Rajawali Emas (Jilid ke-30)

Sin Lee sudah menggerakkan pedangnya. Beng San bertanya, “Hong-moi, sebelum kau dan anak kita bergerak, maukah kau pergi dengan tenang dan tidak mengganggu pendirian Thai-san-pai kalau nanti kalian berdua kukalahkan?”

“Tak sudi! Aku akan bunuh kau, akan kubuka semua rahasia busuk, hendak kulihat apakah kau ada muka menjadi ketua Thai-san-pai!” Kwa Hong berteriak-teriak dan mencak-mencak.

Beng San mengerutkan keningnya. “Kwa Hong, dangarlah baik-baik! Sejak dulu aku sudah merasa menyesal dengan peristiwa yang terjadi antara kita. Kalau kau hendak menyalahkan aku, biarlah kuterima. Bahkan dulu pun aku siap untuk menerima kematian di tanganmu. Akan tetapi, kau tahu, nama lebih berharga daripada nyawa bagi seorang gagah! Pendirian Thai-san-pai amat penting dan siapapun juga, juga kau sendiri, tidak boleh menghalanginya!”

“Kalau aku tetap hendak menggangunya, kau mau apa?”

“Kwa Hong, kesabaran manusia ada batasnya, aku sudah cukup mengalah, dan aku berjanji, kalau kau pergi sekarang dengan baik-baik, aku akan datang ke Lu-liang-san setelah selesai pendirian Thai-san-pai dan aku akan menurut apa kehendakmu kelak, biar kau bunuh sekali pun.”

“Aku tidak sudi.”

“Hemm.. hemm, tak ada jalan lain bagiku kecuali menggunakan kekerasan, mengalahkan dan menawan kalian sampai selesai upacara pendirian Thai-san-pai.” Sambil berkata demikian, tangan Beng San bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilauan telah berada di tangannya. Itulah Liong-cu-kiam yang amat ampuh!

“Beng San, jangan kau kira aku takut. Sin Lee, hayo serang!”

Ibu dan anak itu lalu menggerakkan senjata mereka, serentak mereka menyerang Beng San dengan hebat. Mula-mula Sin Lee masih ragu-ragu, merasa betapa ibunya agak keterlaluan tak mau mendengar janji orang yang sebenarnya ayahnya ini, akan tetapi begitu pedangnya terbentur pedang Beng San, tangannya kesemutan dan tahulah ia bahwa Ketua Thai-san-pai ini benar-benar lihai bukan main, maka ia pun tidak ragu-ragu lagi dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengeroyok. Namun, dengan rasa heran dan kagum, juga rasa penasaran memenuhi hatinya, Sin Lee merasa seakan-akan semua serangannya itu lenyap tak berbekas, seperti menyerang bayangan atau menyerang angin belaka. Jurus-jurus serangannya tertelan habis oleh gelombang permainan pedang Beng San, sama sekali tidak ada artinya. Juga Kwa Hong yang mainkan pedang dan cambuknya, merasa betapa akan sia-sia saja ia dan puteranya mengeroyok orang ini, kebenciannya makin memuncak namun kekagumannya juga meningkat.

“Kwa Hong kau benar-benar kejam sekali, menyuruh anakku sendiri memusuhi aku. Kwa Hong, kau berdua takkan menang, lebih baik pulanglah. Kelak aku akan datang kepadamu, menerima hukuman….” berkali-kali Beng San membujuk sambil menangkis sambaran anak panah hijau yang mengarah bagian tubuh yang berbahaya.

Diam-diam Beng San gelisah juga kalau ingat bahwa tempat ini adalah tempat di luar dari jalan rahasia, sehingga setiap saat dapat saja datang tamu-tamu yang mengandung maksud jahat. Ia maklum bahwa di antara para tamunya, tentu tidak sedikit terdapat bekas-bekas musuhnya yang sengaja datang untuk mengacau atau untuk membalas dendam. Oleh karena itu, ia membujuk agar Kwa Hong suka mengalah dan segera pertempuran itu selesai, Kalau ia mau, sudah tentu saja dengan mudah ia dapat merobohkan Kwa Hong dan Sin Lee, akan tetapi ia tidak menghendaki hal ini terjadi, karena selain ia harus melukai mereka, juga hal itu pastl akan menambah sakit hati Kwa Hong. Merobohkan dua orang lawan selihai mereka tanpa melukai, merupakan hal yang amat sukar, biar oleh dia sekalipun.

Tiba-tiba terdengar suara tiupan suling yang aneh, disusul suara orang tertawa bergelak,

“Ha-ha-ha, ini namanya sekali tepuk mendapat dua lalat ditambah seekor lalat cilik!” terdengar suara orang.

Mendengar suara suling ini Beng San kaget sekali, ia menahan serangan dua orang ibu dan anak itu, akan tetapi ketika ia melompat mundur, Kwa Hong dan Sin Lee yang sudah penasaran sekali terus saja menyerang. Terpaksa Beng San memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dan sementara itu ia memperhatikan orang-orang yang baru datang dan yang sekarang sudah berada di hutan itu.

Beng San menekan debar jantungnya ketika ia mengenal beberapa orang tokoh luar biasa yang ia tahu takkan mengandung maksud hati baik terhadapnya. Pertama-tama adalah Hek-hwa Kui-bo, nenek yang semenjak dahulu memusuhinya itu. Orang ke dua adalah Siauw-ong-kwi yang sudah nampak tua namun sepasang matanya masih bergerak-gerak liar membayangkan kenakalan dan kejahatannya. Kalau Hek-hwa Kui-bo merupakan tokoh nomor satu dari selatan, adalah Siauw-ong-kwi ini merupakan tokoh nomor wahid dari utara, keduanya merupakan iblis-iblis di samping tokoh besar seperti Song-bun-kwi. Di samping dua orang ini ia mengenal tokoh yang tak kalah jahatnya, yaitu Toat-beng Yok-mo dan Tok Kak Hwesio, seorang perampok tunggal yang setelah tua menjadi hwesio dan yang telah ia ketahui pula macamnya. Empat orang ini saja sudah merupakan lawan yang berbahaya, di samping Kwa Hong dan Sin Lee, apalagi di situ masih kelihatan seorang tosu tua sekali yang memakai kopyah seperti anak kecil, memegang tongkat berwarna merah dan kelihatannya lemah sekali, seakan-akan kalau ada angin besar bertiup, kakek ini tentu akan roboh terjengkang. Namun, kakek yang belum pernah dikenal Beng San ini malah yang menimbulkan kekuatiran hatinya. Di samping ini, masih terdengar suara tiupan suling aneh itu, akan tetapi peniupnya tidak kelihatan. Tiupan suling itu mengingatkan Beng San akan seorang tokoh yang sering kali mendatangkan ular-ular dengan sulingnya, tokoh yang sudah belasan tahun tak pernah ia dengar, yang kabarnya sudah mati, yaitu murid Siauw-ong-kwi yang malah lebih jahat dari gurunya, bukan lain adalah Siauw-coa-ong Giam Kin!

Akhirnya Kwa Hong tertarik pula perhatiannya oleh rombongan ini dan ketika ia menengok, wajahnya berubah. Cepat ia menarik tangan puteranya dan berseru,

“Mundur dulu!” Setelah Sin Lee melompat mundur di samping Ibunya, wanita ini berkata sambil tertawa,

“Kau lihat saja, Hi-hik-hik, hari ini keparat Beng San akan menerima hukumannya!” Sin Lee tidak mengerti akan maksud kata-kata ibunya, ia hanya memandang dengan kening berkerut dan pedang tetap terpegang di tangan kanan.

Tadinya agak lega hati Beng San melihat Kwa Hong dan Sin Lee menghentikan serangan mereka, akan tetapi mendengar ucapan Kwa Hong itu, ia tersenyum perih. Terpaksa ia lalu menyimpan pedangnya dan membalikkan tubuh menghadapi rombongan itu.

“Cu-wi Locianpwe jauh-jauh datang mengunjungi Thai-san, harap maafkan siauwte tak dapat melakukan penyambutan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, hari pendirian Thai-san-pai masih dua malam dua hari lagi, harap Cu-wi sekalian sudi bersabar dan menanti di tempat peristirahatan yang sederhana dan yang telah kami sediakan.”

Siauw-ong-kwi tertawa terkekeh-kekeh, juga Toat-beng Yok-mo dan Tok Kak Hwesio tertawa, kemudian orang-orang tua ini menggerakkan tubuh mengambil sikap mengurung. Jelas bahwa mereka ini berusaha memotong jalan keluar dari Beng San.

Adapun kakek yang tua renta bertongkat merah itu lalu melangkah maju, langkahnya gontai, ketika sampai di depan Beng San dalam jarak dua meter ia berkata, suaranya lirih agak menggigil separti suara kakek yang sudah tua sekali,

“Inikah Raja Pedang pengganti Cia Hui Gan? Masih muda sekali… masih muda sudah menjagoi, selayaknya pinto (aku) memberi hormat!” Kakek ini mengempit tongkat merahnya lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk dengan sikap menjura.

Sambaran hawa pukulan yang menimbulkan angin halus mengejutkan Beng San. Ia tidak terkejut karena diserang secara demikian karena hal seperti ini sudah biasa terjadi di kalangan ahli-ahli silat tinggi. Yang mengejutkannya adalah angin halus sekali yang menyambar ke arahnya, karena makin halus angin yang ditimbulkan oleh hawa pukulan, berarti makin hebatlah tenaga Iwee-kangnya. Cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya, balas menjura sambil berkata,

“Siauwte yang muda mana berani menerima penghormatan Locianpwe?” Biarpun kelihatannya ia menjura dengan hormat, namun diam-diam Beng San menangkis pukulan tak kelihatan itu dan sebagai seorang calon ketua, tentu saja ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan sengaja ia menerima serangan gelap itu dengan keras lawan keras.

Dua pasang tangan diangkat ke depan dada, dua tangan tak kelihatan bertemu di udara dan biarpun kedua kaki Beng San masih tetap dalam kuda-kuda, namun ternyata ia telah tergeser mundur tiga jengkal! Juga kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, lalu cepat ia menggunakan tongkat yang tadi dikempitnya untuk menunjang tubuh sehingga ia tidak jadi terhuyung ke belakang. Sejenak mata yang tua itu terbelalak kagum, lalu katanya,

“Hebat… hebat… patut dipuji!”

“Ah, Locianpwe terlalu merendah. Bolehkah siauwte yang bodoh mengetahui nama besar Locianpwe?” tanya Beng San, diam-diam ia mengeluh karena kakek tua ini benar-benar merupakan lawan yang paling berat yang pernah ia jumpai selama ia berkecimpung di dalam dunia persilatan.

Kakek itu tertawa sehingga kelihatan gusi mulutnya yang sudah tak bergigi lagi. “Ha-ha-ha pinto orang gunung mana. ada nama? Di utara sana, pinto disebut Pak-thian Locu. (Nabi Locu dari Utara), tentu saja Sicu tidak pernah memdengarnya.”

Memang nama ini tak pernah dikenal Beng San, Siauw-ong-kwi segera berkata sambil mendengus,

“Thai-san cukup tinggi sehingga kadang-kadang membuat orang lupa bahwa di atas masih ada langit! Calon ketua Thai-san-pai sampai tidak mengenal twa-suhengku (kakak seperguruan tua), benar-benar sudah merasa diri paling tinggi.”

Beng-San terkejut. Kiranya kakek ini twa-suheng dari Siauw-ong-kwi. Pantas saja demikian hebat.

“Ah, maafkan… maafkan… ini hanya menunjukkan bahwa siauwte kurang pengalaman.”

“Tan Beng San, selama bertahun-tahun ini telah banyak kau menghina kami, dan secara pengecut kau menyembunyikan diri di balik jalan-jalan rahasia. Sekarang dengan sombong kau hendak mengumumkan pendirian Thai-san-pai, heran, apakah kau sudah merasa dirimu menjadi guru besar?” kata Toat-beng Yok-mo sambil melangkah maju dan menggerakkan tongkatnya yang hitam.

“Hutangmu kepadaku belum kau bayar lunas!” pekik Hek-hwa Kui-bo sambil mengerling ke arah Kwa Hong dan Sin Lee. “Kalian anjing cilik tunggulah giliranmu,” Nenek yang mengerikan ini sudah mencabut pedang dan selampai yang beraneka warna. Melihat betapa lima orang itu mengurungnya dan telah siap mengeroyoknya. Beng San tersenyum lalu berkata dengan nada mengejek,

“Aku tahu isi hati kalian! Dua hari lagi, di atas panggung, disaksikan semua tokoh kang-ouw, sudah pasti kalian takkan dapat maju mengeroyok, melainkan seorang lawan seorang. Hari ini sengaja kalian menggerebek di sini dengan dalih membalas dendam sehingga kalian mendapat kesempatan mengeroyokku, bagus!”

Akan tetapi Hek-hwa Kui-bo sudah menyerbu dengan pedang dan selampainya, menyerang dari kiri dan dibarengi oleh Siauw-ong-kwi yang menyerang dari kanan.

Seperti biasanya, Siauw-ong-kwi ini mempergunakan sepasang lengan bajunya yang menerjang untuk melakukan totokan dengan ujung baju mengarah jalan darah, serangan ini tak kalah bahayanya dibandingkan dengan penyerangan Hek-hwa Kui-bo. Toat-beng Yok-mo dan Tok Kak Hwesio sambil tertawa juga menyerang cepat. Yok-mo menggunakan tongkat hitamnya sedangkan Tok Kak Hwesio mempergunakan kepandaiannya yang diandalkan, yaitu cengkeraman monyet.

Empat orang ini menyerang dari empat penjuru, mengurung diri Beng San. Sedangkan kakek tua renta tanpa menggeser kedua kakinya, dari tempat ia berdiri, ia mengirim pukulan-pukulan jarak jauh ke arah Beng San.

Beng San mengeluarkan seruan keras sekali dan mukanya berubah merah lalu kehitaman. Ini menandakan bahwa kemarahan mengganggu hatinya.

Cara bertempur tokoh-tokoh hitam ini benar-benar licik dan curang sekali, menggunakan jumlah banyak untuk mengeroyok. Padahal mereka itu, satu demi satu, merupakan tokoh-tokoh yang amat terkenal dan tidak sepatutnya mengeroyok musuh, apalagi dengan begitu banyak melawan seorang lawan!

Pedangnya digerakkan, berubah menjadi segulung sinar berkeredepan yang mengeluarkan bunyi mengaung. Hujan serangan kelima orang lawannya itu semuanya tertangkis oleh sinar pedangnya, malah tangan kirinya yang bergerak-gerak mengeluarkan hawa pukulan dahsyat, selain menangkis serangan-serangan jarak jauh dari Pak-thian Locu, juga sekaligus menanggulangi serangan-serangan Siauw-ong-kwi dan Tok Kak Hwesio.

Kwa Hong dan Sin Lee berdiri bengong, penuh kekaguman melihat betapa Beng San mengeluarkan kepandaiannya menghadapi lima orang tokoh besar yang kesemuanya memiliki kepandaian tinggi itu. Terasa oleh ibu dan anak ini betapa kalau tadi Beng San betul-betul mengeluarkan kepandaian, mereka tentu sudah roboh olehnya.

Beng San maklum bahwa kalau ia membiarkan dirinya terkurung menghadapi sekaligus lima orang pengeroyoknya, sukar baginya memperoleh kemenangan. Maka sambil mainkan ilmu pedangnya Im-yang Sin-kiam-sut yang hebat, yang sekaligus dapat ia pergunakan untuk melayani serangan-serangan lawan yang dasarnya berbeda, baik serangan mengandalkan tenaga Yang-kang maupun tenaga Im-kang, ia mempergunakan kegesitannya melompat ke sana ke mari, menerjang dari seorang lawan kepada lawan lain sehingga ia terbebas dari pengurungan yang ketat.

Namun cara ini tidak dapat digunakan daya serangnya karena hanya sejurus saja lalu menghadapi lain lawan, sedangkan semua lawannya adalah orang-orang yang tidak mungkin dapat dirobohkan hannya dengan satu dua jurus serangan saja. Apalagi pukulan-pukulan jarak jauh dari Pak-thian Locu benar-benar hebat sekali, mendatangkan angin berdesir yang hanya dapat ia tolak dengan pukulan tangan kiri yang mengeluarkan uap putih. Dengan pukulan yang setingkat dengan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Gaib Awan Putih) inilah ia mampu membuat setiap pukulan kakek tua renta itu membalik, sehingga berkali-kali kakek ini mengeluarkan seruan memuji.

Pertandingan yang tak seimbang ini berjalan makin seru dan hebat. Beng San harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, barulah ia dapat mengimbangi pengeroyokan itu. Makin lama seruannya makin nyaring, hawa pukulan yang menyambar dari sinar pedangnya makin kuat sehingga beberapa kali Hek-hwa Kui-bo dan Toat-beng Yok-mo terpaksa meloncat jauh untuk menghindarkan diri dari hawa maut yang menyambar dari sinar pedang Beng San. Juga Tok Kak Hwesio sudah dua kali terhuyung hampir jatuh karena tangkisan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang hebat, malah Siauw-ong-kwi pernah terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah ketika kedua ujung lengan bajunya membalik dan memukul dirinya sendiri karena tangkisan pendekar yang sakti itu!

Kwa Hong makin kagum, akan tetapi kekagumannya itu kalah oleh dendam di hatinya kepada orang yang paling dicintanya ini. Melihat betapa pengeroyokan lima orang itu ternyata belum cukup kuat untuk merobohkan Beng San, ia lalu berseru kepada Sin Lee, “Anakku, kesempatan baik tiba, hayo kita serbu dia!” Ia sendiri pun lalu menerjang maju dengan pedang dan cambuknya.

“Ibu….” Sin Lee meragu, tetap tidak bergerak dari tempat ia berdiri. Memang ia ikut pula membenci Beng San karena pengaruh ibunya, akan tetapi wataknya yang menjunjung tinggi kegagahan itu tidak mengijinkan ia lalu melakukan pengeroyokan semacam itu. Untuk membela ibunya, ia akan sanggup menghadapi Beng San dan mengadu nyawa dengan ayahnya yang telah menyakiti hati ibunya, ia rela mempertaruhkan nyawanya, Akan tetapi mengeroyok seperti ini? Ia tak sanggup melakukannya. Karena itu ia diam saja, tidak mau turun tangan biarpun Kwa Hong sudah menerjang hebat ke arah Beng San.

Beng San sama sekali tidak menduga bahwa Kwa Hong akan menyerangnya sehebat itu dari belakang selagi ia tidak bersiap, tahu-tahu ujung pedang Kwa Hong yang sudah menyambar ke arah leher dan sebuah anak panah di ujung cambuk menghantamkan dadanya. Secepat kilat ia miringkan kepala, membiarkan pedang melewat didekat kulit lehernya sementara tangan kirinya menangkis anak panah yang tak mungkin dapat ia elakkan pula, juga tak mungkin ditangkis karena pedangnya pada detik itu sedang menangkis tongkat Yok-mo dan pedang Hek-hwa Kui-bo.

“Krakkk!” Kwa Hong menjerit dan anak panah di ujung cambuknya patah-patah, telapak tangannya terasa sakit sekali dan hanya dengan melompat mundur ia dapat menguasai anak panah lain yang membalik tidak karuan. Akan tetapi lengan Beng San luka membiru dan baju pada lengannya itu robek. Kalau lain orang yang terkena ujung, anak panah hijau ini tentu akan terluka hebat yang akan mendatangkan kematian karena ujung anak panah ini mengandung racun hijau. Namun di tubuh Beng San penuh dengan hawa Im juga, maka tangkisan itu tidak melukai kulitnya, hanya membuat kulit lengannya membiru dan terasa agak linu. Hal ini tidak mengecilkan hatinya, malah menimbulkan semangat perlawanan lebih hebat lagi, teriakan dan seruannya menggema di udara dan gerakan pedangnya makin hebat.

Kwa Hong melanjutkan pengeroyokanya, marah karena anak panahnya rusak sebuah. Akan tetapi ia lebih hati-hati lagi, menjaga agar jangan sampai senjatanya dirusak pula. Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa mengerikan disusul ucapan nyaring,

“Beng San kau lihat, siapa ini? Menyerahlah, kalau tidak anakmu akan kuhancurkan didepan matamu!”

Beng San melirik dan seketika wajah yang merah menghitam itu berubah pucat dan hijau. Ia melihat seorang manusia yang mengerikan sekali, seorang laki-laki berpakaian kuning yang mukanya seperti setan. Mata kiri orang ini hanya tinggal lubangnya saja seperti mata tengkorak, tinggal mata kanannya yang liar merah, mulutnya robek melebar kelihatan giginya sebelah kiri, telinga kirinya juga buntung tinggal kulit sedikit di dekat lubang, tangan kirinya kaku dan jari-jari tangan ini seperti cakar burung, bukan tangan manusia lagi. Meremang bulu tengkuk Beng San melihat orang ini akan tetapi berbareng hatinya terkejut bukan main karena orang yang sekarang ia kenal sebagai Giam Kin ini tangan kanannya menangkap Cui Bi yang agaknya pingsan, tubuh gadis ini lemas menggelantung pada lengan kanan Giam Kin!

“Giam Kin iblis laknat lepaskan anakku!”, Dengan gelisah Beng San melompat kearah Giam Kin, namun ia dihujani senjata oleh para pengeroyoknya sehingga terpaksa ia menangkis dan tak dapat mendekati Giam Kin. Hatinya gelisah bukan main.

“Giam Kin pengecut, jangan ganggu anakku!”

“Ha-ha-ha-he-heh, baru sekarang kau ketakutan, ya? Kalau tidak ingin melihat anak gadismu yang cantik molek ini celaka, kau harus menyerah!” jawab Giam Kin dengan suaranya yang sekarang menjadi tidak karuan karena mulutnya sudah robek.

Lemas seluruh tubuh Beng San. Bagaimana ia dapat mengorbankan puterinya yang tercinta itu? Ia melompat mundur dan berkata lemah, “Aku menyerah. Tetapi jangan ganggu puteriku….”

Akan tetapi gerakannya yang menarik kembali pedang dan melompat mundur ini dipergunakan oleh musuh-musuhnya untuk mendesak. “Dukk!” Sebatang anak panah hijau di tangan Kwa Hong menghantam dadanya, membuat Beng San terhuyung-huyung ke belakang. Ia masih sempat melindungi leher dan kepalanya dari cengkeraman Tok Kak Hwesio dan hantaman ujung lengan baju Siauw-ong-kwi, namun dalam keadaan terhuyung-huyung itu, ia tidak mampu mengelak dari hantaman ujung selampai Hek-hwa Kui-bo yang mengenai pundak dekat leher, menotok jalan darah. Beng San mengerahkan tenaga melawan totokan ini, namun karena hantaman pada dadanya oleh anak panah Kwa Hong tadi melumpuhkan sebagian tenaganya, maka totokan ini masih membawa pengaruh hebat, ia menjadi pening dan muntahkan darah segar. Pada saat yang amat berbahaya itu, datang lagi dorongan pukulan Pak-thian Locu yang mengakibatkan angin pukulan mendorong dadanya. Beng San tak dapat menahan dan roboh telentang. Baiknya tubuhnya memang kuat sekali maka ketika terjengkang ini ia menahan napas dan menyalurkan hawa murni dalam tubuh untuk melawan pengaruh tiga pukulan hebat itu, pada dada, pundak dekat leher dan ulu hati. Sekali lagi ia muntahkan darah segar, wajahnya menjadi pucat dan ia melompat sambil memutar pedangnya sekaligus menangkis hujan senjata.

“Curang….!” serunya, kini kemarahan membuat uap putih mengebul keluar dari ubun-ubun kepalanya. Kemarahan membuat gerakannya seperti seekor naga terbang, ia menerjang maju dan terdengar Hek-hwa Kui-bo menjerit sambil melompat mundur, selampainya putus terbabat pedang dan lengannya masih tergores ujung pedang sehingga mengeluarkan darah. Juga para pengeroyok lain terpaksa melangkah mundur setindak saking hebatnya daya serang Beng San ini. Beng San hendak melompat ke arah Giam Kin lagi, akan tetapi para pengeroyoknya sudah menghalanginya pula.

“Giam Kin, lepaskan anakku! Lepaskan dan aku akan menyerah!” bentak Beng San suaranya menggeledek.

“Ha-ha-ha, jangan lepaskan, orang ini harus dibikin mampus bersama anaknya!” tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu Song-bun-kwi telah muncul di situ bersama Kong Bu. Datang-datang kakek ini menerjang sambil menggerakkan pedangnya yang mengaung hebat, menggunakan Ilmu Silat Pedang Yang-sin Kiam-sut yang ganas. Melihat datangnya Song-bun-kwi, para pengeroyok timbul kembali semangat mereka dan pengeroyokan makin hebat.

“Hi-hik, dasar dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, Beng San!” Kwa Hong bersorak dan kembali ia menganjurkan puteranya, “Sin Lee, hayo kau ambil bagian dalam pesta ini!”

Akan tetapi Sin Lee berdiri tegak dengan wajah pucat, mata membelalak dan tubuh gemetar. Muak ia melihat pengeroyokan itu dan makin lama makin bangga dan kagumlah ia menyaksikan sepak terjang orang yang menjadi ayahnya ini.

Adapun Kong Bu ketika sampai di tempat itu, juga berdiri mematung dengan mata seakan-akan mengeluarkan api. Ia tidak peduli mellhat kakeknya sudah menyerang mati-matian dan melihat jalannya pertempuran dengan hati tidak karuan. Sedih ia melihat orang yang menjadi ayahnya itu dikeroyok sedemikian rupa, mau membela, ia segan kepada kakeknya.

Biarpun telah terluka di tiga tempat dan pengeroyoknya bertambah seorang sehebat Song-bun-kwi, namun permainan pedang Im-yang Sin-kiam-sut dari Beng San benar-benar hebat sekali sehingga ia  dapat melindungi tubuhnya dari hujan senjata itu. Akan tetapi, kembali terdengar suara Giam Kin tertawa,

“Ha-ha-ha, Beng San, lihatlah Kau masih mau melawan terus? Lihat ini anakmu!” Setelah berkata demikian, tangan kirinya yang berupa cakar mengerikan itu bergerak dan “brettt” baju luar yang dipakai Cui Bi terobek lebar, memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna merah muda.

Gelap rasanya mata Beng San. “Giam Kin keparat….! Lepaskan anakku….” Karena perasaannya tertusuk, gerakannya agak terlambat dan pedang Song-bun-kwi yang tadinya menusuk pusarnya itu kurang cepat ia elakkan sehingga pahanya tertusuk pedang. Beng San menggulingkan tubuhnya ke belakang, Sinar pedangnya berkelebat menjaga diri dan ketika ia melompat bangun lagi darah bercucuran dari paha kanannya. Ia terpincang-pincang, darah mengucur banyak sekali, namun pedangnya masih dimainkan rapi menghalau setiap senjata yang hendak merenggut nyawanya. Tapi ia tidak mampu balas menyerang karena perhatiannya terbagi untuk mengawasi keadaan Cui Bi yang sama sekali tidak berdaya dalam tangan manusia iblis itu.

“Ha-ha-ha, Beng San, kau takkan dapat melepaskan dirimu. Kau boleh mati dengan mata melek karena anakmu ini takkan dapat bebas pula. Ha-ha-ha!” Suara ketawa Giam Kin bergema di hutan itu ketika ia memanggul tubuh Cui Bi dan lari pergi dari situ.

“Lepaskan anakku!” Beng San menjerit, tangan kirinya menyambar sebuah batu kecil dan dilemparkannya ke arah Giam Kin. Hebat lemparan ini, karena tubuh Giam Kin segera terguling, akan tetapi sambil tertawa-tawa manusia iblis itu bangun lagi dan lari terus memanggul tubuh Cui Bi.

“Kau mau bawa ke mana anakku?” Beng San memekik lagi, akan tetapi tiba-tiba sebuah pukulan ujung lengan baju Siauw-ong-kwi tepat mengenai kaki kirinya, membuat ia terguling roboh, ia berusaha bangun akan tetapi tidak mampu karena uratnya di dekat lutut terpukul hebat. Terpaksa Beng San sambil duduk karena kakinya lumpuh, menahan datangnya semua senjata dengan cara memutar pedangnya secara luar biasa sekali. Namun, dalam keadaan seperti itu tentu saja ia tidak mampu melawan tujuh orang lihai itu yang seakan-akan berlumba hendak berdulu-duluan mencabut nyawanya. Pundaknya tertusuk pedang lagi dan lengan kirinya juga dihantam tongkat hitam Yok-mo, membuat lengan kirinya juga lumpuh.

Pada saat itu, terdengar teriakan menyeramkan, sesosok bayangan menyerbu ke dalam pengeroyokan itu dan tahu-tahu tubuh Beng San sudah dipondong orang yang memutar-mutar pedangnya menghadapi para pengeroyok. Orang ini bukan lain adalah Kong Bu! Beng San yang dipondong juga masih mainkan pedangnya untuk menangkis hujan senjata.

“Anakku… anak Bi Goat… akhirnya kau… menolongku….? terengah-engah Beng San berkata, air mata menitik turun dari matanya.

“Kong-bu, gilakah kau?” seru Song-bun-kwi dan cepat kakek ini menggerakkan pedang menangkis tongkat hitam Yok-mo yang hampir mengenai kepala cucunya.

“Kakek, biarlah aku mati membela ayahku yang jauh lebih gagah daripada kamu sekalian!” teriak Kong Bu, matanya mengeluarkan cahaya berapi, pipinya basah oleh beberapa butir air mata yang menitik turun.

“Ha-ha-ha, Song-bun-kwi tua bangka gila, cucumu sendiri mengkhianati kau!” Yok-mo mengejek dan bersama yang lain-lain mereka lalu menerjang Kong Bu.

Sekali lagi terdengar teriakan melengking yang tinggi dan nyaring, dan Sin Lee sekarang memutar pedang membantu Kong Bu!

“Sin Lee, mundurlah kau!” Kwa Hong menjerit.

“Tidak, Ibu. Aku tidak suka melihat ini semua! Ayah seorang gagah perkasa, patut kubela dengan taruhan nyawa! Majulah, kalau perlu aku akan melawan kau sendiri!”

Kwa Hong menjerit dan menangis, menarik kembali senjatanya. Pada saat itu, Yok-mo, Tok Kak Hwesio, Siauw-ong-kwi, Hek-hwa Kui-bo dan Pak-thian Locu yang menjadi marah sekali lalu menerjang dua orang muda yang dengan semangat tinggi melindungi Beng San, orang yang menjadi ayah mereka tapi yang harus mereka benci dan musuhi itu.

“Sin Lee… terima kasih… ah, Thian Yang Maha Adil… aku rela mati sekarang….” kata Beng San, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas dan ia menjadi pingsan dalam pondongan Kong Bu.

Betapapun lihainya Kong Bu dan Sin Lee menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh besar itu mereka menjadi repot sekali. Apalagi Kong Bu yang harus memondong tubuh ayahnya sehingga pada saat itu ketika ia menangkis sambaran pedang Hek-hwa Kui-bo yang membuat lengannya terasa kesemutan, ia tidak dapat menghindar lagi dari pukulan mendorong yang dilakukan oleh kakek tua renta, Pak-thian Locu.

“Berani kau menyerang cucuku?” Tiba-tiba Song-bun-kwi meloncat maju dan menangkis pukulan ini.

“Dukkk!!” Hebat sekali pertemuan dua lengan orang sakti ini, akan tetapi akibatnya Song-bun-kwi terdorong mundur tiga langkah sedangkan kakek tua itu hanya bergoyang-goyang saja tubuhnya. Kaget bukan main Song-bun-kwi, sedangkan Siauw-ong-kwi tertawa-tawa,

“Ha-ha-ha, Song-bun-kwi manusia iblis! Baru sekarang kau bertemu tanding, perkenalkan dia adalah twa-suhengku Pak-thian Locu,”

“Aih-aihh, kiranya setan tua bangkotan dari Utara. Jangan takabur aku Song-bun-kwi selamanya tidak pernah takut, baik kepadamu atau kepada twa-suheng mu yang mau mampus ini!” serentak Song-bun-kwi menerjang kakek itu dengan pedangnya dan terjadilah pertandingan hebat.

Sementara itu, melihat betapa Sin Lee kerepotan dikeroyok Yok-mo, Tok Kak Hwesio dan sekarang Hek-hwa Kui bo juga menerjang Sin Lee karena Song-bun-kwi sudah dihadapi Pak-thian Locu sedangkan Kong Bu diserang Siauw-ong-kwi, Kwa Hong mengeluarkan suara melengking dengan marah sekali ia menyerbu untuk menolong puteranya!

Makin hebatlah pertempuran itu. Akan tetapi, Song-bun-kwi perlahan-lahan terdesak oleh Pak-thian Locu yang luar biasa. Kong Bu yang memondong tubuh Beng San juga repot menghadapi Siauw-ong-kwi, sedangkan Sin Lee biarpun dibantu ibunya, tetap saja terkurung hebat oleh Toat-beng Yok-mo, Tok Kak Hwesio, dan  Hek-hwa  Kui-bo.  Song-bun-kwi mulai sibuk, apalagi melihat Kong Bu terdesak hebat oleh Siauw-ong-kwi. Memang di antara mereka, yang paling payah adalah Kong Bu. Selain harus menggendong Beng San yang tidak ingat atau pingsan, juga hati pemuda ini gelisah sekali memikirkan nasib adik tirinya, Cui Bi yang tadi dibawa lari oleh manusia bermuka iblis itu. Harus diakui bahwa di dalam hatinya, Kong Bu amat sayang kepada adik tirinya itu, dan tadi ia bermaksud menolong, siapa tahu keadaan lawan amat tangguh dan ayahnya sudah pingsan tak dapat melawan lagi.

Hatinya gelisah, ditambah lawannya Siauw-ong-kwi, adalah tokoh utama dan utara yang kepandaiannya setingkat dengan kakeknya!

“Bagus, kau pemuda jahat harus membalas kematian muridku!” berkali-kali Hek-hwa Kui-bo berteriak keras sambil mendesak Sin Lee dengan pedangnya. Kwa Hong yang hendak membantu puteranya, ditahan oleh Toat-beng  Yok-mo dan Tok Kak Hwesio, dua orang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi. Permainan pedang Hek-hwa Kui-bo adalah ilmu pedang Im-sin Kiam-sut, hebat bukan main dan memiliki daya serang yang mengandung tenaga Im-kang, Sin Lee juga amat kuat ilmu pedangnya gerakkan kakinya, sangat membingungkan dan serangan-serangannya ganas sekali, namun menghadapi nenek ini, ia kalah pengalaman, kalah tenaga, dan kalah segala-galanya. Biarpun ia telah mengerahkan kepandaiannya, tetap saja ia terkurung oleh sinar pedang Hek-hwa Kui-bo, bahkan terancam hebat.

Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar bentakan-bentakan nyaring dan seorang wanita yang bergerak seperti seekor naga betina menerjang dengan pedang yang menyambar laksana kilat. Siauw-ong-kwi yang diserang oleh wanita ini kaget dan menangkis dengan lengan baju. Pedang wanita itu tertangkis, menyeleweng ke samping akan tetapi ujung lengan baju Siauw-ong-kwi robek!

“Orang-orang tua pengecut!” wanita itu berteriak dan ia berseru kaget melihat keadaan Beng San dalam pondongan Kong Bu. Wanita ini bukan lain adalah Cia Li Cu. Melihat suaminya mandi darah dan dengan muka pucat pingsan dalam pondongan Kong Bu, ia menjerit dan cepat menubruk. Kong Bu memberikan tubuh Beng San kepada ibu tirinya ini dan sekarang dengan penuh semangat ia memutar pedangnya menghadapi Siauw-ong-kwi.

“Jangan kuatir, kami bantu!” terdengar suara wanita lain dan muncullah Li Eng dan Hui Cu, Li Eng langsung membantu Kong Bu dan Hui Cu segera membantu Sin Lee. Hal ini terjadi karena dorongan hati masing-masing melihat laki-laki perampas hati mereka itu terdesak oleh lawan. Di belakang dua orang gadis ini muncul puluhan orang anggauta Thai-san-pai yang semua telah mencabut pedang.

Melihat ini Hek-hwa Kui-bo berseru keras, “Cukup kita main-main! Biar besok pada pembukaan Thai-san-pai dilanjutkan, ha-ha-ha-ha!” Nenek ini melompat ke belakang, diturut oleh yang lain-lain karena mereka melihat keadaan tidak menguntungkan pihak mereka. Apalagi setelah Beng San terluka hebat, besok lusa mudah saja bagi mereka untuk menantang dan menggagalkan pendirian Thai-san-pai, membalas dendam dan merusak nama Thai-san-pai dan ketuanya di muka semua orang kang-ouw!

Sementara itu, Li Cu yang melihat keadaan suaminya parah sekali, tak sempat mencari tahu lagi, juga tidak bertanya kepada Song-bun-kwi maupun Kwa Hong yang tadi ia lihat sekelebatan berkelahi di pihak suaminya. Sambil mengeluh penuh kegelisahan nyonya ini memondong tubuh suaminya dan dibawa lari menuiu puncak,

“He, Kong Bu, kau hendak kemana?” Song-bun-kwi berteriak melihat cucunya dengan pedang di tangan berlari cepat.

“Harus kutolong adik Cui Bi dari tangan manusia bermuka iblis!” jawab Kong Bu tanpa menengok.

“Aku ikut!” Sin Lee juga berseru dan tubuhnya melompat jauh mengejar Kong Bu dengan pedang di tangan. Kong Bu menoleh sambil lari, Sin Lee memandang. Dua orang pemuda ini berpandangan dan biarpun mulut mereka tidak berkata apa-apa namun sinar mata mereka seakan-akan telah saling dapat menemukan isi hati masing-masing, tanpa sekecap pun kata-kata dua orang muda seayah ini telah bersekutu!

Li Eng dan Hui Cu saling pandang dan Hui Cu berkata kaget, “Eh,  Adik Eng, mana Paman Hong?”

Li Eng menengok ke sana ke mari, berkata kuatir juga, Tadi kulihat dia berlari di belakang kita… ah, jangan-jangan dia ketinggalan jauh. Mari kita susul Bibi, keadaan Paman Beng San kulihat tadi amat menguatirkan.” Dua orang gadis ini lalu berlari menyusul Li Cu, hendak membantu bibi itu dan juga hendak mencari Kun Hong yang tadi datang bersama mereka. Para anggauta Thai-san-pai juga berbondong-bondong sudah mengikuti nyonya ketua mereka kembali ke puncak.

Setelah keadaan di situ sunyi, Kwa Hong dan Song-bun-kwi hanya bisa saling pandang dengan ruka kecewa. Keduanya merasa kecewa dan tertusuk hatinya karena sikap cucu dan putera mereka. Lebih-lebih Kwa Hong. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa Sin Lee akan membalik dan memberontak, membela ayahnya dan menentangnya.

“Sin Lee…!” Akhirnya ia memekik nyaring dan tubuhnya melesat ke satu jurusan, agaknya hendak mengejar puteranya.

Song-bun-kwi menampari kepalanya sendiri, bicara seperti orang gendeng,

“Goblok kau, tua bangka goblok! Mana bisa memisahkan anak dari ayahnya? Goblok kau hendak mencelakakan cucumu sendiri, tolol!” Dan ia pun pergi dari situ dengan langkah gontai, wajahnya nampak makin tua dan sinar mata yang semula liar itu menjadi lunak dan muram.

Bagaimanakah Cui Bi, gadis yang memiiiki ilmu kepandaian tinggi itu, bisa terjatuh ke dalam tangan Giam Kin? Pagi hari itu, Cui Bi yang tidak melihat ayahnya berada di puncak mencari ke mana-mana tidak ada dan ibunya sendiri pun tidak tahu ke mana perginya ayahnya, menjadi kuatir, maklum bahwa pertemuan antara ayahnya dengan dua orang puteranya itu amat mengganggu hati dan pikiran ayahnya apalagi dua orang putera itu telah dididik orang untuk memusuhinya. Ia maklum bahwa ayahnya amat berduka dan gelisah, maka pada hari itu, ketika tidak melihat ayahnya, Cui Bi berkuatir dan timbul dugaannya bahwa ayahnya tentu keluar dari puncak untuk pergi mencari kedua orang puteranya itu, Maka ia pun lalu diam-diam keluar dari terowongan, turun dari puncak mencari ayahnya.

Baru saja ia menyeberangi rawa, ia mendengar suara suling yang amat aneh dan merdu dari arah kiri. Cepat ia membelok ke arah ini dan dalam sebuah hutan kecil ia melihat seorang laki-laki yang mukanya membuat Cui Bi terasa serem dan ngeri. Laki-laki ini mukanya seperti iblis yang mengerikan dengan mata kirinya yang bolong kosong, mulutnya yang robek lebar, telinga kiri buntung, tangan kirinya yang kaku seperti cakar setan. Akan tetapi sebagai puteri pendekar sakti yang sudah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw, hanya sebentar saja Cui Bi dapat menguasai perasannya dan ia mulai tertarik oleh perbuatan laki-laki bermuka iblis itu. Laki-laki itu dengan tangan kanannya yang normal sedang meniup suling. Bukan main aneh dan indahnya suara suling itu dan yang lebih menarik hati Cui Bi lagi, di depan laki-laki yang duduk bersila di bawah pohon itu, kelihatan lima ekor ular besar tengah “berdiri” di atas ekornya dan menari-nari, melenggak-lenggok amat lemasnya! Cui Bi memang sudah beberapa kali pernah melihat ahli-ahli ular meniup suling membuat ularnya menari-nari, akan tetapi baru kali ini ia melihat lima ekor ular sekaligus menari dan dapat “berdiri” setinggi itu. Benar-benar hebat dan lucu. Tak tertatankan gadis itu tertawa dan datang mcnghampiri lakj-laki itu, ikut duduk dekatnya dan berkata,

“Bagus dan lucu sekali…!”

Laki-laki itu tidak menoleh, terus melanjutkan tiupannya akan tetapi mata kanannya itu melirik ke arah Cui Bi lalu mengeluarkan sinar yang aneh.

Sekali ini Cui Bi mengenakan pakaian wanita yang ringkas hingga ia kelihatan sebagai seorang gadis muda remaja yang cantik dan manis. Pedang tergantung di punggung dan dari senjata inilah orang akan dapat menduga bahwa dia adalah seorang gadis kang-ouw.

Melihat gadis cantik itu memandang kepada ular-ular itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri, laki-laki itu tanpa menunda tiupan suiingnya bertanya, “Kau siapa, Nona? Apakah tidak takut ular?”

Cui Bi menoleh dan bukan main herannya. “Kau hebat sekali, Lopek (Uwa). Sekaligus menyuling dan bicara. Bukan main! Kau tentu seorang di antara para tamu Thai-san-pai, bukan? Apakah Kau sudah kenal baik dengan Ayah? Ayah belum pernah bercerita kepadaku tentang seorang temannya yang pandai meniup suling menjinakkan ular.”

“He-he, jadi kau puteri Ketua Thai-san-pai? Pantas saja tidak takut ular, akan tetapi coba kau lihat ular-ularku, entah takut tidak?” Ia lalu bangkit berdiri dan tiupan sulingnya berubah nyaring dan lebih aneh lagi. Cui Bi tadinya tersenyum-senyum saja karena mana dia takut segala macam ular? Sekali gerakkan pedang ia sanggup membunuh lima ekor ular besar itu!

Akan tetapi tiba-tiba wajahaya berubah sedikit ketika ia mendengar suara berisik, suara mendesis-desis yang datang dari segala penjuru dan sebentar kemudian, puluhan, malah ratusan ekor ular merayap datang dari segala jurusan, malah ada yang datang dari atas pohon, merayap-rayap turun dengan cepatnya seperti memenuhi panggilan suara suling itu! Dalam beberapa menit saja mereka berdua sudah dikurung oleh ratusan ekor ular besar kecil, di antaranya banyak terdapat ular-ular berbisa. Mau tak mau Cui Bi menjadi pucat juga dan jijik. Ia merasa bulu di tubuhnya meremang dan cepat ia mencabut pedangnya untuk menjaga kalau-kalau ada ular hendak menyerangnya.

“Jangan kuatir, selama ada aku di sini, mereka takkan berani mengganggumu, Nona. Aku hanya ingin memperlihatkan mereka padamu, bagus dan menarik mereka itu, bukan? Apa kau mau melihat mereka itu semua menari-nari?”

Cui Bi menggeleng kepala, menahan napas, bau yang amat amis memuakkan perutnya, bukan main bau itu, amis dan menyengat.   “Cukup… aku tidak ingin melihat mereka, Lo-pek, suruhlah mereka pergi…”

Laki-laki itu yang bukan lain adalah Giam Kin mengangguk-angguk dan meniup sulingnya, kini berlagu amat merdu dan… ular-ular itu merayap pergi semua, berlenggang-lenggok menggelikan dan sebentar saja sudah lenyap semua, tak seekor pun berada di situ. Cui Bi menarik napas lega dan menyimpan kembali pedangnya. Mata Giam Kin berkilat ketika ia melihat cara gadis itu tadi menarik keluar pedang dan cara menyimpannya lagi. Matanya yang tinggal sebelah itu dapat melihat bahwa gadis ini bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang ahli pedang yang lihai sekali.

“Wah, celaka.,..” Tiba-tiba Giam Kin berseru, nampak gugup dan bingung sekali, matanya yang tinggal sebelah menatap wajah Cui Bi. “Aku… aku kesalahan terhadap ayahmu, Nona. Ah, Tan Beng San Taihiap tentu akan marah kepadaku.”

“Kenapa, Lo-pek? Kau tidak bersalah apa-apa.”

“Celaka, Nona yang baik. Kau… kau telah terkena racun ular berbisa yang amat berbahaya!” Giam Kin membanting-banting kakinya, “Ayahmu tentu akan marah kepadaku. Coba kau menarik napas dalam-dalam, bukankah tercium bau yang amis? Apakah kau tidak merasa jantungmu berdebar-debar?”

Dengan muka berubah Cui Bi menarik napas dalam dan memang, bau amis yang tadi masih teringat olehnya sehingga seakan-akan ia mencium bau amis itu makin jelas terasa daripada tadi, ia merasa jantungnya berdebar. Ia mengangguk gelisah.

“Nah, itu tanda kau racunan. Cepat, kau pakai obat ini. Aku sendiri tidak terpengaruh racun karena membawa bunga ajaib ini. Kau cium dan sedot wangi bunga ini pasti sekaligus lenyap pengaruhnya racun itu.” Cui Bi menerima setangkai bunga yang tadinya entah berwarna apa karena bunga itu sudah melayu dan tinggal berwarna kuning gelap, warna daun mulai mengering. Ia masih ragu-ragu.

“Tapi… tapi… bagaimana aku bias keracunan kalau tidak ada seekor ular pun menyentuhku tadi?”

“Ah, kau tidak tahu, Nona. Di antara ular-ular tadi banyak ular beracun yang amat berbahaya. Sudah jamak melihat kita, ular-ular beracun tadi berniat menggigit dan mengeluarkan racunnya, akan tetapi mereka itu tertahan dan tidak berani oleh suara sulingku. Racun mereka yang keluar dari mulut mereka berceceran di atas tanah dan hawa pagi ini banyak keluar dari dalam tanah, membubung ke atas. Racun ular yang sudah berada di tanah itu hawanya terbawa oleh hawa tanah, memasuki hidung kita dan kau yang tidak berdekatan bunga penawar racun ini tentu saja keracunan, Sudahlah, kau cepat-cepat cium obat penawar ini, kalau tidak… akan terlambat nanti dan kau akan celaka. Lekas….” Laki-laki itu nampak gugup dan bingung sekali.

Cui Bi memang seorang gadis muda yang berkepandaian tinggi, sudah banyak merantau dan pengetahuannya luas. Namun dalam hal tipu muslihat, berhadapan dengan Giam Kin dia hanya seorang bocah yang masih hijau. Melihat sikap Giam Kin dan mendengar keterangannya itu, ia percaya betul dan tanpa ragu-ragu lagi sekarang gadis itu mendekatkan bunga ke depan hidungnya dan menyedotnya. Ia mencium bau yang amat harum dan enak memasuki hidung terus ke kerongkongan lenyap dan ia menyedot makin keras. Tiba-tiba ia merasa kepalanya pening, pandang matanya berkunang.

“Celaka….” serunya sambil melempar kembang itu dan berusaha mencabut pedangnya.

“Ha-ha-ha-ha Giam Kin tertawa. sulingnya bergerak menotok leher Cui Bi yang tak mampu bergerak lagi dan gadis ini roboh terguling, pingsan!

Sudah tentu saja semua ocehan Giam Kin tentang racun tadi bohong belaka. Karena pandainya ia bicara disesuaikan dengan suasana dan keadaan, tentu saja Cui Bi masih merasa mencium bau amis dari ular-ular tadi dan karena pemberitahuan Giam Kin itu mengejutkannya, sudah semestinya kalau jantungnya berdebar pula.

Demikianlah, dalam keadaan pingsan dan tidak berdaya karena sudah ditotok jalan darahnya, gadis ini dipanggul pergi oleh Giam Kin, kemudian seperti telah diceritakan di bagian depan, Giam Kin yang licik ini dapat mempermainkan gadis yang ditawannya itu untuk mengacaukan pertahanan Beng San sehingga pendekar ini terluka dalam pengeroyokan. Setelah melihat Beng San terluka dan tak mungkin dapat menang menghadapi pengeroyokan suhunya, supeknya dan tokoh-tokoh lain, Giam Kin lalu membawa pergi Cui Bi, kuatir kalau-kalau keluarga pendekar itu muncul.

Giam Kin sekarang berbeda dengan Giam Kin belasan tahun yang lalu. Tidak hanya berbeda dalam ilmu kepandaian yang makin meningkat karena selama ini ia tekun memperdalam ilmunya, juga wataknya berubah banyak. Dahulu ia adalah seorang laki-laki mata keranjang. Sekarang watak ini lenyap berbareng dengan lenyapnya ketampanan wajahnya. Sekarang ia berubah menjadi manusia iblis yang haus darah, yang haus akan balas dendam terhadap musuh-musuhnya. Mukanya rusak oleh burung rajawali emas dan Kwa Hong, karenanya ,tentu saja ia amat mendendam kepada Kwa Hong. Akan tetapi dia sekarang menjadi cerdik luar biasa, maka tadi bertemu dengan Kwa Hong ia tidak bertindak apa-apa karena ia sedang memerlukan Kwa Hong dalam pengeroyokan terhadap Beng San. Sekarang ia hendak melampiaskan dendamnya kepada Beng San, kepada keluarganya. Maka setelah puteri Beng San terjatuh ke dalam tangannya, tidak lain nafsu dalam dadanya kecuali menyiksa dan membunuh gadis anak musuhnya ini.

Ia membawa lari Cui Bi ke dalam hutan lain di sebelah timur, di lereng Gunung Thai-san, jauh dari tempat berkumpulnya para tamu. Wajahnya yang buruk itu tertawa-tawa, agaknya ia gembira sekali membayangkan siksa yang akan ia lakukan atas diri anak musuhnya ini. Tubuh gadis itu ia lemparkan di atas tanah yang kering tak berumput, lalu ia mengambil sehelal kain sutera, mengikat kaki tangan gadis itu, membalikkan tubuh gadis itu telentang, kemudian ia membebaskan totokan pada tubuh gadis itu. Cui Bi yang merasa betapa jalan darahnya pulih kembali, berusaha meronta, akan tetapi ternyata tali itu kuat sekali.

Ketika ia hendak membuka mulut untuk mengelurkan pekik pemberitahuan kepada ayah bundanya, ia kaget karena tak dapat ia mengeluarkan sedikit pun suara. Kiranya iblis yang cerdik itu telah menotok jalan darah dari urat gagunya, membuat ia tak dapat mengeluarkan suara.

Terpaksa Cui Bi hanya telentang dengan mata melotot marah, memandang kepada wajah manusia iblis yang duduk bersila di atas tanah. Ngeri juga kalau ia memperhatikan wajah manusia ini, sudah tak patut disebut manusia lagi baik bentuk mukanya maupun gerak-geriknya. Mata kanan yang kemerahan itu seperti mata orang gila, sedangkan mata kiri yang kosong menghitam itu seperti mata tengkorak, mata iblis. Mulut yang robek dan terbuka memperhatikan deretan gigi yang masih rapi itu terlalu menyeringai dan menyeramkan karena gusi-gusi kemerahan tampak di atas gigi pinggir yang runcing seperti gigi setan. Dan diam-diam gadis ini di samping kengeriannya juga menduga-duga siapa adanya tokoh buruk rupa yang aneh ini dan mengapa pula memusuhi ayahnya. Ia dapat menduga bahwa tentu orang ini musuh ayahnya yang sekarang menjatuhkan dendam kepadanya, puteri tunggal ayahnya. Akan tetapi sepanjang ingatannya, belum pernah ayahnya bercerita tentang tokoh seperti iblis ini yang anggapannya malah jauh lebih mengerikan daripada tokoh-tokoh manusia iblis yang pernah ia dengar dari ayahnya.

“Heh-heh-heh, matamu seperti ayahmu benar!” Giam Kin tertawa gembira. “Matamu penuh pertanyaan mengapa aku melakukan hal ini kepadamu dan siapa adanya aku, bukan? Nah, dengarlah, bocah. Dengarlah baik-baik agar kau tidak mati penasaran. Aku adalah Siauw-coa-ong (Raja Ular Kecil) Giam Kin, sahabat baik ayahmu, heh-heh-heh!” Ia tertawa terpingkal-pingkal, tubuhnya berguncang-guncang dan pandangan Cui Bi tertuju kepada tangan kiri yang kaku mati seperti cakar setan itu, dan gadis ini kelihatan heran.

“Heh-heh, kau kelihatan terheran-heran. Gadis cilik, dahulunya aku seorang laki-laki yang tampan. Hemm, dibandingkan dengan ayahmu, aku jauh lebih tampan. Celaka, siluman betina Kwa Hong itu dengan rajawali emasnya mengubah aku menjadi begini. Heh-heh, disangkanya aku sudah mati. Hah, awas kau Kwa Hong iblis betina, akan datang pembalasanku….”

“Aku bertanding melawan Kwa Hong dan menjadi begini karena gara-gara Lee Giok, karena itu aku bersumpah, selain untuk membalas kepada ayahmu sekeluarga, juga kepada Kwa Hong dan Lee Giok. Sayang sampai sekarang belum kudapatkan kesempatan itu, ha-ha-ha, saat ini aku akan dapat memuaskan hatiku membalas kepada Beng San. Aku mendengar bahwa puteri dari Lee Giok berada di Thai-san sebagai tamu, aku cepat mencari akal untuk menangkapnya, untuk membalas kepada anaknya, menyiksanya seperti juga ibunya telah menyebabkan aku begini. Eh, kiranya bukan dia yang muncul melainkan kau, anak Beng San! Heh-heh-heh, jerat yang kupasang tidak berhasil menjerat kelinci seperti yang kuharapkan, malah lebih dari itu, ternyata telah menjerat seekor anak kijang. Heh-heh-heh, senang hatiku. Nah, kau sudah mendengar semua dan siap menerima siksa dariku? Heh-heh-heh-heh!”

Mengertilah sekarang Cui Bi mengapa muka penjahat bernama Giam Kin yang pernah ia dengar diceritakan ayahnya itu sekarang menjadi seperti iblis begini. Kiranya gara-gara Kwa Hong lagi. Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga Iwee-kangnya membuka totokan pada lehernya, namun sia-sia belaka dan ini membuktikan bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi. Andaikata dia berhasil mengeluarkan pekik keras, tentu orang ini akan segera turun tangan pula. Cui Bi tidak takut mati, akan tetapi ngeri juga ia mendengar bahwa ia akan mengalami siksaan. Orang yang sudah bukan manusia lagi ini tentu mempunyai cara-cara yang amat keji untuk menyiksa, dan membunuh musuhnya. Giam Kin tertawa-tawa lagi lalu mengeluarkan sulingnya. Ketika suling itu mulai ditiup, tahulah Cui Bi, atau setidaknya dapatlah ia menduga siksaan apa yang akan ia hadapi. Dan dugaannya itu ternyata benar karena tak lama kemudian ia mendengar suara berisik, mendesis-desis dan menggelesernya tubuh banyak ular menuju ke tempat itu. Tak lama kemudian ia mencium bau amat amis dan kiranya ular-ular itu sudah dekat sekali. Giam Kin menghentikan tiupannya, mengeluarkan setangkai bunga berwarna kuning dan ular-ular itu berhenti bergerak, seakan-akan ketakutan melihat kembang kuning itu!

“Heh-heh-heh, bocah anak Beng San. Ular-ular itu akan menuruti segala perintahku. Sekali kuperintah, mereka akan menyerbu dan menggerogoti kulitmu yang halus dan dagingmu yang lunak sampai tinggal tulang-tulangmu saja. Heh-heh-heh, dalam waktu kurang dari satu jam, wajahmu yang cantik akan menjadi buruk, lebih buruk dari wajahku, rambutmu yang hitam panjang ini akan copot dari kepala, matamu yang bagus-bagus itu akan masuk ke perut ular. Hanya tulangmu yang tinggal, kau akan berubah menjadi kerangka dan ayah ibumu takkan mengenalmu lagi. Heh-heh-heh! Aku akan menikmati pertunjukan ini, melihat kau menggeliat-geliat kesakitan, melihat kau berkelahi dengan maut, melihat betapa. hidungmu yang bagus itu akan digigit ular, kulitmu yang halus akan dibeset, dagingmu diperebutkan. Heh-heh-heh!”

Cui Bi sudah tak mendengarkan ini semua. Ia tahu sejak ular-ular itu datang bahwa nyawanya takkan dapat tertolong lagi. Ia tidak takut menghadapi kematian, tidak pula takut menghadapi siksaan akan tetapi pada saat ia berada ditepi jurang kematian itu, terbayanglah wajah tiga orang, yaitu wajah ibunya, wajah ayahnya dan wajah Kun Hong! Tak tertahankan lagi naik, sedu-sedan di kerongkongannya dan beberapa titik air mata mengalir ke atas pipinya.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: