Pedang Hati Suci (Jilid ke-15)

Maka Ban Tjin-san telah tersenjum, katanja: “Ja, benar, memang tidak boleh lupa daratan saking senangnja. Nah, Ka-dji, djerih-pajah ajahmu ini achirnja tidaklah sia2, rahasia besar ini achirnja dapat kita ketemukan djuga!”

Dan se-konjong2 ia menutup kembali halaman kitab itu, katanja dengan suara tertahan: “Tapi, Ka-dji, sebab apakah musuh sengadja menghantarkan Kiam-boh ini kepada kita, sekarang aku sudah tahulah!”

“Sebab apakah?” Hal mana sampai sekarang aku masih tidak paham,” udjar Ban Ka.

“Ja, sebab setelah mendapatkan Kiam-hoat ini, tetap musuh tak dapat memetjahkan rahasia didalam kitab, dan dengan sendirinja tiada berguna, bukan?” kata Ban Tjin-san dengan ber-seri2. “Padahal Soh-sim-kiam-hoat kita setiap djurusnja memakai nama jang berasal dari sjair djaman Tong, dengan sendirinja orang dari golongan lain takkan tahu hal ini. Didunia ini sekarang hanja aku dan Gian Tat-peng jang ingat dengan baik nama2 djurus ilmu pedang kita. Hanja aku dan dia jang tahu nama setiap djurus itu berasal dari sjair jang mana. Seperti djurus pertama harus mentjarinja pada sjair ‘Djin-kui’ dan djurus kedua harus mentjari pada sjair ‘Tiong-kang-tjiau-leng’ dan begitu seterusnja.”

“Tia, kenapa kau tidak pernah mengadjarkan padaku?” demikian Ban Ka bertanja.

BanTjin-san tampak agak kikuk oleh teguran itu, segera ia mendjawab: “Habis aku mempunjai delapan anak murid, setiap hari kalian berada bersama, kalau melulu aku adjarkan padamu, tentu djuga akan diketahui oleh mereka, dan itu berarti bikin urusan runjam.”

“O, kiranja musuh mempunjai tipu muslihat tertentu, ia ingin kita menemukan rahasia didalam kitab ini dan membiarkan kita pergi mentjari harta karun itu, kemudian ia akan menjergap kita, dengan demikian ia akan keduk keuntungannja tanpa susah pajah,” demikian kata Ban Ka.

“Ja, memang betul terkaanmu,” kata Tjin-san. “Maka setiap tindakan kita harus waspada, djangan sampai usaha kita sia2 belaka, djangan2 harta karun belum diperoleh, tapi djiwa kita sudah melajang dulu ditangan musuh.”

Kemudian itu menggunakan ludah pula untuk membasahi sjair ketiga, katanja: “Djurus ketiga dari Soh-sim-kiam-hoat kita berasal dari sjair ‘Song-ko-si’ tjiptaan Dju Bek, angka kuntjinja adalah ’33’ seperti apa jang sudah kelihatan ini, nah, satu, dua, tiga, empat…….Ha, huruf tiga-puluh-tiga djatuh pada huruf ‘Seng’ (kota). Eh, djadi lengkapnja adalah ‘Kang-leng-seng’ (kota Kang-leng atau Hengtjiu). Aha, ini dia, memang benarlah, tidak salah lagi, apa jang mesti disangsikan pula? He, kenapa tanganku ini terasa sangat gatal?”

Begitulah tiba2 ia merasa punggung tangan kirinja sangat gatal, segera ia kukur2 dengan tangan kanan. Tapi punggung tangan kanan ikut terasa gatal pula, tjepat ia garuk2 lagi dengan tangan kiri dan begitulah setjara ber-ulang2, ia kukur2 sini dan garuk sana.

Sesudah kukur2 dan garuk2, sebenarnja Ban Tjin-san tidak ambil perhatian, kembali ia membatja isi Kiam-boh pula dan berkata: “Dan djurus keempat ini……….he, gatal benar?” ~ dan kembali ia kukur2 tangan kiri. Tapi sekali ini ia tjoba periksa tangan itu, ia melihat punggung tangan disitu terdapat beberapa djalur bekas tinta hitam, keruan ia heran, ia merasa tidak pernah menulis, kenapa tangannja terpertjik noda tinta?

Sementara itu ia merasa tangannja semakin gatal, waktu ia periksa tangan kanan, disitu djuga terdapat beberapa djalur bekas tinta bak jang silang melintang tak keruan.

“Ha, ajah, dari……..darimanakah noda hitam diatas tanganmu itu?” demikian teriak Ban Ka tiba2. “Tampaknja tanda itu seperti terkena ratjun ketungging Gian Tat-peng itu?”

Ban Tjin-san tersadar oleh utjapan puteranja itu, ia merasa tangannja semangkin gatal, tanpa merasa ia garuk2 lagi kesana dan kesini.

“Wah, djang………djangan digaruk, ratjun itu berasal dari kukumu itu,” seru Ban Ka.

“Ai, memang benar!’ segera Ban Tjin-san djuga berteriak. Iapun sadar seketika, katanja: “Ja, karena Kiam-boh ini direndam didalam air darah berbisa oleh siperempuan djalang itu, dengan sendirinja kitab inipun mengandung ratjun djahat itu. Ai, ku……. kurangadjar sikeparat Go Him itu, mati sadja tidak rela hingga tanganku kena ditjakarnja sampai terluka, dan sekarang ratjun ketungging telah masuk melalui luka ini, rasaku mendjadi risi, tapi agaknja tidak apa2……..Aduuuh, kenapa makin lama semakin sakit. Auuuuuh, aduuuuh!” ~ begitulah saking tak tahan achirnja ia me-rintih2 kesakitan.

“Tia, agaknja ratjun ketungging jang masuk ditanganmu itu, tidak banjak, biarlah kuambilkan air untuk ditjutji,” udjar Ban Ka.

“Ja, benar!” sahut Ban Tjin-san. Dan mendadak ia berseru: “Tho Ang! Tho Ang! Ambilkan air!”

Ban Ka mengkerut kening, ia pikir: “Ajah barangkali sudah pikun? Sudah lama Tho Ang telah diusir olehnja sendiri, kenapa sekarang me-manggil2?”

Segera iapun mengambil sebuah baskom, dengan tjepat ia menudju ketepi sumur, ia menimba air satu baskom penuh, lalu dibawa masuk kekamar dan ditaruh diatas medja. Terus sadja Ban Tjin-san masukan kedua tangannja untuk direndam didalam baskom, dan memang benar kerendam air dingin, rasa sakit dan gatalnja mendjadi djauh berkurang.

Diluar dugaan bahwa ratjun ketungging jang mengenai Ban Ka itu telah berubah sifatnja, sesudah dibubuhi obat penawar satu kali, darah hitam jang merembes keluar dari lukanja itu telah berubah sifatnja mendjadi sematjam ratjun lain djauh lebih djahat daripada ratjun semula, apalagi tangan Ban Tjin-san itu bekas luka kena tjakaran Go Him, luka tjakaran itu tergurat tjukup dalam hingga ratjun jang meresap kesitupun djauh lebih tjepat dan lebih berat.

Maka hanja sebentar sadja ia merendam tangannja, segera air didalam baskom itu berubah mendjadi hitam, bahkan lambat-laun air hitam itu berubah mendjadi ketat hingga mirip tinta bak.

Keruan Ban Tjin-san saling pandang dengan Ban Ka, mereka sangat terkedjut. Sedjenak kemudian, waktu Ban Tjin-san mengangkat tangannja, mendadak ia mendjerit kaget. Ternjata kedua tangannja itu telah abuh se-akan2 mendjadi dua bola, sekalipun luka tangan Ban Ka jang disengat ketungging tempo hari djuga tidak sedjahat sekarang ini.

“Ai, tjelaka! Mungkin tidak boleh direndam didalam air!” seru Ban Ka.

Saking kesakitan Ban Tjin-san mendjadi mata gelap, “bluk”, kontan ia tendang pinggang Ban Ka sambil memaki: “Binatang, djika tahu tidak boleh direndam dengan air, kenapa tadi kau mengambilkan air? Bukankah kau sengadja hendak bikin tjelaka padaku?”

Karena tendangan itu, saking kesakitan sampai Ban Ka mendjengking meringis sambil pegang pinggangnja. Katanja dengan suara ter-putus2: “Ak……..akupun tidak tahu, mana mungkin sengadja hendak bikin tjelaka pada ajah?”

Dengan djelas Djik Hong jang sembunji dikolong randjang itu dapat mengikuti pertjektjokan ajah dan anak itu, tapi perasaannja waktu itu tak keruan rasanja, entah merasa sedih atau girang, karena mengingat akan dapat menuntut balas.

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san lagi ber-djingkrak2 sambil ber-teriak2: “Wah bagaimana ini, bagaimana ini?”

“Dikamarku sana ada sedikit obat tahan sakit, meski takbisa memunahkan ratjun, tapi dapat menghilangkan rasa sakit sementara, apakah ajah mau memakainja?” kata Ban Ka.

“Ja, ja! Lekas, lekas ambil sana!” sahut Tjin-san.

“Tapi apakah mandjur atau tidak, anak tidak berani mendjamin, lho!” kata Ban Ka. “Djangan2 tidak mandjur, nanti ajah akan marah dan menendang aku lagi!”

“Maknja!” damperat Tjin-san dengan gemas. “Bapakmu sudah hampir sekarat dan kau masih merasa penasaran karena tendangan tadi? Kau diberi gegares hingga sebesar tjetjongormu itu, hanja tendangan sekali sadja apa salah? Bangsat, hajo lekas pergi ambil, lekas!”

Terpaksa Ban Ka mengiakan, lalu putar tubuh dan keluar.

Melihat diwaktu perginja sang putera masih mengundjuk sikap penasaran, diam2 Tjin-san merasa was-was. Ia lihat kedua tangan sendiri bukan main besarnja, mirip pelembungan jang ditiup hingga penuh, kulit sebagian tangan itu sampai menitis, kerut kisutnja sampai tak kelihatan lagi, kalau abuh lagi sedikit, bukan mustahil bisa segera petjah.

“Marilah kita pergi bersama!” serunja segera kepada sang putera. Dengan demikian ia pikir akan terhindar dari kemungkinan dipermainkan oleh puteranja sendiri. Maka lebih dulu ia masukan Soh-sim-kiam-boh kedalam badju, lalu menjusul kearah Ban Ka dengan langkah tjepat.

Mendengar kedua orang itu sudah pergi djauh, segera Djik Hong merangkak keluar dari kolong randjang, pikirnja: “Kemana aku harus pergi sekarang?” ~ sesaat itu ia mendjadi bingung, ia merasa dunia seluas itu baginja se-akan2 sebesar daun kelor dan tiada tempat berteduh baginja.

“Mereka telah membunuh ajahku, sakit hati ini masakah tak kubalas? Tapi dendam sedalam lautan ini tjara bagaimana harus membalasnja? Bitjara tentang ilmu silat, terang aku selisih sangat djauh dibandingkan Kongkong dan Ban-long, apalagi mereka pertjaja penuh bahwa aku telah bergendak dengan Go Him, bukan mustahil sekali bertemu dengan mereka pasti aku akan dibunuhnja, dan tjara bagaimana aku harus melawan mereka? Djalan satu2nja sekarang jalah……..jalah pergilah mentjari dulu Tik-suko, bila sudah ketemu, tentu akan dapat ditjari djalan jang sempurna untuk menuntut balas. Dan bagaimana dengan Khong-sim-djay? Ai, mana boleh kutinggalkan dara tjilik itu?”

Begitulah demi teringat kepada puterinja jang masih ketjil itu, ia mendjadi tidak tega tinggal minggat. Segera ia berlari keloteng dibelakang sana, ia bertekad akan membawa puterinja itu untuk melarikan diri dan kelak baru akan ditjari djalan membalas dendam. Dalam hati ketjilnja iapun tidak berani pertjaja seratus prosen bahwa ajah dan anak she Ban itu benar2 adalah orang jang membunuh ajahnja. Memang Ban Tjin-san dikenalnja sebagai seorang manusia kedji dan kotor. Tapi Ban Ka? Suaminja selama ini sangat mentjintainja, betapapun hubungan suami-isteri itu susah diachiri begitu sadja.

Ketika ia ber-lari2 sampai dibawah loteng, ia mendengar suara Ban Tjin-san jang serak sedang ber-teriak2 kalap. “Begitu berisik suaranja, tentu Khong-sim-djay akan terdjaga bangun dengan kaget,” demikian pikir Djik Hong.

Tjinta kasih ibu memang sutji murni. Demi ingat kemungkinan puterinja akan terdjaga bangun dan kaget, tanpa pikirkan bahaja atas diri sendiri, segera Djik Hong naik keatas loteng dengan pelahan2, dengan hati2 ia berusaha tidak mengeluarkan suara.

Kamar tidur Khong-sim-djay terpisah dibelakang kamar tidur suami-isteri mereka, jaitu dipisah dengan selapis papan. Sesudah Djik Hong menjelinap kedalam kamar itu, dari sinar pelita jang tembus dari kamar tidurnja sendiri, ia melihat puterinja itu sudah lama terdjaga bangun, dengan mata terbelalak dara tjilik itu kelihatan sangat ketakutan, dan begitu melihat ibundanja sudah datang, segera botjah itu mewek2 hendak menangis.

Tjepat Djik Hong memburu madju terus memeluknja kentjang2, ia memberi tanda agar botjah itu djangan bersuara.

Anak dara itu memang pintar dan menurut pula, benar djuga ia lantas diam sadja. Maka ibu dan anak berdua lantas berkelonan diatas randjang.

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san sedang ber-teriak2: “Wah, tjelaka! Obat tahan sakit ini makin membikin sakit malah, bagaimana baiknja ini? Hajolah lekas tjari tabib kampungan itu, harus memakai obat penawarnja itu baru dapat sembuh!”

“Ja, benar, harus memakai obatnja itu barulah ratjun itu bisa dipunahkan,” Ban Ka ikut berseru. “Nanti kalau sudah terang tanah, segera suruh Loh-toako dan lain2 keluar serentak untuk mentjari tabib kampungan itu.”

“Masakah mesti menunggu sampai terang tanah?” semprot Tjin-san dengan gusar. “Kenapa tidak……..Aduuuh………Aduuh………Aduuuuh! Aku tak tahan, aku tak tahan!” ~ dan mendadak ia terus terguling dilantai saking kesakitan sampai ia berkelodjotan kian kemari seperti orang sekarat. Dan mendadak ia berteriak pula. “Lekas, lekas ambil pedang! Potong……potonglah kedua tanganku ini, lekas potong kedua tanganku!”

Menjusul lantas terdengar suara gedubrakan dan gemerantang, suara djatuhnja medja kursi dan petjah hantjurnja perkakas rumah tangga sebangsa mangkok-tjangkir. Dengan ketakutan Khong-sim-djay peluk ibundanja dengan kentjang, mukanja putjat. Tapi pelahan2 Djik Hong telah meng-elus2 dara tjilik itu agar djangan takut, namun iapun tidak berani bersuara.

Rupanja Ban Ka djuga sangat gugup dan kuatir, terdengar ia sedang berkata: “Tia, harap kau bisa tahan sebentar sadja, masakah tanganmu boleh dipotong? Lebih baik kita harus mentjari obat penawarnja.”

Mungkin Ban Tjin-san sudah tidak tahan lagi oleh siksaan luka jang berbisa itu, mendadak ia mendjadi murka, bentaknja dengan mendelik: “Kenapa kau tidak mau memotong kedua tanganku untuk membebaskan aku dari siksaan kesakitan? Ha, tahulah aku, tentu kau……kau ingin aku lekas2 mati agar kau bisa ……bisa kangkangi sendiri Kiam-boh ini, kau ingin mendapatkan harta karun itu sendirian…….”

Ban Ka mendjadi gusar djuga karena dituduh setjara tidak se-mena2, sahutnja: “Tia, saking kesakitan hingga pikiranmu agak linglung, lebih baik engkau tidurlah sebentar. Padahal bila engkau tidak memimpin dalam urusan ini, apa sih gunanja aku mendapat Kiam-boh itu?”

“Hm, pikiranku linglung? Tapi pikiranmu sendiri sudah tidak bermaksud baik,” sahut Tjin-san sambil tiada hentinja berkelodjotan kian kemari dilantai. “Aduuuh, mati aku, sakitnja!…….Matilah aku……..Ja, toh aku akan mati, biarlah kita bubar pasar sadja, kita semua takkan mendapatkan apa2!”

Mendadak matanja merah membara, segera ia mengeluarkan Kiam-boh itu dari badjunja, lalu satu halaman demi satu halaman dirobeknja.

Keruan Ban Ka terkedjut dan merasa sajang, tjepat ia berseru: “Hai, djangan, djangan disobek!” ~ Dan segera ia mentjegahnja, terus sadja ia pegang sebelah kitab itu,

Tapi Ban Tjin-san masih pegang erat2 bagian lain dari kitab itu dengan mati2an, betapapun ia tidak mau lepas.

Kiam-boh itu habis direndam didalam air berdarah, sebegitu djauh masih belum kering, sekarang kena ditarik lagi oleh kedua orang, seketika kitab itu terobek mendjadi dua bagian. Ban Tjin-san pegang separoh djilid dan Ban Ka djuga memegang setengah buku.

Selagi Ban Ka tertegun oleh kedjadian itu, kembali Ban Tjin-san mulai me-robek2 lagi halaman kitab itu.

Sudah tentu Ban Ka merasa berat kehilangan kitab itu, ia tidak rela harta karun jang diimpikan oleh setiap orang itu akan lenjap begitu sadja, segera ia merangsang madju untuk merebut lagi bagian kitab ditangan ajahnja itu. Maka terdjadilah betot-membetot, achirnja saling gumul, dan kitab itu mendjadi makin kumal dan hantjur ber-keping2.

Se-konjong2 Ban Ka mendjerit: “Aduuuh, sakitnja!”

Kiranja setelah terdjadi tarik dan betot dan achirnja saling gumul itu, tanpa sengadja luka ditangan Ban Ka itu kena pula ratjun jang meresap didalam kitab itu. Dan ratjun jang berada didalam kitab itu sungguh bukan main djahatnja, hanja sekedjap sadja kedua tangan Ban Ka kembali abuh lagi seperti pelembungan, rasa sakitnja jang menusuk ulu hati dan merasuk tulang itu benar2 susah ditahan. Apalagi dasar ilmu silatnja selisih djauh kalau dibandingkan ajahnja, sehabis sakit tentu tenaganja djuga masih lemah. Sebab itulah, begitu ratjun itu masuk kedalam lukanja dan meresap mengikuti aliran darah, maka kumatnja mendjadi tjepat luar biasa.

Djadi sekarang kedua orang ~ ajah dan anak ~ itu sama2 berkelodjotan diatas lantai sambil men-djerit2 ngeri.

Sesudah mendengarkan agak lama, achirnja Djik Hong merasa tidak tega, betapapun hubungan suami-isteri selama itu telah mendorongnja bertindak, ia tidak dapat berpeluk tangan menonton sadja. Segera ia berbangkit dari tempat tidur dan menudju kepintu kamar. Melihat Ban Tjin-san berdua masih ber-gulung2 dilantai, segera ia menegur dengan dingin: “Ada apakah kalian? Kenapa bergulingan ditanah?”

Melihat Djik Hong, tiada tempo buat marah lagi bagi Ban Tjin-san berdua. Segera Ban Ka memohon: “Hong-moay, tolong, tolonglah lekas pergi mentjari tabib kampungan itu, mohonlah dia suka lekas meratjikan obat penawarnja, aduuuh……..sungguh sakit sekali, aku tidak tahan lagi, mo…….mohon bantuanmu…….”

Melihat keringat memenuhi djidat sang suami dengan menahan sakit, hati Djik Hong semakin lemah lagi, tanpa pikir ia lantas mengeluarkan botol porselin ketjil itu, katanja: “Obat penawarnja berada disini!”

“Wah, bagus, bagus!” serentak Ban Tjin-san dan Ban Ka berteriak girang bagaikan orang tarik lotere 150 djuta. Segera mereka me-ronta2 untuk merangkak bangun.

Melihat sorot mata Ba Tjin-san jang menampilkan sifat buasnja binatang, Djik Hong pikir kalau kesempatan ini tidak digunakan untuk memaksa pengakuannja, mungkin kelak akan susah mejelidiki duduknja perkara sebenarnja. Maka ia lantas membentak: “Tahan dulu, djangan bergerak! Asal kalian ada jang melangkah madju satu tindak sadja, segera obat penawar ini akan kulemparkan kedalam empang dibawah sana, biar kita mati semuanja!” ~ Sembari berkata ia terus membuka daun djendela dan membuka sumbat botol pula, ia angsurkan botol porselin itu keluar djendela, asal dia lepas tangan, segera botol itu akan djatuh kedalam empang dan obatnja akan bujar terkena air serta takbisa ditjari lagi.

Ban Tjin-san berdua mendjadi mati kutu, benar djuga mereka tidak berani sembarangan bergerak, mereka terpaku ditempatnja sambil saling pandang.

“Eh, menantuku jang baik, asal kau memberikan obat penawar itu, aku berdjandji akan meluluskan kau ikut pergi bersama Go Him, sedikitpun aku takkan merintangi kalian. Selain itu aku akan menghadiahkan pula seribu tahil sebagai modal untuk kalian…….aduuh, sakit……dan ……dan Ka-dji djuga takdapat menahan kau bila engkau toh sudah ingin pergi, maka……maka kau boleh tak perlu kuatir.”

Djik Hong pikir orang ini benar2 litjin dan rendah tak kenal malu, sudah terang Go Him telah ditjekik mati olehnja sendiri, tapi masih digunakannja untuk menipu orang.

Sementara itu terdengar Ban Ka djuga berkata padanja: “Ja, Hong-moay, meski aku merasa berat, tapi djiwaku lebih penting, aku berdjandji takkan membikin susah pada Go Him.”

“Hm, hati kalian barangkali sudah beku, ja? Masakah masih mempunjai pikiran djidjik seperti itu?” djengek Djik Hong. “Aku hanja ingin tanja sesuatu pada kalian, asal kalian mengaku dengan sedjudjurnja, segera aku akan memberikan obat penawar ini.”

“Baik, baik! Lekas kau tanja, pasti akan kudjawab. Aduuuuh, aduuuuuh!………” demikian sahut Ba Tjin-san sambil merintih.

Pada saat itulah tiba2 angin meniup kentjang masuk dari djendela hingga sobekan kertas jang berserakan dikantor itu bertebaran dan ada jang kabur keluar. Tiba2 sepasang kupu2 kertas itupun terbang keatas, itulah pola kupu2 guntingan Djik Hong tempo dulu jang diselipkannja ditengah kitab itu. Karena angin meniup terus, maka sepasang kupu2 kertas itupun se-akan2 terbang kian kemari dengan hidup didalam kamar, Djik Hong mendjadi pedih dan duka, terbajang olehnja suasana gembira ria waktu dia bermain dengan Tik Hun didalam gua dimasa dahulu.

Dalam pada itu Ban Ka djuga telah mendesak: “Ja, apa jang kau ingin tahu, lekaslah tanja. Asal tahu tentu akan kukatakan terus terang.”

Dan karena itu barulah Djik Hong tersadar dari lamunannja, katanja kemudian: “Tentang ajahku. Dimanakah beliau? Apa jang telah kalian perbuat atas diri beliau?”

“Ajahmu, hehe, darimana aku tahu, bukankah dahulu ia telah melarikan diri?” udjar Ban Tjin-san dengan tertawa jang di-buat2. “Tentang saudara-seperguruanku itu, aduuuh……….aku djuga sangat terkenang padanja, auuh, tjk-tjk-tjk……..Ai, toh kita sekarang djuga sudah besanan, kan sangat baik toh?”

Begitulah sambil mendjawab Ban Tjin-san sembari ber-teriak2 kesakitan.

Tapi Djik Hong tidak bisa tertipu lagi, dengan muka masam ia menjemprot: “Huh, masih berani kau berkata demikian? Ajahku sudah dibunuh oleh kau, betul tidak? Tjara kau membunuh beliau adalah sama seperti kau membunuh Go Him, betul tidak? Dan kau telah masukan djenazahnja kedalam tembok, betul tidak?”

Ber-ulang2 tiga kali pertanjaan: “Betul tidak?” telah membuat Ban Tjin-san dan Ban Ka mendjadi gelagapan dan terperandjat, sama sekali tak mereka duga bahwa Djik Hong dapat mengetahui terbunuhnja ajahnja, bahkan terbunuhnja Go Him djuga tahu.

Maka dengan suara tak lantjar Ban Ka bertanja: “Da……..darimana kau tahu?”

Dengan pertanjaan itu, sama sadja Ban Ka telah mengakui segala kedjadian itu memang betul adanja.

Dalam pedih dan gusarnja segera Djik Hong bermaksud melepaskan botol porselin jang dipegangnja itu kedalam empang. Melihat gelagat djelek, segera Ban Ka bermaksud menubruk madju untuk merebut kalau Ban Tjin-san tidak keburu membentak untuk mentjegahnja. Dalam keadaan begitu, Tjin-san tahu akan lebih runjam lagi bila memakai kekerasan.

Dan pada saat itu djuga tiba2 sidara tjilik Khong-sim-djay berlari keluar dari kamarnja sambil berseru: “Ibu, ibu!”

Segera dara tjilik itu bermaksud memburu kepangkuan ibundanja.

Sekilas Ban Ka mendapatkan akal, tjepat ia sambar Khong-sim-djay sebelum dara tjilik berlari lewat disisinja, ia angkat botjah itu dan segera mentjabut belati mengantjam diatas kepala puterinja sendiri itu sambil membentak: “Baiklah, kalau mau mati, biarlah kita tua-muda seisi rumah ini mati bersama sadja, sekarang biarlah kubunuh Khong-sim-djay dulu!”

Keruan Djik Hong kaget, puterinja itu merupakan mestika djiwanja, tjepat ia berseru: “Djangan! Lekas lepaskan dia, apa sangkut-pautnja dengan botjah jang tak berdosa itu?”

“Ja, toh kita semua tak bakal hidup lagi, maka lebih dulu biar kubunuh Khong-sim-djay sadja,” udjar Ban Ka. Dan sekali tangannja terangkat, segera belatinja hendak menikam kedada si-botjah.

“Djangan! Djangan!” saking kuatirnja Djik Hong terus memburu madju hendak menolong.

Meski Ban Tjin-san dalam keadaan tersiksa oleh karena serangan ratjun dalam tubuh, tapi ia sudah kenjang asam-garam, demi melihat Djik Hong kena dipantjing oleh Ban Ka dan berlari madju, tanpa ajal lagi ia lantas menjikut hingga tepat pinggang Djik Hong kena ditutuk olehnja, menjusul ia terus rampas botol obat penawar ditangan menantu itu dan buru2 ia bubuhkan obat penawar itu dipunggung tangan sendiri.

Tjepat Ban Ka ikut memburu madju untuk minta dibubuhi obat pemunah ratjun itu. Sebaliknja Djik Hong masih sempat mentjapai puterinja serta merangkulnja dengan erat2 tanpa menghiraukan orang lain.

Segera Ban Tjin-san ajun kakinja, Djik Hong didepaknja hingga terguling, menjusul ia lepaskan ikat pinggang sendiri untuk meringkus menantunja itu dengan menelikung kedua tangannja kebelakang, kemudian kedua kakinja diikat pula kentjang-kentjang.

Sambil men-djerit2 memanggil ibu, Khong-sim-djay memburu kearah Djik Hong. Tapi sekali Ban Tjin-san ajun tangannja, tepat dara tjilik itu kena digampar hingga kelengar. Tapi gamparan itu memakai telapak tangannja jang abuh hingga Ban Tjin-san meringis kesakitan sendiri sambil merintih tertahan.

Obat penawar ratjun ketungging itu memang “tjes-pleng”, sesudah dibubuhi obat itu, hanja sebentar sadja dari luka kedua orang itu lantas merembes keluar air berdarah, rasa sakit mulai hilang dan berubah mendjadi rasa gatal, tak lama kemudian rasa gatal itupun berkurang dan achirnja lenjap.

Sungguh lega dan senang sekali Ban Tjin-san dan Ban Ka karena djiwa mereka telah dapat dirampas kembali dari tangan radja achirat. Dan sekali djiwa mereka sudah selamat, segera timbul lagi djiwa tamak mereka. Segera mereka teringat kepada kitab pusaka jang merupakan kuntji bagi suatu partai harta karun itu.

Untuk sedjenak mereka tjelingukan kian kemari, mereka melihat didalam kamar masih banjak bertebaran sobekan2 kertas, banjak pula jang sedang kabur keluar djendela tertiup angin.

“Wah, tjelaka!” demikian se-konjong2 kedua orang berteriak bersama. Segera mereka memburu madju hendak mentjegah kaburnja sobekan2 kertas itu.

Namun kertas ketjil2 itu sudah tak keruan tempatnja, sebagian sudah djatuh kedalam empang diluar djendela sana, ada pula jang sedang me-lajang2 di udara dan hampir masuk ke air.

“Wah, tjialat! Lekas buru, lekas!” teriak Ban Tjin-san.

Dan tanpa dikomando untuk kedua kali lagi, segera mereka berdua memburu kebawah loteng setjepat terbang, saat itu mereka sudah lupa pada kelakuan mereka jang me-rengek2 setjara mendjidjikan waktu sekarat tadi.

Begitulah Ban Tjin-san dan Ban Ka telah berlari ke taman, dengan napsu mereka ingin menangkap kembali potongan2 kertas jang bertebaran itu. Tetapi be-ratus2 potong kertas jang ketjil-ketjil itu sudah terpentjar tak keruan, ada jang ketjemplung ke dalam empang, ada jang djatuh keluar pagar tembok, ada jang me-lajang2 keudara terbawa angin. Maka biarpun mereka berdua tubruk sini dan sambar sana sambil berdjingkrakan seperti orang gila, hasilnja djuga tidak seberapa, apalagi kertas jang sudah di-robek2 itu masakah dapat memulihkan kitab aseli Soh-sim-kiam-boh itu?

Begitulah meski sakit ditangan Ban Tjin-san sudah hilang, tapi sakit di dalam hatinja mendjadi tambah hebat. Dalam dongkolnja jang tak terlampiaskan itu, segera ia mendamperat puteranja: “Semuanja gara2 kau bangsat ketjil ini. Kalau kau tidak main tarik dan betot padaku, masakah Kiam-boh itu bisa hantjur seperti sekarang?”.

Ban Ka menghela napas dan tidak mengubar lagi kertas2 jang sudah hantjur itu. Sahutnja: “Tia, kalau tadi anak tidak mentjegah, mungkin Kiam-boh itu sudah lebih hantjur daripada sekarang”.

“Ah, kentut!” semprot Ban Tjin-san, walaupun dalam hati ia harus mengakui kebenaran utjapan puteranja itu, tapi dimulut ia tidak mau kalah, masih ‘kentat-kentut’ terus.

“Tia,” kata Ban Ka kemudian, “baiknja kita sudah tahu bahwa tempat jang dimaksudkan itu adalah Kang-leng-seng-lam (selatan kota Kang-leng), mungkin dari sisa Kiam-boh jang masih ada itu dapat kita temukan sedikit petundjuk lain, dan mungkin kita masih dapat menemukan harta terpendam itu.”

Semangat Ban Tjin-san terbangkit seketika demi mendengar peringatan puteranja itu, serunja tjepat: “He, benar, memang tempat itu adalah ‘Kang-leng-seng-lam’……..

Dan pada saat itu juga, tiba2 diluar pagar tembok sana ada suara orang mengulangi kalimat itu dengan pelahan: “Kang-leng-seng-lam!”.

Keruan kejut Ban Tjin-san berdua bukan kepalang demi mendengar suara itu. Seketika mereka memburu keluar sana. Mereka melihat dua sosok bajangan jang sedang menghilang dibalik tikungan djalan sana, tjepat Ban Tjin-san membentak: “Bok Heng, Sim Sia, berhenti!”.

Tapi djangankan berhenti, bahkan menolehpun tidak kedua orang itu lantas kabur dengan tjepat.

Dan selagi Ban Tjin-san bermaksud mengedjar, tiba2 Ban Ka berkata: “Tia, di atas loteng masih ada sisa Kiam-boh itu, pula masih ada…………. masih ada perempuan djalang itu”.

Setelah memikir, Ban Tjin-san merasa benar djuga usul puteranja itu, ia mengangguk tanda setudju dan segera mereka kembali keatas loteng.

Disana tertampak sidara tjilik Khong-sim-djay sudah mendusin dan sedang menangis dalam pangkuan ibundanja. Djik Hong sendiri tak bisa berkutik karena anggota badannja terikat, namun ia tjoba menghibur dan membudjuk puterinja jang ketjil itu.

Ketika melihat kakek dan ajahnja telah kembali, Khong-sim-djay mendjadi lebih takut hingga tangisannja makin keras.

Bukannja menimang, sebaliknja datang2 Ban Tjin-san terus depak sekali dipantat dara tjilik sambil memaki: “Kau anak sial ini, berani menangis lagi segera kutabas batang lehermu!”

Khong-sim-djay semakin ketakutan hingga mukanja putjat sebagai kertas saking ketakutan hingga dia tidak berani menangis lagi.

“Tia”, kata Ban Ka dengan suara perlahan, “perempuan djalang ini telah mengetahui engkau adalah……………. adalah pembunuh ajahnja, pula dia telah menjaksikan kematian Go Him, untuk semuanja itu terang dia takkan bisa dibiarkan hidup terus. Lantas tjara bagaimana kita harus membereskan dia?”.

Tjin-san memikir sejenak, kemudian katanja: “Kedua orang diluar tadi sudah terang adalah Bok Heng dan Sim Sia, bukan?”

“Betul, memang mereka itu, pasti tidak salah lagi,” sahut Ban Ka. “Mungkin rahasia Kiam-boh itu sudah botjor, mereka telah mengetahui Kang-leng-seng-lam adalah tempatnja.”

“Ja, urusan tidak boleh di-tunda2 lagi, kita harus lekas2 mendahului turun tangan,” ujar Tjin-san. “Baiklah, tentang perempuan djalang ini, boleh kita bereskan seperti ajahnja saja.”

Sedjak Djik Hong diringkus, ia sendiripun insaf pasti tiada harapan buat hidup lagi, terutama karena dia telah membongkar rahasia kekedjaman mereka berdua. Kini mendengar ajah mertua itu mengatakan hendak membereskan dia seperti ajahnja, maka iapun tidak pikirkan mati hidup sendiri, jang dia beratkan adalah puterinja jang masih ketjil itu.

Segera ia berkata: “Ban……………. Ban-long, djelek-djelek kita telah bersuami-isteri sekian lamanja, tidaklah mendjadi soal djiwaku melajang, tapi sesudah aku mati, hendaklah kau mendjaga baik2 pada Khong-sim-djay!”.

Ban Ka hanja mendengus saja tanpa mendjawab.

Sebaliknja Ban Tjin-san berkata: “Membabat rumput harus sampai akar-akarnja, mana boleh kita tinggalkan bibit bentjana dikemudian hari? Botjah ini sangat pintar lagi tjerdik, apa jang terdjadi hari ini telah dilihatnja semua, siapa berani mendjamin bahwa kelak takkan dibotjorkan olehnja kepada orang luar?”.

Ban Ka mengangguk pelahan-lahan. Sebenarnja ia sangat sajang kepada puteri satu-satunja itu, betapapun dara tjilik itu adalah darah dagingnja sendiri. Tapi apa jang dikatakan ajahnja itu djuga ada benarnja, kalau meninggalkan bibit bentjana ini, bukan mustahil kelak akan menimbulkan akibat jang susah dibajangkan.

Air mata Djik Hong bertjutjuran melihat kekedjaman kedua orang itu, katanja dengan suara ter-putus2: “Ka…..kalian kedji sekali, masakah anak……..anak ketjil begini djuga tak dapat kalian ampuni?”.

“Sumbat saja mulutnja daripada dia tjerewet tak habis2, djangan2 nanti dia berteriak hingga bikin geger tetangga malah.” Kata Ban Tjin-san.

Mengingat djiwa puterinja djuga akan amblas ditangan kakek dan ajahnja jang kedjam itu, mendadak Djik Hong menggembor benar2: “Tolong! Tolong!”.

Ditengah malam sunji kelam, suara teriakan ‘tolong’ jang memetjah angkasa itu kedengarannja mendjadi lebih seram.

Tjepat Ban Ka menubruk madju, dan tekap mulut Djik Hong. Tapi Djik Hong masih terus berteriak: “Tolong! Tolong!”. ~ Tjuma mulutnja ditekap tangan sang suami, maka suaranja mendjadi serak dan tertahan.

Segera Ban Tjin-san menjobek sepotong kain badju dan diberikan kepada sang putera. Terus saja Ban Ka sumbat mulut Djik Hong hingga tak bisa bersuara lagi.

“Pendam dia sekuburan dengan keparat Djik Tiang-hoat itu, sungguh bagus sekali mereka ajah dan anak bersatu liang kubur”, kata Tjin-san.

Ban Ka mengangguk, segera ia kempit Khong-sim-djay, lalu mereka menggotong Djik Hong ke kamar batja dibawah loteng.

Kamar batja itu teratur bersih, dindingnja djuga terkapur putih. Diam-diam Djik Hong membatin: “Apakah ajahku telah ditjepit oleh mereka ditengah dinding jang putih ini?”.

Dalam pada itu terdengar Ban Tjin-san sedang berkata pula: “Biarlah aku jang membongkar dinding ini, kau boleh pergi menjeret kemari majatnja Go Him itu! Hati2lah, djangan sampai diketahui oleh orang!”.

Ban Ka mengijakan dan segera berlari ke kamar tidurnja Ban Tjin-san.

Lalu Tjin-san membuka almari meja tulis, ia mengeluarkan alat2 pertukangan, ada pahat, ada palu, ada lingis dan matjam2 lainnja, komplit. Ia pandang dinding jang putih itu, kedua tangannja ber-gosok2, ia berpaling memandang sekedjap kepada Djik Hong dengan air muka jang sangat senang.

Melihat sorot mata orang jang buas sebagai binatang itu, tanpa merasa Djik Hong mengkirik sendiri.

Sementara itu Ban Tjin-san telah memegang palu dan pahat, ia periksa dulu duduk tembok jang benar, lalu ia memahat diantara sela2 bata. Sesudah sela2 bata longgar, segera ia gojang2kan dengan tangan dan dikorek keluar sepotong bata itu, tjaranja ternjata sudah sangat apal seperti bekas tukang batu sadja.

Sesudah sepotong bata itu dilolos keluar, tertampak Ban Tjin-san meng-endus2 bata itu. Mungkin ia ingin tahu apakah di dalam dinding itu masih berbau majatnja Djik Tiang-hoat atau tidak.

Melihat ketrampilan Ban Tjin-san dalam hal membongkar bata itu, Djik Hong lantas ingat waktu penjakit tidur orang itu angot tadi, waktu itu bapa mertua itupun bergaja mengorek tembok, memasukkan majat, memasang bata dan sebagainja. Memangnja Djik Hong sudah mengkirik, demi melihat Ban Tjin-san meng-endus2 pula bau majat ajahnja jang ditjepit di dalam dinding itu, maka Djik Hong mendjadi takut, gusar dan berduka pula.

“Kau bangsat keparat jang terkutuk ini!”, demikian ia memaki. Tapi karena mulutnja tersumbat, maka jang terdengar hanja suara ‘ah-uh’ jang tak djelas.

Dan selagi Ban Tjin-san hendak membongkar bata kedua, tiba-tiba terdengar suara orang berlari diluar, segera tertampak Ban Ka berlari masuk dengan langkah sempojongan dan badan gemetar, katanja dengan suara ter-putus2: “Tia, tje…………. tjelaka ! Go…….. Go Him…………….. Go Him……………..”.

“Go Him kenapa?”, tanja Ban Tjin-san sambil berpaling.

“Hi…..hilang! Go…… Go Him menghilang”, kata Ban Ka dengan ter-gagap2.

“Kentut! Masakah orang mati bisa menghilang?”, damperat Ban Tjin-san. Tapi dari suaranja jang rada gemetar itu, terang iapun kaget dan kuatir. Bahkan ‘plok’, bata jang terpegang ditangannja itu tanpa merasa djatuh kelantai.

“Aku………aku telah mengangsurkan tangan ke kolong ranjang ajah hen…..hendak menjeret majat itu”, demikian tutur Ban Ka dengan tak lantjar, “Tetapi….. tetapi tanganku tidak menjentuh apa-apa. Tjepat kunjalakan pelita dan tjoba menerangi kolong ranjang, namun…………..namun majat itu sudah menghilang tanpa bekas. Aku mentjari diseluruh pelosok didalam kamar ajah, tapi tiada……..tiada menemukan apa2”.

“Aa…………..aneh, sungguh aneh!” kata Tjin-san sambil merenung, “Apa barangkali Bok Heng dan Sim Sia jang main gila!”.

“Tia, djangan2…………….djangan2 jahanam Go Him itu belum…..belum putus napasnja, sesudah pingsan sebentar, lalu……..lalu hidup kembali!” ujar Ban Ka.

“Kentur! Mana bisa djadi!” seru Tjin San dengan gusar. “Ajahmu ini berdjuluk ‘Ngo-in-djiu’, dalam hal ilmu menggunakan tangan betapa lihaynja, masakah mentjekik seorang saja takbisa membuatnja mampus?.”

“Ja, seharusnja tidak bisa djadi”, sahut Ban Ka. “Akan tetapi, sehabis Go Him itu ditjekik mampus oleh ajah, entah mengapa………..entah mengapa majatnja sekarang bisa menghilang? Djangan2………..djangan2…….”

“Djangan2 apa?”, tanja Tjin-san.

“Djangan2 di dunia ini benar2 ada……………..ada majat hidup?”

“Hus! Ngatjo-belo belaka!”, bentak Tjin-san. “Sudahlah, lekas kita bereskan perempuan jalang dan anak setan ini dan nanti boleh kita mentjari majatnja Go Him lagi. Mungkin urusan ini sudah ketelanjur diketahui orang luar, kitapun susah menetap lagi dikota Heng-tjiu ini.”

Ban Ka mengiakan, segera ia berdjongkok dan membantu membongkar tembok kamar. Batu bata sepotong demi sepotong dikorek keluar hingga dalam sekedjap saja tertampaklah suatu lubang besar.

“Tia, ti……………tidak beres ini!” tiba2 Ban Ka berseru dengan suara gemetar.

“Apanja jang tidak beres?”, tanja Tjin-san

“Di……………..dimanakah majatnja Djik Tiang-hoat?”, sahut Ban Ka. “Umpama majatnja sudah…….sudah busuk dan lapuk, paling tidak…………….paling tidak pakaiannja dan…………..dan tulangnja toh mesti ada disini?”.

Benar juga, pikir Tjin-san. Segera ia angkat pelita minjak untuk menerangi liang dinding itu. Tapi mendadak terdengar suara njaring, hantjurnja pelita minjak djatuh ke lantai, seketika keadaan menjadi gelap gulita. Hanja sinar bulan jang remang-remang menjorot masuk ke kamar melalui djendela itu hingga menambah seramnja susasana di dalam kamar.

Kiranja Ban Tjin-san sendiripun kaget demi melihat di dalam liang dinding itu tidak diketemukan majatnja Djik Tiang Hoat. Dinding itu adalah dinding dua lapis, padahal majat itu dia sendiri jang masukkan dahulu, masakah sekarang bisa menghilang?.

Selang agak lama, barulah Ban Tjin-san pulih dari kagetnja, katanja dengan rada gemetar: “Sungguh aneh, mengapa bisa hilang? Sudah terang aku sendiri jang memasukkan majat itu kedalam dinding, masakah majatnja bisa terbang sendiri?”

“Tia, djangan2……djangan2 dinding lapisan jang sebelah sana ada djalan tembusan lagi?” ujar Ban Ka.

“Tidak, tidak ada!” kata Tjin-san. “Dinding ini adalah buntu semua, mana mungkin ada djalan tembusan? Tjoba…tjoba kau ulurkan tanganmu untuk meraba, apa benar disitu tiada sisa2 majat?”.

Ban Ka mengiakan walaupun didalam hati sebenarnja sangat ketakutan. Dengan sendirinja ia tidak berani meraba dengan tangannja, selang agak lama barulah ia berkata: “Ti…………….tidak ada apa2!”. ~ padahal tangannja tidak pernah dimasukkan kedalam liang dinding itu.

Ban Tjin-san juga dapat menduga puteranja tidak berani meraba liang dinding itu, katanja kemudian: “Tjoba njalakan pelita lagi, kita harus periksa pula hingga tahu duduknja perkara”.

Ban Ka mengiakan pula, lalu tangannja me-raba2 dilantai dan diketemukan pelita tadi, tapi pelita minjak itu sudah hantjur, djuga ketikan api hanja diketemukan batunja, sedang ketikannja entah djatuh dimana.

Begitulah kedua orang itu sibuk mentjari kian kemari dan tetap tidak menemukan apa2. Akhirnja Ban Tjin-san mendjadi aseran, katanja: “Sudahlah, tak perlu menggubris lagi tentang majat itu. Boleh kau turun tangan membunuh perempuan djalang itu dan pendam dia kedalam liang situ”.

Ban Ka mengiakan lagi. Segera ia mendekati Djik Hong dengan menghunus golok, katanja dengan suara gemetar: “Hong-moay, harap jangan kau sesalkan aku, tapi engkau sendirilah jang berdosa padaku!”.

Djik Hong tak bisa bersuara, tapi dalam hati ia sangat murka. Kalau dirinja sendiri hendak dibunuh adalah dapat dimengerti, tapi puterinja jang masih ketjil dan tak berdosa itu juga hendak dibunuh mereka, sungguh kedua manusia she Ban itu lebih mirip dengan binatang buas. Mendadak ia mendjadi nekat, sekuatnja ia menubruk maju hingga bahu Ban Ka kena disruduk.

Ban Ka tergentak mundur dua tindak. Ia mendjadi gusar, segera golok diangkatnja sambil memaki: “Perempuan djalang, adjalmu sudah tiba, masih kau berani main galak?”

Dan selagi goloknja hendak diajunkan, tiba2 didengarnja suara ‘krek-krek’, suara pintu dibuka.

Keruan Ban Ka terperandjat, tjepat ia menoleh. Dibawah sinar bulan jang remang2 dilihatnja pintu kamar batja itu sudah terpentang, tapi tiada tampak bajangan seorangpun.

“Siapa?”, segera Tjin-san juga membentak.

Tapi tiada suara sahutan seorangpun. Sebaliknja pintu berbunji ‘krek-krek’ pula.

Didalam keadaan jang remang2 itu, tertampak suatu bajangan orang menggeser pelahan2 kedepan kamar. Bajangan orang itu kaku tegak sambil me-lompat2, anehnja lututnja tidak tertekuk dikala melompat, jadi baik diwaktu menggeser maupun diwaktu melompat, bajangan itu tetap tegak.

Keruan kaget Ban Tjin-san dan Ban Ka tak terhingga, ber-ulang2 mereka mundur2 dengan ketakutan.

Dalam pada itu bajangan orang itu makin mendekat hingga kini mukanja tersorot oleh tjahaja bulan jang remang2.

“Haaaaaaa”, berbareng Tjin-san dan Ban Ka berteriak kaget.

Ternjata kedua mata orang itu mendelik, lidahnja menjulur panjang keluar, lubang hidungnja, mulutnja dan telinganja mengutjurkan darah. Siapa lagi dia kalau bukan Go Him jang telah mati ditjekik oleh Ban Tjin-san itu?

Melihat keadaan jang menjeramkan itu, Djik Hong juga merinding dan hampir2 mati kaku ketakutan.

Sesudah menggeser masuk ke dalam kamar, Go Him lantas berdiri tak bergerak lagi, kedua tangannja pelahan2 terangkat lurus kearah Ban Tjin-san.

Ban Tjin-san menjadi nekat, ia kerahkan antero keberaniannja dan membentak: “Setan Go Him, masakah Lotju takut kepada majat hidup seperti kau?” ~ berbareng ia terus lolos golok dan membatjok.

Tapi baru setengah jalan serangannja dilantjarkan, se-konjong2 pergelangan tangannja terasa kesemutan, tjekalannja menjadi kendur, golok djatuh kelantai dan menerbitkan suara gemerantang. Menjusul mana pinggangnja djuga terasa kaku pegal, lalu tubuhnja tak bisa berkutik lagi.

Sebagai seorang kawakan Kang-ouw jang sudah banjak berpengalaman, segera Ban Tjin-san sadar bahwa dibelakang majatnja Go Him itu ada seorang kosen lagi jang sangat hebat ilmunja. Ia tidak tahu siapakah gerangannja, tapi ia menduga besar kemungkinan adalah musuh jang meninggalkan tanda kupu2 kertas hitam itu.

Sebaliknja Ban Ka ternjata tidak paham duduknja perkara. Ketika dilihatnja lengan Go Him kemudian berganti arah dan menjulur kepadanja, ia mendjadi ketakutan setengah mati, sungguh ia ingin menjerit: “Go-sute, ampunilah aku!” ~ tetapi suara djeritan itu se-akan2 tersumbat ditengah tenggorokan hingga susah dikeluarkan.

Ber-ulang2 ia mundur lagi ke belakang, tapi mendadak kakinja terasa lemas, ia terbanting roboh terlentang. Ia melihat Go Him jang tegak kaku itu sudah berada didepannja, lengan kanan pelahan2 mendjulur kebawah dan mulai meraba pipinja, tangan itu terasa dingin sebagai es.

Keruan semangat Ban Ka se-akan2 terbang ke-awang2 saking takutnja, hampir2 sadja ia djatuh kelengar.

Se-konjong2 tubuh Go Him itupun ikut ambruk kedepan hingga menindih diatas badan Ban Ka untuk kemudian tidak bergerak lagi. Tapi dibelakang Go Him itu lantas bertambah seseorang.

Orang itu mendekati Djik Hong dan mengeluarkan kain sumbat mulutnja. Ketika ia pegang tali pengikat kaki dan tangan Djik Hong, sedikit ia remas, tali pengikat itu segera putus. Waktu ia putar tubuh lagi, tiba2 ia depak dua kali dipinggang Ban Ka hingga Hiat-to pemuda itu tertutuk.

Sesudah dapat bergerak, jang lebih dulu diperhatikan adalah puterinja, segera Djik Hong pondong Khong-sim-djay, lalu tanja dengan suara gemetar: “Siapakah…….siapakah In-kong (tuan penolong) jang telah menolong djiwa kami ini?”

Namun orang itu tidak mendjawab, dibawah sinar bulan jang remang2 tertampak kedua tangannja membawa sebuah pola kupu2 hitam, itulah kupu2 kertas jang terselip didalam kitab “Tong-si-soan-tjip” dan telah didjemput olehnja karena tadi telah ikut ‘terbang’ ketepi empang ketika kitab itu dibuat rebutan antara Ban Tjin-san dan Ban Ka.

Sekilas pandang tiba2 Djik Hong melihat kelima jari kanan orang itu puntul terpotong, hatinja tergetar, tanpa merasa ia berteriak: “Tik-suko!”

Ja, memang tidak salah, orang itu memang Tik Hun adanja!.

Ketika mendadak mendengar seruan: “Tik-suko” itu, seketika dada Tik Hun berombak dan air mata ber-linang2, segera ia balas menjapa: “Sumoay, sjukur kita dapat…………. dapat berdjumpa pula, kita harus berterima kasih kepada Thian jang maha murah!”.

Saat itu diri Djik Hong boleh diibaratkan sebuah sampan jang terombang-ambing ditengah samudera raja dan dibawah damparan gelombang ombak dan angin badai, tapi akhirnja dapatlah sampan itu meluncur masuk disebuah bandar dimana angin tenang dan ombak berdiam.

Terus saja Djik Hong menubruk kedalam pelukan Tik Hun sambil berseru: “O, Tik-suko, apakah…..apakah ini bukan dialam mimpi?”

“Bukan, bukan mimpi, tapi adalah kenjataan”, sahut Tik Hun. “Selama dua hari ini, senantiasa aku berada disini untuk mengintai dan mengawasi. Segala tindak-tanduk kedjahatan ajah-anak she Ban itu sudah kulihat semua. Tentang majatnja Go Him, ha, memang sengaja kugunakan untuk me-nakut2i mereka”.

“Ajah, ajah!” tiba2 Djik Hong berseru sambil ber-lari2 keliang dinding sana. Ia taruh Khong-sim-djay, lalu mengulur tangannja ke dalam liang itu untuk meraba, tapi tiada sesuatu jang didapatkannja.

Sedari tadi Tik Hun juga menguatirkan keselamatan gurunja itu, maka cepat iapun menjalakan api untuk menerangi liang dinding itu. Tapi tertampak didalam lapisan dinding rahasia itu keadaan kosong melompong tiada terdapat sesuatu, jang ada tjuma sedikit pasir dan potongan bata belaka, mana ada djenazahnja Djik Tiang-hoat?

Djik Hong masih tidak percaja, segera ia memeriksa lebih teliti lagi, tapi memang benar kosong liang di dalam lapisan dinding rahasia itu. Djangankan djenazah, sedangkan badju atau tulang belulang djuga tidak diketemukan andaikan djenazah sang ajah sudah membusuk.

Ia terkedjut, tapi bergirang pula, timbul sedikit harapannja: “Boleh djadi ajahku tidak terbunuh oleh mereka”. ~ Maka ia lantas tegur suaminja: “Ban-long, sebenarnja…… sebenarnja bagaimana dengan ajahku?”.

Ban Tjin-san dan Ban Ka tidak tahu bahwa Djik Hong tidak menemukan majat ajahnja, mereka mengira sesudah memeriksa lebih teliti di dalam liang dinding itu, akhirnja terdapat bekas djenazahnja Djik Tiang-hoat itu dan Djik Hong kini bermaksud membalas dendam pada mereka.

Maka dengan bersitegang, Ban Tjin-san mendjawab: “Seorang laki2 sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, Djik Tiang-hoat memang aku jang membunuhnja, djika mau menuntut balas boleh kau tudjukan kepadaku saja”.

“Djadi, ajahku telah kau bunuh? Dan di…….dimanakah djenazahnja?” Djik Hong menegas.

“Apa? Djenazah di dalam……di dalam liang dinding itu bukan ajahmu?”, kata Tjin-san.

“Masakah disini ada orang mati?” Djik Hong menegas.

Seketika Ban Tjin-san saling pandang dengan Ban Ka, muka mereka pucat, betapapun mereka tidak percaja, masakah di dunia ini ada majat hidup sungguh?

Segera Tik Hun menjeret Ban Tjin-san dan mendjedjalkan kepalanja kedalam liang dinding itu untuk melongok keadaan di dalam situ. Dan sudah tentu tiada sesuatu jang dapat dilihatnja.

“Masakah mungkin? Sudah……sudah terang…..”, baru sekian Tjin-san berkata, tiba2 ia berganti nada, katanja: “Ai, anak menantu jang baik, semuanja ini aku hanja…….. hanja membohongi kau saja. Biarpun kami kakak-beradik seperguruan tidak akur satu sama lain djuga tidak mungkin aku turun tangan sekedji ini untuk membunuhnja, masakah kau pertjaja saja? Haha, hahaha!”.

Biasanja Ban Tjin-san sebenarnja sangat pintar berdusta dan jarang orang tjuriga kepada apa jang dia katakan, tapi kini dalam keadaan gugup dan bingung, tjara bicaranja mendjadi agak kaku dan gelagapan, mau tidak mau menimbulkan tjuriga orang lain. Kalau dia bungkam sadja mungkin Djik Hong dan Tik Hun akan ragu2 dan mempunjai harapan kalau2 Djik Tiang-hoat memang betul masih hidup, tapi dengan utjapan Ban Tjin-san jang di-buat2 itu, Djik Hong dan Tik Hun mendjadi lebih jakin bahwa Djik Tiang-hoat sudah dibunuh oleh orang she Ban itu.

Begitulah segera Tik Hun pegang pundak Ban Tjin-san, katanja: “Ban-supek, tentang kau telah membikin aku hidup derita merana selama ini, bolehlah takkan kupersoalkan padamu lagi. Sekarang aku hanja ingin tanja suatu hal padamu: Sebenarnja kau telah membunuh Suhuku atau tidak?”

Sembari bicara terus saja Tik Hun kerahkan Lweekang dari ilmu sakti ‘Sin-tjiau-kang’ jang hebat, ber-angsur2 tenaga dalam itu menekan kedalam badan Ban Tjin-san hingga sesaat itu Ban Tjin-san merasa badannja seperti digodok di dalam anglo, bahkan darahnja djuga terasa se-akan2 mendidih, saking tak tahan, akhirnja ia mengaku: “Ja, be…. benar! Memang akulah jang membunuh Djik Tiang-hoat!”

“Dan dimanakah djenazah guruku?” tanja Tik Hun pula. “Sebenarnja telah kau buang kemana djenazah beliau?”

“Aku………… aku telah memasukkan majatnja kedalam liang sini, mungkin…….. mungkin benar2 ada majat hidup lagi”, sahut Tjin-san.

Dengan bentji Tik Hun pandang manusia durhaka itu, teringat olehnja derita sengsara dirinja selama beberapa tahun ini, semuanja gara2 perbuatan kedua orang ajah dan anak she Ban dihadapannja ini, dan kini Ban Tjin-san mengaku pula telah membunuh Djik Tiang-hoat, keruan rasa gusar Tik Hun seperti api disiram minjak. Sjukur pertemuannja kembali dengan Djik Hong ini telah membuat hatinja lebih suka daripada dukanja, kalau tidak, sekali gablok tentu ia sudah hancurkan kepala Ban Tjin-san itu.

Tiba2 Tik Hun menggertak gigi dengan gemas, terus saja ia angkat tubuh Ban Tjin-san dan dilemparkan ‘blang’, ia lempar orang she Ban itu kedalam liang dinding. Karena lubangnja agak sempit hingga beberapa potong bata ambrol tertumbuk oleh badan Ban Tjin-san, habis itu barulah ia terguling masuk ke dalam liang dinding buatannja sendiri itu.

Dan selagi Djik Hong menjerit kaget, Tik Hun sudah lantas seret Ban Ka pula dan didjedjalkan kedalam liang dinding, katanja: “Ini namanja ada ubi ada talas, ada benci kudu membalas! Mereka berdua telah membunuh suhu secara kedji, maka kitapun memperlakukan mereka dengan cara jang sama”.

Lalu ia gunakan bata jang terserak dilantai itu untuk merapatkan kembali dinding itu. Memangnja disitu sudah komplit tersedia peralatan tukang batu, maka hanja sebentar saja Tik Hun sudah selesai memasang tembok itu, bahkan ia kapur pula hingga putih bersih.

“Su….Suko”, kata Djik Hong dengan suara ter-putus2, “akhirnja engkau telah dapat membalas sakit hati ajah. Dan tentang djenazah ini, bagaimana harus diselesaikan?” ~ dan majat Go Him lantas dituding olehnja.

“Sudahlah, kita tinggal pergi saja, peduli apa dengan dia”, kata Tik Hun.

Tapi Djik Hong berkata lagi: “Dan mereka berdua jang tertutup didalam dinding itu belum lagi mati, kalau ada orang datang menolong mereka…….”.

“Orang lain darimana bisa tahu kalau di dalam dinding situ terdapat dua orang?” ujar Tik Hun. “Andaikata melihat dinding itu baru saja dipasang dan dikapur juga tentu orang akan menduga tembok ini habis diperbaiki, tidak nanti orang menjangka dibalik dinding ada rahasianja. Apalagi kalau kita pindahkan majat Go Him, orang lain lebih2 takkan mentjurigai kamar batja ini”.

Habis berkata, segera ia angkat majatnja Go Him dan keluar kamar batja itu, katanja kepada Djik Hong: “Marilah kita pergi sadja!”.

Segera mereka melompat keluar dari pagar tembok taman keluarga Ban itu, Tik Hun lemparkan majat Go Him ketanah, katanja: “Sumoay, kini sebaiknja kita harus pergi kemana?”.

“Menurut pendapatmu, apakah ajahku benar2 telah dibunuh oleh mereka?”, tanja Djik Hong.

“Ja, kuharap semoga Suhu masih hidup sehat walafiat,” ujar Tik Hun. “Tapi menurut utjapan Ban Tjin-san tadi agaknja kemungkinan itu sangat tipis”.

“Aku harus kembali kerumah untuk mengambil sesuatu, harap kau menunggu aku di dalam Su-theng bobrok disana itu”, kata Djik Hong.

“Biarlah aku mengawani kau”, ujar Tik Hun.

“Tidak, djangan!”, sahut Djik Hong. “Pabila kita dilihat orang tentu akan menimbulkan sangkaan djelek”.

“Tapi lebih baik aku mengawani kau saja, Ban Tjin-san masih mempunjai murid2 jang lain dan tiada seorangpun diantara mereka adalah manusia baik2,” kata Tik Hun.

“Tidak, tidak apa, aku tidak takut pada mereka,” kata Djik Hong. “Harap kau pondong Khong-sim-djay dan tunggu aku di sana”.

Karena mengalami kedjadian2 jang menakutkan tadi, sementara itu Khong-sim-djay sudah bobok njenjak didalam pangkuan sang ibu.

Biasanja Tik Hun memang suka menuruti segala permintaan Djik Hong, maka kini iapun enggan membantah, terpaksa ia pondong sidara tjilik Khong-sim-djay dari tangan Djik Hong. Kemudian sang Sumoay lantas melompat masuk lagi kerumah keluarga Ban itu, dan ia sendiri lantas menudju kerumah berhala jang ditundjuk itu, ia dorong pintunja jang sudah rejot itu dan masuk kedalam untuk menunggu datangnja Djik Hong.

Selang tjukup lama, masih tidak kelihatan kembalinja sang Sumoay, Tik Hun mulai gopoh dan bermaksud menjusul kerumah Ban Tjin-san. Tapi ia kuatir kalau nanti diomeli Djik Hong, maka ia menjadi bingung, ia pondong Khong-sim-djay dan berjalan mondar-mandir diserambi rumah berhala itu dengan rasa tak sabar.

Se-konjong2 didengarnja didalam ruangan rumah berhala itu ada suara kelotakan dua kali, suara orang mengerdjakan sesuatu.

Tjepat Tik Hun menjisir kepinggir dan berdiri disamping jendela dengan diam saja. Selang sebentar, terdengarlah pintu dalam sana dibuka, lalu muntjul seseorang.

Mata Tik Hun tjukup tadjam meski ditengah malam gelap, ia dapat melihat djelas bahwa orang itu adalah seorang pengemis wanita jang berambut kusut masai dan berbaju tjompang-tjamping.

Semula Tik Hun agak was-was dan kuatir kedatangan musuh, tapi demi melihat orang adalah pengemis perempuan jang umum, iapun tidak menaruh perhatian lagi. Pikirnja: “Rumah berhala bobrok ini adalah tempat meneduh pengemis wanita ini, kedatanganku ini berarti telah mengganggu padanja. Ai, mengapa Djik-sumoay masih belum datang kembali?”

Dalam pada itu, mendadak Khong-sim-djay mendjerit tangis dalam mimpinja sambil me-manggil2: “Ibu, ibu!”.

Ketika mendadak mendengar suara lengking orang, semula pengemis wanita itu terperandjat hingga mengkeret ketakutan dipodjok serambi sana sambil menangkup kepalanja sendiri.

Kuatir kalau Khong-sim-djay mendusin, pelahan2 Tik Hun menepuk bahu dara tjilik itu menimang: “Anak manis, djangan menangis! Segera ibu akan datang, djangan menangis, anak manis!”.

Sesudah mengetahui bahwa jang berteriak tadi adalah seorang dara tjilik, pula melihat Tik Hun tiada bermaksud djahat padanja, maka pengemis wanita itu mendjadi tabah, bahkan ia lantas membantu menimang Khong-sim-djay, katanja: “O, anak manis, anak pintar! Djanganlah menangis, segera ibu akan kembali!”.

Kemudian ia berkata pada Tik Hun dengan suara rendah: “Seorang dikala tidurnja memang sering melihat setan. Ada orang ditengah malam buta suka bangun untuk pasang tembok, o, djang…………djangan kau tanja…………djangan kau tanja padaku”. ~ demikian ia takut2 pula dan me-njisir2 hendak pergi.

Mendengar utjapan orang aneh itu, segera Tik Hun bertanja: “Apa jang kau katakan?”.

“Ah, tidak………tidak apa2”, kata pengemis wanita itu. “Loya telah mengusir aku, ia tidak sudi padaku lagi. Padahal, dahulu, diwaktu aku masih muda djelita, beliau sangat….sangat suka padaku. Kata orang: “Mendjadi suami-isteri semalam akan tjinta seratus malam, menjadi suami-isteri seratus malam, tjinta kasih semakin mendalam”. Maka……maka aku tidak putus asa, pada suatu hari tentu……..tentu Loya akan mentjari padaku lagi. Ja, memang, menjadi suami-isteri semalam akan timbul tjinta seratus malam, mendjadi suami-isteri seratus malam, tjinta kasih keduanja semakin mendalam………”.

Mendengar sipengemis wanita itu ber-ulang2 menjebut ‘menjadi suami-isteri semalam timbul tjinta kasih seratus malam, menjadi suami-isteri seratus malam, tjinta kasih keduanja akan makin mendalam’, seketika hati Tik Hun tergetar, pikirnja mendadak: “Ai, djika begitu djangan2 tjinta Hong-moay kepada suaminja djuga takkan terputus begini saja?”.

Karena perasaan itu, segera ia pondong Khong-sim-djay dan berlari keluar dari rumah berhala itu.

Sudah tentu sedikitpun tak terduga oleh Tik Hun bahwa pengemis wanita jang dekil itu tak lain tak bukan adalah Tho Ang atau si Mirah jang dahulu pernah mempitenahnja hingga membuatnja hidup merana itu.

Begitulah Tik Hun berlari kembali kerumah Ban Tjin-san, segera ia melompat pagar tembok dan memburu kekamar batja Ban Tjin-san.

Keruan kejut Tik Hun tak terkatakan, tjepat ia menjalakan pelita diatas meja, dibawah sinar pelita itu dapat dilihatnja dengan jelas antero badan Djik Hong sudah mandi darah. Pada perutnja masih menantjap sebilah belati.

Waktu Tik Hun periksa sekitar kamar itu, dilihatnja lantai berserakan potongan2 bata dan kapur pasir, dinding jang baru dipasang itu telah terbongkar pula hingga berlubang dan Ban Tjin-san serta Ban Ka sudah tak kelihatan batang hidungnja, entah sudah menghilang kemana.

Sambil berjongkok Tik Hun berlutut disamping Djik Hong, seruanja: “Hong-moay! Hong-moay!”. ~ tapi saking kagetnja hingga ia gemetar dan suaranja menjadi serak.

Ia tjoba meraba mukanja Djik Hong, ia merasa masih hangat, hidungnja djuga masih bernapas pelahan sekali. Tik Hun tenangkan diri sedapat mungkin, lalu berseru pula: “Hong-moay!”.

Pe-lahan2 tampak Djik Hong membuka mata, wadjahnja sekilas menampilkan senjum getir, katanja lemah: “Su…..Suko, ma……maafkanlah aku!”.

“Sudahlah, kau djangan bitjara, aku……aku akan menolong kau”, kata Tik Hun.

Segera ia letakkan Khong-sim-djay, dengan tangan kanan ia rangkul dan bangunkan tubuh Djik Hong, tangan kiri lantas memegang belati jang menantjap diperut Djik Hong itu, ia bermaksud mentjabut belati itu.

Tapi ketika ditegaskan pula, ia melihat belati itu menantjap hampir seluruhnja didalam tubuh Djik Hong, kalau belati ditjabut, bukan mustahil njawa Djik Hong seketika djuga akan melajang. Maka ia mendjadi ragu2 dan tidak berani mentjabut belati itu, dalam gugupnja ia menjadi bingung. Ber-ulang2 ia hanja bertanja: “Bagaimana baiknja ini? Siapa….. siapakah jang mentjelakai kau?”

“Suko”, kata Djik Hong dengan senjum pahit, “kata orang: menjadi suami-isteri semalam…… Ai, sudahlah, tak perlu dikatakan pula, harap…..harap kau maafkan aku, karena aku tidak……tidak tega, maka aku telah melepaskan suamiku, tapi dia…..dia……”

“Dia…..dia malah menusuk kau dengan belati ini, betul tidak?” Tik Hun menegas dengan mengertak gigi.

Djik Hong tersenyum getir dan memanggut.

Tik Hun pedih bagai di-sajat2 menjaksikan djiwa Djik Hong hanja tinggal dalam waktu singkat sadja, tublesan belati Ban Ka itu sedemikian dalam dan lihay, terang jiwa sang Sumoay susah ditolong lagi. Dalam hati ketjilnja Tik Hun merasa di-gigit2 oleh sematjam rasa iri hati jang tak terhingga, diam2 ia menggerutu: “Ja, betapapun toh kau tetap tjinta kepada………….kepada suamimu, dan……….dan kau lebih suka korbankan dirimu sendiri untuk menjelamatkan dia”.

“Suko”, demikian terdengar Djik Hong berkata pula, “berjanjilah padaku bahwa engkau akan menjaga baik2 pada Khong-sim-djay dan akan menganggapnja sebagai….. sebagai anakmu sendiri”.

Tik Hun tidak mendjawab, dengan wajah pedih ia hanja mengangguk. Kemudian dengan mengertak gigi ia bertanja: “Dan bangsat itu telah…………telah lari kemana?”

Namun sinar mata Djik Hong sudah membujar, suaranja menjadi katjau mengigau, terdengar ia berkata dengan lemah: “Di dalam gua itu ada dua ekor kupu2 hitam, itu…… San-pek dan Eng-tay! Suko, lihatlah….lihatlah! Jang seekor itu adalah kau, dan jang seekor adalah diriku. Kita……kita akan terbang kian kemari dengan bebas dan selamanja tak terpisah. Kau setudju bukan?

Makin lama makin lemah suara Djik Hong dan makin lemas pula napasnja hingga akhirnja mengembuskan napasnja jang penghabisan.

Dengan air mata bertjutjuran Tik Hun mendekap diatas tubuh sang Sumoay, untuk sekian lamanja ia ter-menung2 disamping djenazah Djik Hong.

Akhirnja ia mengertak gigi, ia pondong Khong-sim-djay dan sebelah tangan lain mengempit djenazah Djik Hong, ia melompat keluar dari pagar tembok keluarga Ban itu. Sebenarnja ia bermaksud membakar habis rumah Ban Tjin-san jang megah dan besar itu, tapi lantas terpikir olehnja: “Djika aku membakar habis rumah ini, tentu Ban-si-hutju (ajah dan anak she Ban) takkan pulang lagi kesini dan untuk mentjarinja menjadi lebih susah. Kalau hendak membalas sakit hati Sumoay, rumah ini lebih baik dibiarkan begini sadja”.

Begitulah ia lantas berlari ketaman bobrok jang luas, dimana Ting Tian telah meninggal itu. Ia menggali sebuah liang dan mengubur Djik Hong disitu. Ia simpan baik2 belati jang menghabiskan djiwa Djik Hong itu, ia bertekad akan mentjabut njawa Ban-si-hutju dengan belati itu pula.

Saking berduka hingga air mata Tik Hun serasa sudah kering, sungguh ia menjesal sekali, ia memaki dirinja sendiri mengapa tadi tidak lantas membunuh sadja Ban-si-hutju jang terkutuk itu, habis itu barulah dilemparkan kedalam liang dinding? Ja, mengapa begitu gegabah hingga kini terdjadilah peristiwa jang menjesalkan selama hidup baginja?

Dalam pada itu Khong-sim-djay telah ber-teriak2 menangis mentjari ibunda, suara tangis dan djerit dara tjilik itu membuat pikiran Tik Hun semakin gundah. Ia bermaksud mengintai disekitar rumah Ban Tjin-san itu untuk menunggu kembalinja mereka, tapi dengan suara tangis Khong-sim-djay, terang mereka akan kabur lebih djauh pula.

Maka ia pikir harus mengatur dulu diri dara tjilik itu. Ia mendapatkan suatu keluarga petani diluar kota Heng-tjiu, ia memberikan 20 tahil perak kepada wanita tani itu dan minta dia merawat Khong-sim-djay.

********

Sang tempo lewat dengan tjepat, sudah sebulan lamanja siang-malam Tik Hun mengintai disekitar rumah Ban Tjin-san itu. Tapi selama itu tidak nampak batang hidung Ban-si-hutju. Jang lebih aneh lagi, bahkan bajangan anak murid Ban Tjin-san jang lain seperti Loh Kun, Pang Tan, Tjiu Kin dan lain2 djuga tidak kelihatan sama sekali.

Sebaliknja selama itu didalam kota Heng-tjiu (atau dengan nama lain kota Kang-leng) telah berkumpul tidak sedikit orang2 Bu-lim dari berbagai golongan dan aliran dengan aneka ragamnja pula, tua-muda, laki-perempuan, sedikitnja ada be-ratus2 djumlahnja.

Pada suatu petang, disuatu rumah makan Tik Hun mendengar pertjakapan dua orang Kangouw jang menarik hati.

Kata jang seorang: “Kiranja Soh-sim-kiam-boh itu terdapat didalam kitab: ‘Tong-si-soan-tjip’, dan empat huruf kuntji utama dari rahasia Kiam-boh itu berbunji ‘Kang-leng-seng-lam’, apakah kau sudah tahu?”

“Ja, sudah tentu tahu,” sahut kawannja. “Selama beberap hari ini entah betapa banjak tokoh Bu-lim telah berdatangan di kota Kang-leng ini. Tapi selama ini masih tiada seorangpun jang tahu bagaimana lanjutan tulisan2 dibelakang keempat huruf itu”.

“Ha, kalau menurut aku, peduli apa huruf dibelakang istana itu? Asalkan kita mentjari saja di Kang-leng-seng-lam (selatan kota Kang-leng), kita tunggu di sana, bila melihat ada orang berhasil menemukan sesuatu harta karun apa, segera kita turun tangan merampasnja. Ini namanja maling ketemu perampok! Mereka malingnja, kita rampoknja. Hahahaha!”.

“Benar”, sahut jang lain, “Andaikan kita tak mampu merampas dari mereka, paling tidak kita djuga dapat minta bagiannja. Ini sudah merupakan undang2 golongan kita jang tak tertulis”.

“Hehe, kalau dibitjarakan sungguh gila!” kata jang duluan tadi. “Apa kau tahu bahwa semua toko buku didalam kota selama beberapa hari ini telah ketomplok rejeki? Semua orang ingin mentjari ‘Tong-si-soan-tjip’. Malahan pagi tadi, baru saja aku melangkah masuk ke toko buku, pegawai disitu sudah lantas menegur: Apakah tuan akan membeli ‘Tong-si-soan-tjip’? Kita itu baru saja kami datangkan lagi dari Han-kau, barangnja masih hangat2, kalau ingin beli hendaklah lekas, kalau tidak tentu sebentar akan kehabisan. Tentu saja aku heran, kutanja darimana dia tahu aku hendak mentjari Tong-si-soan-tjip. Dan tahukah kau apa katanja?”

“Entah, apa jang dia katakan?, sahut kawannja.

“Kurang ajar! Pegawai itu bilang: Harap tuan maklum, karena selama beberapa hari ini toko kami telah banjak kedatangan tuan2 jang gagah perkasa dengan bersendjata, sebelas dari sepuluh orang jang datang tentu jang ditjari adalah Tong-si-soan-tjip. Oleh karena itu, kita itu benar2 seperti pisang goreng larisnja, djika tuan djuga ingin membeli silahkan lekas sadja, harganja lima tahil perak setiap buku”.

“Keparat, masakah ada kitab semahal itu?” maki kawannja tadi.

“Apakah kau tahu harga buku? Apakah kau pernah beli buku? Darimana kau tahu harga itu terlalu mahal?”

“Hahaha! Darimana aku tahu! Huruf segede telur djuga aku tidak kenal satu bakul banjaknja, selama hidup inipun tidak pernah masuk toko buku, buat apa aku membeli buku? Selama hidup Ingsun hanja suka berdjudi, kalau beli kartu sih berani, beli buku mah terima kasih. Hehehehe!”.

Begitulah diam2 Tik Hun membatin: “Rupanja rahasia tentang Soh-sim-kiam-boh sudah tersebar hingga semua orang sudah tahu. Siapakah gerangan jang menjiarkan rahasia itu? Ah, tahulah aku, tentu Ban-si-hutju membitjarakan rahasia itu dan telah didengar oleh Loh Kun dan lain-lain, ketika Ban Tjin-san menguber mereka, anak muridnja lantas kabur dan dengan begitu berita tentang harta karun dalam Soh-sim-kiam-boh lantas tersiar”.

Teringat kepada Soh-sim-kiam-boh, segera iapun teringat pada waktu ia meringkuk didalam penjara bersama Ting Tian dahulu, dimana juga banjak orang2 Kang-ouw meretjoki Ting Tian dengan tujuan hendak memperoleh rahasia Soh-sim-kiam-boh, tapi satu persatu orang2 Kang-ouw itu telah dibinasakan oleh Ting Tian.

“Ai, kenapa aku menjadi lupa? Ting-toako telah pesan agar aku menguburkan abu tulangnja bersama djenazah Leng-siotjia, maka tugas itu harus kulaksanakan dahulu”, demikian ia lantas teringat kepada pesan tinggalan saudara angkat jang ditjintainja itu.

Segera ia mulai menjelidiki dimana letak kuburannja Leng-siotjia.

Sebagai puteri Tihu (bupati) dari kota Kang-leng, dengan sendirinja kuburan Leng-siotjia itu mudah ditjari. Tik Hun hanja mentjari tahu kepada toko2 penjual peti mati jang besar dan tukang batu pembuat batu nisan jang terkenal didalam kota, maka dengan gampang ia sudah mendapat tahu letak tempat kuburan Leng-siotjia itu. Tempat itu adalah diatas sebuah bukit ketjil diluar pintu timur kota, djaraknja kira2 dua belas li.

Setelah membeli dua buah tjangkul, segera Tik Hun keluar timur kota dan tidak terlalu susah kuburan Leng-siotjia itu telah dapat diketemukan.

Ia lihat di atas batu nisan itu tertulis: “Kuburan puteri tertjinta: Leng Siang-hoa”. Sekitar kuburan itu tandus merata tiada sesuatu tanaman apa2, baik pohon maupun bunga2an. Padahal dimasa hidupnja Leng-siotjia paling suka pada bunga, namun sesudah meninggal, satupun ajahnja tidak menanam bunga disekitar kuburannja itu.

“Hehe, puteri tertjinta? Apa betul2 kau tjinta pada puterimu ini?” demikian Tik Hun mengejek Leng-tihu jang kedjam itu. Dan bila teringat kepada Ting Tian dan Djik Hong, tak tertahan lagi air matanja bertjutjuran bak hujan.

Memangnja bajunja sudah pernah lepek oleh air mata tangisannja kepada Djik Hong tempo hari, sekarang didepan kuburan Leng-siotjia telah bertambah dibasahi air mata jang baru.

Disekitar bukit itu tiada rumah penduduk, djauh terpentjil pula dari djalan raja dan tiada orang berlalu disitu. Tapi tidaklah pantas menggali kuburan disiang hari. Maka terpaksa ia menunggu sesudah magrib barulah ia menggali. Setelah membongkar batu penutup liang kubur itu, maka tertampaklah peti matinja.

Sesudah mengalami derita sengsara selama beberapa tahun ini, sebenarnja Tik Hun bukan lagi seorang jang mudah berduka dan gampang mengalirkan air mata. Tetapi dibawah sinar bulan jang remang2 itu demi melihat peti mati itu, ia lantas teringat kepada kematian Ting-toako jang djusteru akibat peti mati itu, jaitu kena ratjun jang dipoles diatasnja, mau tak mau Tik Hun berduka pula dan tak bisa mentjutjurkan air mata lagi.

Ia tahu Leng Dwe-su telah melumasi peti mati itu dengan ratjun ‘Hud-tjo-kim-lian’ jang maha djahat, meski sudah lewat sekian tahun lamanja, apalagi peti mati itu telah digotong dan dipendam disitu, besar kemungkinan ratjun diatasnja sudah dihapus lebih dulu. Namun begitu ia tetap was-was, ia tidak mau terima resiko untuk menjentuh tutup peti mati itu. Maka segera ia lolos Hiat-to (golok merah) milik Hiat-to Lotjo dahulu. Pe-lahan2 ia masukkan golok mestika itu kegaris tutup peti mati dan disajat keliling.

Golok mestika itu dapat memotong besi sebagai merajang sajur, maka dengan gampang sekali semua paku dan pantek peti mati itu telah disajat putus. Ketika ia tjungkel dengan golok itu, segera tutup peti mati bergeser dan mentjelat djatuh keluar liang kubur.

Se-konjong2 dilihatnja dibawah tutup peti mati itu dua buah tangan jang sudah berwudjut tulang kering itu menegak ke atas, ketika tutup peti mati mentjelat, kedua rangka tulang tangan itu lantas djatuh berantakan kedalam se-akan2 bisa bergerak sendiri.

Keruan Tik Hun terkedjut biarpun njalinja tjukup tabah. Pikirnja: “Diwaktu djenazah Leng-siotjia dimasukkan peti mati, mengapa kedua tangannja bisa terangkat keatas? Aneh, sungguh aneh?”

Ketika ia periksa isi peti mati itu, ia tidak melihat sebangsa bantal guling, mori belatjo jang pada umumnja dipakai orang mati. Jang ada tjuma pakaian tipis biasa dan serangka tulang-belulang.

Diam2 Tik Hun mendoa: “Ting-toako, Leng-siotjia, diwaktu hidupnja kalian tak dapat menjadi suami isteri, sesudah meninggal tjita2 kalian agar terkubur bersama kini telah tertjapai. Djika arwah kalian mengetahui hal ini di alam baka, dapatlah kiranja kalian merasa puas hendaknja”.

Lalu Tik Hun menanggalkan buntalan jang dibawanja, ia tebarkan abu jenazah Ting Tian diatas kerangka tulangnja Leng-siotjia. Ia berlutut dan menjura empat kali dengan penuh hormat, lalu ia berdiri dan hendak mengangkat tutup peti mati untuk ditutup kembali seperti semula.

Dibawah sinar bulan jang remang2 itu, tiba2 dilihatnja di bagian dalam tutup peti mati itu samar2 seperti penuh tulisan. Waktu Tik Hun mendekati dan memperhatikannja, ia lihat tulisan2 itu mentjang-mentjeng tak teratur, diantaranja tertulis: “Ting-long, biarlah kita mendjadi suami isteri pada pendjelmaan jang datang!”.

Tik Hun terkesiap dan terduduk lemas ketanah. Beberapa huruf itu terang diukir dengan kuku djari. Sesudah dipikirnja sedjenak, segera iapun paham duduknja perkara. Kiranja Leng-siotjia itu sebenarnja belum meninggal waktu itu, tapi dia telah dipendam hidup2 oleh ajahnja sendiri dan dimasukkan kedalam peti mati setjara paksa. Beberapa huruf itu terang diukirnja dengan kuku pada waktu ia belum meninggal. Sebab itulah, sampai saat matinja kedua tangannja masih terangkat keatas, jaitu karena dia lagi mengukir tulisan dibagian dalam tutup peti mati. Sungguh susah untuk dipertjaja bahwa di dunia ini ternjata ada seorang ajah jang begitu kedjam. Dengan segala tipu daja Leng Dwe-su telah berusaha mendapatkan Soh-sim-kiam-koat dari Ting Tian, tapi selama itu Ting-toakonja tidak mau tunduk, sedangkan Leng-siotjia djuga tidak mau mengingkari Ting-toako, dan karena sudah ditunggu dan tunggu lagi tetap tipu muslihat Leng Dwe-su tak berhasil, akhirnja ia menjadi gemas dan setjara kedji telah kubur puterinja sendiri dengan hidup2.

Ia tjoba meneliti tulisan2 diatas tutup peti itu, ia melihat dibawah pesan kepada Ting Tian tadi tertulis beberapa angka pula seperti: 4, 51, 33, 53, 18, 7, 34, 11, 28 dan banjak lagi.

Tik Hun menarik napas dingin, katanja didalam hati: “Ah, tahulah aku. Ternjata sampai detik terakhir Leng-siotjia masih ingat tjita2nja jang ingin berkubur bersama dengan Ting-toako. Leng-siotjia pernah berdjandji kepada siapapun asal dapat menguburkan dia bersama Ting Tian, maka ia akan memberitahukan rahasia Soh-sim-kiam-boh kepadanja. Ting-toako juga pernah mengatakan kuntji rahasia itu kepadaku, tapi belum lagi habis beliau sudah keburu meninggal. Sedangkan Kiam-boh jang diperoleh suhu dan terdapat kuntji rahasianja justeru telah di-robek2 oleh Ban-si-hutju, tadinja kukira rahasia itu sudah tiada orang jang tahu lagi di dunia ini dan untuk seterusnja akan lenjap, siapa tahu Leng-siotjia telah mentjatat setjara lengkap disini”.

Maka diam2 Tik Hun berdoa: “Leng-siotjia, engkau benar2 seorang jang bisa pegang djandji. Terima kasihlah atas maksud baikmu. Tetapi aku sendiri sekarangpun lagi putus asa, kalau bisa sungguh akupun ingin bisa menggali suatu liang kubur, lalu membunuh diri disini untuk menjusul kau dan Ting-toako. Tjuma sampai sekarang sakit hatiku belum terbalas, aku harus membunuh dulu Ban-si-hutju serta ajahmu, habis itu barulah aku rela mati. Adapun tentang harta benda bagiku adalah mirip tanah dan sampah sadja jang tiada artinja”.

Segera ia angkat tutup peti mati dan hendak ditutupkannja kembali. Tapi se-konjong2 timbul suatu akalnja: “He, bukankah aku sedang sulit mentjari Ban-si-hutju? Dan kalau sekarang aku menuliskan kuntji rahasia tentang dimana letak penjimpanan harta karun itu, kutuliskan huruf2 itu ditempat jang menjolok, dapat dipastikan Ban-si-hutju pasti akan mendengar serta datang melihatnja. Ja, benar, aku harus menggunakan kuntji rahasia Soh-sim-kiam-boh ini sebagai umpan untuk memantjing kedatangan Ban-Tjin-san dan Ban Ka. Walaupun Ban-si-hutju tentu akan tjuriga djuga, namun betapapun juga mereka pasti ingin mengetahui rahasia Soh-sim-kiam-boh, tentu mereka akan menempuh bahaja dan datang kemari”.

Setelah ambil keputusan itu, ia taruh lagi tutup peti mati itu, ia apalkan dengan baik angka2 kuntji Soh-sim-kiam-boh itu, bahkan ia ukir pula angka2 itu digagang tjangkul dengan goloknja. Selesai mengukir, untuk selamatnja ia mentjotjokkan sekali pula, habis itu barulah ia tutup kembali peti mati itu serta menguruki lagi tanah pekuburan seperti semula.

“Tjita2ku jang terpenting ini kini sudah terlaksana, tugasku kepada Leng-siotjia dan Ting-toako sudah kupenuhi. Nanti bila aku sudah membalas sakit hati, tentu aku akan datang lagi kesini untuk menanami beberapa ratus pohon bunga seruni disini. Memang bunga seruni adalah bunga kesajangan Ting-toako dan Leng-siotjia dimasa hidup mereka”, demikian Tik Hun berjanji pada diri sendiri.

Besok paginja, diatas dinding benteng selatan kota Kang-leng tepat di atas pintu gerbang jang menjolok mata djelas tertampak beberapa angka jang tertjoret dengan kapur.

Huruf2 itu besar2 hingga dapat terlihat djelas dari djauh, angka2 itu antara lain dan didahului: 4, 51, 33, 53…………………..

Anehnja huruf2 itu tertulis di atas tembok jang tingginja belasan meter, mungkin diseluruh kota Kang-leng tak terdapat tangga sepandjang itu untuk mentjapai dinding dan menulisnja, ketjuali orang dikerek dari atas benteng dan orang itu menulis di dinding benteng itu dengan tergantung.

Djauh ditepi djalan raja jang menuju ke pintu gerbang kota itu tampak ada seorang pengemis sedang sibuk mentjari tuma dibadjunja jang rombeng dan berbau sambil mendjemur diri dibawah sinar matahari.

Orang itu adalah Tik Hun. Dan tulisan ditembok jang tinggi itu adalah perbuatannja.

Pintu gerbang selatan itu sangat ramai dengan orang jang berlalu lalang, apalagi diwaktu pagi, banjak bakul2 dan tukang2 sajur dari desa sama menuju kepasar di dalam kota. Maka orang2 desa dan penduduk kota merasa heran juga ketika melihat tulisan diatas tembok jang sangat tinggi itu, hanja dalam waktu singkat saja gemparlah seantero kota Kang-leng, baik dirumah makan, baik diwarung kopi dan maupun dipasar, semua orang geger membitjarakan kedjadian jang aneh itu, bahkan banjak jang ber-bondong2 datang kepintu gerbang untuk melihat tulisan itu.

Dan sudah tentu tulisan2 itu tiada jang luar biasa, ketjuali letaknja jang sangat tinggi itu, tulisan2 itu pada hakekatnja tidak mengherankan dan menarik, maka banjak diantara penonton2 itu sesudah membatja sekadarnja, lalu menggerutu dan tinggal pergi.

Sebaliknja banjak juga orang2 Kang-ouw dan tokoh2 Bu-lim jang tidak lantas tinggal pergi, mereka masing2 tampak membawa sedjilid ‘Tong-si-soan-tjip’, mereka mentjatat semua angka2 jang tertulis didinding kota itu, lalu mengkerut kening memikirkan arti angka2 itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: