Pedang Hati Suci (Jilid ke-6)

Ting Tian tak menggubrisnja lagi dan tetap meneruskan: “Dan jang ketiga memakai sendjata pedang, gerak-geriknja sangat gesit, itulah Tiat-so-heng-kang Djik Tiang-hoat.”

“Ha, Suhuku!” seru Tik Hun sambil melontjat kaget.

“Ja, memang benar ialah gurumu,” kata Ting Tian dan menjambung pula: “Aku sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Ban Tjin-san, maka tjukup tahu ilmu silatnja sangat hebat. Melihat mereka bertiga saudara perguruan mengerojok seorang musuh, kujakin mereka pasti akan menang.

“Waktu aku perhatikan pula sikakek jang dikerubut itu, kulihat punggungnja sudah terluka, darah mengutjur terus dari lukanja itu. Ia tak bersendjata pula hingga tjuma menempur ketiga pengerojoknja itu dengan bertangan kosong. Akan tetapi ilmu silatnja ternjata djauh lebih tinggi daripada Ban Tjin-san bertiga. Bagaimanapun djuga mereka bertiga tidak berani mendekati sikakek.

“Makin lama aku melihat, makin penasaran hatiku, Ban Tjin-san bertiga selalu melontarkan serangan2 jang mematikan, se-akan2 sikakek itu harus mereka bunuh. Perbuatan mereka bertiga sesungguhnja tidak pantas, masakah tiga orang muda mengerubut seorang tua. Tapi sedikitpun aku tidak berani bersuara, kuatir kalau diketahui mereka hingga akan merugikan diriku sendiri. Sebab dalam urusan bunuh-membunuh dikalangan Kangouw seperti itu bila dilihat orang luar, bukan mustahil jang melihat itu akan dibunuhnja djuga agar rahasianja tidak tersiar.

“Setelah lama sekali pertarungan sengit itu berlangsung, darah jang mengutjur dari punggung kakek itu semakin banjak, tenaganja lambat-laut mendjadi habis. Se-konjong2 orang tua itu berseru: “Baiklah, ini kuserahkan pada kalian!” ~ berbareng ia mengulur tangannja kedalam badju seperti sedang mengambil sesuatu. Buru2 Ban Tjin-san bertiga merubung madju, satu-sama-lain se-akan2 kuatir ketinggalan redjeki.

“Diluar dugaan sikakek mendadak memukul kedepan dengan kedua telapak tangannja, karena terantjam oleh serangan itu, terpaksa Ban Tjin-san bertiga melompat mundur. Kesempatan itu telah digunakan oleh sikakek untuk berlari ketepi sungai, plung, ia menerdjun kedalam sungai, Ban Tjin-san bertiga tampak mendjerit terkedjut, tjepat mereka memburu ketepi sungai.

“Akan tetapi arus air jang mendampar dari arah Sam-kiap itu sangat derasnja, betapa kerasnja arus sungai dimuara Sam-tau-peng itu, hanja sekedjap sadja bajangan sikakek itu sudah lenjap. Tapi Suhumu masih belum putus asa, ia melompat keatas perahuku, ia sambar galah situkang perahu terus digunakan untuk mengaduk ketengah sungai. Sudah tentu hasilnja nihil alias nol besar!

“Lazimnja sesudah mematikan kakek itu, seharusnja Suhumu bertiga akan kegirangan. Tapi aneh, wadjah mereka djusteru muram dan sangat menakutkan. Aku tidak berani mengintip lebih djauh, tjepat aku merebahkan diri ditempat tidurku sambil berkerudung selimut. Sampai lama sekali lapat2 aku mendengar mereka bertiga ribut mulut ditepi pantai, satu-sama-lain saling menjalahkan karena lolosnja musuh.

“Sesudah suara ribut ditepi pantai lenjap dan menunggu mereka bertiga sudah pergi djauh, kemudian barulah aku berbangkit. Pada saat itulah tiba2 kudengar situkang perahu diburitan sedang berseru kaget: “Tolong, ada setan!” ~ Tjepat aku memburu keburitan dan melihat ada seorang jang basah kujup sedang merangkak, lalu menggeletak digeladak perahu. Itulah dia sikakek jang menerdjunkan diri kedalam sungai tadi. Rupanja setelah tjeburkan diri kedalam sungai, kakek itu lantas selulup kebawah perahu dan memegang kentjang dasar perahu dengan Tay-lik-eng-djiau-kang jang lihay, setelah musuh pergi, barulah dia keluar dari bawah air.

“Lekas2 aku memajang orang tua itu kedalam perahu, kulihat keadaannja sudah sangat pajah, napasnja kempas-kempis, bitjarapun takbisa lagi. Kupikir Ban Tjin-san bertiga boleh djadi masih belum putus asa dan akan datang kembali, atau mungkin djuga akan mentjari majat orang tua ini kemuara sungai sana. Terpengaruh oleh djiwaku jang suka menolong sesamanja dan membela keadilan, kupikir djiwa orang tua ini harus diselamatkan, dan agar djangan sampai dipergoki Ban Tjin-san bertiga segera aku minta situkang perahu mendjalankan perahunja kehulu sungai, menudju kearah Sam-kiap. Mendjalankan perahu menjongsong arus air jang deras, sudah tentu situkang perahu keberatan dan menolak, pula ditengah malam buta susah mentjari pandu kapal, menjusur kehulu Sam-kiap bukanlah suatu pekerdjaan mudah. Akan tetapi, hahaha, uang memang berkuasa. Setanpun dojan duit. Pendek kata, achirnja situkang perahupun menurut keinginanku.

“Aku membawa obat luka, aku lantas mengobati luka orang tua itu. Luka dipunggungnja ternjata sangat parah, bekas tusukan itu menembus paru2nja, teranglah luka separah itu tidak mungkin disembuhkan. Namun aku berusaha sekuat tenagaku untuk mengobatinja, segala apa aku tidak tanja padanja, sepandjang djalan aku membelikan arak dan makanan2 jang enak untuknja. Aku sudah menjaksikan ilmu silatnja dan dengan mata kepala sendiri melihat dia tjeburkan diri kedalam Tiangkang serta selulup dibawah air begitu lama, dari nilai kepandaiannja serta keperkasaannja itu sudah tjukup berharga bagiku unuk berkorban djiwa baginja.

“Setelah kurawat orang tua itu tiga hari, ia telah tanja namaku, lalu katanja dengan tertawa getir: “Bagus, bagus!” ~ kemudian dikeluarkannja sebungkus kertas minjak dari badjunja dan diserahkan padaku. Tanpa pikir kukatakan padanja: ‘Silahkan Lotiang (bapak) beritahu dimana tempat tinggal sanak keluargamu, barang Lotiang ini pasti akan kuhantarkan padanja, djangan engkau kuatir” ~ Orang tua itu tidak mendjawab, sebaliknja tanja padaku: “Tahukah kau siapa diriku?” ~ Aku mendjawab tidak tahu. Maka katanja pula: ‘Aku adalah Bwe Liam-seng.’ ~ Sungguh kedjutku tak terkatakan demi mengetahui siapa gerangan sikakek itu.”

Dan ketika melihat Tik Hun mendengarkan tjeritanja itu dengan melongo tanpa mengundjuk sesuatu perasaan apa2, segera ia menegurnja: “He, engkau tidak heran oleh nama orang tua itu? Siapakah Bwe Liam-seng itu, apakah engkau tidak tahu? Ialah Tiat-kut-bek-gok Bwe Liam-seng. Engkau benar2 tidak kenal nama itu?”

Tik Hun menggeleng kepala, sahutnja: “Selamanja aku tidak pernah mendengar nama orang itu.”

“Hehe, pantas sadja, sudah tentu Suhumu tak mungkin mengatakan padamu,” djengek Tiang Tian dengan tertawa dingin. “Tiat-kut-bek-gok Bwe Liam-seng adalah tokoh Bu-lim terkemuka dipropinsi Ouwlam. Dia mempunjai tiga orang murid, jang tertua bernama Ban Tjin-san, murid kedua bernama Gian Tat-peng dan murid ketiga bernama………”

“Apa katamu Ting…….. Ting-taoko? Djadi orang tua itu kakek-guruku?” seru Tik Hun.

“Ja, murid ketiganja memang Djik Tiang-hoat adanja,” sahut Ting Tian. “Kagetku waktu mendengar dia mengaku sebagai Bwe Liam-seng djuga kurang kagetnja seperti engkau sekarang ini. Aku sendiri menjaksikan pertarungan sengit ditepi pantai dibawah sinar bulan purnama itu dan melihat betapa ganasnja Ban Tjin-san bertiga hendak mematikan guru mereka, maka tidak heran kagetku djauh diatas kagetmu sekarang.

“Dengan tersenjum getir lalu Bwee-losiansing berkata kepadaku, ‘Muridku jang ketiga itu paling lihay, lebih dulu punggungku telah ditusuk olehnja setjara mendadak, terpaksa aku menjeburkan diri kesungai untuk menjelamatkan diri.’ ~ Aku diam sadja, aku tidak tahu tjara bagaimana harus menghiburnja. Kupikir mereka guru dan murid berempat saling gebrak dengan mati2an, tentulah disebabkan oleh sesuatu urusan jang maha penting, aku adalah orang luar, tidak enak untuk ikut tahu urusan dalam mereka, maka akupun tidak tanja lebih banjak.

Tapi Bwe-losiansing lantas berkata pula: ‘Didunia ini aku tjuma mempunjai tiga orang murid jang kuanggap sebagai anak sendiri. Siapa duga demi untuk mengintjar sedjilid Kiam-boh, mereka tidak segan2 untuk membunuh guru. Hehe, sungguh murid baik, murid pintar! Kini Kiam-boh jang diintjar itu memang sudah kena mereka rebut, tapi apa gunanja kalau tidak ada Kiam-koat (tanda2 rahasia, kuntji daripada ilmu pedang) jang lebih penting itu? Betapapun bagusnja Soh-sim-kiam-hoat masakah dapat menandingi Sin-tjiau-kang? Biarlah sekarang djuga kukatakan Kiam-koat dari Soh-sim-kiam-hoat dan kuberikan djuga Sin-tjiau-keng (kitab ilmu pantjaran sukma) padamu, harap engkau melatihnja dengan baik2. Pabila Sin-tjiau-kang berhasil engkau jakinkan, pastilah engkau tiada tandingannja didunia ini, maka djangan sekali2 salah mengadjarkan lagi kepada orang djahat, ~ demikianlah asal-usul aku mendapatkan Sin-tjiau-keng hingga berhasil kujakinkan seperti sekarang ini.

“Selesai Bwe-losiansing berkata, tiada dua djam kemudian iapun meninggal. Aku telah menguburnja ditepi pantai Bu-kiap (selat Bu diantara Sam-kiap). Waktu itu aku tidak sadar bahwa Kiam-boh dan Kiam-koat dari Soh-sim-kiam jang diperebutkan itu mempunjai latar belakang jang begitu penting, kusangka tjuma perebutan sedjilid kitab ilmu pedang diantara perguruan mereka, makanja tidak pikir harus mendjaga rahasia menginggalnja Bwe-losiansing, tapi aku telah mendirikan batu nisan diatas kuburannja dengan tulisan: ‘Disinilah kuburan Liang-ouw-tayhiap Bwe Liam-seng’. Dan djusteru karena batu nisan itulah telah mengakibatkan aku kebentur banjak kesukaran2 jang tiada habis2nja. Segera ada orang mentjari keterangan mulai dari batu nisan itu, melalui situkang batu, tukang perahu dan achirnja dapat diketahui akulah jang mendirikan batu nisan itu, diketahui pula akulah jang mengebumikan Bwe-losiansing, dan dengan sendirinja mereka jakin barang tinggalan Bwe-losiansing pasti telah djatuh kedalam tanganku semua.

“Benar djuga, tiga bulan kemudian rumahku lantas kedatangan seorang Kangouw. Pendatang itu sangat sopan, tapi bitjaranja melantur dan ber-tele2 tak keruan udjung pangkalnja. Tapi sampai achirnja ketahuan djuga maksud tudjuan kundjungannja itu. Ia mengatakan ada sebuah peta tentang suatu harta karun berada dalam simpanan Bwe-losiansing, tentunja peta itu kini sudah berada padaku, maka aku diminta suka mengundjukkan peta itu untuk dipeladjari bersama dengan dia, pabila harta karun itu dapat diketemukan, aku akan diberi tudjuh bagian dan dia tjukup tiga bagian sadja.

“Kupikir apa jang diberikan Bwe-losiansing padaku tjuma sematjam kuntji rahasia melatih Lwekang jang tinggi serta beberapa kalimat rahasia dari Soh-sim-kiam jang hanja terdiri dari beberapa angka sadja, ketjuali itu tiada apa2 lagi, masakan ada peta harta karun segala seperti apa jang dikatakan. Karena itu aku lantas mengatakan terus terang, tapi orang itu tetap tidak pertjaja dan minta aku undjukan kuntji rahasia ilmu silat itu padanja. Padahal waktu Bwe-losiansing menjerahkan warisannja itu kepadaku telah memberi pesan agar djangan sekali2 salah diadjarkan lagi kepada orang djahat. Dengan sendirinja akupun menolak permintaan orang itu. Maka dengan tidak senang pergilah orang itu. Tapi tiga hari kemudian ia telah menggerajangi rumahku ditengah malam hingga bergebrak dengan aku, achirnja pundaknja kulukai dan melarikan diri.

“Dan sekali beritanja tersiar, orang jang datang mentjari aku mendjadi semakin banjak, keruan aku kewalahan melajani mereka. Sampai achirnja Ban Tjin-san sendiri djuga datang menjelidiki diriku. Untuk menetap terus dirumah sendiri terang tidak aman, terpaksa aku harus menjingkir djauh2 dengan berganti nama dan tukar she. Aku menjingkir keluar perbatasan dan mengusahakan peternakan disana. Setelah lewat 7-8 tahun, setelah suasana agak reda, pula sudah sangat merindukan kampung halaman, maka diam2 aku menjamar dan pulang ke Heng-bun. Siapa duga rumah tinggalku sudah lama dibakar orang mendjadi puing, baiknja aku memang tidak punja sanak-kadang apa2, dengan demikian aku mendjadi bebas malah dan tidak perlu memikirkan apa2 lagi……….”

Dengan bingung dan kusut pikirannja Tik Hun mengikuti tjerita Ting Tian tentang asal-usulnja Sin-tjiau-keng itu. Hendak tidak pertjaja kepada apa jang dikatakan sang Toako itu, namun selama ini Ting-toako itu tidak pernah sekalipun bohong padanja, apalagi hubungan mereka sekarang sudah bagai saudara sekandung, untuk apa sang Toako mendustainja dengan sengadja mengarang dongengan2 bohong itu? Tapi kalau pertjaja, masakah Suhu jang sangat dihormati dan dikenalnja sangat djudjur dan sederhana itu ternjata adalah seorang manusia jang begitu kedji dan tjulas?

Ia lihat muka Ting Tian ber-kerut2, agaknja ratjun sedang mendjalar dengan hebatnja, maka tjepat katanja: “Ting-toako, tentang perselisihan antara Suhuku dan Thaysuhu itu tidak perlu kupusingkan. Jang penting sekarang hendaklah engkau tjoba pikirkan apakah……….. apakah ada sesuatu akal untuk menjembuhkan ratjun ditubuhmu?”

“Sudahlah, aku telah minta engkau djangan menjela tjeritaku hendaklah engkau mendengarkan dengan diam,” sahut Ting Tian dan melandjutkan tjeritanja: “Sampai achirnja kira2 didalam bulan sembilan pada delapan tahun jang lalu, waktu itu aku berada dikota Hankau untuk mendjual sedikit Djinsom dan bahan obat lainnja jang kubawa dari Kwangwa.(Kwangwa = diluar Kwan atau diluar perbatasan Jang diartikan Kwan adalah tembok besar jang merupakan perbatasan didjaman itu).

“Pemilik toko obat jang suka membeli barang daganganku itu adalah seorang jang suka keindahan, selesai mengadakan transaksi dagang dengan aku, Ia lantas mengadjak aku pergi melihat ‘Kiok-hoa-hwe’ (Kiok-hoa-hwe = pameran bunga Seruni. Kegemaran bunga Seruni di Tiongkok sama halnja dengan kegemaran bunga Anggrek di negeri lain.) jang terkenal dikota itu. Bunga seruni jang dipamerkan didalam Kiok-hoa-hwe itu ternjata sangat banjak dan terdiri dan djenis2 pilihan. Jang berwarna kuning antara lain terdapat djenis Ui-ho-ek, Kim-khong-djiok, Eng-uh-wi dan lain2; Jang berwarna merah antara lain adalah Bi-djin-hong, Tjui-kui-hui dan lain2, jang berwarna putih ada: Gwe-boh-tan, Tiau-Sian-pay-gwe dan matjam2 lagi; jang ungu terdapat: Tji-giok-lian, Tji-lo-lan, Tji-he-siau, dan lain2 dan jang djambon terdapat: Ang-hun-wan, Se-si-hun, dan banjak lagi lainnja……..”

Begitulah Ting Tian menguraikan nama2 bunga seruni dengan lantjar dan tanpa pikir se-akan2 djauh lebih apal baginja daripada nama2 gerak tipu ilmu silatnja.

Semula Tik Hun heran oleh pengetahuan Ting Tian jang luar dalam hal bunga seruni itu, tapi segera ia mendjadi teringat bahwa Ting-toako itu memang seorang penggemar bunga. Ia hubungkan pula dengan bunga segar jang selalu menghias didalam pot bunga jang tertaruh diambang djendela gedung bersusun itu, maka tahulah Tik Hun duduknja perkara, tentu Ting-toako ini dengan Leng-siotjia itu mempunjai kesukaan jang sama dan sama2 pula merupakan ahli bunga.

Waktu bertjerita tentang pameran bunga itu, tertampak Ting Tian selalu mengulum senjuman bahagia, sikapnja sangat ramah dan lemah lembut. Terdengar ia melandjutkan tjeritanja: “Sungguh menawan hati pameran bunga Seruni itu sembari menikmati akupun tidak habis2nja memudji dan menjebut nama2 bunga jang dipamerkan itu. Tapi dimana ada jang djelek, akupun lantas memberi penilaian jang tegas. Habis menikmati bunga2 itu, ketika hampir keluar dari taman pameran, aku telah berkata kepadaku kawanku sipemilik toko obat itu: “Pameran ini boleh dikatakan sudahlah berhasil, tjuma sajang tidak terdapat Seruni warna hidjau.’ ~ Tiba2 kudengar suara seorang nona ketjil menanggapi utjapanku itu dibelakang: ‘Siotjia, orang ini tahu djuga kalau Seruni ada jang berwarna hidjau. Memangnja ‘Djun-sui-pek-poh’ dan ‘Lik-giok-dji-ih’ dirumah kita itu masakah dapat sembarangan dinikmati orang biasa?’

“Tjepat aku menoleh, kulihat dibelakangku ada seorang gadis djelita sedang menikmati bunga Seruni jang dipamerkan itu. Gadis itu memakai badju kuning muda, tjantik dan sederhana seperti Seruni dalam pameran itu. Sungguh selama hidupku belum pernah kulihat seorang nona setjantik seperti itu. Disampingnja tampak mengiring seorang pelajan ketjil berumur belasan. Melihat aku berpaling dan memandangnja, Siotjia itu mendjadi merah mukanja, dengan pelahan ia berkata kepadaku: ‘Maaf tuan, harap djangan marah karena otjehan budak tjilik jang tidak tahu aturan ini’. ~ Seketika aku terkesima hingga sepatah katapun aku tidak sanggup bersuara.

“Dengan ter-mangu2 aku mengikuti djedjak Siotjia itu hingga dia meninggalkan taman pameran itu. Melihat aku terkesima begitu rupa, kawanku sipemilik toko obat lantas berkata kepadaku: ‘Siotjia ini adalah anak gadis keluarga Leng-hanlim dikota Bu-han (Bu-djiang dan Han-kauw) kita ini. Tentu sadja lain daripada jang lain bunga jang terdapat dirumahnja itu.’

“Sekeluarnja dari taman pameran dan berpisah dengan kawanku, sepandjang djalan hingga sampai dikamar hotelku, dalam benakku waktu itu melulu terbajang kepada Siotjia jang tjantik itu sadja. Lewat lohor, aku lantas menjeberang ke Bu-djiang, setelah tanja tempatnja, aku lantas menudju kerumah Leng-hanlim (han-lim = gelar udjian sastra djaman khala Beng dan Tjing). Sudah tentu aku mendjadi ragu2, tidak mungkin aku masuk kerumah orang begitu sadja, padahal masing2 tidak kenal mengenal. Maka aku tjuma mondar-mandir sadja didepan rumah, kulihat ada beberapa anak ketjil sedang memain dipelataran situ. Hatiku dak-dik-duk ber-debar2 dengan matjam2 perasaan, aku merasa girang dan merasa takut2 pula. Aku memaki diriku sendiri jang semberono itu. Tatkala itu usiaku sudah tjukup dewasa, tapi kelakuanku waktu itu mirip seperti pemuda remadja jang baru sadja untuk pertama kalinja djatuh kedalam djaring2 asmara!”

Terkenang kepada masa pertemuannja dengan puteri Leng-hanlim dipameran bunga Seruni dahulu, wadjah Ting Tian menampilkan sematjam tjahaja jang aneh, sorot matanja djuga terang penuh semangat.

Tapi Tik Hun djusteru merasa kuatir kalau2 sang Toako itu mendadak kehabisan tenaga, maka katanja: “Ting-toako, lebih baik engkau berbaringlah mengaso dengan tenang. Biarlah kupergi mentjari seorang tabib, aku tidak pertjaja bahwa engkau benar2 tak dapat disembuhkan.” ~ sembari berkata, terus sadja ia berbangkit hendak pergi.

Tapi tjepat Ting Tian telah menarik lengannja dan berkata: “Begini dandananmu engkau hendak pergi mentjari tabib, apa engkau mentjari kematian sendiri?” ~ dan setelah merandek sedjenak, lalu katanja pula sambil menghela napas: “Tik-hiantit, tempo hari waktu engkau mengetahui Sumoaymu sudah menikah dengan orang lain, saking menjesalnja sampai engkau hendak menggantung diri. Sumoaymu itu tak berbudi dan menghianati kau, tiada harganja engkau mesti mati baginja.”

“Benar, selama beberapa tahun ini akupun sudah insaf,” sahut Tik Hun.

“Akan tetapi bila Sumoaymu benar2 tjinta padamu dan achirnja rela mati bagimu, maka engkaupun harus mati djuga baginja,” udjar Ting Tian.

Mendengar itu, tiba2 Tik Hun mendjadi sadar, tanjanja segera: “Djadi kematian Leng-siotjia itu adalah demi engkau?”

“Ja,” sahut Ting Tian tegas. “Dia mati bagiku, maka sekarang akupun rela mati untuknja. Hatiku kini sangat senang. Tjintanja padaku sangat mendalam, aku …….. akupun sangat mentjintainja. Tik-hiantit, djangankan ratjun jang mengenai tubuhku ini memang tiada obat jang dapat menjembuhkannja, sekalipun dapat disembuhkan djuga aku tidak mau diobati.”

Se-konjong2 perasaan Tik Hun mendjadi hampa, timbul sematjam rasa duka jang sulit dilukiskan. Jang utama sudah tentu disebabkan sedih menghadapi adjal sang Toako itu, namun dalam lubuk hatinja sebaliknja malah rada mengagumi keberuntungannja, sebab paling tidak didunia ini terdapat seorang gadis jang benar2 telah mentjintainja dengan hatinja jang sutji murni dan rela mati baginja, sebaliknja sang Toako itupun membalas tjinta murni kekasihnja dengan sama sutjinja. Tetapi bagaimana dengan dirinja? Ja, bagaimana dengan dirinja sendiri?

Melihat pemuda itu tepekur, pelahan2 Ting Tian memegang tangannja dan tenggelam pula dalam lamunannja pada masa jang lampau. Kemudian tuturnja pula: “Begitulah aku terus mondar-mandir selama beberapa djam didepan gedung Leng-hanlim itu hingga magrib sudah tiba masih tidak merasa lelah dan lupa lapar. Aku sendiripun tidak tahu sebenarnja apakah jang kuharapkan disitu?”

“Hari sudah mulai gelap, tapi aku tetap belum pikir untuk pergi dari situ. Tiba2 sadja dari pintu ketjil disamping gedung itu keluar seorang gadis ketjil dan menghampiri aku pelahan2, lalu bisiknja kepadaku dengan lirih: ‘Tolol, kenapa berada disini terus? Siotjia mengharapkan engkau pulang sadjalah!’ ~ Ketika kuperhatikan, eh kiranja adalah pelajan ketjil jang mengiringi Leng-siotjia waktu menonton pameran Seruni itu. Hatiku mendjadi ber-debar2, dengan ter-gagap2 aku mendjawab: ‘Ap……. Apa katamu?’ ~ Dengan tertawa pelajan ketjil itu berkata pula: ‘Siotjia telah bertaruhan dengan aku mengenai kapan engkau akan pergi dari sini. Sampai sekarang aku sudah menangkan dua tjintjin perak dan engkau masih belum mau pergi?’

“Aku bergirang tertjampur gugup, tanjaku tjepat: ‘Djadi….. djadi Siotjiamu sedjak tadi sudah tahu bahwa aku berada disini?’ ~ Pelajan tjilik itu tertawa, sahutnja: ‘Malahan sudah beberapa kali aku melongok keluar, tapi engkau tetap tidak mengetahui aku, rupanja semangatmu sudah terbang ke-awang2 bukan?’ ~ Habis itu, ia lantas putar tubuh hendak masuk lagi. Tjepat kuberseru: ‘Nanti dulu, Tjitji!’ ~ Ia berpaling dan menanja: ‘Ada apa lagi?’ ~ Maka berkatalah aku: ‘Kata Tjitji, didalam gedung kalian ini terpelihara beberapa djenis Lik-kiok-hoa (seruni hidjau), maka aku sangat ingin melihatnja.’ ~ Gadis itu angguk2, ia tuding sebuah loteng berlabur merah diudjung belakang gedung itu dan berkata: ‘Baiklah, akan kusampaikan permintaanmu kepada Siotjia, pabila beliau meluluskan, tentu akan taruh bunga2 itu diatas ambang djendela diatas loteng berlabur merah itu!’

“Semalam suntuk itu aku duduk menunggu diluar gedung Leng-hanlim itu. Sungguh Hokkhi-ku memang besar, Tik-hiantit, esok paginja diambang djendela loteng jang dikatakan itu benar2 muntjul dua pot bunga Seruni berwarna hidjau pupus. Kukenal Seruni salah satu pot itu bernama ‘Djun-tjui-pik-poh’ (air dimusim semi beriak menghidjau) dan pot jang lain bernama ‘Pek-giok-dju-ih’ (kemala jidjau sesuai keinginan). Kedua pot bunga Seruni itu benar2 sangat indah, akan tetapi jang terpikir olehku hanja orang jang menaruh kedua pot bunga itu. Itulah dia, kulihat dibalik tirai djendela itu ada sebuah wadjah jang paling tjantik didunia ini sedang mengintip kearahku, hanja separoh wadjahnja kelihatan, ia memandang sekedjap kepadaku, mendadak mukanja merah djengah terus menghilang dibalik tirai dan untuk selandjutnja tidak muntjul lagi.”

“Tik-hiantit, engkau tahu sendiri, begini djelek muka Ting-toakomu ini, gagah tidak, ganteng tidak, kaja tidak, pangkatpun tidak, mana aku berani mengharapkan tjinta seorang gadis setjantik itu? Akan tetapi sedjak itu setiap pagi aku pasti datang keluar taman keluarga Leng dan memandang ter-mangu2 hingga lama. Rupanja Leng-siotjia djuga tidak pernah melupakan daku, setiap hari ia pasti mengganti sebuah pot bunga jang segar dan ditaruh diambang djendela loteng.”

“Keadaan begitu berlangsung lebih dari sembilan bulan, tidak peduli hudjan angin atau hudjan saldju, setiap pagi aku pasti pergi menikmati keindahan bunga, sebaliknja Leng-siotjia djuga tidak pernah mengenal bosan untuk selalu mengganti sebuah pot bunga jang segar lagi indah. Setiap hari ia tjuma memandang sekedjap padaku dan tidak lebih. Setiap kali memandang, tentu wadjahnja bersemu merah, lalu menghilang dibalik tirai. Dan setiap hari asal kulihat kerlingan matanja dan semu diwadjahnja, rasaku sudah puas dan bahagia untuk selamanja. Tidak pernah ia bitjara padaku, akupun tidak berani mengadjak bitjara padanja. Kalau mau, dengan ilmu silatku sebenarnja aku dapat melompat keatas lotengnja dengan sangat mudah. Akan tetapi selama itu sedikitpun aku tidak berani mengundjuk kekasaran padanja. Untuk menulis surat pernjataan tjinta padanja aku lebih2 tidak berani lagi.”

“Suatu malam pada tanggal 5 bulan 2 dalam tahun itu, pondokku telah kedatangan dua orang Hweshio dan serentak aku diserang. Kiranja Hweshio2 itu telah mendapat kabar dan ingin merebut Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat dariku. Paderi2 itu adalah dua diantara kelima Hweshio dari Bi-tjong-ngo-hiong itu. Satu diantaranja telah kubinasakan tempo hari didalam pendjara dan telah disaksikan sendiri olehmu. Namun tatkala itu aku belum berhasil mejakinkan Sin-tjiau-kang, ilmu silatku djauh dibawah mereka, aku terluka parah dihadjar mereka, hampir2 djiwaku melajang, untung aku sempat sembunji ditengah onggok rumput dikandang kuda. Karena lukaku itu, aku mesti menggeletak selama lebih tiga bulan baru achirnja dapat paksakan diri berbangkit. Begitu aku dapat berbangkit, segera aku menggunakan tongkat dan datang keluar taman keluarga Leng dengan berintjang-intjuk. Akan tetapi aku mendjadi ketjewa, setiba aku disana, suasananja sudah berubah sama sekali. Kutjoba tanja tetangga disekitar situ dan mengetahui keluarga Leng itu sudah berpindah rumah pada tiga bulan jang lalu. Kemana pindahnja ternjata tiada seorangpun jang tahu.”

“Tjoba bajangkanlah, Tik-hiantit, betapa ketjewa dan pedih hatiku pada waktu itu sungguh djauh lebih hebat daripada ratjun jang mengenai badanku sekarang ini. Aku merasa heran, Leng-hanlim adalah tokoh kenamaan dikota Bu-djiang ini, kemana beliau berpindah rumah masakah sama sekali tiada jang tahu? Namun memang begitulah keadaannja, meski aku sudah menjelidiki kesana dan kesini, tidak sedikit aku korban harta dan tenaga, toh tetap tidak memperoleh sesuatu kabar apa2. Aku jakin dibalik kepindahan keluarga Leng setjara rahasia itu pasti ada sesuatu jang mentjurigakan, kalau bukan Leng-hanlim ingin menghindari datangnja musuh, tentu ada sebab2 lain jang luar biasa hingga mesti pindah rumah setjara mendadak. Dan setjara kebetulan jalah diwaktu aku terluka parah itulah, mereka lantas pindah rumah.”

“Sedjak itu aku mendjadi seperti orang linglung, aku tidak dapat bekerdja dengan tenang, achirnja aku terluntang-lantung di-kangouw tanpa sesuatu pekerdjaan jang benar. Dasar redjekiku memang setinggi langit, suatu hari, ketika aku sedang minum disuatu kedai dikota Tiangsah, tanpa sengadja aku telah mendengar pertjakapan dua orang gembong Pang-hwe (perkumpulan rahasia) jang lagi berunding hendak pergi ke Heng-tjiu untuk mentjari Ban Tjing-san, katanja hendak merebut Soh-sim-kiam-boh dari orang she Ban itu.”

“Kupikir sebabnja Ban Tjing-san bertiga saudara perguruan tempo hari berani berdurhaka hendak membunuh guru mereka, pangkal utamanja adalah karena hendak merebut Kiam-boh jang dimaksudkan itu. Sebenarnja apa matjamnja Kiam-boh itu, aku mendjadi ingin melihatnja djuga. Maka diam2 aku menguntit kedua gembong Pang-hwe itu ke Kang-leng (nama lain dari Heng-tjiu pada djaman itu). Tjita2 kedua gembong Pang-hwe itu memang boleh djuga, tapi napsu besar tenaga kurang, begitu kepergok Ban Tjin-san mereka lantas keok dan kena ditangkap serta digusur kepada pembesar Kanglenghu. Karena iseng, aku ikut2 pergi melihat keramaian dalam pemeriksaan kedua pesakitan itu.”

“Setiba didepan kantor Kanglenghu dan membatja papan pengumuman didepan kantor itu, sungguh girangku laksana orang putus lotre 10 djuta. Kiranja Leng-tihu itu tak-lain-tak-bukan adalah ajahnja Leng-siotjia, Leng Dwe-su adanja. Malamnja, diam2 aku membawa satu pot bunga mawar untuk ditaruh didepan djendela diatas loteng belakang tempat tinggal Leng-siotjia, lalu aku menunggu dibawah loteng situ semalam suntuk. Esok paginja ketika Leng-siotjia membuka djendela dan melihat pot bunga itu, ia telah berseru kaget sekali, tapi segera iapun dapat melihat diriku. Sudah lebih setahun kami tidak bertemu dan masing2 sudah menjangka selama hidup ini takkan bersua kembali. Kini dapat berdjumpa lagi, sudah tentu sama2 girang tak terkatakan. Leng-siotjia memandangi aku sedjenak untuk kemudian menutup pula djendelanja dengan muka merah. Ketika hari kedua bertemu pula, mulailah ia buka suara, tanjanja padaku: ‘Apakah engkau djatuh sakit? Engkau telah banjak lebih kurus!'”

“Sungguh rasa bahagiaku waktu itu susah dilukiskan. Untuk hari2 selandjutnja hidupku bukan lagi hidup manusia, tapi lebih menjerupai hidup dewata disorga. Ja, sekalipun dewata rasanja djuga tidak sebahagia seperti aku pada waktu itu. Setiap malam, bila orang lain sudah pergi tidur, aku lantas mendatangi loteng Leng-siotjia untuk mengadjaknja keluar dan ber-djalan2 disekitar rimba pegunungan diluar kota Kangleng. Kami senantiasa bergaul setjara sopan, sedikitpun tidak pernah menjeleweng dari adat istiadat. Tapi segala isi hati kamipun dibitjarakan setjara terbuka, djauh lebih akrab daripada sobat karib umumnja.”

“Pada suatu malam Leng-siotjia telah menuturkan suatu rahasia besar kepadaku. Kiranja ajahnja meski ikut udjian sastra dan mendapat gelar Hanlim, tapi sebenarnja adalah Toaliongthau (kepala) dari Liong-soa-pang jang sangat berpengaruh diwilayah Liang-ouw (Ouwlam dan Ouwpak). Karena Leng-siotjia adalah dewi pudjaanku, dengan sendirinja akupun sangat menghormati ajahnja, maka akupun tidak heran oleh tjeritanja itu.”

“Pada suatu malam lagi, kembali Leng-siotjia mentjeritakan padaku bahwa sebabnja ajahnja tidak mau mendjadi Hanlim jang dihormati tapi tanpa tugas itu, malahan sengadja membuang ber-laksa2 tahil perak dan dengan susah pajah menjogok pembesar pusat hingga ajahnja diangkat mendjadi Tihu dari kota Hengtjiu, dibalik itu sebenarnja memang ada sesuatu maksud tudjuan tertentu.”

“Kiranja ajahnja telah memperoleh ilham dari kitab sedjarah jang pernah dibatjanja bahwa disesuatu tempat didalam kota Hengtjiu itu pasti terpendam suatu partai harta karun jang tak ternilai djumlahnja. Menurut keterangan jang dibatja, didjaman dynasti Liang (502-557) dimasa Lak-tiau atau Lam-pak-tiau (Tiongkok selatan dan utara, 420-581), setelah kaisar Liang-bu-te wafat oleh karena pemberontakan Hou Keng, tahta digantikan oleh Liang-bun-te, tapi kaisar ini ditewaskan pula oleh Hou Keng, kemudian pangeran Siang-tong-ong Siau Tik naik tachta dikota Kangleng dengan gelar Liang-goan-te. Tapi Liang-goan-te ini terlalu lemah dan tidak betjus mengurus negaranja, jang dipentingkan tjuma mengumpulkan harta-benda pribadi atas derita rakjat djelata, hanja tiga tahun ia mendjadi radja di Kangleng, tapi harta-benda jang dikeduknja sudah tak ternilai djumlahnja. Pada tahun ketiga itulah keradjaan Gui menjerang Kangleng dan Liang-goan-te terbunuh. Pada hari tamatnja Liang-goan-te itu, radja jang lalim itu telah membakar habis perpustakaan negara jang berisi kitab2 berharga tidak kurang dari 140 ribu djilid djumlahnja. Akan tetapi dimana ia menjembunjikan harta bendanja hasil pemerasan darah-keringat rakjat itu ternjata tiada seorangpun jang tahu. Guna menjelidiki harta karun jang besar djumlahnja itu, panglima tentara Gui jang bernama Ih Kin telah menawan ber-ribu2 orang jang disangkanja tahu rahasia tempat harta karun itu disembunjikan, namun meski orang2 itu disiksa dan dibunuh toh tetap tiada sesuatu keterangan jang diperoleh. Achirnja karena kuatir tempat pendaman harta karun itu dikemudian hari mungkin akan dikeduk oleh orang jang mengetahui, panglima kedjam itu tidak berbuat kepalang tanggung lagi, antero penduduk Kangleng lantas digiring semua ke Tiangan, jaitu ibukota keradjaan Gui. Beratus ribu penduduk Kangleng itu belum lagi tiba di Tiangan sudah terbunuh atau dipendam hidup2 ditengah djalan hingga tiada seorangpun jang lolos. Karena itulah, selama be-ratus2 tahun rahasia tentang harta karun itu tetap tidak terbongkar, dan lambat-laun tiada seorangpun jang tahu lagi.”

“Menurut tjerita Leng-siotjia, ajahnja telah mengorbankan temponja selama 7-8 tahun untuk membongkar arsip sedjarah kota Kangleng serta mempeladjari segala tjatatan dan kitab kuno, maka dapatlah dipastikan bahwa harta karun jang dikumpulkan Liang-goan-te itu tentu dipendam di sesuatu tempat di sekitar kota Kangleng ini. Radja Liang-goan-te itu sangat kedjam, bukan mustahil setelah dia menjembunjikan harta-bendanja itu, lalu petugas2 jang mengetahui rahasianja itu terus dibunuhnja semua. Makanja Ih Kin, itu panglima tentara Gui, meski betapapun kedjamnja dia menjiksa rakjat untuk menjelidiki tempat harta karun itu dipendam, namun tetap tiada sedikitpun keterangan jang diperolehnja.”

Mendengar sampai disini, satu-persatu tanda tanja jang meliputi hati Tik Hun mendjadi terdjawab dan terang. Tanjanja kemudian: “Ting-toako, djika begitu, engkau tentu mengetahui rahasia tempat harta karun itu bukan? Makanja begitu banjak orang jang mentjari engkau kedalam pendjara, tentu karena merekapun ingin mendapatkan harta terpendam itu.”

Ting Tian tidak mendjawab, dengan tersenjum getir ia meneruskan tjeritanja pula: “Setelah mendengar tjerita Leng-siotjia itu, waktu itu aku merasa ajahnja sesungguhnja terlalu serakah. Dia sudah ‘Bun-bu-tjoan-tjay’ (serba pandai ilmu silat dan sastra), sudah kaja lagi berpangkat, kenapa masih mengintjar harta karun apa segala? ~ Kemudian ketika aku berbitjara tentang matjam2 kedjadian dan pengalaman Kangouw, dengan sendirinja akupun mentjeritakan padanja tentang peristiwa Ban Tjing-san bertiga saudara perguruan mengerojok guru mereka untuk merebut Kiam-boh ditepi sungai Tiangkang itu. Dengan terus terang akupun mentjeritakan tentang Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat jang kumiliki itu kepadanja.”

“Dengan begitulah kami telah lewatkan hari bahagia selama setengahan tahun. Pada hari tanggal 14 bulan tudjuh tahun itu, Leng-siotjia telah berkata kepadaku: ‘Engkoh Tian, hubungan kita ini betapapun harus dibitjarakan kepada Tia-tia untuk minta persetudjuannja, habis itu kita tidak perlu lagi pakai sembunji2 seperti sekarang ini……….” ~ baru berkata sekian ia sudah lantas susupkan kepalanja kepangkuanku saking malunja.”

“Maka aku mendjawab: ‘Tapi engkau adalah Djian-kim-siotjia (puteri bernilai ribuan emas, maksudnja puteri keluarga hartawan atau bangsawan), aku kuatir ajahmu akan memandang hina padaku.’ ~ Leng-siotjia menjahut: ‘Leluhurku sebenarnja djuga orang kalangan persilatan, hanja ajahku sekarang telah mendjadi pembesar negeri, dan akupun tidak bisa ilmu silat sedikitpun. Namun ajah paling sajang padaku, sedjak ibuku meninggal, setiap permintaanku pasti diluluskan oleh beliau.’

“Mendengar utjapannja itu, sudah tentu girangku tak terkatakan. Siang harinja aku biasanja tidur, tapi hari tanggal 15 bulan tudjuh itu sehari suntuk aku tidak dapat memedjamkan mataku barang sedetikpun. Sampai tengah malam, kembali aku mendjumpai Leng-siotjia diatas lotengnja. Begitu bertemu, dengan wadjah merah ia lantas berkata: ‘Kata ajah, segala apa terserahlah kepada keinginanku.’ ~ Keruan girangku melebihi orang putus lotre 100 djuta. Saking senangnja sampai aku tak sanggup bersuara, untuk beberapa saat lamanja kami tjuma dapat saling pandang dengan tertawa.

“Kemudian kami bergandengan tangan turun dari loteng, sampai ditaman, dibawah sinar sang dewi malam jang terang benderang, tiba2 kulihat diantara bunga2 disitu telah bertambah beberapa pot bunga jang berwarna kuning indah bagai emas jang gemilapan. Bentuk bunga kuning itu rada mirip bunga teratai, tjuma lebih ketjil. Kami berdua memangnja adalah penggemar bunga, segera kami menghampiri bunga kuning itu untuk menikmatinja. Leng-siotjia ber-ketjak2 merasa heran dan menjatakan tidak pernah melihat bunga kuning seindah itu. Segera kami bersama mendekatkan hidung untuk mentjium bunga itu agar mengetahui sampai dimana bau harum bunga itu…….”

Waktu mendengar tjerita sang Toako ber-djalan2 ditaman bunga dibawah sinar bulan purnama sambil tangan bergandeng tangan bersama sang kekasih, betapapun Tik Hun ikut kesemsem djuga, maklum semangat muda. Tapi achirnja demi mendengar nada suara Ting Tian berubah berat dengan napas jang rada seram, mau-tak-mau Tik Hun mendjadi tegang djuga hingga dadanja serasa sesak, se-akan2 ditaman bobrok itu penuh dikelilingi setan iblis jang siap menubruk kepadanja. Se-konjong2 teringat sesuatu nama olehnja, terus sadja ia berteriak: “He, itulah bunga ‘Hud-tjo-kim-lian’!”

Udjung mulut Ting Tian menampilkan senjuman pahit. Selang agak lama barulah ia berkata pula: “Njata engkau sudah tidak bodoh lagi. Selandjutnja engkau takkan mudah ditipu orang Kangouw pula, untuk mana bolehlah aku merasa lega.”

Mendengar utjapan orang penuh mengandung rasa kasih sajang dan penuh perhatian melebihi saudara sekandung, Tik Hun mendjadi terharu hingga air matanja bertjutjuran. Katanja kemudian dengan gemas: “Sipembesar andjing Leng-tihu itu kalau tidak…… tidak boleh puterinja diperisteri olehmu, sebenarnja ia bisa katakan sadja terus terang, tapi mengapa……….. mengapa mesti memakai tipu sekedji itu untuk mentjelakai engkau?”

“Waktu itu darimana aku bisa mendapat tahu?” sahut Ting Tian. “Darimana pula aku bisa mengetahui bahwa bunga kuning emas itu tak-lain-tak-bukan adalah Hud-tjo-kim-lian jang berbisa luar biasa itu? Dan begitu aku mentjium bau harum bunga itu seketika kepalaku terasa pening, sekilas kulihat Leng-siotjia djuga ter-hujung2 terus roboh, tjepat aku bermaksud membangunkan dia, tapi aku sendiripun tidak kuat berdiri pula. Selagi aku mengerahkan Lwekang dan mengatur napas untuk menahan serangan ratjun bunga itu, tiba2 dari sekitar situ sudah muntjul beberapa laki2 bersendjata. Aku tjuma sanggup bergebrak beberapa djurus dengan mereka, habis itu pandanganku mendjadi gelap, menjusul aku tidak tahu lagi apa jang terdjadi.”

“Ketika aku sadar kembali, aku merasa kaki-tanganku sudah terbelenggu, bahkan Pi-pe-kut dipundak djuga sudah ditembus dengan rantai. Kulihat Leng-tihu dengan pakaian biasa sedang mengadakan pemeriksaan atas diriku, petugas2 jang berada disitu djuga bukan lagi petugas2 negara, tapi adalah anggota2 perkumpulan rahasianja. Sudah tentu sikapku sangat keras, kontan sadja aku memaki kalang kabut. Segera Leng-tihu memberi perintah begundalnja menghadjar aku, kemudian aku dipaksa harus menjerahkan Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat………. Kedjadian selandjutnja tidak perlu lagi kutjeritakan, engkau sendiripun sudah tahu, jaitu setiap bulan tanggal 15 aku pasti diseret keluar untuk dihadjar dan memaksa aku menjerahkan Bu-keng (kitab ilmu silat) dan Kiam-koat (kuntji ilmu pedang). Tapi tetap aku tidak guris padanja. Sungguh kesabarannja memang luar biasa djuga hingga bertahan sampai sekarang.”

“Tapi bagaimana dengan Leng-siotjia waktu itu? Mengapa dia tiak berdaja untuk menolong engkau?” tanja Tik Hun tjepat. “Pula, kemudian setelah engkau berhasil mejakinkan Sin-tjiau-kang, engkau dapat pergi-datang dengan bebas, mengapa engkau tidak pergi mendjenguk padanja? Mengapa engkau terima menunggu pertjuma didalam pendjara sampai kematiannja?”

Begitulah serentetan pertanjaan Tik Hun mengenai Leng-siotjia. Tapi saat itu Ting Tian sedang merasakan pening kepala jang luar biasa, tubuhnja se-akan2 enteng dan terapung di udara. Ia ulur tangannja meraba dan memegang sekenanja seperti ingin mendapatkan sesuatu pegangan.

Segera Tik Hun angsurkan tangannja untuk memegang tangan Toako itu. Tapi mendadak Ting Tian terkedjut dan mengipatkan tangannja sekuatnja sambil berseru: “Tanganku beratjun, djangan menjentuh aku!”

Tik Hun terharu pula dan tjemas melihat keadaan sang Toako itu.

Sesudah pening sebentar, pelahan2 Ting Tian dapat tenangkan pikirannja lagi, ia membuka mta dan menanja: “Tadi kau omong apa?”

Tik Hun tidak mendjawab, tapi mendadak teringat sesuatu olehnja, tjepat ia menanja: “Ting-toako, waktu itu apakah pernah terpikir olehmu bahwa Leng-siotjia itu mendapat perintah dari ajahnja dan sengadja menipu engkau untuk……….”

“Omong kosong!” bentak Ting Tian mendadak dengan gusar sambil angkat tangannja hendak menggablok.

Tik Hun insaf telah kelepasan omong, maka ia tidak berani menangkis, tapi rela menerima hadjaran sang Toako.

Diluar dugaan kepalan Ting Tian lantas berhenti ditengah djalan, ia melototi Tik Hun sedjenak dengan terkesima, kemudian menarik kembali kepalannja pelahan2, lalu katanja: “Tik-hiantit, rupanja engkau sendiri dihianati gadismu, maka kepertjajaanmu kepada kaum wanita didunia ini sudah hilang, untuk mana memang aku tidak dapat menjalahkan engkau. Tapi bila Siang-hoa benar2 diperintahkan ajahnja dengan menggunakan ‘Bi-djin-keh’ (tipu menggunakan wanita tjantik) untuk menipu Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat dariku, hal itu akan sangat gampang aku tertipu. Bahkan ia tidak perlu berkata apa2, tjukup asal bilang: ‘Ting-toako, berikanlah kitabmu Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat kepadaku.’ ~ Bahkan dia boleh tidak usah buka suara, tjukup memberi isjarat atau menundjukan sedikit keinginannja sadja, kontan tanpa tawar2 pasti akan kuberikan segala apa jang dia minta. Aku takkan pusing apakah kitab itu akan diserahkannja kepada ajahnja, akan disedekahkan kepada pengemis dipinggir djalan atau akan dia sobek2 sebagai mainan kanak2, ja, sekalipun akan dia bakar, pasti aku takkan mengkerut kening sedikitpun. Ketahuilah, Tik-hiantit, meski Bu-keng dan Kiam-koat itu adalah kitab mestika jang tak ternilai di dunia Bu-lim, tapi kalau dibandingkan diri Leng-siotjia, dalam pandanganku kitab2 mestika itu tidak lebih tjuma sebangsa sampah belaka. Huh, Leng Dwe-su pertjuma mendjadi seorang Bun-bu-tjoan-tjay, tapi hakekatnja adalah seorang jang goblok. Tjoba kalau dia suruh puterinja membuka mulut minta padaku, tidak mungkin aku menolaknja.”

“Boleh djadi ia sudah pernah bitjara dengan Leng-siotjia, tapi Leng-siotjia tidak mau menurut,” udjar Tik Hun.

“Tidak mungkin,” sahut Ting Tian menggeleng kepala. “Andaikan terdjadi begitu, pasti Siang-hoa takkan membohongi aku.” ~ Ia menghela napas, lalu menjambung pula: “Hm, manusia matjam Leng Dwe-su itu lebih mementingkan nama dan kedudukan, harta dan kekajaan, dengan djiwanja jang ketjil itulah dia angap setiap manusia didjagat ini djuga serupa dirinja jang tidak berpribadi, ia menjangka kalau menjuruh puterinja minta padaku, tentu aku akan menolaknja, sebaliknja maksud djahatnja mendjadi ketahuan hingga aku akan lebih waspada. Disamping itu ada pula suatu alasan. Seperti diketahui, dia adalah seorang Tihu keluaran Hanlim, tapi puterinja djusteru djatuh hati kepada seorang kasar seperti aku. Ia merasa terhina dan harus membunuh diriku.”

“Sesudah aku tertangkap, antero badanku telah digeledah merata, tapi tiada sesuatu jang diketemukan, pondokku djuga tiak terluput dari penggeledahan teliti, namun djuga tidak diketemukan apa2. Sedjak itu tiap2 tanggal 15 tentu aku diseret keluar pendjara untuk disiksa dan ditanjai, sudah banjak sekali usaha mereka, segala budjukan manis dan kata2 madu sudah habis terpakai, segala paksaan dan antjaman djuga sudah dilakukan, tapi aku tetap bungkam. Ia pernah mengirim orangnja menjamar sebagai pesakitan dan dikurung sekamar dengan aku dengan tudjuan memantjing pembitjaraanku. Orang itu pura2 penasaran karena dipendjarakan tanpa berdosa, ia mentjatji-maki Leng Dwe-su adalah manusia djahat. Akan tetapi segera aku dapat mengetahui rahasia penjamarannja, tjuma sajang waktu itu aku belum berhasil menjakinkan Sin-tjiau-kang, tenagaku tidak seberapa besarnja, maka kurang keras kuhadjar dia.” ~ berkata sampai disini udjung mulutnja menampilkan senjuman puas. Lalu melandjutkan: “Nasibmu djuga djelek, telah banjak menderita hadjaranku setjara penasaran. Pabila engkau tidak bermaksud menggantung diri, boleh djadi sampai harini djuga sudah mati dihadjar olehku.”

Sahut Tik Hun: “Aku sendiri menanggung penasaran dan dipitenah orang, pabila tak ditolong Toako …..”

Tiba2 Ting Tian menggojang tangannja menjetop utjapan pemuda itu, lalu katanja: “Pertemuan kita ini boleh dikatakan ada ‘djodoh’. Segala kedjadian didunia ini memang tak terlepas dari ‘djodoh’.”

Sekilas ia melihat diudjung taman bobrok sana bertumbuh setangkai bunga ungu jang ketjil dan sedang tergontai oleh tiupan angin bagai hidup kesunjian disitu. Katanja segera: “Petikkanlah bunga itu!”

Tik Hun menurut, ia petik tangkai bunga itu dan menjerahkannja kepada sang Toako.

Sambil memandangi bunga ungu ditangannja itu, terbajang pula kedjadian2 dimasa lampau, pelahan2 Ting Tian menutur lagi: “Setelah tulang pundakku ditembus rantai dan dipendjarakan, segala apa sudah dapat kupikirkan dengan djelas, kujakin Leng Dwe-su pasti akan menghabiskan njawaku. Sehari lebih tjepat kuserahkan Keng dan Koat*) jang dia inginkan itu, sehari lebih lekas pula aku akan dibunuh olehnja. Tapi kalau aku tetap bungkam, mengingat benda2 mestika jang diintjarnja itu tentu ia malah tidak berani membunuh diriku, sekalipun dihadjar dan disiksa, paling2 djuga tjuma melukai sedikit kulit sadja, untuk menamatkan njawaku rasanja masih sajang baginja.”

“Pantas!” udjar Tik Hun. “Makanja tempo hari waktu Toako suruh aku pura2 hendak membunuh engkau, seketika sipir bui mendjadi kuatir malah dan tidak berani berlaku se-wenang2 lagi kepada kita.”

“Ja. Setelah lebih sebulan aku disekap dalam pendjara, saking gusar dan penasaranku, hampir2 aku mendjadi gila,” tutur Ting Tian pula. “Pada suatu malam, datanglah seorang pelajan ketjil, ia adalah Kiok Yu (kawan seruni), itu dajang pribadi Leng-siotjia. Sebabnja aku dapat berkenalan dengan Leng-siotjia adalah gara2 utjapan dajang itu ditaman pameran seruni di Budjian. Aku tidak tahu betapa banjak Leng-siotjia memberi sogokan kepada sipir bui hingga Kiok Yu diperbolehkan menemui aku. Akan tetapi sepatah katapun Kiok Yu ternjata tidak buka suara dan tiada membawakan sesuatu benda atau setjarik kertaspun untukku, melainkan menatap aku dengan ter-mangu2 sadja. Sipir bui itu membawa golok tadjam dan mengantjam dipunggung Kiok Yu. Maka tahulah aku bahwa sipir bui itu terang ketakutan atas perbuatannja menerima uang sogok, maka Kiok Yu tjuma diperbolehkan bertemu muka dengan aku, tapi dilarang berbitjara.”

“Dengan terkesima Kiok Yu memandangi aku sedjenak, sampai achirnja iapun mengutjurkan air mata. Sementara itu sipir bui ber-ulang2 memberi tanda mendesaknja lekas keluar dari situ. Kiok Yu melihat dipelataran diluar kamar pendjara bertumbuh setangkai bunga seruni jang ketjil, ia terus memetiknja dan diangsurkan kepadaku melalui langkah besi, lalu ia tuding2 pula kearah djendela diatas suatu loteng dikedjauhan. Diatas ambang djendela itu ternjata tertaruh sebuah pot bunga jang segar. Aku mendjadi girang dan tahu bunga itu diletakkan oleh Leng-siotjia disitu untuk menghilangkan rasa hampaku.”

“Kiok Yu tidak berani tinggal terlalu lama disitu, segera ia putar tubuh bertindak keluar. Siapa duga baru sadja ia melangkah keluar pintu pendjara, tiba2 dari tempat jang tinggi menjambar datang sebatang panah, “tjrat”, punggung dajang ketjil itu tepat tertembus oleh panah itu dan seketika menggeletak terbinasa. Njata Leng Dwe-su kuatir kalau ada kawanku jang mengatjau kependjara untuk menolong aku, maka di-mana2 disekitar pendjara itu sudah didjaga dengan kuat. Ketika panah kedua menjambar pula, sipir bui jang korupsi itupun tidak terluput dari kematian. Bagitulah djalan pikiran Leng-Dwe-su jang tjulas dan begitulah kedji rentjananja.”

“Belum lagi bunga seruni ditanganku itu laju, ternjata Kiok Yu sendiri sudah tewas. Sungguh aku mendjadi ketakutan, takut kalau Leng Dwe-su mendjadi kalap hingga puterinja sendiripun dibunuhnja. Maka aku tidak berani membikin marah lagi padanja, setiap kali ia memeriksa aku pula, aku tjuma membudek dan membisu sadja dan tidak memakinja lagi.

“Kiok Yu telah mati bagiku, usianja masih sangat muda, semuda bunga jang baru mekar. Kalau bukan karena pengorbanannja itu, mana aku sanggup menahan derita selama beberapa tahun ini? Dan darimana aku bisa tahu bahwa bunga segar dalam pot jang tertaruh diambang djendela loteng itu adalah kerdjaan Siang-hoa untukku? Akan tetapi Siang-hoa tetap tidak mengundjuk muka, ia tidak pernah mengintip lagi barang sekedjap dari balik djendela itu. Sungguh aku merasa tidak mengerti apakah sebabnja? Terkadang aku mendjadi menjesalkan dia mengapa begitu tega padaku?”

“Maka aku bertambah giat melatih Sin-tjiau-keng dengan harapan selekasnja dapat terlatih tamat dan sempurna, lalu takkan terkekang lagi kebebasanku oleh belenggu itu. Kuharap bisa terlepas dari pendjara untuk membawa kabur Leng-siotjia dari kurungan ajahnja. Akan tetapi Sin-tjiau-keng itu mengutamakan kesadaran pikiran dan harus melatih dengan sewadjarnja, sedikitpun takbisa dipaksakan dengan tjepat. Achirnja djerihpajahku toh tidak ter-sia2, sampai beberapa hari sebelum engkau hendak menggantung diri barulah ilmu sakti itu berhasil kujakinkan. Selama ini hanja berkat bunga segar dalam pot jang setiap hari ditaruh diambang djendela loteng oleh Leng-siotjia itulah dapat sekedar menghibur hatiku nan lara. Dengan segala tipu-dajanja Leng Dwe-su tetap berusaha memantjing rahasiaku. Engkau dikurung sekamar bersama aku djuga termasuk tipu-dajanja. Ia tahu aku tidak mudah terdjebak oleh begundalnja jang disuruhnja menjamar kedalam kamar pendjara, maka sekali ini ia sengadja mendjebloskan seorang pemuda jang benar2 tak berdosa kedalam kamar pendjara dengan aku.”

“Menurut perhitungannja, lama kelamaan tentu aku akan dapat mengetahui benar tidaknja engkau berdosa dan dipendjarakan. Pabila tahu engkau benar2 pemuda jang tak berdosa, dengan sendirinja aku akan anggap engkau sebagai kawan senasib serta membeberkan rahasiaku kepadamu. Mereka tidak berhasil mengorek sesuatu apa dari diriku, besar kemungkinan akan dapat mengorek dari mulutmu. Sebab engkau masih muda dan kurang pengalaman, djudjur dan polos, engkau akan mudah terperangkap oleh kepalsuan manusia djahat. Tak terduga oleh mereka bahwa sebegitu djauh aku djusteru mentjurigai dirimu. Ja, oleh karena pengalamanku jang pahit, ditambah kematian Kiok Yu jang menjedihkan, maka kepertjajaanku kepada siapapun djuga sudah lenjap. Apa engkau mengira aku tidak pernah keluar dari pendjara? Ketahuilah bahwa pada hari Sin-tjiau-kang berhasil kuselesaikan, hari itu djuga aku lantas keluar pendjara. Tjuma sebelum pergi lebih dulu aku telah menutuk ‘Hun-sui-hiat’ (djalan darah membuat orang tak sadarkan diri) dibadanmu, dengan sendirinja engkau tidak mengetahui.”

“Malam itu, ketika kulolos keluar pendjara, kusangka pasti akan menghadapi suatu pertarungan sengit. Tak terduga keadaan sudah berubah, mungkin sesudah sekian tahun, rasa waspada Leng Dwe-su kepadaku sudah lenjap, pendjagaan diluar pendjara sudah dihapuskan. Sudah tentu tak terduga sama sekali olehnja bahwa Sin-tjiau-kang jang kujakinkan ini bisa begini hebat, orang jang sudah ditembus Pi-pe-kutnja dan dipotong otot kakinja toh masih dapat menggunakan ilmu silatnja jang hebat.”

“Sesudah aku sampai dibawah djendela loteng itu, hatiku ber-debar2 dengan keras sekali seperti kembali kepada perasaanku pada waktu untuk pertama kalinja aku bertemu dengan Leng-siotjia dibawah djendelanja dulu. Tapi achirnja aku memberanikan diri dan mengetok djendelanja perlahan2 sambil memanggil: ‘Siang-hoa!’ ~ Ia terdjaga bangun dari tidurnja terus berseru: ‘Ting-toako, Engkoh Tian, engkaukah jang datang? Apa aku bukan sedang mimpi?’ ~ Sesudah berpisah sekian lamanja dan kini dapat mendengar suaranja pula, sungguh girangku melebihi takaran, dengan suara gemetar aku menjahuti: ‘Ja, Siang-moay, akulah jang datang! Aku telah lolos keluar dari pendjara!'”

“Aku menunggu djendela itu dibuka olehnja, sebab biasanja diwaktu kami mengadakan pertemuan, selalu dia membukakan djendelanja dan barulah aku melompat masuk kedalam kamarnja, selamanja aku tidak pernah sembarangan masuk kekamarnja itu. Tak tersangka sekali ini dia tidak lantas membukakan djendelanja, tapi ia menempelkan mukanja diatas kertas penutup daun djendela sambil berkata dengan perlahan: ‘O, engkoh Tian, djadi engkau benar2 masih hidup dengan baik? Njata ajah tidak mendustai aku’ ~ ‘Ehm, ajahmu memang tidak mendustai kau,’ kataku dengan suara pedih. ‘Sampai saat ini djuga aku masih tetap sehat walafiat. Marilah, harap engkau membuka djendela, aku ingin melihat engkau.’ ~ Tapi tjepat ia mendjawab dengan gugup: ‘Tidak! Djang ….. djangan!’ ~ ‘Sebab apa?’ tanjaku dengan tjemas. Maka djawabnja: ‘Sebab aku sudah berdjandji kepada ajah. Beliau mendjamin keselamatan djiwamu, tapi untuk selamanja aku dilarang berdjumpa dengan engkau lagi. Ia mengharuskan aku bersumpah, suatu sumpah jang kedji bahwa pabila aku bertemu pula dengan engkau, arwah ibuku dialam baka akan tersiksa setiap hari oleh setan djahat,’ ~ berkata sampai disini, suaranja mendjadi sesenggukan. Sedjak ketjil ia sudah ditinggalkan ibundanja, maka tjinta kasihnja kepada mendiang ibunja boleh tidak usah diragukan lagi.”

“Sungguh aku bentji kepada kekedjian Leng Dwe-su itu, dia tidak lantas membunuh aku adalah lantaran mengintjar kitab pusaka dariku, tapi apa sangkut-pautnja dengan Siang-hoa hingga puterinja itu diharuskan mengangkat sumpah sedjahat itu? Akan tetapi Siang-hoa sudah dipaksa mengutjapkan sumpah berat itu dan sumpah itupun telah melenjapkan segala harapanku. Namun aku tetap meminta: ‘Siang-hoa, marilah kita minggat sadja bersama. Tutuplah matamu dengan kain supaja tidak melihat aku untuk selamanja.’ ~ Ia menangis, sahutnja dengan ter-isak2: ‘Itulah ti ……. tidak mungkin, dan akupun tidak ingin engkau melihat aku pula.’ ~ Maka tertjetuslah rasa dendam jang memenuhi dadaku selama ber-tahun2 itu, seruku: ‘Sebab apa? Aku …… aku harus melihat engkau.'”

“Mendengar nada suaraku agak lain, dengan lemah-lembut iapun berkata lagi: ‘Engkoh Tian, kutahu engkau telah ditawan ajah, ber-ulang2 akupun memohon beliau membebaskan dikau. Tapi semua permintaanku ditolaknja, bahkan aku lantas dipilihkan djodoh orang lain untuk mematikan tjintaku kepadamu. Ketika aku membangkang, ajah lantas hendak menggunakan kekerasan, maka……. maka aku telah menggurat mukaku sendiri dengan pisau.'”

Mendengar sampai disini, tak tertahan lagi Tik Hun berseru kaget dengan perasaan jang terguntjang hebat.

Namun Ting Tian menjambung lagi: “Betapa rasa terima kasih dan kasih-sajangku demi mengetahui kesetiaannja kepadaku. Terus sadja kuterdjang djendelanja hingga terpentang. Ia mendjerit kaget sekali dan tjepat memedjamkan kedua matanja sambil menutupi pula mukanja dengan tangan. Namun aku sudah dapat melihatnja dengan djelas. Selebar wadjah jang paling tjantik didunia ini kini sudah berubah sedemikian rupa bagai langit dan bumi bedanja, mukanja tergores malang-melintang belasan guratan pisau hingga dagingnja membalik keluar. Matanja jang djeli, hidungnja jang mantjung dan mulutnja jang mungil kini telah penuh dihiasi guratan2 tjodet merah bekas luka, wadjah jang tjantik bagai bidadari itu kini telah berubah seperti setan. Aku memeluknja dengan mesra. Biasanja Siang-hoa sangat sajang pada wadjahnja sendiri jang tjantik itu, pabila bukan disebabkan oleh laki2 sial seperti aku, mana dia mau merusak mukanja sedikitpun? Maka kataku: ‘Siang-hoa, ketjantikan lahir mana dapat membandingi ketjantikan batin? Engkau merusak muka sendiri untukku, dalam pandanganku engkau malah berpuluh kali, bahkan beratus kali lebih tjantik daripada dahulu.'”

“Ia menangis, katanja: ‘Keadaan sudah begini dapatkah kita hidup berdampingan lagi? Aku sudah berdjandji kepada ajah untuk selamanja tidak akan mendjumpai engkau lagi. Maka ……….. Eangkoh Tian, haraplah engkau pergi dari sini sadja.’ ~ Aku insaf hal itu tak dapat ditarik kembali lagi, maka sahutku: ‘Siang-moay, aku akan kembali kedalam pendjara dan setiap hari akan kunikmati bunga segar didepan djendelamu ini.’ ~ Sebaliknja ia lantas merangkul leherku, katanja setengah meratap: ‘O, Engkoh Tian, djangan……… djangan engkau pergi!'”

“Begitulah kami saling berpelukan hingga lama dan tidak berbitjara pula. Ia tidak berani memandang aku, akupun tidak berani memandang dia. Sudah tentu bukan disebabkan aku tidak sudi kepada mukanja jang sudah djelek itu, tetapi……. tetapi, ja, mukanja sesungguhnja terlalu hebat rusaknja. Sampai lama dan lama sekali, dari djauh sudah terdengar ajam djago berkokok. Achirnja ia berkata pula: ‘Engkoh Tian, aku……… aku tidak boleh membikin susah ibuku jang sudah meninggal itu, maka…… maka selandjutnja djanganlah engkau datang menjambangi aku pula.’ ~ Aku mendjawab: ‘Apakah sedjak kini kita takkan berdjumpa pula?’ ~ Dengan menangis ia menjahut: ‘Ja, takkan berdjumpa pula. Jang kuharapkan hanja sesudah kita berdua meninggal dunia, semoga dapatlah dikubur didalam satu liang. Kuharap ada seseorang jang baik hati akan sudi melaksanakan tjita2ku ini, untuk mana dialam baka djuga aku akan berdoa untuk memberkahinja.’ ~ Aku berkata pula: ‘Siang-moay, aku mengetahui suatu rahasia besar, menurut tjerita orang Kang-ouw, katanja rahasia ini ada sangkut-pautnja dengan sesuatu harta karun. Rahasiaku ini disebut mereka Soh-sim-kiam-koat. Maka rahasia ini akan kuberitahukan padamu, engkau harus mengingatnja dengan baik2.’ ~ Ia menjahut tegas: ‘Tidak, aku tidak ingin mendengarnja, untuk apa aku mesti mengingatnja baik2?’ ~ Kataku: ‘Tapi engkau dapat mentjari seorang jang djudjur dan dapat dipertjaja untuk minta dia suka mengerdjakan tjita2 kita agar dikubur mendjadi satu liang, sebagai balas djasanja engkau akan beritahukan Kiam-koat ini kepadanja.’ ~ ‘Tapi selama hidupku sudah terang aku takkan turun dari loteng ini lagi, dengan matjamku ini mana dapat kutemukan orang pula?’ demikian ia menjahut. Tapi sesudah memikir sedjenak, segera katanja lagi: ‘Baiklah, katakanlah kepadaku. Engkoh Tian, betapapun aku ingin dikubur bersama dengan engkau. Biarpun aku harus memohon pertolongan orang dengan mukaku jang buruk ini, aku takkan takut.’ ~ Dengan begitu akupun lantas memberitahukan kepadanja tentang rahasia Soh-sim-kiam-hoat, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sampai ufuk timur sudah remang2, fadjar sudah hampir menjingsing, barulah aku berpisah dengan dia dan kembali kedalam pendjara.”

Utjapan Ting Tian itu makin lama makin berat hingga sampai achirnja suaranja semakin lirih dan hampir2 tak kedengaran.

“Ting-toako,” kata Tik Hun kemudian, “djangan engkau kuatir, pabila terdjadi apa2 atas dirimu, aku pasti akan mengubur engkau bersama dengan Leng-siotjia. Tapi aku tidak mengharapkan balas djasamu tentang Kiam-koat apa segala, biarpun engkau akan memberitahukan kepadaku djuga aku tidak mau mendengarkan.”

Wadjah Ting Tian menampilkan senjuman jang puas dan tulus, katanja: “Saudara jang baik, tidak pertjumalah aku berkenalan dengan kau. Engkau berdjandji akan mengubur djenazah kami mendjadi satu liang, matipun aku dapatlah merasa lega. Sungguh aku merasa sangat girang……….” ~ lalu dengan bisik2 ia menjambung pula: “Sebenarnja bila harta karun itu dapat engkau ketemukan, kujakin engkau pasti takkan menjelewengkan penggunaannja, tapi dapat dipakai untuk menolong sesamanja, untuk membantu kaum miskin, untuk menjokong kaum tertindas didunia ini. Orang2 jang menderita seperti aku, seperti engkau, seperti kita ini, didunia fana ini masih teramat banjak. Maka Soh-sim-kiam-koat ini bila engkau tidak mau mendengarkan, setelah aku mati, itu berarti akan musna untuk selamanja dan berarti pula suatu kerugian besar bagi kaum tertindas, bukankah sangat sajang?”

Tik Hun meng-angguk2 dan merasa utjapan sang Toako itu ada benarnja djuga.

“Makanja kuharap engkau sudilah mendengarkan rahasia Soh-sim-kiam-koat ini,” kata Ting Tian lebih djauh. Ketika dilihatnja Tik Hun sudah siap dan mentjurahkan sepenuh perhatian untuk mendengarkan, segera ia meneruskan: ‘Nah, dengarkanlah jang baik2. Kuntji daripada Soh-sim-kiam-koat itu terdiri dari beberapa angka hitung sadja tapi bukan angka ‘buntut’, djangan engkau salah sangka. Angka pertama adalah 4, angka kedua adalah 51, angka ketiga 33, dan angka keempat adalah 53 …………”

Tengah Tik Hun mendengarkan uraian itu dengan bingung, tiba2 terdengar suara tindakan orang mendatangi diluar taman bobrok itu. Seorang diantaranja sedang berkata: “Hajolah kita tjoba memeriksa kedalam taman ini!”

Wadjah Ting Tian berubah seketika, tjepat ia melompat bangun. Segera Tik Hun ikut melompat bangun djuga. Ia lihat dari pintu belakang taman bobrok itu telah menerobos masuk tiga orang laki2 kekar. Dua orang diantaranja bersendjata.

Ting Tian melirik sekali kepada ketiga orang itu, diam2 ia menghela napas gegetun, katanja didalam hati: “Pabila aku belum keratjunan sedjahat ini, betapapun kuatnja ketiga kaki-tangan penguasa ini djuga akan kubereskan dengan Sin-tjiau-kang. Tapi kini aku tidak berani jakin kepada kemampuannja sendiri lagi. Apa barangkali Soh-sim-kiam-hoat akan musna sedjak kini?” ~ Tapi dalam sekedjap sadja ia sudah ambil keputusan: “Betapapun aku harus berdjuang mati2an.”

Maka segera tanjanja kepada Tik Hun: “Tik-hiantit, keempat angka jang kukatakan tadi apa sudah kau ingat dengan baik?”

Tapi Tik Hun sendiri lagi kesima melihat ketiga musuh sudah mendesak madju dan telah mengurung mereka di-tengah2, jang seorang bersendjata golok dan jang lain bersendjata pedang, orang ketiga bertangan kosong, tapi bermuka paling litjik dan bengis.

Karena itulah ia mendjadi lupa untuk mendjawab pertanjaan Ting Tian tadi.

“Tik-hiantit, engkau sudah ingat dengan baik belum?” kembali Ting Tian menggembornja.

Karena itu, barulah Tik Hun terkedjut dan tjepat menjahut: “Sudah, angka pertama adalah……..” sebenarnja ia hendak mengatakan angka “4” itu, tapi segera teringat olehnja bahwa musuh sudah didepan mata, kalau dia berkata, bukankah akan didengar musuh? Maka tjepat ia berdiri mungkur dan atjungkan empat djarinja kearah Ting Tian.

Dalam pada itu lelaki jang bersendjatakan golok sudah lantas berkata dengan tertawa dingin: “Orang she Ting, betapapun engkau djuga terhitung seorang gagah, mengapa pada saat demikian ini engkau masih mengotjeh dan merengek seperti anak ketjil? Hajolah lebih baik ikut kembali dengan kami sadja, agar kita tidak saling menjusahkan.”

Sedang kawannja jang memakai pedang lantas ikut bersuara: “Tik-toako, sudah lama tidak berdjumpa, baik2kah engkau selama ini? Senang sekali bukan hidup didalam pendjara?”

Tik Hun terperandjat oleh teguran itu, ia merasa suara orang sudah pernah dikenalnja. Waktu ia mengamat-amati orang, maka teringatlah dia. Kiranja orang ini tak-lain-tak-bukan adalah murid kedua Ban Tjin-san jang bernama Tjiu Kin. Sudah berpisah sekian tahun, kini Tjiu Kin telah piara kumis diatas bibir, ditambah pakaiannja perlente, maka Tik Hun mendjadi pangling.

Teringat Tjiu Kin adalah murid Ban Tjin-san dan termasuk salah seorang biangkeladi jang menjebabkan dirinja didjebloskan kedalam pendjara hingga menderita sampai kini, seketika Tik Hun mendjadi naik darah, dengan gusarnja terus sadja ia membentak: “Hai, kukira siapa, tak tahunja adalah Tjiu……….. Tjiu-djiko!”

Sebenarnja Tik Hun bermaksud menjebut langsung nama orang tapi achirnja urung dan tetap memanggilnja sebagai “Tjiu-djiko”.

Rupanja Ting Tian dapat meraba perasaan Tik Hun, ia berseru: “Bagus!” ~ Ia pikir sebentar lagi pasti akan terdjadi pertarungan mengadu djiwa, pertarungan jang menentukan mati atau hidup, tapi Tik Hun toh dapat mengekang perasaan dendamnja kepada Tjiu Kin dengan memanggil “Tjiu-djiko” padanja, itu suatu tanda pemuda itu sudah tambah tjerdik dan bukan lagi orang kasar jang tahunja melulu hantam-kromo sadja.

Lalu Ting Tian berkata pula: “Hm, Tjiu-djiya ini tentunja adalah murid pilihan Ban Tjin-san, Ban-loyatju, bukan? Bagus, bagus, entah sedjak kapan Tjiu-djiya telah menghamba kepada Leng-tihu? ~ Ini, Tik-hiantit, biarlah aku memperkenalkan padamu. Ini adalah tokoh terkemuka dari ‘Ban-sing-to’, Ma Tay-beng, Ma-toaya, orang memberi djulukan ‘Kiap-gi-khek’ kepadanja.’

“Kiap-gi-khek (pendekar budiman)? Hm, indah amat djulukannja ini? Tapi entah tulen atau palsu, sesuai tidak perbuatannja dengan namanja?” djengek Tik Hun.

Tentang hal itu, haha, aku tidak sanggup mengatakan,” kata Ting Tian dengan mengedjeknja. “Dan jang itu adalah djago djebolan Siau-lim-pay, terkenal karena Tiat-sah-tjiang-nja jang lihay dan bernama ‘Siang-to’ Kheng Thian-pa. Orang Bu-lim mengatakan telapak tangannja terlalu tadjam bagai sendjata, maka memberikan djulukan ‘Siang-to’ (sepasang golok) padanja. Padahal selamanja dia tidak pernah menggunakan sendjata.”

“Bagaimana dengan kepandaian kedua tuan ini?” tanja Tik Hun.

“Hanja djago pilihan diantara djago2 kelas dua sadja,” sahut Ting Tian. “Untuk bisa naik tingkat mendjadi kelas satu, ha, selama hidupnja tiada harapan.”

“Sebab apa?’ tanja Tik Hun.

“Habis, bukan bahan dari kwalitet jang baik,” kata Ting Tian. “Sudah tiada mendapatkan didikan guru pandai, bakat merekapun terlalu djelek.”

Begitulah mereka bertanja-djawab seenaknja se-akan2 disamping mereka sudah tiada orang lain lagi. Keruan hampir2 meledak dada Kheng Thian-pa dan Ma Tay-beng saking gusarnja.

Ma Tay-beng wataknja lebih sabar, ia tjuma mendengus sekali dan diam sadja. Sebaliknja Kheng Thian-pa takdapat menahan gusarnja lagi, terus sadja ia memaki: “Keparat, adjalmu sudah sampai, masih berani mengotjeh. Rasakan golokku ini!”

Apa jang dia katakan “golok” itu sebenarnja adalah telapak tangannja, tjuma tenaganja sangat kuat, asal kena ditubuh musuh, tadjamnja tidak kalah daripada golok badja. Maka berbareng dengan bentakannja itu, terus sadja sebelah telapak tangannja memotong kearah Ting Tian.

Karena badannja keratjunan, Ting Tian tidak dapat lagi mengerahkan tenaga dalamnja dengan baik, maka ia tidak berani menangkis, melainkan mengegos untuk menghindar.

Tak terduga dalam hal Tjiang-hoat atau ilmu pukulan dengan telapak tangan, Kheng Thian-pa itu memang benar2 lihay, sekali hantam luput, segera menjusul serangan kedua dengan menabas dari samping.

Ting Tian kenal serangan perubahan lawan itu, tjepat ia turunkan sebelah tangannja untuk menangkis. Akan tetapi gajanja bagus, tjaranja tepat, hanja tenaganja kurang, hasilnja sama sekali diluar harapannja. “Plok”, iganja tepat kena disabet sekali oleh telapak tangan Kheng Thian-pa.

Tiat-sah-tjiang atau ilmu pukulan pasir besi dari Siauw-lim-pay memang benar2 tidak bernama kosong. Kontan Ting Tian sempojongan dan muntahkan darah segar.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: