beng San berseru dengan suara parau. Kong Bu terpaksa melompat mundur dengan gemas, akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak ayahnya. Juga Cui Bi yang sudah tahu akan semua hal ini karena pernah ia, mendengar dari ibunya tentang Kwa Hong, kini mendekati Kong Bu dan memegang tangannya, memberi isyarat agar supaya kakak tirinya ini tidak ikut campur.

Melihat betapa suaminya meratap-ratap dengan hati hancur sementara Sin Lee berdiri tegak dan tegap, sikapnya angkuh membayangkan sikap Kwa Hong dahulu, Li Cu dapat merasakan betapa hancurnya hati. suaminya itu, betapa suaminya sekarang seperti ditampar mukanya, seperti dibuka matanya akan akibat dari perbuatannya yang lalu. Li Cu adalah seorang bijaksana, seorang yang berpandangan luas dan memang pada dasarnya berbudi mulia. Ia tidak hanya berkasihan kepada suaminya yang tercinta, akan tetapi juga kasihan kepada Sin Lee yang tidak berdosa apa-apa akan tetapi seakan-akan sekarang memikul akibat dari dosa yang dilakukan ayah bundanya.

“Aku tidak percaya kau ayahku!” Sin Lee membentak. “Ayah sudah mati dan kau adalah seorang di antara mereka yang menyebabkan kematiannya. Aku harus percaya kepada ibuku seorang dan kau mau tidak mau harus ikut aku menghadap ibuku!”

Li Cu bergerak ke depan dan menghadapi Sin Lee. Ia menahan-nahan keluarnya air matanya. Memang harus dikasihani wanita ini. Kalau ada wanita yang merasa perih dan tertusuk hatinya menghadapi semua peristiwa ini dialah orangnya. Pada saat yang sama, ia harus menyaksikan pertemuan antara suami dan dua orang anak yang lahir dari dua orang isteri suaminya yang lain. Akan tetapi dasar ia berwatak baik, ia tidak sakit hati malah merasa kasihan sekali, baik kepada suaminya maupun kepada anak-anaknya itu.

“Sin Lee, aku adalah Cia Li Cu, isteri Tan Beng San. Akulah saksi utama bahwa kau adalah benar-benar anak suamiku ini, kau anak Tan Beng San dan Kwa Hong, jangan kau melawan ayahmu sendiri, Nak. Kau anak suamiku, juga anakku, biarpun anak tiri kuanggap kau anakku sendiri. Majulah, berilah hormat kepada ayahmu, Sin Lee, seperti yang kau lihat tadi dilakukan oleh Kong Bu, juga anak kami lahir dari Kwee Bi Goat. Berdosa melawan orang tua sendiri, Sin Lee.”

Pemuda itu memandang dengan mata terbelalak tajam. “Hanya Ibu yang kupercaya! Ibu menyatakan bahwa Tan Beng San adalah musuh Ibu, yang harus kuseret ke depan Ibu di Lu-liang-san. Malah Ibu bepesan, wanita yang bernama Cia Li Cu adalah musuh besarnya dan harus kubunuh.”

Terdengar jerit kemarahan dan Cui Bi sudah melompat maju menerjang dengan pedang terhunus.

“Traangggg!” Pedang gadis ini terangkis oleh pedang Sin Lee, begitu keras pertemuan senjata ini sampai keduanya mundur tiga langkah, saling pandang dengan mata berapi. Dengan pedangnya Cui Bi menuding ke arah muka Sin Lee sambil berseru marah,

“Keparat kau! Sombong dan jahat, seperti orang yang menjadi ibumu! Ketahuilah, ibumu itulah yang jahat, seperti iblis betina. Dunia kang-ouw tahu belaka akan hal ini. Ibunya iblis, anaknya pun setan!”

“Cui Bi… diam kau….!” Li Cu membentak dan menarik tangan anaknya.

“Memang betul ucapan Cui Bi!” Tiba-tiba Li Eng berteriak dan gadis ini pun sudah mencabut pedang. “Siluman betina Kwa Hong orang terjahat di dunia, anaknya pun bukan orang baik! Aku masih ada perhitungan dengan siluman Kwa Hong yang belum kutagih!” Seperti juga Cui Bi tadi, Li Eng saking marah melihat anak musuh besarnya, menerjang dengan pedang diputar. Hebat pula serangan ini, sinar pedang sampai menyerupai payung lebar mengurung diri Sin Lee. Kembali Sin Lee menggerakkan pedangnya menangkis dan dua orang muda itu terpental ke belakang.

“Adik Li Eng, jangan….!” Hui Cu mengejar sambil terisak-isak dan menarik tangan Li Eng mundur. “Janganlah… kau jangan serang dia….” bisik Hui Cu dengan muka pucat dan pipi basah air mata.

Menghadapi Kong Bu, Cui Bi, dan Li Eng yang memandang kepadanya seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat itu,

Sin Lee tersenyum mengejek, “Hemmm, ada kabar akan didirikannya Thai-san-pai, yang katanya diketuai seorang ahli pedang yang berkepandaian tinggi. Kiranya hanya tukang keroyok. Hayo Tan Beng San, kalau memang kau tidak suka kuseret ke Lu-liang-san, terpaksa aku menggunakan kekerasan. Ataukah kau hendak menggunakan anak-anakmu untuk mengeroyok? Majulah kalian, siapa takut kepadamu?”

“Jahanam jangan sombong kau!” Kong Bu yang berdarah panas itu tak dapat menguasai hatinya lagi, segera ia menerjang dengan pedang di tangannya. Gerakannya ini otomatis disusul oleh Cui Bi dan Li Eng, sehingga sekaligus Sin lee menghadapi serangan tiga orang muda itu! Tingkatnya adalah tak beda jauh dengan seorang di antara mereka, malah dibandingkan Cui Bi, kiranya sukarlah ia mengatasi gadis ini. Akan tetapi Sin Lee memiliki keberanian yang tak kenal batas dan ketabahan hatinya membuat ia nekat, pedangnya diputar dan segera terdengar suara trang-tring-trang-tring disusul muncratnya bunga api.

Li Cu dan Beng San berteriak-teriak melarang, juga Hui Cu berteriak-teriak memanggil nama Li Eng. Hanya Kun Hong yang berdiri seperti patung, tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah mulai mengerti akan duduknya perkara, dan ia benar-benar merasa bingung menarik napas panjang dan berkata seorang diri,

“Hukum karma… orang tua yang menanam, anak-anak yang memetik buahnya!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang didahului oleh lengking tinggi, sinar pedang menderu dan bunyi cambuk berdetar-detar di udara membuat tiga orang muda yang mengeroyok Sin Lee kaget dan cepat meloncat mundur sambil melindungi tubuh dengan pedang masing-masing karena entah dari mana datangnya, ujung cambuk yang ada anak panahnya menyerang bagian-bagian berbahaya tubuh mereka.

“Hi-hi-hi, Beng San pengecut! Melepas anjing-anjing cilik untuk mengeroyok Sin Lee, anakku Sin Lee, jangan takut ibumu datang!”

Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik bermata liar, memegang cambuk   yang berekor lima batang anak panah hijau. Kwa Hong, wanita yang selama belasan tahun menyembunyikan diri itu sekarang muncul tiba-tiba di tempat itu dengan sinar mata penuh membayangkan nafsu membalas dendam, sepasang mata yang masih bening akan tetapi amat liar dan ganas!

“Hong-moi…!” Beng San berseru akan tetapi suaranya terhenti karena lehernya serasa tercekik. Ia sudah melangkah maju dua tindak lalu berdiri seperti patung, sinar matanya membayangkan kedukaan hebat.

“Ha-ha-ha, Beng San, masih merdu suaramu memanggil aku, Hong-moi… alangkah merdunya. Ah, Beng San, kau masih pandai merayu, hik-hik!”

“Hong-moi, apakah kau tidak bisa menyudahi saja urusan lama? Lihat, anak kita sudah begitu besar, Hong-moi, demi Tuhan, janganlah kau bawa anak kita terseret-seret ke dalam urusan kita….” kata pula Beng San dengah suara menggetar.

Kembali Kwa Hong tertawa. “Beng San, tidak ingatkah kau betapa dahulu kau selalu menyakiti hatiku, menolakku dan membiarkan aku hidup merana? Membiarkan aku berubah menjadi iblis? Hi-hi-hik, sejak kecil kupelihara, kugembleng agar setelah besar dapat membalaskan sakit hatiku terhadapmu, sekaranglah tiba saatnya, Sin Lee, anakku, inilah orangnya yang sudah merusak hidup ibumu. Kau turun tanganlah, bunuh dia, jangan takut ada ibumu di sini!”

Tangan Sin Lee yang memegang pedang menegang, menggetar, akan tetapi bibirnya bertanya, lirih, “Ibu… Benarkah dia itu ayahku?”

“Tak peduli dia itu apamu, dia seorang yang jahat melebihi binatang, patut kau binasakan. Dia menyia-nyiakan kau. Dia mahluk jahat, perusak hati wanita. Bunuh dia!”

Tiba-tiba Li Eng yang sejak tadi memandang marah kepada Kwa Hong, menerjang maju menggerakkan pedangnya mengancam Kwa Hong, “Kwa Hong, kau siluman betina jahat, dengarlah! Aku Kui Li Eng dari Hoa-san-pai! Ingatkah kau betapa kau mengusir ayah ibuku memasuki Im-kan-kok, membiarkan mereka mati tidak hidup pun tidak? Sekarang kau mengacau lagi di Thai-san, ahhh… dosamu bertumpuk-tumpuk, hari ini aku membalaskan sakit hati orang tuaku!” Pedang gadis ini menyerang seperti kilat cepatnya sehingga Kwa Hong menjadi kaget juga dan cepat mengelak. Untuk sejenak wanita ini tercengang, dan hanya mengelak ke sana ke mari atas desakan Li Eng.

“Kau… kau… anak Thio Bwee dan Kui Lok? Kau lahir di Im-kan-kok? He-he, lucu sekali… kau berani melawan aku?” Mulailah ia menangkis dan balas menyerang.

Sementara itu, Sin Lee sudah memandang kepada Beng San dengan mata mendelik, kemudian melihat ibunya sudah bertempur, ia melempar semua keraguan menganggap bahwa dia dan ibunya di tempat musuh maka cepat ia ke arah dada Beng San sambil berseru,

“Kau musuh ibuku, harus kubunuh!”

Beng San mengeluarkan keluhan panjang. Peristiwa yang terjadi di depan matanya ini membuat seluruh tubuhnya lemas, matanya berkunang dan hatinya rusak, maka serangan Sin Lee puteranya sendiri itu, tak dihiraukan.

“Trangggg!” Pedang Sin Lee terbentur lain pedang yang digerakkan secepat kilat. Cui Bi sudah menangkis pedang itu dengan mata berapi-api. “Keparat, jangan ganggu Ayahl” Pedangnya terus menyerang dan di lain detik Sin Lee sudah bertanding hebat melawan Cui Bi.

Tadinya Kong Bu hanya menonton saja. Biarpun munculnya Kwa Hong mendatangkan rasa panas di hatinya karena teringat bahwa wanita inilah yang menyebabkan ibunya mati ngenes, akan tetapi karena Kwa Hong sedang berhadapan dengan ayahnya, ia tidak berani mencampuri dan menanti saat baik. Sekarang saat itu tiba, yaitu setelah Kwa Hong bertempur melawan Li Eng, kekasihnya. Tentu saja ia tidak bisa tinggal diam, apalagi karena maklum bahwa wanita itu lihai sekali dan Li Eng bisa berbahaya kalau melawannya seorang diri saja.

“Kwa Hong wanita busuk, ibuku Kwee Bi Goat meninggal dunia karena merana akibat kejahatanmu. Lihat pedangku menamatkan riwayatmu!” bentaknya sambil menerjang. Tidak heran hati Kwa Hong mendengar ini karena memang ia sudah tahu akan pemuda ini. Sudah lama juga ia mengikuti puteranya sehingga ia tadi mendengar bahwa pemuda gagah ini adalah putera Kwee Bi Goat. Tanpa berkata apa-apa ia menangkis dan menghadapi Kong Bu dan Li Eng dengan gerakan aneh dari pedang, dan cambuknya.

Beng San susah sekali hatinya melihat pertempuran-pertempuran itu. Beberapa kali Li Cu hendak mencabut pedang dan menerjang maju, akan tetapi melihat betapa suaminya menjadi begitu sedih, ia tidak tega. Li Cu dapat menyelami sepenuhnya kesedihan hati suaminya. Siapa takkan sedih melihat kedatangan seorang putera yang datang-datang menjadi musuh? Kun Hong yang bingung juga melihat Hui Cu dengan muka pucat berdiri memandang Sin Lee, merasa bahwa enci tirinya itu memang keterlaluan. Kalau ada urusan lama, mengapa diteruskan sampai sekarang, malah seorang anak disuruh melawan ayahnya sendiri. Tak terasa lagi kakinya melangkah mendekati pertempuran, langsung ia mendekati Kwa Hong dan berkata, suaranya lantang,

“Enci Kwa Hong, kalau Ayah melihat kelakuanmu hari ini, tentu akan marah sekali!”

Kwa Hong kaget dan melirik heran. Biarpun dikeroyok dua oleh Kong Bu dan Li Eng, ia masih sempat memperhatikan pemuda tampan yang aneh, yang berani menegurnya dan memanggil enci ini.

“Bocah, kau siapa?”

“Aku adalah adik tirimu, ayahku Kwa Tin Siong ibuku Liem Sian Hwa! Kelakuanmu hari ini tidak patut. Seharusnya kau mempertemukan anakmu dengan Tan Beng San Tai-hiap sebagai anak dan ayah dengan mengubur persoalan-persoalan lama.”

“Keparat, tutup mulut kau!” Sebuah anak panah hijau di ujung cambuk menyambar pundak Kun Hong. Akan tetapi anehnya, anak panah itu tidak mengenai sasaran biarpun kelihatan sudah jitu tadi. Kwa Hong terkejut, apalagi ketika melirik ke arah gerak kaki Kun Hong yang tidak karuan itu.

“Siapa namamu?”

“Kwa Kun Hong. Enci, kau turutlah permintaanku….” kata Kun Hong girang.

“Kun Hong, kau adikku, seharusnya kau membantuku. Tan Beng San jahat, dia harus membayar hutangnya.” Terpaksa Kwa Hong memutar cepat cambuknya untuk mendesak Li Eng dan Kong Bu karena selagi ia bercakap-cakap, dua orang muda itu mendapatkan kesempatan untuk menekannya.

“Tidak bisa, Enci Hong. Kau yang tidak patut….”

“Setan, mampuslah!” kini dua batang panah menyambar, satu ke ulu hati satu lagi ke arah kepala Kun Hong. Serangan ini hebat sekali dan memang amat keji hati Kwa Hong, menyerang adik tirinya sendiri secara mendadak seperti itu. Akan tetapi kembali ia melengak karena dua batang anak panahnya itu tidak mengenai sasaran sedangkan Kun Hong hanya terhuyung-huyung saja.

Makin kuatir hati Kwa Hong. Baru orang-orang muda ini saja sudah begini hebat. Kalau sampai Beng San dan Li Cu turun tangan, jangan harap ia akan dapat membalas dendam, malah-malah sangat boleh jadi ia dan puteranya akan tewas di tempat itu!

Sementara itu, Beng San tak dapat menahan lagi melihat Kwa Hong dan puteranya terdesak. Betapapun lihainya, menghadapi Cui Bi yang marah itu Sin Lee mulai terdesak, sedangkan Kwa Hong juga payah menanggulangi kemarahan Kong Bu dan Li Eng yang amat lihai ilmu pedangnya. Tentu saja ia tidak ingin melihat pertumpahan darah terjadi di antara keluarganya sendiri.

“Berhenti….! Tahan senjata, hentikan pertempuran…!” serunya berkali-kali. Ketika orang-orang muda itu nekat tidak mau berhenti, Beng San menggerakkan Kedua lengannya berkali-kali dan… angin dingin yang amat kuat menyambar ke depan dan membuat mereka yang bertempur itu terhuyung-huyung ke belakang.

Kwa Hong mengeluarkan bunyi lengking marah dan keccwa. “Sin Lee anakku, hayo kita pergi saja!” Ia menyambar tangan Sin Lee dan membawanya pergi melompat dari tempat itu. Setetah bayangan dua orang ini lenyap, terdengar suara Kwa Hong, melengking nyaring,

“Beng San manusia tak berjantung! Boleh kau tertawa atas kemenanganmu, akan tetapi tunggu saja pada hari pembukaan, hendak kulihat apakah kau masih ada muka menjadi Ketua Thai-san-pai, hi-hi-hik!”

“Bu-ko mari kita kejar dan bunuh mereka!” Cui Bi berseru. “Hayo!” Kong Bu menjawab dan keduanya berlari maju hendak mengejar, malah Li Eng juga tidak ketinggalan.

“Kong Bu….! Kenapa kau tidak melakukan perintahku?” tiba-tiba sesosok bayangan melayang turun dan tahu-tahu seorang kakek tinggi besar bermuka bengis telah berdiri menghadang. Li Eng sampai mengeluarkan teriakan saking kagetnya karena ia segera mengenal kakek ini yang pernah menculik dia dan Hui Cu.

“Kong-kong….!” Kong Bu juga berseru, girang dan kaget.

Sementara itu, ketika Beng San melihat munculnya kakek ini, wajahnya berubah, cepat ia mengangkat tangan menjura dan berkata, “Gak-hu (Ayah Mertua)….”

Song-bun-kwi, kakek itu, tertawa bergelak, “Ha-ha-ha, sebutan palsu itu masih saja kau pakai? Siapa tidak tahu akan kepalsuan hatimu? Eh, Kong Bu, kenapa kau berbaik dengan mereka ini?”

“Kakek, aku mengejar Kwa Hong, bukankah dia musuh besar kita?”

“Betul, akan tetapi kau melupakan laki-laki ini.” Dia menuding ke arah Beng San.

“Dialah yang menjadikan ibumu tidak panjang usia. Dia tergila-gila wanita lain, meninggalkan ibumu sampai ibumu mati merana, Kita harus memusuhi dia!”

“Kakek… akan tetapi dia, ayahku….”

“Huh! Ayah macam apa! Kau kena dibujuk orang!” Matanya liar menyapu ke kanan kiri. “Hayo pergi, tempat ini tak patut untukmu.”

“Tapi… Kong-kong….” Kong Bu meragu dan menoleh kepada ayahnya.

“Tidak ada tapi, hayo ikut aku pergi! Kau berat ayah keparat yang baru saja kaulihat sekarang ini ataukah kakekmu yang memelihara dan mendidikmu sejak kau masih bayi?” Suara Song-bun-kwi menggeledek dan matanya melotot.

Terjadi pertarungan dalam hati Kong Bu. Baru saja ia mengalami kebahagiaan bertemu dengan ayahnya, terutama sekali dengan Li Eng di tempat yang penuh perdamaian itu. Baru saja hatinya dipenuhi kebanggaan akan ayahnya, yang menyentuh hati baktinya untuk membela ayah dan memusuhi Kwa Hong. Akan tetapi kemunculan kakeknya ini membuyarkan segala yang indah-indah itu sekaligus, membuka matanya bahwa di sana masih ada arwah ibunya yang menghendaki ia menuntut balas, tidak hanya kepada Kwa Hong, akan tetapi juga kepada Beng San yang meninggalkan ibunya. Hati dan perasaan Kong Bu pada saat itu terbelah-belah, terbagi-bagi, sebagian besar condong kepada Li Eng, sebagian lagi kepada ayahnya dan sebagian pula kepada kakeknya.

“Kong Bu….!” Suara Song-bun-kwi menggetar penuh kemarahan. “Kalau kau tidak mau pergi bersamaku, biarlah mulai saat ini aku Song-bun-kwi bukan kakekmu lagi, melainkan musuh besarmu, biarlah lain saat aku mengadu nyawa denganmu!”

“Kong-kong….”

Tapi Song-bun-kwi sudah tidak mau menjawab lagi, melainkan membalikkan tubuh dan melompat pergi dari situ. Dengan muka pucat dan wajah sedih sekali Kong Bu terpaksa melompat juga mengikuti kakeknya, meninggalkan tempat yang disenanginya, orang-orang yang disayanginya.

Sunyi keadaan di situ setelah kakek dan cucunya itu lenyap bayangannya, Li Eng dan Hui Cu saling pandang dengan muka sedih dan kecewa. Kun Hong sejenak berpandangan dengan Cui Bi, akan tetapi segera menundukkan muka, ngeri melihat wajah Beng San yang berdiri di situ dengan kedua kaki terpentang, kedua lengan bertumpang di atas dada. Li Cu memandang suaminya dengan mata basah. Orang gagah ini berdiri tegak, mukanya yang tampan gagah itu merah sekali hampir hitam, alisnya terangkat, matanya menakutkan seperti mengeluarkan api dan kilat.

Sebuah tangan yang halus menyentuh pundak kirinya. Beng San melirik dan melihat wajah isterinya yang berusaha tersenyum membesarkan hati. Perlahan-lahan warna merah kehitaman pada mukanya itu berubah menjadi putih lalu kehijauan. Ia menarik napas berulang-ulang. Barulah ia menurunkan kedua tangannya dan memandang ke arah Kun Hong, Li Eng dan Hui Cu yang sudah menghadap dengan sikap hormat.

“Inikah mereka anak-anak Hoa-san-pai?” terdengar ia bertanya suaranya masih agak gemetar karena pukulan batin tadi.

Cui Bi segera maju memperkenalkar tiga orang muda Hoa-san-pai itu kepada ayah bundanya dan tiga orang itu, dipimpin oleh Kun Hong, segera menjura dan menghaturkan penghormatan mereka. Kalau saja Beng San tidak baru saja menderita pukulan batin yang hebat, kiranya pertemuan ini akan menggembirakan sekali. Mereka ini adalah anak-anak para tokoh Hoa-san-pai yang dikenalnya baik, Akan tetapi karena perasaannya sudah terluka oleh peristiwa tadi, ia hanya berkata kepada Cui Bi,

“Kau ajaklah mereka masuk dan beristirahat di puncak.”

Cui Bi maklum akan keadaan hati ayahnya, maka ia lalu mengajak tiga orang muda itu melalui jalan terowongan menuju ke puncak, tempat tinggai ayahnya. Adapun Beng San dan Li Cu yang ditinggalkan mereka, saling pandang penuh pengertian dan keharuan.

“Aku harus menyusul mereka, aku harus dapat merubah kekerasan hati Hong-moi….” kata Beng San kemudian, seperti kepada diri sendiri.

Li Cu mengerutkan keningnya. “Hatinya keras sekali, juga puteranya. Aku kuatir kau takkan berhasil. Kenapa tidak menanti sampai selesainya ucapara pendirian Thai-san-pai?” Beng San menggeleng kepala. “Justeru aku tidak mau dia muncul di waktu upacara. Tentu dia akan menggunakan urusan itu untuk merusak nama dan menggagalkan pendirian Thai-san-pai, Soal namaku, aku tidak peduli, akan tetapi kalau Thai-san-pai gagal berdiri, hal ini lebih hebat daripada kehilangan nyawa.”

Li Cu memegang tangan suaminya. “Akan tetapi, bagaimana kalau kau gagal? Kau akan dihina, kau… kau… biarlah aku ikut bersamamu.”

Beng San cepat memegang kedua lengan istrinya.

“Tidak! Jangan kau mencampurinya. Ini urusan antara aku dan Kwa Hong. Kalau perlu aku bisa menggunakan kekerasan. Kukira aku masih dapat mengatasi mereka ibu dan anak. Kau tidak boleh banyak bergerak, isteriku, kau ingatlah kandunganmu. Kau tunggulah saja di rumah dan percayalah kepadaku.”

Li Cu menatap wajah suaminya, terisak dan menjatuhkan kepala di pundak suaminya yang mengelus-elus rambutnya. Awan gelap menyelubungi sepasang suami isteri ini, awan gelap yang timbul dari urusan-urusan lama. Berkali-kali Beng San menarik napas panjang, hatinya penuh penyesalan kepada diri sendiri. Namun, sesal kemudian tiada guna.

**

“Ibu, aku benar-benar tidak mengerti!” Sin Lee mendesak ibunya. Mereka berdua duduk di bawah, pohon  dalam tengah sebuah hutan yang gelap karena penuh dengan pohon-pohon raksasa yang tinggi dan berdaun lebat.

“Kau banyak cerewet!” Kwa Hong mengomel. “Sudah kukatakan dia musuh besar kita, habis perkara.”

Sin Lee mengerutkan kening lalu menggeleng  kepala. “Aku ingin mengetahui duduknya perkara yang betul-betul, Ibu. Aku takkan suka diam kalau belum diberi penjelasan. Dia mengaku ayahku, bagaimana kau bilang dia musuh besarku dan harus kubunuh? Bukankah ini aneh sekali? Ibu, daripada berbohong kepadaku, lebih baik kau berterus terang, apa betul Tan Beng San itu ayahku dan suamimu, dan kalau betul demikian mengapa terjadi permusuhan ini?”

Kwa Hong meloncat bangun, membanting kaki sambil membentak, “Kau kepala batu! Dulu kau tidak pernah begini cerewet!”

Sin Lee juga meloncat berdiri dan menghadapi ibunya dengan tegak. “Sudah sepatutnya anak menanyakan ayahnya. Ibu yang terlalu jual mahal, kenapa menyimpan rahasia?”

Dua orang itu berdiri berhadapan, ibu dan anak yang sama keras hatinya, dua pasang mata yang sama saling tentang. Akhirnya Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa aneh, lalu memeluk puteranya dan menarik tangannya diajak duduk kembali.

“Kau memang bandel seperti… seperti dia! Baiklah kau mendengar kalau hendak mengetahui. Tan Beng San itu memang ayahmu, tapi dia bukan suamiku.”

“Bagaimana pula ini? Dia ayahku tapi bukan suami ibu?”

“Karena dia itu tidak mau mengawiniku, dan meninggalkan aku untuk kawin dengan wanita lain anak Song-bun-kwi si iblis tua itu.”

Sin Lee adalah seorang yang cerdik, akan tetapi belum dapat ia menghubungkan cerita yang disingkat-singkat ini. “Kau maksudkan Ayah tidak mau mengawini ibu, pergi menikah dengan lain wanita? Kenapa begitu? Apakah Ayah tidak suka kepada Ibu?”

Merah wajah Kwa Hong, matanya memancarkan sakit hati, ia menggelleng kepala. “Dia tidak cinta padaku, hanya suka seperti seorang kakak terhadap adiknya.”

“Tapi… tapi Ibu cinta kepadanya?”

Kwa Hong mengangkat tangan hendak menampar, tapi ditahannya. “Kau lancang mulut. Sudahlah. Pendeknya dia itu meninggalkan kau dalam kandunganku dan tidak mau peduli lagi, menikah dengan Kwee Bi Goat, malah ketika Bi Goat mati dia menikah dengan isterinya yang sekarang itu. Padaku ia sama sekali tidak mau peduli.”

Sin Lee berpikir keras. “Jadi… dia telah melakukah perhubungan dengan ibu, kemudian Ibu mengandung aku dan… dan Ibu ditinggalkan begitu saja?” Wajah Sin Lee sebentar pucat sebentar merah ketika melihat ibunya mengangguk dan dua titik air mata keluar dari sepasang mata ibunya.

“Si keparat… kalau begitu dia memang jahat….” kata Sin Lee dengan suara mendesis dan dengan hati penuh dendam.

“Kwa Hong,  kau tidak adil! Kenapa tidak kau ceritakan, tentang racun yang memabokkan kita ketika itu?” tiba-tiba muncul Beng San, begitu tiba-tiba sehingga Sin Lee dan Kwa Hong terkejut sekali.  Wanita ini semenjak dahulu amat gentar menghadapi ilmu kepandaian Beng San, biarpun sekarang di situ ada puteranya, namun ia masih ragu-ragu apakah mereka berdua akan dapat menang menghadapi Beng San yang amat hebat kepandaiannya. Namun, karena niatnya membalas dendam sudah ditahan-tahan semenjak bertahun-tahun, ia menjadi nekat dan cepat mencabut senjatanya, diturut oleh Sin Lee yang memandang Beng San dengan mata berapi-api.

“Hemmm, kau mengejar kami?” tegurnya, penuh selidik.

Beng San tersenyum pahit. “Kwa Hong, semenjak dahulu kau selalu menyembunyikan diri, menyembunyikan anak kita, kiranya kau jejali dia dengan kebencian dan dendam terhadap diriku. Sekarang aku sudah datang, seorang diri, coba katakan, kau hendak berbuat apakah terhadap diriku?”

“Aku… aku hendak membunuhmu!”

“Kau kira begitu mudah? Hong-moi, kau tahu bahwa kau takkan mampu melakukan hal itu kepadaku.”

“Akan kucoba, bersama anakku. Kami akan mengadu nyawa! Sin Lee, hayo kita bunuh keparat jahanam ini, musuh besar kita!”

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: