Pedang Hati Suci (Jilid ke-5)

Dan selagi laki2 itu hendak menerobos keluar melalui lubang rudji besi jang telah melengkung itu, se-konjong2 sesosok bajangan berkelebat, seorang telah mengadang ditempat lubang itu. Itulah dia Ting Tian adanja.

Tanpa berkata lagi Ting Tian terus djamberet dada orang itu. Aneh djuga, perawakan laki2 itu sebenarnja lebih tinggi satu kepala daripada Ting Tian, tapi sekali kena dipegang olehnja, seketika lemas lunglai takbisa berkutik. Terus sadja Ting Tian djedjalkan tubuh laki2 itu keluar kamar pendjara dan dilemparkan kepelataran. Laki2 itu tjuma meringkuk sadja ditanah tanpa bergerak sedikit, terang sudah binasa.

Melihat kedjadian jang luar biasa itu, semua orang jang berada didalam pendjara itu mendjadi kesima ketakutan. Menjusul Ting Tian mentjengkeram lagi seorang terus dilemparkan pula keluar. Begitulah ia terus menjambar dan melempar hingga seluruhnja telah tudjuh orang terlempar keluar. Setiap orang jang kena dipegang olehnja itu semuanja mati seketika tanpa bersuara sedikitpun.

Sisa 10 orang jang lain mendjadi lebih ketakutan lagi, tiga diantaranja mengkeret kepodjok dinding, sebaliknja tudjuh orang lainnja mendjadi nekat. Berbareng mereka mengerubut madju dan menjerang serabutan kepada Ting Tian. Namun sama sekali Ting Tian tidak berkelit djuga tidak menangkis, ia tetap ulur tangannja menjambar dan sekali tangannja bekerdja pasti ada seorang jang kena dipegangnja dan setiap orang jang terpegang itu pasti mati seketika. Tentang dimana letaknja kematian mereka tiada seorangpun jang djelas.

Habis ketudjuh orang itupun terbinasa semua, tiba2 ketiga orang jang meringkuk ketakutan dipodjok itu lantas berlutut minta ampun. Namun Ting Tian anggap sepi sadja, kembali ia mentjengkeram dan melemparkan mereka keluar.

Saking kesima menjaksikan Ting Tian mengamuk itu, Tik Hun sampai terkesiap melongo seperti orang mimpi.

Habis itu, Ting Tian tepuk2 kedua tangannja dan tertawa dingin: “Huh, tjuma begini sadja kepandaian mereka djuga berani datang kesini hendak mengintjar Soh-sim-kiam-hoat!”

Tik Hun melengak mendengar “Soh-sim-kiam-hoat” disinggung. Tanjanja segera: “Apa katamu, Ting-toako, Soh-sim-kiam-hoat?”

Ting Tian seperti menjesal telah ketelandjur omong, tapi iapun tidak ingin membohongi Tik Hun, maka ia tjuma tertawa dingin beberapa kali tanpa mendjawab.

Sungguh selama hidup Tik Hun belum pernah menjaksikan orang setangkas Ting Tian, hanja sekedjap sadja 17 orang jang tegap kuat itu sudah menggeletak semua mendjadi majat. Dengan gegetun ia berkata kepada Ting Tian: “Ting-toako, kepandaian apakah jang engkau gunakan hingga begitu lihay? Apakah orang ini semuanja pantas digandjar kematian?”

“Pantas digandjar kematian rasanja djuga tidak semuanja,” sahut Ting Tian. “Jang terang orang2 ini tidak bermaksud baik kepadaku. Pabila aku belum berhasil mejakinkan ‘Sin-tjiau-keng’ hingga kena ditawan oleh mereka malah, pastilah susah dibajangkan siksaan apa jang akan kuderita.”

Tik Hun tahu apa jang dikatakan Ting Tian itu bukanlah omong-kosong, katanja pula: “Sekenanja engkau memegang mereka, seketika mereka terbinasa ditanganmu, sungguh ilmu kepandaian ini mendengar sadja aku belum pernah. Pabila kutjeritakan kepada Sumoay, tentu diapun takkan pertjaja……” ~ teringat kepada sang Sumoay, hatinja mendjadi pilu dan dadanja se-akan2 kena dipukul orang sekali.

Namun Ting Tian tidak mentertawainja, bahkan ia menghela napas pandjang dan menggumam sendiri: “Padahal, sekalipun sudah berhasil mejakinkan imu silat maha tinggi djuga belum tentu segala tjita2 orang dapat tertjapai……..”

Belum habis utjapannja, tiba2 Tik Hun bersuara heran dan menuding kearah serangka majat dipelataran sana.

“Ada apa?” tanja Ting Tian.

“Orang itu belum mati sama sekali, kakinja barusan tampak bergerak,” kata Tik Hun.

Sungguh kedjut Ting Tian bukan kepalang, serunja: “Apa benar?” ~ bahkan suaranja sampai gemetar.

“Ja, barusan aku melihat kakinja bergerak dua kali,” sahut Tik Hun sambil memikir djuga: “Seorang jang terluka parah dan tidak lantas mati, mengapa mesti dikuatirkan, masakan masih mampu berbangkit untuk bertempur?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Sin-tjiau-kang jang sudah berhasil dijakinkan Ting Tian itu, siapa sadja asal kena ditjengkeram olehnja, seketika orang itu akan binasa. Kini kalau ada musuh jang ditjengkeram dan ternjata tidak mati, hal itu menandakan ilmu saktinja itu masih ada kekurangannja.

Begitulah karena itu, Ting Tian mendjadi heran dan tjemas, segera ia menerobos keluar dari lubang lankan itu untuk memeriksa orang jang masih bisa bergerak itu.

Diluar dugaan, tiba2 terdengarlah suara mentjitjit dua kali, dua sendjata gelap jang sangat ketjil telah menjambar kearah mukanja. Namun Ting Tian sudah ber-djaga2 sebelumnja, tjepat sekali ia mendongak kebelakang hingga dua batang panah ketjil menjambar lewat dimukanja, bahkan hidungnja mengendus bau amis jang busuk, terang diatas panah2 ketjil itu terdapat ratjun djahat.

Dan begitu membidikan panahnja, orang itu terus melesat keatas emper rumah. Melihat Ginkang orang itu sangat hebat, sebaliknja dirinja sendiri terbelengu, gerak-gerik kurang leluasa, untuk mengedjar belum tentu mampu mentjandaknja, terpaksa Ting Tian menjamber serangka majat sekenanja terus ditimpukan kearah pelarian itu.

Timpukan Ting Tian itu sangat keras dan tjepat, “bluk”, tepat sekali kepala majat itu menumbuk dipinggang sipelarian selagi orang itu baru sadja sebelah kakinja mengindjak emper rumah. Kontan sadja ia terdjungkal kembali kebawah, segera Ting Tian memburu kesana dan mentjengkeram tengkuknja untuk diseret kembali kedalam kamar pendjara, ketika diperiksa napasnja, sekali ini orang itu benar2 sudah putus njawanja.

Ting Tian buang majat itu, ia berduduk dilantai dan bertopang dagu untuk memikirkan: “Sebab apakah tjengkeramanku tadi tidak membinasakan orang itu? Apakah ilmu jang kulatih itu masih ada sesuatu jang kurang sempurna?”

Tapi sampai lama sekali tetap ia tidak memperoleh sesuatu gagasan jang tepat. Saking mendongkol, kembali tangannja mentjengkeram pula kedada majat disampingnja itu. Mendadak ia merasakan ada sesuatu tenaga jang lunak tapi ulet telah mementalkan kembali djarinja. Ting Tian terkedjut tertjampur girang, serunja: “Ja, ja, tahulah aku sekarang!”

Tjepat ia terus mempelototi pakaian majat itu, maka terlihatlah dibadan majat itu memakai sebuah badju kutang jang berwarna hitam gilap. Maka Ting Tian berkata pula: “Pantas sadja, sampai aku dibikin terkedjut sekali!”

Tik Hun heran, tanjanja: “Ada apakah, Ting-toako?”

Ting Tian tidak mendjawab, ia melutjuti pakaian majat itu dan mentjopot badju kutang didalamnja itu, habis itu ia lemparkan majat itu keluar kamar pendjara, lalu katanja kepada Tik Hun dengan tertawa: “Tik-hiantit, ini, pakailah badju ini.”

Tik Hun dapat menduga badju kutang warna hitam itu pasti barang mestika, maka sahutnja: “Badju ini adalah milik Toako, aku tidak berani mengambilnja.”

“Djadi kalau bukan milikmu, lantas kau tidak sudi?” tanja Ting Tian dengan nada agak keras.

Tik Hun terkesiap, kuatir orang mendjadi marah, segera sahutnja: “Tapi kalau Toako mengharuskan aku memakainja, biarlah aku memakainja.”

“Kutanja padamu: Djika bukan milikmu, engkau mau tidak?” tanja Ting Tian dengan sungguh2.

“Ketjuali kalau sipemilik berkeras memberikannja kepadaku, terpaksa aku menerimanja, bila tidak……….. bila tidak, karena bukan milikku, dengan sendirinja aku tidak mau,” sahut Tik Hun. “Sebab kalau sembarangan mengambil milik orang, bukankah perbuatan itu mirip perampok dan pentjuri?” ~ Berkata lebih landjut, sikapnja mendjadi penuh semangat, sambungnja: “Ting-toako, engkau tahu bahwa sebabnja aku didjebloskan kedalam pendjara ini adalah karena dipitenah orang. Selama hidupku sutji bersih, selamanja aku tidak pernah berbuat sesuatu kedjahatan.”

Ting Tian meng-angguk2, katanja: “Ja, bagus, bagus! Tidak pertjumalah aku mempunjai seorang kawan seperti engkau. Nah, pakailah badju ini dibagian dalam.”

Tik Hun tidak enak untuk menolaknja, terpaksa ia membuka badju luarnja dan memakai badju kutang hitam itu dibagian dalam, lalu dirangkap pula dengan badju luarnja sendiri jang berbau apek lantaran sudah tiga tahun tidak pernah ditjutji.

Karena tangannja terbelenggu, dengan sendirinja sulitlah untuk berpakaian. Tapi berkat bantuan Ting Tian jang merobek dulu lengan badjunja jang lama itu, badju kutang hitam itu mendjadi tidak susahlah untuk dipakainja.

Selesai membantu memakaikan badju kutang itu, kemudian Ting Tian berkata: “Tik-hiantit, badju ini adalah badju mestika jang kebal sendjata, jaitu dibuat dari sutera ulat hitam jang tjuma terdapat di Tay-swat-san. Terang keparat itu adalah tokoh penting dari Swat-san-pay, makanja dia memakai badju kutang Oh-djan-kah pusaka ini. Hahahaha, dia mengintjar mestika kesini, tak tahunja malah mengantarkan mestikanja.”

Mendengar badju hitam itu adalah badju mestika, tjepat Tik Hun berkata: “Toako, musuhmu sangat banjak, seharusnja badju ini engkau pakai sendiri untuk melindungi badanmu. Pula setiap tanggal 15………….”

Namun Ting Tian lantas gojang2 tangannja, katanja: “Aku mempunjai ilmu pelindung badan Sin-tjiau-kang, tidak membutuhkan ‘Oh-djan-kah’ ini. Tentang siksaan setiap tanggal 15, ha, memang aku sukarela menerimanja, kalau mesti memakai badju pusaka ini malah akan menundjukan ketidak tulusnja hatiku. Tjuma sedikit penderitaan kulit-daging sadja kenapa mesti dipikirkan, toh tidak sampai merusak otot-tulang.”

Tik Hun ter-heran2 oleh djawaban itu. Selagi ia ingin tanja, tiba2 Ting Tian berkata pula: “Meski aku minta engkau menjaru sebagai aku jang penuh berewok, tapi aku masih kuatir tidak sempurna melindungi engkau dari samping. Namun sekarang sudahlah baik, engkau sudah pakai badju pusaka, aku tidak kuatir lagi. Marilah mulai sekarang djuga aku akan mengadjarkan kuntji dasar Lwekang padamu, harap engkau beladjar baik2.”

Dahulu bila Ting Tian hendak mengadjarkan ilmu kepandaiannja kepada Tik Hun, dalam keadaan putus asa, pemuda itu berkeras tidak mau beladjar silat apa2 lagi. Tapi kini sesudah tahu seluk-beluk dirinja sendiri telah dipitenah orang, seketika tekadnja ingin membalas dendam itu ber-kobar2 didalam dadanja, sungguh kalau bisa detik itu djuga ia ingin terus keluar pendjara untuk membikin perhitungan dengan si Ban Ka. Dengan mata kepala sendiri Tik Hun telah menjaksikan Ting Tian membinasakan djago2 silat sebanjak itu dengan begitu mudah, ia pikir asal dirinja mampu beladjar 3 atau 4 bagian dari kepandaian Ting-toako itu sudahlah tjukup untuk melolos dari pendjara dan membalas sakit hati.

Saking kusut pikirannja waktu itu, Tik Hun mendjadi se-akan2 tersumbat mulutnja, ia berdiri termangu dengan muka merah membara dan darah bergolak.

Ting Tian menjangka pemuda itu tetap tidak ingin beladjar Lwekang jang akan diadjarkan olehnja itu, selagi dia hendak memberi nasehat lebih djauh, tiba2 Tik Hun terus berlutut kehadapannja sambil menangis ter-gerung2, katanja: “Ting-toako, baiklah engkau mengadjarkan kepandaianmu padaku, aku akan menuntut balas, aku pasti akan membalas sakit hatiku!”

Maka ter-bahak2lah Ting Tian hingga suaranja menggetarkan atap rumah, katanja: “Hendak membalas dalam, apa susahnja?”

Dan sesudah perasaan Tik Hun tenang kembali, barulah Ting Tian mulai mengadjarkan pengantar ilmu Lwekang jang hebat itu.

Tik Hun sangat giat beladjar, sekali diberi petundjuk, segera ia melatihnja tanpa mengenal tjapek.

Melihat ketekunan pemuda itu, Ting Tian mendjadi geli, katanja dengan tertawa: “Untuk mejakinkan Sin-tjiau-keng jang tiada tandingannja itu masakan kau sangka begitu gampang? Aku sendiri kebetulan ada djodoh serta dasar Lwekangku memang sudah kuat, makanja dapat mejakinkannja dalam 12 tahun. Orang beladjar memang perlu giat, Tik-hiantit, tapi terlalu tjepat mendjadi djelek malah, maka harus madju setindak-demi-setindak dengan teratur. Hendaklah tjamkan utjapanku ini.”

Walaupun sebegitu djauh Tik Hun masih memanggil “Toako” kepada Ting Tian, tapi dalam hatinja kini sebenarnja sudah menganggapnja sebagai “Suhu”, apa jang dikatakannja pasti diturutnja. Tapi rasa dendam dalam hatinja bergolak bagai ombak mendampar, mana dapat suruh dia tenang begitu sadja?

Besok paginja kembali geger pula ketika petugas2 bui melihat ke-17 rangka majat dipelataran pendjara itu, segera hal itu dilaporkan kepada atasannja dan baru sore harinja majat2 itu digotong pergi. Ting Tian dan Tik Hun mengaku bahwa orang2 itu saling bunuh-membunuh sendiri, sipir bui pertjaja penuh pengakuan itu karena mereka berdua tetap terbelenggu kaki dan tangannja, tidak mungkin orang terbelenggu dapat membunuh 17 orang sekaligus.

Petangnja, kembali Tik Hun melatih diri menurut adjaran Ting Tian. Pengantar dasar “Sin-tjiau-kang” itu ternjata sangat mudah, tapi makin lama mendjadi makin sulit. Meski Tik Hun bukan anak pintar, tapi djuga tidak terlalu bodoh. Setelah melatih satu-dua djam, lambat-laun perutnja sudah merasa ada reaksi. Sedang tegang perasaannja, mendadak dada dan punggungnja berbareng se-akan2 kena dihantam sekali dengan sangat keras.

Begitu keras kedua hantaman dari muka dan belakang itu hingga mirip gentjetan dua batang godam besi, seketika Tik Hun merasa matanja ber-kunang2 dan napas sesak, hampir2 ia djatuh kelenger.

Setelah rasa sakitnja agak reda, waktu ia mementang matanja, ia lihat dikanan-kirinja sudah berdiri seorang Hwesio, waktu menoleh, ternjata dibelakangnja dan disamping djuga terdapat pula tiga Hwesio lain, djadi seluruhnja lima Hwesio telah mengepungnja di-tengah2.

Diam2 Tik Hun membatin: “Ja, inilah lima musuh tangguh jang dimaksudkan Ting-toako itu, aku harus bertahan sekuatnja, djangan sampai penjamaranku diketahui.”

Segera iapun ter-bahak2 dan berkata: “Hahahaha, kelima Tay-su ini memangnja ada kepentingan apa mentjari aku orang she Ting?”

Tengah Tik Hun merasakan perutnja mulai timbul reaksi dari latihan Lweekang “Sin-tjiau-kang” jang sakti itu, se-konjong2 terasa dada dan punggungnja dihantam dari muka dan belakang dengan sangat keras. Begitu hebat hantaman itu hingga matanja ber-kunang2, dadanja sesak dan hampir2 semaput. Waktu sakitnja sudah mereda dan membuka mata, Tik Hun melihat lima Hwesio sudah mengelilingi dirinja.

Hwesio sebelah kiri itu lantas mendjawab: “Dimana Soh-sim-kiam-boh itu, lekas serahkan! He, kau……….. kau…………….”

Belum selesai utjapannja, tiba2 Hwesio itu sempojongan dan hampir2 terdjatuh. Menjusul Hwesio kedua djuga memuntahkan darah segar. Keruan Tik Hun sangat heran, ia tjoba memandang kearah Ting Tian dipodjok sana, tertampak Ting Tian sedang melontarkan pukulannja dari djauh, pukulannja itu tanpa suara tanpa wudjut, tapi Hwesio ketiga lantas mendjerit djuga dan terpental menumbuk dinding.

Kedua Hwesio jang lain tjukup tjerdik, tjepat merekapun menurutkan arah pandangan Tik Hun dan dapat melihat Ting Tian jang meringkuk dipodjok kamar jang gelap itu, berbareng mereka mendjerit kaget: “He, Sin-tjiau-kang! Bu-eng-sin-kun!”

Segera Hwesio jang bertubuh paling tinggi diantaranja lantas menjeret kedua kawannja jang terluka tadi dan berlari keluar melalui lubang lankan. Sedang Hwesio satunja lagi terus merangkul kawannja jang muntah darah, berbareng tangannja membalik menghantam kearah Ting Tian jang saat itu telah berbangkit dan sedang melontarkan pukulannja jang sakti dan tanpa wudjut itu.

Karena beradunja pukulan, Hwesio itu lantas tergetar mundur setindak, menjusul pukulan kedua orang saling bentur lagi dan dia mundur pula setindak, sampai pukulan ketiga, Hwesio itupun sudah mundur sampai diluar lankan besi.

Ting Tian tidak mengedjarnja, maka Hwesio itu tampak mulai ter-hujung2, tjuma beberapa langkah ia sanggup bergerak, habis itu tangannja lantas lemas hingga Hwesio jang dirangkulnja itu terdjatuh ketanah, lalu maksudnja seperti ingin melarikan diri sendiri, tapi setiap tindak, kakinja terasa semakin berat bagai diganduli benda beribu kati. Sesudah melangkah 6 atau 7 tindak dengan susah pajah, achirnja ia tidak tahan lagi, ia terbanting ketanah dan tidak pernah berbangkit pula.

“Sajang, sajang!” udjar Ting Tian. “Kalau engkau tidak memandang kearahku, pasti ketiga Hwesio itu takkan dapat melarikan diri.”

Melihat kedua Hwesio itu sangat mengerikan matinja, Tik Hun mendjadi tidak tega, pikirnja: “Biarlah ketiga Hwesio jang lain itu lari, sesungguhnja orang jang dibunuh Ting-toako djuga sudah terlalu banjak.”

Melihat Tik Hun diam sadja, Ting Tian menanja pula: “Kau anggap tjara turun tanganku terlalu kedjam bukan?”

“Aku………. aku……….” mendadak Tik Hun merasa tenggorokannja se-akan2 tersumbat, ia djatuh mendoprok kelantai dan tidak sanggup berkata lagi.

Tjepat Ting Tian mengurut dada Tik Hun untuk mendjalankan pernapasannja, setelah diurut agak lama, barulah rasa sesak didada pemuda itu terasa longgar.

“Kau anggap aku terlalu kedjam, tapi begitu datang mereka lantas menghantam engkau dari muka dan belakang, pabila badanmu tidak memakai badju kutang pusaka, mungkin djiwamu sekarang sudah melajang,” demikian kata Ting Tian kemudian. “Ai, hal ini adalah salahku sendiri terlalu gegabah dan tidak menduga bahwa begitu datang mereka terus menjerang. Aku tjuma menduga mereka pasti akan menanja dulu padaku. Ja, tahulah aku, sesungguhnja mereka djuga sangat djeri padaku, maka maksud mereka aku hendak dihantam hingga luka parah, habis itu barulah aku akan dipaksa mengaku.”

Ia mengusap bersih berewok dimukanja Tik Hun, lalu berkata pula dengan tertawa: “Sisa ketiga keledai gundul itu sudah petjah njalinja, pasti mereka tidak berani datang meretjoki kita lagi.” ~ Kemudian dengan sungguh2 ia berkata: “Tik-hiantit, Hwesio jang paling tinggi itu bernama Po-siang dan jang gemuk itu bergelar Sian-yong. Jang pertama kali kena dipukul roboh itu paling lihay, namanja Seng-te. Kelima Hwesio itu berdjuluk ‘Bit-tjong-ngo-hiong’ (lima djago dari sekte Bit-tjong), ilmu silat mereka sangat tinggi, bila aku tidak menjergap mereka dari samping, belum tentu aku mampu melawan mereka. Kelak bila engkau ketemukan mereka di Kang-ouw, engkau harus hati2. Ja, tapi Ngo-hiong kini sudah tinggal Sam-hiong, untuk melajani mereka mendjadi djauh lebih gampang.”

Oleh karena tadi Ting Tian banjak mengeluarkan tenaga murninja untuk menjerang musuh2 tangguh itu, untuk mana ia perlu bersemadi hingga belasan hari barulah tenaganja pulih kembali.

Sang waktu lewat setjepat anak panah, tanpa berasa dua tahun sudah lalu pula. Selama itu keadaan aman tenteram, terkadang ada djuga satu-dua orang Kangouw jang bikin rusuh kekamar pendjara situ, tapi asal sekali ditjengkeram atau dipegang Ting Tian, dalam sekedjap sadja djiwa mereka lantas melajang.

***********

Selama beberapa bulan paling achir ini Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu se-akan2 matjet, ia bertambah giat melatihnja, tapi ternjata tiada kemadjuan apa2, rasanja masih tetap seperti beberapa bulan jang lalu. Biar otak Tik Hun kurang tadjam, namun dia mempunjai kemauan jang keras, ia tahu ilmu sakti jang tiada tandingannja didjagat itu tidak mungkin berhasil dilatihnja setjara mudah, maka ia melatihnja lebih tekun dan lebih sabar agar pada suatu waktu tjita2nja pasti akan tertjapai.

Pagi hari itu, sedang Tik Hun mendjalankan napas sambil berbaring seperti apa jang dilakukannja setiap bangun pagi, tiba-tiba didengarnja Ting Tian bersuara heran sekali, nadanja kedengaran rada kuatir pula. Selang sedjenak, terdengar ia menggumam sendiri: “Hari ini agaknja tidak sampai laju, boleh djuga diganti besok pagi.”

Tik Hun heran, ia menoleh dan melihat Ting Tian sedang ter-mangu2 memandang djauh kepada pot bunga jang berada diambang djendela diatas loteng sana.

Sedjak Tik Hun mulai melatih Sin-tjiau-kang, indera penglihatan dan pendengarannja telah banjak lebih tadjam. Maka begitu memandang segera ia melihat diantara tiga tangkai bunga mawar kuning jang mekar dipot bunga itu, satu diantaranja telah rontok satu sajap daun bunganja. Sudah biasa ia melihat Ting Tian ter-mangu2 memandangi bunga jang mekar dipot itu selama beberapa tahun itu, ia pikir mungkin karena terlalu kesal terkurung didalam pendjara, hanja bunga jang elok dipot bunga itu dapat sekadar menghibur hati Ting Tian nan lara.

Namun djuga diperhatikan oleh Tik Hun bahwa bunga jang tumbuh dipot itu selalu mekar dengan segar dan senantiasa berganti, tidak sampai laju sudah diganti bunga lain djenis lagi. Dimusim semi adalah bunga melati, musim rontok berganti bunga mawar dan begitu seterusnja, pendek kata siang-malam pasti ada satu pot bunga jang segar tertaruh diambang djendela itu.

Tik Hun ingat ketiga tangkai mawar itu sudah mekar dipot bunga itu selama enam atau tudjuh hari, biasanja selama itu pasti sudah diganti bunga jang lebih segar, tapi sekali ini ternjata tidak pernah diganti.

Hari itu dari pagi sampai malam Ting Tian tampak sangat kesal dan djengkel. Sampai esok paginja, bunga mawar dipot itu masih tetap belum diganti, sedangkan daun bunganja sudah hampir habis rontok tertiup angin. Lapat2 Tik Hun merasakan firasat jang kurang baik, ketika melihat pikiran Ting Tian semakin tidak tenteram, ia lantas berkata: “Sekali ini orang itu telah lupa mengganti bunganja, mungkin sore nanti dia akan menggantinja.”

“Manabisa lupa?” seru Ting Tian. “Pasti tidak, pasti tidak lupa! Ja, apa barangkali ia………. ia sakit? Tapi seumpamanja sakit, toh dia dapat suruhan orang mengganti bunga itu!”

Begitulah Ting Tian terus berdjalan mondar-mandir dikamar pendjara itu dengan wadjah jang muram dan perasaan tidak tenteram.

Tik Hun tidak berani banjak menanja, terpaksa ia duduk bersila untuk memusatkan pikiran dan melatih diri.

Petangnja tiba2 turun hudjan rintjik2, tertiup angin, kembali daun bunga mawar itu rontok beberapa sajap pula. Selama beberapa djam itu Ting Tian terus memandangi bunga itu tanpa berkesip. Setiap daun bunga itu rontok, rasanja se-akan2 menjajat hatinja.

Tik Hun tidak tahan lagi, segera ia menanja: “Ting-toako, sebab apakah engkau tidak tenteram?”

“Peduli apa?” bentak Ting Tian dengan gusar. “Tidak perlu usil!”

Sedjak dia mengadjarkan ilmu silat kepada Tik Hun, belum pernah dia bersikap sekasar itu. Tik Hun mendjadi menjesal telah bertanja, maksudnja hendak berkata sesuatu pula untuk memberi pendjelasan, tapi demi nampak wadjah Ting Tian pe-lahan2 mengundjuk rasa pedih dan sangat berduka, ia urung buka suara pula.

Malam itu sedetikpun Ting Tian tidak pernah mengaso, Tik Hun mendengar dia mondar-mandir terus, rantai belenggunja tiada hentinja mengeluarkan suara gemerintjing, karena itu Tik Hun ikut tidak bisa tidur.

Esok paginja, angin meniup sajup2, hudjan masih rintjik2, dibawah tjuatja jang remang2 itu tertampak ketiga tangkai bunga mawar dipot bunga sana sudah rontok semua, tinggal ranting bunganja jang gundul se-akan2 menggigil kedinginan didampar angin dan air hudjan.

“Sudah meninggal? Sudah meninggal? Benarkah engkau sudah meninggal?” tiba2 Ting Tian ber-teriak2, ia pegang lankan besi dan di-gojang2kan terus.

Saking tak tega, Tik Hun berkata pula: “Toako, pabila kau kuatir kepada seseorang, marilah kita pergi mendjenguknja.”

“Mendjenguk apa?” teriak Ting Tian mendadak. “Kalau dapat pergi, sudah lama aku telah pergi, buat apa mesti menderita dalam pendjara berbau batjin ini?”

Karena tidak tahu seluk-beluknja perkara, Tik Hun hanja membelalak bingung, terpaksa ia bungkam sadja.

Sehari penuh hingga malam Ting Tian terus mendekap kepalanja sambil duduk termenung2 dilantai, tidak makan dan tidak minum.

Hari sudah malam dan malam semakin larut.

Kira2 tengah malam, pelahan2 berbangkitlah Ting Tian, katanja dengan suara tenang: “Marilah sekarang kita tjoba pergi melihatnja, Tik-hiantit.”

Tik Hun mengia sambil berbangkit. Ia lihat Ting Tian telah pegang dua rudji lankan terus dipentang pelahan, maka melengkunglah rudji besi itu hingga tjukup untuk dibuat keluar-masuk.

“Angkatlah rantai belenggumu, supaja tidak mengeluarkan suara,” demikian pesan Ting Tian.

Tik Hun menurut dan gulung rantai belenggunja terus ikut keluar.

Sampai ditepi pagar tembok, sekali endjot, dengan enteng Ting Tian sudah melontjat keatas pagar itu. “Melompat keatas sini!” serunja kepada Tik Hun dengan suara tertahan.

Tik Hun menirukan tjara orang dan melompat keatas. Tak terduga sedjak otot kakinja dipotong dan tulang pundaknja tertembus, seluruh tenaganja sudah takbisa dikerahkan lagi. Maka lontjatannja itu kurang lebih tjuma satu meter tingginja. Untung Ting Tian tjepat meraup tangannja terus ditarik keatas pagar tembok, lalu mereka melompat kesebelah luar sana bersama.

Sesudah melintas pagar tembok itu, diluar pendjara terdapat pula selarik pagar tembok jang lebih tinggi, Ting Tian dapat melontjat keatasnja, tapi Tik Hun tidak sanggup lagi betapapun. Karena tiada djalan lain, Ting Tian melompat turun kembali, ia tempelkan punggungnja memepet tembok, sekali ia mendengar dan mengerahkan tenaga, maka terdengarlah suara keresak-keresek jang pelahan, debu pasir bertebaran, menjusul batu batapun berdjatuhan. Pandangan Tik Hun serasa kabur, tahu2 dinding pagar itu telah amblong berwudjut satu lubang bentuk manusia dan Ting Tian sudah menghilang. Kiranja Ting Tian telah menggunakan Sin-tjiau-kang jang maha sakti itu untuk membobol tembok dan orangnja sudah melesat keluar.

Kedjut dan girang Tik Hun, tjepat iapun menerobos keluar melalui lubang dinding itu. Diluar ternjata adalah sebuah gang.

Dari djauh Ting Tian sedang menggape padanja. Lekas2 Tik Hun berlari keudjung gang sana.

Agaknja Ting Tian sangat apal terhadap djalanan didalam kota Heng-tjiu itu, setelah melintas sebuah djalan dan membiluk dua gang lain, sampailah mereka didepan sebuah bengkel pandai besi. Ting Tian tempelkan tangannja kepintu dan mendorongnja sekali, “pletak”, palang pintu didalam telah patah dan pintupun terpentang.

Pandai besi rupanja sedang tidur didalam, ia mendjadi kaget dan melompat bangun sambil mendjerit: “Maling!”

Namun Ting Tian keburu mentjekek lehernja sambil membentak tertahan: “Diam! Lekas menjalakan api!”

Pandai besi itu tidak berani membangkang, segera ia menjalakan pelita. Ketika melihat Ting Tian dan Tik Hun berambut pandjang dan penuh berewok, rupanja menakutkan, keruan lebih ketakutan dan tidak berani berkutik lagi.

“Tatah putus belenggu kami ini!” perintah Ting Tian pula.

Sipandai besi tahu kedua tamu tak diundang ini pasti adalah pelarian pendjara Tihu, kalau membantunja memahat belenggu mereka, bila kelak diusut dan diketahui oleh alat negara, tentu dirinja akan tersangkut. Maka ia mendjadi ragu2.

Tiba2 Ting Tian menjambar sepotong besi, sekali ia remas, besi itu terus mengepal mendjadi satu bola. Lalu bentaknja: “Kau berani membangkang, apakah kepalamu lebih keras dari besi ini?”

Sungguh kedjut pandai besi itu bukan kepalang, disangkanja telah ketemukan malaikat dewasa, sebab dia tidak pertjaja manusia dapat meremas besi sekeras itu. Dan kalau kepala sendiri benar2 diremas begitu rupa, wah, runjam. Tjepatan sadja ia mengiakan terus mengeluarkan tatah dan palu. Lebih dulu ia membuka belenggunja Ting Tian, kemudian Tik Hun.

Waktu Ting Tian melorot keluar rantai besi jang menembusi tulang pundak Tik Hun itu, saking sakitnja hampir2 pemuda itu djatuh kelengar. Paling achir ia mendjadi ter-mangu2 sambil memegangi rantai putus jang bersedjarah itu, terkenang olehnja masa lima tahun kebebasannja terkekang dan baru sekarang rantai itu meninggalkan tubuhnja, ia mendjadi girang dan berduka pula hingga mengalirkan air mata.

Tik Hun simpan rantai putus itu kedalam badjunja, lalu ikut Ting Tian keluar dari bengkel besi itu. Ia masih sempat melihat sipandai besi terus melemparkan kedua potong belenggu mereka jang ditatah itu kedalam tungku untuk digembleng, tentunja takut kalau meninggalkan bukti jang bisa bikin tjelaka padanja.

Terlepas dari kekangan belenggu berantai itu, Tik Hun merasa tubuhnja enteng sekali dan kurang biasa, beberapa kali hampir2 ia terdjungkal karena merasa kepalanja lebih antap daripada kakinja. Tapi demi nampak Ting Tian berdjalan dengan kuat, bahkan makin lama makin tjepat, segera Tik Hun menjusulnja, ia kuatir ketinggalan terlalu djauh dalam kegelapan.

Tidak lama, sampailah mereka dibawah djendela dimana selalu tertaruh pot bunga itu, Ting Tian mendongak keatas dengan ragu2 hingga lama.

Tik Hun melihat daun djendelanja tertutup rapat, diatas loteng djuga sunji senjap. Segera katanja: “Bolehkah kutjoba melihatnja keatas situ?”

Ting Tian meng-angguk2 tanda setudju.

Segera Tik Hun memutar kepintu samping rumah bersusun itu, ia tjoba mendorong pintunja, tapi terpantek dari dalam. Sjukurlah pagar tembok disitu sangat pendek, satu dahan pohon Liu kebetulan mendjulur keluar dari sebelah dalam sana, sedikit Tik Hun melontjat, dapatlah ia menggandul diatas dahan itu terus melompat kedalam pagar tembok.

Pintu masuk kedalam rumah itu ternjata tidak dikantjing dari dalam, maka dapatlah Tik Hun masuk dengan leluasa, pelahan2 ia menaiki tangga loteng, dalam kegelapan terdengarlah suara tindakannja ditangga loteng itu. Ia merasa kakinja se-akan2 terapung dan tidak leluasa. Maklum selama lima tahun hidupnja tjuma boleh bergerak didalam sebuah kamar, selama itu tidak pernah mengindjak tangga.

Sampai di atas loteng, keadaan masih sepi njenjak, dibawah sinar bintang jang remang2, Tik Hun melihat disisi kiri ada sebuah pintu pula, pelahan2 ia masuk kesana. Tiada sesuatu suara didalam kamar itu, jang terdengar hanja suara napas sendiri jang agak memburu. Lapat2 ia melihat diatas medja ada sebuah tatakan lilin, ia me-raba2 diatas medja dan dapat menemukan batu ketipan api, dengan alat itu ia dapat menjalakan lilin.

Entah mengapa, dibawah tjahaja lilin jang terang itu, mendadak Tik Hun merasakan keadaan jang sunji dan hampa.

Ternjata didalam kamar itu memang hampa alias kosong melompong, ketjuali sebuah medja, sebuah kursi, dan sebuah ranjang, benda lain tak tertampak lagi. Hanja dirandjang itu tergantung kelambu putih, diatas randjang terdapat sebuah selimut dan sebuah bantal, diudjung randjang ada pula sepasang sepatu kain wanita. Dari sepatu inilah baru bisa diketahui bahwa kamar ini adalah tempat tinggal seorang wanita.

Tik Hun tertegun sedjanak, kemudian ia memeriksa pula kamar kedua, disana lebih hampa lagi, bahkan medja-kursipun tidak ada. Melihat gelagatnja perabot dalam kamar toh bukan baru sadja dikosongkan, tetapi memang sudah sedjak lama keadaan telah hampa begitu.

Tik Hun turun kembali kebawah dan tjoba periksa tempat2 lain, namun bajangan seorangpun tidak kelihatan. Diam2 ia merasa keadaan demikian agak gandjil, segera ia keluar untuk memberitahukan kepada Ting Tian apa jang telah dilihatnja itu.

“Djadi keadaan sudah kosong, tidak sesuatu barang apa2?” Ting Tian menegas.

Tik Hun mengangguk membenarkan. Agaknja keadaan demikian memang sudah dalam dugaan Ting Tian, maka sama sekali ia tidak kaget atau heran. Segera katanya:”Marilah kita tjoba melihat kesuatu tempat lain lagi.”

Suatu tempat lain jang dikatakn itu ternjata adalah sebuah gedung besar dengan pintu gerabang tjat merah, diluar pintu tergantung dua tenglong besar, jang satu djelas tertulis “Kantor Kang-leng-hu” dan jang lain tertulis “Kediaman keluarga Leng.”

Tik Hun mendjadi kaget, pikirnja” “Ini adalah kediaman Tihu kota Kang-leng, Leng Dwe-su, untuk apakah Ting-toako datang kesini? Apakah hendak membunuhnja?”

Sambil meng-gosok2 tangan sendiri, tanpa bersuara Ting Tian terus melintasi pagar tembok gedung itu dan masuk kedalam. Terhadap seluk-beluk rumah keluarga Leng itu Ting Tian seperti sudah sangat apal, ia menjusur kesana dan menerobos kesini seperti berdjalan didalam rumahnja sendiri sadja.

Setelah menjusur dua serambi pandjang, achirnja sampailah mereka didepan sebuah ruangan tertutup, mendadak Ting Tian rada gemetar, katanja kepada Tik Hun: “Tik-hiantit, tjobalah engkau masuk melihatnja dulu.”

Tik Hun terus mendorong pintu ruangan itu, jang tertampak olehnja per-tama2 jalah api lilin jang terang benderang menjilaukan, diatas medja tersulut dua batang lilin sembahjangan, ternjata ruangan ini adalah tempat abu orang mati.

Sedjak mula Tik Hun memang sudah kuatir akan melihat ruangan abu, peti mati atau majat, achirnja benar2 telah dilihatnja sekarang. Walaupun sudah dalam dugaannja, tidak urung ia merinding djuga. Ketika diperhatikannja, ia lihat dimedja sembajang itu sebuah papan kaju tertulis: “Tempat abu puteri kesajangan Leng Siang-hoa.”

Dan pada saat itulah, tiba2 terasa angin berkesiur disampingnja, Ting Tian sudah memburu kedalam situ. Terlihat ia kesima sedjenak didepan medja abu itu, kemudian ia terus menubruk keatas medja sambil meng-gerung2 menangis, teriaknja: “Siang-hoa, O, Siang-hoa, engkau ternjata sudah mendahului aku.”

Sesaat itu dalam benak Tik Hun timbul matjam2 pikiran, tindak-tanduk Ting-toako jang aneh dan menjendiri itu dengan tangisannja mendekap diatas medja itu telah membuat Tik Hun mendjadi paham duduknja perkara. Tapi bila dipikir lebih teliti, ia merasa banjak djuga segi2 jang ruwet dan susah dimengerti.

Sama sekali Ting Tian tidak pikirkan bahwa dirinja adalah pelarian dari pendjara, iapun tidak peduli tempat itu adalah kediamannja tuan besar Tihu. Tapi suara tangisannja makin lama semakin keras dan bertambah duka.

Tik Hun tahu pertjuma sadja menghibur sang Toako itu, maka dibiarkannja Ting Tian menangis se-puas2nja.

Lambat-laun Ting Tian menghentikan tangisannja, pelahan2 ia berbangkit dan membuka tirai dibelakang medja perabuan itu, maka tertampaklah sebuah peti mati jang masih baru, tanpa pikir lagi ia menubruk madju dan merangkul peti mati itu dengan kentjang, ia tempelkan pipinja keatas peti mati dan katanja dengan ter-guguk2: “O, Siang-hoa, Siang-hoa! Mengapa engkau begitu tega meninggalkan daku? Sebelumnja mengapa engkau tidak memberi kesempatan padaku untuk melihat engkau sekali lagi?”

Tiba2 Tik Hun mendengar ada suara orang berdjalan mendatangi, beberapa orang sudah sampai diluar pintu ruangan itu, tjepat serunja: “Toako, ada orang jang datang!”

Namun Ting Tian asjik tempelkan bibirnja untuk mentjium peti mati itu, sama sekali tak dipedulinja apa ada orang jang datang atau tidak.

Didahului oleh tjahaja obor jang sangat terang, masuklah dua orang sambil membentak: “Siapakah jang bikin ribut disini?”

Menjusul kedua orang itu, masuk pula seorang laki2 setengah umur berdandan sangat mentereng, sikapnja sangat tjekatan.

Ia memandang sekedjap kepada Tik Hun, lalu menanja: “Siapakah engkau? Ada keperluan apa datang kesini?”

“Dan engkau sendiri siapa serta untuk apa datang kemari?” demikian Tik Hun balas menanja dengan penuh dongkol.

“Bangsat, barangkali matamu sudah buta, ja?” bentak kedua orang jang membawa obor tadi.

“Ini adalah Leng-taydjin dari Kang-leng-hu, tengah malam buta kau berani sembarang masuk kesini, tentu kau tidak bermaksud baik. Hajo lekas berlutut!”

Namun Tik Hun hanja mendengusnja sekali dan tidak menggubris lagi.

Tiba2 Ting Tian mengusap air matanja, lalu menanja: “Hari apakah wafatnja Siang-hoa? Ia menderita sakit apa?”

Tik Hun ter-heran2 mendengar suara pertanjaan sang Toako itu diutjapkan dengan nada jang tenang dan ramah.

Leng-tihu memandangnja sekedjap, lalu katanja: “Aha, kukira siapa, tak tahunja adalah Ting-tayhiap. Tidak beruntung Siauli (putriku) meninggal dunia, penjakit apa jang dideritanja tabib pun takbisa menerangkan, hanja dikatakan Siauli terlalu menanggung rasa sedih jang tak terhapus.”

“Dan dengan demikian tertjapailah tjita2mu bukan?” kata Ting Tian dengan mendongkol.

“Ai, Ting-tayhiap, engkau sendiripun terlalu kepala batu,” sahut Leng-tihu dengan gegetun.

“Tjoba kalau sedjak dulu engkau mengatakan padaku, pastilah Siauli takkan meninggal gara2 kebandelanmu dan kitapun akan terikat mendjadi menantu dan mertua, bukankah hal itu akan sama2 baiknja?”

Mendadak sorot mata Ting Tian memantjarkan sinar kebentjian, teriaknja. “Djadi kau anggap aku jang mengakibatkan matinja Siang-hoa dan bukan engkau sendiri jang mentjelakainja?” ~ Sembari berkata ia terus mendesak madju selangkah.

Namun Leng-tihu sebaliknja sangat tenang, sahutnja dengan menggojang kepala: “Urusan sudah ketelandjur begini, apa jang bisa kukatakan lagi? Siang-hoa, O, Siang-hoa, dialam baka tentu djuga engkau akan menjalahkan ajahmu ini tidak dapat memahami isi hatimu.” ~ sambil berkata ia terus mendekati medja perabuan serta mengusap air matanja.

“Hm, kalau hari ini aku membunuh kau, di alam baka tentu djuga Siang-hoa akan bentji padaku,” demikian kata Ting Tian dengan gemas. “Leng Dwe-su, mengingat kebaikan puterimu, biarlah derita selama tudjuh tahun jang kau siksa atas diriku, sekaligus kuhapuskan sekarang djuga. Tapi kelak kalau engkau kebentur lagi tanganku, djanganlah engkau menjalahkan orang she Ting tidak kenal budi. Marilah, Tik-hiantit, kita pergi!”

“Ting-tayhiap,” sahut Leng-tihu tiba2 menghela napas, “sudah begini akibat perbuatan kita, apakah manfaatnja sampai sekarang?”.

“Kau boleh tanja pada dirimu sendiri, apakah engkau djuga merasa menjesal?” kata Ting Tian. “Hm, engkau serakah dan senantiasa mengintjar Soh-sim-kiam-boh, hingga tidak sajang membikin tjelaka puterinja sendiri.”

“Ting-tayhiap,” kata Leng-tihu pula, “engkau djangan buru2 pergi, lebih baik engkau katakan lebih dulu tentang rahasia ilmu pedang itu dan segera kuberi obat penawarnja, supaja djiwamu tidak melajang pertjuma.”

“Apa katamu? Obat penawar?” seru Ting Tian terkedjut. Dan pada saat itulah tiba2 terasa pipi, bibir dan tangannja makin lama makin kaku dan lumpuh. Sadarlah ia telah keratjunan, tapi mengapa sampai keratjunan, seketika iapun tidak tahu.

“Aku kuatir ada kaum pendjahat mungkin akan membongkar peti mati untuk menodai lajon puteriku jang sutji bersih itu, maka………”

Belum selesai utjapan Leng-tihu itu, maka tahulah Ting Tian duduknja perkara, serunja dengan gusar: “Djadi engkau telah memoles ratjun diatas peti mati? Sungguh kedji amat engkau Leng Dwe-su!” ~ Berbareng ia terus menubruk madju dan mentjengkeram kearah Leng-tihu.

Tak tersangka kasiat ratjun itu benar2 lihay luar biasa, seketika telah memunahkan tenaga orang dan menjesap ketulang. Sin-tjiau-kang jang sakti itu tak dapat dikerahkan lagi oleh Ting Tian.

Sambil berkelit, Leng-tihu lantas berseru memberi tanda, segera menerobos masuk pula empat laki2 bersendjata dan berbareng mengerubut Ting Tian.

Sekali lihat sadja Tik Hun lantas tahu bahwa kepandaian empat orang itu adalah pilihan semua. Terlihat Ting Tian angkat sebelah kakinja hendak menendang pergelangan lawan jang sebelah kiri, sebenarnja tendangan itu sangat djitu dan tjepat, pasti sendjata golok orang itu akan terpental dari tjekalannja. Siapa tahu tenaga tendangannja itu mendadak lenjap sampai ditengah djalan, kedua kakinja tidak mau mendengar perintah lagi. Ternjata ratjun sudah menjerang sampai dikakinja.

Kesempatan itu tidak di-sia2kan orang itu, goloknja membalik, “tak”, punggung golok tepat mengetok dibetis Ting Tian hingga tulang remuk dan orangnja roboh.

Tik Hun terkedjut, dalam kuatirnja ia tidak sempat lagi memikir, mendadak ia menubruk kearah Leng-tihu. Ia pikir djalan satu2nja harus menawan Leng-tihu sebagai barang djaminan, dengan begitu barulah djiwa Ting Tian dapat diselamatkan.

Tak terduga ilmu silat Leng-tihu itu ternjata bukan kaum lemah, mendadak tangan kirinja memapak kedada Tik Hun, baik tenaganja maupun ilmu pukulannja terang golongan kelas tinggi.

Namun Tik Hun sudah nekat, ia tidak menangkis djuga tidak berkelit, tapi tetap menubruk madju. “Plak”, terang gamblang pukulan Leng-tihu itu mengenai dada sasarannja. Tapi aneh bin heran, Tik Hun sama sekali tidak bergeming dan tetap menerdjang madju.

Sudah tentu Leng-tihu tidak tahu bahwa Tik Hun memakai “Oh-djan-kah” atau badju kutang dari sutera ulat hitam jang tidak mempan sendjata. Karena itu, ia malah menjangka ilmu silat Tik Hun tingginja susah diukur. Dalam kagetnja, tahu2 “Tan-tiong-hiat” didadanja telah kena dipegang oleh Tik Hun. Dan karena madjikan mereka tertawan musuh, orang2 tadi mendjadi mati kutu dan tidak berani sembarangan bertindak.

Sekali berhasil serangannja, terus sadja Tik Hun menggendong Ting Tian sambil mentjengkeram kentjang2 Hiat-to berbahaja didada Leng-tihu itu. Melihat madjikan hendak ditjulik, laki2 tadi mendjadi djeri dan serba susah, mereka mem-bentak2, tapi tidak berani sembarangan madju.

“Buang obor kalian dan padamkan api lilin!” bentak Ting Tian.

Terpaksa laki2 itu menurut, maka seketika ruang lajon itu mendjadi gelap gelita.

Sambil sebelah tangannja tetap mentjengkeram Leng-tihu dan diseret keluar, Tik Hun menggunakan tangan lain untuk menggendong Ting Tian, dengan tjepat ia lari keluar dari gedung pembesar itu. Ting Tian jang memberi petundjuk djalannja, maka sebentar sadja sudah sampai dipintu taman.

Segera Tik Hun depak pintu itu hingga terpentang, entah darimana pula datangnja tenaga, terus sadja ia gendjot sekali se-keras2nja di “Tan-tiong-hiat” didada Leng-tihu, lalu ditinggalkannja untuk lari sambil menggendong Ting Tian. Ia terus lari se-tjepat2nja dalam kegelapan.

Sebenarnja sebelumnja Leng Dwe-su sudah menduga Ting Tian pasti akan datang berziarah kepada lajon puterinja, maka sudah disiapkannja djago2 pilihan untuk menangkap Ting Tian.

Tak tersangka perhitungannja telah meleset satu tindak, jaitu tak terduga olehnja bahwasanja Ting Tian telah membawa serta seorang pembantu.

Selama dua tahun Tik Hun giat melatih Sin-tjiau-kang, walaupun belum dapat dikatakan ada sesuatu hasil jang hebat, tapi dalam hal tenaga dalam sudah djauh lebih madju dan kuat daripada dahulu. Apalagi hantamannja ke Tan-tiong-hiat didada Leng Dwe-su itu dilakukan dalam keadaan kepepet, maka tenaganja mendjadi keras luar biasa.

Keruan tanpa berkutik Leng Dwe-su terus roboh menggeletak. Ketika kemudian begundalnja memburu datang dan buru2 berusaha menolong madjikan mereka, maka tiada seorangpun jang sempat memikir pengedjarannja kepada Ting Tian dan Tik Hun.

Berada diatas gendongan Tik Hun, Ting Tian merasa anggota badannja makin lama makin kaku, tapi pikirannja masih tetap sangat djernih. Terhadap djalanan didalam kota ia sudah sangat apal, maka ia jang menundjukan djalannja kepada Tik Hun membiluk kekanan dan menikung kekiri, achirnja dapatlah mereka meninggalkan pusat kota jang ramai dan sampai disuatu kebun luas jang tak terawat.

“Leng-tihu pasti akan memberi perintah pendjagaan rapat dipintu gerbang kota dan diadakan pemeriksaan keras, keadaanku sudah sangat pajah keratjunan, untuk keluar kota setjara paksa terang tidak dapat lagi,” demikian kata Ting Tian. “Kebun besar ini katanja ada setannja hingga tiada berani dikundjungi orang, biarlah kita bersembunji sementara disini sadja.”

Tik Hun menurut, ia meletakan Ting Tian dengan pelahan kebawah sebuah pohon Bwe (plum), lalu katanya: “Ting-toako, ratjun apakah jang telah mengenai badanmu? Tjara bagaimana harus mengadakan pertolongan?”

Ting Tian menghela napas, sahutnja dengan tertawa getir: “Djangan dipikir lagi, pertjumalah! Ratjun ini sangat djahat, namanja ‘Hud-tjo-kim-lian’ (teratai emas tempat duduk Budha), tiada obat penawar didunia ini jang dapat menjembuhkannja. Biarlah aku bertahan sebisanja, dapat hidup sedjam lebih lama akan kupertahankan sedjam.”

Kedjut Tik Hun tak terhingga, serunja dengan gemetar: “Apa ka …….. katamu? Tiada obat penawarnja? Engkau …….. engkau tjuma bergurau sadja bukan?” ~ Namun demikian, iapun tahu sekali2 Ting Tian tidak sedang berkelakar dengan dia.

Ting Tian lantas ter-bahak2, katanja: “Ratjun ‘Hud-tjo-kim-lian’ milik Leng Dwe-su ini terkenal sebagai ratjun nomor tiga djahatnja didunia ini. Njatanja memang tidak omong kosong! Hahaha, dia benar2 tjukup sabar, sudah menunggu selama tudjuh tahun dan baru hari ini dia berhasil.”

“Ting ……..Ting-toako, djangan …….. djangan engkau berduka,” udjar Tik Hun kuatir. “Ja, selama masih ada kesempatan, masakah ……… masakah …….. ai, kembali gara2 wanita lagi, aku ………. aku djuga begitu, rupanja kita memang ……. memang senasib …… tapi engkau harus mentjari daja-upaja untuk menghilangkan ratjunmu ini ……… biarlah kupergi mentjari air untuk mentjutji badanmu jang terkena ratjun.” ~ oleh karena pikirannja katjau, susunan kata2nja mendjadi tak keruan dan tak teratur.

Ting Tian menggeleng kepala, katanja: “Sudahlah, usahamu akan sia2 sadja. ‘Hud-tjo-kim-lian’ ini kalau ditjutji dengan air, seketika kulit daging jang keratjunan akan membengkak dan membusuk, matinja akan lebih mengerikan. Tik-hiantit, banjak sekali ingin kukatakan padamu, hendaklah engkau djangan sibuk dan bingung, sebab kalau kau bingung, mungkin akan mengatjaukan pikiranku hingga kata2 penting jang hendak kuberitahukan padamu ada jang terlupa. Waktunja sekarang sudah mendesak, aku harus lekas mentjeritakan padamu, maka lekas engkau duduklah jang tenang dan djangan mengganggu tjeritaku?”

Terpaksa Tik Hun menurut dan duduk disamping Ting Tian, akan tetapi betapapun hatinja susah ditenangkan.

“Aku berasal kota Heng-bun, keturunan keluarga Bu-lim,” demikian Ting Tian mulai menutur dengan sangat tenang, ja, tenang dan wadjar, se-akan2 jang ditjeritakan itu adalah urusan orang lain jang tiada sangkut-paut apa2 dengan dirinja. “Ajahku djuga seorang tokoh persilatan jang rada terkenal disekitar Ouw-lam dan Ouw-pak. Dasar ilmu silatku masih lumajan djuga, ketjuali adjaran dari orang tua, aku pernah mendapat didikan pula dari dua orang guru lain. Diwaktu mudaku, aku suka membela keadilan dan membasmi kedjahatan. Karena itu namaku lambat-launpun sedikit terkenal.

“Kira2 delapanbelas tahun jang lalu aku menumpang kapal dari Su-tjwan menudju kemuara, sesudah lewat Sam-kiap (tiga selat dimuara sungai Tiangkang), kemudian perahu kami berlabuh ditepi Sam-tau-peng. Malamnja tiba2 kudengar ditepi pantai ada suara ribut orang berkelahi. Dasar watakku memang gemar silat, tentu sadja aku tertarik oleh perkelahian jang ramai itu dan melongok kepantai melalui djendela perahu.

“Malam itu bulan sedang memantjarkan sinarnja jang terang benderang hingga aku dapat melihat djelas pertarungan dipantai itu. Kiranja ada tiga orang sedang mengerojok seorang tua. Ternjata ketiga pengerojok itu sudah kukenal semua, mereka adalah tokoh Bu-lim jang terkenal didaerah Liang-ouw (dua propinsi Ouw, jaitu Ouw-lam dan Ouw-pak). Jang pertama bernama Ngo-in-djiu Ban-Tjing-san………..”

“He, itulah Supekku!” seru Tik Hun tanpa merasa, walaupun tadi ia telah dipesan djangan mengganggu tjerita Ting Tian.

Ting Tian hanja melototinja sekedjap, lalu meneruskan tjeritanja: ……… dan jang kedua adalah Liok-te-sin-liong (naga sakti di daratan) Gian Tat-peng……..”

“Ehm, dia adalah Djisupekku!” kembali Tik Hun menjela.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: