Rajawali Emas (Jilid ke-34) Tamat

“Haaii, Ketua Thai-san-pai! Kau benar-benar kosen, telah dapat menewaskan suteku, hayo jangan kepalang, majulah lagi dan lawanlah aku, suheng dari Siauw-ong-kwi. Kalau hari ini aku Pak-thian Locu tewas di tanganmu, aku pun takkan merasa penasaran lagi!”

Mendengar suara ini, Beng San bergerak dalam kursinya. Akan tetapi Li Cu merangkul dan membujuknya,

“Kau tak mungkin dapat melawannya. Kau tidak boleh bertanding lagi!”

“Ayah, biarkan aku mewakilinya!” kata-kata ini hampir berbareng keluar dari mulut Cui Bi, Kong Bu dan Sin Lee.

Beng San menggoyang-goyang tangannya. “Tidak boleh… tidak boleh… dia itu lihai sekali. Pukulannya penuh hawa yang tak terlawan, aku pun hampir tak kuat menandinginya. Tidak boleh kalian maju, kalian… anak-anakku… bisa celaka ditangannya!” Ia bangkit berdiri. “Hanya aku seorang yang kuat menghadapi tenaganya yang mujijat.”

“Jangan… kau sudah terluka hebat, mana bisa melawannya? Biarlah aku yang melawannya belum tentu aku kalah oleh tua bangka itu!” Li Cu berkata, marah memandang ke arah panggung.

“Apa aku gila membiarkan kau dan anak yang kau kandung terancam bahaya? Tidak, ini urusan Thai-san-pai, urusanku. Apa artinya mati dalam mempertahankan nama dan kehormatan? Anak-anak pun tidak boleh maju karena aku tahu pasti bahwa seorang di antara kalian bukan lawannya. Aku seoranglah yang bertanggung jawab!”

“Paman!” tiba-tiba Kun Hong memegang tangan Beng San dan berkata tegas, “Aku tidak mendahului kehendak Tuhan. Akan tetapi aku yakin betul bahwa kalau kali ini Paman bertanding, jangankan bertemu dengan ahli Iwee-kang, biarpun bertemu dengan seorang yang lebih rendah tingkatannya dari Siauw-ong-kwi tadi, Paman akan terluka hebat dan sukar ditolong lagi. Paman biarlah aku saja menandinginya, aku mempunyai akal untuk mengalahkannya.”

Beng San tersenyum, menepuk-nepuk bahu pemuda itu. “Kau memang hebat, akan tetapi kakek itu lain lagi, Kun Hong. Tak bisa kau samakan dengan Yok-mo. Kau memang bisa mengendalikan langkah-langkah ajaib itu untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan cepat, akan tetapi tak mungkin kau dapat menggunakannya untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga Iwee-kang luar biasa. Tidak, tidak layak aku mengorbankan kau yang sudah besar sekali jasamu terhadap Thai-san-pai dan aku.” Keputusan Beng San sudah bulat, ia sudah nekat.

Di atas panggung, kakek itu tertawa-tawa, “He, Ketua Thai-san-pai. Apakah kau sedang meninggalkan pesan-pesan terakhir kepada sanak keluargamu? Mengapa kau tak juga muncul? Ataukah barangkali kau takut mati? Kalau begitu kau tak patut menjadi pendiri Thai-san-pai”

Beng San sudah berdiri dan tangan kanannya meraba gagang pedang di punggungnya. “Dengan ilmu pedangku aku akan dapat mengatasinya,” katanya lirih.

“Paman, aku mempunyai satu cara untuk membangkitkan tenaga dalammu dalam waktu singkat. Harap Paman suka duduk, biarlah aku mengerjakannya.”

Karena sudah percaya betul akan kepandaian Kun Hong mengobati, Beng San percaya saja bahwa pemuda aneh ini benar-benar akan dapat melakukan hal luar biasa ini. Memang ia merasa betapa hawa murni di dalam dirinya berputaran kacau, dan ia merasa lemah sekali ia lalu duduk dan meramkan mata hendak menerima pengobatan aneh itu.

Kun Hong mendekatinya, berkedip aneh kepada Li Cu, meraba punggung dan leher lalu menotok jalan darah kedua tempat itu dengan amat cepatnya. Seketika Beng San menjadi lemas, tak mampu bergerak lagi dan tidak mampu mengeluarkan suara lagi.

Pendekar ini kaget bukan main, akan tetapi apa dayanya, ia hanya dapat memandang kepada pemuda itu yang kini telah berjalan menuju ke panggung, kemudian tubuh pemuda itu tahu-tahu melayang ke atas panggung. Kun Hong kini tidak berpura-pura lagi. Ia menghadapi keadaan gawat, maka ia mempergunakan kepandaiannya naik ke panggung. Gerakan ini disambut seruan-seruan heran, bahkan juga dari mulut Li Cu dan para muda. Li Eng dan yang lain sama sekali tidak tahu cara apa yang dipergunakan oleh Kun Hong untuk melayang naik. Tidak kelihatan pemuda itu menggerakkan kaki mengenjot tanah, tidak kelihatan menekuk lutut untuk menghimpun tenaga meloncat, tahu-tahu, kedua lengannya berkembang dan tubuhnya naik ke panggung seperti burung terbang saia. Sin Lee mengenal gerakan ini, akan tetapi ia sendiri takkan mampu melakukannya tanpa menekuk dan mengenjot tanah.

Kakek tua renta menyambut kedatangan Kun Hong dengan senyum mengejek lalu mendengus,

“Huh, kau pemuda yang melawan Yok-mo tadi? Apakah, Thai-san-pai begitu pengecut untuk ajukan seorang bocah macammu? Apa kehendakmu ke sini? Jangan main-main usiamu masih muda, sayang kalau kau mampus sia-sia saja, orang muda. Heee, Thai-san-pai, lebih baik mengirim tokoh yang lebih sakti dan matang, jangan mengirim bocah cilik!”

“Locianpwe, tenanglah dan dengarlah dulu omonganku, biar disaksikan oleh sekalian cianpwe yang hadir di sini,” kata Kun Hong, suaranya terdengar aneh dan menggema seperti suara yang datang dari angkasa membuat kaget semua orang, juga kakek itu sendiri,

“Tak perlu disembunyikan lagi bahwa Paman Tan Beng San Ketua Thai-san-pai sedang menderita luka parah dan tidak mungkin dapat bertanding pula. Mungkin para Cianpwe tidak mengetahui, dan hal ini kau mengetahui baik-baik Locianpwe, bahwa Paman telah menderita luka berat karena pengeroyokan yang curang dan kau pun termasuk pengeroyok-pengeroyoknya. Namun karena semangatnya sebagai seorang gagah sejati, Paman tadi masih mau melayani Siauw-ong-kwi sehingga berhasil mengalahkan Siauw-ong-kwi, biarpun lukanya menjadi makin parah. Sekarang Paman tidak mungkin dapat melawanmu. Kalau kau orang tua begini bernafsu hendak bertanding melawan Paman Tan Beng San kau kembalilah barang tiga empat pekan lagi, tentu dengan senang hati Paman akan melayanimu. Kami bersumpah takkan mengeroyokmu seperti yang kau lakukan kemarin dulu terhadap pamanku itu, Sekarang kalau kau suka bersabar dan menanti sampai tiga empat pekan, kau pergilah dan Paman akan menanti kembalimu. Akan tetapi kalau kau hendak mempergunakan kelicikan, menantang Paman selagi beliau tak dapat bergerak, benar-benar kau tidak tahu malu dan biarlah aku yang muda mewakili Paman untuk menghadapimu!”

Semua orang yang hadir tercengang mendengar ucapan yang bergema ini. Heran akan keberanian pemuda ini, dan juga mendengar betapa Tan Beng San sudah terluka kemarin dulu karena dikeroyok, orang-orang menjadi berisik,

“He, bocah sombong, kau siapakah? Siapa namamu dan apakah kau anak murid Thai-san-pai?”

“Namaku Kwa Kun Hong, aku bukan anak murid Thai-san-pai, melainkan anak dari Ketua Hoa-san-pai. Biarpun aku tidak berkepandaian, namun aku menyediakan selembar nyawaku untuk memberantas ketidakadilan ini. Kakek tua, kau sudah tua, seharusnya mencari jalan terang. Pergilah dan padamkan nafsumu, atau kalau kau tetap hendak berkelahi dengan Paman, kembalilah empat pekan lagi.”

“Keparat, aku tetap menantang Ketua Thai-san-pai sekarang juga!”

“Kalau begitu, akulah lawanmu.”

“Kau berani melawan aku, bocah ingusan?”

“Yang benar takkan penah mengenal takut, kalah menang bukan soal.”

“Monyet kecil, kalau kau tidak roboh dalam sepuluh jurus pukulanku, kau akan kusembah!”

“Aku tidak butuh kau sembah, kalau mau pukul terserah.”

Tidak kelihatan tangan kakek itu bergerak, tahu-tahu angin menyambar mendahului gerakan tangan kanan kakek itu mendorong ke arah tubuh Kun Hong.

Pemuda ini sudah kuat sekali nalurinya maka ia cepat mengerjakan langkah-langkah Kim-tiauw-kun. Ujung bajunya berkibar terkena angin pukulan, namun tubuhnya sama sekali tidak terkena. Angin pukulan ke dua menyambar, dan kakek itu masih berdiri di tempatnya, hanya sekarang kuda-kudanya miring, tangan kirinya mendorong dari samping. Kun Hong , masih terus melangkah terhuyug-huyung dan “Brakkk!” papan di belakangnya amblong terkena angin pukulan yang hebat itu!

Para tamu mengeluarkan suara kaget. Ilmu pukulan sehebat itu baru sekali ini mereka saksikan dan tadinya mereka sangka hanya terdapat dalam dongeng belaka. Makin lama makin penasaran kakek itu, pukulannya makin hebat sehingga di sana-sini papan menjadi pecah dan amblong. Namun dengan gerakan tenang namun aneh, bukan main pemuda itu menjalankan langkah-langkah ajaibnya dan pukulan terdekat hanya membuat rambutnya berkibar awut-awutan, namun belum juga terkena pukulan.

“Sudah sepuluh jurus!” terdengar teriakan dari bawah panggung, teriakan seorang tamu yang merasa penasaran terhadap kakek itu.

Pak-thian Locu berhenti, tubuhnya bergoyang-goyang, tertawa lalu tiba-tiba ia berlutut.

“Orang muda, sekarang aku akan menyembahmu!” Kedua tangannya bergerak dan pada saat itu terdengar seruan nyaring sekali.

“Orang muda, awas!!”

Namun terlambat, Kun Hong yang tadinya terheran-heran karena melihat kakek itu benar-benar berlutut dan hendak menyembah, tiba-tiba merasa ada angin yang luar biasa keras dan kuatnya menyambar dari depan. Ia cepat merendahkan dirinya, melipat diri menutupi muka seperti trenggiling melingkar dan mengerahkan hawa murni dalam tubuh.

Tubuhnya seperti didorong oleh tenaga raksasa dan melayang keluar dan turun dari panggung! Ia terbanting dan bergulingan, akan tetapi segera meloncat berdiri dan tidak apa-apa! Dengan tenang sekali Kun Hong melompat lagi ke atas panggung.

Akan tetapi di atas panggung berdiri seorang kakek tinggi besar, Song-bun-kwi yang memandang kepada Pak-thian Lo-cu dengan mata mendelik. “Tua bangka gila! Tak tahu malu benar engkau, melawan seorang bocah mempergunakan akal muslihat curang!”

“Heh-heh, Song-bun-kwi iblis jahat. Apakah kau pun sekarang hendak menjilat pantat Thai-san-pai?”

Dari bawah panggung terdekar suara Beng San. “Gak-hu (Ayah Mertua), harap jangan mengeroyok!” Ternyata setelah Kun Hong bertempur, Li Cu membebaskan totokan pada diri suaminya sehingga pendekar ini dapat bergerak dan bersuara lagi. Ia tahu bahwa betapapun juga, dalam diri Kun Hong bersembunyi kepandaian yang sukar dijajaki, maka melihat cara Kun Hong menerima pukulan tadi, ia menjadi lega dan harapannya membesar. Karena pemuda ini berjuang atas nama Thai-san-pai, maka ia tidak setuju kalau mertuanya membantu, membikin cemar nama Thai-san-pai, sungguhpun ia girang sekali menyaksikan perubahan sikap ayah mertua yang aneh ini.

“Kakek, jangan mengeroyok, memalukan saja!” Kong Bu juga berseru kepada kakeknya.

Song-bun-kwi menoleh, matanya mendelik, “Tak puas kalau belum memukul!” tubuhnya merendah hampir berjongkok, kedua tangannya mendorong ke depan. Itulah ilmu pukulan jarak jauh dari Ilmu Silat Yang-sin Kun-hoat yang paling diandalkan. Kakek tua renta itu menolak dengan kedua tangannya pula dan tubuh Song-bun-kwi terlempar sampai dua meter ke belakang, hampir saja terguling dari atas panggung.

“Hebat tenagamu, tua bangka!” berseru Song-bun-kwi dan ia tak dapat turun tangan pula karena pada saat itu Kun Hong sudah berkelebat lewat di sampingnya.

“Orang muda Hoa-san-pai, kau berhati-hatilah!” Song-bun-kwi berseru sambil melompat turun. Kakek yang gagah ini baru sekarang selama hidupnya melihat orang muda yang begini aneh, malah lebih aneh daripada Beng San ketika muda dahulu, maka timbullah simpatinya.

Melihat Kun Hong tidak apa-apa dan sudah naik, kakek itu tercengang, lalu ia mengeluarkan sebatang pedang yang tipis dan ringan sekali berwarna putih seperti perak.

Ia tahu bahwa biarpun lawannya masih muda sekali, namun agaknya memiliki kesaktian, maka ia tidak mau mencoba-coba lagi seperti tadi. Melihat kakek tua itu mengeluarkan pedang, Kun Hong juga mencabut Ang-hong-kiam dari balik jubahnya. Sinar merah memancar ketika ia mencabut pedangnya.

“Heh, bukankah itu Ang-hong-kiam? Dari mana kau dapat?” Kakek menegur, kelihatan kaget, akan tetapi dasar licik, sebelum dijawab pedangnya sudah menerjang dengan lambat sekali, namun jangan dikira tidak berbahaya karena angin serangan pedang ini sudah cukup memisahkan kepala lawan dari badannya!

Kun Hong cepat mengelak dan bersilat dengan Ilmu Silat Kim-tiauw-kun yang ia latih di dalam guha dahulu. Gerakan-gerakannya aneh sekali, cara memegang gagang pedang juga aneh dan lucu. Berkali-kali Kun Hong diserang dan ia masih belum juga membalas. Ia sedang memperhatikan cara lawan mempergunakan pedang, akan tetapi sebegitu jauh belum dapat ia menjajaki. Ilmu pedang lawannya juga aneh dan banyak ragamnya. Memang kakek setua ini sudah terlalu banyak mempelajari ilmu silat sehingga jurusnya ia robah-robah dan ia ganti-ganti. Baiknya Kun Hong terus mempergunakan langkah-langkah ajaib sehingga dapat menghindar dengan tepat.

“Hong-ko, balas serangan!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan nyaring. Itulah suara Cui Bi dan suara ini membuat dua orang di antara para tamu menengok dengan mata terbelalak marah, yaitu mata Bun Lim Kwi dan Bun Wan.

Mendengar seruan ini, barulah Kun Hong teringat bahwa di dalam pertempuran, ia harus membalas serangan kalau tidak mau kalah. Maka ia lalu mulai menyerang. Akan tetapi alangkah ganjilnya, pedangnya tidak menyerang tubuh orang melainkan menyerang udara di sekitar tubuh lawan itu. Hebatnya, kakek itu berseru keras dan selalu menangkis atau mengelak tiap kali pedang Kun Hong berkelebat. Kiranya hanya gayanya saja menyerang udara untuk membuat lawan lengah, padahal dilanjutkan dengan serangan yang berbahaya dan jitu. Malah tiba-tiba Kun Hong membentak dan pedangnya menusuk ke arah dadanya sendiri! Cui Bi sampai terteriak kaget melihat ini, tapi ayahnya menyentuh tangannya menyuruh ia diam. Sejenak kakek tua renta itu pun kaget dan heran, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika pedang yang hampir menyentuh dada Kun Hong itu, tiba-tiba membalik dan mempergunakan kesempatan selagi ia terheran-heran, ujung pedang sudah dekat sekali dengan lehernya

“Celaka, mengelaklah, orang tua!” Seru Kun Hong. Jurus ini adalah jurus yang mujijat dari ilmu Silat Kim-tiauw-kun, maka tak dapat ia tarik kembali dan ia sudah ngeri melihat betapa ujung pedangnya akan menembus leher kakek itu.

Hanya dengan menggulingkan diri ke atas papan saja kakek itu dapat menyelamatkan diri. Ia bergulingan terus dan “brakk!” tahu-tahu kakinya terjeblos kedalam lubang di papan yang tadi amblong oleh pukulannya sendiri. Lucu sekali keadaan kakek itu. Ia terperosok sampai ke pinggangnya hanya badan bagian atas saja yang tampak, kedua tangannya melambai-lambai ke atas.

“Tolong….!” dasar sudah tua sekali ia menjadi pikun. Dengan kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah ia dapat keluar dari lubang itu. Akan tetapi ketuaannya dan kepikunannya membuat ia kebingungan setengah mati dan berseru minta tolong! Di antara para tamu ada yang tertawa-tawa dan bersorak-sorak saking gelinya melihat ini. Para tokoh tua, termasuk Song-bun-kwi, menyumpah-nyumpah dan menggeleng-geleng kepala.

Kalau Kun Hong pada saat itu menyerang, kiranya kakek itu takkan mampu membela diri lagi karena sedang kebingungan, berkutetan dalam usahanya membetot tubuhnya keluar. Akan tetapi, bukan kakek itu saja yang pikun sehingga kelakuannya aneh, pemuda ini malah lebih aneh lagi. Ia memegang pedang dengan tangan kiri, mengulurkan tangan kanan mendekati kakek itu dan berkata, lembah-lembut seperti seorang dewasa menolong seorang kanak-kanak.

“Mari kubantu, Locianpwe, peganglah tanganku nanti kutarik keluar.”

Pak-thian Locu girang, memegang tangan kanan Kun Hong yang segera menariknya keluar dari lubang itu, Akan tetapi begitu dirinya sudah tertolong kakek itu ingat kembali akan pertandingan mereka.

Pedang di tangan kanannya tiba-tiba menyambar ke arah leher Kun Hong. Pada saat itu, tangan kanan Kun Hong masih saling berpegang dengan tangan kiri kakek itu, dan pedangnya masih ia pegang dengan tangan kiri, keadaannya amat tidak menguntungkan. Namun berkat nalurinya yang tajam, menghadapi serangan ini ia dapat bereaksi cepat sekali, tangan kirinya mengangkat pedang menangkis sambil menarik kembali tangan kanan yang menolong kakek itu tadi.

“Tranggg!” Dua pedang bertemu, pedang putih dan pedang merah, dan… Kun Hong roboh terguling-guling saking hebatnya tenaga kakek ini. Pak-thian Locu tertawa senang, pedangnya terus menyambar ke arah tubuh Kun Hong yang cepat mengelak sambil bergulingan dan segera meloncat berdiri lagi. Akan tetapi kini permainan pedang kakek itu aneh sekali gerakan-gerakannya, membuat ia bingung dan hanya dapat berloncatan ke sana ke mari mengandalkan langkah-langkah ajaibnya, Kepandaian kakek itu amat tinggi, lebih tinggi daripada kepandaian Kun Hong.

Kali ini Kun Hong sama sekali tidak ada kesempatan untuk balas menyerang, bahkan langkah-langkah ajaibnya hampir tidak manjur lagi setelah bertempur seratus jurus lebih lamanya.

Pak-thian Locu bukanlah orang yang terlalu bodoh sehingga setelah langkah-langkah ini terus menerus dilakukan oleh Kun Hong, ia mulai dapat mengikutinya dan dapat mengocar-ngacirkan gerak langkah Kun Hong. Kini mulailah pemuda itu didesak hebat, kadang-kadang langkahnya bahkan dipapaki serangan, membuat ia bingung dan kacau gerakan kakinya.

Pak-thian Locu mulai gembira, tertawa-tawa dan terkekeh-kekeh, kadang-kadang ia sengaja membentak sebagai gertakan agar Kun Hong kaget, padahal serangannya terhenti di tengah-tengah. Kakek ini seperti seorang anak kecil menemukan sebuah barang mainan baru, atau seekor kucing tua menemukan seekor tikus. Jelas bahwa Kun Hong dibuat main-main dulu sebelum ditusuk mati.

Tiba-tiba Kun Hong membentak dengan suara aneh, “Pak-thian Locu, kau hadapi sekarang seranganku. Awas!”

Pak-thian Lo-cu, kaget dan cepat-cepat menghindar sambil memutar pedangnya menangkis, terus saja ia menangkis ke sana ke mari seakan-akan ia didesak hebat oleh lawannya. Padahal Kun Hong hanya berdiri dan memalangkan pedang di depan dada, sama sekali tidak menyerang. Ternyata pemuda ini setelah terdesak hebat, terpaksa mempergunakan ilmu sihir yang ia pelajari dari Sin-eng-cu Lui Bok.

“Eh, hayo lekas menyerang? Mana seranganmu?” Tiba-tiba kakek itu berhenti menangkis-nangkis sendiri dan berbalik menyerang Kun Hong. Pemuda itu terkejut dan cepat mengelak dan di lain saat kembali ia dihujani serangan.

Diam-diam ia kaget dan dapat menduga bahwa tenaga dalam kakek ini sudah sedemikian tingginya sehingga kekuatan batinnya ketika menyihir tadi hanya dapat menguasai sebentar saja. Cepat-cepat ia mengerahkan seluruh kekuatan batin dalam tubuhnya dan membentak lagi, “Awas serangan ilmu pedangku!” Kembali kakek itu melompat mundur dan menangkis ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri. Para tamu melongo menyaksikan pertempuran yang aneh ini.

Mereka hanya mengira bahwa dua orang aneh itu mempergunakan ilmu yang sedemikian tingginya sehingga penyerangan-penyerangan mereka tak dapat dilihat mata orang lain. Beng San memandang dengan kagum, tetapi setelah kini melihat betapa Kun Hong malah duduk bersila di tengah panggung dengan sikap seperti seorang sedang samadhi, pedangnya diacungkan ke depan muka, tepat di depan hidung, lalu Pak-thian Locu sekarang bersilat sendiri, menyerang dan menangkis memutari Kun Hong, pendekar sakti Ketua Thai-san-pai ini melongo.

Memang aneh dan lucu sekali pemandangan di atas panggung sekarang, Kun Hong duduk bersila, pedangnya diacungkan di depan muka, keningnya dikerutkan, ia tak bergerak sama sekali. Di lain pihak, Pak-thian Locu seperti orang kemasukan setan, mencak-mencak tidak karuan seperti orang bertanding mati-matian melawan bayangan sendiri, maju mundur mengitari tubuh Kun Hong, pedangnya berkelebatan akan tetapi tidak mendekati tubuh Kun Hong.

Bahkan agaknya kakek itu tidak melihat Kun Hong dan sedang bertanding mati-matian melawan musuh yang tidak tampak.

Akan tetapi, setelah Beng San melihat betapa dari ubun-ubun kepala Kun Hong mengepul uap putih, keheranannya berubah menjadi kekaguman hebat, Bukan main, pikirnya. Kiranya pemuda itu sedang mempergunakan semacam ilmu yang aneh dan tinggi, ilmu yang membutuhkan pengerahan tenaga batin dan hawa murni di dalam tubuh. Ia melihat Cui Bi bergerak gelisah dan Li Eng sudah bangun dari kursinya sambil tangannya meraba gagang pedang.

“Sstt, duduklah kalian kembali,” kata Beng San perlahan. “Jangan ganggu, Kun Hong sedang berjuang mati-matian melawan kakek itu.”

Mendengar ini, orang-orang muda itu kembali duduk dan hati mereka berdebar gelisah, akan tetapi juga merasa amat heran. Kun Hong duduk bersila, lawannya “mengamuk” di sekelilingnya, bagaimana bisa dibilang ber juang mati-matian? Apakah bukannya Kun Hong telah terluka hebat dan menanti kematiannya sedangkan kakek itu berubah gila?

Para tamu saling berbisik dan keadaan menjadi tegang, aneh, dan berisik juga. Orang-orang mulai tidak sabar menyaksikan pertandingan yang luar biasa ini. Akan tetapi Beng San dan juga Song-bun-kwi dan tokoh-tokoh tua, makin tegang karena maklum bahwa pertandingan itu makin hebat juga. Kini seluruh tubuh Kun Hong menggigil dan bercucuran peluh! Akan tetapi, kakek itu pun bercucuran peluh dadanya, mukanya pucat dan gerakan-gerakannya makin lemah, kelihatan lemah bukan main karena terlampau banyak mengeluarkan tenaga, baik luar maupun dalam.

Tiba-tiba kakek itu memekik tinggi dan tubuhnya roboh di atas panggung, napasnya empas-empis dan tak lama kemudian napas itu pun terhenti. Adapun Kun Hong masih duduk seperti patung dengan pedang mengacung ke depan, sama sekali tidak bergerak. Cui Bi berseru lirih, tubuhnya melesat ke atas panggung dan tanpa ragu-ragu ia menghampiri Kun Hong, menempelkan kedua telapak tangan di punggung dan tengkuk pemuda itu sambil mengerahkan tenaga Iwee-kang disalurkan melalui kedua telapak tangannya. Hampir ia menjerit ketika tangannya menempel, tubuhnya tergetar hebat, akan tetapi dengan mengerahkan tenaga gadis itu memaksa diri, akhirnya seluruh hawa murni di tubuhnya dapat dibuka dan dipaksa memasuki tubuh Kun Hong. Para tamu melihat ini makin terheran-heran, kecuali mereka yang berilmu tinggi maklum bahwa puteri Thai-san-pai itu sedang menolong Kun Hong. Ketua Kun-lun-pai ayah dan anak menyaksikan ini dengan muka merah sekali.

Melihat perbuatan puterinya, Beng San sebetulnya tidak setuju dan hendak mencegah, namun melihat bahwa tubuh puterinya tadi tergetar hebat, sekarang ia maklum bahwa kalau dicegah mungkin puterinya itu akan mendapat luka berat malah. Maka ia mendiamkannya saja.

Kun Hong bergerak, menoleh perlahan, tersenyum dan perlahan-lahan ia melepaskan kedua tangan gadis itu dari tempelannya. Lalu ia berdiri akan tetapi tampak kaget sekali melihat tubuh Pak-thian Locu sudah telentang di atas papan tanpa bergerak sedikit pun. Cepat ia berjongkok memeriksa dan… pemuda ini berduka sekali melihat bahwa lawannya sudah tak bernapas lagi. Kun Hong memberi isyarat kepada Cui Bi supaya turun panggung, sedangkan dia sendiri setelah menyimpan pedangnya lalu berdiri menghadapi para tamu dan berkata, suaranya penuh kedukaan, tapi juga berpengaruh,

“Cuwi sekalian yang hadir di sini sudah cukup menyaktikan betapa nafsu-nafsu beberapa orang tokoh untuk bertempur mengakibatkan kematian-kematian yang amat menyedihkan. Pamanku Tan Beng San Tai-hiap mendirikan Thai-san-pai bukan sekali-kali dengan maksud menanam bibit permusuhan, melainkan untuk menyebar-luaskan ilmu silatnya sehingga kepandaian ini dapat berkembang biak dan dapat dipergunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah menumpas si jahat. Maka biarlah di sini aku Kwa Kun Hong, yang muda dan bodoh, mohon dengan hormat dan sangat kepada Cuwi sekalian, agar supaya pertandingan-pertandingan ini disudahi saja. Kepada mereka yang memang tidak mempunyai niat untuk menjual kepandaian dan mencari permusuhan mengacaukan pertemuan ini, kami menghaturkan banyak terima kasih, dan kepada mereka yang bernafsu untuk berkelahi, kami harap sudi membuang jauh nafsu tak baik itu.”

Baru sampai di sini pidato Kun Hong, tiba-tiba dari bawah panggung terdengar seruan keras,

“Kwa Kun Hong, kau dan dua orang keponakanmu menyerahlah untuk kami tangkap dan kami bawa kembaii ke kota raja!”

Kun Hong memandang dan kagetnya bukan main melihat Thian It Tosu bersama enam orang lain berdiri berjajar di bawah panggung. Itulah tujuh orang pengawal istana, lengkap! Mereka bukan lain adalah Tiat-jiu Souw Ki, Thian it Tosu, Bu Sek dan Bu Tai, Bhong-lokoai, Sin-twa-to Liong Ki Nam, dan Ang-moko. Tentu para pengawal ini disuruh oleh pangeran mata keranjang itu untuk menangkap kedua anak keponakannya.

“Celaka… Li Eng, Hui Cu, hayo kita lari pergi!” Kun Hong sudah melompat dan berlari ke arah dua orang keponakannya itu. Akan tetapi Beng San mencegah mereka yang ketakutan ini lari.

“Tenanglah, biar aku yang mengurusnya.”

Tapi pada saat ketujuh orang pengawal istana itu melompat naik ke atas panggung, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa keras dan tahu-tahu Song-bun-kwi sudah melayang naik pula.

“Ha-ha-ha-ha, kalian tujuh anjing penjilat pantat! Dahulu yang mengacau di istana adalah aku, Song-bun-kwi. Hayo, kalian mau apa? Datang ke sini apakah ingin menerima gebukan-gebukan dari aku? Ha-ha-ha!”

Dua saudara kembar Bu Sek dan Bu Tai, juga Thian It Tosu, sudah pernah merasai kelihaian Song-bun-kwi di markas Ngo-lian-kauw dahulu, maka sekarang karena mereka bertujuh dan di situ terdapat pula Ang-moko dan Bhong-lokoai, mereka menjadi tabah dan segera menyerbu Song-bun-kwi tanpa banyak cakap lagi.

Dalam sekejap mata saja Song-bun-kwi sudah dikeroyok oleh tujuh orang pengawal istana itu yang kesemuanya menggunakan senjata mereka masing-masing. Terang bahwa pertempuran kali ini bukanlah adu kepandaian, melainkan pertempuran sungguh antara di pihak bermusuhan dan semua penyerangan ditujukan untuk mematikan lawan. Para tamu mulai geger, malah sudah ada yang diam-diam meninggalkan tempat itu untuk turun gunung. Sebagian besar para tamu segan kalau harus berurusan dengan petugas-petugas dari istana.

Melihat kakeknya dikeroyok tujuh, Kong Bu berseru marah, tubuhnya melayang ke atas panggung dan membantu kakeknya mengamuk. Song-bun-kwi makin terbahak suara ketawanya, seakan-akan pengeroyokan atas dirinya dan cucunya ini merupakan sebuah peristiwa yang amat menyenangkan hatinya!

Pada saat itu, para tamu makin gelisah dan banyak yang sudah pergi. Tiba-tiba kelihatan sepasukan orang-orang Ngo-lian-kauw yang memegang pedang dan menyerbu lalu mengurung tempat itu. Mereka yang terdiri dari lima puluh orang lebih ini berteriak-teriak, “Bayar kembali nyawa ketua kami!”

Beng San terkejut melihat ini. Celaka, pikirnya, tentu akan terjadi perang kecil yang akan mendatangkan banyak korban, apalagi ia melihat di belakang pasukan ini masih terdapat barisan lain dari Ngo-lian-kauw yang semua tidak kurang dari dua ratus orang jumlahnya! Sedangkan pertempuran diatas panggung masih amat seru dan ramai.

Tiba-tiba terdengar letusan-letusan dan kiranya orang-orang Ngo-lian-kauw itu sudah memasang banyak petasan dan obat peledak, mungkin merupakan tanda-tanda atau mungkin juga untuk mengacaukan keadaan. Tempat tamu sudah banyak yang kosong ditinggalkan. Pada saat itu terdengar sorak-sorai dan dari lereng gunung berlari-lari pasukan yang panjang. Setelah dekat, kiranya pasukan ini adalah barisan orang-orang pengemis dan di belakang pasukan ini berlari-lari pula sepasukan kecil prajurit kota raja mengiringkan seorang perwira tinggi besar. Samua menuju ke tempat itu.

Agaknya memang sudah ada dendam antara orang-orang Ngo-lian-kauw dan para pengemis itu karena begitu bertemu, segera terjadi pertempuran keroyokan. Melihat ini, Kun Hong segera berlari-lari ke depan dan berseru,

“Heee, bukankah kalian ini anggauta-anggauta Hwa-i Kai-pang? Berhenti, Jangan bertempur!”

Ketika para pengemis itu menengok dan melihat siapa yang bicara, mereka segera meninggalkan lawan, lari-lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu. Kun Hong mengenal Coa-lokai yang memimpin pasukan itu, segera ia memegang tangannya dan berkata girang,

“Coa-lokai kau yang datang? Saudara-saudara, bangunlah tak usah berlutut. Coa-lokai ceritakanlah mengapa kalian datang dan mau apa?”

“Mendengar bahwa Pangcu ditawan Pangeran, mengirim berita ke Hoa-san-pai lalu membawa teman-teman menyusul sampai ke sini. Syukur Pangcu selamat saja, kami semua telah gelisah bukan main.”

Pasukan yang dikepalai perwira tinggi besar juga sudah sampai di situ dan segera terdengar perwira itu berseru sambil lari mendekati Beng San,  “Adikku Beng San, apa artinya keributan ini?”

“Twako….!” Beng San berdiri dan dua orang ini berangkulan. Kiranya perwira ini bukan lain adalah Tan Hok atau Tan-taijin, “Memang aku sedang sial, mendirikan perkumpulan juga memancing datangnya keributan-keributan.”

Tan Hok menoleh dan melihat betapa tujuh orang pengawal istana sedang mengeroyok dua orang. Ia kaget ketika mengenal bahwa seorang di antara dua yang dikeroyok itu adalah Kakek Song-bun-kwi! Segera ia melompat maju dan beseru,

“Tujuh saudara pengawal harap berhenti dan turun. Tidak boleh kalian membikin ribut di sini!” Suara Tan-taijin amat berpengaruh dan pula dikenal oleh para pengawal, maka segera mereka berlompatan turun dari panggung. Kiranya keadaan mereka payah, hampir kesemuanya sudah menderita luka-luka dan kepala bocor.

Di atas panggung, Song-bun-kwi berpelukan dengan cucunya, wajah kakek ini berseri-seri, matanya terbelalak dan pipinya yang kiri mengucurkan darah karena tersayat senjata lawan.

Ketika tujuh orang pengawal itu melapor bahwa mereka hendak menangkap tiga buronan Pangeran, Tan Hok menegur mereka, malah memperlihatkan sehelai surat keputusan dari Kaisar sendiri bahwa mereka tidak boleh mengganggu anak buah partai persilatan Hoa-san-pai. Melihat cap dan tanda tangan Kaisar, tujuh orang itu dengan tubuh gemetaran lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Sudahlah, kalian pulang ke kota raja, jangan membikin ribut lagi dan usir para anggauta Ngo-lian-kauw yang hendak mengacau itu.”

Terhadap pembesar yang menjadi kepercayaan Kaisar ini, tentu saja tujuh orang pengawal itu mati kutu dan atas perintah Thian It Tosu, orang-orang Ngo-lian-kauw lalu meninggalkan tempat itu. Juga anggauta Hwa-I Kai-pang setelah dijamu lalu disuruh kembali oleh Kun Hong.

Para tamu sudah pulang semua, banyak yang tidak sempat berpamit. Yang masih tinggal di situ hanyalah Ketua Kun-lun-pai, Bun Lim Kwi dan Bun Wan, juga Song-bun-kwi yang sekarang sudah “jinak” dan baik kembali, dan Tan Hok. Sebelum mereka beramai diajak ke puncak, tiba-tiba dari lereng gunung berlari-lari beberapa orang menuju tempat itu dan setelah dekat, segera Kun Hong, Hui Cu, dan Li Eng berlari-lari menyambut.

Mereka ini bukan lain adalah Kwa Tin Siong Ketua Hoa-san-pai. Lim Sian Hwa isterinya, Lee Giok ibu Hui Cu, dan Thio Bwee ibu Li  Eng. Tokoh-tokoh Hoa-san-pai ini menyusul ke Thai-san setelah mendengar berita dari anggauta pengemis Hwa-I Kai-pang bahwa anak-anak mereka di kota rajatertawan Pangeran tapi lolos secara aneh. Karena gelisah akan keselamatan mereka, empat orang tua ini menyusul, menyelidik dan akhirnya sampai juga ke Thai-san biarpun sudah agak terlambat.

Kegembiraan keluarga Thai-san-pai sukar dilukiskan. Apalagi Beng San, bertemu dengan orang-orang yang dahulu dikenalnya begitu baik, orang-orang Hoa-san-pai yang mendatangkan banyak peristiwa dalam hidupnya, ia menjadi terharu dan juga gembira. Apalagi karena ia sudah mendengar dari Cui Bi bahwa kedua orang puteranya saling mencinta dengan dua orang gadis Hoa-san-pai itu, dua orang gadis anak dari Thio Bwee dan Thio Ki, teman-teman lamanya di waktu ia masih kecil! Alangkah akan bahagianya merangkapkan jodoh mereka.

Juga pihak Hoa-san-pai amat gembira melihat anak-anak mereka selamat, malah dapat bertemu dengan orang-orang yang memang sudah lama mereka rindukan. Yang nampak kurang gembira adalah Bun Lim Kwi dan puteranya, akan tetapi dalam suasana penuh kegembiraan itu, tiba-tiba buyar dan berubah menjadi suasana penuh duka ketika orang-orang Hoa-san-pai ini mendengar tentang kematian Kwa Hong yang jenazahnya masih berada di puncak. Tentu saja yang paling berduka adalah Kwa Tin Siong, sebagai ayah dari Kwa Hong.

Beramai-ramai mereka dipersilakan naik ke puncak melalui jalan rahasia dan terowongan. Jenazah Pak-thian Locu yang lain-lain sudah pula diurus oleh anak buah Thai-san-pai. Sin Lee menangis mengguguk di depan peti mati ibunya, membuat semua menjadi terharu, terutama Hui Cu yang juga menangis sampai kedua matanya menjadi merah.

Song-bun-kwi duduk di kursi menarik napas panjang, lalu terdengar suaranya yang parau dan dalam,

“Ahhh, kalau sudah menjadi begini, barulah kita semua merasa betapa hidup ini tidak akan langgeng. Sekali waktu akan datang maut merenggut nyawa kita dan kita semua akhirnya akan menjadi mayat, habis sudah semua riwayat. Kalau sudah begini baru kita ingat betapa semua pertikaian, semua keributan dan kegaduhan, musuh-memusuhi, berlumba kepandaian, dan lain-lain itu hanyalah perbuatan orang gila saja.” Kemudian kakek yang tinggi besar itu berdiri berdongak ke atas dan berseru keras-keras,

“Betapa banyak sudah aku membunuh manusia, aku dijadikan alat oleh Maut. Apakah Maut akan berterima kasih kepadaku? Tidak, sekali waktu Maut akan merenggut nyawaku pula. Aku menyesal! Ah, Beng San mantuku, sediakanlah sebuah guha kecil untuk aku, aku hendak mengasingkan diri, menghukum diri menebus dosa!”

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari angkasa,

“Ho-ho, Song-bun-kwi, akhirnya kau insyaf juga, tapi terlambat, tanganmu sudah terlampau kotor berdarah. Betapapun juga, keinsyafanmu berguna pula bagi anak keturunanmu, menjadi pengingat dan penyadar!”

Semua orang kaget memandang ke atas dan tampaklah seekor burung rajawali berbulu emas ditunggangi oleh seorang kakek tua renta berpakaian butut. Burung itu menukik ke bawah dan kakek itu meloncat turun.

“Kim-tiauw-ko…..!!” Sin Lee dan Kun Hong berbareng lari menghampiri burung itu dan dua orang pemuda ini memeluk leher burung rajawali yang bulunya indah seperti emas itu. Mereka saling pandang dan kini mengertilah keduanya mengapa mereka melihat dasar-dasar sama dalam ilmu silat mereka.

Burung itu pun mengenal Kun Hong dan Sin Lee, dengan mengeluarkan suara girang ia menggosok-gosokkan leher dan kepalanya pada dua permuda itu. Kemudian Kun Hong berlutut memberi hormat kepada kakek yang bukan lain adalah Sin-eng-cu Lui Bok ini,

“Ha-ha, Sin-eng-cu Lui Bok! Kalau saja kemarin kau datang, tentu aku akan menantangmu bertanding!” kata Song-bun-kwi sambil tertawa, sikap orang aneh ini sudah berubah pula.

“Bagus, kau sudah insyaf sekarang, tulang-tulangku yang tua selamat dari gebukanmu.” jawab kakek itu. Beng San yang sudah mendengar nama besar Sin-eng-cu Lui Bok lalu mempersilakan kakek itu duduk. Akan tetapi kakek itu menolak dan berkata,

“Kedatanganku hanya untuk bicara sedikit dengan Kun Hong.” Ia menoleh kepada pemuda itu sambil mengerutkan kening dan berkata,

“Kun Hong aku tidak hendak mendahului kehendak Thian Yang Maha Kuasa. Akan tetapi aku minta kepadamu, orang muda yang kukasihi, aku minta kepadamu dengan sangat, sekarang juga kau ikutlah bersamaku. Marilah kita bertapa dan menjauhkan diri dari keruwetan dunia.”

“Tapi… tapi… Susiok, aku….” Ia memandang kepada orang tuanya, kepada orang-orang yang dikasihinya dan terutama kepada Cui Bi. ”Biarlah lain kali aku mengunjungi Susiok.”

Kakek itu berdongak ke udara, menarik napas panjang. “Thian Yang Maha Kuasa, kehendak-Mu selalu terjadilah. Tiada kekuasaan lain di dunia ini dapat mengubah kehendak-Mu. Sudahlah, selamat tinggal semua.” Ia meloncat keatas punggung rajawali dan burung ini segera terbang sambil mengeluarkan pekik panjang, agaknya ucapan selamat tinggal pula

Upacara penguburan dilakukan sederhana. Setelah selesai, Beng San dan isterinya lalu mempersilakan para tamunya untuk makan bersama. Hari itu adalah hari ke tujuh semenjak terjadinya keributan pada hari pendirian Thai-san-pai itu.

Mereka makan minum dengan asyik dan gembira. Para tokoh Hoa-san-pai mendengarkan penuh keheranan dan ketakjuban ketika mendengar cerita tentang sepak terjang Kun Hong. Terutama sekali Kwa Tin Siong yang mendengar semua hal puteranya itu, ia terheran-heran dan berkali-kali menggeleng kepala.

“Aku sengaja melarang dia belajar ilmu silat dengan maksud agar dia jangan sampai tersesat seperti encinya. Siapa tahu dia malah mendapatkan ilmu lebih jahat daripada Kwa Hong,” katanya.

Song-bun-kwi tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Kwa-sicu mengapa bicara begitu? Tidak ada ilmu yang jahat, tergantung dari orangnya. Kalau ilmu dipergunakan untuk kejahatan, maka menjadi ilmu jahat, kalau dipergunakan untuk kebaikan, ilmu yang itu juga menjadi ilmu baik. Puteramu benar-benar luar biasa sekali, dan kalau kau berbesan dengan mantuku, ha-ha-ha, akan benar-benar cocok sekali!” Kakek ini tertawa bergelak dan minum araknya.

Pucat wajah Beng San mendengar omongan mertuanya yang lancang sekali ini. Ia melihat betapa Bun Lim Kwi dan Bun Wan menjadi merah sekali mukanya, maka cepat ia berkata sambil tertawa,

“Ah, Gak-hu tidak tahu persoalannya maka bicara main-main. Baiknya kuberitahukan kepada semua yang hadir bahwa anakku yang bodoh, Tan Cui Bi, sebetulnya sudah kuikatkan jodoh dengan putera Kun-lun-pai, Bun Wan putera dari sahabatku Bun Lim kwi ini.”

Song-bun-kwi hanya berkata, “ah-oh-ah-oh” lalu minum araknya lagi untuk menghilangkan ketidak enakan hatinya. Akan tetapi muka Kun Hong menjadi pucat seperti mayat. Baiknya pemuda ini cepat dapat menguasai hatinya sehingga mukanya berubah merah lagi. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Cui Bi dan Kong Bu yang sudah tahu akan persoalannya. Li Eng dan Hui Cu memandang paman mereka dengan penuh iba, lalu menoleh kepada Cui Bi dengan marah. Adapun gadis Thai-san-pai itu tak dapat menahan dua butir air matanya yang meloncat turun ke atas kedua pipinya, tapi cepat diusapnya dan ia menundukkan muka.

Keadaan sunyi, tak seorangpun bergerak. Suasana yang mencekam dan tidak menyenangkan ini membuat Beng San cepat-cepat bertindak. Ia berkata lagi, suaranya mengandung keramahan dan kegembiraan paksaan, “Ayah mertuaku Song-bun-kwi tadi main-main saja. Mana bisa terjadi aku berbesan dengan Ketua Hoa-san-pai? Ketua Hoa-san-pai adalah kakek dari anakku Sin Lee, berarti ayah mertuaku pula. Mana ada mantu berbesan dengan mertua? Gak-hu, katakan bahwa kau tadi hanya main-main saja,”

Song-bun-kwi tertawa bergelak lalu minum araknya. Setelah mengusap mulut dengan ujung lengan baju, ia berkata, “Ah, mulut lancang! Aku tidak ingat akan semua itu. Ha-ha, memang aku hanya main-main!”

Pada saat itu, Bun Wan menggebrak meja di depannya. “Ayah, aku tidak dapat menahan lagi!” suaranya serak dan ia lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan. Semua orang memandangnya dengan heran dan tak mengerti, karena itu kini semua mata ditujukan kepada Bun Lim Kwi, ketua dari Kun-lun-pai yang pendiam itu.

Orang setengah tua ini wajahnya mengeras, agak pucat dan ia lalu bangkit berdiri, kedua tangannya dikepalkan dah suaranya jelas membayangkan perasaan yang tertindih.

“Sepekan sudah kami ayah dan anak menahan perasaan karena tidak baik mengemukakan urusan ini selagi tuan rumah menjalankan perkabungan. Akan tetapi benar kata anakku, tak mungkin kami berdua dapat menahan-nahan hal ini yang benar-benar amat menindih perasaan kami”

“Saudara Bun, demi Tuhan, demi persahabatan kita, katakanlah, apa yang telah terjadi?” Beng San berkata penuh kegelisahan.

Suara Bun Lim Kwi terdengar amat pahit, menyatakan keperihan hatinya ketika ia berkata sambil mengeluarkan segumpal kertas dari sakunya. “Memang urusan ini amat menyakitkan hati dan menyinggung perasaan. Akan tetapi saudara Beng San, kita sebagai orang-orang gagah paling suka akan urusan yang terus terang, kita bersama menjunjung nama kehormatan lebih tinggi daripada nyawa. Kun-lun-pai boleh dibilang perkumpulan kecil, apalagi ketuanya macam aku ini mana ada harganya? Dapat berbesan dengan Thai-san-pai benar-benar merupakan kehormatan yang jatuh dari langit, akan tetapi betapapun rendahnya keadaan aku dan anakku, kiranya tak patut menjadi buah tertawaan orang dan bahan permainan dan ejekan.”

“Saudara Bun, bicaralah sejujurnya, demi Tuhan, apa yang kaumaksudkan ini?” Beng San berseru keras.

“Sebelum pergi, Siauw-ong-kwi menghina kami dan menyerahkan tulisan di kertas ini. Berhari-hari aku menunggu dan menahan, akan tetapi melihat gelagatnya, tak boleh tidak kertas bertulis itu harus kuserahkan kepadamu dan aku harus menginsyafi akan kerendahan kami. Nah, kau terimalah kertas ini, baca dan boleh kalian perbincangkan sendiri. Adapun kami… ah, kami memohon diri, tentang perjodohan, baik kita bicarakan belakangan saja, itu pun kalau kau merasa perlu untuk mengajakku bicara, Saudaraku.” Ketua ini dengan tajam menatap semua orang yang berada di situ, lalu menarik tangan anaknya. “Wan-ji, mari kita pulang.”

Ayah dan anak itu bangkit dan menuju ke pintu. Beng San berseru,

“Saudara Bun, mengapa pergi? urusan, baik kita bicarakan yang betul, Duduklah kembali.” Akan tetapi melihat calon besannya itu tidak menjawab, terpaksa Beng San berkata kepada Oei Sun yang duduk di luar ruangan.

“Oei Sun, kau antar tamu kita keluar.” Ia menyuruh anak muridnya karena kuatir kalau-kalau dua orang tamunya itu akan tersesat jalan dan tidak dapat keluar dari tempat penuh jalan rahasia itu. Kemudian setelah mereka pergi, Beng San mengambil surat di atas meja yang ditinggalkan Bun Lim Kwi itu. Dibukanya surat itu dan seketika wajahnya berubah merah padam hampir menghitam.

Li Cu dan Cui Bi maklum akan sifat Ketua Thai-san-pai ini. Tentu Beng San marah membaca surat itu, maka mereka menanti dengan hati berdebar. Beng San menoleh kepada Cui Bi, suaranya gemetar ketika ia menyerahkan surat itu

“Cui Bi, apa artinya ini? surat itu melayang di atas meja depan Cui Bi. Tubuh gadis itu mengigil dan tak tidak berani mlnjamah surat itu hanya matanya membaca huruf-huruf besar yang ditulis di situ.

DI BAWAH SINAR BULAN PURNAMA  PUTERI THAI-SAN-PAI DAN PUTRA HOA-SAN-PAI BERSUMPAH SALING MENCINTA MEMBIARKAN KUN-LUN-PAI DITERTAWAI DUNIA.

Seketika pucat wajah Cui Bi. Kun Hong yang duduk di seberang gadis itu dapat pula membaca tulisan ini, demikian pula yang lain-lain.

“Kun Hong, apa yang kau lakukan? Betulkah tulisan itu?” Kwa Tin Siong membentak kepada puteranya dengan pandang mata tajam.

“Cui Bi, jawablah, tulisan Siauw-ong-kwi itu fitnah ataukah kenyataan?”

Cui Bi tak dapat menjawab, tiba-tiba ia menelungkupkan mukanya di atas meja dan menangis! Kun Hong sejenak menatap pandang mata ayahnya, lalu ia bangkit berdiri perlahan dan berkata, suaranya gemetar,

“Aku bersalah… aku berdosa… telah menggoda Bi-moi… aku siap menerima hukuman….”

“Brakkk!” cawan arak di depan Kwa Tin Siong melayang menghantam pipi Kun Hong yang kanan sehingga kulit pipinya berlubang dan darah mengucur. Saking marahnya Kwa Tin Siong sudah menyambit muka puteranya dengan cawan itu yang kini jatuh menggeletak di atas meja, berlumuran darah dari pipi Kun Hong.

“Anak celaka! Kiranya kau mendatangkan cemar lebih hebat dari pada yang diperbuat Hong Hong….” suara Ketua Hoa-san-pai mengandung isak, mukanya pucat sekali.

“Tidak… tidak…. Hong-ko tidak bersalah!” tiba-tiba Cui Bi meloncat bangun, mukanya yang pucat penuh air mata. “Akulah yang bersalah! Memang aku bersalah karena tidak memberi tahu kepadanya bahwa aku telah ditunangkan, ditunangkan dengan paksa oleh orang tuaku. Ayah… ibu… aku… cinta kepada Hong-ko, sebaliknya dia pun mencintaiku. Aku tidak sudi menikah dengan orang lain!”

Beng San dan Li Cu saling pandang bingung tak tahu harus berbuat berkata apa.

Akhirnya Beng San berkata lirih, “Kun Hong banyak jasanya kepada kita, malah dia menolong nyawaku… tapi… tapi… tapi ini soal kehormatan dan nama baik….”

“Ayah, lebih baik aku mati kalau dinikahkan dengan orang lain. Aku dan Hong-ko saling mencinta, sudah bersumpah…”

“Brakk!” Kun Hong menggebrak meja dan ternyata empat kaki meja itu ambles ke bawah saking hebatnya ia menahan gelora hati dan mempergunakan tenaga dalam tanpa ia sadari. “Bi-moi, tak boleh begini! Kau sudah ditunangkan dengan putera Kun-lun-pai. Ini menyangkut nama dan kehormatan Kun-lun-pai dan Thai-san-pai, Nama kehormatan yang harus dijaga lebih gigih daripada menjaga nyawa. Apalagi hanya cinta. Bi-moi, tak mungkin aku membiarkan kau melanggar aturan, menyusahkan orang tua, merusak nama Thai-san-pai, menjadikan permusuhan dengan Kun-lun-pai, hanya untuk memuaskan diriku saja. Tak mungkin! Cintaku tak serendah itu, bukan untuk mementingkan diri sendiri. Kau harus menjaga nama orang tuamu, menikah dengan putera Kun-lun-pai.”

“Tidak….! Tidak sudi….! Lebih baik aku mati. Hong-ko… Hong-ko….lupakah kau akan sumpahmu? Hong-ko, tak boleh kau mengorbankan diriku hanya untuk aturan-aturan lapuk. Hong-ko….” gadis itu tersedu-sedu tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

“Kun Hong! Perbuatanmu amat memalukan. Kau benar-benar mencemarkan nama orang-orang tua. Kun Hong, mulai saat ini aku tidak mau mengakui kau Sebagai anak lagi!”

“Ayah….” Kun Hong pucat, memandang ayahnya, kemudian kepada ibunya yang hanya dapat menunduk dan menangis karena di dalam keadaan segawat itu, menghadapi urusan besar yang menyangkut nama dan kehormatan Hoa-san-pai, Kun-lun-pai, dan Thai-san-pai, nyonya ini tidak dapat mengeluarkan perasaan hatinya yang penuh cinta kasih dan kasihan kepada putranya. Diam-diam ia membandingkan nasib kedua orang muda itu dengan nasibnya sendiri yang pernah mengalami kehancuran dalam pertunangan dahulu.

Dengan tubuh gemetar, wajah pucat dan hati hancur Kun Hong berdiri perlahan dari tempat duduknya, kakinya menggigil ketika melangkah, kata-katanya perlahan seperti orang berbisik,

“Aku berdosa… aku durhaka… tak patut hadir di sini…,” Ia melangkah hendak keluar dari ruangan besar itu.

“Hong-ko….!” Cui Bi melompat dari tempat duduknya, berlari mengejar, menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, sambil merangkul kedua kakinya, menangis tersedu-sedu, “Hong-ko… jangan tinggalkan aku….!” Ia mendongak, mukanya yang pucat penuh air mata, rambutnya awut-awutan, keadaannya mengiris jantung Kun Hong.

Kun Hong menunduk, memandang wajah kekasihnya, menelan ludah  beberapa kali, menggigit bibir menahan air mata, lalu meramkan mata dan menggeleng kepala keras-keras.

“Tidak, Bi-moi, tidak boleh….! Kau harus menjaga nama baik keluargamu… aku… aku tidak bisa melanggar aturan, kesopanan dan kesusilaan!”

“Hong-ko…,!” Tapi dengan cepat Kun Hong mengipatkan kedua tangan Cui Bi, gadis itu tergelimpang, menangis sampai hampir tak dapat bernapas dan Kun Hong melangkah terus keluar.

“Ayah, ini tak boleh terjadi!” tiba-tiba Kong Bu berteriak kepada ayahnya. “Cui Bi sudah berterus terang kepadaku, dia mencinta Kun Hong dan aku sudah berjanji kepadanya hendak bicara dengan Ayah tentang ini! Batalkan perjodohan dengan Kun-lun-pai dan terima Kun Hong sebagai suami Adik Bi!”

Beng San merah mukanya, matanya meram dan ia hanya menggeleng-geleng kepalanya, kelihatan betapa hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum. Li Cu juga menangis dan menahan-nahan hatinya yang ingin sekali menubruk dan memeluk puterinya. Akan tetapi tentu saja ia menahan hatinya karena dalam urusan ini, puterinya boleh dibilang telah melakukan suatu hal yang amat memalukan! Akan tetapi bagaimana dengan dia sendiri? Ia teringat akan semua pengalamannya dahulu, betapa ia pun bertekad dan melawan ayahnya sendiri karena cinta kasihnya kepada Beng San.

Sin Lee yang juga merasa sayang kepada adik tirinya, mukanya menjadi merah dan matanya meliar. Dia sedang terbenam kedukaan karena kematian ibunya, sekarang menghadapi keadaan Cui Bi, satu-satunya orang di samping ayahnya yang amat ia kasihi, ia tak kuat menahan. Tiba-tiba ia melengking keras dan tubuhnya sudah mencelat keluar dari ruangan mengejar Kun Hong. Ia berdiri di depan Kun Hong dengan beringas. “Kun Hong! Kau harus berani bertanggung jawab! Kau sudah menjatuhkan hati Cui Bi, tidak boleh kau sekarang meninggalkannya. Apa pun yang terjadi, kau harus melanjutkan cinta kasihmu itu, harus menjadi suami Bi-moi!”

Kun Hong menggigit bibirnya, kerongkongannya serasa tersumbat. Setelah menghela napas dan menelan ludah berapa kali, barulah ia dapat menjawab,

“Sin Lee, justeru sebagai orang berani bertanggung jawab, aku menjauhkan diri. Lebih baik aku sengsara daripada melihat nama baik orang-orang tua dan nama baik Bi-moi sendiri hancur ternoda.”

“Kau harus kembali, harus, kataku!” Sin Lee membentak dan maju mendorong Kun Hong untuk memaksa pemuda itu kembali ke ruangan. Akan tetapi sekali mengelak serangan itu luput dan Kun Hong sudah melewati tubuh Sin Lee terus berjalan pergi.

“Kun Hong, tunggu dulu!” tiba-tiba Kong Bu sudah menghadangnya, malah dengan pedang di tangan, sikapnya mengancam!

“Kau mau apa, Kong Bu?” suara Kun Hong mengerikan, suara tanpa irama, seperti suara dari balik lubang kubur.

“Kun Hong, tidak ingatkah kau akan sumpahmu dahulu? Bahwa kau mencinta Adik Bi dan bersedia mengorbankan nyawa untuknya? Kenapa sekarang kau malah hendak menghancurkan kebahagiaannya dan meninggalkannya?”

“Aku tetap cinta padanya, aku tetap bersedia mengorbankan segalanya untuknya. Kong Bu, tak tahukah kau bahwa pengorbanan yang kulakukan ini lebih berat daripada berkorban nyawa?” Kini suara itu bercampur sedu-sedan dan di kedua pipi Kun Hong tampak air mata bercucuran.

“Tidak, kau harus kembali dan minta tangan Bi-moi dari Ayah. Jangan pedulikan pandangan orang lain, kalau pihak Kun-lun-pai marah serahkan saja kepadaku!” bentak Kong Bu.

Kun Hong menggeleng kepala. “Kau keliru. Aku tidak mau demi cinta kasihku, demi kebahagiaanku, harus mengorbankan hal yang lebih penting lagi. Tidak, Kong Bu, kau kembalilah.”

“Aku akan memaksamu!” Kong Bu mengayun pedangnya. Tapi sekali melejit Kun Hong mengelak dan menyentil dengan jari telunjuknya yang tepat mengenai pergelangan tangan Kong Bu, membuat  pemuda ini hampir saja melepaskan pedangnya, sementara itu Kun Hong sudah melewatinya.

“Hong-ko… tunggu….! Hong-ko….!” Cui Bi berlari-lari mengejar Kun Hong. Gadis ini tadi melihat sendiri betapa kedua orang kakak tirinya membujuk-bujuk, malah dengan kekerasan, namun semuanya tidak berhasil. Maka ia sendiri lalu berlari mengejar.

Mendengar suara kekasihnya ini, Kun Hong berhenti, seakan-akan kedua kakinya terpaku di tanah, tak dapat digerakkan lagi. Ia berhenti berdiri tegak tanpa menoleh, bahkan ia pun tidak menunduk ketika Cui Bi sudah berlutut lagi di depannya sambil menangis.

“Hong-ko… demi Tuhan, Hong-ko… jangan tinggalkan aku. Aku… aku takkan kuat menahan, Hong-ko… aku takkan dapat hidup kalau harus berpisah denganmu dan menikah dengan orang lain… Hong-ko, kau kasihanilah diriku….”

Kun Hong meramkan mata, bertunduk pula ia tidak berani. Ia tahu bahwa sekali ia memandang wajah Cui Bi yang amat dikasihi itu, kekerasan hatinya akan hancur dan ia akan melupakan kesopanan, melupakan aturan, melupakan nama dan kehormatan, dan hanya akan memuaskan cinta kasih dan kebahagiaan perasaan hatinya sendiri. Maka seperti orang dalam mimpi ia meramkan mata dan bibirnya berulang-ulang berbisik,

“Tidak, Bi-moi… tidak… tidak… tidak….”

Tiba-tiba ia mendengar keluhan panjang. “Hong-ko….!” suara Cui Bi ini sedemikian anehnya dan ia mendengar gadis itu roboh. Kun Hong membuka mata-nya dan… ia terbelalak, menjerit,

“Tidak… ah, tidak… jangan, Bi-moi… aduh, Bi-moi….!!” Ia menubruk ke depan, menubruk tubuh yang masih hangat itu, yang sudah telentang dengan pedang menembus dada, dengan mata masih terbuka memandangnya penuh permohohan, dengan bibir masih berkomat-kamit memanggil namanya, berbisik-bisik, “Hong-ko… Hong-ko…”

“Cui Bi….! Dewiku! Cui Bi, kekasihku… ah, Cui Bi….!” Kun Hong menjerit-jerit dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya sambil menangis dan memanggil-manggil.

Darah mengalir keluar dari dada dan punggung gadis itu, membasahi baju Kun Hong. Ketika ia memandang melalui air matanya ia melihat Cui Bi tersenyum puas dan bahagia, bibirnya bergerak, “Hong-ko, aku cinta padamu….” Dan ucapan ini merupakan, hembusan napas terakhir. Gadis jelita itu mati dalam pelukan kekasihnya, mati dalam keadaan bahagia, terbukti dari bibir yang tersenyum itu.

Orang-orang dalam ruangan itu berlari-lari memburu keluar. Segera terdengar pekik dan jerit memilukan, Li Cu menubruk ke depan, merampas tubuh anaknya dari pelukan Kun Hong, akan tetapi pemuda itu tidak memberikannya.

“Biar dia kupondong….” katanya sambil berdiri, memondong tubuh itu sambil berjalan lambat-lambat kembali ke ruangan tadi. Langkahnya satu-satu, kaku, matanya memandang lurus ke depan seperti mata patung, mukanya yang tadi dipergunakan untuk mencium dan mendekap gadis itu penuh air mata bercampur darah, tubuh Cui Bi terkulai dalam pondongannya, rambut gadis itu terlepas dan terurai ke bawah, kedua kakinya yang masih lemas tergantung dan bergerak-gerak ketika Kun Hong membawanya berjalan ke ruangan.

Li Cu menjerit-jerit, masih mencoba merampas mayat anaknya. Beng San memegang lengannya dan merangkulnya, menuntunnya ke dalam ruangan itu, tapi Li Cu masih menjerit-jerit.

“Dia anakku….! Kembalikan anakku….! Ah, mana anakku? Ya Tuhan, Kun Hong, kau telah membunuh anakku. “Aduhai, Cui Bi… Cui Bi anakku sayang…. kenapa menjadi begini? Kun Hong, kau… kau membunuh Cui Bi. Ah, Cui Bi, biji mataku… Cui Bi bangunlah, anakku.” Beng San merangkul isterinya. “Tenang, kuatkan hatimu….” ia menghibur.

“Tenang bagaimana? Menguatkan hati bagaimana? Aku kehilangan biji mataku dan harus tenang? Ya, dia lebih berharga daripada biji mataku!” Nyonya itu menangis lagi sambil menjerit-jerit, membuat semua orang terharu dan terutama sekali Li Eng dan Hui Cu, Lee Giok dan Thio Bwee. Lee Giok yang masih adik seperguruan Li Cu merangkul sucinya itu dan membujuk-bujuk sambil menangis. Hui Cu dan Li Eng memeluki mayat Cui Bi yang oleh Kun Hong sudah diletakkan di atas bangku panjang. Sin Lee dan Kong Bu berdiri mematung, pucat dan juga dari kedua mata mereka runtuh beberapa butir air mata. Hanya Song-bun-kwi terus menerus menenggak arak, agaknya untuk menguatkan hatinya yang hampir lumer menyaksikan semua itu.

Kun Hong telah membaringkan tubuh Cui Bi di atas bangku, lalu berlutut di depan Li Cu. “Bibi, memang aku yang menyebabkan kematian Bi-moi. Kau kehilangan biji mata, Bibi? Ah, aku pun kehilangan, kehilangan matahari hidupku. Bibi, aku tidak dapat mengganti seorang Cui Bi kepadamu, akan tetapi aku sanggup mengganti dengan biji mata pula, apa artinya biji mata bagiku kalau aku tak dapat melihat matahari lagi. Terimalah ini, Bibi, biji mataku….” Sebelum orang lain dapat menduga apa yang hendak dilakukan, Kun Hong menggerakkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya, ditusukkan ke matanya dan di lain saat dua biji matanya telah ia korek keluar dan berada di telapak tangannya yang sekarang diangsurkan kepada Li Cu.

Semua orang berteriak tertahan. Kun Hong masih berlutut tegak dengan tangan kanan diangsurkan dan di atas telapak tangan itu terdapat dua butir mata yang berlumuran darah. Adapun mukanya yang pucat itu seharang menjadi mengerikan sekali. Darah bercucuran keluar dari kedua matanya yang sudah berlubang.

Li Cu memandang dengan mata terbelalak, “Kau… kau… aduh, Kun Hong…!” Li Cu memeluk pemuda itu yang terguling dan pingsan! Beng San menarik isterinya perlahan, lalu menyerahkan kepada Lee Giok, minta supaya diajak ke dalam.

Kwa-Tin-Siong dengan muka pucat memegangi lengan isterinya yang menjerit-jerit sekarang, sebentar memandang kepada puteranya yang menggeletak dengan muka berlumur darah, lalu tidak kuat dia dan membuang muka, memandang lagi dan kalau tidak dipegangi suaminya tentu ia sudah menubruk anaknya itu. Wajah Kwa Tin Siong seperti Beng San berdiri di depannya, kedua orang ini berpandangan, penuh pengertian, penuh sesal, penuh kedukaan dan akhirnya Beng San lalu membungkuk memondong tubuh Kun Hong yang pingsan itu, dibawa ke dalam untuk dirawat. Sunyi di ruangan itu, hanya isak tangis yang terdenga, bahkan kini Song-bun-kwi yang tadinya minum terus-menerus sekarang menjatuhkan muka ke atas meja, menutupi muka dengan kedua lengan dan menangis seperti anak kecil, memanggil-manggil nama isterinya, dan nama anaknya, Bi Goat, yang sudah meninggal.

***

Betapapun janggalnya, namun bukanlah hal yang aneh atau tak mungkin terjadi apabila kita melihat seorang yang menurut penilaian, kita adalah seorang baik, namun mengalami nasib yang amat menyedihkan. Semua ini adalah kehendak Tuhan dan hal ini merupakan rahasia bagi manusia. Adakalanya, kalau Tuhan menghendaki, seorang yang hidupnya terkenal jahat dapat mengalami hidup yang serba menyenangkan, sebaliknya seorang yang hidupnya terkenal baik dapat mengalami hidup yang sengsara. Tampaknya tidak adil, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian. Ada sebab-sebab tertentu yang menjadi rahasia Tuhan, dan Tuha tetap Maha Adil, Betapapun ganjilnya, manusia wajib menerima, karena baik yang menyenangkan maupun yang sebaliknya, kesemuanya itu tetap adalah karunia Tuhan.

Setelah jenazah Cui Bi dimakamkan, Kun Hong tetap dirawat di Thai-san-pai sampai sembuh. Matanya menjadi buta, tak berbiji lagi. Beng San sendiri yang merawatnya, malah di samping merawatnya, Beng San membisiki semua rahasia Ilmu Silat Im-yang Kun-hoat kepada orang muda melatihnya mempergunakan telinga bagai pengganti mata.

Kwa Tin Siong dan isterinya serta semua tokoh Hoa-san-pai, termasuk Li Eng dan Hui Cu, telah kembail ke Hoa-san setelah mendapat janji dari Beng San bahwa lain waktu Ketua Thai-san-pai ini akan mengunjungi Hoa-san-pai untuk membicarakan tentang perjodohan kedua puteranya dengan Hui Cu dan Li Eng. Dengan penuh keharuan Liem Sian Hwa memeluk anaknya yang sudah buta itu, minta supaya kalau sudah sembuh anaknya akan segera kembali ke Hoa-san-pai.

Di samping Beng San yang tekun merawat Kun Hong, juga Song-bun-kwi seringkali mengajak pemuda itu bercakap-cakap, bergurau dan malah pada suatu hari Song-bun-kwi memberi hadiah sebatang tongkat kepada Kun Hong. Ketika Kun Hong menerima dan memeriksa dengan rabaan tangannya, ternyata tongkat itu bukan sembarang tongkat untuk membantunya mencari jalan, melainkan tongkat yang di dalamnya tersimpan pedang Ang-hong-kiam, pedangnya. Ternyata oleh kakek sakti itu, pedang Ang-hong-Kiam telah diberi sarung pedang berupa tongkat!

Beberapa bulan kemudian, dikala Hoa-san-pai merayakan pesta pernikahan yang amat meriah dari Hui Cu dan Li Eng yang menikah dengan Sin Lee dan Kong Bu, Kun Hong juga hadir. Pada malam harinya, malam yang amat bahagia bagi dua pasang pengantin itu, orang-orang mencari Kun Hong akan tetapi orang muda buta ini tidak nampak bayangannya.

Kalau kita menengok jauh ke lereng Bukit Hoa-san-pai, akan terlihatlah bayangan orang buta itu berjalan perlahan, dibantu tongkat pedangnya, meninggalkan Hoa-san, berjalan di bawah cahaya bulan purnama, mulutnya tersenyum-senyum seakan-akan ia ikut merasakan kebahagiaan dua pasang mempelai yang merupakan orang-orang yang amat disayangnya.

Sampai di sini tamatlah cerita Rajawali Emas ini, dan tiada aral melintang, pengarang cerita ini Kho Ping Hoo, akan menyusun sebuah cerita baru yang berjudul “PENDEKAR BUTA”. Apakah Pendekar Buta ini Kwa Kun Hong adanya, dan apakah kita akan di bawa jumpa dengan tokoh-tokoh cerita ini, baiklah kita tunggu terbitnya PENDEKAR BUTA dan klta buktikan sendiri.

TAMAT

Kota Bengawan, tengah Mei 1967

About Lenghou Tiong


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: