Pedang Hati Suci (Jilid ke-4)

Selama setahun itu, orang gila itu kalau tidak tertawa keras, tentu mentjatji-maki orang, tapi selamanja tidak pernah mendengar dia menghela napas, apalagi diantara helaan napasnja itu kedengaran membawa rasa sedih dan lemah-lembut pula.

Tik Hun tjoba memandangnja, ia lihat sigila itu lagi ter-senjum2, wadjahnja memantulkan rasa melekat, tidak lagi matjam sigila jang bengis itu, dan pandangannja lagi menatap pot bunga melati itu. Kuatir kalau diketahui orang, lekas2 Tik Hun berpaling tak berani memandangnja lagi.

Sedjak mengetahui rahasia itu, setiap pagi Tik Hun tentu mengintip sikap sigila itu. Ia lihat sigila itu selalu memandangi pot bunga itu dengan rasa lemah-lembut, ia memandang terus meski bunga didalam pot itu sudah ber-ganti menurut musimnja.

Dalam setengah tahun berikutnja itu, mereka berdua hampir tidak pernah bitjara. Hadjaran dimalam purnama pun sudah merupakan atjara biasa bagi mereka. Tik Hun mengetahui asal dirinja tidak membuka suara, maka rasa gusar sigila itu akan agak reda, pukulan dan tendangannja pun lebih ringan. Tik Hun pikir kalau lewat beberapa tahun lagi tersekap dalam pendjara itu, mungkin tjara bagaimana harus bitjarapun akan terlupa semua olehnja.”

Dan meski sigila itu sangat kasar dan tidak kenal aturan, namun ada djuga paedahnja, jaitu petugas2 bui sangat takut padanja dan tidak berani sembarangan datang kekamar pendjara itu. Sigila itu benar2 seorang jang tidak gentar pada langit dan bumi, setiap orang dimakinja habis2an. Bila sipir bui mogok tak menghantar daharan padanja, sebagai gantinja ia lantas rebut bagiannja Tik Hun. Dan kalau ke-dua2nja tak diberi makanan, biarpun kelaparan beberapa hari djuga sigila itu anggap biasa.

Sampai tanggal 15 bulan sebelas tahun kedua ini, sesudah sigila itu kembali dihadjar, tiba2 ia sakit panas, dalam keadaan tak sadar ia mengigau tak keruan.

Sampai2 Tik Hun mendengar dia sering menjebut nama entah “Momo” atau “Maumau”.

Semula Tik Hun tidak berani mengutiknja, tapi sampai besok siangnja, ia dengar sigila me-rintih2 minta air.

Karena tidak tega, Tik Hun menuangkan air jang diminta dan diminumkan kepadanja sambil ber-djaga2 kalau bogem mentah sigila itu melajang pula. Baiknja sekali ini ia minum dengan lantjar, setelah menjebut lagi entah “Momo” atau “Maumau”, lalu ia tertidur. Malamnja, ternjata datang lagi keempat petugas bui dan menjeret keluar sigila untuk dihadjar pula. Kembalinja suara rintihan sigila itu sudah sangat lemah.

Terdengar salah seorang petugas bui itu membentak dengan gemas: “Kau kepala batu dan tidak mau mengaku, biarlah besok kami hadjar pula lebih hebat.”

Sudah dua tahun Tik Hun hidup sekamar dengan perantaian itu, meski selama itu ia kenjang dianiaja olehnja, namun iapun tidak ingin orang mati disiksa oleh petugas2 bui itu. Besoknja, ada beberapa kali Tik Hun minumkan air padanja, sigila itu meng-angguk2 tanda terima kasih.

Malamnja, benar djuga keempat petugas bui itu datang lagi. Tik Hun pikir kalau sekali ini sigila disiksa pula, tentu djiwanja akan melajang. Mendadak Tik Hun mendjadi nekad, ia melompat madju dan merintangi diambang pintu pendjara sambil membentak: “Dilarang kalian masuk!”

“Minggir, bangsat!” maki salah seorang petugas jang berbadan tinggi besar sambil melangkah masuk dan hendak mendorong Tik Hun.

Karena tak bertenaga, se-konjong2 Tik Hun menunduk terus menggigit hingga kedua djari telundjuk dan manis petugas itu berdarah dan hampir patah. Keruan petugas itu mendjerit kesakitan dan tjepat melompat keluar kamar pendjara. Saking gugupnja sampai golok petugas itupun djatuh kelantai.

Tjepat Tik Hun samber golok orang, menjusul ia membabat kian kemari tiga kali, meski dia tak bertenaga, namun mana berani petugas2 itu sembarangan madju? Pada lain saat, ketika seorang petugas jang gemuk ajun goloknja hendak menerdjang madju, tiba2 Tik Hun miringkan tubuh kesamping, dengan tjepat goloknja membatjok kekaki lawan, “tjrot”, tepat paha petugas itu kena dilukai.

Dengan ketakutan lekas2 petugas itu mendjatuhkan diri dan lari keluar. Dengan tekad bandjir darah dikamar pendjara itu, apalagi nampak Tik Hun mengamuk bagai banteng ketaton, keempat petugas bui itu mendjadi djeri dan tidak berani sembarangan madju lagi.

Mereka terus mentjatji-maki Tik Hun habis2an dengan segala matjam kata2 kotor. Tik Hun tidak menggubrisnja, bagai malaikat pendjaga pintu, ia djaga pintu kamar pendjara itu dengan kuat.

Ternjata keempat petugas bui itupun tidak pergi minta bala bantuan, melihat gelagat menjerbu kedalam takkan berhasil, akhirnja merekapun tinggal pergi. Ber-turut2 empat hari sipir bui sama sekali tidak kelihatan, tidak hantar nasi djuga tidak kasih air. Sampai hari kelima, rasa dahaga Tik Hun sudah tidak tahan, lebih2 sigila itu, bibirnja sampai petjah2 saking keringnja.

Tiba2 katanja: “Kau boleh pura2 hendak membatjok mati aku, tentu anak andjing itu akan segera membawakan air!”

Tik Hun tidak mengarti apa2an itu, tapi achirnja toh tiada djeleknja, boleh djuga ditjoba. Maka segera ia ber-teriak2: “Lekas kasih air, kalau tidak, biar kumampuskan dulu orang gila ini!”

Habis berkata, ia meng-gosok2 punggung goloknja dirudji besi pintu hingga mengeluarkan suara njaring mirip orang sedang mengasah sendjata. Eh, benar djuga sipir bui itu buru2 mendatangi sambil mem-bentak2: “Kau berani mengganggu seudjung rambutnja, segera kutikam seratus ribu kali ditubuhmu!”

Tapi kemudian ia lantas membawakan air minum dan nasi. Selesai Tik Hun menjuap sigila itu, kemudian ia menanja: “Sungguh aneh, mereka menjiksa engkau, tapi kuatir pula kalau aku membunuh engkau, apakah sebabnja ini?”

Mendadak sigila mendelik, ia angkat kendi wadah air dan mengepruk kepalanja Tik Hun sambil memaki: “Hm, kau pura2 mengambil hatiku, apa kau sangka aku mudah tertipu?”

“Prak”, kendi petjah dan djidat Tik Hun pun melotjot dan darah mengutjur.

Dengan bingung ia melompat mundur, pikirnja: “Penjakit gila orang ini angot lagi!”

Tapi sedjak itu, meski setiap malam purnama sigila itu masih tetap diseret keluar untuk dihadjar, namun kembalinja ia tidak membalas hadjar Tik Hun lagi.

Tjuma kedua orang tetap tidak pasang omong, bila Tik Hun banjak memandang padanja, tak terhindarlah dari pukulan2 sigila lagi……….

**********

Sampai musim dingin tahun ketiga, harapan keluar pendjara Tik Hun sudah lenjap. Meski dalam mimpi masih sering terbajang Suhu dan Sumoaynja, namun bajangan sang Suhu sudah mulai samar2, hanja bentuk tubuh Sumoay jang montok menggiurkan, raut mukanja jang manis dan matanja jang djeli, selalu masih terbajang olehnja dengan djelas.

Ia tidak berani mengharap lagi untuk keluar pendjara dan bertemu dengan sang Sumoay, namun setiap hari ia tidak lupa selalu berdoa semoga Sumoay akan datang mendjenguknja pula, untuk mana biarpun setiap hari ia akan dihadjar oleh sigila itu djuga rela. Namun Djik Hong tetap tidak pernah muntjul.

Tapi pada suatu hari telah datang seorang hendak menengoknja. Itulah seorang pemuda ganteng tjakap dengan badju sutera jang mentereng. Hampir Tik Hun tidak kenal pemuda itu.

Ia dengar pemuda itu lagi berkata dengan suara tertawa: “Tik-suheng, apakah engkau masih kenal padaku? Akulah Sim Sia adanja!”

Hati Tik Hun ber-debar2 keras, jang dia harap jalah dapat memperoleh sedikit kabarnja Djik Hong. Maka tjepat tanjanja: “Dimanakah Sumoayku?”

Sebelum mendjawab Sim Sia menjodorkan sebuah kerandjang ketjil dari luar lankan pendjara, lalu katanja dengan tertawa: “Ini adalah pemberian dari Ban-suso kami kepadamu. Orang masih belum melupakan perhubungan dimasa dulu, maka dihari bahagianja sengadja minta aku menghantarkan dua ekor ajam, empat potong Ti-tee (kaki babi) dan 16 iris kueku kepadamu.”

“Ban-suso (ipar perempuan) jang mana? Hari bahagia apa?” tanja Tik Hun dengan bingung.

“Ban-suso itu tak-lain-tak-bukan adalah nona Djik, Sumoaymu itu,” sahut Sim Sia sambil terbahak dengan mimik wadjah jang memuakkan. “Hari ini adalah hari pernikahannja dengan Ban-suko kami. Ia suruh aku menghantar ikan ajam dan kue-ku padamu, bukankah itu menandakan dia masih ingat pada kebaikanmu dahulu?”

Tubuh Tik Hun sempojongan, ia pegang kentjang2 lankan pendjara dan teriaknja dengan suara gemetar: “Kau ……kau mengatjo-belo! Sumoay……Sumoayku mana dapat menikah dengan orang she Ban itu?”

“Haha,” kembali Sim Sia tertawa. “Guruku dahulu telah ditikam oleh gurumu, beruntung beliau tidak djadi meninggal, lukanja telah dapat disembuhkan, maka apa jang terdjadi dahulu tak diusut lebih djauh. Sumoaymu tinggal dirumah kami, selama tiga tahun ini, wah alangkah mesranja, boleh djadi …….boleh djadi, haha, lain tahun tanggung akan melahirkan seorang orok jang gemuk dan mungil.”

Tiga tahun tidak berdjumpa, Sim Sia ternjata sudah meningkat dewasa, bitjaranja djuga bertambah bangor. Sesaat itu telinga Tik Hun se-akan2 mendenging, dan seperti mendengar ia sendiri sedang bertanja: “Dan dimanakah Suhuku?”

“Siapa tahu? Mungkin dia sangka telah membunuh orang, maka melarikan diri sedjauh mungkin, masakah dia masih berani pulang?” demikian seperti didengarnja Sim Sia mendjawab.

Dan seperti didengarnja pemuda itu berkata pula dengan tertawa: “Kata Ban-suso: Hendaklah kau lapangkan hatimu dan tinggal didalam pendjara, kelak kalau dia sudah punja beberapa anak, boleh djadi dia kan datang mendjenguk engkau.”

“Bohong kau! Bohong kau!” teriak Tik Hun mendadak dengan murka, berbareng ia lemparkan kerandjang penganan tadi hingga isinja berantakan memenuhi lantai.

Ia lihat diatas setiap potong kue-ku itu tertjetak huruf2 merah tanda selamat pernikahan keluarga Ban dan Djik. Hendak Tik Hun tidak pertjaja kepada omongan Sim Sia itu, namun bukti itu membuatnja mau-tak-mau harus pertjaja.

Dalam keadaan samar2 ia mendengar Sim Sia berkata lagi dengan tertawa: “Kata Ban-suso, sajang engkau tidak dapat hadir dalam upatjara pernikahannja……..”

Belum habis utjapannja, tiba2 kedua tangan Tik Hun jang terbelenggu itu mendjulur keluar lankan pendjara dan tahu2 leher Sim Sia tertjekek.

Dalam kagetnja Sim Sia terus me-ronta2 ingin melepaskan diri. Namun entah darimana datangnja tenaga Tik Hun, tjekekannja ternjata semakin kentjang.

Sim Sia ber-kaok2 minta tolong, wadjahnja dari merah mulai berubah gelap, suaranja mulai serak, kedua tangannja me-ronta2, tapi tetap takbisa melepaskan diri.

Mendengar suara ribut2 itu, datanglah sipir bui, tjepat ia pegang tubuh Sim Sia dan dibetot sekuatnja, dengan susah pajah, achirnja dapatlah djiwa Sim Sia diselamatkan dan buru2 ngatjir.

Tik Hun mendoprok kelantai dengan lemas. Dengan ketawa2 seperti putus lotre sipir bui sedang mendjemputi ikan ajam, kaki babi dan kue-ku jang berserakan itu. Namun Tik Hun hanja mendelik doang se-akan2 tidak melihatnja.

Tengah malam, Tik Hun melepaskan badjunja dan merobeknja dalam potongan ketjil2, ia djadikan seutas tambang jang pandjang, ia buat sebuah djiratan dan kedua udjung tambang diikatkannja diatas lankan pendjara, ia masukan leher sendiri kedalam djiratan itu.

Ia tidak merasakan sedih, djuga tidak merasakan gusar. Arti orang hidup baginja sudah tamat dan tjara inilah djalan paling tjepat untuk mengakhirinja. Ia merasa djiratan tali dileher semakin kentjang, napasnja djuga main lama makin tipis. Selang sebentar, segala apa tak diketahuinja lagi.

Tapi akhirnja ia dapat merasakan lagi pelahan2, ia merasa seperti ada sebuah tangan menahan didadanja, tangan itu mengendor dan mengentjang terus mengusap dadanja, hidungnja lantas dihembus pula hawa segar. Dan entah sudah berapa lamanja, pelahan2 barulah ia membuka matanja. Dan jang tertampak olehnja per-tama2 adalah sebuah wadjah jang penuh berewok sedang memandangnja dengan tertawa lebar.

Melihat muka siberewok gila itu. Tik Hun mendjadi sangat mendongkol. “Kurangadjar, selalu kau musuhi aku, sampai aku mentjari mati djuga kau menggangguku,” demikian pikirnja. Niatnja hendak bangun untuk adu djiwa dengan orang gila itu, tapi Tik Hun merasa badannja terlalu lemah, semangat ada, tenaga kurang!

Maka berkatalah sigila itu dengan tertawa: “Napasmu sudah putus hampir setengahan djam, kalau aku tidak menolong engkau dengan ilmu tunggalku, didunia ini tiada orang kedua lagi jang mampu menghidupkan kau kembali.”

“Siapa pingin ditolong oleh kau? Aku djusteru tidak ingin hidup lagi,” sahut Tik Hun dengan gusar.

“Tapi kalau aku melarang engkau mati, engkau lantas takkan mati,” udjar sigila itu dengan senang2. Tiba2 ia mepet kesamping Tik Hun dan membisikinja: “Ilmu tunggal ini namanja ‘Sin-tjiau-keng’, kau pernah dengar tidak?”

“Jang pasti aku hanja tahu kau punja Sin-keng-peh (penjakit otak miring), peduli apa kau Sin-tjiau-keng segala? Selamanja aku tidak pernah mendengar!” demikian sahut Tik Hun dengan marah2.

Aneh djuga, sekali ini digila itu ternjata tidak mengamuk pula, sebaliknja malah ber-njanji2 ketjil sambil tangannja kendor-kentjang mengusap dadanja Tik Hun mirip pompa angin jang menjalurkan hawa kedalam paru2 pemuda itu.

Lalu bisiknja pula: “Terhitung untung djuga kau ini. Sudah 12 tahun aku melatih ‘Sin-tjiau-keng’ dan baru berhasil menjelesaikan pada dua bulan jang lalu. Tjoba kalau sebelum dua bulan ini kau mentjari mati, tentu aku tak dapat menolong engkau.”

Tik Hun merasa sangat kesal, teringat olehnja Djik Hong sudah kawin pada Ban Ka dan tidak menggubris lagi padanja. Sungguh rasanja ia lebih suka mati sadja. Karena itu ia melototi sigila itu dan berkata dengan gemas: “Entah dalam djelmaan hidup jang lalu aku berbuat dosa apa padamu, makanja sekarang aku mesti kebentur orang djahat sebagai kau.”

“Aku sangat senang, adik tjilik, selama tiga tahun ini aku telah salah sangka padamu,” kata sigila itu dengan tertawa. “Maka terimalah permintaan maafku Ting Tian ini.”

Habis berkata, sigila itu terus berlutut kelantai dan mendjura tiga kali kepada Tik Hun.

“Orang gila!” kata Tik Hun sambil menghela napas dan tidak menggubriskan lagi.

Tapi tiba2 teringat olehnja sigila itu mengaku bernama Ting Tian. Selama tiga tahun meringkuk bersama dalam pendjara baru sekarang ia mengetahui namanja. Karena ketarik, ia tjoba menegas pula: “Siapa namamu?”

“Ting Tian, she Ting bernama Tian!” demikian sigila mengulangi. “Prasangkaku terlalu besar dan selalu pandang engkau sebagai orang djahat, selama tiga tahun ini benar2 aku telah banjak membikin susah padamu, sungguh aku merasa menjesal.”

Mendengar utjapan orang sangat teratur dan ramah tamah, sedikitpun tiada tanda2 orang miring otaknja, maka Tik Hun menanja lagi: “Sebenarnja engkau gila atau tidak?”

Ting Tian terdiam dengan muram, selang agak lama barulah ia menghela napas pandjang, lalu katanja: “Sebenarnja gila atau tidak, aku sendiri tak tahu. Jang kuharapkan adalah tenteramnja pikiran, tapi bagi penglihatan orang lain, mungkin aku dianggapnja berotak miring.”

Lewat sedjenak pula, kembali ia menghibur Tik Hun: “Adik tjilik, rasa penasaranmu aku sudah dapat meraba sebagian besar. Djikalau orang toh sudah tidak setia lagi padamu, buat apa engkau mesti memikirkan wanita itu? Seorang laki2 sedjati mengapa takut tidak bakal mendapat isteri? Apa sulitnja bila kelak engkau ingin mentjari seorang isteri jang ber-kali2 lebih baik daripada Sumoaymu itu?”

Mendengar uraian itu, rasa susah selama beberapa tahun tersekam dalam hati Tik Hun itu seketika meletuslah bagai air bah membandjir. Ia merasa pedih sekali, air matanja bertjutjuran, sampai akhirnja, ia terus menangis sambil djatuhkan diri dipangkuan Ting Tian.

Ting Tian merangkul pemuda itu sambil pelahan2 mengusap rambutnja, ia tahu sesudah menangis barulah rasa hati pemuda itu bisa berkurang dari kesedihan dan melenjapkan keinginnja mentjari mati.

Tiga hari kemudian, semangat Tik Hun sudah banjak pulih.

Ting Tian mulai banjak bertjakap dan bergurau bersama dia dengan suara lirih, terkadang iapun mentjeritakan kedjadian2 menarik di kalangan Kangouw untuk menghilangkan rasa kesal Tik Hun. Tapi bila sipir bui menghantarkan daharan, tetap Ting Tian bersikap galak terhadap Tik Hun dan mentjatji maki sebagaimana sebelumnja.

Seorang musuh jang tadinja selalu menjiksa kini mendadak berubah mendjadi seorang kawan karib, pabila perasaan Tik Hun tidak tertekan oleh karena soal Djik Hong menikah dengan orang lain, tentu penghidupan didalam pendjara sekarang boleh dikata merupakan sorga baginja kalau dibanding selama tiga tahun jang sudah lalu itu.

Pernah djuga Tik Hun menanja Ting Tian mengapa dahulu dirinja disangka orang djahat dan mengapa mendadak mengetahui hal jang sebenarnja.

Maka Ting Tian mendjawab: “Sebab kalau engkau benar2 orang djahat, pasti tidak menggantung diri mentjari mati. Aku telah membiarkan napasmu sudah putus hingga tubuhnu sudah hampir kaku, baru turun tangan menolong engkau. Didjagat ini ketjuali aku sendiri, tiada seorang lagi jang tahu bahwa aku sudah berhasil mejakinkan ilmu “Sin-tjiau-keng” jang hebat itu. Dan kalau aku tidak memiliki ilmu sakti itu, betapapun tak dapat menolong engkau. Oleh karena kau benar2 membunuh diri, dengan sendirinja bukanlah orang djahat jang hendak mengakali diriku sebagaimana kusangka semula”.

“Kau menjangka aku hendak mengakali engkau? Sebab apakah itu?” tanja Tik Hun heran.

Namun Ting Tian hanja tersenjum tanpa mendjawab Tik Hun, untuk kedua kalinja Tik Hun menanja lagi dan tetap tidak mendapat djawaban, maka iapun tidak menanja lebih djauh.

Setiap hari Ting Tian hanja memidjat dan mengurut Tik Hun, hingga kesehatan pemuda itu kembali dengan sangat tjepat.

Satu malam, dengan bisik2 Ting Tian berkata kepada Tik Hun: “Ilmu ‘Sin-tjiau-keng’ jang kumiliki ini adalah ilmu jang sangat bagus dan paling kuat Lwekangnja didunia ini. Biarlah mulai hari ini djuga aku mengadjarkan padamu, engkau harus mengingatnya dengan baik2.”

“Tidak, aku tak mau beladjar,” sahut Tik Hun menggeleng kepala.

Ting Tian mendjadi heran: “Kesempatan baik jang susah ditjari ini mengapa tak mau engkau gunakan?”

Kata Tik Hun: “Penghidupan seperti ini adalah lebih baik mati. Pula selama hidup kita rasanja djuga tiada harapan bisa keluar dari sini, biarpun memiliki ilmu silat setinggi langit djuga tiada gunanja.”

“Haha, ingin keluar pendjara, apa susahnja?” udjar Ting Tian dengan tertawa. “Marilah aku mulai mengadjarkan kuntji dasarnja kepadamu, kau harus mengingatnja baik2?”

Akan tetapi watak Tik Hun sangat kepala batu, keinginannja mentjari matipun belum lenjap, sekali bilang tidak mau beladjar, tetap ia tidak mau. Ketika Ting Tian menguraikan kuntji peladjarannja, Tik Hun terus menutup telinganja dan meringkuk tidur.

Sungguh geli dan dongkol pula Ting Tian, tapi tidak berdaja djuga, saking geregetannja ia mendjadi ingin menghadjar lagi pemuda itu seperti dulu.

Selang beberapa hari kemudian, malam bulan purnama sudah mendekati lagi. Perasaan Tik Hun kepada Tiang Tian sekarang sudah seperti sobat baik, maka diam2 ia berkuatir baginja.

Rupanja Ting Tian dapat menerka perasaan pemuda itu, katanja: “Tik-hiantit, setiap bulan aku akan disiksa seperti biasa, sekembalinja aku disini, akupun akan tetap membalas hadjar engkau, djangan sekali2 kita kelihatan bersahabat, sebab hal mana akan tidak menguntungkan kita berdua.”

“Sebab apakah?” tanja Tik Hun.

“Pabila mereka tjuriga engkau sudah mendjadi kawanku, pasti kau akan disiksa dengan tjara2 kedji untuk memaksa engkau menanjakan sesuatu rahasia padaku. Tapi kalau aku tetap memukul dan memaki engkau, tentu kau akan terhindar dari siksaan badan jang kedjam.”

“Benar,” sahut Tik Hun mengangguk. “Djika begitu penting perkaramu ini, djanganlah sekali2 engkau mengatakan padaku, sebab kalau aku kurang waspada hingga membotjorkan rahasiamu, kan malah akan membikin tjelaka padamu. Ting-toako, aku adalah seorang anak desa jang bodoh, pabila sampai aku membikin susah padamu karena ketololanku, bagaimana aku mempertanggung-djawabkannja padamu?”

“Mereka mengurung engkau bersama aku didalam sekamar, semula aku menjangka engkau dikirim mereka untuk mendjadi mata2, pura2 mengambil hatiku, lalu memantjing pengakuanku. Sebab itulah dahulu aku sangat gusar padamu dan banjak menjiksa engkau. Tapi kini aku sudah tahu engkau bukan mata2 mereka, namun sudah sekian tahun kau tetap dikurung bersama aku, maksud mereka terang masih mengharap engkau akan mendjadi mata2 dengan harapan mendapatkan kepertjajaanku dan aku akan mengaku kepadamu, habis itu mereka dapat menjiksa engkau agar mengaku apa jang kau dapat dengar dariku. Mereka insaf sulit melajani aku, tapi terhadap pemuda seperti engkau akan djauh lebih mudah.”

Malam tanggal 15, empat petugas bui bersendjata datang pula menggiring pergi Ting Tian. Tik Hun mendjadi tidak tenteram menantikan kembalinja.

Mendjelang fadjar, dengan babak-belur dan penuh darah Ting Tian digusur balik kependjara.

Sesudah keempat petugas itu pergi, dengan wadjah sungguh2 Ting Tian berkata dengan suara tertahan kepada Tik Hun: “Tik-hiantit, urusan harini runjam. Setjara kebetulan aku telah dikenali musuh.”

“Sebab apa?” tanja Tik Hun.

“Seperti biasa, setiap tanggal 15 aku pasti digusur pergi untuk dihadjar, hal ini sudah merupakan perkerdjaan dinas biasa bagi Tihu-taydjin,” demikian tutur Ting Tian. “Tapi harini kebetulan ada orang hendak melakukan pembunuhan kepada Tihu, melihat keselamatan pembesar itu terantjam, aku telah turun tangan menolongnja. Tjuma sajang aku terbelenggu hingga gerak-gerikku kurang bebas, maka diantara empat pembunuh gelap itu hanja tiga orang kutewaskan, sisa seorang lagi sempat melarikan diri, hal itu berarti suatu bibit bentjana bagiku.”

Tik Hun ter-heran2 oleh tjerita itu, tanjanja tjepat: “Sebenarnja untuk apa Tihu menghadjar dan menjiksa engkau? Tihu itu begitu kedjam padamu, ketika dia akan dibunuh orang, mengapa engkau malah menolongnja? Dan siapakah sisa pembunuh jang sempat lolos itu?”

Ting Tian menggeleng kepala, sahutnja sambil menghela napas: “Urusanku ini seketika djuga susah didjelaskan. Tik-hiantit, oleh karena ilmu silatmu kurang tinggi, selandjutnja menjaksikan kedjadian apa sadja, djangan sekali2 engkau turun tangan membantu aku.”

Tik Hun tidak mendjawab, tapi batinnja berkata: “Huh, masakah aku Tik Hun ini seorang manusia jang takut mati?”

Untuk beberapa hari selandjutnja selalu Ting Tian ter-menung2 sadja sambil memandangi pot bunga didjendela diatas loteng di kedjauhan itu. Terkadang wadjahnja menampilkan senjuman ketjil dan sepandjang hari ia tjuma menengadah sambil ter-mangu2.

Tengah malam tanggal 19, djadi tiga hari kemudian, tengah Tik Hun tidur njenjak, tiba2 ia terdjaga bangun oleh suara “krak-krak” dua kali. Dibawah sinar bulan jang terang Tik Hun melihat dua laki2 berpakaian singsat sedang mematahkan lankan kamar pendjara itu, sambil menghunus golok mereka terus menjerbu kedalam. Tapi Ting Tian bersikap atjuh-tak-atjuh sadja, ia berdiri bersandar dinding sambil ketawa dingin.

“Orang she Ting,” tiba2 salah satu laki2 jang berperawakan lebih pendek itu membentak: “Kami bersaudara sudah mendjeladjahi djagat ini untuk mentjari kau, sungguh tidak njana bahwa engkau djusteru mengkeret seperti kura2 bersembunji didalam pendjara sini. Tapi dasar adjalmu sudah sampai, achirnja dapat djuga kami menemukan engkau.”

Segera jang seorang lagi ikut bitjara: “Marilah kita bitjara setjara blak2an sadja, lekas kau keluarkan halaman kertas itu, kita bertiga membaginja sama-rata, dan kami bersaudara pasti takkan meretjoki engkau lagi.”

“Kertas apa?” sahun Ting Tian menggeleng kepala. “Barangnja tiada berada padaku. Sedjak 13 tahun jang lalu sudah ditjuri oleh Gian Tat-peng.”

Tik Hun terperandjat mendengar nama “Gian Tat-peng” itu. “Bukankah dia itu adalah aku punja Djisupek? Mengapa dia tersangkut dalam urusan mereka?” demikian pikirnja.

Sementara itu silelaki pendek telah membentak pula: “Kau sengadja main muslihat, hm, djangan harap dapat mengelabui kami. Mampuslah kau!” Habis berkata, terus sadja ia ajun goloknja dan menusuk ketenggorokan Ting Tian.

Namun Ting Tian tidak menghindar atau berkelit, ia membiarkan udjung golok orang sudah dekat, se-konjong2 ia mendak kebawah dan tahu2 melesa kesamping laki2 lain jang bertubuh lebih tinggi itu, sekali sikutnja bekerdja, tepat perut orang itu kena disikutnja.

Kontan sadja tanpa mendjengek sekalipun laki2 itu terus roboh terguling.

Dalam kaget dan gusarnja, laki2 pendek itu mendjadi nekat. “Ser-ser,” goloknja menabas dua kali dengan tjepat.

Namun sekali Ting Tian angkat kedua tangannja keatas, ia gunakan rantai belenggunja untuk menjampok sendjata lawan, berbareng setjepat kilat ia angkat lututnja dan tepat dengkulnja kena tumbuk diperut laki2 itu. Seperti nasib kawannja, laki2 pendek itu pun menggeletak mampus dengan muntah darah.

Melihat betapa perkasanja Ting Tian, hanja sekedjap sadja sudah membinasakan dua musuh, Tik Hun mendjadi terkesima malah. Meski ilmu silat Tik Hun sudah punah, tapi pandangannja tetap tadjam, ia tahu sekalipun ilmu silat sendiri tetap utuh seperti dulu dan bersendjata, namun djuga takkan mampu menandingi silelaki pendek tadi. Mengenai laki2 jang lebih djangkung itu, meski ilmu silatnja belum sempat dikeluarkan sudah keburu dibinasakan lebih dulu oleh Ting Tian, tapi mengingat dia datang bersama silelaki pendek, dapat ditaksir kepandaiannja tentu djuga tidak rendah. Namun demikian, dengan terbelenggu dan tulang pundak ditembus rantai toh Ting Tian dalam sekedjap dan sekali-dua gerakan sudah dapat membinasakan dua musuh, sungguh Tik Hun merasa tidak habis mengarti akan kepandaian Ting Tian itu.

Ia lihat Ting Tian melemparkan kedua majat itu keluar kamar pendjara, lalu duduk menjandar dinding terus tidur.

Dalam keadaan kamar pendjara jang sudah bobol itu, kalau Ting Tian dan Tik Hun mau melarikan diri sebenarnja terlalu mudah. Tapi aneh, Ting Tian diam sadja terus tidur. Tik Hun djuga merasa didunia luar sana belum tentu lebih baik daripada didalam pendjara itu.

Besok paginja, ketika sipir bui melihat kedua rangka majat itu, ia mendjadi kaget dan geger. Waktu Ting Tian ditanja, ia tjuma mendelik doang. Tanja Tik Hun, pemuda inipun pura2 tuli. Karena tidak memperoleh sesuatu keterangan apa2, terpaksa sipir bui menjeret pergi kedua majat itu.

Selang dua hari pula, malamnja Tik Hun terdjaga bangun pula oleh suara2 gemerisik jang aneh. Dibawah sinar bulan jang remang2 ia melihat kedua tangan Ting Tian terangkat lurus sedang beradu tangan dengan seorang Todjin. Telapak tangan kedua orang saling menempel dan keduanja sama2 berdiri tak bergerak. Sedjak kapan Todjin itu masuk kesitu dan tjara bagaimana mengadu tenaga dalam dengan Ting Tian, ternjata sama sekali Tik Hun tidak tahu.

Pernah Tik Hun mendengar dari Suhunja bahwa dalam pertandingan silat, mengadu tenaga dalam adalah jang paling berbahaja, bukan sadja tak mungkin menghindar atau berkelit, bahkan pasti akan terdjadi ketentuan mati atau hidup.

Tatkala itu sudah djauh malam, meski ada tjahaja bulan dan bintang, tapi sudah remang2 hingga ada jang kelihatan tjuma samar2. Tik Hun melihat Todjin itu melangkah setindak kedepan dengan lambat sekali, berbareng Ting Tian djuga mundur selangkah. Selang agak lama, kembali Todjin itu madju lagi setindak, begitu pula Ting Tian mundur lagi satu langkah.

Melihat Todjin itu terus mendesak madju dan Ting Tian terus mundur, terang Todjin itu sudah lebih unggul, diam2 Tik Hun merasa kuatir. Tanpa pikir lagi ia berlari madju, ia angkat belenggu tangannja terus mengepruk keatas kepala Todjin itu. Tapi belum lagi belenggu besi itu mengenai sasarannja, entah darimana datangnja, se-konjong2 menjambar tiba serangkum tenaga tak kelihatan dan menumbuk keras dibadan Tik Hun.

Karena tak menjangka, Tik Hun mendjadi ter-hujung2 dan terlempar pergi, “bluk”, ia tertumbuk didinding dan djatuh terduduk. Dengan tangannja menahan kelantai, maksud Tik Hun hendak berbangkit. Tapi dalam kegelapan tiba2 tangannja menjentuh sebuah mangkok wadah wedang, “prak”, mangkok itu petjah gempil tertahan oleh tangannja dan basah kujup oleh wedang jang tertjetjer. Tanpa pikir lagi Tik Hun terus samber mangkok itu, ia siramkan sisa wedang didalamnja kebelakang kepala si Todjin.

Tenaga dalam Todjin itu sebenarnja djauh bukan tandingan Ting Tian. Sebabnja Ting Tian mengadu tangan dengan Todjin itu jalah karena ia ingin mendjadjal “Sin-tjiau-keng” jang baru berhasil dijakinkan itu sampai betapa daja tempurnja, makanja Todjin itu dipakainja sebagai barang pertjobaan.

Sebenarnja tenaga Todjin itu sudah diperas oleh “Sin-tjiau-keng” hingga keadaannja sudah sangat pajah bagai pelita jang kehabisan minjak, tinggal saat padamnja sadja. Kini ditambah lagi disiram wedang oleh Tik Hun dari belakang, dalam kagetnja ia merasa tekanan tenaga Ting Tian semakin membandjir. Maka terdengarlah suara peletak-pelatok jang berulang2, tulang iganja, tulang lengan, tulang kaki dan lain2 se-akan2 patah semua ber-potong2. Dengan tjemas ia pandang Ting Tian dan berkata dengan suara ter-putus2 dan tak lampias: “Djadi….. djadi engkau sudah berhasil mejakinkan “Sin-tjiau-keng” jang hebat dan ….. dan itu ber ….. berarti engkau tiada ….. tiada tandingannja lagi di ….. didunia ini ……” bitjara sampai disini, mendadak tubuhnja melingkar bagai tjatjing terus roboh terbinasa.

Hati Tik Hun ber-debar2 menjaksikan itu, serunja: “Ting-toako kiranja ilmu “Sin-tjiau-keng” itu sedemikian ….. sedemikian lihaynja. Apa benar2 engkau tiada tandingannja lagi dunia itu?”

Namun dengan wadjah sungguh2 Ting Tian mendjawab: “Kalau bergebrak satu-lawan-satu, memang tjukup untuk mendjagoi Kangouw. Tapi kalau musuh main kerojok, mungkin seorang diri susah melawan orang banjak. Todjin djahat ini sudah tertekan oleh tenaga dalamku, tapi masih sanggup membuka suara, hal mana menandakan latihanku masih belum mentjapai tingkatan jang sempurna betul2. Tik-hiantit, dalam tiga hari ini pasti akan datang pula musuh jang benar2 tangguh. Untuk mana sudikah engkau membantu pakaku?”

Dengan penuh semangat Tik Hun terus mendjawab: “Tentu sadja aku akan membantu. Tjuma …….. tjuma ilmu silatku sudah punah semua, andaikan belum punah djuga kepandaianku jang dangkal ini tidak berguna untuk membantu engkau.”

Ting Tian tersenjum tanpa berkata, tiba2 ia melolos keluar sebilah golok dari bawah djerami jang merupakan kasurnja itu. Golok itu adalah tinggalan kedua laki2 jang dibinasakan oleh Ting Tian tempo hari itu. Lalu katanja: “Tik-hiantit, harap engkau mentjukur berewokku ini. Marilah kita bertipu muslihat sedikit.”

Tanpa pikir lagi Tik Hun terus sambuti golok itu dan mulai mentjukur kumis dan berewok Ting Tian.

Ternjata golok itu sangat tadjam melebihi pisau tjukur, maka dengan tjepat sadja berewok Ting Tian jang kaku bagai lidi itu telah rontok semua. Anehnja Ting Tian menadah semua berewok jang tertjukur itu ditangannja.

“Ting-toako,” kata Tik Hun dengan tertawa, “apa kau merasa berat mesti membuang djenggotmu jang sudah berkawan setia dengan engkau selama beberapa tahun ini?”

“Bukan begitu,” sahut Ting Tian. “Tapi maksudku, Tik-hiantit, aku ingin engkau menjaru sebagai diriku.”

“Menjaru sebagai engkau?” tanja Tik Hun heran.

“Ja,” sahut Tian. “Dalam waktu tiga harini pasti akan datang musuh2 jang lebih tangguh, mereka berlima takkan mampu melawan aku kalau satu-lawan-satu, tapi kalau mengerubut sekaligus, tentu kekuatan mereka mendjadi sangat lihay. Makanja aku ingin engkau menjaru sebagai diriku untuk memantjing mereka agar salah sangka, dan disaat mereka meleng, aku lantas menjerang diluar dugaan mereka, tentu mereka akan kelabakan dan tak mampu melawan.”

Dasar Tik Hun memang djudjur dan badjik, ia merasa rentjana Ting Tian itu kurang pantas, maka dengan ragu2 ia berkata: “Rasanja ren………. rentjanamu ini agak………. agak kurang djudjur.”

“Djujur? Hahahaha!” Ting Tian ter-gelak2. “Betapa kedji dan palsunja orang Kangouw, semuanja berlaku litjik dan menipu engkau, tapi engkau masih djudjur pada orang, bukankah berarti engkau mentjari mati sendiri?”

“Meskipun begitu, namun……….. namun……..”

“Namun apa?” sela Ting Tian sebelum Tik Hun melandjutkan. “Ingin kutanja padamu: Engkau adalah seorang baik2 tanpa berdosa sesuatu, tapi sebab apa engkau dipendjarakan selama tiga tahun disini dan selama ini tidak dapat mentjutji bersih pitenahan orang itu?”

“Ja, dalam hal ini memang……… memang aku merasa tidak mengarti sampai sekarang,” sahut Tik Hun.

“Dan siapakah jang mendjebloskan engkau kependjara ini? Sudah tentu perbuatan seseorang pula agar selamanja engkau tidak bisa keluar dari sini,” udjar Ting Tian dengan tersenjum.

“Memang sampai saat ini aku tetap tidak mengarti duduk perkaranja,” kata Tik Hun. “Gundik Ban Tjin-san si Mirah itu selamanja tidak kenal padaku, tidak bermusuhan dan tiada sakit hati, mengapa dia telah mempitenah diriku hingga namaku rusak dan hidupku merana oleh penderitaan2 didalam pendjara sini?”

“Tjara bagaimana engkau telah dipitenah mereka, tjoba tjeritakan padaku,” pinta Ting Tian.

Sembari mentjukur berewoknja, maka bertjeritalah Tik Hun sedjak dia ikut sang Suhu datang di Hengtjiu untuk memberi selamat ulang tahun kepada Ban Tjin-san, dimana dia telah mengatjirkan begal besar – Lu Thong. Kemudian dia telah ditantang dan dikerojok oleh murid2nja Ban Tjin-san, lalu apa jang didengarnja tentang pertengkaran sang guru dengan Supek hingga sesudah melukai Supek, sang Suhu lantas melarikan diri. Kemudian dilihatnja ada pendjahat hendak memperkosa gundiknja Ban Tjin-san dan dia telah turun tangan menolong, tapi malah dipitenah dan didjebloskan kedalam pendjara.

Begitulah Tik Hun mentjeritakan semua pengalamannja itu, hanja tentang pengemis tua telah mengadjar ilmu pedang padanja itu sengadja tak diuraikan. Pertama karena dia telah bersumpah pada pengemis tua itu bahwa rahasia pertemuan mereka pasti takkan dibotjorkan, kedua ia merasa urusan jang tidak penting itu djuga tida perlu ditjeritakan.

“Kruk, kruk”, sambil mentjeritakan pengalamannja, Tik Hun mentjukur berewok Ting Tian jang kaku bagai lidi itu dengan golok rampasan jang tadjam itu.

Dan sesudah Tik Hun bertjerita, berewok dimukanja Ting Tian djuga hampir tertjukur bersih.

“Ting-toako,” kata Tik Hun sambil menghela napas, “malapetaka jang menimpa diriku ini bukankan membikin aku sangat penasaran? Tentu disebabkan mereka dendam Suhuku telah membunuh Ban-supek, akan tetapi Ban-supek toh tidak djadi mati, kinipun sudah sembuh dari lukanja, sebaliknja aku sudah dipendjarakan selama beberapa tahun masih belum djuga dibebaskan. Apakah mereka sudah melupakan diriku? Rasanja toh tidak, buktinja tempo hari Sim-sute itu djuga datang menjambangi aku?”

Ting Tian diam sadja, dengan lagak lutju ia miringkan kepalanja untuk memandang Tik Hun dari sebelah sini kesebelah sana, lalu ia tertawa dingin.

“Ting-toako, apa jang kukatakan ini apakah ada jang salah?” tanja Tik Hun dengan bingung sambil garuk2 kepala sendiri.

“Benar, benar, semuanja benar, masakah ada jang salah?” djengek Ting Tian. “Djusteru kalau djalannja tidak begini, itulah baru salah.”

“Ap………… apa maksudmu, Ting-toako?” tanja Tik Hun semakin bingung.

“Begini! Seumpama ada seorang anak tolol telah membawa gadisnja jang tjantik kerumahku, aku mendjadi sir pada gadisnja, akan tetapi sigadis memang mentjintai sitolol itu. Agar aku bisa mengangkangi sitjantik, sudah tentu aku harus melenjapkan sitolol itu lebih dulu. Tjoba katakan, kalau kau, akal apa jang engkau gunakan?”

“Akal apa?” sahut Tik Hun agak linglung. Diam2 iapun merasa seram sendiri.

“Banjak djalannja,” kata Ting Tian. “Kalau menggunakan ratjun atau memakai sendjata untuk membunuh sitolol itu, boleh djadi sitjantik itu seorang wanita jang setia dan mungkin akan membunuh diri atau menuntut balas bagi sitolol, tentu urusan akan mendjadi runjam malah, maka djalan2 itu takbisa ditempuh. Maka kurasa djalan paling baik jalah seret sitolol itu dan didjebloskan kedalam pendjara. Untuk membikin sitjantik bentji pada sitolol, djalan pertama harus membikin se-akan2 sitolol itu telah mentjintai wanita lain; kedua, harus menundjukkan sitolol itu sebenarnja seorang jang djahat, suka mentjuri dan merampok, agar perbuatan2 demikian akan memuakan sitjantik.”

Tik Hun mendjadi gemetar oleh uraian Ting Tian itu, tanjanja dengan suara tak lantjar: “Apa jang kau……….. kau katakan ini apakah…….. apakah memang sengadja telah diatur oleh si …………. si Ban Ka itu?”

“Aku tidak menjaksikan sendiri, darimana aku tahu?” sahut Ting Tian tertawa. “Tapi Sumoaymu itu sangat aju, bukan?”

Pikiran Tik Hun mendjadi butek, ia hanja memanggut.

Lalu Ting Tian berkata pula: “Ehm, untuk mengambil hati sinona, dengan sendirinja aku harus kerdja keras, aku akan keluarkan uang untuk menjogok pembesar disini, kataku untuk menolong engkau agar lekas dibebaskan. Usahaku itu sengadja kuperlihatkan sendiri kepada sitjantik agar dia merasa berterima kasih padaku. Dan uang sogokku itu memang benar2 telah kuserahkan kepada pembesar disini dan petugas2 lain.”

“Dan sesudah membuang uang sebanjak itu, tentu akan berhasil sedikit bukan?” tanja Tik Hun.

“Sudah tentu, setan pun dojan duit, mengapa tak berhasil?” sahut Ting Tian.

“Habis, meng…………. mengapa aku masih tetap dikerangkeng disini dan belum dibebaskan?” tanja Tik Hun.

“Hahahaha!” tiba2 Ting Tian ber-bahak2. “Kau berbuat salah apa? Tuduhan jang mereka djatuhkan padamu paling2 djuga tjuma hendak memperkosa wanita dan mentjuri, toh bukan perbuatan masiat, djuga bukan membunuh orang. Dosamu apa hingga mesti dikurung sampai ber-tahun2 tanpa diputus perkaranja? Pula djuga tidak perlu tulang pundakmu ditembusi rantai segala? Dan ketahuilah, kesemuanja ini adalah hasil dari uang sogok itu. Ja, akal ini memang sangat bagus dan litjin, sinona tinggal dirumahku, tjintanja pada sitolol itu dengan sendirinja belum terlupakan, tetapi sesudah ditunggu setahun demu setahun, masakah achirnja sitjantik takkan menikah?”

“Trang,” mendadak Tik Hun membatjok goloknja kelantai. Serunja: “Ting-toako, djadi aku dikerangkeng selama ini, semuanja adalah perbuatan si Ban Ka itu?”

Ting Tian tidak mendjawab, tapi ia menengadah untuk memikir hingga agak lama, tiba2 ia berkata pula: “Ah, salah, salah, didalam muslihat it masih terdapat suatu kekurangan, salah, salah besar!”

“Masih kurang apa lagi?” kata Tik Hun dengan gusar. “Sumoayku achirnja djuga sudah mendjadi isterinja, dan aku, kalau tidak ditolong olehmu, sudah lama akupun menggantung diri, bukankah semuanja itu telah memenuhi tjita2nja?”

Namun Ting Tian terus mondar-mandir didalam kamar pendjara itu sambil geleng2 kepala, katanja: “Didalamnja masih terdapat satu kepintjangan besar. Mereka begitu litjik dan pintar mengatur, masakah tidak tahu?”

“Sebenarnja kepintjangan apa maksudmu?” tanja Tik Hun.

“Suhumu!” sahut Ting Tian tiba2. “Suhumu telah melarikan diri sehabis melukai Supehmu. Ngo-in-djiu Ban Tjin-san dari Heng-tjiu tjukup tenar didalam Bu-lim, tentang dia tjuma terluka dan tidak binasa, kabar ini dalam waktu singkat sadja tentu tersiar, seumpama Suhumu malu untuk mendjumpai Suhengnja lagi, paling tidak dia toh dapat mengirim orang untuk memapak Sumoaymu pulang kerumah? Dan bila Sumoaymu sudah pulang, bukankah antero tipu muslihat kedji Ban Ka itu akan bangkrut seluruhnja?”

“Benar, benar!” ber-ulang2 Tik Hun menggablok pahanja sendiri. Oleh karena tangannja dibelenggu, maka terbitlah suara gemerintjing dari rantai belenggunja itu. Sungguh tak tersangka olehnja bahwa seorang jang tampaknja kasar seperti Ting Tian itu ternjata tjara berpikirnja bisa begitu djauh dan teliti. Tik Hun mendjadi kagum tak terhingga.

“Dan sebab apa Suhumu tidak memapak pulang puterinja itu, didalam situlah pasti ada sesuatu jang mentjurigakan,” tutur Ting Tian pula dengan suara pelahan. “Kujakin sebelumnja Ban Ka dan komplotannja pasti djuga sudah dapat menduga akan hal ini, kegandjilan ini untuk sementara inipun aku merasa tidak mengerti.”

Begitulah Ting Tian terus memeras otak untuk memikirkan hal itu. Sebaliknja Tik Hun sama sekali tidak ambil pusing. Baru sekarang ia paham dimana letak persoalannja mengapa dirinja didjebloskan pendjara oleh orang. Ber-ulang2 ia ketok2 kepalanja sendiri sambil memaki dirinja sendiri terlalu tolol, urusan jang sederhana bagi orang lain itu ia sendiri djusteru tidak tahu sama sekali selama ber-tahun2.

Padahal harus dimaklumi djuga, sedjak ketjil Tik Hun hidup dipedesaan jang suasana masjarakatnja sederhana dan djudjur, ia tidak kenal betapa litjik dan kedjamnja orang Kangouw. Sebaliknja Ting Tian biasa berterobosan ditengah rimba sendjata, banjak pengalaman dan pahit-getir jang telah dirasakannja, dengan sendiri ia lantas tahu duduknja perkara begitu mendengar tjeritanja Tik Hun. Hal itu bukan soal pintar atau bodoh seseorang, tapi karena perbedaan pengalaman hidup kedua orang itu selisih terlalu djauh. Begitulah sesudah Tik Hun mengomel dan memaki dirinja sendiri, ketika dilihatnja Ting Tian masih terus memeras otak, ia lantas berkata: “Sudahlah, Ting-toako, tidak perlu kau memikirnja lagi. Suhuku adalah seorang desa jang djudjur, tentu saking takutnja sehabis melukai Ban-supek, ia telah lari djauh2 entah kemana, maka ia tidak mendengar berita masih hidupnja Ban-supek itu.”

“Apa katamu? Suhumu hanja seorang desa jang djudjur?” Ting Tian menegas dengan mata membelalak heran. “Sehabis membunuh orang dia bisa ketakutan dan melarikan diri?”

“Ja, memang Suhuku benar2 seorang jang sangat djudjur,” sahut Tik Hun. “Ban-supek mempitenah dia mentjuri sesuatu Kiam-boh (kitab ilmu pedang) apa dari Thaysuhu (kakek guru), dalam gusarnja ia mendjadi kalap hingga melukai Supek, padahal hatinja benar2 sangat baik.”

Ting Tian hanja mendengus sekali sadja dan tidak berkata pula, ia duduk kepodjok kamar sana sambil pelahan2 bernjanji ketjil.

“Sebab apa engkau mendengus?” tanja Tik Hun heran.

“Tidak apa2,” sahut Ting Tian.

“Tentu ada sebabnja, Ting-toako, haraplah engkau suka bitjara terus terang sadja,” pinta Tik Hun.

“Baiklah,” kata Ting Hun achirnja, “Tjoba terangkan dulu, siapakah djulukan gurumu itu?”

“Ehm, dia berdjuluk ‘Tiat-so-heng-kang’,” sahut Tik Hun.

“Apa maksudnja djulukan itu?” tanja Ting Tian.

Tik Hun mendjadi gelagapan, maklum kurang makan sekolahan. Tapi djawabnja djuga kemudian: “Aku tidak paham arti daripada kata2 sastra tinggi itu. Tapi dugaanku mungkin maksudnja menggambarkan ilmu silat beliau sangat hebat, mahir dalam hal bertahan, musuh sekali2 tak mampu membobol pertahanannja.”

“Hahahaha!” Ting Tian terbahak. “Tik-hiantit, engkau sendirilah sebenarnja jang terlalu djudjur dan polos. Tiat-so-heng-kang (rantai besi melintang disungai), supaya orang takbisa turun djuga tak dapat naik, bagi tokoh kalangan Bu-lim angkatan lebih tua siapa orangnja jang tidak tahu arti daripada djulukan itu? Gurumu itu djusteru pintar dan tjerdik, lihaynja tidak kepalang, pabila ada orang menjakiti hatinja, pasti dia akan memeras otak mentjari akal untuk membalasnja, supaja orang serba sulit, turun tak bisa, naik tak dapat, djadi ter-katung2 seperti sebuah kapal jang mengoleng2 ditengah sungai oleh pusaran air. Djika kau tidak pertjaja utjapanku ini, kelak kalau kau sudah keluar pendjara, boleh kau tjoba mentjari tahu betul tidak ramalanku ini.”

Namun Tik Hun masih tidak pertjaja, pikirnja: “Sedangkan Kiam-hoat jang diadjarkan Suhu padaku djuga banjak jang salah. Sebenarnja djurus: ‘seekor burung terbang dari lautan tidak sudi menghinggap di-rawa2’, tapi dia telah salah mengartikan: ‘ada bandjir orang ber-teriak2, ketemu rintangan tidak berani lewat’, dan lain2 djurus lagi. Ja, maklumlah, memangnja dia djuga tidak banjak bersekolah, mana dapat dikatakan dia sangat pintar dan tjerdik!” ~ maka katanja segera: “Tapi suhu benar2 seorang djudjur, seorang petani jang dangkal sekolahnja.”

“Mana bisa?” sahut Ting Tian dengan gegetun. “Ia djusteru sangat tinggi sekolahnja dan banjak kepandaiannja, ia sabar dan pendiam, tentu ada maksud2 tertentu. Tapi mengapa sampai muridnja sendiri djuga dibohongi, inilah susah dimengerti orang luar. Sudahlah, djangan kita membitjarakan urusan ini sadja, marilah, biar kutempelkan berewokku ini kedjanggutmu!”

Habis berkata, Ting Tian angkat golok membatjok kemajat siTodjin. Karena belum lama matinja Todjin djahat itu, maka darahnja masih segar dan terus mengutjur keluar dari luka batjokan itu. Ting Tian mentjelup setjomot demi setjomot bulu berewoknja sendiri jang tertjukur tadi untuk ditempelkan didjanggutnja Tik Hun dan kedua belah pipinja.

Sebenarnja Tik Hun mendjadi muak dan ngeri ketika mentjium bau anjirnja darah, tapi demi mengingat betapa akal kedjinja Ban Ka, betapa maksud tertentu sang guru jang tak diketahui orang itu serta masih banjak lagi hal2 jang tak diketahuinja, ia merasa tempat jang paling aman didunia ini sebenarnja adalah didalam pendjara malah.

Dengan Ting Tian bahwa didalam tiga hari pasti akan kedatangan musuh tangguh, ternjata baru saing hari kedua, didalam pendjara itu sudah ber-turut2 didjebloskan pula pesakitan2 baru jang beraneka matjam orangnja, ada jang tinggi, ada jang pendek, ada jang kurus, ada jang gemuk, tua, muda, semuanja ada. Tapi sekali melihat bentuk mereka segera orang akan tahu bahwa pesakitan2 baru itu pastilah tokoh2 Kangouw, kalau bukan golongan bandit, tentu adalah pimpinan sesuatu gerombolan.

Melihat djumlah orang jang dimasukan kekamar pendjara tu semakin banjak, diam2 Tik Hun mulai kuatir. Ia tahu orang2 ini pasti musuh2 jang hendak mentjari Ting Tian. Bahkan bukan tjuma lima musuh tangguh seperti kata Ting Tian itu, tapi sekaligus telah datang 17 orang hingga kamar pendjara itu ber-djubel2, sampai merebahpun susah, terpaksa semua orang tjuma berduduk sadja sambil berpeluk dengkul.

Sebaliknja Ting Tian tetap berbaring dipodjok kamar itu sambil menghadap dinding, ia tidak ambil pusing terhadap dinding, ia tidak ambil pusing terhadap orang2 itu.

Pesakitan2 itu tiada hentinja bergembar-gembor, bertjanda dan ber-olok2, hanja sebentar sadja sudah ada jang bertengkar segala.

Dari suara2 mereka itu Tik Hun dapat mengetahui bahwa ke-17 orang itu ternjata terdiri dari tiga golongan dan sama2 lagi mengintjar sesuatu benda mestika apa.

Ketika tanpa sengadja sinar mata Tik Hun kebentrok dengan sorot mata orang2 jang bengis itu, ia mendjadi kaget dan tjepat berpaling kearah lain. Pikirnja: “Aku telah menjaru sebagai Ting-toako, tapi ilmu silatku sudah punah semua, kalau sebentar mesti bergebrak, bagaimana aku harus bertindak? Betapapun tingginja ilmu silat Ting-toako rasanja djuga tidak sanggup sekaligus membinasakan orang2 sebanjak ini.”

Lambat-laun haripun sudah gelap. Tiba2 seorang laki2 jang bertubuh tegap berteriak: “Marilah kita bitjara terang2an sebelumnja, sasaran pokok ini nanti harus mendjadi milik Tong-ting-pang kami, pabila ada jang tidak terima, hajolah lekas kita tentukan dengan kepandaian masing2, agar nanti tidak perlu banjak rewel lagi.”

Rupanja orang Tong-ting-pang jang ikut datang disitu ada sembilan orang, 9 daripada 17 orang, itu berarti lebih dari separoh, dengan sendirinja kekuatannja djauh lebih kuat.

Segera seorang setengah umur dan rambut sudah ubanan menanggapi dengan suaranja jang bantji: “Diputuskan dengan kepandaian masing2, itu bagus! Hajolah apa kita mesti main kerubut didalam sini atau bertarung dipelataran luar situ?”

“Dipelataran djuga boleh, siapa jang djeri padamu?” sahut laki2 tegap itu.

Habis berkata, segera ia pegang dua rudji lankan besi terus dipentang sekuatnja, kontan sadja djadilah sebuah lubang jang tjukup dibuat keluar-masuk orang dengan bebas. Tenaga orang itu kuat mementang besi hingga bengkok, betapa hebat Gwakangnja dapatlah dibajangkan.

Advertisements

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: