Pedang Hati Suci (Jilid ke-3)

Ia menuang penuh dua tjawan arak, ia sendiri meneguk habis dulu setjawan, lalu katanja pula, “Nah, Suhengmu ini sudah mengeringkan tjawan lebih dulu, engkau harus memberi muka padaku.”

Djik Tiang-hoat mendengus sekali dan membanting pedang kelantai, lalu menerima suguhan tiga tjawan itu. Ia ter-menung2 ragu2 dan tidak habis mengerti, pikirnja: “Dikala kepepet, setiap orang memang bisa berlaku nekad dan mendjadi lebih tangkas daripada biasanja. Tapi Hun-dji tadi bukan lagi kekalapan, tapi djurus2 serangannja itu sangat indah dan bagus. Aneh, sungguh aneh.”

Ban Tjin-san lantas berbangkit, katanja: “Djik-sute, ada suatu urusan ingin kurundingkan dengan engkau. Marilah kita kekamar batja untuk bitjara?”

Tiang-hoat hanja mengangguk dan ikut berbangkit, lalu kedua saudara seperguruan itu berdjalan kekamar batja.

Tinggal diruangan itu kedelapan murid Ban Tjin-san masih melototi Tik Hun, namun Djik Hong lantas tarik sang Suheng duduk kembali ketempatnja tadi.

“Aku hendak buang air! Wah, aku sampai ter-kentjing2 oleh kelihayan Tik-suko,” kata Sim Sia tiba2.

“Pat-sute,” bentak Loh Kun, “apa belum tjukup engkau membikin malu?”

Sim Sia me-melet2 lidah dan meninggalkan ruangan itu. Tapi ia hanja pura2 menudju kekamar ketjil, lalu ia memutar keluar kamar batja dengan ber-djengket2.

Ia dengar suara gurunja sedang berkata: “Djik-sute, rahasia jang sudah terpendam selama 20 tahun itu barulah hari ini terbongkar.”

“Siaute tidak paham, apa artinja terbongkar itu?” terdengar Djik Tiang-hoat menjahut.

“Masakah masih perlu kudjelaskan lagi? Tjoba djawablah, tjara bagaimana Suhu meninggalnja?”

“Suhu kehilangan sedjilid buku latihan silat, karena di-tjari2 tetap tidak ketemu, beliau mendjadi sedih dan achirnja meninggal. Hal ini toh kau sendiri tjukup tahu, mengapa tanja kepadaku?”

“Baik. Lalu tentang kitab jang hilang itu, apakah namanja?”

“Aku djusteru pernah mendengar dari Suhu, kitab itu bernama ‘Soh-sim-kiam-boh’.”

“Soh-sim apa segala, aku tidak paham.”

“Hehehe, haha, hehahaha!”

“Apanja jang menggelikan?”

“Djik-sute, lagakmu benar2 sangat pintar. Sudah terang engkau mahir Soh-sim-kiam itu, tapi kau pura2 dungu”.

“Apakah engkau hendak mengudji aku?”

“Serahkan sini!”

“Serahkan apa?”

“Kau tahu sendiri, masih pura2 bodoh?”

“Hm, aku Djik Tiang-hoat djusteru tidak pernah takut padamu.”

Sim Sia mendjadi takut mendengar pertengkaran sang Suhu dan Susiok itu, tjepat ia berlari kembali keruangan depan dan membisiki Loh Kun: “Toasuheng, Suhu sedang bertengkar dengan Susiok, boleh djadi bakal berkelahi.”

Loh Kun terkesiap, ia berbangkit dan berkata: “Marilah kita tjoba pergi melihatnja!”

Maka ber-bondong2 pergilah murid2 Ban Tjin-san itu kekamar batja.

“Mari kitapun kesana!” adjak Djik Hong sambil menarik Tik Hun.

Tik Hun mengangguk. Dan baru dia berdjalan beberapa tindak, Djik Hong sudah sodorkan sebatang pedang kepadanja. Waktu menoleh, ia lihat gadis itu membawa pula dia batang pedang.

“Buat apa sampai dua batang?” tanja Tik Hun.

“Ajah tidak membawa sendjata!” sahut Djik Hong.

Setiba diluar kamar batja sana, kedelapan muridnja Ban Tjin-san tampak sedang pasang kuping mengikuti apa jang terdjadi didalam kamar itu. Djik Hong dan Tik Hun berdiri agar djauh dan ikut mendengar suara pertengkaran itu.

“Sudah terang sekarang bahwa djiwa Suhu adalah engkau jang membunuhnja,” demikian Ban Tjin-san sedang berkata.

“Kentut, kentut busuk! Darimana kau berani sembarangan menuduh aku?” sahut Djik Tiang-hoat dengan gusar, suaranja kedengarannja sampai serak.

“Habis, Soh-sim-kiam-boh milik Suhu itu bukankah ditjuri oleh kau?”

“Aku peduli apa Soh-sim-kiam-boh segala? Kau bermaksud mempitnah aku ja? Huh, djangan harap!”

“Tapi beberapa djurus jang dimainkan muridmu itu bukankah Soh-sim-kiam-hoat? Kau masih berani membantah?”

“Bakat pembawaan muridku memang pintar, itu adalah hasil pemikirannja sendiri, bahkan aku sendiripun tidak bisa. Masakah itulah Soh-sim-kiam-hoat segala? Kau menjuruh Bok Heng pergi mengundang aku, katanja engkau sendiri jang sudah berhasil mejakinkan Soh-sim-kiam-hoat, benar tidak hal ini? Apa perlu panggil Bok Heng untuk didjadikan saksi?”

Maka berpalinglah semua orang diluar kamar itu kearah Bok Heng, wadjah pemuda itu tampak merengut, terang apa jang dikatakan Djik Tiang-hoat itu memang tidak salah.

Tik Hun pun saling pandang sekedjap dengan Djik Hong dan meng-angguk2, pikirnja: “Apa jang dikatakan Bok Heng tempo hari akupun ikut mendengar, tidak mungkin ia bisa menjangkal.”

Maka terdengar Ban Tjin-san telah mendjawab dengan ter-bahak2: “Sudah tentu aku jang suruh Bok Heng menjampaikan kata2 itu kepadamu. Kalau tidak demikian, masakah aku dapat memantjing engkau kesini. Djik Tiang-hoat, ingin kutanja padamu, kau bilang tidak pernah mendengar nama ‘Soh-sim-kiam’ segala, tapi mengapa waktu Bok Heng mengatakan aku sudah berhasil mejakinkan ilmu pedang itu, buru2 engkau lantas datang kemari? Nah, apa kau masih berani mungkir?”

“Aha, djadi kau sengadja memantjing aku disini?”

“Benar, maka lekas kau serahkan Kiam-boh dan mendjura pula kekuburannja Suhu untuk minta maaf.”

“Kenapa mesti diserahkan padamu?”

“Hm, aku Toasuhengmu atau bukan!”

Keadaan sunji sedjenak didalam kamar itu, kemudian terdengar suara Djik Tiang-hoat berkata: “Baik, kuserahkan padamu.”

Mendengar itu, semua orang jang mengintip diluar kamar itu tergetar. Tik Hun dan Djik Hong malu sekali. Loh Kun berdelapan melirik hina pula kearah mereka. Sungguh gemas dan penasaran sekali Djik Hong, sama sekali tak terpikir olehnja bahwa sang ajah terima menjerah setjara begitu memalukan.

Tapi mendadak terdengarlah suara djeritan ngeri sekali, itulah suaranja Ban Tjin-san.

“Ajah!” teriak Ban Ka, tjepat iapun dobrak pintu kamar dan berlari kedalam.

Maka tertampaklah diatas dada Ban Tjin-san tertantjap sebilah belati jang mengkilap, dan orangnja menggeletak bermandikan darah.

Djendela kamar tampak terpentang, namun bajangan Djik Tiang-hoat sudah tidak kelihatan.

“Tia, Tia!” seru Ban Ka dengan menangis sambil menubruk kesamping tubuh sang ajah.

Denagn pelahan Djik Hong pun memanggil: “Tia, Tia!”

Sebaliknja Loh Kun terus berseru: “Lekas, lekas tangkap pembunuh!”

Be-ramai2 para murid Ban Tjin-san lantas mengudak keluar sambil ber-teriak2 hendak menangkap pembunuh.

Tik Hun sendiri bingung djuga oleh kedjadian itu. Ia lihat tubuh Djik Hong agak sempojongan, lekas2 dipajangnja.

Waktu menunduk, tertampak wadjah Ban Tjin-san sangat beringas menakutkan, mungkin sebelum adjalnja telah menderita kesakitan sekali.

Tik Hun tidak berani memandang lagi, ia mengadjak pelahan: “Marilah kita pergi sadja, Sumoay!”

Tapi belum lagi Djik Hong mendjawab, tiba2 suara orang telah berkata dibelakang mereka: “Kalian adalah komplotan pembunuh guruku, djangan tjoba lari!”

Waktu Tik Hun menoleh, ia lihat udjung pedang Bok Heng sudah mengantjam di belakang punggungnja Djik Hong.

Tik Hun mendjadi gusar dan hendak mendjawab dengan kata2 lebih pedas, tapi demi mengingat gurunja memang njata telah membunuh Suheng sendiri, perbuatan durhaka seperti itu benar2 sangat rendah dan djahat, maka ia tidak berani buka suara lagi dan menunduk.

“Kalian lekas berdiam didalam kamar sadja dan djanga tjoba melarikan diri, nanti kalau kami sudah dapat menangkap Djik Tiang-hoat, sekalian akan kami adukan pada pembesar negeri,” kata Bok Heng.

“Urusan ini adalah gara2ku, biarlah aku jang bertanggung djawab, hendak dikorek atau disembelih, boleh silahkan, tapi djangan mengganggu Sumoayku jang tak berdosa,” sahut Tik Hun.

“Tak perlu banjak bitjara, lekas djalan!” bentak Bok Heng sambil mendorongnja.

Tik Hun dengar diluar sana masih ribut dengan suara teriakan2 menangkap pembunuh, menjusul didjalan kota sana djuga riuh ramai dengan suara gembreng. Malu dan sesal rasa hati Tik Hun, dengan menahan perasaannja itu segera iapun melangkah kekamarnja sendiri.

“Suko, lan……lantas bagaimana baiknja ini?” seru Djik Hong dengan menangis menjaksikan sang Suheng digiring pergi.

“Aku…….aku tidak tahu,” sahut Tik Hun tergagap. “Biarlah aku jang menanggung dosanja Suhu.”

“Tia-tia!” seru Djik Hong pula. “Ke……kemanakah beliau telah pergi?”

***********

Seorang diri Tik Hun duduk termenung didalam kamarnja, waktu itu sudah dua-tiga djam sesudah terdjadi pembunuhan Ban Tjin-san. Sambil memandang api lilin diatas medjanja, pikiran Tik Hun sangat kusut.

Diatas medja situ masih terdapat sisa setengah botol arak, walaupun tidak biasa, namun ia terus meneguk setjawan demi setjawan hingga kepalanja serasa pujeng se-akan2 petjah.

Sementara itu suara2 ribut diluar sudah sirap, tapi telinga Tik Hun masih mengngiang2 kata2 orang banjak: “Pembunuh sudah menghilang, biarlah besok kita kedjar ke Ouw-lam, betapapun kita harus menangkapnja untuk membalas sakit hati Suhu.”

“Ja, biarpun dia lari keudjung langit djuga akan kita tangkap kembali untuk ditjintjang!”

“Besok djuga kita lantas undang tokoh2 Bu-lim untuk dimintai keadilan dan pembunuh pengetjut itu harus diuber sampai ketemu.”

“Benar, mari kita bunuh dulu kedua andjing ketjil puteri dan muridnja itu untuk dibuat sesadjen arwah Suhu.”

“Sabarlah, biar besok Koam-thayya (tuan besar Bupati) memeriksa majat dulu!”

Begitulah Tik Hun terus tenggelam dalam lamunannja. Ia pikir sang Sumoay dapat disuruh melarikan diri sadja, tapi seorang gadis, kalau terluntang-lantung dikangouw, kemana dia harus meneduh? Pikirnja pula: “Biarlah kubawa lari dia! Ah, tidak, tidak! Awal perkara ini adalah gara2ku, kalau aku tidak berkelahi dengan para Suheng dari keluarga Ban, masakah Supek bisa mentjurigai Suhu telah mentjuri ‘Soh-sim-kiam-boh’ segala? Padahal Suhu adalah seorang paling djudjur, tidak mungkin beliau sudi mentjuri. Jang benar ketiga djurus itu adalah adjaran sipengemis padaku. Tapi Suhu sudah kadung membunuh orang, kalau kukatakan sekarang, tentu djuga tiada jang mau pertjaja. Ja, memang aku jang salah, dosaku terlalu besar, besok aku harus menerangkan duduknja perkara dihadapan orang banjak untuk mentjutji kesalahan Suhu. Akan tetapi, toh sudah terang Suhu jang membunuh Ban-supek, apakah dapat dosanja ditjutji bersih? Tidak, aku tak boleh melarikan diri, aku harus tinggal disini untuk memikul dosa Suhu, biar mereka menghadjar dan membunuh aku sadja!”

Begitulah sedang Tik Hun dibuai oleh pikiran2 jang ruwet itu, tiba2 terdengar suara keletak sekali diatas atap rumah. Waktu Tik Hun mendongak, ia lihat sesosok bajang melajang lewat dari rumah kanan sana kerumah sebelah kiri. Hampir2 ia berseru memanggil “Suhu”, tapi demi diperhatikan, ia lihat perawakan orang itu tinggi dan kurus, terang bukan gurunja. Menjusul mana kembali suatu bajangan orang melompat lewat lagi, malahan sekali itu tampak djelas orang itu menghunus golok.

“Apakah mereka sedang mentjari Suhu? Mungkinkah Suhu masih berada disekitar sini dan belum lari pergi?” demikian Tik Hun men-duga2.

Tengah Tik Hun bersangsi, tiba2 didengarnja suara djeritan kaum wanita dari rumah sebelah kiri sana. Ia terkedjut, tanpa pikir lagi ia samber pedangnja terus melompat keluar. Jang terpikir olehnja jalah: “Mereka sedang menganiaja Sumoay?”

Dalam pada itu terdengar pula djeritan seorang wanita sedang minta tolong! Suara itu seperti bukan suaranja Djik Hong, tapi Tik Hun terlalu menguatirkan keselamatan sang Sumoay, ia tidak sempat mem-beda2kan apakah itu suaranja Djik Hong atau bukan, sekali lompat, ia berdiri tegak diemper rumah, sementara itu suara minta tolong terdengar lagi.

“Serahkan njawamu, bangsat!” bentak Tik Hun sambil melompat masuk kedalam kamar dan menerdjang kedua badjingan itu.

Segera Tik Hun melompat kearah datangnja suara, ia lihat diatas loteng gedung itu ada sinar pelita, daun djendela kamar tampak terbuka. Tjepat ia melajang kepinggir djendela dan melongok kedalam kamar. Kebetulan ia melihat seorang wanita dalam keadaan terikat sedang ditelentangkan diatas randjang, dua laki2 jang punggungnja menggemblok golok sedang hendak berbuat tidak senonoh.

Tik Hun tidak kenal siapakah wanita itu, tapi terang wanita itu sangat ketakutan, wadjahnja putjat dan sedang me-ronta2 diatas randjang sambil ber-teriak2 minta tolong.

Tik Hun berdjiwa kesatria, meski ia sendiri dalam kesulitan, tapi melihat keselamatan orang lain terantjam, ia tidak dapat tinggal diam. Terus sadja ia melompat masuk kedalam kamar, kontan pedangnja menusuk salah seorang laki2 itu.

Namun laki2 itu tjukup gesit, tjepat ia berkelit, menjusul ia samber sebuah kursi disampingnja untuk menangkis. Disebelah sana laki2 jang lain sudah lantas lolos sendjata terus membatjok.

Tik Hun melihat kedua laki2 itu memakai kedok kain hitam, hanja sepasang mata mereka jang kelihatan. Segera ia membentak: “Bangsat, serahkan djiwamu!” Berbareng ia menusuk pula tiga kali be-runtun2.

Tanpa bersuara kedua laki2 itu menangkis dan balas menjerang. Tiba2 satu diantaranja berseru: “Lu-hiantit, mari pergi!”

“Ja, anggap keparat Ban Tjin-san itu masih untung, lain kali kita datang lagi menuntut balas,” sahut laki2 jang lain. Berbareng goloknja lantas membatjok pula keatas kepala Tik Hun.

Karena serangan itu tjukup ganas, terpaksa Tik Hun mengegos, kesempatan itu telah digunakan oleh laki2 jang satunja untuk mendepak medja hingga tatakan lilin diatas medja itu djatuh kelantai dan sirap, seketika kamar itu mendjadi gelap gelita. Menjusul mana kedua laki2 itu lantas melesat keluar melalui djendela, saat lain terdengarlah suara gemertakan, beberapa potong genting telah ditimpukan kedalam kamar.

Dalam kegelapan Tik Hun kurang tjeli, pula ilmu Ginkang bukan mendjadi kemahirannja, maka iapun tidak berani mengedjar. Ia pikir salah seorang tadi she Lu, tentu adalah begundalnja Lu Thong jang hendak membalas dendam, tapi mereka tidak tahu kalau Ban-supek sudah tewas.

Pada saat itu, tiba2 wanita diatas randjang itu mendjerit lagi: “Aduh, sakitnja, matilah aku, dadaku tertantjap belati!”

Tik Hun terkedjut, tjepat tanjanja: “He, apa kau telah ditikam maling itu?”

“Aduh, kena! Dadaku kena!” rintih wanita itu.

“Biar kunjalakan lilin untuk memeriksa lukamu,” udjar Tik Hun.

“O…….tolong! Tolonglah aku, lekas!” rintih pula siwanita.

Mendengar suara orang sangat menderita, segera Tik Hun mendekatinja.

Diluar dugaan, mendadak wanita itu terus merangkul erat2 tubuhnja Tik Hun sambil ber-teriak2: “Tolong, tolong! Ada maling! Tolong!”

Sungguh kedjut Tik Hun tak terkira. Sudah terang tadi ia melihat wanita itu terikat kaki-tangannja, mengapa sekarang dapat menjikapnja? Lekas2 ia hendak mendorong pergi orang, siapa tahu tenaga wanita itu ternjata tidak lemah, bahkan menjikap lebih kentjang hingga seketika Tik Hun susah melepaskan diri.

Tiba2 keadaan mendjadi terang, dari luar djendela menjelonong masuk dua obor hingga kamar itu terang-benderang. Berbareng suara beberapa orang sedang menanja: “Ada apa? Ada apa?”

“Tolong! Ada Djay-hoa-tjat (maling tjabul)! Tolong!” masih wanita itu ber-teriak2.

Tik Hun mendjadi gusar, serunja: “Ken…….kenapa kau sembarangan omong!”

Berbareng iapun men-dorong2 hendak melepaskan diri. Kalau tadi wanita itu menjikap kentjang2 pinggangnja Tik Hun, adalah sekarang ia malah menolak dorongan Tik Hun itu sambil berseru: “Djangan pegang2, djangan pegang2 aku!”

Dan selagi Tik Hun hendak berlari menjingkir, “njes” tahu2 tengkuknja terasa dingin, sebatang pedang telah mengantjam lehernja. Dan sedang Tik Hun hendak membela diri, se-konjong2 sinar putih berkelebat, ia merasa tangan kanan kesakitan, “trang” pedangnja sudah djatuh kelantai.

Waktu ia memandang kebawah, hampir2 ia djatuh kelengar. Ternjata kelima djari tangan kanannja telah dipapas orang hingga habis, darah memantjur keluar bagai mata air.

Waktu Tik Hun melirik, ia lihat Go Him berdiri disampingnja sambil menghunus pedang jang bernoda darah.

“Kau!” hanja ini sadja tertjetus dari mulutnja Tik Hun, berbareng kakinja terus mendepak.

Tapi mendadak punggungnja terasa digebuk orang sekali hingga ia ter-hujung2 dan djatuh menindih diatas badan wanita tadi.

Kembali wanita itu ber-teriak2 pula: “Aduh! Tolong! Tolong! Ada maling!”

“Ringkus bangsat ketjil ini!” terdengar Loh Kun berkata.

Tik Hun sudah nekad dan akan mengadu djiwa dengan mereka. Meski dia tjuma seorang anak desa jang tidak berpengalaman, tapi kini iapun insjaf dirinja telah terdjebak oleh tipu muslihat orang. Maka begitu melompat bangun, terus sadja Loh Kun hendak dirangsangnja. Tapi sekilas dilihatnja satu wadjah jang tjantik dan putjat. Itulah Djik Hong.

Tik Hun tertegun, ia lihat mimik wadjah Djik Hong penuh mengundjuk rasa duka, marah, dan hina pula. “Sumoay!” serunja.

Muka Djik Hong merah padam, sahutnja: “Ken……..kenapa kau berbuat begini?”

Meski rasa Tik Hun penuh penasaran, namun dalam saat demikian ia mendjadi tidak sanggup buka suara.

Maka menangislah Djik Hong, katanja pula sambil terguguk sedih: “Oh, le…….. lebih baik aku mati sadja!”

Dan demi nampak kelima djari tangan Tik Hun terkutung, ia ikut sedih. Tanpa pikir ia robek udjung badjunja dan mendekati sang Suheng untuk membalut lukanja.

Saking kesakitan, beberapa kali hampir2 Tik Hun pingsan, namun ia bertahan sekuat-kuatnja sambil mengertak gigi hingga bibir sendiri tergigit petjah.

“Siau-sunio (ibu guru ketjil), bangsat ini berani berbuat kurang adjar padamu, tentu kami akan tjintjang dia,” demikian kata Loh Kun kemudian.

Kiranja wanita itu adalah gundiknja Ban Tjin-san, namanja si Mirah. Dengan aksi ia menutupi mukanja sendiri sambil menangis pula: “O, matjam2 budjukan jang dia katakan padaku. Ia bilang gurumu su……..sudah mati dan suruh aku mengikut dia. Ia bilang ajahnja nona Djik telah membunuh orang hingga dia ikut tersangkut urusan. Ia mengatakan telah banjak mengumpulkan harta benda, sudah kaja-raja mendadak, aku diadjak ikut minggat……..”

Dalam keadaan bingung Tik Hun tidak sanggup lagi membela diri, ia tjuma bisa menggumam: “Bohong, bohong!”

“Hajo pergi menggeledah kamar bangsat ketjil ini!” teriak Tjiu Kin.

Maka be-ramai2 Tik Hun lantas digusur kekamarnja. Dengan bingung Djik Hong ikut djuga dari belakang. Sebaliknja Ban Ka lantas berkata: “Kalian djangan bikin susah Tik-suko, belum terang perkaranja, djangan sampai mempitenah orang baik2.”

“Huh, masakah perkaranja masih kurang djelas?” udjar Tjiu Kin dengan gusar.

“Apakah tadi engkau tidak mendengar dan menjaksikan sendiri?” kata Tjiu Kin.

“Ja, tapi boleh djadi karena dia terlalu banjak minum, dalam keadaan mabuk mendjadi silap,” sahut Ban Ka.

Datangnja kedjadian2 itu sangat tjepat hingga Djik Hong sudah tidak bisa berpikir pula. Diam2 ia sangat berterima kasih mendengar Ban Ka membela Tik Hun. Dengan pelahan iapun berkata padanja: “Ban-suko, memang Tik-suheng bukanlah orang sematjam itu.”

“Ja, makanja aku kira dia terlalu banjak minum, soal mentjuri tentu tak nanti diperbuatnja,” sahut Ban Ka.

Tengah bitjara, Tik Hun sudah digusur kedalam kamarnja. Sepasang mata Sim Sia berdjelilatan kian kemari, tiba2 ia mendekati tempat tidur, ia tarik keluar satu bungkusan jang antap dan bersuara gemerintjingnja logam.

Karuan Tik Hun bertambah kaget, ia lihat Sim Sia membuka bungkusan itu dan menuang keluar isinja. Ternjata semuanja adalah perkakas2 rumah tangga dari emas dan perak.

Kembali Djik Hong mendjerit sambil memegangi medja. Segera Ban Ka menghiburnja: “Djangan kuatir, Djik-sumoay, pelahan2 kita mentjari daja lain.”

Menjusul Pang Tan menjingkap kasur dan tertampak pula dua bungkusan lain, waktu dibuka, isinja adalah emas intan dan perhiasan permata.

Kini Djik Hong tidak ragu2 lagi, menjesalnja tidak kepalang, sungguh kalau bisa ia ingin membunuh diri sadja. Sedjak ketjil ia dibesarkan bersama Tik Hun, dalam pandangannja pemuda itu adalah tjalon suaminja kelak. Siapa duga kekasih jang sangat dihormat dan ditjintainja itu dikala dirinja sedang dirundung malang lantas akan minggat bersama wanita lain. Apa benar2 wanita jang genit ini telah berhasil menggodanja atau dia kuatir tersangkut perkaranja ajah, maka ingin melarikan diri? Demikian pikirnja.

Dalam pada itu Loh Kun telah memaki: “Bangsat, bukti2 sudah njata, apakah kau masih berani menjangkal?”

Berbareng itu, “plak-plok”, kontan ia tempiling Tik Hun dua kali.

Karena kedua tangannja dipegangi Sun Kin dan Go Him, Tik Hun tidak dapat menangkis, karuan pipinja terus merah abuh. Bahkan Loh Kun belum puas, kembali ia djotos sekali pula didadanja Tik Hun.

“Djangan, djangan memukulnja! Ada apa bisa dibitjarakan setjara baik2,” seru Djik Hong melerai.

“Mampuskan dulu bangsat ketjil ini baru diseret kepengadilan negeri,” seru Tjiu Kin. Berbareng iapun menghantam sekali. Tak tahan lagi Tik Hun menjemburkan darah. Segera Pang Tan pun madju dengan pedang terhunus, katanja: “Potong sekalian tangan kirinja, biar dia buntung!”

Terus sadja Sun Kin angkat lengan kiri Tik Hun dan Pang Tan ajun pedangnja hendak menabas. Saking kuatirnja sampai Djik Hong mendjerit sekali.

Maka berkatalah Ban Ka: “Sudahlah, djangan bikin susah dia lagi, biar kita serahkan dia kepada jang berwadjib sadja.”

Melihat Pang Tan sudah menarik kembali pedangnja, barulah Djik Hong merasa lega, dengan air mata ber-linang2 ia pandang sekedjap kepada Ban Ka dengan penuh rasa terima kasih.

**********

Sudah tentu didepan pembesar negeri djuga Tik Hun tak bisa memberi pengakuan jang memuaskan. Sama sekali tak tersangka olehnja bahwa sang Sumoay jang ditjintainja itupun pertjaja dirinja mendjadi maling dan bermaksud membawa minggat perempuan lain…………..

“Satu, dua, tiga, empat…………” begitulah rangketan petugas jang menghudjani bebokong Tik Hun. Walaupun rangketan itu sangat keras, namun kalau dibandingkan hatinja jang sakit waktu itu, rangketan itu boleh dikata tiada artinja, bahkan rasa sakit luka tangan kanannjapun takada artinja lagi.

“……..sepuluh……..limabelas…………duapuluh………” demikian Tik Hun terus dihudjani rangketan hingga kulit dagingnja melotjot sampai achirnja iapun tak sadarkan diri.

Ketika Tik Hun siuman didalam pendjara, ia merasa kepalanja sangat berat, ia tidak tahu dimana dirinja berada saat itu dan sudah lewat berapa lamanja. Pelahan2 ia merasakan kesakitan luka djari tangannja itu, kemudian merasakan punggung, paha dan bokong djuga kesakitan sekali. Ia ingin membalik tubuh supaja tempat jang kesakitan itu tidak tertindih dibawah, tapi mendadak pundaknja djuga kesakitan luar biasa, kembali ia djatuh pingsan.

Ketika untuk kedua kalinja ia siuman, pertama jang terdengar olehnja adalah suara rintihannja sendiri, menjusul terasalah kesakitan diantero tubuhnja. Ia tidak tahu mengapa pundaknja sedemikian sakitnja? Apakah disebabkan kedua pundaknja djuga dipapas orang? Sungguh ia tidak berani memandang lagi.

Mendadak ia mendengar suara gemerintjingnja benturan besi, waktu ia menunduk, ia lihat ada dua utas rantai mendjulur turun dari pundaknja sendiri. Karuan ia kaget dan takut. Ketika ia melirik kepundak, seketika gemetarlah tubuhnja. Dan karena gemetar, pundaknja mendjadi lebih kesakitan lagi. Kiranja kedua rantai itu telah menerobos “Pi-pe-kut” (tulang pundak) dipundaknja dan udjungnja digembok bersatu dengan rantai belenggu kaki dan tangannja.

Bahwa tulang pundak dilubangi, ia pernah mendengar tjerita gurunja, tjara itu katanja tjuma dilakukan oleh pembesar negeri terhadap pendjahat kaliber besar. Sekali Pi-pe-kut ditembus, sekalipun kepandaianmu setinggi langit djuga tak berguna lagi.

Sesaat itu timbul matjam2 pertanjaan dalam benaknja Tik Hun. “Kenapa aku diperlakukan begini? Aku terpitenah, apa pembesar negeri tak tahu?”

Ketika diperiksa Ti-koan (Bupati), pernah djuga ia menuturkan apa jang terdjadi sebenarnja. Akan tetapi ia kalah bukti dan saksi. Si Mirah, itu gundiknja Ban Tjin-san tegas2 menuduh dia bermaksud memperkosanja. Kedelapan muridnja Ban Tjin-san djuga menjatakan menemukan bukti2 harta tjuriannja dikamarnja Tik Hun. Opas2 kota Heng-tjiu djuga mengatakan tidak mungkin ada pendjahat jang berani menggerajangi keluarga Ban jang disegani itu.

Tik Hun masih ingat wadjah Tikoan itu tjukup welas-asih tampaknja, usianja kira2 setengah umur. Ia jakin tuan besar Tikoan itu tjuma sementara ini pertjaja pada aduan orang tapi achirnja pasti dapat menjelidiki duduk perkara jang sebenarnja. Akan tetapi kelima djari tangannja telah dipapas orang, kelak mana dapat menggunakan pedang lagi?

Begitulah dengan penuh rasa gusar, sesal dan sedih, tanpa hiraukan rasa sakit ia terus berbangkit dan ber-teriak2: “Penasaran! Penasaran!”

Tapi mendadak kakinja terasa lemas, ia terbanting djatuh lagi.

Watak Tik Hun memang sangat keras kepala, segera ia meronta hendak bangun pula. Tapi baru sadja berdiri, kembali kakinja lemas, lagi2 ia roboh telungkup.

Namun sambil me-rangkak2 ia masih ber-teriak2: “Aku tidak bersalah, aku tidak bersalah!”

“Hehe, otot tulangmu telah dirusak orang, kepandaianmu telah punah semua, he-he, modal jang kau tanam ini sungguh tidak ketjil!” demikian tiba2 suara seorang berkata dengan dingin dipodjok kamar pendjara itu.

Namun Tik Hun tidak gubris pada siapa jang berbitjara itu dan apa artinja kata2 itu, ia masih terus berteriak: “Aku tidak bersalah, aku tidak bersalah!”

Mendengar suara ribut itu, seorang sipir bui mendatanginja dan membentak: “Ada apa kau gembar-gembor, lekas tutup batjotmu!”

Tapi teriakan Tik Hun semakin keras: “Aku tidak bersalah!”

“Kau tutup mulut tidak?” bentak sipir bui itu dengan gusar.

Namun Tik Hun berteriak terlebih keras lagi. Sipir bui itu menjengir edjek sekali, ia putar pergi dan datang pula dengan membawa seember air. Dari luar rudji kamar bui itu, terus sadja ia siramkan air itu kebadan Tik Hun.

Seketika Tik Hun mengendus bau pesing, hendak menghindar sudah tak keburu lagi, karuan seluruh tubuhnja basah kujup. Kiranja air jang disiramkan sipir bui itu adalah air kentjing.

Air kentjing mengandung kadar garam, maka rasa sakit luka2 Tik Hun itu bertambah perih oleh karena tersiram air kentjing jang asin itu. Matanja mendjadi ber-kunang2 dan gelap, kembali ia pingsan lagi.

Tik Hun tak tahan lagi oleh siksaan itu, ia djatuh sakit panas, dalam keadaan tak sadar ia selalu mengigau memanggil Suhu dan Sumoay.

Ber-turut2 tiga hari ia sama sekali tidak makan nasi jang dihantarkan sipir bui.

Sampai hari keempat, panas badannja sudah mulai hilang. Luka2nja djuga sudah mulai kaku hingga tidak terlalu sakit seperti tempo hari.

Dan begitu ingat pada penasarannja, kembali ia berteriak: “Aku tidak bersalah!”

Tapi suaranja sekarang sudah terlalu lemah, ia tjuma bisa me-rintih2 sadja.

Setelah duduk sebentar dan agak tenang, ia tjoba memeriksa keadaan kamar bui jang terbuat dari batu itu, luasnja kira2 tiga meter persegi, lantainja batu, dindingnja djuga batu.

Dipodjok sana terdapat sebuah tong kotoran, bau jang tertjium olehnja adalah bau apek dan batjin melulu.

Waktu ia berpaling, ia lihat diudjung sana ada sepasang mata jang bengis sedang melotot kepadanja.

Ia terkedjut. Tak tersangka olehnja didalam bui itu masih ada seorang lain lagi. Ia lihat orang itu penuh berewok, rambutnja pandjang terurai sampai diatas pundak, badjunja tjompang-tjamping tak keruan hingga lebih mirip orang hutan. Ada djuga persamaannja dengan dirinja, jaitu kaki-tangan orang itupun diborgol, bahkan Pi-pe-kut dipundaknja djuga ditembusi dua utas rantai.

Melihat itu, perasaan jang per-tama2 timbul padanja adalah senang, sebab didunia ini ternjata masih ada seorang lagi jang tidaak beruntung dan senasib seperti dirinja. Tapi lantas pikirnja pula: “Orang ini begini bengis, tentu seorang pendjahat kaliber besar. Ia dihukum karena setimpal dengan dosanja, tapi aku dihukum tanpa salah. Tak dapat aku dipersamakan dia.”

Berpikir sampai disini, tanpa merasa air matanja terus bertjutjuran.

Waktu ia dirangket dan dipendjarakan, meski sudah banjak derita jang dirasakan, tapi selama itu ia mengertak gigi bertahan sebisanja dan tidak pernah meneteskan air mata. Tapi kini mendadak menangis, ia mendjadi tak tahan lagi, achirnja ia menangis ter-gerung2 dengan keras.

“Hm, permainanmu sungguh hidup benar, pandai sekali kau! Apa engkau bekas pemain sandiwara, ja?” edjek si hukuman berewok itu.

Namun Tik Hun tidak menggubrisnja, ia tetap menangis se-keras2nja. Maka terdengarlah suara sipir bui itu mendatangi lagi dengan membawa seember air kentjing pula.

Melihat itu, betapa pun Tik Hun kepala batu djuga sudah kapok, kuatir kalau disiram air kentjing lagi, terpaksa ia berhentikan tangisannja.

Tiba2 sipir itu mengamat-amatinja sedjenak, lalu katanja: “Badjingan tjilik, itulah ada orang datang mendjenguk kau!”

Girang tertjampur kedjut Tik Hun, tjepat tanjanja: “Sia……….siapa?”

Sipir itu memandangnja sedjenak pula, lalu mengeluarkan kuntji untuk membuka gembok pintu. Kemudian iapun keluar untuk membuka pintu besi diudjung lorong sana, ketika pintu besi diluar itu dikuntji lagi, maka terdengarlah suara tindakan tiga orang mendatangi.

Saking girangnja Tik Hun terus melompat bangun, tapi kakinja masih lemas, ia terguling pula, terpaksa bersandar didinding sambil memandang keluar. Karena bergeraknja itu, pundaknja mendjadi sangat kesakitan, tapi untuk sementara sudah dilupakan olehnja, sebab dia jakin orang jang datang itu tentu Suhu dan Sumoaynja.

Mendadak seruan “Suhu” jang diutjapkan separoh itu ditelannja kembali hingga mulutnja masih ternganga. Ternjata ketiga orang jang datang itu per-tama2 memang betul sipir bui itu, orang kedua djuga benar adalah sang Sumoay, Djik Hong, tapi orang ketiga ternjata seorang pemuda ganteng berdandan perlente, itulah Ban Ka adanja.

“Suko, Suko!” seru Djik Hong segera sambil menubruk kepinggir langkan besi.

Tik Hun mendekatinja, ia lihat pakaian gadis itu terdiri dari bahan sutera, terang bukan lagi badju baru jang dipakainja dari desa itu.

Karena itu ia melangkah mundur lagi. Ia lihat kedua mata sigadis merah bendul dan masih berseru: “Suko, Suko, kau……… kau………..”

“Dimana Suhu?” sela Tik Hun. “Apakah beliau sudah diketemukan?”

Djik Hong menggeleng kepala dan air matanja ber-linang2 tanpa mendjawab.

“Baikkah engkau? Tinggal dimana kau?” tanja Tik Hun pula.

“Aku tidak punja tempat meneduh, maka sementara tinggal di rumah Ban-suko……..”

“Tempat itu adalah tempat tjelaka, djangan engkau tinggal disana, le……..lekas pindah keluar!” seru Tik Hun.

Djik Hong menunduk, sahutnja dengan pelahan: “Tapi ke…….kemana aku harus pergi? Aku tidak punja uang pula. Ban-suko djuga sang………sangat baik padaku. Selama beberapa harini ia selalu……….selalu mendatangi kantor kabupaten, ia sudah banjak mengeluarkan uangnja untuk meno……..menolong engkau.”

Tik Hun semakin gusar, teriaknja: “Aku toh tidak bersalah, perlu apa dia membuang uang? Dan tjara bagaimana kita harus membajar kembali padanja kelak? Nanti kalau Tikoan Tay-loya sudah terang menjelidiki perkaraku, tentu aku akan dibebaskan.”

“O, ken…….kenapa engkau berbuat begitu? Mengapa hen……..hendak meninggalkan aku?” demikian tiba-tiba Djik Hong menangis pula setengah meratap.

Tik Hun tertjengang sedjenak, tapi segera iapun paham. Ternjata sampai sekarang sang Sumoay masih pertjaja dia telah perlip-perlipan dengan wanita lain serta mentjuri harta milik orang. Sesaat itu rasa sakit hatinja itu djauh lebih menderita daripada sakit segala siksaan badan. Rasanja be-ribu2 kata hendak didjelaskannja kepada Djik Hong, tapi toh seketjappun tak sanggup diutjapkannja se-akan2 mulutnja sudah tak berkuasa lagi.

Melihat sikap Tik Hun jang luar biasa itu, Djik Hong mendjadi takut, ia berpaling tidak berani memandangnja lagi.

Melihat sang Sumoay mendadak melengos, sungguh hantjur luluh hati Tik Hun. Ia sangka sigadis sudah sedemikian bentji dan dendam padanja karena ia telah main serong dengan wanita lain dan mentjuri milik orang.

“Oh, Sumoay, djika engkau sudah tidak mempertjajai diriku lagi, kenapa engkau datang pula mendjenguk aku?” demikian keluhnja dalam hati.

Maka ia tidak berani pandang sigadis pula, pelahan2 iapun berputar menghadap dinding.

Djik Hong menoleh pula, katanja: “Suko, apa jang sudah lalu, tak perlu kita bitjarakan lagi sekarang, jang kuharap semoga selekasnja dapat memperoleh beritanja ajah. Ban-suko djuga …..djuga akan berdaja untuk mendjamin kau keluar……..”

Sebenarnja hati Tik Hun ingin mengatakan tidak sudi didjamin dan ingin bilang engkau djangan tinggal dirumahnja, tapi meski mulutnja sudah terpentang, rasanja toh sangat berat mengeluarkan suara. Saking terguntjang perasaannja hingga badannja gemetar, rantai belenggunja ikut bersuara gemerintjing.

“Temponja sudah habis, lekas” desak sipir bui. “Disini adalah pendjara kusus untuk hukuman berat, sebenarnja dilarang orang mendjenguk, kalau diketahui atasan, tentu kami tjelaka. Nona, meski orang ini dapat keluar dengan hidup djuga bakal mendjadi tjatjad, maka lebih baik engkau melupakan dia sadja dan kawinlah dengan seorang pemuda jang ganteng lagi kaja!”

Habis berkata, ia pandang Ban Ka sekedjap dengan senjum berarti.

“Toasiok sebentar lagi,” mohon Djik Hong.

Lalu ia ulurkan tangannja untuk menarik badju Tik Hun, katanja pula: “Suko, djanganlah kau kuatir, aku pasti minta Ban-suko menolong keluar kau, lalu kita bersama akan pergi mentjari ajah.”

Ia angsurkan sebuah kerandjang ketjil kedalam kamar dan katanja: “Didalam kerandjang ada sedikit Siobak, ikan pindang, telur ajam dan ada lagi dua tahil uang perak. Suko………”

Sipir bui sudah tidak sabar lagi, bentaknja: “Nona, djangan omong terus, aku takbisa menunggu lagi!”

Dan baru sekarang Ban Ka ikut buka suara: “Tik-suheng, djagalah dirimu baik2, perkaramu adalah perkaraku. Siaute pasti akan berusaha sebisanja untuk minta keringanan pada Koan-thayya dan lain hari kami akan menengok kau lagi.”

Dalam pada itu sipir bui sedang men-desak2 lagi, terpaksa Djik Hong bertindak keluar sambil menoleh2 memandang Tik Hun, ia lihat pemuda itu menegak bagai patung, sedikitpun tidak bergerak dan tetap menghadap dinding.

Jang terllihat oleh Tik Hun waktu itu melulu dekat-dekuk dinding batu jang kasap itu, sungguh ia ingin menoleh dan ingin memanggil Sumoay, tapi mulutnja serasa gagu dan lehernja djuga se-akan2 kaku.

Ia dengar tindakan tiga orang semakin mendjauh, mendengar suara pintu besi dibuka dan ditutup kembali, lalu tindakan sipir bui jang berdjalan kembali.

Ia pikir: “Ia mengatakan akan mendjenguk aku lagi, apakah esok dia akan datang?”

Tik Hun merasa lapar djuga, segera ia hendak mengambil penganan dari kerandjang jang ditinggalkan Djik Hong itu. Tapi tiba2 sebuah tangan jang lebat dengan bulu2 hitam menjamber jang dipegangnja itu. Itulah dia sihukuman jang bengis itu. Setelah merebut penganan itu, terus sadja orang itu mentjomot sepotong daging dan diganjang dengan lahap.

“Itu milikku!” teriak Tik Hun terus hendak merebut kembali.

Tapi sekali perantaian itu mendorongnja, Tik Hun tak sanggup berdiri tegak lagi, ia djatuh terdjengkang hingga kepalanja membentur dinding batu.

Baru sekarang Tik Hun mendjadi djelas bahwa dirinja benar2 telah berubah seorang tjatjat sesudah Pi-pe-kut dipundak ditembus dan otot kaki dipotong orang……….

Besoknja Djik Hong tidak kelihatan, hari ketiga djuga tidak muntjul, begitu pula hari keempat dan selandjutnja. Se-hari2 Tik Hun ber-harap2 bisa melihat sang Sumoay lagi, tapi selalu ketjewa, dari ketjewa mendjadi putus asa.

Sampai belasan hari, Tik Hun benar2 seperti orang gila. Ia ber-teriak2 dan gembar-gembor, ia bentur2kan kepalanja kedinding hingga bendjut, tapi Djik Hong tetap tidak kundjung tiba, jang datang adalah siraman air kentjing sipir bui dan hadiah bogem mentah siperantaian jang ganas itu.

Selang setengah bulan lebih, pelahan2 Tik Hun mendjadi tenang, tapi sepatah katapun sekarang tak diutjapkan lagi.

Suatu malam, tiba2 datang empat petugas pendjara dengan membawa golok, mereka menjeret keluar siberewok jang ganas itu.

Diam2 Tik Hun pikir: “Apakah dia akan dihukum penggal kepala? Djika begitu malahan lebih baik baginja daripada tersiksa hidup didalam pendjara. Dan akupun takkan dianiaja lagi olehnja.”

Tengah malam, selagi Tik Hun tidur, tiba2 terdengar suara gemerintjingnja rantai, keempat petugas bui itu telah menggusur kembali siganas itu.

Dari sinar bulan jang menembus masuk melalui lankan besi Tik Hun dapat melihat muka, tangan dan pundak siberewok itu penuh darah, terang habis dihadjar orang hingga babak-belur.

Dan begitu merebah dilantai, siganas itu lantas tak sadarkan diri. Sesudah petugas2 pendjara pergi, Tik Hun tjoba mengamat-amati orang, ia lihat muka, lengan, kaki dan pundaknja penuh luka bekas tjambukan.

Dasar hati Tik Hun memang welas-asih, meski selama ini ia sendiri sering dihadjar orang itu, namun melihat keadaannja jang mengenaskan itu, ia mendjadi tidak tega. Ia menuang sedikit air dari kendi dan diminumkan padanja.

Pelahan2 perantaian itu siuman, dan ketika melihat Tik Hun, mendadak ia angkat belenggu tangannja dan mengepruk keatas kepala pemuda itu. Meski Tik Hun sudah kehilangan tenaga, tapi kegesitannja masih ada, tjepat ia mengegos. Diluar dugaan serangan perantaiannja itu tidak djadi dilontarkan terus, tapi ditengah djalan mendadak membiluk kesamping, lalu menghantam kepinggang Tik Hun. Inilah sematjam gaja serangan jang lihay dari ilmu silat.

Tanpa ampun lagi Tik Hun terpental djatuh, karena gesekan diantara rantai jang menembus tulang pundak dan belenggunja itu, Tik Hun sampai meringis kesakitan. Saking kedjut dan gusar ia terus memaki: “Orang gila!”

“Hm, kau memakai akal menjiksa diri, kau kira mudah mengelabui aku? Huh, djangan kau mimpi!” demikian djengek siganas itu sambil ter-bahak2.

Tik Hun merasa tulang iganja se-akan2 patah, saking sakitnja sampai takbisa bitjara. Selang agak lama barulah ia sanggup berkata: “Orang gila! Kau sendiri dalam pendjara, apanja jang kuatir diakali orang?”

Tiba2 perantaian itu melompat madju, ia depak punggung Tik Hun, menjusul menendang pula beberapa kali dibagian tubuh Tik Hun jang lain sambil membentak: “Kulihat usia kau bangsat ketjil ini masih muda, belum banjak kedjahatan jang kau lakukan dan tentu kau diperintah orang lain kesini, kalau tidak, hm, sekali tendang sudah kumampuskan engkau!”

Sungguh gusar Tik Hun tak terkatakan hingga lupa rasa sakit dibadannja. Ia pikir dipendjarakan dan disiksa tanpa bersalah sudah sangat penasaran, kini mesti dikurung lagi sekamar dengan seorang gila seperti ini, benar2 sial dangkalan.

*********

Ketika malam purnama bulan kedua tiba, perantaian ganas itu digiring keluar lagi oleh petugas pendjara, setelah dihadjar pula kemudian digusur kembali. Sekali ini Tik Hun sudah kapok, ia tidak peduli lagi biarpun luka perantaian itu sangat parah.

Siapa duga sikapnja inipun salah lagi. Karena habis dihadjar orang, amarah perantaian itu tak terlampiaskan, meski dalam keadaan babak-belur, kembali Tik Hun jang didjadikan sasaran pelampias gusarnja, ia menghantam dan menendang serabutan sambil mentjatji maki hingga djauh malam.

Begitulah maka selandjutnja tiap2 mendjelang malam purnama, tentu Tik Hun bermuram durdja, sebab ia tahu hari naas baginja pun sudah mendekat.

Dan memang benar djuga, setiap tanggal 15, jaitu di waktu bulan purnama, tentu perantaian itu diseret keluar untuk dihadjar, dan kembalinja lagi2 Tik Hun mendjadi giliran dihadjar olehnja. Untunglah usia Tik Hun masih muda, badan kuat tenaga besar, meski setiap bulan sekali menderita hadjaran, namun ia masih dapat bertahan.

Tjuma terkadang ia suka heran sendiri: “Tulang pundakku ditembusi rantai dan tenagaku lenjap semua. Sama halnja Pi-pe-kut orang gila inipun ditembus rantai, mengapa dia masih begini kuat?”

Beberapa kali Tik Hun bermaksud menanja, tapi asal mulutnja mengap sedikit sadja, segera ia dipersen pukulan dan tendangan oleh orang gila itu. Karena itu, selandjutnja seketjappun ia tidak adjak bitjara lagi padanja.

Dengan begitu beberapa bulan telah lalu dengan tjepat, musim dingin berganti musim semi, Tik Hun dipendjarakan sudah hampir setahun lamanja. Lambat laun Tik Hun mendjadi biasa oleh penghidupan dalam pendjara itu, rasa dendam dan gusar serta penderitaan badan baginja sudah kebal.

Selama itu, untuk menghindarkan aniaja perantaian gila itu, selalu ia tidak berani memandangnja. Asal djangan mengadjak bitjara dan sorot mata tidak kebentrok dengan pandangannja, ketjuali dimalam bulan purnama, di-hari2 biasa orang gila itupun tidak meng-utik2 padanja.

Suatu pagi, belum lagi Tik Hun mendusin, tiba2 ia terdjaga oleh suara men-tjit2nja burung lajang2 diluar kamar pendjara.

Teringat olehnja dimasa kanak2 ia suka mengintai tjara burung lajang2 membangun sarang. Se-konjong2 pilu hatinja, ia memandang kearah burung itu, ia lihat sepasang burung lajang2 itu sudah terbang mendjauh melajang lewat dibawah djendela sebuah loteng jang belasan meter tingginja.

Dalam isengnja sering Tik Hun memandangi gorden djendela dikedjauhan itu sambil men-duga2 siapakah gerangan orang jang tinggal dibalik djendela itu. Tapi djendela itu selalu tertutup, hanja didepan djendela itu setahun suntuk selalu terhias sebuah pot bunga, dimusim semi jang semarak itu bunga melati dipot bunga itu sedang mekar.

Tengah Tik Hun mengelamun, tiba2 didengarnja suara menghela napas sigila itu.

Hal ini benar2 sangat mengherankan Tik Hun.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: