Pedang Hati Suci (Jilid ke-7)

“Nah, bagaimana? Aku hanja djago kelas dua, lantas kau kelas berapa?” demikian Kheng Thian-pa mengedjek dengan tertawa dingin.

Ting Tian menarik napas dalam2 sekali, mendadak ia merasa djalan napasnja sangat lantjar. Kiranja setelah ratjun “Hud-tjo-kim-lian” jang djahat itu meresap masuk kedalam pembuluh darah, djalannja makin lama makin lambat. Meski tadi ia memuntahkan darah dan luka dalam jang dideritanja sangat parah, tapi bekerdjanja ratjun untuk sementara mendjadi hilang malah. Dalam girangnja, kontan sadja Ting Tian balas menjodokan sebelah telapak tangannja kedepan.

Ketika Thian-pa menangkis, mendadak Ting Tian memutar tangannja terus menampar keatas, “plok”, tepat sekali pipi Thian-pa kena digampar. Menjusul tangan Ting Tian jang lain memutar pula dan menghantam, “plak”, kepala Thian-pa kena ditabok djuga sekali.

“Mati aku!” djerit Thian-pa ketika insaf kepalanja susah menghindarkan tabokan lawan itu. Namun begitu, tjepat ia berusaha mendakan tubuh dan melangkah mundur. Diluar dugaan kembali sebelah tangan Ting Tian menghantam lagi kedepan dan dadanja digendjot pula. Kembali Thian-pa mendjerit: “Aduuh!” dan tergentak mundur.

Melihat tiga kali serangan sendiri tepat mengenai tempat bahaja dibadan sasarannja, tapi musuh tidak roboh, hanja ter-hujung2 mundur. Diam2 Ting Tian mendjadi tjemas, ia insaf tenaga dalamnja sudah banjak lenjap akibat keratjunan Hud-tjo-kim-lian itu. Sebenarnja kalau Sin-tjiau-kang dapat mendorong kekuatan ketiga kali serangannja tadi, biarpun djago nomor satu didunia ini djuga akan binasa seketika oleh salah satu serangannja itu. Tapi kini Kheng Thian-pa jang tjuma tergolong djago kelas dua ternjata sanggup menahan serangan2nja itu tanpa roboh, maka dapatlah dibajangkan keadaan Ting Tian jang sudah lemah itu.

Ting Tian sendiri tahu adjalnja sudah dekat, tapi kalau dirinja mesti dibinasakan oleh kerotjo seperti Kheng Thian-pa, sungguh ia sangat penasaran. Diam2 ia berduka dan gelisah.

Sebaliknja Kheng Thian-pa sendiri sebenarnja sudah ketakutan dan merasa tak terhindar dari kematian ketika merasa muka, atas kepala dan dada kena dihantam lawan, padahal ketiga tempat itu adalah tempat2 berbahaja. Namun ia tjuma ter-hujung2 mundur dan tidak terbinasa, ia mendjadi heran, tapi njalinja sudah petjah hingga untuk sementara ia tidak berani merangsang madju pula.

Segera Ma Tay-beng mengedipi Tjiu Kin sambil berseru: “Tjiu-hiantit, marilah kita madju bersama!”

Tjiu Kin mengiakan. Sebenarnja ia merasa bukan tandingan Tik Hun, tapi mengingat dirinja sendiri bersendjata pedang, sedang lawan bertangan kosong, ditambah lagi djari tangan kanan pemuda itu dahulu sudah terpapas, otot kaki telah dipotong dan tulang pundak ditembus lagi, biarpun ilmu silat setinggi langit djuga takkan mampu dimainkannja. Karena itulah Tjiu Kin mendjadi tabah, sekali pedangnja bergerak, terus sadja ia menusuk kepada Tik Hun.

Ting Tian tahu Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu belum djadi. Ilmu silatnja kini malah belum setarap seperti waktu didjebloskan kedalam pendjara dulu. Kalau mesti melawan Tjiu Kin dengan bertangan kosong, tentu djiwanja akan melajang pertjuma. Segera ia bertindak, tjepat ia menggeser kesamping, dengan tangan kiri terus sadja ia hendak merampas pedangnja Tjiu Kin.

Gerak serangan Ting Tian itu sangat tjepat dan aneh luar biasa hingga sebelum diketahui Tjiu Kin, tahu2 ketiga djari Ting Tian sudah berhasil menggantol dipergelangan tangan murid Ban Tjin-san itu.

Keruan kedjut Tjiu Kin tak terkatakan, ia mengeluh sendjatanja pasti akan terlepas dari tjekalan dan tjelakalah dirinja. Tak terduga meski djari musuh sudah kena pentjet diurat-nadinja ternjata Hiat-to pergelangan tangan itu tidak terganggu apa2.

Tanpa ajal lagi kesempatan itu digunakan Tjiu Kin untuk mengipatkan tangannja dan menjusul pedangnja membalik terus menusuk kedada kiri Ting Tian dengan tjepat.

Ting Tian menghela napas pandjang sekali dan berkata didalam hati: “Ada tenaga takbisa dikerahkan, apa dajaku?” ~ namun begitu dengan mudah dapatlah serangan Tjiu Kin itu dihindarinja.

Diantara ketiga penjatron itu, Ma Tay-beng adalah paling luas pengalamannja. Ia telah menjaksikan Ting Tian bergebrak dengan Kheng Tian dan Tjiu Kin, dalam pertarungan itu dua kali Ting Tian sudah diatas angin, tapi dua kali djuga tidak memperoleh kemenangan sebagaimana diduganja. Maka sesudah dipikir, segera tahulah dia apa sebabnja. Dari Leng-tihu ia diberitahu bahwa Ting Tian sudah keratjunan jang tiada obatnja, maka dapat diduga pasti ratjun dalam tubuhnja itu telah bekerdja hebat, maka tenaga dalamnja telah banjak berkurang.

Achirnja Keng Thian-pa dapat mengetahui djuga keadaan Ting Tian jang sudah pajah itu, ia pikir makanan empuk jang tinggal ditelan sadja itu djangan sampai diganjang lebih dulu oleh kawannja. Begitu pula Ma Tay-beng djuga mempunjai pikiran jang sama, maka berbareng mereka terus menubruk madju.

“Huh, katanja djulukanmu adalah ‘Kiap-gi-khek’, tapi perbuatanmu ini apakah dapat dikatakan kelakuan seorang Kiap-gi?” bentak Tik Hun dengan gusar. Segera iapun mendjotos kearah Ma Tay-beng.

Namun Ting Tian sempat mendorong kepundak Tik Hun sambil berkata padanja: “Engkau mundur sadja, Tik-hiantit!” ~ Menjusul mana tangannja membalik terus mentjengkeram hingga djidat Ma Tay-beng tepat kena dipegang.

Tjengkeraman Ting Tian ini djuga serangan jang mematikan, djangankan Ting Tian menggunakan tenaga dalam jang hebat dari Sin-tjiau-kang, sekalipun Lwekang jang biasa sadja djuga tjukup membikin njawa sasarannja amblas.

Keruan Ma Tay-beng ketakutan setengah mati dan tjepat mendjatuhkan diri ketanah terus menggelinding kesamping.

Dalam keadaan begitu Ting Tian merasa tenaga dalam sendiri semakin lama semakin lemah, sementara ini tjuma berkat tipu serangannja jang djauh lebih lihay daripada musuh, maka dapatlah bertahan sekadarnja, apabila “Soh-sim-kiam-koat” tidak segera diberitahukan seluruhnja kepada Tik Hun, boleh djadi rahasia maha besar ini selandjutnja akan musna untuk selamanja, djika demikian rasanja sangatlah sajang. Oleh karena dirinja bagaimanapun akan mati, maka lebih baik berusaha agar Tik Hun berhasil menjelesaikan tugas jang diselubung rahasia Kiam-koat itu.

Setelah ambil keputusan, segera ia berkata: “Tik-hiantit, dengarkanlah kata2ku. Engkau berlindung dibelakangku dan djangan gubris pada musuh, engkau tjuma apalkan sadja istilah rahasia jang akan kukatakan ini. Urusan sangat penting, maka djangan kau pandang sepele, sebabnja Ting-toakomu bisa mengalami nasib seperti harini djusteru disebabkan membela rahasia ini.”

Tik Hun mengia dan tjepat sembunji kebelakang sang Toako.

“Ingatlah baik2, angka kelima adalah ’18’ dan …….. dan angka keenam adalah ‘7’!” demikian Ting Tian menjambung rahasia Soh-sim-kiam-koat tadi.

Ma Tay-beng tahu sebabnja Leng-tihu memerintahkan penangkapan kepada Ting Tian, tudjuan pokoknja jalah ingin mentjari sesuatu rahasia Soh-sim-kiam-koat. Sedangkan Tjiu Kin sudi menghamba dibawahnja Leng Dwe-su, tudjuannja bukan pangkat dan harta, tapi adalah tugas jang diberikan gurunja agar diam2 menjelidiki rahasia Kiam-koat itu. Kini kedua orang itu mendengar Ting Tian mengutjapkan angka2 ’18’ dan ‘7’, segera merekapun ikut mendengarkan dengan tjermat dan mengingatnja baik2 didalam hati.

Sebaliknja kedatangan Kheng Thian-pa ini adalah ditugaskan untuk menangkap Ting Tian. Kini melihat Ting Tian berkomat-kamit mengutjapkan delapanbelas atau sembilanbelas segala, lantas Ma Tay-beng dan Tjiu Kin ter-mangu2 menirukan berkomat-kamit. Ia pikir kalau bukan Ting Tian sedang main ilmu sihir untuk pengaruhi lawan2nja, tentu adalah Ma Tay-heng dan Tjiu Kin sengadja hendak melepaskan musuh. Sebab itulah Thian-pa terus membentak: “Hai, kalian sedang main gila apa?” ~ berbareng sebelah tangannja lantas membelah kearah Ting Tian. Tapi karena djeri kepada kesaktian lawan, belum lagi serangannja mengenai sasaran atau mendadak ia tarik kembali terus melompat mundur.

Ting Tian sendiri lantas mengegos kekiri dengan maksud menghindarkan serangan Kheng Thian-pa itu. Tapi karena tenaga dalamnja sudah pajah, langkahnja mendjadi hampa, ia sempojongan akan roboh.

Melihat ada kesempatan bagus, tanpa ajal lagi golok Ma Tay-beng tjepat membatjok kepundak kiri Ting Tian. Untuk sesaat Ting Tian merasa matanja mendjadi gelap hingga lupa untuk menghindarkan serangan itu.

Keruan Tik Hun sangat terkedjut, dalam keadaan mendesak, tanpa pikir lagi ia terus menjeruduk madju hingga kepalanja kena tumbuk keperut Ma Tay-beng.

Pertarungan setjara menggelut demikian djika perlu ternjata membawa hasil djuga. Pertjuma sadja Ma Tay-beng memiliki kepandaian tinggi, karena diseruduk oleh Tik Hun seperti banteng ketaton, Tay-beng mendjadi tidak sempat menggunakan ilmu goloknja jang lihay.

Dilain pihak sesudah kepalanja pujeng, waktu Ting Tian membuka mata pula, ia melihat Tik Hun sedang gulat dengan Ma Tay-beng, sedang Tjiu Kin lagi angkat pedangnja hendak menusuk kepunggung Tik Hun. Tjepat Ting Tian bertindak, setjepat kilat ia gunakan dua djarinja untuk mentjolok kedua mata Tjiu Kin. Insaf tenaga sediri sudah habis, ketjuali menjerang kedua mata lawan jang merupakan tempat jang paling lemah itu, rasanja tiada djalan lain lagi.

Benar djuga, karena kuatir mendjadi buta, tjepat Tjiu Kin melompat mundur kesamping. Dan pada saat itulah Ma Tay-beng berhasil menggunakan gagang goloknja untuk mengetok kepala Tik Hun hingga pemuda itu terperosot ditanah.

Ketika Ma Tay-beng dan Tjiu Kin menubruk madju pula, mendadak Ting Tian memapak madju, maka terdengarlah “tjrat-tjret’ dua kali, sendjata2 kedua lawan menantjap semua didada Ting Tian.

Melihat keadaan sudah mendesak, tjepat Ting Tian berseru pula: “Tik-hiantit, djangan sekali2 engkau ikut turun tangan lagi. Ingatlah baik2 bahwa angka ketudjuh adalah …….” ~ mendadak dadanja terasa sesak hingga susah bersuara. Sedangkan pukulan Keng Thian-pa sudah tiba pula. Ia geleng2 putus asa, pikirnja: “Rupanja sudah takdir ilahi, apa jang dapat kukatakan lagi? Soh-sim-kiam-koat ini agaknja akan musna untuk selamanja dari dunia ramai.”

Akan tetapi dasar watak Ting Tian memang sangat teguh, sekali bertekad akan mengadjarkan Kiam-koat itu kepada Tik Hun, betapapun ia akan berdaja untuk mentjapai maksud itu. Ia pikir kalau tidak membunuh ketiga “tjakar alap2” (maksudnja kaki tangan pembesar lalim) itu, biar bagaimana tentu akan susah untuk mengtakan Kiam-koat itu kepada Tik Hun. Kalau tjuma mengatakan satu angka demi satu angka seperti sekarang ini sembari bergebrak, sampai kapan baru bisa selesai diuraikan? Dan djika suatu ketika kepalanja pujeng lagi, mungkin djiwa kedua orang akan segera melajang malah.

Dalam pada itu sinar sendjata tampak ber-kelebat2, Ma Tay-beng dan Tjiu Kin sudah menubruk madju pula bersama. Tubuh Ting Tian tampak bergeliat sekali, mendadak ia memapak madju kearah sendjata2 lawan, tanpa ampun lagi, “tjrat-tjret” dua kali, golok dan pedang lawan tepat membatjok diatas badan Ting Tian hingga darah memuntjrat.

Tik Hun mendjerit kuatir dan tjepat memburu madju untuk menolong. Tapi Ting Tian telah gunakan saat darah mengutjur dan daja ratjun dalam badannja agak berkurang itulah, sekonjong-konjong ia ajun telapak tangan kanan sekuatnja dan tepat menggablok kepilingan kanan Ma Thay-beng, menjusul tangannja membalik mengantjam Tjiu Kin pula.

Serangan kedua itu sebenarnja pasti susah dihindarkan Tjiu Kin, tapi untung baginja dan kedjadiannja sangat kebetulan pula, pada saat itulah tahu2 Kheng Thian-pa menubruk tiba, saking keras ia menerdjang madju, tanpa ampun lagi dadanja persis memapak pada telapak tangan Ting Tian, “plak”, seketika tulang iganja patah semua dan kontan terdjungkal dan tak berkutik lagi.

Serangan Ting Tian itu sudah memakan antero sisa tenaganja jang masih ada, boleh dikata kini ia sudah berada dalam keadaan seperti pelita kehabisan minjak atau motor kehabisan bensin. Gablokannja jang pertama paling keras, maka kontan Ma Thay-beng terbinasa, sedangkan Kheng Thian-pa djuga sudah senin-kemis napasnja tinggal menunggu adjal sadja. Hanja Tjiu Kin sadja jang masih sehat dan bergas belum terluka, dengan tangan kanan memegang pedang jang menantjap dibadan Ting Tian itu, ia sedang berusaha hendak mentjabut sendjatanja itu untuk kemudian akan dipakai menusuk Tik Hun pula.

Tekad Ting Tian sekarang jalah menjelamatkan Tik Hun, maka mendadak ia pepetkan badannja kedepan dan kedua tangannja terus menjikap pinggang Tjiu Kin sambil berseru: “Lekas lari, Tik-hiantit, lekas!” ~ Dan karena badannja mendesak madju itulah, pedangnja Tjiu Kin ambles lebih dalam lagi beberapa senti didalam badannja.

Namun TikHun bukan pemuda pengetjut, mana ia mau melarikan diri sendiri? Tanpa pikir lagi ia menubruk kebelakang Tjiu Kin untuk mentjekek leher lawan itu sambil berteriak2: “Lepaskan Ting-toakoku! Kau mau lepas tangan atau tidak?”

Keruan Tjiu Kin meringis kesakitan dan mendongkol pula. Sebab bukan dia tidak mau melepaskan Ting Tian, tapi dia sendiri jang disikap se-kentjang2nja oleh Ting Tian, djadi Ting Tian jang mesti melepaskan dia dan bukan Tjiu Kin jang harus melepaskan Ting Tian.

Ting Tian merasa tenaga sendiri semakin lemas dan hanpir tidak kuat lagi menjikap Tjiu Kin. Pabila sampai lawan dapat melepaskan diri, sekali pedangnja kena ditjabut, psti djiwa Tik Hun djuga akan melajang. Maka tjepat teriaknja: “Tik Hun, lekas lari, djang….. djangan engkau urus diriku, aku….. aku toh takkan hidup lagi!”

“Kalau mati, biarlah mati bersama!” sahut Tik Hun sambil berusaha mentjekek lebih kuat. Tapi sedjak tulang pundaknja ditembusi dan otot pundak sudah rusak, maka betapapun ia mentjekek se-keras2nja, tetap susah membikin Tjiu Kin mati sesak napas.

“Saudara baik, engkau sangat……. sangat setia kawan…. tidak pertjumalah aku mempunjai seorang kawan seperti kau….. sajang …… sajang Kiam-koat itu takbisa lengkap kukatakan ….. aku sangat senang….. sangat senang …….Djun-tjui-pik-po …. itu seruni hidjau …… jang dia taruh didepan djendela …. lihatlah ….. lihatlah betapa indahnja …. betapa bagusnja ……” demikian suara Ting Tian semakin lama semakin lemah dan lirih, tapi tjahaja mukanja ber-seri2, sebaliknja tangan jang menjingkap Tjiu Kin itu lambat-laun mendjadi kendor.

Merasa kedua tangan Ting Tian sudah tak bertenaga, segera Tjiu Kin meronta sekuatnja, berbareng ia tjabut pula pedang jang menantjap ditubuh Ting Tian itu hingga sendjata itu penuh berlepotan darah. Waktu ia putar tubuh, maka berhadapanlah dia dengan Tik Hun muka dengan muka, djaraknja tjuma belasan senti sadja. Ia menjeringai iblis sekali, pedangnja diangkat terus menusuk se-kuat2nja kedada Tik Hun.

Saat itu Tik Hun sedang kuatir atas diri Ting Tian, ia telah berteriak2: “Ting-toako, Ting-toako!” ~ mendadak dadanja terasa kesakitan sekali.

Waktu Tik Hun melirik dadanja sendiri, ia lihat pedang jang dipegang Tjiu Kin itu telah menusuk diatas dadanja. Ia dengar Tjiu Kin sedang ter-bahak2 girang, suara ketawa orang jang lupa daratan oleh kemenangannja itu.

Memang dapat dimengerti djuga bahwa pantaslah kalau Tjiu Kin kegirangan setengah mati oleh karena berhasilnja serangannja jang terachir itu. Habis, Leng-tihu memberi perintah dengan hadiah jang besar bagi siapa jang dapat menawan hidup2 Ting Tian dan Tik Hun berdua, kalau tak dapat menangkap dengan hidup, boleh djuga dibinasakan ditempat itu djuga. Kini Ting Tian terang sudah menggeletak mati, Tik Hun djuga tertusuk oleh pedangnja tinggal menunggu adjalnja sadja, sedangkan Ma Thay-beng dan Kheng Thian-pa sudah terbinasa djuga disitu, dengan sendirinja djasa besar ini akan diterima sendirian oleh Tjiu Kin.

Dalam sekedjap itu dalam benak Tik Hun djuga telah berganti ber-matjam2 pikiran. Terbajang olehnja waktu masih ketjil beladjar silat dirumah Suhu dan memain bersama dengan sang Sumoay jang menjenangkan itu. Lalu teringat djuga olehnja penganiajaan selama lima tahun hidup didalam pendjara ……. kesemuanja itu seketika membandjiri benaknja, rasa dendam kesumat itu membuatnja bagaimanapun djuga tidak rela menerima kematian begitu sadja.

Sementara itu didengarnja Tjiu Kin masih bergelak tertawa iblis. Dengan murka Tik Hun terus sadja berteriak: “Biarlah aku …… aku mati bersama engkau!” ~ berbareng kedua tangannja terus merangsang madju dan kena mentjengkeram dibahu Tjiu Kin.

Meski Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu belum djadi, tapi paling tidak sudah ada dua tahun alas dasarnja. Kini karena merasa djiwanja terantjam, antero tenaga jang ada telah dikerahkan pada kedua tangannja untuk mentjengkeram se-kentjang2nja dibahu musuh hingga mirip djepitan sepasang tanggam jang kuat. Seketika Tjiu Kin mendjadi kesakitan, dengan napas memburu ia tjoba meronta untuk melepaskan diri, tapi tetap tak bisa terlepas.

Diam2 Tik Hun memikir: “Kalau aku dapat mentjengkeram tempat lain jang lemah ditubuhnja mungkin akan dapat mampuskan dia, tapi kini tjuma dapat memegang bahunja, terang aku takdapat meng-apa2kan dia.”

Namun begitu toh dia takdapat melepaskan tangannja, asal kedua tangannja mendjadi kendor mentjengkeram, pasti kesempatan itu akan digunakan Tjiu Kin untuk meloloskan diri dan untuk memegangnja lagi pastilah susah. Ia merasa dadanja tambah lama tambah sakit, ia tahu udjung pedang lawan sedang menusuk lebih dalam. Kini tiada tempo lagi baginja untuk memikir, kalau Tjiu Kin kena ditjengkeramnja sedikit, berarti sedikit pula ia telah membalas dendam kesumat itu.

Dalam pada itu udjung pedang Tju Kin menusuk semakin keras, sedang Tik Hun djuga mentjengkeram semakin kuat dan menarik se-kuat2nja kearah sendiri. Dan aneh djuga, pedang lawan ternjata tidak dapat menusuk lebih mendalam lagi se-akan2 kebentur oleh sematjam tenaga kebal jang tidak mempan sendjata, bahkan batang pedang Tjiu Kin berbalik menekuk dan pelahan2 melengkung.

Sungguh kedjut dan heran Tjiu Kin tak terkatakan, sekuatnja ia mendorong pedangnja menusuk lebih keras agar badan Tik Hun kena ditembus oleh sendjatanja. Akan tetapi pedangnja seperti tidak mau turut perintahnja lagi, sedikitpun tidak dapat ambles kedepan pula, sebaliknja sendjata itu semakin melengkung karena tekanannja itu.

Kedua mata Tik Hun sudah merah membara, dengan beringas ia melototi Tjiu Kin. Semula ia melihat wadjah Tjiu Kin mengundjuk rasa sangat girang dan mengedjek dengan kedji, tapi lambat-laun air mukanja berubah heran2 kedjut, lalu penuh rasa kuatir, sedjenak kemudian dari rasa kuatir itu berubah mendjadi ketakutan, dan rasa ketakutan itu makin lama makin hebat, hingga achirnja kebingungan.

Kiranja Tjiu Kin merasa Tik Hun telah berhasil mejakinkan sematjam ilmu weduk jang tidak mempan sendjata. Meski pedangnja sudah kena menusuk dibadan pemuda itu, tapi tjuma membuat daging tempat itu mendekuk kedalam dan tidak dapat menembus kulit dagingnja.

Karena selama hidupnja tidak pernah melihat didunia ini ada ilmu sakti seperti itu, maka rasa takutnja makin lama semakin besar. Beberapa kali ia tjoba dorong pedangnja lebih kuat kedepan, tapi tetap tidak dapat menembus badan lawan, achirnja ia tidak berani mengharapkan melukai Tik Hun lagi, jang dipikir olehnja asal dapat meloloskan diri sudah beruntung baginja. Namun djusteru untuk melepaskan diri itulah jang susah, sebab dengan kentjang Tik Hun memegangi bahunja sambil menarik sekuatnja.

Lambat-laun Tjiu Kin merasa tangan kanan sendiri jang memegang pedang itu mulai menikung balik dengan pelahan, menjusul gagang pedang sudah menempel didada sendiri, batang pedang djuga semakin melengkung hingga berwudjut setengah lingkaran.

Mendadak terdengarlah suara “pletak” sekali, batang pedang Tjiu Kin itu patah bagian tengah. Tjiu Kin mendjerit sekali terus terdjungkal kebelakang, kedua potong pedang jang patah itu telah menantjap semua kedalam perutnja.

Dan karena robohnja Tjiu Kin itu, Tik Hun djuga ikut djatuh dan menindih diatas badan Tjiu Kin, tapi kedua tangannja masih memegang diatas bahu orang takmau melepaskan. Segera Tik Hun mentjium bau anjirnja darah jang sangat keras, tiba2 dilihatnja Tjiu Kin meneteskan air mata, menjusul dari mulutnja mengeluarkan darah, ketika kemudian kepalanja terkulai kebawah, achirnja tidak berkutik lagi.

Tik Hun mendjadi heran. Semula ia mengira Tjiu Kin tjuma pura2 mati sadja, maka tetap ia mentjengkeram se-kentjang2nja dibahu orang. Ketika lain saat merasa dada sendiri sudah tidak sakit lagi, ia tjoba menunduk dan ternjata tiada terluka. Dengan bingung Tik Hun melepaskan Tjiu Kin dan berdiri, ia melihat kedua potong pedang patah itu menantjap diperut Tjiu Kin, hanja sebagian ketjil sadja menondjol diluar. Waktu ia periksa dada sendiri, ternjata badjunja terobek beberapa senti lebarnja dan kelihatanlah badju kutang warna hitam jang dipakainja. Ia pandang pula pedang patah diperutnja Tjiu Kin dan mengamat-amati badju sendiri jang sobek, maka tahulah dia duduknja perkara.

Kiranja “Oh-djan-kah” atau badju kutang dari sutera hitam hadiah dari Ting Tian tempo hari itulah telah menolong djiwanja, bahkan berkat badju itulah telah dapat membunuh musuh.

Oh-djan-kah itu tidak mempan sendjata, maka tusukan Tjiu Kin itu hanja membikin dada Tik Hun kesakitan karena tertikam, tapi takdapat menembus badju kutang mestika itu. Ketika kemudian pedangnja patah, karena Tik Hun memegang bahunja se-kentjang2nja serta ditarik merapat, maka pedang patah jang tadjam itu telah tertikam masuk kedalam perut Tjiu Kin sendiri hingga terdjadilah sendjata makan tuannja.

Sesudah Tik Hun dapat tenangkan diri, segera ia berlari mendekati Ting Tian, ia berdjongkok sambil berseru: “Ting-toako, ken ……. kenapakah engkau?”

Pelahan2 Ting Tian membuka matanja dan memandang Tik Hun dengan sorot mata jang lemah se-akan2 memandang tapi tidak melihatnja lagi atau seperti tidak mengenal Tik Hun pula.

“Ting-toako, biar bagaimanapun djuga aku pasti ……….. pasti akan menolong engkau kaluar dari sini,” seru Tik Hun.

“Sajang ……… sajang Kiam-koat itu sedjak kini ……. sedjak kini akan musna untuk selamanja,” kata Ting Tian dengan lemah dan ter-putus2. “Harap …… harap kubur …… kuburlah aku ber ……. bersama Siang …… Siang-hoa ….”

“Aku akan ingat baik2 pesanmu ini.” seru Tik Hun dengan tegas. “Pasti aku akan menguburkan engkau bersama Leng-siotjia sesuai dengan tjita2 kalian berdua.”

Pelahan2 Ting Tian menutup kembali matanja, napasnja semakin lemah, tapi bibirnja tampak ber-gerak2 sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Tjepat Tik Hun mendempelkan telinganja kepinggir bibir sang Toako, lapat2 terdengar Ting Tian berkata: “Dan angka ……. angka seterusnja ……..” ~ sampai disini lantas tiada kedengaran lagi.

Telinga Tik Hun tidak merasakan pernapasan sang Toako lagi, ia tjoba meraba dada Ting Tian, ternjata denjut djantungnja djuga sudah berhenti.

Sebelumnja Tik Hun sudah tahu bahwa djiwa Ting Tian tentu susah dipertahankan, tapi kini menjaksikan saudara angkatnja jang hubungannja selama beberapa tahun ini melebihi saudara sekandung itu telah meninggal, maka rasa duka dalam hatinja sungguh susah dilukiskan. Ia berlutut disamping Ting Tian dan meniupkan napasnja kemulut sang Toako se-kuat2nja sambil hatinja berdoa: “O, Tuhan, hidupkanlah kembali Ting-toako, aku lebih suka kembali kedalam pendjara lagi untuk selamanja tidak keluar, lebih suka pula tidak membalas dendam dan biarlah selama hidup ini dihina dan dianiaja oleh Ban-bun-te-tju (anak murid keluarga Ban), ja Tuhan, asalkan dapatlah Ting-toako dihidupkan kembali.”

Akan tetapi kedua tangannja jang merangkul dibadan Ting Tian itu makin lama terasa badan sang Toako itu makin dingin. Ia tahu doa sutjinja itu tidaklah berhasil dan tak terkabul. Sesaat itu ia merasakan kesunjian jang tak terkatakan, merasa hidupnja hampa dan merasa dunia bebas diluar ini djauh lebih menakutkan daripada didalam kamar pendjara jang sempit itu. Ia sadar hidup selandjutnja pastilah sangat sulit, ia lebih suka kembali kedalam pendjara lagi bersama Ting Tian.

Ia pondong majatnja Ting Tian itu dan berdiri. Tiba2 berbagai rasa duka derita jang tak terkatakan berketjamuk membandjiri benaknja, kesedihannja pada saat itu boleh dikata susah dibendung. Tak tertahan lagi ia menangis, menangis ter-gerung2 seperti anak ketjil.

Sama sekali tak terpikir olehnja bahwa akibat dari tangisannja jang keras itu mungkin akan didengar musuh, dan tak terpikir pula olehnja bahwa sesungguhnja memalukan seorang laki2 sedjati bertangisan sedemikian rupa. Tapi ia ingin menangis dan menangis terus oleh karena rasa sedihnja jang susah ditahan itu.

Ketika kemudian air matanja pelahan2 mulai kering, gerung tangisnja berubah mendjadi suara sesenggukan pelahan karena rasa duka dalam hatinja masih tetap susah ditahan. Namun pikirannja sudah djauh lebih djernih daripada tadi, maka ia mulai me-nimang2: “Tjara bagaimana aku harus menjelesaikan djenazah Ting-toako ini? Dengan djalan bagaimana agar aku dapat membawanja untuk dikubur bersama dengan Leng-kohnio?”

Dalam saat demikian, soal paling penting jang terpikir olehnja sekarang hanja tentang penguburan Ting Tian mendjadi suatu kuburan dengan nona Leng itu.

Tengah ia ragu2, tiba2 terdengar suara derapan kuda jang ramai dari kedjauhan dan makin lama makin mendekat, djumlahnja kira2 ada belasan penunggang kuda. Lalu terdengarlah suara orang berteriak diluar taman bobrok itu: “Ma-toaya, Kheng-toaya, Tjiu-djiya, apakah kalian sudah dapat menemukan buronannja!”

Kemudian terdengar belasan ekor kuda itu diberhentikan serentak diluar taman dan ada orang berseru lagi: “Marilah kita tjoba memeriksa kedalam!”

“Tidak mungkin mereka bersembunji disini!” demikian kata seorang lain.

“Darimana kau tahu?” debat orang pertama tadi. Lalu terdengar suara orang melompat turun dari kuda.

Tanpa pikir lagi Tik Hun terus pondong majat Ting Tian itu dan dibawa lari keluar dari taman bobrok itu melalui pintu samping. Dan begitu dia melangkah keluar lantas terdengarlah suara orang mendjerit kaget didalam taman itu oleh karena mengetahui Ma Thay-beng bertiga sudah menggeletak terbinasa disitu.

Tik Hun ber-lari2 terus didalam kota Kanglenghu itu, iapun tahu tjaranja melarikan diri sambil membawa majat sang Toako itu sangat berbahaja, sudah larinja takbisa tjepat, setiap saat mungkin akan dipergoki orang pula. Namun ia lebih suka ditawan dan didjebloskan lagi kedalam pendjara dan menerima siksaan atau boleh djuga dihukum mati dengan segera, sebaliknja tidak nanti ia mau meninggalkan djenazah Ting Tian begitu sadja.

Setelah beberapa ratus meter ia berlari, tiba2 dilihatnja disuatu pagar tembok dipinggir djalan ada sebuah daun pintu ketjil jang terpentang, tanpa pikir lagi ia terus menjelinap masuk kedalam rumah itu, lalu pintu itu didepaknja dari dalam hingga tertutup.

Kiranja pintu itu adalah pintu sebuah kebun sajur jang sangat luas dan penuh tertanam matjam2 djenis sajur seperti sawi putih, lobak, labu, tomat, ketimun dan lain2 lagi.

Sedjak ketjil kerdja Tik Hun jalah bertani bertjotjok tanam. Tapi sudah lima tahun lamanja ia meninggalkan kebun sajurnja. Kini melihat suasana kebun itu, seketika timbul rasanja seperti berada dikampung halamannja sendiri.

Ia tjoba mengamat-amati sekitarnja, ia melihat diarah timur-laut sana ada sebuah gudang kaju bakar, dari djendela gudang itu tampak djelas penuh tertumpuk kaju bakar dan onggok djerami. Tik Hun mendjadi girang, sekenanja ia bubut beberapa buah lobak sambil memondong majatnja Ting Tian, segera ia menjusup kedalam gudang kaju itu.

Dengan penuh rasa duka nestapa dan air mata meleleh Tik Hun pondong majatnja Ting Tian untuk meninggalkan taman itu dengan tjepat.

Ia tjoba dengarkan sekeliling gudang itu dan tidak kedengaran ada suara orang. Segera ia menjingkirkan kaju dan djerami hingga lantainja terluang sedikit, ia taruh djenazah sang Toako disitu dan menutupinja dengan djerami dengan pelahan2. Diwaktu menguruk djenazah Toako dengan rumput djerami itu, Tik Hun merasa se-akan2 Ting Tian masih mempunjai daja rasa, maka tidak berani membikin sakit badannja. Dalam benak Tik Hun timbul sematjam sugesti: “Boleh djadi Ting-toako mendadak bisa mendusin kembali.”

Ia duduk disamping majat sang Toako, ia mengupas kulit lobak dan menggeragotinja mentah2. Air lobak jang manis2 masam itu pelahan2 mengalir kedalam kerongkongannja. Ja, maklum sudah lima tahun lamanja ia tidak pernah merasakan makanan segar seperti itu. Teringat kampung halamannja di Ouwlam, disana entah sudah beberapa kali ia membubut lobak dan makan bersama sang Sumoay ~ Djik Hong, mereka bersenda gurau dengan gembira di sawah-ladang kampung halamannja itu sambil menggeragoti lobak mentah ………..

Sebuah lobak mentah itu sudah habis dimakan olehnja dan mulai ia menggeragoti lobak jang kedua, kelopak matanjapun agak basah mengenangkan masa dahulu jang indah itu. Se-konjong2 didengarnja suatu suara. Seketika badannja bergemetar, separoh lobak jang terpegang ditangannja djatuh kelantai tanpa terasa, lobak jang putih bersih itu berlepotan tanah pasir dan debu djerami.

Ia mendengar suara seorang jang halus dan merdu sedang memanggil: “Khong-sim-djay! Khong-sim-djay! Dimanakah engkau?”

Saking terguntjangnja perasaan, segera Tik Hun bermaksud berteriak mendjawabnja: “Aku berada disini!” ~ Tapi belum lagi kata2 “aku” itu mentjetus dari mulutnja, ia merasa tenggorokannja seperti tersumbat, tjepat ia menutup mulutnja sendiri dengan badan gemetar.

Sebab apakah Tik Hun terguntjang perasaannja oleh suara itu?

Kiranja “Khong-sim-djay” atau sayur tak berhati alias kubis adalah nama djulukan Tik Hun. Didunia ini hanja ada dua orang jang tahu nama djulukannja itu, jakni Tik Hun sendiri dan Djik Hong. Bahkan gurunja sendiri djuga tidak tahu.

Djulukan itu adalah pemberian Djik Hong, sebab sang Sumoay itu berpendapat Tik Hun tidak punya otak, terlalu polos, terlalu lugu, sedikitpun tidak bisa berpikir, selain beladjar silat, segala apa tak dipikir olehnja dan segala apa tak dipahaminja, maka pemuda itu diibaratkan Khong-sim-djay atau kubis jang tidak punya hati.

Dikatakan orang tidak punya otak djuga Tik Hun tidak marah, sebaliknja ia ganda tertawa sadja. Ia malah senang kalau Djik Hong suka memanggilnja: “Khong-sim-djay!” ~ biarpun sehari penuh dipanggil begitu djuga dia tidak marah, asalkan sadja sigadis itu betah.

Dan setiap kali kalau Tik Hun mendengar panggilan “Khong-sim-djay” atau si Kubis, selalu hatinja merasakan sematjam kenikmatan manisnja madu. Sebab kalau ada orang ketiga diantara mereka pasti sekali2 Djik Hong takkan memanggil nama djulukannja itu. Dan kalau dia dipanggil si Kubis, maka saat itu tentu tjuma mereka berada berduaan sadja.

Pabila Tik Hun berada berduaan sadja bersama Djik Hong, baik sigadis sedang gembira maupun sinona lagi marah, jang terasa oleh Tik Hun hanja rasa bahagia jang tak terkatakan. Ia adalah seorang botjah ke-tolol2an jang tidak pandai bitjara, terkadang kedogolannja itu membikin Djik Hong mendjadi marah, tapi asal terdengar panggilan “Khong-sim-djay, Kong-sim-djay”, maka tertawalah keduanja dengan ter-kakah2

Tik Hun masih ingat pada waktu Bok Heng membawakan surat undangan kepada Suhunja dahulu, malam itu sang Sumoay telah memasak untuk mendjamu tamu, diantara lauk-pauk dan sajur-majur itu djuga terdapat semangkok cah (gorengan) Kubis. Tengah sang Suhu asjik berbitjara dengan Bok Heng mengenai kedjadian2 didunia persilatan, Tik Hun sendiri mendengarkan dengan ter-mangu2, tiba2 tanpa sengadja sinar matanja telah kebentrok dengan sinar mata Djik Hong, ia melihat sang Sumoay telah menjumpit setjomot kubis goreng dan akan dimakan, tapi kubis itu tidak lantas dimasukkan kedalam mulut, melainkan dengan bibirnja jang merah tipis sedang mendjilati kubis itu dengan pelahan2, sorot matanja penuh mengandung maksud tertawa. Terang gadis itu bukan lagi hendak makan sajur, tapi sedang mentjiumi kubis itu.

Tatkala itu Tik Hun tjuma mengira: “Ah, Sumoay sedang mentertawai aku lagi sebagai Khong-sim-djay!” ~ Tapi kini setelah dikenangkan kembali didalam gudang kaju ini, tiba2 ia dapat menangkap maksud jang mendalam dari kelakuan sang Sumoay itu, njata itulah tanda tjiuman mesra seorang kekasih.

Kini suara panggilan “Khong-sim-djay” itu terdengar pula, terang gamblang suara itu adalah suaranja Djik Hong, hal mana sedikitpun tak bisa keliru lagi. Suara panggilan itu penuh mengandung rasa tjinta kasih jang mesra, lemah-lembut dan meresap.

Dahulu, panggilan Djik Hong itu tjuma dirasakannja sebagai tanda persahabatan, suara panggilan jang penuh perhatian dan terkadang bermaksud sebagai tanda marah dan mengomelnja. Namun suara panggilan jang didengarnja sekarang hanja penuh rasa tjinta kasih jang mendalam. “Apakah karena dia telah mengetahui penderitaanku selama ini setjara penasaran makanja dia bertambah baik kepadaku?” demikian Tik Hun bertanja pada diri sendiri.

Sesungguhnja Tik Hun tidak berani pertjaja kepada pendengarannja sendiri itu. “Apa aku sedang mimpi? Sebab tidak mungkin Sumoay datang kekebun sayur ini? Bukankah sudah lama ia mendjadi isterinja Ban Ka, masakah dia dapat datang kesini untuk mentjari aku?”

Namun demikian suara panggilan tadi berdjangkit pula, bahkan sekali ini semakin mendekat lagi. “Khong-sim-djay, dimanakah engkau bersembunji?” demikian suara itu dengan rasa senang dan penuh kasih-sajang.

Pelahan2 Tik Hun berdiri dan mengintip dari belakang tumpukan djerami. Ia melihat seorang wanita berdiri membelakangi dirinja sedang mentjari sesuatu. Ja, itulah dia, memang tidak salah lagi, pinggangnja jang ramping, perawakannja jang langsing, siapa lagi dia kalau bukan Djik Hong?

Terdengar ia sedang memanggil pula dengan tertawa: “Hajolah Khong-sim-djay, masih engkau tidak mau keluar?” ~ dan mendadak wanita itu membalik tubuhnja kebelakang.

Seketika pandangan Tik Hun mendjadi kabur dan kepalanja mendjadi pujeng. Memang benarlah gadis itu adalah Djik Hong. Bidji matanja jang bundar besar dan hitam pekat, hidungnja jang mantjung, hanja kelihatan agak kurus sedikit hingga tidak semontok dan segar seperti waktu masih berada dipedusunan didaerah Ouw-lam dahulu. Akan tetapi gadis itu njata2 adalah Djik Hong, benar2 adalah sang Sumoay jang ditjintainja dan dirindukannja senantiasa itu.

Dengan wadjah jang masih ber-seri2 tawa, Djik Hong sedang me-manggil2 pula: “Khong-sim-djay, hajolah, tidak lekas engkau keluar sadja?”

Saking tak tahan segera Tik Hun bermaksud menjahut dan menemui Sumoay jang senantiasa dirindukannja itu. Tapi belum lagi ia bertindak, mendadak teringat olehnja: “Ting-toako sering mengatakan aku terlalu djudjur, terlalu lugu dan gampang ditipu orang. Kini Djik-sumoay sudah menikah dengan Ban Ka, hari ini Tjiu Kin terbinasa pula ditanganku, siapa berani mendjamin bahwa Sumoay bukan lagi sengadja memantjing aku keluar?” ~ Berpikir demikian, hatinja mendjadi dingin dan urung undjuk diri.

Ia dengar Djik Hong sedang me-manggil2 si Kubis pula. Kembali pendirian Tik Hun gojah. Pikirnja: “Suara panggilannja sedemikian mesra penuh kasih-sajang, tentu bukanlah pura2. Lagi- pula, djika dia benar2 inginkan djiwaku, biarlah kumati dibawah tangannja sadja!” ~ Sekali hatinja terasa pedih, ia mendjadi nekat lagi.

Tapi belum lagi ia berbuat apa2, tiba2 terdengar suara ketawa seorang anak perempuan ketjil, menjusul anak itu telah berkata: “Mak, mak, aku berada disini!”

Ketika Tik Hun mengintai keluar djendela, ia lihat seorang anak perempuan berbadju merah sedang ber-lari2 mendatangi dari sebelah sana. Tjuma umur botjah itu masih sangat muda, maka larinja masih belum kuat dan agak sempojongan.

“Khong-sim-djay, kau bersembunji dimana barusan?” terdengar Djik Hong menanja dengan suaranja jang lemah lembut. “Dari tadi ibu mentjari kau tak ketemu.”

“Khong-sim-djay berada dikebun sajur sana melihat semut,” sahut botjah itu dengan senang.

Seketika telinga Tik Hun serasa mendengung dan dadanja se-akan2 digodam orang sekali. Sungguh ia tidak pertjaja pada pendengarannja sendiri. Apa mungkin Sumoay sudah punja anak? Apakah puterinja inilah jang bernama “Khong-sim-djay”? Djadi panggilannja tadi ditudjukan kepada puterinja jang ketjil itu dan bukan memanggil aku? Djadi setjara tidak sengadja dirinja sekarang telah masuk sarang harimau pula, jaitu rumahnja Ban Tjin-san jang bikin tjelaka dirinja itu?

Begitulah Tik Hun mendjadi bingung seketika. Selama beberapa tahun ini lapat2 dalam hati Tik Hun terdapat suatu harapan, ia mengharap semoga kelak dapat melihat sang Sumoay itu toh tidak menikah dengan Ban Ka dan apa jang dikatakan Sim Sia adalah bohong belaka. Pikirannja ini tidak berani dikatakannja kepada Ting Tian, tapi hanja terkeram dilubuk hatinja sendiri. Terkadang bila ia bertemu dengan Djik Hong didalam mimpi, sering ia melontjat bangun saking girangnja. Tapi sekarang ia sendiri menjaksikan dan mendengar sendiri pula ada seorang dara tjilik sedang memanggil ibu kepada Djik Hong. Dari selah2 djendela dapat dilihatnja Djik Hong sedang mengangsurkan kedua tangannja dan anak dara itu terus menubruk kedalam pelukannja. Berulang kali Djik Hong telah mentjiumi pipi botjah itu dan berkata dengan suara lembut: “Khong-sim-djay pintar main sendiri, sungguh anak jang manis!”

Hanja dari sisi Tik Hun dapat melihat keadaan Djik Hong dengan alisnja jang masih tetap lentik dan udjung mulutnja jang mungil, mukanja tampak sedikit lebih montok daripada dulu, lebih putih halus dan lebih tjantik. Kembali hati Tik Hun pedih: “Selama ini engkau sudah mendjadi njonja Ban, engkau tidak perlu bertjotjok-tanam lagi dibawah terik matahari dan kehudjanan, dengan sendirinja badanmu lebih terawat.

Ia dengar Djik Hong sedang berkata pula: “Marilah Khong-sim-djay ikut ibu kembali kekamar!”

Disini sangat menjenangkan, Khong-sim-djay akan melihat semut lagi,” demikian sahut sidara tjilik.

“Djangan,” kata Djik Hong. “Harini diluar ada orang djahat akan mentjulik anak ketjil. Lebih baik Khong-sim-djay ikut ibu pulang kekamar.”

“Orang djahat apa? Kenapa mengganggu anak ketjil?” tanja botjah itu.

“Dua orang djahat jang buas telah lolos dari pendjara, maka ajah sedang pergi menangkap orang djahat itu,” kata Djik Hong sambil menarik tangan sianak. “Dan kalau orang djahat itu lari kesini, Khong-sim-djay akan ditangkap olehnja. Maka, marilah anak manis, marilah pulang kekamar, nanti ibu buatkan boneka kain, ja?”

“Tidak, Khong-sim-djay tidak suka boneka, tapi akan bantu ajah tangkap orang djahat,” sahut sibotjah dengan bandel.

Mendengar dirinja dikatakan djahat dan buas, hati Tik Hun semakin lama semakin mentjelos. Dan pada saat itu, diluar kebun sana terdengar suara derapan kuda jang riuh, beberapa penunggang kuda berlari lewat kesana. “Sret”, tiba2 Djik Hong melolos pedang jang terselip dipinggangnja dan berlari kepintu kebun.

Karena ditinggal sang ibu, anak perempuan tadi tjelingukan kian-kemari dan pelahan2 mendekati pintu gudang kaju. Tik Hun tetap berdiri dipinggir djendela dan tidak berani menggeser, kuatir kalau menerbitkan suara hingga mengagetkan Djik Hong. Ja, maklum, sampai disini betapapun ia tidak sudi bertemu lagi dengan sang Sumoay. Hal ini bukanlah karena dia merasa rendah diri atau menjesalkan hubungan baik dimasa lalu, tapi disebabkan rasa duka dan penasaran jang susah ditahan didalam dadanja. Dirinja sedikitpun tidak pernah berbuat djahat, tapi sudah disiksa semikian rupa, sampai achirnja orang jang senantiasa dirindukannja itu setjara terang2an mengatakan dirinja adalah “orang djahat”.

Ia melihat anak itu mendekati pintu gudang, ia mengharap botjah itu djangan masuk, tapi entah apa jang diinginkan anak dara itu, achirnja ia melangkah masuk djuga kedalam gudang. Tjepat Tik Hun berdjongkok dibalik onggok djerami dan dalam hati berharap botjah itu lekas keluar!

Tapi mendadak anak itu mempergoki Tik Hun, saking kagetnja ia mendjadi melongo ketika melihat keadaan Tik Hun jang tjompang-tjamping badjunja dengan berewok dimukanja jang tak keruan matjamnja itu. Botjah itu mewek2 dan hendak menangis, tapi tidak berani karena ketakutan.

Tik Hun insaf urusan bakal runjam, asal botjah itu menguwak sekali, pasti djedjaknja akan diketahui Djik Hong. Tjepat ia melompat madju untuk membopong anak itu sambil sebelah tangannja menekap mulutnja. Tapi toh sudah terlambat sedikit, anak itu keburu menangis dulu sekali. Tjuma suara tangisannja lantas berhenti karena mulutnja tertutup oleh tangan Tik Hun.

Namun begitu Djik Hong jang selalu ingat kepada anaknja, begitu mendengar suara sibotjah jang agak aneh itu segera ia menoleh, tapi puterinja sudah tidak kelihatan, menjusul didengarnja didalam gudang kaju ada suara berkeresekan, tjepat ia memburu kedepan pintu gudang. Maka tertampak olehnja puterinja telah dibopong oleh seorang laki2 jang rambutnja kusut masai tak keruan, muka dan tangannja penuh noda darah, bahkan sebelah tangan orang itu sedang menekap kentjang2 dimulut sang puteri. Karuan kedjut Djik Hong tak terkatakan, sekali pedangnja bergerak, terus sadja ia menusuk kearah Tik Hun sambil membentak: “Lepaskan anakku!”

Hati Tik Hun mendjadi pedih, timbul lagi kenekatannja: “Kau hendak membunuh aku, bolehlah kau bunuh sadja!” ~ Karena itu, ia hanja tinggal diam sadja tanpa berkelit atas serangan Djik Hong itu.

Namun Djik Hong mendjadi tertegun karena kuatir melukai puteri sendiri, tjepat ia tarik kembali pedangnja dan membentak pula: “Lekas lepaskan puteriku!”

Mendengar Djik Hong melulu minta melepaskan puterinja, tapi sama sekali tiada ingat hubungan baik dimasa lalu, Tik Hun mendjadi tambah mendongkol dan sengadja tidak mau melepaskan botjah itu.

Melihat laki2 bengis itu masih belum mau melepaskan puterinja, Djik Hong semakin kuatir, djangan2 anaknja akan ditjulik. Segera pedangnja bergerak pula menusuk kebahu kanan Tik Hun.

Tjepat Tik Hun mengegos, menjusul ia sambar sepotong kaju bakar itu, ia menangkis dan balas menusuk. Djik Hong terkesiap oleh gerakan serangan Tik Hun itu, ia merasa tipu serangan ini sudah dikenalnja, jaitu gerakan Kiam-hoat ‘Ko-hong-han-siang-lay’ (seharusnja Koh-hong-hay-siang-lay). Maka tanpa pikir lagi ia mendakan tubuh untuk menghindar, menjusul iapun balas menjerang dengan tipu timpalannja ‘Si-heng-put-kam-koh’ (seharusnja Ti-heng-put-kam-koh).

Sebenarnja gudang kaju itu sangat sempit dan penuh kaju dan rumput djerami, tempat jang luang itu hanja tiba tjukup untuk dibuat putar dua orang sadja. Maka pertarungan mereka sesungguhnja kurang bebas dan sangat terganggu. Tapi karena sedjak ketjil Tik Hun satu guru dengan Djik Hong serta selalu latihan bersama, setiap hari mereka mesti saling gebrak untuk melatih ilmu pedang, maka terhadap setiap gerak serangan masing2 sudah saling diapalkan.

Kini melihat Djik Hong mengeluarkan tipu serangan seperti biasanja diwaktu mereka latihan dahulu, segera ia putar pedangnja kesamping untuk kemudian dibuat menangkis. Akan tetapi “plak” tahu2 kaju jang dipakai sebagai pedang itu kesampluk djatuh kelantai, seketika ia tertjengang, tapi segera iapun sadar: “Ah, djariku sebagian sudah terpapas, selama hidup ini aku takkan dapat menggunakan pedang lagi!”

Untuk sedjenak ia ter-mangu2 memandangi djari tangan sendiri jang sudah hilang sebagian itu. Ketika ia mendongak pula, ia lihat udjung pedang Djik Hong sudah mengantjam di ulu hatinja dengan agak gemetar, wadjah sang Sumoay itu tampak kaget tak terhingga. Untuk beberapa lama mereka tjuma saling pandang belaka dan sama2 tidak sanggup buka suara.

“Eng ……. engkau?” sampai agak lama baru dapat tertjetus sepatahkata ini dari mulut Djik Hong dengan suara jang serak dan hampir2 tak terdengar.

Tik Hun mengangguk dan mengangsurkan dara tjilik jang dibopongnja itu, Djik Hong membuang pedangnja dan tjepat menerima puteri kesajangannja, untuk sesaat ia tidak tahu tjara bagaimana harus bitjara. Rupanja saking ketakutan, dara tjilik itu menjisipkan kepalanja dipelukan sang ibu dan tidak memandang lagi kepada Tik Hun jang menakutkan itu.

“Aku ………. aku tidak tahu adalah engkau,” kata Djik Hong kemudian. “Selama be ……. beberapa tahun ini ……..”

Belum selesai utjapannja tiba2 terdengar suara seorang lelaki sedang me-manggil2 diluar sana: “Hong-moay, Hong-moay! Dimanakah dikau?” ~ suara itu semakin dekat dan kedengaran menudju kedalam kebun sajur.

Seketika air muka Djik Hong berubah hebat, segera ia membisiki puteri dalam pelukannja itu: “Khong-sim-djay, Pe-pek (paman) ini bukan orang djahat, djangan kau katakan kepada ajah, ja, manis?”

Tanpa merasa dara tjilik itu memandang sekedjap lagi kepada Tik Hun dan melihat tjoraknja jang menjeramkan itu, kembali ia mewek dan menangis lagi.

Mendengar suara tangisan anak perempuan itu segera laki-laki diluar itu memburu datang kearah suara dan berseru: “Khong-sim-djay! Djangan menangis, djangan menangis! Ajah berada disini!”

Djik Hong memandang sekedjap kepada Tik Hun, lalu putar tubuh bertindak keluar, sekalian ia tarik daun pintunja dan dirapatkan. Ia bawa puterinja memapak kearah datangnja sang suami.

Dengan ter-mangu2 Tik Hun terpaku ditempatnja, aneka-matjam perasaan mentjengkam hatinja. Ditepi telinganja se-akan2 mendenging sesuatu suara: “Aku ingin mati sadja, biarlah aku mati sadja!’

Ia dengar suara lelaki tadi sedang berkata diluar sana dengan tertawa: “Kenapa Khong-sim-djay menangis? O, manis, kau terkedjut barangkali?”

Tik Hun kenali suara itu adalah suaranja Ban Ka, suami Djik Hong sekarang. Ia sangat ingin mengintip keluar untuk melihat bagaimana tjetjongor orang itu, tapi kakinja serasa takmau turut perintahnja dan tetap terpaku dilantai. Sebaliknja terdengar Djik Hong sedang berkata dengan tertawa: “Aku sedang memain dibelakang dengan Khong-sim-djay dan mendadak mendengar dua penunggang kuda lewat dengan tjepat, penunggang2 kuda itu bersendjata dan tampaknja sangat buas, Khong-sim-djay mendjadi ketakutan dan menangis,”

“O, mereka bukan orang djahat, tapi mereka adalah petugas pemerintah jang sedang menguber pendjahat,” udjar Ban Ka. “O, manis, marilah ajah membopong. Nanti ajah hadjar pendjahat. Khong-sim-djay djangan takut, pendjahat2 itu tentu ajah bunuh semua.”

Diam2 Tik Hun terperandjat, sungguh tak terpikir olehnja bahwa kepandaian berdusta kaum wanita ternjata begitu hebat. Setelah begitu tjerita Djik Hong, tentu suaminja tidak akan tjuriga lagi biarpun nanti sianak berkata apapun. Namun lantas terpikir oleh Tik Hun: “Hm, aku toh tidak perlu perlindungannja. Kau hendak menangkap aku, hendak membunuh aku, hajolah kemari!”

Segera ia melangkah kepinggir djendela dan mengintip keluar, ia lihat seorang pemuda berpakaian sangat perlente sedang berdjalan kesana sambil membopong anak perempuan tadi. Djik Hong tampak berdjalan berendeng dengan pemuda itu sambil menggelendot dibahunja, sikapnja sangat mesra sekali.

Tentang Djik Hong diperisterikan oleh Ban Ka, dahulu meski sering dipikirkan oleh Tik Hun, tapi baru sekarang untuk pertama kalinja ia menjaksikan dengan mata kepala sendiri. Dahulu bila timbul chajalannja, selalu tinggal suatu harapan baginja, jaitu mengharap agar tjerita tentang Djik Hong telah menikah dengan Ban Ka itu adalah bualan Sim Sia belaka. Akan tetapi kini bukti mendjadi saksi, keadaan jang kelihatan didepan matanja pastilah bukan omong kosong. Seketika darahnja mendidih dan mata gelap. Teringat olehnja sebab musababnja dia dipendjarakan dan menderita sebagai dineraka, semuanja berkat ketjulasan orang didepan matanja itu. Bahkan kekasih jang ditjintainja dengan segenap djiwa raganja itu kini telah dipersunting oleh musuh besar itu.

Dalam keadaan pikiran pepet, tiada djalan lain baginja daripada membunuh Ban Ka atau mesti dibunuh olehnja. Tanpa ajal lagi terus sadja ia sember pedang jang ditinggalkan Djik Hong itu sambil berteriak: “Aku …………..”

Namun mulutnja mendjadi mengap tak meneruskan teriakannja, maksudnja menerdjang keluar untuk mengadu djiwa dengan Ban Ka diurungkan ketika diwaktu berdjongkok sekilas dilihatnja majat Ting Tian jang diuruknja dengan rumput djerami itu, wadjah sang Toako jang sudah tak bernjawa itu tampak tenang2 dengan kedua matanja tertutup rapat. Tiba2 mendjadi teringat olehnja pesan Ting Tian sebelum menghembuskan napasnja jang penghabisan, dengan sangat sang Toako minta agar majatnja dikubur mendjadi satu liang bersama Leng-siotjia. Dan kini kalau dirinja menerdjang keluar untuk melabrak Ban Ka, djika dirinja mati itu tidaklah mendjadi soal, tapi tjita2 Ting-toako itulah mendjadi tak terlaksana.

Segera timbul pula pikirannja: “Ah, mengenai hal ini aku dapat minta bantuan Sumoay, mungkin ia takkan keberatan untuk menjelesaikannja bagiku.” ~ Tapi ia lantas memaki pula dirinja sendiri. “Fui, fui! Kau Tik Hun anak jang tak berguna! Engkau sendiri tidak mau bertanggung djawab atas tugas sutji itu, mengapa kau pasrahkan kepada orang lain? Djika kau sudah mati, apa kau ada muka untuk bertemu dengan Ting-toako dialam baka? Apalagi perempuan jang tipis budi dan tidak teguh imannja seperti Djik Hong itu masakah masih dapat dipertjaja? Apa jang dia bisa lakukan bagimu?”

Karena pikirannja itu, pelahan2 dapatlah ia mengatasi bergolaknja perasaan. Tapi suara teriakannja jang urung tadi sudah lantas mengedjutkan Ban Ka. Terdengar orang she Ban itu sedang berkata: “He, aku seperti mendengar digudang kaju sana ada suara orang?”

“Apa ja?” sahut Djik Hong tertawa. “Ah, tentu si koki Lau Ong, tadi kulihat dia masuk kesana untuk mengambil kaju. Eh, engkoh Ka, Yan-oh-theng (sop sarang burung) jang kubuatkan itu mungkin sudah dingin, lekaslah engkau pergi memakannja. Khong-sim-djay sedari tadi hanja ribut sadja, biarlah aku membawanja kekamar biar tidur.”

Ban ka mengiakan keterangan sang isteri itu. Sambil membopong puterinja, suami-isteri itupun pergilah dari situ.

Seketika itu otak Tik Hun se-akan2 kosong blong, ia takdapat memikirkan apa2 lagi. Selang agak lama, ia ketok2 kepalanja sendiri dengan kepalan dan membatin: “Betapapun gudang kaju ini bukan tempat sembunyi jang sempurna, kalau benar2 apa jang dikatakan sikoki Lau Ong itu datang kemari hendak mengambil kaju, lantas bagaimana? Rasanja lebih baik kusembunjikan djenazah Ting-toako disini, lalu aku sendiri menggelojor keluar dari sini, malam nanti aku akan kembali lagi untuk mengusung djenazah Ting-toako. Ja, djalan ini sangat bagus!” Ia pukul tangan sendiri dengan keputusannja itu.

Akan tetapi toh dia merasa berat untuk melangkah keluar dari gudang itu. Baru ia melangkah setindak, mendadak suatu suara se-akan2 sedang membisiki telinganja. “Djangan, djangan pergi dari sini! Djik-sumoay pasti akan datang kembali untuk mendjenguk aku. Pabila aku pergi dari sini, untuk selandjutnja takkan dapat berdjumpa lagi dengan dia.”

Kemudian timbul pula pikiran2 lain: “Ah, andaikan aku berdjumpa lagi dengan dia, apa paedahnja? Dia toh sudah bersuami, punja anak, sekeluarga mereka hidup bahagia dan riang gembira, masakah dia masih ingat kepada seorang buronan seperti aku ini? Sekalipun aku berdjumpa lagi dengan dia djuga akan menjusahkan diri sendiri?” ~ “Ai, sudah sekian tahun aku menunggu didalam pendjara, jang kuharap jalah dapat bersua pula dengan Sumoay, kini orangnja sudah disini, masakah kesempatan ini ku-sia2kan? Aku toh tidak punja maksud apa2, aku hanja ingin bertanja bagaimana dengan Suhu selama ini, apakah ada kabar berita tentang beliau? Aku ingin tanja Sumoay mengapa suka jang baru dan bosan jang lama, mengetahui aku masuk pendjara, lantas sama sekali tak ingin lagi padaku.” ~ “Tapi ai, apa gunanja bertanja padanja? Hanja ada dua kemungkinan dari djawabannja. Kalau dia tidak berdusta, tentu mengaku terus terang, mungkin malah akan menambah rasa dukaku sadja.”

Begitulah Tik Hun mendjadi ragu2, sebentar ambil keputusan akan pergi dari situ, lain saat timbul pula pikirannja jang lain. Sebenarnja tabiat Tik Hun sangat lugu dan tegas, tidak pernah sangsi2 untuk mengambil sesuatu tindakan. Tapi menghadapi persoalan maha besar selama hidupnja ini, ia mendjadi bingung apa jang dia harus lakukan. Tinggal disitu rasanja kurang aman, kalau tinggal pergi, rasanja berat.

Sedang Tik Hun ditjengkam rasa bimbang, tiba2 didengarnja ada suara tindakan orang dikebun sajur itu. Terdengar seorang mendatangi dengan berdjalan ber-djindjit2. Berdjalan beberapa langkah, orang itu lantas berhenti seperti sangat ber-hati2, kuatir kalau dipergoki orang.

Makin lama orang itu makin mendekat. Hati Tik Hun mendjadi ber-debar2. “Achirnja Djik-sumoay datang djuga mentjari aku. Apakah jang hendak dia bitjarakan padaku? Apa ingin minta ma’af padaku? Masihkah dia ingat pada hubungan baik dimasa silam?”

Tapi ia mendjadi ragu2 pula: “Apakah jang harus kubitjarakan dengan Sumoay? Ai, sudahlah, sudahlah! Mereka suami-isteri hidup bahagia, lebih baik aku djangan menemuinja lagi untuk selamanja.”

Begitulah hatinja jang penuh rasa dendam itu seketika mendjadi tjair sebagai es. Ia pikir dirinja asalnja tjuma seorang pemuda desa, andaikan tidak menderita dipitenah seperti ini dan Sumoay dapat mendjadi isterinja, benar dirinja akan merasa bahagia, tapi sang Sumoay mesti memeras tenaga berdjerih-pajah selama hidup disawah-ladang, hidup seperti itu tentu takkan membahagiakan sang kekasih. Kini apakah aku harus menuntut balas dan membunuh Ban Ka? Sumoay tentu akan mendjadi djanda dan apakah mungkin masih akan menikah padaku, menikah kepada pembunuh suaminja? Ai, permusuhan ini biarlah kita hapuskan sampai disini sadja, biarkan mereka suami-isteri, ibu dan anak hidup beruntung untuk hari2 selandjutnja. Demikian keputusan Tik Hun achirnja.

Karena itu, ia sudah ambil ketetapan takkan banjak bitjara dengan Djik Hong lagi. Segera ia hendak mengangkat keluar djenazah Ting Tian dari dalam timbunan djerami.

Mendadak terdengar suara “blang” jang keras, pintu gudang itu telah didepak orang dari luar. Keruan Tik Hun kaget, tjepat ia berpaling dan terlihatlah seorang laki2 djangkung dengan pedang terhunus telah berdiri diambang pintu. Ternjata orang itu bukanlah Djik Hong seperti apa jang disangkanja, tapi adalah Ban Ka.

Tik Hun bersuara heran pelahan, tanpa pikir lagi ia djumput kembali pedang jang ditinggalkan Djik Hong tadi.

Wadjah Ban Ka tampak sangat beringas, apalagi melihat pedang jang dipegang Tik Hun itu adalah milik Djik Hong, keruan ia tambah tjemburu dan bentji, segera katanja dengan dingin: “Bagus! Mengadakan pertemuan gelap digudang kaju ini, bahkan sendjatanja djuga ditinggalkan untukmu, apakah merentjanakan pembunuhan suami, ja? Hm, mungkin tidak sedemikian mudah!”

Tik Hun sendiri sedang bingung pikirannja hingga seketika tidak tahu apa jang sedang dikatakan Ban Ka. Jang terpikir olehnja hanja: “Mengapa ia bisa datang kemari? Dari siapa ia mengetahui aku bersembunji disini? Ja, ja, tentu dia jang mengatakan dan suruh suaminja menangkap aku untuk mendapatkan hadiah jang disediakan Leng-tihu itu. Ai, mengapa dia sedemikian tak berbudi dan tidak ingat kebaikan dahulu?”

Melihat Tik Hun bungkam sadja, Ban Ka menjangka pemuda itu merasa salah hingga ketakutan, tanpa bitjara lagi pedangnja terus menusuk tjepat kedada Tik Hun.

Tapi sekali putar pedangnja, dengan sendirinja Tik Hun menangkis dengan sedjurus Kiam-hoat adjaran sipengemis tua dahulu, berbareng udjung pedangnja memuntir dan balas mengintjar tenggorokan lawan.

Djurus ilmu pedang Tik Hun ini sangat aneh, dahulu Ban Ka tak mampu menangkis, selang lima tahun kemudian, tetap ia tidak sanggup menangkis, walaupun sebenarnja selama ini ilmu pedangnja sudah banjak lebih madju. Sebab tahu2 udjung pedang Tik Hun sudah mengantjam dilehernja, dalam kagetnja Ban Ka mendjadi bingung tjara bagaimana harus mengelakan diri. Untuk menangkis terang tidak keburu lagi, hendak balas menjerang djuga sudah ketinggalan. Dan karena sedikit ragu2 itu, djiwanja boleh dikata sudah tergantung diudjung pedangnja Tik Hun. Ia mendjadi penasaran dan murka, tapi toh takbisa berkutik.

Melihat wadjah Tik Hun penuh berewok jang tak teratur dan kotor, rasa murka Ban Ka pelahan2 berubah mendjadi djeri. Teringat olehnja dirinja jang mendjebloskan pemuda itu kedalam pendjara dengan tipu akal jang litjik untuk kemudian merebut kekasihnja sebagai isteri sendiri, siapa duga sampai achirnja toh Djik Hong djuga membohongi dirinja. Masih terhitung dirinja tjukup tjerdik, ketika melihat ada bekas darah jang mengarah kegudang kaju, ditambah lagi sikap Djik Hong dan puterinja jang masih ketjil itu agak aneh, makanja timbul tjuriganja. Akan tetapi, ilmu pedang buronan ini ternjata sangat aneh, sedjurus sadja dirinja sudah tak berdaja. Apakah aku akan mati dibawah tangannja sekarang?

Namun tusukan Tik Hun ternjata tidak diteruskan, ber-ulang2 timbul pertanjaan dalam hatinja: “Aku membunuh dia atau tidak? Aku membunuh dia atau tidak?”

Dasar watak Ban Ka memang sangat tjerdik dan tjulas, pada detik berbahaja itu tiba2 dilihatnja sinar mata Tik Hun mengundjuk rasa ragu2, tangan jang memegang pedang itu djuga rada gemetar, terus sadja ia berseru: “Djik Hong, kemarilah kau!”

Tik Hun mendjadi kaget mendengar Djik Hong disebut, ia berpaling sedikit hendak melihat Sumoay itu. Tak terduga itu tjuma akal bulus si Ban Ka belaka, sedikit Tik Hun lengah, tanpa ajal Ban Ka sampukan pedangnja keatas sekuatnja.

Karena djari tangannja sudah terpapas sebagian, dengan sendirinja genggaman Tik Hun kurang kentjang, kena dibentur pedang Ban Ka jang kuat itu, kontan pedangnja terlepas dari tjekalan dan mentjelat keluar djendela.

Sekali serang membawa hasil, Ban Ka tidak mau berbuat kepalang tanggung; menjusul pedangnja menusuk pula. Terpaksa Tik Hun mesti berkelit kian kemari dan mengumpet dibelakang onggokan kaju. Sekenanja ia sambar sebatang kaju sebagai pedang dan balas menjerang dengan tjepat.

Tapi ketika kedua sendjata saling beradu, pedang Ban Ka jang tadjam telah papas kutung batang kaju Tik Hun itu. Tjepat Tik Hun timpukan sisa kajunja itu kearah Ban Ka, dan dikala Ban Ka terpaksa melompat berkelit, segera Tik Hun melolos lagi sebatang kaju jang lain untuk menjerang pula.

Melihat lawannja sudah kehilangan sendjata tadjam, kemenangan sudah pasti berada ditangan dirinja, Ban Ka mendjadi girang. Ia pikir meski badan sendiri terkena sekali dua oleh pedang kaju musuh djuga tiada halangannja. Maka sesudah tenangkan diri, ia ganti siasat, ia mainkan ilmu pedangnja dengan kalem dan menjerang setjara beraaturan.

Taktik Ban Ka itu ternjata berhasil djuga, hanja sebentar sadja lantas terdengar suara gerengan Tik Hun jang murka, rupanja tangan kanannja terluka, entah otot-tulangnja tjatjat tidak, jang terang darah lantas mengutjur keluar, karena itu, tangannja mendjadi lemas dan melepaskan batang kaju jang dipakai sebagai sendjata itu.

Tanpa ampun lagi Ban Ka lantas menambahi sekali lagi hingga paha Tik Hun tertusuk, menjusul kakinja mendepak, kontan Tik Hun terdjungkal. Ia me-ronta2 hendak merangkak bangun, tapi lagi2 Ban Ka menendang kerahangnja, seketika Tik Hun kelengar.

“Hm, pura2 mati?” damperat Ban Ka, kembali pedangnja membatjok sekali dibahu kanan Tik Hun. Ketika melihat pemuda itu tak berkutik, baru ia pertjaja orang sudah pingsan sungguh2. Ia pikir: “Leng-tihu telah mendjandjikan lima ribu tahil emas sebagai hadiah kepada siapa jang dapat menawan kembali kedua buronannja, dengan sendirinja ada lebih baik aku menangkapnja hidup2. Toh sekali ini kalau didjebloskan lagi kedalam pendjara, sitolol ini pasti akan melajang djiwanja, buat apa aku mesti membunuhnja dengan tanganku sendiri?”

Lain saat, sekilas tiba2 dilihatnja dibawah onggokan djerami sana mendjulur keluar sebelah kaki orang. Ia terkedjut dan bergirang pula. “He, disini masih ada seorang lagi!” serunja didalam hati. Ia tidak tahu kalau Ting Tian sudah mati, maka pedangnja terus membatjok kekaki majat Ting Tian itu.

Ber-ulang2 ia membatjok dua kali dan melihat orang itu tidak bergerak, baru sekarang ia tahu orang sudah mati. Segera ia hendak menariknja keluar.

Dalam pada itu meski Tik Hun djatuh semaput karena tendangan Ban Ka tadi, namun dalam benaknja se-akan2 ada satu suara telah berteriak padanja: “Aku tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati! Aku sudah berdjandji kepada Ting-toako untuk menguburnja bersama dengan Leng-siotjia.

Entah disebabkan pikiran jang kuat itu atau bukan, jang terang segera ia dapat siuman kembali, pelahan2 ia membuka matanja, samar2 ia melihat pedang Ban Ka sedang membatjok keatas djenazahnja Ting Tian.

Semula Tik Hun masih belum djernih pikirannja dan tidak tahu apa artinja kedjadian didepan matanja itu. Tapi segera dilihatnja Ban Ka hendak menjeret keluar djenazah Ting Tian dari dalam onggokan rumput djerami. Terus sadja Tik Hun berteriak. “Djangan mengganggu Ting-toakoku!” ~ dan entah tenaga mendadak timbul dari mana, seketika ia melontjat bangun terus menubruk kebelakang Ban Ka, sekuat tenaga ia mentjekik leher lawan itu.

Dalam kagetnja segera Ban Ka tusukan pedangnja kebelakang. Tak tersangka olehnja bahwa Tik Hun memakai Oh-djan-kah jang kebal, meski pedangnja kena menusuk diperut Tik Hun, tapi toh tidak dapat masuk kedalam perut. Sebaliknja tjekikan Tik Hun dilehernja itu makin lama semakin kentjang.

Karena melihat djenazah Ting Tian dirusak Ban Ka, Tik Hun mendjadi murka seperti orang kalap. Sakit hati tentang dirinja dipitenah dan disiksa selama ini, sang kekasih direbut, semuanja ini masih dapat dia hapuskan seperti keputusannja tadi. Tapi kini djenazah Ting Tian ditjatjat pula sedemikian rupa, hal ini betapapun ia tidak terima. Seketika itu tiada pikiran lain lagi dalam benaknja selain ingin tjepat2 mentjekik mati musuhnja itu.

Tapi karena ia terluka beberapa tempat, darah mengutjur terus dari lukanja, ia merasa lambat-laun Ban Ka tidak kuat meronta lagi, sebaliknja tenaga tjekikannja sendiri djuga lantas lenjap dengan tjepat. Ia tjoba kuatkan diri: “Tahanlah sebentar lagi! Tahanlah sebentar lagi! Supaja dapat mentjekik mati dia!” ~ dan sampai achirnja matanja mendjadi ber-kunang2 dan pikirannja gelap, achirnja segala apa tidak dapat dirasakan lagi.

Meski Tik Hun sudah pingsan, tapi tangannja jang mentjekik dileher Ban Ka itu masih belum dilepaskan, namun dengan sendirinja sudah tidak bertenaga pula. Ban Ka djatuh pingsan karena takdapat bernapas, berbareng Tik Hun djuga tak sadarkan diri.

Maka menggeletaklah kedua pemuda musuh bebujutan itu diatas rumput djerami. Keduanja seperti sudah mati semua, tapi dada mereka masih berkempas-kempis, napas mereka masih bekerdja.

Keadaan mereka mendjadi untung2an, siapa lebih dulu siuman, siapa akan menang. Kalau Tik Hun siuman lebih dulu, dengan sendirinja Ban Ka akan dibunuh olehnja, sebaliknja kalau Ban Ka sadar dulu, djiwa Tik Hun pasti melajang, tidak nanti ia berani mengambil risiko menawan Tik Hun hidup2 seperti rentjana semula.

Segala apa mungkin terdjadi didunia jang fana ini. Orang baik belum tentu bernasib baik dan orang djahat belum tentu bernasib buruk. Begitu pula sebaliknja. Setiap orangpun pasti akan mati, orang jang mati kemudian djuga belum tentu hidup beruntung, tapi bagi orang jang masih hidup, seperti mengenai Djik Hong dan puterinja jang masih ketjil, soal siapa jang mati lebih dulu diatara Tik Hun dan Ban Ka terdapat suatu perbedaan jang sangat besar. Pabila dalam keadaan seperti itu Djik Hong disuruh pilih salah satu diantara mereka agar bisa siuman lebih dulu, entah siapa jang akan dipilih oleh Djik Hong?

Begitulah kedua orang jang menggeletak didalam gudang kaju itu masih tetap belum sadarkan diri, sementara itu terdengar suara tindakan seorang jang pelahan2 mendatangi.

Siapakah gerangan jang datang itu………..?

**********

Sebelum djernih pikiran Tik Hun lebih dulu ia mendengar suara mendeburnja air, mukanja terasa dingin2 perih oleh tetesan2 benda tjair, lalu badannja terasa kedinginan dan sangat lemah. Dan begitu pulih daja perasaannja, segera kedua tangannja mentjengkeram keras2 sambil berteriak: “Kutjekik mampus kau, kutjekik mampus kau!” ~ Namun benda jang terpegang ditangannja itu adalah benda keras dan bukan leher Ban Ka lagi. Menjusul ia merasa badannja terombang-ambing kekanan dan kekiri.

Ia terkedjut dan tjepat membuka mata, tapi suasana didepannja gelap gelita, air ber-ketes2 diatas kepalanja, didadanja dan diseluruh badannja. Kiranja air hudjan.

Badan Tik Hun masih terus terombang-ambing, dadanja terasa enek dan ingin muntah. Tiba2 dilihatnja sebuah perahu meluntjur lewat disampingnja, perahu itu berlajar. Ja, terang gamblang itulah benar2 sebuah perahu lajar. Ia mendjadi heran, mengapa disampingnja bisa ada perahu lewat?

Ia ingin bangun untuk melihat apa jang sebenarnja? Tapi antero tubuhnja terasa lemah tanpa tenaga sedikitpun. Pendek kata, tempat dimana dia berada sekarang terang bukan didalam gudang kaju lagi.

Mendadak timbul ingatan padanja: “He, dimanakah Ting-toako?” ~ Teringat pada Ting-toako, mendadak timbul sematjam tenaga padanja, segera ia gunakan tangannja untuk menahan dan dapatlah ia berduduk, walaupun badannja tergeliat beberapa kali.

Maka dapatlah Tik Hun mengetahui keadaan sekitarnja. Kiranja dia berada didalam sebuah sampan jang sedang meluntjur kemuara sungai mengikuti arus air. Saat itu adalah malam, langit gelap gelita dengan awan mendung jang tebal dan sedang hudjan lebat. Ia tjelingukan kesana dan kesini, tapi keadaan kelam-lebam, ia mendjadi kuatir dan ber-teriak2: “Ting-toako! Ting-toako!”

Ia tahu sang Toako sudah meninggal, tapi djenazahnja sekali2 tidak boleh hilang. Se-konjong2 sebelah kakinja menjenggol suatu benda jang agak lunak, waktu ia periksa, ia mendjadi girang tertjampur kedjut. “He, engkau disini, Ting-toako!” serunja tak tertahan. Terus sadja ia rangkul erat2 djenazah sang Toako jang ternjata berada disamping kakinja didalam perahu.

Sebenarnja keadaan Tik Hun sudah sangat pajah dan tiada punja tenaga, untuk memikirpun takbisa, tapi ia masih merangkul djenazahnja Ting Tian. Ia merasa kerongkongannja kering, segera ia mendongak dan pentang mulutnja membiarkan air hudjan membasahi tenggorokannja. Dalam keadaan sadar-tak-sadar seperti itu, sampai achirnja tjuatja sudah terang dan hudjanpun sudah reda.

Tiba2 ia melihat paha sendiri diperban sepotong kain. Ia tjoba pusatkan perhatian, ia melihat kain itu membalut ditempat lukanja. Menjusul ia dapatkan luka2 dilengan dan dipundak djuga sudah dibalut oleh kain, bahkan sajup2 hidungnja mengendus pula bau obat jang diibubuhkan diatas luka2 itu. Oleh karena air hudjan, maka kain pembalut itu sudah basah kujup, tapi darah sudah tidak mengutjur keluar lagi.

“Siapakah jang membalut lukaku? Djika lukaku ini tak dibalut tak usah aku dibunuh orang, asal darah mengutjur keluar terus djuga pasti djiwaku akan melajang. Lantas siapakah gerangannja jang membalut lukaku ini?” demikian ia tidak habis mengerti.

Mendadak hatinja merasa berduka dan penuh kesunjian, pikirnja: “Siapa lagi didunia ini jang sudi memperhatikan diriku dan membantu aku? Ting-toako sudah meninggal, masakah masih ada orang lain jang mengharapkan hidupku dan membuang temponja jang berharga untuk membalut lukaku?”

Ia tjoba perhatikan kain2 pembalut itu, ia lihat tjara membalutnja dilakukan sangat ter-gesa2. Kain pembalutnja bukan kain kasaran, sebaliknja adalah kain sutera pilihan, dipinggir kain itu terdapat pula wiru sulaman jang radjin dan tepi kain jang lain adalah bekas sobekan. Terang kain sutera itu disobek dari badju kaum wanita jang dilakukan dengan ter-gesa2.

Apakah perbuatan Djik-sumoay? Demikian hati Tik Hun berdebar pula dan dadanja ikut panas kembali. Ia tersenjum getir dengan sikap mengedjek pada diri sendiri: “Huh, dia telah suruh suaminja membunuh aku, masakah dapat pula membalut lukaku? Pabila bukan dia jang memberitahukan kepada suaminja, darimana Ban Ka mendapat tahu aku bersembunji didalam gudang kaju itu?”

Akan tetapi terang dirinja sekarang berada didalam perahu jang terombang-ambing ditengah sungai Tiangkang dan entah sudah berapa djauhnja meninggalkan kota Kang-leng? Betapapun djuga, paling tidak sementara ini ia sudah meninggalkan tempat berbahaja dan takkan di-uber2 lagi oleh Leng-tihu.

“Siapakah gerangannja jang membalut lukaku dan siapakah jang menaruh aku didalam perahu ini? Bahkan Ting-toako djuga diikut-sertakan bersama aku,” demikian ia tidak habis mengerti.

Ia tidak begitu peduli lagi kepada mati atau hidupnja sendiri, tapi djenazah Ting Tian ternjata tidak lupa disertakan kepadanja, hal inilah jang membuat Tik Hun mau-tidak-mau harus merasa berterima kasih.

Ia terus peras otak memikirkan hal itu, tapi biarpun sampai kepalanja pening djuga tetap tak terdjawab. Ia tjoba meng-ingat2 kembali apa jang terdjadi selama sehari penuh kemarin. Tapi terpikir sampai kedjadian Ban Ka membatjok djenazahnja Ting Tian dan dirinja mendjadi murka serta mentjekik lehernja, dan apa jang terdjadi selandjutnja ia sama sekali tidak tahu lagi.

Ketika tanpa sengadja ia berpaling, tiba2 sikutnja menjentuh sesuatu benda jang keras. Segera ia melihat disampingnja terdapat satu bungkusan dari kain sutera. Ia mendjadi girang, ia pikir didalam bungkusan ini pasti akan diperoleh tanda2 jang dapat mendjawab pertanjaannja itu.

Dengan tangan jang gemetar segera ia membuka bungkusan itu. Ia lihat didalamnja adalah beberapa rentjeng uang perak, seluruhnja kurang-lebih ada 30 tahil, Ketjuali itu ada empat bentuk perhiasan wanita: sebuah Tju-hoa (tusuk konde dari mutiara jang dibingkai seperti bunga), sebuah gelang emas, sebuah kalung emas dan sebentuk tjintjin bermata batu mestika.

Selain itu adalah seuntai kalung emas berbandul jang biasa dipakai anak ketjil. Rantai kalung bandul itu putus seperti ditarik orang dalam keadaan buru2, dan diudjung rantai jang putus itu masih terkait sepotong ketjil kain sobek, terang bekas ditarik setjara buru2 dari leher anak ketjil hingga mirip barang tjopetan jang dirampas setjara kasar.

Pada bandul kalung jang berbentuk Kim-so atau gembok emas, jaitu sematjam tabung, bagian tengah dapat ditjopot dan ditutupkan. Di atas bandul itu terukir empat huruf ‘Tek Jong Siang Bo’.

Tik Hun tidak banjak makan sekolahan, maka ia tidak paham apa artinja empat huruf itu. Ia pikir mungkin itu adalah nama anak jang memakai kalung bandul itu.

Sambil memainkan keempat matjam perhiasan itu, ia mendjadi tambah bingung daripada sebelum membuka bungkusan itu tadi. Ia pikir: “Uang perak dan perhiasan ini dengan sendirinja adalah pemberian orang jang menolong aku itu agar aku mempunjai sangu dalam pelajaran ini. Akan tetapi, siapakah gerangannja? Perhiasan ini bukanlah milik Djik-sumoay, sebab aku tidak pernah melihat dipakai olehnja.”

Begitulah ditengah air sungai jang bergelombang, sampan ketjil itu terbawa arus menudju kehilir.

Sehari suntuk Tik Hun tidak merasa lapar dan djuga tidak merasa lelah, tapi terus memutar otak memikir: “Siapakah gerangan jang membalut lukaku ini? Siapakah gerangan jang memberikan uang dan perhiasan dalam buntalan ini?”

Tiang-kang atau sungai Pandjang (Yang-tje-kiang) jang menghilir ketimur Hengtjiu dan menjusuri propinsi2 Ouw-lam dan Ouw-pak itu djalannja ber-liku2, arusnja tidak santar, maka sampan ketjil itupun lambat sekali djalannja. Tertampak djelas satu persatu kota dan desa dikedua tepi sungai berlalu disamping perahu, kapal2 datang dari hulu sungai, baik jang berlajar maupun jang didajung, banjak pula sudah berlalu-lalang. Setiap kapal jang lewat disamping perahu Tik Hun dan melihat keadaan pemuda itu tak keruan matjamnja, rambut dan berewoknja gondrong tak terawat, mereka memandangnja dengan ter-heran2 dan tjuriga.

Mendjelang magrib, achirnja Tik Hun merasa lapar, perutnja mulai kerontjongan. Ia berbangkit dan duduk, ia ambil sepotong papan perahu dan mendajung kendaraan air itu ketepi utara dengan pelahan dengan maksud akan beli sedikit nasi atau djadjan seadanja. Tapi sial baginja, sekitar situ ternjata melulu ladang belukar belaka, sudah hampir setengah djam sampan itu terhanjut kehilir menjusur tepi pantai, tetap tiada sebuah rumahpun jang terlihat olehnja.

Setelah perahunja membiluk mengikuti tikungan sungai, tiba-tiba Tik Hun melihat dibawah pohon Liu jang rindang ditepi sungai situ tertambat tiga perahu nelajan. Diatas perahu itu tampak asap mengepul. Waktu sampan Tik Hun dekat dengan perahu2 nelajan itu, segera terdengarlah suara minjak mendidih disertai bau sedap gorengan ikan.

Mengendus bau sedap itu, perut Tik Hun mendjadi tambah lapar. Terus sadja ia rapatkan sampannja keperahu nelajan itu dan katanja kepada seorang nelajan tua jang berduduk di haluan perahu: “Paman tukang tangkap ikan, dapatkah aku membeli sepotong ikan gorengmu?”

Melihat muka Tik Hun jang menakutkan itu, nelajan itu mendjadi djeri, mestinja tidak boleh, terpaksa ia tidak berani menolak, sahutnja: “Ja, baiklah!”

Lalu ia memilihkan seekor ikan goreng jang masih hangat2 ia wadahi didalam mangkok terus diangsurkan kepada Tik Hun.

“Djika ada nasi, tolong beli pula semangkok,” mohon Tik Hun.

Terpaksa nelajan itu mengia pula dan kembali menjerahkan satu mangkok penuh nasi pada Tik Hun. Penghidupan kaum nelajan miskin, maka nasi jang dimakannja itu adalah beras murahan ditjampur dengan ubi dan Kaoliang (Kaoliang, sematjam tanaman bahan pangan, Djawawut?).

Tik Hun sendiri berasal dari keluarga melarat, apa jang dia makan didalam pendjara djauh lebih buruk lagi, kini dalam keadaan lapar, nasi jang diterimanja dari nelajan tua itu boleh dikata seperti nasi liwet, apalagi saking laparnja, maka isi mangkok itu hanja beberapa kali sapu sadja sudah dilangsir masuk semua kedalam perutnja.

Karena merasa belum tjukup, selagi Tik Hun bermaksud membuka mulut untuk minta ditambahi semangkok nasi lagi, tiba2 didengarnja suara orang jang serak sedang berseru ditepi pantai: “Hai, nelajan! Ada ikan besar tidak? Berikan padaku beberapa ekor jang segar!”

Waktu Tik Hun menoleh, ia lihat seorang Hwesio tinggi kurus matanja besar bersinar, sedang menanja sinelajan dengan bertolak pinggang, sikapnja kasar.

Hati Tik Hun tergetar seketika. Teringat olehnja Hwesio itu adalah satu diantara kelima paderi jang pernah meretjoki Ting Tian didalam pendjara dahulu itu. Setelah memikir sedjenak, segera ia pun ingat tjeritanja Ting Tian bahwa Hwesio tingggi kurus ini bergelar Po-siang. Malam itu, dengan Sin-tjiau-kang jang lihay Ting Tian telah berhasil membinasakan dua diantaranja, sisa ketiga paderi jang lain sempat melarikan diri. Dan Po-siang ini adalah satu diantara ketiga orang itu.

Demi mengenali Po-siang, maka Tik Hun tidak berani memandang lagi padanja. Pernah didengarnja dari Ting Tian, katanja ilmu silat Hwesio ini sangat hebat, sampai Ting Tian sendiri waktu itu tidak berani jakin dirinja pasti menang. Sekarang Tik Hun insaf pabila Po-siang melihat djenazahnja Ting Tian, pasti Tik Hun sendiri djuga akan mendjadi korban keganasan paderi itu.

Begitulah dengan kebat-kebit Tik Hun memegangi mangkok nasi jang sudah kosong itu, saking kuatirnja sampai tangannja rada gemetar djuga. Dalam hati diam2 ia berdoa: “Djangan gemetar, djangan gugup, kalau sampai diketahui musuh, tentu tjelaka!” ~ Tapi semakin ia ingin tenangkan diri, semakin takdapat menguasai diri.

Maka didengarnja sinelajan tua tadi sedang mendjawab: “Maaf Toahwesio, ikan jang kutangkap harini sudah terdjual habis, sudah tidak ada lagi.”

“Siapa bilang tidak ada?” bentak Po-siang dengan gusar. “Aku sudah kelaparan, aku tak peduli, lekas kau adakan beberapa ekor.”

“Tapi benar2 sudah habis, Thaysuhu,” sahut sinelajan. “Kalau masih ada, siapa jang tidak dojan duit, masakah tidak didjual?”

Habis berkata, ia angkat kerandjang ikannja dan dituang terbalik, benar djuga, memang kerandjang itu kosong melompong tanpa isi.

Namun Po-siang sedang kelaparan sekali, tiba2 dilihatnja Tik Hun sedang menghadapi seekor ikan goreng didalam mangkoknja ikan itu baru termakan sebagian ketjil. Terus sadja ia berseru: “Hai, orang itu, disitu ada ikan atau tidak?”

Tik Hun sendiri lagi bingung, mendengar orang bitjara padanja, ia salah sangka orang telah mengenali dirinja. Keruan ia tambah kuatir, tanpa mendjawab lagi ia terus angkat papan perahu dan sekali ia tolak kebatang pohon Liu ditepi sungai, segera mendajung sampannja ketengah sungai.

Po-siang mendjadi gusar, kontan ia memaki: “Badjingan, aku tanja engkau punja ikan tidak, mengapa engkau seperti maling jang ketakutan terus melarikan diri?”

Padahal Tik Hun bukan maling, tapi memang benar ketakutan mendengar tjatji-maki paderi itu, ia semakin takut. Ia mendajung lebih tjepat hingga sampannja meluntjur ketengah sungai.

Dengan gusar Po-siang terus djemput sepotong batu, segera ia sambitkan kearah Tik Hun dengan sekuatnja.

Walaupun tenaga dalam Tik Hun sudah lenjap, tapi ilmu silatnja belum terlupa. Melihat sambaran batu jang ditimpukan Po-siang itu sangat keras, kalau kena, pasti djiwanja akan melajang. Maka tjepat ia mendakan tubuh hingga batu jang ditimpukan Po-siang itu menjambar lewat diatas kepalanja dengan membawa sambaran angin jang keras. “Plung”, batu itu mentjemplung kedasar sungai hingga air memuntjrat tinggi. Njata tenaga sambitan Po-siang itu benar2 sangat kuat.

Melihat tjara Tik Hun menghindarkan timpukan batunja, gerak-geriknja tjukup gesit, terang seorang jang pernah melatih silat dan sekali2 bukan kaum nelajan biasa, maka Po-siang mendjadi tjuriga. Bentaknja segera: “Hajo engkau lekas balik kemari, kalau tidak, segera kutjabut njawamu!”

Sudah tentu Tik Hun tak gubris pada teriakannja, ia mendajung lebih keras malah. Po-siang mendjadi murka, tjepat ia djemput lagi sepotong batu jang lebih besar terus menimpuk, menjusul tangan jang lain sambar sepotong batu lagi dan segera disambitkan pula.

Tik Hun sendiripun sedang tjurahkan antero perhatiannja terhadap batu sambitan paderi itu sambil tetap mendajung se-kuat2nja. Batu pertama dengan mudah dapat dihindarkannja dengan mendakan tubuh, tapi batu kedua menjambar datang dengan sangat rendah, serendah badan perahunja, terpaksa Tik Hun merebahkan diri kelantai perahu hingga batu itu persis menjambar lewat didepan hidungnja, selisihnja tjuma beberapa senti sadja. Dan baru sadja ia berbangkit, se-konjong2 batu lain menjambar tiba pula, “plok”. Dengan tepat batu itu kena dihaluan perahu hingga kaju bubuk bertebaran, papan haluan perahu telah sempal sebagian.

Melihat tjara Tik Hun menghindari batu itu sangat tjekatan, sedangkan sampan ketjil itu semakin terhanjut oleh arus, diam2 Po-siang memikir: “Kata pribahasa: Memanah orang sebaiknja memanah kudanja lebih dulu.” ~ Maka tjepat ia djemput pula dua potong batu dan disambitkan, tapi jang diintjar sekarang hanja perahunja sadja.

Tindakannja menjambit perahu ini kalau sedjak mula dilakukan, mungkin sedjak tadi Tik Hun sudah karam kedasar sungai bersama sampannja. Tapi kini djaraknja sudah makin djauh, ber-turut2 batu sambitan Po-siang itu mesti tepat mengenai sasarannja, namun tjuma menghantjurkan sedikit papan dan dinding perahu sadja.

Keruan Po-siang bertambah gopoh ingin lekas2 dapat membekuk Tik Hun. Ia semakin mendongkol ketika melihat pemuda itu dapat menghindarkan setiap timpukannja. Dari djauh dilihat rambut Tik Hun jang gondrong itu menjiak tertiup angin, mendadak teringatlah satu orang olehnja: “Eh, orang ini mirip pelarian dari pendjara itu. katanja Ting Tian telah melarikan diri dari pendjara Hengtjiu, berita ini ramai dibitjarakan orang Kangouw, boleh djadi dari buronan ini dapat diperoleh sedikit kabarnja Ting Tian.”

Berpikir demikian, napsu serakahnja lantas timbul, jaitu ingin mendapatkan hadiah besar jang dijanjikan Leng-tihu bila dapat menangkap kembali pelarian pendjara itu. Segera ia ber-teriak2: “Hai, nelajan! Lekas kemari, bawalah aku memburu orang itu!”

Tak terduga ketiga perahu nelajan jang tadi berlabuh dibawah pohon Liu itu kini sudah meluntjur pergi karena para nelajan itu mendjadi ketakutan waktu melihat Po-siang menimpuk orang dengan batu, perbuatannja sangat kasar dan djahat. Maka sekalipun Po-siang ber-kaok2 hingga tenggorokannja bedjat djuga tiada seorangpun jang sudi kembali untuk mengangkutnja.

Dengan sendirinja Po-siang semakin kalap. Ia djemput pula beberapa potong batu dan menimpukan serabutan kepada nelajan2 itu. “Plok”, batu kedua telah mengenai batok kepala salah seorang nelajan itu hingga kepala petjah dan otak berantakan terus terdjungkal kedalam sungai. Keruan nelajan2 jang lain ketakutan setengah mati, mereka mendajung lebih tjepat untuk menjelamatkan diri.

Po-siang masih tidak rela melepaskan Tik Hun begitu sadja, ia harus mengedjar menjusur tepi sungai. Begitu tjepat larinja hingga sampan Tik Hun kalah tjepat meluntjurnja. Tjuma Po-siang mengedjar dipantai utara, sebaliknja Tik Hun mendajung perahunja menjorong ketepi selatan. Meski kedjaran Po-siang dapat melampaui perahunja Tik Hun, tapi djaraknja djuga bertambah djauh.

Diam2 Tik Hun memikir bila sampai Po-siang dapat memperoleh sebuah perahu dipantai sana serta memaksa tukang perahu mengangkutnja untuk mengedjar, maka dirinja pasti akan susah meloloskan diri. Dalam kuatirnja, djalan satu2nja baginja adalah berdoa: “Ting-toako, Ting-toako, undjukanlah kesaktian arwahmu, bikinlah supaja paderi djahat itu tidak mendapatkan perahu untuk mengedjar.”

Biasanja lalu lintas kapal2 dan perahu2 disungai Tiang-kang itu sangat banjak, untunglah sepandjang beberapa li dipantai utara sana tiada sebuah kapalpun jang berlabuh disana. Maka selama itu Po-siang tak dapat berbuat apa2.

Sekuatnja Tik Hun mendajung perahunja ketepi selatan, meski lebar sungai didaerah sini tidak terlalu luas, tapi banjak tumbuh2an air jang dapat dipakai sebagai aling2 hingga Po-siang susah memandang kearahnja. Setelah menepi, Tik Hun lantas panggul buntalan kain itu dipunggungnja, ia pondong majatnja Ting Tian dan mendarat. Tapi mendadak terpikir suatu akal olehnja. Ia balik ketepi sungai dan mendorong perahunja tadi ketengah sungai dengan harapan akan membilukan perhatian Po-siang bila memandang dari djauh tentu akan menjangka pemuda itu masih terus mendajung perahunja kehilir sungai.

Begitulah Tik Hun lantas melarikan diri tjepat2 tanpa pilih djalanan pula, jang dia harapkan jalah sedjauh mungkin meninggalkan sungai itu. Akan tetapi siapa duga, belum seberapa djauhnja tiba2 ia melihat didepan ombak mendebur, kembali ia diadang sungai itu lagi. Kiranja didaerah situ Tiang-kang djuga membiluk kearah selatan, djadi merupakan sebuah delta ketjil, maka Tik Hun telah sia2 berlari sedjauh itu.

Lekas2 ia putar balik kekanan, tidak djauh, tiba2 dilihatnja didepan sana ada sebuah kelenteng bobrok. Segera ia menudju kekelenteng itu sambil pondong majatnja Ting Tian. Setiba didepan pintu, selagi dia hendak mendorong pintu kelenteng, tiba2 kakinja terasa lemas, ia terdjatuh mendoprok ketanah dan tidak sanggup berbangkit pula.

Kiranja sesudah terluka, Tik Hun terlalu banjak mengeluarkan darah, badannja sebenarnja sudah sangat lemah, se-kuat2nja ia telah mendajung perahu pula, ditambah lagi ber-lari2 kuatir dibekuk Po-siang, maka sampai didepan kelenteng itu ia benar2 sudah kehabisan tenaga.

Ia tjoba me-ronta2 untuk berdiri, tapi tetap lemas, terpaksa ia hanja duduk bersandarkan dinding pintu dengan napas megap2. Ia mendjadi agak lega ketika melihat tjuatja sudah remang2, hari sudah mulai gelap. Pikirnja: “Asal menunggu hari sudah malam, paderi djahat itu tentu takkan dapat menemukan kami lagi,”

Meski Ting Tian sudah mati, tapi dalam batinnja ia masih tetap anggap sang Toako sebagai kawan karibnja jang masih hidup berada disampingnja.

Begitulah sesudah merebah tjukup lama diluar kelenteng lambat-laun tenaganja mulai pulih dan barulah ia dapat berbangkit. Ia pondong pula majatnja Ting Tian dan membawanja kedalam kelenteng.

Kelenteng itu adalah sebuah “Tho-te-bio”, jaitu Toapekong malaikat bumi. Artja Toapekong itu terbuat dari tanah, potongannja pendek ketjil dan lutju bentuknja.

Pada umumnja, manusia jang kepepet dan sedang menghadapi djalan buntu, sering kali lalu pasrah nasib kepada jang berkuasa. Begitu pula halnja dengan Tik Hun sekarang, dalam keadaan merana, timbul djuga rasa hormatnja kepada patung malaikat bumi jang lutju itu, dengan penuh chidmat iapun berlutut memberi hormat beberapa kali kepada Toapekong itu, dengan demikian sedikit banjak penderitaan bathinnja mendjadi agak terhibur.

Sambil berduduk didepan altar Toapekong, Tik Hun memandangi djenazah Ting Tian dengan ter-menung2 sambil bertopang dagu. Keadaan Tik Hun sekarang dapat diibaratkan anjing jang tak punja rumah madjikan lagi. Mungkin nasib andjing begitu masih lebih baik daripadanja. Hanja suatu hal jang membuatnja semakin lega jalah tjuatja sudah semakin gelap, hari sudah malam.

Begitulah Tik Hun lalu merebah disamping djenazahnja Ting Tian tiada ubahnja seperti hidupnja se-hari2 selama beberapa tahun dahulu didalam pendjara jang sempit itu.

Mendjelang tengah malam, tiba2 turun hudjan pula. Hujan itu mula2 rintik2, kemudian sangat deras, lalu rintik2 pula tiada ber-henti2.

Karena dingin, badan Tik Hun meringkuk hingga mirip babi. Ia tjoba mendesak mendekati Ting Tian. Tapi mendadak ia menjentuh majat Ting Tian jang sudah kaku dan dingin itu, ia mendjadi ingat sang Toako sudah meninggal dan tidak dapat bitjara lagi dengan dirinja. Tiba2 ia berduka dan pilu tak terlukiskan.

Dibawah hudjan rintik2 itu, tiba terdengar ada suara orang berdjalan menudju kekelenteng bobrok ini. Suara tindakan orang ditanah betjek karena hudjan itu ternjata sangat tjepat.

Tik Hun terkedjut, ia dengar orang itu sudah makin dekat. Lekas2 ia sembunjikan djenazah Ting Tian itu kebawah medja sembahjang, ia sendiri lantas mengumpet kebelakang altar Toapekong.

Semakin dekat suara tindakan orang itu, semakin berdebar djantung Tung Tik Hun. Kemudian terdengarlah pintu kelenteng berkeriut dan didorong orang dari luar. Menjusul suara orang itu lantas memaki: “Keparat, bangsat tua itu entah telah lari kemana hingga antero badan Lotju basah-kujup kehudjanan!”

Njata, memang tidak salah, itulah suaranja Po-siang. Sungguh tidak pantas sekali tjatji-makinja itu, masakan seorang paderi bermulut sekotor itu, demikian diam2 Tik Hun membatin.

Meski Tik Hun tidak banjak pengetahuannja tentang kehidupan manusia, tapi selama beberapa tahun ini, setiap hari ia telah digembleng oleh Ting Tian dan saban2 mendengar tjerita sang Toako tentang kedjadian2 dikalangan Kangouw, maka Tik Hun sekarang sudah bukan Tik Hun pemuda desa jang bodoh lagi. Diam2 ia memikir pula: “Meski Po-siang ini berdandan sebagai paderi, tapi ia tidak pantang makan dan suka membunuh orang, besar kemungkinan dia adalah seorang bandit jang maha djahat”.

Dalam pada itu terdengar tjatji-maki Po-siang itu semakin kotor, sesudah puas memaki, Po-siang terus duduk didepan altar malaikat bumi, menjusul terdengar suara membuka badju, kiranja Hwesio itu telah mentjopot antero pakaiannja jang basah kujup itu, lalu diperasnja hingga kering ketepi emper, kemudian pakaiannja digelar diatas altar, ia sendiri lantas menggeletak dilantai, tidak lama terdengarlah suara menggeros, kiranja sudah tertidur pulas.

“Sungguh berdosa Hwesio djahat ini, masakah tanpa risih sedikitpun tidur telandjang bulat didepan malaikat bumi?” demikian pikir Tik Hun. Lalu terpikir olehnja: “Dalam keadaan dia tidak ber-djaga2, biarlah kudjemput sepotong batu dan kepruk kepalanja hingga mampus, besok tentu aku tidak perlu takut lagi padanja.”

Tapi dasar djiwa Tik Hun sangat baik budi, ia tidak suka sembarangan membunuh orang, pula tjukup tahu ilmu silat Po-siang berpuluh kali lebih tinggi dari dirinja, kalau sekali kepruk takdapat mampuskan paderi itu, asal dia masih ada tenaga untuk balas menjerang, tentu dirinja sendiri jang akan mati modar.

Dalam keadaan begitu kalau Tik Hun mau melarikan diri setjara diam2 melalui djalan belakang kelenteng itu, tentu Po-siang takkan mengetahui.Tapi djenazah Ting Tian masih berada dibawah medja sembahjang, meski insaf besok djuga akan mati terbunuh musuh, namun Tik Hun tidak nanti meninggalkannya pergi.

Ia dengar hudjan rintik2 masih tiada hentinja, sama seperti kebat-kebit hatinja jang djuga tiada henti2nja. Ia berharap hudjan lekas terang, dengan demikian Po-siang dapat meninggalkan kelenteng itu. Tapi melihat gelagatnja, hudjan rintik2 seperti itu biarpun semalam suntuk djuga belum tentu berhenti. Dan bila hari sudah pagi serta Po-siang tidak mau berangkat dibawah hujan, tentu dia akan memeriksa keadaan kelenteng itu untuk mentjari barang makanan umpamanja, dengan demikian pasti dirinja akan dipergokinja.

Namun demikian, timbul djuga harapan untung2an dalam hati Tik Hun, pikirnja: “Boleh djadi sebelum terang tanah hudjan akan berhenti dan paderi djahat ini karena buru2 ingin mengedjar aku, mungkin dia terus berangkat dengan ter-gesa2 dan selamatlah aku.”

Tiba2 teringat sesuatu olehnja: “Waktu datang tadi ia telah mentjatji-maki, katanja ‘bangsat tua’ itu entah telah lari kemana. Usiaku toh belum landjut, mengapa aku dimaki sebagai ‘bangsat tua’? Apakah mungkin dia sedang menguber seorang lain lagi jang tua?” ~ Dan pada saat lain tanpa sengadja ia telah meraba berewoknja sendiri jang tak terawat itu, mendadak ia mengarti duduknja perkara: “Ah, tahulah aku. Disebabkan rambut dan berewokku ini gondrong tak terawat hingga bagi pandangan orang lain dengan sendirinja disangka seorang tua. Djadi dia memaki aku sebagai ‘bangsat tua’? Hehe, ‘bangsat tua’?”

“Bluk”, mendadak Po-siang membalik tubuh dalam tidurnja. Tjara tidur paderi itu ternjata sangat rusuh, maka kakinja telah menjampar kebawah altar dan tepat mengenai djenazah Ting Tian.

Djago silat setinggi Po-siang, begitu merasa ada sesuatu jang mentjurigakan, seketika akan terdjaga dari tidurnja. Maka ia menjangka dibawah altar Toapekong itu bersembunji musuh, terus sadja ia melompat bangun sambil sambar golok jang terletak disampingnja, dalam kegelapan iapun tidak tahu ada berapa orang musuh jang bersembunji disitu, maka terus sadja ia membabat dan membatjok serabutan kekanan dan kekiri agar musuh tidak berani mendekatinja.

“Siapa? Djahanam! Keparat!” demikian Po-siang membentak dan memaki. Tapi meski sudah dibentak dan dimaki toh masih tiada suara sahutan orang. Tjepat ia berdiam sambil menahan napas untuk mendengarkan apakah ada suara orang.

Dalam keadaan begitu, sudah tentu Tik Hun harus lebih hati2 bahkan bernapaspun tidak berani keras2, kuatir kalau diketahui paderi djahat itu.

Karena masih kuatir, kembali Po-siang ajun goloknja membatjok kian kemari hingga belasan kali, menjusul kakinja ikut mendepak, “blang”, medja sembahjang kena ditendang roboh, segera goloknja membatjok pula, “tjret”, goloknja kena membatjok sesuatu benda dan terdengar ada suara tulang remuk. Kiranja majat Ting Tian telah kena dibatjok.

Dengan djelas Tik Hun dapat mendengar suara terbatjoknja majat Ting Tian itu oleh sendjatanja Po-siang. Meski Ting Tian sudah meninggal dan pada hakikatnja tiada punja daja rasa lagi, tapi bagi Tik Hun masih tetap menganggapnja sebagai kakak angkat jang terhormat dan tertjinta. Kini paderi djahat itu berani merusak djenazah sang Giheng, keruan Tik Hun sangat murka.

Dalam pada itu sesudah membatjok sekali serta tidak mendengar sesuatu suara reaksi apa2, Po-siang mendjadi ragu2. Tjelakanja dalam kegelapan, tiada sesuatu jang dapat dilihatnja. Sedangkan alat ketikan api jang dibawanja sudah takdapat digunakan lagi karena basah oleh air hudjan. Terpaksa ia main mundur kebelakang dengan pelahan2, ia pepetkan punggungnja kedinding untuk mendjaga kalau disergap musuh dari belakang. Kemudian ia berdiam pula untuk mendengarkan kalau2 ada sesuatu suara apa2.

Begitulah, djikalau Po-siang berada didalam keadaan siap siaga dan penuh tjuriga, adalah sebaliknja Tik Hun dalam keadaan takut tertjampur gusar pula.

Ketika mendengar majat Ting Tian dibatjok Po-siang tadi, sebenarnja Tik Hun segera ingin menerdjang keluar untuk mengadu djiwa dengan paderi djahat itu. Tjuma sesudah digembleng selama lima tahun didalam pendjara, pemuda Tik Hun jang ke-tolol2an dahulu itu telah berubah mendjadi seorang pemuda jang dapat berpikir. Baru dia hendak melangkah keluar, segera teringat olehnja: “Djika aku menerdjang dan mengadu djiwa padanja, ketjuali jiwaku akan melajang pertjuma, terang tiada manfaat lain. Sebaliknja tjita2 Ting-toako jang minta dikubur bersama Leng-siotjia itu mendjadi gagal dan tak terlaksana, padahal aku sudah berdjandji padanja, maka sedapat mungkin aku harus bersabar.”

Kedudukan kedua orang waktu itu hanja terpisah oleh sebuah dinding aling2 sadja, ketjuali suara hudjan jang rintik2, suara lain sama sekali tiada terdengar.

Tik Hun insaf apabila suara napas sendiri sedikit keras, seketika djiwanja pasti akan melajang. Terpaksa ia bernapas dengan sangat pelahan, sedangkan benaknja tiada henti2nja berpikir: “Beberapa djam lagi hari sudah akan terang tanah. Dan kalau paderi djahat itu melihat djenazah Ting-toako, pasti dia akan merusaknja untuk melampiaskan rasa gusarnja. Lantas apa dajaku agar djenazah Ting-toako dapat diselamatkan?”

Dasar otak Tik Hun memang puntul, sedangkan usaha untuk menjelamatkan djenazah Ting Tian dari keganasan Po-siang adalah sesuatu tugas jang maha sulit, sekalipun seorang jang tjerdas djuga pasti akan bingung, apalagi seorang Tik Hun jang bodoh.

Begitulah meski sampai lama ia pikir, sampai kepalanja petjah djuga tetap tiada sesuatu akal jang dapat diperolehnja. Karuan ia tambah gopoh dan sesalkan diri sendiri: “Wahai Tik Hun, dasar engkau ini memang pemuda jang goblok, dengan sendirinja engkau takdapat memikirkan sesuatu akal bagus. Tjoba kalau engkau pintar, tidak mungkin kelabakan seperti sekarang ini.” ~ Dan karena saking gelisahnja, ia djambat2 rambut sendiri, tanpa sengadja ia mendjambat terlalu keras hingga setjomot rambutnja ikut terbubut. Se-konjong2 benaknja terkilas suatu pikiran: “He, paderi djahat ini menjebut aku sebagai ‘bangsat tua’, rupanja karena melihat rambut dan berewokku gondrong tak keruan, maka menjangka aku adalah seorang tua. Pabila sekarang aku mentjukur bersih …… bukankah dia akan pangling dan takdapat mengenali diriku? Tjuma sajang, aku tidak membawa pisau tjukur, tjara bagaimana membersihkan berewok jang kaku ini? Hm, mati djuga aku tidak takut, kenapa mesti takut sakit? Biarlah aku tjabut sadja dengan tangan satu-persatu.

Apa jang dipikir Tik Hun, segera dilakukannja djuga. Maka seudjung demi seudjung ia mentjabuti djenggotnja jang kaku2 itu. Sambil mentjabut ia sembari memikir: “Seumpama paderi djahat ini takdapat mengenali aku lagi, paling2 aku takkan dibunuhnja. Tapi tjara bagaimana pula harus menjelamatkan Ting-toako? Ah, sudahlah, dapat madju selangkah, biarlah kumadju terus, asal djiwaku sendiri dapat dipertahankan sementara, tentu aku dapat mendekati paderi djahat itu dan dikala dia tidak ber-djaga2, aku akan mentjari akal untuk membunuhnja.”

Maka satu persatu ia membubuti djenggotnja itu. Pabila hal itu dilakukan dengan pelahan2 dan hati2, tentu takkan terlalu sakit rasanja. Tapi Tik Hun kuatir kalau hari keburu terang tanah dan djenggotnja belum lagi tertjabut bersih hingga diketahui oleh Po-siang. Dari itu, tjara tjabutnja mendjadi buru2 dan sekenanja, dan penderitaannja dapat dibajangkan.

Serta sudah sebagian besar djenggotnja terbubut, tiba2 terpikir pula olehnja: “Seandainja djanggutku sudah bersih tanpa djenggot, namun rambutku jang gondrong ini tentu djuga akan dikenali olehnja. Ia telah mengedjar aku sepandjang pantai, tentu keadaan rambut dan djenggotku jang gondrong ini sudah dilihatnja dengan djelas.”

Berpikir begitu, ia mendjadi nekat. Tanpa ragu2 lagi iapun mentjabuti rambutnja.

Mentjabut djenggot masih mending dan tidak terlalu sakit, tapi mentjabut rambut, bahkan sampai habis kelimis, sungguh rasa sakitnja tak terkatakan.

Tapi dasar watak Tik Hun memang keras dan tidak gampang menjerah, sangat setia pula kepada Ting Tian, djangankan tjuma mentjabut rambut dan djenggot jang sepele, sekalipun demi Ting Tian ia mesti korbankan anggota badannja djuga dia takkan mengkerut kening sedikitpun. Sebetulnja karena usianja masih sangat muda, pula berasal dari desa dan masih hidjau, maka setjara tolol2an ia telah melakukan akalnja jang aneh dan lutju itu, pabila seorang Kangouw jang sudah berpengalaman dan lebih tua umpamanja, tentu takkan melakukan usaha jang bodoh itu.

Tik Hun kuatir kalau Po-siang mendengar suaranja, maka setiap mentjabut sedikit rambut dan djenggotnja, pelahan2 iapun menggeremet mundur setindak, setelah hampir satu djam lamanja, barulah ia dapat mundur sampai di Tjimtjhe (karas dalam rumah). Dan setengah djam pula, achirnja dapatlah ia mentjapai pintu belakang kelenteng itu. Ketika mukanja merasa tertetes air hudjan, barulah pelahan2 ia menghela napas lega.

Tjepat tapi hati2 Tik Hun pendam rambut dan djenggot jang dia tjabut itu kedalam lumpur untuk mendjaga kalau dilihat Po-siang hingga menimbulkan tjuriganja. Lalu ia raba2 dan gosok2 djanggut dan kepala sendiri, ia merasa dirinja sekarang bukan lagi seorang “bangsat tua”, tapi lebih tepat dikatakan “bangsat gundul”. Dalam sedih dan dongkolnja ia mendjadi geli sendiri pula. Pikirnja: “Setelah kutjabut setjara ngawur begini, tentu kepala dan djanggutku babak-belur penuh darah. Aku harus mentjutjinja hingga bersih, supaja tidak diketahui musuh.”

Segera ia djulurkan kepalanja kebawah emper dan membiarkan air hudjan menjirami kepala dan mukanja jang berlepotan darah itu. Ia mendjadi meringis perih karena luka2 tjabutan itu kena air.

Kemudian ia pikir pula: “Wadjahku sekarang susah dikenali lagi. Tapi pakaianku ini kalau dikenali paderi djahat itu, bukankah usahaku ini akan sia2 belaka? Sedangkan disini tiada jang dapat kuganti, eh, kenapa aku tidak meniru tjara paderi djahat itu, biarpun telandjang, kenapa sih?”

Maka tjepat ia melepaskan badju dan tjelananja. Badju sudah terbuka, kini tinggal Oh-djan-ih jang tidak mungkin djuga ditjopot, terpaksa ia hanja mengenakan badju dalam itu dan tanpa bertjelana. Segera ia robek badju luar serta digubat dipinggangnja hingga mirip bergaun. Ia kuatir kalau Oh-djan-ih jang dipakainja itu dapat dikenali Po-siang, tanpa pikir lagi ia terus ber-guling2 ditanah lumpur hingga badju pusaka itu penuh lumpur jang kotor.

Dengan dandanan Tik Hun sekarang jang memper Tarzan, sekalipun Ting Tian hidup kembali djuga rasanja akan pangling padanja.

Diam2 Tik Hun geli sendiri, pikirnja: “Entah berubah mendjadi matjam apa diriku sekarang ini? Nanti kalau sudah terang tanah, biarlah aku mengatja dulu dimuka air empang.”

Pelahan2 ia menggerumut kebawah sebatang pohon rindang, dengan tangan ia menggali sebuah liang untuk memendam buntalan ketjil jang dibawanja itu. Pikirnja diam2: “Pabila aku dapat lolos dari antjaman paderi djahat itu dan dapat menjelamatkan Ting-toako, kelak aku pasti akan membalas budi pertolongan orang jang telah mengobati lukaku serta memberi sangu dan perhiasan ini.”

Setelah selesai ia pendam buntalannja, sementara itu hari sudah remang2. Pelahan2 Tik Hun berdjalan menudju keselatan, lalu membiluk kebarat, tiada beberapa li djauhnja, hari sudah terang tanah, tapi hudjan masih belum lagi reda. Ia menaksir Po-siang pasti tidak meninggalkan kelenteng itu, ia pikir harus mendapatkan sesuatu gaman untuk menghadapi segala kemungkinan, tapi dihutan belukar demikian, kemana mesti mentjari sendjata? Terpaksa ia djemput sepotong batu jang tadjam dan lantjip, ia selipkan batu itu dipinggang, ia pikir kalau dapat menikam sekali sadja ditempat jang mematikan dibadan Po-siang boleh djadi paderi itu akan dapat dimampuskan. Sebaliknja kalau sekali serang tidak berhasil, maka tjelakalah dirinja, untuk mana terpaksa ia menjerah nasib.

Dan karena teringat pada sang Toako, iapun tidak sabar menanti sampai mendapatkan sesuatu sendjata jang tjotjok, terus sadja ia kembali menudju kekelenteng Toapekong itu. Ia pikir bagaimana nanti harus menghadapi musuh jang djahat itu. “Eh, aku harus pura2 tolol dan seperti orang sinting, biar aku berlagak sebagai seorang pengemis gelandangan ditempat ini.” demikian pikirnja.

Maka waktu mendekati kelenteng itu, segera ia pentang batjot dan tarik suara, ia menjanjikan “San-ko” (njanjian rakjat didaerah pegunungan) dengan se-keras2nja, begini lagunja:

Oiii, adik manis diseberang bukit!
Dengarkan aku menjanji,
kalau engkau mentjari suami,
djangan tjari orang sekolah,
orang sekolah moralnja bedjat,
tjarilah suami kepala botak seperti aku si A Sam,
Oi, kepalaku kelimis!

Dahulu waktu tinggal dipedesaan di Ouwlam, Tik Hun memang djagoan njanji, dikala bertjotjok-tanam disawah ladang atau diwaktu ber-djalan2 dilereng bukit jang indah bersama Djik Hong, sering mereka sahut-menjahut menjanjikan San-ko jang sangat digemari rakjat setempat itu.

Menurut kebiasaan adat istiadat pedesaan Ouwlam, lagu San-ko itu dinjanjikan setjara spontan menurut keadaan setempat dimana sipenjanji berada. Lagunja sering2 kasar dan umum, tiada ubahnja seperti kata2 se-hari2, hanja tjara menjanjikannja berirama dan pakai tekukan suara hingga kedengarannja merdu mentakdjubkan.

Dan habis menjanji, tiba2 Tik Hun merasa pilu, teringat penghabisan kalinja memain bersama Djik Hong, njanjian itu sudah lima tahun tidak pernah membasahi tenggorokannja lagi. Kini dapat menjanji pula, tapi pemandangan keadaan disekelilingnja ternjata sangat aneh dan berlainan, kalau dulu sipendengarnja adalah sang Sumoay jang tjantik molek, adalah sekarang pendengarnja adalah seorang Hwesio gede jang djahat dan…….. telandjang bulat.

Begitulah ia sengadja lewat dikelenteng itu dengan pelahan2 lalu ia tjekik lehernja sendiri dan menjanji pula dengan menirukan suara wanita:

Oi, engkau A Sam sibotak apanja jang menarik?
Berani mimpi beristerikan aku sitjantik?
Emangnja aku kepintjuk kepalamu jang kelimis?
Atau terpikat karena …….

Belum lagi njanjiannja selesai, se-konjong2 Po-siang sudah berlari keluar dengan hanja menutupi badannja dengan badju luar. Rupanja ia ingin tahu siapakah gerangan jang menjanji itu. Dan ketika melihat kepala Tik Hun gundul pelontos, ia sangka pemuda itu memang benar2 seorang desa dan botak, ia merasa geli pula mendengar lagu Tik Hun jang meng-olok2 kepala sendiri jang botak serta tjaranja menirukan suara wanita jang lutju itu.

“Hai, gundul, kemari!” seru Po-siang segera.

Tik Hun mendjawabnja dengan menjanji pula:

“Ada keperluan apa Toasuhu memanggil daku?
Apa mau persen emas dan perak?
Hari ini sibotak A Sam lagi ketumplek redjeki,
Makanja Toasuhu hendak mengundang aku makan babi.”

Begitulah sambil menjanji dengan lagak jang di-buat2 djenaka, mau-tak-mau Tik Hun mendekati Po-siang. Meski sedapat mungkin ia berlagak sebagai pemuda desa jang ke-tolol2an, tapi hatinja ber-debar2 hebat, wadjahnja djuga berubah.

Untung Po-siang tidak dapat mengenalnja. Dengan tertawa paderi itu berkata: “Hai, A Sam sibotak, lekaslah engkau mentjarikan makanan untukku dan Toasuhu pasti akan memberi persen padamu. Ada babi gemuk tidak disini?”

“Ditanah pegunungan sunji tidak ada babi ……”

“Hus,” bentak Po-siang sebelum Tik Hun melandjutkan njanjianja. “Bitjaralah jang betul, djangan pakai njanji2 segala ……

Maka Tik Hun melelet lidah sekali dan pura2 mengundjuk lagak djenaka, lalu menjahut dengan suaranja jang di-bikin2: “A Sam sudah biasa menjanji, kalau bitjara biasa malah kaku rasanja. Toasuhu, disekitar sini seluas belasan li tiada kampung djuga tiada desa, djangankan engkau hendak makan babi, sekalipun mentjari sajur dan bubur djuga susah. Tapi dari sini kira2 sedjauh 15 li kebarat ada sebuah kota ketjil, disana dapat membeli daging dan arak, ada ikan ada ajam, apa jang Toasuhu ingin, segala apa djuga dapat dibeli disana, boleh tjoba Toasuhu pergi kesana sadja.”

Tik Hun insaf waktu ini masih belum mampu membunuh Po-siang untuk membalas sakit hati batjokannja kepada majat Ting Tian itu. Maka jang dia harap tjuma moga2 paderi djahat itu mau pertjaja pada obrolannja dan mentjari makanan ketempat jang dikatakan itu, dengan demikian ia ada kesempatan untuk melarikan diri dengan membawa majat Ting Tian.

Akan tetapi hudjan djustreru tidak mau ber-henti2, sedangkan Po-siang tidak mau kehudjanan lagi, maka mendadak Po-siang telah membentak: “Baiklah lekas kau pergi mentjarikan sedikit makanan kalau ada arak dan daging lebih baik, kalau tidak, boleh djuga sembelih seekor ajam atau bebek.”

Tapi Tik Hun sedang memikirkan bagaimana keadaan majat sang Toako itu, maka sambil berkata tadi ia terus melangkah masuk djuga kedalam kelenteng. Ia lihat djenazah Ting Tian sudah diseret keluar oleh Po-siang, pakaian djenazah itu tampak kumal dan tjompang-tjamping tak keruan, terang sudah pernah digeledah oleh Po-siang. Dalam gemas dan dukanja, betapapun Tik Hun ingin menahan perasaan djuga takbisa, maka dengan putus2 ia berkata: “Di ….. disini ada orang mati, apakah ……. Toasuhu jang membunuhnja?”

Melihat perubahan wadjah Tik Hun itu, Po-siang menjangka sigundul itu mendjadi ketakutan melihat orang mati. Maka dengan menjengir ia mendjawab: “Bukan aku jang membunuhnja. Boleh tjoba kau periksa dia, siapakah orang ini? Apa kau kenal dia?”

Tik Hun terkedjut, ia mendjadi takut karena menjangka dirinja dikenali. Tjoba kalau bukan bertekad hendak melindungi djenazah Ting Tian, boleh djadi ia sudah angkat langkah seribu. Maka sedapat mungkin ia tjoba tenangkan diri dan mendjawab: “Potongan orang ini sangat aneh, bukan orang kampung sini.”

“Sudah tentu ia bukan orang kampung sini,” udjar Po-siang dengan tertawa. Dan mendadak ia membentak: “Ajo, lekas pergi mentjarikan sedikit makanan. Kau tidak turut perintahku, apa minta kugetjek kepalamu?”

Melihat keadaan Ting Tian toh baik2 sadja, Tik Hun merasa lega, maka ber-ulang2 ia mengiakan sambil putar tubuh hendak keluar kelenteng, pikirnja: “Sementara ini biar aku menjingkir pergi sadja, asal setengah hari aku tidak datang kembali, karena kelaparan, tentu dia akan pergi mentjari makanan sendiri, tidak mungkin ia akan membawa serta Ting-toako. Apalagi dia geledah badan Ting-toako dengan hasil nihil, tentu dia akan putus harapannja.”

Tak terduga, baru beberapa langkah ia berdjalan, mendadak Po-siang membentak pula: “Berhenti! Kau hendak kemana?”

“Bukankah Toasuhu minta ditjarikan barang makanan?” sahut Tik Hun.

“Ehm, bagus, bagus!” kata Po-siang. “Dan berapa lama baru engkau dapat kembali?”

“Hanja sebentar sadja, selekasnja tentu aku akan kembali,” sahut Tik Hun pula.

“Baiklah, boleh kau pergi lekas!” udjar Po-siang.

Sebelum melangkah keluar, Tik Hun menoleh pula untuk memandang sekedjap kepada djenazah Ting Tian, habis itu baru ia bertindak pergi. Tapi baru dua tindak ia berdjalan, tiba-tiba terasa ada angin menjambar dari belakang, menjusul “plak-plok” dua kali, kedua belah pipinja masing2 telah kena ditampar sekali.

Untung Po-siang menjangka sibotak itu pasti seorang desa jang tidak paham ilmu silat, maka tjara tempilingnja tidak tidak terlalu keras; Dan untung djuga gerak serangan Po-siang teramat tjepat, sekali pukul sudah kena sasarannja hingga Tik Hun sama sekali tidak sempat berkelit. Kalau tidak, tentu rahasia Tik Hun akan ketahuan, sebab otomatis pemuda itu pasti akan berusaha menghindar dan lupa bahwa dirinja harus berlagak bodoh.

Begitulah Tik Hun mendjadi kaget. “Kenapa kau …… kau ….” tanjanja dengan tergagap. Sedangkan dalam hati telah ambil keputusan: “Pabila engkau telah mengetahui rahasiaku, terpaksa aku mengadu djiwa dengan kau.”

Tapi didengarnja Po-siang telah membentak: “Kau membawa uang berapa banjak? Tjoba keluarkan ingin kulihat!”

Tik Hun melengak sekedjap oleh pertanjaan itu, sahutnja gugup “Aku ….. aku ….”

“Hm, badanmu telandjang begini, orang rudin matjammu masakan punja uang. Potongan seperti kau ini apa djuga mungkin dapat memindjam atau utang pada orang lain? Hm, kau bilang akan mentjari makanan, tapi sebenarnja kau hendak menggelojor pergi bukan?”

Mendengar itu, Tik Hun mendjadi lega malah. Njata paderi djahat itu tjuma menjangka dia hendak melarikan diri sadja.

Maka Po-siang telah berkata pula: “Kau sigundul ini tadi mengatakan bahwa sekeliling sini tiada sesuatu kampung dan tempat tinggal orang, lalu kemana engkau hendak membeli makanan serta dapat kembali dalam waktu sebentar. Hm, hm, bukankah kau sengadja membohong? Ajo, mengaku terus terang sebenarnja apa tudjuanmu.”

“Sebab …… sebab aku takut pada Toasuhu dan … dan ingin lari pulang,” sahut Tik Hun dengan sengadja gelagapan.

Po-siang ter-bahak2 senang, ia tepuk2 simbar dadanja jang berbulu hitam ketat itu sambil berkata: “Takut apa? Takut aku akan makan dirimu?”

Dan karena menjebut soal “makan”, seketika perut Po-siang berkerontjongan hingga laparnja susah ditahan. Padahal sesudah terang tanah, lebih dulu antero pelosok kelenteng itu sudah digeledahnja, tapi tiada setitik makanan apapun jang diperolehnja. Maka komat-kamit ia telah menggumam sendiri: “Takut aku makan dirimu? Takut kumakan dirimu?” ~ sambil menggumam, tiba2 sorot matanja mendjadi bengis sambil mengintjar diri Tik Hun.

Keruan Tik Hun mengkirik, ia dapat membade apa jang sedang dipikir oleh paderi djahat itu.

Dan memang saat itu Po-siang sedang memikir: “Ehm, daging manusia memangnja enak djuga, hati manusia lebih2 lezat. Ha, kebetulan didepan mata ini ada seekor ‘babi’, mengapa aku tidak menjembelihnja sekarang djuga?”

Sebaliknja diam2 Tik Hun sedang mengeluh: “Wah, tjelaka! Kalau aku dibunuh olehnja tidak mendjadi soal, tapi melihat gelagatnja, paderi djahat ini agaknja hendak menjembelih aku untuk dimakan. Wah inilah sangat penasaran, bagaimanapun aku harus melawannja.”

Akan tetapi sekali melawan tentu akan terbunuh, dan sesudah dibunuh tetap ia akan mendjadi isi perut paderi itu. Apa bedanja melawan dan tidak?

Dalam pada itu setindak demi setindak Po-siang sudah mendekati Tik Hun dengan wadjah jang menakutkan, dan pemuda itupun setindak demi setindak main mundur kebelakang.

“Hehe, kau terlalu kurus, tinggal tulang belaka, kalau dimakan tentu tidak enak rasanja,” demikian Po-siang ketawa ter-kekeh2. “Tetapi terpaksa, babi gemuk tidak ada, babi kurus djuga bolehlah!” ~ dan begitu tangannja mendjulur, segera lengan kiri Tik Hun kena dipegangnja.

Se-kuat2nja Tik Hun meronta, namun tidak mungkin terlepas lagi. Sesaat itu ia mendjadi kuatir dan takut tak terkatakan. Sesudah menderita siksaan lahir-batin selama beberapa tahun ini, baginja kematian sendiri bukan soal lagi, tapi bila membajangkan bakal dimakan mentah2 oleh paderi djahat itu, halini benar2 membuatnja mengkirik.

Dasar watak Po-siang itu ternjata sangat djahat dan kedjam, tapi djuga malas. Ia lihat Tik Hun sudah pasti takdapat melarikan diri dan merupakan daging jang tinggal ditjaplok sadja, ia pikir lebih baik suruh pemuda itu memasak air dulu, habis itu barulah menjembelihnja. Ia merasa sajang pemuda itu tidak dapat menjembelih diri sendiri, lalu mengolah pula satu porsi Ang-sio-lang-bak (bistik daging manusia) dan dihaturkan kepadanja untuk dimakan tanpa repot2 sendiri.

Maka katanja kemudian: “Tjara aku menjembelih dirimu dua djalan. Pertama kuiris daging pahamu sepotong demi sepotong untuk dibuat daging panggang sambil memakannja, hal ini tentu akan membuat kau banjak lebih menderita kesakitan. Tjara kedua jalah sekaligus membunuh kau untuk dimasak dan dan dibuat sop daging. Nah, menurut kau, tjara mana jang lebih enak?”

“Sudah tentu daging panggang lebih enak,” djawab Tik Hun tanpa pikir. Tapi segera ia tekap mulutnja sendiri ketika teringat jang akan didjadikan daging panggang adalah dirinja sendiri. Achirnja ia terus ber-teriak2: “Lebih baik kau lekas……lekas bunuh aku sadja, kau …. kau ….. paderi djahat ……” ~ dengan gusar sebenarnja ia terus ingin mentjatji maki, tapi kuatir pula kalau2 paderi itu mendjadi murka hingga dirinja akan disiksa lebih berat, maka achirnja ia mengurungkan maksudnja.

Dalam pada itu Po-siang sudah lantas berkata dengan tertawa: “Benar, benar! Pintar benar engkau ini, segala apa tahu. Memang daging panggang lebih enak. He, A Sam, pergilah kedapur sana dan ambil kuali besi itu kemari, isi pula kuali itu dengan air.”

Sudah terang Tik Hun tahu kuali itu akan digunakan untuk memasak dirinja, tapi ia toh masih tanja: “Untuk apa kuali itu?”

“Hehe, hal ini tak perlu kau tanja,” sahut Po-siang dengan tertawa. “Nah lekas pergi sana, lekas!”

“Hendak masak air, biarlah kumasak didapur sadja, kuali itu terlalu berat, dibawa kesini djuga tidak leluasa,” udjar Tik Hun.

“Keparat! Apa jang kuperintahkan harus segera kau kerdjakan tahu? Kau berani membangkang?” bentak Po-siang dengan gusar. Berbareng ia tempiling Tik Hun sekali.

Sambil memegangi pipinja jang merah bengap itu, belum lagi Tik Hun sempat memikir, menjusul Po-siang telah mendepaknja pula hingga pemuda itu terguling.

Tapi sesudah dihadjar, otak Tik Hun mendjadi tadjam mendadak, pikirnja: “Daripada mati konjol, biarlah aku melabrak dia mati2an. Dia suruh aku masak air, inilah kesempatan baik malah, nanti kalau air dalam kuali sudah mendidih, diluar dugaannja segera kusiram badannja. Dia telandjang bulat, mustahil takkan melotjot dan mati terbakar?”

Dengan keputusan itu, ia mendjadi bersemangat dan tidak takut2 pula. Dengan menunduk ia lantas menudju kedapur dan membawa keluar sebuah kuali butut. Kemana dia pergi, selalu Po-siang mengintil dibelakangnja, rupanja paderi itu kuatir kalau2 Tik Hun melarikan diri.

Kuali butut itu bagian atas sudah gempil, maka hanja setengah kuali sadja dapat diisi air. Dengan sendirinja kekuatan setengah kuali air mendidih kurang lihay daripada air mendidih sekuali penuh, boleh djadi Po-siang takkan mati tersiram, tapi umpama paderi itu tidak lantas mati, kalau bisa membuatnja melotjot dan kedjat2 djuga bolehlah. Kemudian bila perlu biarlah aku membunuh diri dengan membenturkan kepalaku kedinding, walaupun harus disesalkan kewadjibanku untuk melaksanakan tjita2 Ting-toako agar dikubur bersama Leng-siotjia tak terlaksana, tapi keadaan tidak mengijinkan lagi, apa mau dikata? Demikian pikir Tik Hun.

Dengan kuali besi itu Tik Hun menadahi air hudjan diemperan, sampai air sudah luber keluar melalui lubang gempil kuali itu, barulah Tik Hun membawanja kembali kedalam ruangan.

“Ehm, bagus!” tiba2 Po-siang memudji. “Botak A Sam, sebenarnja aku merasa sajang untuk makan dirimu. Tjara kerdjamu ini tjepat dan tjekatan, sungguh seorang pekerdja jang baik.”

“Terima kasih atas pudjian Toasuhu,” sahut Tik Hun dengan senjum pahit.

Lalu ia kumpulkan beberapa potong bata dan ditumpuk sebagai tungku. Ia tumpangkan kualinja keatas tungku darurat itu. Didalam kelenteng bobrok itu banjak terdapat medja kursi rusak, karena buru2 ingin menjiram Po-siang dengan air mendidih, maka kerdja Tik Hun mendjadi sangat tjepat, ia djemput potongan kaki kursi dan medja dan didjedjalkan kedalam tungku.

Tapi ia lantas kebentur kesulitan, jaitu tiada api. Didalam kelenteng bobrok seperti itu sudah tentu susah diperoleh bibit api, sedangkan alat ketikan api jang dibawa Po-siang sudah basah-kujup oleh air hudjan. Waktu buru2 melarikan diri dari pendjara, Tik Hun sendiri djuga tidak membawa apa2.

Karena tak berdaja, terpaksa Tik Hun angkat bahu sambil pentang kedua tangan kearah Po-siang sebagai tanda tanja?

“Kenapa? Tidak ada api? Eh, ja aku ingat dibadannja ada,” seru Po-siang sambil menundjuk majat Ting Tian.

Dan baru sekarang Tik Hun dapat melihat djelas paha Ting Tian ternjata hantjur bekas kena batjokan Po-siang, seketika ia naik darah, ia menoleh dan pandang paderi itu dengan melotot penuh kebentjian, kalau bisa, sungguh ia ingin menubruk madju terus gigit paderi djahat itu se-puas2nja.

Tapi mirip kutjing mempermainkan tikus. Po-siang djusteru ingin menggoda dulu pemuda itu, habis itu baru akan memakannja. Maka terhadap kegusaran Tik Hun itu, sama sekali ia tidak ambil pusing, katanja dengan ketawa2: “Hajolah, kenapa engkau tidak tjoba mentjarinja? Kalau tiada api, terpaksa Toahwesio boleh djuga makan daging mentah.”

Tik Hun tjoba berdjongkok dan menggagapi badjunja Ting Tian, benar djuga diperolehnja dua potong benda ketjil. Jang satu ternjata adalah besi ketikan dan jang lain batu api. Diam2 ia heran: “Waktu kami berada bersama didalam pendjara, Ting-toako toh tidak punja benda2 seperti in, lantas dari manakah diperolehnja?”

Waktu ia membalik besi ketikan itu tiba2 terlihat sebaris huruf ukiran, jalah nama dari pembuat besi ketikan api itu: Lo-hap-hin-ki Hengtju.

Tik Hun ingat nama itu adalah merek bengkel besi jang pernah dimasukinja bersama Ting Tian waktu malam2 mereka melarikan diri dari pendjara, disana mereka telah minta sipandai besi memotong belenggu. Kiranja sesudah keluar pendjara, Ting Tian tahu setiap saat sangat membutuhkan bibit api, maka sekalian ia telah sambar besi ketikan dan batu api didalam bengkel itu.

Begitulah Tik Hun memandangi besi ketikan itu sambil mengelamun: “Pikiran Ting-toaku benar2 sangat tjermat. Alat ketikan api ini sebenarnja dimaksudkannja untuk dipakai waktu mengembara Kangouw bersama aku, siapa duga belum pernah sekali terpakai, Ting-toako sendiri sudah keburu meninggal.” ~ Dan karena terkenang kepada Ting Tian, tak tertahan lagi air mata Tik Hun meleleh keluar.

Po-siang sama sekali tidak mentjurigai pemuda itu adalah saudara angkat Ting Tian, ia mengira pemuda itu mendjadi sedih karena insaf sebentar lagi djiwanja akan melajang, makanja menangis.

“Hahahaa!” Po-siang ter-bahak2. “Toahwesio ini berbadan emas, mungkin redjekimu teramat besar, makanja dapat memakai usus Toahwesio sebagai peti mati dan mendjadikan perut Toahwesio sebagai tempat kuburmu. Sebenarnja kau harus bersjukur redjeki jang besar ini, kenapa malah menangis! Nah, lekasan menjalakan apinja!”

Tanpa bitjara Tik Hun men-tjari2 bahan penjulut lagi. Achirnja dapat diperolehnja segebung sisa kertas Tjiam-si jang sudah kuning tua. Segera ia mengetik api untuk menjulut kertas Tjiam-si itu, pelahan2 kaju dibawah kuali ikut terbakar djuga. Ketika kertas2 Tjiam-si itu terdjilat api, samar2 huruf2 Tjiam-si jang tadinja tertutup debu itu lantas kelihatan, Tik Hun melihat matjam2 ramalan jang tertulis diatas Tjiam-si itu. Akan tetapi Tik Hun lagi bingung sebentar tjara bagaimana harus menjiram Po-siang dengan air panas. Biarpun diatas Tjiam-si waktu itu timbul ramalan “nomor buntut” jang bakal keluar djuga takkan menarik baginja.

Lambat laun air dalam kuali mulai membuih, Tik Hun tahu tidak lama lagi air godok itu pasti akan mendidih. Ia mendjadi tegang, sebentar2 ia pandang air panas itu dan lain saat pandang2 perut Po-siang jang telandjang itu. Ia pikir mati-hidupnja tergantung sekedjap lagi, tanpa merasa kedua tangannja mendjadi gemetar.

Benar djuga, tidak lama kemudian, asap putih mulai mengepul, air kuali sudah bergolak dengan mendidih. Tanpa ajal lagi

Tik Hun terus berbangkit, begitu kedua tangannja memegang kuali, segera isi kuali akan digebjurkan keatas kepala Po-siang.

Tak terduga, baru sadja badannja bergerak, seketika lantas diketahui djuga oleh Po-siang, setjepat kilat paderi itu masih keburu memegangi tangan Tik Hun sambil membentak dengan bengis: “Apa jang hendak kau lakukan?”

Tik Hun tidak dapat berbohong, maka sekuatnja ia masih berusaha menjiramkan air mendidih itu kebadan Po-siang. Akan tetapi tangannja terasa seperti didjepit tanggam karena dipentjet oleh tangan Po-siang, hingga sedikitpun takbisa berkutik. Pabila Po-siang mau gebjurkan air panas itu keatas kepala Tik Hun, tjukup ia betot sekali sadja pasti akan djadi, tapi ia merasa sajang pada air masak itu, bila Tik Hun tersiram mati, tentu dia harus memasak air lagi, hal ini jang mendjadi keberatannja.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: