Ang I Niocu ~ Jilid 10

“Kau boleh anggap begitu. Akan tetapi ibumu sudah meninggal, tak perlu diributkan lagi. Yang penting adalah ayahmu, karena kalau tidak cepat-cepat kau hibur hatinya, kiraku tak lama lagi ayahmu akan menyusul ibumu.”

Bercucuran air mata dari sepasang mata gadis cilik itu ketika mendengar kata-kata ini. Akan tetapi tetap saja ia tidak memperdengarkan isak tangis.

“Kakek yang baik, harap kau suka membawaku kepada Ayah…”

Kata-kata terhenti dan di lain saat Im Giok telah “terbang”. Pergelangan tangannya dipegang oleh Bu Pun Su dan ketika kakek ini berlari, Im Giok merasa seakan-akan ia telah terbang. Kedua kakinya tidak menginjak tanah, akan tetapi tubuhnya melayang sedemikian cepatnya sehingga ia terpaksa harus menutup kedua matanya. Hanya telinganya saja yang mendengar suara angin dan mukanya terasa dingin tertiup angin. Diam-diam bocah ini merasa kagum dan juga terkejut sekali. Ia tadi memang telah menyaksikan betapa lihainya kakek ini yang dengan mudah mengalahkan Kam Kin. Akan tetapi karena memang ia memandang rendah kepada Kam Kin, kemenangan Bu Pun Su tadi tidak dianggap istimewa. Gurunya sendiri pasti dengan mudah mengalahkan Kam Kin. Akan tetapi berlari cepat seperti ini, benar-benar luar biasa sekali dan gurunya sendiri kiranya tak mungkin dapat menirunya.

***

Di luar kota tembok Liong-san-mui terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah lama tak pernah mengebulkan asap hio, tanda bahwa kelenteng itu tidak dipakai orang lagi. Sudah bertahun-tahun kelenteng itu tinggal kosong dan makin lama makin rusak tidak terpelihara. Penghuninya hanya laba-laba yang membuat sarang di setiap sudut, membuat kelenteng itu nampak menyeramkan sekali. Tidak ada orang berani masuk ke dalam, bahkan para jembel yang tidak mempunyai tempat tinggal dan mempergunakan ruang depan kelenteng itu untuk tempat tidur dan berteduh, tidak berani sembarangan masuk ke dalam kelenteng.

Akan tetapi akhir-akhir ini, kurang lebih seminggu sudah, terjadi perubahan besar. Tidak ada lagi jembel yang berani tinggal di situ dan keadaan kelenteng itu tidak kosong lagi. Seorang laki-laki bertubuh gagah dan tampan, berpakaian sebagai seorang pendekar, menjadikan itu tempat tinggalnya. Orang ini gerak-geriknya aneh sekali, wajahnya selalu nampak muram dan berduka, akan tetapi tidak jarang orang mendengar gema suara ketawanya memecah kesunyian tengah malam. Semenjak ia mengusiri semua jembel dari ruang depan kelenteng, kemudian memukul kocar-kacir belasan orang pengemis yang datang hendak merampas kembali tempat berteduh, tidak ada lagi orang berani datang mengganggunya.

“Dia pendekar aneh,” kata seorang yang mengerti ilmu silat, “gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat tinggi. Lihat saja cara ia menyarungkan pedangnya, tentu pedang pusaka.”

“Dia berotak miring,” berbisik orang ke dua, “Pernah di tengah malam aku mendengar dia tertawa bergelak seperti iblis, dan pernah aku mendengar ia menangis tersedu-sedu dan akhirnya memaki-maki.”

“Dia orang aneh, benar-benar pendekar aneh,” demikian akhirnya orang mengambil kesimpulan. Tadinya penduduk Liong-san-mui mengeluarkan sebutan “pendekar aneh” ini dengan nada mengejek dan menertawakan, akan tetapi tiga hari kemudian semenjak orang itu berada di situ, sebutan ini berubah menjadi sebutan yang disertai rasa kagum, segan, dan menghormat. Tak seorang pun berani lagi menganggapnya “berotak miring” betapapun aneh kelakuan orang ini. Hal ini terjadi setelah pendekar aneh yang dianggap gila ini pada suatu malam, seorang diri dan bertangan kosong, telah merobohkan serombongan perampok yang mengganggu kota Liong-san-mui, dan menyerahkan rombongan perampok terdiri dari tujuh belas orang ini kepada yang berwajib!

Tikoan, pembesar yang menerima tawanan perampok itu, menghaturkan terima kasih dan menanyakan nama orang gagah itu. Akan tetapi, benar-benar orang aneh. Dia tidak mengaku bahkan nampak marah-marah ketika berkata,

“Kewajiban Taijin hanya menerima dan menghukum orang-orang jahat itu, habis perkara. Perlu apa tanya-tanya namaku? Aku tidak minta hadiah!” Maka pergilah ia meninggalkan Tikoan yang menjadi bengong akan tetapi tidak berani berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang bersikap aneh dan kurang ajar itu. Karena sikap yang kurang ajar ini, maka selanjutnya pada pembesar setempat tidak mau dan sungkan menghubunginya. Akan tetapi betapapun juga, penduduk amat berterima kasih dan menganggapnya sebagai tuan penolong atau pendekar budiman.

Siapakah pendekar aneh itu? Untuk mengenalnya, mari kita melihat ke dalam kelenteng dan mengikuti gerak-geriknya.

Di ruangan yang paling dalam di kelenteng itu, ruangan yang gelap akan tetapi bersih dari sarang laba-laba karena ruangan ini dijadikan kamar tidur dan telah dibersihkan, nampak seorang laki-laki duduk bersila di atas lantai yang telah disapu bersih. Seperti seorang bersamadhi, laki-laki ini duduk bersila menghadapi meja sembahyang yang sudah tua dan sudah amat lama tak pernah dipakai orang. Kalau orang melihatnya dari belakang, tentu mengira bahwa ia sedang bersamadhi, tak bergerak seperti patung. Akan tetapi kalau orang melihat dari depan dan berada dekat dengannya, akan kelihatan jelas bahwa orang biarpun tubuhnya tak bergerak, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak dan terdengar ia bercakap-cakap dengan suara perlahan. Dari sepasang mata yang dipejamkan itu bercucuran air mata dan kalau orang mendengar ia seperti bercakap-cakap tanya jawab dengan seorang yang tidak kelihatan, orang tentu akan menganggap ia gila.

“Bi Li, aku memang berdosa besar padamu, isteriku… Aku mengaku sekarang akulah sebenarnya yang membunuhmu, aku yang memaksamu meninggal dunia karena menyiksa hatimu. Aku orang berdosa besar, Bi Li. Kauampunkan suamimu yang hina dan bodoh ini, isteriku…”

Mendengar ucapan dalam bisikan ini, tahulah kita bahwa orang itu bukan lain adalah Jeng-jiu-san Kiang Liat. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah menerima pukulan hebat dari penuturan Ceng Si bekas pelayan isterinya bahwa sesungguhnya isterinya itu tidak berdosa apa-apa, dan bahwa isterinya meninggal dunia karena menyesal dan berduka ditinggal suaminya, Kiang Liat seperti orang gila. Hatinya penuh penyesalan dan ia merantau ke sana ke mari. Hidupnya hanya bertujuan satu, yakni mencari puterinya yang diculik oleh Pek Hoa Pouwsat. Kalau kiranya Bi Li tidak meninggalkan anak, tentu Kiang Liat sudah membunuh diri untuk menyusul isterinya yang tercinta. Ia tidak mempedulikan lagi keadaan tubuhnya yang menderita pukulan batin dan membuat ia kadang-kadang muntah darah. Akan tetapi ia mulai mengumpulkan uang, dan sesuai dengan wataknya, ia memberantas kejahatan. Tiap kali ia membasmi penjahat, selalu ia merampas milik penjahat itu dan sebentar saja ia telah dapat mengumpulkan harta kekayaan yang besar juga, yang disembunyikan dalam sebuah gua. Selama empat tahun lebih ia merantau, mencari-cari Pek Hoa akan tetapi sia-sia belaka, tak seorang pun di dunia kang-ouw tahu ke mana siluman itu menghilang.

Kiang Liat mengumpulkan uang bukan sekali-kali karena ia ingin hidup bersenang-senang, akan tetapi ia sengaja mengumpulkan harta untuk kelak dipakai menyenangkan hidup Im Giok anaknya.

Bahkan ia mulai pula mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian bersih dan indah, karena ia ingin kelihatan gagah apabila ia berhasil bertemu dengan puterinya. Setiap malam ia teringat kepada isterinya itu. Keadaan pendekar ini benar-benar amat memilukan hati. Hukuman yang dideritanya akibat kecerobohannya terhadap isterinya, benar-benar amat berat.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu sambil memandang ke atas meja, Kiang Liat diam beberapa lama, sikapnya seperti mendengarkan orang bicara kepadanya. Kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata,

“Tentu saja, Bi Li. Aku pasti akan mencari Im Giok sampai dapat. Aku akan mengadu nyawa dengan siluman Pek Hoa dan merampas kembali anak kita. Sudah empat tahun aku mencari jejaknya dengan sia-sia, akan tetapi aku tidak putus asa. Sebelum putus nyawaku, aku takkan berhenti berusaha mencari Im Giok.”

Kemudian Kian Liat menarik napas panjang, menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya dan berkata lagi, “Kau tidak percaya kepadaku, Bi Li? Sudah sepantasnya kalau kau tidak mempercaya seorang suami goblok seperti aku, seorang suami buta yang menuduh isterinya yang setia berlaku tidak patut. Memang kau berhak tidak percaya kepadaku, Bi Li isteriku. Akan tetapi, biarlah aku Kiang Liat bersumpah, aku akan mencari Im Giok sampai saat penghabisan. Biarlah rambutku menjadi saksi!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat mencabut pedangnya dan berlutut. Dengan tangan kiri dijambaknya rambutnya yang hitam panjang, dan tangan kanan yang memegang pedang bergerak membabat rambutnya sendiri! Putuslah rambut di kepalanya dan kepala itu kini hanya tinggal ditumbuhi rambut pendek saja.

“Ayaaah….,!” Tiba-tiba bayangan merah melayang turun dan ternyata yang melompat turun adalah seorang gadis cilik berpakaian merah sedangkan di belakangnya turun seorang kakek.

Kiang Liat memandang dengan mata bengong, tidak mengenal siapa adanya anak yang menyebut ayah kepadanya itu. Kemudian ketika ia melirik ke arah kakek yang telah berdiri di belakang gadis cilik itu ia terkejut sekali, melempar pedangnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Kiang Liat boleh jadi agak gendeng dan miring otaknya apabila ia tenggelam dalam lamunan sendiri dan mengingat akan isterinya, akan tetapi di lain saat ia merupakan seorang manusia biasa yang sadar,

“Teecu tidak tahu akan kedatangan Suhu Bu Pun Su, mohon ampun jika teecu tidak menyambutnya,” katanya penuh hormat dan segan. Memang kalau ada orang di dunia ini yang disegani dan ditakuti oleh Kiang Liat, orang itu tak lain hanya Bu Pun Su dan mungkin juga Han Le.

Bu Pun Su memandang kepada Kiang Liat, sinar matanya penuh belas kasihan.

“Kiang Liat, jangan terlalu jauh dilarutkan oleh lamunan dan kedukaan. Inilah Kiang Im Giok puterimu, sengaja kubawa ke sini agar kau dapat hidup kembali bersama puterimu. Pergunakanlah sisa hidupmu sebaiknya untuk mendidik anakmu ini, Kiang Liat.”

Mendengar ini, dengan muka pucat Kiang Liat menengok ke arah Im Giok. Ayah dan anak berpandangan, dua pasang mata perlahan-lahan mengeluarkan air mata, dua pasang bibir bergerak-gerak dan bergemetar tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata. Kiang Liat mengulurkan dua lengan yang tangannya menggigil, dan Im Giok perlahan melangkah maju.

“Im Giok… kau… anakku…?”

“Ayaah…!”

Di lain saat ayah dan anak itu sudah berpelukan dan bertangisan. Bu Pun Su terbatuk-batuk untuk menenangkan hatinya sendiri yang ikut merasa terharu dan pilu, kemudian setelah membiarkan mereka melepaskan perasaan hati untuk sementara, lalu berkata,

“Sudahlah, tak baik menurutkan perasaan, mendatangkan kelemahan saja. Kiang Liat, anakmu ini berbakat baik dalam ilmu silat, biar aku tinggalkan dua macam ilmu silat untuk kelak kauturukan kepadanya. Akan tetapi kauhati-hatilah, wataknya keras dan aneh, perlu dikendalikan dengan kuat!”

Kiang Liat girang sekali mendengar ini.

“Im Giok, anakku, lekas kau menghaturkan terima kasih kepada Susiok-couw-mu (Paman Kakek Guru).” Kiang Liat menarik tangan Im Giok dan keduanya berlutut di depan kakek sakti itu.

Dengan amat tekun, Kiang Liat mempelajari dua ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su untuk Im Giok. Pertama-tama Bu Pun Su minta supaya Im Giok bersilat menurut apa yang ia pelajari dari Pek Hoa Pouwsat. Bu Pun Su adalah seorang sakti yang memiliki kepandaian aneh dan luar biasa. Sekali saja melihat, ilmu silat apapun juga dapat ia tiru dengan gerakan yang jauh lebih sempurna daripada aselinya! Demikian pula dengan ilmu silat yang dimainkan oleh Im Giok, sekali melihat kakek ini dapat menurunkan ilmu silat yang sama, akan tetapi yang sama sekali bebas dari kelemahan dan kekurangan. Pendeknya, Bu Pun Su memperbaiki dan menyempurnakan ilmu silat yang seperti tarian, yang dipelajari oleh Im Giok dari Pek Hok Pouwsat. Adapun ilmu silat ke dua yang ia turunkan kepada Kiang Liat untuk Im Giok adalah ilmu silat pedang yang disesuaikan pula dengan gerakan dan bakat yang sudah menjadi dasar dari Im Giok. Selain dua macam ilmu silat yang khusus untuk Im Giok ini, juga kepada Kiang Liat kakek ini menurunkan ilmu berlatih lwee-kang dan gin-kang sehingga Kiang Liat merasa bersukur sekali. Sampai dua pekan Bu Pun Su tinggal di kelenteng kuno itu bersama Kiang Liat dan Im Giok dan siang malam mereka tekun menerima pelajaran baru dari kakek sakti itu.

Setelah selesai dan hendak meninggalkan mereka, Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Kiang Liat, dan kau juga Im Giok, dengarkan baik-baik. Setelah kalian menerima pelajaran dariku, maka selanjutnya kalian harus menjaga diri baik-baik. Sekali saja aku mendengar kalian menggunakan kepandaian yang kalian pelajari dariku untuk melakukan perbuatan menyeleweng dan sewenang-wenang, aku sendiri akan datang memberi hukuman berat.”

Setelah Bu Pun Su pergi, Kiang Liat memeluk puterinya dan berkata dengan hati gembira.

“Anakku, mari kita pulang ke Sian-koan dan mulai hidup baru. Akan kusediakan rumah gedung untukmu, pakaian-pakaian indah dan jangan kau khawatir, anakku. Aku akan berusaha supaya kau kelak menjadi seorang dara perkasa yang jarang tandingannya, seorang yang hidup penuh kebahagiaan tidak kekurangan sesuatu!”

Im Giok sudah mendengar sumpah ayahnya dari atas genteng, maka ia tidak perlu mendengar janji-janji yang lain. Ia sudah merasa amat kasihan dan terharu melihat nasib ayahnya, dan ia merasa amat bangga karena ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki gagah yang patut dibanggakan.

Demikianlah, ayah dan anak itu pulang ke Sian-koan. Dengan uang yang ia simpan, Kiang Liat membangun sebuah gedung baru dengan taman bunga yang luas dan indah, perabot-perabot rumah serba baru, pendeknya ia berusaha untuk membikin senang hati puteri tunggalnya. Im Giok baru berusia hampir sebelas tahun, maka menerima budi kecintaan ayahnya yang berlimpah-limpah ini, mau tidak mau timbul sifat manja dalam hatinya. Memang beginilah, tidak hanya Kiang Liat, banyak orang tua-tua di dunia ini yang keliru menyatakan sayangnya kepada anak sehingga bukan anak menjadi baik sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya anak menjadi manja. Untungnya, Im Giok memang sudah mempunyai dasar watak gagah dan baik sehingga sikap ayahnya itu hanya mendatangkan sebuah cacat lagi, yaitu manja dan ingin dituruti segala kehendaknya. Di samping ini lain sifat yang ia warisi dari Pek Hoa Pouwsat adalah sifat pesolek, suka berhias dan berpakaian serba indah dan serba merah, tidak lupa untuk menambah merah pada bibirnya, menambah hitam pada alisnya sehingga setiap saat gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi harus diakui bahwa Im Giok benar-benar baik sekali bakatnya dalam ilmu silat. Ditambah lagi oleh semangat Kiang Liat yang amat besar. Pendekar ini benar-benar mempunyai cita-cita untuk membuat puterinya menjadi seorang gagah, maka ia amat tekun dan hati-hati memimpin puterinya dalam ilmu silat, maka dapat dibayangkan betapa pesat kemajuan yang diperoleh Im Giok.

Akan tetapi, kadang-kadang Im Giok merasa kesepian. Hidup di dekat Kiang Liat jauh bedanya dengan ketika ia masih bersama dengan Pek Hoa. Betapapun besar sayangnya Kiang Liat kepadanya, akan tetapi ayahnya itu seorang pria, dan Im Giok membutuhkan pergaulan dengan sesama kelamin. Selain ini, Im Giok yang melihat ayahnya masih belum tua dan begitu gagah, diam-diam juga prihatin dan berduka kalau teringat akan ibunya. Banyak buku yang ia baca karena ayahnya menyediakan untuknya dan mengajarnya pula, memberi pelajaran kepada Im Giok bahwa seorang seperti ayahnya itu sudah sepatutnya kalau menikah lagi dengan seorang gadis cantik pengganti ibunya yang telah meninggal.

Sifat Im Giok yang tidak pemalu dan periang itu membuat ia sebentar saja mempunyai banyak kawan di kota Sian-koan. Tidak jarang gadis ini keluar rumah dan mengunjungi tetangga dan biarpun hal ini termasuk kebiasaan yang janggal, namun ayahnya tidak melarangnya. Kiang Liat cukup maklum bahwa puterinya telah memiliki kepandaian yang cukup untuk dipakai menjaga diri, dan selain ini, siapakah yang berani mengganggu puteri Jeng-jiu-sian Kiang Liat?

Setahun kemudian, pada suatu sore, Im Giok pulang dari tetangga bersama seorang gadis yang cantik. Gadis ini pipinya kemerahan, sepasang matanya yang jeli dan kocak kelihatan agak berduka. Namun harus diakui bahwa gadis memiliki sepasang mata yang indah dan bening, seperti sepasang kemala. Usianya kurang lebih enam belas tahun dan tubuhnya sehat dan nampaknya biasa bekerja berat.

Kiang Liat bangkit dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Dengan malu-malu gadis remaja itu menjura sebagai penghormatan kepada Kiang Liat.

“Im Giok, siapakah nona ini dan mengapa kau membawa dia ke sini?” tanya Kiang Liat dengan nada menegur dalam suaranya.

“Ayah, jangan marah dulu,” kata Im Giok dengan sikap manja, “dia ini adalah sahabat baikku, namanya Kim Lian, Song Kim Lian, rumahnya di sebelah barat itu. Enci Kim Lian, kau duduk dulu di sini, ya! Aku mau bicara dengan Ayah,” Im Giok lalu menghampiri ayahnya, memegang tangan ayahnya itu dan menariknya ke ruangan sebelah dalam.

Dengan kening berkerut Kiang Liat mengikuti puterinya, hatinya tidak enak.

“Kau mau apakah, Im Giok?” tanyanya setelah mereka berada di ruang dalam.

“Ayah, bagaimana ayah lihat Enci Kim Lian itu? Cantik dan matanya seperti mata burung Hong, bukan?”

Kerut di kening Kiang Liat makin mendalam. “Kalau dia cantik dan bermata bagus, habis mengapa?”

“Ayah, aku selalu merasa kesunyian.”

“Kan ada Ayah, ada banyak pelayan.”

“Ayah laki-laki dan para pelayan… ah, mereka selalu bermuka-muka, aku tidak suka. Ayah juga… Ayah juga kesepian, bukan?”

Kiang Liat memegang pundak Im Giok, memandang tajam dan berkata,

“Im Giok, pikiran ganjil apakah yang terkandung dalam kepalamu? Hayo katakan terus terang, jangan berputar-putar.”

Im Giok menarik napas panjang, sukar agaknya untuk bicara. Akhirnya ia memberanikan hatinya, memegang tangan ayahnya dengan sikap manja dan berkata,

“Jangan marah, ya Ayah? Aku bermaksud baik. Sahabatku Kim Lian ini adalah seorang sahabat yang baik, lagi pula dia sudah yatim piatu, kalau saja… kalau saja dia dapat tinggal di sini, aku mempunyai kawan, alangkah baiknya.”

“Menjadi pelayan?” Kiang Liat menjelaskan.

Im Giok cemberut. “Dia sahabatku, bagaimana harus menjadi pelayan? Biarkan saia dia tinggal di sini, serumah dengan kita, Ayah.”

Kembali kening Kiang Liat berkerut. “Ah, Im Giok. Ada-ada saja kau ini. Tak tahukah kau bahwa seorang gadis dewasa seperti dia itu tidak patut sekali kalau tinggal di rumah orang lain, apalagi di rumah seorang duda?”

“Karena itu, alangkah baiknya kalau Ayah… kawin saja dia!” kata Im Giok cepat.

Tangan ayahnya yang tadinya memegang pundak tiba-tiba terlepas dan Kiang Liat terduduk di atas kursi, wajahnya pucat dan matanya melotot memandang kepada Im Giok. Gadis cilik ini kaget sekali dan agak ketakutan, mundur dua langkah.

“Im Giok…” akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat dan perlahan, dengan gigi dirapatkan menahan nafsu marah. “Kalau bukan kau yang mengajukan usul macam ini, tentu kupukul mampus sekarang juga! Apa kau sudah gila? Kalau tidak untuk kau aku sudah menyusul ibumu. Untuk apa hidupku di dunia ini melainkan untuk kau? Bagaimana kau bisa menyuruh aku menikah dengan perempuan lain dan mengkhianati ibumu?”

Im Giok menangis dan menubruk ayahnya. Ia berlutut dan menaruh kepala di atas pangkuan ayahnya.

“Ampunkan aku, Ayah. Aku tidak sengaja menyakiti hati Ayah. Aku hanya ingin punya kawan, aku… aku kehilangan Enci Pek Hoa. Ayah…”

Melihat keadaan anaknya, luluh hati Kiang Liat, lenyap marahnya. Ia berpikir sejenak lalu berkata,

“Sudah, diamlah, anakku. Aku bisa memenuhi keinginanmu, akan tetapi bukan menikah. Mengingat bahwa Kim Lian sudah yatim piatu, dan selain engkau aku pun tidak punya murid, dan melihat gerak kakinya tadi cukup tegap dan kuat, biarlah dia menjadi muridku belajar di sini dan mengawanimu. Bagaimana?”

Im Giok hampir bersorak. Ia bangkit berdiri, memeluk ayahnya dan berlari ke ruangan depan. Tak lama kemudian ia sudah datang lagi berlarian sambil menggandeng tangan Kim Lian. Agaknya dia sudah menuturkan kepada sahabatnya itu, karena begitu berhadapan dengan Kiang Liat, Kim Lian lau menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sambil menyebut,

“Suhu…!” suaranya merdu dan halus.

“Bangunlah! Kau menjadi muridku atas desakan Im Giok. Akan tetapi entah kau suka atau tidak belajar ilmu silat yang kasar,” kata Kiang Liat.

“Ayah… jangan Ayah memandang rendah kepada Enci Kim… eh, kepada Suci (Kakak Seperguruan) Kim Lian. Dalam bermain-main dan selama setahun menjadi kawanku, dia telah banyak dapat meniru gerakan silatku. Suci, coba kauperlihatkan kebisaanmu kepada Ayah.”

“Ah Sumoi, kau membikin aku malu saja…” Kim Lian mengerling dengan muka merah dan senyum dihukum.

Kiang Liat kembali mengerutkan kening melihat lagak yang genit dan menarik hati laki-laki ini. Hem, dalam banyak hal gerak-gerik Kim Lian ini hampir sama dengan anaknya, pikirnya.

“Tak usah malu-malu, kauperlihatkanlah apa yang sudah kaupelajari. Dengan melihat gerakanmu, aku bisa mengira-ira sampai di mana tingkatmu.”

Mendengar perintah suhunya, Kim Lian lalu bersilat seperti apa yang ia lihat dan pelajari dari Im Giok. Dan Kiang Liat tercengang. Benar sekali kata-kata Im Giok. Gadis cantik ini memiliki bakat yang luar biasa, sungguhpun tidak sebesar bakat Im Giok, akan tetapi kelemasan gerak kaki tangannya menunjukkan bahwa Kim Lian mempunyai bakat ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada gadis-gadis biasa. Memang sukar mencari seorang murid wanita dengan bakat seperti ini. Timbullah kegembiraan hati Kiang Liat dan mulai hari itu Kim Lian menjadi murid Jeng-jiu-sian Kiang Liat, belajar ilmu silat bersama Im Giok yang tentu saja sudah amat jauh meninggalkannya. Bahkan dalam latihan sehari-hari, boleh dibilang Kim Lian dilatih oleh Im Giok yang mewakili ayahnya. Kiang Liat masih saja berlaku sungkan dan likat-likat, maka ia hanya memberi contoh dan petunjuk-petunjuk teori saja, sedangkan prakteknya ia serahkan kepada Im Giok untuk mengajar sucinya.

Benar saja, setelah Kim Lian tinggal di rumah gedung itu, Im Giok menjadi gembira sekali. Tidak saja ia menjadi makin giat berlatih ilmu silat, juga ia tekun memperdalam ilmu surat dan bahkan suka belajar menyulam bersama sucinya. Adapun dalam hal mempersolek diri, agaknya Kim Lian merupakan imbangan yang baik bagi Im Giok. Tentu saja Kim Lian tidak secantik Im Giok, karena sesungguhnya sukar mencari seorang gadis secantik Im Giok, akan tetapi pada umumnya Kim Lian juga seorang gadis yang manis dan cantik, lagi pandai beraksi.

Biarpun Kim Lian mulai belajar ilmu silat setelah ia berusia belasan tahun dan telah dewasa, akan tetapi berkat bakatnya yang baik dan terutama sekali oleh karena ia belajar di bawah pimpinan seorang ahli silat kelas tinggi, maka ia pun mewarisi ilmu silat tinggi dan menjadi seorang ahli silat yang pandai. Seperti juga Im Giok, ia memiliki gin-kang yang luar biasa, hanya sedikit saja kalah oleh sumoinya itu, sungguhpun dalam hal lwee-kang ia kalah jauh.

Akan tetapi, diam-diam Kiang Liat merasa amat khawatir kalau ia melihat watak muridnya ini. Sering kali Kim Lian memperhatikan sikap genit dan memikat di depannya, mengingatkan pendekar ini akan sikap Ceng Si dahulu. Kadang-kadang ia membentak dan menegur muridnya ini, yang diterima oleh Kim Lian dengan senyum manis memikat. Beberapa kali Kiang Liat bahkan menyuruh puterinya menegur, dan kalau Im Giok sudah menegur, baru Kim Lian menghentikan aksinya. Memang Kim Lian tidak takut kepada suhunya karena ia merasa lebih leluasa dan dapat menghadapi seorang laki-laki, akan tetapi terhadap Im Giok, ia merasa takut dan segan. Pertama karena ia merasa berhutang budi kepada sumoinya ini. Kalau tidak ada sumoinya yang menariknya ke dalam rumah gedung mewah itu, hidupnya tentu kekurangan dan mungkin sekali terlantar. Ke dua, ia memang tahu bahwa kepandaian sumoinya jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

“Im Giok, sekarang sucimu telah berusia dua puluh tahun lebih, kiranya sudah cukup lama ia berada di sini dan sudah patut baginya untuk berumah tangga. Bagaimana pikiranmu kalau aku mencarikan seorang suaminya untuknya?” pada suatu hari Kiang Liat berkata demikian kepada Im Giok yang sudah berusia empat belas tahun lebih. Gadis ini sudah cukup dewasa untuk mengerti akan maksud ayahnya. Sering kali Kim Lian memperlihatkan sikap yang memikat di depan ayahnya, maka tentu ayahnya merasa tidak enak sekali. Memang, bagi ayahnya, akan lebih baik kalau Kim Lian keluar dari situ dan menikah dengan seorang pemuda yang baik.

“Baiklah, akan saya sampaikan kepadanya, Ayah,” kata Im Giok yang akhir-akhir ini merasa kasihan dan juga gelisah melihat keadaan ayahnya. Setelah beberapa kali menghadapi godaan Kim Lian, Kiang Liat teringat lagi kepada isterinya dan kepada Ceng Si yang dahulu menggodanya, maka terkenanglah ia akan kebodohannya, akan kekejamannya terhadap isterinya. Kenangan ini membikin kambuh sakit jantungnya, membuatnya pucat dan kadang-kadang batuk-batuk, bahkan sering di tengah malam ia tertawa-tawa dan menangis lagi!

Akan tetapi ketika Im Giok menyampaikan usul ayahnya kepada Kim Lian, sucinya itu memperlihatkan muka berduka, bahkan lalu menghadap Kiang Liat sambil berlutut dan menangis.

“Suhu, teecu mohon supaya Suhu jangan menyuruh teecu pergi dari sini. Teecu rasanya tidak sanggup untuk berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Suhu, tentang menikah, teecu sama sekali tidak ada niat, karena selamanya teecu ingin melayani Suhu dan mengawani Sumoi…”

Kata-kata ini biarpun diucapkan dengan suara bersedih dan terputus-putus, akan tetapi bagi pendengaran Kiang Liat hanya bermaksud satu, yakni Kim Lian akan menerima dengan hati terbuka kalau gurunya mau mengambilnya sebagai isteri sehingga gadis ini selamanya akan melayaninya, juga takkan berpisah dari Im Giok! Merah muka Kiang Liat dan ia merasa dadanya sakit. Ia selalu ingat akan kesetiaan mendiang isterinya dan akan kekejiannya memfitnah isterinya, maka ia telah bersumpah untuk membalas isterinya itu dengan kesetiaan selama hidup. Oleh karena ini, setiap godaan seorang wanita membangkitkan penyesalannya kepada diri sendiri dan membuat dadanya terasa sakit.

“Kim Lian, jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu. Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Kami tentu saja tidak mengusirmu, dan terus terang saja, kehadiranmu di rumah ini banyak mendatangkan kegembiraan Im Giok dan untuk ini aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi tentang menikah, kau sudah berusia dua puluh tahun lebih, sudah lebih dari cukup waktunya untuk berumah tangga sendiri, Kim Lian. Jangan kau khawatir, aku dapat memilihkan seorang calon suami yang baik, percayalah kepadaku karena sebagai guru aku takkan menyesatkan murid sendiri…”

Makin sedih tangis Kim Lian mendengar ini. Ia merangkul Im Giok lalu berkata, “Suhu, apa saja kehendak Suhu pasti teecu taati asal saja teecu jangan disuruh berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Tentang menikah… teecu akan menanti Sumoi. Kalau Sumoi sudah menikah , barulah teecu suka menikah pula… ini sudah menjadi sumpah di dalam hati teecu.”

Kiang Liat menjadi mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kata-kata itu hanya akal saja, alasan untuk menggagalkan usulnya.

“Hm, perempuan memang aneh. Lain di mulut lain di hati,” pikirnya. “Pada hatinya jelas nampak ia ingin melayani laki-laki, akan tetapi mulutnya bilang tidak mau menikah!” Kemudian dengan suara marah ia berkata,

“Kim Lian, kau yang bersumpah, bukan aku yang memaksa. Kau harus memegang teguh sumpahmu itu, kalau tidak, aku akan marah kepadamu. Aku tidak sudi melihat muridku bermain lidah dan tidak dapat dipegang kata-katanya. Ingat, kau sudah bersumpah takkan menikah sebelum Im Giok menikah. Baik, akan begitulah jadinya!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat meninggalkan dua orang gadis itu dan masuk ke dalam kamarnya.

Semenjak saat itu, sikap Kiang Liat makin pendiam. Jarang sekali ia bicara dengan Im Giok. Kepada Kim Lian, ia sama sekali tidak pernah bicara lagi. Akan tetapi anehnya, mulai saat itu ia makin giat melatih dua orang gadis itu. Pagi-pagi sekali ia sudah memaksa mereka bangun, berlatih ilmu silat sampai kedua orang gadis itu hampir tidak kuat lagi. Demikian pun pada siang hari, bahkan sering kali pada malam hari. Pendeknya, Kiang Liat tidak memberi mereka kesempatan untuk bermalas-malasan.

“Seorang wanita harus kuat, baru aman hidupnya,” katanya di depan dua orang gadis itu. “Kalian harus dapat menerima semua kepandaianku sebelum aku lupa lagi.”

Demikianlah, hampir tiga tahun lamanya Kiang Liat menggembleng puterinya dan muridnya. Payah-payah Im Giok dan Kim Lian mengikuti latihan ilni, akan tetapi hasilnya juga luar biasa sekali. Im Giok secara terpisah telah menerima latihan ilmu-ilmu silat yang ditinggalkan oleh Bu Pun Su untuknya, dan ternyata ia memang cocok sekali dengan ilmu silat gubahan Bu Pun Su ini. Gerakannya memang lemas dan indah, sehingga sering kali diam-diam Kiang Liat mengerutkan keningnya karena kalau ia melihat puterinya itu bersilat seperti orang menari dengan mata bersinar-sinar, pipi kemerah-merahan dan bibir tersenyum-senyum, teringatlah ia akan Pek Hoa Pouwsat! Alangkah miripnya anaknya itu dengan Pek Hoa. Benar seperti pernah dikatakan oleh Bi Li isterinya dahulu.

Adapun Kim Lian, selama tiga tahun ini pun memperoleh kemajuan hebat. Tujuh tahun ia menjadi murid Kiang Liat, akan tetapi yang tiga tahun terakhir ini hasilnya jauh melampaui empat tahun pertama. Kepandaian Kim Lian kini sudah dapat direndengkan dengan tingkat orang-orang pandai, bahkan sudah hampir menyusul kepandaian Kiang Liat sendiri. Tentu saja ia masih kalah oleh Im Giok yang ternyata bahkan telah melampaui ayahnya sendiri! Hal ini adalah karena ia mempelajari jimu silat gubahan Bu Pun Su secara mendalam, sedangkan Kiang Liat hanya menghafal saja agar tidak lupa. Apalagi Kiang Liat memang hanya bersilat untuk mengajar, sama sekali tidak pernah ia berlatih untuk kemajuan diri sendiri. Bahkan kalau terlalu lama ia bersilat, dada kirinya terasa sakit sekali. Ia maklum bahwa ia telah mendapat luka di dalam, mendapat penyakit di dalam jantungnya, akan tetapi ia sengaja tidak mau mengobati, tidak mau mencari obat. Tidak jarang ia batuk-batuk darah, akan tetapi semua ini ia sembunyikan dari Im Giok, takut kalau-kalau puterinya akan menjadi gelisah dan berduka karenanya.

***

Pada suatu pagi dan indah di musim Chun (Semi). Matahari muncul di angkasa yang bersih sambil tersenyum gembira, disambut dengan segala kehormatan oleh kicau burung dan mekarnya bunga di dalam hutan. Binatang-binitang hutan pun nampak bergembira di saat seperti itu. Ayam-ayam hutan berkejar-kejaran di atas tanah dan di atas pohon. Kelinci dan tikus melompat ke sana ke mari di antara gerombolan pohon kembang. Kupu-kupu bersayap indah beterbangan dan menari-nari mengelilingi bunga cantik. Seperti kelinci yang tidak takut akan ancaman harimau, kupu-kupu ini pun tidak takut akan ancaman burung-burung. Agaknya di saat seindah itu, binatang-binatang yang paling buas pun merasa enggan untuk mengotori suasana damai dan tenteram dengan pembunuhan kepada sesama mahluk, sungguhpun pembunuhan itu berarti mengisi perut yang kosong dan lapar! Ataukah kebetulan saja harimau-harimau dan burung-burung itu sudah kenyang maka mereka tidak mengganggu kelenci dan kupu-kupu? Mungkin sekali, karena, hanya manusia-manusia saja yang masih temaha dan murka dalam kekenyangannya. Lain mahluk tidak ada yang sekejam manusia.

Tiba-tiba terdengar suara manusia tertawa yang nyaring dan merdu, mula-mula sayup-sampai kemudian makin jelas datang dari jauh memasuki hutan itu. Terdengarnya suara ketawa semerdu itu memang cocok sekali dengan keadaan hutan yang indah dan gembira menyambut munculnya matahari itu. Kemudian tersusul bunyi derap kaki kuda dan suara ketawa-ketawa gadis remaja.

Kalau orang memperhatikan seruan-seruan itu, ia tentu akan merasa heran sekali mengapa mula-mula terdengar suara nyaring baru kemudian terdengar derap kaki kuda bagaimana suara ketawa sedemikian merdu tanda suara ketawa wanita, dapat mengatasi suara derap kaki kuda yang biasanya dapat terdengar sampai jauh? Akan tetapi kalau pendengar tadi seorang ahli silat tinggi, ia akan tahu bahwa suara ketawa tadi dikeluarkan dengan pengerahan tenaga lwee-kang dan penggunaan ilmu yang disebut Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara dari Jarak Jauh).

Kemudian terdengar suara yang bening, merdu dan genit dari seorang gadis remaja, “Sumoi (Adik Perempuan Seperguruan), jangan terlalu cepat! Kaulihat bunga ini, alangkah indahnya…!” Yang bicara ini adalah seorang gadis yang bertubuh agak tinggi langsing, berwajah cantik, sepasang matanya luar biasa sekali dan menjadi bagian yang paling indah dari kecantikannya, mata yang bercahaya, bening dan bagus bentuknya. Ia memakai baju warna kuning, celana sutera biru, ikat pinggangnya merah, tangan kiri memegang kendali kudanya yang berbulu coklat, sedangkan tangan kanan memegang sebatang cambuk pendek. Benar-benar seorang gadis yang selain cantik juga amat gagah sikapnya. Usianya sudah dua puluh tahun lebih, sudah cukup dewasa, laksana buah sudah masak dan sedap dipandang.

Gadis baju kuning ini menghentikan kudanya di depan serumpun pohon kembang di mana terdapat kembang-kembang berwarna putih, kuning, dan merah. Ia tersenyum-senyum memandang bunga-bunga itu dengan kagum, kemudian sekali cambuk di tangannya digerakkan, cambuk itu meluncur ke arah setangkai bunga putih dan di lain saat setangkai bunga putih telah berada di tangan kirinya. Lihai sekali ia mainkan cambuk sehingga cambuk itu dapat memetik kembang demikian tepat dan membawa kembang itu kepadanya tanpa merusak kembang putih, bahkan rontok sedikit pun tidak! Tanda bahwa lwee-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi. Gadis itu tertawa-tawa dan kembali berkata,

“Sumoi, lihat alangkah indahnya bunga-bunga ini!”

Kembali cambuk pendeknya bergerak dan setangkai bunga kuning di lain saat telah berada di tangan kirinya. Ia memandang dan mencium dua tangkai bunga putih dan kuning itu, kemudian ia memandang ke arah bunga merah. Tangan kanan yang memegang cambuk bergerak lagi. Cambuk meluncur ke bawah.

“Tar…!” Sinar merah melayang dengan cepat sekali ke arah cambuk pendek yang terpental melayang ke atas. Gadis itu tertawa pahit sambil menengok ke arah kanan.

“Suci, bunga merah tak boleh sembarang dipetik!” kata dara yang baru datang dan yang menunggang seekor kuda bulu putih.

Kalau orang gagah kagum dan tertarik melihat gadis baju kuning yang cantik manis itu, kini ia akan terpesona dan boleh jadi lupa bernapas kalau ia melihat gadis yang baru datang ini. Ia jauh melebihi gadis baju kuning dalam segala hal, bahkan kiranya akan jauh melampaui mimpi dan lamunan tiap orang pemuda. Cantik jelita sukar menemukan cacat-celanya. Rambutnya hitam sekali, halus panjang, biarpun digelung secara istimewa di atas kepala dengan hiasan-hiasan dari emas permata, masih saja rambut itu kelebihan, memanjang dan bermain-main di atas punggung dan kedua pundaknya. Sepasang alis yang juga hitam kecil memanjang menghias dua buah mata yang indah, dilindungi oleh butu-bulu mata yang melengkung dan panjang. Mata itu memang tidak begitu bercahaya dan indah seperti mata gadis baju kuning, akan tetapi begitu bening dan jelas terisi api kehidupan yang tak pernah padam, membayangkan semangat yang kuat, ketabahan luar biasa, dan kegembiraan hidup yang sehat. Yang paling mengesankan adalah bibirnya yang berbentuk manis sekali, akan tetapi kadang-kadang kulit di bawah bibir, pada lekukan dagu nampak mengeras, tanda bahwa dara ini memiliki hati yang kadang-kadang dapat keras membaja, sungguhpun pada bibirnya dapat diketahui bahwa hati ini pun dapat melembut mesra, hati seorang wanita sejati.

Gadis ini usianya baru tujuh belas tahun paling banyak, namun sinar matanya sudah menunjukkan kematangan jiwa, juga bentuk tubuhnya amat bagus, berisi dan sedang. Tubuh ini tertutup oleh pakaian serba merah, berpotongan indah dan terbuat dari sutera mahal. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah. Tangan kanannya memegang sebatang cambuk yang berwarna merah pula. Inilah sinar yang tadi menangkis cambuk gadis baju kuning mencegah cambuk gadis kuning itu memetik bunga merah.

“Sumoi, mengapa kau mencegah aku memetik bunga?” tanya gadis baju kuning, keningnya berkerut tanda tak senang hati, akan tetapi sikapnya tetap menghormat seakan-akan ia takut terhadap gadis baju merah yang menjadi adik seperguruannya itu.

“Suci, apakah kau tidak melihat warna bunga itu?”

Nona baju kuning memandang ke arah rumpun bunga, lalu tertawa gembira dan berkata, “Aha, Ang I Niocu (Nona Baju Merah), akhirnya bunga merahmu pun pasti akan dipetik orang!” Ia tertawa lagi dengan sikap genit.

Dara baju merah itu pun tertawa dan menjawab, “Giok-gan Niocu, (Nona Bermata Kemala), tidak boleh sembarangan saja orang memetik bunga merah!”

Keduanya tertawa gembira. Nona baju juning itu melemparkan bunga putih ke arah sumoinya yang tidak mengelak atau menyambut, dan bukan main… bunga itu dengan tepat sekali menancap di atas kepala sebelah kiri, menjadi penghias rambut seolah-olah ditancapnya tangan-tangan. Dari sini saja dapat dibuktikan betapa hebat dan tinggi kepandaian menyambit dari Nona Baju Kuning itu.

“Terima, kasih, Suci. Terima kasih untuk bunga putih ini. Putih artinya suci.”

“Aku lebih suka yang kuning ini,” dan Nona Baju Kuning itu menancapkan bunga kuning di atas rambutnya, menambah kecantikannya.

Siapakah dua orang gadis yang seperti bidadari ini? Dara-dara jelita yang selain cantik remaja menarik hati, juga memiliki kepandaian istimewa? Dara baju merah itu bukan lain adalah Kiang Im Giok yang semenjak ikut Pek Hoa Pouwsat memang suka sekali mengenakan pakaian merah dan oleh orang-orang di kota Sian-koan mendapat sebutan Ang I Niocu. Adapun dara baju kuning itu bukan lain adalah Song Kim Lian, anak yatim piatu yang menjadi murid Kiang Liat. Karena gadis ini memiliki sepasang mata yang luar biasa seperti kemala, maka para pemuda kota Sian-koan menghadiahi julukan Giok Gan Niocu. Bagi para penduduk Sian-koan, sepasang dara ini sudah amat terkenal, terutama sekali bagi para pemudanya. Biarpun Im Giok lebih cantik dan hal ini diakui bahwa semua orang, namun para pemuda di kota Sian-koan lebih guka mendekati Kim Lian, karena tak seorang pun berani main-main terhadap Im Giok yang terkenal amat angkuh dan galak terhadap pria. Dan kalau dua orang gadis ini tidak menghendaki, siapakah berani memaksa dan main-main terhadap mereka semua orang tahu bahwa kepandaian sepasang dara ini amat tinggi, bahkan ada yang berani menyatakan bahwa kepandaian mereka sudah lebih tinggi daripada kepandaian Jing-jiu-sian Kiang Liat sendiri! Akan tetapi Kim Lian tidak seperti Im Giok, dan inilah yang membikin senang dan gembira hati para pemuda-pemuda yang tampan, juga kadang-kadang gadis baju kuning bermata intan ini suka melayani mereka bicara sebentar apabila bertemu di jalan. Oleh karena ini, semua pemuda kota Sian-koan seakan-akan berlumba untuk merebut hati Giok Gan Niocu, sedangkan terhadap Ang I Niocu mereka tidak berani berlagak.

Im Giok memang berwatak keras, terutama menghadapi para pemuda ia sama sekali tidak pernah sudi memberi hati. Ia pernah mengalami perlakuan kasar dan menghina dari Kam Kin, dan hal ini cukup membuat gadis ini memandang rendah kaum pria. Apalagi karena dalam pandangannya, di kota Sian-koan, tidak ada seorang pun pemuda yang patut mendapatkan perhatiannya! Sebaliknya, Kim Lian sering kali mempercakapkan tentang pemuda-pemuda tampan dan pandai di kota Sian-koan yang didengar oleh Im Giok dengan senyum mengejek. Di pihak para pemuda, banyak berlancang mulut menyatakan bahwa Kim Lian adalah kekasihnya.

Telah dituturkan di bagian depan betapa Kiang Liat lebih banyak merendam diri dalam lamunan dan kenangan akan isterinya, dan hubungannya dengan puteri dan isterinya, dan hubungannya dengan puteri dan muridnya hanya apabila ia melatih ilmu silat mereka. Selebihnya, Im Giok dan Kim Lian bertindak sekehendak hati sendiri, pelayan banyak, uang ada, segala lengkap. Akan tetapi, untungnya Im Giok adalah seorang gadis yang pandai mengatur rumah tangga pengganti ayahnya. Bahkan Kim Lian yang wataknya binal dan tidak mau tunduk terhadap siapapun kecuali terhadap gurunya, patuh juga menghadapi Im Giok.

Tidak jarang kedua gadis ini keluar rumah berjalan-jalan atau menunggang kuda kalau keluar kota, untuk pesiar. Bahkan beberapa kali mereka mengunjungi jago-jago silat di kota lain untuk minta petunjuk atau kasarnya untuk menguji kepandaian! Dan setiap kali mereka mengunjungi seorang guru silat, pasti guru silat atau jago silat itu roboh baik oleh Im Giok maupun oleh Kim Lian! Oleh karena inilah maka sebentar saja nama Ang I Niocu terkenal sampai jauh di luar kota.

Pada pagi hari itu, untuk menyambut datangnya musim Chun, dua orang dara ini meninggalkan kota Sian-koan, menunggang kuda berpesiar ke dalam hutah yang indah itu. Hutan ini belum pernah mereka datangi karena letaknya memang jauh kurang lebih lima puluh li dari Sian-koan, terletak di lereng pegunungan yang kaya akan hutan-hutan indah.

Seperti biasa, mereka bergembira-ria, terbawa oleh suasana yang indah dan damai di dalam hutan itu.

“Ayah telah berkata benar,” kata Ang I Niocu sambil duduk di atas kuda dan memandang ke kanan kiri, “indah sekali keadaan hutan ini waktu pagi. Pantas saja Ayah menyuruh kita berangkat sebelum fajar agar dapat pagi-pagi sampai di sini.”

“Suhu memang sudah banyak pengalaman, sudah menjelajah di seluruh pelosok. Aku ingin sekali berkelana seperti yang pernah dilakukan oleh Suhu,” kata Giok Gan Niocu Song Kim Lian.

“Mengapa tidak? Aku pun ingin sekali merantau jauh di propinsi-propinsi lain, Suci. Kalau teringat akan guruku Pek Hoa Pouwsat, aku ingin sekali mencari dia.”

“Kau ingin mencoba kepandaian bekas gurumu sendiri?” tanya Kim Lian.

“Tidak hanya mencoba, bahkan aku harus merobohkannya. Dialah yang menyebabkan ibuku meninggal dunia dan ayahku berduka selalu. Dialah musuh besarku yang harus kubunuh!” kata Im Giok dengan suara gemas, akan tetapi hatinya perih kalau ia teringat betapa ia amat kagum dan cinta kepada gurunya itu.

“Mengapa tidak sekarang saja kau pergi mencarinya? Aku suka membantumu, Sumoi, biarpun kepandaianku tidak ada artinya.”

Im Giok menarik napas panjang. “Tak mungkin. Aku tidak mau pergi meninggalkan Ayah. Aku tidak tega, dia kelihatan selalu bersedih…” Wajahnya yang cantik menjadi muram dengan mendadak, juga Kim Lian mengerutkan sepasang alisnya yang hitam seperti dicat.

Tadi ketika mereka bergembira dan bercakap-cakap, mereka kurang memperhatikan hal lain. Sekarang setelah keduanya berdiam diri telinga mereka menangkap suara yang mencurigakan, sayup sampai terdengar bentakan-bentakan dan derap kaki kuda.

Ang I Niocu Kiang Im Giok mendengar lebih dulu, karena memang telinganya lebih terlatih.

“Suci ada terjadi sesuatu di sebelah timur hutan ini,” katanya.

Kim Lian miringkan kepalanya, penuh perhatian. “Benar, Sumoi. Ada orang berteriak minta tolong. Mari kita ke sana.”

Akan tetapi Im Giok sudah membedal kudanya dan di lain saat kedua orang dara itu telah membalapkan kuda masing-masing menuju ke timur. Mereka seakan berlumba, akan tetapi kalau biasanya mereka berlumba sambil tertawa, kini mereka beriumba dengan kening berkerut dan sikap garang.

Mereka selain berkepandaian silat tinggi, juga ahli menunggang kuda, maka sebentar saja mereka telah tiba di tempat terjadinya peristiwa yang sampai di telinga mereka tadi. Dan apa yang mereka lihat di situ membuat dua orang dara itu menjadi merah mukanya saking marahnya.

Ternyata bahwa serombongan orang yang jumlahnya dua puluh lebih, berpakaian seperti tentara, sedang menghajar dan membunuhi serombongan orang-orang yang membawa buntalan seperti orang-orang sedang mengungsi. Rombongan orang-orang ini terdiri dari lima orang kakek dan tujuh orang muda yang pakaiannya seperti pelajar-pelajar lemah. Keadaan di situ mengerikan sekali. Semua anggauta rombongan pengungsi itu telah menggeletak mandi darah, ada yang masih berkelojotan menghadapi maut. Akan tetapi yang mengagumkan sekali, di situ terdapat seorang pemuda pelajar yang melawan mati-matian. Mulutnya tak pernah mengeluarkan keluhan, sungguhpun tubuhnya sudah penuh luka. Ia menggunakan sebatang tongkat untuk membela diri dan sungguhpun gerakannya menandakan bahwa ia tidak mengerti ilmu silat, namun agaknya ia memiliki keberanian besar sehingga dengan nekat ia masih dapat melawan dan melindungi diri. Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan serdadu-sedadu yang terlatih itu, maka ia dibuat permainan, sengaja tidak dibunuh dulu, hanya dipukul sana-sini sambil ditertawakan.

Ada sebagian pula tentara yang mengumpul-ngumpulkan bungkusan yang tadinya dibawa oleh para pengungsi itu, mencari-cari barang berharga.

“Anjing-anjing hina dina!” Terdengar Giok Gan Niocu Song Kim Lian berseru keras dan tubuhnya sudah melayang turun dari kuda. Bagaikan seekor harimau betina ia menerjang dan robohkan dua orang yang tadinya berdiri bengong melihat kedatangan dua orang bidadari ini.

Kim Lian menyambut sebatang pedang yang tadi dipegang oleh dua orang ini dan sekali babat putuslah leher dua orang itu.

Keadaan menjadi geger. Semua serdadu ini memandang dan mereka yang tadinya mengumpul-ngumpulkan barang, kini menerjang Kim Lian.

“Keparat jahanam, kalian harus dibasmi!” Terdengar bentakan halus lain dan nampaklah sinar merah menyambar ke sana ke mari lalu sinar merah ini menerjang mereka yang tengah mempermainkan pemuda itu. Lima orang roboh tak bangun lagi karena mereka menjadi korban pedang di tangan Ang I Niocu Kiang Im Giok!

Pemuda itu entah saking lelahnya, entah saking girangnya mendapat bantuan, atau entah makin kagum dan herannya melihat melihat seorang dara baju merah sedemikian gagah dan cantik jelitanya, tiba-tiba lenyap semua daya dan semangatnya melawan dan lemasiah ia, lalu tertunduk dengan mata bengong.

Im Giok dan Kim Lian mengamuk garang. Dalam beberapa jurus saja belasan orang serdadu menggeletak dalam keadaan luka berat. Yang mengagumkan adalah Im Giok. Pedangnya berkelebatan dan setiap jurus pasti pedang itu merobohkan seorang lawan. Akan tetapi tak pernah Im Giok menewaskan lawannya, hanya merobohkannya saja. Berbeda dengan Im Giok, orang yang roboh oleh pukulan Kim Lian pasti takkan dapat bangun lagi untuk selamanya!

Menghadapi amukan dua orang dara yang datang secara tiba-tiba ini, rombongan tentara itu tidak kuat bertahan lagi. Mulailah mereka yang belum roboh lari pontang-panting dan sebagian pula berteriak-teriak keras,

“Kam-ciangkun…! Tolonglah kami…”

“Suci, sudahlah jangan mengejar mereka,” Im Giok mencegah Kim Lian yang hendak mengejar terus. Kim Lian tak puas, akan tetapi ia tidak membantah dan menghentikan pengejarannya. Ketika dua orang dara ini memandang, ternyata bahwa amukan mereka tadi telah menghasilkan robohnya enam belas orang lawan, yang enam orang tewas dan yang sepuluh terluka. Akan tetapi ketika mereka memperhatikan, ternyata bahwa rombongan pengungsi tadi sebanyak dua belas orang, sebelas orang telah tewas. Hanya pemuda sastrawan yang tabah tadi saja masih hidup, tubuhnya penuh darah akan tetapi luka-lukanya ringan dan ia masih duduk bengong telongong memandang ke arah Im Giok dan Kim Lian.

Melihat betapa semua serdadu dapat dikalahkan oleh dua orang dara yang luar biasa itu, Si Sastrawan muda lalu memaksa diri berdiri, berjalan terhuyung-huyung menghampiri Im Giok dan Kim Lian, kemudian menjura dengan tubuh gemetar saking lemah dan sakit-sakit.

“Ji-wi-lihiap sungguh gagah… sayang kedatangan Ji-wi terlambat sehingga mereka ini…” ia menengok ke arah kawan-kawannya yang menggeletak tak bernyawa lagi, “mereka ini… tak tertolong lagi…” Pemuda itu menjadi pucat dan nampak berduka sekali.

“Akan tetapi kami dapat menolongmu,” kata Kim Lian sambil memandang dengan mata bersinar-sinar. Juga Im Giok baru sekarang melihat betapa tampan dan cakapnya wajah pemuda yang berdiri di depannya itu. Tadi dalam keributan ia tidak memperhatikan, akan tetapi sekarang baru ia melihat dan ia harus mengaku bahwa selamanya belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang mempunyai wajah demikian tampan dan menarik hati. Juga tadi ia telah membuktikan bahwa semangatnya besar, tabah dan kini dibuktikannya lagi bahwa pemuda ini berjiwa besar. Dalam keadaan sengsara, ia tidak memikirkan keadaan diri sendiri, bahkan menyayangkan bahwa kawan-kawannya tidak tertolong. Juga bicaranya demikian sopan-santun, lemah-lembut dan ketika bicara, matanya tidak memandang kurang ajar seperti semua laki-laki yang pernah dijumpainya! Hati Im Giok berdebar aneh.

Mendengar kata-kata Kim Lian, pemuda itu menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih.

“Biarpun aku amat berterima kasih kepada Ji-wi-lihiap atas pertolongan yang telah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga, akan tetapi apakah artinya seorang seperti aku tertolong kalau mereka ini tewas? Aku seorang yatim piatu tiada guna, lemah dan tak dapat melindungi mereka ini… sebaliknya mereka ini… ah, keluarga mereka menanti, dan alangkah akan hancur hati keluarga mereka kalau tahu akan malapetaka ini…”

Bicara sampai di situ, pemuda itu makin pucat. Ia telah kehilangan banyak darah dan semenjak tadi tubuhnya yang tidak terlatih itu telah terlalu banyak menahan rasa nyeri dari luka-lukanya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi kepalanya pening kedua kakinya lemas dan pandang matanya gelap. Akhirnya ia terguling dan tentu akan roboh kalau Kim Lian tidak cepat-cepat melangkah maju dan memeluknya!

“Suci…!” Im Giok menegur dengan muka berubah merah ketika ia melihat bagaimana sucinya memeluk tubuh seorang pemuda demikian erat dan mesranya. Ia merasa jengah dan juga… panas!

“Sumoi, dia patut dikasihani, dia bersemangat gagah namun lemah…” Kim Lian membela diri sambil tersenyum, kemudian dengan perlahan ia merebahkan pemuda itu di atas tanah.

Im Giok mengambil botol arak dari atas punggung kudanya dan dengan cekatan ia meminumkan sedikit arak pada pemuda yang masih pingsan itu, kemudian setelah memeriksa beberapa luka yang agak banyak mengeluarkan darah, tanpa sungkan-sungkan lagi ia lalu menotok jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah. Kim Lian memandang semua ini dengan senyum berarti. Belum pernah selamanya ia melihat sumoinya berlaku demikian sopan dan teliti terhadap seorang pemuda!

“Sumoi, lihat siapa yang datang itu!” tiba-tiba Kim Lian berkata sambil berdiri. Im Giok juga mendengar suara derap kaki berlari mendatangi, maka ia pun cepat melompat berdiri, tak sempat lagi memperhatikan pemuda itu yang telah siuman dan perlahan bangun duduk dengan tubuh masih lemas.

Yang datang adalah sisa dari serdadu yang mereka amuk tadi, kini datang berlari mengiringkan dua orang yang menarik perhatian. Yang seorang adalah laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang komandan tentara, lengkap dengan baju bersisik besi dan golok besar tergantung di pinggang. Orang kedua adalah seorang kakek jangkung dan bungkuk, kepalanya besar sekali akan tetapi tubuhnya kurus kecil, sehingga nampak amat lucu. Akan tetapi ketika melihat cara kakek aneh ini berlari, tahulah Im Giok dan Kim Lian bahwa kakek aneh itulah yang tak boleh dipandang ringan karena terang sekali memiliki kepandaian tinggi.

Kim Lian sama sekali tidak mengenal dua orang ini, apalagi melihat, mendengar pun belum pernah. Akan tetapi, ketika Im Giok melihat laki-laki berpakaian komandan tadi, ia merasa kenal akan tetapi lupa lagi di mana pernah bertemu dengannya. Ketika melihat golok besar yang tergantung di pinggang orang, tiba-tiba teringatlah ia bahwa komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, sute dari Pek Hoa Pouwsat!

“Suci, komandan itu adalah Giam-ong-to Kam Kin, kausambutlah kalau mereka bermaksud buruk. Kakek aneh itu bagianku, ia lebih lihai,” kata Im Giok berbisik. Kim Lian tersenyum mengejek. Biarpun ia belum pernah bertemu dengan Kam Kin, namun ia pernah mendengar cerita im Giok tentang Golok Maut ini dan ia memandang rendah.

Memang betul apa yang dikatakan oleh Im Giok tadi, komandan itu adalah Kam Kin yang berjuluk Giam-ong-to Si Golok Maut. Adapun kakek yang aneh itu adalah Cheng-jiu Tok-ong (Raja Racun Tangan Seribu), yakni guru dari Kam Kin, juga pernah menjadi guru Pek Hoa Pouwsat sebelum wanita ini menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu. Dia adalah seorang tokoh barat. Dahulu ketika ia masih muda memang Cheng-jiu Tok-ong melakukan banyak perbuatan jahat, akan tetapi karena di Tiongkok terdapat Lima Tokoh Besar, yakni Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, I Kak Thong Thaisu, Kiu-bwe Coa-li, Hek I Hui-mo, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai (tokoh-tokoh dalam Pendekar Sakti), maka Cheng-jiu Tok-ong tidak berani muncul di pedalaman Tiongkok. Operasi kejahatannya hanya di perbatasan Tiongkok dan Tibet, atau di perbatasan Bhutan dan India saja. Setelah puluhan tahun ia bersembunyi dan bertapa, sekarang tua-tua ia turun gunung lagi adalah atas hasutan muridnya, Giam-ong-to Kam Kin.

Semenjak masih mudanya, Kam Kin terkenal seorang mata keranjang. Sekarang mendapat laporan dari orang-orangnya bahwa anak buahnya banyak yang tewas dalam tangan dua orang gadis gagah, ia marah sekali. Akan tetapi begitu sampai di tempat itu dan memandang kepada dua orang gadis yang cantik jelita jarang tandingannya, matanya bersinar dan mulutnya menyeringai. Apalagi ketika melihat Im Giok, ia benar-benar merasa kagum bukan main. Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang dara muda secantik ini. Bahkan Pek Hoa juga tidak secantik ini, pikir Kam Kin. Akan tetapi karena berada bersama gurunya dan juga di depan anak buahnya, ia berkata,

“Ah, inikah dua gadis yang sudah berani mati membunuh tentara?”

Im Giok melangkah maju dan berkata dengan lesung pipit berkembang di kanan kiri mulutnya. “Bagus sekali sejak kapankah Giam-ong-to Kam Kin menjadi komandan tentara? Apakah kedatanganmu ini hendak minta maaf atas kekejaman anak buahmu?”

Kam Kin melengak dan memandang Im Giok penuh perhatian. Ia telah berpisah dari Im Giok semenjak anak ini berusia sepuluh tahun. Tujuh tahun telah lewat dan kini Im Giok telah menjadi seorang gadis dewasa. Akan tetapi dahulu pun ketika berusia sepuluh tahun, Im Giok telah memiliki dasar kecantikan yang mengagumkan. Biarpun kini ibarat bunga ia telah mulai mekar, akan tetapi garis-garis pada mukanya, bentuk mata hidung dan mulutnya tidak berubah dan akhirnya teringatlah Kam Kin.

“Kiang Im Giok! Kaukah ini?”

“Baru terbuka matamu,” kata Im Giok tenang dengan senyum mengejek.

“Kurang ajar! Kau berani bersikap begini terhadap susiokmu sendiri?” Kam Kin membentak. Ia marah sekali karena dihina oleh murid keponakan di depan gurunya dan anak buahnya sehingga untuk sekejap lupalah ia akan kecantikan luar biasa dari murid keponakannya itu.

“Kam Kin, siapakah Nona ini?” tanya Cheng-jiu Tok-ong dengan suaranya yang seperti burung kakatua.

“Suhu, dia ini sebetulnya bukan orang lain, karena dia adalah murid Suci Pek Hoa. Akan tetapi memang wataknya buruk sekali. Biar teecu menghajarnya.” Kemudian ia berpaling lagi kepada Im Giok dan membentak, “Im Giok, andaikata kau tidak menaruh sungkan kepada susiokmu, apakah kau juga tidak menaruh hormat terhadap sucouwmu (kakek gurumu)? Hayo lekas berlutut memberi hormat kepada sucouwmu ini, guru dari Suci Pek Hoa.”

Akan tetapi Im Giok memandang dingin dan menjawab, “Aku tidak mempunyai sucouw seperti ini. Jangan kau mengaco, lekas katakan apa maksud kedatanganmu ini.”

Kam Kin menjadi marah sekali. Ia membanting-banting kaki dan menudingkan telunjuknya ke muka Im Giok. “Bocah tak tahu aturan! Tidak saja kau telah membunuh banyak anggauta tentara, akan tetapi kau juga bersikap kurang ajar kepadaku dan kepada Suhu! Kau benar-benar telah bosan hidup!”

“Monyet bercelana, kau berani menghina sumoiku?” tiba-tiba Kim Lian membentak marah dan ia melangkah maju di depan Im Giok, menghadapi Kam Kin sambil bertolak pinggang. “Mentang-mentang, kau berjuluk “Si Golok Maut”, lalu hendak menjual lagak di sini? Tidak laku, monyet!”

“Gadis liar kurang ajar!” Kam Kin marah sekali.

“Kau yang kurang ajar!” bentak Kim Lian. “Karena itu mulutmu harus ditampar. Lihat, kutampar mulutmu!”

Baru saja kata-kata ini diucapkan, tangan kanan kiri gadis ini bergerak, Kam Kin bingung melihat gerakan ini dan berlaku agak lambat.

“Plak!” tangan kiri Kim Li menampar mulutnya sampai pecah bibirnya dan berdarah.

“Anjing betina, kubunuh kau!” bentak Kam Kin sambil mencabut goloknya.

“Kutempiling kepalamu, awas!” Kim Lian berseru lagi, disusul oleh gerakan kedua tangannya. Lagi-lagi terdengar suara “plak!” dan topi di kepala Kam Kin sampai miring terkena tamparan telapak tangan gadis jenaka itu, Kam Kin merasa kepalanya puyeng dan cepat ia melompat ke belakang menggeleng-geleng kepala untuk mengusir rasa puyeng. Kemudian, sambil mengeluarkan suara keras seperti seekor harimau, ia menyerang Kim Lian dengan golok besarnya.

Tadi Kim Lian berhasil dengan tamparan dan tempilingannya, karena memang gadis ini telah mewarisi ilmu silat dari keluarga Kiang yang amat lihai. Ilmu silat yang selain indah seperti tarian, juga mengandung gerakan yang membingungkan dan tidak terduga-duga. Apalagi setelah ilmu silat itu diperbaiki oleh nasihat-nasihat dan petunjuk Bu Pun Su, kelihaiannya mengagumkan orang. Akan tetapi setelah Kam Kin mencabut golok, Kim Lian tidak berani lagi berlaku main-main. Gerakan golok Kam Kin benar-benar amat berbahaya dan kuat, tidak seharusnya dilawan dengan main-main. Berbeda dengan Im Giok yang sudah bermain pedang, Kim Lian mendapat pelajaran ilmu silat tangan kosong secara lebih mendalam. Gadis ini memang berbakat sekali untuk menggerak-gerakkan tangan kakinya, maka Kiang Liat Si Dewa Tangan Seribu memberi pelajaran ilmu silat tangan kosong secara tekun kepada muridnya ini.

Menghadapi rangsakan golok Kam Kin, gadis ini lalu mengeluarkan ilmu silatnya dan mainkan gerak tipu ilmu silat tangan kosong yang bernama Kong-jiu-sin-i (Tangan Kosong Menyambut Hujan). Kedua lengannya dipentang, demikian pula sepuluh jari tangannya dipentang dan bergerak-gerak seakan-akan orang menari, akan tetapi gerakan sepasang lengan itu demikian lemas dan tak terduga seperti dua ekor ular, sedangkan jari-jari tangan itu masing-masing merupakan alat penotok jalan darah yang amat berbahaya. Beberapa kali dalam gebrakan pertama saja, jalan darah di pergelangan lengan, siku dan pundak kanan Kam Kin hampir saja menjadi korban! Kam Kin terkejut sekali dan ia berlaku hati-hati, maklum bahwa ia menghadapi seorang gadis cantik jelita yang benar-benar lihai.

Pada jurus ke tiga puluh, terdengar Kim Lian menjerit nyaring, “Monyet tua, pergilah!”

Jari-jari tangan kiri Kim Lian menyambar cepat, menangkis serangan golok dengan mendahului kecepatan lawan, menyampok pergelangan tangan kanan Kam Kin yang memegang golok. Pada saat itu juga, jari-jari tangan kanan bergerak menusuk muka dan kaki kiri menyusul cepat menendang lutut!

Kam Kin terkejut sekali karena tidak mengira bahwa lawannya akan secepat itu, berani menyampok pergelangan tangannya, kemudian tiba-tiba jari tangan kanan gadis itu sudah menusuk dan hampir saja matanya menjadi korban. Cepat ia membuang tubuh bagian atas ke belakang untuk menyelamatkan mukanya, akan tetapi segera serangan kaki Kim Lian sudah mengenai sasaran. Kam Kin berseru kesakitan dan tubuhnya terlempar ke belakang, jatuh bergebruk dan merintih-rintih karena sambungan tulang lututnya terlepas!

Anak buahnya cepat menolong dan menggotong ke pinggir. Kim Lian tertawa-tawa mengejek, “Monyet tua, mana golok mautmu?”

“Bocah sombong, pergilah!”

Yang berseru ini adalah kakek tua aneh tadi, sambil melangkah maju mendekati Kim Lian yang masih bertolak pinggang dan tertawa-tawa. Kim Lian maklum akan kelihaian kakek ini, maka cepat ia mengangkat tangan menangkis ketika melihat kakek itu menggerakkan ujung lengan bajunya yang panjang ke arahnya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ujung lengan baju itu bagaikan hidup, tahu-tahu telah membelit lengannya yang menangkis tadi dan sebelum ia sempat mengatur keseimbangan tubuhnya, ia merasa dirinya dibetot! Kim Lian mengerahkan lwee-kang untuk menahan tubuh sambil menarik lengannya akan tetapi tiba-tiba ia berseru, “Celaka…!” dan tubuhnya terhuyung ke belakang dan pasti akan roboh terjengkang kalau saja, Im Giok tidak cepat-cepat menggunakan kaki mencokel kaki Kim Lian sehingga gadis ini tidak jadi roboh, sebaliknya bahkan tercokel dan terangkat ke atas!

Ternyata bahwa Chen-jiu Tok-ong tadi telah mengakali Kim Lian. Ketika melihat gadis itu mengerahkan tenaga menarik lengan, kakek ini cepat merubah tenaganya, kalau tadi membetot sekarang ia mendorong. Tidak heran apabila Kim Lian terjengkang ke belakang, terbawa oleh tenaga betotannya sendiri ditambah tenaga dorongan Tok-ong. Gadis ini marah sekali, mukanya merah dan ia siap hendak menyerang.

“Kakek bangkotan, kau curang!” bentaknya.

“Suci, mundurlah.” Im Giok mencegah dan Kim Lian terpaksa menahan marahnya. Kemudian Im Giok menghadapi Cheng-jiu Tok-ong dan berkata tenang,

“Kalau tidak salah, Locianpwe ini adalah Cheng-jiu Tok-ong, tokoh yang kenamaan. Akan tetapi aku yang muda sungguh merasa heran sekali mengapa Locianpwe mendiamkan saja, bahkan membela Giam-ong-to Kam Kin yang setelah menjadi komandan membiarkan anak buahnya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Aku dan suciku sedang bermain-main di hutan ini dan kami melihat banyak tentara melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang tidak berdosa. Oleh karena itu, tanpa mengetahui bahwa tentara ini adalah anak buah Giam-ong-to Kam Kin, kami membela rakyat dan melakukan pembasmian. Sekarang kedatangan Locianpwe ke sini membawa sisa tentara mempunyai niat apakah?”

“Bocah, kau benar-benar menggemaskan. Kalau kau bukan murid Pek Hoa, agaknya aku akan mengagumi kata-katamu sebagai seorang bocah kau ternyata mempunyai pandangan yang luas dan kata-kata yang teratur baik. Akan tetapi kau adalah murid Pek Hoa, berarti kau adalah cucu muridku. Bagaimana kau berani sekali bersikap begini kurang ajar terhadapku? Andaikata kau sekarang juga menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun, belum tentu aku mau memberi ampun. Sikapmu sudah jauh melampaui batas. Mengapa?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: