Ang I Niocu ~ Jilid 12

Kakek sakti itu menarik napas panjang. “Han Le, kau sudah tersesat jauh. Apa boleh buat, aku lebih rela melihat suteku binasa dalam tanganku daripada melihat dia tersesat dan menjadi seorang jahat!”

Begitu kata-kata ini habis diucapkan, Bu Pun Su mempercepat dan memperkuat gerakannya. Memang bukan hal yang mudah menghadapi keroyokan orang-orang selihai Pek Hoa dan Han Le, yang keduanya selain memiliki ilmu silat tinggi sekali, juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Kalau saja tokoh yang dikeroyok bukannya Bu Pun Su yang sakti, agaknya sukar sekali mengalahkan keroyokan dua orang ini. Dan andaikata Pek Hoa tidak lebih dulu sudah terluka tangan kirinya, agaknya Bu Pun Su juga tidak akan mudah mengalahkan mereka. Apalagi Bu Pu Su merasa gelisah dan kecewa sekali melihat sutenya yang sekarang bertempur secara mati-matian mengeluarkan seluruh kepandaian untuk membela wanita jahat itu!

“Han Le, mundur kau!” berkali-kali Bu Pun Su berseru, akan tetapi Han Le seperti sudah tuli, tidak mendengar seruan ini bahkan memperhebat gerakan pedangnya.

“Bagus, Han-ko, kekasihku. Tikam dia, bunuh jahanam ini!” sebaliknya Pek Hoa berkali-kali membujuknya.

Setelah tiga kali Bu Pun Su memberi peringatan kepada sutenya tanpa ada perhatian, pendekar ini menjadi marah dan membentak,

“Han Le, kalau begitu robohlah kau!” Ia mengirim serangan hebat ke arah sutenya sendiri. Han Le terkejut menghadapi pukulan Pek-in-hoat-sut ini. Ia mencoba untuk menangkis dan miringkan tubuh sambil membalas dengan tusukan pedang. Akan tetapi akibatnya, pedangnya terpental dan ia terguling roboh, tulang pundaknya terlepas sambungannya karena pukulan Pek-in-hoat-sut yang lihai, Han Le meringis kesakitan dan tak dapat bangun pula karena sambungan tulangnya terlepas, juga ia menderita luka di sebelah dalam yang membuat ia tak mungkin bangun lagi.

“Keparat, rasakan pembalasanku!” Pek Hoa menjerit dan pedangnya menyambar ke arah bawah pusar Bu Pun Su.

“Siluman betina, kau harus mampus!” bentak Bu Pun Su yang merasa muak menghadapi serangan yang keji ini. Tangan kirinya bergerak ke bawah menyampok pedang sehingga pedang itu terlepas dari pegangan, kemudian secepat kilat, sebelum Pek Hoa menarik kembali tangan kanannya, Bu Pun Su mendahului dengan ketokan telunjuknya ke arah sambungan tulang siku, Pek Hoa menjerit dan tangan kanannya lumpuh pula seperti tangan kirinya! Namun wanita ini memang sudah nekat. Bagaimana seekor singa betina, ia menerjang maju, kini mempergunakan kedua kakinya, melakukan tendangan bertubi-tubi,

Namun sekali sampok dengan ujung lengan bajunya, Bu Pun Su berhasil membuat ia terguling dan merintih-rintih kesakitan.

“Kalau orang macam kau tidak mati, hanya akan mengacaukan dunia saja!” kata Bu Pun Su sambil melangkah maju, agaknya hendak menewaskan Pek Hoa.

“Suheng, tahan…!” Sambil merangkak dan setengah menggulingkan tubuh, Han Le menghampiri Bu Pun Su, lalu berlutut di depan Bu Pun Su sambil menangis, “Suheng, ampunkan dia, biar dia pergi meninggalkan pulau ini, akan tetapi jangan bunuh dia, Suheng. Kalau Suheng bernafsu hendak membunuh orang, biarlah siauwte saja Suheng bunuh sebagai penebus nyawanya.”

Bu Pun Su serentak kaget. Baru ia sadar bahwa hampir saja ia melakukan pembunuhan dengan mata terbuka. Musuh sudah kalah, tak perlu didesak lagi, pikirnya.

“Dan kau tetap hendak pergi bersama dia?”

Han Le menggeleng kepalanya. “Siauwte sudah mengaku salah. Siauwte terlalu menurutkan nafsu hati dan akhirnya siauwte jatuh cinta. Kini siauwte bersedia menebus dosa, biar siauwte merana di sini, biar siauwte berpisah darinya, siauwte rela. Siauwte takkan meninggalkan pulau ini selamanya.” Kemudian Han Le berpaling kepada Pek Hoa, berkata dengan suara perlahan, “Pek Hoa, selamat berpisah. Pergilah kau meninggalkan pulau ini, meninggalkan aku. Jangan kau kembali lagi selamanya. Kita tak usah bertemu lagi selamanya.”

Sebetulnya, ketika Pek Hoa memikat hati Han Le, niat terutama di dalam hatinya ialah mencari kawan untuk membalaskan dendam kepada musuh-musuhnya. Hal ini pun sudah terlaksana dengan terbunuhnya tiga orang tokoh Kun-lun dan Siauw-lim. Bahkan ia sudah berhasil lebih jauh lagi, yakni ia telah dapat mewarisi sebagian dari ilmu silat Han Le. Yang hebat, hampir saja ia berhasil mengadu-dombakan Han Le melawan Bu Pun Su. Akan tetapi setelah rencananya tidak berhasil dan akibatnya bahkan Han Le dan dia sendiri terluka, dan ternyata Bu Pun Su terlampau kuat baginya, hati Pek Hoa menjadi dingin dan putus harapan. Ia menguatkan diri untuk bangun dan berdiri, mukanya pucat kedua lengannya lumpuh. Ia memandang kepada Bu Pun Su dengan mata penuh kebencian. “Bu Pun Su, banyak aku membenci orang, akan tetapi tidak seperti aku membencimu. Kelak akan tiba saatnya aku membalas penghinaan ini, kalau tidak oleh tanganku sendiri, tentu oleh tangan anakku atau tangan Wi Wi Toanio!” Setelah berkata demikian, ia berpaling kepada Han Le dan berkata,

“Kau jembel busuk, jembel tua, kaukira aku benar-benar mencintamu? Hah, tak tahu diri! Aku menyerahkan diri kepadamu dengan harapan agar kau dapat membalas budi kecintaanku, dapat membalaskan sakit hatiku terhadap musuh-musuh besarku. Tak tahunya, menghadapi orang ini saja kau memperlihatkan ketidakgunaanmu. Hah, kau memualkan perutku!” Setelah berkata demikian, dengan terhuyung Pek Hoa meninggalkan tempat itu menuju ke pantai, makin lama makin jauh merupakan sosok bayangan orang yang putus asa.

“Wanita yang berbahaya sekali. Hmmm, lihai dan berbahaya melebihi setan. Pada akhirnya masih tega menghancurkan hati Han-sute,” katanya perlahan dan tiba-tiba keningnya berkerut ketika ia menoleh dan melihat Han Le pucat sekali dan air mata bercucuran keluar dari sepasang matanya.

“Eh, Han-sute, kau sudah dihina olehnya. Apakah kepergiannya masih bisa menghancurkan hatimu? Di mana sifat jantanmu, Sute?”

Han Le menggeleng-geleng kepalanya. “Suheng, siauwte memang harus dipukul, bahkan sudah sejak dulu siauwte mengerti bahwa dia hanya… mempermainkan siauwte belaka. Namun, siauwte sudah dicengkeram oleh nafsu. Akhir-akhir ini… bagaimana siauwte bisa membencinya? Dia… dia telah mejadi calon ibu anakku…”

Bu Pun Su terkejut sekali, sampai berubah air mukanya. “Apa katamu? Betul-betulkah begitu?”

Han Le mengangguk. “Siauwte tidak sayang kepadanya, melainkan kepada anak yang dikandungnya. Suheng, siauwte sudah bersumpah takkan meninggalkan pulau ini, akan menanti di sini sampai datang maut mencabut nyawa, untuk menebus dosa siauwte. Akan tetapi anak itu… ah, Suheng, kalau sudah terlahir dan berada di bawah asuhan Pek Hoa, akan menjadi apakah? Oleh karena itu, siauwte mohon bantuan Suheng, kalau anak itu terlahir, harap Suheng suka merampasnya dan memberikan kepada orang lain supaya dididik menjadi manusia baik-baik. Jangan sampai keturunan siauwte menambah dosa siauwte membuat siauwte tak dapat mati dengan mata meram.”

Bu Pun Su mengangguk-angguk. Hatinya pilu. Ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana perasaan seorang calon ayah. Akan tetapi ia dapat membayangkan betapa hancur hati Han Le pada saat itu.

“Baikiah, Han-sute. Tadinya aku datang untuk minta bantuanmu, akan tetapi melihat keadaanmu sekarang, tak usahlah. Bahkan, setelah terjadi peristiwa antara kau dan tokoh-tokoh Kun-lun dan Siauw-lim, amat tidak baik kalau kau sendiri yang muncul. Biar aku yang akan membereskan hal itu dan menjernihkan keadaan. Kaurawat baik-baik tiga jenazah itu, jangan dibiarkan begitu saja. Biarpun kau takkan meninggalkan pulau ini selamanya, percayalah, aku akan datang sewaktu-waktu menemanimu disini.”

Han Le menghaturkan terima kasih dan tak lama kemudian Bu Pun Su meninggalkan Pulau Pek-le-tho dengan hati penuh iba kepada adik seperguruannya itu. Tak pernah disangkanya bahwa Han Le akan bernasib sedemikian buruk, jauh lebih buruk daripada nasibnya sendiri.

Debu mengebul tinggi ketika dua ekor kuda berlari congklang menuju ke gerbang pintu kota Tiang-hai yang letaknya hanya tinggal beberapa li lagi. Waktu itu musim panas sedang teriknya, jalan-jalan mengering dan debu mengebul tinggi setiap kali jalan itu dilalui kuda atau kendaraan yang ditarik kuda. Pohon-pohon nampak mengering dan sawah ladang kuning kosong. Namun alam di sekitar tempat itu yang sama sekali tidak menimbulkan pemandangan indah, tidak mengurangi seri muka gembira dari dua orang muda yang menunggang kuda. Mereka ini adalah Gan Tiauw Ki dan Kiang Im Giok. Sebagaimana diketahui, Gan Tiauw Ki menuju ke kota Tiang-hai untuk menyampaikan surat dari Kaisar untuk seorang berpangkat huciang bernama keturunan Suma di kota itu, dan untuk melakukan penyelidikan. Adapun Im Giok mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk mengawal pemuda ini. Di sepanjang perjalanan, Tiauw Ki memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pemuda yang terpelajar tinggi, hafal akan bunyi sajak-sajak gubahan para pujangga jaman dahulu yang berjiwa patriot, hafal akan sejarah, pandai pula membuat sajak-sajak bersemangat dan indah-indah. Selain ini, ia pandai bernyanyi dan meniup suling sehingga beberapa kali di waktu mereka beristitahat, pemuda ini mengeluarkan suling peraknya dan mainkan beberapa lagu. Im Giok tertarik sekali. Lebih suka hatinya terhadap Tiauw Ki melihat sikap pemuda ini amat sopan, biarpun ramah tamah, dan kadang-kadang gembira, namun sikapnya selalu sopan dan menyenangkan, tak pernah memperlihatkan pandang mata kurang ajar atau kata-kata yang tidak sopan. Dalam diri pemuda ini Im Giok melihat orang yang bersemangat, berjiwa patriot dan gagah, jujur, setia dan sopan-santun.

Sebaliknya, baru kali ini selama hidupnya Tiauw Ki bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis seperti Im Giok. Memang pemuda itu sudah banyak pengalaman kota-kota besar, sudah banyak melihat puteri-puteri istana, puteri-puteri bangsawan yang tersohor cantik jelita dan pandai, akan tetapi ia harus akui bahwa baru kali ini hatinya jatuh oleh kecantikan seorang gadis. Tidak saja ia kagum sekali melihat wajah jelita dari Im Giok, juga ia kagum sekali akan kegagahan gadis ini.

Oleh karena kedua pihak saling tertarik dan suka, maka tentu saja perjalanan itu merupakan pengalaman yang amat menyenangkan, tak pernah memperlihatkan pandang mata sayang, tidak memperlihatkan apa yang terkandung dalam hati, namun jauh di lubuk hati, mereka tahu bahwa hidup akan kurang sempurna apabila mereka berpisah.

Makin dekat dengan kota Tiang-hai, makin sering mereka bertemu orang dan makin banyak mereka melihat orang-orang mendatangi Tiang-hai.

“Heran, mereka itu datang ke Tiang-hai ada apakah?” kata Tiauw Ki perlahan ketika melihat serombongan orang berkuda mendahului mereka. Rombongan ini terdiri dari tujuh orang dan melihat pakaian dan sikap mereka, dapat diduga bahwa tujuh orang ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi.

“Mereka siapakah?” tanya Im Giok. Gadis ini lebih heran lagi karena ia tahu bahwa tujuh orang itu adalah orang-orang kang-ouw. Bagaimana seorang sastrawan seperti Gan Tiauw Ki dapat mengenal mereka?

“Mereka itu adalah panglima-panglima ternama dari Gubernur Shansi. Mereka menyamar seperti orang-orang biasa dan datang di Tiang-hai, apakah kehendak mereka?” kata Tiauw Ki.

Ketika tidak mendapat jawaban, Tiauw Ki menengok.

“Ada apakah, Nona?” tanyanya ketika Im Giok memandang kepadanya dengan penuh keheranan dan kecurigaan.

“Bagaimana kau dapat mengenal orang-orang seperti itu?” tanya Im Giok.

Tiauw Ki tersenyum merendah. “Apa sukarnya? Badan penyelidik dari istana telah memperlihatkan gambar tokoh-tokoh terpenting dari mereka yang dianggap sebagai orang-orang yang memberontak. Gubernur Shansi dan Honan melopori pemberontakan-pemberontakan atau sikap yang anti Kaisar, maka panglima-panglima ternama dari dua gubernur itu tentu saja sudah kukenal gambarnya. Inilah sebabnya maka aku mengenal mereka tanpa mereka tahu siapa aku.”

Im Giok mengangguk-angguk kagum. “Gan-kongcu, otakmu benar-benar tajam sekali, dapat mengingat semua orang dalam gambar.”

“Bukan aku yang berotak tajam, melainkan tukang lukisnya yang benar-benar pandai. Dengan beberapa coretan saja, ia dapat melukis muka orang demikian tepatnya. Benar-benar aku makin kagum saja kepada pelukis Ong dari istana itu.”

Im Giok lalu bertanya tentang pelukis itu dan mereka bercakap-cakap dengan asyik dan kembali Ang I Niocu Kiang Im Giok mendapat kenyataan bahwa pemuda ini kembali memiliki kepandaian lain yang menarik, yakni melukis. Pemuda ini sendiri seorang pelukis pandai namun ia memuji-muji pelukis Ong Pouw di istana, menandakan bahwa wataknya memang sopan dan suka merendahkan diri sendiri. Tiba-tiba terdengar seruan dari belakang, “Minggir! Minggir!”

Im Giok terkejut. Suara ini terdengar nyaring, disusul oleh suara derap kaki kuda yang berlari cepat. Orang yang dapat mengirim suara mendahului suara derap kaki kuda tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Tiauw Ki tentu saja tidak tahu akan hal ini dan ia hanya berkata,

“Datang orang kasar, baik kita minggir. Jangan sampai terjadi ribut-ribut.” Im Giok maklum bahwa tugas yang amat penting dari Tiauw Ki memang harus dilindungi dan sebaiknya kalau mereka tidak memancing permusuhan sebelum tugas itu selesai. Maka ia pun lalu menggebrak kudanya dan minggirkan kuda untuk memberi jalan kepada serombongan orang berkuda yang mendatangi dengan cepat. Rombongan kali ini adalah orang-orang dengan pakaian indah dan gagah, akan tetapi yang paling menarik adalah orang pertama yang berada di depan. Orang ini masih muda, wajahnya tampan sekali, sikapnya gagah, pakaiannya indah dan mewah. Jelas nampak bahwa ia seorang pesolek besar, dan kudanya pun bukan kuda biasa melainkan kuda pilihan berbulu putih. Ia membalapkan kudanya, sedikitnya seperempat li di depan rombongannya sambil tertawa-tawa.

Kuda yang ditunggangi oleh Im Giok juga kuda pilihan, demikian pula kuda Kim Lian yang ditunggangi oleh Tiauw Ki. Tidak hanya manusia yang suka memilih golongan, kuda pun agaknya mengenal kawan dan mengenal bulu. Mendadak kuda yang ditunggangi oleh Im Giok dan Tiauw Ki mengeluarkan ringkikan keras dan mereka menjadi gembira, kedua kaki depan diangkat tinggi dan mereka melompat di tengah jalan menghadang datangnya kuda putih yang ditunggangi oleh pemuda tampan itu!

Terdengar Tiauw Ki memekik kaget. Ternyata tubuh pemuda ini telah dilemparkan oleh kudanya, ketika kuda itu berdiri diatas dua kaki belakang. Gerakannya demikian kuat dan cepat sehingga Tiauw Ki tak dapat menguasai diri dan terjengkang ke belakang. Tentu tubuhnya akan terbanting di atas batu di jalan kalau saja Im Giok tidak cepat-cepat melompat dan menyambar. Dengan gerakan cekatan dan lincah bagaikan seekor burung terbang, gadis ini hanya kelihatan sebagai bayangan merah dan tahu-tahu Tiauw Ki telah disambar lengannya dan pemuda ini di lain saat sudah berdiri di tengah jalan dan lengannya dipegang oleh Im Giok.

“Bagus sekali!” terdengar suara orang memuji. Pada saat itu, pemuda tampan gagah yang berada di atas kuda putih sudah datang dekat, agaknya hendak menubruk Tiauw Ki dan Im Giok. Im Giok sudah bersiap sedia, sedikit pun tidak khawatir karena ia maklum bahwa jika perlu, dengan mudah ia akan mendorong tubuh kuda putih itu ke samping. Akan tetapi tak perlu turun tangan karena tiba-tiba saja kuda itu berhenti sambil meringkik keras, kedua kaki depan diangkat dan kaki belakangnya merendah hampir berlutut! Im Giok kagum. Penunggang itu telah memperlihatkan kepandalannya, tidak saja kepandaian menunggang kuda, juga kepandaian ilmu lwee-kang yang tinggi sehingga pada saat itu ia dengan cepat dapat membikin berat tubuhnya dan mempergunakan kekuatannya untuk menahan larinya kuda sendiri.

Tiauw Ki yang sudah lenyap kagetnya, berkata sambil merengut,

“Mengapa melarikan kuda cepat-cepat amat? Membikin kuda orang lain kaget setengah mati?”

Pemuda itu memandang sejenak ke arah Tiauw Ki, senyumnya berubah mengejek dan menghina, sinar matanya memandapg rendah seperti seekor harimau memandang anjing buduk. Kalau tadinya Im Giok tertarik dan kagum melihat pemuda tampan dan gagah ini, sekaligus rasa kagum dan sukanya lenyap bagaikan awan tertiup angin badai. Melihat senyum mengejek dan pandang mata yang membayangkan kesombongan besar, penuh penghinaan kepada Tiauw Ki sekaligus hati Im Giok mendongkol dan timbul rasa tidak sukanya kepada pemuda tampan ini. Memang harus diakui bahwa dalam segala hal, pemuda asing ini jauh melebihi Tiauw Ki, lebih tampan, jauh lebih gagah, dan juga pakaiannya lebih indah. Akan tetapi ia tidak mempunyai apa yang dimiliki Tiauw Ki, yakni kepribadian yang menarik, gaya sewajarnya yang penuh kecerdikan, kejujuran, dan kesetiaan.

Pemuda itu tak lama memandang ke arah Tiauw Ki, sebaliknya cepat ia mengalihkan pandang matanya kepada Im Giok. Senyumnya berubah, tidak menyeringai penuh ejekan seperti tadi, akan tetapi senyum penuh madu memikat, senyum yang membuat parasnya makin tampan, dan sepasang matanya berseri penuh kagum dan terpikat.

“Pek-in-ma (Kuda Awan Putih) yang kutunggangi ternyata mengenal keindahan dan kegagahan! Di dunia ini jarang terdapat paduan yang tepat, indah dan gagah. Nona, kau tidak saja memenuhi syarat paduan ini, bahkan melebihi, jauh melebihi sehingga tidak berlebih-lebihan kalau kukatakan bahwa aku Lie Kian Tek selama hidupku baru kali ini melihat paduan yang demikian sempurna!”

Im Giok maklum akan pujian ini, akan tetapi ia berpura-pura tidak mengerti dan berkata,

“Apakah maksud kata-katamu ini?”

Pemuda tampan ini tertawa sambil menoleh kepada kawan-kawannya yang sudah tiba di situ pula. “Cuwi (Tuan-tuan sekalian), berhenti sebentar dan lihatlah, pernahkah kalian melihat seorang yang begini cantik dan gagah?”

Lima orang yang mengawal pemuda ini, kesemuanya orang-orang setengah tua yang berpakaian indah dan bersikap gagah, memandang dan tersenyum. “Memang cantik sekali akan tetapi kegagahan, hmm… banyak sekali orang berlagak gagah akan tetapi tiada guna, seperti gentong kosong dipukul bersuara namun tak berisi,” demikian kata seorang di antara mereka.

Pemuda itu tertawa, nampak giginya yang berbaris rapi dan putih bersih, “Ha, ha, ha, kau betul sekali, Ciang-lopek, akan tetapi kau tidak tahu betapa nona ini tadi dengan gerakan indah dan luar biasa telah menyelamatkan nyawa seorang yang betul-betul tiada gunanya! Eh, Nona, maksud kata-kataku tadi kalau disalin dengan lain kalimat berarti aku kagum sekali melihatmu karena kau benar-benar cantik jelita dan gagah perkasa. Bolehkah aku mengetahui namamu, Nona? Dan kau hendak ke manakah?”

Ujung hidung yang kecil mancung itu bergerak, perlahan sekali dan hanya terlihat oleh orang yang memperhatikan. Dan yang memperhatikan ujung hidung Ang I Niocu ini hanya Tiauw Ki seorang. Pemuda ini cepat mengulur tangan dan menyentuh lengan Im Giok, lalu katanya kepada pemuda tampan itu,

“Tuan, harap jangan mengganggu kami lagi dan hendaknya menjaga tatasusila antara pria dan wanita, pula memberi kebebasan kepada kami sebagai orang-orang yang bertemu di tengah perjalanan. Nona ini tidak bersalah, mengapa diganggu?”

Pemuda itu menengok dan memandang kepada Tiauw Ki dari atas kudanya.

“Hah! Siapa ajak bicara orang macam engkau?”

Im Giok sementara itu sudah dapat menekan perasaannya, maka ia lalu membalas isarat Tiauw Ki dengan sentuhan perlahan pada tangannya, kemudian ia menjawab,

“Cuwi sekalian hendak mengetahui namaku? Aku she Kiang, seorang yang tidak ternama. Aku hendak pergi ke Tiang-hai…”

“Ke Tiang-hai?” pemuda yang mengaku bernama Lie Kian Tek itu memotong, “Kiang-siocia, kebetulan sekali! Aku, Lie Kian Tek bersama kawan-kawanku ini pun hendak pergi ke Tiang-hai. Kau hendak memberi selamat kepada Suma-huciang untuk ulang tahunnya yang ke enam puluh ini, bukan?”

“Ulang tahunnya yang ke enam puluh?” Im Giok merdu. “Ya, benar, begitulah! Akan tetapi aku pergi bersama dia ini, tidak bersama engkau.”

“Ha, ha, alangkah lucu dan janggalnya! Kiang-siocia, kudamu dan kudaku patut jalan berdampingan, kau dan aku pun kiranya patut menjadi sahabat seperjalanan. Dia ini? Hm, biarpun kudanya bagus, akan tetapi ia tidak patut menunggang kudanya itu, buktinya tadi belum apa-apa sudah jatuh dari kudanya. Ha, ha, ha!”

“Tuan Lie, kau akan menjadi tamu dari pamanku, mengapa kau menghina keponakannya?”

“Kau keponakan Suma-huciang?” tanya Lie Kian Tek sambil memandang dengan tajam.

“Aku yang bodoh, memang keponakan luar dari Suma-huciang,” jawab Gan Tiauw Ki dingin.

Pemuda yang mewah itu nampak tercengang dan mukanya berubah. Ia bertukar pandang dengan kawan-kawannya, kemudian ia menjura kepada Tiauw Ki dan berkata, “Maaf, maaf, kami tidak tahu bahwa Tuan adalah keponakan dari Suma-huciang. Sampai bertemu di dalam pesta.”

Setelah berkata demikian, Lie Kian Tek membalapkan kudanya, diikuti oleh lima orang kawannya. Debu mengebul di belakang mereka sehingga Tiauw Ki dan Im Giok harus menutupi mulut dan hidung dengan ujung lengan baju.

“Manusia sombong…!” kata Ang I Niocu Kiang Im Giok.

“Sombong juga sudah sepatutnya karena dia adalah putera Gubernur Lie di Shansi,” jawab Tiauw Ki sambil menghapus debu dari mukanya sehingga kulit mukanya menjadi merah.

“Gan-kongcu…”

“Nona, harap kau jangan menyebut kongcu kepadaku, aku hanya seorang pemuda miskin biasa saja aku malu menerima sebutan ini.”

Im Giok tersenyum manis.

“Habis, aku harus menyebut bagaimana?” tanyanya.

“Biarpun kita baru tiga hari berkenalan, akan tetapi aku merasa seperti sudah seabad mengenalmu,” kata Tiauw Ki.

“Aduh, sudah berapa abadkah usiamu?” Im Giok menggoda.

Tiauw Ki tersenyum. “Sesungguhnya, Nona. Aku merasa seakan-akan sudah mengenalmu lama sekali.”

“Aku pun demikian, Gan-kongcu,” jawab Im Giok jujur. “Agaknya memang watak kita yang cocok.”

“Kita seperti saudara saja,” kata pula Tiauw Ki.

“Memang kau baik sekali.”

“Kalau begitu, mengapa kau tidak menyebut aku twako (kakak besar) saja? Dan aku menyebutmu adik, bukanklah ini lebih tepat dan lebih enak didengarnya?”

Im Giok memandang. Tiauw Ki memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bibir tertutup, hati terbuka mengalirkan rasa yang hanya dapat ditangkap melalui sinar mata.

“Baiklah, Gan… Twako. Eh, ya, aku lupa. Kau tadi mengaku di depan orang she Lie tadi sebagai keponakan Suma-huciang, bukankah kau telah membohong?”

“Memang aku membohong. Nama Suma-huciang amat disegani orang, biarpuh dia itu putera gubernur, tetap saja saja ia tidak berani bersikap kurang ajar terhadap Suma-huciang. Karena itu, melihat dia hendak kurang ajar kepadamu, aku terpaksa membohong untuk menutup mulutnya dan mengusir dia pergi.”

Im Giok tersenyum “Bagaimana nanti kalau dia bercakap-cakap dengan Suma-huciang dan menyebut-nyebutmu?”

“Tidak apa, selain aku tidak takut, juga aku tidak sudi menyebut nama, bagaimana dia bisa bicara tentang orang yang tak bernama?”

“Gan-twako, lain kali kau tak perlu mencoba melindungi aku dengan jalan membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak takut akan gangguan she Lie itu, kalau tadi aku mau, hemm… aku dapat membuat dia jungkir balik dari atas kudanya!” kata Im Giok gagah.

“Nona…”

“Lho, kau sendiri yang merubah sebutan, Twako…”

“O, ya! Maaf, begini, Siauw-moi…”

“Kenapa kau menyebutku Siauw-moi (Adik Cilik)? Aku tidak kecil lagi, Twa-ko…”

“Eh ya… Kiang-moi, sebetulnya aku pun percaya dan mengerti bahwa kau tak takut kepadanya. Akan tetapi, orang she Lie itu amat terkenal lihai ilmu silatnya, sedangkan kalau terjadi keributan, hal itu amat tidak baik bagi tugasku.”

Im Giok mengangguk-angguk. “Aku mengerti, Twako, kalau tidak demikian, kalau aku tidak ingat akan tugasmu yang amat penting, apakah kaukira aku masih dapat menahan sabar menghadapi ocehan manusia sombong macam Lie Kian Tek itu?”

Dua orang muda itu melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Tiang-hai. Tak lama kemudian mereka memasuki kota itu, sebuah kota yang besar dan ramai. Setelah mereka memasuki kota, nampak makin banyak orang yang agaknya datang dari luar kota, ada yang berkuda, berkereta, banyak pula yang berjalan kaki. Mata Im Giok yang tajam dapat melihat banyak sekali orang-orang yang kelihatannya berkepandaian tinggi, seperti orang-orang kang-ouw. Akan tetapi karena dia sendiri belum terkenal, ia tidak dikenal orang dan hal ini melegakan hatinya.

“Gan-twako, mengapa kau tidak bilang bahwa Suma-huciang sedang merayakan hari lahirnya yang ke enam puluh tahun?” Im Giok menegur kawannya.

“Aku sendiri pun baru tadi mendengar dari mulut Lie Kian Tek,” jawab Tiauw Ki. “Akan tetapi hal ini lebih baik, aku dapat menghadap Suma-huciang dengan dalih menghaturkan selamat dan menghaturkan barang persembahan tanpa dicurigai orang lain. Agaknya Suma-huciang sengaja mengadakan pesta untuk mengumpulkan orang-orang, dan untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan.”

Im Giok memuji kecerdikan Gan Tiauw Ki. “Kalau begitu, kurasa kau akan menghadapi banyak bahaya, Gan-twako. Kulihat orang-orang yang datang di kota ini hampir semua adalah orang-orang kang-ouw, dan di antaranya tentu banyak yang jahat. Ada baiknya kalau aku pun menghadiri pesta itu dan untuk memberi hormat dan selamat pula kepada Suma-huciang. Adapun untuk barang hantaran, biarlah aku memberikan ini.” Im Giok mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari emas dihias kemala indah.

Melihat ini Tiauw Ki berubah air mukanya dan kulit mukanya menjadi merah sekali. Im Giok tertegun.

“Eh, Gan-twako, kau kenapakah?” tanyanya.

Muka Tiauw Ki makin merah. “Kiang-moi, alangkah tajamnya pandang matamu. Sedikit saja ada apa-apa terasa dalam hatiku, kau sudah tahu!”

Im Giok tertawa. “Kau pun tajam pandang matamu, Twako. Ketika aku marah dan hendak mendamprat orang she Lie, kau menyentuh tanganku dan melarangku marah-marah.”

“Mudah saja, kulihat ujung hidungmu bergerak-gerak, aku sering kali melihat kau berhal seperti itu kalau merasakan sesuatu, maka aku dapat menyangka bahwa kau tentu akan marah terhadap orang she Lie itu.”

“Begitukah? Apakah ujung hidungku suka bergerak-gerak? Alangkah lucu dan anehnya. Tentu seperti hidung kuda tentu!”

“Ah, tidak Kiang-moi, bahkan lucu dan… dan manis sekali,” kata Tiauw Ki.

“Aah, sudahlah. Kau memang pandai memuji. Kau sendiri pun mudah dilihat. Mukamu merah seperti udang direbus, bagaimana aku tidak tahu bahwa kau memikirkan sesuatu? Lebih baik sekarang kau mengaku, kau sedang berpikir apakah?”

“Tusuk kondemu itu, Kiang-moi. Sayang sekali kalau diberikan kepada Suma-huciang.”

“Ah, ini benda tidak begitu berharga, Twako.”

“Mungkin harganya tidak begitu tinggi, akan tetapi selama ini sudah menghias rambutmu, jadi… jadi… begitulah, amat berharga dalam pandanganku. Karena itu jangan diberikan sebagai hadiah, kalau hendak memberi hadiah, lebih baik kita beli saja di toko emas di kota ini, aku membawa bekal banyak uang Kiang-moi.”

Tiba-tiba muka Im Giok menjadi merah dan gadis ini merasa amat girang.

“Twako, aku sendiri tidak membawa uang. Dan aku tidak mau kalau kau memberikan barang hadiah itu untukku. Aku lebih suka memberikan tusuk konde ini daripada aku harus menyusahkanmu, membeli di toko.”

“Begini saja, Kiang-moi. Kalau kau begitu angkuh dan tidak mau menerima uangku untuk membeli barang tanda mata, bagaimana kalau… kalau… aku tukar saja tusuk kondemu itu? Sebagai gantinya aku membelikan barang hadiah yang jauh lebih mahal harganya untuk diberikan kepada Suma-huciang?”

Kembali dua pasang mata beradu dan keduanya bermerah muka.

“Sesukamulah, bagiku benda ini jatuh di tangan siapa saja pun tidak ada bedanya. Tentu saja… kalau berada di tanganmu lebih baik lagi.”

“Mengapa lebih baik, Kiang-moi?” Tiauw Ki mendesak.

“Mengapa? Aah… kau mendesak dengan pertanyaan yang bukan-bukan.”

“Mengapa, Kiang-moi? Mengapa lebih baik?” kembali pemuda itu mendesak.

“Sstt, lihat, banyak orang memperhatikan kita. Mari kita pergi ke rumah penginapan berganti pakaian, lalu mengunjungi rumah Suma-huciang.”

Keduanya lalu mencari rumah penginapan, menyewa dua kamar, lalu ber kemas. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dengan pakaian sudah ditukar pakaian bersih. Mereka pun mandi lebih dahulu sehingga sepasang orang muda itu nampak bersih dan tampan, benar-benar merupakan pasangan yang amat sedap dipandang. Diantar oleh Tiauw Ki, Im Giok mencari barang hadiah di toko emas dan akhirnya setelah memilih-milih lalu membeli sebuah kotak kuno berukir yang indah sekali dari toko perhiasan. Ia hendak memberikan tusuk kondenya kepada Tiauw Ki, akan tetapi pemuda itu menolak dan mengatakan nanti saja.

Kemudian dua orang muda itu pergi ke gedung pembesar Suma-huciang yang berada di tengah kota. Gedung itu besar dan bentuknya kuno, karena Suma-huciang memang sejak beberapa keturunan telah menjabat pangkat dan berjasa kepada Kaisar. Jadi bukan semata karena kedudukannya Suma-huciang disegani oleh pembesar-pembesar lain, akan tetapi terutama sekali karena nama keluarganya yang semenjak dahulu menjadi tokoh besar yang disayang oleh Kaisar karena setia dan berani mati membela negara.

Ketika mereka tiba di situ, ternyata sudah banyak sekali tamu memenuhi ruangan depan. Keadaan sungguh ramai, dan meriah. Tambur, canang, suling dibunyikan orang, didahului suara biduan pria yang parau dan nyaring. Di ruangan depan sebelah kiri ramai orang bermain judi, di sebelah kanan serombongan orang-orang tua bertanding minum arak sehingga suasana di kanan kiri ruangan itu amat ramai. Hanya di ruang tengah yang luas sekali itu berkumpul orang-orang muda yang duduk mengobrol sambil menghadapi makanan minuman.

Tuan rumah, Suma-huciang yang sudah berusia enam puluh tahun namun nampak masih gagah bermka merah seperti muka Kwan Kong (tokoh Sam Kok yang terkenal), bertubuh tinggi besar, memakai pakaian kebesaran dengan pedang pemberian Kaisar tergantung di pinggang, duduk di ruang sebelah dalam di mana berkumpul tamu-tamu yang dipandang sebagai golongan tinggi dan terhormat. Banyak sekali pelayan hilir mudik mengatur kelancaran pesta itu. Setiap orang tamu yang datang, tentu disambut oleh pelayan yang berpakaian indah, tamu baru ini dibawa masuk dan diantar menghadap Suma-huciang yang duduk di ruang dalam. Tamu ini menghaturkan selamat dan memberi hormat serta memberikan barang hadiah yang dibawanya, kemudian oleh pelayan ia dipersilakan duduk di ruangan yang tepat baginya. Pelayan penyambut ini adalah orang yang berpengalaman luas dan mengenal hampir semua tamu sehingga ia maklum ke mana ia harus membawa tamunya duduk.

Barang-barang sumbangan ditaruh di atas sebuah meja besar panjang yang ditilami sutera merah, diatur berjajar seakan-akan berlomba keindahannya dan kemahalannya. Tamu-tamu wanita yang jumlahnya paling banyak dua puluh lima orang, amat sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah tamu pria, duduk di dekat tempat sumbangan. Ada pula beberapa orang tamu wanita yang duduk semeja dengan tamu pria. Tamu wanita seperti ini tentu orang-orang kang-ouw dan ahli silat-ahli silat, mudah dilihat dari gerak-gerik mereka, pakaian, dan pedang mereka. Bagi wanita yang sudah biasa merantau di dunia kang-ouw, tidak ada lagi pantangan hubungan dalam pergaulan dengan kaum pria, sungguhpun hubungan ini amat terbatas oleh tatasusila yang tetap dipegang teguh.

Tiauw Ki dan Im Giok disambut oleh pelayan penyambut yang menjura dengan ramah-tamahnya.

“Selamat datang, Tuan muda dan Nona. Harap Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memberitahukan nama dan alamat agar dapat melaporkan kedatangan Ji-wi kepada Taijin.”

“Terima kasih, Lopek. Tolong beritahukan kepada Suma-taijin bahwa keponakannya she Gan dari kota raja datang berkunjung, bersama seorang sahabat, Nona Kiang. Kami datang dari jauh sengaja hendak menghaturkan selamat,” jawab Tiauw Ki dengan suara tenang sewajarnya.

Ketika pelayan itu mendahului mereka menuju ke ruangan dalam, Tiauw Ki berbisik kepada Kiang Im Giok sebagai jawaban atas pandang mata keheranan dari nona ini.

“Agar Suma-taijin mengerti bahwa yang datang tentu seorang yang istimewa dari kota raja.”

Diam-diam Im Giok memuji ketabahan dan kecerdikan pemuda ini mengatur siasat. Setiap meja yang dikelilingi tamu terdiam apabila mereka lewat dekat, kemudian terdengar bisikan-bisikan dan suara ketawa ketika mereka telah lewat, tanda bahwa mereka menjadi pusat perhatian. Baik Tiauw Ki maupun Im Giok maklum bahwa lagi-lagi yang menjadi pusat perhatian para tamu pria ini, tentu Im Giok yang cantik! Akan tetapi gadis itu tidak ambil peduli sama sekali, hanya ketika ia mulai masuk ke ruangan dalam, sepasang matanya bergerak penuh perhatian dan terlihatlah olehnya putera gubernur yang bernama Lie Kian Tek bersama kawan-kawannya berada di dalam ruangan ini. Ruangan ini paling lebar dan luas, di tengah-tengah terdapat sebuah panggung yang menempel di dinding, dihias dengan kain sutera dan langkan-langkan indah. Agaknya akan diadakan pertunjukan di atas panggung, pikir Im Giok yang kemudian memindahkan perhatiannya kepada seorang tua yang berdiri mendengarkan laporan pelayan, kemudian menyambut kedatangan Tiauw Ki dengan wajah berseri dan melambaikan tangan.

“Aha, kiranya Gan-hiantit yang datang! Bagaimana keadaan ayahmu di kota raja? Baik-baik sajakah?”

Im Giok sampai menahan berdebarnya jantung ketika mendengar ini. Apakah benar-benar Tiauw Ki keponakan Suma-huciang, ataukah pembesar tua itu yang ikut-ikutan bermain sandiwara secara cerdik sekali?

“Terima kasih, Paman, terima kasih. Ayah baik-baik saja dan dari jauh menghaturkan selamat atas ulang tahun Paman disertai doa semoga Paman panjang usia dan hidup bahagia. Adapun siauwtit sendiri pun menghaturkan selamat dan membawa sebuah benda tak berharga untuk sekedar sumbangsih dari siauwtit, mohon diterima.” Pemuda itu mengeluarkan bungkusan dari sakunya, bungkusan sutera kuning yang besarnya hanya dua tiga kepalan tangan orang.

Suma-huciang tertawa sambil menerima bungkusan itu. “Aah, kau terlalu sungkan, Gan-hiantit, akan tetapi terima kasih atas kebaikanmu.” Suma-huciang lalu memberikan bungkusan itu kepada seorang pelayan yang memang sudah berdiri di situ dan bertugas menerima barang-barang hadiah, kemudian pelayan itu menaruh bungkusan itu di tengah-tengah meja bersama dengan lain-lain hadiah.

Im Giok yang berpendengaran tajam sekali tiba-tiba merasa aneh. Suara berisik dari orang-orang bercakap-cakap di ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi sejenak, dan ketika ia menyapu ruangan dengan kerling matanya, ia melihat betapa semua orang mengarahkan pandang mata kepada bungkusan itu! Akan tetapi ia mendengar suara Tiauw Ki memperkenalkannya kepada Suma-huciang, maka cepat ia menjura kepada pembesar itu dan berkata,

“Saya yang bodoh kebetulan sekali bertemu dengan Saudara Gan di tengah perjalanan. Mendengar bahwa Suma-taijin merayakan hari ulang tahun ke enam puluh, saya memberanikan diri ikut dengan Saudara Gan dan ikut pula menghaturkan sedikit tanda mata yang tidak berharga,” Ia mengeluarkan bungkusannya, yakni kotak kayu yang indah yang dibelinya dari toko perhiasan. Kembali kotak itu diterima oleh Suma-huciang dan dioperkan kepada pelayannya lalu disimpan di atas meja.

“Terima kasih, Kiang-siocia. Kau sungguh baik sekali. Silakan kalian orang-orang muda memilih tempat duduk yang enak. Maafkan aku tidak dapat melayani lebih lama karena harus menerima tamu-tamu baru yang datang.”

Tiauw Ki dan Im Giok menjura, kemudian mengundurkan diri. Pelayan hendak mempersilakan mereka duduk di ruangan luar, akan tetapi Tiauw Ki berkata,

“Aku ingin duduk di ruangan ini, dekat pamanku.” Pelayan itu tidak berani membantah karena pemuda ini betapapun juga adalah keponakan Suma-huciang dan kiranya seorang keponakan sudah patut disejajarkan dengan “orang-orang besar” di situ. Juga Im Giok sudah memilih tempat di sudut yang masih kosong dan kebetulan sekali, kursi yang ia duduki itu berada tepat di depan panggung yang masih kosong. Tiauw Ki duduk di seberang meja.

“Kaulihat kalau-kalau bungkusan tadi diambil orang,” bisiknya perlahan kepada Im Giok. Nona ini maklum dan mengangguk dengan pandang matanya. Hal ini mudah saja baginya karena memang ia duduk dengan muka menghadap meja besar tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Tamu-tamu baru masuk memberi selamat dan barang-barang sumbangan makin banyak, sehingga memenuhi meja. Akhimya habis juga aliran tamu dan tempat-tempat sudah penuh oleh tamu. Hidangan-hidangan lezat dan arak-arak wangi dikeluarkan. Kemudian seorang pengawal dari Suma-huciang angkat bicara mewakili pembesar itu menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan para tamu, kemudian mengumumkan bahwa untuk menghibur para tamu, akan dimainkan tari-tarian oleh para penari yang sengaja datang dari kota raja sebagai sumbangan dari Kaisar! Pengumuman ini mendapat sambutan gempar dari semua yang hadir, karena hal ini adalah sesuatu yang istimewa. Tidak sembarang orang pernah menonton pertunjukan luar biasa ini, yaitu para penari cantik jelita dari dalam istana!

Suma-huciang menjadi gembira sekali melihat sambutan para tamu maka pembesar tua ini bangkit berdiri, menjura dan berkata,

“Saudara-saudara sekalian, memang hal ini amat menggembirakan. Aku telah menerima karunia besar sekali dari Hongsiang karunia yang amat mengharukan hatiku dan yang selama hidup takkan kulupa. Dalam keadaan seperti ini Hongsiang masih mengingat hambanya yang sudah tua seperti aku, benar-benar hal yang amat menggembirakan dan mengharukan. Alangkah mulia hati Hongsiang.” Suma-huciang menghentikan kata-katanya untuk menahan suaranya yang mulai menggetar saking harunya. Kemudian disambungnya lagi, kini air mukanya berseri.

“Ada kabar baik sekali, Saudara sekalian. Sebelum tari-tarian dari kota raja dirpulai, Lie-kongcu putera dari Paduka Gubernur di Shansi, berkenan memberi hiburan dengan menyumbangkan tarian silat di depan suadara-saudara. Kiranya semua orang sudah mengenal atau mendengar betapa pandainya Lie-kongcu bermain silat. Nah, Lie-kongcu, silakan!” Suma-huciang membungkuk ke arah Lie Kian Tek yang sudah bangkit berdiri disambut tepuk-sorak oleh para hadirin yang berada di situ. Para tamu wanita kini semua memandang ke arah pemuda tampan ini dengan mata bersinar dan bibir tersenyum-senyum.

“Sebetulnya siauwte malu sekali memperlihatkan kebodohan, akan tetapi demi untuk meramaikan pesta Suma-taijin, apa boleh buat!” katanya tersenyum manis dan tiba-tiba sekali ia bergerak tubuhnya melayang naik ke atas panggung! Jarak antara tempat ia berdiri dan panggung ada enam puluh tombak dan ia dapat melompat sedemikian rupa melewati kepala para tamu, benar-benar merupakan demonstrasi gin-kang yang tak boleh dipandang ringan!

Tukang pemukul tambur, canang dan suling sudah siap dan kini terdengar suara musik dipukul gencar. Akan tetapi Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangan ke belakang sehingga tiba-tiba suara musik dipukul perlahan sekali.

“Cuwi sekalian, perkenankan siauwte masuk dulu untuk berganti pakaian,” kata pemuda ini dengan lagak dibuat-buat, kemudian ia berlari masuk melalui pintu sutera di dekat rombongan pemain musik.

Para tamu menjadi ribut, berebutan memilih tempat dekat panggung.

“Tamu wanita di depan!” terdengar suara orang. Terpaksa tamu-tamu pria mengalah dan sebentar saja tercium bau harum dan suara berkereseknya pakaian ketika tamu-tamu wanita berlari-lari kecil memilih tempat duduk di depan panggung. Tentu saja otomatis Im Giok terkurung di tengah-tengah.

Sebelum para tamu wanita itu datang Tiauw Ki sudah berbisik,

“Adik Im Giok, aku hendak mendekati Suma-huciang,” dan pemuda ini segera berdiri lalu pergi dari situ ketika para tamu wanita datang di depan panggung. Tidak hanya Tiauw Ki yang meninggalkan tempat itu, juga tamu-tamu pria banyak yang meninggalkan tempat duduknya untuk diberikan kepada tamu-tamu wanita, kecuali beberapa orang laki-laki yang bermuka tebal dan tidak tahu malu, tetap saja duduk di situ bahkan merasa kebetulan sekali! Oleh karena itu, maka kepergian atau kepindahan Tiauw Ki ini tidak menarik perhatian orang.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan kerling matanya Im Giok melihat bahwa Tiauw Ki benar-benar telah dapat duduk di dekat Suma-huciang, bahkan juga di dekat panggung, sebelah kiri panggung di mana orang menyediakan tempat khusus untuk tuan rumah. Sementara menanti munculnya Lie Kian Tek yang jelas sekali pada malam itu menarik hati orang banyak, terutama sekali hati para wanita yang hadir di situ, para penabuh musik membunyikan alat musik masing-masing sehingga keadaan menjadi ramai sekali. Im Giok diam-diam memperhatikan Tiauw Ki dan ia melihat pemuda itu menggerak-gerakkan tangan bercakap-cakap asik sekali dengan Suma-huciang yang nampak mengangguk-angguk. Karena semua orang, atau hampir semua, boleh dibilang sedang mempercakapkan Lie Kian Tek yang menjadi populer itu, tentu orang mengira bahwa Tiauw Ki juga bicara tentang pemuda itu dengan Suma-huciang. Apalagi dalam kebisingan suara tambur dan canang, suara mereka sama sekali tidak dapat terdengar oleh orang lain.

Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan ketika Lie Kian Tek muncul dari belakang pintu sutera. Im Giok memandang dan diam-diam gadis ini harus mengaku bahwa Lie Kian Tek kelihatan gagah dan tampan sekali. Dandanan Lie Kidn Tek sebagai seorang pendekar besar jaman dahulu benar-benar pantas sekali untuk wajahnya yang gagah tampan dan potongan tubuhnya yang tegap berisi, Pendeknya, pemuda she Lie itu potongan pendekar benar, pendekar seperti yang seringkali dijadikan kembang mimpi oleh para gadis remaja.

Irama musik berubah setelah pemuda ini muncul, semua orang kini diam dan memandang penuh perhatian ketika Lie Kian Tek memulai pertunjukannya dengan menjura ke arah Suma-huciang, kemudian kepada semua hadirin. Ketika pandangan matanya tertuju ke arah para penonton wanita, ia memberi kedipan mata kepada Im Giok. Gadis ini membuang muka, akan tetapi ia melihat semua wanita muda yang berada di situ tertawa cekakak-cekikik sambil saling cubit, bersikap genit sekali. Im Giok menjadi sebal. Ia tahu, bahwa Lie Kian Tek secara kurang ajar berkedip kepadanya dan para wanita itu masing-masing merasa diajak bermain mata oleh Lie Kian Tek sehingga timbul suasana yang menggelikan dan menjemukan itu.

Musik ditabuh dengan irama lambat dan Lie Kian Tek mulai bersilat. Gerakannya mula-mula lambat dan pedangnya masih tergantung di pinggang. Pemuda ini memang pandai sekali dan berbakat sehingga tiap gerakannya merupakan tarian indah. Kadang-kadang tangannya memegang atau menyambar ujung ikat pinggang berkembang dan bergerak amat gagahnya.

Im Giok secara terus terang harus mengaku bahwa ia amat tertarik dan suka melihat gerak-gerik pemuda itu, juga ilmu silat yang dimainkan itu bukanlah ilmu silat biasa, melainkan ilmu silat yang mengandung dasar tinggi. Namun digerakkan secara lembut-gemulai sedap dipandang. Dasar Im Giok sendiri seorang ahli seni atau seorang seniwati yang suka akan tari-tarian, kini menonton orang bermain silat seperti menari, karuan saja ia tertarik sekali. Ketika Lie Kian Tek kebetulan menghadap ke arah ia duduk, pemuda itu kembali berkedip dan tersenyum kepadanya.

Im Giok mendongkol sekali, mengerutkan kening dan tak terasa tangan kirinya naik ke mulutnya untuk menahan bibirnya yang sudah hendak memaki marah. Akan tetapi ia dapat menekan perasaan mendongkolnya, bahkan dapat memaksa bibirnya tersenyum seakan-akan ia tertarik seperti orang-orang lain dan tidak melihat adanya isarat-isarat kurang ajar dari pemuda itu.

Lie Kian Tek bersilat makin cepat dan tak lama kemudian di atas panggung seperti ada beberapa orang yang bersilat. Gerakannya cepat sekali dan semua itu tambah indah menarik karena diiringi suara musik yang gencar dan ramai. Tepuk tangan menyambut permainannya yang memang indah.

Lie Kian Tek makin bangga. Tiba-tiba ia berseru keras dan orang melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata. Ternyata pemuda itu telah mencabut pedangnya dan kini bersilat pedang dengan gerakan indah dan cepat. Pedang di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuhnya. Akan tetapi Im Giok yang bermata tajam dapat mengikuti setiap gerakannya dan biarpun ia harus memuji bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi tidak begitu lihai kalau dilawan, atau pendeknya ia sanggup untuk menandingi pemuda itu dalam ilmu silat. Tiba-tiba Lie Kian Tek berseru keras dan mengakhiri ilmu pedangnya dengan gerakan menyambit. Inilah gerakan Sin-liong-hian-bow (Naga Sakti Mengulur Ekornya) semacam gerakan yang sukar dilakukan dan biasanya dalam pertempuran hanya dilakukan oleh orang yang sudah amat terdesak atau sudah terluka sehingga gerakan terakhir ialah dengan menimpukkan pedangnya. Pedang di tangan Lie Kian Tek meluncur cepat sekali dan tahu-tahu telah menancap di atas tiang yang berada di depan Suma-huciang, kurang lebih satu kaki di atas kepala pembesar itu!

Tadinya semua orang terkejut karena mengira bahwa pedang itu ditimpukkan ke arah Suma-huciang, akan tetapi segera meledak tepuk tangan memuji ketika Suma-huciang tertawa-tawa sambil bertepuk tangan pula! Tiauw Ki yang duduk di dekat pembesar itu, menjadi pucat dan ia kagum bukan main melihat ketenangan Suma-huciang yang masih dapat bertepuk tangan memuji, padahal tadi mengalami kekagetan yang cukup menegangkan hati. Ia sudah biasa dan memiliki kepandaian silat tinggi pula, akan tetapi Tiauw Ki yang belum melihat kepandaiannya bersangsi apakah pembesar yang sudah tua ini mampu menandingi kepandaian Lie Kian Tek yang muda dan lihai.

“Kepandaian hebat, Lie-kongcu.” Suma-huciang berkata sambil tertawa kepada Lie Kian Tek yang masih membungkuk-bungkuk menerima pujian dan tepuk tangan. “Akan tetapi sayang, timpukanmu kurang keras sehingga pedang hanya menancap setengahnya saja pada tiang kayu. Kalau dipergunakan dalam perang, kiranya takkan dapat menembus baju perang musuh yang terbuat dari besi!” Sambil berkata demikian, pembesar ini berdiri dari kursinya, menggunakan dua buah jari tangan kanan, yakni jari tangan dan telunjuk menjepit pedang yang menancap di tiang itu dan sekali betot pedang itu telah tercabut keluar! Kemudian sambil tertawa ia memuji,

“Pedang bagus! Pedang bagus!” Dan sambil menjura ia mengembalikan pedang itu kepada Lie Kian Tek, lalu duduk kembali di kursinya.

Tepuk tangan riuh menyambut demonstrasi tenaga lwee-kang yang hebat ini. Tiauw Ki memandang dengan melongo dan hampir saja pemuda ini menjulurkan lidahnya saking kagum dan heran. Im Giok tertegun. Tenaga lwee-kang seperti itu tak mudah dilakukan oleh sembarang orang, pikirnya dan ia gembira bahwa pembesar yang menjadi “sahabat” Tiauw Ki itu ternyata bukanlah orang lemah dan kiranya tidak kalah kalau dibandingkan dengan Lie Kian Tek.

Lie Kian Tek mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu mulai muram. Ia menerima pedangnya dari tangan Suma-huciang, kemudian sambil menyeringai ia berkata, menjura kepada pembesar itu,

“Ah, nama besar Suma-taijin bukanlah nama kosong belaka, membuat siauwte takluk sekali. Hari ini adalah hari gembira dan hari baik, maka untuk menambah meriah suasana, aku sangat mengharap supaya Taijin sudi menunjuk seorang jagoan untuk memperlihatkan kepandaiannya di panggung ini. Selain untuk menambah pengalaman kami orang-orang Shansi, juga untuk sekedar perbandingan kegagahan antara kawan-kawan kita.” Kata-kata ini sesungguhnya bukan semata untuk menyatakan ketidaksenangan hati putera Gubernur ini karena tadi telah menerima celaan dari Suma-huciang, melainkan pada hakekatnya mengandung segi politis yang mendalam. Suma-huciang adalah seorang pembesar yang amat setia kepada Kaisar, dan yang di daerah ini merupakan satu-satunya orang yang disegani oleh para pembesar yang korup dan yang hendak memberontak, karena mereka tahu bahwa Suma-huciang akan merupakan penghalang besar dan akan membela negara dengan nyawa. Dan para pemberontak itu pun tahu bahwa selain diri sendiri lihai. Suma-huciang mendapat dukungan banyak orang pandai di dunia kang-ouw, karena itu sejauh ini para pemberontak belum berani turun tangan mengganggu Suma-huciang.

Adapun Lie Kiang Tek adalah putera Gubernur Shansi, gubernur di samping gubernur Propinsi Honan, merupakan orang terkemuka dan tokoh besar yang anti Kaisar! Tidak mengherankan apabila di dalam hati mereka terkandung rasa permusuhan besar, sungguhpun pada lahirnya kedua pihak belum berani berterang menyatakan kebencian dan permusuhan. Kini mendapatkan kesempatan baik, Lie Kian Tek sengaja mengeluarkan kata-kata untuk memancing keluarnya jago pembela Suma-huciang sehingga di samping untuk mengenal siapa pembela pembesar setia raja ini, juga untuk mengukur sampai di mana kelihaian mereka! Dilihat dari sini, ternyata bahwa Lie Kian Tek bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga cerdik dan licin.

Suma-huciang bukan seorang pembesar kawakan yang sudah banyak pengalaman kalau kalau ia tidak mengerti akan maksud hati putera Gubernur ini. Sambil senyum ia berkata,

“Terima kasih kepada Lie-kongcu yang sudah begitu memperhatikan untuk memeriahkan pestaku ini.” Ia lalu memberi isarat kepada seorang tamu yang berdiri dan menjura kepada Suma-huciang.

Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya tenang dan matanya bersinar tajam. Dia ini adalah seorang piauwsu (pengawal barang) di kota Tiang-hai yang amat terkenal dan juga amat setia kepada Kaisar maka selalu membela Suma-huciang. Setelah memberi hormat kepada Suma-huciang, ia lalu berjalan menghampiri panggung dan dengan gerakan ringan melompat naik, menjura kepada Lie Kian Tek lalu berkata,

“Hamba Chi Liok menerima tugas dari Suma-huciang untuk memenuhi usul Lie-kongcu. Harap saja kebodohan hamba takkan menjadi tertawaan para Enghiong dari Shansi.”

Lie Kian Tek tersenyum mengejek, “Aha, kiranya Chi-piauwsu yang akan menjadi wakil Tiang-hai. Bagus, sudah lama kami ingin menyaksikan kelihaian Chi-piauwsu. Silakan.” Setelah berkata begitu, Lie Kian Tek melepaskan penghias kepala dan melompat turun, memilih tempat duduk tak jauh dari tempat duduk Im Giok, menoleh melirik sambil tersenyum kepada gadis itu, kemudian melepaskan jubah luarnya sehingga kini ia kembali memakai pakaiannya yang tadi sebelum ia bermain di atas panggung. Para wanita melirik-lirik dan senyum-simpul menghujani pemuda itu, kerling memikat menyambar-nyambar ke arahnya! Kian Tek melempar senyum membagi kerling kepada para wanita yang mengaguminya itu lalu duduk dengan sikap angkuh, memandang ke arah panggung.

Sementara itu, musik telah dibunyikan pula dan Chi Liok mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya lambat saja dan jauh kalah menarik kalau dibandingkan dengan pertunjukan Lie Kian Tek tadi, maka di sana-sini terdengar suara ejekan. Bahkan di antara para penonton wanita ada yang terkekeh menertawakan. Akan tetapi Im Giok melihat bahwa piauwsu itu adalah seorang ahli lwee-keh yang tak boleh dipandang ringan. Setiap gerak tangan mengandung tenaga lwee-kang yang cukup kuat, sedangkan bhesi kakinya bukan main. Setelah menyelesaikan babak permainan ilmu silat tangan kosong, Chi-piauwsu lalu mengeluarkan senjatanya, yakni sebatang joan-pian (ruyung lemas) yang berwarna hitam. Ia lalu bersilat dengan joan-pian ini. Kembali gerakannya lembut dan perlahan, namun joan-pian itu kadang-kadang mengeluarkan suara mengiuk, tanda bahwa gerakan senjata itu cepat dan mengandung tenaga besar.

Setelah selesai bersilat, Chi-piauwsu menjura kepada penonton dan berkata, “Aku orang she Chi telah memperlihatkan kebodohan, harap jangan ditertawakan mengingat bahwa aku naik ke panggung ini atas perintah Suma-taijin.” Ia lalu melompat turun dan kembali duduk di tempatnya semula. Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangannya kepada seorang bermuka kuning yang tadi ikut mengantar ia datang, yakni seorang di antara lima orang kawannya. Orang bermuka kuning ini mengangguk sambil menyeringai, kemudian berrseru keras,

“Suma-taijin, hamba mohon diberi kesempatan mewakili Shansi!”

Sebelum Suma-huciang menjawab, tubuhnya telah melayang ke atas panggung dengan gerakan indah. Ternyata orang ini datang-datang mendemonstrasikan gin-kang yang lihai.

Suma-huciang tertawa. “Boleh, boleh! Tak usah bertanya lagi, karena memang tiba giliran pihak Shan-si,” jawabnya.

Si Muka Kuning tersenyum lalu menjura kepada penonton, kemudian berkata suaranya lantang tinggi.

“Siauwte bernama Coa Keng, menerima titah Lie-kongcu mewakili Shan-si. Akan tetapi, siauwte bukan seorang yang suka pamer. Ada banyak orang yang suka memamerkan sedikit kepandaian yang tak berarti sebaliknya banyak orang yang tak perlu banyak pamer. Kalau orang berkepandaian seperti Lie-kongcu, patutlah kalau diperlihatkan kepada orang banyak, karena memang indah dan mengagumkan, sedap dipandang. Akan tetapi melihat Saudara Chi Liok tadi bersilat, benar-benar siauwte diam-diam menggeleng kepala. Siauwte tidak mau seperti Saudara Chi Liok, mempertontonkan keburukan dan kebodohan sendiri.”

“Eh, Coa-kauwsu, kau naik ke panggung mau bersilat atau berpidato?” terdengar Chi Liok menegur. Orang-orang tertawa dan kali ini yang ditertawakan adalah Coa Keng sehingga muka yang kuning itu menjadi hijau.

“Chi-piauwsu, bermain silat seorang diri kurang menggembirakan. Untuk membuktikan bahwa kau tadi hanya menjual keburukan dah kebodohan sendiri, silakan kau naik ke sini dan mengawani aku bermain-main sebentar. Tentu akan lebih menggembirakan suasana, bukan? Ataukah, kau… takut?”

Inilah tantangan hebat. Chi Liok mendongkol sekatli, akan tetapi piauwsu ini tidak berani sembarangan bergerak. Sikap Si Muka Kuning itu ia anggap kurang ajar sekali, akan tetapi ia tidak berani bersikap seperti itu di depan Suma-huciang. Maka ia memandang ke arah pembesar ini. Bukan saja Chi Liok tidak berani bersikap kurang ajar, juga ia tahu siapa adanya Lie Kiain Tek dan kawan-kawannya. Ribut dengan mereka berarti memancing kekacauan besar, dan memancing timbulnya pertentangan besar antara mereka yang anti Kaisar dan pihaknya yang pro Kaisar, yang memang sudah lama sekali diam-diam saling membenci.

Suma-huciang sejak tadi sebelum keadaan meruncing, sudah bertukar pikiran dengan Tiauw Ki, bahkan sudah menerima pesanan Kaisar dan para pembesar tinggi di istana. Di antara nasihat-nasihat yang dibawa oleh Tiauw Ki, juga pemuda ini menyampaikan hasrat kaum berkuasa di istana bahwa Suma-huciang diberi tugas untuk memancing sampai di mana tingkat pemberontakan Gubernur Shansi dan Honan terhadap Kaisar dan sampai di mana pula kekuatan mereka. Kini ia menghadapi tantangan, tantangan untuk timbulnya keributan hebat, yang ia tahu sengaja dicetuskan oleh Lie Kian Tek. Agaknya memang pemuda putera gubernur itu datang hanya berdalih memberi selamat, akan tetapi sebetulnya sudah mendapat tugas dari ayahnya. Inilah kesempatan baik, pikir Suma-huciang. Kesempatan untuk menguji dan melihat “isi hati” musuh-musuhnya, tanpa menimbulkan kesan bahwa keributan terjadi karena perasaan pribadi. Maka ia lalu mengangguk kepada Chi Liok.

Piauwsu itu setelah melihat isarat dari Suma-huciang bahwa dia boleh melayani Coa Keng, menjadi gembira sekali. Tidak seperti tadi ketika mendemonstrasikan kepandaian di atas panggung ia bermain lambat-lambatan, kini sekali melompat ia telah melayang ke atas panggung menghadapi Coa Keng! Ia menjura, dibalas oleh Coa Keng. Dua jago berhadapan dan saling mengukur “isi” lawan dengan pandangan mata. Penonton memandang tegang.

“Saudara Coa Keng, betul-betulkah kau mengundang aku naik ke panggung untuk melayanimu bermain silat?” tanya Chi Liok, suaranya masih tenang.

Coa Keng tersenyum mengejek. “Mengapa tidak betul? Untuk meramaikan suasana pesta dan sebagai penghormatan kepada Suma-taijin, sudah sepatutnya kita bermain-main sebentar. Asal saja kau tidak takut, karena dalam permainan silat bersama kita sama-sama maklum bahwa kemungkinan terluka besar sekali, bahwa ada kemungkina terpukul tewas.”

“Ini sebuah tantangan!” Chi Liok menegur, gemas.

“Kau takut?” Coa Keng menggerakkan alis, menghina.

“Orang sombong, kau sajalah yang mempunyai keberanian? Baik, kuterima tantanganmu. Di sini banyak sekali yang melihat betapa kurang ajarnya sikapmu, dan bahkan aku hanya membela diri, membela kepentingan nama taijin, nama daerah dan namaku sendiri. Kaumulailah!”

Coa Keng mengeluarkan suara nyaring dan tiba-tiba dengan suara licik, sambil masih tertawa terus ia mengirim pukulan kilat ke arah lambung Chi Liok!

“Bukk!” tubuh Chi Liok terpental dan hampir saja piauwsu ini roboh kalau ia tidak lekas-lekas berpoksai dan berdiri lagi. Mukanya agak berubah, akan tetapi pukulannya tadi tidak mendatangkan luka dalam yang hebat karena ia keburu mengerahkan lwee-kang ke arah bagian yang akan terpukul.

“Kau curang!” bentaknya.

“Bukankah kau menyuruh aku mulai? Baru sekali pukul saja hampir roboh. Ha, ha, ha!”

“Rasakan ini!” Chi Liok menyerang tiba-tiba sebelum lawannya berhenti tertawa. Pukulannya hampir saja mengenai leher di bagian yang berbahaya kalau saja Coa Keng tidak lekas-lekas miringkan tubuh sehingga yang terpukul hanya pundaknya. Namun ini cukup membuat Coa Keng terhuyung ke samping tiga tindak sambil meringis karena pundaknya terasa sakit sekali.

“Kurang ajar kau!” bentaknya dan di lain saat dua orang ini sudah saling gebuk, saling tendang dan bertanding secara kasar sekali. Sebetulnya ilmu silat mereka juga tidak terlalu rendah akan tetapi oleh karena watak Coa Keng amat kasar, cara berkelahinya juga kasar sehingga mereka itu lebih sering memukul tanpa membahayakan lawan daripada mengirim serangan yang betul-betul membahayakan keselamatan lawan. Pertempuran itu berjalan seru dan bagi orang-orang yang tidak tahu ilmu silat atau yang masih rendah kepandaiannya, memang pertandingan itu nampak ramai dan menegangkan sekali. Akan tetapi bagi orang-orang yang kepandaiannya tinggi, makin lama pertempuran itu nampak makin menjemukan. Akhirnya terdengar suara teriakan sakit dan tubuh Coa Keng terlempar terkena tendangan Chi Liok dan menggelundung keluar dari panggung!

Orang-orang wanita yang tadinya masih menonton dengan muka khawatir mengeluarkan jeritan dan cepat-cepat mereka berbondong pergi meninggalkan panggung untuk duduk di tempat semula, menjauhi panggung. Hanya ada empat orang wanita termasuk Im Giok yang tidak pergi dan karena ini Im Giok dapat menduga bahwa tiga orang wanita di dekatnya itu tentulah orang-orang yang mengerti ilmu silat. Ia melirik dan melihat bahwa mereka ini adalah seorang wanita tua yang memegang tongkat dan rambutnya diikat kain putih, sedangkan yang dua orang adalah gadis-gadis yang berpakaian sederhana akan tetapi cukup manis. Sikap mereka memang bukan orang-orang sembarangan dan Im Giok ingin sekali tahu siapa gerangan mereka bertiga ini.

Sementara itu, di atas panggung terjadi hal lain yang menggemparkan. Begitu tubuh Coa Keng terguling meninggalkan tempat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Chi-piauwsu sudah berdiri seorang kakek. Kakek ini satu kali menggerakkan tangan ke depan, Chi Liok memekik dan terlempar keluar panggung!

“Orang-orang macam ini berani menjual lagak di atas panggung, benar-benar tidak menghormat kepada Suma-taijin, harap disuruh keluar tokoh Tiang-hai yang betul-betul memiliki kepandaian untuk bermain-main dengan aku. Barangkali Taijin sudah lupa lagi, aku adalah Cheng-jiu Tok-ong dari barat dan kini mewakili Shansi.”

Im Glok terkejut bukan main. Tadi ia tidak melihat kakek ini dan tiba-tiba kakek itu naik ke panggung, tentu untuk mengacau. Teringat olehnya bahwa Giam-ong-to Kam Kin, murid kakek ini pun telah menjadi seorang komandan pasukan, tentu pasukan dari Gubernur Shansi! Kalau demikian, tentu Cheng-jiu Tok-ong menjadi kaki tangan Lie Kian Tek.

Mengingat sampai di sini, Im Giok lalu menengok ke arah Kian Tek. Akan tetapi ia tidak melihat pemuda itu dan kursinya kosong. Otomatis Im Giok teringat akan bungkusan yang disumbangkan oleh Tiauw Ki kepada Suma-huciang maka ia menengok ke arah meja tempat menaruh barang-barang sumbangan.

Di lain saat, tubuh Im Giok lenyap, yang tampak hanya bayangan merah yang cepat sekali. Gadis ini tadi melihat Lie Kian Tek berada di dekat meja dan sedang menegur seorang laki-laki yang dengan gerakan cepat sekali mengulur kedua tangan mengambil barang-barang berharga yang kecil-kecil dari atas meja! Kedatangan Im Giok tak terlihat oleh mereka dan tahu-tahu orang laki-laki yang bertubuh kecil pendek itu berseru kaget ketika pundaknya ditotok orang. Akan tetapi ia ternyata lihai bukan main karena masih sempat ia mengelak dan biarpun totokan itu masih mengenai pundaknya, akan tetapi tidak berakibat apa-apa. Im Giok yang menotok kaget dan sama sekali tidak mengira orang itu demikian lihai, maka ia menyerang terus sambil membentak,

“Bangsat kecil, kau hendak mencuri apa?”

Dua kali lm Giok menyerang dan dua kali gagal karena Si Kate Kecil itu dengan amat lincahnya dapat mengelak dan hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba Lie Kian Tek menendangnya sambil berseru,

“Kau hendak lari ke mana?”

Kembali secara mengagumkan, sekali Si Kate itu mengelak dan mencoba untuk lari terus. Dua kali lagi Im Giok berusaha menangkapnya, dan tiga kali Lie Kian Tek sudah mencoba untuk merobohkannya dengan serangan maut, namun semua dapat dielakkan oleh Si Kate itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: