Pedang Hati Suci (Jilid ke-9)

Begitulah suara ketiga orang itu berkumandang datang dari tiga djurusan pula, suara mereka ada jang keras melantang, ada jang njaring melengking, tapi semuanja bertenaga dalam jang sangat kuat.

Hiat-to Lotjo terkesiap demi mendengar suara teriakan ketiga orang itu, pikirnja: “Darimanakah muntjulnja tiga tokoh kosen seperti itu? Dari suaranja sadja mungkin ilmu silat mereka masing2 tidak berada dibawahku. Pabila mereka bertiga mengerubut madju sekaligus, pasti aku akan susah melawan mereka.”

Begitulah sambil memikirkan tjara menghadapi musuh, gerak serangannja sedikitpun tidak mendjadi kendor.

Se-konjong2 dari arah selatan lagi2 ada suara seruan seorang “Lok-hoa-liu-tjuiiiiii!”

Kalau tadi suara ketiga orang itu menarik pandjang seruan mereka mulai dari Lok-hoa-liu, maka orang keempat ini menarik pandjang huruf keempat “tjui” hingga njaring dan berkumandang sampai djauh.

Dalam pada itu Tjui Sing mendjadi girang, segera iapun berteriak2: “Ajah, ajah! Lekas tolong, ajah!”

Segera salah seorang pendekar itupun ada jang berseru girang: “Itulah dia Kanglam-su-lo telah datang semua, Lok-hoa-liu-tjui! Haha…………..” ~ Tapi baru dia mulai tertawa, se-konjong2 darah muntjrat dari dadanja, golok Hiat-to Lotjo telah mampir didadanja hingga seketika ia terbinasa.

Mendengar bahwa keempat orang jang datang lagi itu ternjata adalah ajahnja Tjui Sing, tiba2 Hiat-to Lotjo ingat sesuatu: “Aku pernah mendengar tjerita muridku si Sian-yong, katanja didalam Bulim didaerah Tionggoan, tokoh jang paling lihay selain Ting Tian masih terdapat pula apa jang disebut Pak-su-koay dan Lam-su-lo (empat tokoh aneh diutara dan empat kakek sakti diselatan). Pak-su-koay itu katanja berdjuluk ‘Hong-hou-in-liong'(angin, harimau, mega, naga), dan Lam-su-lo katanja berdjuluk ‘Lok-hoa-liu-tjui (gugur bunga air mengalir alias kotjar-katjir). Waktu mendengar tjerita itu, aku tjuma mengedjeknja dengan mendengus, kupikir kalau mereka berdjuluk ‘Lok-hoa-liu-tjui’, masakah mereka memiliki kepandaian jang berarti? Tapi kini dari suara seruan mereka jang sahut-menjahut ini, njata mereka memang bukan tokoh sembarangan.”

Selagi paderi tua itu memikir, tiba2 terdengar pula suara keempat orang itu serentak bergema diangkasa, teriakan “Lok-hoa-liu-tjui” itu berkumandang datang dari empat djurusan jang begitu keras hingga lembah pegunungan itu se-akan2 terguntjang.

Dari suara itu Hiat-to Lotjo tahu djarak keempat orang masih tjukup djauh, paling tidak masih 5-6 li djauhnja. Tapi bila dia mesti membunuh habis sisa kesembilan lawan jang masih terus mengerubut dengan nekat itu, dan sementara itu keempat tokoh mengepung tiba, tentu susahlah untuk meloloskan diri.

Tiba2 ia bersuit, lalu berteriak keras2: “Lok-hoa-liu-tjui, biar kulabrak kalian hingga kotjar-katjir!”

Berbareng itu djarinja terus menjelentik, “tjreng”, pedang ditangan Tjui Sing sampai mentjelat keudara oleh selentikan itu.

“Tik Hun, siapkan kuda, kita tinggal pergi sadja!” seru Hiat-to Lotjo tiba2.

Tik Hun tidak mendjawab karena merasa serba sulit, djikalau lari bersama paderi tua itu, mungkin dirinja akan semakin mendalam kedjeblos kedalam lumpur hingga tidak dapat menarik diri lagi. Tapi kalau tinggal disitu, bukan mustahil segera akan ditjintjang mendjadi baso oleh orang banjak, tidak mungkin dia diberi kesempatan untuk bitjara dan membela diri.

Dalam pada itu terdengar Hiat-to Lotjo telah mendesak pula: “Tjutju murid, lekas tuntun kuda kesini!”

Dan segera Tik Hun dapat mengambil keputusan: “Paling penting sekarang jalah menjelamatkan djiwa dahulu, apakah orang lain akan salah paham atau tidak, biarlah itu urusan belakang?”

Maka waktu untuk ketiga kalinja Hiat-to Lotjo mendesak pula, segera ia menjahut sekali, lalu mendjemput sebatang tumbak sekedar dipakai tongkat, dengan berintjang-intjuk ia terus ketempat kuda.

“Tjelaka, paderi djahat itu akan lari, biar aku mentjegat dia!” seru seorang gendut jang bersendjata toja. Segera iapun tarik tojanja serta memburu kearah Tik Hun.

“Hehe, kau hendak mentjegat dia, biar aku mentjegat kau!” demikian Hiat-to Lotjo mendjengek, berbareng goloknja berkelebat, sebelum sigendut sempat berkelit, tahu2 orangnja berikut tojanja sudah tertabas kutung mendjadi empat potong.

Melihat kawannja mati setjara mengenaskan, semua orang sama mendjerit ngeri. Memang tudjuan Hiat-to Lotjo jalah untuk menggertak mundur pengerojok itu, maka pada saat lawan2 itu tertegun sedjenak, tanpa ajal lagi ia mengulur tangan hingga pinggang Tjui Sing kena dirangkulnja, segera ia berlari kearah Tik Hun jang sementara itu sudah menjiapkan kuda tunggangannja.

“Lepaskan aku, lepaskan aku, Hwesio djahanam!” demikian Tjui Sing ber-teriak2, berbareng kepalannja terus menghantam serabutan kepunggung Hiat-to Lotjo.

Biarpun ilmu pedang sigadis tidak lemah, tapi kepalan jang dihudjankan kepunggung musuh itu ternjata tiada bertenaga, apa lagi kulit-daging Hiat-to Lotjo tjukup kasap dan tebal, beberapa kali gebukan itu hampir2 tidak terasa olehnja, bahkan paderi tua itu melangkah dengan sangat tjepat, hanja beberapa kali lompatan sadja ia sudah berada disamping Tik Hun.

Saat itu Ong Siau-hong masih terus putar pedangnja dengan mati2an, ia masih terus melontarkan djurus2 “Khong-djiok-khay-peng” jang mirip burung merak beraksi itu. Ketika sang Piaumoay kembali ditjulik musuh lagi, dengan kalap ia lantas memburu sambil tetap memutar pedangnja tanpa berhenti, tjuma permainannja sudah katjau tak keruan.

Sesudah mendekat, lebih dulu Hiat-to Lotjo menaikan Tik Hun keatas kuda kuning, lalu menaruh Tjui Sing didepan pemuda itu sambil memberi pesan dengan pelahan: “Orang2 jang berteriak seperti setan meringkik itu adalah musuh2 tangguh jang tidak sembarangan. Anak dara ini adalah barang sandera (djaminan), jangan sampai dia melarikan diri.”

Sembari berkata ia terus mentjemplak keatas kuda putih dan dikeprak kearah timur dengan diikut oleh Tik Hun dengan kuda kuning.

Dalam pada itu suara teriakan “Lok-hoa-liu-tjui” itu semakin mendekat, terkadang suara itu tuma seorang sadja, tempo2 dua orang, tapi sering djuga tiga-empat orang berseru berbareng.

“Piauko, Piauko! Ajah, ajah! Lekas tolong aku!” demikian Tjui Sing djuga ber-teriak2 ketakutan. Tapi djelas dilihatnja sang Piauko makin djauh ketinggalan dibelakang kuda.

Kedua ekor kuda kuning dan putih milik Leng-kiam-siang-hiap itu memangnja adalah kuda2 pilihan jang susah didapat. Biasanja mereka sangat bangga atas binatang tunggangan mereka itu. Siapa duga sekarang sendjata makan tuan, kuda2 itu berbalik diperalat oleh musuh untuk melarikan Tjui Sing. Sudah tentu binatang2 itu tidak kenal kawan atau lawan, mereka hanja menurut perintah sipenunggang sadja, semakin dikeprak, semakin kentjang larinja, dan Ong Siau-hong djuga ketinggalan semakin djauh.

Walaupun takdapat menjusul musuh, namun Siau-hong tidak putus asa, ia masih memburu terus sambil ber-teriak2 dari djauh: “Piaumoay! Piaumoay!”

Begitulah jang satu berteriak “Piauko” dan jang lain berseru “Piaumoay”, suara mereka sedih memilukan, bagi pendengaran Tik Hun, rasanja mendjadi tidak tega, beberapa kali ia hendak mendorong Tjui Sing kebawah kuda biar berkumpul kembali dengan kekasihnja. Tapi selalu teringat olehnja pesan Hiat-to Lotjo jang mengatakan musuh jang datang itu sangat tangguh, anak dara ini adalah barang sandera dan harus didjaganja djangan sampai lari. Maka ia mendjadi ragu2, bila Tjui Sing dilepaskan tentu Hiat-to Lotjo akan gusar, paderi jang djahat luar biasa itu, bukan mustahil akan membunuh dirinja bagai menjembelih seekor ajam sadja. Apalagi bila sampai disusul oleh ajah Tjui Sing berempat djago tangguh itu, besar kemungkinan dirinja djuga akan terbunuh setjara sia2 tanpa berdosa.

Seketika Tik Hun mendjadi bingung apa jang harus dilakukannja, ia dengar suara teriakan Tjui Sing sudah mulai serak. Mendadak hati Tik Hun terharu: “Ai, betapa tjinta-kasih antara mereka itu, tapi dengan paksa telah dipisahkan orang. Aku sendiri bukankah djuga demikian dengan Djik-sumoay? Mestinja kami dapat hidup aman tenteram berduaan, tapi ada pihak ketiga jang telah menghantjurkan tjita2 kami. Namun ….namun, bilakah Djik-sumoay pernah memperhatikan diriku seperti nona Tjui ini terhadap Piaukonja itu?”

Berpikir sampai disini Tik Hun mendjadi berduka, katanja didalam hati: “Bolehlah kau kembali sadja!” ~ dan sekali mendorong Tjui Sing didorongnja kebawah kuda.

Tak terduga meski Hiat-to Lotjo berdjalan didepan, namun setiap saat ia memperhatikan gerak-gerik kuda dibelakangnja. Ketika suara teriakan Tjui Sing mendadak berhenti, menjusul terdengar suara kaget sigadis dan suara djatuhnja ketanah, ia mengira Tik Hun jang patah kaki itu tidak kuat menahan terperosotnja Tjui Sing ketanah, maka tjepat ia memutar balik kudanja.

Dilain pihak, begitu tubuh Tjui Sing djatuh ketanah, tjepat ia sudah melompat bangun pula, segera iapun angkat langkah seribu berlari kearah Ong Siau-hong.

Djarak kedua muda-mudi tatkala itu kira2 ada seratusan meter, jang satu berlari dari sini, jang lain memapak dari sana, jang satu berteriak: “Piauko!” dan jang lain berseru; “Piaumoay!” ~ Djarak mereka semakin dekat, rasa girang mereka tak terkatakan dan rasa kuatir merekapun susah dilukiskan.

“Hehe, biarlah mereka gembira dulu!” demikian djengek Hiat-to Lotjo. Ia sengadja menahan kudanja, ia membiarkan kedua muda-mudi semakin mendekat satu-sama-lain, waktu djarak mereka tinggal 20-30 meter djauhnja, mendadak ia kempit kudanja kentjang2 sambil bersuit, setjepat angin ia membedal kuda putih itu kebelakang Tjui Sing.

Keruan Tik Hun ikut kuatir bagi sigadis, dalam hati ia ber-teriak2: “Lekas lari, tjepat sedikit, lekas!”

Begitu pula beberapa pendekar jagn tidak terbunuh tadi ketika melihat Hiat-to Lotjo menggeprak kudanja kembali sambil mulut menggigit golok berdarahnja, merekapun ber-teriak2 kuatir: “Tjepat lari, lekas!”

Tjui Sing mendengar suara derapan kuda dari belakang semakin mendekat, tapi lari mereka djuga semakin tjepat dan djarak kedua muda-mudi itupun semakin dekat. Saking napsu dan gugupnja ingin lekas2 mentjapai sang kekasih, sampai dadanja se-akan2 meledak dan dengkulnja terasa lemas, setiap saat pasti dia akan terbanting roboh. Tapi sedapat mungkin ia masih bertahan sekuatnja

Lambat laun ia merasa hawa napas kuda putih seperti sudah menjembur sampai dipunggungnja, terdengar Hiat-to Lotjo sedang berkata dengan tertawa iblis: “Hehe, masakah kau dapat lolos?”

Dengan mati2an Tjui Sing angkat langkahnja selebar mungkin sambil mengulur kedua tangannja kedepan, namun sang Piauko masih dua-tiga meter djauhnja, sedangkan tangan kiri Hiat-to Lotjo sudah terasa merangsang keatas kepalanja.

Sekali Tjui Sing mendjerit dan selagi hendak menangis, tiba2 terdengarlah suara seruan seorang jang penuh welas-asih serta sangat dikenalnja: “Djangan takut, Sing-dji, ajah datang untuk menolong kau!”

Mendengar suara itu tak-lain-tak-bukan adalah sang ajah ~ Tjui Tay ~ jang telah datang, dalam girangnja semangat Tjui Sing tiba2 terbangkit, entah darimana datangnja kekuatan, se-konjong2 kakinja meledjit sekuatnja kedepan hingga lebih satu meter djauhnja, meski saat itu lengan atas sigadis sudah terdjamah oleh tangan Hiat-to Lotjo, tapi achirnja gadis itu dapat terlepas djuga.

Ketika Ong Siau-hong sekuatnja melompat madju djuga, tangan kiri kedua muda-mudi itu sudah dapat saling memegang. Tjepat tangan kanan Siau-hong memutar pedangnja pula, pikirnja: “Alhamdulillah, sjukur Suhu dapat tiba tepat pada waktunja untuk menolong, maka sekarang tidak perlu takut kepada iblis paderi djahat itu lagi.”

Sebaliknja Hiat-to Lotjo ter-kekeh2 edjek melihat pemuda itu berani main kaju padanja lagi, tiba2 goloknja menjabat kedepan.

Melihat berkelebatnja sinar merah, tjepat Ong Siau-hong ajun pedangnja menangkis. Diluar dugaan, tiba2 golok bersinar merah darah itu dapat melengkung kebawah hingga mirip tali jang lemas udjung golok terus memotong kedjari tangannja. Bila Ong Siau-hong tidak lepaskan pedangnja, pasti tangannja jang akan terkutung.

Didalam seribu kerepotannja itu, perubahan gerakan pemuda itupun sangat tjepat, ia kerahkan tenaga pada tangannja, pedang terus ditimpukan kearah musuh.

Tapi sekali djari kiri Hiat-to Lotjo mendjentik, kontan pedang itu terpental dan menjambar kearah seorang kakek jang sedang berlari setjepat terbang dari arah barat sana. Menjusul golok ditangan kanan paderi itu terus mengulur kedepan pula mengantjam muka Ong Siau-hong.

Untuk mendojongkan tubuhnja kebelakang guna menghindar serangan itu, terpaksa Siau-hong harus melepaskan tangan jang memegang tangan Tjui Sing itu. Dan kesempatan itu tidak di-sia2kan Hiat-to Lotjo, sekali tangannja merangkul, kembali Tjui Sing tertawan olehnja terus ditaruh diatas pelana kudanja. Bahkan paderi itu tidak memutar kudanja dengan segera, tapi malah keprak kuda mentjongklang kedepan, menerdjang kearah rombongan djago2 silat Tionggoan tadi.

Melihat musuh menerdjang dengan kudanja, pendekar2 Tiongoan jang menghadang ditengah djalan itu terpaksa melompat minggir sambil ber-teriak2. Sedangkan Hiat-to Lotjo lantas memutar kudanja, mengitar kembali kearah Tik Hun sambil mulutnja mengeluarkan suara gerangan aneh.

Namun sebelum dia mendekat dengan Tik Hun, se-konjong2 sesosok bajangan kelabu berkelebat, sinar pedang jang gemerdep menjilaukan mata karena tertimpa tjahaja sinar bulan, tahu2 menjambar kearah dadanja. Tanpa pikir lagi Hiat-to Lotjo ajun goloknja menjampok, “trang”, golok membentur pedang hingga tjekalannja terasa kesemutan. “Hebat benar tenaga dalamnja!” diam2 paderi tua itu membatin.

Dan pada saat itulah kembali dari sebelah kanan sebatang pedang djuga menusuk kearahnja. Gaja serangan pedang ini datangnja sangat aneh, udjung pedang tampak gemerdep hingga berwudjut beberapa lingkaran2 besar dan ketjil, hingga seketika tidak djelas kemana tusukan pedang itu hendak diteruskan.

Kembali Hiat-to Lotjo terkedjut: “Ah, kiranja tokoh ahli Thay-kek-kiam djuga datang!”

Segera ia himpun tenaga ketangan kanan, iapun ajun goloknja hingga berupa beberapa lingkaran, begitu lingkaran2 golok dan pedang beradu, terdengarlah “trang-trang-trang” beberapa kali disertai muntjratnja lelatu api.

“Ilmu golok bagus!” terdengar pihak lawan membentak. Berbareng orangnja terus melompat kesamping. Waktu dipandang, kiranja adalah seorang Todjin (imam agama Tao) jang berdjubah kuning djingga.

“Dan ilmu pedangmu djuga bagus!” demikian Hiat-to Lotjo balas memudji.

Tapi orang jang disisi kiri tadi lantas membentak djuga: “Lepaskan puteriku!” ~ Segera pedangnja menusuk dan tangannja memukul sekaligus.

Disebebelah sana, dari djauh Tik Hun dapat menjaksikan Tjui Sing kembali telah ditawan Hiat-to Lotjo pula, tapi akibatnja kini telah dikerubut dua lawan tangguh. Sikakek sebelah kiri itu berdjenggot putih sebagai perak, wadjahnja putih bersih, ber-ulang2 terdengar dia berteriak: “Lepaskan puteriku!” ~ Terang ialah ajahnja Tjui Sing. ~ Tjui Tay.

Tertampak setiap kali Hiat-to Lotjo menangkis pedang Tjui Tay selalu paderi tua itu tergeliat sedikit, teranglah tenaga dalam djago she Tjui itu masih lebih kuat daripada lawannja.

Dalam pada itu dari lereng bukit sebelah barat sana tertampak mendatangi lagi dua orang lain dengan setjepat angin, terang merekapun djago jang lihay.

Pikir Tik Hun: “Bila kedua orang itupun tiba dan empat orang mengerojok madju semua, tentu Hiat-to Lotjo takkan sanggup melawan mereka, kalau tidak terbinasa djuga akan terluka parah. Maka lebih baik sekarang djuga aku melarikan diri dahulu!” ~ Tetapi segera terpikir lagi olehnja: “Kalau bukan paderi itu jang menolong djiwaku, mungkin sedjak tadi2 aku sudah dibunuh oleh Ong Siau-hong. Djika sekarang aku lupa budi dan mementingkan diri sendiri, terang ini bukan perbuatan seorang laki2 sedjati.”

Begitulah ia mendjadi ragu2 apa mesti menjelamatkan diri sendiri atau tidak. Se-konjong2 terdengar teriakan Hiat-to Lotjo: “Ini, kukembalikan puterimu.” ~ tahu2 tubuh Tjui Sing dilemparkan hingga melampaui atas kepala Tjui Tay terus tertudju kearah Tik Hun.

Kedjadian ini benar2 diluar dugaan siapapun djuga, sudah tentu Tjui Sing jang tubuhnja me-lajang2 diudara itu men-djerit2 ketakutan, bahkan orang lain djuga berteriak kaget semua.

Tik Hun mendjadi bingung djuga ketika melihat tubuh sigadis itu melajang kearahnja. Kalau tak ditangkap olehnja, tentu gadis itu akan terbanting, kalau ditangkap, datangnja tubuh sigadis teramat kentjang, boleh djadi ke-dua2nja akan terguling semua ketanah. Namun Tik Hun tidak sempat banjak memikir lagi, tubuh Tjui Sing sudah melajang tiba, terpaksa ia pentang tangannja terus merangkul tubuh gadis itu.

Sebenarnja lemparan Hiat-to Lotjo itu tjukup keras, untung Tik Hun berada diatas kuda, tenaga timpahan itu sebagian besar dapat dipikul oleh kuda. Pula waktu Hiat-to Lotjo melemparkan Tjui Sing, berbareng ia sudah menutuk djalan darah gadis itu hingga tidak dapat berkutik apa2, maka Tik Hun dapat menangkap tubuhnja dengan bebas.

“Hwesio djahat, lepaskan aku!” demikian Tjui Sing hanja dapat ber-teriak2.

Di sebelah sana mendadak Hiat-to Lotjo membatjok dua kali kearah Tjui Tay, menjusul dengan tjepat luar biasa ia membatjok djuga dua kali kepada imam tua tadi, serangan2nja itu lihay sekali hingga mau-tak-mau lawan2nja harus menghindar dan berkelit. Berbareng Hiat-to Lotjo berseru pula: “Tik Hun, anak baik, lekas lari, lekas lari dulu, tak perlu menunggu aku!”

Tik Hun masih bingung, tapi segera dilihatnja Ong Siau-hong dan beberapa kawannja telah memburu kearahnja sambil ber-teriak2: “Bunuh dulu bangsat tjabul tjilik itu!” ~ Dilain pihak Hiat-to Lotjo masih terus mendesak agar dia lekas melarikan diri. Achirnja Tik Hun pikir memang harus menjelamatkan diri lebih penting. Maka segera ia keprak kudanja menerdjang kesana.

Tadinja Tik Hun dan Hiat-to Lotjo sebenarnja berlari kearah timur, tapi dalam keadaan gugup sekarang ia berbalik lari kearah barat.

Dalam pada itu Hiat-to Lotjo memutar golok merahnja itu semakin tjepat, seluruh tubuhnja se-akan2 terbungkus oleh sinar merah, dengan ketawa2 ia masih berkata: “Lebih baik aku akan mengawani puterimu jang tjantik molek itu daripada menemani tua bangka seperti kau ini!”

Habis berkata, ia pura2 membatjok sekali, selagi lawan berkelit, terus sadja ia kempit kudanja hingga binatang itu mendadak melompat kedepan.

Karena kuatir atas diri puterinja jang telah dilarikan Tik Hun itu, Tjui Tay tidak ingin terlibat lebih lama dengan Hiat-to Lotjo, segera ia mengeluarkan Ginkang “Ting-ping-toh-tjui” (menumpang kapu2 meluntjur diatas air) jang hebat, segera ia mengedjar kearah Tik Hun setjepat orang meluntjur diatas air.

Tapi kuda tunggangan Tik Hun djusteru adalah kuda pilihan djenis Tay-wan (sedjenis kuda patju Mongol) jang dibeli Tjui Tay sendiri dengan harga 500 tahil perak, betapa tjepat larinja ketjuali kuda putih tunggangan Hiat-to Lotjo itu, boleh dikata djarang ada tandingannja. Maka sekarang meski diatas kuda kuning itu dibebani dua orang, jaitu Tik Hun dan Tjui Sing, tapi larinja masih sangat tjepat dan Tjui Tay tetap takdapat menjusulnja.

“Berhenti, berhenti!” demikian Tjui Tay ber-teriak2. “Bangsat gundul, djika kau tidak berhenti, sebentar kutjintjang kau hingga mendjadi bergedel!”

Sudah tentu tidak nanti Tik Hun mau berhenti, sebaliknja ia mengeprak kudanja semakin kentjang.

“Ajah, ajah!” Tjui Sing ber-teriak2 djuga dengan ketakutan.

Sungguh hati Tjui Tay seperti di-sajat2, sahutnja: “Djangan kuatir, nak!”

Dan hanja sekedjap sadja kedjar mengedjar itu sudah dua ~ tiga li djauhnja. Meski Ginkang Tjui Tay sangat hebat, tapi lama-kelamaan iapun mulai lemas, maklum, usianja sudah landjut napasnja djadi kempas-kempis dan megap2, djaraknja dengan kuda kuning itupun semakin mendjauh. Bahkan mendadak dari belakang terdengar ada sambaran sendjata tadjam. Tanpa pikir ia putar pedangnja menangkis kebelakang, “trang”, batjokan Hiat-to Lotjo jang sudah dapat menjusulnja itu kena tertangkis, segera tertampak angin berkesiur lewat diampingnja, paderi tua itu sudah keprak kuda putihnja sambil ter-bahak2 dan menjusul kearah Tik Hun dengan tjepat sekali…………..

*** *****

Hiat-to Lotjo dan Tik Hun masih terus melarikan kuda mereka dengan tjepat hingga musuh sudah ketinggalan sangat djauh dibelakang, setelah jakin musuh pasti takkan mampu menjusul lagi, kuatir kalau kuda2 itu terlalu tjapek, mereka lantas mengendorkan kendali dan membiarkan binatang2 itu berdjalan pelahan2.

Sepandjang djalan tiada henti2nja Hiat-to Lotjo memudji kebaikan hati Tik Hun, katanja pemuda itu mempunjai Liangsim (hati nurani badjik), biarpun tahu gelagat sangat berbahaja toh tidak mau melarikan diri meninggalkan sang “Sutjo” (kakek guru).

Tik Hun hanja tersenjum getir sadja oleh “pudjian” setinggi langit itu. waktu ia melirik Tjui Sing, ia lihat paras muka sigadis mengundjuk rasa ketakutan tertjampur hina padanja, ia tahu gadis itu pasti sangat bentji, bahkan geregetan padanja. Ia pikir urusan toh sudah ketelandjur begini, untuk memberi pendjelasan djuga gadis itu belum tentu mau pertjaja, ia pikir masa-bodohlah, bagaimana engkau hendak memaki dan mentjatji aku sebagai bangsat gundul atau paderi tjabul dan apa lagi, silakan makilah sesukamu.

“Hei anak dara,” tiba2 Hiat-to Lotjo bersuara, “ilmu silat ajahmu boleh djuga, ja? Tapi, hehe, toh masih kalah setingkat daripada Tjosuya-mu ini, biarpun dia peras antero tenaganja djuga tidak mampu menahan diriku.”

Tjui Sing tidak mendjawab, tapi hanja melototnja sekali.

“Dan siimam tua jang bersendjata pedang itu, siapakah dia? Termasuk jang mana diantara ‘Lok-hoa-liu-tjui’ itu?”demikian Hiat-to Lotjo menanja pula.

Namun Tjui Sing sudah ambil keputusan takkan mendjawab, biar pun orang menanja terus, tetap ia tidak gubris padanja.

Achirnja Hiat-to Lotjo mendjadi djengkel, tiba2 ia tanja Tik Hun dengan tertawa: “Eh, tjutju muridku, tahukah engkau tempat manakah jang paling berharga bagi kaum wanita?’

Tik Hun terperandjat oleh pertanjaan itu. “Tjelaka!” pikirnja. “Apakah paderi terkutuk ini akan menodai kesutjian nona Tjui? Tjara bagaimana baiknja agar aku dapat menolong gadis itu?”

Tapi terpaksa iapun mendjawab: “Entahlah, aku tidak tahu!”

“Ah, masih hidjau, kau,” udjar Hiat-to Lotjo dengan tertawa. “Ini, dengarlah baik2 biar kau tambah pengalaman.Tempat jang paling berharga bagi kaum wanita adalah terletak pada …….. paras mukanja! Nah, sekarang kau sudah tahu bukan? Makanja bila dia masih tidak mendjawab pertanjaanku, haha, asal golokku ini kusajat begini dan kuiris begitu, seketika mukanja akan berwudjut peta djalan simpang, nah, tjantik tidak kalau begitu, ha?” ~ Habis berkata, sret, segera iapun lolos goloknja jang terselip dipinggang itu.

Namun Tjui Sing adalah satu gadis jang berwatak sangat keras, setelah djatuh ditangan kedua “paderi tjabul” itu, memangnja ia sudah bertekad pati, lebih baik gugur sebagai ratna daripada hidup menanggung hina. Meski suka kepada paras tjantik adalah mendjadi watak asli kaum wanita, bila terpikir muka sendiri jang tjantik molek itu bakal di-sajat2 sedemikian rupa oleh paderi djahanam itu, betapapun ia merasa merinding djuga. Tapi bila terpikir pula sesudah paras muka sendiri terusak, boleh djadi kesutjian badannja malah dapat dipertahankan, hal ini masih mending djuga daripada mati konjol.

Sementara itu Hiat-to Lotjo telah abat-abitkan udjung goloknja dimuka hidungnja sambil mengantjam: “Nah, djawablah! Kutanja siapakah imam tua itu? Djika kau tidak mendjawab lagi, sajatan pertama segera kulakukan. Katakan, lekas!”

“Fui!” semprot Tjui Sing. “Katakan apa? Katakan kau paderi keparat! Lekas kau bunuh sadja nonamu ini!”

“Sret”, mendadak tangan Hiat-to Lotjo bekerdja, dimana sinar merah berkelebat, muka Tjui Sing telah disajatnja sekali.

Tik Hun mendjerit tertahan sekali dan tidak tega untuk memandang. Sebaliknja Tjui Sing sudah lantas pingsan.

Hiat-to Lotjo ter-bahak2 sambil melarikan kudanja lebih tjepat.

Tanpa tertahan Tik Hun memandang djuga kepada Tjui Sing , tapi ia mendjadi melongo sebab muka sinona ternjata tiada apa2, bahkan luka sedikitpun tidak ada. Keruan ia sangat girang.

Kiranja ilmu permainan golok Hiat-to Lotjo itu benar2 sudah mentjapai tingkatan jang paling sempurna dan dapat menurut setiap keinginannja tanpa selisih satu milipun. Tabasannja tadi memang telah menjambar lewat dipipi Tjui Sing, tapi hanja kena sajat setjomot rambut dipelipis gadis itu, sedangkan pipinja sedikitpun tidak terluka.

Saat itu pelahan2 Tjui Sing djuga mulai siuman, tanpa tertahan lagi air matanja bertjutjuran. Ketika dilihatnja Tik Hun lagi memandangnja dengan tersenjum-simpul girang, ia mendjadi gusar dan mendongkol, damperatnja: “Kau …….. kau ……….paderi djahat.” ~ Sebenarnja ia bermaksud mentjatji maki pemuda itu dengan kata2 jang paling pedas dan kedji, tapi dasar dia seorang gadis sopan dan lembut, selamanja tidak pernah mengutjapkan kata2 jang kasar dan kotor, maka seketika itu iapun tidak tahu apa jang harus dimakinja selain kata2 “paderi djahat” itu.

Melihat Tjui Sing sudah siuman, segera Hiat-to Lotjo menggeraki pula goloknja jang melengkung itu kemuka sigadis sambil membentak: “Nah, sekarang kau mau mendjawab tidak? Kalau tidak, segera kusajat pula mukamu!”

Tapi Tjui Sing tetap membandel, ia pikir toh sudah disajat sekali, biarpun di-sajat2 lagi mukaku djuga serupa sadja, maka sahutnja dengan mendjerit: “Lekas kau bunuh aku sadja, Hwesio djahanam!”

“Huh, masakah begitu enak?” edjek Hiat-to Lotjo sambil menabas pula, kembali goloknja menjerempet lewat dipipi sigadis.

Tapi sekali ini Tjui Sing tidak pingsan lagi, ia merasa pipinja njes dingin, namun tidak terasa sakit, pula tiada darah menetes. Baru sekarang ia tahu Hwesio tua itu tjuma main gertak sadja, hakikatnja pipi sendiri tidak terluka apa2, tanpa merasa ia menghela napas lega.

“Eh, tjutju murid jang baik, kedua kali batjokan Tjosuya barusan ini bagaimana menurut pendapatmu?” tiba2 Hiat-to Lotjo menanja Tik Hun.

“Wah, ilmu sakti, hebat sekali!” sahut Tik Hun, tanpa ragu2, memang pudjiannja ini bukan pura2 belaka, tapi timbul dari hati nuraninja, sebab ilmu golok Hwesio tua itu memang luar biasa.

“Kau ingin beladjar tidak?” tanja Hiat-to Lotjo pula.

Tik Hun tidak lantas mendjawab, tapi mendadak timbul suatu pikirannja: “Aku djusteru lagi bingung bagaimana untuk melindungi kesutjian nona Tjui, bila aku mengalihkan perhatiannja dengan meretjoki sipaderi tua agar mengadjarkan ilmu silatnja kepadaku, tentu pikiran menjelewengnja untuk sementara ini dapat ditjegah, lalu aku dapat mentjari akal untuk menolong sinona. Dan aku harus membuat sipaderi tua benar2 mentjurahkan antero perhatiannja untuk mengadjar padaku, untuk mana aku harus berusaha menjenangkan hatinja serta beladjar sungguh2.”

Dengan keputusan itu, maka ia menjahut: “Tjosuyaya, kepandaianmu memainkan Hiat-to itu, sungguh tjutju-murid kerandjingan benar2 untuk mempeladjarinja, maka sukalah Tjosuya mengadjarkan beberapa djurus padaku, agar kelak bila aku bertemu dengan lawan sebangsa kerotjo seperti Piauko nona ini, paling tidak aku dapat balas melabraknja.”

Habis berkata, pikir punja pikir Tik Hun mendjadi mengkirik sendiri dan merah djengah mukanja. Maklum, dasar watak Tik Hun sangat djudjur, selamanja tidak suka pura2, tapi kini demi untuk menolong sinona, mau-tak-mau ia mesti memanggil “Tjosuya” kepada musuh jang sebenarnja dibentji itu.

Bahkan Tjui Sing jang mendengar utjapan Tik Hun jang mendjilat pantat itupun merasa muak, ber-ulang2 ia meludah tanda bentji.

Sebaliknja Hiat-to Lotjo merasa sangat senang, katanja: “Ilmu permainan Hiat-to ini tidak mungkin dapat dipeladjari dalam waktu singkat. Tapi bolehlah aku mengadjarkan djurus ‘Pi-tjoa-sia-hu’ (mengupas kertas dan mengiris tahu). Tjara melatihnja begini: taruhlah setumpuk kertas kira2 seratus helai diatas medja, sekali golokmu menabas harus tepat mengupas kertas helai pertama, helai kedua sekali2 tidak boleh ikut terkupas. Habis itu memotong helai kedua, ketiga dan seterusnja, sekali tabas satu helai, hingga habis seratus helai.”

“Huh membual seperti tukang obat!” edjek Tjui Sing. Dasar sifat anak muda, ia tidak pertjaja ilmu golok orang bisa sedemikian lihaynja, makanja ia mengedjek.

“O, djadi kau tidak pertjaja, baiklah sekarang djuga aku mentjobanja dihadapanmu,” udjar Hiat-to Lotjo dengan tertawa. Dan mendadak ia bubut seutas rambut sigadis.

Keruan Tjui Sing kaget, “Hai, mau apa kau?” teriaknja kuatir.

Namun Hiat-to Lotjo tidak mendjawab, ia taruh utas rambut itu diatas batang hidung Tjui Sing, lalu melarikan kudanja kedepan sana.

Waktu itu tubuh Tjui Sing meringkuk dan tertaruh diatas kuda, didepannja Tik Hun, ketika merasa udjung hidungnja ditaruhi seutas rambut, dengan sendirinja merasa ter-kilik2 geli, ia tidak tahu sipaderi tua itu akan main gila apa, sedianja terus hendak meniup rambut diatas hidung itu agar djatuh.

Tapi mendadak terdengar Hiat-to Lotjo berseru; “Eh, djangan bergerak, lihatlah jang djelas!” ~ Lalu ia memutar kudanja berlari kembali, dengan tjepat sekali kedua kuda lantas saling bersimpangan.

Seketika Tjui Sing merasa pandangannja silau oleh berkelebatnja sinar merah, udjung hidungnja terasa silir2 dan rambut diatas hidung itu tahu2 sudah lenjap. Menjusul lantas terdengar Tik Hun ber-teriak2: “Bagus! Bagus!”

Ketika Hiat-to Lotjo menjodorkan goloknja kedepan Tjui Sing, maka tertampaklah diatas batang golok itu terdapat seutas rambut pandjang. Hiat-to Lotjo dan Tik Hun berkepala gundul semua, dengan sendirinja rambut itu adalah milik Tjui Sing jang takdapat dipalsukan. Keruan sigadis tidak kepalang kedjut dan kagumnja, pikirnja: “Hwesio tua ini benar2 sangat lihay. Tabasannja barusan ini kalau satu mili lebih tinggi, tentu rambut itu takkan dapat terkupas oleh goloknja, sebaliknja kalau rendah sedikit, pasti hidungku sekarang sudah gerumpung, paling tidak djuga mendjadi pesek. Apalagi dia menabas sambil menaik kuda, namun toh begitu tepat dan djitu, sungguh kepandaian jang hebat.”

Karena sengadja hendak merebut hati Hiat-to Lotjo, maka tidak habis2 Tik Hun mengumpak dan memberi pudjian2 setinggi langit atas ilmu golok sang “kakek guru” itu.

Kini Tjui Sing sendiri sudah menjaksikan betapa sakti ilmu goloknja orang, maka iapun anggap pudjian2 Tik Hun itu memang tidak terlalu berlebihan. Tjuma ia merasa pemuda itu benar2 terlalu rendah djiwanja, masakah sedemikian pendjilat pantat untuk merebut hati sang kakek guru.

Begitulah kemudian Hiat-to Lotjo melandjutkan perdjalanannja dengan mendjadjarkan kudanja dengan Tik Hun, katanja: “Dan tjara ‘mengiris tahu’ itu jalah taruh sepotong tahu diatas papan, lalu mengirisnja tipis2, sepotong tahu itu harus disajat mendjadi seratus irisan ketjil, setiap iris harus utuh dan pipih. Djika hasilnja memuaskan, itu berarti djurus pertama sudah lulus.”

“Itupun baru merupakan djurus pertama?” Tik Hun menegas.

“Sudah tentu,” sahut Hiat-to Lotjo. “Memangnja kau anggap ilmu golok Tjosuyamu ini seperti memotong ajam gampangnja? Nah, tjobalah kau pikir, lebih sulit mengiris tahu sambil berdiri tegak atau lebih sulit mengupas rambut diatas udjung hidung anak dara itu? Hahahahaha!”

Dengan sangat kagum Tik Hun mengumpak pula: “Ilmu sakti Tjosuya sudah tentu tidak mungkin ditjapai oleh sembarangan orang. Asalkan tjutju-murid dapat mempeladjari sepersepuluh dari kepandaian Tjosuya sadja rasanja sudah tjukup puas!”

Hiat-to Lotjo ter-bahak2 senang oleh pudjian itu. Sebaliknja Tjui Sing me-ludah2 hina pula.

Biasanja orang mendjilat itu paling sulit terletak pada utjapannja jang pertama. Orang djudjur seperti Tik Hun itu memangnja tidak tjotjok disuruh mengutjapkan kata2 jang penuh pudjian belaka itu, tapi sesudah banjak diutjapkan, otomatis mendjadi biasa baginja untuk mentjari kata2 jang enak didengar. Padahal pudjian2 Tik Hun bagi ilmu golok Hiat-to Lotjo jang sakti itu boleh dikata tidak berlebihan, tjuma kalau menurut watak asli Tik Hun, seharusnja tidak nanti sudi diutjapkannja.

Begitulah maka Hiat-to Lotjo telah mendjawab: “Ehm, bakatmu tjukup baik, asal kau mau giat beladjar, pasti kepandaianku ini dapat kau peladjari. Baiklah, sekarang djuga boleh kau tjoba2!”

Habis berkata, mendadak ia bubut pula seutas rambutnja Tjui Sing dan meletakannja diatas udjung hidungnja.

Tentu sadja Tjui Sing ketakutan, sekali sebul terus sadja ia tiup djatuh rambut itu sambil ber-teriak2: “He, he, Hwesio tjilik ini tidak bisa, mana boleh suruh dia sembarangan tjoba!”

“Tidak bisa harus dilatih sampai bisa, segala kepandaian mesti dilatih dulu baru bisa,” demikian Hiat-to Lotjo berkata. “Sekali tidak djadi, ulangi sekali lagi, dua kali gagal, ulangi tiga kali, tiga kali gagal, ulangi sepuluh kali atau duatiga puluh kali, achirnja pasti djadi!” Habis itu, kembali ia bubut lagi seutas rambut sigadis dan ditaruh pula diudjung hidungnja, lalu ia serahkan goloknja kepada Tik Hun dan berkata: “Nah, tjoba kau!”

Sambil menerima golok dari tangan Hiat-to Lotjo itu, Tik Hun tjoba memandang sekedjap kepada Tjui Sing jang menggeletak didepan sendiri itu. Ia lihat wadjah sigadis penuh rasa gusar, tapi dari sinar matanja tetampak pula rasa takutnja. Rupanja gadis itu tahu kalau Tik Hun tidak pernah melatih ilmu silat jang hebat itu, pabila setjara semberono menirukan tjara tabasan Hiat-to Lotjo, mungkin kepalanja akan terbelah mendjadi 2, paling tidak djuga hidung akan terkupas. Dan masih mending bila kepala terpetjah belah dan seketika mati daripada menerima hinaan kedua “paderi tjabul” itu, tjelakanja kalau hidungnja jang terkupas mendjadi pesek, kan bisa runjam untuk selamanja.

Tiba2 pikiran tjerdik Tik Hun tergugah, ia menanja Hiat-to Lotjo: “Tjosuya, tjara tabasan ini, bagaimana dengan tenaga tangan jang harus dipakai?”

“Harus pinggang menggerakan bahu, bahu menembus kelengan, lengan harus tidak bertenaga, dan pergelangan tangan harus tidak berkekuatan,” demikian sahut Hiat-to Lotjo. Lalu iapun memberi pendjelasan tentang apa jang dimaksudkan “pinggang menggerakkan bahu” dan “bahu menembus kelengan” dan apa2 lagi jang kedengarannja susah dimengarti, tapi sebenarnja mengandung kebenaran jang tepat.

Ber-ulang2 Tik Hun meng-angguk2 atas petundjuk sang “kakek guru”, kemudian ia berkata: “Tjuma sajang tjutju murid telah dianiaja orang, Pi-pe-kut dipundak sudah dilubangi, otot tangan djuga terpotong putus, sudah takdapat mengeluarkan tenaga lagi.”

“Mengapa Pi-pe-kutmu dilubangi orang? Dan otot tanganmu djuga dipotong?” tanja Hiat-to Lotjo.

“Ja, tjutju murid telah banjak menderita akibat didjebloskan kedalam pendjara oleh orang,” sahut Tik Hun.

Mendadak Hiat-to Lotjo ter-bahak2 tawa. Sambil larikan kuda berendeng dengan Tik Hun, ia suruh pemuda itu memperlihatkan pundaknja. Benar djuga ia lihat tulang pundak Tik Hun mendekuk kebawah, malahan luka tulang pundak jang dilubangi dengan rantai itu masih belum rapat benar2. Pula djari tangan kanan pemuda itupun terpapas putus sebagian, otot lengan djuga terpotong, untuk melatih ilmu silat boleh dikata sudah tiada harapan lagi.

Diam2 Tik Hun mendongkol oleh ketawa paderi itu, masakah orang tersiksa seberat itu malah ditertawai.

“Haha, anak muda, tjoba katakan sudah berapa banjak engkau telah merusak anak perawan orang?” demikian tiba2 Hiat-to Lotjo menanja. “Hehe, orang muda hanja menuruti napsu belaka hingga lupa daratan, achirnja kau ketangkap basah dan didjebloskan ke bui bukan?”

“Bukan,” sahut Tik Hun.

“Ala, pakai malu2 segala! Nagkulah terus terang, engkau dibui oleh orang adalah disebabkan gara2 kaum wanita bukan?” Hiat-to Lotjo mendesak pula dengan tertawa.

Untuk sedjenak Tik Hun melengak. Memang benar ia dibui adalah disebabkan pitenahan gundiknja Ban Tjin-san, hal ini berarti gara2 kaum wanita djuga. Maka dengan gergetan ia mendjawab: “Ja, memang gara2 perempuan hina itu hingga aku menderita seperti ini. Pada suatu hari aku pasti akan membalas sakit hati ini.”

“Huh, engkau sendiri berbuat djahat, tapi malah menjalahkan orang lain, ” tiba2 Tjui Sing mendamperat. “Hm, manusia jang paling tidak kenal malu didunia ini mungkin adalah bangsat gundul seperti kau ini.”

“Haha, anak dara ini benar2 terlalu bandel,” kata Hiat-to Lotjo dengan tertawa. “Eh, tjutju murid, tjobalah kau lutjuti pakaiannja hingga telandjang bulat, tjoba nanti dia masih berani memaki orang atau tidak.”

“Baik,” sahut Tik Hun tanpa pikir.

“Bangsat! Kau berani?” maki Tjui Sing dengan gusar.

Padahal dalam keadaan takdapat berkutik, bila Tik Hun benar2 mau membuka pakaiannja seperti apa jang dikatakan Hiat-to Lotjo itu, betapapun Tjui Sing tak dapat melawan. Maka damperatannja: “Kau berani?” itu hakikatnja tjuma gertakan belaka.

Dan sudah tentu tiada niat sungguh2 Tik Hun hendak melutjuti pakaian Tjui Sing, ketika dilihatnja sipaderi tua tiada hentinja mengintjar tubuh sigadis dengan ketawa2 tak beres, segera Tik Hun memikirkan tjara bagaimana agar dapat mengalihkan perhatian paderi tua itu atas diri sinona. Maka sekenanja ia lantas tanja: “Tjosuya, menurut pendapatmu, bahan apkiran seperti tjutju murid ini apakah masih dapat melatih ilmu silat?”

“Mengapa tidak?” sahut Hiat-to Lotjo. ‘Sekalipun kedua tangan dan kedua kakimu buntung semua djuga masih dapat melatih ilmu dari Hiat-to-bun kita ini.”

“Ai, bagus sekali kalau begitu!” teriak Tik Hun dengan girang.

Begitulah sambil bitjara sembari berdjalan, tanpa merasa mereka telah sampai disuatu djalan besar. Tiba2 terdengar suara gembreng dan terompet jang ramai didepan sana, menjusul tertampaklah serombongan iring2an pengantin dengan sebuah djoli kembang. Dibelakang djoli adalah seorang penunggang kuda putih jang berdjubah merah dan berkopiah emas, pakaiannja mentereng, tentu dia, inilah pengantin laki2nja. Djumlah pengiring itu ada 40-50 orang banjaknja.

Melihat itu, Tik Hun membilukkan kudanja ketepi djalan dengan hati berkebat-kebit sebab kuatir kalau dikenali orang2 itu. Sebaliknja Hiat-to Lotjo malah keprak kudanja memampak kearah iring-iringan pengantin itu.

Maka terdengarlah suara bentakan orang: “Hai! Minggir, mau apa kau?” ~ “Hwesio busuk, ada iring2an pengantin, mengapa kau tidak menjingkir?”

Tapi sesudah didepan iring2an itu, Hiat-to Lotjo lantas berhentikan kudanja, segera ia berseru dengan tertawa sambil bertolak pinggang: “He, tjoba perlihatkan pengantin wanitanja, tjantik atau tidak?”

Dari rombongan pengiring itu lantas madju seorang laki2 kekar tegap dengan membawa sebatang pikulan bambu, segera laki2 itu membentak dengan galak. “Bangsat gundul, apa kau sudah bosan hidup, ja?” ~ Sembari menggertak ia terus antjam dengan pikulan bambu jang bulat tengahnja lebih besar dari lengan manusia dan pandjangnja hampir dua meter.

“Tjutju murid, lihatlah jang djelas, ini adalah sedjurus ilmu tunggal dari kaum kita,” kata Hiat-to Lotjo kepada Tik Hun. Mendadak ia sedikit mendojong kedepan, golok merah bergemetaran se-akan2 seekor Djik-lian-tjoa (ular rantai merah) jang berkelogetan dan dengan tjepat luar biasa seperti merajap naik-turun diatas pikulan bambu orang. Ketika ia menarik kembali goloknja, ia ter-bahak2 senang.

Karena itu pengiring2 pengantin itu be-ramai2 mentjatji maki pula, tapi mendadak laki2 jang membawa pikulan bambu itu berteriak kaget, ternjata pikulan bambu jang dipegangi itu kini tinggal sebatang bambu jang pandjangnja tjuma setengah meter sadja, selebihnja telah terkutung ber-potong2 dan djatuh ketanah hingga mengeluarkan suara peletak-peletok.

Ternjata hanja dalam sekedjap sadja sebatang pikulan bambu telah ditabas oleh golok Hiat-to Lotjo hingga mendjadi berpuluh potongan ketjil2, betapa tjepat dan hebat ilmu golok paderi tua itu benar2 mirip pemain sunglap sadja, sekalipun djago silat djuga akan terkesiap menjaksikan itu, djangankan orang2 desa itu, keruan mereka melongo dan ter-longong2.

Bahkan habis ter-bahak2, tahu2 Hiat-to Lotjo ajun goloknja pula kekanan dan membalik dari atas kebawah, seketika laki2 tadi tertabas mendjadi empat potong. Tambahan paderi itu lantas membentak pula: “Aku tjuma ingin melihat bagaimana matjamnja pengantin perempuan, mengapa kalian mesti geger2 segala?”

Melihat disiang hari bolong sipaderi berani mengganas, keruan orang2 itu ketakutan setengah mati, ada jang bernjali besar masih kuat melarikan diri, tapi sebagian besar mendjadi gemetar ketakutan, bahkan banjak jang ter-kentjing2 tidak berani bergerak.

Ketika Hiat-to Lotjo mendekati pula djoli pengantin, sekali goloknja berkelebat, tahu2 tirai djoli sudah tertabas putus. Menjusul tangan kiri paderi itu lantas mendjambret dada sipengantin perempuan dan menjeretnja keluar.

Keruan pengantin wanita itu ber-kaok2 ketakutan dan me-ronta2 mati2an. Tapi sekali golok Hiat-to Lotjo bekerdja lagi, segera kerudung muka sipengantin tertabas djatuh hingga tertampaklah wadjah pengntin wanita jang penuh ketakutan itu.

Pengantin wanita itu berusia 16-17 tahun sadja, boleh dikata masih kanak2, paras mukanja djuga sangat djelek. “Tjuh”, mendadak Hiat-to Lotjo meludahi pengantin wanita itu sambil memaki: “Matjam genderuwo begini djuga djadi pengantin apa segala?” ~ dan sekali goloknja memotong, tiba2 hidung pengantin wanita itu diirisnja. Saking takut dan sakitnja pengantin wanita itu sudah lantas semaput.

Sipengantin laki2 saat itu masih terpaku diatas kudanja sambil bergemetaran.

“Tjutju murid, lihatlah sedjurus ilmu kita jang lain, ini namanja ‘Au-sim-lik-hwe’ (menembus hati memantjarkan darah)!” seru Hiat-to Lotjo pula kepada Tik Hun. Berbareng golok merah terus ditimpukan kearah sipengantin laki2.

Dan begitu menimpukan golok, seketika djuga Hiat-to Lotjo melarikan kudanja kedepan, setjepat kilat ia telah melalui kuda pengantin laki2 dan mendadak ia melompat, sekali tangannja meraup, golok merah itu sudah kena disambarnja kembali.

Waktu Tik Hun dan Tjui Sing memperhatikan sipengantin laki2, tertampaklah dadanja sudah berlubang dan sedang menjemburkan darah bagai air mantjur, tubuhnja pelahan2 mendojong dan achirnja terguling kebawah kuda. Ternjata tubuh pengantin laki2 itu telah ditembus oleh golok Hiat-to Lotjo, bahkan golok jang masih terus menjambar kedepan itu segera dapat ditangkap kembali oleh sipaderi.

Sepandjang djalan Tik Hun suka menjandjung Hiat-to Lotjo, pertama memang djeri padanja, kedua, paderi itu telah menolong djiwanja, betapapun Tik Hun merasa utang budi walaupun tahu bahwa sekali2 paderi itu bukan manusia baik2, tapi sebelum menjaksikan sendiri keganasan orang, dengan sendirinja tidak begitu terasa. Tapi kini ia menjaksikan, paderi tua itu memotong hidung pengantin wanita, bahkan membinasakan pula sipengantin laki2, malahan membunuh tiga orang jang tak berdosa, bahkan kenalpun tidak. Sebagai orang jang berbudi luhur, Tik Hun tidak tahan lagi, dengan gusar ia berteriak: “Ken………kenapa engkau membunuh orang tak berdosa? Apa halangannja orang2 itu kepadamu?”

Hiat-to Lotjo melengak, tapi lantas djawabnja dengan tertawa: “Haha, memang sudah mendjadi kebiasaanku suka membunuh orang tak berdosa. Djika membunuh sadja mesti memilih orang, kemana aku harus memilih?” ~ Habis berkata, sekali goloknja berputar, kembali kepala seorang pengiring pengantin itu berpisah dengan tuannja.

Sungguh gusar Tik Hun bukan buatan, segera ia melarikan kudanja kedepan sambil ber-teriak2: “Kau……..kau tidak boleh membunuh orang lagi!”

“Setan tjilik, apakah kau mendjadi takut melihat darah mantjur? Huh, tidak berguna!” omel Hiat-to Lotjo dengan tertawa.

Dan pada saat itu djuga dari djauh terdengar suara derapan kuda jang ramai, ada berpuluh orang sedang mengedjar dari timur sana. Bahkan terdengar seruan njaring seorang diantaranja: “Hiat-to Lotjo, lepaskan puteriku dan kita boleh sudahi urusan ini sampai disini, kalau tidak, biar kau lari keudjung langit djuga akan ku-uber sampai kepodjok langit!”

Itulah suaranja Tjui Tay, meski derapan kuda itu kedengaran masih sangat djauh, tapi seruan Tjui Tay itu dapat terdengar dengan sangat djelas, suatu tanda betapa hebat Lwekang djago tua itu.

Diam2 Tjui Sing bergirang djuga mendengar suara sang ajah. Lalu terdengar pula suara tembang dari paduan suara empat orang: “Lok-hoa-liu-tjui……..Tjui-liu-hoa-lok……..Lok-hoa-liu-tjui………Tjui-liu-hoa-lok!”

Nada suara keempat orang itu ber-beda2, ada jang rendah kuat, ada jang tinggi melengking, ada jang serak tua, ada jang keras kumandang. Tapi betapa tinggi Lwekang masing2 terang mempunjai keistimewaannja sendiri2.

“Huh, matjam2 sadja lagak bangsat2 dari Tionghoa itu,” demikian Hiat-to Lotjo memaki.

Lalu terdengar seruan Tjui Tay pula dari djauh: “Hiat-to Lotjo, biarpun ilmu silatmu tinggi, masakah kau mampu melawan “Lam-su-lo” kami berempat? Lepaskanlah puteriku dan urusan akan beres, seorang laki2 berani berkata berani pegang djandji, pasti aku takkan mengedjar kau lebih djauh!”

Diam2 Hiat-to Lotjo memikir djuga: “Aku sudah berkenalan dengan kepandaian Tjui Tay dan imam tua itu, kalau satu-lawan-satu, tidak nanti aku takut, bila aku melawan mereka berdua, lebih banjak kalahnja daripada menangnja, terpaksa harus lari. Dan djika aku dikerojok tiga, sudah pasti aku akan kalah habis2an, untuk laripun mungkin susah. Lebih2 kalau aku dikerubut empat orang, pasti matipun Hiat-to Lotjo takkan terkubur. Hehe, apa jang dikatakan orang persilatan Tionggoan itu dapatkah dipertjaja? Lebih baik aku tetap membawa lari anak dara ini, paling tidak aku masih dapat memakainja sebagai barang sandera, bila kulepaskan dia, itu berarti lebih menguntungkan mereka malah!”

Dengan keputusan itu, mendadak ia membentak sekali sambil mentjambuk bokong kuda putih tunggangan Tik Hun, terus sadja ia mendahului berlari kearah barat sambil mulutnja berkomat-kamit. Apa jang diutjapkan itu tak didengar oleh Tik Hun dan Tjui Sing, tapi rombongan Tjui Tay lantas mendengar kumandangnja sesuatu suara aneh jang berkata: “Tju-loyatju, Tjiangbundjin dari Hiat-to-bun telah mendjadi anak menantumu. Tjiangbundjin angkatan keempat sudah mendjadi menantumu. Tjiangbundjin angkatan ke-enam djuga menantumu, sungguh redjekimu bukan main besarnja, dua Tjiangbundjin dari kedua angkatan Hiat-to-bun kami telah diborong semua oleh puterimu ini, tapi mengapa engkau masih terus mengedjar, masakah bapak mertua mengedjar anak menantu, sungguh lutju, sungguh aneh!”

Kiranja komat-kamit mulut Hiat-to Lotjo itu adalah sematjam Lwekang djahat dari kaum Hiat-to-bun, suaranja dapat tersiar djauh hingga sangat mengatjaukan pikiran orang bahkan membuat kalap pendengarnja, dengan begitu bila nanti saling gebrak, kekuatan lawan mendjadi banjak terganggu. Apalagi utjapannja membikin Tjui Tay semakin berdjingkrak dan hampir2 meledak dadanja saking murkanja.

Tjui Tay tahu betapa djahatnja perbuatan paderi2 dari Hiat-to-bun itu, membunuh dan memperkosa bagi paderi2 itu sudah pekerdjaan biasa, segala kedjahatanpun dapat mereka lakukan. Bahwasanja antara kakek-guru dan tjutju-murid berkongsi memiliki puterinja bukan mustahil pula akan terdjadi. Alangkah gemasnja Tjui Tay, masakah seorang tokoh Bu-lim terkemuka jang telah mendjagoi daerah Tionggoan selama berpuluh tahun hari ini mesti mengalami hinaan sebesar ini? Sungguh kalau bisa ia ingin segera mentjingtjang paderi djahanam itu hingga hantjur luluh.

Maka dengan hilap ia petjut kudanja semakin kentjang. Tjuma sajang kuda tunggangan mereka tiada satupun jang dapat menandingi kuda-kuda kuning dan putih bekas milik Leng-kiam-siang-hiap itu, walaupun mereka mengedjar mati2an, tetap tidak dapat menjusul musuh.

Dalam pada itu diantara rombongan pengedjar bersama Tjui Tay itu, selain tokoh2 she Liok, Hoa dan Lau bertiga kakek jang namanja sedjadjar dengan Tjiu Tay dengan djulukan ‘Lok-hoa-liu-tjui’ itu, masih ada pula lebih 30 djago Tionggoan jang lain.

Mereka terdiri dari berbagai golongan dan aliran, ada Piausu ternama, ada ketua sesuatu golongan, ada pula pimpinan organisasi dan tokoh2 silat jang sudah lama mengasingkan diri. Tapi karena gusar terhadap perbuatan paderi2 Hiat-to-bun jang telah bikin rusuh didaerah Liang-ou setjara serampangan dan tidak pilih bulu, maka djago2 Tionggoan baik dari Pek-to (kalangan baik2) maupun Hek-to (kalangan djahat), semuanja lantas ikut menguber serentak untuk membekuk paderi2 djahat itu.

Tjara mengedjar rombongan djago2 silat itu agak pajah djuga, tapi setiap ada kesempatan, tentu mereka berganti kuda. Mereka tidak pernah berhenti, tapi makan rangsum dan minum air sekadarnja diatas kuda sambil terus mengedjar.

Sebaliknja rombongan Hiat-to Lotjo berkat kuda2 tunggangan mereka lebih bagus, maka setiap ketemu kedai nasi dan warung wedang, sering mereka berhenti menangsal perut dan mengaso pula. Tjuma tidak berani bermalam dipenginapan. Dan djusteru oleh karena adanja pengedjaran terus-menerus dari djago2 silat Tionggoan itulah, maka kesutjian Tjui Sing selama beberapa hari itu masih dapat dipertahankan.

Kedjar mengedjar itu sudah berlangsung beberapa hari, dari wilajah Ouwpak kini sudah masuk kewilajah Sutjwan. Sebagai sama2 orang persilatan, begitu mendengar berita pengedjaran itu, segera tokoh2 dan djago2 Sutjwan lantas be-ramai2 ikut serta dalam rombongan pengedjar itu. Maka sesudah melalui Sutjwan tengah, rombongan pengedjar itu sudah lebih seratus orang djumlahnja.

Djago silat didaerah Sutjwan banjak jang berharta, banjak diantara mereka membawa serep kuda-keledai dengan rangsum dan badju selimut setjara lengkap. Tjuma sajang bila berita diterima mereka, Hiat-to Lotjo dan rombongannja sudah ketelandjur lalu hingga tidak sempat untuk mentjegat sebelumnja. Karena itu, djago2 silat Sutjwan hanja dapat menghibur Tjui Tay agar djangan tjemas dan menjatakan penjesalan mereka sebab tidak dapat mentjegah pada waktu paderi2 tjabul itu masuk kewilajah mereka.

Sudah tentu Tjui Tay menjatakan terima kasih atas perhatian kawan2 persilatan itu, tapi dalam hatipun mendongkol: “Huh, urusan sudah lewat baru dibitjarakan. Apalagi kepandaian seperti kalian ini masakah mampu mentjegat kedua paderi tua dan muda itu?”

Begitulah udak-mengudak itu dengan tjepat telah berlangsung hampir 20 hari. Beberapa kali Hiat-to Lotjo mengambil djalan simpang untuk menjesatkan pengedjarnja, tapi diantara rombongan pengejar itu adalah seorang Be-tjat (begal kuda) dari Kwantang (diluar tembok besar timur laut) jang mahir ilmu mentjari djedjak. Tak peduli Hiat-to Lotjo berputar kajun kemanapun selalu dapat diikutinja dari belakang. Dan oleh karena itu djuga rombongan merekapun makin djauh makin memasuki lereng pegunungan Sutjwan barat jang terkenal tinggi dan tjuram itu.

Para djago silat Tionggoan itu tahu tudjuan Hiat-to Lotjo jalah ingin lari pulang kesarangnja di Tibet. Dan bila masuk kewilajah kekuasaan paderi djahat itu, tentu akan terdjadilah pertarungan sengit menghadapi begundal Hiat-to-bun, untuk mana tentu akan lebih susah menjelamatkan Tjui Sing dan entah pihak mana jang bakal menang.

Karena itu, para djago Tionggoan mengedjar semakin kentjang. Pada lohor hari itu, rombongan mereka telah memasuki sebuah djalanan lembah gunung jang terdjal. Tiba2 tertampak seekor kuda menggeletak mati ditepi djalan. Njata itu kuda kuning miliknja Ong Siau-hong.

Dengan girang segera Tjui Tay dan Siau-hong berseru: “Musuh telah kehilangan seekor kuda, marilah kita menguber lebih tjepat, pasti paderi tjabul itu takkan dapat lolos!”

Tempat dimana rombongan djago2 Tionggoan itu berada sudah termasuk wilajah Sutjwan paling udjung barat, kalau kebarat lagi akan masuk keperbatasan Tibet. Tempat itu termasuk lereng gunung Tay-swat-san (gunung besar bersaldju), tanahnja tinggi terdjal, dinginnja tidak kepalang hingga bagi orang jang Lwekangnja rendah, tentu akan sesak napas dan tenaga lemas. Lebih2 djago2 silat Sutjwan itu kebanjakan adalah kaum hartawan jang biasanja hidup adem-ajem didalam rumah, mereka itulah jang paling menderita kedinginan.

Tjuma djago2 jang ikut serta dalam pengedjaran ini adalah orang2 jang ternama semua, dengan sendirinja tiada jang sudi mengundjuk kelemahan hingga memalukan nama baiknja sendiri.

Kini demi melihat kuda kuning tunggangan Hiat-to Lotjo itu mati ditepi djalan, terang paderi itu tidak mampu lari djauh, seketika semangat semua orang terbangkit dan siap2 untuk menguber lebih djauh.

Diluar dugaan, perubahan tjuatja dipegunungan itu ternjata sangat tjepat. Tiba2 tertampak diatas puntjak diseberang selat jang dalam sana, segumpal saldju mendadak longsor kebawah.

“Tjelaka!” tjepat seorang kakek dari Sutjwan barat berteriak: “Akan terdjadi gugur saldju, hajolah lekas mundur!”

Belum lenjap suaranja, mendadak terdengarlah suara gemuruh, saldju jang longsor dari puntjak gunung itu semakin hebat.

Djago2 Tionggoan jang tidak pernah melihat saldju itu seketika masih belum tahu duduknja perkara, banjak diantara mereka malah tanja: “Apakah itu?” ~ “Tjuma saldju longsor sadja kenapa mesti kuatir, hajolah kedjar terus!” ~ “Tjepat uber lagi, lintas dulu puntjak sebelah sana itu!”

Namun hanja sebentar sadja suara gemuruh jang menggelegar itu sudah bertambah hebat dan memekak telinga. Dan baru sekarang orang2 itu merasa takut.

Gugur saldju itu djaraknja semula memang sangat djauh, tapi saldju jang longsor dari atas itu, setiap djatuh disesuatu tempat, selalu menggondol timbunan saldju ditempat itu dan longsor pula kebawah, dari itu, suaranja semakin lama semakin gemuruh, dan setiba ditengah gunung, suasana boleh dikata se-akan2 gugur gunung benar2, bagaikan ombak samudera dahsjatnja, sungguh sangat mengerikan keadaannja.

Maka sekali berteriak, beberapa djago2 Tionggoan itu lantas putar kuda dan mendahului lari. Dari belakang suara gemuruh itu semakin hebat hingga mirip dunia sudah kiamat, se-akan2 langit telah ambruk dan menindih kebawah. Saking ketakutan mereka keprak kuda melarikan diri mati2an. Ada beberapa kuda jang djuga ketakutan hingga kaki mendjadi lemas dan tidak mau djalan, terpaksa penunggangnja melompat turun dan menjelamatkan diri dengan Ginkang.

Namun gugur saldju itu tjepatnja melebihi kuda dan orang lari, hanja sekedjap sadja lautan saldju itu sudah membandjir kekaki gunung. Ada 7-8 orang jang terlambat larinja terus sadja terkubur hidup2 ditengah saldju. Dalam keadaan begitu, betapapun gagah perkasa seseorang djuga takkan mampu melawan bentjana alam jang dahsjat itu.

Dan sesudah melintasi sebuah bukit, barulah bandjir saldju itu tertahan oleh lereng bukit itu. Dengan demikian barulah pendekar2 itu dapat bernapas lega. Namun saldju longsor itu masih terus membandjir bagai air bah dahsjatnja, hanja sekedjap sadja antero lembah djalan pegunungan itu sudah tertutup buntu semua hingga berwudjut bukit saldju jang ber-puluh2 meter tingginja, kalau bukan burung, betapapun tidak dapat melintasinja.

Begitulah kemudian semua orang sama ramai membitjarakan nasib Hiat-to Lotjo bersama tjutju muridnja itu, tentu kedua paderi itu telah menerima gandjaran atas kedjahatan mereka dan terkubur dibawah saldju. Merekapun menjesalkan Tjui Sing jang tjantik molek itupun ikut berkorban tanpa berdosa. Dan sudah tentu banjak pula jang berduka karena ada kawan2 mereka jang telah terkubur ditengah saldju, tapi betapapun mereka bersjkur djuga bagi diri sendiri jang terhindar dari malapetaka.

Setelah keadaan tenteram kembali, lalu mereka memeriksa kawan2 jang hilang itu. Ternjata seluruhnja ada 12 orang jang hilang, diantaranja termasuk Ong Siau-hong dan keempat kakek sakti “Lok-hoa-liu-tjui” itu. Sungguh tidak njana bahwa “Lam-su-lo” jang ilmu silatnja tiada tandingannja itu kini terpendam semua dibawah saldju pegunungan Tay-swat-san. Begitulah semua orang menghela napas gegetun, kemudian lantas mentjari djalan untuk keluar dari kepungan dinding saldju itu. Mereka beranggapan saldju jang membukit itu tidak nanti mentjair sebelum musim panas tahun depan, untuk bisa mentjari majat jang terpendam saldju itu, keluarga si-korban paling tidak djuga harus menunggu setengah tahun lagi. Tapi diam2 didalam hati semua orang djuga mempunjai suatu pikiran jang tak terkatakan, jaitu: “Nama kebesaran Lam-su-lo dan Leng-kiam-siang-hiap paling achir ini sangat terkenal, djika sekarang mereka sudah mati semua, itu berarti lebih menguntungkan bagiku, maka biarkanlah mereka mati sadja!” ……….

*** ******

Lantas kemanakah perginja Hiat-to Lotjo bersama Tik Hun dan Tjui Sing itu? Apa benar mereka terkubur didalam saldju longsor? ~ Tidak!

Bahkan waktu itu Hiat-to Lotjo sangat senang sebab makin lama semakin dekat dengan sarangnja di Tibet, walaupun djumlah pengedjar waktu itupun semakin bertambah. Tjuma saking lelahnja karena berlari tidak pernah berhenti, achirnja kuda kuning tunggangan Hiat-to Lotjo itu terbinasa ditepi djalan. Sedangkan kuda putih djuga sangat pajah keadaannja, mungkin dalam waktu singkatpun akan menjusul kawannja keachirat.

Waktu Tjui Sing siuman kembali, segera ia mengendus bau sedap daging panggang, ketika ia perhatikan ternjata kuda putih kesajangannja sudah disembelih oleh Hiat-to Lotjo dan telah dipanggang dan sedang dilalap mereka.

Diam2 Hiat-to Lotjo memikir sambil mengkerut kening: “Kalau aku sendiri hendak melarikan diri adalah terlalu mudah, namun tjutju-murid kakinja pintjang, anak dara jang tjantik-molek ini djuga sajang kalau ditinggalkan.” ~ Berpikir sampai disini, mendadak ia mendjadi beringas, begitu ia putar tubuh, terus sadja Tjui Sing dipeluknja dan hendak mentjopot badjunja.

Keruan Tjui Sing ketakutan sambil ber-teriak2: “Hai, kau…….kau mau apa?”

“Lotju tidak mau membawa lari kau lagi, masakah kau tidak tahu maksudku?” sahut Hiat-to Lotjo dengan menjeringai.

Tik Hun ikut kuatir djuga melihat sang “kakek-guru” berubah liar, tjepat iapun berteriak: “Sutjo, sebentar musuh tentu akan memburu tiba!”

“Setan alas, kau djuga ikut tjerewet?” bentak sipaderi tua.

Dan pada saat itu djuga, tiba2 terdengar suara gemerasak jang aneh diatas udara. Hiat-to Lotjo sudah lama tinggal didaerah Tibet, sudah banjak bentjana gugur saldju jang telah dilihatnja, dalam keadaan demikian, betapapun nekat napsu binatangnja djuga tidak berani tjoba menantang bentjana alam itu. Tjepat ia berseru: “Wah, tjelaka! Lekas lari, lekas!”

Ia lihat arah membandjirnja saldju itu mungkin akan tertahan oleh sebuah bukit disebelah selatan sana, maka tjepat ia menarik kuda putih dan berlari kedjurusan selatan. Biarpun paderi itu biasanja sangat ganas dan kedjam, menghadapi saldju longsor itupun wadjahnja berubah putjat. Ia tahu diatas puntjak gunung sekitar mereka berdiri itupun penuh tertimbun saldju, bila suara getaran saldju longsor itu melampaui batas, tentu timbunan saldju di-puntjak2 lain djuga akan ikut gugur dan tentu mereka akan terkubur didasar lembah situ.

Dengan pajah kuda putih itu dibebani Tik Hun dan Tjui Sing, setiba ditengah lembah, mendadak binatang itu keserimpet, hampir Tik Hun terbanting kebawah. Sementara itu suara gemuruh saldju longsor itu makin menghebat, sambil memandangi puntjak gunung disisi mereka, Hiat-to Lotjo tampak sangat kuatir, pabila saldju diatas puntjak itupun ikut gugur, pasti tjelakalah mereka.

Gugur saldju itu sebenarnja tidak berlangsung terlalu lama, paling2 djuga tjuma belasan menit. Tapi dalam waktu sesingkat itu Hiat-to Lotjo, Tik Hun dan Tjui Sing sudah dihinggapi rasa takut jang tak kepalang. Tjui Sing sendiri mendjadi lupa barusan ia sendiri mengharap bisa segera mati sadja agar terhindar dari hinaan kedua paderi tjabul itu. Tapi kini berbalik timbul rasa ketergantung hidupnja kepada kedua orang itu, ia berharap kedua orang laki2 itu dapat mentjari djalan untuk membantunja terhindar dari bentjana alam itu.

Se-konjong2 dari atas puntjak disisi mereka terdjatuh sepotong batu, saking kagetnja sampai Tjui Sing mendjerit. Tjepat Hiat-to Lotjo mendekap mulut sigadis, sedang tangan lain terus memberi persen dua kali tamparan dipipinja hingga seketika muka Tjui Sing merah bengap. Untung timbunan saldju diatas puntjak itu rupanja tidak terlalu tebal, maka tidak mudah untuk longsor.

Selang tak lama, suara gemuruh gugur saldju itu mulai mereda lalu Hiat-to Lotjo melepaskan tangannja dari mulut Tjui Sing. Gadis itu menutupi mukanja dengan kedua tangannja, entah karena merasa lega, entah merasa gusar atau takut.

Kemudian Hiat-to Lotjo tjoba meronda kemulut lembah sana, kembalinja tertampak air muka paderi itu mengundjuk rasa sedih dan gusar. Ia terus duduk mendjublek diatas sebuah batu padas dengan muka muram.

“Tjosuya, bagaimanakah keadaaan diluar sana?” tanja Tik Hun.

“Bagaimana? Hm, semuanja gara2mu setan tjilik ini!” damperat sipaderi mendadak.

Maka Tik Hun tidak berani menanja lagi, ia tahu tentu gelagat tidak menguntungkan, makanja paderi tua itu marah2. Tapi achirnja ia mendjadi tidaktahan lagi, kembali ia tanja: “Tjosuya, apakah karena ada musuh mendjaga dimulut lembah sana? Djika demikian, silakan engkau menjelamatkan sendiri sadja dan tidak perlu lagi memikirkan diriku.”

Selama hidup Hiat-to Lotjo hanja bergaul dengan manusia2 tjulas dan djahat, bukan sadja semua sobat-andainja begitu, bahkan anak muridnja seperti Po-siang, Siang-yong dan lain2 djuga manusia2 litjik dan tjulas, hanja mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Tapi kini Tik Hun telah menjuruhnja menjelamatkan diri sendiri sadja, tanpa merasa timbul rasa senangnja, wadjahnja menampilkan senjuman, katanja kemudian: “Anak baik, kau memang mempunjai Liangsim jang terpudji! Tapi bukan karena ada musuh mendjaga dimulut lembah sana, melainkan lembah ini telah buntu tertutup oleh timbunan saldju jang berpuluh meter tingginja dan beribu meter luasnja. Sebelum musim semi, saldju tetap akan membeku, dan kitapun takdapat keluar dari sini. Padahal ditengah lembah sunji ini, segala makanan tidak ada, masakah kita dapat tahan sampai tahun depan?”

Mendengar pendjelasan itu, Tik Hun merasa keadaan memang berbahaja, tetapi karena saat jang paling gawat tadi sudah lalu, maka ia tidak terlalu kuatir lagi. Katanja: “Tjosuya djangan kuatir, asal mau berusaha, tentu ada djalannja. Seumpama kita akan mati kelaparan disini djuga lebih baik daripada kita mati tersiksa ditangan musuh.”

“Benar djuga utjapanmu, anak baik,” pudji sipaderi dengan tertawa lebar. Lalu ia berbangkit, tiba2 ia lolos goloknja dan mendekati kuda putih itu.

“Hai, hai! Engkau mau apa?” teriak Tjui Sing dengan kuatir.

“Mau apa? Boleh tjoba engkau terka,” sahut sipaderi.

Padahal tidak usah diterka djuga Tjui Sing sudah tahu kalau paderi itu hendak menjembelih kuda putih itu untuk dimakan. Kuda itu dibesarkan bersama dia, sudah tentu ia pandang kuda putih itu sebagai kawan-baiknja, dan dengan sendirinja ia mendjadi kautir dan gusar pula melihat paderi djahat itu hendak mendjagal kuda kesajangannja itu. Kembali ia ber-teriak2: “Tidak, tidak! Itu adalah kudaku, kau tidak boleh memotongnja.”

“Haha, malahan kalau habis makan daging kuda, tentu akan bergilir makan dagingmu,” sahut sipaderi dengan tertawa. “Sedangkan daging manusia sadja kumakan, apalagi daging kuda?”

“Mohon belas-kasihanmu, djanganlah membunuh kudaku,” pinta Tjui Sing dengan sangat. Dan pada saat terpaksa itu, iapun berpaling kepada Tik Hun: “Harap engkau mohon padanja, djanganlah membunuh kudaku.”

Melihat wadjah sigadis jang penuh kuatir dan kasihan itu, sebenarnja Tik Hun tidak tega, tapi mengingat keadaan sudah terpaksa, kalau tidak makan daging kuda, apa jang dapat dimakan, malahan boleh djadi kalau sudah kehabisan makanan, mungkin pelana kuda terbuat dari kulit itupun akan digodok untuk dimakan. Tapi karena tidak tega melihat wadjah sigadis jang sedih itu, terpaksa ia berpaling kedjurusan lain.

Dalam pada itu Tjui Sing sedang memohon pula: “Djangan……….djanganlah membunuh kudaku.”

“Baiklah, aku takkan membunuh kudamu,” demikian kata Hiat-to Lotjo tiba2.

Keruan Tjui Sing kegirangan, ber-ulang2 ia mengutjapkan terima kasih. Tapi mendadak terdengar suara “sret” sekali, ditengah gelak ketawa sipaderi tua, tahu2 kepala kuda sudah menggelinding ketanah, darahpun menjembur keluar sebagai air mantjur. Saking kaget dan sesalnja hingga Tjui Sing seketika pingsan.

Waktu pelahan2 Tjui Sing siuman kembali, lebih dulu ia lantas mengendus bau sedap, memangnja perutnja sangat kelaparan, ia mendjadi girang mengendus bau lezat daging itu. Tapi begitu pikirannja djernih kembali, segera ia ingat bau sedap itu adalah bau panggang daging kuda kesajangannja itu. Ketika ia membuka mata, ia lihat Hiat-to Lotjo dan Tik Hun sedang berduduk diatas batu padas dan lagi asjik melalap daging kuda, ditepi batu terdapat segunduk api unggun, diatas sebatang kaju jang melintang diatas api itu tergantung sepotong paha kuda.

Hlm. 53 Gambar:

Ketika Tik Hun dan Tjui Sing mendongak dan memandang kearah datangnja suara njaring itu, maka tertampaklah diatas sebuah tebing jang tjuram ada dua orang sedang bertempur.

Saking dukanja Tjui Sing lantas menangis.

“Kau mau makan tidak?” tanja Hiat-to Lotjo dengan tertawa.

“Kalian terlalu djahat, sampai kudaku djuga dibunuh, kelak aku pasti………pasti membalas sakit hati ini!” demikian seru Tjui Sing sambil tersedu-sedan.

Tik Hun merasa menjesal djuga, katanja: “Nona Tjui, ditengah lembah bersaldju ini, kita tiada punja makanan apa2, terpaksa kami menjembelih kudamu. Bila engkau suka pada kuda bagus, kelak kalau kita dapat keluar dari lembah ini tentu masih dapat membeli pula.”

“Kau paderi tjilik ini pura2 berhati badjik, padahal kau lebih2 djahat daripada paderi tua djahanam itu, aku bentji padamu, kubentji padamu!” seru Tjui Sing.

Tik Hun tidak dapat mendjawab lagi. Pikirnja: “Agar tidak mati kelaparan, meski kau bentji padaku djuga terpaksa aku harus makan daging kudamu ini.” ~ Maka kembali ia sebret sepotong daging kuda lagi terus dimakan pula.

Sambil menggeragoti daging kuda, Hiat-to Lotjo melirik2 pula mengintjar Tjui sing, dengan samar2 ia menggumam sendiri: “Ehm, rasa daging kuda ini sangat lezat. Ha, lewat beberapa hari lagi kalau anak dara ini mesti dipanggang djuga untuk dimakan, rasanja belum tentu selezat daging kuda ini.” ~ dan didalam hati diam2 ia pikir pula: “Dan habis makan anak dara itu, terpaksa achirnja mesti makan djuga tjutju muridku jang tersajang itu.”

Sesudah kenjang makan daging kuda, lalu Tik Hun menambahi sedikit kaju bakar diunggun api, kemudian merekapun tertidur sambil bersandar dibatu padas itu. Dalam keadaan lajap2 Tik Hun mendengar suara sesenggukan Tjui Sing jang masih menangis tiada henti2nja, tiba2 timbul rasa duka padanja: “Nona ini hanja kehilangan seekor kuda dan dia sudah menangis sesedih itu. Sebaliknja hidupku didunia ini ternjata tiada seorangpun jang menangis bagiku, sungguh malang nasibku ini, lebih tjelaka daripada seekor binatang.”

Sampai tengah malam, tiba2 Tik Hun merasa pundaknja di-dorong2 orang, segera ia terdjaga bangun, ia dengar Hiat-to Lotjo sedang membisikinja: “Diam! Ada orang datang!”

Tik Hun terkesiap, tapi lantas bergirang pula, pikirnja: “Djika ada orang datang, tentu kitapun dapat keluar.” ~ Maka dengan secara bisik2 tjepat ia menanja: “Dimana?”

Hiat-to Lotjo menuding kearah barat dan berkata: “Di sana, kau merebah sadja dan djangan bersuara, kepandaian musuh sangat tangguh.”

Tik Hun tjoba mendengarkan dengan tjermat, tapi tiada terdengar sesuatu apapun.

Sambil menghunus golok Hiat-to Lotjo berdjongkok untuk sekian lamanja ditempatnja, se-konjong2 ia melesat pergi setjepat anak panah terlepas dari busurnja. Hanja sekedjap sadja bajangannja sudah menghilang dibalik lereng bukit sana.

Sungguh kagum tidak kepalang Tik Hun: “Ilmu silat paderi ini benar2 djarang ada bandingannja. Djikalau Ting-toako masih hidup dan bertanding dengan dia, entah siapa lebih unggul?” ~ Demi ingat kepada sang Toako itu, tanpa merasa iapun meraba punggungnja, njata buntalan abu tulang Ting Tian itu masih tergembol baik2 disitu.

Ditengah malam sunji senjap itu, tiba2 terdengar suara “trang-trang” dua kali, terang itulah suara beradunja sendjata. Dan sesudah bunji njaring itu, keadaan kembali sepi njenjak. Lewat agak lama, lagi2 terdengar suara njaring dua kali pula.

Tik Hun menduga pasti sipaderi tidak berhasil menjergap musuh dan kini sudah saling gebrak. Dari suara beradunja sendjata itu, njata ilmu silat musuh tidak berada dibawahnja.

Sedjenak kemudian, tiba2 suara njaring itu mendering sampai empat-lima kali hingga Tjui Sing djuga terdjaga bangun.

Waktu itu dataran dilembah pegunungan itu hanja saldju belaka, dibawah tjahaja bulan, terpantjarlah sinar repleksi dari saldju hingga tjuatja mirip fadjar menjingsing.

Tjui Sing memandang sekedjap kearah Tik Hun, bibirnja ber-gerak2 seperti ingin menanja, tapi karena ia masih bentji dan muak kepada pemuda itu, pula pertanjaannja belum tentu didjawab, maka utjapannja jang sudah diambang mulut itu ditelannja kembali mentah2.

Tiba2 terdengar suara “trang-trang” jang riuh pula, bunjinja semakin keras dan semakin tinggi. Waktu Tjui Sing dan Tik Hun mendongak berbareng kearah datangnja suara, maka tertampaklah dibawah sinar bulan, didinding suatu tebing jang tjuram disebelah timur-laut sana ada dua bajangan orang jang sedang berputar kian kemari. Tebing itu sangat terdjal, pula penuh timbunan saldju, kalau dipandang, tidak mungkin orang sanggup memandjat keatas. Tetapi sambil bergebrak kedua orang itu ternjata tidak pernah berhenti, mereka terus merajap keatas tebing.

Tik Hun tjoba memandang dengan tjermat, ia lihat lawan Hiat-to Lotjo itu adalah seorang berdjubah imam dan bersendjata pedang. Itulah imam tua jang tempo hari sudah pernah bergebrak dengan sipaderi itu. Ia masih ingat Hiat-to Lotjo telah memudji kebagusan ilmu pedang imam tua itu, katanja adalah djago dari Thay-kek-bun. Entah tjara bagaimana imam tua itu dapat menerobos masuk ketengah lembah jang dikelilingi dinding saldju ini?

Segera Tjui Sing djuga dapat mengenali imam tua itu, saking girangnja ia terus berseru: “Itu dia Lau Seng-hong Totiang! He, ada Lau-pepek, tentu ajah djuga ada. Hai, ajah, ajah! Anak berada disini!”

Tik Hun kaget demi mendengar Tjui Sing ber-teriak2 memanggil ajahnja. Pikirnja: “Hiat-to Lotjo sedang bertempur dengan imam tua itu, melihat gelagatnja susah untuk terdjadi kalah menang dalam waktu singkat. Dan bila ajahnja mendengar suaranja serta memburu kemari, bukankah aku akan dibunuh olehnja?”

Maka tjepat ia mentjegah teriakan Tjui Sing: “Hei, djangan engkau ber-teriak2, bila saldju mendjadi longsor lagi, djiwa kita pasti akan melajang bersama?”

“Aku djusteru ingin mati bersama Hwesio djahanam seperti kau ini,” damperat Tjui Sing dengan gemas. Dan kembali ia ber-teriak2: “Ajah, ajah! Aku berada disini!”

“Tutup mulutmu!” bentak Tik Hun. “Djika saldju longsor lagi, bukankah djiwa kita melajang, bahkan ajahmu djuga akan mampus. Apakah kau hendak membunuh ajahmu? Kau benar2 puteri djahat jang Put-hau (tak berbakti).”

Rupanja tjertjaan Tik Hun itu kena dihati sigadis, sebab Tjui Sing lantas berpikir: “Ja, betul djuga. Bila ajahpun sampai berkorban, aku jang berdosa.” ~ Tapi segera terpikir pula olehnja: “Ah, betapa hebat kepandaian ajah? Saldju longsor tadi telah menakutkan orang lain hingga lari ter-birit2, sebaliknja Lau-pepek toh mampu melintasi lautan saldju setinggi itu, dan kalau Lu-pepek dapat kemari, dengan sendirinja ajahpun dapat. Andaikan teriakanku akan membikin saldju longsor lagi, paling2 djuga aku jang akan teruruk mati, ajah pasti takkan berhalangan apa2. Paderi tua itu terlalu lihay, bila Lau-pepek terbunuh olehnja, pasti jang paling tjelaka adalah diriku karena tertjengkeram ditangan kedua paderi djahat ini.”

Berpikir begitu, maka kembali ia ber-teriak2 lagi: “Ajah, ajah! Aku berada disini, lekas datang menolong aku!”

Semula ketika gadis itu sudah diam, Tik Hun mengira ia takkan bersuara lagi. Siapa duga mendadak ia berteriak pula, bahkan semakin keras, seketika Tik Hun mendjadi tidak tahu tjara bagaimana harus menjetopnja. Waktu menengadah, ia lihat Hiat-to Lotjo masih menempur imam tua itu denan sengit. Golok merah jang diputar dengan tjepat itu berwudjut selingkar sinar merah jang bertebaran diatas saldju jang memutih perak. Gerak-gerik imam tua Lau Seng-hong itu tampaknja tidak terlalu tjepat, tapi pendjagaannja rapat sekali, meski Hiat-to Lotjo tampaknja takkan kalah, tapi untuk menang djuga susah terdjadi dalam waktu singkat.

Dalam pada itu didengarnja Tjui Sing masih terus ber-teriak2 pada sang ajah, kemudian tiba2 berganti memanggil: “Piauko, Piauko! Lekas kemari!”

Lama-kelamaan Tik Hun mendjadi sebal dibuatnja, bentaknja pula: “Budak bawel, lekas tutup mulutmu bila engkau tidak ingin kupotong lidahmu!”

“Aku djusteru ingin berteriak, aku djusteru akan berteriak!” demikian sahut Tjui Sing. Dan kembali ia berteriak lebih keras: “Ajah, ajah! Aku berada disini!”

Karena kuatir Tik Hun benar2 mendekatinja, maka ia lantas berbangkit sambil memegang sepotong batu. Selang sedjenak, ia lihat Tik Hun masih menggeletak ditanah tanpa berkutik, mendadak teringat olehnja: “Ja, Hwesio djahat ini telah patah kakinja, kalau tiada ditolong oleh paderi tua itu, sudah lama ia dibunuh oleh Piauko. Gerak-geriknja terang tidak leluasa, mengapa aku takut padanja?” ~ Demi dapat membedakan kedudukan masing2, segera Tjui Sing membatin pula: “Hwesio tua itu terang takkan datang kesini, kenapa aku tidak lantas membunuh Hwesio muda ini sekarang djuga?” ~ Dengan mata mendelik segera ia angkat batu jang dipegang itu dan mendekati Tik Hun terus sadja ia keprukan batu itu keatas kepala pemuda itu.

Sudah sedjak tadi Tik Hun mengikuti gerak-gerik Tjui Sing, ketika tiba2 dilihat sikap sigadis mendjadi beringas, diam2 ia sudah mengeluh. Maka ketika gadis itu mendekati dirinja, segera ia tahu gelagat tidak menguntungkan. Dan ketika batu itu menimpa keatas kepalanja, terpaksa ia berguling kesamping. “Bluk”, batu itu menghantam ditanah saldju, selisih dari mukanja tjuma beberapa senti sadja.

Sekali menimpuk tidak kena, kembali Tjui Sing djemput batu jang lain dan menjambit pula, sekali ini mengarah keperut Tik Hun.

Terpaksa Tik Hun mengkerut tubuh dan berguling pula. Tapi karena tulang kaki patah, gerak-gerik tidak leluasa, achirnja tulang betis kena tertimpuk pula oleh batu itu, “krak”, kembali tulang betis petjah tertimpuk batu, saking kesakitan sampai Tik Hun mendjerit.

Sudah tentu Tjui Sing sangat girang, lagi2 ia angkat sepotong batu hendak menimpuk pula.

Tik Hun insaf dirinja sudah merupakan makanan empuk bagi orang, kalau be-runtun2 kena ditimpuk beberapa kali lagi, pasti tamatlah riwajatnja. Dalam kehilangan akalnja, mendadak iapun sambar sepotong batu dan balas menggertak: “Budak setan, kau berani menimpuk batu pula, biar kukepruk mampus kau dahulu!”

Meski kaki Tik Hun patah, tapi tenaga tangannja masih kuat, ketika Tjui Sing benar2 menimpuknja lagi, dengan kelabakan ia mengegos lagi sambil berguling, lalu kontan balas menjambitkan batu jang disambarnja tadi.

Lekas2 Tjui Sing melompat kesamping, tapi batu itupun menjerempet lewat disisi telinga membuatnja kaget. Ia tidak berani main timpuk batu lagi, tapi segera ia djemput sebatang ranting kaju, dengan gerakan “Sun-tjui-tui-tjiu” (mendorong perahu menurut arus) ia terus tusuk pundak Tik Hun.

Ilmu pedang keturunan keluarga Tjui memang sangat hebat, meski sendjata jang digunakan hanja sebatang kaju, tapi tjara menusuknja sangat tjepat, sekalipun Tik Hun dalam keadaan sehat walafiat djuga bukan tandingannja, apalagi sekarang. Maka begitu tusukan itu tiba, sedapat mungkin ia miringkan pundak untuk menghindar. Namun mendadak Tjui Sing ganti tipu serangan, dengan “Oh-liong-tam-djiau” (naga hitam mendjulur tjakar), “plok”, dengan tepat udjung kaju kena “tjakar” dikening Tik Hun.

Pabila sendjata jang dipakai Tjui Sing adalah pedang benar2, maka djiwa Tik Hun

pasti sudah melajang. Namun demikian, biarpun tjuma sebatang kaju sadja toh djuga sudah membikin Tik Hun kesakitan setengah mati hingga mata ber-kunang2.

“Sepandjang djalan kau Hwesio djahanam ini telah menjiksa nonamu, kini dapatkah kau menjiksa aku lagi? Katanja kau hendak memotong lidahku, hajolah, mengapa tidak tjoba2 potong?” demikian damperat Tjui Sing.

Habis itu, kembali ia angkat ranting kaju itu menghantam dan menjabat keatas kepala, pundak dan pinggang Tik Hun, setiap kali kena dihadjar, kontan tubuh Tik Hun bertambah babak belur,

“Hajolah, mengapa kau tidak minta tolong Tjosuyamu? Hm, biarlah kuhadjar mampus dulu kau Hwesio djahat ini!” begitulah sambil memaki Tjui Sing terus menghudjani Tik Hun dengan hadjaran ranting kaju itu.

Karena takdapat melawan, terpaksa Tik Hun hanja tutupi kepala dan mukanja dengan kedua tangan. Namun begitu tangan dan lengannja mendjadi ikut babak-belur djuga hingga darah bertjetjeran. Saking sakitnja Tik Hun mendjadi nekat. Mendadak ia pegang ranting kaju orang waktu Tjui Sing menjabatnja lagi, lalu dibetot se-kuat2nja. Kalau Tjui Sing tidak lepas tangan, bukan mustahil ia akan dipeluk oleh Tik Hun. Terpaksa ia lepas tangan, dan mendadak Tik Hun lantas balas menjabatkan ranting kaju itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: