Rajawali Emas (Jilid ke-32)

Ucapan ini terang merupakan penghinaan yang sengaja dikeluarkan untuk memancing keributan. Akan tetapi Beng San dan keluarganya hanya memandangnya dengan sikap tenang-tenang saja.

Terdengar pekik sorak di sana-sini, terutama dari mereka yang memang ingin segera menyaksikan keributan terjadi di tempat itu. Ada suara dari sudut berseru, “Lai-kauwsu, kau berjuluk Si Cakar Naga, di kota raja siapa yang tidak pernah mendengar nama besarmu? Tapi di sini, jangan kau main-main. Apa kau berani memperlihatkan kepandaianmu di panggung? Jangan-jangan kau akan diketawai Thai-san-pai!”

Semua orang menengok untuk melihat Si Pembicara, akan tetapi tidak ada yang tahu betul siapa yang menguacapkan suara tadi. Hanya orang-orang pandai di antara tamu dan tentu saja pihak tuan rumah yang tahu bahwa suara ini dikeluarkan oleh seorang pandai yang mempunyai ilmu khikang tinggi sehingga dapat memindahkan arah suaranya. Orang yang pandai dengan ilmu ini, biarpun ia berdiri di sebelah barat, suaranya dapat terdengar seperti datang di sebelah timur.  Beng San maklum bahwa orang yang memusuhinya mulai “membakar” suasana. Namun ia tenang saja dan memang sudah siap menghadapi segala kericuhan yang disengaja oleh para lawannya. Sebagai sebuah partai baru, Thai-san pai harus memperlihatkan keangkerannya, harus dapat menjaga nama dan keadaan yang sekarang ia hadapi ini merupakan ujian berat namun baik sekali.

Lai Tang Si Cakar Naga menengok juga akan tetapi karena tidak dapat melihat orang yang mengeluarkan kata-kata itu, ia segera melihat ke arah panggung dan kemarahannya sudah meluap.

“Siapa takut diketawai dan siapa berani menertawai aku?” Tubuhnya melayang dan ia sudah naik ke atas panggung yang memang disediakan itu. Ketika melayang ke atas papan panggung itu, tubuhnya seperti daun kering saja, amat ringan dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara. Menyaksikan gin-kang yang cukup hebat ini, para tamu yang muda dan yang tidak begitu tinggi tingkat ilmunya, segera bertepuk tangan riuh-rendah memuj.

Lai Tang yang, disoraki ini “mendapat hati”. Sambil petantang-petenteng ia berkata ke arah rombongan tuan rumah.

“Tidak ada partai baru didirikan tanpu diuji. Thai-san-pai adalah partai baru, tapi siapa pernah mendengar tentang ilmu silat Thai-san-pai? Dalam perayaan semacam ini, sudah sepatutnya Thai-san-pai memperlihatkan isinya. Biarlah aku menjadi orang pertama untuk belajar kenal dengan kelihaian ilmu siiat Thai-san-pai!”

Kong Bu bergerak dari bangkunya, juga Sin Lee mengepal tinju, akan tetapi Beng San. memberi isyarat kepada dua orang puteranya itu untuk menahan diri dan bersikap sabar, Kemudian ia menggapai kepada Oei Sun, murid kepala yang berdiri di rombongan para murid Thai-san-pai. Isyarat ini cukup dapat dimengerti oleh Oei Sun yang dengan langkah tenang lalu mnghampiri panggung, kemudian setelah menjura ke depan Beng San dan Li Cu, murid kepala ini lalu melompat ke atas panggung, menghadapi Lai Tang sambil tersenyum dan memberi hormat.

“Lai-kauwsu, atas perkenan ketua kami, saya diwajibkan melayani Kauwsu yang datang sebagai tamu dan kami Thai-sar-pai sebagai tuan rumah wajib melayani semua kehendak tamu. Harap Kauwsu ketahui bahwa Thai-san-pai di dirikan bukan sekali-kali bermaksud untuk menjagoi, terlebih-lebih pula sama sekali bukan didirikan dengan maksud mencari permusuhan dengan orang atau pihak manapun juga.”

“Ha-ha-ha!” Lai Tang tertawa bergelak. “Kalau begitu, apakah Thai-san-pai merupakan sebuah perkumpulan yang mengajar seni tari, ataukah kebatinan, apakah perkumpulan bermain judi? Apakah Thai-san-pai bukan perkumpulan silat?”

Merah muka Oei Sun mendengar ejekan ini, namun mulutnya masih tersenyum ramah dan tenang. “Lai-kauwsu, sudah tentu saja guru kami mendirikan sebuah perkumpulan silat dan Thai-san-pai adalah perkumpulan silat karena ketua seorang   ahli silat yang sudah dikenal oleh seluruh dunia. Akan sama sekali bukan perkumpulan silat yang mendidik murid-muridnya menjadi pongah dan sombong, dan semua anak murid Thai-san-pai mempelajari ilmu silat hanya untuk memenuhi kehendak guru dan memenuhi sumpah Thai-san-pai, yaitu mempergunakan kepandaian ilmu silat untuk memberantas kejahatan dan kelaliman, menegakkan kebenaran dan keadilan, mengabdi kebajikan, bukan untuk menjadi jagoan yang berlagak tengik!”

Lai Tang merasa disindir dan matanya melotot. “Bagus sekali! Kalau begitu ingin sekali aku menguji ilmu silat Thai-san-pai, apakah sudah cukup tinggi untuk membuat anak muridnya menjadi pendekar. Silahkan ketuanya maju, biar aku Lai Tang mohon sedikit pelajaran.”

Oei Sun juga sudah marah. “Lai-kauw-su, aku Oei Sun adalah murid Thai-san-pai dan Suhu sudah memerintahkan aku untuk melayanimu. Kalau kau sebagai tamu menghendaki pertandingan untuk menguji ilmu silat, silakan, aku bisa melayanimu.”

“Ah, begitukah? Nah, kau terimalah seranganku ini!” Lai Tang serta-merta menerjang dengan serangannya dan agaknya guru silat ini hendak mencapai kemenangan dalam waktu singkat karena begitu menerjang ia telah mainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan dan yang membuat ia dijuluki Si Cakar Naga, yaitu ilmu silat yana ia namakan Liong-Jiau-kang (Ilmu Cakar Naga). Ilmu silat ini dimainkan dengan kedua tangan terbuka, dan jari-jari tangan dipergunakan untuk mencengkeram sedangkan pukulan ditekukan oleh pangkal tangan. Disertai tenaga Iwee-kang yang kuat, Ilmu Liong-jiauw-kang ini memang berbahaya sekali karena selain memukul, kedua tangan itu dapat mencengkeram atau menangkap, Pada hakekatnya ilmu Liong-jiauw-kang ini tiada bedanya dengan Ilmu Eng-jiauw-kang, akan tetapi dasar Lai Tang orangnya sombong, ia mengadakan perubahan pada ilmu Silat Eng-jiauw-kang ini dan menganggap bahwa ilmu silat ini adalah ciptaannya, malah ia memakai julukan Si Cakar Naga segala!

Oei Sun adalah murid pertama dari Beng San. Biarpun bakatnya tidak amat baik, namun karena ketekunannya mempelajari ilmu silat selama belasan tahun, bahkan selama dua puluh tahunan ini, tentu saja ilmu silatnya sudah cukup tinggi. Beng San dan Li Cu memang tidak melihat bakat baik pada dirinya, namun Oei Sun memiliki kejujuran, kesetiaan dan keteguhan hati, dan suami isteri ini menemukan Oei Sun ketika pemuda ini di suatu dusun untuk menbela penduduk di situ, mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang perampok, padahal ia sama sekali tidak tahu ilmu silat. Sifat gagah dan jiwa ksatria inilah yang menarik hati Beng San dan Oei Sun tidak mempunyai sanak keluarga, lalu diajak ke Thai-san dan diberi pelajaran ilmu silat. Oei Sun amat setia dan ia malah sampai sekarang tidak pernah beristeri. Tentu saja Beng San tidak menurunkan ilmu-ilmu seperti Im-yang Sin-hoat atau ilmu silat isterinya Sian-li Kun-hoat kepada Oei Sun, hanya puteri mereka saja yang mewarisi kedua ilmu ini, namun Beng San mengajarnya Thai-san Kun hoat yang ia ciptakan bersama isterinya. Dalam Ilmu Silat Thai-san Kun-hoat ini terkandung beberapa pukulan-pukulan penting dari kedua ilmu silat di atas.

Melihat datangnya penyerangan Lai Tang yang cepat dan bertubi itu, Oei Sun dengan tenang menggeser kaki ke belakang dan beberapa kali ia mengelak dengan cepat sambil memperhatikan gaya permainan lawan. Memang beginilah sikap anak murid Thai-san-pai, kalau diserang lawan, tidak buru-buru membalas melainkan menangkis atau mengelak beberapa kali sambil memperhatikan gaya lawan untuk mencari kelemahannya. Pada hakekatnya, dasar ilmu silat Lai Tang tidaklah hebat, maka setelah mengelak lima kali saja Oei Sun sudah dapat mengetahui kelemahan lawan. Cengkeraman yang merupakan pokok penyerangan itu dilakukan dengan tangan bergerak dari depan dada sehingga siku lengan itu menjulur ke depan dan inilah kelemahah Lai Tang. Setelah mengelak dan menangkis beberapa belas jurus lamanya, Oei Sun mencari kesempatan. Pada saat ia mengelak dari cengkeraman tangan kanan, tangan kiri Lai Tang sudah siap, lengannya ditekuk dengan tangan kedepan dada. Saat itu Oei Sun cepat memukul ke depan, tepat pada siku kiri Lai Tang, mengarah jalan darah pada sambungan siku.

“Aduh…!” Lai Tang terhuyung mundur, mukanya pucat dan tangan kanannya memegangi siku kiri yang terlepas sambungannya oleh pukulan tadi!

Oei Sun menjura sambil tersenyum, “Terima kasih bahwa Lai-kauwsu sudah suka mengalah kepadaku.”

‘”Keparat jangan sombong, aku belum kalah!” teriak guru silat kasar Ini dan tangan kanannya tahu-tahu telah mencabut sebatang golok dari pinggangnya. Biarpun lengan kirinya sudah lumpuh karena sambungan sikunya terlepas ia masih dapat bergerak cepat dan goloknya menyambar ke arah leher Oei Sun. Semua orang terkejut melihat gerakan golok yang amat cepat datangnya, namun Beng San yang menonton dari kursinya hanya tersenyum tenang saja. Muridnya itu biarpun kurang berbakat, namun cukup teliti dan terlatih sehingga kalau hanya menghadapi seorang lawan kasar macam Lai Tang saja pasti takkan memalukan.

“Eh, Lai-kauwsu hendak main-main dengan senjata?” seru Oei Sun sambil menundukkan kepala dan menggeser ke kiri, tangan kanannya bergerak dan tercabutlah sebatang pedang dari pinggangnya. Ketika golok lawannya menyambar lagi dari samping, ia menangkis sambil menyelinap maju dan tahu-tahu pedangnya sudah melanjutkan tenaga tangkisan atau benturan itu merupakan tusukan ke arah lambung. Lai Tang dapat menangkis pula dan bertandinglah dua orang ini dengan seru. Harus dipuji juga keuletan Lai Tang. Lengan kiri yang lumpuh itu menghambat gerakan-gerakannya tak mau menyerah mentah-mentah dan goloknya yang digerakan dengan tenaga besar menyambar-nyambar ganas. Namun menghadapi ilmu pedang Oei Sun, jelas bahwa ia kalah setingkat. Ilmu pedang Thai-san-pai yang dimainkan Oei Sun adalah pecahan dari Im-yang Kiam-hoat dan Sian-li Kiam-hoat, hebatnya bukan kepalang, juga amat indah ditonton.

Belum sampai dua puluh jurus pandang mata Lai Tang menjadi kabur, kepalanya pening dan melihat lawan seakan-akan sudah berubah menjadi banyak sekali. Baiknya Oei Sun sebagai murid Beng San, bukanlah seorang kejam. Ketika mendapat kesempatan baik, ia berhasil menggurat pergelangan tangan kanan Lai Tang sehingga guru silat pongah ini sambil berteriak melepaskan goloknya dan darah bercucuran dari luka di pergelangan tangan, luka yang tidak berbahaya tapi cukup mengeluarkan banyak darah. Oei Sun sudah menyimpan pedangnya membungkuk untuk memungut goiok lalu menyerahkannya kepada Lai Tang sambil berkata,

“Terima kasih bahwa Lai-kauwsu sudah mengalah dua kali kepadaku. Lai Tang menerima goloknya memandang dengan mata mendelik, mendengus sekali lalu meloncat turun dari panggung, diiringi sorak sorai tamu yang memuji-muji Oei Sun. Di tengah sorak sorai itu, sebelum Oei Sun meloncat turun kelihatan bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu seorang tosu tua sudah berdiri di atas panggung menghadapi Oei Sun. Pendeta ini berjubah kuning ringkas, dan di punggungnya tampak gagang sebuah pedang. Sambil tersenyum ia menjura dan berkata,

“Kepandaian Sicu hebat, tidak kecewa menjadj  murid  Thai-san-pai.  Lebih-lebih ilmu pedang tadi, amat indah dilihat sungguhpun kegunaannya belum tentu sehebat keindahannya! Sicu, maukah kau memperlihatkan ilmu pedang Thai-san-pai kepada pinto (aku)?”

Melihat tosu ini, Beng San mengerutkan alisnya. Ia mengenal tosu itu yang bukan lain adalah Koai-sin-kiam Oh Tojin, dahulu pun pernah membantu Tan Beng Kui, kakaknya. Dari julukannya saja, Koai-sin-kiam (Pedang Sakti Aneh), dapat diduga bahwa tosu ini adalah seorang ahli pedang dan seingat Beng San muridnya itu takkan menang menghadapi tosu ini yang lebih tinggi tingkatnya. Akan tetapi, melihat bahwa muridnya itu tidak menolak tantangan tosu itu, sudah tentu saja ia tidak dapat menyuruh muridnya mundur sebelum mereka bergerak. Ia hanya memandang dengan alis berkerut. Adapun Oei Sun, sebetulnya dia adalah seorang yang cukup mempunyai kesabaran. Andaikata dia yang dihina orang kiranya ia takkan mudah menjadi marah. Akan tetapi ucapan tosu itu tadi merupakan penghinaan bagi Thai-san-pai, merupakan ucapan memandang rendah ilmu pedang Thai-san-pai, maka ia menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk menjaga nama baik suhunya dan partainya. Ia pun balas memberi hormat dan berkata,

“Tentu saja sebagai tamu Totiang berhak meminta sesuatu dan sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayanimu. Akan tetapi, siapakah Totiang ini, hendaknya sudi memberi nama yang benar agar aku, Oei Sun murid Thai-san-pai, dapat terbuka mata dan mengenalnya.”

“Ha-ha-ha-ha, kau orang muda yang pandai merendah, Oei-sicu. Bagus, karena sikapmu inilah kau akan selamat dari tanganku. Ketahuilah, pinto adalah Oh Tojin, bergelar Koai-sin-kiam. Seperti kau ketahui, dari julukan pinto itu sudah sepatutnya pinto tertarik akan ilmu pedang. Nah, pergunakanlah pedangmu untuk menyerang, agar pinto dapat merasai kelihaian ilmu pedang Thai-san-pai!”

Tanpa banyak cakar lagi Oei Sun mencabut pedangnya. “Harap Totiang suka mengeluarkan pedang Totiang”

“Ha-ha-ha!” tosu itu tertawa dengan sikap jumawa sekali. “Sudah kukatakan tadi, sikapmu menolongmu. Pinto tidak perlu menggunakan pedang karena sekali menggunakan pedang, tentu kau celaka. Jangan ragu-ragu, kau pergunakanlah pedangmu.”

Oei Sun mendongkol sekali. “Totiang sendiri  yang  minta, harap jangan menyesal. Lihat pedang!” Pedangnya berkelebat menyambar dan tosu itu dengan gerakan yang baik dan cepat sekali telah berhasil menghindarkan diri.

Oei Sun menyerang terus dengan hati-hati, namun benar-benar tosu di depannya ini tidak dapat dipersamakan dengan Lai Tang yang sombong tadi. Gerakan tosu ini ringan sekali dan berdasarkan ilmu silat yang tinggi. Geseran-geseran kakinya teratur dan biarpun bertangan kosong, belum pernah pedang Oei Sun dapat menyentuh bajunya.

“Hemmm, Oei Sun terlalu sungkan, kalau ia bersungguh melakukan serangan maut, tosu badut itu tentu akan repot,” kata Li Cu yang duduk di sebelah kiri suaminya.

Beng San mengangguk. “Memang, mendengar bahwa tosu itu tidak akan mencelakakannya, cukup membuat Oei Sun sungkan, melukainya juga. Kesalahan besar, terhadap orang yang begitu tinggi hati harus memberi hajaran. Betapapun juga, Oei Sun bukanlah lawannya.”

Tosu itu benar-benar mempermainkan lawannya. Sambil mengelak dan meloncat ke sana ke mari, mulutnya terus mengoceh. “Ah, jurus ini seperti jurus Hoa-san-pai. Orang muda, sudah banyak ku ketahui tentang ilmu pedang, banyak yang kelihatannya indah dan bagus tapi tidak berisi, seperti misalnya ilmu pedang Hoa-san-pai itu. Memang bagus dipandang, tapi kalau dipergunakan dalam pertempuran, tidak ada gunanya.” Ia mengelak ke kiri dan menyambung. “Seperti jurusmu.. ini, apa gunanya. Lihat inilah gerakan istimewa yang disebut Udang Sakti Mencapit Ikan!”

Pada saat itu, pedang Oei Sun menyambar dari atas ke bawah membacok pundaknya. Oh Tojin miringkan tubuh dan pada saat pedang itu menyambar di dekat tubuhnya, tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu punggung pedang benar-benar telah di “capit” oleh dua buah jari tangannya yang telah ditekuk. Hebatnya, betapapun Oei Sun berusaha membetot kembali pedangnya, ia tidak, berhasil karena capitan atau jepitan kedua jari tangan yang ditekuk itu benar-benar amat kuat seperti jepitan baja!

“Ha-ha-ha, inilah jurus saktiku, Oei-sicu. Tangan kirimu masih bebas, apakah kau hendak memukul? Bisa, tapi jagalah capit saktiku,” kata tosu itu sambli tertawa-tawa.

Oei Sun tentu saja tidak mau mengalah secara demikian. Biarpun pedangnya sudah dijepit dan tak dapat ia tarik kembali, namun ia belum boleh dibilang kalah. Mendengar tantangan ini, ia lalu menggerakkan tangan kirinya memukul bukan ke arah tubuh tosu itu melainkan ke arah tangan yang menjepit pedangnya. Usaha ini ia lakukan agar tangan itu suka melepaskan jepitannya dan pedangnya dapat terlepas. Akan tetapi sekarang tosu itu menggerakkan tangan kirinya pula dan… “capp” lengan tangan Oei Sun pada pergelangannya kena dijepit pula sehingga sekarang Oei Sun tak dapat menggerakkan kedua lengannya sama sekali! Jepitan pada pergelangan itu mengakibatkan rasa nyeri yang menusuk jantung

“Ha-ha, Oei-sicu, apakah kau belum menerima kalah?”

Oei Sun adalah murid seorang pendekar sakti, mana bisa dia menyerah kalah sebelum roboh? Ia menggeleng kepala, lalu kaki kanannya bekerja, menendang keras ke depan. Tapi tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang dan karena kakinya sedang menendang, otomatis ia terjengkang dan roboh, pedangnya masih dalam jepitan tangan tosu lihai itu yang tertawa-tawa bergelak. Sekali tangan kanannya bergerak, pedang yang dijepit itu sudah menancap ke atas papan panggung sampai setengahnya!

Oei Sun merayap bangun, berdiri dan menjura kepada tosu itu, “Aku Oei Sun mengaku kalah, tingkat Totiang lebih tinggi daripadaku.” Setelah berkata demikian, Oei Sun mengerahkan tenaga mencabut pedangnya dan meloncat turun, memberi hormat kepada suhunya dengan wajah muram.

Beng San hanya menegurnya singkat, “Lain kali jangan terlalu sungkan berhadapan dengan lawan, Oei Sun!” Murid itu mengangguk dan berdiri di pinggiran.

Pada saat itu, Li Eng sudah di depan Beng San dan berkata,  “Paman, aku akan menghadapi Si Sombong itu!” Anehnya, ia berlari-lari menghampiri panggung berdua dengan Hui Cu. Beng San tidak keberatan, namun terheran-heran dan ingin mencegah dua orang gadis itu naik bersama. Apa maksud Li Eng? Apakah hendak mengeroyok? Adanya Beng San memberi persetujuan, karena ia maklum akan isi hati gadis itu. Tadi Oh Tojin menyebut-nyebut dan memburuk-burukkan nama Hoa-san-pai, sudah sepatutnya kalau gadis itu membela nama baik perguruannya dan ia maklum bahwa dengan kepandaiannya itu, Li Eng sudah pasti akan dapat mengatasi Oh Tojin. Akan tetapi, kalau gadis itu hendak maju berdua mengeroyok Oh Tojin, ah, hal itu amat memalukan Hoa-san-pai! Sebelum ia sempat mencegah, dua orang gadis itu sudah melompat ke atas panggung dengan gerakan ringan dan cepat, khas gerakan Hoa-san-pai.

Pada saat itu, para tamu sedang bersorak dan bertepuk tangan memuji Oh Tojin. Tosu ini setelah mendengar Pujian orang, menjadi girang sekali dan lagaknya  dibuat-buat. Ia  menjura  ke empat penjuru dan berkata nyaring,

”Tidak ada harganya untuk dipuji! Pinto belum memperlihatkan kepandaian karena menghadapi seorang lemah, mana ada kesempatan memperlihatkan kepandaian aseli?”

Akan tetapi tepuk tangan makin bergemuruh dan ia mengira bahwa orang-orang itu memuji-muji dia, tidak tahunya yang disoraki adalah gerakan dua orang gadis muda yang cantik-cantik dan yang gerakannya benar-benar mengagumkan itu. Ia cepat menoleh, memandang dan senyumnya melebar.

“Aha, kiranya Thai-san-pai mempunyai pula murid-murid wanita yang cantik dan pandai! Tentunya kalian lebih pandai daripada Oei Sun tadi. Akan tetapi kalian maju berdua, ini bagus sekali. Memang sepatutnya… bagus sekali kalian maju berdua jadi berimbang dan agar jangan dikatakan bahwa aku orang tua mau menang sendiri. Ha-ha-ha!”

Li Eng tertawa-tawa dan Hui Cu yang pendiam hanya berdiri tegak. Tadi memang Li Eng yang membisikkan akalnya untuk menggoda tosu ini. Sebenarnya ia tidak setuju, akan tetapi karena ia maklum akan kenakalan Li Eng dan pula memang ia mendongkol mendengar betapa tosu ini menghina Hoa-san-pai, di samping kepercayaannya akan kelihaian Li Eng, maka ia menuruti kehendak adiknya itu.

“Eh, tosu tua yang bernama Oh Tojin berjuluk Koai-sin-kiam! Kami berdua ini juga menjadi tamu-tamu Thai-san-pai dan kami naik ke sini karena kau tadi menyingung nama Hoa-san-pai, perguruan kami!”

“Ha-ha-ha, anak murid Hoa-san-pai, ya? Aha, kalian naik mau apakah? Jangan main-main, biarpun ilmu pedang Thai-san-pai yang diperlihatkan bocah tadi tidak berapa hebat, akan tetapi kalau ditandingi dengan ilmu pedang Hoa-san-pai saja kiraku belum tentu kalian akan dapat mengalahkan.” Tosu itu memotong ucapan Li Eng.

“Bukan begitu, Totiang. Kami berdua tadi mendengar ocehanmu tentang keburukan ilmu pedang Hoa-san-pai yang hanya indah dilihat tetapi tidak ada gunanya. Apakah betul begitu anggapanmu?”

Oh Tojin gelagapan mendengar pertanyaan ini. Sebetulnya ia berani mencela Hoa-san-pai, karena ia tidak melihat adanya tokoh-tokoh Hoa-san-pai di tempat itu. Sekarang muncul dua orang gadis muda ini yang mengaku sebagai murid Hoa-san-pai, sedangkan ia sudah terlanjur mengeluar kata-kata mencela ilmu pedang Hoa-san-pai, terpaksa ia tidak dapat mundur lagi.

“Kalau betul begitu, kalian mau apakah? Apakah kalian bisa membuktikan bahwa ucapanku tadi tidak benar?” tantangnya sambil pringas-pringis.

Li Eng tersenyum, bukan main manisnya kalau dia tersenyum sambil mainkan kedua matanya itu. “Totiang, tentang keburukan ilmu pedang Hoa-san-pai, kami sendiri tidak akan menyombong dan aku yang muda tidak berani membantah. Akan tetapi gerakanmu tadi ketika menjepit pedang Oei-Enghiong agaknya tidak menang hebatnya dengan jurus Hoa-san-pai yang bernama Kepiting Sakti Mencapit Ikan!”

Tosu itu melengak. “Tidak bisa jadi! Ilmu mencapit dengan dua buah jari itu adalah  ciptaanku, mana bisa Hoa-san-pai memiliki ilmu seperti itu? Dan bukan kepiting melainkan udang sakti. Jangan kau main-main!”

“Hi-hik, siapa main-main? Kau mau bukti? Lihatlah! Eh, Enci Hui Cu, kau cabut pedangmu dan bacok aku seperti yang dilakukan Oei-enghiong tadi!” kata Li Eng kepada Hui Cu. Mau tidak mau Hui Cu menahan ketawanya sehingga ia tersenyum-senyum lalu mencabut pedangnya dan dengan gerakan perlahan dan lambat sekali ia membacok ke arah Li Eng. Dengan lagak dibuat-buat seperti lagak tosu tadi, Li Eng mengelak dan ketika pedang itu begitu lambat menurun di dekatnya ia lalu mencapit pedang itu dengan kedua jari tangannya yang ditekuk. Gerakannya begitu persis dengan gerakan tosu tadi, akan tetapi karena baik bacokan maupun jepitan dilakukan perlahan dan lambat sekali, terang bahwa dua orang gadis cantik itu mempermainkan Si Tosu. Meledaklah suara ketawa para tamu, bahkan para tokoh-tokoh besar yang melihat pertunjukan ini tidak dapat menahan ketawa mereka. Benar-benar seorang bocah yang nakal sekali, pikir mereka. Li Cu tak dapat menahan ketawanya, menutupi mulut dengan saputangannya, sedangkan Beng San tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Cui Bi terkekeh-kekeh memegangi perut, juga Sin Lee dan Kong Bu terbahak-bahak. Hanya Kun Hong yang menggeleng-geleng kepala sambil menggerutu. “Kurang ajar sekali dia… kurang ajar sekali….”

Sementara itu, Oh Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi. “Anak setan, apakah kau sengaja hendak menghina pinto?”

“Aih-aih, siapa menghina, keledai tua? Siapa yang tadi mengatakan bahwa Hoa-san-pai memiliki ilmu pedang yang tiada gunanya? Kau yang menghina perguruan kami, sekarang kau berbalik Bilang kami yang menghina. Hemm, sungguh tak tahu malu, tosu bau hidung kerbau!” Memang Li Eng nakal dan pintar bicara, hal ini sudah pernah dialami oleh Kong Bu yang pada saat itu hampir terpelanting dari kursinya saking tertawa bergelak-gelak melihat lagak kekasihnya mempermainkan tosu sombong itu.

“Perempuan sombong, bocah setan apakah kau berani menghadapi pedangku?” Sambil berkata demikian Oh Tojin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkan pedangnya supaya cahayanya berkilau tertimpa sinar matahari.

Li Eng memperlihatkan sikap ketakutan. “Wah-wah, Enci Hui Cu, lebih baik kau lekas turun panggung, jangan-jangan keserempet pedang. Pedang tajam di tangan orang mabuk yang tidak mampu main pedang, benar-benar lebih berbahaya daripada di tangan seorang yang baru belajar.”

Sambil tersenyum-senyum saking gelinya Hui Cu melayang turun dari atas panggung lalu menghampiri kembali tempat duduknya, disambut tertawa lebar, semua orang yang duduk di pihak Thai-san-pai. Juga para tamu tadi terpingkal-pingkal menyaksikan ini, sehingga tempat itu benar-benar menjadi meriah seakan-akan di situ terdapat pertunjukan lawak-lawak yang pandai mengocok perut.

Kemarahan Oh Tojin tak dapat ditahannya lagi. “Bocah setan, kau bersiaplah menghadapi pedangku. Hemm, kalau aku tidak bisa memberi hajaran kepadamu, jangan sebut aku Koai-sin-kiam lagi!”

“Eh, betulkah? Nah, biarlah kau berkenalan dengan ilmu pedang Hoa-san-pai yang kelihatan indah tapi tak berguna ini. Awas pedang!”

Tosu itu tercengang, juga para tamu karena gadis itu mengancam “awas pedang” akan tetapi belum kelihatan memegang pedang. Tiba-tiba, belum juga hilang keheranan Oh Tojin, tahu-tahu di depan mukanya berkelebat sinar seperti kilat diikuti hawa pedang yang dingin menyambat hidungnya!

“Ayaaa….” ia berseru kaget dan cepat ia mencelat ke belakang sambil menyabet-nyabetkan pedangnya ke depan untuk menjaga diri. Ia masih berjumpalitan sambil menyabet-nyabetkan pedang dan baru berani turun ketika ia tidak merasa adanya desakan. Ketika ia berdiri kembali, ia mendengar suara tertawa ramai. Kiranya gadis itu masih berdiri ditempatnya yang tadi hanya sekarang tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Hebat, pikirnya dengan hati kecut. Jurus apa yang diperlihatkan gadis ini tadi? Ia berlaku hati-hati dan tanpa menyombong lagi ia berkata,

“Majulah, aku telah siap menghadapi pedangmu.”

Li Eng tersenyum mengejek. Tiba-tiba terdengar seruan orang, “Tahan dulu.”

Dua orang itu memandang, juga semua tamu. Kiranya Kun Hong yang berseru itu dan pemuda ini menaiki anak tangga yang menuju ke panggung dengan tergesa-gesa. Dari tempat duduknya tadi, Kun Hong sudah menyaksikan kepandaian Oh Tojin dan maklum bahwa menghadapi Li Eng, tosu itu takkan menang. Ia cukup mengenal pula watak Li Eng yang selain jenaka dan nakal, juga keras hati. Mendengar bahwa Hoa-san-pai dihina orang, ia kuatir kalau Li Eng mendendam dan menjatuhkan tangan besi kepada tosu itu, maka tanpa dipikir panjang ia lalu berseru menahan pertempuran dan naik ke panggung, tidak dengan cara meloncat seperti yang lain, melainkan lari melalui anak tangga.

“Eng-ji, kau hendak bermain pedang dengan totiang ini, hati-hati jangan kau membunuhnya. Kau tahu aku tidak suka kau membunuh orang!”

Li Eng tertawa, “Jangan kuatir, Paman Hong. Aku tidak akan membunuh orang ini.”

“Juga tidak melukai secara hebat.”

“Tidak, aku hanya ingin membuat dia kapok supaya tidak menghina Hoa-san-pai lagi.”

Sementara itu, semua orang yang mendengarkan percakapan ini menjadi bengong dan terheran-heran sejenak, lalu meledaklah suara ketawa mereka. Sikap Kun Hong seakan-akan seorang nenek bawel yang memberi nasehat cucunya, justeru sikap kedua orang ini menimbulkan kesan bahwa mereka amat memandang rendah kepada Oh Tojin. Kalau sampai pemuda halus itu melarang gadis keponakannya membunuh atau melukai berat kepada tosu itu, bukankah itu hanya boleh diartikan bahwa Si Pemuda ini sudah yakin akan kemenangan keponakannya? Inilah yang lucu dan tentu saja Oh Tojin menjadi marah dan mendongkol sekali.

Dari tempat duduknya, Beng San berbisik kepada Li Cu,

“Kulihat Kun Hong ini benar-benar seorang pemuda yang luar biasa wataknya, dan halus budi pekertinya.”

Li Cu tersenyum. “Dia seperti bayanganmu di waktu kau masih muda.” Kedua suami isteri itu saling pandang lalu tersenyum.

Sementara itu, Kun Hong lega hatinya dan kembali ia menuruni anak tangga meninggalkan panggung, Oh Tojin membanting-banting kakinya.

“Orang-orang Hoa-san-pai memang benar-benar sombong sekali! Kau tidak boleh membunuhku, tidak boleh melukai aku? Lihat, sebaliknya pintolah yang akan merobohkanmu dalam beberapa jurus saja. Lihat pedangku!” Pedangnya berkelebat menyambar ke arah Li Eng dengan gerakan yang penuh kemarahan. Tapi ia tertegun karena selain pedangnya mengenai angin belaka, juga gadis di depannya itu telah lenyap dari depan matanya. Selagi ia bingung, ia mendengar suara ketawa lirih di belakangnya. Cepat ia membalik sambil mengayun pedang menyerang lagi. Tapi kembali ia kehilangan lawannya yang ternyata dengan gin-kang yang luar biasa telah lenyap dan sudah berada di belakangnya. Berkali-kali ia menyerang tapi hasilnya sama dan tak pernah ia dapat melihat lawannya yang cepat sekali gerakannya, seperti setan. Suara ketawa dan seruan kagum terdengar di sana sini ketika para tamu menyaksikan gerakan tubuh gadis itu yang memang luar biasa cepatnya, melebihi cepatnya gerakan pedang lawan. Tosu itu mulai marah, tapi diam-diam hatinya mengecil,

“Hai, bocah setan. Jangan hanya melarikan diri, bertandinglah secara berdepan kalau kau memang laki-laki!”

“Hi-hik, tosu bau, apakah kau sudah-gila? Aku memang seorang wanita, bukan seorang laki-laki!” Suara ketawa makin riuh-rendah menyambut kelakar ini dan wajah Oh Tojin makin merah. Kini ia melihat gadis itu berdiri tegak di depannya dan ketika ia menyerang lagi, Li Eng sengaja tidak mau mengelak melainkan menggunakan pedangnya untuk menangkis dan balas menyerang. Ia sengaja mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya berkelebat cepat seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam belasan jurus saja Oh Tojin terdesak hebat, mengelak dan menangkis ke sana ke mari tanpa dapat membalas sedikitpun juga.

“Tosu bau, kau bilang ilmu pedang Hoa-san-pai tiada gunanya? Nah, rasakanlah ilmu pedang yang kumainkan ini inilah Hoa-san Kiam-hoat!”

Oh Tojin memang pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa-san-pai, akan tetapi selama hidupnya tak pernah ia mengira bahwa Hoa-san Kiam-hoat dapat dimainkan seperti ini hebatnya. Diam-diam ia terkejut dan menyesal sekali. Wajah yang tadinya merah sekarang menjadi pucat, napasnya terengah-engah dan makin sibuklah ia menangkis hujan ujung pedang yang tak terhitung banyaknya itu.

“Koai-sin-kiam Oh Tojin, jagalah serangan ilmu pedang Hoa-san-pai ini!” gadis itu berseru keras dan pedangnya makin hebat menekan. Oh Tojin berteriak kaget, jenggotnya terbabat putus dan beterbangan ke bawah dan pada detik berikutnya ia memekik kesakitan, tangannya berdarah dan pedangnya terlepas dari pegangan! Sambil mengerang kesakitan tosu ini melompat turun dari panggung dan terus melarikan diri tanpa menoleh lagi. Terdengar sorak-sorai riuh-rendah, sebagian menyoraki tosu yang lari itu, sebagian lagi bersorak karena melihat Li Eng memperlihatkan pertunjukan hebat, yaitu pedangnya sudah dapat menyambar pedang tosu itu dan pedang lawan itu sekarang terputar-putar seperti kitiran di ujung pedangnya! Melihat lawannya lari tunggang-langgang, Li Eng berseru,

“Oh Tojin, ini pedangmu, terimalah kembali….!” Sekali ia mengerakkan pedang di tangannya, maka pedang lawan yang tadinya berputar cepat seperti kitiran itu terlempar melayang ke arah Oh Tojin yang sedang berlari. Hebat sekali bidikan Li Eng karena dengan tepat gagang pedang itu menimpa kepala orang dan jatuh ke bawah. Sejenak Oh Tojin pucat saking kagetnya akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa kepalanya tidak bocor, ia cepat memungut pedangnya dan terus melarikan diri meninggalkan tempat itu diikuti gelak tawa para penonton.

Gelak tawa para penonton sirap kembali ketika mereka melihat seorang tosu tua telah meloncat ke atas panggung. Tosu ini pun berpakaian kuning dan rambutnya panjang digelung ke atas. Biarpun pakaiannya kuning sederhana sebagai tosu, namun rambutnya dihias dengan lima bunga teratai dan pada bajunya terdapat tanda-tanda jasa dari istana. Inilah Thian It tosu, seorang di antara tujuh orang pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti, juga seorang tokoh Ngo-lian-kauw dan pernah menjadi tangan kanan Kim-thouw Thian-Li. Melihat naiknya tosu ini, Kun Hong yang mengenalnya menjadi tidak enak hatinya, lalu berkata perlahan tapi cukup keras untuk didengar oleh Beng San,

“Heran betul, dia itu seorang di antara pengawal-pengawal istana Pangeran Mahkota, mau apa ke sini?”

Kagetlah Beng San mendengar ucapan Kun Hong ini dan ia memandang penuh perhatian. Ia maklum dari tanda bunga teratai itu bahwa tosu ini adalah seorang tosu Ngo-lian-kauw, akan tetapi apakah munculnya ini sebagai tokoh Ngo-lian-kauw, ataukah sebagai pengawal istana Pangeran? Tosu itu telah menjura kearah tuan rumah dan berkata, suaranya rendah parau membayangkan Iwee-kang tinggi,

“Pinto Thian It Tosu ingin sekali berkenalan dengan ilmu silat Thai-san-pai. Syukur kalau Ketua Thai-san-pai sendiri berkenan memberi petunjuk karena pinto sudah lama mendengar nama besarnya”

Sin Lee segera menghadap Ayah, “Ayah, biarlah saya menghadapi tosu ini.”

Beng San mengangguk. Ia pun ingin memperkenalkan putera-puteranya kepada para tokoh kang-ouw yang datang dari pelbagai tempat itu. “Boleh, kau hati-hatilah, dia itu seorang Ngo-lian-kauw, pandai menggunakan senjata rahasia dan pandai ilmu sihir, biasanya curang, maka kau yang waspada. Juga karena dia orang istana, jangan sampai membunuh.”

Sin Lee mengangguk dan ketika kakinya mengenjot tanah, tubuhnya dari tempat itu langsung melayang ke atas panggung dengan kedua lengan tangan dikembangkan. Sorak-Sorai menyambut kehadirannya dan Thian It Tosu kaget sekali menyaksikan cara melompat yang sepertl burung raksasa ini. Ia memandang pemuda tanpan gagah itu penuh selidik, lalu menegur,

“Orang muda, caramu meloncat tadi tidak sama dengan gaya loncatan para anak murid Thai-san-pai tadi. Siapakah kau dan pinto menantang Thai-san-pai atau ketuanya, kenapa kau yang maju?”

“Thian-It Tosu, memang betul wawasanmu aku bukan anak murid Thai-san-pai, akan tetapi Ketua Thai-san-pai adalah ayahku dan karena kau tadi menantang ayahku, sudah sepatutnya kalau aku mewakilinya untuk menghadapimu. Thian-It Tosu, kau sendiri sekarang ini berdiri di sini mewakili siapakah? Kalau kau sebagai tokoh Ngo-lian-kauw datang menantang, bukanlah hal aneh dan akan kulayani. Akan tetapi karena aku mendengar bahwa kau telah menjadi seorang pengawal istana Pangeran Mahkota, maka kedatanganmu ini sebagai pangawal Istana, harap kau turun lagi saja. Kami orang-orang dunia persilatan tidak mempunyai urusan dengan kaki tangan kota raja.

Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini, tanda bahwa sebagian besar orang kang-ouw memang tidak melibatkan diri dengan orang-orang pemerintah. Wajah Thian It Tosu menjadi merah karena sekaligus pemuda ini membuka kedoknya.

Pada saat itu terdengar lengking tinggi dan di atas panggung berkelebat bayangan orang, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang yang tua sekali. Alangkah kaget gentarnya semua tamu ketika mengenal nenek ini sebagai tokoh yang dianggap manusia iblis, bukan lain adalah Hek-hwa Kui-bo!

“Berikan dia padaku! Dia pembunuh muridku!” teriaknya dengan suara parau.

Akan tetapi, kembali orang-orang tercengang karena tanpa mereka lihat datangnya, tahu-tahu Ketua Thai-san-pal sudah berdiri di situ pula menghadapi Hek-hwa Kui-bo. Beng San berdiri tegak dengan sepasang mata berkilat-kilat, lalu berkata kepada Hek-hwa Kui-bo,

“Kui-bo, pertemuan ini kuadakan dengan peraturan dan kesopanan. Kalau kau mempunyai penasaran tunggulah giliranmu, harap jangan mengacau. Mundurlah!” Sinar mata Beng San berkilat seperti halilintar menyambar sehingga Hek-hwa Kui-bo gentar juga menghadapi sikap musuh lamanya ini. Ia meragu. Ia tahu betul bahwa orang ini telah terluka hebat dalam pengeroyokan kemarin dulu, akan tetapi mengapa sekarang masih dapat meloncat seperti terbang saja cepatnya? Untuk menutupi kegugupannya, ia tertawa,

“Hi-hik, Beng San, betul juga katamu. Baiklah aku menanti giliranku.” Sambil tertawa-tawa ia lalu melayang turun dan sekejap mata saja ia sudah lenyap entah ke mana. Juga Beng San dengan tenang meloncat turun dan kembali ke tempat duduknya. Semua tamu menahan napas, terhadap tokoh seperti Hak-hwa Kui-bo tentu saja tak seorang pun berani mentertawai. Keadaan makin tegang setelah mereka ketahui bahwa ternyata tempat itu dihadiri pula oleh tamu-tamu tak kelihatan sehebat Hek-hwa Kui-bo. Siapa tahu masih banyak lagi tokoh-tokoh aneh seperti ini. Karena nenek itu tidak kelihatan lagi, maka perhatian para tamu dialihkan kembali ke ataa panggung, kepada tosu Ngo-lian-kauw dan pemuda yang mengaku putera Ketua Thai-san-pai itu.

Tosu itu memandang rendah kepada Sin Lee, lalu berkata,

“Menjawab pertanyaanmu tadi, orang muda, pinto datang ini boleh dibilang atas nama pribadi, juga boleh disebut mewakili Ngo-lian-kauw, apalagi mendengar tadi bahwa ketua kami tewas di tanganmu. Sebagai pengawal istana aku pun mempunyai urusan, yaitu mengejar larinya tiga orang buronan dari kota raja!” Tosu itu dengan mata tajam memandang ke arah tiga anak murid Hoa-san-pai yang duduk di rombongan tuan rumah.

“Kalau yang kau maksud dengan ketuamu itu adalah Kim-thouw Thian-li, aku Tan Sin Lee tak merasa telah membunuhnya. Akan tetapi kalau toh ia mampus oleh pukulanku, hal itu pun aku tidak menyesal karena itu berarti bahwa aku telah melenyapkan seorang jahat, Tentang kau mengejar buronan bukanlah urusanku. Nah, kalau memang kau hendak membalas sakit hati ketuamu, kau majulah!

Thian It Tosu memang sudah mendengar bahwa Ketua Ngo-lian-kauw tewas dalam tangan beberapa orang muda akan tetapi ia tidak tahu siapakah pembunuhnya. Tadi Hek-hwa Kui-bo muncul dan menerangkan bahwa pemuda ini adalah pembunuh ketuanya, maka tentu saja ia menjadi marah dan ingin membalas dendam. Ia tidak berani memandang rendah lagi karena kalau pemuda ini mampu merobohkan Kim-thouw thian-li berarti dia tentu lihai sekali.

Apalagi kalau diingat bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Thai-san-pai. Tosu ini lalu melolos keluar sebatang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencabut hiasan rambutnya yang berupa lima bunga teratai itu. Hiasan rambut ini terbuat dari benda berwarna putih, merupakan lima buah kembang yang atasnya tertutup rapi berbentuk runcing, dan sekarang gagangnya dipegang oleh tangan kiri tosu itu.        Mengingat akan nasehat ayahnya tadi, Sin Lee bersikap waspada dan tidak berani memandang remeh kepada hiasan rambut ini yang melihat ukuran dan bentuknya, bukanlah merupakan senjata yang baik. Sambil mengeluarkan teriakan keras tosu itu menyerangnya dengan pedang, namun Sin Lee cepat mengelak sedangkan pedangnya sendiri lalu menukik dari atas kiri menusuk pundak lawan.

Thian It Tosu terkejut dan maklum bahwa lawannya ini biarpun masih muda ternyata memiliki gerakan cepat dan ilmu pedang yang aneh namun berbahaya sekali. Ia pun segera bertempur seru, makin lama makin cepat. Baru belasan jurus saja Thian It Tosu maklum bahwa ilmu pedang pemuda itu benar-benar luar biasa dan ia sudah terdesak hebat. Tiba-tiba tangan kirinya telah menjepit sebuah kembang buatan itu dan melesatlah jarum-jarum halus ke arah lawannya.

Sin Lee mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mendadak mencelat ke atas, demikian cepat gerakannya seperti gerakan seekor burung dan semua senjata rahasia halus yang tak dapat dilihat mata itu lewat di bawah kakinya.

Dari atas Sin Lee membalas pedangnya meluncur turun menyerang kepala tosu itu. Hal ini benar-benar tak pernah diduga oleh Thian It Tosu yang tadinya mengharapkan penyerangannya akan berhasil, siapa duga bahwa orang yang diserang secara mendadak itu malah menyerang dari atas. Terpaksa untuk menyelamatkan dirinya karena menangkis sudah tidak ada waktu lagi, tosu ini membanting tubuh ke belakang dan bergulingan menjauhi kejaran pedang lawan. Ia meloncat bangun dan kini ibu jari dan telunjuknya menjepit bunga teratai kedua. Terdengar suara ledakan kecil dan dari tangan kirinya itu menyambar asap hitam ke arah muka Sin Lee. Pemuda ini tidak kurang waspada, cepat ia melompat ke samping, cukup jauh agar tidak terkena pengaruh asap beracun itu, sambil menahan napas lalu meniup ke arah asap itu sehingga buyar!

“Tosu curang!” Sin Lee berseru keras dan pedangnya kini berkelebatan seperti kilat mencari korban. Ia sedikit pun tidak memberi kesempatan kepada tosu itu untuk mempergunakan senjata rahasianya lagi, malah ia mengincar tangan kiri yang memegang bunga-bungaan itu, yang dianggapnya lebih berbahaya daripada pedang di tangan kanan. Thian It Tosu berusaha melawan, namun akhirnya ia berteriak keras ketika ujung pedang Sin Lee mengancam pergelangan tangan atau jari-jari tangan kirinya. Terpaksa ia menarik tangannya, tapi terdengar suara “crakk!” dan hiasan rambut itu kini tinggal gagangnya saja yang berada di tangannya.

Sin Lee mengeluarkan suara menghina dan kakinya menendang bunga-bungaan itu ke bawah panggung.

“Nah, marilah kita bertanding pedang secara laki-laki, tidak main curang!” seru Sin Lee, perlahan-lahan maju menghampiri tosu yang berdiri dengan muka pucat itu.

Akan tetapi Thian It Tosu tidak segera menggerakkan pedangnya. Ia hanya berdiri tegak, mukanya pucat, matanya terbelalak memandang lawan, bibirnya komat-kamit.

“Hayo, majulah, apakah kau takut?” Sin Lee mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya, siap menanti penyerangan lawannya. Akan tetapi tosu itu tetap tidak bergerak, dan mulutnya tetap bergerak-gerak. Orang lain tidak ada yang mendengar suaranya, namun tiba-tiba Sin Lee mendengar suara yang seakan-akan datang dari dasar bumi suara yang penuh kekuasaan, penuh pengaruh, yang berbisik-bisik dan mendesis-desis,

“Sin Lee, pandang baik-baik pinto siapa! Pinto adalah pendeta, kau takkan menang melawan pinto, baru melihat saja kau sudah pening, tenagamu lemah, pikiranmu kacau….” Ucapan ini diulang-ulang. Mula-mula Sin Lee hendak mentertawakannya, akan tetapi ia mulai bingung dan gugup karena tiba-tiba ia merasa kepalanya pening.

Pada saat itu Thian It Tosu sudah menyerangnya dan ia cepat menangkis, akan tetapi benar-benar ia makin gelisah karena tenaganya serasa amat lemah kepalanya makin pening dan pikirannya menjadi kacau-balau, malah mulai agak ketakutan! Samar-samar Sin Lee teringat akan nasihat ayahnya bahwa tosu ini adajah seorang ahli sihir, ia mengerahkan semangat hendak melawan, namun ternyata ia telah masuk dalam perangkap dan telah terpengaruh sehingga usahanya sia-sia belaka karena pikirannya sudah kacau. Para penonton terheran-heran betapa sekarang tosu itu melakukan penyerangan dengan pedangnya sedangkan Sin Lee hanya  menangkis dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Beng San duduk menegang di kursinya, dahinya berkerut, alisnya bergerak-gerak, sinar matanya berkilat. Ia dapat menduga apa yang terjadi dan siap untuk menolong puteranya jika terancam bahaya maut.

Pada saat itu Kun Hong berlari-lari ke bawah panggung, setelah dekat panggung ia menggunakan tangannya menggebrak-gebrak panggung sambil berkata nyaring,

“He, pendeta murtad! pendeta penuh dosa, pendeta nyeleweng!”

Orang-orang mulai tertawa menyaksikan sikap pemuda ini dan Thian It Tosu yang sudah mulai gembira melihat hasil ilmu hitamnya, kini terpecah perhatiannya dan marah sekali.

Ketika mendapat kesempatan, Selagi Sin Lee terhuyung-huyung, ia menyambar ke pinggir panggung dan menggunakan pedangnya membacok tangan Kun Hong yang mengebrak-gebrak papan. Tentu saja Kun Hong menarik tangannya akan tetapi ia berpura-pura menjerit,

“Aduh-aduh, pendeta kejam kau!” Dan pada saat pandang mata Thian It tojin yang penuh kemarahan itu sedetik bertemu dengan pandang matanya Kun Hong mengerahkan ilmu sihirnya dan ia berkata,

“Kau pendeta murtad, tak patut menggunakan segala ilmu hitam. Kau patut dihukum pukul kepala sepuluh kali” Setelah berkata demikian Kun Hong lari kembali ke tempat duduknya.

Tiba-tiba semua tamu terbelalak memandang kejadian yang amat aneh di panggung. Setelah tosu itu menghentikan serangan-serangannya, Sin Lee masih terhuyung-huyung dan tosu itu kini berteriak-teriak,

“Benar sekali, pinto patut dihukum pukul kepala sepuluh kali” Dan tangan kirinya segera bekerja menampar muka, dan kepalanya sendiri dengan keras. Terdengar suara “plak-plak-plak” berkali-kali dan muka itu menjadi bengkak-bengkak!

Sin Lee agaknya sudah sadar kembali. Pemuda ini cepat berdiri tegak dan untuk sejenak ia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya sehingga pikirannya jernih kembali, tenaganya pulih dan kini ia memandang terheran-heran kepada lawannya yang sedang penuh semangat menghantami kepalanya sendiri itu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan Hek-hwa Kui-bo sudah berdiri di atas panggung. “Memalukan saja, pergi!” tangannya bergerak dan tubuh Thian It Tosu terlempar ke bawah panggung. Tosu itu roboh dan berbareng dengan jatuhnya itu agaknya ia pun sadar kembali. Dengan bingung ia bangkit berdiri, memandang bingung ke kanan kiri lalu… angkat kaki lari dari tempat itu. Beberapa orang tamu yang masih melongo lalu membuat tanda dengan telunjuk dimiringkan ke depan kening, yaitu tanda orang yang miring otaknya. Meraka ini mengira bahwa tosu itu tentu seorang yang berotak miring! Akan tetapi karena peristiwa itu sudah lewat dan di atas panggung berdiri seorang tokoh yang ditakuti, yaitu Hek-hwa Kui-bo, para tamu yang Sekarang menjadi penonton memandang dengan penuh ketegangan. Semua orang tahu bahwa tentu sekarang akan terjadi pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Hek-hwa Kui-bo dengan muka yang merah dan mata mendelik sudah menghadapi Sin Lee, pedang berkilauan di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang sehelai sabuk beraneka warna.

“Orang muda, kau telah menewaskan muridku. Akan tetapi kau mengatakan bahwa kau adalah anak dari Tang Beng San. Hemmm, jangan kau mencoba mengunakan nama Ketua Thai-san-pai untuk menggertak orang. Aku tahu benar bahwa Cia Li Cu isteri Tan Beng San hanya mempunyai seorang anak perempuan, bagaimana kau bisa mengaku dia sebagai ayahmu? Siapakah ibumu?”

Beng San di tempat duduknya meremas jari-jari tangannya sendiri, hatinya mengharap agar Sin Lee tidak usah menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi dengan sikap gagah Sin Lee menjawab, suaranya nyaring,

“Hek-hwa Kui-bo, kau kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau sendiri sudah tahu siapa ibuku, akan tetapi kau sengaja mengajukan pertanyaan ini di tempat umum, tentu dengan maksud keji di hatimu yang memang tidak bersih itu. Akan tetapi aku Tan Sin Lee sebagai seorang laki-laki sejati tidak akan menyembunyikan dan tidak akan malu mengaku bahwa ayahku adalah Tan Beng San Ketua Thai-San-pai sedangkan ibuku adalah Kwa Hong anak murid Hoa-san-pai! Nah, aku sudah mengaku, kau mau bilang apa?” Suara pemuda itu nyaring dan pada saat itu wajah Beng San sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa terpukul, menoleh kepada isterinya dan berbisik,

“Dia lebih jantan daripadaku… dia lebih jantan dan gagah….”

Hek-hwa  Kui-bo tertawa terkekeh-kekeh, wajahnya yang tua dan biasanya masih berbekas kecantikannya itu setelah terkekeh-kekeh kelihatan buruknya, mulutnya yang tak bergigi lagi kelihatan kehitaman dan matanya berputar-putar liar.

“He-he-he-he, kiranya kau anak haram. Ha-hah-heh-heh, memang sejak dulu Tan Beng San bukanlah orang baik-baik. Kapankah ia menikah dengan Kwa Hong? Kapankah ia menjadi ayahmu? Tentu melalui hubungan gelap. Coba sekalian yang hadir pikir yang baik-baik, orang yang mempunyai anak haram mana patut menjadi ketua sebuah perkumpulan silat?”

Sin Lee tak dapat menahan kemarahannya lagi, mukanya pucat matanya seperti mengeluarkan api. Biarpun ia dengan gagah berani mengakui kenyataan dirinya, akan tetapi kalau mendengar hinaan yang diucapkan di depan umum secara demikian merendahkan dan disertai kata-kata kotor, tentu saja ia tidak tahan mendengarnya.

“Iblis betina lihat pedangku!” Ia sudah menerjang dengan nafsu meluap.

Hek-hwa Kui-bo terkekeh-kekeh tapi cepat menangkis serbuan pemuda ini, lalu sambil melayani serangan Sin Lee yang bernafsu, ia masih sempat berkata,

“Kau bocah haram harus kubikin mampus dulu, baru kemudian tiba giliran ibumu yang tak tahu malu dan ayahmu yang hina!”

Makin naik darah Sin Lee dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menikam mati orang yang dibencinya ini. Dan inilah kesalahannya. Sebagai seorang muda, tentu saja ia berdarah panas dan tidak tahu akan siasat lawan yang jauh berpengalaman dan yang terkenal sebagai seorang tokoh besar penuh tipu muslihat.

Di samping sengaja menghina tuan rumah, memang Hek-hwa Kui-bo sengaja pula membakar hati orang muda ini sohingga sekarang Sin Lee lupa akan kewaspadaan dan menerjang dengan nekat. Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, mengumbar nafsu amarah merupakan pantangan besar, Dalam bersilat, apalagi kalau menghadapi lawan berat, sekali-kali tidak boleh dihinggapi kemarahan, karena nafsu ini akan menyesakkan dada dan mengurangi ketelitian dan ketenangan. Apabila bermain silat dengan diamuk kemarahan, permainannya tidak tenang dan karenanya daya permainannya kurang kuat.

Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh kawakan yang sebelum mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut sudah merupakan tokoh jarang tandingannya, Apalagi setelah ia mendapatkan Ilmu Pedang Im-sin Kiam-sut, kepandaiannya menjadi hebat sekali dan orang-orang yang dapat menandinginya hanyalah tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi. Biarpun Sin Lee juga merupakan seorang pemuda gemblengan, namun menghadapi Hek-hwa Kui-bo ia kalah setingkat, kalah akal dan kalah pengalaman.

Dalam dorongan nafsunya, memang kelihatannya Sin Lee mendesak Hek-hwa Kui-bo dengan penyerangan bertubi-tubi. Ia menggunakan ilmu silatnya yang aneh malah tangan kirinya beberapa kali ia putar-putar untuk melakukan pukulan Jing-tok-ciang. Namun pukulan-pukulan ini dapat dibikin buyar oleh tangkisan Hek-hwa Kui-bo yang mempergunakan ilmu pukulan beracun Hwa-tok-ciang yang dilakukan dengan tangan kiri sekalian untuk mengebutkan sabuknya yang dapat menjadi alat menotok jalan darah yang ampuh itu. Nenek ini sengaja main mundur karena ia sengaja memancing agar pemuda lawannya ini makin bernafsu sehingga akan terbuka kesempatan baginya untuk merobohkannya sekaligus tanpa meleset lagi.

Beng San memegangi tangan kursinya dengan erat, mukanya agak pucat, Celaka dia, pikirnya gelisah. Sebagai seorang gagah yang memegang aturan kang-ouw, tentu saja tak dapat ia melompat ke depan untuk menolong puteranya itu dan ia tahu betul betapa Sin Lee terancam maut. Hanya Beng San seorang yang tahu akan hal ini, adapun orang-orang lain, bahkan juga Cui Bi, Li Eng dan Kong Bu yang berkepandaian tinggi, tidak dapat menduga akan hal ini. Mereka ini memperlihatkan muka gembira. Hanya Kun Hong yang muram wajahnya karena ia juga mengerti seperti Beng San, melainkan pemuda itu merasa sedih sekali karena sekali lagi ia harus menjadi saksi dari pertempuran-pertempuran maut yang pasti akan membawa korban.

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: