Pedang Hati Suci (Jilid ke-11)

Namun iapun tidak mau banjak pikir lagi, segera ia melompat bangun, tapi baru ia berdiri, mendadak kakinja kesakitan, ia mendjerit sekali dan djatuh lagi. Njata ia lupa bahwa sebelah kakinja sudah patah.

Tapi sekarang tenaga dalamnja sudah sangat kuat, gerak perubahannja dengan sendirinja sangat tjepat, begitu djatuh, segera tangan kanan dipakai menahan, lalu melontjat bangun lagi dan berdiri dengan sebelah kaki.

Waktu ia pandang Hiat-to Lotjo, paderi tua itu tampak masih menantjap didalam saldju dengan kaki diatas tanpa bergerak sedikitpun. Girang dan kedjut Tik Hun, ia kutjak2 mata sendiri, ia ragu2 akan dirinja bukan dialam mimpi? Namun sesudah ia tegaskan, memang benar2 Hiat-to Lotjo itu menantjap setjara terdjungkir didalam saldju.

Waktu Tik Hun melompat bangun tadi, karena kuatir dirinja diserang, maka Tjui Sing telah menggeser mundur sambil siapkan golok didepan dada untuk mendjaga segala kemungkinan. Tapi ia melihat Tik Hun bersikap kebingungan sambil meng-garuk2 kepala sendiri jang gundul itu, agaknja kedjadian didepan matanja itu telah membuatnja ter-heran2.

Pada saat itulah tiba2 terdengar Hoat Tiat-kan berseru: “Wah ilmu sakti Siausuhu ini benar2 tiada tandingannja didjagat ini, sekali depak paderi tua itu sudah terbunuh olehnja, tenaga tendangannja itu bukan mustahil ada ribuan kati kerasnja. Tindakan Siausuhu itu benar2 bidjaksana dan tanpa pandang bulu. Manusia djahat dan kedjam sebagai Hiat-to-tjeng itu memang setiap orang pantas membunuhnja.”

“Huh,” djengek Tjui Sing saking tidak tahan mendengar otjehan jang tidak kenal malu itu. “Masih kau berani mengatjo-belo segala, apakah kau tidak kuatir orang merasa mual? Pengetjut!”

“Ah, kau tahu apa?” balas Hoa Tiat-kan. “Dalam keadaan bahaja Siausuhu itu berhasil mejakinkan ilmu saktinja, badannja sekarang sudah memiliki tenaga dalam jang maha kuat, bahkan diwaktu paderi tua itu masih hidup djuga kalah kuat daripadanja. Itulah tanda orang baik tentu mempunjai redjeki besar. Selamat bahagialah, Siausuhu!”

Njata, biarpun Hoa Tiat-kan itu seorang rendah djiwanja, tapi pandangannja memang sangat tadjam. Sekali melihat air muka Tik Hun bertjahaja dan penuh semangat, dibandingkan keadaan pemuda itu tadi, perbedaannja boleh dikata seperti langit dan bumi. Maka ia dapat menduga pasti pada saat menentukan tadi mendadak pemuda itu telah berhasil mejakinkan sematjam Lwekang jang maha lihay, dari tenaga tendangannja kepada Hiat-to Lotjo jang luar biasa kerasnja itu, ia menaksir sekalipun dirinja dalam keadaan bebas dan sehat djuga tiada separoh dari kekuatan tendangan itu.

Dan Tik Hun sendiri ternjata masih bingung, ia tanja dengan ter-gagap2: “Kau …… kau bilang aku ……. aku telah menendang mati dia?”

“Ja, ja, itulah tidak usah disangsikan lagi,” sahut Hoa Tiat-kan. “Djikalau Siausuhu tidak pertjaja, boleh tjoba kau tabas dulu kedua kakinja, lalu menariknja keluar dari saldju untuk diperiksa. Dan nanti tentu Siausuhu akan pertjaja pada omonganku.”

Dasar dia memang litjin, maka setiap tipu jang dia rentjanakan selalu sangat kedji. Ia suruh Tik Hun tabas dulu kedua kaki Hiat-to Lotjo, tudjuannja kalau2 dugaannja meleset dan paderi tua itu masih hidup, namun toh takbisa berkutik lagi karena kakinja sudah terkutung.

Namun Tik Hu tidak mau turut sarannja itu, ia pandang Tjui Sing hingga gadis itu mundur ketakutan sebab mengira pemuda itu hendak merebut goloknja.

Tik Hun menggojang kepala dan katanja: “Djangan takut, aku takkan bikin susah padamu. Tadi engkau tidak membunuh aku bersama Hwesio tua itu, terimalah kasihku ini.”

Tjui Sing hanja mendengus sekali dan tidak mendjawab.

“Tjui-titli, salah kau kalau begitu,” timbrung Hoa Tiat-kan tiba2. “Siausuhu dengan djudjur mengutjapkan terima kasih padamu, seharusnja kaupun balas terima kasih padanja. Tadi sewaktu paderi tua jang djahat itu membatjok kepunggungmu, bila Siausuhu ini tidak ‘lin-hiang-sik-giok’ dan menolong padamu, saat ini djiwamu tentu melajang.”

Mendengar utjapan “Lin-hiang-sik-giok” (kasih wangi dan sajang pada giok, kiasan kesukaan orang kepada kaum wanita) itu, Tik Hun dan Tjui Sing mendelik bersama kepada manusia rendah itu.

Padahal biarpun Tjui Sing terhitung satu gadis djelita, tapi maksud Tik Hun menolongnja tadi hanja timbul setjara spontan karena tidak ingin melihat orang baik2 dibunuh sipaderi djahat. Tapi dengan utjapan Hoa Tiat-kan itu mendjadi se-akan2 maksud tudjuannja menolong itu tidak sehat.

Sebaliknja Tjui Sing memang sangsi dan sirik kepada Tik Hun, maka utjapan Hoa Tiat-kan itu djadi menambah rasa bentjinja kepada pemuda itu. Ia merasa kedua orang itu sama2 djahat dan rendah. Sekilas dilihatnja djenazah sang ajah, terus sadja ia berlari mendekati dan mendekap diatas majat itu sembari menangis ter-gerung2.

“Siausuhu, siapakah gelaranmu jang mulia?” demikian Hoa Tiat-kan menanja dengan tjengar-tjengir.

Tik Hun mendjadi mual dibuatnja. Sahutnja ketus: “Aku bukan Hwesio, maka djangan panggil2 Suhu padaku. Aku memakai djubah paderi adalah terpaksa karena harus menjamar untuk menjelamatkan diri.”

“Aha, bagus djika begitu,” seru Hoa Tiat-kan. “Kiranja Siausuhu, eh salah, tolol benar aku ini! Eh, numpang tanja siapakah nama jang mulia dari Tayhiap?”

Meski sedang menangis, tapi tanja-djawab kedua orang itu samar2 djuga didengar oleh Tjui Sing. Demi mendengar Tik Hun menjatakan dirinja bukan Hwesio ia mendjadi heran dan sangsi.

Maka terdengar Tik Hun telah mendjawab: “Aku she Tik, aku hanja seorang ‘Bu-beng-siauw-tjut’ (pradjurit tak bernama alias kerotjo), seorang tjatjat jang beruntung lolos dari tjengkeraman elmaut, masakah kau sebut Tayhiap segala?”

“Bagus, bagus!” demikian Hoa Tiat-kan masih mengumpak setinggi langit. “Begitu tangkasnja Tik-tayhiap, dengan Tjui-titli jang djelita itu benar2 merupakan suatu pasangan jang tjotjok. Pak tjomblang djuga tidak perlu ditjari lagi, aku inilah sudah siap sedia. Hahaha, bagus, bagus, kiranja Tik-tayhiap memangnja bukan Tjut-keh-lang (kaum paderi), maka tjukup menunggu tumbuhnja rambut lalu salin pakaian, dengan demikian djadilah engkau seorang biasa, hakikatnja tidak perlu pakai upatjara kembali kemasjarakat ramai apa segala.”

Rupanja Hoa Tiat-kan jakin benar2 Tik Hun pasti paderi dari Hiat-to-bun, tapi karena kesemsem pada ketjantikan Tjui Sing, maka sengadja tidak mau mengaku asal-usulnja.

Lapat2 Tjui Sing djuga mempunjai pikiran seperti itu, maka ia bertambah kuatir demi mendengar perkataan Hoa Tiat-kan itu. Ia berbangkit dan siapkan goloknja, pabila gerak-gerik Tik Hun mengundjuk kekurangadjaran, segera ia akan melabraknja dengan mati2an. Namun Tik Hun hanja geleng2 kepala dan menjahut dengan kurang senang: “Rupanja mulutmu perlu dikosek supaja lebih bersih. Mengapa selalu bitjara tentang hal2 kotor itu? Djikalau kita dapat keluar djurang ini dengan selamat, selamanja aku tidak sudi melihat tjetjongormu lagi dan selamanja takkan melihat muka nona Tjui pula.”

Hoa Tiat-kan melengak karena tidak djelas kemana perkataan Tik Hun itu hendak menudju. Tapi sesudah memikir sedjenak, segera ia sadar, katanja: “Aha, tahulah aku, tahulah aku!”

“Kau tahu apa?” damperat Tik Hun dengan melotot.

Maka berbisiklah Tiat-kan dengan lagak seorang detektip: “Ja, ja, tahulah aku. Tentu didalam kuil Tik-tayhiap masih ada sitjantik jang mendjadi pilihanmu dan nona Tjui ini tidak dapat kau bawa pulang untuk mendjadi suami-isteri abadi. Djika demikian, haha, boleh djuga djadilah suami-isteri sambilan barang beberapa hari, apa halangannja sih?”

Biarpun bisik2, namun Tjui Sing dapat mendengarnja djuga. Keruan gusarnja tidak kepalang, terus sadja ia memburu madju, ‘plak-plok, plak-plok’, kontan ia persen kedua pipi manusia rendah itu dengan empat kali gamparan.

Dengan atjuh-tak-atjuh Tik Hun mengikuti kedjadian itu se-akan2 segala itu sama sekali tiada sangkut-paut dengan dirinja…..

Begitulah sedjam demi sedjam telah lalu dan Hiat-to Lotjo tetap terdjungkir menantjap didalam saldju tanpa bergerak. Meski batin ketiga orang jang berada ditengah djurang itu masing2 mempunjai pikirannja sendiri2, tapi rasa sangsi terhadap Hiat-to-tjeng itu lambat-laun sudah banjak berkurang. Namun begitu, beberapa kali Tjui Sing bermaksud menabas kedua kaki paderi djahat itu toh tetap tak berani melakukannja.

Sesudah mengalami peristiwa hebat itu, Tjui Sing mendjadi lapar sekali. Ia melihat restan daging kuda panggang tadi masih terserak disitu. Kini ajahnja sudah tewas, djiwa dan kesutjian sendiri djuga masih terantjam, dengan sendirinja tak terpikir lagi olehnja apakah daging kuda itu berasal dari kuda kesajangannja atau bukan? Segera ia mengeluarkan ketikan api, ia menjalakan kaju kering jang berada disitu dan mulai memanggang daging kuda lagi.

Hoa Tiat-kan sendiri belum bisa berkutik, maka tanpa bosan2 ia masih terus mengumpak dan mendjilat. Tapi Tik Hun tidak ambil pusing lagi padanja, ia rebah ditanah saldju itu untuk memulihkan semangat. Sedang Tjui Sing ter-mangu2 memandang api unggun jang me-njala2 itu dengan air mata bertjutjuran. Air matanja menetes kesaldju hingga saldju mentjair, tapi pelahan2 air saldju itu lantas membeku lagi.

Setelah urat nadi Im-meh dan Tok-meh ditubuh Tik Hun mulai terhubung, semangatnja terasa menjala2, satu arus hangat terasa mengalir mulai dari dada sampai kepunggung dan dari punggung kembali kedada setjara ber-ulang2 dan terus mengalir tanpa berhenti.

Setiap kali hawa hangat itu memutar satu kali, setiap bagian tubuh lantas merasa penuh tenaga, meski kaki jang patah dan tempat2 bekas kena digebuk Tjui Sing masih kesakitan, tapi dengan timbulnja tenaga dalam itu, rasa sakit itu mendjadi mudah ditahan.

Kuatir keadaan jang aneh dan adjaib sekali itu mungkin akan segera hilang, maka Tik Hun tidak berani bergerak, ia merebah dan membiarkan hawa dalam itu mengalir kian kemari diantara urat2 nadi Im-meh dan Tok-meh itu.

Begitulah mereka bertiga tiada seorangpun jang membuka suara. Sesudah lebih dua djam, Tjui Sing jang per-tama2 berbangkit, ia djemput golok merah dari dalam saldju dan tjoba mendekati Hiat-to-tjeng jang selama itu masih tetap terdjungkir menantjap didalam saldju tanpa bergerak sedikitpun. Dengan beranikan hati, segera ia membatjok kaki kiri paderi itu, “tjrat”, kontan sebelah kaki paderi itu tertabas kutung.

Tapi aneh bin heran, kaki kutung itu ternjata tidak berdarah. Waktu ditegaskan, kiranja darah didalam tubuh Hiat-to Lotjo itu sudah membeku, ternjata paderi durdjana itu sudah sedjak tadi tak bernjawa lagi.

Tjui Sing bergirang dan bersedih pula. Segera ia angkat goloknja dan membatjok serabutan ketubuh paderi djahat itu. Pikirnja: “Paderi durdjana tua ini sudah mampus, tinggal paderi djahat jang muda itu entah tjara bagaimana akan menjiksa aku? Ajah sudah meninggal, sungguh akupun tidak ingin hidup lagi. Asal sedikit aku akan diperlakukan dengan djahat, segera aku akan membunuh diri dengan golok ini.”

Bahwasanja manusia itu betapapun tetap ingin hidup daripada mati, maka begitu pula halnja dengan Tjui Sing. Padahal djika dia benar2 hendak membunuh diri, saat itu adalah kesempatan jang paling bagus. Tapi sebelum tiba saat jang paling achir, dengan sendirinja ia tidak mau mati begitu sadja.

Disebelah sana meski badan Hoa Tiat-kan tak dapat bergeruk, tapi segala apa dapat dilihatnja dengan djelas. Namun iapun tidak djelas tjara bagaimana Tik Hun telah membinasakan Hiat-to-tjeng itu, ia sangka mungkin tenaga murni paderi Tibet itu sudah terkuras habis, keadaannja sudah pajah, maka sekenanja Tik Hun menghantam dan telah membinasakan dia.

Diam2 iapun bergirang, pikirnja: “Hwesio djahat ketjil ini meski bengis, tapi sangat gampang untuk dihadapi. Sebentar djuga aku sudah dapat bergerak, sekali tondjok sadja tentu akan kutamatkan riwajatnja.”

Dan sesudah hampir satu djam pula, Tik Hun merasa hawa hangat jang mengalir didalam tubuhnja itu masih terus berputar tanpa hilang. Ia tjoba mendjalankan ilmu mengatur tenaga dalam dari Lwekang “Sin-tjiau-keng” adjaran Ting Tian dahulu, maka timbullah sesuatu jang diluar dugaan. Hawa dalam jang tadinja susah dikuasai itu kini ternjata dapat dikendalikan sesuka hatinja, kemana ia ingin mengalirkan hawa murni itu, segera dapat dilaksanakannja dengan baik.

Keruan TIk Hun sangat girang segera ia djemput sebatang kaju untuk dipakai tongkat penjanggah ketiak dan mendekai Hiat-to-tjeng setjara ber-ingsut2. Ia melihat majat paderi itu masih terdjungkir ambles didalam saldju, kedua kakinja sudah hantjur luluh dibatjok oleh Tjui Sing tadi, terang sekali paderi itu memang sudah mati. Ia pikir kedjahatan paderi itu sudah melampaui takaran dan pantas mendapatkan gandjaran setimpal itu. Tapi sesungguhnja djuga paderi djahat itu pernah menolongnja pula.

Sebagai seorang jang djudjur dan kenal budi, Tik Hun lantas seret majat Hiat-to-tjeng dan ditaruh baik2 ditanah saldju, ia menguruknja dengan gundukan saldju sekadar sebagai tanda kuburan paderi djahat itu.

Melihat perbuatan Tik Hun itu, timbul djuga rasa ingin meniru Tjui Sing. Iapun mengubur djenazah sang ajah dengan tjara seperti Tik Hun itu. Sebenarnja ia bermaksud mengubur djuga djenazahnja Lau Seng-hong dan Liok Thian-dju. Tapi jang seorang itu mati diatas puntjak karang sana dan jang lain terpendam didasar saldju, terpaksa ia batalkan niatannja itu.

Tik Hun merasa lapar, ia ambil dua potong daging kuda panggang dan dimakan.

“Siausuhu, aku sangat kelaparan, tolong kau suapi aku sepotong daging kuda itu,” pinta Hoa Tiat-kan tiba2.

Tapi Tik Hun hanja mendjengek sekali, ia bentji pada martabat orang she Hoa jang rendah itu, maka tak menggubrisnja.

Namun Hoa Tiat-kan masih terus memohon tanpa berhenti. Karena tidak tega, selagi Tik Hun hendak djedjalkan sepotong daging kuda kemulutnja agar manusia pengetjut itu tidak tjerewet terus, tiba2 Tjui Sing mentjegahnja: “Daging ini berasal dari kudaku, djangan berikan pada manusia tak kenal malu itu.”

Tik Hun mengangguk tanda setudju, sebagai gantinja ia melotot sekali pada Hoat Tiat-kan.

Tapi Hoa Tiat-kan tidak putus asa, ia memohon pula: “Siausuhu………………..”

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku bukan Hwesio, kenapa kau masih memanggil setjara ngawur?” bentak Tik Hun dengan mendongkol.

“Eh, ja, memang tolol benar aku ini,” tjepat Hoa Tiat-kan merendah diri. “Wah, tadi sekali hantam Tik-tayhiap telah binasakan Hiat-to-ok-tjeng itu, kelak namamu pasti akan tersohor diseluruh djagat. Pabila aku sudah keluar dari lembah ini, pekerdjaanku jang pertama jalah menjiarkan keperkasaan Tik-tayhiap ini, bahwa Tik-tayhiap telah berusaha menolong nona Tjui tanpa menghiraukan keselamatan sendiri dan achirnja dapat mampuskan Hiat-to-ok-tjeng, sungguh kedjadian ini merupakan berita paling penting didunia persilatan.”

“Aku adalah seorang bekas perantaian jang tak terhormat, siapa jang mau pertjaja pada obrolanmu? Lebih baik tutup mulutmu sadja,” djengek Tik Hun.

“Djangan kuatir, Tik-tayhiap,” masih Hoa Tiat-kan mengotjeh. “Berdasarkan sedikit namaku dikalangan Kangouw, apa jang kukatakan pasti akan dipertjaja oleh siapapun djuga. Eh, Tik-tay-hiap, kasihlah sepotong dagingmu itu.”

Tik Hun mendjadi sebal diretjoki terus, bentaknja: “Sudah kukatakan tidak kasih, ja tetap tidak kasih. Kelak boleh kau siarkan pada orang Kangouw tentang nama djelekku, emangnja aku ini orang apa? Masakah ada harganja dibuat tjerita?” ~ Sampai disini, ia mendjadi terkenang pada kisah derita jang telah dialaminja dengan matjam2 hinaan dan siksaan setjara penasaran itu. Saking gusar dan dongkolnja hampir2 ia tak tahan lagi.

Padahal sebenarnja Hoa Tiat-kan tidak sungguh2 ingin makan daging kuda, biarpun lapar djuga, tapi kelaparan sehari dua hari baginja sudah tentu bukan soal. Ia kuatir Tik Hun itu “mewariskan” sifat djahat Hiat-to Lotjo dan mendadak mengamuk serta membunuhnja, dari itu ia pura2 minta daging kuda sebagai siasat, ia pikir Tik Hun tidak sudi memberi daging jang diminta, tentu dalam hati akan timbul rasa gegetun, dan pikiran membunuh itu dengan sendirinja pula akan mendjadi tawar dan achirnja lenjap.

Melihat tjuatja mulai gelap, angin meniup dengan keras, segera Tik Hun berkata pada Tjui Sing: “Nona, boleh kau mengaso didalam gua itu!”

Tjui Sing mendjadi kuatir, ia sangka pemuda itu bermaksud djahat lagi, maka bukannja menurut, sebaliknja ia mundur ketakutan, ia siapkan golok didepan dada dan membentak: “Kau paderi djahat ini, asal kau berani mendekati aku selangkah, segera nonamu ini akan membunuh diri.”

Tik Hun melengak, tjepat sahutnja: “Hei, djangan nona salah paham, sekali2 aku tiada punja maksud djahat!”

“Huh, kau Hwesio tjilik ini bermuka manusia, tapi hatinja binatang,” damperat Tjui Sing mendadak. “Tertawamu itu berbisa, djauh lebih djahat dan litjik daripada Hwesio tua djahanam itu. Huh, djangan harap aku dapat kau tipu.”

“Tik Hun tidak ingin banjak berdebat lagi, pikirnja: “Besok pagi begitu terang tanah segera aku akan mentjari djalan keluar untuk meninggalkan lembah ini. Apakah dia Tjui-kohnio dan Hoa-tayhiap apa segala, selama hidupku ini aku takkan melihat tjetjongor mereka lagi.” ~ Maka tanpa bitjara ia lantas menjingkir djauh2 kesana, ia merebah dan bersandar disuatu batu padas dan tidur.

Sebaliknja Tjui Sing telah pandang Tik Hun sebagai seorang paderi tjabul tulen, semakin djauh ia menjingkir, semakin kedji dan tjulas pula muslihatnja, bukan mustahil nanti tengah malam mendadak dirinja akan disergap olehnja.

Karena itu, Tjui Sing tidak berani masuk kedalam gua itu, ia kuatir kalau tengah malam digerajangi Tik Hun, kan bisa tjelaka? Maka dengan hati tidak aman iapun duduk bersandar sebuah batu, matanja makin lama makin sepat, kantuk sekali rasanja, tapi selalu ia memperingatkan dirinja sendiri: “Awas, djangan tidur! Djangan tidur! Djika tidur, kau akan digerajangi paderi djahat itu!”

Tapi setelah mengalami kedjadian2 selama beberapa hari ini, sesungguhnja ia sudah sangat lelah, lahir maupun batin. Walaupun ia bertahan sedapat mungkin agar tidak terpulas, tapi lama kelamaan, tanpa merasa iapun tertidur achirnja.

Dan tidurnja itu njenjak benar2 hingga esok paginja. Ia merasa sinar sang surja gilang gemilang, ia terdjaga bangun. Tjepat ia melompat bangun sambil sambar golok merah jang semula terletak disampingnja. Tapi tangannja memegang tempat kosong, keruan ia tambah gugup. Waktu ditegaskan, kiranja Hiat-to itu masih baik2 berada disitu, tjuma sedikit djauh dari tempatnja tadi. Rupanja dalam tidurnja tanpa merasa ia membalik tubuh dan menggeser tempat. Ia djemput kembali sendjata tadjam itu, waktu ia pandang kedepan, ia melihat Tik Hun sedang djalan berintjang-intjut keluar lembah sana dengan kakinja jang pintjang. Ia mendjadi girang, ia pikir “Hwesio” djahat itu tentu bermaksud pergi dari lembah bersaldju itu.

Memang benar djuga Tik Hun ingin mentjari djalan keluar dari lembah itu. Tapi sudah beberapa kali ia mentjari djalan kedjurusan timur dan udjung timur laut sana, namun semuanja djalan buntu. Arah barat, utara dan selatan djuga dilingkungi tebing karang jang tjuram, terang djuga djalan buntu. Ia lihat djurusan tenggara mungkin ada harapan, tapi disitu saldju bertimbun ber-puluh2 meter tingginja, sebelum hawa panas dan saldju tjair, terang tak mungkin bisa keluar, apalagi sekarang ia adalah seorang pintjang, kakinja patah.

Setelah mentjari djalan kian kemari selama setengah hari, achirnja ia putar balik dengan hasil nihil dan badan letih. Dengan ter-mangu2 ia memandangi puntjak gunung diatas sana, air mukanja muram durdja.

“Bagaimana, Tik-tayhiap?” tanja Hoa Tiat-kan tiba2.

Tik Hun menggeleng kepala, sahutnja: “Pertjuma, djalan buntu semua!”

Diam2 Hoa Tiat-kan memikir: “Kakimu patah, dengan sendirinja susah untuk keluar dari lembah kurung ini. Tapi aku Hoa Tiat-kan masakah sudi dikeram terus disini? Sampai sore hari nanti, asal djalan darahku sudah lantjar, segera aku akan angkat langkah seribu.” ~ Hati berpikir begitu, tapi lahirnja ia pura2 tidak terdjadi apa2, katanja malah: “Kalian djangan kuatir, nanti bila djalan darahku sudah lantjar, pasti aku akan dapat menjelamatkan kalian dari sini.”

Melihat selama itu Tik Hun tidak mengganggu padanja, mau-tak-mau rasa takut dan kuatir Tjui Sing mendjadi berkurang. Tapi sedikitpun ia tidak lengah, ia masih tetap was-was. Selalu ia mendjauhi pemuda itu dan sepatah-katapun tidak mau bitjara padanja.

Memangnja Tik Hun djuga tidak sudi minta gadis itu memahami apa jang sebenarnja, jang dia harap adalah selekas mungkin dapat meninggalkan lembah maut itu. Tapi sekitar lembah terkurung saldju tebal dan tinggi, ia mendjadi sedih tjara bagaimanakah untuk dapat keluar dari situ?

Setelah lewat lohor kira2 djam dua sore, mendadak Hoa Tiat-kan bergelak tertawa, katanja: “Tjui-titli, daging kudamu itu Hoa-pepek akan pindjam beberapa kati, sesudah makan dan keluar dari lembah ini, tentu akan kubajar kembali.”

Dan belum lagi Tjui Sing mendjawab, se-konjong2 Hoa Tiat-kan sudah melompat bangun dan mendekati tempat daging kuda panggang itu. Terus sadja ia sambar sepotong daging dan dimakan dengan lahapnja. Njata djangka waktu tertutuk djalan darahnja itu sudah berachir dan telah terbuka dengan sendirinja.

Tjui Sing tahu pertjuma djuga hendak merintangi, terpaksa ia tidak gubris padanja.

Sebaliknja demi Hiat-to sudah lantjar kembali, sikap Hoa Tiat-kan mendjadi berubah aneh. Ia pikir Hiat-to-tjeng sudah mati, sekarang, biarpun Tik Hun dan Tjui Sing bersatu mengerojoknja djuga pasti bukan tandingan dirinja. Dan tjara bagaimana dirinja akan perlakukan kedua muda-mudi itu boleh dikatakan tiada mungkin mereka bisa melawan. Tapi tiada gunanja djuga tinggal dilembah bersaldju itu terlalu lama, paling penting sekarang harus mentjari djalan keluar dahulu.

Ia gunakan Ginkang untuk memeriksa sekitar lembah itu, ia melihat saldju longsor jang luar biasa ini telah menutup rapat lembah gunung itu. Djalan keluar satu-satunja dari lembah itupun tertimbun saldju berpuluh meter tingginja.

Ada djuga akalnja, jaitu dengan tjara menggangsir, menerobos dinding saldju itu. Tapi ja kalau tebal saldju itu tjuma beberapa atau belasan meter sadja, sebaliknja kalau be-ratus2 meter, apakah dia mampu menggangsir sedjauh itu? Apalagi sesudah berada dibawah saldju, arah djurusannja mendjadi susah dibedakan, bukan mustahil sebelum berhasil menembus tanah saldju itu lebih dulu orangnja sudah mati kaku didalam situ.

Sedangkan waktu itu baru permulaan bulan sebelas, kalau mesti menunggu sampai musim panas tahun depan, sedikitnja harus menunggu lima bulan lagi. Padahal seluruh lembah pegunungan itu hanja saldju belaka, selama lima bulan itu harus makan apa untuk bisa terus hidup?

Begitulah Hoa Tiat-kan memutar kembali sampai diluar gua batu itu, air mukanja tampak muram dan berkerut. Sesudah duduk termenung sedjenak, ia sambar sepotong daging kuda panggang dan dimakan, selesai makan daging kuda itu, barulah ia berkata dengan pelahan: “Untuk bisa keluar harus tunggu sampai hari Toan-ngo-tje (perajaan Pek-tjun) tahun depan.”

Waktu itu Tik Hun berada disebelah kiri dan Tjui Sing berada disisi kanan, djarak mereka dengan Hoa Tiat-kan kira2 belasan meter djauhnja. Meski apa jang digerundel Hoa Tiat-kan itu sangat pelahan, tapi bagi pendengaran kedua muda-mudi itu se-olah2 bunji geledek kerasnja. Tanpa merasa kedua orang sama2 memandang kearah bangkai kuda jang terletak disamping api unggun itu, hati mereka sama2 memikir: “Apakah dapat bertahan sampai Toan-ngo-tje tahun depan?”

Meski kuda tunggangan Tjui Sing itu gemuk lagi besar, tapi dimakan tiga orang, tidak sampai sebulan, achirnja habis djuga daging kuda itu.

Lewat 7-8 hari pula, bahkan kepala kuda, kaki dan djerohan kuda djuga termakan ludes.

Selama itu, Hoa Tiat-kan, Tik Hun dan Tjui Sing sama2 tidak mengadjak bitjara, terkadang sinar mata masing2 suka kebentrok, tapi segera saling melengos.

Sesudah sekian lamanja, rasa sirik dan tjuriga Tjui Sing kepada Tik Hun sudah banjak berkurang. Achirnja ia berani tidur didalam gua.

Akan tetapi dengan habisnja daging kuda, timbul pula sematjam rasa waswas kepada pemuda itu. Bukan kuatir pemuda itu akan berbuat hal2 jang tidak senonoh atas dirinja, tapi takut kalau2 dirinja akan………. dimakan oleh “Hwesio” djahat itu.

Sampai bilan ke-12, hawa dilembah kurung itu semakin dingin, angin men-deru2 sepandjang malam. Biarpun Tik Hun sudah berhasil mejakinkan “Sin-tjiau-kang”, tenaga dalamnja bertambah penuh, tapi badjunja tipis dan tjompang-tjamping, ditengah tanah bersaldju sedingin itu, mau-tak-mau ia tersiksa djuga.

Melihat orang kedinginan, tapi toh tidak pernah melangkah masuk kedalam gua untuk menolak hawa dingin, mau-tak-mau Tjui Sing merasa lega djuga. Ia merasa paderi djahat itu memang “djahat”, tapi tjukup sopan.

Selama lebih sebulan itu, luka diatas tubuh Tik Hun sudah sembuh seluruhnja, kaki jang patah djuga sudah tersambung kembali dan telah bisa berdjalan seperti biasa. Tenaga dalamnja makin hari djuga makin tambah kuat. Sebaliknja hawa djuga makin dingin, tapi toh tidak begitu dirasakan olehnja.

Habisnja daging kuda sungguh merupakan suatu persoalan jang maha pelik. Sebenarnja beberapa hari terachir itu sedapat mungkin Tik Hun telah mengurangi makannja, boleh dikata asal sekadar mengisi perut sadja. Tapi apa jang dia hemat segera disapu habis oleh Hoa Tiat-kan jang tidak kenal sungkan2 itu.

Menjaksikan itu, diam2 Tjui Sing membatin: “Hm, seorang pendekar besar jang tersohor di Tionggoan, disaat menghadapi kesulitan ternjata kalah daripada seorang paderi tjabul tjilik dari Hiat-to-bun!”

Begitulah Tjui Sing masih tetap pandang Tik Hun sebagai “paderi tjabul”. Padahal saat itu rambut Tik Hun sudah tumbuh kembali, dengan sendirinja bukan kepala gundul lagi. Sedangkan dikatakan tjabul djuga tidak betul, selama itu toh tiada sesuatu perbuatannja jang membuktikan dia “tjabul”?

Tengah malam itu, tiba2 Tjui Sing terdjaga dari tidurnja, ia mendengar Tik Hun sedang membentak: “Djenazah Tjui-tayhiap itu tidak boleh kau kutik2!”

Lalu terdengar Hoa Tiat-kan mendjawab dengan dingin: “Hm, lewat beberapa hari lagi, djangankan orang mati, bahkan orang hidup djuga akan kumakan. Sekarang aku makan orang mati dulu, supaja kau bisa hidup lebih lama beberapa hari lagi!”

“Kita lebih baik makan rumput atau akar pohon, tapi sekali2 tidak boleh makan daging manusia!” sahut Tik Hun.

“Enjah kau!” bentak Hoa Tiat-kan mendadak.

Tanpa pikir lagi segera Tjui Sing berlari keluar gua, ia melihat disamping kuburan sang ajah jang berada disana itu berdiri dua orang jang sedang bertjektjok, jaitu Tik Hun dan Hoa Tiat-kan.

Segera Tjui Sing ber-teriak2 sambil memburu kesana: “Djangan mengutik-ngutik ajahku!”

Dan sesudah dekat, Tjui Sing melihat saldju jang tadinja menguruk diatas djenazah sang ajah itu telah dibongkar, bahkan tangan kiri Hoa Tiat-kan sudah memegangi djenazah sang ajah.

Selagi Tjui Sing hendak berteriak pula, tiba2 Tik Hun sudah membentak pada Hoa Tiat-kan: “Taruh kembali!”

“Baiklah, taruh kembali ja taruh kembali!” sahut Hoa Tiat-kan. Habis berkata, benar djuga ia lantas letakan majatnja Tjui Tay.

Melihat itu, Tjui Sing rada lega, bentaknja: “Hoa Tiat-kan, kau sesungguhnja bukanlah manusia!”

Tapi belum habis ia memaki, se-konjong2 sinar tadjam berkelebat, tahu2 Hoa Tiat-kan melolos keluar sebatang tumbak pendek dari badjunja, sekali bergerak, setjepat kilat ia tusuk kedada Tik Hun.

Serangan itu teramat tjepat, biarpun Lwekang Tik Hun sekarang sudah sangat tinggi, tapi ilmu silatnja hanja biasa sadja, tidak lebih tjuma sedikit ilmu pukulan dan permainan pedang jang pernah diperolehnja dari Djik Tiang-hoat, dengan sendiri ia tidak mampu melawan serangan kilat diluar dugaan dari Hoa Tiat-kan jang tergolong tokoh kelas satu itu.

Ketika Tik Hun insaf apa jang terdjadi, sementara itu udjung tumbak musuh sudah sampai didadanja. Keruan Tjui Sing ikut kaget dan mendjerit dengan kuatir.

Dengan berhasilnja serangan kilat setjara mendadak itu, Hoa Tiat-kan jakin tumbaknja pasti akan menembus dada lawan dan seketika lawan itu akan terbinasa. Siapa duga, begitu udjung tumbaknja mentjapai dada Tik Hun, tiba2 seperti terhalang oleh sesuatu dan takbisa masuk.

Karena tusukan dan dorongan tumbak itu, Tik Hun terperosot djatuh dan duduk, tapi tangan kirinja sempat diangkat dan menghantam ke-kuat2nja kebatang tumbak lawan. “Krak”, tahu2 garan tumbak terhantam patah mendjadi dua, bahkan tenaga pukulan itu sedemikian kerasnja hingga Hoa Tiat-kan ikut terpental dan djatuh terdjengkang.

Keruan kedjut Hoa Tiat-kan tak terkatakan, sungguh tak terduga olehnja bahwa ilmu silat Hwesio tjilik itu ternjata sedemikian aneh dan sakti, bahkan tidak dibawah Hwesio tua jang sudah mati itu. Tjepat ia menggelundung pergi hingga beberapa kali, lalu melompat bangun dan lari djauh2 kesana.

Ia tidak tahu bahwa tusukan tumbak itu tidak menembus badan Tik Hun, tapi saking kerasnja sodokan itu hingga dada Tik Hun terasa sesak dan napas se-akan2 berhenti. Kontan iapun djatuh pingsan………

*********

Sang dewi malam sudah menghias ditengah tjakrawala jang luas, dua ekor elang besar tampak ber-putar2 diangkasa karena melihat sesosok tubuh menggeletak ditanah saldju, jaitu Tik Hun.

Melihat Tik Hun menggeletak dan tak berkutik lagi, Tjui Sing menjangka pemuda itu sudah ditusuk mampus oleh tumbak Hoa Tiat-kan itu, ia mendjadi girang “Siau-ok-tjeng” (paderi djahat ketjil) jang ditakuti itu achirnja telah mati, selandjutnja ia tidak perlu takut diganggu orang lagi. Tapi segera terpikir pula olehnja: “Hoa Tiat-kan bermaksud makan daging djenazah ajahku, sjukur Siau-ok-tjeng itu jang telah merintangi sepenuh tenaga, tapi ia berbalik terbunuh oleh Hoa Tiat-kan. Padahal dia toh tidak perlu merintangi perbuatan Hoa Tiat-kan itu. Apa barangkali dia sengadja hendak menipu supaja aku pertjaja padanja, tapi kemudian aku akan di….. hm, tidak nanti aku dapat tertipu. Akan tetapi sesudah dia mati, pabila djahanam Hoa Tiat-kan itu hendak mengganggu djenazah ajah lagi, lantas bagaimana? Ai, sebaiknja Siau-ok-tjeng itu djangan mati dulu.”

Begitulah pertentangan pikiran Tjui Sing pada saat itu, sebentar ia bersjukur Siau-ok-tjeng atau sipaderi djahat ketjil jang ditakuti itu telah mati, tapi lain saat ia berharap Tik Hun djangan mati agar dirinja mempunjai sandaran untuk melawan Hoa Tiat-kan.

Sambil memegangi golok merah, achirnja ia mendekati Tik Hun, ia melihat pemuda itu menggeletak terlentang dan tidak bergerak sedikitpun, daging mukanja tampak ber-kerut2 pelahan, njata orangnja belum mati.

Tjui Sing mendjadi girang, tjepat ia berdjongkok untuk memeriksa napas Tik Hun. Tapi waktu tangannja mendjulur sampai didepan hidung Tik Hun, ia merasa dua rangkum hawa panas dari lubang hidung itu menjembur ketangannja. Ia terkedjut dan tjepat menarik tangan.

Semula ia menjangka napas Tik Hun tentu kempas-kempis andaikan orangnja belum mati, siapa duga napas jang keluar-masuk dihidung “Siau-ok-tjeng” itu ternjata begitu keras lagi panas.

Sebab apakah Tik Hun tidak mempan ditusuk tumbak? Kiranja Tik Hun mengenakan “Oh-djan-kah” pemberian Ting Tian dahulu, maka tumbak Hoa Tiat-kan itu tidak dapat menembus tubuhnja. Namun sebagai salah satu tokoh “Lam-su-lo” jang tersohor, ilmu silatnja dan tenaga dalamnja Hoa Tiat-kan dengan sendirinja luar biasa, meski tusukannja tidak mempan atas Tik Hun, tapi tusukan itu tepat menjodok didada pemuda itu hingga seketika Tik Hun lantas kelengar saking tak tahan. Untung sekarang ia sudah berhasil mejakinkan “Sin-tjiau-kang” hingga djiwanja tidak sampai melajang oleh tusukan tumbak itu.

Begitulah Tjui Sing baru tahu bahwa pemuda itu tjuma pingsan sadja, ia merasa rikuh bila sebentar pemuda itu siuman kembali dan melihat dia berdiri disitu. Dan selagi ia hendak mendjauhi Tik Hun, baru ia menoleh, ia melihat Hoa Tiat-kan djuga berdiri tidak djauh dari situ dan sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.

Hendaklah diketahui bahwa Hoa Tiat-kan djuga tidak kurang kagetnja ketika tumbaknja tidak mempan mengenai sasarannja, bahkan ia sendiri sampai terpental. Tapi demi dilihatnja Tik Hun menggeletak tak bangun lagi, dengan sendirinja tjepat2 ia ingin mengetahui pemuda itu sudah mati atau masih hidup.

Selang sebentar, ketika dilihatnja Tik Hun tetap tidak bergerak, ia menduga kalau tidak mati tentu pemuda itupun terluka parah. Maka tanpa takut2 lagi segera ia mendekati Tik Hun.

Keruan jang ketakutan adalah Tjui Sing, tjepat ia membentak: “Pergi kau, pergi!”

“Kenapa aku mesti pergi?” sahut Hoa Tiat-kan dengan menjeringai. “Orang hidup tentu lebih lezat daripada orang mati. Kita sembelih dia dan memakannja bersama, bukankah sama2 baiknja?” ~Sembari berkata, ia terus melangkah madju.

Tjui Sing mendjadi sibuk, sekuatnja ia meng-guntjang2 Tik Hun sambil berteriak: “Bangunlah lekas, dia telah datang, dia telah datang!”

Dan demi nampak Hoa Tiat-kan sudah angkat sebelah tangannja hendak menghantam ketubuh Tik Hun, tanpa pikir lagi Tjui Sing putar goloknja, dengan djurus “Kim-tjiam-toh-djiat” (djarum emas penolong maut), segera ia menusuk dulu keulu hati Hoa Tiat-kan.

Sendjata Hoa Tiat-kan, jaitu tumbak pendek, sudah dipatahkan oleh hantaman Tik Hun tadi, kini ia hanja bertangan kosong, walaupun kepandaian Tjui Sing tak dipandang sebelah mata olehnja, tapi gadis itu bersendjatakan golok merah jang maha tadjam itu, terpaksa ia tidak berani ajal, segera ia mengeluarkan kepandaian “Khong-djiu-djip-peh-jim” atau merebut sendjata lawan dengan bertangan kosong. Ia pusatkan perhatian untuk menempur Tjui Sing dengan tudjuan merebut dulu sendjata jang lihay itu.

Dalam pingsannja itu, lapat2 Tik Hun mendengar teriakan Tjui Sing tadi jang menjuruhnja bangun, sesaat itu ia masih samar2 belum sadar dan tidak tahu apa maksud gadis itu. Tapi menjusul ia lantas dengar suara bentakan2. Waktu ia membuka mata, dibawah sinar bulan ia melihat Tjui Sing sedang putar goloknja menempur Hoa Tiat-kan dengan sengit.

Meski gadis itu bersendjata, tapi pertama ia tidak biasa memakai golok, kedua, ilmu silatnja selisih terlalu djauh dibanding Hoa Tiat-kan, maka kelihatan gadis itu sudah pajah dan terdesak mundur terus, sampai achirnja, jang diharapkan gadis itu adalah goloknja tidak dirampas musuh, sedangkan untuk balas menjerang sudah tidak mampu lagi.

Dan setiap beberapa djurus, selalu Tjui Sing menoleh dan berteriak pada Tik Hun: “Lekas bangun, dia hendak membunuh kau, lekas bangun!”

Mendengar itu, hati Tik Hun terkesiap, pikirnja: “Wah, hampir sadja aku mati! Djadi tadi dia telah menjelamatkan djiwaku. Bila dia tidak merintangi Hoa Tiat-kan, tentu aku sudah dibunuh oleh Hoa Tiat-kan.”

Dalam pada itu dilihatnja Tjui Sing sedang terdesak dan terantjam bahaja, tanpa pikir lagi Tik Hun lantas melompat bangun, kontan ia menghantam sekali kearah Hoa Tiat-kan.

Ketika Hoa Tiat-kan memapak pukulan itu dengan telapak tangannja, “plak”, dua arus tenaga pukulan saling beradu, “bluk”, tahu2 kedua orang sama2 tergentak djatuh duduk.

Kiranja tenaga dalam Tik Hun sudah sangat kuat, sebaliknja ilmu pukulan Hoa Tiat-kan lebih lihay, maka gebrakan itu mendjadi sama kuatnja.

Ilmu silat Hoa Tiat-kan lebih tinggi, gerak perubahannja mendjadi lebih tjepat. Begitu ia djatuh terpental, tjepat ia melompat bangun lagi dan pukulan kedua segera dilontarkan pula. Tik Hun belum sempat berdiri kembali, terpaksa ia sambut pukulan itu dengan berduduk.

Diluar dugaan, dalam keadaan berduduk itu tenaga Tik Hun ternjata tidak berkurang sedikitpun, maka “blang”, kembali kedua pukulan saling bentur, Tik Hun terpental hingga berdjumpalitan sekali, sebaliknja Hoa Tiat-kan djuga ter-hujung2 dan hampir2 terdjungkal lagi, darah dirongga dadanja djuga bergolak hebat dan hampir2 muntah darah.

Diam2 ia terkedjut: “Tenaga dalam Siau-ok-tjeng ini ternjata sedemikian hebatnja!”

Tapi sesudah dua kali gebrak itu Hoa Tiat-kan tahu ilmu pukulan Tik Hun itu hanja biasa sadja dan tak berarti, maka tanpa takut2 lagi kembali ia menerdjang madju dari samping, pukulan ketiga segera dilontarkan pula.

Terpaksa Tik Hun menjambut pula serangan itu. Tapi sekali ini ia ketjele, ternjata Hoa Tiat-kan sangat litjik, pukulan ketiga ini tidak dihantamkan dengan keras, tapi bergerak naik-turun dan menjambar lewat didepan muka Tik Hun, dengan sendirinja pukulan sambutan Tik Hun memapak angin, menjusul mana tahu2 “plak”, dadanja telah kena digendjot sekali oleh Hoa Tiat-kan.

Untung Tik Hun memakai badju Oh-djan-kah hingga tidak terluka apa2, tapi toh tidak tahan djuga oleh tenaga pukulan jang hebat itu, maka baru sadja ia berdiri, kembali ia djatuh terduduk pula.

Sekali pukulannja mengenai sasaran, Hoa Tiat-kan mendapat hati, pukulan lain segera disusulkan lagi. Sebenarnja Hoa Tiat-kan disegani orang Bu-lim karena ilmu tumbaknja jang lihay, tapi dalam hal ilmu pukulan toh dia djuga sangat hebat, kini ia telah mainkan “Gak-keh-san-djiu”, ilmu pukulan warisan Gak Hui, kedua tangannja menjambar kian kemari, maka terdengarlah “plak-plok” ber-ulang2, Tik Hun kenjang digampar dan dihantam.

Beberapa kali Tik Hun ingin balas menghantam djuga, tapi setiap kali ia balas menjerang, selalu dapat dihindarkan Hoa Tiat-kan dengan mudah. Ja maklum, selisih ilmu silat mereka sesungguhnja terlalu djauh, Tik Hun hanja menang Lwekang sadja sekarang, dalam hal ilmu silat dan taktik pukulan sama sekali ia tak berdaja.

Sampai achirnja, sesudah kenjang dihadjar tanpa mampu membalas apa2, terpaksa Tik Hun tjuma dapat melindungi muka dan kepalanja dengan kedua tangan, sedang bagian badan membiarkan dihandjut musuh, sekali2 ia djuga berdiri, tapi segera “knock-out” lagi kena pukulan Hoa Tiat-kan.

Saat itu Hoa Tiat-kan sudah bertekad harus mampuskan pemuda itu agar tidak menimbulkan bahaja dibelakang hari, maka ia masih terus menghadjar dengan kedjam tanpa kenal ampun. Ber-ulang2 Tik Hun sudah muntah darah tiga kali, gerak-geriknja djuga sudah susah.

Dalam keadaan begitu, Tjui Sing takbisa tinggal diam lagi, semula ia tidak berani sembarangan menjela dalam pertarungan kedua orang itu, kini melihat Tik Hun melulu terima digebuk belaka dan terantjam bahaja, tanpa pikir lagi ia ajun goloknja terus membatjok kepunggung Hoa Tiat-kan.

Tjepat Hoa Tiat-kan mengegos kesamping, berbareng tangannja meraup kebelakang untuk merebut sendjata sigadis. Namun kesempatan itu segera digunakan Tik Hun untuk menghantam sekuatnja, seketika Hoa Tiat-kan terkurung ditengah pukulan pemuda itu.

Karena takbisa berkelit lagi, terpaksa Hoa Tiat-kan memapak pukulan Tik Hun itu dengan pukulan djuga. “Plak”, seketika Hoa Tiat-kan kepala pusing dan mata ber-kunang2, sebagian tubuhnja serasa kaku. Njata kalau bitjara mengadu tenaga dalam, pasti Hoa Tiat-kan bukan tandingan Tik Hun sekarang.

“Lekas lari, lekas lari!” demikian Tjui Sing lantas berseru sambil menarik Tik Hun untuk berlari kedalam gua. Dengan tjepat mereka mengangkat beberapa potong batu besar untuk ditumpuk dimulut gua, dengan golok terhunus Tjui Sing berdjaga disitu.

Mulut gua itu agak sempit, meski beberapa potong batu besar itu tidak dapat menutup rapat mulut gua itu, tapi untuk bisa masuk kesitu terpaksa Hoa Tiat-kan harus membongkar dulu batu2 itu. Dan bila ia berani mendjamah batu2 itu, segera Tjui Sing akan menabas tangannja dengan golok.

Selang sedjenak, diluar gua ternjata tenang2 sadja.

“Siau……… bagaimana keadaan lukamu?” tanja Tjui Sing tiba2. Sebenarnja ia hendak memanggil “Siau-ok-tjeng” kepada Tik Hun seperti biasanja, tapi kini mereka sudah mendjadi kawan dan bukan lawan lagi, ia merasa rikuh dan urung memanggil pojokan jang tidak sedap didengar itu.

“Tidak berbahaja,” demikian Tik Hun telah menjahut.

Tiba2 terdengar Hoa Tiat-kan sedang bergelak ketawa diluar gua dan berteriak: “Ha-hahaha! Dua ekor binatang tjilik itu main sembunji2 didalam gua, apakah sedang berbuat sesuatu jang tidak boleh dilihat orang?”

Keruan wadjah Tjui Sing merah padam, dalam hati ia mendjadi rada takut djuga. Ia telah pandang Tik Hun sebagai “In-tjeng” (paderi tjabul) jang tidak baik kelakuannja, kini dirinja malah berada bersama didalam gua, bukankah sangat berbahaja? Karena itu, tanpa merasa ia menggeser kesamping, ia merasa lebih djauh djaraknja dengan “paderi tjabul” itu tentu akan lebih aman.

Dalam pada itu terdengar Hoa Tiat-kan sedang mengotjeh lagi diluar: “Hahaha, sepasang andjing laki2 dan perempuan itu enak2 bersembunji disitu, ja? Tapi aku mendjadi kedinginan diluar sini! Hahaha! Biarlah kumakan daging panggang sadja!”

Tjui Sing kaget, keluhnja didalam hati: “Wah tjelaka! Dia hendak makan daging ajahku! Apa dajaku sekarang?”

Sebaliknja darah Tik Hun djuga sedang bergolak. Selama beberapa tahun ini ia telah kenjang dihina dan dianiaja orang, kini mendengar otjehan Hoa Tiat-kan jang mendjidjikan itu, keruan ia tidak bisa tahan lagi.

Mendadak ia mendorong tumpukan batu jang menutupi mulut gua itu dan menerdjang keluar bagaikan banteng ketaton, kedua tangannja menghantam ber-ulang2, sekuatnja ia serang Hoa Tiat-kan setjara kalap.

Tapi dengan gampang Hoa Tiat-kan dapat menghindarkan beberapa kali serangan Tik Hun itu, menjusul tangan kirinja berputar sebagai pantjingan, sebaliknja tangan kanan tahu2 menghantam dari belakang, menghantam dari arah jang sama sekali tak terduga oleh Tik Hun. “Bluk”, tanpa ampun lagi punggung Tik Hun kena digebuk sekali dengan keras.

Kontan Tik Hun muntah darah lagi, kepala terasa pusing dan mata se-akan2 lamur, ia melihat Hoa Tiat-kan dihadapannja itu seperti telah berubah mendjadi Ban Tjin-san, Ban Ka, Leng Dwe-su, Po-siang dan orang2 djahat lain jang pernah menghina dan menganiaja dirinja itu. Mendadak ia pentang kedua tangan dan menjeruduk madju, tahu2 Hoa Tiat-kan didekapnja dengan kentjang sekali.

Dengan gugup Hoa Tiat-kan lantas mendjotos hingga tepat mengenai batang hidung Tik Hun, “tjrot”, kontan keras hidung pemuda itu botjor dan keluar ketjapnja.

Namun Tik Hun sudah tidak merasa sakit lagi, ia mendekap se-kentjang2nja, makin lama makin kentjang.

Napas Hoa Tiat-kan mendjadi sesak karena pinggangnja didekap sedemikian kuatnja oleh lawan jang kalap itu, mau-tak-mau ia rada kuatir djuga. Malahan pada saat itu djuga tertampak Tjui Sing sedang memburu madju dengan golok terhunus.

Keruan Hoa Tiat-kan ketakutan, tanpa pikir lagi kedua tindjunja menghantam perut Tik Hun sekuatnja. Karena kesakitan, lengan Tik Hun mendjadi lemas, pelukannja mendjadi kendur. Kesempatan itu segera digunakan Hoa Tiat-kan untuk meronta dan melepaskan diri, ia mendjadi kapok dan tidak berani bertempur pula dengan orang kalap, beberapa kali lompatan tjepat, ia meninggalkan Tik Hun hingga belasan meter djauhnja, disitulah baru ia berhenti dengan napas megap2.

Melihat Tik Hun ter-hujung2 dengan muka penuh darah, ada maksud Tjui Sing hendak memajang pemuda itu, tapi toh agak takut djuga kalau2 mendadak “Siau-ok-tjeng” itu mengamuk. Maka dengan rasa waswas ia melangkah madju.

“Djangan mendekati aku!” se-konjong2 Tik Hun membentak. “Aku adalah Siau-ok-tjeng, adalah paderi tjabul, djangan kau mendekati aku, agar aku tidak menodai nama baik puteri seorang pendekar besar sebagai kau ini! Lekas enjah! Enjahlah!”

Melihat sikap Tik Hun jang beringas dengan sinar matanja jang buas itu, Tjui Sing mendjadi ketakutan dan melangkah mundur.

Dengan napas ter-sengal2 Tik Hun terus berdjalan kearah Hoa Tiat-kan dengan sempojongan, serunja: “Kalian manusia2 durdjana ini! Ban Tjin-san dan Ban Ka, kalian tidak berhasil membunuh aku, tidak dapat mematikan aku. Hajolah madju, marilah madju! Tikoan Taydjin, Tihu Taydjin, kalian hanja pintar menindas jang lemah dan merampas hak rakjat djelata, hajolah, djika berani, madjulah, hajolah kita bertempur mati2an……….”

“Wah, orang ini sudah gila!” demikian Hoat Tiat-kan membatin.

Maka ia melompat pergi lebih djauh lagi dan tidak berani mendekati Tik Hun.

Tik Hun masih ber-teriak sambil mendongak: “Kalian manusia2 djahat semua! Hajolah boleh kalian madju semua padaku, aku Tik Hun tidak gentar! Kalian telah pendjarakan aku, telah memotong djari tanganku, telah merebut Sumoayku, telah mengindjak patah kakiku, tapi, semuanja itu aku tidak takut, hajolah madju, biarpun aku ditjintjang hantjur luluh djuga aku tidak gentar!”

Mendengar teriakan dan gemboran Tik Hun itu, diantara rasa takutnja, mau-tak-mau timbul djuga rasa kasihannja Tjui Sing. Terutama demi mendengar seruan pemuda itu tentang: “telah merebut Sumoayku, telah mengindjak patah kakiku”, hati Tjui Sing semakin terguntjang, pikirnja: “Kiranja batin Siau-ok-tjeng ini penuh siksa derita, sedangkan tulang kakinja itu djusteru aku jang mengkeprak kudaku untuk mengindjaknja hingga patah.”

Begitulah Tik Hun masih ber-teriak2 terus hingga suaranja mendjadi serak, achirnja ia terdjungkal roboh ditanah saldju dan tidak bergerak lagi.

Sudah tentu Hoa Tiat-kan tidak berani mendekati, begitu pula Tjui Sing djuga tidak berani mendekat…..

*********

Melihat sesosok tubuh manusia jang menggeletak ditanah tanpa bergerak itu, elang jang terbang mengitar diangkasa itu mengira Tik Hun sudah mati. Se-konjong2 seekor elang itu menjambar kebawah dan mematuk djidat Tik Hun.

Saat itu Tik Hun masih dalam keadaan tak sadar, karena patukan elang itu, seketika ia siuman kembali.

Melihat badan mangsanja bergerak, elang itu mendjadi ketakutan dan tjepat terbang keatas.

Tik Hun mendjadi gusar, bentaknja: “Kau binatang inipun berani padaku?” ~ Terus sadja sebelah tangannja dipukulkan.

Tenaga pukulan Tik Hun ini sangat lihay, djarak elang itu sudah ada tiga-empat meter dari dia, tapi kena tenaga pukulan itu, seketika bulu sajapnja rontok bertebaran, bahkan elang itu terus djatuh kebawah.

Tjepat Tik Hun sambar binatang itu, dengan ketawa ter-bahak2, segera ia gigit perut elang itu. Sudah tentu binatang itu kerupukan dan me-ronta2 berusaha melepaskan diri. Namun Tik Hun sudah kadung gemas, ia pentjet elang itu se-keras2nja, ia merasa darah elang jang asin2 amis menetes terus kedalam mulutnja hingga dia mirip diberi tambah darah.

Sebentar kemudian, setelah kenjang menghirup darah elang, ia abat-abitkan binatang jang sudah tak bernjawa itu tinggi2 sambil berseru: “Nah, apa abamu sekarang? Hm, kau ingin makan aku? Tapi aku sudah makan kau lebih dulu!”

Melihat tjara bagaimana Tik Hun ganjang mentah2 elang jang ditangkapnja itu, Hoa Tiat-kan dan Tjui Sing sampai ternganga kesima. Hoa Tiat-kan mendjadi takut sigila itu sebentar akan mengamuk dan menerdjang kearahnja, djalan paling selamat rasanja menghindar pergi sadja sedjauh mungkin. Maka tjepat ia mengitar keudjung timur lembah itu, ia pikir tjara sigila itu menangkap elang sangat praktis djuga, maka ia lantas menirukan, ia merebah ditanah, ia pura2 mati untuk menantikan sambaran elang.

Memang ada djuga elang jang tertipu olehnja dan menerdjun kebawah hendak memaruhnja, tapi ketika Hoa Tiat-kan menghantam, hasilnja ternjata nihil, elang itu tidak kena dihantam. Kiranja tenaga dalamnja selisih terlalu djauh dibandingkan Tik Hun sekarang, benar ilmu pukulannja sangat bagus, tapi tjara berkelit elang itupun sangat gesit dan tjepat, andaikan kena tenaga pukulannja djuga tidak djatuh kebawah, paling2 berkaok kesakitan terus terbang keangkasa lagi.

Sementara itu setelah Tik Hun hirup darah elang, namun saking parahnja kena dihadjar Hoa Tiat-kan tadi, achirnja ia djatuh pingsan pula.

Ketika mendusin, sementara itu hari sudah terang tanah. Ia merasa kelaparan, segera ia ambil elang mati jang berada disampingnja itu terus digeragoti. Tapi sekali menggeragot, ia tidak merasakan amisnja daging mentah lagi, sebaliknja daging elang itu terasa sangat lezat dan gurih. Waktu ia perhatikan daging elang itu, ia mendjadi melongo.

Kiranja elang itu sekarang sudah bukan elang kemarin lagi, bulu elang itu kini sudah terbubut bersih, bahkan sudah terpanggang mateng. Padahal masih djelas teringat olehnja elang itu tjuma dihisap darahnja sadja, lalu ia terpulas. Lantas siapakah gerangannja jang memanggang elang itu? Djika bukan Tjui Sing, masakah mungkin adalah sidjahanam Hoa Tiat-kan? Tapi ia jakin pasti sigadis itulah jang melakukannja.

Sesudah ber-teriak2 seperti orang gila semalam, rasa sumpak dan kesalnja Tik Hun sudah banjak terlampias. Kini sesudah sadar, ia merasa dadanja lega, semangat penuh. Waktu ia memandang kedalam gua, ia melihat Tjui Sing masih tidur sambil mendekap diatas batu.

Pikirnja: “Gadis itupun sudah kelaparan selama beberapa hari, sesudah panggang elang ini, semuanja ia berikan padaku tanpa mengambil sedikitpun bagi dirinja sendiri, betapapun hal ini harus dipudji. Tapi, hm, ia anggap dirinja adalah puteri seorang pendekar besar dan pandang rendah padaku, sebaliknja aku djuga pandang hina padamu? Apanja sih jang kuharapkan darimu?”

Tapi selang tak lama, kembali terpikir pula olehnja: “Namun dia telah memanggangkan elang bagiku, suatu tanda dia toh tidak terlalu memandang rendah padaku. Maka tidak pantas djika dia dibiarkan mati kelaparan.”

Kira dua djam kemudian, kembali ia berhasil mendapatkan empat ekor elang dengan tenaga pukulannja. Sementara itu Tjui Sing sudah mendusin, maka ia melemparkan dua ekor elang hasil buruannja itu kepada gadis itu.

Tapi Tjui Sing lantas mendekatinja dan mengambil sekalian kedua ekor elang jang lain, ia sembelih semua elang itu serta dipanggang pula. Lalu tanpa bitjara apa2 kedua ekor elang panggang jang sudah masak itu dikembalikan kepada Tik Hun.

Dilembah pegunungan itu ternjata banjak djuga burung elang, tapi binatang2 itu djusteru sangat tolol. Biarpun banjak kawannja telah mendjadi korban pukulan Tik Hun dan didjadikan isi perut, tapi burung2 itu masih terus-menerus menghantarkan diri sendiri untuk didjadikan makanan.

Dalam pada itu tenaga dalam Tik Hun djuga semakin tambah kuat, dengan sendirinja tenaga pukulannja djuga makin hebat. Sampai achirnja, ia tidak perlu pura2 mati untuk memantjing elang lagi, tapi asal ada burung jang menghinggap dipohon atau terbang lewat disampingnja, sekali dia hantam, tentu dapatlah ditangkapnja.

Dengan tjepat sang waktu telah lalu tanpa terasa, sementara itu bulan ke-12 sudah habis. Tjuatja sudah banjak berubah, saldju jang turun dilembah pegunungan itu kini sudah sangat djarang, siang-malam hanja tiupan angin jang masih merasuk tulang dinginnja. Ketjuali kalau mentjari kaju bakar dan memanggang burung, selalu Tjui Sing bernaung didalam gua. Selama itu Tik Hun tidak pernah mengadjak bitjara padanja dan tidak pernah masuk selangkahpun kedalam gua.

Suatu malam, saldju turun terus-menerus dengan bertebaran. Esok paginja waktu Tik Hun mendusin, ia merasa badannja hangat2 njaman, waktu ia membuka mata, ia melihat tubuh sendiri tertutup oleh sesuatu benda jang tjoklat ke-hitam2an. Ia terkedjut dan tjepat memegangnja, tapi ia mendjadi heran ketika diketahui barang itu adalah sepotong badju jang aneh.

Badju itu seluruhnja terbuat dari bulu burung, hampir sebagian besar adalah bulu elang. Pandjang badju itu sebatas lutut hingga lebih tepat dikatakan mantel. Badju buatan dari bulu itu entah memerlukan betapa banjak, mungkin berpuluh ribu helai bulu burung.

Sambil memegangi badju bulu burung itu, mendadak wadjahnja mendjadi merah, ia tahu pasti badju itu adalah buah tangan Tjui Sing. Untuk membuat badju itu, terang tidak sedikit djerih-pajah jang telah ditjurahkan sigadis. Apalagi dilembah pegunungan itu tiada peralatan mendjahit seperti gunting, djarum, benang dan sebagainja, entah tjara bagaimana gadis itu telah menjelesaikan badju bulu burung itu.

Waktu Tik Hun tjoba memeriksa badju itu, ia melihat pada pangkal tulang setiap helai bulu itu terdapat sebuah lubang ketjil, tentu lubang itu ditusuk dengan tusuk-konde Tjui Sing, lalu lubang itu ditembus dengan benang sutera warna kuning, terang benang itu diloloskan dari badju sutera kuning jang dipakai Tjui Sing sendiri. Diam2 Tik Hun heran, pekerdjaan jang sukar dan rumit itu mengapa djusteru sangat disukai oleh kaum wanita?

Tiba2 terkenang olehnja apa jang terdjadi pada beberapa tahun jang lalu ditempat tinggal Ban Tjin-san dikota Heng-tjiu dahulu. Pada malam itu, ia telah dikerubut oleh delapan murid orang she Ban itu, ia dihadjar mereka hingga babak-belur, mata biru dan hidung botjor, bahkan sehelai badju baru jang sangat disajanginja itu djuga mendjadi korban dan te-robek2. Sjukur waktu itu Djik-sumoay jang telah menambal dan mendjahitkan badju baru jang sobek itu.

Tanpa merasa terbajang olehnja keadaan pada waktu itu: Djik Hong menggelendot disampingnja untuk menambal badjunja. Rambut sigadis jang pandjang itu meng-gosok2 pipinja hingga menimbulkan rasa geli, malahan ia mengendus bau harum anak perawan jang selama hidup baru pertama kali itu dialaminja, dengan perasaan terguntjang ia telah memanggil: “Sumoay!” ~ Lalu Djik Hong telah menjahut: “Sssst, djangan bersuara, djangan2 kau akan dipitenah mendjadi maling!”

Terpikir sampai disini, tenggorokan Tik Hun serasa tersumbat sesuatu, air matanja ber-linang2 dikelopak matanja hingga segala apa jang berada didepannja mendjadi samar2 kelihatannja. Pikirnja: “Benar djuga. Kemudian aku telah dipitenah orang sebagai maling. Apa barangkali karena aku telah bersuara waktu Sumoay menambal badjuku seperti apa jang dikatakan Sumoay itu?”

Tapi sesudah mengalami godokan dan gemblengan segala penderitaan selama beberapa tahun ini, ia sudah tidak pertjaja lagi kepada segala kiasan jang chajal itu. Pikirnja: “Hehe, bila orang memang bermaksud bikin tjelaka padaku, biarpun aku tidak bersuara atau gagu sekalipun djuga tetap akan ditjelekai mereka. Tatkala itu Sumoay benar2 sangat baik padaku, tapi wanita didunia ini semuanja memang takbisa dipertjaja, habis manis sepah dibuang. Ketika melihat keluarga Ban jang kaja-raja itu, sidjahanam Ban Ka itu muda lagi lebih ganteng daripadaku, mata Sumoay mendjadi silau dan balik pikiran. Jang paling tidak pantas jalah aku telah ditipu agar sembunji digudang kaju, tapi diam2 ia memberitahukan pada suaminja untuk menangkap aku. Hahaha! Haha-hahahaha!”

Begitulah mendadak ia ter-bahak2 seperti orang gila. Sambil memegangi badju bulu itu ia menudju kedepan gua, ia lempar badju itu ketanah dan mengindjaknja beberapa kali dengan berteriak: “Aku adalah paderi tjabul dan Hwesio djahat, mana aku ada harganja memakai badju buatan puteri terhormat ini?” ~ dan sekali ia depak, badju bulu itu ditendangnja kedalam gua. Lalu ia putar tubuh dan tinggal pergi dengan ter-bahak2.

Dengan susah pajah dan memakan tempo lebih sebulan barulah Tjui Sing selesai membuatkan badju bulu itu. Ia pikir “Siau-ok-tjeng” telah berdjasa menjelamatkan djenazah ajah, tapi sedikitpun djasa itu tidak di-tondjol2kan padanja. Selama ini hidupnja djuga tergantung dari daging burung buruan “Siau-ok-tjeng” itu. Sebaliknja tingkah-laku “Siau-ok-tjeng” itu ternjata tjukup “sopan”, biarpun menderita kedinginan diluar gua toh tidak pernah melangkah kedalam gua setindakpun, maka sudah sepantasnja badju bulu jang kubikin ini kuhadiahkan dia sekadar membalas kebaikannja selama ini.

Siapa duga maksud baiknja telah dibahas dengan djelek, badju bulu itu di-indjak2 dan terus disepak kembali kedalam gua, bahkan ditjatji maki dan dihina. Saking gusarnja, terus sadja Tjui Sing djemput kembali badju bulu itu dan di-betot2 dan di-puntir2, dan saking terguntjang perasaannja, air matanja lantas bertjutjuran.

Sama sekali tak tersangka olehnja bahwa diwaktu Tik Hun berputar pergi sambil terbahak2 tadi, badju didadanja itu djuga sudah basah lepek oleh tetesan air mata……….

*********

Mendjelang lohor, kembali Tik Hun berhasil memburu empat ekor burung, seperti biasa, ia taruh hasil buruan itu di depan gua. Maka Tjui Sing lantas menjembelih burung2 itu pula dan dipanggang, lalu membagi separoh pada Tik Hun seperti biasa.

Kedua orang sama sekali tidak bitjara, bahkan sinar mata masing2 djuga tidak berani kebentrok. Keduanja duduk ditempat masing2 dari djarak agak djauh, mereka makan daging burung panggang bagian sendiri2.

Tiba2 dari arah timur laut sana terdengar suara tindakan orang. Waktu mereka memandang kearah suara itu, tertampaklah Hoa Tiat-kan sedang mendatangi dengan tjengar-tjengir. Kedua tangan manusia hina itu bersendjata semua, tangan jang satu membawa golok Kui-thau-to dan tangan lain sebatang pedang.

Seketika Tik Hun dan Tjui Sing sama melondjak bangun, tjepat Tjui Sing berlari masuk kedalam gua, waktu keluar lagi tangannja sudah memegangi golok merah tinggalan Hiat-to Lotjo itu. Setelah ragu2 sedjenak, tiba2 ia lemparkan golok itu kearah Tik Hun sambil berseru: “Sambutlah ini!”

Dengan sendirinja Tik Hun tangkap golok jang dilemparkan padanja itu. Ia terkesiap: “Mengapa ia dapat mempertjajai aku dan menjerahkan golok mestika pelindung djiwanja ini padaku? Ehm, tentu maksudnja agar supaja aku menjabung djiwa baginja, jaitu dengan membantu dia melawan Hoa Tiat-kan. Hm, hm, aku toch bukan budakmu?!”

Dan pada saat itulah dengan langkah lebar Hoa Tiat-kan sudah mendekat. Segera orang she Hoa itu bergelak ketawa dan berkata: “Kionghi! Kionghi!”

“Kionghi apa?” semprot Tik Hun dengan melotot.

“Kionghi pada kalian berdua jang telah djadi suami-isteri,” sahut Hoa Tiat-kan. “Habis, golok mestika pembela diri sepenting itu djuga sudah diberikan padamu, apalagi barang2 lain jang dimiliki gadis itu, tentu sadja tanpa tawar2 lagi dipersembahkan padamu. Betul tidak? Haha-haha!”

“Djahanam,” damperat Tik Hun dengan gusar, “pertjuma kau mengaku sebagai pendekar besar dari Tionggoan, njatanja adalah manusia rendah dan kotor!”

“Soal rendah dan kotor, rasanja orang dari Hiat-to-bun kalian takkan kalah daripada diriku,” udjar Hoa Tiat-kan dengan tjengar-tjengir.

Sambil bitjara iapun melangkah madju lebih dekat. Tiba2 ia mengendus se-keras2nja dengan hidung hingga mengingatkan orang pada andjing waktu mengendus sesuatu, lalu katanja: “Ehmmm, alangkah wanginja, alangkah sedapnja! Bau apakah ini? Eh, kiranja burung panggang! Berikan seekor padaku, ja?”

Djika dia meminta setjara baik2, mungkin tanpa banjak bitjara akan diberi oleh Tik Hun. Tapi kini pemuda itu sudah kadung geram terhadap sikap orang she Hoa jang mendjidjikkan itu, dengan sendirinja ia tidak sudi memberi makan padanja. Segera djawabnja: “Ilmu silatmu djauh lebih tinggi dariku, kau toh dapat mentjari burung sendiri.”

“Aku djusteru lagi malas mengeluarkan tenaga,” sahut Tiat-kan dengan menjengir.

Tengah mereka bitjara, sementara itu Tjui Sing sudah berada dibelakang Tik Hun, mendadak ia berseru kaget: “He, Lau-pepek, Liok-pepek!”

Kiranja ia telah melihat djelas sendjata2 jang dibawa Hoa Tiat-kan itu tak-lain-tak-bukan adalah pedangnja Lau Seng-hong dan Kui-thau-to milik Liok Thian-dju. Pula waktu angin meniup hingga udjung badju Hoa Tiat-kan tersingkap, djelas Tjui Sing melihat didalam badju Hoa Tiat-kan sendiri itu terangkap pula badjunja Liok Thian-dju dan djubahnja Lau Seng-hong.

“Ada apa?” sahut Hoa Tiat-kan dengan menarik muka.

“Djadi kau…………….. kau telah……….. telah makan mereka?” seru Tjui Sing pula dengan suara gemetar.

Ia menduga Hoa Tiat-kan tentu sudah mendapatkan djenazah kedua paman angkat itu dan besar kemungkinan sudah didjadikan isi perut manusia binatang she Hoa itu.

“Makan atau tidak, peduli apa dengan kau?” sahut Tiat-kan atjuh-tak-atjuh.

“Lau-pepek dan Liok-pepek mereka kan sau……………….. saudara angkatmu?” seru Tjui Sing tergagap2.

Namun Hoa Tiat-kan tidak gubris padanja lagi, sebaliknja ia berpaling dan berkata pada Tik Hun: “Hwesio tjilik, selama ini aku tidak mengutik-ngutik djenazah bapak mertuamu, itu berarti aku tjukup menghargai kau. Tapi Hwesio tua itu telah kau bunuh sendiri, kini aku hendak menggunakannja, tentunja kau tiada perlu banjak bitjara, bukan?”

Tik Hun mendjadi gusar, sahutnja: “Dilembah ini tjukup banjak elang dan burung jang dapat kau djadikan sebagai makanan, mengapa kau……………… kau begini kedjam dan mesti makan daging manusia?”

Padahal kalau Hoa Tiat-kan mampu memburu burung, dengan sendirinja iapun tidak tega makan daging saudara angkat sendiri jang sudah mati itu. Ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menangkap burung sebagai makanan, semula dapat djuga ditangkapnja satu-dua ekor, tapi kemudian burung2 itupun mendjadi kapok dan tidak mau masuk perangkapnja lagi. Sedangkan Hoa Tiat-kan tidak memiliki tenaga pukulan sehebat Tik Hun jang sudah berhasil mejakinkan tenaga dalam Sin-tjiau-kang jang hebat itu, dengan sendirinja ia tidak mampu menghantam burung terbang dari djarak djauh seperti Tik Hun itu.

Kini ia membawa sendjata golok dan pedang, ia sudah bertekad akan menempur Tik Hun dan Tjui Sing, ia pikir kedua orang itu harus dibunuh semua, dengan demikian, ditambah lagi dengan majat Tjui Tay dan Hiat-to Lotjo jang terpendam dibawah saldju itu tentu akan merupakan rangsum simpanan baginja untuk bertahan sampai musim panas jang akan datang, lalu dapatlah ia keluar dari lembah maut itu sesudah saldju mentjair.

Begitulah Hoa Tiat-kan mendjadi ngiler demi mengendus bau daging burung panggang jang lezat itu. Se-konjong2 ia angkat Kui-thau-to terus membatjok kearah Tik Hun sambil membentak.

Tjepat Tik Hun ajun golok merah jang diterimanja dari Tjui Sing itu untuk menangkis. “Trang”, Kui-thau-to jang dipakai Hoa Tiat-kan itu sampai mendal kembali, tapi tidak patah.

Kiranja Kui-thau-to itupun merupakan sebuah sendjata pusaka, walaupun tidak setadjam Hiat-to jang digunakan Tik Hun itu, tapi badan golok itu tjukup tebal, maka golok merah itu tidak dapat menabas kutung padanja.

Tempo hari waktu Liok Thian-dju menggunakan golok tebal itu untuk menempur Hiat-to Lotjo, pernah djuga Kui-thau-to itu tergempil beberapa tempat ketika mesti beradu dengan golok merah itu, maka kini setelah saling bentur lagi, paling2 Kui-thau-to itu bertambah suatu gempilan baru sadja.

Meski Hoa Tiat-kan tidak terlalu mahir menggunakan golok, tapi sebagai seorang tokoh persilatan, segala matjam ilmu silat tentu diketahuinja, dengan dasar ilmu silat jang dimiliki, betapapun Tik Hun tidak sanggup melawan permainan goloknja itu. Maka hanja beberapa djurus sadja Tik Hun sudah terdesak mundur.

Sebaliknja Hoa Tiat-kan ternjata tidak mendesak lebih djauh, tiba2 ia berdjongkok dan mendjemput sepotong burung panggang sisa makanan Tik Hun tadi terus digeragotinja dengan lahap, lalu pudjinja tak habis2: “Ehm, lezat benar burung panggang ini, sungguh lezat sekali!”

Tik Hun menoleh dan saling pandang sekedjap dengan Tjui Sing. Kedua orang sama2 merasa ngeri. Mereka insaf kedatangan Hoa Tiat-kan sekali ini dengan sendjata lengkap, terang keadaannja tidak seperti tempo hari lagi jang bertempur dengan tangan kosong.

Waktu bergebrak dengan tangan kosong, djika Tik Hun kena digebuk umpamanja, paling2 ia tjuma muntah darah dan terluka dalam, untuk membinasakannja dengan pukulan atau tendangan sudah tentu tidak mudah.

Tapi sekarang Tiat-kan bersendjata, bahkan dua sendjata sekaligus, jaitu golok dan pedang, maka keadaan mendjadi berbeda djauh, sebab, sedikit Tik Hun meleng sadja, seketika djiwanja bisa melajang.

Malahan tempo hari Tik Hun berkat bantuan Tjui Sing jang memindjamkan golok merah itu padanja hingga dia masih sanggup bertahan sebisanja, tapi kini sendjata Hoa Tiat-kan lebih banjak, dengan sendirinja Tik Hun tidak mungkin dapat melawannja.

Begitulah, selesai makan setengah ekor burung panggang restan Tik Hun tadi, selera Hoa Tiat-kan ternjata belum terpenuhi, ketika dilihatnja didekat gua sana masih ada seekor lagi, segera ia mendekati dan dimakan pula.

Habis melalap burung panggang itu, Hoa Tiat-kan meng-usap2 mulutnja jang berlepotan minjak itu, lalu katanja: “Ehm, sangat lezat, kepandaian sikoki jang memanggang burung ini harus diberi piala.”

Kemudian dengan ke-malas2an ia memutar tubuh. Mendadak ia melompat madju, tanpa bitjara lagi goloknja membatjok pula kearah Tik Hun.

Serangan itu dilakukan dengan sangat tjepat dan diluar dugaan, karena tidak menjangka sama sekali, hampir2 kepala Tik Hun terbelah mendjadi dua, untung ia tjukup sigap, tjepat ia menangkis dengan golok merah.

Sjukurlah Tiat-kan agak djeri pada tenaga dalam Tik Hun jang kuat, bila kedua sendjata saling bentur, tentu lengannja terasa linu pegal, maka lebih baik ia menghindari beradunja kedua sendjata. Segera ia miringkan goloknja kearah lain, menjusul ia membabat dan membatjok pula setjara ber-tubi2.

Keruan Tik Hun kewalahan dan kelabakan. “Tjret”, tanpa ampun lagi lengan kiri kena tergurat oleh Kui-thau-to musuh hingga berwudjut suatu luka pandjang.

“Sudahlah, djangan bertempur lagi! Hoa-pepek, djangan bertempur lagi, aku akan membagi daging burung padamu!” demikian Tjui Sing ber-teriak2 dengan kuatir.

Tapi Hoa Tiat-kan sedang mendapat angin, mana dia mau berhenti. Ia melihat ilmu silat Tik Hun paling2 tjuma tergolong kelas tiga dalam dunia persilatan, kalau kesempatan baik ini tidak membunuhnja, kelak tentu akan menimbulkan bahaja besar. Dari itu, bukannja ia berhenti seperti seruan Tjui Sing itu, sebaliknja ia menjerang lebih kentjang, bahkan mulutnja ikut menggoda: “He, Tjui-titli, kau sajang pada Siauw-ok-tjeng ini ja? Apa kau sudah lupa pada Piaukomu jang pernah berpatjaran dengan kau itu?”

Sambil berkata, tjepat goloknja menjerang pula tiga kali beruntun hingga pundak kanan Tik Hun kembali terbatjok sekali. Untung tempat batjokan itu terlindung oleh Oh-djan-kah jang dipakainja, kalau tidak, tentu sebelah bahunja sudah tertabas kutung.

“Hoa-pepek, sudahlah, djangan bertempur lagi!” demikian Tjui Sing ber-teriak2 pula.

Tapi Tik Hun mendjadi gusar, bentaknja: “Apa jang kau gembar-gemborkan? Kalau aku takbisa menangkan dia, biarlah aku dibunuh olehnja!”

Dalam murkanja, terus sadja ia membatjok dan menabas serabutan. Tiba2 golok jang dipegang tangan kanan itu dipindahkannja ketangan kiri, menjusul tangan kanan itu terus menampar hingga pipi Hoa Tiat-kan kena ditempeleng sekali dengan keras.

Sudah tentu mimpipun Hoa Tiat-kan tidak menjangka pemuda jang ilmu silatnja rendah tak berarti itu masih mempunjai djurus “simpanan” jang bagus itu, ia mendjadi tidak sempat menghindar dan kena digampar mentah2.

Sebaliknja Tik Hun melengak djuga oleh hasil pukulannja itu, pikirnja: “Ha, inilah ‘Ni-kong-sik’ (gaja menempeleng) adjaran pengemis tua tempo dulu itu!”

Dan sekali ingat, be-runtun2 ia lantas mengeluarkan djurus2 lain adjaran sipengemis tua waktu ia bertamu dirumah Ban Tjin-san dahulu. Kembali ia memainkan “Dji-koh-sik” (gaja menusuk pundak) dan “Gi-kiam-sik” (gaja mementalkan pedang).

Keruan Hoa Tiat-kan kaget, ia ber-kaok2: “He, Soh-sim-kiam-hoat! Soh-sim-kiam-hoat!”

Kembali Tik Hun melengak oleh teriakan Hoa Tiat-kan itu. Teringat olehnja tempo dulu waktu ia bertempur melawan Ban Ka dan kawan2nja dirumah keluarga Ban itu, ia telah mainkan ketiga djurus adjaran sipengemis tua untuk menghadjar Ban Ka dan ketudjuh saudara perguruannja, tatkala itu Ban Tjin-san djuga menjatakan djurus2 serangan itu adalah “Soh-sim-kiam-hoat”. Tapi hal mana dianggapnja omong kosong dan otjehan Ban Tjin-san belaka. Namun sekarang Hoa Tiat-kan djuga menjatakan djurus2 serangannja itu adalah Soh-sim-kiam-hoat.

Sebagai seorang tokoh terkemuka didunia persilatan Tionggoan, pengalaman dan pengetahuan Hoa Tiat-kan sudah tentu sangat luas, masakah iapun sembarangan mengotjeh? Begitulah Tik Hun mendjadi ragu2 apakah ketiga djurus adjaran pengemis tua itu djangan2 memang benar adalah Soh-sim-kiam-hoat?

Ber-ulang2 Tik Hun memainkan ketiga djurus itu pula, ia gunakan golok sebagai gantinja pedang. Tapi ilmu silat Hoa Tiat-kan sudah tentu takdapat disamakan dengan Ban Ka dan kawan2nja itu. Ketiga djurus serangan itu sudah tentu tidak dapat diulangi atas diri Hoa Tiat-kan dan tidak mandjur.

Waktu Tik Hun hendak mengulangi djurus “Gi-kiam-sik”, dengan golok merah ia mentjungkit Kui-thau-to jang dipegang Hoa Tiat-kan itu, namun Hoa Tiat-kan sudah siap sebelumnja, mendadak sebelah kakinja melajang hingga urat nadi tangan Tik Hun tepat kena tertendang.

Keruan tjekalan Tik Hun mendjadi kendur, golok merah terlepas dari tangan. Bahkan Hoa Tiat-kan terus menambahi pula dengan djurus “Sun-tjui-tui-tjiu” (mendorong perahu menurut arus), golok dan pedang jang dipegang kedua tangannja berbareng menusuk kedada Tik Hun sekaligus “Tjrat-tjret”, tanpa ampun lagi dada Tik Hun terkena tusukan golok dan pedang Hoa Tiat-kan itu, tapi udjung kedua sendjata itu lantas tertahan semua oleh Oh-djan-kah hingga tidak dapat menembus.

Saat itu Tjui Sing djuga sudah siap sedia disamping dengan sepotong batu, ia menunggu bila Tik Hun terantjam bahaja, segera ia akan madju membantu. Kini melihat Hoa Tiat-kan telah menjerang dengan golok dan pedang sekaligus, tanpa pikir lagi ia angkat batunja terus mengepruk kebelakang kepala Hoa Tiat-kan.

Dari pengalaman jang sudah lalu dimana tumbak Hoa Tiat-kan tidak mempan menembus dada Tik Hun, memangnja Hoa Tiat-kan sudah ter-heran2 dan tidak habis mengarti apa sebabnja? Ia menduga didalam badju pemuda itu mungkin terdapat sesuatu benda keras sebangsa tameng, dan udjung tumbaknja tepat menusuk diatas benda keras itu, makanja tidak mempan. Tapi sekali ini ia menusuk dengan golok dan pedang berbareng, rasanja tidak mungkin begitu kebetulan pula akan mengenai benda keras itu. Siapa duga hal jang tak diharapkan itu djusteru berulang pula. Dan tengah ia tertegun bingung itu, tiba2 Tik Hun sudah balas menghantamnja sekali, bahkan dari belakang Tjui Sing mengepruknja pula dengan batu.

Tanpa pikir lagi segera ia berkelit, lalu melompat pergi hingga djauh sambil berseru: “Ada setan! Ada setan!” ~ Ia mendjadi mengkirik sendiri demi terpikir olehnja mungkin arwah Liok-toako dan Lau-hiante jang penasaran itu hendak menuntut balas padanja karena ia telah makan majat mereka. Tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuhnja.

Dalam pada itu kelonggaran itu lantas digunakan oleh Tik Hun dan Tjui Sing untuk lari kedalam gua, lalu menjumbat pula mulut gua dengan batu2 besar.

Kemudian terdengarlah Hoa Tiat-kan telah ber-kaok2 diluar gua: “Hai keluarlah anak kura2, apakah kalian mampu sembunji selama hidup didalam gua? Dapatkan kalian menangkap burung didalam gua? Haha-hahaha!”

Meski Hoa Tiat-kan bergelak ketawa dan mengedjek dengan tjongkak, tapi sebenarnja hatinja djuga sangat takut, maka tidak berani sembarangan membongkar majat Tjui Tay lagi untuk dimakan.

Mendengar edjekan Hoa Tiat-kan itu, mau-tak-mau Tik Hun saling pandang sekedjap dengan Tjui Sing. Pikir mereka: “Benar djuga apa jang dikatakan keparat itu. Selama sembunji digua, apa jang harus kami makan? Tapi kalau keluar tentu akan dibunuh olehnja, lantas apa daja sekarang?”

Padahal kalau benar2 Hoa Tiat-kan hendak menjerbu kedalam gua, betapapun Tik Hun berdua tidak mampu merintanginja. Tjuma sesudah dua kali Tik Hun tidak mempan ditusuk olehnja, Tiat-kan mendjadi djeri dan menjangka benar2 ada arwah halus jang diam2 lagi mempermainkannja, maka ia tidak berani sembarangan bertindak lagi.

Sesudah berdjaga sekian lamanja dipintu gua dan Hoa Tiat-kan tidak menjerbu, barulah Tik Hun dan Tjui Sing agak lega. Waktu Tik Hun periksa luka lengan kiri, ia melihat darah masih mengutjur terus.

Segera Tjui Sing sobek sepotong kain badjunja untuk membalut luka pemuda itu.

Ketika Tik Hun mengeluarkan bungkusan abu tulang Ting Tian, tanpa sengadja dari badjunja itu ikut terdjatuh sedjilid buku ketjil. Itulah “Hiat-to-keng” (kitab golok berdarah) jang diperolehnja dari Po-siang dahulu.

Meski pertarungan Tik Hun melawan Hoa Tiat-kan tadi memakan waktu singkat sadja, tenaga jang dikeluarkannja djuga tidak banjak, tapi semangatnja ternjata masih tegang sekali. Kini sesudah mengaso, barulah ia merasa sangat lelah.

Teringat olehnja tempo dulu waktu pertama kalinja membatja Hiat-to-keng itu, pernah ia bertingkah menurutkan gambar jang terlukis didalam kitab, lalu semangatnja lantas pulih dan tenaga bertambah. Segera ia membalik2 halaman kitab itu pula dengan tudjuan akan menirukan gaja jang terlukis didalam kitab itu untuk memulihkan semangat agar sebentar dapat dipakai menghadapi musuh kuat jang masih mengintai diluar gua itu.

Ketika ia membuka halaman pertama kitab itu, ia melihat gambar jang terlukis disitu adalah bentuk manusia jang berdjungkir balik, kepala menahan ditanah, kaki terangkat keatas, sikap kedua tangannja djuga sangat aneh. Tanpa pikir lagi segera Tik Hun menirukan gambar itu, iapun mendjungkir dengan kepala bawah dan kaki diatas.

Melihat pemuda itu mendadak bertingkah aneh. Tjui Sing menjangka penjakit gila orang telah angot lagi. Diam2 ia mengeluh, diluar gua ada musuh, didalam gua ada orang gila pula, bagaimana dirinja harus bertindak? Dalam kuatirnja, kembali ia mewek2 ingin menangis.

Dalam pada itu Tik Hun masih terus berlatih, tidak sampai setengah djam, antero tubuhnja terasa panas bagai dibakar. Tapi nikmat sekali rasanja.

Melihat Tik Hun melatih ilmu dengan berdiri mendjungkir, Tjui Sing mendjadi heran dan kaget terutama sesudah mengetahui jang ditiru Tik Hun adalah gambar didalam kitab Hiat-to-keng jang melukiskan seorang laki2 telandjang, djangan2 nanti pemuda itu djuga akan menirukannja dengan telandjang …..

Kemudian ia tjoba membalik halaman berikutnja, ia melihat gambar ini melukiskan seorang laki2 telandjang tengkurap ditanah, hanja tangan kirinja jang menahan ditanah, sedangkan kedua kakinja membalik keatas dan menggantol dibagian leher sendiri.

Gaja menurut gambar itu sebenarnja sangat susah dilakukan. Tapi sedjak Tik Hun berhasil mejakinkan Sin-tjiau-kang, ia merasa antero tubuh dan segenap bagian badannja dapat digerakan dengan bebas, bagaimana keinginannja tentu dapat dilakukannja, sedikitpun tidak susah2. Maka ia lantas berlatih pula menurut petundjuk gambar dalam kitab itu, hawa dalam tubuh lantas ikut berdjalan djuga kian kemari antara urat-nadi satu keurat nadi jang lain sesuai dengan garis2 merah dan hidjau jang terdapat dalam gambar.

Kiranja “Hiat-to-keng” itu memuat ichtisar komplit dari ilmu Lwekang dan Gwakang adjaran Hiat-to-bun. Setiap gambar jang terlukis pada tiap2 halaman itu biasanja harus dilatih selama setahun atau setengah tahun baru dapat djadi.

Tapi sekarang Tik Hun sudah lantjarkan hubungan antara urat nadi Tok-meh dan Im-meh, ia mempunjai alas dasar Sin-tjiau-kang jang tiada bandingannja dalam hal tenaga dalam. Maka ilmu jang betapapun sulitnja baginja boleh dikata tiada artinja lagi, dengan mudah tentu akan dapat dilatihnja dengan sempurna.

Ibaratkan seorang beladjar membatja, semula memang sulit mengapalkan setiap huruf, tapi bila antero huruf “Kamus besar” telah dibatja dan diapalkannja dengan baik, dengan sendirinja tiada sesuatu istilahpun jang sulit baginja untuk dipahaminja.

Begitulah Tik Hun terus berlatih sedjurus demi sedjurus, makin melatih makin bersamangat.

Semula Tjui Sing sangat kuatir, sebab mengira penjakit gila pemuda itu kumat lagi, tapi kemudian demi mengetahui pemuda itu sedang melatih ilmu menurut gambar dalam kitab, barulah hilang rasa kuatir dan takutnja.

Bahkan ketika melihat gaja latihan Tik Hun jang aneh dan lutju itu, Tjui Sing mendjadi geli dan heran pula. Pikirnja: “Masakah didunia ini ada orang melatih ilmu setjara begini?”

Achirnja Tjui Sing mendjadi kepingin tahu djuga, ia tjoba mendekati kitab jang terletak ditanah itu dan melongoknja, tapi sekali pandang sadja ia mendjadi merah djengah, hatinja ber-debar2. Kiranja gambar jang terlihat didalam kitab itu melukiskan seorang laki2 jang telandjang bulat. Keruan ia malu dan takut pula, pikirnja: “Djika tjara begini Siau-ok-tjeng itu berlatih terus menerus menurut gambar, djangan2 sampai achirnja nanti ia djuga akan menanggalkan pakaiannja hingga telandjang bulat seperti gambar? Wah, kan tjelaka kalau begitu!”

Sjukurlah adegan jang dikuatirkan Tjui Sing itu sebegitu djauh tidak muntjul. Sesudah melatih Lwekang itu sebentar, ketika Tik Hun membalik halaman lain dari kitab itu, ia melihat gambarnja sekarang melukiskan laki2 itu memegangi sebatang golok melengkung sedang membatjok miring dan menabas kesamping.

Girang Tik Hun tidak kepalang, tak tertahan lagi ia berseru: “Hei, inilah Hiat-to-to-hoat (ilmu permainan golok berdarah)!”

Segera ia menudju kedepan gua, ia mendjemput sebatang ranting kaju sisa kaju bakar jang dipakai panggang burung itu. Ia menurutkan gaja gambar dalam kitab dan menirukan untuk melatih ilmu golok itu.

Ilmu golok permainan Hiat-to itu benar2 sangat aneh djuga, setiap djurus selalu membatjok dari arah jang tidak mungkin terpikir menurut akal sehat.

Hanja tiga djurus sadja Tik Hun berlatih dan segera ia paham duduknja perkara. Kiranja setiap ilmu permainan golok itu adalah perubahan dari gaja aneh menurut gambar dihalaman depan tadi. Gambar dihalaman depan itu ada jang berdjungkir balik, ada jang miring, ada jang mendjulur kaki menggantol dileher, ada jang membalik tangan kebelakang untuk mendjewer telinga sendiri dan matjam2 gaja jang aneh dan lutju. Dan ilmu permainan Hiat-to itu djuga mentjakup gaja2 serangan jang aneh dan susah dibajangkan orang itu.

Segera Tik Hun pilih empat djurus ilmu permainan golok itu dan melatihnja bolak-balik sampai beberapa kali, ia pikir harus tjepat2 mengapalkan beberapa puluh djurus agar beberapa hari lagi dapat dipakai modal pertempuran mati2an dengan manusia she Hoa itu.

Tak terduga olehnja bahwa setengah haripun Hoa Tiat-kan tidak memberi kelonggaran padanja. Baru Tik Hun tekun mempeladjari djurus kelima, tiba2 Hoa Tiat-kan sudah berseru diluar gua: “Hai, Hwesio tjilik, kau mau makan hati bapak-mertuamu atau tidak? Tentu sangat lezat rasanja!”

Keruan Tjui Sing terkedjut. Tanpa pikir lagi ia dorong batu penutup gua terus menjerobot keluar. Ia melihat Hoa Tiat-kan sedang menggali kuburan sang ajah dengan Kui-thau-to, bukan mustahil sekedjap lagi majat sang ajah pasti akan dibongkar olehnja.

“Hoa-pepek, apakah kau ti…….. tidak ingat pada kebaikan sesama sau…….. saudara angkat lagi?” demikian Tjui Sing ber-teriak2 dengan kuatir sembari menerdjang madju.

Memangnja tudjuan Hoa Tiat-kan djusteru ingin memantjing Tjui Sing keluar lebih dulu, lalu ia akan robohkan gadis itu, kemudian barulah Tik Hun akan dibereskan olehnja agar gadis itu tidak mengganggu maksudnja. Maka demi melihat Tjui Sing menjerbu kearahnja, ia pura2 tidak tahu dan tetap asjik menggali. Setelah Tjui Sing mendekat dan hendak menghantam punggung, saat itulah Hoa Tiat-kan lantas membaliki tangannja, setjepat kilat ia pegang sigadis.

Menjusul sebelah tangan Tjui Sing jang lain menghantam pula, tapi sedikit Hoat Tiat-kan miringkan tubuh, ia membiarkan bahunja kena digendjot sigadis, pada saat hampir berbareng itu tiba2 Tjui Sing djuga mendjerit tertahan, ternjata pinggangnja telah kena ditutuk Hoa Tiat-kan hingga djatuh tersungkur dan tak terkutik lagi.

Selesai merobohkan Tjui Sing, sementara itu Tik Hun tertampak sedang menerdjang pula kearahnja sambil membawa ranting kaju.

Hoa Tiat-kan ter-bahak2, katanja: “Hahaha! Apa barangkali kau sudah bosan hidup? Masakan akan melawan aku dengan sebatang kaju? Baiklah, kau adalah paderi djahat dari Hiat-to-bun, aku akan menggunakan golok mestika dari Hiat-to-bun kalian ini untuk menghantar kau pulang keachirat!”

Habis berkata, mendadak ia lolos golok merah dari pinggang, ia simpan kembali Kui-thau-to, menjusul goloknja lantas membatjok tiga kali kearah Tik Hun.

Hiat-to itu sangat tipis lagi enteng, waktu membatjok lantas mengeluarkan suara mendesing jang njaring. Diam2 Hoa Tiat-kan memudji golok mestika jang bagus itu.

Melihat serangan musuh jang tjepat dan hebat itu, Tik Hun mendjadi ngeri hingga tjara berkelitnja mendjadi kelabakan pula. Tapi ia mendjadi nekat djuga, pikirnja: “Biarlah aku gugur bersama dengan kau!” ~ Dan sekali ia balas menjerang, mendadak ia ajun ranting kaju jang dipegangnja itu dan menjabet dari belakang “plok”, tahu2 tengkuk Hoa Tiat-kan tepat kena digebuk sekali olehnja.

Tipu serangan ini benar2 aneh dan bagus sekali, pabila sendjata jang dipakai Tik Hun itu bukan sebatang kaju, tapi adalah sebatang golok atau pedang, maka tidak perlu disangsikan lagi pasti kepala Hoa Tiat-kan sudah berpisah dengan tuannja.

Padahal ilmu silat Hoa Tiat-kan tidak lebih rendah daripada Hiat-to Lotjo, andaikan Hiat-to Lotjo hidup kembali djuga tidak mampu membunuhnja dengan sedjurus sadja. Soalnja tadi Hoa Tiat-kan terlalu memandang enteng pada Tik Hun jang dianggapnja tjuma sebangsa kerotjo jang tiada artinja, dari itu ia telah kena batunja.

Ia tertegun sedjenak, lalu bermaksud ajun goloknja untuk membatjok pula. Namun batang kaju Tik Hun itu sudah menjabet dan menghantam setjara membadai kearahnja. “Plok”, kembali Hoa Tiat-kan kena digebuk lagi, sekali ini kena dibatok kepala belakang.

Keruan hampir2 Hoa Tiat-kan kelengar, untung ia masih dapat bertahan walaupun dengan kepala pusing tudjuh keliling. Ia ber-teriak2: “Ada setan! Ada setan!” ~ Tanpa merasa ia menoleh kebelakang, saking ketakutan sampai tangannja mendjadi lemas, tjekalannja mendjadi kendur, golok merah jang dipegang itu djatuh ketanah, tanpa memikir untuk mendjemput kembali sendjata itu terus sadja ia lari pergi dengan ter-birit2.

Kiranja setelah Hoa Tiat-kan memakan majat kedua saudara angkat sendiri, betapapun perasaannja tidak tenteram dan menjesal, senantiasa ia kuatir kalau arwah halus Liok Thian-dju dan Lau Seng-hong menggoda padanja.

Tadi waktu Tik Hun tidak mempan ditusuk olehnja, memangnja ia sudah sangsi djangan2 ada arwah halus jang telah membantu musuh itu, kini Tik Hun hanja melawannja dengan sebatang kaju, sudah terang gamblang lawan itu berdiri didepannja, pula Tjui Sing sudah ditutuk roboh olehnja, tapi tahu2 tengkuk dan batok kepala belakang be-runtun2 telah kena dihandjut oleh sesuatu benda keras. Padahal dilembah itu selain mereka bertiga sudah tiada manusia lain lagi. Lalu mengapa ada jang mampu menjerangnja dari belakang tanpa kelihatan wudjutnja, habis kalau bukan setan iblis lantas apa? Dan begitulah ia mendjadi ketakutan setengah mati dan lari sipat-kuping.

Sebaliknja Tik Hun meski berhasil menggebuk Hoa Tiat-kan dua kali, tapi musuh toh tidak terluka apa2, mengapa mendadak orang she Hoa itu lari pergi dengan ketakutan? Sungguh hal inipun diluar dugaannja dan membingungkan dia.

Segera Tik Hun mendjemput Hiat-to jang ditinggalkan Hoa Tiat-kan itu, ia melihat Tjui Sing masih menggeletak ditanah takbisa berkutik, tanjanja: “Kenapa kau? Apa tertutuk oleh keparat itu?”

“Ja,” sahut Tjui Sing.

“Sajang aku tidak paham ilmu Tiam-hiat dan tjara membukanja, maka takbisa menolong kau,” udjar Tik Hun.

“Asal pinggang dan pahaku di………..” sebenarnja Tjui Sing hendak memberitahukan Tik Hun tempat djalan darah jang harus dipidjat untuk melantjarkannja kembali, lalu ia akan dapat bergerak lagi. Tapi demi berkata tentang pinggang dan paha, ia lantas ingat djangan2 “Siau-ok-tjeng” itu akan kumat penjakit buasnja dan mendadak memperlakukan dirinja setjara tidak senonoh dikala dirinja takbisa bergerak, wah, kan bisa tjelaka?

Ketika mendadak melihat sinar mata sigadis mengundjuk rasa ketakutan dan bitjara setengah2, Tik Hun mendjadi heran, pikirnja: “Hoa Tiat-kan toh sudah lari, apa jang kau takuti lagi?” ~ Tapi setelah dipikir pula, segera iapun mengarti dirinja sendirilah djusteru jang ditakuti gadis itu. Sesaat itu ia mendjadi gusar, teriaknja mendadak: “Djadi kau takut aku akan menodai kau? Hm, hm, biarlah sedjak kini aku takkan melihat tampangmu lagi!” ~ Saking gusarnja ia lantas mengamuk, ia menendang dan menjepak tanah saldju hingga bunga saldju berhamburan bagai hudjan.

Ia kembali kedalam gua, sesudah mengambil kitab Hiat-to-keng, dengan langkah lebar ia tinggal pergi dan tidak memandang lagi pada Tjui Sing, bahkan melirikpun tidak.

Diam2 Tjui Sing merasa malu sendiri, pikirnja: ” Djangan2 aku jang suka tjuriga tak keruan dan telah salah sangka padanja?”

Begitulah Tjui Sing menggeletak tak berkutik disitu. Selang lebih satu djam, mendadak seekor elang menjambar kebawah dan mematuk kemukanja. Keruan Tjui Sing mendjerit kaget. Se-konjong2 tertampak sinar merah berkelebat, golok merah itu tahu2 menjambar tiba dari samping sana hingga elang itu terpapas mendjadi dua dan djatuh dipinggir Tjui Sing.

Meski Tik Hun sangat gusar karena dirinja ditjurigai gadis itu, tapi ia djuga kuatir Hoa Tiat-kan akan datang kembali untuk membikin tjelaka mereka, maka ia tidak pergi djauh, tapi mendjaga disekitar situ sambil meneruskan peladjaran ilmu golok menurut kitab pusaka Hiat-to-keng itu. Ia tidak menjangka sekali menimpukan golok merah itu, kontan elang itu tertabas mendjadi dua belah, bahkan golok itu tidak terhalang oleh elang dan masih terus melajang kedepan hingga sedjauh belasan meter baru djatuh ketanah. Dengan demikian Tik Hun telah berhasil pula mejakinkan satu djurus “Liu-sing-keng-thian” atau bintang kemukus melajang diudara.

Mendadak Tjui Sing ber-teriak2: “Tik-toako, Tik-toako! Ja, aku mengaku salah sudah, seribu kali aku minta maaf padamu!”

Tapi Tik Hun berlagak tuli sadja dan tidak gubris. Maka Tjui Sing ber-teriak2 lagi: “Tik-toako, sudilah kau memaafkan kesemberoanku. Sesudah ajahku meninggal, aku mendjadi sebatangkara, tjara berpikirku mendjadi agak kurang sehat, harap engkau djangan marah lagi padaku, ja?”

Namun Tik Hun masih tidak gubris padanja. Tapi pelahan2 rasa gusarnja mendjadi lenjap djuga.

Dengan menggeletak ditanah, sampai besok paginja djalan darah Tjui Sing baru lantjar kembali dengan sendirinja dan dapat bergerak pula. Ia tahu meski Tik Hun sepatah-katapun tidak bitjara, tapi sepandjang malam toh senantiasa mendjaga disitu tanpa tidur, sungguh rasa terima kasihnja tak terhingga. Maka begitu badannja bisa bergerak, segera ia pergi memanggang elang lagi, ia membagi separoh kepada Tik Hun.

Tapi ketika dia sudah mendekat, Tik Hun sengadja pedjamkan mata untuk mentaati sesumbarnja sendiri bahwa selandjutnja ia tidak mau melihat tampang gadis itu lagi. Tjui Sing djuga tidak bitjara padanja, ia taruh elang panggang itu didepan Tik Hun, lalu menjingkir pergi.

Maksud Tik Hun akan menunggu sesudah gadis itu pergi agak djauh barulah ia akan membuka mata. Diluar dugaan, mendadak didengarnja Tjui Sing mendjerit kaget sekali, menjusul gadis itu mengaduh pula dan terguling ketanah.

Tik Hun terperandjat, tjepat ia melompat bangun dan memburu ketempat Tjui Sing. Tapi tahu2 gadis itu telah berbangkit dengan tertawa, katanja: “Aku tjuma menipu kau sadja. Kau menjatakan selandjutnja takkan melihat aku, tapi sekarang kau sudah melihat lagi, bukan? Maka pernjataanmu itu sekarang sudah batal!”

Tik Hun tidak mendjawab, dengan mendongkol ia melotot sekali pada gadis itu. Pikirnja: “Wanita didunia ini memang litjik semua. Ketjuali nona Leng kekasih Ting-toako itu, selebihnja suka menipu orang sadja. Sedjak kini tidak nanti aku dapat kau tipu lagi.”

Sebaliknja Tjui Sing masih mengikik tawa, katanja: “Tik-toako, buru2 kau hendak menolong aku, bukan? Terima kasih, ja!”

Kembali Tik Hun melototi sigadis sekali, lalu memutar tubuh dan menjingkir……..

Sementara itu rupanja Hoa Tiat-kan sudah ketakutan pada setan iblis, maka ia tidak berani mengatjau lagi ketempat gua. Terpaksa ia mentjari kulit pohon dan akar rumput sekadar mengisi perut agar tidak mati kelaparan. Sudah tentu penghidupan begitu sangat menderita baginja.

Dalam pada itu setiap hari Tik Hun asjik melatih sedjurus-dua ilmu permainan golok, baik tenaga dalam, maupun tenaga luar, setiap hari ia mentjapai kemadjuan jang menondjol.

**********

Sang tempo silih berganti dengan tjepat, tanpa merasa musim dingin sudah lalu dan musim semi telah tiba. Hawa udara lambat-laun mulai menghangat, saldju tidak turun lagi, sebaliknja timbunan saldju mulai susut, jaitu mulai tjair.

Selama itu Tik Hun sudah lengkap mempeladjari Lwekang dan ilmu golok jang terlukis didalam Hiat-to-keng itu. Kepandaiannja kini sudah mentjakup dua aliran Tjing dan Sia jang paling tinggi, meski pengalamannja tjetek dan kurang pengetahuan, sedang diantara sari ilmu2 silat aliran Tjing dan Sia itupun belum ada pembauran jang sempurna, tapi kalau melulu bitjara tentang ilmu silat sedjati, saat itu djangankan tjuma Hoa Tiat-kan, bahkan kepandaian Tik Hun sekarangpun sudah lebih tinggi daripada Ting Tian dulu. Hal ini adalah berkat Sin-tjiau-kang jang telah berhasil dijakinkan dengan baik serta terhubungnja urat2 nadi Tok-meh dan Im-meh.

Selama itu, bila Tjui Sing mengadjak bitjara padanja, selalu Tik Hun berlagak gagu tanpa mendjawab sepatahpun. Ketjuali waktu makan, terpaksa mereka berkumpul sebentar, habis itu, selalu Tik Hun mendjauhi Tjui Sing lagi dan tekun melatih diri.

Pada benaknja tjuma ada tiga harapan: Bila sudah keluar dari lebih saldju ini, tugas pertama jalah mentjari Suhu ketempat kediaman lama di Heng-tjiu; Kedua, mengubur abu tulang Ting-toako bersama nona Leng sebagaimana ia sendiri telah djandji pada Ting Tian dahulu dan ketiga jalah menuntut balas.

Maka sangat dia harapkan agar saldju dilembah itu dapat mentjair selekas mungkin.

Ia melihat air saldju sudah meluber sebagai air kali dan mengalir terus keluar lembah, saldju jang menutupi djalan keluar lembah itu makin hari makin susut. Ia tidak tahu masih kurang berapa hari lagi baru akan tiba hari Toan-ngo-tje, jang terang, hari keluarnja dari lembah itu sudah tidak terlalu lama lagi.

Satu petang, ia menerima dua ekor burung panggang dari Tjui Sing, selagi ia hendak putar tubuh dan menjingkir, tiba2 gadis itu berkata: “Tik-toako, lewat beberapa hari lagi kita sudah dapat keluar dari lembah ini, bukan?”

“Ehm,” sahut Tik Hun tak atjuh.

“Terima kasih padamu jang telah mendjaga keselamatanku selama ini, tanpa perlindunganmu, tentu sudah lama aku dibunuh oleh djahanam Hoa Tiat-kan itu.”

“Tidak apa2,” sahut Tik Hun sambil menggeleng. Lalu ia bertindak pergi.

Tapi baru beberapa langkah, tiba2 didengarnja suara sesenggukan dibelakang, waktu menoleh, ia melihat Tjui Sing mendekap diatas sebuah batu dan sedang menangis.

Ia mendjadi heran: “Sudah hampir bisa pulang, seharusnja merasa senang, mengapa malah menangis? Sungguh perasaan wanita memang aneh dan susah diraba.”

Malam itu, setelah melatih sebentar, Tik Hun merebah diatas batu besar jang biasanja dipakai sebagai balai2.

Djarak batu itu tidak djauh dari gua untuk mendjaga kalau2 tengah malam mereka disergap Hoa Tiat-kan. Tapi selama masa terachir ini Hoa Tiat-kan ternjata tidak muntjul lagi. Ia menduga takkan terdjadi apa2 lagi, maka tidurnja mendjadi sangat njenjak.

Tengah Tik Hun terpulas, tiba2 dari djauh samar2 seperti ada suara tindakan orang.

Lwekang Tik Hun sekarang sudah sangat tinggi, mata-telinganja djuga sangat tadjam, meski suara tindakan orang itu masih sangat djauh, tapi sudah membuatnja terdjaga bangun. Tjepat Tik Hun berduduk dan mendengarkan dengan tjermat, ia merasa djumlah orang jang datang itu tjukup banjak, paling sedikit ada 50-60 orang dan sedang menudju kearah lembah ini.

Ia terkedjut dan heran: “Mengapa mereka mampu masuk kelembah saldju ini?”

Ia tidak tahu bahwa ditengah lembah jang dikelilingi puntjak2 gunung jang tinggi itu, tjuatja disitu mendjadi lebih dingin dan berbeda daripada diluar lembah sana. Timbunan saldju diluar lembah sudah mulai lumer, tapi saldju didalam lembah belum apa2 dan paling sedikit harus 13 hari atau setengah bulan lagi baru mentjair.

Segera terpikir pula oleh Tik Hun: “Orang2 itu pasti adalah djago2 silat Tionggoan jang dahulu ikut meng-uber2 itu, kini Hiat-to Lotjo sudah mati, segala permusuhan tentu akan berachir djuga. Dan, ja, Piaukonja nona Tjui tentu djuga ikut datang untuk membawanja pulang, itulah paling baik. Tapi mereka telah anggap aku sebagai paderi tjabul dari Hiat-to-bun, untuk memberi pendjelasan rasanja tidaklah mudah, maka lebih baik aku tidak bertemu dengan mereka, biarkan nona Tjui dibawa mereka pergi mereka, lalu aku sendiri baru meninggalkan tempat ini.”

Segera ia mengitar kesamping gua sana dan mengumpet dibelakang sepotong batu karang, ia ingin tahu matjam apakah orang2 jang datang itu.

Suara tindakan orang banjak itu makin lama makin dekat. Tiba2 pandangan mata terbeliak, ternjata rombongan orang2 itu sudah muntjul dari balik bukit sana. Tangan mereka membawa obor semua.

Djumlah seluruhnja memang betul kurang lebih 50 orang, semuanja membawa obor dengan tangan kiri dan tangan kanan bersendjata.

Orang jang mengepalai didepan itu tampak berdjenggot putih, tangannja tidak membawa obor, sebaliknja bersendjata semua, tangan jang satu membawa golok dan tangan jang lain memegang pedang. Siapa lagi dia kalau bukan Hoa Tiat-kan adanja.

Semula Tik Hun agak heran mengapa Hoa Tiat-kan bisa berada bersama dengan orang2 sebanjak itu. Tapi segera ia mendjadi sadar: “Ah, orang2 itu adalah pengedjar2 dari Ouw-pak dan Su-tjwan jang pernah ikut meng-uber2 kami dahulu itu dan Hoa Tiat-kan adalah satu diantara pemimpin mereka, dengan sendirinja mereka lantas menggabungkan diri ketika saling bertemu kembali. Tapi entah hasutan apa sadja jang telah Hoa Tiat-kan katakan kepada mereka itu?”

Sementara itu rombongan Hoa Tiat-kan sudah masuk kedalam gua. Segera ia merajap madju lebih dekat, ia bertiarap di-semak2 rumput jang saldjunja masih belum tjair agar tak dipergoki pendatang2 itu. Meski djaraknja dengan rombongan Hoa Tiat-kan itu masih tjukup djauh; tapi dengan kemadjuan Lwekang jang ditjapainja dengan pesat selama ini, kini mata-telinganja sudah sangat tadjam, apa jang dipertjakapkan orang2 didalam gua itu dapat didengarnja dengan djelas. Maka terdengar suara seorang jang kasar serak sedang berkata: “Hiat-to Lotjo itu terbinasa ditangan Hoa-heng sendiri, sungguh djasa ini harus dipudji dan dikagumi. Selandjutnja Hoa-heng adalah pemimpin dunia persilatan kita di Tionggoan, kami siap sedia dibawah pimpinan Hoa-heng.”

“Sungguh sajang Liok-tayhiap, Lau-totiang dan Tjui-tayhiap bertiga telah mengalami nasib malang, hal ini benar2 sangat menjedihkan,” kata seorang lain.

“Meski Ok-tjeng tua itu sudah mampus, tapi Ok-tjeng tjilik itu masih hidup, kita harus segera mentjarinja, membabat rumput harus sampai ke-akar2nja, agar kelak tidak menimbulkan bentjana pula, betul tidak menurut pendapatmu, Hoa-tayhiap?” demikian sambung seorang lagi.

“Benar,” sahut Hoa Tiat-kan. “Siau-ok-tjeng itu tinggi djuga ilmu silatnja jang djahat, keganasannja tidak dibawah gurunja jang sudah mampus itu bahkan djauh melebihinja. Tadi demi melihat kedatangan kita, tentu tjepat2 dia berusaha hendak meloloskan diri. Marilah saudara2, djanganlah kenal lelah kita harus mentjari dan binasakan pula Siau-ok-tjeng itu.”

Diam2 Tik Hun terkesiap mendengar hasutan Hoa Tiat-kan itu, pikirnja: “Orang she Hoa ini benar2 manusia kedji, untung tadi aku tidak sembarangan undjukkan diri, kalau tidak, pasti aku akan dikerubut dan susahlah untuk melawan mereka jang berdjumlah sangat banjak itu.”

Dalam pada itu tiba2 terdengar suara seorang wanita telah mendjawab” “Dia …… dia bukan Siau-ok-tjeng, tapi adalah seorang laki2 sedjati, Hoa Tiat-kan sendirilah seorang jang maha djahat.”

Itulah suaranja Tjui Sing. Sungguh hati Tik Hun sangat terhibur, untuk pertama kalinja inilah ia mendengar gadis itu menjatakan: “Dia bukan Siau-ok-tjeng, tapi dia adalah seorang laki2 sedjati,” ~ Sungguh tak tersangka olehnja bahwa gadis jang selama ini bersikap takut dan dingin padanja ini, meski paling achir ini tidak lagi mengundjuk sikap bentji padanja, tapi berani terang2an membela kebaikannja dihadapan orang banjak, sungguh hal ini tak diduganja sama sekali. Saking terharunja sampai air mata meleleh, pelahan2 ia menggumam sendiri: “Dia mengatakan aku adalah laki2 sedjati!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: