Pedang Hati Suci (Jilid ke-16) Tamat

Tik Hun sendiri masih asjik memitas tuma jang diketemukannja dari badjunja, tapi perhatiannja tidak pernah meninggalkan orang2 Bu-lim jang datang kesitu itu.

Akhirnja dapatlah dilihat Sun Kin dan Sim Sia telah datang, kemudian Loh Kun tiba pula.

Tapi mereka tidak tahu urutan2 djurus permainan Soh-sim-kiam-hoat, pula tidak tahu sjair mana jang mendjadi indeks daripada djurus ilmu pedang itu. Maka sekalipun mereka masing2 djuga membawa sedjilid ‘Tong-si-soan-tjip’, walaupun mereka dapat membatja angka2 jang tertulis didinding kota dan tahu pula bahwa keempat angka pertama itu adalah kuntji rahasia didalam Soh-sim-kiam-boh itu, bahkan meski mereka sudah mendengar djuga pertjakapan guru mereka dengan puteranja dikala memetjahkan angka2 kuntji itu, namun mereka tidak tahu setiap angka itu harus djatuh atau ditjari di dalam sjair jang mana.

Maklum, untuk bisa mengetahui sjair mana jang dimaksudkan dari djurus2 Soh-sim-kiam-hoat itu didunia ini hanja Ban Tjin-san, Gan Tiat-peng, dan Djik Tiang-hoat bertiga jang tahu.

Tertampak Loh Kun dan para sutenja itu sedang bitjara, rupanja sedang saling tukar pikiran. Tapi sampai sekian lamanja tiada sesuatu kesimpulan jang dapat mereka tarik dari angka2 itu.

Karena djaraknja agak djauh, Tik Hun tidak dapat mendengar apa jang dipertjakapkan mereka. Ia lihat sesudah Loh Kun dan lain2 berunding lagi sebentar, kemudian mereka masuk kembali keota. Selang tidak lama, tertampak Loh Kun bertiga keluar lagi, tapi kini sudah menjamar semua. Jang satu menjamar sebagai tukang rudjak dengan memakai memikul suatu dasaran jang banjak terdapat ketimun, nanas, djeruk, dan sebagainja. Seorang lagi menjaru sebagai tukang sajur, pikulannja penuh terisi sajur2an dan seorang lain pula menjamar sebagai petani jang habis pulang dari mendjual hasil taninja di kota.

Setiba diluar pintu kota, mereka lantas pura2 mengaso disitu, tapi jang mereka perhatikan adalah orang2 jang berlalu-lalang.

Tik Hun dapat meraba maksud tudjuan mereka, tentu mereka ingin menunggu kedatangan Ban Tjin-san. Mereka sendiri tak dapat memetjahkan angka2 rahasia Soh-sim-kiam-boh itu, maka mereka hendak membontjeng sang guru sadja. Pabila Ban Tjin-san berhasil menggali harta karun itu, biarpun mereka tak dapat mengangkangi, paling tidak djuga akan kebagian redjeki.

Beberapa angka kuntji pertama dari ‘Soh-sim-kiam-boh’ itu adalah: 4, 51, 33 dan 53. Angka2 itu mempunjai arti sebagai ‘Kang-leng-seng-lam’ atau selatan kota Kang-leng, hal ini sudah tersiar luas di kalangan orang Kang-ouw melalui mulutnja Bok Heng dan Sim Sia jang dapat mendengar dari guru mereka itu. Dan kini angka2 itupun djelas tertulis diatas dinding kota itu, bahkan dibelakangnja ber-turut2 masih banjak angka2 jang lain lagi, melihat itu, biarpun orang jang paling goblok djuga akan dapat menduga bahwa angka2 itu pasti adalah rahasia didalam Soh-sim-kiam-boh jang ditjari itu.

Begitulah maka orang2 jang datang kepintu selatan kota itu, makin siang makin banjak. Ada jang menjamar, ada jang blak2an menurut muka asli mereka.

Diam2 Tik Hun menghitung djumlahnja dan seluruhnja ada 78 orang. Selang tak lama lagi, ia lihat Bok Heng dan Pang Tan djuga sudah datang. Bahkan diantara mereka entah sedang mempertjektjokkan urusan apa, muka mereka tampak merah beringas, katjeknja mereka tidak sampai berkelahi. Tapi akhirnja mereka dapat sabar kembali dan duduk ditepi sungai jang mengelilingi benteng kota itu sambil merenungkan apa arti angka2 jang tertulis diatas dinding itu.

Sampai sore hari, masih tetap Ban-si-hutju tidak kelihatan batang hidungnja. Bahkan sampai dekat magrib, masih djuga Ban Tjin-san dan Ban Ka tidak nampak muntjul. Banjak diantara orang2 itu kedengaran mentjatji-maki dengan kata2 kotor.

Dan ketika hari sudah hampir gelap, tiba2 tertampak seorang jang berdandan sebagai guru sekolah telah datang dengan langkahnja mirip ‘gojang sampan’. Guru sekolah itu membawa pensil dan setjarik kertas pula. Setiba diluar pintu gerbang situ, ia lantas mentjatat semua angka2 jang dapat dibatjanja diatas dinding itu.

Ada seorang laki2 berewok dan bermuka bengis memangnja lagi mendongkol tak terlampiaskan lantaran sudah sekian lamanja menunggu dan masih tidak melihat muntjulnja Ban Tjin-san, terus sadja ia gunakan guru sekolah itu sebagai alat pelampias marahnja, segera ia bekuk guru sekolah itu sambil membentak: “Buat apa kau menurun angka2 itu?”.

“E-eh, seorang laki2 sedjati hanja boleh pakai mulut dan tidak boleh memakai tangan”, demikian sahut guru sekolah itu sambil meringis karena tengkuknja ditjengkeram laki2 kasar tadi.

“Persetan kau laki2 atau perempuan,” bentak orang itu, “Nah, djawablah, buat apa kau mentjatat angka2 itu?”

“Sudah tentu ada gunanja bagiku, orang lain mana bisa tahu,” sahut guru sekolah itu.

“Keparat, makanja aku tanja!”, teriak laki2 kasar itu dengan mendongkol, “Nah, kau mau mengaku tidak, kalau tidak, segera kutondjok kau. Nih!”. ~ dan segera ia atjungkan bogemnja ke depan hidung guru sekolah itu.

Rupanja guru sekolah itu mendjadi takut, katanja dengan gemetar: “Ja, ja, kan….akan kukatakan. Aku tjuma……tjuma orang suruhan sadja”.

“Siapa jang suruh kau?”, bentak orang itu.

“Seorang……seorang tua. Ja, kukatakan terus terang saja, orang jang menjuruh aku itu adalah tokoh terkemuka didalam kota ini, beliau jalah…………..jalah, eh, kalau kukatakan, jangan kau gemetar, lho! Beliau jalah…….jalah Ban Tjin-san, Ban-loyatju!”, demikian tutur guru sekolah itu.

Demi mendengar nama ‘Ban Tjin-san’ disebut, seketika gemparlah semua orang. Tik Hun pun ikut bergirang, tapi diantara rasa girang itu lebih besar rasa dendam kesumat dan rasa dukanja.

Begitulah guru sekolah itu lantas digusur be-ramai2 oleh orang banjak kedalam kota, ia diharuskan menunjukkan dimana beradanja Ban Tjin-san. Maka dalam sekedjap saja ratusan orang telah pergi hingga djauh. Mereka ingin mentjari Ban Tjin-san untuk memaksanja memberitahu dimana tempat penjimpanan harta karun itu, mereka akan menggalinja untuk dibagi sama rata.

Sudah tentu laki2 berewok itu mendapat banjak pujian dari para petualang jang lain, mereka memudjinja: “Saudara ini sungguh sangat tjerdik, kami sama sekali tidak menduga Ban Tjin-san bisa menjuruh orang untuk menurun angka2 rahasia ini. Tjoba kalau tiada kau saudara, biarpun kita menunggu tiga hari tiga malam suntuk disini djuga akan sia2 belaka, sebaliknja kesempatan itu sudah digunakan oleh sikeparat Ban Tjin-san untuk menggali harta karun itu”.

Dengan sendirinja makin dipudji, makin berseri siorang berewok itu, katanja dengan bangga: “Memangnja sedjak muntjulnja pelajar ketjut ini aku sudah menduga pasti ada sesuatu jang tidak beres. Dan njatanja memang benar!”.

Dalam suasana remang2nja magrib itu, rombongan orang2 itu telah pergi hingga djauh, maka diluar pintu gerbang kota itu kembali sunji-senjap. Mestinja Tik Hun bermaksud ikut diantara orang banjak itu, tapi ia mendjadi ragu2, ia merasa Ban Tjin-san jang litjik dan litjin itu tidak mungkin berlaku begitu goblok menjuruh seorang guru sekolah jang begitu gampang lantas ditangkap dan mengaku terus terang dimana ia berada. Bukan mustahil dibalik itu ada sesuatu tipu muslihatnja.

Karena itulah maka ia tidak jadi berbangkit untuk ikut diantara orang banjak itu. Dan selagi ia ragu2 apakah usahanja itu akan gagal begitu sadja atau masih harus diteruskan lagi hingga besok, tiba2 dilihatnja ditepi sungai dekat pintu gerbang kota itu, berkelebat suatu bajangan orang. Dengan tjepat bajangan orang itu terus lari kearah barat setjepat terbang.

Pikiran Tik Hun tergerak, segera iapun melesat kedepan, diam2 ia menguntit dibelakang bajangan orang itu dengan Ginkang jang tinggi hingga tak diketahui siapapun juga.

Ternjata Ginkang orang itupun sangat hebat, namun Tik Hun sekarang bukan lagi Tik Hun dulu, betapapun kepandaian orang itu masih selisih djauh kalau dibandingkan pemuda itu. Maka sama sekali orang itu tidak merasa bahwa ada seorang lain lagi sedang menguntit dibelakangnja.

Tik Hun terus menguntit hingga sampai didepan sebuah rumah ketjil. Ia lihat orang itu masuk kedalam rumah. Segera Tik Hun menjisir madju, sampai disamping rumah, ia mendjaga disitu djika orang itu keluar lagi. Tapi ternjata orang itu tidak keluar, sebaliknja didalam rumah lantas kelihatan sinar terang, orang itu telah menjalakan pelita.

Tik Hun terus menggeser keluar djendela, ia mengintip dari sela2 djendela, maka dapat dilihatnja bahwa orang tadi adalah seorang tua, Tjuma berdirinja membelakangi djendela, maka mukanya tidak kelihatan. Orang itu berduduk menghadap medja, diatas medja terletak sedjilid buku. Begitu memandang segera Tik Hun tahu buku itu adalah ‘Tong-si-soan-tjip’. Buku berisi pilihan sjair jaman Tong itu dalam beberapa hari terakhir ini telah merupakan barang paling laris di dalam kota Kang-leng, maka tidak mengherankan djika orang tua itupun memiliki suatu djilid.

Dalam pada itu, terlihat orang tua itu lagi memegang sebatang pensil, lalu sedang menulis diatas sehelai kertas kuning, jang ditulis adalah empat huruf ‘Kang-leng-seng-lam’ atau selatan kota Kang-leng, kemudian terdengar dia menjebut sebuah judul sjair dan menjebut suatu angka, habis itu ia lantas mem-balik2 halaman kitab sjair kuno itu mulai menghitung huruf2 dari sjairnya. Terdengar ia menjebut: “Satu, dua, tiga, empat……….., sebelas, dua belas……… lima belas, enam belas, tudjuh belas, delapan belas.” ~sampai disini ia lantas menulis satu huruf diatas kertasnja.

Diam2 Tik Hun terkejut melihat gerak-gerik orang tua itu, ia heran mengapa orang juga paham Soh-sim-kiam-hoat? Kalau dilihat dari belakang, terang orang ini bukanlah Ban-Tjin-san. Karena pakaian orang tua itu berwarna kelabu jang sangat umum, maka Tik Hun djuga tidak dapat menjelami siapakah gerangan si kakek.

Begitulah terlihat orang tua itu mem-balik2 terus halaman kita ‘Tong-si-soan-tjip’, lalu meng-hitung2 dan mencatat sampai akhirnja keseluruhannja ia telah menulis 28 huruf diatas kertas.

Ketika Tik Hun memperhatikan tulisan2 itu, sjukur ia dapat membatjanja. Ke-28 huruf itu maksudnja kira2 begini: “Diruangan belakang Se-tjong-si diselatan kota, bersudjudlah didepan patung Budha, panjatkanlah doa suci dan mohon Budha memberkahi agar dapat mencapai nirwana dengan selamat”.

Setelah mencatat ke-28 huruf itu dan habis membacanya, orang tua itu menjadi gusar, mendadak ia banting pensilnja kemedja sambil mengguman sendiri: “Huh, masakah suruh orang bersudjut kepada patung kaju jang tak berdjiwa, katanya agar diberkahi keselamatan, dan ada pula tentang ‘mencapai nirwana’ apa segala. Hahaha, kurangadjar, masakah dapat ‘mencapai nirwana’, bukankah itu berarti menjuruh orang menghadap radja akhirat alias mati sadja”.

Dari suara gerundel kakek itu, Tik Hun merasa suara orang seperti sudah dikenalnja. Tengah ia meng-ingat2, tiba2 orang itu miringkan mukanja. Tjepat Tik Hun mendak kebawah djendela sambil membatin: “Ha, kiranja adalah Dji-supek Gian Tat-peng. Pantas dia paham djurus2 Soh-sim-kiam-hoat. Dan rahasia apakah didalam tulisan jang diperolehnja dari angka2 kuntji rahasia itu? Bukankah tjuma untuk mempermainkan orang belaka? ~ berpikir demikian mau tak mau ia menjadi geli: “Haha, djadi sudah sekian banjak pikiran dan tenaga jang dikeluarkan oleh orang banjak itu, mereka tidak segan2 membunuh guru, mentjelakai sesama orang Bu-lim dan membinasakan kawan, tapi akhirnja jang diperoleh ternjata hanja suatu kalimat jang mempermainkan orang sadja”.

Begitulah Tik Hun tidak sampai ketawa, tapi didalam rumah Gian Tat-peng sudah ter-bahak2 dan berkata: “Hahahaha! Suruh aku mendjura dan bersudjud kepada patung, agar berdoa pada patung lempung atau kaju ini supaja memberkahi redjeki padaku? Hahaha, keparat, Lotju disuruh menuju nirwana! Padahal kami bertiga saudara seperguruan sampai melakoni membunuh guru, kemudian kami bertiga saling rebut dan saling gasak, ternjata jang diperebutkan melulu untuk ‘mentjapai nirwana’. Dan beberapa ratus kesatria Bu-lim jang berkumpul dikota Kang-leng dan saling berebut itu, jang ditudju djuga demi untuk ‘mentjapai nirwana’. Hahahahahaha!”

Suara tertawa Gian Tat-peng itu ternjata penuh rasa pilu, penuh rasa sesal, dan sembari tertawa seraja me-robek2 kertas jang dibuatnja menulis itu hingga hantjur.

Mendadak, ia berdiri tegak tanpa bergerak, kedua matanja memandang keluar djendela dengan terkesima. Lalu terdengar ia mengguman sendiri: “Keadaan sudah terlanjur begini, tiada djeleknja djuga kalau aku tjoba memeriksa Se-tjong-si itu. Memang disebelah barat dari pintu selatan kota itu terdapat sebuah kelenteng kuno seperti apa jang dimaksudkan itu”.

Segera ia padamkan pelita dan keluar dari rumah itu, dengan Ginkang jang tinggi ia lantas menudju kesebelah barat sana.

Tik Hun menjadi ragu2, pikirnja: “Apakah aku harus mentjari Ban Tjin-san saja atau menguntit Gian-supek? Ah, Ban-supek toh sudah dirubung oleh serombongan orang, maka aku lebih baik mengawasi tindak-tanduk Gian-supek saja”.

Maka iapun tjepat menjusul dibelakangnja Gian Tat-peng.

Tik Hun sendiri tidak tahu Se-tjong-si jang dimaksudkan itu terletak dimana, tapi Gian Tat-peng sudah beberapa tahun mentjari dan mendjelajahi kota Kang-leng, segala tempat jang mentjurigakan telah diselidikinja semua, maka keadaan sekitar kota baginja boleh dikata seperti rumah sendiri sadja. Maka tidak terlalu lama, sampailah ia diluar kelenteng itu.

Gian Tat-peng memang seorang tjerdik, ia tidak lantas masuk kelenteng itu, tapi ia tjelingukan kian kemari, lalu mendengarkan apakah didalam kelenteng ada sesuatu suara atau tidak, kemudian ia mengelilingi pula kelenteng itu, habis itu barulah ia mendorong pintu masuk kedalam.

Letak Se-tjong-si itu sangat terpentjil, disekitar itu sunji-senjap, pula kelenteng itu tidak terawat, tiada Hwesio dan penghuni lain. Waktu Gian Tat-peng sampai diruangan tengah, segera ia menjalakan geretan api dan hendak menjulut lilin diatas medja sembahjang.

Se-konjong2 dibawah sinar api itu dilihatnja sumbu lilin itu masih basah2 dan diudjung itu agak lumer. Hatinja tergerak, tjepat ia tjoba memegang ujung lilin itu, benar djuga terasa masih hangat dan lemas, terang tidak lama berselang baru sadja ada orang menjalakan lilin itu. Ia menjadi tjuriga dan tjepat memadamkan api. Dan selagi ia hendak melangkah keluar untuk memeriksa keadaan kelenteng itu. Tiba2 punggungnja terasa sakit sekali, sebilah belati telah menantjap ditubuhnja, ia hanja sempat mendjerit sekali terus roboh binasa.

Sementara itu Tik Hun djuga sudah melintasi pagar tembok kelenteng dan sembunji dibelakang pintu depan sana. Ia lihat sinar api menjala, lalu sirap lagi dan disusul jeritan ngeri Gian Tat-peng. Dalam kagetnja segera Tik Hun tahu Gian-supek sudah kena disergap musuh. Kedjadian itu berlangsung terlalu tjepat hingga dia sama sekali tidak sempat bertindak dan menolong. Maka iapun tidak djadi bergerak, tapi terus sembunji disitu untuk melihat siapakah gerangan jang menjergap Gian Tat-peng disitu.

Di dalam keadaan gelap, maka terdengarlah suara seorang sedang tertawa dingin. Tik Hun merasa mengkirik oleh suara tawa orang jang menjeramkan itu, tapi ia merasa suara orang seperti sudah dikenalnja juga.

Se-konjong2 sinar api berkelebat, orang itu telah menjalakan lilin hingga tubuh orang kelihatan djelas. Pelahan2 orang itupun berpaling kearah sini. Dan……..hampir saja Tik Hun mendjerit: “Suhu”.

Kiranja orang itu memang betul Djik Tiang-hoat adanja.

Maka tertampak Djik Tiang-hoat telah mendepak sekali majatnja Gian Tat-peng, bahkan ia melolos pedang dan menusuk beberapa kali pula dipunggung orang jang sudah mati itu.

Melihat gurunja begitu kedji dan kejam membunuh sesama saudara perguruan sendiri, maka jeritan “Suhu” jang hampir diteriakkan Tik Hun itu segera ia telan kembali mentah2.

Terdengar Djik Tiang-hoat sedang tertawa dingin pula, katanja: “Dji-suko, djadi kau juga sudah dapat memetjahkan rahasia didalam Soh-sim-kiam-boh, ja? Haha, Dji-suko, kata kalimat didalam Kiam-boh itu bahwa: “Budha akan memberkahi kau hingga mentjapai nirwana, dan sekarang bukankah kau benar2 sudah menuju nirwana? Bukankah Budha sudah memberkahi dan memberi redjeki padamu? Hahahahaha?”.

Kemudian ia berpaling pula, ia pandang patung Budha jang berwajah senjum simpul itu, dengan penuh mendongkol ia mendamperat: “Kau patung tjelaka ini, kau telah permainkan aku selama ini dan membikin aku menderita sengsara, akhirnja tjuma begini saja djadinja”.

Dan segera ia melompat keatas altar patung itu dengan pedang terhunus, “trang-trang-trang”, be-runtun2 ia membatjok tiga kali diperut patung Budha jang gendut itu.

Pada umumnja sesuatu patung terbuat dari tanah liat atau ukiran dari kaju, paling2 ukiran dari batu. Tapi ketiga kali batjokannja itu ternjata menimbulkan suara njaring suara benturan logam.

Untuk sedjenak Djik Tiang-hoat tertegun, tapi ia segera membatjok dua kali lagi, ia merasa tempat jang terkena pedang itu sangat keras. Segera ia ambil lilin untuk menerangi bekas batjokan diatas perut patung itu. Ia lihat dari guratan bekas batjokan itu mengeluarkan sinar kuning mengkilap. Ia terkesima sejenak. Ia tjoba mengkerik dengan kuku-djarinja ditempat bekas batjokan itu, ia lihat warna kuning mengkilap itu lebih njata lagi, ternjata didalamnja adalah emas murni belaka.

Seketika Djik Tiang-hoat mendjerit tertahan: “Ha, ini adalah patung emas raksasa, seluruhnja terbuat dari emas, emas murni seluruhnja!”.

Patung Budha itu tingginja 4-5 meter, lengannja besar dan perutnja gendut, jauh lebih besar daripada patung raksasa umumnja. Dan bila patung ini seluruhnja terbuat dari emas murni, maka dapat ditaksir paling sedikit ada 40-50 ribu kati beratnja. Dan emas sebanjak itu kalau bukan harta-karun namanja harus disebut apa lagi?

Dan sesudah memikir sedjenak, segera Djik Tiang-hoat mengitar pula kebelakang patung Budha itu, ia tjoba mengkerik pula dengan pedangnja, ia lihat dibagian pinggang patung itu seperti ada sesuatu pintu rahasia ketjil. Ber-ulang2 ia mengkerik dan memotong pula hingga debu kotoran diatas patung itu tersapu bersih, bahkan bagian pinggang patung itupun tertjatjah beberapa goresan, sesudah itu barulah bagian itu tampak bersih dan kelihatan pintu rahasianja.

Segera Djik Tiang-hoat masukkan pedangnja ke-sela2 pintu rahasia itu, ia tjungkil beberapa kali, tapi pintu rahasia itu teramat kentjang hingga sedikitpun tidak bergeming, ia tjoba menjongkel lebih keras, tapi sedikit kurang hati2, ‘pletak’, pedangnja patah malah.

Namun ia tidak putus asa, dengan pedang patah itu ia mentjungkil lagi sela2 pintu rahasia sisi lain. Dan sesudah berkutetan agak lama, lambat-laun pintu rahasia mulai longgar dan pelahan2 tertjungkil keluar. Djik Tiang-hoat membuang pedangnja jang patah itu, segera ia pegang pintu rahasia itu dan pelahan2 ditarik hingga terbuka. Ketika ia menerangi dengan lilin, ia lihat didalam perut patung Budha itu penuh terisi emas-intan dan batu permata jang gemilapan menjilaukan mata. Melihat betapa besar perut patung itu, sungguh susah dinilai berapa banjak harta benda jang tersimpan didalam situ.

Saking kesima Djik Tiang-hoat menelan ludah sendiri beberapa kali. Segera ia bermaksud meraup beberapa bidji batu permata didalam perut patung itu untuk diperiksa, tapi mendadak ia merasa altar patung itu pelahan2 berguntjang sedikit.

Djik Tiang-hoat adalah seorang jang sangat tjerdik dan waspada, segera ia tahu keadaan tidak beres, tjepat ia melontjat turun dari altar patung itu. Tapi baru sebelah kakinja mengindjak tanah, seketika perutnja terasa sakit, njata ia telah kena disergap orang dan tertutuk. Tanpa ampun lagi ia roboh terguling dan takbisa berkutik.

Maka tertampaklah seorang menerobos keluar dari bawah altar, dengan tertawa hina orang itu berkata: “Djik-sute, kiranja kau belum mati dan akhirnja sampai disini. Lo-dji (sinomor dua, maksudnja Gian Tat-peng) juga mentjari kemari, tapi mengapa kalian tidak memikir bahwa Toa-suheng kalian djuga pasti akan mentjari kesini? Hahahaha!”.

Orang itu ternjata bukan lain daripada Ban Tjin-san. Setjara diam2 ia sudah sembunji didalam kelenteng sebelum kedua Sutenja datang.

Karena mendadak ketomplok rejeki hingga Djik Tiang-hoat jang biasanja sangat hati2 dan pandai berhitung itu mendjadi lupa daratan dan sedikit lengah itu dia kena disergap oleh Ban Tjin-san. Iapun tjukup kenal kekedjian sang Suheng itu, ia tahu tiada gunanja minta ampun segala, maka dengan gemas ia berkata: “Sudah pernah satu kali kau tak bisa membinasakan aku, tak tersangka akhirnja tetap mati djuga ditanganmu”.

Ban Tjin-san senang sekali, katanja: “Memangnja aku lagi heran atas dirimu. Eh, Djik-sute, bukankah kau sudah mati kutjekik, dan kumasukkan kedalam liang dinding berlapis itu, mengapa kau bisa hidup kembali?”

Namun Djik Tiang-hoat bungkam saja tidak mendjawab, bahkan ia terus pedjamkan mata sekalian dan tidak menggubris.

“Ha, kau tidak mau menerangkan, apakah dikira aku tidak tahu?”, ujar Tjin-san dengan tertawa dingin. “Tentu waktu itu kau pura2 mati dengan menahan napasmu. Dan sesudah kumasukkan kau kedalam dinding berlapis itu, lalu kau membobol tembok dan melarikan diri, sebelumnja kau merapatkan kembali dinding itu lebih dulu. Hehe, kau benar2 lihay dan litjik, dengan mata kepalamu sendiri kau menjaksikan puterimu telah mendjadi anak menantuku, tapi selama itu kau tetap tidak undjuk diri. Nah, ingin kutanja padamu, sebab apakah kau menghilang? Sebab apa?”.

Se-konjong2 Djik Tiang-hoat meludahi sang Suheng dengan riaknja jang kental dan tidak mendjawab. Namun Tjin-san sempat berkelit, katanja dengan tertawa: “Lo-sam, bolehlah kau pilih sendiri, kau ingin mati dengan tjepat dan enak atau ingin binasa pelahan2 dan menderita?”

Bila teringat betapa kedji dan kedjamnja Suhengnja itu, mau-tak-mau air muka Djik Tiang-hoat menampilkan rasa seram djuga. Katanja kemudian: “Baiklah, biar kukatakan padamu. Sebabnja aku tidak pedulikan puteriku itu djusteru karena aku ingin menjelidiki duduknja perkara. Dan kini dapat diketahui bahwa puteriku itulah jang telah mentjuri Kiam-boh jang kusimpan itu, nah, katakanlah apakah puteriku itu anak jang baik atau bukan? Pendek kata, orang she Ban, boleh kau bereskan aku dengan tjepat sadja”.

“Baik, akan kubereskan kau dengan tjepat,” kata Ban Tjin-san dengan senjum iblis, “Menurut pantasnja, mestinja aku tidak mungkin memperlakukan kau semurah ini, tapi mengingat jelek2 kau adalah besanku, pula akupun tidak punja tempo terlalu banjak, aku masih harus menyelesaikan partai harta karun ini. Nah, baiklah Sute jang baik, kuhaturkan selamat djalan padamu”. ~ habis berkata, terus sadja ia ajun pedangnja hendak menusuk kedada Djik Tiang-hoat.

Tapi se-konjong2 suatu bajangan merah mendahului berkelebat, tahu2 buah kepala Ban Tjin-san sendiri sudah terbang, menjusul tubuhnja jang tak berkepala itu kena didepak orang hingga roboh terguling.

Kiranja orang menjelamatkan djiwa Djik Tiang-hoat itu tak lain tak bukan adalah Tik Hun dengan golok merah setjepat kilat ia telah tabas kepala Ban Tjin-san.

Kemudian ia lantas membuka Hiat-to sang guru jang tertutuk itu dan menjapa: “Suhu, baik2kah engkau?”

Perubahan itu sunggu terlalu tjepat djadinja hingga Djik Tiang-hoat ter-mangu2 sampai sekian lamanja. Dan kemudian barulah ia dapat mengenal Tik Hun, dengan suara ter-putus2 entah girang entah sedih ia berseru: “Ha, kiranja………kiranja kau, Hun-dji”.

Tik Hun sudah berpisah sekian tahun dengan gurunja itu. Kini mendengar kembali panggilan ‘Hun-dji’ itu tak tertahan lagi rasa dukanja bergolak pula dalam hatinja. Sahutnja kemudian: “Ja, suhu, memang murid adanja!”.

“Jadi, kau telah ikut menjaksikan semua kedjadian barusan ini?” tanja Djik Tiang-hoat.

“Ja, sedjak tadi murid sudah berada disini”, sahut Tik Hun tanpa pikir. “Adapun Sumoay……………..Sumoay…..dia……dia telah………”, ~tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi, air mata lantas bertjutjuran.

Ternjata Djik Tiang-hoat sama sekali tidak tertarik oleh penuturan Tik Hun tentang puterinja itu, ia sedang memperhatikan majat kedua Suhengnja jang menggeletak dilantai itu.

“Hun-dji”, katanja kemudian, “untunglah kau telah menolong aku tepat waktunja, sungguh aku tidak tahu tjara bagaimana harus berterima kasih padamu. Eh, Hun-dji, apakah itu?”. ~demikian tiba2 ia menuding kebelakang Tik Hun.

Tanpa tjuriga apa2 Tik Hun lantas berpaling, tapi tiada sesuatu jang dilihatnja, dan selagi ia merasa heran, tiba2 punggung terasa agak sakit.

Namun Tik Hun kini sudah bukan Tik Hun dahulu lagi, betapa tjepat dan tangkas reaksinja, sekali tangannja meraup ke belakang seketika pergelangan tangan musuh jang membokong itu kena dipegangnja. Tjepat ia lantas berpaling kembali, ia lihat tangan penjerang itu memegang sebilah belati, siapa lagi dia kalau bukan Djik Tiang-hoat, gurunja sendiri.

Sesaat itu Tik Hun menjadi bingung, katanja: “Su…………Suhu, apakah kesalahan…… kesalahan Tetju hingga Suhu hendak………hendak membunuh aku?”

Baru sekarang Tik Hun ingat bahwa tusukan belati gurunja itu sebenarnja sudah tepat mengenai punggungnja, untung dia memakai Oh-djan-kah, dengan badju mestika jang tidak mempan sendjata tadjam itu, maka djiwanja sekali lagi telah lolos dari lubang djarum.

“Bagus, bagus!. Sekarang kau sudah mendjadi djagoan, ja? Ilmu silatmu sudah hebat sekali hingga gurumu tak terpandang sebelah mata lagi olehmu!” demikian Djik Tiang-hoat mengedjek dengan dendam. “Nah, lekaslah kau membunuh aku sadja, lekas, mengapa tidak lekas membunuh aku?”

Tapi Tik Hun lantas melepaskan tangan sang guru, malah ia tetap tidak paham, sahutnja: “Mana murid berani membunuh suhu?”.

“Huh, buat apa kau mesti pura2 dungu?”, djengek Djik Tiang-hoat. “Kalau aku tidak dapat membunuh kau, maka akulah jang akan kau bunuh, kenapa mesti dibuat heran? Harta karunnja sudah djelas didepan matamu, patung Budha ini adalah emas murni tulen, didalam perutnja djuga penuh terisi intan-permata jang tak ternilai. Nah, kenapa kau tidak lantas membunuh aku? Kenapa tidak lekas membunuh aku?”.

Demikian ia ber-teriak2 suaranja penuh mengandung sifat angkara-murka dan penuh penjesalan. Suaranja itu hakikatnja bukan suara manusia lagi, tapi lebih mirip suara lengking serigala jang terluka, dan mendekati adjalnja.

Namun Tik Hun menggojang kepala sambil mundur beberapa langkah, katanja: “Djadi sebabnja Suhu hendak membunuh aku adalah lantaran patung Budha raksasa buatan dari emas murni ini?”

Begitulah sekilas Tik Hun mendjadi paham seluruhnja, demi harta benda Djik Tiang-hoat tidak segan2 mentjelakai gurunja sendiri, tidak segan membunuh Suhengnja, bahkan mentjurigai puterinja sendiri, dan sudah tentu membunuh seorang murid lebih2 bukan menjadi soal baginja.

Seketika dalam benak Tik Hun menggema kembali utjapan Ting Tian dahulu: “Gurumu berjuluk ‘Tiat-soh-heng-kang’, urusan apa jang tak mungkin diperbuatnja?”

Dan sesudah melangkah mundur dua tindak pula, Tik Hun berkata lagi: Suhu, aku tidak ingin membagi redjeki jang kau peroleh ini, boleh kau menjadi hartawan sendirian sadja. Silahkan!”.

Hampir2 Djik Tiang-hoat tidak pertjaja pada telinganja sendiri, sungguh ia tidak pertjaja bahwa didunia ini ada manusia jang tidak kemaruk kepada harta. Ia menduga sibotjah Tik Hun pasti mempunjai tipu muslihat apa lagi. Maka dengan tidak sabar lagi ia lantas membentak: “Tik Hun, kau hendak main gila apa? Bukankah ini adalah suatu patung emas, didalam perut patung penuh terisi harta mestika, kenapa kau tidak mau? Apakah kau masih mempunjai tipu muslihat lain lagi?”

Tik Hun hanja gojang2 kepala sadja dan selagi ia hendak tinggal pergi, tiba2 terdengar suara ramai orang banjak sedang mendatangi. Tjepat ia melompat keatas rumah dan memandang keluar. Maka terlihatlah serombongan orang ada ratusan banjaknja dengan membawa obor sedang mendatangi dengan tjepat. Terang itulah orang2 Kangouw dan tokoh2 Bu-lim jang berkumpul dikota Kang-leng selama hari2 terakhir ini.

Bahkan terdengar ada diantaranja sedang membentak dan memaki: “Ban Ka, keparat kau, lekas djalan, lekas! Setan kau!”

Sebenarnja Tik Hun berniat tinggal pergi, tapi demi mendengar nama ‘Ban Ka’ disebut, seketika ia urungkan maksudnja, ia masih harus membalas sakit hatinja Djik Hong.

Begitulah rombongan orang itu kemudian telah membandjir masuk kedalam kelenteng. Djelas terlihat oleh Tik Hun bahwa Ban Ka kena dipegang oleh beberapa laki2 kekar serta di-dorong2. Ia lihat hidung Ban Ka botjor, mulut keluar ketjapnja dan mata matang-biru, terang habis kenjang dihadjar orang2 itu, tapi badannja masih memakai badju sebagai guru sekolah.

Maka tahulah Tik Hun akan duduknja perkara. Djadi Ban Ka sengadja menjamar sebagai guru sekolah untuk memantjing dan membilukkan perhatian orang2 Kangouw jang berkerumun diluar pintu gerbang selatan kota itu, dengan begitu agar Ban Tjin-san sempat datang ke kelenteng bobrok ini untuk menggali harta karun.

Tapi karena dibawah pengusutan orang banjak, akhirnja tipu muslihat Ban-si-hutju itu terbongkar. Sesudah dihadjar hingga babak belur, orang2 Kang-ouw itu mengantjam djiwa Ban Ka pula ketjuali kalau ia menundjukkan tempat rahasia penjimpanan harta karun dan akhirnja mereka sampai djuga ke Se-tjong-si.

Dalam pada itu, ketika mendengar suara orang banjak, segera Djik Tiang-hoat melompat keatas altar patung dengan maksud hendak menghilangkan bekas batjokan pedang diatas patung agar sinar emas tidak dilihat oleh orang2 itu. Namun sudah agak terlambat, beberapa orang diantaranja sudah keburu berlari masuk. Dan demi nampak perut patung Budha itu berwarna kuning kemilauan, terus sadja mereka ber-teriak2 dan berlari kepatung itu, mereka membersihkan debu tanah diatas patung serta mem-batjok2 dan mengkerik pula dengan senjata mereka, maka dalam sekedjap sadja tubuh patung itu lantas bersih dan mengeluarkan tjahaja emas jang gemilapan.

Menyusul ada orang melihat pula pintu rahasia dipunggung patung itu, segera ada orang membuka pintunja terus meraup segenggam batu permata terus dimasukkan kantong sendiri.

Melihat kawannja kebandjiran redjeki, sudah tentu jang lain tidak mau ketinggalan, segera orang kedua menggentak minggir orang pertama dan dia sendiri lantas mentjedok dengan kedua tangannja hingga setangkup emas-berlian dikantongi olehnja.

Keruan orang ketiga mendjadi merah matanja segera ia dorong pergi kawannja itu dan dia juga menjerbu harta mestika itu. Bahkan ia lebih serakah lagi, be-runtun2 ia meraup dan mencomot dengan kedua tangannja secara bergiliran dan dimasukkan kedalam badjunja, dan sesudah kantong badjunja penuh segera ia gunakan ujung badju untuk mewadah batu permata itu.

Begitulah suasana seketika menjadi kacau dan gempar, orang2 itu saling berebut mengambil harta mestika itu, mereka ber-djedjal2 dan desak-mendesak, jang tidak sempat mendesak madju kepintu rahasia patung untuk mengambil sendiri, segera mereka merebut milik kawan, kalau kawan melawan, segera digendjot………..

Se-konjong2 diluar kelenteng terdengar suara tiupan terompet, pintu kelenteng lantas terpentang, berpuluh peradjurit tampak menjerbu masuk, sambil berteriak: “Tihu-taydjin tiba, siapapun dilarang bergerak, diam semua!”.

Menjusul masuklah seorang dengan pakaian kebesaran dan bersikap angkuh, itulah dia Leng Dwe-su, Tihu dari kota Kang-leng, ajahnja Leng-siotjia.

Tapi demi melihat harta mestika jang menjilaukan mata itu, para orang Kang-ouw sudah lupa daratan, djangankan tjuma seorang Tihu, biarpun radja jang datang djuga tidak mereka gubris lagi. Mereka masih tetap saling berebut dengan mati2an.

Maka seluruh ruangan kelenteng itu penuh terserak harta mestika jang kemilauan, ada mutiara mestika, ada emas-intan, ada batu permata, djamrud, merah delima, ada biru safir, ja, mungkin djuga ada koh-i-noor………………..

Peradjurit2 jang dibawa datang oleh Leng Dwe-su itu djuga manusia, dan manusia mana jang tidak ngiler akan harta karun seperti itu? Keruan saja tanpa komando peradjurit2 itu ikut berebut, bahkan perwiranja djuga tidak mau ketinggalan.

Keadaan menjadi makin katjau, Djik Tiang-hoat lagi berebut harta mestika itu, Ban Ka djuga lagi berebut, malahan tuan besar Leng Dwe-su akhirnja djuga tak tahan oleh rangsangan harta karun jang memangnja telah ditjari sekian lamanja itu. Ia kuatir kehabisan, segera iapun ikut berebut.

Tik Hun melihat diantara orang2 Kang-ouw jang berebut harta karun itu terdapat pula Ong Siau-hong dan Hoa Tiat-kan.

Dan sekali sudah saling berebut, dengan sendirinja saling hantam dan sekali saling hantam sudah tentu ada jang terluka dan terbinasa. Anehnja, dalam pertarungan sengit itu, akhirnja mendadak ada orang menubruk keatas patung Budha emas itu, patung itu dirangkul terus di-gigit2 seperti andjing gila. Ada jang menggunakan kepalanja untuk membentur patung dan ada jang meng-gosok2kan mukanja.

Tik Hun sangat heran, andaikan orang2 itu sudah buta pikiran oleh harta karun itu djuga tidak perlu sampai gila sedemikian rupa.

Dan memang betul, orang2 itu memang sudah gila, mata mereka merah membelalak, mereka saling gendjot, saling gigit dan betot. Mereka telah berubah seperti segerombol binatang buas atau anjing gila.

Tiba2 Tik Hun paham duduknja perkara: “Ja, tentu diatas harta mestika itu telah dilumasi ratjun jang sangat lihay oleh raja jang menjimpannja dahulu”.

Tik Hun tidak sudi menjaksikan lebih djauh kelakuan manusia gila jang memuakkan itu, segera ia tinggal pergi. Ia membawa Khong-sim-djay dengan menunggang kuda terus menudju djauh kearah barat sana. Ia hendak mencari suatu tempat jang sunji untuk mendidik Khong-sim-djay agar kelak mendjadi seorang manusia jang berguna, seorang manusia baru.

Akhirnja ia sampai dilembah saldju diperbatasan Tibet dahulu itu. Saat itu lagi hudjan saldju dengan lebatnja, tapi ia dapat mencapai gua jang dahulu.

Se-konjong2 dari djauh dilihatnja didepan gua itu telah berdiri seorang gadis djelita. Itulah Tjui Sing adanja!.

Dengan muka ber-seri2 Tjui Sing berlari memapak sambil berseru: “Sudah sekian lamanja aku menunggumu Tik-toako! Aku jakin akhirnja engkau pasti akan kembali ke sini. Selama ini aku…… aku tidak pernah meninggalkan lembah ini!”.

Sesudah kedua muda-mudi itu saling berhadapan, Tik Hun pegang erat2 kedua tangan Tjui Sing sambil memandang Khong-sim-djay dalam pangkuannja itu dengan tersenjum.

Dan apa jang terdjadi selandjutnja, tak perlu ditjeritakan djuga, para pembatja akan tahu sendiri……………..

– TAMAT –

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: