Pedang Hati Suci (Jilid ke-13)

Lalu Gian Tat-peng menutup kembali botolnja dan menjimpannja kedalam badju, katanja dengan tertawa: “Nah, selamat djalan, aku tidak menghantar, ja!”

“Panggil mereka keluar,” kata Ban Tjin-san kepada Sim Sia, maksudnja kedua muridnja jang menjusul Gian Tat-peng keruangan belakang tadi.

Sim Sia mengiakan, lalu menudju keruangan belakang sambil berseru: “Loh-suko, Bok-suko, hajolah lekas keluar, kita akan berangkat!”

Tapi ia tidak mendapat sahutan seorangpun, kembali ia menggembor lagi beberapa kali dan tetap sunji senjap tiada suara apa2. Tanpa menunggu perintah sang Suhu lagi segera Sim Sia menerdjang kebelakang.

Namun sial benar2, sekali ia sudah masuk, untuk selandjutnja iapun tidak keluar lagi.

Keruan Ban Tjin-san tjuriga dan kuatir, tapi segera iapun sadar: “Didalam rumah keparat Gian Tat-peng ini kalau bukan ada djagoan silat lihay, tentu didalam situ dipasang perangkap rahasia apa2 hingga ketiga muridku sekali masuk lantas terdjebak tipu muslihatnja. Dalam keadaan demikian biarpun aku memohon lagi dengan merendah diri djuga tiada gunanja.”

Karena pikiran itu, tanpa bitjara segera ia lolos pedang, sekali bergerak, kontan ia menusuk keleher Gian Tat-peng.

Selamanja Tik Hun belum pernah melihat sang Toasupek Ban Tjin-san mengundjukan ilmu silatnja, kini melihat tusukannja itu sangat kuat dan kedji pula, diam2 ia memudji: “Ehm, bagus, serangannja ini sangat tepat.”

Hendaklah diketahui bahwa kepandaian Tik Hun sekarang sudah luar biasa, maka setiap permainan silat orang lain baginja boleh dikata seperti mengambil barang disaku sendiri gampangnja, apakah permainan silat orang itu salah atau benar dengan segera akan dapat diketahui olehnja. Ia melihat serangan pertama Ban Tjing-san itu sedikitpun tiada tempat kelemahan, maka dapat diduga ilmu silat sang paman guru itu memang tidak rendah.

Begitulah maka Gian Tat-peng telah mengegos untuk hindarkan tusukan Ban Tjin-san tadi, menjusul kedua tangannja jang memegangi tongkat tadi mendadak dipentang, tahu2 tongkat itu putus mendjadi dua, “tjreng”, tahu2 tangannja telah bertambah sebatang pedang jang gemilapan menjilaukan mata.

Kiranja tongkat itu sebenarnja adalah sendjata “dwi-guna”, boleh dipakai sebagai tongkat dan dapat pula digunakan sebagai pedang bila udjung tongkat jang berukir kepala naga itu ditarik, maka kepala naga itu akan berubah tugasnja mendjadi garan pedang dan bagian tongkat jang bawah sebenarnja adalah sarung pedang.

Maka begitu pedang sudah dilolos, segera Gian Tat-peng melantjarkan serangan balasan hingga dalam sekedjap sadja terdengarlah suara “trang-tring” jang njaring, kedua saudara seperguruan itu lantas saling labrak ditengah lubang galian luas itu.

Sedjak tadi para kuli kampung itu sudah kuatir menjaksikan pertengkaran mulut kedua orang itu, kini melihat mereka mulai saling tempur dengan sendjata, keruan kuli2 kampung itu bertambah ketakutan hingga mereka sama menjingkir kepodjok ruangan dan tiada seorangpun jang berani membuka suara.

Tik Hun djuga pura2 ketakutan, tapi diam2 iapun perhatikan pertarungan kedua paman guru itu.

Sesudah mengikuti belasan djurus lagi, diam2 Tik Hun merasa gegetun, pikirnja: “Tenaga dalam kedua Supek ini mengapa begitu tjetek? Meski tipu serangan mereka masing2 ada keunggulannja sendiri2, tapi kalau kebentur lawan jang punja Lwekang tinggi, sekali sendjata beradu, sekali gebrak sadja pasti sendjata mereka akan mentjelat keudara, djangan lagi hendak bitjara serang-menjerang segala? Dan kalau kedua Supek ini ingin ilmu silat mereka tambah madju, mereka harus mulai dengan memupuk tenaga dalam, kalau tiada memiliki tenaga dalam jang kuat, sekalipun mendapatkan Soh-sim-kiam-boh djuga tiada gunanja. Apalagi usia mereka sudah landjut begini, untuk melatih Lwekang agaknja djuga sudah susah.”

Dan setelah mengikuti beberapa djurus pula, kembali ia lebih gegetun lagi: “Njata sekali ilmu silat Lau Seng-hong berempat pendekar jang bergelar “Lok-hoa-liu-tjiu” adalah djauh lebih tinggi daripada kedua Supek ini. Kulihat ilmu silat kedua Supek ini memang sedjak mula sudah sesat djalan, melulu mengutamakan perubahan2 tipu serangan jang indah dipandang, tapi sebenarnja tak berguna. Mereka tidak pikir tjara bagaimana harus memupuk tenaga dalam jang merupakan landasan ilmu silat.

Apakah sebabnja mereka bisa salah? Ja, aku mendjadi ingat, dahulu waktu Suhu mengadjarkan ilmu pedang padaku djuga demikian tjaranja dia memberi petundjuk. Agaknja mereka, Ban-supek, Gian-supek dan Suhu bertiga saudara seperguruan memang

beginilah memperoleh didikan dari Sutjo (kakek guru). Pada hal ilmu silat kembangan begini kalau ketemukan lawan jang bertenaga dalam sedikit lebih kuat, maka silat kembangan mereka ini seketika tiada gunanja sama sekali. Ja, sungguh aneh, mengapa mereka beladjar ilmu pedang tjara begini?”

Begitulah Tik Hun tidak habis mengerti oleh tjara beladjar silat Suhu dan kedua Supeknja itu.

Dalam pada itu dilihatnja Sun Kin, Pang Tan dan Go Him bertiga djuga sudah mulai mengerubut madju, mereka tidak pikirkan pula tentang peraturan Kangouw apa segala.

Maka tertawalah Gian Tat-peng dengan ter-bahak2: “Bagus, bagus! Toasuko, makin lama makin djempol kau! Sekian banjak begundalmu jang kau bawa untuk mengerojok Sutemu ini!” ~ Meski ia bersikap tenang2 sadja seperti tak terdjadi apa2, tapi permainan pedangnja sudah mulai katjau menghadapi empat lawan itu.

Pikir Tik Hun pula: “Ilmu pedang kedua Supek masing2 mempunyai keunggulannja sendiri2. Dahulu Gian-supek telah mengadjarkan tiga djurus ‘Dji-koh-sik’, ‘Ni-kong-sik’ dan ‘Gi-kiam-sik’ padaku hingga aku dapat melabrak habis2an kedelapan Ban-bun-tetju, tapi kini ia sendiri menggunakan tipu2 serangan itu untuk menghadapi Ban-supek ternjata tiada sedikitpun gunanja. Ai, mengapa mereka tidak paham bahwa ilmu pedang jang indah2 permainannja kalau tidak dilandasi dengan tenaga dalam jang kuat, apa sih gunanja? Dan sungguh aneh, mengapa mereka tidak tahu hal ini?”

Se-konjong2 dalam benaknja terkilas sesuatu kedjadian dimasa lampau: “Menurut tjerita Ting-toako mengenai asal-usul Sin-tjiau-keng, njata Sutjo Bwe Liam-sing pasti paham betapa pentingnja landasan Lwekang tapi mengapa beliau tidak mengatakan kepada ketiga muridnja? Djangan2 …… djangan2 ….” ~ berpikir sampai disini, tanpa merasa ia menggigil dan keringat dingin merembes keluar dipunggungnja, badannja gemetar sedikit.

Seorang kampung disebelahnja jang berusia sudah tua tiada hentinja menjebut Budha dan berdoa: “Omitohud, Omitohud! Semoga djangan terdjadi pembunuhan disini. Adik tjilik, djangan takut, djangan takut!”

Rupanja ia melihat Tik Hun gemetar, maka disangkanja pemuda itu ketakutan oleh pertarungan sengit itu, maka orang tua itu lantas menghiburnja. Padahal hatinja sendiri sebenarnja djuga sangat ketakutan.

Begitulah sekali Tik Hun sudah dapat menerka dimana letak kegandjilan itu, tjuma hal ini terlalu kedji dan penuh kepalsuan hati manusia, maka ia tidak ingin banjak memikirkan pula, bahkan tidak ingin membentangkan satu djalan pikiran jang membenarkan pendapatnja itu. Namun Tik Hun tadi sudah berhasil memetjahkan teka-teki jang gandjil itu, dengan sendirinja segala sesuatu hal jang paling ketjil sekalipun djuga akan dapat diarahkan kesitu. Dan setiap gerak serangan Ban Tjin-san dan ketiga muridnja itu selalu menambah dan membuktikan kebenaran pendapat Tik Hun itu.

“Ja, ja, tidak salah lagi, tentu beginilah halnja. Tetapi, ah apa mungkin? Sebagai guru masakah bisa berlaku sekedji ini? Tidak, tidak bisa ~ namun djika bukan begitu, mengapa bisa begini? Sungguh sangat aneh?”

Achirnja terbajanglah suatu adegan jang sangat djelas dalam benaknja. “Beberapa tahun jang lalu, itulah ditempat jang sama ini, aku dan Djik Hong sumoay sedang latihan dan Suhu berdiri disamping untuk memberi petundjuk. Suhu telah mengadjarkan suatu djurus jang indah dan aku telah melatihnja dengan giat. Tapi ketika untuk kedua kalinja aku bertanja apa jang Suhu adjarkan lantas tidak sama lagi, gajanja sih tetap sangat bagus tapi sudah berbeda daripada jang pertama. Tatkala itu aku mengira ilmu pedang Suhu itu terlalu hebat dan banjak perubahannja, tapi kini demi dipikir sebab apakah satu djurus ilmu pedang bisa ber-beda2 tjara mengadjarkan, maka terang gamblang sekali dapat kuketahui sekarang.

Mendadak ia merasa sangat berduka, sangat sedih, pikirnja pula: “Suhu telah sengadja menjesatkan aku, sengadja mengadjarkan ilmu pedang jang tidak baik padaku. Sebenarnja kepandaiannja tjukup tinggi, tapi ia sengadja mengadjarkan padaku ilmu pedang jang tjuma indah dipandang tapi tidak berguna dipakai …….. dan Ban-supek djuga begitu, kepandaiannja terang djauh berbeda daripada para anak muridnja ini ….”

Dalam pada itu dilihatnja Gian Tat-peng sedang beraksi pula, tangan kiri bergaja, dan tangan kanan bergerak, udjung pedang disendal hingga ber-putar2 dalam bentuk lingkaran2, lalu dengan tjepat luar biasa terus menusuk kedada lawan.

Sebaliknja Ban Tjin-san djuga tjepat menangkis, pedangnja menabas melintang ber-ulang2, lawannja tudjuh kali memutar pedang, iapun menabas tudjuh kali hingga lingkaran2 ketjil pedang lawan dipetjahkan semua olehnja.

Menjaksikan itu, kembali Tik Hun berpikir pula: “Ketudjuh lingkaran2 itu sebenarnja tidak perlu, sebab paling achir toh dia menusuk kedada Ban-supek, djika begitu, mengapa tidak terus langsung menusuk sadja, bukankah lebih tjepat dan lebih ganas? Sebaliknja Ban-supek djuga menabas dan menangkis lingkaran2 ketjil itu, nampaknja memang bagus, tapi sebenarnja gobloknja keliwat. Kalau dia balas menusuk keperut Gian-supek, bukankah sedjak tadi dia sudah menang!”

Mendadak benaknja terbajang pula suatu adegan dimasa dahulu.

Waktu itu dia sedang berlatih bersama sang Sumoay Djik Hong. Banjak djuga variasi ilmu pedang jang dimainkan Djik Hong, sebaliknja ia sendiri agak lupa kepada tipu djurus jang diadjarkan oleh Suhunja hingga dia terdesak kalang-kabut oleh serangan Djik Hong, ber-ulang2 terpaksa ia mundur. Dan selagi Djik Hong mentjetjar pula tiga kali hingga dia kelabakan takbisa menangkis, nampaknja pasti dia akan kalah, pada saat sudah kepepet inilah ia tidak memikirkan apa jang pernah dipesan sang guru lagi, tapi pedangnja diangkat untuk menangkis sekenanja, menjusul terus menusuk kedepan.

Aneh djuga, serangan Djik Hong itu tampaknja bergaja indah dan lihay, dan tangkisan Tik Hun tampaknja kaku ngawur, tapi malah serangan Djik Hong itu dapat dipatahkan, bahkan tusukan Tik Hun terus mengantjam ke pundak Djik Hong. Sedang Tik Hun bingung karena tak sempat menarik kembali tusukannja itu, se-konjong2 Djik Tiang-hoat melompat madju dengan membawa sepotong kayu, tjepat ia sampuk hingga pedang Tik Hun kena dihantam djatuh terpental. Dalam pada itu Djik Hong dan Tik Hun sudah kaget setengah mati. Maka Djik Tiang-hoat telah damperat Tik Hun mengapa tidak menurut petundjuk adjaran sang guru, tapi main ngawur.

Tatkala itu Tik Hun djuga pernah memikir: “Aku menjerang setjara ‘ngawur’, tapi mengapa malah menang?”

Tapi pikiran itu hanja sekilas sadja lantas hilang. Segera terpikir olehnja: “Ja, mungkin ilmu pedang Sumoay sendiri pun kurang sempurna, bila betul2 ketemukan lawan tangguh, tjaraku ngawur tadi tentu akan bikin tjelaka diri sendiri.”

Begitulah sama sekali ia tidak pikirkan bahwa tipu serangan jang dilontarkan setjara mendadak itu sebenarnja djauh lebih hebat dan lebih praktis daja gunanja.

Dan kalau dipikir sekarang, terang berbeda sama sekali pendapatnja. Kini ilmu silat Tik Hun sudah sempurna, dengan terang gamblang ia dapat melihat dengan djelas bahwa diantara permainan silat Tjin-san dan Gian Tat-peng itu hanja gerak kembangan jang tiada gunanja, sedangkan apa jang diadjarkan Ban Tjin-san kepada muridnja dan apa jang diadjarkan Djik Tiang-hoat kepada Tik Hun, gerak tipu jang tak berguna itu lebih banjak pula. Njata sekali bahwa Sutjo Bwe Liam-sing sebenarnja sudah tahu bahwa djiwa ketiga muridnja itu tidak djudjur, maka diwaktu mengadjar sengadja menjesatkan mereka kedjalan jang tidak benar. Kemudian waktu Ban Tjin-san dan Djik Tiang-hoat mengadjar kepada muridnja, djalan sesat itu mendjadi makin djauh lagi.

Sungguh Tik Hun tidak habis mengarti, dengan tipu serangan jang tidak berguna itu kalau dipakai bertempur melawan musuh, itu berarti menjerahkan djiwa sendiri kepada musuh. Mengapa Sutjo, Supek dan Suhu begitu kedji dan kedjam? Mengapa mereka begitu tjulas.

Sambil memandangi muka Gian Tat-peng, kemudian Tik Hun mendadak ingat sesuatu kedjadian dimasa dahulu. Jaitu pada hari Bok Heng datang untuk mengundang gurunja menghadiri perajaan ulang tahun sang Supek. Tatkala itu ia sedang berlatih dengan Djik Hong, mendadak terdengar suara orang tertawa dibalik onggok djerami sana, waktu Suhunja memeriksa kesana, kiranja adalah seorang pengemis tua jang sedang mendjemur diri dibawah sinar matahari sambil mentjari tuma dibadjunja jang rombeng itu. Tatkala itu Suhu tidak tahu, padahal sebenarnja pengemis tua itu adalah samaran Gian Tat-peng. Senantiasa Gian-supek itu mengintai disekitar rumah tinggal Suhunja itu untuk mentjari sesuatu dan sudah tentu jang ditjari adalah Soh-sim-kiam-boh, malahan sampai sekarang kedua Supek itu masih bertempur memperebutkan kitab pusaka itu.

Begitulah djika disana Tik Hun sedang mengelamun mengenangkan kedjadian2 dahulu, adalah ditengah kalangan pertempuran sana Ban Tjin-san masih saling labrak dengan sengit bersama Gian Tat-peng. Tapi karena Ban Tjin-san mengerojok bersama ketiga muridnja, maka Gian Tat-peng makin lama makin terdesak.

Se-konjong2 Sun Kin menusuk kepunggung Gian Tat-peng, tapi tjepat Tat-peng sempat membaliki pedangnja untuk menangkis, berbareng pedangnja menjabat kebawah, maka mendjeritlah Sun Kin, “trang” pedangnja djatuh ketanah, pergelangan tangannja djuga luka terkena sendjata lawan. Dan pada saat jang hampir sama itu, kesempatan itu telah digunakan dengan baik oleh Ban Tjin-san, “tjret” pedangnja djuga kena menggores suatu luka pandjang di lengan kanan Gian Tat-peng.

Sambil mengikuti pertarungan Ban Tjin-san melawan Gian Tat-peng itu. Tik Hun mendjadi ter-heran2 mengapa tipu2 serangan mereka hanja indah dalam gaja permainan sadja, tapi sama sekali tidak berlandaskan Lwekang?

Karena kesakitan, tjepat Tat-peng mengoperkan pedangnja ketangan kiri. Dan sudah tentu ia kurang biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri, apalagi lukanja djuga tidak ringan, darah mengutjur membasahi tubuhnja, maka setelah beberapa djurus lagi, kembali bahu-kirinja tertusuk pula oleh pedang Ban Tjin-san.

Para kuli kampung jang menonton disamping itu mendjadi putjat ketakutan, mereka saling berbisik menjatakan kekuatiran mereka akan kemungkinan terdjadinja perkara djiwa, tapi tiada seorangpun diantara mereka jang berani bersuara keras.

Sebaliknja Ban Tjin-san sudah bertekad harus membunuh sang Sute, maka serangan2nja semakin gentjar dan semakin kedji. “Tjret”, kembali dada kanan Gian Tat-peng kena tertusuk lagi.

Tampaknja dalam berapa djurus lagi djiwa Gian Tat-peng pasti akan melajang dibawah pedang sang Suheng, tapi toh dia masih melawan mati2an, sepatahkatapun dia takmau minta ampun. Rupanja ia tjukup kenal watak sang Suheng jang tjulas, apalagi selama belasan tahun mereka telah “perang dingin” setjara diam2, kalau dia minta ampun, itu berarti akan makin dihina dan tidak mungkin berguna.

Dalam pada itu Tik Hun sedang memikir: “Dahulu waktu di Hengtjiu, Gian-supek pernah menolong aku dari labrakan sibandit besar Lu Thong, malahan iapun mengadjarkan tiga djurus ilmu pedang padaku hingga aku terhindar dari aniaja dan hinaan murid2nja Ban-supek. Sebelum aku membalas budinja ini, mana boleh aku menjaksikan dia mati ditangan orang.”

Karena itu Tik Hun pura2 gemetar ketakutan, tapi tjangkul jang dipegangnja itu telah siap mengeduk tanah.

Pada saat lain dilihatnja pedang Ban Tjin-san kembali menusuk lagi keperut Gian Tat-peng dan tampaknja Gian Tat-peng sudah tak sanggup menangkis lagi, pada detik itulah setjepat kilat Tik Hun sendalkan tjangkulnja, kontan segumpal tanah melajang kearah Ban Tjin-san. Tenaga sambaran gumpalan tanah itu tak terkatakan kuatnja, karena tertumbuk oleh tenaga itu, seketika Ban Tjin-san tak tahan, “bluk”, kontan ia djatuh terdjungkal.

Oleh karena diluar dugaan, maka tiada seorangpun jang tahu darimana datangnja gumpalan tanah itu. Dan selagi suasana agak panik, tanah tjangkul Tik Hun jang kedua kalinja telah menghambur lagi, tapi sekali ini jang diarah adalah lentera minjak dan lilin ditepi medja sana, maka dalam sekedjap itu padamlah lilin dan lentera, dalam rumah mendjadi gelap gelita disertai suara djerit kaget orang banjak. Dan pada saat lain Tik Hun lantas melompat madju, tjepat ia kempit Gian Tat-peng terus menerdjang keluar.

Setiba diluar rumah, segera Tik Hun tutuk beberapa Hiat-to penting dipundak, dada dan lengan untuk menahan keluarnja darah dari luka Gian Tat-peng itu. Lalu ia panggul sang Supek, ia keluarkan Ginkangnja jang tinggi terus berlari setjepat terbang kearah pegunungan dibelakang rumah.

Karena Ginkangnja hebat, tempat disekitar situ djuga sangat dikenalnja, maka Tik Hun terus berlari menudju kelereng gunung jang paling terdjal dan susah ditempuh. Gian Tat-peng menggemblok diatas pundak pemuda itu merasa badannja se-akan2 me-lajang2 di-awang2 dan mirip dialam mimpi sadja. Sekalipun ia sudah kenjang asam-garam kalangan Kangouw, tapi susah disuruh pertjaja bahwa didunia ini ternjata ada tokoh silat setinggi ini.

Begitulah djalan jang ditudju oleh Tik Hun itu makin lama makin tinggi, kira2 lebih satu djam, achirnja tibalah diatas puntjak gunung jang paling tinggi disekitar situ. Puntjak gunung itu mendjulang tinggi menembus awan, djangankan orang lain susah mendaki kesitu, biarpun Tik Hun sendiri djuga baru pertama kali ini datang kesitu. Dahulu ia dan Djik Hong sering memandangi puntjak gunung ini dari djauh dan bersenda-gurau setjara ke-kanak2an, siapa duga harini kebetulan dia menolong djiwa seorang, maka didatanginja puntjak gunung ini.

Kemudian ia letakan Gian Tat-peng ditepi sebuah batu tjadas, lalu ia tanja: “Kau membawa obat luka atau tidak?”

Tanpa mendjawab, tapi Gian Tat-peng terus berlutut dan menjembah, katanja: “Siapakah nama Inkong (tuan penolong) jang mulia? Hari ini Gian Tat-peng selamat berkat pertolonganmu, sungguh budi setinggi langit ini entah tjara bagaimana harus kubalas.”

Tik Hun adalah orang djudjur tulus, meski ia tidak ingin memberitahukan siapa dirinja sendiri, tapi ia pun merasa tidak pantas menerima penghormatan sang Supek, maka tjepat iapun berlutut dan balas menjembah, sahutnja: “Tjian-pwe djangan banjak adat hingga membikin hati Tjayhe merasa tidak enak. Tjayhe adalah seorang ‘Bu-beng-siau-tjut’ (peradjurit tak bernama, kerotjo), namaku tiada harganja untuk dikenal, tentang sedikit urusan ini kenapa mesti bitjara soal membalas budi segala.”

Tapi Gian Tat-peng masih berkeras ingin tahu. Sebaliknja Tik Hun tidak dapat membohong dengan nama palsu, hanja tetap ia takmau beritahukan namanja.

Gian Tat-peng tahu bahwa banjak tokoh2 kosen dari dunia persilatan jang suka mengasingkan diri dan menghapuskan namanja dari pergaulan ramai, dari itu iapun tidak berani mendesak terus, kemudian ia mengeluarkan obat luka jang dibawanja dan membubuhkan dilukanja sendiri.

Melihat luka2 diatas tubuh sendiri itu, mau-tak-mau Gian Tat-peng merasa ngeri dan bersyukur pula, pikirnja: “Untung ada tua penolong ini, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah mendjadi almarhum?”

Lalu Tik Hun mulai membuka suara: “Tjayhe ada beberapa persoalan jang susah dimengerti, maka ingin minta pendjelasan pada Tjianpwe.”

“Djanganlah Inkong menjebut diriku sebagai Tjianpwe,” kata Tat-peng dengan merendah. “Djika Inkong ada pertanjaan apa2, asalkan Tat-peng tahu, tentu akan kukatakan se-djudjur2nja, sedikitpun tidak berani berdusta.”

“Bagus sekali, inilah jang kuharapkan,” kata Tik Hun. “Nah tolong tanja Tjianpwe, apakah gedung itu adalah kau jang membangunnja?”

“Benar,” sahut Tat-peng.

“Tjianpwe sengadja mengupahi orang buat menggali lubang besar itu, tentunja ingin mentjari ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu, dan apakah sudah diketemukannja?” tanja Tik Hun pula.

Tat-peng terkesiap, pikirnja: “Ai, kukira dia menolong aku dengan maksud baik, tak tahunja djuga seorang jang lagi mengintjar ‘Soh-sim-kiam-boh’.” ~ Tapi mau-tak-mau iapun mendjawab: “Sudah banjak djerih-pajah jang kukorbankan, tapi sampai saat ini belum memperoleh sedikit tanda2 jang berguna. Harap Inkong maklum bahwa apa jang kukatakan ini adalah sesungguhnja. Pabila Tat-peng sudah memperoleh apa jang ditjari itu, tentu akan kupersembahkan dengan kedua tangan. Sedangkan djiwaku djuga Inkong jang menolong, masakah aku masih sajangkan benda jang toh takkan berguna djika djiwa sudah melajang.”

“Eh, djangan kau salah sangka,” kata Tik Hun sambil gojang2 tangannja. “Aku sendiri tidak inginkan Kiam-boh itu, untuk bitjara terus terang, meski kepandaianku tjuma biasa sadja, tapi aku jakin kalau tjuma kitab seperti ‘Soh-sim-kiam-boh’ apa itu, rasanja belum tentu akan berpaedah bagiku.”

“Ja, ja, memang!” kata Tat-peng. “Ilmu silat Inkong sudah tiada taranja dan didjaman ini tiada tandingannja, sedangkan ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu hanja sedjilid kitab peladjaran ilmu pedang jang biasa sadja. Kami bersaudara perguruan karena ingin memperoleh kitab pusaka perguruan sendiri, maka sangat menilai tinggi atas kitab itu, padahal dimata orang luar itu tjuma kitab jang tiada artinja.”

Biarpun Tik Hun adalah seorang tulus dan tidak pandai ber-liku2, tapi ia dapat djuga mendengar apa jang dikatakan Gian Tat-peng ada jang tidak djudjur, namun iapun tidak membongkar kebohongan orang itu, tapi ia bertanja lagi. “Kabarnja tempat ini adalah kediaman lama Sutemu Djik Tiang-hoat. Katanja Djik Tiang-hoat itu berdjuluk ‘Tiat-soh-heng-kang’, apakah artinja djulukan itu?”

Sedjak ketjil Tik Hun dibesarkan oleh gurunja, apa jang dilihatnja selama itu adalah sang guru itu seorang tua pedusunan jang djudjur dan lugu, tapi Ting Tian djusteru mengatakan bahwa gurunja adalah seorang jang banjak tipu akalnja sebab itulah ia sengadja tanja Gian Tat-peng untuk mengetjek kebenaran apa jang dikatakan Ting Tian itu.

Maka terdengar Gian Tat-peng telah mendjawab: “Suteku Djik Tiang-hoat memang berdjuluk ‘Tiat-soh-heng-kang’, jaitu orang memperumpamakan dia itu laksana seutas rantai besi besar jang melintang dipermukaan sungai hingga semua lalu-lintas air itu takbisa naik dan takdapat turun, artinja mengatakan Djik-sute itu seorang jang banjak tipu muslihatnja, tjaranja kedji pula terhadap orang.”

Sungguh hati Tik Hun sangat menjesal, pikirnja: “Apa jang dikatakan Ting-toako itu ternjata sedikitpun tidak salah. Guruku ternjata benar seorang jang demikian, sedjak ketjil aku telah tertipu olehnja dan beliau selamanja djuga tidak pernah mengundjukan watak aslinja padaku.” ~ Namun demikian dalam hatinja tetap timbul sekelumit harapan, maka tanjanja pula: ” Djuluk orang Kangouw itu belum tentu dapat dipertjaja penuh, boleh djadi musuhnja jang sengadja memberikannja djulukan itu untuk meng-olok2nja. Sebagai sesama saudara perguruan, tentunja Gian-tjianpwe tjukup kenal bagaimana wataknja, nah, sebenarnja bagaimanakah wataknja itu?”

Gian Tat-peng menghela napas, kemudian katanja: “Bukanlah aku sengadja hendak membitjarakan kedjelekan saudara perguruanku sendiri, tapi karena Inkong ingin tahu, Tjayhe tidak berani berdusta sedikitpun, maka biarlah kukatakan terus terang. Djik-suteku itu lahirnja memang kelihatan seperti orang desa jang ke-tolol2an, tapi sebenarnja hatinja litjin, pikirannja tadjam. Kalau tidak, masakah ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu dapat djatuh kedalam tangannja?”

Tik Hun manggut2, selang sedjenak barulah ia berkata pula: “Darimana kau tahu dengan pasti bahwa ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu berada padanja? Apa kau menjaksikan dengan mata kepala sendiri? Menurut kabar, katanja engkau suka menjamar sebagai seorang pengemis tua, apakah benar?”

Diam2 Gian Tat-peng terkesiap lagi, ia heran orang begitu lihay dan serba tahu mengenal seluk-beluk dirinja. Maka djawabnja: “Wah, berita Inkong benar2 sangat tadjam hingga setiap tindak-tanduk Tjayhe dapat diketahui Inkong. Semula aku pikir, ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu kalau bukan berada ditangan Ban-suko tentulah berada pada Djik-sute, maka diam2 aku menjamar sebagai pengemis tua untuk menjelidiki antara kedua tempat tinggal Suheng dan Sute itu. Tapi sesudah kuselidiki sekian lamanja, achirnja aku menarik kesimpulan bahwa Kiam-boh itu tidak berada pada Ban-suko tapi pasti berada ditangan Djik-sute.”

“Apa jang mejakinkan kesimpulanmu itu?” tanja Tik Hun.

Djawab Gian Tat-peng: “Dahulu waktu guru kami akan wafat, beliau telah menjerahkan Kiam-boh itu kepada kami bertiga saudara seperguruan ……”

Tik Hun djadi teringat kepada tjerita Ting Tian tentang peristiwa berdarah pada suatu malam dipantai Tiangkang, dimana Ban Tjin-san, Gian Tat-peng dan Djik Tiang-hoat bertiga telah mengerojok guru mereka hingga mati. Maka ia lantas mendengus demi mendengar keterangan Gian Tat-peng itu, katanja: “Hm apa betul gurumu menjerahkan kitab itu kepada kalian setjara baik2? Hm kukira belum …. belum tentu benar, bukan? Apakah beliau meninggal setjara wadjar?”

Keruan kedjut Gian Tat-peng tak terhingga, mendadak ia melompat bangun, ia tuding Tik Hun dan berseru: “Apa kau … kau adalah Ting … Ting Tian … Ting-toaya?”

Hendaklah diketahui bahwa kedjadian Ting Tian jang mengubur djenazah Bwe Liam-sing itu achirnja tersiar dikalangan Kang-ouw, sebab itulah demi mendengar dosa sendiri jang membunuh guru dibongkar oleh Tik Hun seketika ia mentjurigai pemuda itu adalah Ting Tian.

Tapi dengan dingin Tik Hun berkata: “Aku bukan Ting Tian, Ting-toako adalah seorang pembentji kedjahatan, dengan mata kepala sendiri ia telah menjaksikan kalian bertiga mengerojok hingga tewasnja Suhu kalian, pabila aku adalah Ting-toako, tidak mungkin harini aku mau menolong djiwamu, tentu akan kubiarkan kau mati dibawah pedangnja Ban Tjin-san.”

“Habis siapa engkau?” tanja Gian Tat-peng dengan takut dan sangsi.

“Kau tidak perlu urus siapa aku,” sahut Tik Hun. “Djika ingin orang lain tidak tahu, ketjuali kalau engkau sendiri tidak berbuat. Nah, katakan terus terang, setelah kalian menewaskan gurumu dan berhasil merebut ‘Soh-sim-kiam-boh’, kemudian bagaimana?”

“Djika …. djika engkau toh sudah tahu semuanja, buat …. buat apa tanja padaku lagi?” sahut Gian Tat-peng dengan suara gemetar.

“Ada sebagian jang kuketahui, tapi ada sebagian aku tidak tahu. Maka kau harus mengaku dengan sedjudjurnja, djika bohong sedikit sadja tentu akan kuketahui.”

Sungguh takut dan hormat pula Gian Tat-peng kepada Tik Hun, katanja kemudian: “Mana aku berani membohongi Inkong? Begini, sesudah kami mendapatkan ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu, setelah kami periksa, ternjata jang ada tjuma Kiam-boh (kitab peladjaran ilmu pedang) dan tiada terdapat Kiam-koat (kuntji peladjaran ilmu pedang) jang penting itu, djadi pertjumalah kami mendapatkan Kiam-bohnja sadja ……”

Diam2 Tik Hun membatin: “Menurut Ting-toako, katanja Kiam-koat itu menjangkut rahasia suatu partai harta karun jang belum diketemukan sesudah Bwe Liam-sing, Leng-siotjia dan Ting-toako wafat semua, maka didunia ini sudah tiada seorangpun jang tahu akan Kiam-koat itu, sebaiknja kalian djangan mengimpi pula akan memperolehnja.”

Dalam pada itu terdengar Gian Tat-peng sedang melandjutkan: “Sebab itulah, maka kami masih terus menjelidiki dimanakah beradanja Kiam-koat itu. Tapi kami bertiga saling tjuriga-mentjurigai, masing2 sama kuatir kalau Kiam-boh itupun akan dikangkangi pihak lain, maka setiap malam diwaktu tidur, Kiam-boh itu lantas kami kuntji didalam sebuah peti besi, kuntji daripada peti itu kami buang ketengah sungai dan peti besi itu kami simpan dilatji medja jang kami kuntji pula. Malahan peti besi itu kami gandeng pula dengan tiga buah rantai besi jang ketjil dan masing2 terikat dipergelangan tangan kami, djadi asal ada seorang jang bergerak sedikit, segera dua orang jang lain akan lantas terdjaga bangun.”

Pendjagaan seperti itu sungguh sangat kuat,” udjar Tik Hun.

“Benar,” sahut Gian Tat-peng. “Tapi toh masih terdjadi djuga keonaran.”

“Terdjadi keonaran apa?” tanja Tik Hun.

“Malam itu kami tidur didalam suatu kamar, tapi esok paginja mendadak Ban-suheng ber-teriak2. “Dimana Kiam-boh itu? Dimana?” ~ Waktu aku terdjaga bangun, kulihat latji medja jang tersimpan peti besi itu sudah terbuka, tutup peti besi djuga melompong. Kiam-boh jang tersimpan didalam peti itu sudah terbang tanpa bekas. Keruan kami bertiga sangat kaget, tjepat kami mentjari kesana kemari dan sudah tentu hasilnja nihil. Kedjadian itu benar2 sangat aneh sebab pintu dan djendela kamar itu masih tetap tertutup rapat dan terkuntji dengan baik, maka daapt diduga pentjuri Kiam-boh itu pasti bukan dilakukan orang dari luar, sebaliknja adalah orang jang berada didalam kamar, djadi kalau bukan Ban-suko tentu adalah Djik-sute, satu diantara mereka berdua itu pasti adalah malingnja.”

“Djika begitu, mengapa dia tidak membuka djendela atau pintu agar disangka ditjuri oleh orang luar?” tanja Tik Hun.

“Tangan kami tergandeng oleh rantai besi, kalau diam2 bangun untuk membuka latji dan peti besi itu masih mungkin, tapi kalau berdjalan agak djauh untuk membuka pintu atau djendela, maka rantai besi jang menggandengkan kami itu akan kurang pandjang,” kata Tat-peng.

“O, kiranja begitu, lalu apa jang kalian lakukan lagi?” tanja Tik Hun pula.

“Sudah tentu kami tidak tinggal diam mengingat Kiam-boh itu tidak mudah kami peroleh tapi direbut dengan mengadu djiwa,” sahut Tat-peng. “Maka diantara kami bertiga telah saling menjalahkan dan terdjadilah pertengkaran, bahkan saling tuduh menuduh pula, namun tiada seorangpun jang dapat membuktikan tuduhan masing2, akhirnja terpaksa masing2 menudju kearahnja sendiri-sendiri ……”

“Ada sesuatu jang aku merasa tidak paham, harap suka memberi pendjelasan,” kata Tik Hun. “Bahwasanja kalian bertiga adalah saudara perguruan, djikalau gurumu memiliki sedjilid Kiam-boh pusaka, lambat atau tjepat toh pasti akan diwariskan kepada kalian, apakah mungkin Kiam-boh ini akan dibawanja serta kedalam liang kubur? Dari itu, mengapa kalian turun tangan sekedji itu dan mengapa mesti membunuh guru kalian untuk mendapatkan Kiam-boh itu?”

“Ai, dasar guruku itu memang sudah pikun barangkali,” sahut Tat-peng. “Tjoba, masakah kami bertiga dituduh berhati tidak djudjur dan berdjiwa djahat, maka beliau bertekad akan mengadjarkan ilmu silatnja kepada orang luar. Oleh karena kami sudah tak tahan lagi, sudah terpaksa, maka berbuat seperti apa jang terdjadi itu.”

“O, kiranja begitu. Habis, darimana kemudian kau jakin bahwa Kiam-boh itu berada dalam tangan Djik-sutemu?” tanja Tik Hun.

“Semula jang kutjurigai adalah Ban Tjin-san, sebab dia jang menggembor lebih dulu tentang kemalingan itu. Dan biasanja itu maling suka teriak maling, itulah siasat jang paling sering digunakan. Tapi sesudah diam2 aku menguntit dia, tidak lama kemudian aku lantas tahu dia bukan malingnja. Sebab dia sendiri djuga sedang membajangi Samsute. Djikalau Kiam-boh itu berada ditangan Ban Tjin-san, tidak mungkin dengan susah-pajah ia malah menjelidiki orang lain, tapi ia tentu akan menghilang sedjauh mungkin untuk mejakinkan ilmu pedang itu. Namun setiap kali aku melihat dia, selalu kulihat dia sedang mengertak gigi dengan gemas, sikapnja tidak sabar lagi dan dendamnja tidak kepalang. Karena itulah aku lantas ganti sasaran, jang kuintjar sekarang adalah Djik Tiang-hoat.”

“Lalu adakah sesuatu jang kau ketemukan?” tanja Tik Hun.

“Tidak, Djik Tiang-hoat itu benar2 memang seorang jang litjin, sedikitpun ia tidak menundjuk sesuatu tanda jang mentjurigakan,” sahut Tat-peng dengan menggeleng kepala. “Pernah aku mengintai waktu dia mengadjar ilmu pedang kepada putri dan muridnja, tapi dia sengadja berlagak bodoh, ia sengadja mengubah nama2 djurusnja dengan istilah2 jang aneh dan menggelikan. Tapi semakin dia berlaga pilon, semakin menimbulkan tjurigaku. Selama tiga tahun aku terus mengintai gerak-geriknja, tapi tetap tiada sesuatu lubang kelemahan jang kudapatkan. Diwaktu dia tiada dirumah, pernah beberapa kali aku menggerajangi rumahnja, tapi hasilnja nihil, djangankan Soh-sim-kiam-boh apa segala, biarpun kitab beladjar membatja djuga tiada sedikitpun terdapat dirumahnja. Hehe, Suteku ini benar2 seorang maha litjin, seorang tjerdik, seorang pintar!”

“Kemudian bagaimana?” tanja Tik Hun lagi.

“Kemudian, kemudian pihak Ban Tjin-san akan merajakan ulang tahunnja. Ia telah mengirim seorang muridnja untuk mengundang Djik Tiang-hoat ke Heng-tjiu untuk ikut merajakan Shedjit sang Suko,” tutur Tat-peng pula. “Sudah tentu, merajakan Shedjit hanja siasat sadja, jang benar Ban Tjin-san ingin mentjari tahu bagaimana keadaan Djik-sutenja. Begitulah Djik Tiang-hoat lantas berangkat ke Heng tjiu dengan membawa serta seorang muridnja jang ke-tolol2an, kalau tidak salah bernama Tik Hun dan puterinja, Djik Hong djuga ikut. Ditengah perajaan ulang tahun itu, entah mengapa mendadak si tolol Tik Hun itu telah berkelahi dengan kedelapan anak-murid Ban Tjin-san, dalam keadaan dikerubut itu mendadak Tik Hun melontarkan tiga tipu serangan jang hebat hingga menimbulkan tjuriga Ban Tjin-san. Segera ia mengundang Djik-sute kedalam kamarnja untuk bitjara, tapi bitjara punja bitjara, achirnja mereka sendiripun bertengkar, sekali tusuk Djik Tiang-hoat telah melukai Ban-suko, habis itu ia lantas kabur dan menghilang entah kemana lagi. Aneh, sungguh aneh, benar2 sangat aneh!”

“Aneh tentang apa?” tanja Tik Hun.

“Tentang Djik Tiang-hoat jang menghilang itu, sedjak itu tidak pernah kelihatan lagi batang-hidungnja, entah dia telah sembunji dimana, bahkan kabar sedikitpun tiada lagi,” kata Tat-peng. “Diwaktu Djik Tiang-hoat berangkat ke Hengtjiu, dengan sendirinja tidak mungkin ia membawa serta Kiam-boh jang dia serobot dari kedua Suhengnja itu, tapi pasti dia simpan kitab pusaka itu disuatu tempat rahasia dirumahnja itu. Semula aku menaksir sesudah dia melukai Ban Tjin-san, tentu malam itu djuga ia akan pulang kerumah untuk mengambil Kiam-boh, lalu merat sedjauh mungkin. Selama itulah, begitu terdjadi peristiwa itu di Heng-tjiu, segera aku menggunakan kuda pilihan mendahului datang ke Wan-leng sini, aku sembunji disekitar rumahnja untuk mengintai dimanakah dia menjimpan Kiam-boh tjurian itu, dengan begitu aku akan segera menjergapnja. Akan tetapi tunggu punja tunggu, tetap dia tidak muntjul. Akhirnja aku mendjadi tidak sabar lagi, dengan tidak sungkan2 lagi aku lantas bongkar rumahnja hingga murat-marit, aku lalu menggali kitab pusaka jang dia pendam dirumahnja itu. Namun sampai sekarang rupanja usahaku ini sia2 belaka, djerih pajahku itu terbuang pertjuma. Tjoba kalau tidak ditolong oleh Inkong, bukan mustahil sekarang djiwaku sudah melajang disitu.”

“Dan kalau menurut pendapatmu, kira2 sadja Djik-sutemu itu sekarang berada dimana?” tanja Tik Hun.

“Inilah aku benar2 tidak dapat menerkanja,” sahut Tat-peng dengan menggeleng. “Besar kemungkinan dia sudah ketulah dan sudah mati menggeletak dimana atau djatuh sakit untuk tidak pernah sembuh lagi atau boleh djadi mengalami ketjelakaan apa2 serta sudah mendjadi mangsa harimau atau serigala.”

Melihat tjara Gian Tat-peng omong itu penuh mengundjuk rasa senang pabila sang Sute itu benar2 sudah mati, diam2 Tik Hun mendjadi muak terhadap manusia rendah itu. Tapi lantas terpikir olehnja bahwa selama ini memang tiada kabar berita tentang gurunja itu, besar kemungkinan memang sudah mengalami sesuatu halangan apa2.

Maka ia lantas berbangkit dan berkata. “Terima kasih atas keteranganmu jang sebenarnja ini, sekarang Tjayhe mohon diri lebih dulu.”

Dengan penuh hormat kembali Gian Tat-peng mendjura tiga kali lagi, katanja. “Budi kebaikan Inkong jang tiada terhingga ini selama hidup Gian Tat-peng takkan melupakan.”

“Hanja soal ketjil ini mengapa mesti dipikirkan,” sahut Tik Hun. “Kau boleh merawat lukamu disini, Ban Tjin-san itu takkan dapat menemukan kau, maka tidak perlu kau kuatir.”

“Saat ini besar kemungkinan dia lagi kelabakan seperti semut di minjak wadjan panas, mana dia sempat untuk memikirkan mentjari aku?” sahut Tat-peng dengan tersenjum.

“Sebab apa?” tanja Tik Hun dengan heran.

“Sebab saat ini dia tentu lagi kelabakan memikirkan keselamatan puteranja,” tutur Tat-peng. “Tangan puteranja itu telah kena disengat oleh ketungging jang berbisa djahat itu, untuk bisa sembuh harus ber-turut2 dibubuhi obat sebanjak sepuluh kali, kalau tjuma sekali dibubuhi obat, memang sakitnja akan hilang untuk sebentar, lalu tidak lama kemudian akan kambuh lagi lebih djahat.”

“Wah djika begitu, apakah djiwa Ban Ka itu akan melajang?” kata Tik Hun agak kaget.

Ratjun ketunggingku itu memang benar2 lain daripada jang lain,” tutur Tat-peng dengan ber-seri2. “Jang hebat adalah Ban Ka itu takkan mati seketika, tapi dia akan merintih dan menderita selama sebulan suntuk, habis itu barulah djiwanja melajang. Hahaha, sungguh hebat, sungguh bagus!”

“Kalau sebulan kemudian baru dia akan mati, djika begitu tentu dia akan dapat menemukan tabib pandai untuk mengobati lukanja jang disengat ketungging itu,” udjar Tik Hun.

“Agaknja Inkong tidak tahu bahwa ketungging berbisa itu bukanlah sembarangan serangga jang dibesarkan oleh alam, tapi adalah piaraanku sendiri, sedjak ketjil aku telah melolohi dia dengan matjam2 obat penawar agar mereka sudah biasa atau kebal oleh obat penawar itu, maka kalau tabib umumnja membubuhkan obat penawar ditempat jang disengat itu, sudah tentu takkan berguna sama sekali. Hahaha!”

Dengan melirik hina Tik Hun mengikuti tjerita manusia kedji itu, diam2 ia membatin: “Hati orang ini benar2 terlalu kedjam dan menakutkan. Bukan mustahil lain kali akupun akan kena disengat oleh ketungging jang ia piara itu. Menurut pesan Ting-toako, katanja kalau berkelana di Kangouw hendaklah djangan timbul maksud untuk membikin tjelaka orang, tapi djuga djangan lengah untuk mendjaga kemungkinan ditjelakai orang. Maka lebih baik aku minta sedikit obat penawar dari dia sekedar untuk persediaan siapa tahu bila kelak ada gunanja.”

Maka ia lalu berkata: “Gian-tjianpwee, obat penawar untuk ratjun ketunggingmu itu bolehlah serahkan padaku sadja.”

“Baik, baik,” sahut Gian Tat-peng tanpa pikir. Tapi ia tidak lantas menjerahkan obat jang diminta, sebaliknja tanja dulu. “Inkong minta obat penawar itu, entah akan digunakan untuk apa?”

“Ketunggingmu itu sangat lihai, bisa djadi pada suatu saat aku kurang hati2 hingga tersengat, tapi kalau aku sudah punja obat penawarnja tentu takkan kuatir lagi,” sahut Tik Hun.

Wadjah Gian Tat-peng mengundjuk rasa risi, sahutnja dengan tertawa: “Ah Inkong suka bergurau sadja. Sedangkan buat pertolongan djiwa Inkong padaku belum kubalas, masakah aku mempunjai maksud untuk mentjelakai Inkong.”

“Ja, tapi ada baiknja djuga aku mendjaga segala kemungkinannja, sedia pajung sebelum hudjan, kan tiada djeleknja,” kata Tik Hun sambil mengulurkan tangannja.

“Ja, ja!” sahut Gian Tat-peng dan terpaksa ia mengeluarkan botol obat penawar itu dan diserahkan kepada tuan penolong djiwanja itu.

Sesudah meninggalkan Gian Tat-peng dipuntjak gunung itu, Tik Hun kembali pula kegedung itu untuk menjelidiki keadaannja. Tapi dilihatnja gedung itu sudah sepi senjap tiada seorangpun, para kuli kampung sudah bubar, simandor dan si Koankeh djuga entah menghilang kemana lagi.

“Suhu mungkin sudah meninggal, Sumoay kini sudah mendjadi isteri orang, maka tempat ini untuk selandjutnja terang takkan kudatang lagi,” demikian pikir Tik Hun. Segera ia tinggalkan gedung itu dan berangkat menudju kebarat-daja dengan menjusur tepi sungai.

Sementara itu fadjar sudah menjingsing, sang surya mulai mengintip diufuk timur, beberapa puluh meter djauhnja, waktu Tik Hun menoleh, ia melihat sinar fadjar tjemerlang diputjuk pohon2. Jang didepan gedung itu, air sungai djuga ber-kelip2 memantjarkan tjahaja ke-emas2sannja, pemandangan demikian ini sudah sedjak ketjil kenjang dilihat oleh Tik Hun, tanpa merasa ia menggumam lagi: “Untuk selandjutnja aku takkan kembali lagi ketempat ini.”

Setelah membetulkan rangselnja, ia pikir tugas jang masih harus dilaksanakannja hanja tinggal satu sadja jaitu mengubur abu tulang Ting-toako bersama djenazah Leng-siotjia. Maka tempat jang harus ditudjunja sekarang adalah Heng-tjiu.

Pikirnja pula: “Sikeparat Ban Ka itu telah mengakibatkan hidupku merana seperti sekarang ini, sjukur orang djahat tentu mendapat gandjaran jang setimpal, maka rasanja akupun tidak perlu membalas dendam dengan tanganku sendiri, menurut kata Gian Tat-peng katanja dia akan me-rintih2 dan sesambatan selama sebulan, habis itu baru akan mati, entah apa jang dikatakan itu benar atau tidak. Djika ternjata djiwanja masih belum melajang umpamanja, maka aku baru menambahi dia dengan tusukan pedangku biar bagaimanapun djiwa andjingnja harus kutjabut.”

Begitulah ia lantas berangkat ke Heng-tjiu jang tidak djauh dari barat Ouw-lam itu, maka tiada seberapa hari iapun sampailah disana.

Sesudah mentjari kabar, diketahuilah bahwa Leng Dwe-su masih tetap mendjadi Tihu disitu. Maka ia tetap menjaru seorang gelandangan jang dekil agar tidak dikenal orang.

Begitu masuk kota, pikiran pertama jang timbul padanja adalah: “Aku ingin menjaksikan dengan mata kepalaku sendiri tjara bagaimana Ban Ka tersiksa oleh ratjun ketungging itu. Entah apakah dia dapat disembuhkan dan entah apakah dia sudah pulang kesini atau belum, boleh djadi dia masih tinggal di Ouwlam untuk berobat.”

Maka pelahan2 ia menudju kerumah keluarga Ban itu, dari djauh lantas dilihatnja Sim Sia sedang keluar dari gedung megah itu setjara ter-gesa2, agaknja sedang sibuk mengalami sesuatu masalah gawat.

Pikir Tik Hun: “Djika Sim Sia berada disini, tentu Ban Ka djuga sudah pulang. Maka malam nanti biarlah aku menjelidikinja kesitu.”

Segera ia kembali ketaman bobrok dahulu, taman itu tidak djauh dari rumah keluarga Ban itu. Ditaman itulah dahulu Ting Tian meninggal sesudah lebih dulu membunuh Tjiu Kin, Kheng Thian-pa dan Tay-beng. Kini berkundjung lagi ketempat lama ia melihat taman itu semakin rusak, keadaan semakin tak keruan. Di-mana2 runtuhan puing dan tumbuh2an liar.

Ia mendatangi pohon Bwe dahulu itu, ia me-raba2 lekak-lekuk pohon tua itu sambil memikir. “Waktu itu Ting-toako menghembuskan napasnja jang penghabisan dibawah pohon ini, tapi wudjut pohon ini sampai sekarang masih tetap sama, sedikitpun tiada berubah, sebaliknja Ting-toako sekarang sudah mendjadi abu.”

Begitulah ia lantas duduk ter-menung2 dibawah pohon Bwe itu, achirnja ia terpulas djuga.

Kira2 dekat tengah malam, ia mendusin dan mengeluarkan rangsum kering untuk tangsal perut lalu keluar dari taman bobrok itu dan menudju kerumah keluarga Ban.

Ia memutar kepintu belakang gedung besar itu, dari sini ia melompat pagar tembok dan masuk ketaman bunga. Menghadapi tempat bersedjarah itu, tanpa merasa hati Tik Hun mendjadi pedih, pikirnja: “Dahulu aku terluka parah dan sembunji digudang kaju sana, tapi Sumoay tidak membantu dan menolong aku, ia benar2 tidak berbudi, bahkan ia malah memanggil suaminja untuk membunuh aku.”

Begitulah sambil membajangkan kedjadian dahulu dan selagi ia mulai melangkah kedepan, tiba2 dilihatnja ditepi empang sana ada tiga titik sinar api jang ber-kelip2.

Tik Hun mendjadi tjuriga dan segera berhentikan langkahnja ia mengumpet dibelakang sebatang pohon, lalu mengintai ketempat sinar api itu. Sesudah diperhatikan, akhirnja dapat diketahuinja bahwa bintik2 sinar api itu tak-lain adalah tiga batang dupa jang tertantjap disuatu Hiolo (tempat menantjap dupa). Hiolo itu tertaruh diatas satu medja ketjil dan didepan medja itu ada dua orang jang sedang berlutut dan menjembah kepada langit.

Tidak lama kemudian kedua orang itu tampak berbangkit, maka djelaslah Tik Hun melihat satu diantaranja adalah Djik Hong, seorang lagi adalah satu dara tjilik, terang itulah puteri sang Sumoay jang dipanggil “Kong-sim-djay” itu.

Terdengar perlahan-lahan Djik Hong berdoa: “Dupa pertama ini memohon agar Tuhan Allah memberkahi keselamatan bagi suamiku, agar lukanja segera sembuh, abuhnja lekas kempis dan ratjunnja segera hilang, supaja tidak lama tersiksa oleh ratjun ketungging itu. Khong-sim-djay, hajolah berkata, bilang mohon Tuhan Allah memberkati penjakit ajah lekas sembuh”.

“Ja, ibu, mohon Tuhan Allah memberkati penjakit ajah lekas sembuh, supaya ajah tidak berteriak2 kesakitan lagi” demikian dara tjilik itu menirukan nada sang ibu.

Mendengar itu, diam-diam Tik Hun merasa senang dan sjukur atas penderitaan Ban Ka. Tapi ia gemas pula atas perhatian Djik Hong terhadap suaminja itu.

Kemudian terdengar Djik Hong berdoa lagi: “Dan dupa kedua ini mohon Tuhan Allah memberkati ayahku dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, semoga lekas2 pulang untuk berkumpul lagi. Khong-sim-djay, lekas bilang mohon Tuhan Allah memberkati Gwakong semoga berumur panjang”.

“Ja, ibu, Gwakong, hendaklah engkau lekas pulang, mengapa engkau tidak lekas pulang”, demikian sidara tjilik menirukan pula.

“Katakan mohon Tuhan Allah memberkahi selamat”, sang ibu mengajarkan.

“Ja, ibu, mohon Tuhan Allah memberkahi selamat pada Gwakong, kepada ajah dan kepada kakek”, kata dara tjilik itu. Selamanja ia belum pernah melihat Djik Tiang Hoat yaitu Gwakong atau kakek luarnja, maka jang dipikirkan adalah ajahnja dan kakeknja sendiri, jaitu Ban Tjin-san.

Dan sesudah berhenti sejenak, kemudian Djik Hong berdoa lagi dengan suara agak lirih: Dan dupa jang ketiga ini memohon kepada Tuhan Allah agar memberkahi dia dalam keadaan sehat, semoga dia hidup senang dan mendapatkan isteri baik dan lekas mendapat anak……………………….”. ~ berkata sampai disini, suaranja menjadi serak se-akan2 tersumbat tenggorokannja, lalu ia mengusap air matanja dengan lengan badju.

“Kembali ibu terkenang kepada Kuku, ja” tanja si dara tjilik.

“Khong Sim-djay, bilang mohon kepada Tuhan Allah agar memberkahi keselamatan kepada Khong-sim-djay Kuku…………..” kata Djik Hong pula.

Memang Tik Hun sudah heran ketika Djik Hong berdoa untuk dupa jang ketiga. Ia tidak tahu siapakah jang dimintakan berkah. Dan demi mendadak mendengar bekas kekasih itu menyebut “Khong-sim-djay Kuku”, seketika telinganja seperti mendengung, hatinja serasa berkata: “Ha, dia maksudkan aku, dia maksudkan aku?”.

Dalam pada itu si dara tjilik telah menurut kata ibunja tadi dan sedang bersujut:”Ja, Tuhan Allah, ibuku selalu terkenang kepada Khong-sim-djay Kuku, mohon diberkahi selamat dan redjeki besar agar kelak aku dibelikan sebuah boneka besar. Dia adalah Khong-sim-djay, akupun Khong-sim-djay, kami sama-sama Khong-sim-djay. Eh, ja, ibu kemanakah perginja Khong-sim-djay Kuku itu? Mengapa dia tidak pernah pulang?”

Maka Djik Hong telah menjawab: “Khong-sim-djay Kuku itu telah pergi ke tempat jang jauh, jauh sekali. Kuku itu telah meninggalkan ibumu, tetapi ibumu senantiasa memikirkan dia…………………”. ~ berkata sampai disini tiba-tiba ia peluk anak perempuannja itu dan menjusupkan kepalanja di dada botjah itu, lalu masuk kerumah dengan langkah lebar.

Pelahan2 Tik Hun keluar dari tempat sembunjinja dan mendekati Hiolo jang ditinggalkan itu. Dengan ter-menung2 ia memandangi ketiga batang dupa itu semakin lama makin surut, sampai akhirnja mendjadi abu semua, tapi ia masih ter-mangu2 di situ tanpa bergerak sedikitpun.

Ia baru tersadar ketika burung berkitjau dengan ramai dan fajar sudah menyingsing, maka tjepat ia tinggalkan taman keluarga Ban itu. Ia berkeliaran kian kemari di dalam kota Heng-tjiu tanpa arah tujuan.

Tiba-tiba didengarnja suara “tjreng-tjreng” jang berisik, itulah bunji ketjer seorang tabib kelilingan jang sedang menawarkan obatnja sepandjang jalan.

Mendadak hati Tik Hun tergerak. Bukankah ia ingin menjaksikan sendiri bagaimana keadaan Ban Ka jang sesambatan tersiksa oleh ratjun ketungging itu?

Terus saja ia mendekati tabib kelilingan itu, ia keluarkan sepuluh tahil perak untuk membeli pakaian tabib itu beserta peti obat dan peralatan lainnja. Sudah tentu tabib kelilingan itu sangat heran ada orang mau memborong barang2nja jang rombeng itu, padahal nilainja tidak lebih dari lima tahil perak. Sudah tentu ia kegirangan setengah mati, bagai orang putus lotre. Tanpa tahan harga lagi ia terus lepaskan kepada Tik Hun.

Sesudah memborong milik tabib kelilingan itu, lalu Tik Hun kembali ke taman bobrok itu, disitulah ia ganti pakaian, ia menjaru sebagai tabib. Lalu ia tumbuk sedikit rumput obat dan airnja ia gunakan untuk poles mukanja sendiri, malaha ia sengaja tambal sepotong kojok dimata kiri sendiri hingga muka aslinja susah dikenali lagi. Habis itu, segera ia menudju ke rumah keluarga Ban.

Didepan gedung keluarga Ban itu ia sengaja bunyikan ketjernja sekeras mungkin, sesudah dekat pintu ia terus ber-teriak2 malah: “Tabib sakti, spesial mengobati segala matjam penjakit aneh, segala jenis keratjunan, baik disengat kelabang maupun dipagut ular, tanggung tjes-pleng, sekali minum obatku, seketika sembuh!”.

Begitulah sesudah ia ber-teriak2 beberapa kali, lantas tertampaklah dari dalam berlari keluar dengan buru2, setelah dekat orang itu lantas memanggilnja: “He, Sinshe, kemarilah sini”.

Tik Hun kenal orang itu adalah muridnja Ban Tjin San jang bernama Go Him, jaitu orang jang dahulu telah menabas putus djarinja itu.

Tapi kini Tik Hun dalam penjamaran, muka aslinja sudah berobah 180 derajat, dengan sendirinja Go Him tidak kenal dia lagi.

Pelahan-lahan Tik Hun mendekati Go Him, karena kuatir suaranja dikenal orang, ia sengaja menekuk suara dan berkata: “Ada apakah Tuan? Apakah engkau menderita penjakit aneh, misalnja bisul djahat atau abuh bengkak jang tak dikenal namanja?”

“Hus, apakah kau kira aku ini mirip seorang penderita sakit?” Semprot Go Him, “He, aku ingin tanja padamu, kalau disengat ketungging, apakah kau dapat menjembuhkan?”

“Ha-ha, mengapa tidak bisa?” sahut Tik Hun sengaja bergelak tawa. “Sedangkan ular-ular berbisa seperti Djik-lian-tjoa (ular gelang rantai), Kim-kah-tay (ular bergelang kaki), Bak-kia-tjoa (ular katja-mata, kobra) dan lain-lain ular berbisa paling djahat juga tjes-pleng bila makan obatku, apalagi tjuma penjakit sepele kena disengat ketungging, he-he, itulah penjakit tak berarti”.

“Ah, djangan kau omong besar dahulu”, ujar Go Him. “Hendaklah engkau ketahui bahwa ketungging itu bukan sembarangan ketungging, sedangkan tabib terkemuka di kota Heng-tjiu djuga tak berdaja menjembuhkannja, masakah kau sanggup mengobati?”

“Ha, masakah ada ketungging selihay itu?” demikian Tik Hun pura-pura mengkerut kening. “Padahal ketungging didunia ini paling lihay tjuma sebangsa Hwe-kat (ketungging kelabu), Kim-tji-kat (ketungging mata uang emas), Moa-tahu-kat (ketungging kepala burik), Ang-bwe-kat (ketungging ekor merah), Pek-kah-kat (ketungging kaki putih) dan……………………….” Begitulah ia sengadja mentjerotjos dengan aneka matjam-matjam nama-nama ketungging sampai berpuluh-puluh djenis banjaknja. Habis itu baru ia berkata pula: “Setiap jenis ketungging itu memang ber-beda2 ratjunnja, tjara pengobatannja djuga berlainan, maka biarpun namanja sadja tabib pandai, djikalau tjuma nama kosong saja sudah tentu takkan betjus menjembuhkan luka disengat ketungging”.

Mendengar sekaligus tabib kelilingan itu mentjerotjos berpuluh nama jenis ketungging, mau tak mau Go Him merasa kagum dan tertarik, segera katanja: “Djika begitu, silakan Sinshe masuk ke dalam untuk mengobati suhengku, Djikalau dapat menjembuhkan, tentu suhuku akan memberi hadiah besar”.

Tik Hun mengangguk dan ikut masuk ke dalam gedung itu. Begitu melangkah masuk, seketika Tik Hun teringat kepada kejadian dulu, dimana ia dan sumoay mengikut sang suhu menghadiri perajaan ulang tahun sang Supek, tatkala itu ia masih seorang pemuda desa jang hidjau, segala apa belum pernah dilihatnja dan semuanja serba baru baginja, maka sepandjang djalan ia asjik bitjara dengan Sumoay tentang pemandangan jang mereka lihat itu. Kini berkundjung kembali kegedung jang sama, namun suasananja sudah berbeda.

Ia ikut Go Him masuk keruangan dalam, setelah menjusur dua tempat Tjimtjhe, akhirnja sampai dibawah sebuah loteng. Segera Go Him menengadah keatas dan berseru: “Samsuso, ini adalah seorang tabib kelilingan, katanja mampu mengobati segala penjakit kena disengat ketungging, apakah perlu aku mengundang tabib ini untuk periksa penjakit Suko?”

Lalu terdengar suara berkeriut, djendela loteng dibuka orang, tertampak Djik Hong melongok keluar dan berkata: “Baiklah, terima kasih Go-sute, malahan hari ini Suko-mu tambah kesakitan, lekas undang Sinshe naik ke sini”.

“Baiklah Suso”, sahut Go Him. Lalu ia berpaling kepada Tik Hun: “Silakan, Sinshe”. ~ Ia menjilakan sang “Sinshe” naik ke loteng, tapi ia sendiri tidak ikut mengantar.

Maka Djik Hong berseru lagi: “Go-sute, silakan kaupun ikut kemari membantu”.

Go Him mengiakan, maka iapun ikut naik keatas loteng.

Setiba diruangan loteng, Tik Hun melihat ditengah situ didekat jendela tertaruh sebuah meja tulis jang besar dengan penuh segala peralatannja dan banjak kitab-kitab pula, diatas medja terdapat pula sehelai badju anak ketjil jang belum selesai dijahit.

Sementara itu tampak Djik Hong telah memapak keluar dari kamar sana, mukanja tidak berbedak dan bergintju, tapi tidak mengurangi tjantiknja, hanja tampak agak kurus dan putjat sedikit, mungkin terlalu letih dan kurang tidur karena mesti merawat sang suami.

Tik Hun hanja memandang sekejap saja kepada sang Sumoay itu lalu tidak berani memandang lagi sebab kuatir dikenali. Kemudian ia ikut masuk kedalam kamar, disitu kelihatan ada sebuah randjang kaju jang besar, diatasnja merebah seseorang dengan menghadap kedalam sana sambil tiada hentinja me-rintih2. Itulah dia Ban Ka.

Dan ditepi randjang itu seorang dara tjilik berduduk diatas dingklik tjilik ketjil sedang memijat pelahan-lahan kaki sang ajah. Tapi demi melihat wajah Tik Hun jang kotor dan aneh itu, ia mendjerit takut dan mengumpet ke belakang sang ibu.

Kemudian Go Him berkata: “Suko-ku ini kena disengat ketungging berbisa, ratjunnja masih belum hilang, harap Sinshe suka memeriksa dan kasih obat bila perlu”.

Tik Hun mengiakan. Kalau diluar tadi ia bisa mentjerotjos bagai air bah membanjir untuk bitjara dengan Go Him, adalah sekarang sesudah melihat Djik Hong, seketika hatinja ber-debar2 dan mulut serasa terkantjing, untuk bitjarapun rasanja susah.

Tapi iapun mendekati ranjang dan tepuk pelahan dipundak Ban Ka. Pe-lahan2 Ban Ka membalik tubuh, ketika ia membuka mata dan melihat matjam Tik Hun jang luar biasa itu, mau tak mau ia terkesiap djuga.

Maka terdengar Djik Hong mendahului berkata: “Samko, ini adalah Sinshe jang diundang oleh Go Sute, katanja…………..katanja ia pandai mengobati segala matjam ratjun serangga dan ular, boleh djadi dia ada obat mudjarab jang dapat menjembuhkan lukamu”. ~ Njata nadanja djuga tidak menaruh kepertjajaan bahwa tabib gelandangan seperti itu mampu mengobati penjakit sang suami.

Tapi Tik Hun tidak bitjara, ia periksa punggung tangan Ban Ka jang abuh itu. Ia melihat bagian tangan itu hitam hangus mengerikan.

“Ini adalah sengatan ketungging berbisa keluaran Wan-leng di barat Ouw-lam, di Ouw-pak tiada terdapat ketungging sejenis itu”. kata Tik Hun kemudian.

“He, ia betul, memang betul disengat oleh ketungging di Wan-leng sana”. seru Go Him dan Djik Hong berbareng.

“Sesudah Sinshe dapat mengetahui asal-usul ketungging jang menjengat itu, tentu Sinshe dapat mengobatinja?” tanja Djik Hong pula dengan penuh harapan.

Tik Hun sengaja menghitung dengan djari, lalu katanja pula: “Ehm, ketungging itu menjengatnja diwaktu malam, kalau tidak salah, ehm, sampai sekarang sudah lewat tujuh hari tudjuh malam lamanja”.

Keruan Go Him saling pandang dengan Djik Hong, habis itu mereka berseru berbareng lagi: “Betul, betul, sungguh dugaan Sinshe sangat tepat, memang pada malam hari kena disengat oleh ketungging dan sampai sekarang sudah tudjuh hari tujuh malam. Maka harap Sinshe lekas tolong memberi obat”.

Sudah tentu Tik Hun bukan dewa jang bisa meramalkan kedjadian jang sudah lalu dan dapat menduga apa jang belum datang. Soalnja ia sendiri jang menjaksikan Ban Ka disengat oleh ketunggingnja Gian Tat-peng, dengan sendirinja ia dapat mengatakan dengan djitu.

Begitulah maka ia mendjadi senang dan kasihan pula melihat kelakuan Djik Hong dan Go Him jang kejut-kejut girang itu. Maka iapun sengaja djual mahal, segera katanja pula: “Apakah tuan ini telah menggetjek mati ketungging itu dengan punggung tangannja? Kalau tidak berbuat demikian sebenarnja masih dapat tertolong, tapi kini ketungging itu dibunuh diatas punggung tangan, seketika ratjunnja lantas tersebar semua kedalam luka, untuk menolongnja sungguh maha sulit sekarang”.

“Memang djelas sekali uraian Sinshe, tapi apapun djuga mohon Sinshe sudilah menolong djiwanja”, pinta Djik Hong dengan kuatir dan gopoh.

Kedatangan Tik Hun ke Heng-tjiu ini sebenarnja ingin menjaksikan sendiri tjara bagaimana Ban Ka menderita dan me-rintih2 mendekati adjalnja, jaitu untuk melampiaskan rasa dendamnja selama ini, maka sedikitpun tiada pikiran padanja untuk menolong djiwa musuh besarnja itu.

Namun sejak semalam didengarnja doa restu Djik Hong jang ternjata masih tidak melupakan dirinja, bahkan memohon kepada Tuhan Allah agar memberkati selamat bahagia bagi dirinja, semoga lekas beristri dan beranak, malahan mengatakan bahwa dirinja jang telah meninggalkan Sang Sumoay itu, dari utjapan terakhir ini agaknja Sumoay masih jakin bahwa dia benar2 pada malam itu hendak kabur bersama gundiknja Ban Tjin-san, yaitu si Mirah, oleh sebab itulah maka Sumoay menjesal dan putus asa lalu menikah pada Ban Ka.

Diwaktu ketjilnja Tik Hun sangat penurut kepada segala kehendak Djik Hong, tidak pernah ia membangkang atau membantah apa jang dikatakan sang Sumoay. Maka kini demi mendengar permohonan Djik Hong jang penuh kuatir itu, hati Tik Hun menjadi lemas, segera ia bermaksud mengeluarkan obat penawar jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu.

Tapi mendadak ia mendapat pikiran lain: “Si keparat Ban Ka ini telah membuat aku menderita dan merana selama ini, dia merebut pula Sumoayku, kalau aku tidak membunuhnja dengan tanganku sendiri sebenarnja sudah dapat dikatakan aku tjukup murah hati, mana boleh sekarang aku menolong djiwanja pula?”.

Karena pikiran itu ia segera menggeleng kepala dan mendjawab: “Bukanlah aku tidak mau menolongnja, tapi sesungguhnja dia sudah terlalu mendalam keratjunan, pula sudah tertunda sekian hari, ratjunnja sudah masuk otak, untuk menolongnja sudah sangat susah”.

Tiba2 Djik Hong meneteskan air mata, ia tarik si dara tjilik tadi dan berkata padanja: “Kong-sim-djay mestikaku, lekaslah kau mendjura kepada paman Sinshe ini, mohon beliau sukalah menolong djiwa ajahmu”.

“Djang………………djangan mendjura apa segala……………….,” tjepat Tik Hun menggojang-gojang tangannja.

Tapi anak itu memang sangat penurut, rupanja tahu djuga ajahnja sakit sangat pajah, maka terus saja ia berlutut dan menjembah beberapa kali.

Kelima jari kanan Tik Hun sudah terpapas kutung oleh Go Him dahulu dan sejak tadi ia masukkan saku, maka ia hanja gunakan tangan kiri untuk membangunkan anak dara itu. Waktu menarik bangun botjah itu, tiba-tiba dilihatnja dilehernja memakai sebuah kalung dengan mainan jang berukir empat huruf ‘Tik-jong-siang-bo’.

Melihat itu, Tik Hun menjadi tertegun, teringat olehnja tempo dulu waktu dia pingsan di dalam gudang kaju rumah keluarga Ban ini, ketika ia sadar kembali, ia dapatkan dirinja berada di dalam suatu sampan dan terombang-ambing di tengah sungai Tiang-kang, disampingnja terdapat beberapa tahil perak dan sedikit perhiasan, diantaranja juga terdapat sebuah mainan jang bertuliskan empat huruf seperti itu. Ia mendjadi heran, djangan-djangan……. djangan-djangan………….

Maka ia tidak berani memandang lagi, pikiran kusut akhirnja djernih kembali, terbajang pula keadaan waktu dahulu itu. “Ja,….ketika aku djatuh pingsan digudang kaju itu, selain Djik-Sumoay jang menolong aku, terang tiada orang lain lagi. Dahulu aku mentjurigai dia sengaja hendak membunuh aku, tapi semalam ia berdoa…….berdoa kepada Tuhan, ia telah mengutarakan isi hatinja terhadap diriku. Dan kalau dia begitu mentjinta aku, tempo dulu itu sudah tentu tidak mungkin bermaksud membunuh aku. Masakah aku ditakdirkan bahwa sesudah mengalami derita sengsara selama ini, lalu aku akan dipersatukan lagi dengan Sumoay seperti sekarang ini”.

Teringat kemungkinan akan rujuk kembali dengan sang Sumoay tanpa merasa hati Tik Hun ber-debar2 pula, ketika ia melirik Djik Hong, dilihatnja wadjahnja penuh merasa kuatir, dengan penuh perhatian Sumoay itu sedang memandangi Ban Ka jang menggeletak dirandjang itu, sorot matanja mengunjuk rasa tjinta kasih jang tak terhingga.

Melihat sinar mata sang Sumoay itu, seketika hati Tik Hun mentjelus lagi. Kembali terbajang lagi kejadian dahulu jang masih diingatnja dengan jelas. Hari itu ia bertempur melawan Ban-bun-pat-tetju, ia dikerojok dan dihadjar mereka hingga matang biru dan hidung botjor. Kemudian Sumoay telah mendjahitkan badjunja jang terobek dalam perkelahian itu, sorot mata sang Sumoay pada saat mendampinginja itulah djuga penuh rasa kasih sajang seperti sekarang sang Sumoay itu memandangi Ban Ka. Maka kini, teranglah sorot mata jang membahagiakan setiap lelaki itu oleh sang Sumoay telah diberikan kepada suaminja dan tiada mungkin ditujukan kepadanja lagi.

“Pabila aku tidak memberi obat penawar padanja, siapakah jang dapat menjalahkan aku? Dan bila nanti Ban Ka sudah mampus, dimalam hari diam2 aku datang kesini untuk membawa kabur Sumoay, siapakah jang dapat merintangi aku? Dengan begitu aku dapat berkumpul pula dengan Sumoay sebagai suami isteri selama hidup. Tentang anak dara ini, ehm, biarlah akan kubawa serta dia………………Tetapi, ai, tak bisa, tak bisa! Sumoay sudah biasa menjadi njonja muda dirumah keluarga Ban jang kaja ini, hidupnja senang serba tjukup, masakah dia mau ikut pergi bersama aku untuk meluku sawah dan mengangon kerbau lagi? Apalagi wajahku jelek begini, tidak banjak ‘makan’ sekolah, lagi tanganku juga tjatjat, masakah aku sesuai menjadi djodohnja? Dan apakah dia sudi ikut kabur bersama aku?”

Begitulah demi teringat dirinja sendiri jang serba kurang dan serba rendah itu, Tik Hun menjadi malu diri dan ketjil hati, ia menunduk termangu-mangu.

Sudah tentu Djik Hong tidak tahu bahwa pada saat sesingkat itu pikiran sang ‘Sinshe’ sedang melajang-lajang sedjauh itu. Maka dengan terkesima iapun memandangi Sinshe itu dengan harapan akan terdengar utjapan menggirangkan dari mulutnja bahwa suaminja dapat tertolong.

Sementara itu Ban Ka masih terus me-rintih2 dan sesambatan, ratjun ketungging itu meresap sampai diruas tulang ketiaknja, keruan rasanja mendjadi seperti lengannja itu terkutung sakitnja.

Dan sesudah menunggu agak lama, sang Sinshe masih diam sadja, Djik Hong tambah kuatir, kembali ia memohon pula: “Sinshe, tolong………… tolonglah engkau mentjoba sadja, asal……. asal dapat mengurangi sedikit penderitaannja djuga………….djuga mendingan baginja, andaikan… andaikan…………, akhirnja dia…………. Ja, djuga tak bisa menjalahkan pada Sinshe”. ~ Maksudnja akan mengatakan bila djiwa Ban Ka itu toh tak bisa diselamatkan lagi, asal penderitaannja dapat dikurangi, biarpun akhirnja mati djuga tidak terlalu tersiksa lagi.

Maka Tik Hun tersadar dari lamunannja tadi, seketika itu hatinja serasa hampa, segala harapannja musna sirna, ia benar-benar ingin mati pada saat itu djuga. Dengan segenap hati ia mentjintai sang Sumoay, tapi Sumoay itu telah dipersunting oleh musuhnja, bahkan kini orang jang ditjintai itu memohon dengan sangat agar dia menolong musuh itu. Apa gunanja lagi mendjadi manusia seperti itu? ‘Aku lebih suka mendjadi Ban Ka jang menderita dan tersiksa seperti sekarang ini, tapi didampingi Sumoay jang memandang padaku dengan penuh kasih sajang, biarpun akan mati dalam beberapa hari lagi djuga tidak menjadi soal’. Demikian pikirnja.

Begitulah tanpa merasa ia menghela napas dan mengeluarkan obat penawar jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu, ia tuang sedikit obat bubuk warna hitam dan dibubuhkan dipunggung tangan Ban Ka.

“He, betul, memang betul itulah obat penawarnja, wah, ini……….. ini berarti akan tertolonglah!” Demikian mendadak Go Him berseru.

Tik Hun mendjadi heran mendengar seruan jang bernada aneh itu. Bahwasanja sang Suheng ‘berarti akan tertolong’ seharusnja ia ikut bergirang, akan tetapi nadanja itu, djusteru merasa sangat ketjewa malah, bahkan merasa menjesal dan dongkol pula.

Tik Hun tjoba melirik ke arah Go Him, ia melihat sorot mata pemuda itu menjinarkan rasa bentji dan kedji. Keruan Tik Hun bertambah heran. Tapi demi teringat bahwa diantara kedelapan anak murid Ban Tjin-san itu tiada seorangpun jang baik, sedangkan Ban Tjin-san sendiri saling bunuh membunuh dengan guru dan saudara seperguruannja, maka tidaklah heran bila diantara anak2 muridnja itu djuga saling tjakar2an. Dan kalau begitu, tentunja hubungan antara Ban Ka dan Go Him tidak baik, tapi mengapa ia malah mengundang aku untuk mengobati Suhengnja itu?

Dalam pada itu tangan Ban Ka jang abuh itu, begitu dibubuhi obat hitam tadi, hanja sebentar sadja dari luka itu lantas mengeluarkan air hitam. Lambat-laun sakit Ban Ka djuga berkurang, dengan suara lemah ia dapat berkata: “Terima kasih Sinshe, obat penawar ini benar-benar sangat bagus”.

Sungguh girang Djik Hong tidak kepalang, tjepat ia membawakan tempolong untuk menadah darah hitam jang menetes terus dari luka sang suami itu sambil tiada henti-hentinja menjampaikan terima kasih kepada Sinshe sakti alias Tik Hun.

“Suso, sekali ini Sinshe telah berdjasa besar, bukan?” tiba-tiba Go Him berkata.

“Benar, aku harus menjampaikan terima kasih sebesar-besarnja kepada Go Sute”, sahut Djik Hong.

“Hanja omong di mulut sadja pertjuma, tapi harus dengan kenjataan”, ujar Go Him dengan tersenjum.

Djik Hong tidak gubris padanja lagi, tapi berpaling dan berkata kepada Tik Hun: “Numpang tanja siapakah nama Sinshe jang mulia? Kami harus memberi penghargaan sepantasnja kepada Sinshe”.

Tapi Tik Hun gojang-gojang kepala, sahutnja: “Tidaklah perlu penghargaan apa segala. Tapi ratjun ketungging ini harus berturut-turut dibubuhi obat ini sepuluh kali baru bisa sembuh sama sekali” ~ dan dengan perasaan hampa dan pilu tak terutjapkan, akhirnja ia berkata pula sambil mengangsurkan botol obat jang diperolehnja dari Gian Tat-peng itu: “Ini, terimalah semua obat penawar ini”.

Sebaliknja Djik Hong menjadi ragu2, sebab sama sekali tak tersangka olehnja bahwa urusan bisa terdjadi sebegitu gampang, katanja kemudian: “Biarlah kami membeli saja kepada Sinshe, entah berapa harganja?”

“Tidak, tidak perlu beli, tapi kuberikan tjuma-tjuma padamu”, kata Tik Hun.

Sungguh girang Djik Hong tak terhingga, tjepat ia terima botol obat itu, sambil memberi hormat, katanja: “Sinshe begini berbudi dan murah hati pula, betapapun kami harus menjuguhi engkau barang setjawan arak. Go-sute, silakan engkau menemani Sinshe keruangan tamu untuk berduduk sebentar.”

“Sudahlah, tidak perlu duduk lagi, aku akan mohon diri saja”, ujar Tik Hun.

“Tidak, djangan”, seru Djik Hong, “Budi pertolongan Sinshe atas jiwa suamiku ini kami tidak dapat mendapat membalas apa-apa, maka hanja setjawan arak sadja harap engkau sudi menerima sekadar sebagai penghormatan kami. Sinshe, betapapun engkau djanganlah pergi dahulu!.”

“Betapapun, engkau djangan pergi dahulu!” kata-kata ini sekali menjusup kedalam telingan Tik Hun, betapapun keras hatinja djuga lantas lemas seketika. Pikirnja: “Sakit hatiku ini sudah terang tak terbalas lagi, sesudah aku menguburkan Ting-toako, untuk seterusnja aku djuga tidak mungkin kembali ke kota Heng-tjiu lagi, selama hidup ini, aku takkan bertemu pula dengan Sumoay. Dan sekarang ia hendak menjuguhi aku setjawan arak, ja, dengan demikian boleh juga aku akan dapat memandangnja lebih lama sedikit”.

Oleh karena itu, iapun memanggut sebagai tanda menerima undangan Djik Hong.

Tidak lama kemudian, meja perdjamuan sudah dipersiapkan, jaitu diruangan tamu di bawah loteng. Tik Hun diminta duduk ditempat jang paling terhormat, Go Him mengiringi disebelahnja. Karena merasa sangat berterima kasih kepada Sinshe jang berbudi itu, maka Djik Hong sendiri telah melajaninja minum arak dan menjuguhkan daharan.

Agaknja Ban Tjin-san dan anak muridnja jang lain waktu itu tiada dirumah, maka tiada orang lain lagi jang ikut hadir dalam perjamuan itu.

Dengan penuh hormat Djik Hong menjuguhkan tiga tjawan arak kepada Tik Hun dan diminum habis oleh ‘Sinshe’ itu. Tiba-tiba perasaannja pilu hingga matanja memberambang, ia tahu bila tinggal lebih lama disitu mungkin air matanja bisa lantas menetes, hal mana tentu akan mengakibatkan rahasianja terbongkar.

Maka tjepat ia berbangkit dan berkata: “Sudahlah tjukup, terima kasih atas suguhanmu, sekarang aku permisi untuk pergi dan selandjutnja takkan datang lagi.”

Djik Hong agak heran oleh utjapan tabib kelilingan jang tidak genah itu. Tapi karena potongan sang tabib memang agak lutju, maka iapun tidak ambil perhatian, segera didjawabnja: “Ai, mengapa Sinshe ter-buru2 sadja? Atas budi pertolonganmu itu, kami tidak dapat membalas apa-apa, di sini ada seratus tahil perak, harap Sinshe suka terima sekedar sangu dalam perdjalanan. ” ~ sembari berkata iapun mengangsurkan sebungkus uang perak dengan penuh hormat.

Mendadak Tik Hun menengadah dan ter-bahak2 tawa, katanja: “Akulah jang telah menolong dia, akulah jang telah menghidupkan dia! Sungguh lutju, akulah jang telah menghidupkan dia! Apakah didunia ini ada orang jang lebih goblok dari diriku?”

Dan meski dia bergelak tertawa dengan menengadah, tapi tanpa merasa air matanja djuga berlinang-linang.

Keruan Djik Hong dan Go Him saling pandang dengan bingung melihat kelakuan ‘Sinshe’ jang setengah sinting itu.

Sebaliknja si dara tjilik Khong-sim-djay lantas berteriak-teriak: “Heee, Sinshe menangis, Sinshe menangis!”.

Tik Hun menjadi terkedjut, ia tahu telah ditjurigai orang, ia kuatir rahasianja akan ketahuan, maka ia tidak berani bitjara lagi dengan Djik Hong, hanja dalam hati ia berkata: “Sejak ini aku takkan bertemu lagi dengan kau”.

Diam-diam ia mengeluarkan kitab kuna jang didalamnja terselip pola sulaman sepatu jang diketemukan di dalam gua dengan Wan-leng tempo hari, ketika orang tidak memperhatikan, pelahan2 ia taruh kitab itu diatas kursi, lalu tanpa memandang lagi kepada Djik Hong ia lantas mohon diri dan tinggal pergi.

“Go-sute, harap engkau hantarkan Sinshe.” Kata Djik Hong.

Go Him mengiakan, lalu mengikut dibelakang Tik Hun.

Sambil masih memegangi bungkusan uang perak tadi, hati Djik Hong ber-debar2 tak keruan. Pikirnja: “Siapakah sebenarnja Sinshe itu tadi? Mengapa suara tertawanja mirip benar dengan orang itu? Ai, entah mengapa, meski djiwa Ban-long dalam keadaan bahaja, tapi pikiranku selalu menjeleweng dan memikirkan dia sadja, ai, dia……dia entah……”

Begitulah ia menjadi ter-menung2 sendiri, ia taruh bungkusan uang perak itu di atas medja, dengan tumpang dagu ia berduduk pula di atas kursi.

Kebetulan kursi jang didudukinja sekarang adalah kursi jang bekas diduduki Tik Hun tadi. Ketika mendadak merasa menduduki sesuatu benda, Djik Hong berbangkit lagi dan memeriksanja, maka lantas tertampaklah sedjilid kitab kuna jang sudah ke-kuning2an.

Se-konjong2 Djik Hong berseru tertahan sekali, tjepat ia djemput kitab itu dan mem-balik2 halamannja, segera terdjatuh keluar dari kitab itu sehelai pola sepatu, ia kenal itu adalah buah tangannja waktu masih tinggal dirumah dibarat Ouw-lam sana.

Ia ternganga sambil memegang kitab dan pola itu, kedua tangannja gemetar. Ketika ia mem-balik2 lagi kitab itu, kembali diketemukannja sepasang kupu2 guntingan dari kertas, seketika terbajanglah waktu berduaan dengan Tik Hun duduk berdjadjar di dalam gua, dimana ia telah menggunting kupu2 kertas itu.

Tanpa terasa ia berseru tertahan pula, katanja didalam hati: “He, dari……… dari manakah kitab ini? Sia…..siapakah jang membawanja kesini? Djangan2 Sinshe itu tadi?”.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: