Pedang Hati Suci (Jilid ke-14)

Melihat sikap ibunja agak aneh, si dara tjilik Khong-sim-jay menjadi takut, ber-ulang2 ia memanggil: “Mak, mak, ken…kenapakah kau?”

Djik Hong terkejut oleh seruan anaknja ini, tapi tjepat ia masukkan kitab itu kedalam badjunja sambil berlari keluar rumah setjepat terbang.

Sedjak ia mendjadi anak menantu keluarga Ban, hidupnja selalu lemah-lembut halus sopan, tidak pernah ia berlari kesetanan seperti itu. Keruan kaum hamba dan dajang keluarga Ban menjadi ter-heran2 melihat njonja muda mereka berlari tjepat dengan Ginkang sekaligus dari ruangan dalam terus menjusur Tjimtjhe terus keluar rumah.

Waktu sampai dipelataran depan, kebetulan Djik Hong melihat Go Him telah masuk kembali, maka tjepat ia tanja: “Dimanakah Sinshe itu?”

“Orang itu sangat aneh, tanpa bitjara apa-apa ia sudah pergi”, sahut Go Him, “Suso, ada urusan apakah kau mentjarinja lagi? Apakah keadaan Suko berubah buruk?”

“Tidak, tidak”, sahut Djik Hong sambil memburu keluar pintu, ia menengok kesana dan mengintai kesitu, tapi bajangan tabib kelilingan itu sudah tak tertampak lagi.

Djik Hong ter-longong2 sedjenak diluar pintu, kembali ia mengeluarkan kitab kuna tadi, dan setiap kali melihat pola sepatu dan kupu2 kertas itu, seketika timbul pula pemandangan2 gembira ria dimasa mudanja. Bajangan2 itu bagaikan air bah membandjir kedalam benaknja hingga tanpa merasa air matanja bertjutjuran.

Mendadak ia berubah pikiran: “Mengapa aku begitu bodoh? Bukankah barusan Ban-long ikut kong-kong dan lain2 pergi ke Wan-leng untuk mentjari Gian-susiok, boleh jadi tanpa sengadja mereka telah masuk kedalam gua dan disanalah kita ini telah diketemukan, lalu sekalian ada jang membawa pulang kitab ini. Memangnja Sinshe jang tidak terkenal itu ada hubungan apa dengan kitab ini?”.

Tapi lantas datang pikiran lain pula: “Ah, tidak, tidak, tidak! Masakah mungkin terjadi setjara begitu kebetulan? Gua itu letaknja sangat rahasia, sekalipun ajahku juga tidak tahu, masakah Ban-long dan rombongannja dapat menemukannja? Tujuan mereka adalah mentjari Gian-supek, manabisa mereka kesasar kedalam gua rahasia itu? Tadi waktu aku membersihkan medja kursi perjamuan, sudah terang keempat kursi itu aku melapnja hingga bersih, tidak mungkin ada sedjilid kitab seperti ini. Dan kitab ini kalau bukan tabib itu jang membawanja, habis darimanakah datangnja?”

Begitulah dengan penuh tjuriga dan sangsi pelahan2 ia kembali ke kamarnja. Dilihatnja sehabis dibubuhi obat tadi, semangat Ban Ka sudah banjak lebih baik, sakitnja djuga mulai hilang.

Sambil memegangi kitab itu, sebenarnja Djik Hong bermaksud menanja sang suami, tapi lantas terpikir olehnja: “Lebih baik aku djangan ter-buru2 tjari keterangan dulu, djangan2 tabib itu……tabib itu adalah……………..”

Dalam pada itu terdengar Ban Ka sedang bitjara padanja: “Hong-moay, Sinshe itu benar2 adalah tuan penolong djiwaku, kita harus memberi penghargaan se-tinggi2nja kepadanja”

“Ja, aku tadi telah menghadiahkan dia seratus tahil perak, tapi dia djustru tidak mau terima meski kupaksa”, tutur Djik Hong, “Ai, benar2 seorang kangouw jang aneh, seorang jang berbudi. Obat penawar itu…………………… he, dimanakah botol obat itu tadi? Apakah kau simpan di dalam latji medja?”

Tadi waktu Djik Hong mau keluar untuk melayani “Shinshe” jang akan didjamunja itu, ia ingat betul botol obat itu ditaruhnja di atas medja di depan randjang Ban Ka, tapi kini sudah hilang.

Maka Ban Ka telah mendjawab: “Tidak, aku tidak menjimpannja, bukankah tadi kau taruh diatas medja?”

Tapi meski Djik Hong sudah mentjari kian kemari diseluruh kamar itu, tetap botol obat itu tidak kelihatan. Keruan ia sangat gelisah dan tjemas, pikirnja: “Djangan2 karena pikiranku tadi lagi bingung, maka obat itu kubawa serta sambil lari keluar dan jatuh? Tapi, ah, tidak bisa, aku ingat betul2 botol obat itu kutaruh di atas medja, didekat mangkok obat itu”.

Ban Ka juga sangat gugup, katanja: “Le……lekas kau mentjari lagi, masakah bisa hilang? Sungguh aneh. Tadi aku hanja terpulas sebentar dan masih ingat benar2 botol obat itu tertaruh di atas meja.”

Mendengar itu Djik Hong bertambah kuatir, segera ia keluar kamar, ia tjoba tarik puterinja dan tanja padanja: “Khong-sim-djay, tadi waktu ibu keluar, adakah siapa2 jang masuk ke kamar?”

“Ada, Go-sioksiok tadi datang, ketika melihat ajah tidur, ia lantas keluar lagi”, tutur si dara tjilik.

Djik Hong menghela napas lega mendapat keterangan itu, lapat2 ia merasa ada sesuatu jang tidak beres. Tapi Ban Ka sedang sakit, apapun jang terjadi tidak perlu dia ikut tahu hingga ikut menanggung kuatir. Maka katanja kepada Khong-sim-djay: “Anak baik, kau temani ajah di dalam kamar, ja, kalau ajah tanjakan ibu, bilanglah ibu lagi menyusul Sinshe untuk minta obat bagi ajah”.

Sidara tjilik memanggut dan menjahut: “Ja, mak, kau lekas pulang, ja!”

Dan sesudah tenangkan diri, pelahan-lahan Djik Hong membuka latji medja Ban Ka, ia ambil sebilah belati dan diselipkan dipinggang dalam badju, kemudian ia turun ke bawah loteng. Pikirnja: “Keparat Go Him itu, bila bertemu aku ditempat sepi, selalu ia tjengar-tjengir padaku dengan maksud tidak baik. Tabib tadi itu adalah dia jang mengundang, djangan2 dia bersekongkol dengan tabib itu dan telah mengatur tipu muslihat kedji apa2”.

Begitulah sambil memikir ia bertindak ketaman dibelakang rumah. Sampai diserambi samping, dilihatnja Go Him sedang ter-menung2 memandangi ikan mas di empang sambil bersandar lankan.

“Go-sute”, segera Djik Hong menegur, “lagi berbuat apa engkau di sini seorang diri”.

Ketika berpaling dan melihat penegur itu adalah Djik Hong, seketika muka Go Him berseri-seri, sahutnja: “Kukira siapa, tak tahunja adalah Suso. Engkau mengapa tidak mendjaga Suko di atas loteng, tapi masih punja tempo luang untuk djalan2 kesini?”

“Ai, aku merasa sangat kesal,” sahut Djik Hong sambil menghela napas, “Setiap hari selalu mendampingi orang sakit, dan semakin tangan Suko-mu kesakitan, perangainja djuga bertambah kasar. Maka aku perlu keluar untuk djalan2 menghibur hati dan lara”.

Mendengar jawaban itu, sungguh girang Go Him melebihi orang dapat ‘buntut’, dengan tjengar-tjengir segera ia membumbui: “Ja, memang, engkau memang perlu istirahat dan menghibur diri. Sebenarnja Suko djuga keterlaluan, punja isteri tjantik sebagai engkau masih kurang terima, tapi malah suka mengamuk sadja, sungguh keterlaluan”.

Djik Hong mendekati orang dan bersandar juga di atas lankan untuk memandangi ikan mas jang lagi berenang kian kemari dengan bebas ditengah empang itu, lalu sahutnja dengan tertawa: “Ah, Suso-mu ini sudah tua, masakah masih dikatakan tjantik apa segala, bukankah akan dibuat tertawa orang?”

“He, mana bisa, mana bisa”, tjepat Go Him berkata, “Suso benar-benar sangat tjantik. Diwaktu masih gadis engkau mempunjai ketjantikan seorang gadis, sesudah menjadi Siaunaynay (nyonja muda) juga tetap mempunjai ketjantikan sebagai Siaunaynay. Tanjakan saja diseluruh kota Heng-tjiu ini, siapa orangnja jang tidak mengatakan bahwa bunga tertjantik adalah tertanam dikeluarga Ban”.

Sampai disini mendadak Djik Hong memutar tubuh dan mengangsurkan tangannja sambil berkata: “Mana, serahkan sini”.

“Serahkan apa?”, tanja Go Him dengan tertawa.

“Obat penawar itu”, kata Djik Hong dengan muka membesi.

“Obat penawar apa? Entah, aku tidak tahu, apakah kau maksudkan obat penawar untuk luka Ban-suko itu?,” demikian Go Him berlaga pilon.

“Benar!”, sahut Djik Hong tegas. “Sudah terang kau jang mengambilnja”.

Go Him tertawa litjik, sahutnja: “Tabib itu adalah aku jang mengundangkan, obat penawar adalah aku jang mengusahakan. Kini Ban-suko dibubuhi satu kali, paling tidak ia akan terhindar dari penderitaan untuk beberapa hari”.

“Tapi Sinshe itu bilang obat itu harus dibubuhkan ber-turut2 sepuluh kali”, kata Djik Hong.

“Ja, aku sungguh menjesal, sungguh aku menjesal”, tiba-tiba Go Him gojang2 kepala.

“Menjesal tentang apa?”, tanja Djik Hong

“Semula aku menjangka tabib kelilingan jang dekil seperti itu masakah mempunjai kepandaian apa2, maka aku mau mengundang dia ke atas loteng, tudjuanku sebenarnja adalah ingin mentjari kesempatan untuk melihat Suso, siapa duga, eh, keparat itu benar2 mempunjai obat mudjarab untuk menjembuhkan ratjun disengat ketungging. Sudah tentu, sudah tentu, hal itu sangat bertentangan dengan maksud tudjuanku”, demikian tutur Go Him.

Sungguh gusar Djik Hong tak terkatakan oleh tjerita orang itu, tapi obat penawar jang ditjarinja itu masih ditangan orang, ia harus bersabar untuk mendapatkan obatnja, habis itu baru akan membikin perhitungan dengan manusia rendah itu.

Maka dengan tertawa ia mendjawab: “Habis kalau menurut kau, tjara bagaimanakah kau mengharapkan balas djasa dari Sukomu agar engkau mau menjerahkan obat penawar itu?”

Tiba2 Go Him menghela napas, sahutnja: Sam-suko sendiri sudah menikmati kebahagiaan selama beberapa tahun ini, kalau sekarang dia harus mati juga pantas rasanja”.

Air muka Djik Hong berubah seketika, tapi sedapat mungkin ia menahan perasaannja, dengan menggigit bibir ia diam saja.

Maka Go Him berkata pula: “Waktu kau datang ke Heng-tjiu untuk pertama kalinja, diantara kami berdelapan saudara seperguruan, siapakah orangnja jang tidak kesengsem padamu? Dan kami mendjadi penasaran melihat sitolol Tik Hun itu siang malam senantiasa mendampingi engkau, maka kami be-ramai2 lantas berkomplot untuk menghadjarnja hingga babak belur………………….”

“He, kiranja kalian menghadjar Sukoku itu malahan adalah disebabkan diriku?” kata Djik Hong.

“Ja, memang”, sahut Go Him, “Dan untuk menghadjarnja sudah tentu harus ditjari alasan. Maka kami sengadja menuduh dia suka menondjolkan diri buat bertempur dengan bandit Lu Thong hingga membikin malu kami jang menjadi anak murid keluarga Ban jang berkepentingan. Padahal tujuan kami adalah demi dirimu. Suso! Habis, kau menambalkan badjunja, mengajak bitjara padanja dengan mesra, tentu sadja kami ‘minum tjuka’!”.

Diam-diam Djik Hong terkesiap oleh tjerita itu, pikirnja: “Apa benar peristiwa itu adalah gara2 diriku? Ai, Ban-long, mengapa selama ini kau tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku?”.

Tapi ia masih pura2 tidak paham dan berkata pula dengan tertawa: “Ai, Go-sute, engkau ini memang pintar berkelakar. Padahal waktu itu aku aku adalah seorang gadis desa, seorang nona jang ke-tolol2an, dandananku djuga mentertawakan orang, apanja sih jang menarik?”

“Tidak, tidak”, ujar Go Him. “Orang tjantik tulen djusteru tidak perlu berdandan atau bersolek segala. Suso, bila bukan karena kesemsem padamu, tentu tidak sampai …………” ~ berkata sampai di sini mendadak ia berhenti dan tidak meneruskan lagi.

“Apa lagi”, tanja Djik Hong

“Setelah kami dapat menahan kau dirumah keluarga Ban ini, untuk mana aku orang she Go juga tidak sedikit mengeluarkan tenaga,” kata Go Him pula, “akan tetapi, Suso, setiap kali kau bertemu muka dengan aku selalu bersikap dingin2 saja, tersenjum sekali sadja padaku juga tidak pernah, tjoba, apakah hal itu tidak membikin hatiku mendjadi panas”.

“Tjis”, semprot Djik Hong dengan tertawa, “Aku tinggal dirumah keluarga Ban, lalu aku menikah pada Suko-mu, semuanja itu adalah aku sendiri jang sukarela, tenaga apa jang pernah kau korbankan dalam urusan itu? Toh waktu itu kau tidak ikut membudjuk padaku apa segala, ai, kenapa kau sembarangan omong sadja?”

“Meng…………….. mengapa aku tidak korbankan tenaga?” bantah Go Him, “Tjuma saja engkau sendiri jang tidak tahu.”

Djik Hong tambah tjuriga, segera katanja dengan membudjuk: “Sute jang baik, tjoba katakanlah sebenarnja kau ikut mengorbankan tenaga apa, tentu Susomu ini takkan melupakan djasamu itu?”

Go Him meng-gojang2 kepala, katanja kemudian: “Urusan itu sudah lama lalu, buat apa di-ungkat2 lagi? Andaikan kau mengetahui djuga tiada gunanja”.

“Ja, sudahlah, djika kau tidak mau menerangkan, akupun tidak memaksa”, kata Djik Hong. “Nah, Go-sute, lekaslah serahkan obat penawar itu padaku, kita berada berduaan disini djangan2 akan dipergoki orang dan akan menimbulkan sangkaan djelek”.

“Kalau siang hari memang kuatir dipergoki orang, tapi kalau malam hari tentu tidak kuatir lagi”, ujar Go Him sambil tertawa.

“Apa katamu”, bentak Djik Hong tertahan dengan muka membeku sambil mundur setindak.

Tapi dengan menjengir Go Him berkata pula: “Djika kau ingin menjembuhkan penjakit Ban-suko, hal ini tidak sulit asalkan nanti tengah malam kau datang ke gudang kaju sana, aku akan menunggu engkau di sana, Djika kau mau menurut pada keinginanku itu, aku lantas memberikan kadar obat jang tjukup untuk dibubuhkan satu kali diluka Ban-suko”.

“Andjing keparat, kau berani omong begitu, apa kau tidak takut ditjintjang oleh Suhumu?” damperat Djik Hong dengan gemas.

“Memangnja aku sudah siap untuk korbankan djiwaku ini, tegasnja aku sudah nekat,” sahut Go Him. “Padahal Ban Ka sibotjah apek itu apanja sih jang dapat menangkan aku? Soalnja ia adalah putera Suhu sendiri, hanja itu sadja. Padahal semua orang toh ikut keluarkan tenaga, mengapa mesti dia sendiri jang menikmati wanita tjantik sebagai engkau ini?”

Djik Hong semakin tjuriga mendengar Go Him berulang-ulang mengatakan ‘mengeluarkan tenaga’. Tapi karena Go Him lantas menghambur dengan kata2 makian kotor, ia benar2 tidak tahan lagi, maka katanja segera: “Kau mengatjo-belo tak keruan, sebentar djika Kongkong pulang, biar akan kulaporkan padanja, lihat sadja kalau dia tak membeset kulitmu”.

“Ha-ha, aku djusteru ingin tjoba,” sahut Go Him dengan mendjengek. “Aku akan tunggu disini, asal Suhu memanggil aku, segera aku menuang isi botol ini untuk umpan ikan di dalam empang. Tadi aku sudah tanja tabib itu tentang obat penawar ini, dia bilang, obat ini hanja tinggal sebotol, untuk membuatnja lagi sedikitnja akan makan tempo setahun atau dua tahun.”

Sambil berkata ia terus mengeluarkan botol porselen itu, ia tarik sumbat botol dan didjulurkan keatas empang, asal tangannja sedikit miring, seketika obat penawar didalam botol itu akan tertuang kedalam empang, dan itu berarti djiwa Ban Ka takkan tertolong pula.

Keruan Djik Hong mendjadi kuatir, tjepat serunja: “He, he! Djangan, djangan! Lekas kau simpan kembali obat itu, kita masih dapat berunding lagi”.

“Apa jang perlu dirundingkan lagi?”, ujar Go Him dengan tersenjum iblis. “Djika kau ingin menolong djiwa suamimu, maka kau harus menurut apa jang kukatakan.”

“Ja, pabila memang betul dahulu kau menaruh hati padaku dan pernah mengeluarkan tenaga demi diriku, maka……………. mungkin aku akan…………. Tapi, ah, tidak bisa djadi, aku tidak pertjaja”, demikian Djik Hong sengadja berkata.

“He, hal itu sungguh2 seribu kali sungguh2, sedikitpun bukan omong kosong,” tjepat Go Him menegaskan. “Malahan itu adalah tipu-akalnja Samsute, dia suruh Tjiu Kin dan Bok Heng menjamar sebagai Djay-hoa-tjat untuk memantjing sitolol Tik Hun kekamarnja si Mirah. Dan orang jang menaruhkan emas-intan dibawah randjang Tik Hun itu tak lain tak bukan adalah aku Go Him sendiri. Tjoba, Suso, Djika kami tidak menggunakan akal itu, masakah kami dapat menahan engkau untuk tinggal dirumah keluarga Ban ini?”

Seketika Djik Hong merasa kepalanja pening dan pandangannja menjadi gelap. Utjapan Go Him itu mirip sebilah belati jang menikam ulu-hatinja. Tanpa merasa ia menjerit tertahan: “Oh, Allah! Djadi aku telah keliru mendakwa dia, aku salah menuduh dia jang sebenarnja tidak berdosa!”.

Sesaat itu Djik Hong agak sempojongan, untung ia masih sempat memegangi lankan.

Sebaliknja Go Him sangat senang, katanja pula dengan suara lirih: “Suso, apa jang kukatakan ini sungguh2, lho! Dan djangan kau katakan kepada orang lain. Kami berdelapan saudara sudah bersumpah bahwa siapapun tidak boleh membotjorkan rahasia ini kepada orang lain”.

Mendadak Djik Hong menjerit sekali, ia terus berlari pergi, ia mendorong pintu taman belakang terus berlari keluar dengan tjepat.

Dan Go Him masih berseru padanja: “He, kemanakah kau, Suso? Tengah malam nanti djangan lupa, ya!”.

********

Setelah keluar dari pintu belakang, Djik Hong terus menuju ketempat jang sepi dari orang, sesudah menjusur beberapa kebun sajur, akhirnja dilihatnja di arah barat sana ada sebuah Su-theng (rumah berhala pemudjaan leluhur) ketjil jang tak terawat, pintu rumah berhala itu setengah tertutup, segera ia mendorong pintu itu dan masuk kesitu.

Maksud Djik Hong adalah ingin mentjari suatu tempat jang sunji agar dia dapat memikirkan setjara tenang bahwasanja: “Tik Hun dipitenah orang atau bukan? Kitab kuna bekas miliknja itu darimanakah datangnja? Tjara bagaimana menghadapi Go Him jang bermaksud djahat dengan memperalat obat penawar penjambung njawa suaminja itu? Dan bagaimana sebenarnja dengan diri Ban-long sang suami?

Begitulah Djik Hong bersandar disebatang pohon waru jang besar, sampai lama dan lama sekali tetap ia tak dapat menarik kesimpulan dan mengambil keputusan.

Se-konjong2 terdengar suara kelotak-kelotek orang berdjalan dari dalam Su-theng itu tahu2 muntjul seseorang. Itulah seorang wanita setengah umur dengan rambutnja jang pandjang kusut terurai tak keruan, badjunja rombeng dan dekil sekali.

Melihat Djik Hong, wanita dekil itu tampak agak takut2, dengan menjisir pelahan2 ia menjelinap masuk kedalam rumah berhala itu. Dan baru ia melangkah masuk keruangan dalam, kembali ia menoleh memandang sekedjap lagi pada Djik Hong, rupanja sekali ini ia dapat mengenali siapa Djik Hong, tanpa terasa ia mendjerit kaget.

Waktu Djik Hong memandangnja hingga sinar mata kedua orang kebentrok, tanpa kuasa lagi wanita itu mendadak berlutut serta memohon padanja: “Siau-naynay (njonja muda), ha……..harap djangan kau ka……..katakan aku berada di……disini.”

Keruan Djik Hong heran sebab ia merasa tidak kenal wanita dekil itu, ia tanja: “Siapakah kau? Untuk apa kau berada disini?”

“O, ti……tidak apa2, aku ……aku adalah seorang pengemis,” sahut wanita itu dengan gelagapan, habis itu, ia lantas berbangkit dan masuk keruangan dalam dengan langkah tjepat.

Pikiran Djik Hong tergerak oleh tingkah-laku wanita kotor jang tidak dikenal itu, ia merasa ada sesuatu jang tidak beres atas wanita itu. Tapi lantas berpikir pula olehnja: “Ah, aku sendiri sudah tjukup kesal menghadapi matjam2 urusan, buat apa ikut tjampur urusan orang lain lagi?”

Lalu ia membatin. “Keparat Go Him itu mengatakan tjara mereka mempitenah Tik-suko, hal itu pastilah betul dan bukan omong ksosong, lantas kitab itu ……kitab itu ……..”

Berpikir sampai disini tanpa merasa ia pegang dahan pohon waru disampingnja dan digojangkan pelahan hingga daun waru kering djatuh berserakan.

Pada saat itulah ia dengar suara orang berlari, kiranja siwanita dekil tadi telah merat melalui pintu belakang Su-theng itu.

Djik Hong semakin heran, pikirnja: “Entah mengapa wanita ini demikian takutnja padaku ………Ha, teringatlah aku, dia…….dia adalah Tho Ang, si Mirah ……..”

Demi mengenali si Mirah itu, dengan tjepat Djik Hong lantas memburu kepintu belakang sana, segera ia tjabut belatinja sambil membentak: “Tho Ang, kau berbuat apa setjara sembunji2 disini?”

Memang wanita dekil itu betul adalah Tho Ang alias si Mirah, itu gundiknja Ban Tjin-san dahulu jang katanja bergendakan dengan Tik Hun dan tertangkap basah itu.

Ketika namanja dipanggil Djik Hong, memangnja si Mirah sudah gugup, apalagi melihat njonja muda itu menghunus belati lagi, keruan ia ketakutan setengah mati, dengan gemetar ia berlutut pula sambil memohon: “Siau…….Siau-naynay, am…….. ampunilah aku!”

Djik Hong sangat heran oleh kelakuan wanita itu. Sedjak dia tinggal didalam keluarga Ban, ia hanja bertemu beberapa kali dengan Tho Ang, tidak lama kemudian lantas tidak pernah bertemu pula. Apalagi setiap kali bila teringat kedjadian Tik Hun hendak kabur bersama si Mirah itu, rasa hatinja mendjadi seperti di-sajat2, lantaran itulah maka menghilangnja Tho Ang itupun tidak pernah digubrisnja. Siapa duga wanita bedjat itu ternjata sembunji didalam Su-theng atau rumah berhala bobrok ini.

Su-theng ini djaraknja tidak djauh dari rumah keluarga Ban, tapi sedjak Djik Hong mendjadi njonja mantu, penghidupan jang dia tuntut sudah berbeda daripada waktu perawan hidup dikampung halamannja sana, ia tidak pernah kelujuran diluaran lagi, walaupun sering djuga keadaan Su-theng bobrok itu dilihat olehnja dari djauh, tapi belum pernah ia memasukinja.

Keadaan Tho Ang sekarang djuga tak keruan, rambutnja kusut masai, mukanja kurus putjat, hanja beberapa tahun tidak berdjumpa tampaknja malah sudah lebih tua beberapa puluh tahun, makanja Djik Hong pangling. Tjuma Tho Ang sendiri jang ketakutan hingga menimbulkan tjuriga Djik Hong dan sesudah di-pikir2, achirnja teringat djuga olehnja diri si Mirah itu. Tjoba kalau Tho Ang tinggal pergi pelahan2 seperti tidak terdjadi apa2, sedang Djik Hong sendiri lagi kusut pikirannja tentu dia takkan diperhatikan.

Begitulah Djik Hong lantas geraki belatinja sambil mengantjam: “Apa jang kau lakukan dengan sembunji2 disini? Hajo lekas mengaku terus terang!”

“Aku ti……tidak berbuat apa2,” sahut Thoa Ang dengan ketakutan. “Siaunaynay, aku ……aku telah diusir oleh Loya, beliau mengatakan bila kepergok aku masih berada di Hengtjiu sini, tentu aku …….aku akan dibunuh olehnja, akan tetapi……akan tetapi aku tiada mempunjai tempat lain lagi, terpaksa……terpaksa sembunji disini untuk tjari hidup dengan minta2 sesuap nasi. Siau……..Siaunaynay, selain Hengtjiu, aku tidak tahu kemana aku harus pergi? Maka sukalah……sukalah Siaunaynay berbuat badjik, djangan……djanganlah katakan pada Loya tentang diriku.”

Mendengar ratapan orang jang tjukup kasihan itu, Djik Hong lantas simpan kembali belatinja. Katanja kemudian: “Sebab apa kau diusir Loya? Mengapa aku tidak tahu?”

“Akupun tidak……..tidak tahu sebab apa mendadak Loya tidak suka padaku lagi,” tutur Tho Ang. “Padahal Tik…….urusan orang she Tik itu bukanlah salahku. Ai, tidak……..tidak seharusnja aku bertjerita tentang ini.”

“Kau tidak mau bertjerita djuga boleh, sekarang djuga kuseret kau pergi menemui Loya,” antjam Djik Hong sambil djambret lengan badju si Mirah.

Keruan si Mirah ketakutan, dengan gemetar ia berkata: “Aku …….aku akan bertjerita! Siaunaynay, apa jang kau ingin tahu?”

“Tjeritakan tentang orang…….orang she Tik itu, sebenarnja bagaimana duduknja perkara? Sebab apakah kau hendak kabur bersama dia?” demikian kata Djik Hong.

Saking takut dan gugupnja hingga Tho Ang ternganga dan terbelalak tanpa bisa bitjara.

Dengan mata tak berkesip Djik Hong pandang lekat2 wanita itu, rasa takut dalam hatinja mungkin berpuluh kali lebih hebat daripada si Mirah. Jang ditakutkan adalah tjerita si Mirah, djangan2 tjerita itu akan menjatakan bahwa: Waktu itu memang benar Tik Hun telah memperkosanja.

Tapi karena sesaat itu Tho Ang tidak dapat bitjara, maka wadjah Djik Hong mendjadi putjat lesi, djantungnja se-akan2 berhenti berdenjut, saking tegangnja.

Achirnja, mengakulah Tho Ang: “Kedjadian itu bukan……..bukan salahku, Siauya (tuan muda) jang suruh aku berbuat begitu, suruh aku peluk orang she Tik itu se-kentjang2nja serta menuduh dia hendak memperkosa diriku dan membudjuk aku agar kabur bersama. Hal ini telah kututurkan kepada Loya, sebenarnja Loya toh pertjaja djuga, tapi…….tapi achirnja tetap beliau mengusir aku.”

Sungguh Djik Hong merasa sangat terima kasih dan berduka, merasa penasaran dan merasa kasihan. Dalam hati ia meratap: “O, Suko, djadi akulah jang telah salah sangka djelek padamu, seharusnja aku mengetahui hatimu jang sutji murni, tapi toh aku telah menjangka djelek dan membikin susah padamu!”

Begitulah ia tidak dendam pada Tho Ang, sebaliknja ia malah agak berterima kasih, untunglah wanita itu jang telah membuka ikatan hatinja jang tertekan selama ini. Didalam rasa duka dan pedihnja itu tiba2 terasa pula sematjam rasa manis diantara rasa pahit getir. Meski selama ini ia telah mendjadi isterinja Ban Ka, tetapi orang jang benar2 ditjintainja didalam lubuk hatinja selalu hanja seorang jaitu Tik Hun. Sekalipun sang Suko itu mendadak berubah pikiran, sekalipun djiwanja ternjata kotor dan rendah, biarpun seribu kali pemuda itu berbuat salah, seribu kali berhati palsu, tapi hanja dia, ja hanja dia, tetap dia seoranglah jang selalu dikenangkan dan dirindukan oleh Djik Hong.

Mendadak segala rasa bentji dan dendam telah berubah mendjadi sesal dan duka pada diri sendiri, pikirnja: “Pabila sedjak dulu aku tahu duduknja perkara, sekalipun menghadapi bahaja apapun djuga pasti akan kutolong dia keluar dari pendjara. Tapi dia telah menderita sehebat itu, entah tjara bagaimana dia akan pikir atas ………atas diriku?”

Melihat Djik Hong diam sadja, Tho Ang tjoba melirik njonja muda itu, lalu katanja dengan suara gemetar: “Siaunaynay, banjak terima kasih pabila sudi membiarkan aku pergi, aku akan ……….akan tinggalkan Hengtjiu ini dan takkan kembali kesini untuk selamanja.”

Djik Hong menghela napas, katanja kemudian: “Ah, sebab apakah Loya mengusir kau? Apa kuatir aku mengetahui duduknja perkara itu? Tetapi, hai mungkin sudah takdir ilahi, setjara kebetulan harini aku telah pergoki kau disini.”

Habis berkata iapun lepaskan pegangannja pada lengan badju orang. Mestinja ia ingin memberikan persen sedikit uang perak, tapi ia keluar setjara buru2 hingga pada sakunja tidak terdapat apa2.

Melihat Djik Hong sudah melepaskan dirinja, kuatir akan terdjadi apa2 lagi, buru2 Tho Ang melangkah pergi, tapi mulutnja masih menggumam: “Habis, di waktu malam Loya tentu ketemu setan, tentu memasang tembok, mengapa aku jang disalahkan? Toh bukan aku jang sembarangan omong.”

Mendengar itu, tjepat Djik Hong memburu madju dan bertanja: “Kau omong apa? Melihat setan dan pasang tembok apa katamu?”

Tho Ang sadar telah kelepasan mulut lagi, tjepat ia menjahut: “O tidak ada apa2, tidak ada apa2. Aku bilang Loya sering melihat setan diwaktu malam, ditengah malam selalu bangun untuk memasang tembok.”

Melihat tingkah-laku orang jang angin2an itu, Djik Hong pikir mungkin sedjak si Mirah itu diusir oleh Kongkong (bapak mertua) penghidupannja sangat susah, maka pikirannja mendjadi kurang waras. Habis, masakah Kongkong dikatakan tengah malam bangun untuk pasang tembok? Padahal didalam rumah tidak pernah dilihatnja tembok jang dipasang Kongkong.

Rupanja Tho Ang kuatir njonja muda itu tidak pertjaja, maka ia mengulang lagi: “Ja, dia pasang tembok, tapi tembok …….tembok palsu. Setiap tengah malam Loya suka…….suka mendjadi tukang batu maka aku telah mengatai dia beberapa kata, dan dia lantas marah2, aku dihadjar hingga babak-belur, kemudian aku diusirnja pula……..” ~ Begitulah sambil mengomel dan menggerundel tak habis2, ia terus mengelojor pergi dengan beringsat-ingsut.

Djik Hong mendjadi terharu memandangi bajangan wanita tjelaka itu, pikirnja: “Paling banjak ia tjuma lebih tua 10 tahun daripadaku, tapi ia telah berubah sedemikian djeleknja. Entah mengapa Kongkong telah mengusirnja? Mengapa dia mengatakan Kongkong melihat setan dan pasang tembok ditengah malam buta? Ah, mungkin pikiran wanita ini memang tidak waras lagi. Ai, disebabkan seorang wanita goblok seperti ini. Suko telah merana selama hidup dan akupun menderita selama ini!” ~ Berpikir sampai disini, bertjutjuran air matanja.

Begitulah Djik Hong menangis hingga sekian lamanja sambil bersandar dibatang pohon waru itu, tapi sehabis menangis hatinja jang pepet tadi mendjadi agak lega, perlahan2 barulah ia pulang kerumah. Ia tidak melalui taman belakang lagi, tapi masuk dari pintu samping terus kembali keatas loteng sendiri.

Begitu mendengar suara tangga loteng itu, segera Ban Ka bertanja dengan tak sabar: “Hong-moay, obat penawarnja didapatkan tidak?”

Djik Hong tidak mendjawab, ia terus masuk kekamar, ia melihat Ban Ka duduk

diatas randjang dengan sikap jang tidak sabar menunggu lagi, tangannja jang terluka itu terletak ditepi randjang, darah hitam setetes demi setetes merembes keluar dari punggung tangannja dan djatuh kedalam baskom jang menadah dibawah randjang itu. Dara tjilik Khong-sim-djay sudah lama tidur disebelah kaki ajahandanja.

Tadi sesudah mendengar tjerita Go Him hingga berlari keluar rumah, dalam hati Djik Hong sebenarnja penuh rasa murka terhadap Ban Ka. Ia bentji kepada tjaranja jang kedji dan kotor itu untuk mempitenah Tik Hun. Tapi kini demi melihat air muka sang suami jang tampan putjat itu, tjinta kasih suami-isteri selama beberapa tahun ini kembali membuatnja lemah hati. Pikirnja: “Ja, betapapun adalah karena Ban-long tjinta padaku, makanja dia berusaha menjingkirkan Tik-suko, tjaranja memang kedji hingga membikin Suko kenjang menderita, tapi kesemuanja itu adalah demi diriku.”

Dan karena tiada mendapat djawaban, maka Ban Ka telah bertanja pula: “Obat penawarnja sudah dibeli lagi belum?”

Karena bingung apakah mesti memberitahukan atau tidak kepada suami tentang kelakuan Go Him jang kurangadjar itu, maka segera ia mendjawab: “O, aku sudah ketemukan tabib itu, aku telah memberikan uang lagi dan minta dia segera meramukan obatnja.”

Mendengar itu, barulah Ban Ka merasa lega hatinja, katanja. “Hong-moay, djiwaku ini akhirnja engkaulah jang menjelamatkan.”

Djik Hong paksakan diri tertawa, ia merasa bau darah berbisa jang berada didalam baskom itu sangat menusuk hidung, segera ia membawakan sebuah tempolong ludah untuk menggantikan baskom itu, lalu baskom itu dibawanja keluar.

Tapi baru beberapa langkah, bau darah berbisa itu menerdjang hidungnja hingga kepalanja terasa pening, diam2 ia mengakui betapa lihaynja ratjun ketungging itu. Tjepat ia keluar kamar, ia taruh baskom itu dilantai ditepi medja, lalu ia hendak mengambil saputangan dari badjunja untuk menutupi hidung, kemudian darah berbisa itu akan dibuangnja.

Tapi begitu tangannja mendjulur kedalam saku, segera ia memegang kitab kuno itu. Ia tertegun sedjenak, kembali hatinja ber-debar2 lagi, ia mengeluarkan kitab itu, ia duduk ditepi medja, lalu satu halaman demi satu halaman dibaliknja. Ia masih ingat dengan djelas kitab itu diambilnja dari bawah sebuah kopor rusak milik sang ajah jang penuh tersimpan badju lama, waktu itu ia sedang mentjari sesuatu badju lama dan tanpa sengadja telah diketemukan kitab itu. Padahal ia tahu ajahnja tidak banjak makan sekolah, biarpun huruf segede telur djuga tiada dua kerandjang jang dikenalnja, entah darimana sang ajah menemukan kitab seperti itu. Tatkala itu kebetulan ia baru selesai menggunting dua buah pola sulaman, maka ia lantas selipkan kertas pola kedalam buku itu. Dan ketika suatu hari ia bermain lagi kegua rahasia itu bersama Tik-suko, kitab itu sekalian lantas dibawanja kesana, sedjak itu kitab itupun selalu tertinggal didalam gua, mengapa sekarang bisa diketemukannja disini? Apakah Tik-suko menjuruh tabib kelilingan tadi menghantarkannja padaku? Tabib itu…….. djangan2 …… kelima djarinja terpapas putus semua oleh Go Him? Ja, tabib itu mengapa……. Mengapa selalu menjembunjikan tangan kanan didalam saku.”

Begitulah se-konjong2 Djik Hong teringat pada waktu itu. Di kala tabib keliling itu membubuhi obat pada Ban Ka tiada seorangpun jang memperhatikan tangan jang digunakan sitabib adalah tangan kiri dan tidak pernah memakai tangan kanan, kini demi teringat dahulu djari tangan kanan Tik Hun pernah terpapas putus oleh Go Him, seketika terbajanglah kembali adegan2 tadi waktu sitabib membuka peti obat, mengambil botol obat dan membuka sumbat botol serta menuang obat bubuk itu, ja, kesemuanja itu melulu dilakukan oleh tangan kiri sitabib.

“Djangan2……. Djangan2 tabib itu adalah Tik-suko? Tapi mengapa mukanja sedikitpun tidak sama?” demikian pikir Djik Hong. Dan saking kusut dan kesalnja, ia mendjadi berduka, air matanja bertjutjuran dan menetes diatas kitab jang dipegangnja itu.

Air matanja menetes terus hingga membasahi kitab kuno dan hal mana belum disadari oleh Djik Hong, air matanja menetes diatas sepasang kupu2 guntingan kertas, jaitu kupu2 San Pek dan Eng Tay, nasib pertjintaan mereka baru akan terdjalin sesudah keduanja mati semua ………

Dalam pada itu Ban Ka sedang berseru didalam kamar: “Hong-moay, aku merasa gerah sekali, aku ingin bangun untuk djalan2 sebentar.”

Tapi Djik Hong sendiri lagi tenggelam dalam lamunannja, maka tidak mendengar suara sang suami itu. Waktu itu ia sedang memikir: “Tempo hari dia (Tik Hun) telah mematikan seekor kupu2 hingga sepasang kekasih telah ditjerai-beraikan olehnja. Apakah dia telah ketulah oleh perbuatannja itu dan hidupnja ini diharuskan merana dan menderita!………

Dan pada saat itulah mendadak dibelakangnja seorang telah berseru dengan suara kaget. “He, itulah ……..Soh ……… Soh-sim-kiam-boh!”

Keruan Djik Hong djuga berdjingkrak kaget, tjepat ia menoleh, ia melihat Ban Ka dengan wadjah kegirangan dan penuh semangat sedang berkata: “He, Hong-moay, darimanakah kau memperoleh kitab itu? Lihatlah, aha, kiranja begitu, kiranja demikian!”

Segera ia memburu madju, dengan kedua tangannja ia memegang kitab kuno ditangan isterinja. Ia balik sampul kitab itu, dengan djelas dibatjanja djudul kitab itu adalah “Tong-si-soan-tjip” (pilihan2 sjair djaman Tong).

Kemudian ia melihat halaman jang ketetesan air mata Djik Hong itu adalah sebuah sjair jang berkalimat “Seng-ko-si” dan disamping bawahnja timbul tiga huruf ketjil ke-kuning2an, ketiga huruf itu adalah “tiga puluh tiga” atau dalam angka mendjadi “33”. Beberapa baris tulisan itu telah basah kena air mata Djik Hong.

Saking girangnja Ban Ka sampai lupa daratan, ia ber-teriak2: “Aha, disinilah letak rahasianja, ja, kiranja harus dibasahi dahulu, lalu akan timbul hurufnja. Bagus! Bagus! Tentu adalah kitab ini. He, Khong-sim-djay, Khong-sim-djay, lekas pergi mengundang Engkong kemari, katakan ada urusan penting!”

Begitulah ia lantas membangunkan sidara tjilik jang lagi tidur njenjak itu dan disuruhnja pergi mengundang sang Engkong (kakek), jaitu Ban Tjin-san.

Sambil memegangi kitab sjair itu dengan erat2, Ban Ka mendjadi lupa tangannja jang terluka dan kesakitan itu, sebaliknja ia terus bitjara sendiri: “Ja, pasti inilah kitabnja, tentu tidak salah lagi. Ajah bilang Kiam-boh itu berwudjut sedjilid Tong-si-soan-tjip, tentu tidak salah lagi, apakah perlu disangsikan lagi sekarang? Hahaha, pantas lebih dulu harus membikin basah kitab ini dan dengan sendirinja rahasianja akan timbul sendiri.”

Karena luapan rasa girang jang tak terkendalikan, maka Ban Ka telah mengotjeh tak tertahan, hal mana telah membikin Djik Hong mendjadi paham djuga duduknja perkara.

Pikirnja: “Apakah kitab ini adalah ‘Soh-sim-kiam-boh’ jang dibuat rebutan antara ajahku dan Kongkong itu? Djika begitu, sebenarnja kitab ini telah didapatkan oleh ajahku, tapi setjara tak sadar aku telah mengambilnja untuk mendjepit pola sepatu. Tapi waktu ajah kehilangan kitab pusaka ini, mengapa beliau tidak kelabakan dan mentjarinja? Ah, tentu djuga sudah ditjarinja, tjuma ditjari kesana kesitu tidak ketemu, lalu disangkanja telah ditjuri oleh Gian-supek dan diantepin sadja. Mengapa dahulu ajah tidak tanja padaku tentang kitab jang hilang itu? Sungguh sangat aneh!”

Djika Tik Hun, tentu sekarang ia takkan heran sedikitpun, sebab ia sudah tahu Djik Tiang-hoat itu adalah seorang jang litjin, seorang jang banjak tipu akalnja, sekalipun didepan puterinja djuga sedikitpun tidak mau mengundjukan sesuatu tentang kitab pusaka Soh-sim-kiam-boh itu. Waktu kitab itu hilang, tentu djuga ia berusaha mentjarinja ubek2an, tapi sesudah tidak diketemukan kembali, ia lantas pura2 tidak terdjadi apa2, hanja diam2 ia menjelidiki dengan segala djalan untuk memperhatikan apakah kitab itu bukan ditjuri oleh Tik Hun? Atau ditjuri puterinja? Tapi disebabkan Djik Hong tidak merasa mentjuri, ia tidak perlu takut sebagaimana seorang maling kuatir konangan, maka dengan sendirinja penjelidikan Djik Tiang-hoat mendjadi sia2.

Dalam pada itu Ban Tjin-san baru sadja pulang, ia sedang diruangan makan. Ketika ia dipanggil tjutju perempuannja, ia sangka luka puteranja mungkin berubah buruk, maka belum lagi sarapannja dihabiskan dia sudah lantas buru2 kebelakang sambil membopong sidara-tjilik. Dan begitu ia melangkah keatas loteng, dia lantas mendengar suara seruan Ban Ka jang kegirangan. “Haha, di-tjari2 tidak ketemu, siapa duga diperoleh setjara begini mudah. Eh, Hong-moay, mengapa engkau kebetulan membasahi kitab ini dengan air? Sungguh kebetulan, mungkin memang takdir ilahi!”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa air jang membasahi kitab itu adalah air mata sang isteri jang barusan sedang merindukan seorang laki2 lain.

Begitulah Ban Tjin-san mendjadi lega demi mendengar suara sang putera itu, segera iapun masuk kedalam kamar.

“Tia, Tia! Lihatlah, apakah ini?” seru Ban Ka segera sambil mengundjukan kitab ‘Pilihan2 sjair djaman Tong’ itu kepada sang ajah jang baru masuk itu.

Hati Ban Tjin-san tergetar demi nampak kitab ke-kuning2an jang tipis itu, tjepat ia taruh Khong-sim-djay ketanah, lalu terima kitab jang diangsurkan Ban Ka itu dengan hati ber-debar2 hebat.

Itulah dia “Soh-sim-kiam-boh” jang telah ditjarinja mati2an selama belasan tahun kini telah kembali didepan matanja.

Memang benar inilah kitabnja, kitab asli jang pernah dimilikinja bersama Djik Tiang-hoat dan Gian Tat-peng, jaitu hasil rampokan mereka bersama dengan menganiaja guru mereka.

Dahulu mereka bertiga telah mem-balik2 dan mempeladjari bersama isi kitab itu didalam hotel, akan tetapi kitab itu toh bukan “Kiam-boh” sebagaimana orang sangka, kitab itu tidak lebih hanja sedjilid kitab sjair kuno jang umum, kitab “Tong-si-soan-tjip” jang djuga dapat dibeli dengan mudah disetiap toko buku setiap tempat.

Dengan matjam2 djalan mereka bertiga saudara perguruan telah menjelidiki isi kitab itu. Pernah mereka menjorot setiap halaman kitab itu dibawah sinar matahari dengan harapan menemukan apa2 didalam lempitan kertas itu, pernah djuga mereka membatja beberapa bait sjair itu didjungkir balik, dibatja pula setjara me-lompat2 dan matjam2 tjara lagi dengan tudjuan mendapatkan sesuatu rahasia didalamnja, tapi semua usaha itu hanja sia2 belaka, hasilnja nihil. Mereka bertiga saling tjuriga mentjurigai, kuatir kalau pihak lain menemukan rahasia didalam kitab itu dan dirinja sendiri tidak tahu. Maka setiap malam diwaktu tidur, mereka lantas menguntji kitab itu didalam sebuah peti besi, peti besi itu digandeng pula dengan tiga utas rantai besi serta masing2 diikat dipergelangan tangan mereka bertiga. Akan tetapi pada suatu pagi hari, tahu2 kitab itu sudah menghilang tanpa bekas.

Akibat hilangnja kitab itu selama belasan tahun mereka bertiga saudara perguruan telah bertengkar tidak habis2, masing2 saling selidik menjelidiki. Dan mendadak kitab itu telah muntjul didepan matanja sekarang.

Ban Tjin-san tjoba membalik halaman keempat dari kitab itu. Ja, memang betul, udjung kiri halaman itu tersobek sedikit, itulah kode rahasia jang sengadja dibuatnja tempo dulu, ia kuatir kedua Sutenja itu mungkin menukarnja dengan sedjilid “Tong-si-soan-tjip” jang serupa dan dirinja tertipu, maka ia sendiri harus menaruh sesuatu tanda dulu diatas kitab asli itu.

Ketika ia membalik pula halaman ke-16, benar djuga bekas goresan kuku jang ditaruhnja dahulu itu djuga masih kelihatan. Ja, tidak salah lagi, memang betul kitab ini tulen adanja.

Begitulah ia lantas manggut2, sedapat mungkin ia menahan rasa senangnja itu, katanja kemudian kepada sang putera: “Ja, memang betul adalah kitab ini, darimana kau memperolehnja?”

Segera sorot mata Ban Ka beralih kepada Djik Hong dan bertanja: “Hong-moay, darimanakah kitab ini kau temukan?”

Djik Hong sendiri sedjak melihat sikap Ban Ka tadi, jang terpikir olehnja melulu diri ajahnja sadja, ia pikir: “Kemanakah perginja ajah selama ini? Sesudah aku mengambil kitabnja ini dan kubawa kedalam gua itu, beliau mentjari ubek2an. Padahal kitab ini jang selalu dibuat intjaran dan menjebabkan pertengkaran mereka, dalam hati ajah tentu sangat luar biasa sajang kepada kitab ini. Entah kitab kuno seperti ini mempunjai manfaat apa hingga mesti mereka ributkan? Tapi dahulu aku telah mengambilnja dari kopor ajah, sekali2 tidak boleh kubiarkan kitab ini djatuh ditangan Kongkong.”

Apabila sehari dimuka, pada waktu itu Djik Hong masih belum tahu duduknja perkara tentang penderitaan Tik Hun jang dipitenah orang, tentu ia masih sangat tjinta dan penuh kasih-sajang kepada suaminja, dan dalam penilaiannja mungkin sang suami akan lebih utama daripada ajahnja sendiri, apalagi sang ajah entah kemana perginja selama ini, entah akan pulang lagi atau tidak?

Namun keadaan sekarang sudah berubah lain. “Sekali2 kitab ajahku itu tidak boleh kubiarkan djatuh ditangan mereka. Tentu Tik-suko jang telah mengambil kitab ini dari gua dan diserahkan padaku, dengan sendirinja tidak boleh kuberikan pada mereka, hal ini bukan sadja demi ajah, tapi terutama demi Tik-suko!” demikian ia ambil keputusan.

Begitulah maka waktu Ban Ka bertanja padanja darimana diperoleh kitab itu, Djik Hong sendiri lagi memikirkan tjara bagaimana harus merebut kembali kitab jang telah dipegang oleh bapa mertuanja itu. Padahal ilmu silat Ban Tjin-san sangat tinggi, sekali2 dirinja bukan tandingannja apalagi sang suami djuga berada disitu, untuk merebutnja denggan kekerasan terang tidak mungkin.

Mendadak tertampak olehnja baskom jang terletak didekat medja sana, didalam baskom masih terisi setengah baskom air darah, jaitu sebagian adalah air tjutji muka Ban Ka dan darah berbisa jang menetes dari luka tangannja. Air didalam baskom itu berwarna merah hitam, kalau…… kalau diam2 kitab itu direndam didalam air baskom, tentu mereka takkan menemukannja kembali. Akan tetapi, tjara bagaimana, harus ditjari kesempatan untuk memasukkan kitab itu kedalam baskom?

Demikian Djik Hong sedang putar otak, sebaliknja sorot mata Ba Tjin-san dan Ban Ka djuga sedang diarahkan padanja. Kembali Ban Ka mengulangi pertanjaannja: “Hong-moay, darimanakah kau memperoleh kitab ini?”

Baru sekarang Djik Hong terkesiap, tjepat ia menjahut: “Ah, entahlah, akupun tidak tahu, tadi aku keluar dari kamar dan tahu2 melihat kitab itu diatas medja. Apakah itu bukan milikmu?”

Karena seketika itu tidak djelas duduknja perkara, maka sementara Ban Ka tidak mengusut lebih djauh, jang terpikir olehnja jalah ingin lekas memberitahukan kepada sang ajah tentang pengalamannja jang luar biasa tadi. Maka ia lantas berkata kepada Ban Tjin-san: “Lihatlah, ajah! Asal halaman kitab ini dibasahi, lantas timbul hurufnja disitu.” ~ Segera iapun menundjukkan angka “33” jang terdapat disebelah kalimat sjair “Seng-ko-si” itu. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa air jang membasahi halaman kitab itu adalah air mata sang isteri, air mata rindu sang isteri kepada seorang laki2 lain jang bernama Tik Hun. Kalau dia tahu, entahlah bagaimana perasaannja, akan girang atau akan marah?

Dalam pada itu Ban Tjin-san sedang meneliti sjair “Seng-ko-si” itu, ia lagi meng-hitung2 huruf sjair satu demi satu, mulai dari suatu bait jang berbunji: “Loh-tju-tiong-hong-siang…….” hingga achirnja djatuh pada huruf “He-hong-seng…….”

Itu dia, huruf ke-33 djatuh pada huruf “Seng”!

Ban Tjin-san gablok pahanja sendiri sekali dan berseru: “Tepat! Memang beginilah tjaranja, ja beginilah tjaranja! Kiranja rahasianja terletak disini! Hai, Ka-dji, engkau benar2 sangat pintar, sjukur dapatlah kau menemukan tjaranja ini. Memang harus memakai air, ja, harus pakai air! Sungguh tolol, dahulu kami djusteru tiada seorangpun jang memikirkan tentang pemakaian air untuk menemukan rahasia didalam kitab ini!”

Melihat kedua orang itu penuh semangat asjik mempeladjari rahasia jang tersimpan didalam kitab itu, segera Djik Hong menarik puterinja kedalam kamar sana, ia pondong dara tjilik itu didalam pangkuannja dan pelahan2 berkata padanja: “Khong-sim-djay, kau lihat baskom itu bukan?”

Dara tjilik itu manggut2, sahutnja: “Ja, tahu!”

“Nah, sebentar kalau Engkong, ajah dan ibu berlari keluar semua, kau lantas melemparkan buku jang dipegang Engkong tadi kedalam baskom agar kerendam air kotor itu, djangan sampai diketahui oleh Engkong dan ajah, ja,” demikian Djik Hong mengadjarkan puterinja.

Sidara tjilik kegirangan, disangkanja sang ibu hendak mengadjarkan suatu permainan jang menarik padanja, maka dengan tertawa ia bersorak: “Bagus, bagus!”

“Tapi djangan sekali2 diketahui oleh Engkong dan ajah, lho! Kemudian kaupun djangan katakan pada mereka, ja!” pesan Djik Hong pula.

“Ja, Khong-sim-djay pasti takkan bilang pada mereka, pasti tidak!” seru sidara tjilik.

Lalu Djik Hong keluar kamar depan lagi, katanja kepada Ban Tjin-san: “Kongkong, aku merasa didalam kitab itu ada sesuatu jang gandjil.”

Tjin-san menoleh, tanjanja: “Gandjil apa sih?” ~ Memangnja ia sendiri djuga merasa was-was karena muntjulnja kitab itu setjara mendadak, datangnja terlalu mudah, hal mana bukanlah sesuatu alamat baik. Maka ia bertambah pikiran demi mendengar utjapan njonja mantunja itu.

“├Źni, disini!” kata Djik Hong kemudian sambil mengulurkan tangannja.

Ban Tjin-san lantas serahkan kitab sjair itu kepadanja. Sesudah Djik Hong mem-balik2 halaman kitab itu, kemudian dikeluarkannja sepasang pola kupu2 itu dan berkata: “Kongkong, didalam kitabnja dahulu apakah terdapat sepasang kupu2 kertas sematjam ini?”

Tjin-san terima kupu2 kertas itu dan mengamat-amatinja, lalu sahutnja: “Ja, tidak ada!”

“Habis apa artinja kupu2 kertas didalam kitab ini?” udjar Djik Hong. “Apakah didalam Bu-lim terdapat seseorang tokoh jang berdjuluk ‘Hek-oh-tiap’ (kupu2 hitam) dan sebagainja? Dengan meninggalkan kupu2 kertas ini didalam kitab, mungkin adalah tanda peringatan bahwa mereka akan datang menuntut balas?”

Biasanja memang sering terdjadi didalam Kangouw bahwa sebelum menuntut balas, seorang telah mengirimkan tanda peringatan lebih dulu kepada orang jang akan didatanginja. Dan selama hidup Ban Tjin-san djusteru tak terhitung banjaknja kedjahatan jang pernah diperbuatnja, dengan sendirinja ia terkedjut mendengar utjapan Djik Hong itu, apalagi kupu2 kertas memang njata terselip didalam kitab itu. Ia tjoba meng-ingat2 apakah pernah memusuhi seorang tokoh jang berdjuluk ‘Hek-oh-tiap’ dan sebagainja? Tapi seingat dia toh tidak ada.

Selagi ia merenung, mendadak terdengar Djik Hong membentak: “Siapa itu? Ada apa main sembunji2 disitu?” ~ Segera ia tuding keatas wuwungan rumah diluar djendela, maka berbareng Ban Tjin-san dan Ban Ka memandang kearah sana, tapi toh tiada terdapat apa-apa.

Tjepat Djik Hong sambar sepasang pedang jang tergantung didinding, ia lemparkan sebatang kepada Ban Tjin-san dan sebatang kepada Ban Ka, serunja pula. “Aku melihat tiga sosok bajangan orang berkelebat kesana!”

Sementara Tjin-san dan Ban Ka menjambuti pedang jang dilemparkan Djik Hong itu, segera Djik Hong lantas tarik latji medja dan masukan kitab sjair itu kedalamnja dan sambil berbisik: “Djangan sampai ditjuri musuh!”

Ban Tjin-san berdua pertjaja sadja, mereka memanggut. Segera mereka bertiga melompat keluar djendela dan naik keatas rumah, waktu memandang sekeliling situ, namun tiada tertampak seorangpun. “Tjoba periksa kebelakang sana!” kata Tjin-san.

Bertiga orang terus menguber kerumah belakang sana. Tiba2 terlihat sesosok bajangan orang berkelebat dipengkolan sana, segera Tjin-san membentak: “Siapa itu?” ~ Dan waktu ia melesat madju, kiranja orang itu bukan lain adalah muridnja nomor enam, jaitu Go Him adanja.

“Kau melihat musuh tidak?” tanja Tjin-san pula.

Sebenarnja wadjah Go Him sudah putjat seperti majat, ia ketakutan setengah mati ketika mendadak melihat Suhu bertiga menguber kearahnja dengan sendjata terhunus, ia mengira perbuatannja jang kotor itu telah dilaporkan oleh Djik Hong. Dan demi mendengar pertanjaan sang guru itu, barulah ia merasa lega. Tjepat ia menajhut: “Ja, barusan seperti ada orang berlari lewat sini, makanja Tetju lantas memburu kemari untuk mentjari tahu apa jang telah terdjadi.”

Sebenarnja djawabannja itu adalah untuk menutupi sikapnja jang kikuk itu, sebaliknja mendjadi kebetulan bagi Djik Hong jang membohong itu.

Segera mereka berempat menguber pula kebelakang, ber-ulang2 Go Him bersuit memanggil Loh Kun, Bok Heng dan lain2, tapi meski seluruh isi rumah mereka kerahkan untuk mentjari musuh, toh tiada suatu bajanganpun jang kelihatan.

Karena kuatirkan kitab “Soh-sim-kiam-boh” jang masih tertinggal dikamar itu, segera Tjin-san suruh Loh Kun dan para Sute-nja mentjari lebih djauh djedjak musuh. Ia sendiri bersama Ban Ka dan Djik Hong lantas kembali kekamar loteng.

Segera pula ia membuka latji hendak mengambil kitab itu, tapi ……..

Sudah tentu latji itu sudah kosong melompong, kitab itu entah sudah terbang kemana?

Keruan kedjut Ban Tjin-san dan Ban Ka tak terkatakan, mereka mentjari ubek2an didalam kamar, dan sudah tentu nihil hasilnja.

“Adakah seorang masuk kesini?” Ban Tjin-san tjoba tanja Khong-sim-djay.

“Tidak ada!” sahut sidara tjilik. Kemudian ia berpaling dan main mata dengan sang ibu, hatinja sangat senang.

Sudah terang gamblang Ban Tjin-san berdua menjaksikan sendiri Djik Hong memasukan kitab itu kedalam latji, dikala menguber musuh djuga selalu njonja mantu itu berada bersama mereka, dengan sendirinja bukan Djik Hong jang main gila. Ia menduga pasti adalah tipu muslihat musuh jang “memantjing harimau meninggalkan sarang”, lalu mentjuri kitab pusaka itu.

Keruan Ban Tjin-san dan Ban Ka merasa lemas, mereka saling pandang dengan lesu dan menjesal.

Sebaliknja Djik Hong dan Khong-sim-djay sangat senang, mereka saling main mata, saling kedip penuh arti ………

Begitulah anak murid Ban Tjin-san jang lain telah sibuk mentjari djedjak musuh disetiap polosok rumah dan sudah tentu tiada suatu bajanganpun jang diketemukan.

Ban Tjin-san pesan kepada Djik Hong agar djangan sekali2 bertjerita keapda Loh Kun dan lain2 tentang diketemukannja Kiam-boh dan kemudian hilang lagi. Sudah tentu Djik Hong mengiakannja dengan baik. Selama ini Djik Hong sudah makin sadar akan hubungan guru dan murid keluarga Ban itu, begitu pula hubungan antara murid satu dengan murid lainnja selalu dilakukan dengan tidak djudjur, masing2 hanja memikirkan kepentingan sendiri2, satu sama lain saling tjuriga-mentjurigai.

Dengan rasa menjesal dan penasaran kemudian Ban Tjin-san kembali kekamarnja sendiri, jang terpikir olehnja adalah tanda kupu2 hitam kertas didalam kitab itu. Sebaliknja Ban Ka djuga pajah keadaannja, sesudah ber-lari2 menguber musuh, tekanan darahnja naik, luka ditangannja itu mendjadi kesakitan lagi, maka ia telah merebah di randjangnja untuk mengaso dan tidak lama iapun tertidur.

Diam2 Djik Hong pikir kitab sjair itu akan sangat berguna bagi ajahnja, kalau kerendam terlalu lama didalam air mungkin akan rusak. Segera ia masuk kekamar dan tjoba memanggil sang suami beberapa kali, tapi Ban Ka sudah tertidur njenjak, segera ia keluar lagi dan bawa baskom itu kebawah, ia buang air darah didalam baskom itu hingga kelihatan dasar baskom. Ia pudji si Khong-sim-djay sangat pintar dan penurut, tidak merasa wadjahnja menampilkan senjuman puas.

Sama sekali diluar dugaannja bahwa sebenarnja sudah sedari tadi Ban Ka telah tjuriga padanja.

Tadi waktu sidara tjilik main mata dengan sang ibu, kelakuan itu telah dapat diketahui oleh Ban Ka hingga timbul rasa tjuriganja. Maka ia sengadja pura2 tidur, dan begitu Djik Hong turun kebawah, segera iapun bangun dan dengan ber-djindjit2 seperti maling kuatir kepergok, ia mengawasi gerak-gerik sang isteri.

Karena kitab itu berbau amis darah jang merendamnja tadi, Djik Hong merasa muak dan tidak sudi memegangnja, ia pikir: “Dimanakah kitab ini harus kusembunjikan?”

Segera teringat olehnja ditaman belakang ada sebuah kamar podjok jang biasanja dibuat simpan barang rongsokan sebangsa patjul, tenggok, sapu dan sebagainja, pada waktu itu tentu tiada terdapat orang disitu. Segera ia petik daun bunga seruni hingga penuh satu baskom untuk menutupi kitab jang basah itu, lalu menudju ketaman.

Sesudah masuk kedalam kamar dipodjok taman itu, ia melihat kamar itu tidak terawat, temboknja banjak jang rontok, udjung dinding sana ada beberapa potong bata sudah mulai merenggang. Ia pikir: “Kalau kitab ini kusembunjikan disini tentu takkan ditjurigai siapapun djuga.” ~ Segera ia mengorek keluar beberapa potong bata itu, ia masukkan kitab itu kedalam liang dinding itu, lalu bata2 itu dipasangnja kembali hingga rapat.

Habis itu, dengan masih mendjindjing baskom itu ia berdjalan kembali sambil ber-njanji2 ketjil seperti tiada pernah terdjadi apa2.

Waktu lewat diserambi, mendadak dari pengkolan sana menjelinap keluar seorang sambil membisikinja: “Suso, tengah malam nanti djangan lupa, ja! Aku tunggu kau didalam gudang kaju sana!” ~ Siapa lagi dia kalau bukan Go Him.

Memangnja Djik Hong lagi menahan rasa kuatir kalau perbuatannja dipergoki orang, ketika mendadak muntjul seorang dan berkata begitu padanja, keruan djantungnja se-akan2 tjopot saking kagetnja.

Segera iapun mendamperatnja: “Tjis, kau tjari mampus, besar amat njalimu, apa kau sudah bosan hidup?”

Tapi dengan tjengar-tjengir Go Him mendjawab: “Demi Suso, biarpun djiwaku akan melajang djuga aku rela. Suso, engkau inginkan obat penawarnja atau tidak?”

Dengan gemes Djik Hong sudah meraba belati jang tersimpan didalam badjunja itu, sungguh ia ingin sekali tikam mampuskan manusia rendah itu dan merampas obat penawarnja.

Tapi Go Him adalah seorang litjin dan tjulas, sudah tentu ia tjukup waspada terhadap segala kemungkinan. Dengan menjengir ia berkata pula dengan pelahan: “Suso, djangan kau tjoba2 menjerang, asal kau menjerang dengan tipu ‘Wadjah manusia muntjul dari balik gunung’ dan menikam kearahku, maka aku sudah siap akan menghindar dengan gerakan ‘kepala kuda timbul disamping awan’, dan sekali tanganku bergerak begini, seketika obat penawar ini kubuang kedalam empang.” ~ Sembari berkata ia terus ulurkan tangannja dan apa jang digenggamnja memang betul adalah botol obat penawar itu. Ia kuatir Djik Hong menubruk untuk merebutnja, maka lebih dulu ia lantas mundur beberapa langkah kebelakang.

Tahu kalau pakai kekerasan djuga takkan berhasil merebut obat penawar itu, terpaksa Djik Hong batalkan niatnja, segera ia menjisir lewat dari samping orang. Dan dengan suara pelahan Go Him membisikinja lagi: “Ingat Suso, aku tjuma sanggup menanti sampai tengah malam. Lewat tengah malam kau tidak datang, djam satu malam aku lantas tinggal pergi bersama obat penawar ini, aku akan kabur sedjauh mungkin dan takkan kembali ke Hengtjiu lagi. Haha, andaikan mati djuga orang she Go ini tidak sudi mati ditangan ajah dan anak she Ban.”

Waktu Djik Hong sampai dikamarnja, ia mendengar Ban Ka sedang me-rintih2, njata ratjun ketungging telah kumat lagi dengan hebat.

Ia duduk menjanding medja dengan bertopang dagu, pikirannja bergolak tak tertahankan. Ia pikir: “Tjaranja dia (Ban Ka) mempitenah Tik-suko sungguh sangat kedji, tapi nasi sudah mendjadi bubur, apa mau dikata lagi? Selama beberapa tahun ini sesungguhnja iapun sangat baik padaku, sebagai seorang wanita, menikah ajam ikut ajam, kawin dengan bebek turut bebek, selama hidupku sudah ditakdirkan akan mendjadi suami-isteri dengan dia. Tjuma Go Him itu benar2 keparat, tjara bagaimana supaja aku dapat merebut obatnja?” ~ Ia melihat air muka Ban Ka putjat kurus, diam2 ia membatin pula: “Luka Ban-long sangat parah, djika kukatakan perbuatan Go Him itu padanja, dalam gusarnja tentu ia akan mengadu djiwa padanja dan tentu akan membuat keadaannja lebih pajah.”

Begitulah pikirannja mendjadi kusut. Sementara itu hari sudah gelap, sesudah makan malam, Djik Hong mengatur puterinja tidur, ia sendiri masih gelisah. Sesudah dipikir pulang-pergi, achirnja ia mengambil keputusan akan laporkan persoalan Go Him itu kepada Ban Tjin-san, sebagai seorang tua jang berpengalaman tentu akan dapat mentjari djalan keluar jang sempurna. Tapi urusan ini tidak boleh diketahui oleh Ban Ka, harus menunggu sesudah sang suami itu tidur njenjak, barulah akan dilaporkan kepada bapa mertuanja ini. Selama beberapa hari ia benar2 terlalu tjapek merawat luka suaminja itu siang dan malam, namun ia tidak dapat tidur. Ia menunggu setelah terdengar suara mendengkurnja Ban Ka, lalu bangun dengan pelahan2, dengan hati2 ia turun kebawah loteng, ia menudju keluar kamarnja Ban Tjin-san.

Sinar bulan menembus kedalam kamar Ban Tjin-san, melalui tjelah2 djendela dapat dilihatnja bahwa didalam kamar bapa mertua itu sudah gelap, pelita sudah dipadamkan, ia menduga orang tua itu sudah tidur.

Diluar dugaan, sesudah ia mendekati djendela, tiba2 dari dalam kamar orang tua itu terdengar suara “he-he-he” jang aneh, jaitu suara orang jang bernapas dikala mengeluarkan tenaga besar untuk berbuat sesuatu.

Djik Hong sangat heran, sebenarnja ia sudah akan memanggil, tapi segera diurungkan. Ia tjoba mengintip kedalam kamar melalui tjelah2 djendela, dibawah sinar bulan jang remang2 ia melihat Ban Tjin-san sedang merebah diatas tempat tidurnja, kedua matanja terpedjam, tapi kedua tangannja tampak men-dorong2 sekuatnja keatas.

Sungguh heran Djik Hong tak terkatakan, pikirnja dengan menahan napas: “Pasti Kongkong sedang melatih sesuatu ilmu Lwekang jang hebat. Konon diwaktu orang melatih Lwekang, jang paling dipantang adalah gangguan jang mengagetkan, djika hal mana terdjadi, seringkali orang jang sedang berlatih itu akan ‘Tjau-hwe-djip-mo’ (sesat djalan dan kemasukan api) hingga membikin tjelaka diri sendiri. Sebaiknja aku menunggu dulu, biar beliau selesai latihan barulah akan kupanggilnja.”

Ia mengikuti terus tingkah-laku Ban Tjin-san itu. Ia melihat sesudah men-dorong2 keatas sebentar, kemudian Ban Tjin-san berbangkit dan turun dari tempat tidurnja serta melangkah beberapa tindak kedepan, lalu berdjongkok dan mendjulur tangannja keatas seperti sedang mentjekeram sesuatu.

Diam2 Djik Hong membatin: “Kiranja Kongkong sedang melatih Kim-na-djiu-hoat (ilmu memegang dan menangkap)!”

Tapi sesudah diperhatikan sebentar lagi. Ia melihat gerak-gerik Ban Tjin-san makin lama makin aneh, kedua tangannja ber-ulang2 mentjengkeram entah apa jang hendak dipegangnja, habis itu lantas ditumpuknja kebawah satu persatu dengan radjin dan teratur, djadi mirip tukang batu sedang memasang bata. Namun dilantai situ toh kosong melompong tiada terdapat sesuatu benda apapun, djadi gerak-geriknja itu hanja perbuatan kosong belaka.

Dan sesudah me-megang2 sebentar lagi keudara, kemudian tampak orang tua itu meng-ukur2 dengan kedua tangannja, mungkin merasa sudah tjukup besar, lalu kedua tangannja bergaja seperti mengangkat sesuatu benda besar dari tanah dan dimasukkan kedepan.

Djik Hong merasa bingung menjaksikan itu, dengan djelas dilihatnja kedua mata Ban Tjin-san itu masih tertutup rapat, gerak-geriknja itu sekarang sudah terang bukan lagi melatih sesuatu ilmu silat apa segala, tapi lebih mirip sigagu sedang main sandiwara. Tiba2 teringat oleh Djik Hong utjapan si Mirah dirumah berhala siang tadi bahwa: “Ditengah malam Loya suka bangun untuk pasang tembok!”

Tapi gerak-gerik Ban Tjin-san sekarang toh bukan lagi pasang tembok, kalau dikatakan ada sangkut-pautnja dengan tembok, maka lebih mirip kalau dia sedang membongkar tembok.

Lapat2 Djik Hong merasakan sematjam firasat jang menakutkan. Pikirnja pula: “Ah, tentu Kongkong telah kena penjakit Li-hun-tjing (sakit ngelindur). Kabarnja orang jang dihinggap penjakit tidur seperti itu, terkadang orangnja bisa bangun ditengah malam dan djalan2 atau bekerdja tanpa disadari oleh orang jang bersangkutan sendiri. Bahkan ada jang telandjang bulat ber-djalan2 diatas rumah, ada pula jang membakar rumah dan membunuh orang dan matjam2 perbuatan lain jang aneh2, tapi sesudah mendusin, sama sekali orang jang bersangkutan tidak tahu apa2.”

Begitulah Djik Hong melihat pula sesudah Ban Tjin-san bergaja memasukan sesuatu benda besar kedalam lubang dinding jang sebenarnja tiada wudjutnja itu, kemudian tampak orang tua itu men-dorong2 lagi beberapa kali dengan kuat keatas, habis itu ia mendjemput bata dilantai jang tiada wudjud itu lalu dipasangnja, sekali ini benar2 bergaja sedang pasang batu.

Semula Djik Hong agak merinding menjaksikan perbuatan aneh jang menjeramkan itu kemudian sesudah melihat gajanja jang sedang pasang tembok, maka ia tidak begitu takut lagi sebab sebelumnja sudah diketahui akan hal itu. Katanja didalam hati: “Menurut Tho Ang, katanja Kongkong sering bangun ditengah malam untuk pasang tembok, suatu tanda penjakit tidurnja ini sudah lama dideritanja. Dan pada umumnja orang jang mempunjai sesuatu penjakit aneh tidaklah suka kalau diketahui orang lain. Tho Ang sekamar dan setempat-tidur dengan Kongkong dan tahu pula akan penjakitnja ini, dengan sendirinja Kongkong merasa kurang senang.”

Karena pikirannja itu, rasa ragu2nja tadi mendjadi hilang. Jang terpikir olehnja sekarang hanja: “Dan entah berapa lamanja penjakit tidur Kongkong itu akan berlangsung. Kalau sampai lewat tengah malam hingga sikeparat Go Him merat dengan membawa obat penawar, wah tentu tjelaka.”

Sementara itu dilihatnja Ban Tjin-san sedang bergaja mengambil bata jang dibongkarnja tadi dan dipasang kembali kelubang dinding tanpa wudjut itu, kemudian lantas bergaja seperti tukang kapur jang sedang melabur dinding. Dan sesudah segala sesuatu itu selesai dilakukannja, lalu kelihatan orang tua itu ber-senjum2 dan naik pula keatas randjang untuk tidur pula.

Pikir Djik Hong: “Setelah sibuk sekian lamanja, mungkin pikiran Kongkong belum lagi tenang kembali, biarlah aku menunggu sebentar lagi untuk memenggilnja.”

Tapi pada saat itu djuga, tiba2 terdengar pintu kamar bapa mertua itu diketok orang beberapa kali, menjusul ada orang memanggil dengan suara tertahan: “Tia-tia, Tia-tia!” ~ Itulah suara sang suami, Ban Ka.

Djik Hong agak terkedjut, ia heran pula: “Mengapa Ban-long djuga kemari? Untuk apakah dia datang?”

Ia lihat Ban Tjin-san terus mendusin dan berbangkit, setelah tenangkan diri sedjenak, lalu orang tua itu bertanja: “apakah Ka-dji disitu?”

Sebagai seorang djago silat, rupanja Ban Tjin-san sangat tjepat terdjaga bangun asal mendengar sesuatu suara pelahan sadja. Malahan djika penjakit ngelindurnja sedang kumat, pada saat itulah malah susah kalau orang hendak menjadarkan dia.

Maka terdengar Ban Ka telah mengiakan diluar kamar. Dan Tjin-san lantas turun dari tempat tidurnja dengan enteng tanpa menerbitkan suara sedikitpun, biarpun usianja sudah landjut, tapi gerak-geriknja ternjata masih gesit sekali, segera ia membukakan pintu dan membiarkan Ban Ka masuk sambil bertanja: “Apakah kau sudah memperoleh keterangan tentang Kiam-boh?” ~ Njata jang selalu terpikir olehnja adalah kitab pusaka itu.

“Tia!” terdengar Ban Ka memanggil pelahan sekali sambil melangkah masuk dengan sempojongan, tjepat ia berpegangan pada sandaran kursi jang berada disitu.

Kuatir kalau bajangan sendiri jang tersorot tjahaja rembulan itu akan dilihat oleh mereka, tjepat Djik hong meringkuk kebawah djendela sambil mendengarkan dengan tjermat, ia tidak berani mengintip gerak-gerik kedua orang itu lagi.

Ia dengar Ban Ka merandek sedjenak sesudah memanggil ajahnja tadi, lalu katanja dengan suara ter-putus2: “Tia, men…… menantumu itu bukan …….bukan orang baik2.”

Djik Hong terkedjut pula, ia heran mengapa sang suami berkata begitu?

Maka terdengar Ban Tjin-san sedang tanja: “Ada apa lagi? Suami-isteri bertengkar?”

“Kiam-boh sudah diketemukan. Tia, menantumu itulah jang mengambilnja,” sahut Ban Ka.

“Ha, sudah diketemukan? Itulah bagus, bagus!” seru Tjin-san dengan girang. “Dimana kitabnja?”

Djik Hong djuga terkedjut dan heran tak terkatakan. Ia pikir: “Mengapa dapat diketahui olehnja? Ah, tentu sibotjah Khong-sim-djay itu jang telah berkata pada ajahnja.”

Tapi utjapan Ban Ka selandjutnja telah membantah sangkaannja itu. Ban Ka telah memberitahukan kepada ajahnja bahwa dia telah mengetahui gerak-gerik Djik Hong dan Khong-sim-djay jang mentjurigakan, maka ia sengadja pura2 tidur, tapi diam2 mengawasi tingkah-laku Djik Hong, ia melihat isterinja itu membawa baskon ketaman belakang dan diam2 ia telah menguntitnja, ia menjaksikan Djik Hong menjembunjikan Kiam-boh kedalam lubang dinding didalam kamar podjok taman sana…..

Sungguh Djik Hong gegetun setengah mati: “O, ajah jang bernasib malang, kitabmu itu kembali djatuh lagi ditangan Kongkong dan Ban-long, untuk merebutnja kembali terang akan maha sulit. Baiklah, aku mengaku salah, memang Ban-long lebih lihay daripadaku.”

Kemudian terdengar Ban Tjin-san sedang berkata: “Wah, bagus sekali djika begitu, lekaslah, lekas ambil kitab itu, dan kau boleh pura2 tidak tahu apa2 untuk melihat bagaimana kelakuan isterimu itu, djika dia tidak singgung2 lagi, maka kau djuga tidak perlu katakan padanja. Aku djusteru sangat tjuriga darimanakah datangnja kitab ini, djangan2…….djangan2……….” ~ begitulah ia tidak melandjutkan djangan2 apa?

Maka Ban Ka telah berkata: “Tia!” ~ suaranja kedengaran sangat menderita.

“Ada apa?” sahut Tjin-san.

“Sebabnja menantumu mentjuri Kiam-boh itu, kiranja …….kiranja adalah untuk …….” berkata sampai disini suaranja mendjadi gemetar dan se-akan2 tersumbat.

“Untuk siapa?” Tjin-san menegas.

“Kiranja adalah untuk……untuk siandjing keparat Go Him itu!” sahut Ban Ka achirnja.

Telinga Djik Hong serasa mendengung, hampir2 ia tidak pertjaja pada telinganja sendiri. Hanja dalam hati ia berkata: “Perbuatanku itu adalah demi ajahku, mengapa bilang untuk Go Him? Mengapa menuduh aku berbuat untuk Go Him?”

Begitulah Djik Hong merasa penasaran oleh tuduhan Ban Ka itu. Ia dengar Ban Tjin-san djuga sangat heran dan kedjut, orang tua itu telah tanja: “Untuk Go Him, katamu?”

“Ja,” sahut Ban Ka. “Sesudah kulihat dia menjembunjikan Kiam-boh ditaman belakang sana, dari djauh aku menguntitnja pula, siapa duga …….siapa duga setiba diserambi situ, ternjata ia telah main kasak-kusuk dengan keparat Go Him, perempuan …….perempuan djalang itu benar2 tidak tahu malu lagi!”

“Tapi selama ini aku melihat tingkah-lakunja toh sangat baik dan sopan, tidak mirip seorang jang kotor seperti itu, apa kau tidak salah lihat? Dan apa jang dibitjarakan oleh mereka?” demikian kata Ban Tjin-san dengan ragu2.

“Anak kuatir dipergoki mereka, maka tidak berani terlalu mendekat, pula diserambi sana tiada tempat sembunji, terpaksa aku mengumpet diudjung tembok untuk mendengarkan,” tutur Ban Ka. “Tapi suara pertjakapan sepasang andjing laki-perempuan itu sangat lirih, aku tidak dapat mendengar seluruhnja, hanja sebagian sadja dapat kudengar dengan djelas.”

“O,” Tjin-san bersuara, katanja: “Sudahlah, Ka-dji sabarlah dulu. Seorang laki2 masakah kuatir tidak bisa mendapat isteri lagi? Sesudah Kiam-boh itu dapat kita temukan, pula bila rahasia didalam Kiam-boh sudah kita petjahkan, dalam sekedjap sadja kita akan mendjadi kaja-raja sekaligus kau ingin membeli seratus orang isteri dan seribu selir djuga sangat gampang. Nah, duduklah kau, bitjaralah dengan pelahan2.”

Lalu terdengar suara “krak-krek” papan randjang, Ban Ka telah duduk ditepi tempat tidur itu, kemudian berkata pula dengan napas ter-engah2. “Sesudah perempuan djalang itu selesai menjembunjikan kitab, rupanja ia sangat senang, bahkan ber-njanji2 ketjil segala. Ketika ketemu gendaknja, jaitu sikeparat Go Him, segera binatang she Go itu tjengar-tjengir dan berkata padanja: ‘Suso, tengah malam nanti djangan lupa, lho! Aku menanti engkau digudang kaju sana!” ~ utjapan ini dengan terang dapat kudengar dengan baik, sedikitpun tidak salah.”

“Dan, bagaimana lagi djawab perempuan djalang itu?” tanja Tjin-san.

“Dia…….dia mendamperat: ‘Kau tjari mampus, besar amat njalimu, apakah kau sudah bosan hidup!'” tutur Ban Ka.

Sungguh hantjur hati Djik hong mendengar tjertjaan pada dirinja itu, ia tidak tahu mengapa mereka mempitenah orang baik2? Padahal ia berbuat, demi kepentingan sang suami dan ingin merebut obat penawar untuk menejmbuhkan lukanja, tapi sang suami malah menistanja setjara begitu kedji, sungguh lelaki jang tidak punja Liangsim, demikian pikir Djik Hong.

Ia dengar Ban Ka sedang melandjutkan tjeritanja lagi: “Sesudah kudengar pertjakapan mereka itu, sungguh hatiku sangat panas, kalau bisa sungguh aku ingin menubruk madju dan bunuh kedua andjing laki dan perempuan itu. Tapi aku tidak membawa sendjata, apalagi dalam keadaan terluka, aku tidak dapat menempur mereka setjara terang2an, segera aku lari kembali kekamar agar sesudah perempuan djalang itu pulang kekamar takkan mentjurigai diriku. Dan apa jang dibitjarakan sepasang andjing laki dan perempuan itu selandjutnja aku tidak tahu lagi.”

“Hm, bapa andjing tidak nanti melahirkan puteri harimau, dasar sekeluarga she Djik mereka itu adalah manusia2 rendah semua,” demikian Tjin-san memaki. “Baiklah kita pergi mengambil dulu Kiam-boh itu, kemudian kita mendjaga diluar gudang kaju untuk menangkap basah perbuatan hina sepasang andjing laki-perempuan itu, lalu habiskan djiwa mereka.”

“Rupanja perempuan djalang itu sudah tidak seranti ditunggu oleh gendaknja, maka djauh sebelum tengah malam sudah keluar sedjak tadi,” kata Ban Ka. “Sementara ini mungkin…….mungkin sedang……” ~ saking geregetan barangkali hingga terdengar giginja berkrutukan.

“Djika begitu, sekarang djuga kitapun berangkat kesana,” udjar Tjin-san. “Bawalah sendjata, tapi kau djangan turun tangan, biar aku mengutungi kaki dan tangan mereka dulu, kemudian kau sendiri menghabiskan njawa sepasang andjing laki-perempuan itu.”

Lalu kelihatan pintu kamar dibuka, sambil memajang Ban Ka, Ban Tjin-san membawa puteranja itu menudju ketaman belakang.

Sembari bersandar ditembok, sungguh pedih sekali hati Djik Hong, air matanja bertjutjuran bagai hudjan. Maksudnja ingin luka sang suami bisa lekas sembuh, siapa tahu sang suami berbalik mentjurigai dirinja berbuat serong. Sedangkan ajahnja sedjak menghilang tidak pernah kembali lagi. Tik Hun telah merana entah kemana dengan menanggung penasaran tanpa berdosa, dan kini……kini sang suami bersikap demikian pula padanja, penghidupan seperti ini entah bagaimana nasib selandjutnja?

Begitulah ia merasakan kekosongan hati, sungguh ia tidak ingin hidup lagi, sama sekali tiada pikirannja buat memberi pendjelasan pada sang suami atau minta dikonfrontir dengan Go Him sebagai saaksi, seketika ia tjuma merasa badannja lemas dan bersandar didinding.

Selang tidak lama, tiba2 terdengar suara tindakan orang, Ban Tjin-san dan Ban Ka telah kembali diruangan duduk, mereka sedang berunding pula.

“Tia,” demikian Ban Ka lagi berkata, “kenapa kita tidak bunuh Go Him sadja digudang kaju tadi?”

“Didalam gudang hanja terdapat Go Him sendiri,” sahut Tjin-san dengan suara rendah, mungkin perempuan djalang itu telah tahu gelagat djelek, maka sudah merat sendiri lebih dulu. Djika kita takbisa menangkap basah perbuatan kotor mereka, mana boleh kita sembarangan membunuh orang mengingat kita adalah keluarga terkemuka dikota Hengtjiu sini? Kau harus tahu sesudah kita mendapatkan Kiam-boh, masih banjak pekerdjaan penting lain jang harus kita lakukan dikota ini, maka kita harus sabar, djangan terburu napsu hingga menggagalkan usaha besar kita!”

“Habis, apakah kita antepin sadja urusan ini?” tanja Ban Ka. “Dan tjara bagaimana dendam anak ini harus dilampiaskan?”

“Untuk melampiaskan dendam apa sih susahnja?” ujar Tjin-san. “Kita dapat gunakan tjara lama!”

“Tjara lama?” Ban Ka menegas.

“Ja, tjara lama! Tjara kita mengerdjakan Djik Tiang-hoat dulu!” kata Tjin-san. Ia merendek sedjenak, lalu sambungnja pula: “Sementara ini kau kembali kekamar dulu, sebentar aku akan mengumpulkan para anak murid dan kau boleh datang bersama mereka keluar kamarku. Hati2lah, djangan sampai menimbulkan tjuriga orang.”

Sebenarnja pikiran Djik Hong sedang kusut tak keruan, ia sudah putus asa, jang masih terasa berat olehnja adalah puterinja jang masih ketjil itu. Dan demi tiba2 mendengar Ban Tjin-san menjatakan hendak “menggunakan tjara lama dikala mereka mengerdjakan Djik Tiang-hoat dahulu” terhadap Go Him, seketika otaknya seperti dikompres dengan es, dengan segera pikirannja djernih kembali, sekilas timbul suatu pertanjaan dalam benaknja: “Dengan tjara apakah mereka telah mengerdjakan ajahku dahulu?”

Ia pikir hal ini diselidikinja hingga terang. Dan sebentar Kongkongnja akan mengumpulkan para anak muridnja, kemanakah ia harus bersembunji?

Sementara itu terdengar Ban Ka sedang mengiakan perintah ajahnja, lalu melangkah pergi. Kemudian Ban Tjin-san menudju keluar, ia berseru menjuruh pelajan menjalakan pelita dan mengundang para muridnja.

Tidak lama kemudian dari sana-sini terdengarlah suara berisik para muridnja jang sedang mendatangi untuk berkumpul. Djik Hong tahu bila tinggal lebih lama disitu, tentu akan ada orang lalu diluar djendela dan mempergoki djedjaknja. Sesudah ragu2 sedjenak, terus sadja ia menjelinap masuk kedalam kamarnja Ban Tjin-san. Ia singkap seperei jang menutupi kolong randjang, lalu menjusup kebawah. Dengan begitu, asal tiada orang menjingkap seperei jang mendjulur hampir ketanah itu, tentu tiada seorangpun jang dapat mempergoki djedjaknja.

Ia bertiarap melintang dikolong randjang, tidak lama kemudian tertampaklah ada sinar pelita merembes masuk melalui bawah seperai, ada orang masuk dengan membawa pelita. Ia melihat sepasang kaki jang bersepatu ikut melangkah masuk, itulah kakinja BanTjin-san. Sesudah kaki itu melangkah disamping kursi, lalu terdengar suara berkeriut perlahan, Ban Tjin-san telah duduk diatas kursi. Lalu terdengarlah ia memerintahkan pelajan keluar dan menutup pintu kamar.

Tidak lama, terdengar suara Loh Kun berseru diluar kamar. “Suhu, kami sudah datang semua, silakan Suhu memberi perintah.”

“Ehm, bagus! Nah, kau boleh masuk dulu,” sahut Ban Tjin-san.

Segera Djik Hong melihat pintu kamar didorong, sepasang kakinja Loh Kun tampak melangkah masuk, kemudian pintu kamar dikantjing lagi.

“Ada musuh telah mendatangi rumah kita, apakah kau tak tahu?” demikian Tjin-san mulai bertanja.

“Siapakah musuh itu? Tetju tidak tahu,” sahut Loh Kun.

“Orang itu menjaru sebagai seorang tabib kelilingan, bahkan sudah pernah datang kemari,” udjar Ban Tjin-san.

Diam2 Djik Hong terkedjut: “Masakah dia mengenali siapakah gerangan sitabib itu?”

Maka terdengar Loh Kun sedang mendjawab: “Tetju telah mendengar djuga hal itu dari Go-sute. Dan siapakah musuh itu sebenarnja?”

“Orang itu dalam keadaan menjamar, aku tidak melihat dengan sendiri, maka aku belum dapat meraba asal-usulnja,” kata Tjin-san. “Maka besok pagi2 hendaklah kau menjelidiki kesekitar utara kota, kemudian melapor padaku hasilnja. Sekarang kau keluar dulu, sebentar aku akan memberi tugas lain lagi.”

Loh Kun mengiakan, lalu keluar kamar.

Ber-turut2 Ban Tjin-san memanggil pula murid keempat Sun Kin dan murid kelima Bok Heng, apa jang dikatakan pada mereka pada garis besarnja serupa tadi. Hanja sadja Sun Kin ditugaskan kesekitar selatan kota dan Bok Heng menjelidiki timur kota. Dikala memberi pesan pada Bok Heng sengadja ditambahkannja: “Go Him akan menjelidiki barat kota, Pang Tan dan Sim Sia akan memberi bantuan dimana perlu. Sedangkan Ban-suko kalian masih sakit, ia takbisa ikut keluar.”

“Ja, Ban-suko memang perlu istirahat dulu,” demikian sahut Bok Heng, lalu membuka pintu dan keluar kamar.

Sudah tentu Djik Hong tahu apa jang dikatakan Ban Tjin-san itu sengadja hendak diperdengarkan kepada Go Him agar pemuda itu tidak menaruh tjuriga apa-apa.

Maka terdengarlah Ban Tjin-san sedang memanggil pula: “Go Him masuk!” ~ suaranja tetap tenang dan ramah, sama seperti memanggil Loh Kun dan lain-lain.

Djik Hong melihat pintu kamar terbuka lagi, kaki kanan Go Him melangkah masuk dulu, tampaknja agak ragu2 sedetik, tapi achirnja masuk djuga. Ia melangkah madju kedepan Ban Tjin-san dan menunggu perintah.

Dari tempat sembunjinja Djik Hong melihat djubah Go Him bagian bawah itu agak keder sedikit, suatu tanda dalam hati Go Him sangat ketakutan, maka tubuhnja agak gemetar.

Maka terdengar Ban Tjin-san sedang bertanja: “Kita kedatangan musuh, kau tahu tidak?”

“Tetju sudah mendengar uraian Suhu barusan diluar kamar, katanja adalah tabib kelilingan itu,” sahut Go Him. “Orang itu adalah Tetju jang mengundangnja kemari untuk mengobati Ban-suko, sungguh tidak njana bahwa dia adalah musuh kita, harap Suhu suka memberi maaf.”

“Orang itu menjamar, pantas djuga kalau kau tidak tahu,” udjar Tjin-san. “Nah, besok pagi kau pergi kesekitar barat kota untuk menjelidiki, djika ketemukan djedjaknja, harus kau mengawasi gerak-geriknja.”

“Ja, Suhu!” sahut Go Him.

Se-konjong2 Djik Hong melihat kedua kaki Ban Tjin-san bergerak, mendadak orangnja berdiri, tanpa merasa Djik Hong menjingkap sedikit seperai randjang untuk mengintai keluar. Tapi sekali mengintip, seketika ia kaget setengah mati, hampir2 sadja ia mendjerit.

Ternjata adegan didalam kamar itu membuatnja terbelalak kesima. Ia melihat kedua tangan Ban Tjin-san lagi mentjekik leher Go Him dengan keras dan Go Him baru sadja ulur tangan sendiri hendak melawan, namun sudah keburu tidak berdaja karena kena ditjekik. Ia melihat kedua mata Go Him itu mendelik, makin lama makin mentjotot keluar hingga mirip mata ikan emas. Telapak tangan Ban Tjin-san terluka kena tjakaran kuku Go Him, tapi ia mentjekik se-kuat2nja, betapapun ia tidak mau lepas tangan.

Lambat-laun kedua tangan Go Him mulai terbuka dengan lemas, ia tak mampu berkutik lagi.

Sampai achirnja Djik Hong melihat lidah Go Him djuga mendjulur keluar, makin lama makin pandjang, keadaannja sangat mengerikan, keruan hati Djik Hong ber-debar2 hebat.

Selang sebentar lagi, pelahan2 Ban Tjin-san mengendurkan tjekikannja, ia sandarkan Go Him diatas kursi. Rupanja ia sudah sediakan apa jang perlu, maka ia telah ambil dua tjarik kertas kapas jang sudah dibasahi dulu dengan air, lalu ditutup diatas mulut dan hidung Go Him. Dengan demikian pemuda itu takkan dapat bernapas, dan dengan sendirinja djuga takkan siuman untuk selamanja.

Diam2 Djik Hong memikir: “Kongkong pernah berkata bahwa keluarga mereka adalah kaum terkemuka dikota Hengtjiu sini, tidak boleh sembarangan membunuh orang. Dan ajahnja Go Him kabarnja adalah hartawan disekitar kota, tentu urusan ini takkan selesai sampai disini sadja, akibatnja tentu akan geger kelak.”

Dan pada saat itu djuga, tiba2 terdengar suara bentakan Ban Tjin-san: “Bagus sekali perbuatanmu, hajolah lekas kau mengaku terus terang, apakah perlu aku hadjar kau dahulu?”

Semula Djik Hong kaget sebab mengira djedjaknja telah diketahui orang tua itu, tapi mendadak terdengar, suaranja Go Him lagi mendjawab: “Suhu, engkau suruh aku meng…….mengaku apakah?”

Sungguh kedjut Djik Hong tak terkatakan, sudah djelas dilihatnja Go Him sudah menggeletak diatas kursi tanpa bernjawa lagi, masakah sekarang bisa bitjara pula? Apakah pemuda itu telah hidup kembali? Tapi toh djelas kelihatan bukan begitu halnja, Go Him masih tetap bersandar dikursi tanpa bergerak sedikitpun.

Waktu Djik Hong mengintip pula, ia melihat bibir Ban Tjin-san sendiri jang sedang bergerak, ia mendjadi heran. “Ha, djadi Kongkong jang lagi bitjara? Tapi sudah terang tadi itu adalah suaranja Go Him.”

Maka didengarnja pula Ban Tjin-san telah membentak lagi: “Mengaku apa? Hm, djangan kau berlaga pilon. Kau sekongkol dengan musuh dan bermaksud mengerdjakan sesuatu kedjahatan dikota Hengtjiu ini, apa kau masih berani mungkir?”

“Su…….Suhu, kedja……kedjahatan apakah?” demikian suaranja Go Him.

Dan sekali ini Djik Hong dapat melihat dengan djelas dan njata, memang betul Ban Tjin-san sedang bitjara sendiri dengan menirukan suaranja Go Him, pintar amat tjara menirukannja itu hingga serupa benar.

“Kiranja Kongkong masih mempunjai kepandaian simpanan dalam hal menirukan suara orang, mengapa selama ini aku tidak tahu. Apakah maksud tudjuannja dengan menirukan suara utjapan Go Him ini?” demikian tanda2 tanja jang timbul dalam hati Djik Hong. Dalam lubuk hatinja jang dalam sana lapat2 teringatlah sesuatu olehnja, tapi itu hanja sesuatu jang samar2 jang belum dapat dipeladjari dengan baik. Dalam hati ketjilnja timbul sematjam rasa kuatir jang susah dimengerti.

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san sedang berkata pula dengan suara keras: “Hm, kau sangka aku tidak tahu, ja? Kau telah sekongkol dengan tabib kelilingan jang kau bawa kemari itu, orang itu adalah seorang pendjahat besar, kau sekongkol dengan dia hendak menggerajangi ………”

“Menggerajangi apa, Suhu? Tetju benar2 tidak tahu?” demikian ia tirukan suaranja Go Him.

Habis itu kembali dengan suara sendiri Tjin-san membentak: “Kau hendak menggerajangi kantor Leng-tihu untuk mentjuri sesuatu dokumen rahasia, betul tidak? Ha, masih kau berani mungkir?”

“Su……… Suhu, darimanakah engkau mendapat tahu? Suhu, sudilah meng…… mengingat hubungan baik kita selama ini, am…….ampunilah perbuatanku ini, lain…… kali Tetju tidak berani lagi.”

“Hm, urusan sebesar ini, masakah begini gampang mengampuni kau?”

Setelah diperhatikan, Djik Hong merasa suara Go Him jang ditirukan Ban Tjin-san itu sebenarnja tidak terlalu mirip, tjuma ia sengadja menahan suaranja hingga kedengarannja agak samar2, bahkan setiap kalimat selalu ditambahi panggilan “Suhu” dan ber-ulang2 menjebut “Tetju”, maka bagi pendengaran orang diluar kantor dengan sendirinja menjangka memang betul adalah Go Him jang sedang bitjara. Apalagi dengan njata semua orang menjaksikan Go Him masuk kedalam kamar serta mendengar pertjakapan mereka, walaupun suara selandjutnja agak sedikit berlainan, namun selain Go Him masakah didalam kamar itu masih ada orang lain lagi?”

Begitulah pelahan2 Ban Tjin-san lantas mengangkat majatnja Go Him, ia berdjongkok untuk menjingkap seperai jang menutup kolong randjang itu.

Keruan Djik Hong ketakutan setengah mati bila kepergok oleh bapa mertuanja.

Sambil menahan napas ia menantikan apa jang akan terdjadi. Dibawah sinar pelita jang remang2 ia melihat sebuah kepala orang menjusup dulu kekolong randjang, itulah kepalanja Go Him dengan matanja jang mendelik bagai mata ikan mas. Karena majat Go Him itu terus didjedjalkan kekolong randjang oleh Tjin-san, terpaksa Djik Hong menggeser sedapat mungkin, namun badannja toh saling dempel djuga dengan majat itu.

Dalam pada itu sandiwara Ban Tjin-san masih main terus, terdengar ia berkata: “Nah, Go Him, apakah kau tidak lekas berlutut? Segera akan kuringkus kau untuk diserahkan kepada Leng-tihu, apakah beliau akan mengampuni kau atau tidak, itulah aku tidak berani mendjamin.”

“Suhu, apakah engkau benar2 tidak dapat mengampuni Tetju?” demikian suara Go Him tiruan.

Maka Tjin-san mendjawab: “Hm, mempunjai murid seperti kau, pamorku sudah kau bikin ludas, masakah masih ingin aku mengampuni kau?”

Lalu Djik Hong melihat orang tua itu mengeluarkan sebilah belati dari badjunja, pelahan2 Tjin-san menikam kedada sendiri. Tapi didalam badju dibagian dada itu entah sudah digandjal dengan gabus atau benda lain jang empuk maka begitu belati ia ditusukan, segera menantjap tegak disitu.

Dan baru sadja Djik Hong tahu apa jang bakal terdjadi, benar djuga segera terdengar suara bentakan Ban Tjin-san: “Masih kau tidak mau berlutut?”

Menjusul ia menirukan suara Go Him: “Suhu, engkaulah jang terlalu mendesak padaku, kau tidak dapat menjalahkan aku lagi!”

Dan mendadak Ban Tjin-san berteriak: “Aduuuuh!” berbareng ia tendang daun djendela hingga terpentang sambil berteriak pula: “Bangsat ketjil, kau……kau berani menjerang gurumu?”

Segera terdengarlah suara gedubrakan, pintu kamar telah didobrak Loh Kun dan lain2 dari luar dan be-ramai2 mereka lantas menjerbu kedalam kamar. Mereka melihat sang guru lagi memegangi dada, dari tjelah2 djarinja merembes keluar air darah (besar kemungkinan adalah tinta merah jang sudah dipegangnja lebih dulu).

“La……..lari kesana! Bangsat ketjil itu sudah lari sesudah menikam aku satu kali!” demikian seru Ban Tjin-san dengan suara ter-putus2 dan agak sempojongan. Le……lekas kedjar, ke…..kedjar!” ~ dan habis itu, segera iapun djatuhkan dirinja diatas randjang.

Ban Ka pura2 kuatir, ia ber-teriak2: “Tia-tia! Tia-tia! Parah tidak lukamu?”

Dalam pada itu Loh Kun, Sun Kin, Bok Heng, Pang Tam dan Sim Sia berlima sudah lantas melompat keluar djendela dan menguber sambil mem-bentak2. Seisi rumah sama terkedjut djuga hingga geger.

Djik Hong jang sembunji dikolong randjang itu merasa majat Go Him lambat-laun mulai dingin. Ia sangat takut, tapi sedikitpun tidak berani bergerak. Ia tahu Kongkong masih merebah diatas randjang dan sang suami djuga berdiri didepan randjang situ.

Maka terdengarlah Ban Tjin-san sedang bertanja dengan suara rendah: “Ada orang menaruh tjuriga tidak, Ka-dji?”

“Tidak,” sahut Ban Ka. “Sungguh mirip benar permainan ajah. Sama seperti waktu membunuh Djik Tiang Hoat, sedikitpun tidak kentara.”

“Sama seperti waktu membunuh Djik Tiang Hoat, sedikitpun tidak kentara”, kata2 ini seperti sebilah belati tadjam jang menikam ulu hati Djik Hong.

Memangnja lapat2 sudah timbul firasat tidak enak dalam hatinja, tjuma sadja ia masih tidak pertjaja akan kemungkinan itu. Ia pikir: “Selamanja Kongkong toh sangat ramah-tamah padaku, suami djuga sangat baik dan mentjintai aku, masakah mungkin mereka membunuh ajahku?”

Dengan sembunji dikolong randjang, Djik Hong dapat mengikuti Ban Tjin-san membunuh muridnja sendiri, jaitu Go Him, dengan setjara litjik. Ternjata bapa mertua itu pandai pula menirukan suara orang lain. Seketikan Djik Hong teringat kepada kedjadian ajahnja dahulu, apa barangkali ajahnja djuga telah mendjadi korban kelitjikan Ban Tjin-san itu?

Tapi sekarang ia telah mendengar dan melihat sendiri, dengan rapi mereka telah atur perangkap untuk membunuh Go Him. Pantas tempo dulu iapun mendengar suara ajahnja jang sedang bertengkar dengan Ban Tjin-san didalam kamar, kemudian melihat Ban Tjin-san terluka oleh tikaman ajahnja serta melihat daun djendela terbuka, ajahnja tentu sudah kabur melalui situ. Dan sekarang sudah djelas duduknja perkara, semuanja itu adalah sandiwara belaka jang sengadja diatur oleh Ban Tjin-san. Pada waktu itu ajahnja tentu sudah dibunuh olehnja, lalu Ban Tjin-san menirukan suara ajahnja, pantas waktu itu suara ajahnja kedengaran agak serak berbeda daripada biasanja. Dan rupanja memang sudah takdir ilahi bahwa kedjahatan Ban Tjin-san itu harus tamat riwajatnja, setjara kebetulan sekarang ia sembunji dikolong randjang hingga dengan mata kepala sendiri menjaksikan adegan jang mengerikan itu. Tjoba kalau tidak melihat sendiri, siapa orangnja jang mau pertjaja?

Begitulah maka terdengar Ban Ka lagi bitjara: “Dan perempuan hina itu, bagaimana harus ditindak? Apakah kubiarkan begitu sadja?”

“Sabar dulu, pelahan2 kita dapat bereskan dia,” udjar Tjin-san. “Harus kita lakukan dengan tak diketahui orang dan tak dilihat setan supaja tidak merusak nama baik keluarga Ban dan mentjemarkan pamor kita berdua.”

“Ja, memang tjara berpikir ajah sangat rapi,” sahut Ban Ka. Dan tiba2 ia mendjerit: “Aduuuh……..”

“Ada apa?” tanja Tjin-san tjepat.

“Luka ditangan anak ini kembali kesakitan lagi,” kata Ban Ka.

“O!” Tjin-san bersuara. Dan dalam hal ini memang dia sama sekali tak berdaja.

Bitjara tentang luka Ban Ka itu, Djik Hong lantas ingat obat penawar jang berada pada Go Him itu. Pelahan2 ia ulur tangannja untuk menggerajangi badjunja Go Him, ia merasa botol porselin ketjil itu masih berada didalam sakunja, segera ia mengambilnja dan dimasukan dalam badju sendiri. Dengan rasa pilu ia memikir: “Ban-long, o, Ban-long, hanja separoh pembitjaraan keparat Go Him ini jang kau dengar dan kau sudah lantas mendakwa aku berbuat serong dan sebab itu djuga kau tidak dengar bahwa obat penawar berada pada keparat ini. Sesudah dia dibunuh oleh ajahmu, sebenarnja dengan tanpa susah2 kau dapat mengambil obat penawar ini, tapi toh kalian tidak tahu.

Sementara itu karena tidak menemukan bajangan Go Him, tidak lama kemudian Loh Kun dan lain2 telah pulang djuga satu-persatu serta datang pada Ban Tjin-san untuk tanja keadaan sang guru itu.

Waktu itu Ban Tjin-san sudah membuka badju hingga dadanja telandjang, tampak kain pembalut membelebat dari leher memutar kedada, melingkar kepunggung, lalu membalut kembali kedada dan naik lagi keleher.

Sekali ini lukanja tidak begitu parah seperti dahulu. Habis, ilmu silat Go Him tidak mungkin lebih lihay daripada paman gurunja ~ Djik Tiang Hoat. Walaupun tikamannja itu tjukup hebat, tapi tidak membahajakan. Demikian permainan sandiwara Ban Tjin-san.

Dan sudah tentu para muridnja sangat lega melihat sang guru tidak berbahaja lukanja, mereka sama mentjatji-maki pada Go Him jang dikatakan manusia durhaka dan murtad, semuanja menjatakan besok akan pergi mentjari orang-tuanja untuk diadjak bikin perhitungan, mereka mengharap sang guru merawat diri baik2, lalu mengundurkan diri. Hanja tinggal Ban Ka jang masih duduk ditepi randjang untuk mendjaga ajahnja.

Jang gelisah adalah Djik Hong, ia ingin mentjari suatu kesempatan untuk lari keluar, ia meringkuk disebelah majat Go Him, rasanja muak dan sebal, maka sedapat mungkin ingin lekas pergi, tapi kuatir pula kalau diketahui oleh Ban Tjin-san berdua, sama sekali ia tiada akal untuk meloloskan diri.

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san lagi bitjara: “Kita harus bereskan dulu majatnja, djangan sampai rahasia kita diketahui orang.”

“Apakah akan dibereskan seperti tjaranja Djik Tiang-hoat?” tanja Ban Ka.

Tjin-san memikir sedjenak, lalu katanja: “Ja, lebih baik dengan tjara lama itu.”

Djik Hong meneteskan air mata pedih, katanja didalam hati. “Dengan tjara bagaimanakah mereka telah kerdjakan ajahku?”

“Apakah akan dipasang disini? Ajah tidur disini, apakah tidak merasa risi?” tanja Ban Ka.

Sementara boleh aku pindah kekamarmu,” sahut Tjin-san. “Jang kukuatirkan jalah mungkin masih akan timbul sesuatu jang sulit, masakah orang begitu baik hati menghantarkan kembali Kiam-boh ini kepada kita? Maka kita berdua harus bersatu-padu untuk melawan musuh. Kelak kalau kita sudah kaja-raja masak kuatir tidak punja gedung jang lebih mentereng daripada ini?”

Ketika mendengar majat Go Him akan “dipasang” disitu, seketika terkilas sesuatu dalam benak Djik Hong, segera iapun paham duduknja perkara: “Ja, dia …….dia telah pasang majat ajahku didalam tembok. Dengan litjin ia telah musnakan majat ajahku, pantas selama ini tiada kabar-berita tentang djedjak ajahku. Pantas pula Kongkong…… tidak, tidak, ia bukan Kongkong lagi, tapi djahanam Ban Tjin-san itu suka bangun ditengah malam untuk pasang tembok. Rupanja dia terlalu banjak berbuat kedjahatan, pikirannja terganggu, maka telah kena penjakit tidur, dalam tidurnja ia suka bangun untuk pasang tembok……”

Kemudian ia dengar Ban Ka sedang tanja: “Tia, sebenarnja apakah manfaat jang berada pada Kiam-boh itu? Engkau mengatakan kita akan mendapatkan harta karun hingga kaja-raja mendadak? Apa barangkali kitab ini bukan……bukan kitab ilmu silat segala, tapi adalah sesuatu rahasia mengenai suatu partai harta karun terpendam?”

“Ja, sudah tentu bukan kitab ilmu silat, tapi jang dikatakan didalam Kiam-boh itu adalah suatu tempat simpanan harta karun,” sahut Tjin-san. “Dahulu situa bangka Bwe Liam-sing hendak mewariskan kitab itu kepada orang luar, hehe, benar2 tua bangka, masakah murid sendiri djuga tak dipertjajai. Eh, Ka-dji, lekas, lekas kau ambil Kiam-boh itu.”

Setelah ragu2 sedjenak, kemudian Ban Ka mengeluarkan sedjilid buku dari badjunja. Kiranja sepeninggalnja Djik Hong dari kamar podjok taman itu, segera Ban Ka masuk kesitu dan mengeluarkan kitab itu dari lubang dinding.

Kitab itu habis direndam oleh Djik Hong, maka sampulnja belum lagi kering. Ban Tjin-san menerima kitab itu sambil melirik sekedjap pada puteranja itu, pikirnja: “Barusan mengapa kau ragu2? Kenapa tak mau keluarkan kitab itu setjara blak2an? Apa kau hendak membohongi aku untuk mengangkangi sendiri kitab ini?”

Tapi sekarang ia tiada tempo buat menjelami pikiran sang putera itu, segera ia mem-balik2 kitab itu satu halaman demi satu halaman.

Sesudah terendam sekian lamanja didalam air darah jang berbisa dibaskom itu, kedua halaman sampul berikut beberapa halaman muka dan belakang dari kitab itu sudah basah semua, tapi halaman2 bagian tengah masih tetap kering.

Maka dengan suara rendah Ban Tjin-san telah berkata: “Kitab ini apakah dapat kita pertahankan atau tidak sesungguhnja sulit dipastikan. Paling penting sekarang kita harus menjelidiki rahasia jang tertulis didalam kitab ini, dan bila kemudian kitab ini dirampas orang lagi, hal mana takkan mendjadi soal bagi kita. Nah, pergilah ambil sebatang potlot dan kertas, kita harus mentjatatnja dengan baik. Nah, kau djuga harus apalkan djurus pertama dari Soh-sim-kiam-hoat berasal dari sjair ‘Djun-kui’ (Musim semi tiba pula) tjiptaan To Hu (Tu Fu, penjair tersohor didjaman dinasti Tong) ……”

Sembari berkata ia terus gunakan djarinja untuk mengambil ludah, lalu digunakan membasahi halaman kitab jang tertulis sjair To Hu itu, tiba2 ia berseru pelahan kegirangan, katanja: “Ha, angka ’empat’! Empat…….empat…….bagus! Huruf keempat adalah ‘Kang’, nah, tjatatlah jang betul. Dan djurus kedua berasal dari sjair To Hu pula jang berdjudul ‘Tiong-kang-tjiau-leng’.” ~ Kembali ia membasahi djari dengan ludah dan lagi2 ia bersorak pelahan: “Ha, angka ’51’. Nah, satu, dua, tiga, empat, lima………” ~ begitulah ia menghitung terus satu huruf demi satu huruf hingga huruf ke-51, dan ternjata djatuh pada huruf ‘Leng’. “Ha, huruf ‘Leng’, djadi ‘Kang-leng’, bagus. ‘Kang-leng’, kiranja memang betul adalah di Hengtjiu sini.”

“Tiatia, hendaklah pelahan sedikit suaramu,” kata Ban Ka ketika melihat ajahnja mendjadi lupa daratan saking girangnja.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: