Pedang Hati Suci (Jilid ke-10)

Tjui Sing terkedjut dan tjepat2 melompat mundur. Kemudian ia djemput sebatang kaju jang lain dan madju pula hendak melabrak Tik Hun.

Dalam bahaja mendadak timbul suatu akal Tik Hun, tiba2 teringat suatu akal badjingan olehnja, ia berteriak: “Djangan madju lagi! Selangkah kau berani madju, segera aku membuka tjelana! ~ Dan sambil berteriak, kedua tangannja lantas me-raba2 pinggang dengan lagak hendak membuka tjelana.

Keruan Tjui Sing kaget, lekas2 ia berpaling kearah lain dengan muka merah djengah. Pikirnja: “Segala kedjahatan djuga dapat dilakukan Hwesio djahat ini, bukan mustahil dia akan menggunakan kelakuan rendah ini untuk menghina diriku.”

“Hajolah, lekas kau melangkah kesana, lebih djauh lebih baik!” segera Tik Hun ber-teriak2 pula.

Hati Tjui Sing berdebaran, ia tidak berani membangkang, benar-benar ia melangkah madju kesana.

Tik Hun sangat girang karena akal badjingannja berhasil menakutkan sigadis. Segera ia menggembor lagi: “Nah, sudahlah, aku sudah tjopot tjelanaku sekarang, djika kau masih ingin menghadjar aku, silakan datang kemari!”

Keruan Tjui Sing bertambah kaget.

Masakan pantas seorang gadis disuruh hadjar orang telandjang. Tanpa pikir lagi ia terus melompat kesana, djangankan mendekat, sekalipun menoleh djuga tidak berani. Ia menjingkir djauh2 kebalik gundukan saldju sana.

Padahal Tik Hun sebenarnja tidak melepas tjelana segala. Apa jang dikatakan itu hanja untuk menggertak sadja. Pikir punja pikir ia mendjadi geli sendiri dan gegetun pula akan nasibnja jang apes. Hadjaran jang kenjang dirasakan tadi paling sedikit ada 50 kali banjaknja dan antero badannja hampir2 rata penuh babak-belur, tulang betis jang petjah ditimpuk batu itu, lebih2 kesakitan pula. Pikirnja: “Tjoba kalau aku tidak gunakan akal badjingan, mungkin saat ini riwajatku sudah tamat. Ha, aku Tik Hun adalah seorang laki2 sedjati, tapi sekarang telah berlaku serendah dan sekotor ini, biarpun djiwaku ini selamat, tjara bagaimana aku harus berhadapan dengan orang kelak?”

Waktu ia memperhatikan suasana ditebing karang sana, ia lihat pertarungan Hiat-to Lotjo dan Lau Seng-hong masih berlangsung dengan sengit.

Puntjak karang jang dipakai gelanggang pertarungan itu menondjol keluar dari sebuah dinding tebing jang terdjal. Tingginja dari tanah paling sedikit ada ratusan meter tingginja. Diatas karang jang luasnja tjuma beberapa meter itu penuh tertimbun saldju, asal salah seorang terpeleset sedikit sadja hingga tergelintjir djatuh kebawah, biarpun setinggi langit ilmu silatnja djuga akan terbanting hantjur lebur.

Dipandang dari bawah, Tik Hun merasa perawakan kedua orang itupun banjak lebih ketjil daripada tubuh mereka jang sebenarnja. Lengan badju kedua orang itu tampak berkibaran hingga mirip dua dewa sedang me-lajang2 ditengah awang2, sungguh indah pemandangan itu. Meski Tik Hun tidak terlalu djelas menjaksikan djalannja pertarungan mereka, tapi dapat diduga setiap djurusnja pasti menjangkut mati atau hidup masing2.

Dalam pada itu tiba2 terdengar Tjui Sing ber-teriak2 pula dibalik gundukan saldju sana: “Ajah, ajah! Lekas kemari!”

Setelah berteriak beberapa kali, mendadak dari arah timur-laut ada suara seorang tua mendjawabnja: “Apakah Tjui-titli disitu? Ajahmu mengalami sedikit tjidera, sebentar lagipun akan menjusul tiba!”

Dari suara itu Tjui Sing dapat mengenali orang itu adalah Hoa Tiat-kan, jaitu tokoh kedua daripada empat kakek “Lok-hoa-liu-tjui”. Dengan girang segera ia berseru menanja: “Apakah Hoa-pepek disitu? Dimanakah ajah? Bagaimana lukanja?”

“Wah, tjelaka, sekali ini benar2 tjelaka!” demikian diam2 Tik Hun mengeluh. “Dia kedatangan bala bantuan, tamatlah riwajatku tentu!”

Dan hanja sekedjap sadja sikakek she Hoa itu sudah berlari sampai ditempat Tjui Sing, terdengar katanja: “Tadi mendadak sepotong batu jang djatuh dari atas pntjak gunung telah menindih keatas kepala Liok-pepek, karena ajahmu hendak menjelamatkan Liok-pepek, ia telah hantam batu itu. Tapi karena batu itu terlalu besar dan berat, maka tangan ajahmu mengalami sedikit tjidera, tapi tiada berhalangan apa2.”

“Eh, Hoa-pepek, ada seorang Hwesio djahat disana, lekas …….lekas Hoa-pepek pergi kesana dan membunuhnja, tapi dia …..dia telah buka……” begitulah Tjui Sing mendjadi malu untuk mendjelaskan Tik Hun telah membuka tjelananja.

“Baiklah, akan kubunuh dia, dimana tempatnja?” terdengar Hoa Tiat-kan menjahut.

Tjui Sing lantas menundjukkan tempat beradanja Tik Hun, tapi kuatir kalau mendadak melihat pemuda itu dalam keadaan telandjang, sambil djarinja menuding kebelakang, kakinja berbalik melangkah kesana.

Dan selagi Hoa Tiat-kan mendekati Tik Hun untuk membunuhnja, tiba2 terdengar suara njaring “tring-ting-ting-ting” empat kali, suara njaring beradunja sendjata dari atas tebing tjuram itu. Waktu ia menengadah, ia melihat golok dan pedang Hiat-to Lotjo dan Lau Seng-hong saling bertahan mendjadi satu, kedua orang sedikitpun tidak bergerak se-olah2 sudah mati beku oleh dinginnja saldju.

Kiranja ilmu golok dan ilmu pedang kedua orang itu ada keunggulannja sendiri2, saking seru pertempuran itu, sampai achirnja terpaksa kedua orang mesti mengadu Lwekang dengan mati-matian.

Sudah tentu Hoa Tiat-kan tahu tjara mengadu Lwekang begitu adalah tjara jang paling bahaja. Sekali sudah terdjadi kalah dan menang, jang kalah tentu akan terluka parah bila tidak mati.

Tiba2 tergerak pikirannja: “Hiat-to Ok-tjeng itu sedemikian tangkas dan ganasnja, belum tentu Lau-hiante dapat mendjatuhkan dia. Dalam keadaan demikian bila aku tidak lantas mengerojoknja, mau menunggu kapan lagi?”

Meski kedudukan dan nama baiknja di Bu-lim sangat tinggi, sebenarnja ia tidak sudi mendapat nama djelek karena main kerojok. Tapi kedjadian para kesatria Tionggoan menguber dua paderi Hiat-to-bun itu sudah menggemparkan antero dunia persilatan, djikalau sekarang ia dapat membunuh Hiat-to-tjeng itu dengan tangan sendiri, nama harumnja tentu tjukup untuk menutupi nama djeleknja karena telah main kerojok.

Karena pikiran itu, mendadak ia putar tubuh dan berlari kebalik tebing tjuram itu. Dengan demikian selamatlah djiwa Tik Hun.

Sebaliknja Tjui Sing mendjadi heran dan kuatir. “Hai, Hoa-pepek, apa jang hendak kau lakukan?” serunja. Dan begitu tertjetus pertanjaannja itu, segera iapun tahu sendiri akan djawabannja.

Ia lihat setjara diam2 Hoa Tiat-kan sedang merajap keatas tebing jang terdjal itu. Tangan djago she Hoa itu memegang sebatang tumbak pendek dari badja murni, sekali udjung tumbak digunakan menutul didinding karang, segera tubuhnja melompat keatas dua-tiga meter tingginja. Waktu tubuh menurun, tumbak pendek itu lantas menutul dinding karang lagi untuk menahan, lalu mentjelat naik keatas lagi. Tjara mandjatnja itu djauh lebih tjepat daripada Hiat-to-tjeng dan Lau Seng-hong tadi.

Dipihak lain demi mendengar tindakan orang sudah makin mendjauh, dirinja tidak djadi akan dibunuhnja, maka legalah hati Tik Hun.

Tapi rasa lega itu hanja terdjadi sekedjap sadja, sebab lantas dilihatnja djuga Hoa Tiat-kan sedang melompat dan merajap keatas karang jang terdjal itu. Sudah tentu ia mendjadi kuatir. Harapan satu2nja baginja sekarang jalah semoga sebelum Hoa Tiat-kan mentjapai puntjak karang itu, lebih dulu dapatlah Hiat-to-tjeng membunuh Lau Seng-hong, habis itu dapat segera bertempur melawan Hoa Tiat-kan. Kalau tidak, bila nanti dikerojok oleh Hoa Tiat-kan berdua, pasti paderi tua itu akan dirobohkan.

Tapi kemudian lantas terpikir pula olehnja: “Lau Seng-hong dan Hoa Tiat-kan itu adalah kesatria jang berbudi luhur, sedangkan Hiat-to-tjeng itu sudah terang gamblang adalah seorang jang maha djahat, namun aku malah mengharapkan orang djahat membunuh orang baik. Ai, Tik Hun, wahai, Tik Hun, ternjata sudah sedemikian bedjatnja moralmu! ~ Begitulah disamping kuatir bagi keselamatan sendiri, ia mentjela pula dirinja sendiri, perasaannja mendjadi kusut sekali. Dan pada saat itulah dilihatnja Hoa Tiat-kan sudah melompat naik keatas karang itu.

Tatkala itu Hiat-to-tjeng sedang mengadu tenaga dalam dengan mati2an kepada Lau Seng-hong, setjara ber-gelombang2 tenaga dalamnja sedang dikerahkan bagaikan ombak jang men-dampar2 hebatnja. Sebaliknja Lau Seng-hong adalah tokoh terkemuka dari Thay-kek-bun, selama hidupnja jang dilatih jalah tjara menggunakan kelunakan untuk melawan kekerasan. Maka walaupun tenaga dalam Hiat-to-tjeng terus membandjir, namun dengan tenang iapun gunakan tenaga dalamnja jang lunak itu untuk mematahkan setiap desakan lawan. Lebih dulu ia bertahan, habis itu akan terus balas menjerang bila musuh sudah lelah.

Dengan demikian, biarpun tenaga dalam Hiat-to Lotjo sangat kuat, titik serangannja jang diarah djuga ber-ubah2, namun sesudah saling ngotot sekian lamanja, tetap ia takdapat meng-apa2kan Lau Seng-hong. Dengan memusatkan semangat dalam mengadu Lwekang itu, kedua orang itu sudah melupakan apa jang terdjadi disekitarnja. Maklum, kalah-menang dalam keadaan demikian tergantung sedetik sadja, siapa lengah sedikit, seketika akan memberi kesempatan kepada lawan untuk melantjarkan tenaga dalamnja lebih kuat.

Waktu Hoa Tiat-kan melompat keatas karang itu, kedua orang itu tiada satupun jang tahu. Ia lihat Hiat-to-tjeng dan Lau Seng-hong masih sendjata mengadu sendjata dan tangan mendempel tangan, diatas kepala mereka mengepulkan hawa, pertanda tenaga dalam mereka sudah penuh dikerahkan. Diam2 Hoa Tiat-kan memudji djuga ketangkasan kedua orang itu.

Dengan diam2 ia menggermet kebelakang Hiat-to Lotjo, ia angkat tumbak badjanja jang pendek itu, ia himpun segenap tenaga kelengan jang memegang sendjata itu, sekali sinar tumbak berkelebat, dengan tjepat dan keras ia terus menusuk kepunggung Hiat-to Lotjo.

Pada waktu Hoa Tiat-kan mulai mengangkat tumbaknja tadi, sinar tumbak jang kemilauan telah menimbulkan tjahaja repleksi pada tanah saldju jang putih bersih itu hingga menjilaukan Tik Hun. Ia terkedjut dan tjepat berteriak sepenuh tenaganja: “Awas, dibelakang ada orang!”

Mendengar djeritan jang mengguntjangkan kalbu itu, mendadak Hiat-to Lotjo tersadar, tiba2 ia merasa serangkum angin tadjam telah menjambar dari belakang. Padahal saat itu ia sedang mengadu tenaga dalam dengan Lau Seng-hong, untuk berkelit atau mengganti tempat terang sangat sulit, djangankan hendak menarik sendjata untuk menangkis serangan dari belakang itu.

Tapi paderi tua itu dapat berpikir tjepat: “Daripada mati konjol, lebih baik aku mati terbanting sadja. Aku tidak boleh mati ditangan musuh!”

Karena pikiran itu, mendadak ia mendakan tubuh dan melesat kesamping, ia sengadja terdjun kebawah djurang.

Dalam pada itu tusukan tumbak Hoa Tiat-kan itu sudah bertekad harus membinasakan Hiat-to-tjeng itu. Maka tusukan itu luar biasa kerasnja dan tak tertahankan lagi. Siapa tahu mendadak ada perubahan jang tak terduga oleh siapapun djuga. Pada detik menentukan itu mendadak Hiat-to-tjeng terdjun kebawah djurang. Maka terdengarlah “tjrat” sekali, udjung tumbak menantjap ditubuh kawan sendiri, jaitu diatas dada Lau Seng-hong. Begitu kuat tusukan itu hingga udjung tumbak menembus dari dada kepunggung. Sudah tentu kedjadian itupun se-kali2 tidak tersangka oleh Lau Seng-hong hingga iapun tidak sempat menghindar.

Dalam pada itu Hiat-to Lotjo jang menerdjun kedalam djurang itu semakin dekat dengan tanah. Se-konjong2 ia menggertak sekali sambil ajun goloknja membatjok kebawah. Dasar djiwanja mungkin belum ditakdirkan mampus, batjokan itu tepat mengenai batu karang jang menondjol hingga lelatu api bertjipratan dan daja turunnja mendjadi tertahan sedikit. Menjusul sebelah tangannja terus memukul pula kebawah, “brak”, saldju bertebaran kena tenaga pukulannja itu, sedjenak kemudian Hiat-to Lotjo dapat pula menantjapkan kakinja ketanah dengan enteng dan tak kurang sesuatu apapun.

“Ehm, tjutju murid jang baik, untunglah engkau telah mendjerit hingga djiwa kakek gurumu ini tertolong!” demikian ia mengangguk kepada Tik Hun sebagai tanda pudjian.

“Rasakan golokku!” tiba2 seorang membentak dibelakangnja.

Dengan ilmu “Thing-hong-pian-gi” atau mendengarkan suara membedakan arah sendjata, dengan tjepat dan tanpa balik tubuh paderi itu terus putar golok kebelakang untuk menangkis. “Trang”, dua golok saling bentur dengan keras. Kontan Hiat-to Lotjo merasakan dadanja sesak, hampir2 golok terlepas dari tjekalan. Keruan kedjutnja tak terkatakan.

Waktu ia menoleh, ia lihat penjerang itu adalah seorang kakek jang bertubuh tegap kekar, berdjenggot pandjang dan sudah putih semua. Tangan memegang sebatang “Kui-thau-to”, jaitu golok tebal jang berudjung dalam bentuk kepala setan. Sikapnja sangat gagah.

Hanja sekali gebrak itu sadja, maka Hiat-to Lotjo mendjadi djeri. Sama sekali tak tersangka olehnja bahwa tenaga dalamnja sudah banjak terbuang ketika mengadu Lwekang dengan Lau Seng-hong tadi, ditambah lagi menerdjun dari atas, ia mesti menggunakan tenaga pukulannja untuk menahan daja turunnja tubuh hingga tidak terbanting mati. Tjoba kalau orang lain, andaikata tidak terbanting mampus, paling sedikit djuga akan tangan patah atau remuk isi perutnja dan terluka parah.

Ia tjoba mendjalankan tenaga murninja, ia merasa didalam perut agak sakit, tenaga susah dikerahkan.

“Liok-toako, paderi tjabul itu telah membunuh Lau-hiante, kalau kita tidak mentjingtjang dia hingga mendjadi baso, sungguh tak terlampias dendam kita,” demikian tiba2 seorang berseru dari sisi kiri sana.

Pembitjara itu bukan lain daripada Hoa Tiat-kan. Sesudah dia salah membunuh kawan sendiri, jaitu imam tua Lau Seng-hong, sudah tentu ia sangat berduka dan murka pula kepada musuh jang litjik itu. Setjepat terbang iapun memburu kebawah djurang dengan maksud hendak mengadu djiwa dengan Hiat-to Lotjo. Kebetulan saat itu Liok Thian-dju, jaitu sikakek pertama dari “Lam-su-lo”, djuga telah menjusul tiba. Maka kedudukan Hiat-to Lotjo kembali terdjepit lagi dari dua djurusan.

Mau-tak-mau Hiat-to Lotjo mendjadi kuatir djuga. Ia insaf tenaga dalam sendiri sudah terkuras sebagian besar, melawan seorang Liok Thian-dju sadja belum tentu menang, apalagi kini ditambah Hoa Tiat-kan jang tampak sudah mendekat dengan mata membara se-akan2 hendak menelannja mentah2. Kalau sebentar sampai terlibat lagi dalam kerojokan mereka, pasti djiwanja akan melajang. Ia pikir tenaga dalam sendiri sudah lemas, untuk laripun tentu susah, djalan satu2nja sekarang jalah menggunakan Tjui Sing sebagai sandera agar musuh tidak berani terlalu mendesak padanja. Dan sesudah awak sendiri dapat mengaso barang sedjam dua djam, tentu akan kuat untuk bertempur lagi.

Keputusan itu ditetapkannja dalam sekilas pikir sadja, dalam pada itu dilihatnja golok tebal Liok Thian-dju sudah terangkat dan hendak membatjok pula. Tjepat Hiat-to Lotjo mendakan tubuh, be-runtun2 ia menjerang tiga kali kebagian bawah musuh.

Perawakan Liok Thian-dju tinggi besar, terpaksa ia mesti mengajun goloknja untuk menangkis kebawah. Padahal serangan2 Hiat-to-tjeng itu tjuma pantjingan belaka. Tapi djuga bukan sembarangan serangan kosong, sebab kalau sedikit salah tangkisan Liok Thian-dju itu, pasti djiwanja akan segera melajang. Namun tangkisan2 itu ternjata sangat rapat hingga tiada lubang kesempatan bagi Hiat-to-tjeng untuk menjerang lebih djauh.

Mendadak paderi tua itu mendesak madju selangkah, tapi baru setengah djalan, tahu2 ia menarik diri dan melompat kebelakang malah. Dengan tjara “Seng-tang-kek-se” (bersuara ketimur, tapi menjerang kebarat), barulah Hiat-to-tjeng dapat melepaskan diri dari kurungan sinar golok Liok Thian-dju jang lihay itu.

Dan sekali sudah melompat mundur, hanja beberapa kali naik turun sadja ia sudah sampai disamping Tik Hun. Ketika Tjui Sing tak kelihatan, segera ia menanja: “Dimanakah anak dara itu?”

“Disana!” sahut Tik Hun sambil menuding.

Keruan Hiat-to lotjo mendjadi gusar. “Kenapa kau tak tawan dia dan membiarkan dia lari?” damperatnja dengan beringas.

“Aku……… aku tak kuat…….. tak kuat menangkapnja,” sahut Tik Hun gelagapan.

Hiat-to Lotjo semakin murka, dasarnja memang seorang jang kedjam, pada saat menentukan bagi mati-hidupnja itu ia mendjadi lebih buas lagi. Sekali kakinja bergerak, terus sadja ia tendang kepinggang Tik Hun. Pemuda itu mendjerit tertahan dan badannja mentjelat dan terguling kedepan.

Tempat dimana mereka berada itu memangnja djurang jang dikelilingi puntjak2 gunung jang tinggi, siapa duga dibawah djurang masih ada djurang lagi. Dan karena tergulingnja Tik Hun itu, tubuhnja terus tergelintjir kebawah djurang jang lebih dalam itu.

Ketika mendengar suara Tik Hun tadi, segera Tjui Sing menoleh. Demi dilihatnja Tik Hun sedang terdjerumus kebawah djurang, dalam kagetnja dilihatnja Hiat-to Lotjo lagi memburu kearahnja pula. Dan pada saat itu djuga tiba2 dari samping kanan sana ada suara seruan orang: “Sing-dji! Sing-dji!”

Itulah suara ajahnja, Tjui Tay. Keruan Tjui Sing sangat girang, segera iapun balas berteriak: “Ajah!”

Sungguh sajang perbuatan Tjui Sing ini. Padahal waktu itu djaraknja dengan sang ajah terlalu djauh, sebaliknja djaraknja dengan Hiat-to Lotjo lebih dekat, selisih djarak kedua pihak itu ada beberapa meter djauhnja. Pabila Tjui Sing tidak berteriak misalnja, sekali melihat ajahnja muntjul, segera ia berlari kearahnja, dengan demikian djaraknja dengan sang ajah akan mendjadi lebih dekat daripada djaraknja dengan Hiat-to Lotjo. Tapi karena teriakannja itu, nasib hidupnja mendjadi banjak perubahannja.

Begitulah saking girangnja ia berteriak ajah, seketika ia mendjadi lupa Hiat-to Lotjo djuga sedang memburu kearahnja.

Dalam pada itu lingkaran kepungan Tjui Tay, Liok Thian-dju dan Hoa Tiat-kan dari tiga djurusan djuga semakin sempit, tampaknja dalam waktu singkat Hiat-to Lotjo pasti akan tergentjet. Tapi kalau lebih dulu Tjui sing kena ditangkap oleh paderi tua itu, kedudukan masing2 tentu akan berubah, dengan mempunjai sandera tawanannja itu, tentu sipaderi akan dapat angin lagi.

Karena itu tjepat Tjui Tay lantas ber-teriak2 djuga: “Sing-dji, lekas kemari, lekas!”

Maka tersadarlah Tjui Sing, tjepat ia berlari kedepan bagaikan orang keselurupan.

Diam2 Hiat-to Lotjo gegetun, tjepat ia sambar setjomot saldju, ia kepal mendjadi sepotong batu saldju terus disambitkan lebih dulu kearah Tjui Tay, menjusul sepotong lagi ia timpuk “Leng-tay-hiat” dipunggung Tjui Sing. Tanpa ampun lagi gadis itu roboh tak berkutik lagi. Sedangkan lari Hiat-to Lotjo tidak pernah berhenti, begitu mendekat, terus sadja ia pegang gadis itu. Hampir berbareng dengan itu, terdengarlah suara angin menjambar dari samping, udjung tumbak Hoa Tiat-kan sudah menusuk tiba.

Djago she Hoa itu sudah terlalu gemas karena paderi tua itu telah mengakibatkan dia menusuk mati saudara angkat sendiri, jaitu Lau Seng-hong, maka ia mendjadi kalap tanpa menghiraukan mati hidupnja Tjui Sing jang tertawan musuh itu, tapi begitu tiba terus sadja ia menusuk dengan tumbak.

Tjepat Hiat-to-tjeng menangkis, “trang”, tahu2 goloknja mendal kembali. Kiranja tumbak Hoa Tiat-kan itupun bukan sembarangan tumbak, tapi adalah buatan badja murni hingga tak terkutung oleh sembarangan golok atau pedang mestika.

Dengan memaki segera Hiat-to Lotjo melangkah mundur sambil menggondol Tjui Sing. Tapi dari sana tampak Liok Thian-dju telah membatjoknja djuga dengan Kui-thau-to. Oleh karena terkepung, untuk mundur lagi tentu djuga akan terdjerumus kedjurang.

Tetapi sekilas Hiat-to-tjeng melihat Tik Hun jang didepaknja kedalam djurang tadi bukannja terbanting mampus, tapi pemuda itu sedang berduduk dibawah situ sambil menengadah menjaksikan pertarungan mereka. Tergerak pikiran Hiat-to-tjeng: “Ternjata timbunan saldju dibawah djurang itu sangat tebal, makanja botjah itu tidak terbanting mati.” ~ Tanpa pikir lagi iapun menerdjun kebawah sambil merangkul Tjui Sing.

Ditengah djeritan Tjui Sing jang ketakutan, kedua orang itu sudah terdjerumus kebawah djurang. Tinggi djurang itu ada ratusan meter tapi timbunan saldju ada berpuluh meter tebalnja. Saldju jang bawah sudah membeku, tapi lapisan atas saldju masih tjerna dan empuk laksana kasur, maka kedua orang itu sedikitpun tidak terluka apa2.

Tjepat Hiat-to Lotjo terus merangkak bangun dari gundukan saldju, ia sudah pilih tempat jang baik dan berdiri diatas sebuah batu karang dimulut djurang itu sambil menghunus golok. Ia ter-bahak2 dan berseru: “Hajolah, kalau berani, turun kemarilah dan kita boleh bertempur lagi!”

Kebetulan batu karang itu sangat strategis tempatnja. Kalau Tjui Tay dan lain2 melompat turun, tubuh mereka pasti akan melajang lewat batu karang itu. Dalam keadaan begitu tjukup Hiat-to-tjeng ajun goloknja sekali dan kontan tubuh sipenerdjun itu pasti akan terkutung mendjadi dua.

Dengan susah pajah Liok Thian-dju berempat achirnja dapat menjusul Hiat-to Lotjo, tapi sesudah ketjandak, seorang saudara angkat mereka mendjadi korban, sekarang paderi djahat itu lolos lagi. Keruan mereka mendjadi gemas dan geregetan. Lebih2 Tjui Tay jang puterinja masih berada dibawah tjengkeram tangan paderi iblis itu, sedang Hoa Tiat-kan djuga salah membunuh saudara angkat sendiri, mereka berdua inilah paling pedih hatinja. Segera mereka bertiga bisik2 untuk berunding tjara bagaimana harus membunuh musuh.

Liok Thian-dju itu berdjuluk “Djin-gi Liok Toa-to” atau sigolok besar she Liok jang berbudi luhur. Sedangkan Hoa Tiat-kan bergelar “Tjong-peng-bu-tik” atau situmbak badja tanpa tandingan, Tiong-peng-djiang adalah nama tumbaknja itu.

Tjui Tay sendiri berdjuluk “Leng-goat-kiam”, sipedang bulan purnama. Ditambah lagi imam tua Lau Seng-hong, mereka disebut “Lok-hoa-liu-tjui”. Apa jang disebut “Lok-hoa-liu-tjui” sebenarnja adalah “Liok-hoa-lau-tjui”, jaitu diambil dari suara she mereka.

Bitjara tentang ilmu silat belum pasti Liok Thian-dju jang paling tinggi, namun pertama karena usianja paling tua, kedua, hubungannja dengan kawan Kangouw sangat luas, maka namanja adalah urutan pertama dalam “Lam su-lo” atau empat kakek dari selatan.

“Tolong! Tolong! Lepaskan aku, Hwesio djahanam!” demikian Tjui Sing ber-teriak2 dengan ketakutan sebab mengira dirinja hendak dipaksa setjara tidak senonoh oleh Tik Hun jang mengempitnja dan menjeretnja kedalam gua dengan mengesot.

Watak Liok Thian-dju paling keras, dia paling bentji kepada perbuatan rendah dan memalukan, apalagi mengenai perbuatan melanggar kehormatan kaum wanita segala. Kini melihat tingkah pola Hiat-to Lotjo jang mentang2 diatas batu karang se-akan2 dunia ini aku punja, sedangkan tubuh Tjui Sing lemas lunglai menjandar badan Tik Hun. Ia tidak tahu bahwa Hiat-to gadis itu telah tertutuk dan takbisa berkutik, sebaliknja ia sangka djiwa Tjui Sing itupun rendah, tak kuat mempertahankan imannja, berada dibawah tjengkeraman paderi2 tjabul itu ternjata tidak melawan sedikitpun. Saking gemasnja ia terus djemput beberapa potong batu dan ditimpukan kebawah.

Dasar tenaganja memang besar, dari atas menimpuk kebawah pula, keruan hudjan batu itu sangat hebat. Maka terdengarlah suara gemuruh disana-sini, lembah pegunungan sekeliling situpun menggemakan suara kumandang jang memekak telinga.

Dibawah hudjan batu dengan saldju berhamburan, tjepat Hiat-to Lotjo mendakan tubuh dan menjeret Tik Hun dan Tjui Sing bersembunji kebalik sebuah batu karang jang besar. Sementara ini ia sudah lolos dari bahaja, rasa gusarnja kepada Tik Hun tadi mendjadi reda djuga, maka ia tidak ingin “tjutju murid” itu mati tertimpuk batu.

Habis itu, ia sendiri kembali melontjat keatas batu karang, ia tuding Liok Thian-dju bertiga dan mentjatji-maki. Bila ditimpuk dengan batu, ia lantas berkelit atau menjampok dengan goloknja.

Dalam pada itu Tik Hun dan Tjui Sing jang diseret Hiat-to Lotjo dan disembunjikan dibalik batu karang itu, setelah rasa takut mereka agak tenang, ketika mereka melihat sekitar situ, ternjata dinding dibelakang batu karang itu mendekuk masuk kedalam hingga berwudjut sebuah gua jang besar. Karena tertahan oleh batu karang itu, maka saldju jang tertimbun didalam gua itu sangat tipis hingga merupakan sebuah tempat meneduh jang sangat bagus.

Oleh karena dari atas masih dihudjani batu oleh Liok Thian-dju, Tik Hun kuatir ada batu njasar hingga melukai Tjui Sing, segera ia rangkul sigadis dan menjeretnja lebih djauh kedalam gua.

Keruan Tjui Sing ketakutan, ia men-djerit2: “Djangan sentuh aku, lepaskan aku!”

“Ha-hahaha!” Hiat-to Lotjo ter-bahak2. “Tjutju murid jang baik. Tjosuya sendiri lagi mati2an menghadapi musuh diluar sini, kau sendiri malah mendahului senang2 didalam situ! Hahaha, kurang-adjar!”

Sungguh dada Tjui Tay bertiga hampir2 meledak saking gusarnja mendengar otjehan itu.

Sebaliknja Tjui Sing djuga menjangka Tik Hun hendak berbuat tidak senonoh setjara paksa padanja, keruan ia bertambah takut. Tapi demi kemudian melihat pakaian “Hwesio” itu dalam keadaan radjin, meski bukan pakaian baru, tapi terpakai dengan betul ditubuhnja, barulah sekarang ia tahu orang mengantjam hendak melepas tjelana tadi sebenarnja tjuma untuk menipu sadja. Mukanja mendjadi merah teringat kedjadian tadi, segera ia mendamperat: “Hwesio djahat penipu, hajo, lekas menjingkir kesana!”

Memangnja Tik Hun tiada punja maksud djahat, sebaliknja bermaksud baik menjelamatkan gadis itu, maka segera ia berdjalan menjingkir. Dalam keadaan tulang paha patah dan tulang betis petjah, hakikatnja takbisa dikatakan “berdjalan” lagi, paling2 hanja dapat disebut “mengesot”.

Begitulah kedua pihak saling bertahan dengan ngotot, tiga diatas dan satu dibawah, tanpa terasa fadjar sudah menjingsing, hari sudah terang tanah. Pelahan2 tenaga Hiat-to Lotjo djuga sudah pulih kembali. Sedangkan hatinja tiada hentinja merantjang rentjana: “Tjara bagaimana aku harus menghadapi mereka? Tjara bagaimana supaja aku dapat menjelamatkan diri?”

Padahal ketiga lawan didepan mata itu ilmu silat setiap orangnja adalah sepadan dengan dia, djangankan hendak menangkan mereka, untuk lolos dari kedjaran merekapun maha sulit. Bahkan asal dirinja meninggalkan batu karang itu hingga kehilangan tempat pendjagaan jang menguntungkan, seketika djuga musuh pasti akan memburu turun dan akan dikerubut lagi.

Oleh karena tiada djalan lain, terpaksa ia terus menunggui batu karang itu. Tapi ia sengadja ber-djingkrak2 dan me-nari2 dengan matjam2 lagak dan aksi jang di-buat2 untuk menggoda dan mengedjek musuh sekadar untuk menghibur diri pula.

Melihat tingkah-pola musuh jang memualkan itu, semakin ditonton semakin menggemaskan, tiba2 Liok Thian-dju mendapat satu akal. Bisiknja segera kepada Tjui Tay: “Tjui-hiante, tjoba engkau berdjalan kearah timur pura2 hendak merosot kebawah. Dan Hoa-hiante, engkau pura2 hendak menjerang dari sebelah barat untuk memantjing Hwesio djahat itu, aku sendiri mendjadi ada kesempatan untuk menerdjang kebawah.”

“Akal bagus,” sahut Tjui Tay. “Bila musuh tidak pusingkan kita, segera kita menerdjang kebawah sungguh2.”

Habis berkata, ia saling memberi tanda dengan Hoa Tiat-kan, lalu berlari kedjurusannja masing2.

Berpuluh meter disekitar situ adalah dinding karang jang tjuram, kalau ingin meluntjur saldju kebawah djurang harus memutar djauh kesana untuk kemudian melingkar kembali.

Rupanja akal itu telah membingungkan Hiat-totjeng djuga. Demi melihat kedua lawan mementjarkan diri kedua djurusan, terang orang bermaksud memutar djalan untuk mendekati tempatnja. Tjara bagaimana harus merintanginja, seketika ia mendjadi mati kutu. Pikirnja: “Wah, tjelaka! Djika mereka benar2 memutar kemari, meski makan tempo agak lama, tapi achirnja tentu akan tertjapai maksud mereka. Dalam keadaan demikian, kalau aku tidak menggelojor pergi mau tunggu kapan lagi? Mereka bermaksud memutar djalan untuk menjerang, aku lantas memutar djuga untuk angkat langkah seribu.”

Ia lihat Liok Thian-dju sedang menjaksikan kepergian kedua kawannja, diam2 Hiat-to Lotjo lantas memberosot kebawah batu karang dan merat kearah barat-laut tanpa memberitahukan Tik Hun.

Ketika mendadak tidak mendengar suara otjehan Hiat-to-tjeng lagi, segera Liok Thian-dju melongok kebawah, tapi tahu2 paderi tersebut sudah menghilang. Ia lihat diatas tanah saldju itu ada segaris bekas tapak kaki jang menudju kearah barat. Ia pikir bila paderi djahanam itu sampai lolos, maka runtuhlah nama baik djago silat Tionggoan. Segera ia ber-teriak2: “Hoa-hiante, Tjui-hiante, lekas kembali. Ok-tjeng (hweshio djahat) itu telah merat!”

Mendengar seruan itu, segera Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan berlari kembali. Dalam pada itu tanpa pikir lagi Liok Thian-dju terus terdjun kebawah djurang menirukan tjara musuh tadi, seketika iapun menghilang, ambles kedalam lautan saldju.

Diwaktu menerdjun Liok Thian-dju sudah tutup napasnja. Ia merasa badannja terus ambles kebawah, menjusul kakinja lantas menjentuh tempat keras, jaitu lapisan saldju jang sudah beku. Segera ia tutul kakinja sekuatnja hingga badannja mumbul keatas. Pengalaman demikian djuga telah dialami Tik Hun dan Hiat-to Lotjo tadi, sesudah kepala menongol keluar, lalu mereka merangkak naik.

Diluar dugaan, baru sadja kepala Thian-dju hendak menongol, se-konjong2 dadanja terasa kesakitan, njata ia sudah kena sergapan musuh. Oleh karena kepala belum berada diluar saldju, dengan sendirinja ia takdapat mendjerit. Tapi kontan setjepat kilat iapun balas membabat dengan goloknja.

Rupanja serangan balasan jang teramat tjepat itupun diluar perhitungan musuh hingga terasa djuga kena sasarannja. Namun menjusul musuh jang bersembunji dibawah saldju itu lantas menjerang pula.

Waktu Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan kembali diatas puntjak karang tadi, mereka menjaksikan timbunan saldju dibawah djurang itu bergolak dengan hebat, tapi tiada menampak bajangan seorangpun. Hanja sekedjap sadja dari dalam saldju tampak merembes keluar air darah

“Tjelaka, Liok-toako telah bertempur dengan Ok-tjeng itu dibawah saldju!” seru Tjui Tay dengan kuatir.

“Ja, benar! Sekali ini Ok-tjeng itu harus kita binasakan!” sahut Hoa Tiat-kan.

Mengapa mendadak Hiat-to Lotjo bisa berada dibawah saldju dan bertempur dengan Liok Thian-dju? Kiranja tadi waktu mendengar seruan Thian-dju kepada kedua kawannja, paderi itu menaksir segera lawan itupun akan menerdjun kebawah untuk mengedjarnja. Tiba2 ia mendapat satu akal, tjepat ia putar balik dan menjusup kedalam saldju disekitar batu karang itu.

Terhadap djago silat jang lihay dengan pengalaman luas seperti Liok Thian-dju itu, hendak melakukan penjergapan padanja boleh dikata adalah tidak mungkin berhasil. Tapi kini ia menerdjun kedalam saldju dari tempat yang tinggi, pengalaman itu selama hidupnja belum pernah ada, dengan sendirinja jang ia pikirkan jalah tjara bagaimana harus menahan napas dan mengerahkan tenaga selama ambles kedalam saldju serta timbul kembali keatas. Apalagi dengan terang diketahui Hiat-to-tjeng sudah merat, sudah tentu mimpipun tak tersangka bahwa didalam saldju ada sembunji seorang musuh. Dari itulah baru kepala Liok Thian-dju hendak menongol kepermukaan saldju, tahu2 dadanja sudah kena serangan golok Hiat-to-tjeng.

Tapi betapapun Liok Thian-dju adalah kepala dari “Lam-su-lo”, terhitung djago kelas wahid diantara djago silat Tionggoan. Meski dadanja sudah terluka, menjusul iapun dapat balas melukai musuh. Ia tahu gerak-gerik Hiat-to-tjeng itu laksana hantu tjepatnja, ia tidak boleh meleng barang sekedjappun, kalau mesti menunggu kepala menongol keatas saldju lalu balas menjerang, tentu serangan musuh jang lain segera akan tiba pula lebih dulu.

Benar djuga baru Hiat-to Lotjo hendak menjerang pula, tak terduga serangan balasan Liok Thian-dju sudah dilontarkan dengan tjepat luar biasa hingga iapun terluka. Sekuat tenaga ia menangkis tiga kali serangan Kui-thau-to lawan sambil melangkah mundur. Diluar dugaan mendadak kakinja mengindjak tempat kosong, saldju dimana kakinja berpidjak itu tidak beku hingga badannja terdjeblos kebawah lagi.

Dalam pada itu serangan Thian-dju masih terus dilantjarkan tanpa memberi kesempatan bernapas bagi lawan, tiga kali serangan disusul tiga kali serangan lain lagi. Ia tahu musuh pasti akan terdesak mundur, maka iapun merangsak madju. Tak terduga mendadak kakinja merasa “blong”, tubuhnja lantas andjlok kebawah.

Hiat-to Lotjo dan Liok Thian-dju adalah djago2 silat kelas atas pada djaman itu, meski terdjerumus dalam keadaan jang benar-benar maha sulit itu, namun pikiran mereka sama sekali tidak katjau. Mereka sama2 tidak dapat memandang dan mendengar, tapi mereka mempunjai pendapat jang serupa, begitu kaki mengindjak tanah, segera masing2 memainkan ilmu golok sendiri dengan kentjang. Tatkala itu tebal saldju diatas kepala mereka ada belasan meter tingginja, ketjuali musuh dapat dibinasakan, kalau tidak, siapapun tiada berani menongol dulu keatas, sebab bila timbul maksud hendak menjelamatkan diri, tentu akan segera dibatjok mati oleh lawan……….

Sementara itu Tik Hun mendjadi heran karena mendadak diluar gua mendjadi sunji, padahal baru sadja Hiat-to Lotjo masih mentjak2 dan mengotjeh. Waktu ia melongok keluar ternjata Hiat-to Lotjo sudah tidak kelihatan lagi, sebaliknja saldju disekitar batu karang tadi tampak bergolak dengan hebat bagai ombak samudera. Keruan ia ter-heran2.

Setelah menjaksikan sedjenak, achirnja tahulah dia bahwa dibawah saldju itu ada orang sedang bertempur. Waktu ia mendongak, ia lihat Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan berdiri ditepi karang dan sedang memperhatikan keadaan didasar djurang, sikap mereka tampaknja sangat tegang. Maka dapatlah Tik Hun menduga jang bertempur dibawah saldju itu pasti adalah Hiat-to Lotjo melawan sikakek berdjenggot, jaitu Liok Thian-dju. Ia lihat Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan bernapsu sekali hendak membantu tapi agak bingung karena tidak tahu tjara bagaimana harus turun tangan.

“Hoa-djiko, biarlah aku terdjun kebawah,” demikian Tjui Tay berkata kepada Hoa Tiat-kan.

“Djangan,” tjepat Tiat-kan mentjegah. “Djika engkau djuga terdjun kedalam saldju, lantas tjara bagaimana kau akan membantu? Didalam saldju dengan sendirinja tidak kelihatan apa2, djangan2 tragedi tadi akan terulang hingga Liok-toako akan salah ditjelakai engkau.” ~ Njata karena tumbaknja tadi salah membinasakan saudara angkatnja sendiri, maka rasa duka dan sesalnja tak terkatakan hebatnja.

Tjiu Tay pikir peringatan itu memang beanr, djika dirinja djuga terdjun kedalam saldju selain sendjatanja memotong dan menjabat serabutan, masakah dapat membedakan siapa kawan dan siapa lawan? Kemungkinan Hiat-to-tjeng atau Liok Thian-dju akan dibunuh olehnja adalah sama besarnja, sebaliknja kemungkinan dirinja akan terbinasa dibawah sendjata mereka djuga tidak berkurang kesempatannja.

Akan tetapi bila tidak turun tangan membantu, hal inipun sangat keterlaluan. Sudah terang dipihak sendiri ada dua djago jang menganggur, tapi sedikitpun takdapat berbuat apa2. Sungguh mereka mendjadi tak sabar hingga mirip semut ditengah wadjan panas, mereka hanja kelabakan sendiri tanpa berdaja sedikitpun.

Apabila nekat menerdjun kebawah, namun didasar djurang itu saldju masih bergolak dengan hebat, siapa tahu terdjun itu takkan menindih diatas kepala Liok Thian-dju.

Sjukurlah tidak seberapa lama, pergolakan saldju itu lambat-laun mulai reda, Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan jang diatas tebing serta Tik Hun dan Tjui Sing jang berada didalam gua djadi makin kuatir, sebab tidak tahu bagaimana hasil pertarungan dibawah saldju itu. Maka dengan penuh perhatian dan menahan napas mereka menantikan gerangan siapa jang muntjul dari bawah saldju?

Benar djuga, selang sedjenak, gumpalan saldju disuatu tempat itu tampak tersundul keatas, makin lama makin tinggi hingga achirnja satu kepala menausia kelihatan menongol. Tapi diatas kepala itu penuh saldju, maka seketika susah dibedakan apakah kepala gundul Hweshio atau kepala jang berambut?

Makin lama makin tinggi kepala jang menjundul saldju itu. Achirnja dapatlah kelihatan dengan djelas diatas kepala itu penuh tumbuh rambut putih. Njata itulah kepalanja Liok Thian-dju.

Saking girangnja Tjui Sing terus bersorak sekali.

Sebaliknja Tik Hun mendjadi gusar. “Sorak2 apa?” damperatnja.

“Sorak apa? Sorak karena kakek-gurumu itu sudah mampus, tahu? Dan djiwamu sebentar tentu djuga akan tamat!” sahut Tjui Sing dengan sengit.

Tidak usah diberitahu djuga Tik Hun mengarti akan hal itu. Selama ini setiap hari ia berkumpul dengan Hiat-to-tjeng, seperti kata pribahasa “dekat merah akan mendjadi merah, dekat hitam mendjadi hitam”, maka tanpa merasa Tik Hun ketularan sedikit watak kasar seperti paderi Tibet itu. Apalagi dilihatnja Liok Thian-dju mendapat kemenangan, akibatnja ia sendiri pasti djuga akan tjelaka ditangan ketiga kakek itu nanti. Dalam kuatirnja ia mendjadi aseran, maka bentaknja segera: “Djika kau berani tjerewet lagi, segera kubunuh kau lebih dulu.”

Tjui Sing mendjadi takut dan tidak berani buka suara lagi. Ia masih tertutuk oleh Hiat-to-tjeng tadi dan takbisa berkutik. Meski Tik Hun patah kakinja, tapi kalau mau bunuh dia boleh dikata tidaklah susah.

Dalam pada itu sesudah kepala menongol dipermukaan saldju, napas Liok Thian-dju tampak megap2 sambil me-ronta2 sekuatnja dengan hendak merajap keluar dari dalam saldju.

“Liok-heng kami akan membantu kau!” seru Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan bersama. Berbareng mereka lantas terdjun kedalam saldju itu, menjusul terus melontjat keatas pula dan menjingkir kesamping batu karang tadi.

Dan pada saat itulah tiba2 nampak Liok Thian-dju ambles pula kedalam saldju, tahu2 kepalanja sudah menghilang lagi kebawah seperti kakinja mendadak ditarik sekuatnja oleh orang. Dan sesudah ambles kebawah, lalu tidak muntjul lagi. Sedangkan Hiat-to-tjeng sama sekali tidak kelihatan batang-hidungnja.

Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan saling pandang dengan penuh pertanjaan. Mereka menjaksikan menghilangnja Liok Thian-dju kedalam saldju itu tjepatnja luar biasa, tampaknja seperti tak berkuasa karena ditarik orang dari bawah, mereka menduga besar kemungkinan sang Toako itu sudah kena disergap oleh Hiat-to-tjeng.

“Pluk”, mendadak sebuah kepala menongol pula dari bawah saldju. Waktu diperhatikan, kepala itu gundul, kiranja adalah Hiat-to Lotjo. Paderi itu mengakah tawa sekali, lalu menghilang lagi kebawah saldju.

“Paderi keparat!” maki Tjui Tay.

Dan baru ia hunus pedangnja hendak menubruk madju, se-konjong2 dari dalam saldju mentjelat keluar pula sebuah kepala.

Tapi kepala itu melulu kepala belaka, kepala jang sudah berpisah dengan badannja. Kepala itu berdjenggot, itulah kepalanja Liok Thian-dju.

Buah kepala itu terbang keudara setinggi beberapa meter, kemudian djatuh kebawah dan ambles menghilang kedalam saldju.

Menjaksikan pemandangan jang seram dan aneh itu, saking ketakutan sampai Tjui Sing hampir2 semaput. Pikirnja mau mendjerit, tapi tenggorokan se-akan2 tersumbat dan takdapat bersuara.

Tjui Tay djuga sangat pedih dan gusar pula, teriaknja keras2: “Wahai, Liok-toako! Engkau telah berkorban bagiku, biarlah Siaute membalaskan sakit hatimu.”

Tapi sebelum ia melangkah, tjepat Hoa Tiat-kan mentjegahnja: “Nanti dulu! Paderi setan itu bersembunji didalam saldju, dia terang, kita gelap, kalau kita menerdjang setjara serampangan, djangan2 akan masuk perangkapnja lagi.

Benar djuga pikir Tjui Tay, maka ia menahan bergolaknja perasaan sedapat mungkin dan menanja: “Habis, apa tindakan kita sekarang?”

“Kita tunggu sadja disini,” udjar Tiat-kan. “Paderi itu dapat tahan berapa lama berada didalam saldju? Achirnja tentu dia akan muntjul keatas. Tatkala mana kita lantas mengerubutinja, betapapun kita harus membedah dadanja dan mengkorek hatinja untuk sesadjen kedua saudara kita.”

Terpaksa Tjui Tay menuruti saran sang kawan. Dengan air mata ber-linang2 ia bersabar sedapat mungkin dan menahan pedihnja perasaan. Namun dua kawan karib selama berpuluh tahun itu kini terbinasa begitu mengenaskan, betapapun ia tetap sangat berduka.

Hlm. 23 Gambar:

Mendadak dari bawah saldju jang bergolak itu menongol keluar sebuah kepala manusia jang berdjenggot. Njata itulah Liok Thian-dju. Napas djago tua itu tampak ter-engah2, rupanja saking tidak tahan dikotjok didalam saldju oleh Hiat-to Lotjo, maka terpaksa ia mesti menongol kepermukaan saldju untuk ganti napas.

Dengan mengintjar tempat dimana kepala Hiat-to-tjeng menongol tadi, pelahan2 Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan melompat dari batu karang satu kebatu jang lain, tanpa merasa mereka semakin mendekat dengan gua tempat sembunji Tik Hun dan Tjui Sing.

Ber-ulang2 Tjui Sing melirik Tik Hun, diam2 ia ambil keputusan bila sang ajah sudah dekat segera ia akan berteriak minta tolong. Tapi kalau terlalu buru2 teriaknja hingga djarak sang ajah terlalu djauh, tentu dirinja akan dibunuh dulu oleh “Hweshio tjabul” itu sebelum tertolong ajahnja.

Dari sikap sigadis jang tidak tenteram serta sinar matanja jang berkerlingan, Tik Hun sudah lantas tahu djuga maksudnja. Tiba2 ia sengadja bikin napasnja ter-engah2 seperti orang jang kepajahan, pelahan2 ia mengesot kemulut gua seperti hendak mengambil saldju untuk dimakan sekadar menghilangkan rasa dahaga.

Dengan sendirinja Tjui Sing tidak tjuriga, jang diperhatikan ialah ajahnja. Se-konjong2 Tik Hun menahan badannja dengan tangan kiri, sekali endjot, mendadak tubuhnja melompat bangun, dengan tjepat sekali lengan kanannja terus menjikap dari belakang hingga leher Tjui Sing terdjepit.

Keruan Tjui Sing kaget, segera ia hendak berteriak, tapi sudah telat. Ia merasa lengan Tik Hun itu sekeras besi hingga lehernja kesakitan dan bernapaspun susah. Memangnja badannja tertutuk dan takbisa berkutik, ditambah lagi leher tertjekik, sebentar lagi pasti djiwanja melajang. Tapi tiba2 terdengar Tik Hun membisikinja: “Asal kau berdjandji takkan bersuara, aku lantas tak djadi mentjekik mampus kau.” ~ Habis itu, sedikit ia kendurkan lengannja agar Tjui Sing dapat bernapas sedikit. Tapi lengannja jang kasar dan kuat itu tetap menjilang dileher sigadis jang putih halus itu.

Sudah tentu Tjui Sing gemas tidak kepalang, tapi apa daja? Hanja dalam hati ia mentjutji maki habis2an.

Diluar sana Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan sedang mendekam diatas sebuah batu karang, mereka ter-heran2 karena tiada melihat sesuatu gerak-gerik lagi dari bawah saldju. Mereka tidak tahu permainan apa jang sedang dilakukan Hiat-to-tjeng jang sekian lamanja terpendam didasar saldju itu.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa sedjak ketjil Hiat-to Lotjo hidup ditanah bersaldju sebagai Tibet itu, maka tentang tjiri2 chas dari saldju itu tjukup dipahaminja. Waktu djatuh ketengah saldju tadi, segera ia menggunakan goloknja untuk mengkorek sebuah liang, ia tepuk2 pinggir liang itu dengan tangan hingga keras, dan liang saldju itu lantas tersimpan sedikit hawa. Dalam hal ilmu silat sedjati, sebenarnja kepandaian Hiat-to-tjeng dengan Liok Thian-dju adalah sepadan. Tapi sebelumnja paderi itu sudah lama menempur Lau Seng-hong, tenaga murninja sudah banjak terbuang, maka ia mendjadi kalah kuat daripada Liok Thian-dju. Tapi berkat simpanan hawa dilubang saldju itu, setiap kali kalau ia merasa pajah dan napas sesak, segera ia melongok kelubang saldju itu untuk menghirup hawa segar.

Dengan sendirinja Liok Thian-dju tidak paham rahasia saldju itu. Ia terus main hantam-kromo dengan mati2an. Dengan demikian biarpun dia sanggup menahan napas dengan lama djuga takbisa menangkan Hiat-to-tjeng jang sering2 dapat mengganti napas. Teori ini sama seperti dua orang berkelahi didalam air, jang satu sering2 mumbul kepermukaan air untuk mengganti napas, sebaliknja jang lain terus silam didasar air, dengan sendirinja mudah ditentukan siapa akan unggul dan siapa asor.

Pada achirnja, oleh karena Liok Thian-dju sudah tidak tahan lagi, terpaksa ia mesti menempuh bahaja dan menongol kepermukaan saldju untuk bernapas. Dan karena itu badan bagian bawah lantas kena dibatjok tiga kali oleh Hiat-to-tjeng hingga tewas didasar saldju.

Begitulah Tjui Tay dan Hoa Tiat-kan masih terus menunggu, tapi sudah lebih satu djam, tetap tidak nampak bajangan Hiat-to-tjeng. “Besar kemungkinan Ok-tjeng itu terluka parah dan terbinasa djuga didasar saldju,” udjar Tjui Tay.

“Kukira memang begitulah,” sahut Tiat-kan. “Betapa hebat kepandaian Liok-toako, masakah ia begitu gampang dibunuh musuh tanpa melukai musuh lebih dulu? Apalagi tadi paderi iblis itu sudah bertempur sekian lamanja melawan Lau-hiante, mestinja ia bukan lagi tandingan Liok-toako.”

“Ja, pasti dia menggunakan tipu kedji hingga Liok-toako masuk perangkapnja,” kata Tjui Tay. Berkata sampai disini ia tidak tahan lagi rasa duka dan murkanja. Teriaknja segera: “Biar kuturun kebawah sana untuk melihatnja.”

“Baiklah, tapi hendaklah hati2, aku akan mengawasi kau disini,” sahut Tiat-kan

Tjui Tay terkesiap, katanja didalam hati: “Aneh, sebagai seorang ksatria sedjati mengapa kau tidak menjatakan hendak pergi bersama?”

Namun saat itu ia sudah bertekad hendak menemukan majat Hiat-to-tjeng, lalu akan ditjintjangnja hingga hantjur luluh untuk melampiaskan dendamnja. Paling baik kalau napas paderi djahat itu belum lagi putus, dengan demikian ia dapat menjiksanja se-puas2nja sebelum paderi itu dibunuhnja.

Begitulah segera ia menghunus pedangnja, ia menarik napas pandjang2 sekali, dengan Ginkangnja jang tinggi ia terus meluntjur kesana, tapi baru meluntjur beberapa meter djauhnja, mendadak “pluk”, dari bawah saldju disebelahnja melontjar keluar seorang jang bukan lain adalah Hiat-to Lotjo, tapi bertangan kosong, goloknja entah kemana perginja.

Begitu muntjul diatas saldju, segera paderi itu melajang kesamping hingga beberapa meter djauhnja sambil ber-teriak2: “Seorang laki2 sedjati harus mengutamakan keadilan. Kau bersendjata dan aku bertangan kosong, tjara bagaimana kita harus berkelahi?”

Dan belum lagi Tjui Tay mendjawab, dikedjauhan sana Hoa Tiat-kan sudah menjahut: “Untuk membunuh paderi djahat ini masakah perlu bitjara tentang keadilan apa segala?”

Habis berkata, ia terus memburu madju djuga untuk menggentjet musuh.

Tjui Tay menaksir golok merah paderi itu tentu sudah hilang ditengah saldju waktu menempur Liok-toako tadi, untuk mentjari kembali tentu tidak mudah. Ia mendjadi lega demi nampak musuh tak bersendjata, ia jakin sekarang pasti akan menang, jang harus didjaga sekarang jalah paderi itu sekali2 djangan sampai lolos lagi untuk kemudian menjusup pula kedalam saldju. Segera serunja: “Hai, Hweshio djahanam, dimanakah puteriku? Asal kau katakan terus terang, segera akan kubunuh kau dengan sekali tabas, supaja kau takkan merasakan siksaan lebih djauh.”

“Tempat sembunji anak dara itu sangat sulit untuk kau ketemukan, asal kau berikan djalan lari padaku, segera akan kukatakan padamu,” udjar Hiat-to Lotjo sambil terus berlari, kuatir kalau disusul oleh Tjui Tay.

Diam2 Tjui Tay pikir: “Biarlah kutipu dia agar mengaku lebih dulu.” ~ Maka ia lantas berkata: “Disekitar sini djuga melulu tebing tjuram belaka, meski kau diberi djalan djuga tak bisa pergi?”

“Itulah gampang,” sahut Hiat-to-tjeng. “Bila engkau memberi djalan hidup padaku, segera kita dapat berunding untuk mentjari akal bersama. Bila kau bunuh aku, tetap kau akan susah keluar dari djurang kurung ini. Maka lebih baik kita mendjadi kawan sadja dan aku akan berdaja menolong kalian keluar dari lembah ini?”

“Huh, paderi djahat seperti kau ini masakah dapat dipertjaja?” damperat Hoa Tiat-kan dengan gusar. “Hajo, lekas kau berlutut dan menjerah, tjara bagaimana kau akan diadili tergantung kami, kau barani banjak tjerewet?” ~ Sembari berkata ia terus mendesak main dekat.

“Djika begitu maafkan aku takdapat menemani kalian lagi,” seru Hiat-to-tjeng. Segera ia angkat kaki dan berlari kearah timur laut sana.

“Lari kemana, Hweshio djahanam!” damperat Tjui Tay sambil mengudak.

Tapi lari Hiat-to Lotjo semakin kentjang. Ketika sampai dipodjok sana, karena terhalang oleh tebing jang tinggi, mendadak ia putar kembali dan menjelinap lewat disamping Tjui Tay. Kontan pedang Tjui Tay menabas sekali, namun selisih satu-dua senti dari sasarannja hingga tidak kena. Kembali Hiat-to-tjeng itu berlari ketempat tadi.

Melihat itu, diam2 Tjui Tay membatin: “Djika terus udak2an ditengah djurang ini, susah djuga untuk menangkap djahanam jang punja Ginkang lihay itu. Pula Sing-dji entah disembunjikan dimana?” ~ Karena gopohnja itu, ia mengudak terlebih kentjang lagi.

Se-konjong2 terdengar Hiat-to-tjeng mendjerit sekali, kakinja lemas dan orangnja terus djatuh tengkurap kedepan, kedua tangannja tampak men-tjakar2 saldju seperti ingin merangkak bangun, tapi terang sekali tenaganja sudah habis, sesduah merangkak dua kali, lalu terbanting pula dan tak sanggup bangun lagi.

Tentu sadja Tjui Tay tidak sia2kan kesempatan bagus itu, setjepat terbang ia memburu madju terus menikam dengan pedangnja. Karena dia ingin menjiksa paderi itu lebih dulu sebelum membinasakannja, maka tusukannja itu diarahkan kebagian bokong, asal paderi itu takbisa lari lagi, kemudian akan disiksa untuk ditanja tempat sembunji Tjui Sing.

Tak terduga, baru pedangnja diangkat, se-konjong2 kakinja merasa “blong”, indjak tempat kosong, berbareng tubuhnja terus kedjeblos kebawah.

Dalam pada itu Tik Hun dan Tjui Sing djuga sedang mengikuti kedjadian diluar gua itu dengan perasaan jang ber-beda2, jang satu kuatir dan jang lain senang. Siapa tahu mendadak Tjui Tay menghilang dari tanah saldju itu. Menjusul mana lantas terdengar pula suara djeritan jang mengerikan dibawah tanah itulah suaranja Tjui Tay jang sangat ketakutan se-olah2 ketemukan sesuatu jang mengerikan.

Keruan kedjadian itu membuat Tjui Sing terperandjat tak terhingga, begitu pula Tik Hun pun ter-heran2. Ia tidak ingin Hiat-to-tjeng pada saat itu terbunuh, sebab hal mana berarti dia sendiripun akan terbinasa. Tapi iapun tidak ingin Tjui Tay dan kawannja mendjadi korban, sebab ia tahu djago2 tua itu adalah tokoh-tokoh “Hiap-gi” (kaum kesatria) jang terpudja di Tionggoan, jaitu sealiran dengan Ting Tian. Maka demi mendengar djeritan Tjui Tay itu, sama sekali tiada rasa sjukur atau gembira pada hatinja.

Sementara itu Hiat-to-tjeng tampak sudah melompat bangun lagi dengan tjepat dan gesit sekali, suatu bukti bahwa kelakuannja tadi hanja pura2 belaka. Dan begitu melompat bangun, begitu kakinja mengandjlok, tahu2 tubuhnja lantas menghilang kedalam saldju. Ketika sedjenak lagi ia muntjul kembali keatas, tangannja tampak mengempit sesosok badan manusia jang bermandikan darah. Siapa lagi manusia berdarah itu kalau bukan Tjui Tay jang kedua kakinja tampak kutung sebatas lutut.

Melihat keadaan sang ajah jang mengerikan itu, Tjui Sing ber-teriak2 sambil menangis: “Ajah, ajah! O, ajah!”

Tik Hun merasa tidak tega djuga, dalam kedjut dan ngerinja, ia mendjadi lupa mentjekik leher sigadis lagi, bahkan ia melepas tangan dan menghiburnja malah: “Nona Tjui, ajahmu belum meninggal, djanganlah menangis!”

Ketika tangan Hiat-to Lotjo bergerak, tahu2 selarik sinar merah berkemilauan, ternjata golok merah itu sudah kembali berada ditangannja lagi.

Kiranja tadi ia sembunji dibawah saldju hingga sekian lamanja, diam2 ia telah menggali sebuah lubang djebakan, ia taruh goloknja jang tadjam itu melintang dimulut lubang dengan mata golok menghadap keatas. Lalu ia menjusup keluar dengan pura2 kehilangan sendjata. Ketika musuh mengedjar, ia lantas memantjingnja ketempat lubang perangkap itu.

Biarpun Tjui Tay tergolong tokoh Kangouw jang ulung, namun djebakan dibawah saldju itu sekali2 tak terduga olehnja hingga achirnja dia terdjebak. Ketika ia kedjeblos kebawah maka kontan kedua kakinja tertabas kutung oleh golok jang sangat tadjam itu.

Begitulah dengan tipu muslihatnja itu, ber-runtun2 Hiat-to Lotjo telah membinasakan dua lawan dan meluka-parahkan satu. Sisa Hoa Tiat-kan seorang sudah tentu tak dipandang berat olehnja. Ia lemparkan tubuh Tjui Tay ketanah saldju, lalu angkat goloknja mendesak madju kehadapan Hoa Tiat-kan sambil berteriak: “Hajolah, djika kau berani, marilah kita bertempur tiga ratus djurus lagi!”

Melihat Tjui Tay ter-guling2 ditanah saldju karena kedua kakinja sudah buntung, pemandangan ngeri itu benar2 telah memetjahkan njalinja, mana ia berani bertempur lagi? Sambil memegang tumbaknja jang pendek itu ia mengkeret mundur kebelakang. Tumbak itu tampak gemetar, suatu tanda betapa takutnja Hoa Tiat-kan.

Mendadak Hiat-to Lotjo mengertak sekali sambil mendesak madju dua langkah. Dengan kaget Hoa Tiat-kan melompat mundur dua langkah, saking gemetarnja hingga tangannja terasa lemas, tumbaknja djatuh ketanah, tjepat ia djemput kembali dan main mundur pula.

Padahal Hiat-to Lotjo sesudah ber-turut2 menempur tiga djago kelas wahid, keadaannja djuga sudah pajah, tenaga habis dan badan lemas. Kalau benar2 Hoa Tiat-kan bergebrak dengan dia, tak mungkin dia mampu menang. Apalagi kepandaian Hoa Tiat-kan sesungguhnja djuga tidak dibawah Hiat-to-tjeng, djikalau dia mempunjai rasa senasib dan setanggungan dengan para kawan, dengan penuh semangat menerdjang madju, pasti paderi Tibet itu akan mati dibawah tumbaknja.

Sajangnja sesudah Hoa Tiat-kan salah membunuh kawan sendiri, jaitu imam tua Lau Seng-hong, pikirannja mendjadi katjau dan semangat lesu, apalagi dilihatnja kedua kawan jang lain djuga djatuh mendjadi korban. Liok Thian-dju terpenggal kepalanja dan kedua kaki Tjui Tay terkutung. Kesemuanja itu benar2 telah bikin petjah njalinja, semangat tempurnja boleh dikata sudah lenjap sama sekali.

Dengan sendirinja Hiat-to Lotjo sangat senang melihat Hoa Tiat-kan sangat ketakutan. Segera katanja: “Tipu akalku seluruhnja ada 72 matjam, harini hanja tiga matjam tipu jang kugunakan dan tiga kawanmu sudah mendjadi korban, masih sisa lagi 69 matjam tipu akalku, kesemuanja itu akan kulaksanakan atas dirimu.”

Sebagai seorang tokoh Bu-lim jang terkemuka, pengalaman Hoa Tiat-kan sudah tentu sangat luas, gertakan Hiat-to-tjeng itu sebenarnja tidak mempan baginja. Tapi kini ia sudah petjah njalinja, setiap gerak dan setiap kata Hiat-to-tjeng penuh membawa rasa seram dan ngeri baginja. Ketika mendengar paderi itu menjatakan masih ada 69 matjam tipu kedji jang akan dilaksanakan atas dirinja, segera telinganja meng-ngiang2 dengan kata2 “69 tipu kedji”, dan karena itu tangannja semakin bergemetar.

Padahal waktu itu Hiat-to Lotjo djuga sudah pajah benar2, kalau dapat ia ingin bisa lantas merebah ditanah saldju itu untuk tidur se-puas2nja. Tapi ia insaf saat itu iapun sedang menghadapi suatu pertarungan mati2an jang menentukan, dahsjatnja hakikatnja tidak kalah serunja daripada pertempurannja melawan Lau Seng-hong dan Liok Thian-dju. Maka tjelakalah dia, sekali djago she Hoa itu menjerang pasti orang akan segera tahu keadaannja jang pajah itu, dan untuk selandjutnja pasti dia akan mati dibawah tumbak musuh itu. Oleh karena itu, sekuat mungkin ia kerahkan semangatnja sambil memainkan golok jang dipegangnja itu dengan lagak seorang jang masih tangkas.

Dan ketika melihat Hoa Tiat-kan tjuma main undur2 sadja dan tidak mau lari, diam2 dia men-desak2 didalam hati: “Hajolah lari! Hajolah lari! Keparat, kenapa kau tidak lari!”

Tapi waktu itu ternjata keberanian melarikan diripun sudah tidak dimiliki lagi oleh Hoa Tiat-kan.

Di sebelah sana Tjui Tay jang sudah buntung kedua kakinja itu masih menggeletak di tanah saldju dalam keadaan senen-kemis. Ia mendjadi lebih2 tjemas demi menjaksikan begitu rupa ketakutannja Hoa Tiat-kan.

Meski dalam keadaan terluka parah, namun Tjui Tay masih dapat melihat djelas bahwa tenaga Hiat-to-tjeng itu sebenarnja sudah habis seperti pelita jang kehabisan minjak, asal sang kawan berani madju melabraknja, sekali gebrak pasti dapat membinasakan musuh djahanam itu. Maka sekuat tenaga ia tjoba menteriakinja: “Hoa-djiko, hajolah madju labrak dia, tenaga paderi djahat itu sudah ludes, terlalu mudah bagimu untuk membunuhnja……….”

Hiat-to Lotjo terperandjat mendengar seruan Tjui Tay itu. Pikirnja: “Tua bangka ini benar2 lihay, mungkin aku bisa tjelaka.”

Tapi ia sengadja busungkan dada dan mendesak madju malah sambil berkata kepada Hoa Tiat-kan: “Ja, ja, memang benar! Tenagaku sudah habis, hajolah kita pergi keatas tebing sana untuk bertempur 300 djurus lagi! Hajolah, siapa jang tidak berani anggaplah dia anak haram tjutju kura2.”

Pada saat itulah mendadak dari gua terdengar suara Tjui Sing sedang berteriak: “Ajah, ajah!”

Tiba2 pikiran Hiat-to-tjeng tergerak: “Djika saat ini aku membunuh Tjui Tay, tentu akan menimbulkan tjuriga Hoa Tiat-kan akan kebenaran seruan kawannja itu. Biarlah kuseret keluar anak dara itu untuk mementjarkan perhatian Tjui Tay. Kalau melulu melawan orang she Hoa itu sadja tentu akan djauh lebih mudah.”

Karena itu, ia sengadja mengedjek Hoa Tiat-kan lagi: “Hajo, kau berani tidak, marilah kita bertempur lagi 300 djurus!”

Namun Hoa Tiat-kan telah mendjawabnja dengan geleng kepala.

“Lawanlah dia, lawanlah dia! Apakah kau tidak ingin membalas sakit hati Liok-toako dan Lau-samko?” seru Tjui Tay pula.

“Hahahaha! Hajo lawanlah, lawanlah!” Hiat-to Lotjo ter-bahak2 lagi. “Aku djusteru sedang menunggu untuk melaksanakan 69 matjam tipuku jang kedjam atas dirimu! Hajolah madju!” ~ Dan ketika dilihatnja Hoa Tiat-kan malah mengkeret mundur, segera iapun putar tubuh dan masuk kedalam gua, ia djambak rambut Tjui Sing dan menjeretnja keluar.

Ia tahu ilmu silat Hoa Tiat-kan sangat lihay, djalan satu2nja sekarang harus menggunakan segala tjara siksaan kedjam atas diri Tjui Tay dan puterinja itu agar lawan tangguh itu selalu dalam keadaan ketakutan hingga tidak berani berkutik. Maka segera ia menjeret Tjui Sing kehadapan Tjui Tay, bentaknja: “Nah, kau bilang tenagaku sudah habis, baiklah sekarang akan kupertontonkan padamu apakah tenagaku sudah habis atau belum?”

Habis berkata, “bret”, mendadak ia tarik sekuatnja hingga lengan badju kanan Tjui Sing terobek sebagian besar, maka tertampaklah lengan sigadis jang putih halus laksana saldju itu.

Keruan Tjui Sing mendjerit ketakutan, tapi karena djalan darahnja tertutuk, hanja mulut jang bisa bersuara untuk melawan sama sekali tak bisa.

Dalam pada itu Tik Hun djuga sudah ikut merajap keluar dari gua, ketika menjaksikan adegan mengerikan itu, ia mendjadi tak tega, terus sadja ia berteriak: “Djang ……… djangan kau menghina nona itu!”

“Hahahaha!” Hiat-to Lotjo ter-bahak2 malah: “Djangan kuatir, tjutju-muridku jang baik, pasti Tjosuya takkan mentjelakai njawanja.”

Habis itu, ia putar tubuh sedikit, sekali goloknja berkelebat, tahu2 bahu kiri Tjui Tay telah dipapasnja sebagian, lalu tanjanja: “Nah, katakanlah, tenagaku sudah habis atau belum?”

Keruan darah segar seketika muntjrat keluar dari bahu Tjui Tay, sebaliknja Hoa Tiat-kan dan Tjui Sing berbareng mendjerit kaget.

Dan ketika Hiat-to Lotjo membetot sekali pula, kembali badju Tjui Sing terobek sebagian lagi. Kemudian katanja kepada Tjui Tay: “Asal kau panggil Tjosuyaya tiga kali kepadaku, segera puterimu akan kuampuni. Nah, kau mau panggil tidak?”

“Tjuh”, mendadak Tjiu Tay meludahi paderi itu sepenuh tenaga. Tapi sedikit mengegos, dapatlah Hiat-to-tjeng menghindar, dan karena gerakannja itu, tanpa kuasa tubuhnja mendjadi sempojongan, kepala pening dan mata ber-kunang2, hampir2 ia roboh terdjungkal. Keadaan itu dapat dilihat dengan djelas oleh Tjui Tay, terus sadja ia ber-teriak2: “Hoa-djiko, hajolah lekas turun tangan, lekas serang dia!”

Tentang keadaan Hiat-to-tjeng jang sempojongan itu dengan sendirinja djuga dilihat oleh Hoa Tiat-kan. Tapi ia djusteru berpikir: “Djangan2 paderi djahat itu tjuma pura2 sadja untuk memantjing aku. Ok-tjeng itu banjak tipu muslihatnja, betapapun aku harus waspada.”

Dan sesudah tenangkan diri, kembali Hiat-to-tjeng membatjok pula dengan goloknja hingga lengan kanan Tjui Tay tergurat suatu luka dalam. “Kau mau panggil Tjosuyaya padaku atau tidak?” demikian bentaknja pula.

Saking kesakitan, hampir2 Tjui Tay kelengar. Tapi ia sangat perwira, matipun ia tidak sudi takluk. Kembali ia memaki: “Hwesio bangsat, biar mati orang she Tjui tidak nanti menjerah padamu! Lekas kau bunuh aku sadja!”

“Huh, enak?” djengek Hiat-to-tjeng. “Aku djusteru hendak menjajat lenganmu, aku akan potong dagingmu selapis demi selapis. Tapi asal kau panggil Tjosuyaya tiga kali dan minta ampun padaku, djiwamu lantas kuampuni.”

“Tjuh”, kembali Tjui Tay meludahi musuh, damperatnja: “Djangan kau mimpi disiang bolong, Hwesio durdjana!”

Hiat-to-tjeng tahu watak situa itu sangat bandel, sekalipun mentjatjah badannja hingga hantjur luluh djuga tidak mungkin membuatnja takluk. Maka katanja segera: “Baiklah, aku akan kerdjakan puterimu ini, tjoba nanti kau akan memanggil Tjosuyaya padaku tidak?”

Habis berkata, kembali tangannja menarik, “bret”, lagi2 sebagian badju Tjui Sing kena disobeknja. Kali ini adalah sebagian gaunnja.

Sudah tentu Tjui Tay sangat murka. Sebagai seorang kesatria sedjati, biarpun musuh menghudjani batjokan atas badannja djuga takkan menaklukannja. Tapi paderi djahat itu sengadja menghina puterinja didepan orang banjak, perbuatan ini benar2 tak bisa dibiarkan olehnja. Tapi apa daja, kakinja sudah buntung, bahkan djiwa sendiri djuga tergantung ditangan musuh. Melihat gelagatnja, terang paderi djahat itu hendak melutjuti pakaian Tjui Sing sepotong demi sepotong hingga telandjang bulat, bahkan bukan mustahil akan diperlakukan setjara tidak senonoh pula dihadapannja dan dihadapan Hoa Tiat-kan.

Maka terdengar Hiat-to-tjeng berkata pula dengan tertawa iblis. “Segera orang she Hoa ini akan tekuk lutut dan minta ampun padaku, segera aku akan melepaskan dia, biar dia menjiarkan kedjadian ini kekalangan Kangouw bahwa puterimu telandjang bulat dihadapanmu. Hahahah! Bagus, bagus! Hoa Tiat-kan, kau akan berlutut minta ampun? Ja, ja boleh, boleh, tentu aku akan mengampuni djiwamu!”

Mendengar otjehan itu, semangat tempur Hoa Tiat-kan lebih2 bujar lagi. Memangnja maksud tudjuannja tiada lain jalah mentjari hidup. Meski berlutut minta ampun adalah perbuatan jang memalukan, tapi toh djauh lebih enak daripada badan di-sajat2 oleh golok musuh. Sama sekali tak terlintas pikirannja akan bertempur pula dengan sepenuh tenaga, hal mana sebenarnja tidak susah baginja untuk membunuh musuh, tapi jang terbajang olehnja sekarang jalah Hiat-to-tjeng dihadapannja itu terlalu seram, terlalu menakutkan. Ia dengar Hiat-to-tjeng sedang berkata pula: “Kau djangan kuatir, djangan takut, asal kau sudah berlutut dan minta ampun, pasti djiwamu takkan kuganggu.”

Utjapan jang membesarkan hati itu bagi pendengaran Hoa Tiat-kan rasanja sangat enak dan sedap.

Sudah tentu kesempatan baik itu tak di-sia2kan Hiat-to-tjeng melihat air muka Hoa Tiat-kan mengundjuk rasa terhibur, segera ia tinggalkan Tjui Sing dan mendekati Tiat-kan dengan golok terhunus, katanja: “Bagus, bagus! Kau hendak berlutut dan minta ampun, nah, buanglah tumbakmu dulu. Ja, ja, aku pasti takkan mengganggu djiwamu, nah, nah, taruhlah tumbakmu ketanah, nah, begitulah!”

Begitulah nada suara Hiat-to-tjeng itu sangat lemah lembut dan menimbulkan daja pengaruh jang takdapat dilawan. Benar djuga, sekali tjekalan Hoa Tiat-kan kendur, tumbaknya lantas terlempar ketanah saldju. Dan sekali sendjatanja sudah terlepas dari tangan, dengan hati bulat ia benar2 sudah takluk pada musuh.

Dengan wadjah tersenjum simpul Hiat-to-tjeng berkata: “Bagus, bagus! Engkau sangat penurut, aku sangat suka padamu. Eh, tumbakmu itu boleh djuga, tjoba kulihat! Kau mundur dulu kesana tiga tindak, nah, nah, begitulah, ja mundur lagi tiga tindak!”

Begitulah seperti orang jang sudah kehilangan sukma, Hoa Tiat-kan hanja menurut belaka apa jang dikehendaki musuh.

Maka pelahan2 Hiat-to Lotjo mendjemput tumbak jang ditinggalkan Hoa Tiat-kan itu. Sambil memegangi tumbak pendek itu, ia merasa tenaga murninja setitik demi setitik djuga sedang menghilang lagi, beruntun ia tjoba kerahkan tenaganja dua kali, tapi hasilnja nihil, tenaga murni itu takdapat dihimpun kembali lagi. Diam2 ia terkedjut: “Djadi sesudah bertempur melawan tiga djago tangguh tadi, tenagaku sudah habis terkuras benar2, untuk dapat memulihkan tenagaku ini mungkin perlu mengaso setengah atau satu bulan lamanja.” ~ Dari itu, meski ia sudah memegang sedjata Hoa Tiat-kan, tapi ia masih kuatir bila lawan itu mendadak tabahkan diri dan menjerangnja, sekali gontok sadja pasti dirinja akan dirobohkan.

Sementara itu ketika Tjui Tay melihat Hiat-to-tjeng lagi berusaha menaklukkan Hoa Tiat-kan, segera ia membisiki sang puteri: “Sing-dji, lekaslah kau bunuh aku sadja!”

“Aj …….ajah! Aku ……. Aku tak dapat!” sahut Tjui Sing dengan ter-guguk2.

Tiba2 Tjui Tay melirik sekedjap pada Tik Hun, lalu katanja: “Siausuhu, sudilah kau berbuat badjik, lekas kau membunuh aku sadja!”

Tik Hun tahu maksud djago tua itu, daripada hidup tersiksa dan dihina, lebih baik lekas2 terbinasa sadja.

Sesungguhnja Tik Hun memang tidak tega dan sangat ingin membantu tamatkan riwajat Tjui Tay. Tapi bila dirinja turun tangan, hal mana pasti akan menimbulkan kemurkaan Hiat-to Lotjo. Padahal ia sudah saksikan dengan mata kepala sendiri betapa akan buas dan kedjamnja paderi Tibet itu. Makanja iapun tidak berani sembarangan membikin marah padanja.

“Sing-dji, boleh kau mohonlah belas kasihan Siausuhu ini agar suka lekasan membunuh aku sadja, kalau terlambat sebentar lagi tentu akan kasip.” Pinta Tjui Tay kepada puterinja.

Tapi pikiran Tjui Sing sedang kusut dan bingung, sahutnja: “Ajah, engkau tak boleh meninggal, engkau tak boleh meninggal!”

“Dalam keadaan demikian, aku lebih baik mati daripada hidup, masakah kau tidak melihat penderitaanku ini?” kata Tjui Tay dengan gusar.

Dan baru sekarang Tjui Sing tersadar, sahutnja: “Ja, benar! Ajah, biarlah ku mati bersama engkau!”

“Siausuhu,” segera Tjui Tay meminta lagi kepada Tik Hun, “mohon belas kasihanmu, sudilah lekas membunuh aku. Suruh aku takluk dan minta ampun pada paderi tua bangka itu, masakah orang she Tjui ini sudi buka mulut? Pula aku takdapat menjaksikan puteriku dihina olehnja!”

Meski selama ini Tik Hun menjelamatkan diri dengan membontjeng Hiat-to Lotjo serta bermusuhan dengan para djago silat dari Tionggoan, namun hati ketjilnja sebenarnja tidak suka kepada paderi djahat itu. Dasar djiwanja memang luhur dan bersemangat kesatria, kini mendadak timbul djuga djiwa kepahlawanannja, dengan suara tertahan segera ia terima baik permintaan Tjui Tay. “Baiklah, akan kubunuh kau, meski nanti akan diamuk oleh paderi tua djuga aku tidak peduli lagi!”

Tjui Tay bergirang, memangnja ia seorang jang banjak tipu akalnja, meski dalam keadaan terluka parah, namun ia masih bisa mengatur siasat, bisiknja kepada Tik Hun: “Aku akan pura2 memaki kau dengan suara keras, lalu sekali kemplang boleh kau binasakan aku, paderi tua bangka itu pasti tidak mentjurigai kau lagi!” ~ Dan tanpa menunggu djawaban Tik Hun, terus sadja ia memaki kalang kabut: “Hwesio tjabul ketjil, Hwesio keparat! Djika kau tidak mau sadar dan tetap meniru perbuatan Hwesio tua bangka jang terkutuk itu, kelak kau psti akan mendapatkan gandjaran jang setimpal. Bila hati nuranimu masih baik, seharusnja lekas2 kau tinggalkan Hiat-to-bun! Hwesio tjabul ketjil, kau anak djadah, tjutju kura2!”

Diantara tjatji-maki itu dapat didengar Tik Hun bahwa ada bagian2 jang menasihatkan dirinja agar menudju kedjalan jang baik. Diam2 ia merasa berterima kasih, segera ia angkat sepotong kaju, tapi toh tidak tega dikemplangkan begitu sadja.

Keruan Tjui Tay mendjadi gopoh, dengan tak sabar ia memaki lebih kedji lagi.

Disebelah sana tertampak Hoa Tiat-kan sudah tak berdaja, mendadak kakinja lemas terus bertekuk lutut dan menjembah kepada Hiat-to Lotjo.

Dengan ter-bahak2 Hiat-to Lotjo tidak sia2kan kesempatan bagus itu, sekali tutuk “Leng-tay-hiat” dipunggung Hoa Tiat-kan jang sedang menjembah itu kena ditutuknja. Dan karena tutukan itu adalah sisa antero tenaganja jang masih tinggal setitik itu, maka habis itu, iapun lemas benar2. Hoa Tiat-kan tertutuk roboh, Hiat-to-tjeng sendiri djuga lemas lunglai sampai dengkulnja hampir tak kuat menahan sang tubuh.

Melihat Hoa Tiat-kan bertekuk lutut, hati Tjui Tay mendjadi pedih, kawan itu sudah takluk pada musuh, kalau dirinja mati pula, maka tiada seorangpun jang dapat melindungi sang puteri lagi, diam2 ia sesalkan nasib puterinja jang buruk itu. Mendadak ia membentak; “Hwesio tjilik keparat! Mengapa kau tidak berani hantam aku?”

Tik Hun sendiri djuga menjaksikan Hoa Tiat-kan menjerah tanpa sjarat kepada Hiat-to-tjeng, ia pikir sedjenak lagi paderi tua itu pasti akan putar balik, maka dengan mengkertak gigi, terus sadja ia ajun alu kayu tadi keatas kepala Tjui Tay.

“Prak”, kontan batok kepala pendekar besar itu petjah dan binasa seketika.

“Ajah!” Tjui Sing mendjerit sekali, lalu iapun djatuh pingsan.

Hiat-to Lotjo djuga mendengar suara tjatji-maki Tjui Tay tadi, maka ia sangka Tik Hun tidak tahan makian itu, maka telah membunuh djago tua itu. Ia pikir sekarang toh Hoa Tiat-kan sudah takbisa berkutik, mati-hidupnja Tjui Tay sudah tidak mendjadi soal lagi baginja. Dan karena rasa lega dan saking gembiranja; terus sadja ia ter-bahak2 keras.

Namun ia lantas merasa suara tertawa sendiri itu tidak beres, suara itu tjuma “hoh-hoh-hoh” belaka, suara parau jang lemah, suara itu lebih tepat dikatakan merintih daripada disebut tertawa.

Ia tjoba berdjalan dengan sempojongan, tapi hanja dua-tiga langkah sadja, tiba2 terasa pinggang pegal linu, achirnja ia terdjatuh mendoprok lagi ketanah saldju.

Melihat kedjadian begitu, baru sekarang Hoa Tiat-kan sangat menjesal: “Ja, apa jang dikatakan Tjui-hiante memang tidak salah, paderi djahat itu ternjata benar sudah kehabisan tenaga. Tahu begitu, tadi kuhantam sekali tentu dapat membinasakan dia, tapi mengapa aku mendjadi begini pengetjut serta berlutut dan minta ampun padanja?” ~ Sungguh ia mendjadi malu tak terhingga mengingat nama baiknja sebagai seorang pendekar besar jang tersohor selama berpuluh tahun, kini ternjata mandah bertekuk lutut menjerah pada musuh, noda dan hina perbuatannja ini betapapun susah dihapus lagi. Kini ia sudah tertutuk, untuk bisa bergerak lagi harus tunggu 12 djam kemudian.

Sebagai seorang Kangouw ulung, ia tahu selama Hiat-to-tjeng masih berlagak perkasa, djiwanja mungkin masih dapat diselamatkan, tapi kini kelemahan Hiat-to-tjeng sudah ketahuan, terhadap padanja tentu djuga tiada kenal ampun lagi. Sebab kalau masih bitjara tentang ampun segala, bila 12 djam kemudian hingga dirinja dapat bergerak, mustahil takkan balas turun tangan kepada paderi itu.

Dan benar djuga, segera terdengar Hiat-to-tjeng berkata kepada Tik Hun: “Tjutju murid jang baik, hajolah lekas kau kemplang mampus orang itu. Orang itu teramat litjik dan kedji, djangan dibiarkan hidup.”

“Bukankah kau sudah berdjandji akan mengampuni djiwaku, mengapa kau ingkar djandji?” seru Hoa Tiat-kan. Sudah terang diketahui protesnja itu takkan berguna, tapi sebelum adjal ia pantang mati, sedapat mungkin ia ingin hidup.

“Hm, paderi keluaran Hiat-to-bun kami masakah bitjara tentang kepertjajaan apa segala?” djengek Hiat-to Lotjo dengan tertawa iblis. “Kau tekuk lutut dan minta ampun padaku adalah karena kau telah tertipu olehku. Haha, hahaha! Nah, tjutju-murid jang baik, lekas sekali kemplang mampuskan dia sadja. Kalau dibiarkan hidup, akibatnja sangat berbahaja bagi kita.”

Sesungguhnja Hat-to-tjeng djuga sangat djeri kepada Hoa Tiat-kan, ia tahu tutukan jang dilakukannja tadi karena kurang kuat tenaganja, belum tentu tutukan itu dapat mengenai tempat jang paling dalam, bukan mustahil setiap saat akan dapat ditembus oleh tenaga dalam Hoa Tiat-kan, tatkala itu keadaan akan berbalik mendjadi dirinja jang merupakan makanan empuk bagi djago she Hoa itu.

Namun Tik Hun tidak tahu kalau tenaga dalam Hiat-to Lotjo sudah kering benar2,, ia sangka sesudah sekian lamanja mengalahkan lawan2 tangguh, maka paderi tua itu perlu mengaso sebentar. Diam2 ia pikir: “Sebabnja aku membunuh Tjui-tayhiap tadi adalah karena aku ingin membantu dia terhindar dari siksaan lebih djauh. Sedangkan Hoa-tayhiap itu toh tidak kurang apa2, mengapa aku mesti membunuh dia?”

Karena pikiran itu, ia lantas berkata: “Tjosuya, dia toh sudah menjerah dan tertutuk olehmu, kukira boleh mengampuni djiwanja sadja!”

“Benar! Benar utjapan Siausuhu itu!” seru Hoa Tiat-kan segera. “Memang tepat perkataan Siausuhu, aku sudah ditaklukan kalian, sedikitpun tiada maksud melawan lagi, mengapa kalian akan membunuh aku pula?”

Tatkala itu Tjui Sing mulai siuman sambil menangis dan me-rintih2 nama sang ajah. Ketika mendengar permintaan ampun Hoa Tiat-kan setjara tidak kenal malu itu, sungguh bentjinja setengah mati, kontan ia memaki: “Hoa-pepek, engkau sendiri terhitung satu djago kelas satu jang gilang-gemilang di Tionggoan, mengapa engkau begitu rendah dan tanpa malu2 minta ampun kepada musuh? Se-mata2 engkau melihat ajahku tersiksa, tapi kau ………. kau malah …………” ~ Sampai disini ia tidak sanggup meneruskan lagi karena tangisnja jang teramat pilu.

“Tapi………..tapi ilmu silat kedua Toasuhu itu terlalu tinggi, kita tak mampu menangkan mereka, maka lebih …………. lebih baik kita menjerah sadja dan ikut pada mereka, kita akan tunduk pada perintah mereka,” demikian kata Hoa Tiat-kan dengan tidak malu2 lagi.

Hiat-to-tjeng pikir makin lama menunggu makin berbahaja baginja. Tapi tjelaka, sedikitpun ia tidak bertenaga. Maksudnja hendak berdiri djuga tidak sanggup lagi. Maka katanja pula: “Anak baik, turutlah pada Tjosuya, lekaslah bunuh manusia rendah itu!”

Akan tetapi sambil memegangi alu jang telah digunakan mengemplang Tjui Tay tadi, Tik Hun hanja bergemetar sadja dengan ragu2.

Ketika Tjui Sing menoleh dan melihat kepala sang ajah petjah penuh darah, tewasnja sangat mengenaskan, teringat betapa kasih sajang sang ajah kepadanja dimasa hisupnja, sungguh hantjurlah hatinja dan hampir2 kelengar lagi.

Tentang Tjui Tay minta pertolongan pada Tik Hun agar suka membunuhnja, hal itu telah didengar djuga oleh Tjui Sing. Tapi saking dukanja sekarang ia tidak dapat membedakan salah atau benar lagi, jang diketahui olehnja adalah kepala sang ajah jang petjah itu lantaran dikemplang oleh Tik Hun. Rasa duka dan murkanja tak tertahan lagi, se-konjong2 satu arus hawa panas menerdjang naik dari bagian perut.

Seorang djago silat jang Lwekangnja sudah terlatih sempurna, biasanja memang mampu mengunakan hawa murni sendiri untuk membuka Hiat-to jang tertutuk. Tapi untuk mentjapai tingkatan jang hebat itu bukanlah suatu tjara jang mudah. Sedangkan Hoa Tiat-kan sadja takbisa, apalagi Tjui Sing?

Tapi setiap orang dalam saat menghadapi mara bahaja, pada waktu mengalami suatu pergolakan perasaan jang luar biasa, maka sering2 akan dapat timbul suatu kemampuam jang tak terduga, kemampuan jang dapat melakukan sesuatu jang biasanja sangat sulit dilaksanakan. Jaitu misalnja waktu terdjadi kebakaran, tanpa merasa seorang dapat mengangkat benda berat jang biasanja tidak kuat diangkatnja atau melompat tempat tinggi jang biasanja tidak mungkin dilampauinja.

Dan begitulah kira2 keadaan Tjui Sing pada saat itu. Oleh karena bergolaknja sang perasaan, Hiat-to jang tertutuk itu mendadak lantjar kembali oleh tenaga jang timbul mendadak dari pusarnja itu. Enatah darimana datangnja tenaga lagi, se-konjong2 ia melompat bangun, ia rampas kaju jang dipegang Tik Hun terus menghantam dan menjabat serabutan kearah pemuda itu.

Meski Tik Hun sudah berkelit kesana dan mengegos kesini, tapi mukanja, kepalanja, telinga dan pundaknja toh be-runtun2 kena digebuk hingga belasan kali dan sakitnja tidak kepalang. Sembari tangannja dipakai menangkis, mulutnja sibuk berteriak pula: “Hei, hei! Mengapa kau memukul padaku? Ajahmu sendiri jang suruh aku membunuhnja!”

Tjui Sing terkesiap mendengar seruan itu. Benar djuga pikirnja, memang tadi ia sendiri djuga mendengar ajahnja sendiri jang meminta pemuda itu suka membunuhnja. Dan sesudah tertegun sedjenak, seketika ia lemas seperti balon gembos. Ia terkulai disamping Tik Hun dan menangis ter-gerung2.

Mendengar utjapan Tik Hun jang mengatakan Tjui Tay jang minta pemuda itu membunuhnja, sekilas pikir sadja segera Hiat-to Lotjo paham duduknja perkara, keruan ia sangat gusar: “Botjah ini berani membangkang pada perguruan dan malah membantu musuh, benar2 murid durhaka jang kudu dibasmi.”

Dalam gusarnja segera ia bermaksud menjambar goloknja untuk membunuh Tik Hun. Tapi sedikit tangannja bergerak, segera teringat tenaga sendiri terlalu lemah, keselamatan sendiri sebenarnja sangat berbahaja.

Namun Hiat-to-tjeng itu memang seorang manusia litjin, sedikitpun ia tidak perlihatkan rasa gusarnja itu, bahkan dengan tersenjum ia berkata: “Eh, tjutju murid jang baik, kau harus mengawasi anak dara itu dan djangan membiarkan dia main gila. Dia sudah mendjadi milikmu, bagaimana kau akan perlakukan dia, Tjosuya terserah kepadamu.”

Tapi disebelah sana Hoa Tiat-kan telah mengetahui ketidak beresan itu, segera ia berseru: “Tjui-titli, kemarilah sini, aku ingin bitjara padamu.”

Ia tahu waktu itu Hiat-to Lotjo sudah tak bertenaga sedikitpun dan tidak menguatirkan lagi. Tik Hun kakinja patah, diantara mereka berempat sebaliknja Tjui Sing sekarang terhitung paling kuat, maka ia ingin membisiki gadis itu agar segera menggunakan kesempatan bagus itu untuk membunuh kedua paderi.

Tak terduga Tjui Sing sudah terlalu bentji kepada djiwanja jang rendah dan tidak kenal malu itu, ia pikir kalau kau tidak takluk pada musuh, tentu djiwa ajahku takkan melajang. Maka pangilan Hoa Tiat-kan itu sama sekali tak digubris olehnja.

“Tjui-titli,” demikian Tiat-kan berseru pula, “Djikalau kau ingin melepaskan diri dari kesulitan, sekarang adalah saat jang paling baik. Kemarilah kau, akan kukatakan padamu.”

Hiat-to Lotjo mendjadi gusar, damperatnja: “Tutup batjotmu! Kau berani tjerewet lagi, segera kupenggal kepalamu!”

Betapapun Hoa Tiat-kan ternjata tidak berani kepada paderi Tibet itu, maka ia tidak berani bersuara lagi, hanja ber-ulang2 ia main mata kepada Tjui Sing.

Tjui Sing mendjadi sebal dan mual terhadap kelakuan manusia rendah itu, damperatnja dengan gusar: “Ada soal apa, katakan sadja, mengapa mesti main kasak-kusuk segala?”

Gemas rasa Hoa Tiat-kan terhadap sigadis jang tidak menurut itu. Pikirnja: “Tampaknja paderi tua itu sedang mengerahkan tenaga dalamnja. Sedikit tenaganja pulih kembali, asal kuat mengangkat goloknja, pasti aku jang akan dibunuh paling dulu. Waktu sudah mendesak, terpaksa aku harus lekas beberkan rahasianja.” ~ Maka tjepat ia berseru: “Tjui-titli, tjoba lihat Hwesio tua itu, setelah pertarungan sengit tadi, tenaganja sudah terkuras habis, sedjak tadi ia mendoprok ditanah dan tidak kuat berdiri lagi.”

Tjui Sing tjoba melirik sipaderi tua, benar djuga dilihatnja paderi itu menggeletak diatas saldju, keadaannja sangat pajah. Teringat kepada sakit hati sang ajah, seketika ia mendjadi kalap, tanpa pikir lagi apakah perkataan Hoa Tiat-kan itu benar atau tidak, terus sadja ia angkat batang kaju dan menghantam kearah Hiat-to tjeng.

Namun Hiat-to Lotjo itiu benar2 manusia jang litjin, ketika mendengar Hoa Tiat-kan ber-ulang2 memanggil Tjui Sing, diam2 iapun tahu maksud musuh itu, dalam kuatirnja iapun peras otak mentjari bagaimana harus menghadapi sigadis bila sebentar lagi datang menjerang padanja. Sedapat mungkin ia menarik napas pandjang dua kali, tapi perutnja terasa kosong blong tanpa tenaga sedikitpun, bahkan bertambah lemah daripada tadi. Seketika ia mendjadi tak berdaja dan sementara itu batang kaju Tjui Sing sudah melajang keatas kepalanja.

Oleh karena saking duka atas kematian ajahnja, maka serangan Tjui Sing itu hakikatnja sekenanja belaka tanpa sesuatu gerak tipu. Biasanja sendjata kemahirannja adalah pedang, sebenarnja ia tidak paham ilmu pentung. Sebab itulah sekali ia menggebuk, segera tertampak banjak lubang kelemahannja. Kesempatan itu segera dipergunakan Hiat-to Lotjo dengan baik, sedikit ia miringkan tubuh, diam2 ia djulurkan tumbak Hoa Tiat-kan jang dipegangnja dengan miring keatas.

Tjuma keadaannja terlalu lemah, untuk angkat udjung tumbak keatas sesungguhnja tidak kuat baginja. Maka jang dapat diatjungkan miring keatas itu adalah garan tumbak, ia intjar “Toa-pau-hiat” dibawah ketiak Tjui Sing.

Saking pilunja perasaan, sudah tentu Tjui Sing tidak menduga akan akal litjik orang, sekali hantam, tepat sekali pentungnja mengenai muka Hiat-to-tjeng hingga bonjok dan keluar darahnja. Tapi pada saat jang sama pula ketiaknja terasa kesemutan, kaki-tangannja mendjadi lemas, badannja tergeliat dan achirnja roboh terguling disamping Hiat-to-tjeng.

Meski mukanja kena dihandjut sekali oleh pentung sigadis hingga sangat kesakitan, namun Hiat-to Lotjo djuga melihat tipu dajanja telah berhasil, Tjui Sing telah membenturkan “Toa-pau-hiat” diketiak sendiri keudjung tumbak jang dipasangnja, djadi Hiat-to sendiri ditutuk sigadis sendiri. Saking senangnja Hiat-to Lotjo ter-bahak2 dan berkata: “Nah, bangsat tua she Hoa, kau bilang tenagaku sudah habis, kenapa dengan gampang sadja aku dapat merobohkan dia?”

Bahwasanja Tjui Sing tersodok sendiri djalan darahnja oleh udjung tumbak jang sengadja dipasangi Hiat-to Lotjo, karena ter-aling2 badan sigadis, maka apa jang terdjadi itu tak dilihat oleh Hoa Tiat-kan dan Tik Hun, maka mereka mendjadi kaget dan pertjaja penuh bahwa gadis itu telah ditutuk roboh oleh Hiat-to Lotjo.

Ketika didekati Hiat-to Lotjo, saking ketakutannja Hoa Tiat-kan terus bertekuk lutut dan menjembah kepada paderi djahat itu serta minta ampun.

Keruan jang paling kaget dan takut adalah Hoa Tiat-kan, dengan tidak kenal malu2 lagi ia memudji setinggi langit: “Ja, ja, memang ilmu sakti Lotjianpwe sudah tiada taranja, dengan sendirinja manusia biasa seperti diriku jang berpandangan pitjik ini tidak kenal akan ilmu sakti Lotjianpwe. Betapa hebat tenaga dalam Lotjianpwe itu boleh dikata tiada bandingannja didjagat ini, bahkan mungkin tidak pernah ada dari djaman dulu hingga sekarang.”

Begitulah tiada habis2nja dia memudji Hiat-to Lotjo. Dari suaranja jang gemetar itu, terang hatinja ketakutan setengah mati.

Padahal bisanja Hiat-to Lotjo merobohkan Tjui Sing itu hanja dilakukan setjara untung2an sadja. Sesudah berhasil, diam2 ia sangat bersjukur dirinja sudah bebas dari antjaman maut. Tapi djalan darah Tjui Sing jang tersodok itu hanja terkena tenaga luaran dari sesuatu benda keras, djadi bukan ditutuk dengan tenaga dalam jang dapat menjusup hingga titik Hiat-to jang paling mendalam. Setelah lewat beberapa lamanja Hiat-to jang tersodok itu akan lantjar kembali. Dan bila hal mana terdjadi, tidak mungkin tutukan setjara kebetulan itu dapat terulang, tak usah disangsikan lagi djiwanja pasti akan melajang ditangan sigadis.

Sebab itulah, Hiat-to-tjeng berusaha sedapat mungkin didalam waktu singkat itu harus memulihkan sedikit tenaga, pada sebelum Tjui Sing dapat bergerak, ia sendiri sudah harus dapat berdiri.

Maka dengan diam2 Hiat-to-tjeng melakukan semadi walaupun dengan tjara jang tidak sewadjarnja, jaitu dengan mendoprok. Habis, untuk duduk bersila sadja ia tidak mampu.

Tempat menggeletak Tjui Sing itu djaraknja tjuma satu-dua meter disebelah Hiat-to-tjeng. Semula ia sangat kuatir entah perlakuan apa lagi jang hendak dilaksanakan atas dirinja oleh paderi djahat itu. Tapi sesudah sekian lamanja sedikitpun tiada sesuatu gerak-gerik dari paderi itu, barulah hatinja merasa lega.

Ditanah bersaldju saat itu mendjadi menggeletak empat orang dengan perasaan2 jang ber-beda2.

Tik Hun antero tubuhnja, dari kepala, pundak, tangan, sampai kaki, semuanja babak belur dan sakit tak terkatakan, dengan mengkertak gigi ia bertahan sedapat mungkin supaja tidak merintih, suruh dia memeras otak terang tidak sempat lagi.

Hiat-to-tjeng tjukup tahu tenaga dalam sendiri sudah kering, djangankan hendak memulihkan dua-tiga bagian tenaga itu, sekalipun untuk berdjalan sadja paling sedikit diperlukan waktu dua-tiga djam lagi. Sedangkan keadaan Hoa Tiat-kan djuga tidak lebih baik, ia tertutuk dan paling sedikit harus esok paginja baru bisa bergerak dengan sendirinja.

Djadi bahaja jang terbesar tetap terletak pada diri Tjui Sing. Siapa duga gadis itu sudah terlalu duka dan murka hingga semangatnja lesu dan tenaga letih, ia menggeletak sekian lamanja dan achirnja terpulas malah.

Tentu sadja Hiat-to Lotjo bergirang, pikirnja: “Paling baik kau terus tertidur hingga beberapa djam lamanja, maka aku tidak perlu kuatir apa2 lagi.”

Hal mana rupanja djuga diketahui oleh Hoa Tiat-kan, ia sadar mati hidup sendiri sangat tergantung kepada Tjui Sing jang diharapkan bisa bergerak lebih dulu daripada sipaderi tua. Tapi demi nampak gadis itu mendjadi pulas, ia terperandjat, tjepat ia berseru: “Hai, Tjui-titli, djangan sekali2 kau tidur, sekali kau pulas, segera kau akan dibunuh oleh kedua paderi tjabul itu!”

Namun Tjui Sing benar2 sudah terlalu letih, hanja terdengar mulutnja mengigau beberapa kali, lalu menggeros sebagai babi mati.

Dengan kuatir Hoa Tiat-kan ber-teriak2 lebih keras: “Tjui-titli, wah tjelaka! Lekas mendusin, kau hendak dibunuh oleh Ok-tjeng itu!” ~ Namun sigadis tetap tak bergeming.

Diam2 Hiat-to-tjeng mendjadi gusar: “Kurang adjar! Gembar-gembornja ini benar2 membahajakan!” ~ Maka katanja segera kepada Tik Hun: “Tjutju murid jang pintar, tjoba madjulah kau dan sekali batjok mampuskan tua bangka itu !”

“Tapi orang itu sudah takluk, bolehlah ampuni djiwanja,” udjar Tik Hun.

“Mana dia mau takluk?” kata Hiat-to Lotjo. “Bukankah kau mendengar dia sedang ber-teriak2 dengan maksud membikin tjelaka kita.”

“Siausuhu,” tiba2 Hoa Tiat-kan menjela, “kakek-gurumu itu sangat kedjam, sementara ini dia sudah kehabisan tenaga murni, ia tidak dapat bergerak sedikitpun, makanja kau disuruh membunuh aku. Tapi sebentar kalau tenaga dalamnja sudah pulih, karena marah pada pembangkanganmu tadi, tentu kau akan dibunuhnja lebih dulu. Maka ada lebih baik sekarang djuga engkau mendahului turun tangan bunuhlah dia.”

“Tidak, ia bukan kakek-guruku,” sahut Tik Hun sambil menggeleng. “Tjuma dia ada budi padaku, dia telah menjelamatkan djiwaku, mana boleh aku membalas air susu dengan air tuba dan membunuhnja?”

“O, djadi dia bukan kakek-gurumu?” Hoa Tiat-kan menegas. “Itulah lebih2 baik lagi, lekas kau bunuh dia, sedetikpun djangan ajal. Paderi2 dari Hiat-to-bun terkenal maha kedjam, djiwamu sendiri kau sajangkan atau tidak?”

Tik Hun mendjadi ragu2, ia tahu apa jang dikatakan Hoa Tiat-kan itu bukan tak beralasan, tapi kalau suruh dia membunuh Hiat-to Lotjo, perbuatan itu betapa ia tidak sanggup. Namun Hoa Tiat-kan masih terus mendesaknja tanpa berhenti, sampai achirnja Tik Hun mendjadi tidak sabar, bentaknja: “Tutup mulutmu, djika kau tjerewet lagi, segera aku mampuskan kau dahulu!”

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Tiat-kan tidak berani membatjot lagi, jang dia harap adalah semoga Tjui Sing lekas2 mendusin.

Selang tak lama, saking tak sabar, kembali ia ber-teriak2: “Tjui-titli, lekas bangun, lihatlah ajahmu telah hidup kembali!”

Teriakannja ini ternjata sangat mandjur, dalam tidurnja lajap2 Tjui Sing mendengar suara orang menjebut ajahnja telah hidup kembali. Saking girangnja seketika ia mendusin sambil berseru: “Ajah, ajah!”

Tjepat Hoa Tiat-kan menanggapi: “Tjui-titli, Hiat-to dibagian mana kau ditutuknja tadi? Tjobalah katakan, paderi djahat itu sudah kehabisan tenaga, tutukannja tentu djuga tidak keras, biarlah kuadjarkan satu tjara menarik napas untuk melantjarkan Hiat-to jang tertutuk itu.”

Ketika ketiakku terasa kesemutan tadi, aku lantas takbisa berkutik lagi.” Kata Tjui Sing.

“Ha, itulah Toa-pau-hiat jang tertutuk, gampang djika begitu lekas ia tarik napas pandjang2, lalu pusatkan keperut dan pelahan2 menggunakan hawa itu untuk menggempur Toa-pau-hiat dibagian ketiak itu, setelah kau dapat bergerak segera sakit hati ajahmu dapat kau balas,” demikian Hoa Tiat-kan mengadjarkan.

Tjui Sing mengangguk dan mengiakan. Meski dia masih sangat bentji pada Hoa Tiat-kan jang rendah itu, namun apapun djuga dia adalah kawan dan bukan lawan, sedangkan adjarannja itupun memang menguntungkan dirinja, maka ia lantas menurut petundjuk itu, ia menarik napas pandjang2 dan dikerahkan kebagian perut ……….

Diam2 Hiat-to-tjeng djuga mengikuti gerak-gerik sigadis itu. Ketika dilihatnja Tjui Sing menurut petundjuk Hoa Tiat-kan, diam2 ia mengeluh dan gelisah: “Anak dara itu sudah dapat mengangguk, hakikatnja ia tidak perlu menarik napas dan menghimpun hawa didalam perut segala, tapi sebentar lagi djuga djalan darahnja akan lantjar kembali dan dapat bergerak segera.”

Karena itu ia sendiripun lantas pusatkan pikiran, ia berharap bisa mengumpulkan sedikit tenaga untuk kemudian dipupuk lebih kuat, maka terhadap gerak-gerik Tjui Sing apakah sudah dapat berdjalan atau tidak sama sekali tak dipikirkan lagi.

Mengenai ilmu mengerahkan hawa murni untuk menggempur Hiat-to jang tertutuk, ilmu maha gaib itu Hoa Tiat-kan sendiri tidak betjus, djangankan Tjui Sing. Tapi djalan darahnja jang tertutuk itu hakikatnja sangat enteng, sesudah darah berdjalan lantjar, otomatis tutukan itu mendjadi bujar dengan sendirinja. Maka tidak antara lama, pundaknja tampak sudah dapat bergerak.

“Bagus, Tjui-titli,” seru Hoa Tiat-kan dengan girang. “Teruskanlah tjara petundjukku itu, sebentar lagi pasti engkau sudah bisa berdjalan. Tindakan pertama hendaklah kau djemput golok merah itu, engkau harus menurut kata2ku dan djangan membangkang, bila tidak, sakit hati ajahmu tentu tak terbalas!”

Tjui Sing mengangguk, ia merasa anggota badannja sudah tidak kaku lagi, ia tjoba tarik napas pandjang2 sekali dan pelahan2 dapatlah berduduk.

“Bagus, bagus! Tjui-titli, setiap gerak-gerikmu harus kau turut pesanku, djangan kau salah bertindak, sebab didalam tindakanmu ini nanti terletak kuntji utama apakah engkau akan dapat membalas sakit hati atau tidak,” demikian seru Tiat-kan pula. “Nah, tindakan pertama sekarang djemputlah golok merah melengkung itu.”

Tjui Sing menurut, pelahan2 ia mendekati Hiat-to Lotjo dan mendjemput golok milik paderi itu.

Melihat tindakan sigadis itu, Tik Hun tahu tindakan selandjutnja tentu goloknja akan membatjok hingga kepala Hiat-to-tjeng terpenggal. Tapi paderi tua itu ternjata adem-ajem sadja, kedua matanja seperti terpedjam dan seperti melek, terhadap bahaja jang sedang mengantjam itu ternjata tidak digubrisnja.

Kiranja waktu itu Hiat-to Lotjo merasa tenaga pada kaki dan tangannja mulai tumbuh, asal tahan lagi setengah djam, meski belum kuat benar, tapi untuk berdjalan tentu dapat. Dan djusteru pada saat genting itulah Tjui Sing sudah mendahului menjambar goloknja. Walaupun dalam keadaan tak bergerak, tapi pertarungan batinnja sebenarnja tidak kalah seru daripada pertempurannja melawan Lau Seng-hong dan Liok Thian-dju tadi.

Dalam pada itu tampaknja Tjui Sing sudah akan segera menjerang padanja, diam2 Hiat-to-tjeng menghimpun setitik tenaga jang sangat lemah dari seluruh tubuhnja itu kelengan kanan.

Diluar dugaan terdengar Hoa Tiat-kan berseru: “Dan tindakan kedua, bunuhkah lebih dulu Hwesio muda itu. Lekas, lebih tjepat lebih baik, bunuh dulu Hwesio muda itu.”

Seruan itu benar2 tak tersangka oleh Tjui Sing, Hiat-to-tjeng dan Tik Hun sendiri. Dan karena melihat sigadis masih tertegun, segera Tiat-kan berteriak lagi: “Hajolah lekas! Hwesio tua itu tak bisa bergerak, maka lebih penting bunuhlah Hwesio muda itu dahulu. Djika kau membunuh paderi tua dulu, tentu sipaderi muda akan mengadu djiwa dengan kau!”

Benar djuga pikir Tjui Sing, segera ia menghunus goloknja kedepan Tik Hun. Tapi mendadak ia mendjadi ragu2. “Dia pernah membantu ajahku dengan membunuhnja sehingga terhindar dari siksaan dan hinaan sipaderi tua jang djahat itu. Apakah sekarang aku harus membunuhnja atau tidak?”

Rasa ragu2 itu hanja timbul sekilas lintas, sebab ia lantas ambil keputusan harus membunuhnja. Dan sekali angkat goloknja, terus sadja ia membatjok keleher Tik Hun.

Tjepat pemuda itu berguling menjingkir, ketika batjokan kedua kalinja tiba pula, kembali Tik Hun menggelundung pergi lagi. Menjusul ia lantas sambar sebatang kaju dan dibuat menangkis. Namun beruntun Tjui Sing menabas dan memotong hingga batang kaju itu terpapas dua bagian.

Ketika untuk sekali lagi Tjui Sing hendak membatjok, se-konjong2 pergelangan tangannja terasa kentjang, golok merah itu tahu2 telah dirampas oleh seorang dari belakang.

Jang merebut golok itu tak-lain-tak-bukan adalah Hiat-to Lotjo. Oleh karena tenaganja baru tumbuh setitik dan terbatas, sebaliknja keadaan mendesak ia harus bertindak, maka ia tidak boleh meleset bertindak, dengan mengintjar djitu benar2, sekali rebut segera golok pusakanja kena dirampas kembali. Dan begitu memegang sendjata, tanpa pikir lagi ia terus membatjok kepunggung Tjui Sing.

Kedjadian jang luar biasa tjepat dan mendadak itu membikin Tjui Sing terkesiap bingung hingga tidak sempat menghindar serangan Hiat-to-tjeng itu.

Kebetulan Tik Hun berada disebelah situ, melihat sipaderi tua hendak mengganas lagi, segera ia berteriak: “Hai, djangan membunuh orang lagi!” ~ Berbareng ia terus menubruk madju sekuatnja meski dengan setengah mengesot, batang kaju ditangannja terus dipakai mengetok kepergelangan tangan sipaderi tua.

Djika dalam keadaan biasa, tidak nanti tangan Hiat-to-tjeng kena diketok. Tapi kini tenaganja hanja setitik sadja, mungkin tiada satu bagian daripada tenaganja semula. Maka tjekalannja mendjadi kendur dan golok djatuh ketanah. Berbareng kedua orang lantas berebut mendjemput golok itu.

Karena badan Tik Hun mengesot ditanah, tangannja dapat mendjamah dulu garan golok itu, tapi segera lehernja terasa kentjang dan napas sesak, tahu2 Hiat-to-tjeng telah mentjekiknja.

Untuk tidak mati tertjekik, terpaksa Tik Hun melepaskan golok itu dan menggunakan tangannja untuk membentang tjekikan Hiat-to-tjeng. Namun paderi tua itu sudah bertekad sekali ini pemuda itu harus ditjekik mampus mumpung tenaga sendiri masih ada setitik, kalau tidak dirinja sendiri nanti jang akan dibunuh olehnja.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa sebenarnja tiada maksud Tik Hun hendak membunuhnja, soalnja tadi pemuda itu tidak tega kalau Tjui Sing terbinasa lagi dibawah golok sipaderi, maka tanpa pikir terus turun tangan menolong.

Begitulah Tik Hun merasa napasnja semakin sesak dan dada se-akan2 meledak. Ia tjoba tarik2 tangan sipaderi jang mentjekiknja itu, tapi tidak berhasil. Mendadak ia mendjadi nekat dan balas mentjekik leher Hiat-to-tjeng dengan mati2an. Maka terdjadilah pergumulan hebat.

Hiat-to-tjeng insaf setitik tenaganja itu sangat terbatas, mati-hidupnja hanja tergantung pada seudjung rambut sadja. Sekali Hwesio tjilik itu sudah timbul maksud hianatnja, menurut undang2 Hiat-to-bun, pengkhianat harus dibasmi dulu baru kemudian membunuh musuh luar. Maklum, musuh luar gampang dihadapi, sebaliknja musuh dalam, kaum penghianat, lebih susah didjaga. Pula ia menduga sebelum esok pagi Hoa Tiat-kan takkan dapat bergerak, sedangkan ilmu silat Tjui Sing sangat tjetek, mudah dihadapi. Maka usahanja sekarang melulu ditjurahkan untuk mentjekik mati Tik Hun. Semakin lama semakin kentjang tjekikannja.

Ketika napas Tik Hun takbisa lantjar lagi, mukanja mendjadi merah padam, tangannja mulai lemas dan tak kuat balas mentjekik, pelahan2 tangannja mengendur, dalam benak sekilas: “Matilah aku, matilah aku!”

Waktu melihat kedua paderi itu saling bergumul ditanah saldju, Tjui Sing djuga tahu duduknja perkara disebabkan Tik Hun hendak menolong djiwanja. Tapi ia merasa kedua paderi djahat itu saling membunuh, kenapa aku tidak membiarkan mereka kepajahan dahulu atau mungkin keduanja nanti akan gugur bersama.

Tapi sesudah mengikuti pergumulan itu sebentar, lambat laun tertampak tangan Tik Hun mulai lemas dan tidak kuat balas menjerang lagi. Mau-tak-mau Tjui Sing mendjadi kuatir, sebab kalau paderi muda itu terbunuh, tentu mendjadi giliran dirinja jang akan dibunuh lagi oleh paderi tua itu.

“Tjui-titli,” tiba2 Hoa Tiat-kan berseru pula, “saat inilah kesempatan paling bagus untuk turun tangan! Hajolah, lekas djemput kembali golok itu.”

Tjui Sing menurut, golok merah itu didjemputnja lagi.

“Nah, sekarang bunuhlah kedua paderi djahat itu, lebih tjepat lebih baik,” seru Tiat-kan pula.

Dengan menghunus golok Tjui Sing melangkah madju dengan maksud membunuh Hiat-to Lotjo dulu. Tapi demi melihat kedua orang masih bergumul mendjadi satu, padahal golok itu tadjamnja tidak kepalang, sekali tabas, bukan mustahil ke-dua2nja akan mati semua.

Ia pikir Tik Hun tadi telah menjelamatkan djiwanja sendiri biarpun Hwesio muda itu djahat toh terhitung pula tuan penolongnja, mana boleh ia membalas susu dengan tuba? Tapi kalau mesti menanti lubang baik untuk melulu bunuh Hiat-to Lotjo seorang, ia merasa tangan sendiri djuga sangat lemas, sedikitpun ia tidak jakin serangannja nanti akan dapat mengenai sasarannja dengan tepat.

Tengah Tjui Sing merasa ragu2 dan serba susah, tiba2 Hoa Tiat-kan mendesaknja pula: “Tjui-titli, hajolah lekas turun tangan, apa jang kau tunggu lagi? Djangan kau lewatkan kesempatan bagus ini, untuk membalas sakit hati ajahmu, inilah saatnja!”

“Tapi …….. tapi mereka berdua bergumul mendjadi satu dan …… dan tak terpisahkan,” udjar Tjui Sing.

“Geblek kau, bukankah aku suruh kau membunuh mereka berdua?” omel Tiat-kan dengan gusar. Sebagai seorang tokoh terkemuka, ia adalah ketua dari Tiat-djiang-bun di Kang-say, sudah biasa ia memerintah dirumah dan apa jang dikatakan tiada jang berani membangkang, maka ia mendjadi djengkel waktu Tjui Sing tidak lantas turut perintahnja.

Njata ia lupa dirinja sendiri dalam keadaan tak berkutik, sedang Tjui Sing sebenarnja djuga sudah bentji dan pandang hina padanja. Keruan utjapannja jang kasar itu sangat menusuk perasaan Tjui Sing dan membuatnja naik darah.

“Ja, ja, aku anak geblek, dan kau kesatria jang gagah,” demikian kontan sigadis balas mendamperat. “Tapi mengapa kau sendiri tadi tidak berani bertempur mati2an dengan dia? Djika kau mampu, hajolah kau sendiri membunuh mereka sadja. Hm, pengetjut.”

Dasar Hoa Tiat-kan djuga sangat litjik, ia dapat melihat gelagat dan menuruti arah angin, lekas2 ia menjambut dengan tersenyum: “Ja, ja, memang Hoa-pepek jang salah, harap Tjui-titli djangan marah. Nah, pergilah membunuh kedua paderi djahat itu untuk membalas sakit hati ajahmu. Pendjahat besar sebagai Hiat-to-tjeng itu dapat mati ditanganmu, kelak dunia Kangouw pasti akan sangat kagum kepada seorang Tjui-lihiap jang perkasa dan berbakti pula.”

Tapi semakin tjerewet ia mengumpak, semakin membikin Tjui Sing merasa mual dan bentji. Ia melototi manusia hina itu sekali, lalu melangkah madju, ia intjar punggung Hiat-to Lotjo dan bermaksud menjajatnja dua-tiga kali dengan golok agar paderi tua itu terluka dan mengalirkan darah, sebaliknja Tik Hun tidak terluka apa2.

Namun disamping bergumul dengan Tik Hun, senantiasa Hiat-to Lotjo djuga memperhatikan gerak-gerik Tjui Sing. Ketika melihat gadis itu mendesak madju dengan golok terhunus, segera iapun dapat menaksir maksudnja, sebelum orang bertindak, ia sudah mendahului menegur dengan suara tertahan: “Baiklah, boleh kau potong punggungku dengan perlahan, tapi hati2, djangan sampai Hwesio tjilik ini ikut terluka.”

Tjui Sing kaget. Sudah banjak ia merasakan siksaan Hiat-to-tjeng itu, memangnja ia sangat djeri padanja, maka demi mendengar maksudnja kena ditebak, ia mendjadi ragu2. Dan karena sedikit tertegun itu, ia urung menjerang pula. Padahal Hiat-to Lotjo hanja main gertak belaka.

Dalam pada itu Tik Hun jang ditjekik Hiat-to Lotjo itu semakin pajah keadaannja. Ia merasa dadanja se-akan2 melembung karena takdapat mengeluarkan napas. Segera hawa jang terhimpun didalam paru2 itu menerdjang keatas, tapi karena djalan napas ditenggorokan tertjekik dan buntu, hawa itu lantas membalik kebawah.

Begitulah hawa dada itu lantas mengamuk dengan menerdjang kesini dan menumbuk kesana untuk mentjari djalan keluar, tapi tetap buntu. Dalam keadaan begitu, bila orang biasa, achirnja tentu akan pingsan dan mati sesak napas. Tapi Tik Hun djusteru tidak mau pingsan, sebaliknja ia merasakan penderitaan jang tak terkatakan pada seluruh tubuhnja, jang terkilas dalam pikirannja jalah: “Matilah aku! Matilah aku!”

Se-konjong2 Tik Hun merasa perutnja sangat kesakitan, hawa didalam itu makin lama semakin melembung dan bertambah panas, djadi mirip uap panas jang takbisa keluar dari dalam kuali, perut serasa akan meledak. Pada saat lain, tiba2 “Hwe-im-hiat” pada bagian bawah perut se-akan2 tertembus suatu lubang oleh hawa panas itu, ia merasa hawa panas itu mengalir sedikit demi sedikit menudju ke “Tiang-kian-hiat” dibagian bokong, rasanja sangat njaman sekali badannja sekarang.

Sebenarnja kedua Hiat-to didalam tubuhnja itu satu sama lain tiada berhubungan, tapi karena hawa panas jang bergolak didalam tubuhnja menghadapi djalan buntu, setjara tak disengadja hawa itu menerdjang kian kemari dan achirnja telah menembuskan djalan darahnja antara urat nadi Im-meh dan Tok-meh itu.

Dan sekali hawa dalam itu masuk ke “Tiang-kiang-hiat”, terus sadja hawa itu menjusur naik melalui tulang punggung, jaitu melalui titik2 hawa jang tertjakup dalam lingkungan Tok-meh hingga achirnja mentjapai “Pek-hwe-hiat” dibagian ubun2 kepala.

Biasanja biarpun dilatih setjara giat dan radjin selama berpuluh tahun oleh seorang ahli Lwekang jang paling pandai djuga belum tentu dapat menembus urat2 nadi Im-meh dan Tok-meh. Tapi Tik Hun sedjak mendapat adjaran intisari Lwekang maha hebat dari “Sin-tjiau-keng” ketika sama2 berada didalam pendjara dengan Ting Tian dulu, kendati Lwekang itu sangat bagus, untuk melatihnja dengan baik djuga tidak gampang, maka sampai kapan Tik Hun baru dapat mejakinkan ilmu Lwekang itu sesungguhnja djuga masih merupakan suatu tanda tanja, apalagi bakat pembawaan pemuda itu bukan tergolong pilihan, pula tiada petundjuk lagi dari Ting Tian.

Siapa duga disaat djiwanja tergantung pada udjung rambut ditengah djurang bersaldju itu, se-konjong2 djalan darah kedua urat nadi Im-meh dan Tok-meh jang penting itu dapat ditembusnja.

Begitulah maka ia mendjadi segar merasakan hawa dalam itu menerdjang ke “Pek-hwe-hiat” diatas kepala. Hawa njaman itu kemudian menurun kebagian djidat, hidung, bibir hingga sampai di “Seng-tjiang-hiat” dibawah bibir.

“Seng-tjiang-hiat” itu sudah termasuk urat nadi “Im-meh” jang meliputi Hiat-to disebelah depan tubuh manusia. Maka dari situ hawa segar itu terus mengalir melalui Liat-tjoan-hiat, Thian-tut-hiat, Soan-ki-hiat dan lain2 hingga achirnja sampai “Hwe-im-hiat” lagi.

Djadi hawa segar itu telah memutar satu kali diantara titik2 Hiat-to ditubuh Tik Hun hingga seketika rasa sesak tadi hilang sama sekali, bahkan kini merasa nikmat dan segar luar biasa.

Untuk pertama kali djalannja hawa murni itu agak sulit, tapi sekali sudah lantjar, untuk kedua dan ketiga kalinja mendjadi sangat gampang dan tjepat djalannja, maka hanja dalam waktu singkat sadja be-runtun2 hawa murni itu sudah berputar sampai belasan kali.

Sebenarnja setiap djenis ilmu Lwekang djuga mempunjai tjara2 menembus urat nadi Im-meh dan Tok-meh itu, namun manfaatnja sesudah berhasil melatihnja satu sama lain ber-beda2. Mirip seperti orang jang melatih Gwakang, daja pukulan atau tendangan masing2 mempunjai kekuatannja sendiri2.

Sedangkan Lwekang dari “Sin-tjiau-keng” itu adalah sematjam ilmu paling gaib dalam ilmu silat. Sudah tjukup lama Tik Hun mejakinkan Sin-tjiau-kang, jaitu sedjak dia mengeram didalam pendjara, djadi dasarnja sebenarnja sudah terpupuk kuat. Maka sekali dia sudah lantjar mendjalankan hawa murni itu, setiap kali hawa itu memutar titik2 Hiat-to dalam tubuhnja, setiap kali bertambah pula tenaga dalamnja. Ia merasa anggota badannja sekarang se-akan2 penuh tenaga, semangat me-njala2, bahkan setiap udjung rambut djuga se-akan2 penuh mengandung tenaga.

Dengan sendirinja hal mana tak diketahui oleh siapapun djuga, Hiat-to Lotjo tidak menduga bahwa orang jang sedang ditjekiknja itu sudah terdjadi perubahan jang maha besar. Maka ia tidak perhatikan keadaan Tik Hun, sebaliknja sambil mentjekik, jang dia perhatikan adalah golok jang dihunus oleh Tjui Sing itu.

Dalam pada itu tenaga murni didalam tubuh Tik Hun makin lama bertumbuh makin kuat, mendadak sebelah kakinja mendepak, “bluk”, tepat sekali perut Hiat-to Lotjo kena ditendang. Tenaga tendangan itu ternjata tidak alang kepalang kuatnja, tanpa ampun lagi tubuh paderi tua itu mentjelat dan me-lajang2 keudara.

Keruan Tjui Sing dan Hoa Tiat-kan mendjerit kaget berbareng, mereka tidak tahu apakah jang terdjadi sebenarnja? Jang sudah terang jalah tubuh Hiat-to-tjeng mentjelat dan berdjungkir-balik diudara, habis itu lantas menantjap kedalam saldju dengan kaki diatas. Begitu keras djatuhnja itu hingga badan paderi tua itu ambles semua kedalam saldju, hanja sepasang kakinja jang menongol dipermukaan saldju, dan malahan sudah takbisa bergerak lagi sedikitpun.

Tjui Sing dan Hoa Tiat-kan sampai terkesima menjaksikan itu. Begitu pula Tik Hun djuga tidak pertjaja kepada matanja sendiri, ia lebih2 tidak pertjaja pada saat sudah dekat adjalnja itu mendadak sekali depak bisa membikin Hiat-to Lotjo mentjelat keudara?

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: