Pedang Hati Suci (Jilid ke-12)

Setelah Tjui Sing bitjara tadi, keadaan didalam gua mendjadi sepi, agaknja orang2 itu sedang saling pandang dengan bingung.

Tik Hun tjoba mengintip, dibawah sinar obor jang terang Tik Hun melihat air muka orang2 itu penuh mengundjuk sikap djidjik dan hina.

Selang sedjenak, lalu suara seorang tua berbitjara lagi: “Tjui-titli, aku adalah sobat lama ajahmu, mau-tidak-mau aku harus mengatai kau, Siau-ok-tjeng itu telah membunuh ajahmu, tapi kau …….”

“Tidak, tidak …….” Seru Tjui Sing tak lantjar.

“Apa kau maksudkan ajahmu tidak dibunuh oleh Siau-ok-tjeng itu?” orang tua itu menjela. “Djika demikian, lalu ajahmu dibunuh oleh siapa?”

“Dia ……. dia……..” demikian Tjui Sing ingin mendjelaskan, tapi susah rasanja untuk mengutjapkan.

“Menurut tjerita Hoa-tayhiap, katanja dalam pertempuran sengit dahulu ajahmu telah kehabisan tenaga hingga tertawan musuh, kemudian Siau-ok-tjeng itu telah membunuhnja dengan mengepruk kepalanja dengan sepotong kaju, betul tidak?” tanja orang tua tadi.

“Betul, tapi …… tapi ……” sahut Tjui Sing.

“Tapi apa lagi?” potong orang tua itu.

“Ajahku sendiri jang mohon dia suka membunuhnja!” sahut Tjui Sing.

Maka ramailah seketika suara gelak tertawa didalam gua. Ditengah suara ketawa itu terseling pula kata2 jang mengedjek seperti: “Mohon dirinja dibunuh?” Hahahaha! Dusta ini benar2 terlalu menggelikan!” ~ “O, djadi Tjui-tayhiap itu sudah bosan hidup, makanja minta tjalon menantunja itu membinasakan dia sadja!” ~ “Tjalon menantu apa? Bahkan sebelum Tjui-tayhiap meninggal, Siau-ok-tjeng itu katanja sudah mengadakan hubungan dengan nona tjilik ini, hahahaha!”

Malahan diantara suara tertawa dan edjekan itu, banjak pula suara orang jang memaki kalang kabut kealamat Tjui Sing jang dianggapnja perawan hina, gadis tjabul dan matjam-matjam lagi. Orang itu adalah golongan orang Kangouw jang kasar, keruan segala kata2 kotor tidak segan2 mereka utjapkan.

Kiranja sesudah mendengar hasutan Hoa Tiat-kan, orang2 itu telah ditjekoki dengan tjerita jang dikarang Hoa Tiat-kan sendiri, maka mereka telah jakin bahwa Tjui Sing sudah menjerahkan diri kepada Tik Hun, kini mereka bertambah gemas melihat gadis itu malahan membela sang “gendak”, dari itu segala tjatji-maki itu lantas dihamburkan kepada Tjui Sing.

Keruan muka Tjui Sing merah padam, mendadak ia berteriak: “Diam! Kalian sem ……. sembarangan memaki orang? Apa kalian tidak kenal malu?”

“Hahahaha!” kembali petjah gelak tertawa orang banjak dengan matjam2 edjekan: “Eh, kami tidak kenal malu? Dan tjara kau main pat-pat-gulipat dengan Siau-ok-tjeng didalam gua itu tanpa memikirkan sakit hati orang tua, apakah ini jang dikatakan kenal malu?” “Maknja!” mendadak suara seorang jang kasar memaki. “Djauh2 Lotjo ikut menguber kemari tanpa mengenal tjapek, maksudnja ingin menolong perempuan djalang seperti kau ini. Siapa duga kau sendiri sedemikian hina-dina tak punja malu, ini, biar kumampuskan kau dulu dengan golokku!”

“He, djangan, djangan!” tjepat orang lain mentjegahnja. “Tio-heng djangan semberono!”

“Sabar, sabar dulu, saudara!” demikian suara orang tua pertama tadi berbitjara lagi. “Usia nona Tjui masih terlalu muda dan kurang pengalaman. Tjui-tayhiap telah mengalami nasib djelek hingga tertinggal nona Tjui jang sebatangkara, maka djanganlah saudara2 membikin susah padanja. Kukita selandjutnja dibawah asuhan Hoa-tayhiap, tentu nona Tjui akan dapat dididik menudju kedjalan jang benar dan itu berarti saudara2 sekalian ikut berbuat kebaikan bagi sesamanja. Tentang peristiwa dilembah pegunungan ini tidak perlu kita siarkan kedunia Kangouw demi nama baik Tjui-tayhiap. Dimasa hidupnja Tjui-tayhiap terkenal berbudi dan pengasih, kalau tidak, masakah saudara2 sudi ikut menguber kemari dari djauh guna menolong puterinja? Maka menurut pendapatku, marilah kita lekas mentjari Siau-ok-tjeng itu, kita tangkap dia dan menjembelihnja dihadapan kuburan Tjui-tayhiap guna membalas sakit hati beliau.”

Agaknja orang tua jang bitjara itu berkedudukan tjukup tinggi dan disegani jang lain2, maka lantas terdengar suara dukungan dari beberapa orang diantaranja. Kata mereka: “Benar, beanr! Apa jang dikatakan Thio-lotjianpwe itu tjukup beralasan. Marilah kita lekas mentjari Siau-ok-tjeng itu, kita ringkus dia dan mentjintjangnja hingga hantjur luluh!”

Ditengah berisik suara orang banjak jang berlainan pendapat itu, Tjui Sing mendadak menangis ter-gerung2.

Pada saat itulah kira2 dari djauh terdengar suara seruan seorang: “Piauwmoay! Piauwmoay dimana kau berada? Piauwmoay! Tjui-piauwmoay!”

Itulah suara Ong Siau-hong.

Mendengar suara sang Piauko jang sedang mentjarinja, dalam keadaan sebatang kara dan ditengah sindir-edjek orang banjak itu, mendadak telah datang seorang jang sangat dirindukan itu, keruan Tjui Sing kegirangan. Segera ia berhenti menangis dan berlari memapak keluar gua.

“Ai, Ong Siau-hong jang sedang tenggelam dilautan asmara itu bila mengetahui apa jang diperbuat kekasihnja disini, entah bagaimana hatinja akan terluka!” demikian lantas ada jang memberi komentar.

Segera siorang tua tadi berkata: “Djangan ribut dulu, saudara2, dengarkanlah usulku! ~ Hoa-tayhiap, pemuda she Ong itu sangat kesemsem kepada nona Tjui ini, sebenarnja dia sudah dua hari lebih dulu mentjari kemari tanpa menghiraukan saldju jang masih belum tjair. Mungkin ditengah djalan dia mendapat tjidera apa2 atau kesasar, maka datangnja disini malah tertinggal dibelakang kami. Begini, saudara2 berbuatlah sedikit kebaikan, pemuda itu sedemikian kesemsemnja kepada nona Tjui, maka kedjadian tentang nona Tjui dengan Siau-ok-tjeng itu hendaklah djangan dikatakan pada Ong-siauhiap.”

“Ja, setudju!” segera beberapa diantaranja jang berhati baik menjatakan akur. “Setiap orang dapat berbuat kesalahan, dan kita harus memberi kesempatan padanja untuk memperbaiki, apalagi dalam keadaan seperti nona Tjui itu sebenarnja djuga sangat terpaksa, kalau tidak, masakah seorang gadis baik2 sudi main gila dengan seorang Hweshio kedjam jang tak keruan matjamnja itu?”

Tapi ada djuga jang menanggapi: “Sungguh sial Ong Siau-hong itu, seorang pemuda gagah ganteng mesti mentjintai seorang gadis jang sebenarnja hina-dina, benar2 tjelaka. Hahaha!”

Begitulah tengah mereka bitjara, sementara itu suara teriakan Ong Siau-hong tadi kedengaran makin mendjauh malah, agaknja dia tidak tahu letak gua itu, dimana kawan2nja berada, maka telah membiluk kedjurusan lain.

Tjepat Tjui Sing berlari kedepan dan berseru: “Piauko, Piauko! Aku berada disini, aku berada disini!”

Sungguh girang Ong Siau-hong melebihi orang putus lotere 25 djuta ketika mendadak mendengar suara djawaban sang Piauwmoay.

“Piauwmoay, benar2 kau? Piauwmoay! Dimana kau? Piauwmoay!” serunja pula.

“Aku berada disini, Piauko!” sahut Tjui Sing.

Maka tertampaklah dari arah timur-laut sana ada suatu orang sedang mendatangi setjepat terbang. Sambil berlari orang itupun ber-teriak2: “Piaumoay! Piauwmoay!”

Mendadak orang itu jang tiada lain adalah Ong Siau-hong ~ terpeleset hingga djatuh terbanting. Rupanja saking girang demi mendengar suara Tjui Sing tadi, Siau-hong mendjadi lupa daratan dan berlari terlalu napsu, maka sebelah kakinja telah kedjeblos kedalam satu lubang hingga dia terdjungkal. Tapi begitu djatuh, segera ia melompat bangun untuk kemudian lantas berlari pula.

Melihat sang Piauko tiba2 djatuh, Tjui Sing berteriak kaget dan kuatir, tjepat iapun berlari memapak kedepan. Makin lama makin mendekat djarak kedua muda-mudi itu, sampai achirnja keduanja lantas saling berpelukan dengan terharu.

Sudah lama nama mereka terkenal sebagai “Leng-kiam-siang-hiap”, sepasang pendekar muda jang tersohor, sedjak ketjil mereka berkumpul dan dibesarkan bersama, sudah tentu mereka mendjadi girang tak terhingga dapat bertemu kembali sesudah mengalami marabahaja jang penuh gemblengan itu.

Dari djauh Tik Hun dapat menjaksikan djuga pelukan mesra antara Tjui Sing dan Ong Siau-hong itu. Aneh djuga, entah mengapa timbul djuga sematjam perasaannja jang rada tjemburu.

Sebenarnja selamanja Tik Hun takkan melupakan Djik Hong, meski dia sudah tinggal selama setengah tahun dilembah bersaldju ini bersama Tjui Sing dan selama itu tidak pernah timbul sesuatu perasaaan antara pria dan wanita. Tjuma sesudah tinggal bersama sekian lamanja dan kini mesti berpisah, mau-tak-mau lantas timbul sematjam rasa berat.

Pikirnja kemudian: “Ja, biarlah dia ikut pulang bersama Piauwkonja, itulah djalan paling baik, semoga ‘Leng-kiam-siang-hiap’ mereka hidup bahagia sampai hari tua.”

Mendadak didengarnja suara tangisan Ong Siau-hong, mungkin berduka ketika Tjui Sing memberitahu tentang meninggalnja Tjui Tay.

Selang tak lama, tertampaklah Tjui Sing putar balik ketempat gua sambil bergadengan tangan dengan Ong Siau-hong. Dengan suara sesenggukan pemuda itu sedang berkata: “Sedjak ketjil aku dibesarkan Kuku, sungguh aku sangat berduka atas wafatnja, terutama bila teringat kebaikan Kuku jang selama ini menganggap aku sebagai putera sendiri”.

Mendengar sang Piauko menjinggung sang ajah, Tjui Sing mendjadi ikut sedih dan mentjutjurkan air mata pula.

“Piauwmoay,” kata Siau-hong dengan suara pelahan, “selandjutnja kita berdua tidak boleh berpisah lagi, djanganlah kau berduka, selama hidup ini aku pasti akan mendjaga dirimu se-baik2nja.”

Sedjak ketjil Tjui Sing memang sudah sangat mentjintai sang Piauko, lebih2 sesudah berpisah sekian lamanja, sesungguhnja siang-malam ia sangat merindukan pemuda pudjaannja itu. Kini mendengar djandji sang Piauko pula, keruan alangkah bahagia rasa hatinja. Begitulah mereka berdjalan berendeng kearah gua. Tapi setelah dekat, tiba2 Tjui Sing berhenti dan berkata: “Piauko, marilah sekarang djuga kita pergi sadja dari sini, aku tidak ingin melihat orang2 itu.”

“Sebab apa?” tanja Siau-hong dengan heran. “Para paman dan kawan2 jang ikut mentjari kemari itu dengan tekad bulat bertudjuan menjelamatkan dirimu, dengan tak kenal pajah mereka rela menderita selama setengah tahun diluar lembah sana, sungguh rasa setia kawan mereka itu harus dipudji dan dikagumi, masakah kau tidak mengutjapkan terima kasih apa2 dan lantas tinggal pergi begini sadja?”

“Aku …….. aku sudah berterima kasih kepada mereka,” udjar Tjui Sing dengan menunduk.

“Mereka ber-sama2 datang kesini dari tempat djauh, kalau sekarang kitapun pulang setjara be-ramai2, bukankah tjara ini lebih baik?” kata Siau-hong. Pula djenazah Kuku harus dibojong kembali ketanah leluhur, andaikan dibiarkan bersemajam untuk selamanja disini djuga kita mesti minta persetudjuan dulu dari para Lotjianpwe jang ikut hadir itu. Dan bagaimanakah dengan Liok-pepek, Lau-totiang dan Hoa-pepek?”

“Marilah kita pergi dulu, nanti akan kudjelaskan padamu.” Adjak Tjui Sing. “Hoa-pepek adalah manusia djahanam, djangan kau suka pertjaja kepada obrolannja jang ngatjo!”

Biasanja Ong Siau-hong tidak suka membangkang segala keinginan sang Piauwmoay, maka demi sigadis berkeras adjak pergi, sebenarnja Siauw-hong sudah menjerah dan bermaksud menuruti keinginan Tjui Sing. Tapi sebelum dia mendjawab, tiba2 dimulut gua sana seorang telah menegur padanja: “Ong-hiantit, baru sekarang kau tiba? Marilah kesini!”

Itulah suara Hoa Tiat-kan. Maka tjepat Siau-hong mendjawab: “Baik, Hoa-pepek!”

Keruan Tjui Sing mendjadi kuatir, dengan membanting kaki ia berkata: “Djadi kau tidak mau turut lagi pada omonganku?”

Sedjenak Siau-hong mendjadi ragu2. Tapi segera terpikir olehnja: “Hoa-pepek adalah angkatan tua dari Bu-lim, perintah orang tua mana boleh dibangkang? Apalagi para kawan jang telah bantu mentjarikan Piauwmoay tanpa kenal lelah itu masih belum ditemui barang sekedjap lantas kutinggal pergi tanpa pamit, hal ini sesungguhnja tidak pantas. Piauwmoay masih bersifat kanak2, asal sebentar lagi aku menimangnja dan minta maaf padanja, tentu dia takkan marah padaku.” ~ Maka tangan Tjui Sing lantas digandengnja dan menudju kegua.

Tjui Sing tahu apa jang akan dibitjarakan Hoa Tiat-kan nanti tentu takkan menguntungkan dirinja, tapi lantas terpikir olehnja: “Aku sutji bersih dan tidak berdosa, biarpun mereka akan mempitenah dan menjangka djelek padaku, kenapa aku mesti takut?” ~ Maka iapun tidak membantah lagi dan ikut Ong Siau-hong menudju kegua, tjuma wadjahnja mendjadi putjat pasi.

Setiba didepan gua, berkatalah Hoa Tiat-kan. “Ong-hiantit, kebetulan kau sudah datang, Hiat-to-ok-tjeng sudah kubunuh, tinggal seorang Siau-ok-tjeng jang berhasil lolos, marilah kita harus menangkapnja lagi untuk dibinasakan. Siau-ok-tjeng itu adalah pembunuh Kukumu.”

“Sret”, mendadak Siau-hong lolos pedangnja, sambil berteriak gusar. Sedjak ketjil ia dipelihara Tjui Tay, budi kebaikan pendekar besar itu dirasakannja bagaikan orang tua sendiri, kini mendengar pembunuhnja belum tertangkap, keruan ia mendjadi murka dan bertekad akan mentjarinja. Dan begitu melolos pedang, segera ia berpaling kearah Tjui Sing untuk melihat bagaimana sikap sang Piauwmoay.

Dibawah sinar obor jang terang, terlihatlah air muka sang Piauwmoay jang sudah setengah tahun berpisah itu dalam keadaan putjat pasi, hati Siau-hong mendjadi sedih dan kasihan. Tapi dilihatnja pula gadis itu sedang menggeleng kepala pelahan atas tindakannja melolos pedang itu.

Tjepat Siau-hong menanja: “Kenapa, Piauwmoay?”

“Ajahku bukan dibunuh oleh …….. oleh orang itu,” kata Tjui Sing.

Mendengar utjapan ini, seketika orang2 jang sudah berkerumun itu mendjadi gusar. Kata mereka didalam hati. “Sungguh perempuan rendah! Kami telah ikut berkorban bagimu, bahkan demi nama baikmu dimasa hidup jang akan datang dan demi kehormatan Tjui-tayhiap kami sengadja menutupi perbuatanmu jang tidak kenal malu dengan Siau-ok-tjeng itu, tapi sampai sekarang kau masih membela paderi djahat ini, sungguh dosamu ini tak berampun!”

Dilain pihak Ong Siau-hong mendjadi heran demi melihat wadjah semua orang mengundjuk rasa gusar. Dasarnja dia memang seorang pemuda tjerdik dan pintar, segera terpikir olehnja mengapa Tjui Sing tadi tidak mau bertemu dengan orang2 ini dan sekarang orang2 inipun bersikap memusuhi sang Piauwmoay, pasti dibalik kesemuanja ini terdapat rahasia apa2.

Segera Siau-hong berkata: “Piaumoay, marilah kita menurut maksud Hoa-pepek, lebih dulu kita tangkap Siau-ok-tjeng itu untuk mentjatjahnja hingga hantjur lebur untuk menjembajangi arwah Kuku. Dan djika masih ada urusan lain lagi, biarlah kita kesampingkan untuk sementara ini.”

“Dia …… dia bukan Siau-ok-tjeng,” kata Tjui Sing pula.

Siau-hong melengak dan bingung. Dan ketika dilihatnja pula sikap semua orang mengundjuk djidjik dan menghina pada sang Piauwmoay, kembali ia terkesiap, lapat2 ia merasa ada sesuatu jang tidak beres didalamnja. Tapi ia tidak ingin lantas mengusut rahasia apa jang disembunjikan itu, segera katanja pula dengan suara keras. “Para paman, para saudara dan sobat2 baik, marilah sekali lagi mohon kalian suka mentjurahkan sedikit tenaga untuk menjelesaikan urusan ini. Habis Siau-ok-tjeng itu tertangkap, satu-persatu pasti aku orang she Ong akan menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan kalian.” ~ Habis berkata, lebih dulu ia lantas membungkuk untuk memberi hormat.

“Ja, marilah kita mentjari Siau-ok-tjeng itu, kita harus bergerak setjepatnja agar paderi djahanam itu tidak keburu melarikan diri lebih dulu!” seru semua orang be-ramai2. Berbareng mereka lantas menerdjang keluar gua dengan ber-bondong2.

Maka hanja dalam sekedjap sadja didalam gua itu mendjadi sepi tertinggal Tjui Sing dan Ong Siau-hong berdua. Entah siapa jang membuang obornja didepan gua, sinar api obor jang sebentar terang sebentar gelap itu membikin suasana didalam gua itu djadi seram.

Wadjah “Leng-kiam-siang-hiap” djuga sebentar terang sebentar gelap, kedua muda-mudi berhadapan sambil tangan bergandeng tangan, banjak sekali isi hati masing2, tapi entah tjara bagaimana mereka harus mulai bitjara.

Diam2 Tik Hun membantin: “Kedua saudara misan telah bertemu kembali sesudah terpisah sekian lamanja, tentu banjak kata-kata mesra jang ingin mereka utarakan, kalau aku ikut mendengarkan disini rasanja tidaklah pantas.”

Dan selagi Tik Hun bermaksud merajap pergi, tiba2 didengarnja suara tindakan dan dua orang sedang menudju ketempat sembunyinja itu. Terdengar seorang diantaranja sedang berkata: “Tjoba kau mentjari kearah sana, aku akan mentjari dari sebelah sini, sesudah satu keliling, nanti kita bertemu kembali disini.”

“Baik,” sahut seorang lain “Eh, disekitar sini banjak bekas tapak kaki, mungkin Siau-ok-tjeng itu bersembunji disekitar sini, kita harus hati2 mentjarinja!”

“He, Lau Song,” tiba2 orang jang pertama berkata pula dengan menahan suara: “Nona Tjui itu tjantik molek, selama setengah tahun ini, sungguh redjeki Siau-ok-tjeng itu bukan main besarnja setiap hari dilajani seorang gadis djelita seperti nona Tjui!”

“Hahaha! Memang benar!” demikian sahut kawannja dengan ter-bahak2. “Pantas orang she Ong itu tidak pikirkan hal itu dan rela menerima ‘barang bekas’. Habis susah sih mentjari gadis setjantik itu.”

Begitulah kedua orang itu sambil berkelakar dan ter-bahak2 lalu terpentjar untuk mentjari “Siau-ok-tjeng” alias Tik Hun.

Rupanja mereka tidak tahu bahwa Ong Siau-hong dan Tjui Sing masih berada didalam gua, mereka mengira bahwa muda-mudi itu tentu sudah ikut keluar gua untuk mentjari musuh, maka tjara bitjara mereka mendjadi tidak tedeng aling2 hingga pembitjaraan jang tidak sedap itu dapat didengar semua oleh Siau-hong dan Tjui Sing.

Sudah tentu Tik Hun ikut mendengar semua pembitjaraan kedua orang tadi, diam2 ia merasa pedih bagi kedua muda-mudi jang didjadikan bulan2an itu, pikirnja: “Hoa Tiat-kan itu benar2 maha djahanam, dia sengadja mengarang tjerita2 kotor jang tidak benar itu untuk merusak nama baik nona Tjui, apa paedahnja sih baginja?”

Ketika ia mengintip lagi kedalam gua, ia melihat Tjui Sing sedang mundur2 kebelakang dengan wadjah putjat dan badan gemetar, katanja dengan suara ter-putus2: “Piau …… Piauko, djangan kau pertjaja pada ……pada omongan mereka jang ngatjo-belo!”

Siau-hong tidak mendjawab, tapi mukanja tampak ber-kerut2 menahan perasaan. Terang utjapan kedua orang tadi se-akan2 ular berbisa jang telah memagut lubuk hatinja. Selama setengah tahun ini dia menanti diluar lembah bersaldju itu, siang-malam selalu terpikir djuga olehnja: “Piauwmoay berada ditjengkeram kedua paderi tjabul itu, rasanja sulitlah baginja untuk mempertahankan kesutjian badannja. Asal djiwanja tidak terganggu, rasaku sudah puas dan berterima kasih kepada langit dan bumi.”

Akan tetapi tiada manusiapun jang mempunjai batas rasa puas. Djika dulu ia berpikir begitu, adalah sekarang sesudah bertemu kembali dengan Tjui Sing, ia berharap pula agar gadis itu dapat mendjaga diri tetap dalam keadaan sutji bersih. Dan demi mendengar pertjakapan kedua orang tadi, diam2 ia memikir: “setiap orang Kangouw sudah mengetahui peristiwa ini, sebagai seorang laki2 sedjati, aku Ong Siau-hong masakah terima dibuat tertawaan orang?”

Tapi demi nampak keadaan Tjui Sing jang harus dikasihani itu, kembali hatinja lemas lagi, ia menghela napas sambil menggeleng kepala, katanja kemudian: “Sudahlah, mari kita pergi, Piauwmoay!”

“Tapi kau pertjaja tidak kepada utjapan orang2 itu?” tanja Tjui Sing.

“Kata2 iseng orang luar jang tak keruan itu buat apa mesti digubris?” sahut Siau-hong.

“Tapi, kau pertjaja tidak?” Tjui Sing menegas pula sembari gigit bibir sendiri.

Siau-hong ter-mangu2 sedjenak, kemudian ia menjahut: “Baiklah, aku takkan pertjaja!”

“Tapi didalam hati kau masih ragu2, bukan? Kau pertjaja penuh omongan mereka, bukan?” kata Tjui Sing. Dan sesudah merandek sedjenak, kemudian sambungnja pula. “Sudahlah, selandjutnja kau tidak perlu bertemu dengan aku lagi, anggaplah aku sudah mati didalam lembah bersaldju ini.”

“Ai, Piauwmoay, kenapa kau berkata demikian,” sahut Siau-hong.

Sungguh pedih sekali rasa hati Tjui Sing, air matanja lantas bertjutjuran. Jang dipikirnja sekarang hanja selekasnja dapat meninggalkan lembah saldju itu dan meninggalkan orang banjak, ia ingin menjingkir kesuatu tempat jang tak dikenalnja, suatu tempat jang djauh dari manusia. Segera ia angkat kaki dan berlari keluar gua, tapi baru ia melangkah keluar gua, tanpa merasa ia menoleh kepodjok dalam gua itu.

Selama setengah tahun ini dipodjok gua itu dia berteduh siang dan malam, meski tiada suatu alat perabot apa2, tapi dasarnja gadis itu memang radjin dan suka akan kebersihan, maka banjak djuga barang keradjinan tangan jang telah dibuatnja dari bulu burung seperti tikar, kasur dan sebagainja. Kini mendekati detik akan berpisah dengan barang2 jang berdampingan selama setengah tahun dengan dirinja itu, betapapun ia merasa berat djuga.

Tiba2 terlihat olehnja mantel bulu jang pernah dihadiahkannja kepada Tik Hun dahulu itu. Hatinja tergerak segera dan teringat kepada pemuda itu: “Orang itu bergembar-gembor katanja dia adalah paderi tjabul dan bertekad akan membunuhnja. Pabila dia diketemukan mereka, dalam keadaan satu lawan musuh sebanjak itu, apakah dia sanggup menjelamatkan diri?”

Tanpa merasa ia putar balik ketempat tidurnja itu, ia ambil mantel bulu itu dan dipandangnja dengan ter-mangu2 hingga sekian lamanja.

Melihat badju bulu itu terletak ditempat Tjiu Sing, sedangkan badju itu tampak tjukup longgar dan besar, bentuknja adalah mantel orang laki2, mau-tak-mau Siau-hong mendjadi tjuriga. Segera ia menanja: “Badju apakah itu?”

“Badju bulu jang kubuat sendiri,” sahut Tjui Sing.

“Apakah untuk kau pakai sendiri?” Siau-hong menegas.

Hampir2 Tjui Sing ketelandjur mendjawab bukan, tapi segera ia merasa tidak tepat djawaban itu, ia mendjadi ragu2 hingga tidak menjahut.

“Bentuknja seperti badju lelaki?” tanja Siau-hong pula, suaranja bertambah kaku, suatu tanda hatinja dirangsang rasa gusar.

Tjui Sing mengangguk tanpa mendjawab.

“Kau jang bikin untuk dia?” tanja Siau-hong lagi.

Kembali Tjui Sing mengangguk.

Siau-hong mengambil badju bulu itu dan memeriksanja sedjenak, lalu katanja: “Ehm, bagus sekali buatanmu ini.”

“Piauko,” tiba2 Tjui Sing membuka suara, “djanganlah kau memikir jang tidak2, dia dan aku tiada ……. tiada ……….” ~ ia tidak melandjutkan utjapannja demi melihat sorot mata Siau-hong mengundjuk sesuatu sikap jang aneh.

Mendadak Siau-hong membanting badju bulu itu ketempat tidur Tjui Sing sambil berkata dengan nada mengedjek: “Hm, badjunja mengapa berada ditempat tidurmu?”

Seketika Tjui Sing merasa hampa, sungguh tak tersangka olehnja sang Piauko jang biasanja menjandjung pudja padanja itu kini mendadak bisa berubah begitu kasar dan mendjemukan. Dalam dongkolnja iapun tidak sudi banjak memberi pendjelasan lagi, pikirnja: “Ja, sudahlah, djika kau bertjuriga dan menuduh aku berbuat serong, bolehlah kau bertjuriga dan menuduh sesukamu, buat apa aku mesti memohon belas kasihanmu untuk memahami penasaranku?”

Dari tempat sembunjinja Tik Hun dapat mengikuti keadaan didalam gua itu dengan djelas, ia melihat Tjui Sing menanggung penasaran karena disangka menjeleweng dari garis2 kesusilaan, air muka gadis itu tampak sangat tjemas dan sedih, diam2 Tik Hun ikut merasa tidak enak, pikirnja: “Aku Tik Hun sudah biasa didakwa dan dipitenah orang setjara se-mena2, bagiku hal2 itu tidak mendjadi soal. Tapi nona Tjui, seorang lemah lembut jang tak berdosa, mana boleh dia dibiarkan menanggung tuduhan jang tak benar itu?”

Berpikir begitu, djiwa kesatria Tik Hun seketika terbangkit, meski dia tjukup tahu dirinja sedang ditjari ber-puluh2 djago silat Tionggoan diluar gua sana, kalau kepergok mereka, pasti djiwanja tak mungkin diampuni. Tapi ia tidak dapat berpikir pandjang lagi, sekali lompat segera ia menjusup kedalam gua lagi dan berseru: “Ong Siau-hong, salah besar apa jang telah kau pikir itu!”

Tjui Sing dan Siau-hong terkedjut semua ketika mendadak nampak seorang menerobos kedalam gua. Kini Tik Hun tidak gundul lagi seperti dulu, rambutnja sudah panjang kembali, sesudah memperhatikan sedjenak barulah Ong Siau-hong dapat mengenalnja. Tjepat ia lolos pedangnja, tangan lain lantas dorong mundur Tjui Sing, dengan pedang siap melintang didepan dada, sedapat mungkin ia tenangkan diri untuk menghadapi musuh.

“Kedatanganku ini bukan untuk mengadjak berkelahi padamu,” kata Tik Hun. “Aku ingin mengatakan padamu, nona Tjui adalah seorang gadis jang sutji bersih, seorang perawan ‘ting-ting’, djika kau memperisterikan dia, sungguh redjekimu tak terperikan besarnja. Maka djangan kau sembarangan berprasangka atas dirinja.”

Sungguh sama sekali Tjui Sing tidak menjangka bahwa didalam saat demikian itu mendadak Tik Hun bisa tampil kemuka tanpa mengenal bahaja jang akan mengantjam padanja, hanja demi untuk membuktikan kebersihan Tjui Sing jang dituduh setjara kotor oleh orang banjak itu. Sungguh rasa terima kasih Tjui Sing tak terhingga dan berkuatir pula, maka segera katanja: “Lekas ……. lekas kau pergi sadja dari sini, semua orang ingin membunuh kau, disini terlalu bahaja bagimu.”

“Aku tahu, tapi aku harus mendjelaskan urusan ini kepada Ong-siauhiap, pertjajalah padaku, nona Tjui adalah seorang gadis sutji bersih, djangan ……. djangan kau sembarangan mempitenah dia.”

Dasarnja Tik Hun memang tidak pandai bitjara, biarpun sesuatu urusan biasa sadja djuga susah berbitjara setjara terang, apalagi urusan sekarang ini adalah sesuatu jang rumit dan penting hingga apa jang dikatakan itu ternjata belum melenjapkan rasa tjuriganja Ong Siau-hong.

Sudahlah, lekas kau pergi sadja! Terima kasih atas maksud baikmu, biarlah kubalas padamu didjelmaan hidup jang akan datang,” demikian kata Tjui Sing dengan terharu. “Nah, lekaslah kau pergi dari sini, mereka ingin membunuh kau ……..”

Mendengar utjapan Tjui Sing jang penuh memperhatikan keselamatan “Siau-ok-tjeng” itu, rasa tjemburu Siau-hong mendjadi ber-kobar2. Bentaknja mendadak: “Rasakan pedangku!” ~ Berbareng itu pedangnja terus menusuk kedada Tik Hun.

Meski serangan itu dilakukan dengan sangat tjepat dan teramat lihay, tapi Tik Hun sekarang sudah bukan Tik Hun dulu lagi. Kini Tik Hun telah memiliki ilmu2 silat kelas wahid “Sin-tjiau-kang” dan “Hiat-to-bun” sekaligus, dengan kedua matjam ilmu sakti dari dua aliran jang berbeda itu, biarpun sekarang Ting Tian dan Hiat-to Lotjo hidup kembali djuga belum tentu mampu menandinginja.

Ketika melihat serangan Ong Siau-hong tiba, sedikit Tik Hun mengegos sadja dapatlah ia menghindarkan tusukan itu. Katanja: “Aku tidak ingin bergebrak dengan kau. Tapi aku mengharap engkau suka mengambil nona Tjui sebagai isteri, djanganlah bertjuriga sedikitpun atas kesutjiannja, dia …. dia adalah seorang nona jang baik.”

Diwaktu Tik Hun bitjara, susul-menjusul Ong Siau-hong sudah melantjarkan serangan2 pula setjara gentjar. Tapi seperti tidak terdjadi apa2 sadja Tik Hun dapat berkelit kian kemari dengan mudah. Diam2 Tik Hun heran: “Aneh, ilmu silat orang ini dahulu sangat bagus, mengapa selama setengah tahun ini dia tiada kemadjuan, sebaliknja mundur malah?”

Rupanja ia salah sangka, bukanlah ilmu pedang Ong Siau-hong tiada kemadjuan, tapi dia sendirilah jang selama ini ilmu silatnja telah madju pesat. Padahal Ong Siau-hong tjuma tergolong djago kelas dua atau tiga dikalangan Bu-lim, sebaliknja Tik Hun sekarang sudah memiliki dua matjam ilmu silat dari dua aliran Tjing dan Sia jang hebat, ketjuali pengalaman kurang dan praktek menghadapi musuh masih harus ditambah, tapi dalam hal ilmu silat sedjati kini dia boleh dikata sudah tergolong kelas tertinggi jang djarang ada tandingannja.

Maka sia2 sadja Ong Siau-hong menjerang ber-ulang2, setiap tusukannja selalu dapat dihindarkan Tik Hun seperti tiada terdjadi apa2 sadja. Keruan Siau-hong bertambah murka, ia menjerang makin gentjar dan tjepat.

“Ong-siauhiap,” kata Tik Hun, “asal kau berdjandji takkan mentjurigai nona Tjui dan aku segera akan pergi dari sini. Kawan2mu itu akan membunuh diriku, aku tidak boleh tinggal terlalu lama disini.” ~ Sembari bitjara, tetap ia menghindarkan serangan2 Siau-hong dengan seenaknja sadja.

Dalam murkanja, permainan Kiam-hoat Ong Siau-hong semakin lama semakin tjepat. Dalam hal Ginkang Tik Hun memang belum mentjapai tingkatan jang sempurna, maka lambat-laun ia mendjadi kewalahan djuga menghadapi serangan pedang jang terlalu gentjar itu. Mendadak ia intjar batang pedang lawan, sekali djarinja menjentil, “trang”, kontan Ong Siau-hong merasa genggamannja kesakitan, pegangannja mendjadi kendur, pedang terlepas dari tangan dan djatuh ketanah.

Segera Siau-hong bermaksud mendjemput kembali sendjatanja itu, diluar dugaan Tik Hun terus melangkah madju dan mendorong pundaknja. Dorongan itu sebenarnja tidak keras, tak terduga Siau-hong tak sanggup lagi bertahan ia terdorong djatuh hingga terguling2 kebelakang, “bluk”, tubuhnja tertumbuk di dinding gua dengan keras.

Dasar hati Tjui Sing memang badjik, apalagi sedjak ketjil sudah bergaul dengan baik dengan sang Piauko, kini melihat Siau-hong terdjungkal sedemikian berat, lekas2 ia memburu madju untuk membangunkannja.

Sebaliknja Tik Hun mendjadi melongo dan terpatung ditempatnja, sungguh bukan maksudnja hendak mendorong djatuh Ong Siau-hong, sebenarnja ia tjuma bertudjuan mentjegah agar pemuda itu tidak djemput kembali pedangnja, siapa duga begitu Ong Siau-hong terbentur oleh tenaganja, kontan sadja terpental begitu berat seperti anak ketjil bertabrakan dengan manusia raksasa.

“Ma …… maaf, aku tidak sengadja!” kata Tik Hun kemudian sambil melangkah madju.

Sementara itu Tjui Sing sedang menarik lengan kanan Siau-hong sambil bertanja: “Piauko, tidak apa2, bukan?”

Gusar dan tjemburu Ong Siau-hong tak tertahankan lagi, ia anggap Tjui Sing telah tjondong kepihak Tik Hun, sesudah dirinja dihadjar kini sengadja hendak menjindir padanja. Maka tanpa mendjawab terus sadja tangan kirinja menampar, “plok”, tepat pipi Tjui Sing kena digampar sekali. “Enjahlah!” bentak Siau-hong.

Keruan Tjui Sing terkedjut, sungguh tak tersangka olehnja bahwa sang Piauko jang biasanja ramah-tamah dan suka merendah padanja itu kini bisa memukul padanja. Seketika Tjui Sing mendjadi ter-longong2 malah sambil me-raba2 pipi jang digampar itu.

Sebaliknja Tik Hun mendjadi gusar, bentaknja: “Tanpa sebab apa2, mengapa kau memukul orang?”

Pada saat itulah dari luar gua lantas terdengar suara orang ber-lari2 mendatangi dan beberapa diantaranja lantas ber-teriak2: “He, didalam gua ada suara orang bertengkar, lekas periksa kedalam situ, djangan2 Siau-ok-tjeng itu bersembunji didalam gua?”

Tjepat Tjui Sing berkata kepada Tik Hun: “Lekas kau pergi sadja, aku … sangat berterima kasih kepada maksud baikmu.”

Untuk sedjenak Tik Hun memandang Tjui Sing, lalu pandang Ong Siau-hong pula, kemudian djawabnja: “Baiklah, aku akan pergi sadja!” ~ segera ia putar tubuh dan bertindak keluar gua.

Se-konjong2 Ong Siau-hong terus ber-teriak2″ “Siau-ok-tjeng itu berada disini! Paderi tjabul itu berada disini! Lekas tjegat pintu gua, djangan sampai dia lolos!”

“Piauko,” seru Tjui Sing dengan kuatir, “tjaramu ini bukankah akan bikin susah pada orang baik?”

Tapi bukannja berhenti, sebaliknja Ong Siau-hong berteriak lebih keras lagi: “Lekas tjegat pintu gua, lekas! Siau-ok-tjeng akan lari!”

Mendengar suara itu, segera beberapa orang diluar gua sana terus memburu madju untuk menghadang dimulut gua agar Tik Hun tidak dapat lolos.

Dan begitu melihat Tik Hun sedang mendatangi dengan langkah lebar, salah seorang pentjegat itu lantas menggertak: “Hendak lari kemana!” ~ berbareng goloknja terus membatjok keatas kepala Tik Hun.

Namun sedikit Tik Hun mengegos, luputlah serangan itu, bahkan ketika Tik Hun tolak kedada orang itu terus didorong pergi, kontan orang itu terpental keluar hingga tiga orang kawannja jang berdiri dibelakangnja ikut terseruduk, sekaligus empat orang itu terdjungkal bersama dengan kepala dan muka bendjut karena saling bentur.

Dan ditengah bentakan dan makian orang2 itulah dengan tjepat Tik Hun lantas menerobos keluar gua.

Rupanja suara ribut2 itu telah didengar djuga oleh djago2 Tionggoan jang lain hingga be-ramai2 mereka memburu datang dari berbagai djurusan. Namun Tik Hun sudah melarikan diri tjukup djauh. Segera ada tudjuh-delapan djago kelas tinggi menguber kearahnja. Tapi Tik Hun tidak ingin bertempur dengan mereka, ia pilih termpat semak2 rumput jang lebat untuk bersembunji, ditengah malam buta, djedjaknja takbisa diketemukan lagi oleh pengedjar2 itu.

Karena mengira Tik Hun telah lari keluar lembah saldju itu, ber-bondong2 para djago Tionggoan itu lantas ikut mengedjar keluar lembah. Dari tempat sembunjinja Tik Hun dapat menjaksikan kepergian orang2 itu, ia melihat Ong Siau-hong dan Tjui Sing berdjalan paling belakang, meski djarak kedua muda-mudi itu terpisah agak djauh, tapi arah jang mereka tudju adalah sama, makin djauh hingga achirnja bajangan merekapun lenjap dibalik bukit.

Hanja sebentar sadja lembah saldju jang tadinja riuh ramai oleh berisik manusia itu kini telah berubah mendjadi sunji senjap.

Para djago Tionggoan itu sudah pergi semua, Hoa Tiat-kan djuga tiada lagi, Tjui Sing pun sudah berangkat, hanja tinggal Tik Hun seorang diri. Ia tjoba mendongak, sampai elang pemakan bangkai jang biasanja suka ber-putar2 diangkasa itupun sekarang tak tertampak lagi.

Suasana benar-benar hening sepi, sekarang Tik Hun benar-benar merasakan keadaan jang sebatangkara ……………………

***********

Tik Hun tinggal pula setengah bulan dilembah saldju itu. Lwekang dan To-hoat jang diperolehnja dari “Hiat-to-keng” itu telah dilatihnja hingga masak dan sempurna betul, rasanja sudah tak mungkin akan lupa, lalu ia membakar “Hiat-to-keng” itu, ia taburkan abu kitab pusaka Hiat-to-bun itu diatas kuburan Hiat-to Lotjo.

“Sudah saatnja kini aku harus berangkat!” demikian pikirnja. “Ehm, badju bulu burung ini tidak perlu kubawa, biarlah kalau segala urusan sudah kubereskan, segera aku akan kembali kelembah bersaldju jang selamanja tiada ditinggali manusia ini, selama hidupku biarlah kulewatkan disini. Hati manusia didjagat ini terlalu kedjam dan tjulas, aku tidak sanggup menghadapinja!”

Begitulah Tik Hun lantas meninggalkan lembah itu dan menudju kearah timur.

Tudjuannja jang pertama jalah pulang kekampung halaman sang guru ~ Djik Tiang-hoat ~ jang berada di Ouwlam itu. Ia ingin tahu bagaimana keadaan orang tua jang sudah berpisah sekian lamanja itu. Sedjak ketjil Tik Hun sudah jatim-piatu, ia dibesarkan oleh gurunja itu, maka melulu sang guru itulah merupakan pamili satu2nja didunia ini. Walaupun perasaannja kepada Suhunja sekarang sudah djauh berbeda daripada waktu dahulu, tapi ia harus mentjari tahu dan menjelidikinja hingga djelas.

Dari wilajah Tibet menudju ke Ouwlam harus melalui Sutjwan. Tik Hun pikir bila ditengah djalan kepergok pula dengan djago2 Tionggoan itu, tentu tak terhindar dari suatu pertarungan sengit, padahal dirinja dengan mereka toh tiada punja permusuhan dan sakit hati apa2, kenapa mesti terdjadi pula pertarungan jang tidak bermanfaat itu? Adapun sebab-musabab daripada apa jang terdjadi dahulu hakikatnja tjuma salah paham belaka, jaitu gara2 ia mebubut rambutnja sendiri hingga pelontos, lalu disangka sebagai Siau-ok-tjeng dari Hiat-to-bun jang djahat itu.

Karena itulah, untuk menghindari kesulitan2 ditengah djalan, ia lantas menjamar sedikit, ia gosok muka sendiri dengan hangus kuali hingga kelihatan kotor dan hitam mirip seorang pengemis dekil, lalu melandjutkan perdjalanan ketimur. Benar djuga ditengah djalan terkadang bertemu dengan djago2 jang pernah ikut menguber dirinja itu, tapi mereka tiada jang dapat mengenalnja, bahkan tidak memperhatikannja.

Kira2 lebih 20 hari, achirnja sampailah Tik Hun dikampung halamannja, jaitu di Moa-keh-po dipropinsi Ouwlam barat.

Tatkala itu hawa udara sudah sangat panas, ia melihat tanaman sawah-ladang menghidjau permai. Semakin dekat dengan kampung halamannja, semakin banjak perasaan2 jang berketjamuk dalam benaknja, pelahan2 mukanja terasa panas, debaran hatinja djuga makin keras.

Ia terus menjusuri djalan pegunungan jang sudah biasa dilaluinja diwaktu muda dahulu, achirnja tibalah dia dirumah tinggalnja jang lama. Ketika ia memandang, mau-tak-mau ia mendjadi kaget, hampir2 ia tidak pertjaja pada matanja sendiri.

Ternjata ditepi kali dibawah pohon Liu jang rindang, dimana dulu berdiri tiga petak rumah ketjil gurunja itu kini telah berubah mendjadi sebuah gedung jang megah, gedung itu berdinding putih dan bergenting hitam mengkilap. Gedung itu sedikitnja tiga kali lebih besar daripada rumah2 ketjil semula itu. Kalau dipandang lebih tjermat, bangunan gedung itu walaupun tidak terlalu indah, bahkan seperti dibangun setjara ter-gesa2, tapi kemegahannja sudah bolehlah.

Sungguh kedjut dan girang sekali Tik Hun, ia tjoba memeriksa sekeliling situ, ia memang tidak salah lagi, itulah kampung halamannja dimana ia telah dibesarkan. Pikirnja: “Sungguh sangat hebat, rupanja Suhu telah mendjadi orang kaja mendadak, makanja pulang kampung dan bangun gedung.”

Saking girangnja, tanpa pikir lagi Tik Hun terus berteriak: “Suhu!”

Tapi baru memanggil sekali, segera ia tutup mulut pula. Pikirnja: “Keadaanku jang mirip pengemis ini mungkin akan membikin Suhu kurang senang, biarlah aku tidak bersuara dulu untuk melihat gelagat sadja.”

Tengah ia memikir, tertampaklah dari dalam gedung itu muntjul seorang, dengan melirik orang itu mengamat-amati Tik Hun, sikapnja penuh menghina dan memandang djidjik. Tegurnja kemudian: “Kau mau apa?”

Tik Hun melihat orang itu memakai kopiah miring, badannja kotor penuh debu pasir, sangat tidak sesuai dengan gedung jang megah itu. Dari sikapnja jang garang itu, Tik Hun menduga orang mungkin adalah mandor tukang batu dan sebagainja. Maka djawabnja: “Tolong tanja, Pak Mandor, apakah Djik-suhu ada dirumah?”

“Djik-suhu atau Djak-suhu apa? Entah, tidak kenal!” sahut orang itu sambil melirik.

Keruan Tik Hun melengak, tanjanja pula: “Bukankah tuan rumah disini she Djik?”

“Untuk apa kau tanja tuan rumah segala?” demikian orang itu berbalik menanja. “Apa kau ingin minta sedekah padanja? Kalau mau mengemis sadja kau tidak perlu tjari tahu siapa tuan rumah segala. Sekali kukatakan tidak ada ja tetap tidak ada. Hajo, pengemis bau, lekas enjah, lekas!”

Djauh2 Tik Hun sengadja datang buat mentjari Suhu jang sudah berpisah sekian lamanja itu, sudah tentu ia tidak rela pergi begitu sadja hanja mendapat djawaban jang tidak memuaskan itu. Maka ia berkata pula: “Kedatanganku bukan untuk minta2, aku ingin mentjari keterangan padamu, dahulu jang tinggal disini adalah orang she Djik, entah sekarang beliau apakah masih tinggal disini atau tidak!”

“Dasar pengemis jang tjerewet, sudah kukatakan Tauke disini bukan orang she Djik atau she Djok segala, hajolah lekas pergi kelain tempat sadja!” sahut orang itu dengan mendjengek.

Tengah mereka bitjara, sementara itu keluar lagi seorang dari dalam gedung itu. Orang ini memakai kopiah tile, pakaiannja bersih dan radjin, dandanannja mirip seorang Koan-keh (pengurus rumah tangga) keluarga hartawan. Dengan lenggang kangkung Koan-keh itu berdjalan keluar, segera ia menegur dengan tertawa: “He, Lau Peng, kau bergembar-gembor lagi ribut mutut dengan siapa?”

“Itu dia, pengemis dekil seperti itu sedjak tadi tjerewet sadja disini, kalau mau minta sedekah mestinja bitjara terus terang sadja, tapi dia mentjari tahu siapa nama Tauke kita segala,” demikian simandor jang dipanggil Lau Peng itu mendjawab.

Mendengar keterangan itu, air muka Koan-keh itu rada berubah, ia mengamat-amati Tik Hun sedjenak, lalu berkata: “Eh, sobat, ada apakah kau mentjari tahu nama Tauke disini?”

Djika Tik Hun beberapa tahun jang lalu tentu akan terus terang mendjawab maksud tudjuannja. Akan tetapi lain-dulu-lain-sekarang, Tik Hun sekarang sudah bertambah tjerdik, sudah kenjang pahit getir jang dialaminja didunia Kangouw, kepalsuan manusia umumnja sudah tjukup dikenalnja. Kini melihat si Koan-keh itu bertanja dengan sorot mata jang penuh sangsi dan tjuriga, diam2 Tik Hun membatin: “Biarlah djangan kukatakan terus terang, aku harus mentjari keterangan lebih djauh dengan sabar, bukan mustahil dibalik urusan ini ada sesuatu jang gandjil.”

Karena pikiran itu, maka ia mendjawab: “Ah, tiada apa2, aku ingin tahu she Tauke disini, perlunja agar aku dapat berseru memanggilnja agar sudi memberi sedekah padaku. Ap……. apakah engkau ini adalah Tauke sendiri?”

Begitulah Tik Hun sengadja berlagak pilon dan pura2 bodoh supaja tidak menimbulkan tjuriga orang.

Benar djuga Koan-keh itu lantas ter-bahak2. Meski ia merasa Tik Hun itu terlalu tolol, tapi ia disangka sebagai Taukenja, mau-tak-mau ia merasa senang djuga hingga timbul rasa sukanja kepada sibotjah tolol itu. Segera katanja: “Aku bukan Tauke disini. He, botjah tolol, mengapa kau sangka aku sebagai Tauke?”

“Habis, engkau…….. engkau sangat gagah dan berwibawa, engkau mempunjai potongan Tauke besar,” sahut Tik Hun sengadja mengumpak.

Keruan Koan-keh itu bertambah senang, katanja dengan tertawa: “Botjah tolol, djika kelak aku Lau Ko benar2 mendjadi Tauke, pasti aku akan memberi persen padamu. He, anak tolol, kulihat badanmu kekar dan tenagamu kuat, mengapa tidak tjari kerdja jang benar, tapi malah mendjadi pengemis.”

“Habis tiada jang suka memberi pekerdjaan padaku,” sahut Tik Hun. “Eh, Tauke, sukalah kau memberi sedekah sesuap nasi padaku?”

Koan-keh itu ter-pingkal2 saking geli, mendadak ia gablok pundak simandor Peng tadi dan berkata: “Tjoba kau dengar, ber-ulang2 ia memanggil aku sebagai Tauke. Kalau aku tidak memberi persen sesuap nasi djuga tidak pantas rasanja. Lau Peng, bolehlah kau suruh dia ikut gali tanah dan memikul, berikan upah sekedar padanja.”

“Baiklah, apa jang kau orang tua kehendaki tentu kulaksanakan,” sahut simandor she Peng itu.

Dari logat bitjara mereka itu Tik Hun dapat mengenali mandor she Peng itu adalah penduduk setempat, sebaliknja Koan-keh she Ko itu berlogat orang utara. Tapi ia pura2 tidak tahu, dengan penuh hormat ia berkata: “Terima kasih, Tauke besar dan Tauke ketjil!”

“Kurangadjar, sembarangan omong!” maki simandor Peng dengan tertawa.

Sedang si Koan-keh she Ko itu semakin ter-pingkal2. “Hahaha, aku dipanggil sebagai Tauke besar dan kau adalah Tauke ketjil, bukankah……… bukankah kau disangka sebagai puteraku?” katanja dengan ter-engah2.

Mandor Peng geli2 dongkol, segera ia djewer telinga Tik Hun, katanja dengan tertawa: “Sudahlah, masuk kesana! Makan dulu jang kenjang, nanti malam mulai melembur.”

Tanpa membangkang sedikit Tik Hun ikut masuk kedalam gedung itu, dalam hati ia merasa heran: “Aneh, mengapa kerdja lembur diwaktu malam?”

Sesudah masuk kedalam dan menjusur suatu serambi samping, tiba2 Tik Hun terkedjut, hampir2 ia tidak pertjaja pada matanja sendiri.

Ternjata ditengah gedung itu sedang digali suatu lubang jang sangat dalam dan lebar, begitu lebar lubang itu hingga pinggir lubang itu hampir mepet dengan dinding disekelilingnja, hanja tertinggal satu djalan jang sempit untuk orang berlalu. Didalam lubang tanah itu tertampak penuh menggeletak alat2 gali sebangsa patjul, sekop, kerandjang, pikulan dan sebagainja. Terang bahwa lubang itu belum selesai digali dan masih dikerdjakan. Kalau melihat gedung semegah itu dari luar, sungguh siapapun tiada jang menjangka bahwa didalam rumah terdapat suatu lubang galian jang begitu besar.

“He, botjah tolol, apa jang kau lihat disini dilarang kau tjeritakan pada orang luar, tahu?” kata simandor Peng tiba2.

“Ja, ja! Aku tahu,” demikian sahut Tik Hun tjepat. “Tentu disini Hongsui-nja sangat bagus, tuan rumah ingin mengubur disini, maka orang luar tidak boleh mengetahuinja.”

“Benar, ha, sitolol ternjata pintar djuga,” demikian kata simandor. “Marilah ikut aku kebelakang untuk makan.”

Sesudah makan se-kenjang2nja didapur, simandor suruh Tik Hun mengaso dan menunggu diserambi belakang itu dan dipesan djangan sembarangan kelujuran. Tik Hun mengiakan perintah itu, tapi didalam hati ia semakin tjuriga.

Ia melihat didalam rumah itu tiada sesuatu perabotan jang baik, segala perlengkapan sangat sederhana, bahkan dapur itu tiada dibuat tungku permanen, tapi tjuma sebuah tungku darurat jang ditumpuk dengan batu bata sadja dan diatas tungku darurat itu tertaruh sebuah kuali besi. Medja kursi jang ada djuga sangat kasar, sama sekali tidak sesuai dengan gedung jang megah itu.

Waktu magrib, didapur umum itu penuh ber-djubel2 orang, semuanja adalah orang desa setempat jang masih muda dan kuat. Be-ramai2 mereka asjik makan-minum dengan gembira. Tanpa sungkan2 Tik Hun ikut makan bersama orang banjak itu, ia bitjara dengan logat daerah setempat jang tulen, dengan sendirinja si Koan-keh she Ko dan mandor Peng tidak menaruh tjuriga apa2, mereka menjangka Tik Hun adalah satu pemuda gelandangan setempat jang tidak punja pekerdjaan apa2.

Selesai makan, mandor Peng lantas membawa orang2 itu keruangan tengah jang terdapat lubang galian itu, segera ia mengutjapkan kata permbukaan: “Saudara2 sekalian, hendaklah kalian menggali sepenuh tenaga, mudah2an malam ini ada redjeki, pabila ada jang berhasil menggali sesuatu benda, baik berupa buku, kertas, maupun sebangsa mangkok-piring dan sebagainja, tentu kalian akan mendapat hadiah jang pantas.”

Maka be-ramai2 para kuli itu telah mengiakan, segera terdengarlah suara riuh dari bekerdjanja patjul dan sekop jang menggali tanah.

“Huh, sudah menggali selama dua bulan, tapi ada benda mestika apa jang diketemukan? Benar2 orang jang menjuruh kita ini sudah gila harta dan lupa daratan,” demikian seorang penggali jang tidak djauh disebelah Tik Hun itu mendadak menggerutu sendiri.

Sudah tentu Tik Hun tertarik oleh gerundelan kuli kampung itu. “Mestika apakah jang hendak mereka gali? Masakah disini terdapat sesuatu harta apa segala?” demikian pikirnja.

Ia menunggu simandor agak meleng, segera ia menggeser kedekat kuli jang mengomel tadi, dengan suara tertahan ia menanja: “Toatjek, sebenarnja mereka ingin mentjari benda mestika apakah?”

“O, benda mestika jang mereka tjari ini benar2 sangat berharga,” sahut orang itu dengan suara berbisik. “Katanja Tauke disini mahir ilmu gaib. Ia bukan orang daerah sini, tapi berasal dari lain tempat. Dari djauh katanja ia melihat ditempat penggalian ini ada tjahaja mestika jang menjorong kelangit, ia tahu ditempat ini terdapat benda mestika, maka tanah ini telah dibelinja, agaknja kuatir kalau rahasianja botjor, maka lebih dulu gedung ini telah dibangun, lalu mengumpulkan orang, siang hari kami disuruh tidur dan malam hari disuruh kerdja.”

“O, kiranja begitu. Apakah Toatjek tahu benda mestika apa jang dia tjari?” tanja Tik Hun pula.

“Sudah tentu aku tahu,” sahut kuli itu dengan lagak sok tahu. “Menurut simandor, katanja jang ditjari adalah sebuah ‘Tjip-po-bun’ (baskom wasiat). Djika kau masukan satu mata uang kedalam baskom itu, maka lewat semalam, besok paginja mata uang itu akan berubah mendjadi satu baskom penuh. Kalau dimasuki satu tahil emas, besoknja akan berubah mendjadi satu baskom emas, pendek kata segala matjam barang jang kau masukan kedalam baskom, maka dalam semalam sadja barang sedikit ini akan melahirkan barang banjak. Wah, bukankah itu suatu benda mestika adjaib?”

“Wah, benar2 mestika adjaib!” pudji Tik Hun sambil tiada ber-henti2 mulutnja ber-ketjek2.

Lalu orang itu mengotjeh pula: “Mandor sengadja memesan kita agar tjara kita mematjul harus pelahan2, tidak boleh keras2, sebab kalau sampai baskom wasiat itu mendjadi rusak kena patjul, wah, bisa runjam! Kata pak Mandor, bila baskom wasiat itu sudah dapat diketemukan, kita masing2 akan diberi pindjam pakai satu malam, apa jang kau ingin masukan didalam baskom itu boleh kau lakukan mana suka. Nah, anak tolol, mulai sekarang boleh kau tjoba2 rentjanakan, barang apakah jang akan kau masukan didalam Tjip-po-bun itu.”

Tik Hun pura2 memikir sedjenak, lalu mendjawab: “Aku sering kelaparan, perutku selalu berkerontjongan, maka aku akan taruh sebutir beras didalam baskom itu dan besok paginja, wah, sudah mendjadi satu baskom penuh beras putih, bagus bukan?”

“Hahaha! Memang bagus! Haha!” demikian orang itu mendjadi lupa daratan dan bergelak tertawa.

Keruan simandor lantas menoleh demi mendengar ada suara tertawa orang, lantas ia membentak: “Hus, djangan banjak omong doang! Hajo, lekas kerdja! Lekas gali!”

Orang itu mendjadi ketakutan dan tjepat bekerdja pula dengan giat.

Diam2 Tik Hun membatin: “Masakah didunia ini terdapat Tjip-po-bun apa segala? Emangnja seperti tjerita Aladin dalam 1001 malam sadja? Ah, madjikan rumah ini pasti bukan seorang tolol, dibalik kesemuanja ini pasti ada sesuatu tipu muslihat, tapi ia sengadja mengarang tjerita tentang baskom wasiat segala untuk menipu orang.”

Maka sedjenak kemudian, dengan suara tertahan kembali ia menanja orang tadi: “Siapakah nama Tauke disini? Engkau tadi mengatakan dia bukan orang daerah sini?”

“Itu dia, bukankah si Tauke sudah berada disitu?” sahut orang itu.

Waktu Tik Hun memandang kearah jang dimaksudkan, ia melihat dari ruangan belakang sana telah muntjul satu orang, perawakannja tinggi kurus, kedua matanja bersinar tadjam, pakaiannja sangat perlente, usianja kira2 setengah abad.

Hanja sekedjap sadja Tik Hun memandang orang itu, tapi kontan djantungnja ber-debar2, tjepat ia berpaling dan tidak berani memandang pula. Didalam hati tiada hentinja ia bertanja2: “Orang ini sudah pernah kukenal, ja, sudah pernah kukenal. Dimanakah itu? Siapakah dia?”

Begitulah ia merasa muka si Tauke sudah dikenalnja, tjuma seketika tak teringat dimanakah dulu telah melihatnja.

Dalam pada itu si Tauke sudah mulai berkata: “Malam ini harap kalian menggali lebih dalam lagi satu-dua meter, tidak peduli apakah diketemukan potongan kertas, remukan batu atau petjahan kaju, satu bendapun tidak boleh dianggap sepele, harus diperlihatkan padaku.”

Mendengar suara si Tauke, Tik Hun terkesiap, segera ia sadar: “Ja, ingatlah aku sekarang. Kiranja dia!”

Kiranja Tauke pemilik gedung megah itu tak-lain-tak-bukan adalah sipengemis tua jang pernah mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang kepada Tik Hun ketika berada dirumah Ban Tjin-san di Heng-tjiu dahulu itu.

Tatkala mana badjunja rombeng, rambutnja kusut-masai, sekudjur badannja kotor dekil, seratus prosen adalah dandanan pengemis.

Tapi kini telah berubah mendjadi seorang hartawan, hampir semuanja telah berganti bulu, pantas sadja Tik Hun takbisa lantas mengenalnja, dan sesudah mendengar suaranja barulah Tik Hun ingat siapa gerangannja.

Dan begitu mengenali si Tauke, sebenarnja Tik Hun bermaksud lantas melompat keluar dari lubang galian untuk menjapanja. Tapi penderitaan dan pengalaman selama beberapa tahun ini telah menggembleng Tik Hun mendjadi seorang pemuda jang bisa berpikir dan dapat bertindak hati2 dalam segala hal. Pikirnja: “Paman pengemis tua ini pernah berbudi padaku. Dahulu djika aku tak ditolong olehnja, mungkin aku sudah terbinasa ditangan bandit terkenal dari Thay-heng-san jang bernama Lu Thong itu. Kemudian ia telah mengadjarkan tiga djurus Kiam-hoat lagi padaku hingga aku dapat menghadjar anak murid Ban-supek. Kini kalau dipikir, sebenarnja ketiga djurus ilmu pedang jang dia adjarkan padaku itu toh sepele sadja, tiada sesuatu jang luar biasa, tapi pada waktu itu telah menghindarkan diriku dari hinaan dan penganiajaan orang. Kini dapat berdjumpa pula dengan dia, aku harus menjatakan terima kasihku selajaknja. Akan tetapi tempat ini adalah bekas kediaman Suhuku, mengapa dia menggali tanah disini? Dan untuk apa dia membangun gedung sebesar ini untuk menutupi pandangan orang luar? Dahulu dia adalah seorang pengemis, seorang kere, kenapa sekarang bisa kaja mendadak?”

Begitulah diam2 Tik Hun me-nimang2 dan ambil keputusan akan diam sadja dulu untuk melihat gelagat. Pikirnja pula: “Aku utang budi padanja, untuk mengutjapkan terima kasih adalah soal gampang. Tapi mengapa dia tidak kuatir Suhuku akan pulang kesini? Djangan2 ………. djangan2 Suhu sudah meninggal?”

Sedjak ketjil ia sudah ikut dan dibesarkan Djik Tiang-hoat, perasaannja kepada guru itu adalah mirip orang tua sendiri, kini demi terpikir gurunja mungkin sudah mati, seketika ia mendjadi sedih.

Tiba2 dipodjok sana terdengar suara gemerinting sekali, patjul kuli penggali itu entah kena mematjul sesuatu benda keras apa. Tapi demi mendengar suara njaring itu, segera si Tauke melompat turun kedalam lubang galian itu, tjepat ia djemput sepotong benda.

Serentak kuli2 penggali itu berhenti kerdja semua dan memandang kearah benda jang dipegang si Tauke. Maka tertampaklah Tauke lagi memegang sebuah……. paku, bolak-balik Tauke memeriksa paku itu dengan wadjah agak ketjewa. Achirnja ia lemparkan paku itu kepinggir lubang galian dan memerintah: “Hajo mulai lagi, lekas gali terus!”

Tik Hun kerdja keras semalam suntuk bersama para kuli kampung, selama itu si Tauke terus mengikuti kemadjuan galian itu. Setelah fadjar menjingsing dan tiada diketemukan sesuatu apa, barulah si Tauke memerintahkan istirahat.

Sebagaian besar kuli2 kampung itu adalah penduduk sekitar situ, mereka pulang kerumah masing2. Tapi ada sebagian jang bertempat tinggal agak djauh, mereka lantas merebah dan tidur diserambi samping rumah gedung itu.

Tik Hun djuga ikut tidur diserambi samping itu. Sampai sore harinja barulah mereka bangun tidur untuk makan.

Badan Tik Hun terlalu kotor, orang lain tidak suka berdekatan dengan dia, diwaktu tidur maupun makan, selalu orang2 itu mendjauhi Tik Hun. Tapi hal ini malah kebetulan bagi Tik Hun, risiko dirinja akan dikenali orang mendjadi lebih sedikit.

Selesai makan, dalam isengnja Tik Hun lantas djalan2 kesuatu pedusunan ketjil tidak djauh dari gedung besar itu untuk mentjari tahu apakah sang guru pernah pulang kampung atau tidak. Ditengah djalan diketemukan djuga beberapa teman memain diwaktu ketjil, kini teman2 itu sudah tinggi besar dan asjik bertjotjok-tanam disawah-ladang.

Ia tidak ingin dirinja diketahui orang, maka ia tidak menjapa teman lama itu, tapi sengadja mentjari satu anak tanggung untuk ditanja tentang keadaan rumah gedung itu. Menurut keterangan botjah tanggung itu, katanja gedung itu dibangun pada musim rontok tahun jang lalu, pemiliknja sangat kaja dan datang kesini buat mentjari Tjip-po-bun, namun sudah sekian lamanja benda mestika jang ditjari itu masih belum ketemu. Sembari berkata botjah itu sambil ketawa2, suatu tanda dongeng tentang Tjip-po-bun atau baskom wasiat itu telah mendjadi bahan obrolan iseng penduduk setempat.

Ketika ditanja tentang rumah2 petak jang dulu, anak tanggung itu mengatakan sudah lama rumah2 ketjil itu tidak ditinggali orang dan selamanja djuga tidak pernah ditengok jang empunja. Maka waktu gedung besar itu dibangun, dengan sendirinja rumah2 petak itu dibongkar.

Tik Hun mengutjapkan terima kasih dan tinggalkan anak tanggung itu, hatinja mendjadi masgul dan penuh tjuriga pula. Sungguh ia tidak tahu sebenarnja apakah maksud tudjuan tindak-tanduk sipengemis tua jang penuh rahasia itu.

Ia berdjalan menjusur gili2 sawah dan ladang, ketika melewati sepetak ladang sajur, ia melihat tanaman ladang itu menghidjau lebat, subur sekali tertanam sajur Khong-sim-djay.

“Khong-sim-djay! Khong-sim-djay!” ~ tiba2 benak Tik Hun bergema suara panggilan jang njaring merdu dan nakal itu.

“Khong-sim-djay” adalah sajur jang sangat umum didaerah Ouwlam barat situ, sesuai dengan namanja, maka sajur itu kopong tengahnja tak bersumbu. Dari itu Sumoaynja Tik Hun, jaitu Djik Hong, telah memberi nama pojokan itu kepada Tik Hun sebagai olok2 bahwa pemuda itu berotak kopong, takbisa berpikir, polos dan djudjur, takbisa ber-belit2.

Sedjak Tik Hun meninggalkan kampung halaman itu, selama itu dia mengeram didalam pendjara di Hengtjiu, kemudian di-uber2 musuh dan achirnja terkurung ditengah lembah bersaldju. Dan baru harini dia dapat melihat Khong-sim-djay pula.

Tik Hun ter-mangu2 sedjenak memandangi sajur jang bersedjarah itu. Ia berdjongkok dan memetik setangkai, lalu pelahan2 melandjutkan perdjalanan kebarat.

Disebelah barat adalah pegunungan sunji jang tandus penuh batu karang, pepohonan susah tumbuh disitu. Ditengah bukit tandus itu terdapat sebuah gua jang tidak pernah didatangi manusia ketjuali Tik Hun dan Djik Hong jang dulu sering memain kesitu.

Karena terkenang pada masa lalu jang menggembirakan itu, tanpa merasa Tik Hun berdjalan terus kearah gua. Sesudah melintasi tiga bukit lain dan menerobos dua terowongan besar, achirnja sampailah dia digua jang terpentjil dan sunji senjap itu.

Didepan gua itu ternjata sudah penuh tumbuh rumput alang2, hingga mulut gua tertutup rapat. Hati Tik Hun mendjadi berduka terkenang teman main diwaktu ketjil jang ditjintainja itu kini telah berada dipangkuan orang lain. Ia tjoba menerobos kedalam gua itu, ia melihat barang2 jang terdapat digua itu masih tetap seperti dulu waktu ditinggal pergi bersama Djik Hong, sedikitpun tidak pernah didjamah atau pindah tempat. Barang2 seperti bandring jang dahulu sering digunakannja untuk menangkap burung, boneka tanah jang dibuat Djik Hong, alat perangkap kelintji, seruling milik Djik Hong diwaktu angon sapi. Semuanja itu masih terletak baik2 diatas medja batu didalam gua.

Disebelah sana terdapat pula sebuah kerandjang ketjil. Dulu Djik Hong sering datang kegua ini dengan membawa kerandjang djindjing jang berisi bahan2 dan alat mendjahit. Tertampak gunting didalam kerandjang itu sudah berkarat, Tik Hun tjoba ambil sedjilid buku pola menjulam jang sudah kuning dari kerandjang itu. Ia mem-balik2 halaman buku itu dan ter-kenanglah dimasa dahulu bila dia bersama Djik Hong ‘pik-nik’ kegua ini, sering ia mengajam kerandjang disitu dan Djik Hong lantas menjulam, terkadang sigadis menjulam bunga atau burung2an diatas kain tebal guna bahan sepatunja.

Ter-menung2 Tik Hun mengenangkan kedjadian dimasa lampau: ketika satu pasang kupu2 besar warna hitam terbang kian kemari didepan gua, selalu sepasang kupu2 itu terbang berdjadjaran keatas dan kebawah bagaikan sepasang kekasih jang sedang bertjumbu. Saat itu Djik Hong telah ber-teriak2: “Nio San-pek, Tjio Eng-tay! Nio San-pek, Tjio Eng-tay!”

Kiranja penduduk didaerah Ouwlam barat itu menamakan kupu2 besar warna hitam itu sebagai Nio San-pek dan Tjio Eng-tay, jaitu sepasang kekasih jang saling tjinta-mentjintai dan sehidup-semati dalam tjerita roman klasik jang terkenal.

Waktu itu Tik Hun sedang mengajam sepatu rumput, pasangan kupu2 itu telah terbang diatas kepalanja. Mendadak Tik Hun meneplok dengan sepatu rumputnja hingga seekor kupu2 diantaranja tergablok mati. Melihat itu, Djik Hong mendjerit kaget dan menegur dengan marah: “Ken…….. kenapa kau membunuhnja?”

Tik Hun mendjadi gugup karena sigadis mendadak marah, tjepat sahutnja: “Karena kau suka kupu2, maka aku hendak menangkapnja untukmu.”

Kupu jang diteplok mati itu djatuh ditanah, sedang kupu jang lain masih terus terbang mengitar diatas kawannja jang sudah tak berkutik itu. Maka Djik Hong berkata: “Lihatlah, bukankah kau berdosa? Mereka adalah pasangan suami-isteri jang rukun, tapi sekarang kau telah membunuh satu diantaranja.”

Dan barulah Tik Hun merasa menjesal, sahutnja: “Ai, memang aku bersalah.”

Kemudian Djik Hong telah menirukan bentuk kupu2 jang mati itu dan dibuatnja sebuah pola atau patrun untuk disulam diatas sepatunja sendiri. Waktu tahun baru, kembali ia menjulam sebuah dompet kain dengan lukisan kupu2 jang sama untuk Tik Hun. Dompet kain itu selalu tersimpan didalam badju pemuda itu dan baru hilang ketika dia dimasukan pendjara di Hengtjiu.

Patrun itu masih terselip didalam buku pola itu. Ia mengambil patrun kupu2 itu, telinganja sajup2 seperti mendengar suara Djik Hong: “Lihatlah, bukankah kau berdosa? Mereka adalah pasangan suami-isteri jang rukun, tapi sekarang kau telah membunuh satu diantaranja.”

Tik Hun ter-menung2 agak lama, ketika ia membalik2 pula halaman buku pola itu, tiba2 didengarnja dari djauh ada suara berkeletakan batu paling bentur, terang itulah suara tindakan orang jang sedang mendatangi. Diam2 Tik Hun heran, pikirnja: “Djarang ada manusia jang datang dibukit tandus ini, djangan2 adalah sebangsa binatang buas?”

Segera ia masukan buku pola itu kedalam badjunja, saat lain tiba2 didengarnja ada suara orang sedang berkata: “Sekitar tempat ini sunji senjap dan bukit karang belaka, tidak mungkin terdapat disini.”

“Semakin sepi semakin besar kemungkinanan orang menjimpan harta mestika disini,” demikian suara seorang tua mendjawab. “Maka kita harus mentjarinja dengan tjermat.”

“Ha, mengapa ada orang mentjari harta mestika lagi ketempat ini?” pikir Tik Hun. Tjepat ia menjelinap keluar gua, ia bersembunji dibalik satu pohon besar.

Tidak lama kemudian lantas terdengar ada suara orang bertindak kearah gua. Dari suaranja dapat diduga sedikitnja adalah 7-8 orang.

Waktu Tik Hun mengintip dari belakang pohon, ia melihat seorang jang djalan paling depan berpakaian perlente dan berdandan setjara ber-lebih2an, mukanja seperti sudah dikenal Tik Hun. Menjusul seorang dibelakangnja membawa tjangkul, orang kedua ini berbadan tegap gagah, mukanja tjakap. Begitu melihat orang kedua ini, seketika darah Tik Hun tersirap, sungguh kalau bisa ia ingin lantas menerdjang madju untuk menghadjarnja, bahkan sekali tjekik ia ingin mampuskan orang itu.

Kiranja orang kedua itu tak-lain-tak-bukan adalah musuh besarnja jang telah membikin sengsara padanja, orang jang telah merebut Sumoaynja jang tjantik serta mendjebloskan Tik Hun kedalam pendjara, jaitu si Ban Ka adanja.

Sedang orang pertama jang lebih muda tadi ternjata adalah Sim Sia, anak murid Ban Tjin-san jang buntjitan.

Dan dibelakang Ban Ka dan Sim Sia, lalu muntjul pula anak murid Ban Tjin-san jang lain, jaitu Loh Kun, Sun Kin, Bok Heng, Go Him dan Pang Tan.

Murid Ban Tjin-san seluruhnja ada delapan orang, tapi murid kedua, jaitu Tjiu Kin, dahulu telah dibunuh oleh Tik Hun didalam taman bobrok dikota Hengtjiu waktu dia bersama Ting Tian di-uber2 oleh Tjiu Kin dan kawan2nja. Maka kini murid Ban Tjin-san hanja tinggal tudjuh orang sadja.

Sudah tentu Tik Hun sangat heran: “Hendak mentjari harta mestika apakah orang2 ini?”

Pada lain saat tiba2 terdengar Sim Sia berseru: “Suhu, Suhu! Disini ada sebuah gua!”

“O, ja?” sahut suara orang tua tadi. Nadanja penuh rasa girang.

Menjusul lantas muntjul seorang jang tinggi besar, itulah dia Ngo-in-djiu Ban Tjin-san adanja.

Sudah beberapa tahun tak bertemu, Tik Hun melihat semangat orang tua itu masih segar dan kuat, sedikitpun tidak terlihat tanda2 lojo sebagaimana lazimnja orang tua.

Hanja beberapa langkah lebar sadja Ban Tjin-san sudah masuk kedalam gua. Menjusul lantas terdengar suara2 orang banjak: “He, disini pernah ditinggali orang!” ~ “Debu kotorannja begini banjak, sudah lama tidak didatangi orang.” ~ “Tidak, tidak! Lihatlah ini, disini terdapat tapak kaki baru.” ~ “Ja, disini djuga ada bekas djari tangan!” ~ “Benar, pasti Gian-susiok telah…………. telah mendahului menggondol Soh-sim-kiam-boh itu.”

Terkedjut dan geli pula Tik Hun mendengar pembitjaraan orang2 itu. Pikirnja: “Apa barang jang hendak mereka tjari adalah Soh-sim-kiam-boh? Mengapa sudah sekian lamanja mereka masih terus mentjari? Menurut Suhu, katanja beliau mempunjai seorang Suheng kedua jang bernama Gian Tat-peng, tapi Gian-supek itu sudah lama menghilang tanpa ada kabar beritanja, mungkin sudah lama orangnja meninggal dunia, mengapa sekarang dapat muntjul lagi untuk berebut Soh-sim-kiam-boh apa segala? Sudah terang bekas tapak kaki dan tangan itu adalah tinggalanku barusan, tapi mereka menerka setjara ngawur, sungguh lutju!”

Begitulah maka terdengar Ban Tjin-san sedang berkata: “Diam, diam! Djangan ribut! Tjoba tjarilah sekitar sini dengan tenang.”

Lalu ada jang mengomel: “Djika Gian-susiok sudah mendahului datang kesini, mustahil barangnja tak digondol lari lebih dulu.”

“Djik Tiang-hoat itu benar2 seorang jang litjin dan pintar mengatur, ia sembunjikan Kiam-boh (kitab peladjaran pedang) itu disini, tentu sadja orang lain sudah mentjarinja,” udjar jang lain.

“Sudah tentu ia sangat litjin dan pandai mengatur, kalau tidak masakah dia berdjuluk ‘Tiat-soh-heng-kang’?” demikian kata seorang lagi.

Begitulah sambil bitjara mereka terus mengobrak-abrik gua itu. Memangnja didalam gua tidak terdapat benda apa2, maka sesudah dibongkar-bangkir orang2 itu, tetap tiada sesuatu jang mereka ketemukan. Menjusul lantas terdengar suara gemerantang jang njaring, itulah suara tjangkul. Tapi gua itu adalah batu karang, dengan sendirinja tjangkul itu tidak mempan menggalinja.

“Sudahlah, disini tiada terdapat apa2, marilah kita keluar, tjoba kita rundingkan lagi diluar sana,” kata Ban Tjin-san kemudian.

Be-ramai2 ketudjuh anak muridnja lantas ikut sang Suhu keluar gua, mereka mengambil tempat ditepi suatu sungai ketjil, disanalah mereka berduduk diatas batu karang jang banjak terserak disitu.

Tik Hun kuatir dipergoki mereka, maka tidak berani mendekat.

Sedangkan suara pertjakapan kedelapan orang itu sangat lirih, maka apa jang dirundingkan mereka itu takbisa didengar Tik Hun.

Tidak lama kemudian, selesai berunding, kedelapan orang itu tampak berbangkit semua dan berangkat pergi.

Diam2 Tik Hun memikir pula: “Katanja mereka ingin mentjari Soh-sim-kiam-boh apa segala, tapi belum lagi ketemu sudah lantas tjuriga telah ditjuri lebih dulu oleh Gian-supek. Sedangkan bekas tempat tinggal Suhu telah dirombak pula mendjadi suatu gedung megah, katanja sipengemis tua itu ingin mentjari Tjip-po-bun apa segala…………. Ah, benar, tahulah aku!”

Begitulah se-konjong2 terkilas sesuatu pikiran pada benaknja, mendadak ia sadar akan duduknja perkara: “Terang sipengemis tua itu bukan bertudjuan mentjari Tjip-po-bun segala, tapi iapun ingin mentjari Soh-sim-kiam-boh. Ia jakin kitab pusaka itu berada ditangan Suhuku, maka sengadja mentjari kemari, dan agar tidak menimbulkan rasa tjuriga orang lain, lebih dulu ia membangun gedung besar itu, kemudian menggali pekarangan didalam rumah itu untuk mentjarinja, dan agar tidak membikin geger chalajak ramai, ia sengadja menjiapkan berita dongengan katanja ingin mentjari Tjip-po-bun, sudah tentu alasan itu tjuma buat membohongi orang kampung jang bodoh sadja.”

Lalu terpikir pula olehnja: “Tempo dulu waktu Ban-supek mengadakan perajaan hari ulang tahun di Hengtjiu, pengemis tua itu siang-malam selalu mengintjar disekitar kediaman Ban-supek, suatu tanda dia mempunjai sesuatu maksud tudjuan. Ja, sesudah tidak menemukan Soh-sim-kiam-boh jang ditjari itu, masakah rombongan Ban Tjin-san takkan mendatangi rumah gedung itu untuk menjelidiki lebih djauh? Mungkin kedatangan mereka kesini sudah lama, maka gedung itu sudah pernah mereka datangi. Namun urusan ini terang belum selesai, biarlah aku menanti dirumah gedung itu sadja untuk menonton keramaian. Ja, dibalik semua kedjadian ini pasti ada sesuatu rahasia lain.”

“Tapi kemanakah perginja Suhu selama ini?” demikian pikirnja pula. “Bekas tempat tinggalnja telah dibongkar-bangkir orang sedemikian rupa, masakah beliau sama sekali tidak tahu? Apa benar beliau tidak pernah pulang kemari? Lalu bagaimana dengan Djik-sumoay? Ja, mungkin dia masih tinggal di Hengtjiu dan sedang menikmati kebahagiaan sebagai njonja muda keluarga Ban jang kaja-raja. Sudah tentu orang2 keluarga Ban itu tidak memberitahukan pada Sumoay bahwa bekas tempat tinggalnja itu akan diobrak-abrik. Dan apakah jang sedang dikerdjakan Sumoay saat ini?……”

*******

Mendadak terdengar suara “blang” jang keras, pintu depan telah didobrak orang hingga terpentang, serempak anak-murid Ban Tjin-san terus menjerbu kedalam dan mengepung Gian Tat-peng di-tengah2.

Malamnja, kembali didalam rumah gedung itu terang-benderang dengan tjahaja lilin, belasan kuli kampung asjik mengajun tjangkul mereka untuk menggali tanah.

Tik Hun djuga berada diantara kuli2 penggali itu, ia tidak terlalu giat, tapi djuga tidak malas, dengan demikian ia mengharap tidak menarik perhatian orang lain. Apalagi rambutnja kusut-masai, djenggot dan kumisnja tak tertjukur hingga hampir seluruh mukanja tertutup oleh berewoknja jang tak terawat itu, ditambah lagi debu tanah jang berlepotan dimukanja, keruan muka aslinja mendjadi lebih susah dikenali.

Malam ini penggali2 itu menitik-beratkan podjok utara dari lubang tanah itu, sedang sipengemis tua sedang berdjalan mondar-mandir ditepi lubang galian itu sambil menggendong tangan. Sudah tentu sekarang ia bukan lagi seorang pengemis jang dekil dan mesum, tapi adalah seorang Tauke besar jang hidup mewah, badjunja buatan dari bahan sutera satin, pada djari manis kiri memakai sebuah tjintjin permata djamrud, ikat pinggangnja djuga terikal sepotong batu kemala jang susah dinilai harganja.

Se-konjong2 Tik Hun mendengar diluar gedung itu ada suara orang merajap datang, dari kanan-kiri dan muka-belakang, semua djurusan ada suara merajap orang. Djarak pendatang2 itu masih sangat djauh, agaknja sipengemis tua masih belum mengetahui sedikitpun.

Tik Hun tjoba miringkan tubuh untuk melirik sipengemis itu, tapi sang Tauke ternjata tenang2 sadja seperti tidak merasakan apa2. Sementara itu Tik Hun mendengar suara tindakan orang2 dari berbagai djurusan itu sudah makin mendekat. Satu, dua, tiga…….. enam, tudjuh, delapan, ja, benarlah itu Ban Tjin-san beserta ketudjuh anak muridnja. Tapi sipengemis tua ternjata masih tidak mengetahui.

Sungguh heran Tik Hun, baginja kedatangan rombongan Ban Tjin-san itu dapat didengarnja dengan djelas, bahkan dapat dihitung djumlahnja. Tapi mengapa pengemis tua itu seperti orang tuli sadja tanpa mendengar apa2?

Lima tahun jang lampau, Tik Hun kagum dan memudja pengemis tua itu bagaikan malaikat dewata. Pengemis itu hanja mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang kepada Tik Hun dan pemuda itu sudah sanggup menghadjar Ban-bun-pat-te-tju atau delapan murid keluarga Ban, hingga pontang-panting, sedikitpun kedelapan lawan itu tak mampu melawan. “Tapi kini, mengapa kepandaian pengemis tua ini telah berubah sedjelek ini dan mundur malah? Djangan2 Tauke ini bukan pengemis tua jang dahulu itu? Barangkali aku salah mengenali dia? Tapi, tidak, tidak mungkin, tidak mungkin aku salah lihat!” demikian Tik Hun bertanja-djawab sendiri.

Ternjata Tik Hun tidak memikir bahwa sebenarnja ilmu silatnja sendiri jang telah mentjapai kemadjuan pesat hingga sudah hampir mentjapai tingkatan jang tiada taranja. Sesuatu jang dapat didengarnja dengan djelas bagi telinga orang lain sebaliknja sedikitpun tidak terdengar apa2.

Dalam pada itu kedelapan orang itu makin lama sudah makin mendekat. Sungguh Tik Hun sangat heran: “Perbuatan kedelapan orang itu benar2 sangat lutju, memangnja mereka mengira tiada seorangpun jang mengetahui kedatangan mereka hingga mesti main germat-germet seperti maling kuatir kepergok?”

Sementara itu kedelapan orang itu sudah lebih dekat lagi. Mendadak sipengemis tua tampak bergetar sambil miringkan kepalanja untuk mendengarkan.

“Ha, dia sudah dengar sekarang barangkali? Kenapa baru dengar sekarang, apa tuli?” demikian Tik Hun membatin.

Padahal sipengemis tua jang sudah mendjadi Tauke itu sebenarnja tidak tuli. Soalnja djarak kedelapan orang itu memang masih djauh. Kalau Tik Hun dua-tiga tahun jang lalu pasti djuga takkan mendengar suara rombongan Ban Tjin-san, bahkan lebih dekat djuga belum tentu dapat mendengarnja.

Sementara itu kedelapan orang itu sudah dekat benar2, kini mereka melangkah setindak demi setindak dengan hati2, terkadang berhenti dulu, lalu melangkah madju pula, terang mereka djuga kuatir diketahui oleh orang didalam rumah.

Namun sekarang sipengemis tua sudah mengetahui kedatangan musuh. Dengan tenang ia mendekati podjok ruangan dan mengambil sebatang tongkat jang tertaruh disitu. Itulah sebatang “Liong-thau-bok-koay” atau tongkat kaju berukiran kepala naga.

“Masakah tongkat begitu akan dipakai sebagai sendjata?” demikian Tik Hun merasa heran.

Se-konjong2, serempak kedelapan orang diluar rumah itu berlari madju dan mengepung dari empat djurusan kearah gedung. “Blang”, mendadak pintu didobrak orang hingga terpentang, setjepat kilat seorang telah mendahului menerdjang masuk, itulah dia Ban Ka.

Menjusul Sim Sia, Bok Heng dan lain2 djuga lantas ikut menjerbu kedalam.

Sesudah ketudjuh Ban-keh-te-tju itu menjerbu masuk, serentak mereka mengepung sipengemis tua di-tengah2 sambil sendjata siap ditangan.

Namun pengemis tua itu ternjata tenang2 sadja, bahkan ia ter-bahak2 dan berkata: “Hahahaha! Bagus, bagus! Apa anak2 sudah datang semua? Dan dimana Ban-suko, mengapa tidak nampak?”

Maka terdengarlah suara tertawa lepas seorang diluar rumah, menjusul masuklah orang itu dengan langkah berlenggang, itulah dia “Ngo-in-djiu” Ban Tjin-san.

Sesudah berada didalam rumah, Ban Tjin-san berdiri berhadapan dengan pemngemis itu terpisah oleh lubang galian, kedua orang sama2 mengamat-amati masing2, selang sebentar barulah Ban Tjin-san membuka suara: “Gian-sute, wah, berpisah selama lima tahun, tahu2 engkau sudah mendjadi OKB (orang kaja baru).”

Begitu selesai mendengar utjapan Ban Tjin-san itu, seketika katjau-balau pikiran Tik Hun oleh berketjamuknja matjam2 pertanjaan. “Ha? Djadi……… djadi pengemis tua inilah tak-lain-tak-bukan adalah Djisupek Gian Tat-peng jang selama ini tjuma dikenal namanja sadja itu?” demikian ia tidak habis heran.

Maka terdengar sipengemis tua itu sedang mendjawab: “Suko, aku tjuma mendapat sedikit redjeki jang tak berarti, tapi selama beberapa tahun ini usahamu tentu banjak kemadjuan, bukan?”

“Terima kasih atas pudjimu,” sahut Ban Tjin-san. “He, anak2, mengapa tidak lekas memberi hormat kepada Susiok?”

Serentak Loh Kun dan lain2 lantas berlutut memberi hormat kepada pengemis tua itu dan berkata: “Terimalah hormat kami, Susiok!”

“Sudahlah, sudahlah! Sambil memegang sendjata, tentu tidak leluasa untuk mendjura, maka boleh tak usahlah,” seru pengemis tua itu dengan tertawa.

Diam2 jakinlah Tik Hun: “Djika demikian, djadi pengemis ini memang betul Gian-supek adanja.”

“Sute,” demikian Ban Tjin-san telah berkata pula, “ada apa kau menggali tanah didalam rumah sini? O, barangkali kau mengusahakan pertambangan, ja? Besar amat lubang jang kau gali ini?”

Tapi sipengemis tua alias Gian Tat-peng itu tenang2 sadja, ia tertawa dingin, lalu mendjawab: “Dugaan Suheng salah semua. Soalnja musuh Siaute terlalu banjak, aku ingin bersembunji disini, maka sengadja menggali lubang perlindungan ini. Tapi lubang inipun serta guna, djika musuh terbunuh oleh Siaute, maka sekalian aku lantas menguburnja disini dengan tidak perlu menggali liang kubur lain. Sebaliknja djika Siaute dibinasakan musuh, maka lubang inipun dapat dianggap sebagai tempat tidurku untuk se-lama2nja.”

“Wah, bagus, bagus! Sute memang pintar berpikir!” demikian Ban Tjin-san tertawa memudji. “Tapi badan Sute toh tidak terlalu gede, kulihat liang inipun sudah lebih dari tjukup, rasanja tidak perlu menggali lebih dalam lagi.”

“Benar, untuk mengubur seorang memang lebih dari tjukup, tapi kalau untuk mengubur delapan orang mungkin masih kurang dalam,” sahut Gian Tat-peng.

Melihat kedua saudara perguruan itu begitu berhadapan sudah lantas perang mulut dengan kata2 tadjam, tiba2 Tik Hun mendjadi teringat kepada apa jang pernah ditjeritakan Ting Tian dahulu. Pikirnja: “Menurut tjerita Ting-toako, katanja Suhu bersama Ban-supek dan Gian-supek bertiga telah mengerojok dan membunuh guru mereka, Bwe Liam-seng. Sedangkan guru mereka sendiri sadja dibunuh, apalagi diantara mereka masakah dapat diharapkan adanja hubungan persaudaraan jang baik? Menurut tjerita Ting-toako (batjalah hal 38 djilid 2), katanja mereka bertiga telah berhasil merebut Soh-sim-kiam-boh dari guru mereka, tapi tidak mendapatkan Kiam-koat jang merupakan inti rahasia dari peladjaran ilmu pedang itu. Padahal Kiam-koat itu melulu terdiri dari angka2 sadja, katanja angka pertama adalah ‘4’, angka kedua adalah ’51’, angka ketiga adalah ’33’, angka keempat adalah ’53’, angka kelima ’18’, angka keenam ‘7’ dan ………. sampai adjalnja Ting-toako angka2 itupun belum selesai diutjapkan. Bukankah Kiam-boh sudah mereka rebut dari guru mereka, mengapa sekarang mereka mentjari lagi kesini?”

Dalam pada itu Ban Tjin-san telah berkata: “Sute jang baik, kita berdua adalah saudara seperguruan sedjak ketjil, kau tjukup kenal pikiranku, akupun paham isi hatimu, buat apa mesti bitjara setjara ber-putar2! Mana, serahkan!” ~ Begitu kata2 terachir itu dilontarkan, berbareng ia sodorkan tangannja kedepan.

Namun Gian Tat-peng hanja geleng2 kepala, sahutnja: “Belum dapat kutemukan. Kelitjinan Djik-losam memang harus diakui kita bukan tandingannja. Sampai sekarang aku masih belum dapat mengetahui dimanakah dia telah menjembunjikan Kiam-boh itu.”

Kembali Tik Hun terkesiap, pikirnja pula: “Agaknja sesudah mereka bertiga berhasil merebut Soh-sim-kiam-boh dari guru mereka, kemudian Suhu berhasil pula mengangkangi sendiri kitab ilmu pedang itu. Tapi mengapa selama itu tiada terdjadi apa2? Ja, tentu disebabkan Suhu dapat bertindak dengan sangat litjin hingga selama itu perbuatannja tak diketahui oleh kedua Supek ini. Dan kalau Suhu tidak tinggal disini, dengan sendirinja Kiam-boh itu selalu dibawanja ke-mana2, masakah Kiam-boh itu dapat disembunjikan atau dipendam didalam rumah ini? Sekarang mereka membongkar-bangkir tempat ini, bukankah terlalu tolol perbuatan mereka itu?”

Akan tetapi ia tahu sekali2 Ban Tjin-san dan Gian Tat-peng itu bukan orang tolol, mungkin berpuluh kali, bahkan beratus kali lebih pintar dan tjerdik daripada Tik Hun sendiri. Habis, rahasia dan muslihat apakah jang berselubung dibalik kesemuanja ini?

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san telah tertawa ter-bahak2. Katanja: “Sute, masakah kau perlu berlagak pilon lagi? Ha-ha, orang mengatakan Samsute kita adalah Tiat-soh-heng-kang, tipu-akalnja lihay, tapi menurut hematku, adalah Djisute kau jang lebih lihay. Mana serahkan!”

Dan kembali ia mendjulurkan kedua tangannja pula.

Tapi Gian Tat-peng me-nepuk2 kantongnja jang kosong itu, sahutnja: “Djika sudah kudapatkan, masakah antara kita masih perlu di-beda2kan milikmu atau milikku? Djika barang itu dapat ketemukan, tentu akan kutundjukan setjara terbuka, kita boleh melatihnja bersama dan kita dapat tukar pikiran pula, bukankah begini lebih baik. Bukan aku sengadja mem-besar2kan hal ini, tapi sesungguhnja Suheng, andaikan mestika itu kudapatkan, seorang diri saudaramu ini djuga tak sanggup melatihnja, tapi mesti minta Suheng jang memegang pimpinan ini. Sebaliknja, hehe, seumpama Suheng jang menemukan mestika itu, biarpun anak muridmu tjukup banjak, tapi kepandaian mereka masih hidjau, maka perlu djuga rasanja bantuan saudaramu ini untuk berkongsi.”

“Kau sudah pernah mendatangi gua disana itu, apa jang telah kau ketemukan?” tanja Ban Tjin-san.

“Gua apa?” sahut Gian Tat-peng dengan heran. “Didekatan sini ada gua, maksudmu?”

“Sute,” kata Tjin-san, “kita adalah saudara seperguruan selama puluhan tahun, buat apa achirnja mesti tjektjok sendiri? Harap kau keluarkan sadja, marilah kita mempeladjari bersama, ada untung sama dirasakan, ada rugi sama dipikul.”

“Sungguh aneh, mengapa kau jakin benar2 menuduh aku sudah memperolehnja?” tanja Tat-peng. “Djika betul aku sudah mendapatkan barangnja, buat apa aku masih susah-pajah menggali disini?”

“Huh, banjak tipu akalmu jang litjin, siapa tahu permainan apa jang sedang kau lakukan?” udjar Tjin-san.

“Suko, kau sendiri toh tjukup kenal Samsute, masakah barangnja akan begini gampang kita ketemukan?” kata Tat-peng. “Menurut pendapatku, belum tentu pula disimpannja didalam rumah ini, bila menggali tiga hari masih belum kutemukan apa2, maka akupun tidak ingin meneruskan lagi penggalian ini.”

“Haha, kukira lebih baik kau menggali sebulan atau dua bulan supaja permainan sandiwaramu ini bisa lebih hidup,” djengek Ban Tjin-san.

Seketika air muka Gian Tat-peng berubah, segera ia bermaksud undjuk gigi, tapi sesudah dipikir pula, sedapat mungkin ia menahan gusarnja, sahutnja kemudian: “Suheng, tjara bagaimana aku harus berbuat supaja kau mau pertjaja?” ~ Habis berkata, ia terus membuka djubahnja dan dibalik, ia kebas2 djubahnja itu, maka terdengarlah suara gemerintjing jang njaring, dari djubahnja itu djatuh beberapa tahil perak dan sebuah pipa tembakau, ia pun tidak mendjemput kembali barang2 itu, tapi masih mengebas beberapa kali djubahnja itu.

“Hm, memangnja kau begitu bodoh, masakah kau membawanja didalam badjumu?” kata Ban Tjin-san. “Ja, andaikan kau bawa, tentu djuga kau simpan dibagian dalam, tidak mungkin kau taruh disaku luar.”

Gian Tat-peng menghela napas, sahutnja: “Djikalau Suheng tetap tidak pertjaja, ja apa boleh buat, silakan menggeledah badan Siaute sadja.”

“Maafkan kalau begitu,” kata Tjin-san. Lalu ia memberi tanda kepada Ban Ka dan Sim Sia.

Kedua pemuda itu mengangguk tanda tahu, lalu mereka memasukkan pedang mereka kesarungnja, dari kanan-kiri segera mereka mendekati Gian Tat-peng.

Menjusul Ban Tjin-san memberi isjarat pula kepada Bok Heng dan Loh Kun, kedua orang itu pelahan2 lantas menggeser kebelakang Gian Tat-peng dengan pedang tetap terhunus.

Dalam pada itu Gian Tat-peng telah tepuk2 lagi saku badju dalam dan berkata: “Nah, silakan geledah!”

“Maaf, Susiok,” kata Ban Ka, terus sadja ia mengulur tangannja kedalam saku sang paman guru.

Tapi mendadak ia mendjerit tadjam sekali, tjepat ia menarik kembali tangannja, waktu diperiksa dibawah sinar obor jang terang itu, maka tertampaklah dipunggung tangannja terdapat seekor ketungging jang besar. Rupanja sangat kesakitan hingga Ban Ka ber-djingkrak2, “plok”, tjepat ia baliki tangan dan menggablok ketepi tanggul liang galian, seketika ketungging berbisa itu terpukul hingga hantjur. Tapi punggung tangannja sudah terkena bisa binatang itu, kontan sadja terus abuh.

Ban Ka masih berlagak djagoan, sedikitpun ia tidak sudi merintih, tapi keringat dingin didjidatnja sudah lantas merembes keluar ber-butir2 sebesar kedelai.

Kemudian terdengar Gian Tat-peng berseru kaget: “Ai, Ban-hiantit, darimanakah kau mendapatkan serangga berbisa seperti itu? Wah itu adalah ketungging loreng, lihaynja tidak kepalang. Suko, hajolah lekas, lekas, kau membawa obat penawar ratjun tidak? Kalau terlambat sebentar lagi, wah tentu tjelaka, tentu tjelaka!”

Maka tertampak punggung tangan Ban Ka jang abuh itu dari warna merah berubah mendjadi matang biru, lalu mendjadi hitam, ada satu garis merah pelahan2 menaik kearah lengan.

Namun Ban Tjin-san insaf telah terdjebak oleh tipu kedji sang Sute, karena sudah kepepet, terpaksa ia menahan perasaannja dan berkata: “Sute, kakakmu ini terimalah menjerah padamu, aku mengaku kalah sudah, harap kau berikan obat penawarnja dan kami lantas pergi, untuk seterusnja kami takkan datang kembali untuk merusuhi kau lagi.

“Tentang obat penawar, ja, dulu aku memang punja, tapi kemudian, lama kelamaan entah tertaruh dimana, biarlah lewat beberapa hari lagi akan kutjarikan dan mungkin akan dapat diketemukan. Pabila tidak, nanti aku akan pulang ke Tay-beng-hu untuk mentjari resep obat itu dan membelikannja diapotik. Ja, apa mau dikata, habis kita sesama saudara seperguruan sih.”

Mendengar djawaban itu, sungguh dada Ban Tjin-san hampir2 meledak saking gusarnja. Luka terpagut ular atau diatup ketungging seperti itu dalam waktu singkat sadja djiwa penderita mungkin akan melajang, asal garis merah jang mulai menaik ke lengan itu menembus sampai didada, maka kontan penderita itu akan terbinasa, tapi sang Sute enak2 bitjara tentang “lewat beberapa hari lagi obat penawar itu akan ditjari” dan katanja akan tjari resepnja dulu ke Tay-beng-hu, padahal djarak Tay-beng-hu itu be-ribu2 li djauhnja, bahkan setjara tidak kenal malu mengatakan pula tentang hubungan baik sesama saudara seperguruan apa segala.

Tapi apa daja, djiwa putera kesajangannja tergantung diudjung rambut, terpaksa Ban Tjin-san menahan perasaannja, seorang laki2 hendak membalas dendam masih belum terlambat untuk menunggu sepuluh tahun lagi. Maka katanja pula: “Sute, harini sudah terang aku terdjungkal habis2an. Apa jang kau inginkan, hendaknja kau katakan terus terang sadja.”

Gian Tat-peng benar2 seorang litjik, biar orang kerupukan setengah mati, tapi ia djusteru bersikap ngular kambang, dengan pe-lahan2 ia miring kepala untuk memikir, habis itu barulah ia mendjawab: ” Suko, apa sih keinginan jang kuharapkan dari kau? Sudahlah, kau suka bagaimana dan aku akan menurut sadja.”

Diam2 Ban Tjin-san gemas tidak kepalang, didalam hati ia bersumpah: “Baik, sedemikian kau mendesak diriku, sedikitpun tidak mau mengalah, pada suatu hari kelak pasti aku akan suruh kau kenal akan kelihayanku.” ~ Dan lahirnja ia tenang2 sadja dan mendjawab: “Baiklah aku berdjandji untuk selandjutnja takkan bertemu lagi dengan Sute, kalau aku meng-utik2 apa2 lagi kepada Sute anggaplah aku orang she Ban ini bukan manusia.”

“Ai, mana aku berani terima sumpahmu seberat itu,” udjar Gian Tat-peng dengan senjum tjulas. “Begini, aku hanja mohon Suko menjatakan bahwa ‘Soh Sim Kiam-boh” itu diakui sebagai milik Gian Tat-peng. Kalau jang menemukan kelak adalah Gian Tat-peng sendiri itulah tidak perlu lagi dipersoalkan, tapi umpama Suko jang menemukan, maka djuga harus diserahkan kepada Sutemu ini.”

Dalam pada itu separoh tubuh Ban Ka sudah kaku lumpuh, hawa ratjun pelahan2 mulai menjerang otaknja hingga kepalanja terasa pening, mata mendjadi gelap, tubuhnja sempojongan, tanpa kuasa lagi ia berkeledjetan seperti orang kena penjakit ajan.

“Sute, Sute!” seru Loh Kun dengan kuatir, tjepat ia madju untuk memajang Ban Ka. Waktu di periksa lengannja, ternjata garis merah itu sudah lewat ketiak dan mendjurus kedada. Tjepat ia berpaling kepada Ban Tjin-san dan berseru: “Suhu, segala permintaannja kita sanggupi sadja!”

Dibalik kata2nja itu se-olah2 menjatakan bahwa kita terpaksa menerima sjaratnja, tapi kelak kita masih dapat ingkar djandji dan membalas sakit hati.

Ban Ka adalah putera tunggal kesajangan Ban Tjin-san, dengan sendirinja djago “Ngo-in-djiu” itu tidak dapat menjaksikan puteranja itu mati konjol begitu sadja, terpaksa ia lantas berseru: “Baiklah, ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu anggaplah sebagai milik Sute. Kionghi. Kionghi!”

“Djika begitu, biarlah kutjari dulu kedalam kamar sana, boleh djadi aku akan mendapatkan obat penawar apa jang berguna, hal ini tergantunglah nasib Ban-hiantit sendiri jang entah akan mudjur atau malang.”

Habis berkata, tetap dengan tjaranja jang ngular kambang ia bertindak kedalam. Segera Ban Tjin-san mengedipi Loh Kun dan Bok Heng dan segera kedua pemuda itupun ikut masuk kedalam.

Selang agak lama, tunggu punja tunggu ketiga orang itu masih belum keluar, suara merekapun tidak kedengaran. Sebaliknja keadaan Ban Ka semakin pajah, sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dan tak berkutik lagi bersandar dalam pegangan Sim Sia.

Keruan Ban Tjin-san semakin kelabakan bagaikan orang kebakaran djenggot. Segera ia berkata kepada muridnja jang lain, jaitu Pang Tam: “Tjoba kau lihat kedalam sana!”

Pang Tan mengiakan, tapi belum lagi ia bertindak, sementara itu tertampak Gian Tat-peng sudah berdjalan keluar dengan muka ber-seri2 dan berkata: “Untung, untung! Ini, dapat kutemukan ~ sembari berkata ia lantas undjukan sebuah botol porselen ketjil dan menjambung pula: “Ini adalah obat penawar ratjun, tentu akan mandjur sekali untuk menjembuhkan ratjun antupan ketungging.”

Habis berkata, ia terus mendekati Ban Ka, ia membuka sumbat botol dan menuang keluar sedikit obat bubuk warna hitam, ia bubuhkan obat dipunggung tangan Ban Ka sambil berkata: “Ban-hiantit, agaknja nasibmu masih mudjur!”

Obat penawar itu ternjata sangat mustadjab, hanja sekedjap sadja dari luka itu lantas merembes keluar air hitam dan menetes ketanah, makin lama makin banjak darah hitam jang menetes itu dan garis merah dilengan Ban Ka itupun pelahan2 menurun kembali kepergelangan tangan.

Ban Tjin-san menghela napas lega, tapi mendongkol pula. Djiwa puteranja memang telah dapat diselamatkan, tapi pamornja sekarang benar2 bangkrut habis2an. Bertempur sadja belum dan dia mesti mengaku kalah, bukankah hal ini terlalu penasaran baginja?

Selang tak lama pula, achirnja Ban Ka membuka mata dan memanggil: “Ajah!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: