Ang I Niocu ~ Jilid 13

“Copet, kau bikin gara-gara saja, tidak tahu sedang kucari-cari!” tiba-tiba terdengar teguran orang. Mendengar suara ini Si Kate lalu melesat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang orang ini dan mencari perlindungan di belakangnya! Ketika Im Giok dan Lie Kian Tek menengok, ternyata orang yang datang ini adalah Suma-ciang!

“Lie-kongcu, apakah kesalahan dia ini maka kauserang dia?” tanya Suma-huciang kepada Lie Kian Tek.

“Aku melihat dia menggeratak di meja dan hendak mencopet barang-barang sumbangan,” kata putera gubernur itu.

Suma-huciang menengok kepada Im Giok, “Dan kau, Nona, mengapa pula kau hendak menangkapnya?”

“Aku melihat dia mengambil barang-barang dari atas meja, Taijin,” jawab In Giok sambil mengerling ke arah Tiauw Ki yang juga menengok dan memandang ke arah mereka dari tempat duduknya di belakang panggung.

Suma-huciang tertawa. “Harap kalian maafkan dia ini. Dia dijuluki Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti) dan di Tiang-hai sudah terkenal. Dia nakal akan tetapi tak pernah membawa pergi barang orang lain. Copet, kau mengambil apa saja? Hayo lekas keluarkan!”

Sin-touw-ong yang kate sekali tubuhnya itu tersenyum-senyum gembira seperti seorang pelawak, kemudian ia mengeluarkan banyak sekali benda dari sakunya yang banyak pula.

Benda-benda itu dikeluarkan satu demi satu seperti tukang sulap dan Im Giok sendiri terheran-heran karena sukar dipercaya bagaimana seorang kate seperti itu dapat menyimpan benda sebanyak itu tanpa kelihatan dari luar. Juga, yang membikin ia cemas di antara benda-benda itu tidak terdapat bungkusan sumbangan Tiauw Ki yang ternyata telah lenyap dari atas meja! “Kembalikan barang-barang itu, dan mari kauwakili Tiang-hai di atas panggung, Touw-ong,” kata Suma-huciang yang tidak mempedulikan semua itu dan tidak memperhatikan barang apa yang mungkin hilang.

Sin-touw-ong cepat mengembalikan barang-barang itu di atas meja, kemudian ia berjalan menuju ke panggung bersama Suma-huciang. Im Giok memandang kepada Lie Kian Tek dengan penuh curiga, akan tetapi mukanya menjadi merah ketika ia melihat pemuda itu tengah memandangnya sambil tersenyum penuh arti!

“Nona, kau benar-benar gagah. Kau benar-benar mengagumkan dan dibandingkan dengan engkau, semua wanita yang berada di sini, juga yang berada di mana saja, tidak ada artinya! Nona, pertemuan ini benar-benar dapat dinamakan jodoh. Kau dan aku berjodoh, maukah kau ikut aku keluar dari tempat ini dan kita bercakap-cakap di tempat yang lebih sunyi dan dingin? Hubungan kita perlu dipererat dan….”

“Jahanam, tutup mulutmu!” Im Giok memaki marah dan gadis ini lalu pergi ke tempat duduknya. Mukanya terasa panas sekali dan kedua pipinya merah sekali. Ia mendongkol bukan main. Kalau tidak ingat bahwa dia berada di tempat orang lain dan kalau ia tidak ingat akan tugasnya mengawal Tiauw Ki dan melakukan perintah Susiok-couwnya, tentu ia tadi sudah memukul putera gubernur yang bermulut lancang itu.

Sementara itu, di atas panggung Cheng-jiu Tok-ong sudah berhadapan dengan Sin-touw-ong. Cheng-jiu Tok-ong tertawa bergelak dan berkata lantang,

“Ha, ha, ha, Suma-taijin bagaimanakah ini? Benar-benarkah Taijin mengajukan dia ini ke atas panggung?”

Ketika ia melihat pembesar itu mengangguk sambil tersenyum, Cheng-jiu Tok-ong menjadi marah. Ia merasa terhina sekali karena harus menghadapi seorang demikian tak berarti. Ditatapnya wajah Sin-touw-ong seperti seekor harimau menatap tikus.

“Kau ini manusia tiada guna, benar-benar kau sudah bosan hidup? Kau manusia tidak ternama, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?”

Raja copet yang kate itu cengar-cengir seperti seorang badut. Ia mempunyai bentuk muka yang lucu, tubuhnya pendek kecil matanya lebar dan hidungnya dapat bergerak-gerak. Apalagi berhadapan dengan Cheng-jiu Tok-ong, benar-benar seperti seorang raksasa berhadapan dengan seorang katai.

“Aku memang tidak terkenal, akan tetapi kau… kau ini siapakah?” tanyanya memicingkan mata.

“Setan pendek, dengar baik-baik. Aku adalah Cheng-jiu Tok-ong!”

Si Kate menggerakkan kedua pundaknya. “Aku tidak ternama, kau pun tidak terkenal,” katanya acuh tak acuh.

“Bangsat, aku adalah tokoh besar dari barat. Di dalam dunia kang-ouw, siapakah yang tidak mengenal namaku?” Cheng-jiu Tok-ong membentak.

“Setan besar, kau tidak mengenal namaku, aku pun tidak mengenal namamu, siapa di antara kita yang paling tidak terkenal? Kau bernama Cheng-jiu Tok-ong (Raja Racun Bertangan Seribu), aku berjuluk Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti), sungguh kalau dibilang kita ini tidak terkenal, akan tetapi sebetulnya kau dan aku adalah raja-raja besar!”

Meledak suara ketawa para hadirin di situ mendengar kata-kata ini.

“Lo-enghiong, mengapa tidak lekas-lekas ratakan setan pendek itu dengan tana? Injak saja kepalanya, habis perkara!” seorang kawan dari Lie Kian Tek berseru tak sabar lagi melihat jagonya dipermainkan oleh raja copet itu.

“Ya, ya, injaklah! Injaklah!” Sin-touw-ong mengejek dan memasang kuda-kuda rendah sekali di depan Cheng-jiu Tok-ong, seakan-akan mempersiapkan diri untuk diinjak. Kembali terdengar suara orang tertawa riuh, sungguhpun mereka yang sudah mengenal kelihaian Cheng-jiu Tok-ong, merasa khawatir akan keselamatan Si Kate itu.

“Bangsat tukang copet, bersiaplah untuk mampus!” Cheng-jiu Tok-ong yang tidak dapat menahan sabarnya lagi sudah maju menyerang. Serangannya keras dan cepat sekali sehingga Sin-touw-ong terkejut bukan main. Raja copet ini bukan orang biasa. Dia adalah seorang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan sebagai seorang maling dan copet, ia memiliki kepandaian istimewa, yakni kepandaian menjaga diri. Ia licin bagaikan belut dan gerakannya lincah, ditambah pula dengan bentuk tubuhnya yang pendek kecil, sukarlah bagi lawan untuk menyerangnya. Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Cheng-jiu Tok-ong, akan tetapi ia tidak mengira bahwa serangan lawannya akan sehebat itu.

Cepat raja copet itu mengelak. Akan tetapi Cheng-jiu Tok-ong, seorang tokoh besar persilatan yang sudah lebih berpengalaman, maklum pula apakah yang diandalkan oleh lawannya. Maka ia tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Setiap serangannya merupakan pukulan atau tendangan maut, jangankan baru seorang seperti Sin-touw-ong, biarpun lebih tinggi kepandaiannya takkan kuat menerima pukulan ini.

Im Giok memandang semua ini dengan hati berdebar. Gadis ini pernah bertemu dan bertempur dengan Cheng-jiu Tok-ong, maka ia tahu sampai di mana kelihaian kakek ini. Dan menurut pandangannya, biarpun Si Raja Copet memiliki kegesitan luar biasa dan ilmu silat yang berdasarkan pertahanan dan penjagaan diri, akan tetapi kalau dibandingkan dengan Cheng-jiu Tok-ong, masih jauh sekali.

Ia dapat menduga bahwa Si Kate itu biarpun seorang pencopet, tentulah termasuk orang atau pembela Suma-huciang, jadi masih segolongan dengan pemuda pelajar Tiauw Ki. Pula ia ingin sekali menyelidiki siapakah yang mengambil bungkusan Tiauw Ki yang disumbangkan kepada Suma-huciang karena tadi lenyap dari atas meja. Si Kate itulah yang mengambilnya dan belum mengembalikannya? Ataukah Lie Kian Tek?

Melihat Sin-touw-ong sudah terdesak hebat, Im Giok lalu berlari mendekati panggung melompat ke atas panggung dan sekali ia mengulur tangan, ia telah dapat memegang leher baju Sin-touw-ong dan membawanya lompat ke dekat tempat Suma-huciang. Gerakan ini cepat sekali dan Cheng-jiu Tok-ong yang mengenal gadis itu menjadi berubah air mukanya. Kakek ini merasa sangsi. Kepada gadis itu biarpun ia tahu amat lihai, ia masih belum jeri akan tetapi kalau ia teringat akan Bu Pun Su yang pernah menolong gadis itu, bulu tengkuknya berdiri!

Semua orang menjadi gempar ketika melihat seorang gadis baju merah yang cantik, secara aneh telah menahan Si Raja Copet dan membawanya ke dekat Suma-huciang. Akan tetapi Im Giok tidak mempedulikan semua itu dan kepada Suma-huciang ia berkata, “Taijin, tadi kulihat barang sumbangan dari Gan-twako telah lenyap, mungkin sekali dicuri oleh tukang copet itu!”

Tiauw Ki dan Suma-huciang bertukar pandang, kemudian pembesar itu tersenyum kepada Im Giok.

“Terima kasih, Nona. Kalau Nona tidak maju, kiranya nyawa pencopet ini sudah melayang. Touw-ong, lekas kau haturkan terima kasih kepada penolongmu!”

Sin-touw-ong cengar-cengir, kemudian ia menjura berkali-kali dan di depan Im Glok sambil berkata,

“Nona yang cantik dan gagah perkasa, mataku sungguh buta tidak melihat Bukit Thai-san! Akan tetapi aku tidak kalah terhadap setan beracun itu.”

“Kau tidak kalah? Jangan main-main?” Suma-huciang berkata menegur orangnya.

Si Tukang Copet mengeluarkan sebuah benda dari sakunya yang aneh dan Im Giok terkejut. Ternyata bahwa pencopet ini telah berhasil mencopet golok pusaka dari lawannya, yakni, Cheng-tok-ong (Golok Racun Hijau).

“Inilah buktinya bahwa aku tidak kalah dan ini pula, Nona. Kiranya ini obat penolak racun!” Kembali dirogohnya saku bajunya dan. keluarlah obat bubuk dalam botol tanah.

Im Giok merasa kagum sekali. Biarpun ilmu silatnya belum begitu tinggi akan tetapi dalam hal ilmu mencopet, kiranya orang kate ini sudah patut disebut Raja Copet Sakti!

Sementara itu, di atas panggung, Cheng-jiu Tok-ong berteriak-teriak, “Ha, ha, ha, begitu sajakah jagoan dari Tianghai? Segala tukang copet dan tukang maling! Ha, ha, ha. Hayo, mana lagi jago Tiang-hai? Suma-taijin, apakah pertunjukan silat disudahi sampai di sini saja dengan pengakuan kalah dari pihakmu? Kalau begitu, biarlah kita menikmati pertunjukan tari-tarian dari kota raja. Ha, ha, ha!”

“Hm, manusia itu menghina sekali,” kata Sin-touw-ong.

“Biarlah, lebih baik kita sudahi keributan ini,” usul Tiauw Ki.

Suma-huciang menghela napas. “Kalau saja aku bukannya tuan rumah dan tidak pantas sekali kalau aku sendiri naik ke panggung, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian manusia sombong kaki tangan Gubernur Lie itu!”

Sambil berkata demikian, pembesar itu memandang kepada Im Giok. Gadis ini dapat menangkap arti pandang mata Suma-huciang. Kiranya pembesar ini bermata tajam sekali. Sekali saja melihat bagaimana gadis itu menangkap Sin-touw-ong, ia maklum bahwa Im Giok memiliki kepandaian tinggi dan pasti dapat melawan Cheng-jiu Tok-ong. Akan tetapi karena baru saja ia kenal dengan gadis ini, apalagi baru saja gadis ini telah bebaskan Sin-touw-ong dari ancaman bahaya maut di tangan lawannya, ia tidak berani minta kepada Im Giok untuk mewakilinya di atas panggung.

“Taijin, kalau Taijin menghendaki supaya aku mencuci nama Taijin yang dikotori oleh manusia itu, akan kulakukan sekarang juga.”

“Ah, aku akan membikin repot saja, juga tidak enak terhadap Gan-siucai, karena kau dibawa olehnya,” kata pembesar itu.

“Tidak apa, Taijin. Justru karena Gan-twako mempunyai hubungan baik dengan Taijin, maka orang menghina Taijin seperti menghina Gan-twako dan berarti pula menghina aku sendiri,” kata Im Giok yang cepat menghampiri panggung sambil membawa golok rampasan. Lebih dulu dengan amat cepat gadis ini mengoleskan sedikit bubuk rampasan itu di bawah hidungnya dan ia mencium bau wangi sekali.

Dengan gerakan ringan Im Giok melompat ke atas panggung, disambut tepuk sorak para penonton. Dari atas panggung Im Giok melihat muka Lie Kian Tek berubah pucat. Im Giok tidak peduli itu semua dan langsung ia menghadapi Cheng-jiu Tok-ong yang masih ragu-ragu karena mengira gadis ini datang dikawal oleh Bu Pun Su!

“Apa kau datang hendak melanjutkan pertandingan dahulu itu? Asal saja kau berani maju sendiri, jangan bawa-bawa orang tua!” katanya perlahan, hanya terdengar oleh Im Giok.

Gadis itu tersenyum, lalu berkata keras kepada orang banyak, “Si Sombong ini mengira bahwa dia telah menang dalam pertempuran melawan Sin-touw-ong. Padahal, kalau tidak aku datang membawa pergi Sin-touw-ong, kiranya Raja Copet itu kini telah berhasil mencopet isi perutnya tanpa ia mengetahui!”

“Bohong! Omongan apa ini? Dia yang hampir saja mampus!” bantah Cheng-jiu Tok-ong marah.

Kiang Im Giok tersenyum manis dan memperlihatkan golok yang dibawanya dengan mengacungkan senjata itu ke atas agar kelihatan oleh semua orang yang hadir.

“Tok-ong, kaulihat baik-baik, golok siapakah ini? Dan bungkusan obat penawar racun ini, punya siapa pula?”

Cheng-jiu Tok-ong kaget bukan main dan meraba pinggangnya, ternyata golok di pinggang dan bungkusan obat di dalam saku telah lenyap!

“Bagaimana bisa berada di tanganmu?” tanyanya heran dan mukanya berubah merah.

“Siapa lagi kalau bukan Sin-touw-ong yang mengambilnya? Nah, kalau dia menghendaki, apakah dia tidak bisa mengambil nyawamu daripada mengambil dua benda ini dari tubuhmu? Benar-benar kau tidak tahu diri. Apakah masih saja kau tidak mau terima kalah?” Dalam kata-kata ini, Im Giok mengancam, kemudian ia melemparkan golok dan bungkusan obat itu ke atas lantai panggung.

Cheng-jiu Tok-ong ragu-ragu. Ia masih jerih menghadapi Im Giok yang amat lihai ilmu pedangnya, juga ia takut setengah mati kalau memikirkan apakah Bu Pun Su tidak bersembunyi di tempat itu dan akan muncul kalau sampai ia mendesak Im Giok. Kini, secara aneh sekali Si Kate itu telah berhasil mencopet golok dan bungkusan obatnya. Benarkah Si Copet itu yang melakukan hal aneh ini?

Dia tadi sudah mendesak hebat, apa mungkin Si Kate itu sempat mencuri senjatanya? Siapa tahu kalau-kalau ini pun perbuatan Bu Pun Su, kiranya tidak ada hal tak mungkin! Mengingat sampai di sini, Cheng-jiu Tok-ong bergidik dan ia pikir lebih baik mundur sebelum celaka. Sekarang ada kesempatan baik baginya untuk mundur tanpa mendapat malu.

Ia lalu membungkuk, mengambil senjata dan obatnya, lalu berkata sambil menjura, bukan kepada Im Giok melainkan kepada Sin-touw-ong.

“Kepandaian Sin-touw-ong benar-benar lihai sekali membuat orang kagum!” Setelah berkata begitu, Cheng-jiu Tok-ong lalu melompat turun dari panggung.

Im Giok tersenyum puas. Memang ia tidak menghendaki kalau pesta ulang tahun dari Suma-huciang itu berubah menjadi gelanggang pertempuran yang akan mengorbankan nyawa. Baiknya ia dapat mengusir mundur Cheng-jiu Tok-ong hanya dengan kata-kata dan gertakan belaka, tanpa menurunkan tangan keras, karena ia maklum bahwa kalau sampai terjadi pertempuran, walaupun ia takkan kalah, akan tetapi juga bukan hal yang mudah untuk mengalahkan Cheng-jiu Tok-ong!

Gadis ini melompat turun dari panggung dan menghampiri Suma-huciang dan Gan Tiauw Ki. Pembesar itu menyambutnya dengan muka berseri.

“Baiknya ada Lihiap yang mencuci bersih nama kota Tiang-hai yang akan dihina oleh orang lain,” katanya, kemudian pembesar ini berkata dengan suara lantang,

“Terima kasih kepada para enghiong yang sudah menyumbangkan tenaga untuk meramaikan pesta ini. Sekarang tiba giliran para penari yang akan memperlihatkan keindahan tarian mereka!”

Terdengar musik dibunyikan orang dan tak lama kemudian, tujuh orang penari yang cantik jelita muncul di atas panggung, menari-nari dengan gerakan tubuh yang indah gemulai membuat darah orang-orang muda yang hadir di situ tersirap ke muka dan denyut jantung menjadi cepat sekali. Perhatian semua tamu tercurah kepada para penari dari kota raja ini. Hal ini membuat Im Giok leluasa bicara dengan Tiauw Ki.

“Tidak apa, Giok-moi,” kata pemuda itu setelah mendengar akan kekhawatiran gadis itu tentang hilangnya bungkusan barang sumbangan.

“Bungkusan itu kosong tidak terisi apa-apa yang berharga. Surat dari Kaisar yang sesungguhnya tidak berada di situ, akan tetapi kuserahkan kepada Suma-huciang ketika kami bercakapcakap tadi.”

Im Giok menjadi lega dan ia memandang dengan wajah berseri. Ia kagum sekali akan kecerdikan pemuda ini. Dengan demikian, surat rahasia itu tidak terampas oleh orang lain dan ini berarti tugas Im Giok mengawal pemuda dan suratnya berhasil baik. Kini surat sudah berada di tangan Suma-huciang, orang yang berhak, maka sudah tidak ada tugas apa-apa lagi di tempat itu.

“Kalau begitu, tugas kita sudah selesai. Kapan kita meninggalkan tempat ini?” tanyanya.

“Sebetulnya aku sendiri pun tidak suka tinggal terlalu lama di sini,” jawab Tiauw Ki sambil melempar kerling ke arah Lie Kian Tek seakan-akan hendak menyatakan bahwa ketidak-senangan itu disebabkan oleh kehadiran putera gubernur itu. “Akan tetapi, Suma-taijin minta kepadaku untuk bermalam di sini malam ini dan besok hari baru kita meninggalkan tempat ini. Kuharap kau tidak keberatan, Adik Im Giok.”

“Keberatan sih tidak, asal saja malam ini tidak akan terjadi sesuatu atas dirimu,” kata Im Giok mengerutkan kening.

“Giok-moi yang baik, dengan adanya kau di sini, aku takut apakah?” Kata-kata ini disertai senyum dan pandang mata penuh arti, yang hanya dapat dimengerti oleh Im Giok. Tiba-tiba gadis ini merasa jengah, mukanya kemerahan dan untuk sesaat ia tidak berani memandang langsung kepada Tiauw Ki.

“Aku hanya memenuhi perintah Susiok-couw…” katanya kemudian perlahan. Karena takut kalau-kalau keadaan mereka diperhatikan oleh orang lain lalu mengalihkan pandangan mata ke atas panggung di mana para penari sedang memperlihatkan kepandaian mereka dengan indahnya.

Demikianlah, pesta berjalan terus dengan lancar dan kejadian sebelum tari-tarian diadakan agaknya sudah dilupakan orang. Bahkan dari pihak Lie Kian Tek sendiri agaknya tidak ada aksi-aksi selanjutnya.

Setelah tari-tarian berhenti dan diganti dengan biduan-biduan istana yang menyanyikan juga lagu-lagu merdu, berangsur-angsur para tamu mengundurkan diri, berpamit kepada tuan rumah sambil menghaturkan terima kasih. Akhirnya Suma-huciang sendiri yang sudah tua merasa lelah dan minta maaf kepada para tamu yang masih hadir, mengundurkan diri untuk mengaso. Setelah minta maaf kepada tamu-tamu yang tak berapa banyak lagi dan menjura, Suma-huciang lalu mengajak Gan Tiauw Ki masuk ke dalam. Kepada Im Giok ia berkata,

“Nona, kalau Nona hendak mengaso, sebuah kamar sudah tersedia. Silakan.”

Im Giok menjura kepada tiga orang wanita yang masih berada di situ, yakni nenek yang duduk dengan dua orang wanita muda dan nampak bukan orang-orang sembarangan itu. Mereka sejak tadi diam saja maka Im Giok juga tidak mempedulikan mereka dan tidak tahu siapakah gerangan mereka ini.

Ketika tiga orang ini berjalan menuju ke ruangan dalam, mereka melewati tempat duduk Lie Kian Tek dan kawan-kawannya. Pemuda putera gubernur ini nampak tengah bercakap-cakap dengan Cheng-jiu Tok-ong. Suma-huciang berhenti dan menjura.

“Lie-kongcu, maafkan aku tak dapat melayani lebih lama karena terlalu lelah dan hendak mengaso. Kamar untuk Lie-kongcu dan rombongan telah dipersiapkan di penginapan terbesar di kota ini. Silakan Kongcu bersenang-senang menikmati nyanyian di sini dan bilamana Kongcu hendak beristirahat, perintahkan saja kepada pelayan untuk mengeluarkan kendaraan.”

Lie Kian Tek tersenyum dan menjura, akan tetapi matanya melirik ke arah Im Giok.

“Terima kasih, memang sebentar lagi kami hendak beristirahat pula. Selamat tidur, Suma-taijin.”

Suma-huciang yang diiringkan oleh Tiauw Ki dan Im Giok melanjutkan langkahnya menuju ke ruang dalam. Pembesar itu setelah tiba di ruangan yang sunyi ini lalu berkata kepada Tiauw Ki,

“Gan-siucai, tentu kau masih ingat akan semua pesanku, bukan? Ada sedikit pesanku lagi harap disampaikan kepada Hong-siang, yakni bahwa bahaya yang datang dari Shansi tidak begitu besar apabila dibandingkan dengan bahaya yang mengancam dari Honan. Oleh karena itu, terhadap Honan (Propinsi Honan) hendaknya ditaruh perhatian sepenuhnya dan jangan diabaikan.”

Tiauw Ki mengerutkan keningnya dan matanya memandang heran. Sebelum ia mengeluarkan pertanyaan, ia didahului oleh pembesar itu.

“Aku tahu mengapa kau terheran, Gan-siucai. Memang nampaknya keadaan di Honan tenang-tenang saja, akan tetapi percaya sajalah, di dalamnya terdapat pengaruh yang kelak akan membahayakan kedudukan Kaisar. Aku tak dapat bicara panjang lebar lagi, harap kau mengaso dan besok cepat menyampaikan pesanku. Hong-siang akan mengerti apa yang kaumaksudkan.”

Terpaksa Tiauw Ki tidak membantah. Ia menjura dan berkata,

“Baiklah, Taijin, akan saya perhatikan dan sampaikan semua pesan Taijin. Besok pagi-pagi saya dan Kiang-lihiap berangkat. Kalau tidak sampai berpamit, harap Taijin sudi memaafkan.”

Suma-huciang menoleh kepada Im Giok, tersenyum berkata,

“Kau sungguh mengagumkan, Kiang-lihiap. Aku harus berterima kasih kepadamu. Benar-benar kau patut menjadi cucu murid Bu Pun Su seorang sakti yang sejak dulu aku kagumi. Tolong kausampaikan hormatku kepada pendekar sakti itu kalau kau bertemu dengan dia.”

Im Giok menjadi jengah mendengar pujian ini dan cepat memberi hormat. Kemudian pembesar itu memasuki kamarnya dah kedua orang muda itu pun pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan setelah mereka berjanji akan berangkat besok pagi-pagi pada waktu ayam jantan berkokok.

Malam hari itu Im Giok tak dapat tidur. Gelisah ia di dalam kamarnya. Ada kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada malam hari itu, sesuatu yang akan menimpa diri Suma-huciang atau Gan Tiauw Ki. Ancaman terhadap diri Suma-huciang masih belum menggelisahkan hatinya, akan tetapi kalau ia ingat bahwa tugas yang dibawa oleh Tiauw Ki bukanlah tugas ringan dan keselamatan anak muda itu selalu terancam, Im Giok menjadi gelisah. Bagaimana kalau ada bahaya mengancam diri pemuda itu? Ia selalu memikirkan Tiauw Ki, setiap saat hanya pemuda inilah yang memenuhi pikirannya, tanpa disengaja bayangan Tiauw Ki selalu tampak di depan matanya, gema suara pemuda itu selalu berdengung di telinganya!

“Aku harus melindunginya, biarpun harus bertaruh nyawa!” pikir gadis yang sedang tergoda asmara ini. Keputusan ini membuat Im Giok tidak berani merebahkan diri. Ia lalu duduk bersila di atas pembaringannya dan beristirahat dengan cara bersamadhi. Menjelang subuh ada ia mendengar suara berkeresekan di atas genteng. Ia membuka mata dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia pun tidak mau lancang mengejar keluar, takut kalau-kalau hanya akan menimbulkan keributan belaka. Sayang sekali gadis ini tidak keluar, kalau ia melakukan hal ini, mungkin ia akan mencegah terjadinya hal yang mengerikan!

Tak lama kemudian, terdengar ayam jantan berkokok, saling sambut ramai sekali. Im Giok melompat turun dari pembaringannya, menggantungkan pedang di pinggang, mengikatkan buntalan pakaian di punggung dan siap untuk berangkat. Karena ia tidak tidur, maka ia dapat bersiap-siap dengan cepat, bahkan tanpa menyisir rambutnya yang digelung indah, cukup memperkuat tali dan tusuk rambutnya saja.

Ia mendengar langkah kaki di luar pintunya. Cepat daun pintu kamarnya ia buka dan ternyata Tiauw Ki sudah berdiri di situ, juga sudah siap untuk berangkat. Dua orang pelayan menghampir, mereka dan menjura sambil berkata,

“Selamat pagi, Siauw-ya dan Siocia! Apakah berangkat sekarang?”

“Benar, Lopek. Tolong suruh tukang kuda mengeluarkan kuda kami dan menyediakan di depan.”

“Baik, Siauw-ya,” jawab pelayan-pelayan itu dengan girang sambil menerima dua potong uang perak sebagai hadiah dari Tiauw Ki. Dua orang muda ini lalu berjalan menuju ke luar dari gedung yang besar dan panjang ini.

“Enak tidurkah kau malam tadi, Giok-moi?” tanya Tiauw Ki kepada Im Giok.

“Enak juga. Dan kau?”

“Aku gelisah saja, entah mengapa. Agaknya karena hawa terlalu panas,” jawab Tiauw Ki.

Im Giok teringat akan bunyi di atas genteng. Kamar pemuda ini tidak jauh dari kamar Suma-huciang, maka tanyanya, “Twako, apakah kau tidak ada mendengar apa-apa malam tadi? Kalau kau tidak dapat tidur, tentunya kalau ada apa-apa kau mendengarnya.”

Tiauw Ki menggeleng kepala. “Tadinya aku pun takut kalau-kalau terjadi sesuatu, akan tetapi sukurlah, sampai aku tertidur, aku tidak mendengar apa-apa.”

Diam-diam Im Giok merasa lega, akan tetapi ia tidak puas dan masih curiga. Pemuda ini tidak mengerti ilmu silat, bagaimana ia dapat mendengar suara gerakan penjahat yang tinggi ilmu silatnya? Ia malam tadi mendengar suara yang ia tahu adalah suara kaki orang menginjak dan berjalan di atas genteng, orang yang ilmu gin-kangnya sudah tinggi sekali. Ataukah barangkali pendengarannya salah? Karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia tidak menyelidik lebih lanjut.

Sementara itu, pelayan-pelayan tadi sudah membawa kuda mereka ke depan gedung. Maka berangkatlah Tiauw Ki dan Im Giok di pagi hari itu dalam keadaan cuaca masih remang-remang dan segala apa nampak berwarna kelabu.

Sampai lama mereka melarikan kuda berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata. Keduanya muram. Tanpa kata-kata mereka merasakan peristiwa duka yang mereka hadapi, yakni perpisahan. Im Giok sudah selesai tugasnya mengawal pemuda itu menghadap Suma-huciang dan menyampaikan pesanan Kaisar. Karenanya ia harus memisahkan diri. Tidak selayaknya seorang gadis seperti dia terus-terusan melakukan perjalanan bersama seorang pemuda tanpa ada alasan yang kuat. Kini ia harus pulang ke Sian-koan, sedangkan Tiauw Ki tentunya hendak ke kota raja. Terpaksa harus berpisah. Tidak ada alasan untuk melakukan perjalanan bersama karena berbeda tujuan.

Tanpa berkata-kata keduanya maklum bahwa perjalanan mereka bersama hanya akan sampai di sungai kecil yang berada kurang lebih lima belas li di depan, di mana terdapat jalan simpangan dan di sana keduanya akan berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Makin dekat dengan sungai itu, otomatis keduanya memperlambat larinya kuda sehingga di lain saat kuda mereka hanya berjalan saja!

“Adik Im Giok, kau selanjutnya akan ke manakah?” Tiauw Ki bertanya, sebuah pertanyaan yang aneh dan lucu karena keduanya sudah sama-sama mengetahui ke mana gadis itu akan pergi kalau tidak pulang ke rumah ayahnya di Sian-koan!

Pertanyaan ini saja sudah membayangkan keadaan hati pemuda itu, dan Im Giok maklum pula akan hal ini. Memang cinta kasih itu aneh sekali. Biarpun pemuda dan gadisnya sama-sama selama hidupnya belum pernah mengalami buaian asmara dan baru sekali itu mengalami perasaan yang amat aneh ini, namun keduanya seakan-akan sudah berpengalaman, keduanya sudah dapat menangkap maksud hati masing-masing hanya dengan rasa. Kerling mata mengandung seribu bahasa mesra, senyum tipis membayangkan perasaan hati berdebar, gerak-gerik mengisyaratkan suara hati. Demikianlah tajamnya seorang yang menghadapi pujaan hatinya, seakan-akan antara keduanya sudah ada kontak yang timbul oleh getaran-getaran perasaan.

Sungguhpun Im Giok maklum mengapa pemuda itu masih juga bertanya ke mana ia hendak pergi, ia menjawab juga perlahan sambil menundukkan muka,

“Aku hendak pulang ke Siang-koan. Dan kau… ke manakah, Twako?”

“Tentu ke kota raja… tugasku belum selesai. Sayang…”

Lama tidak terdengar mereka berkata-kata dan sunyi di pagi hari yang indah itu. Matahari belum kelihatan, akan tetapi cahayanya sudah mengusir kabut fajar dan menggugah alam yang terlelap dalam mimpi. Yang terdengar hanya suara kicau burung, diseling derap kaki dua ekor kuda yang berjalan perlahan di atas jalan berbatu.

“Mengapa sayang, Twako?” Im Giok sudah membolak-balik pertanyaan ini beberapa kali di dalam hati sebelum ia mengeluarkan melalui bibirnya. Hatinya berdebar menanti jawab, seperti seorang penjahat menanti pengucapan hukuman oleh hakim.

“Sayang karena… karena terpaksa kita harus berpisah.” Suara pemuda itu menggetar dan tiba-tiba Im Giok menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya. Mengingat akan keadaan dirinya, tiba-tiba Im Giok mengerahkan tenaga batinnya untuk mengusir perasaan malu dan jengah yang luar biasa ini, kemudian ketabahannya yang luar biasa dapat membuat ia menguasai dirinya lagi. Ia tersenyum dan dengan wajah ayu memandang Tiauw Ki.

“Twako, kau ini aneh. Ada waktu bertemu pasti ada waktu berpisah. Bukankah ada kata-kata para cerdik pandai jaman dahulu bahwa bertemu itu artinya terpisah? Atau jelasnya bahwa pertemuan adalah awal perpisahan?”

Tiauw Ki yang tiba-tiba menjadi lemas melihat senyum yang demikian manisnya, wajah yang berseri dan mata bersinar-sinar sehingga membuat baginya seakan-akan matahari sudah muncul setinggi-tingginya, menjadi seperti orang linglung.

“Mengapa demikian?” Pertanyaan ini tidak karuan juntrungnya, padahal sebagai seorang sastrawan, sudah tentu pemuda ini hafal akan semua filsafat kuno, tidak kalah oleh Im Giok. Akan tetapi pada saat itu, otaknya seakan-akan tertutup dan ia tidak sadar apa-apa, yang ada hanyalah wajah yang luar biasa cantik jelitanya dari gadis yang berada di sampingnya.

Melihat betapa pemuda itu duduk di atas kudanya sambil memandang bengong kepadanya seperti orang kena sihir, Im Giok tersenyum makin lebar.

“Mengapa? Eh, Gan-twako, tentu saja pertemuan adalah awal perpisahan, karena kalau tidak bertemu lebih dulu, bagaimana bisa berpisah?”

Jawaban yang merupakan kelakar ini membikin sadar Tiauw Ki dari lamunan. Ia menarik napas panjang dan berkata,

“Tepat sekali kata-katamu, Giok-moi. Dan inilah yang menyakitkan hatiku. Bagiku… berat sekali perpisahan ini. Kalau boleh aku ingin membuang jauh-jauh ucapan kuno itu, ingin kuganti…”

Im Giok mengangkat alisnya dan memandang lucu. “Ehm, kau ingin menyaingi para pujangga kuno dan merubah kata-kata mereka?”

“Ya, khusus tentang pertemuan itulah. Dengar aku merubahnya, dan ini terutama sekali untuk kita berdua, Adikku. Pertemuan bukan awal perpisahan, akan tetapi pertemuan adalah awal persatuan abadi. Bagaimana kau pikir, bukankah ini lebih tepat dan lebih baik?”

Im Giok menutup mulutnya menahan ketawa, kemudian melarikan kudanya.

“Ada-ada saja kau ini, Twako,” katanya seperti marah. Akan tetapi suara ketawanya berlawanan dengan kata-kata yang seperti marah ini, maka Tiauw Ki juga membalapkan kudanya mengejar.

“Adik Im Giok, tunggu…! Kita takkan berpisah selamanya!” Tiauw Ki berani berteriak menyatakan perasaan hatinya ini saking gembiranya. Akan tetapi Im Giok yang timbul kembali rasa malu dan jengah, tidak mau menghentikan kudanya.

Karena kuda dibalapkan, sebentar saja tahu-tahu telah tiba di sungai yang melintang di depan. Im Giok tersentak kaget dan menghentikan kudanya dengan tiba-tiba. Melihat sungai itu ia tersadar bahwa semua tadi bukan main-main, melainkan sungguh-sungguh perpisahan telah berada di depan mata! Dan ia pun menjadi berduka. Alisnya berkerut, kegembiraanaya lenyap sama sekali. Ia telah merasai kebahagiaan luar biasa di dalam hatinya selama dekat dengan Tiauw Ki. Sekarang perpisahan dengan pemuda itu mendukakan hatinya.

“Giok-moi…!” Tiauw Ki juga sudah tiba di situ dan pemuda ini melompat turun dari kudanya. “Giok-moi, harap jangan tergesa-gesa. Begitu girangkah hatimu untuk meninggalkan aku maka kau tergesa-gesa?”

Im Giok melompat turun dari kudanya pula dan berkata, “Twako, jangan kau berkata begitu…” Dalam suaranya kini terkandung sedu-sedan.

“Marilah kita pergunakan saat terakhir ini untuk bercakap-cakap dan memberi kesempatan kepada kuda kita beristirahat,” kata Tiauw Ki yang membawa kudanya ke pinggir sungai di mana terdapat rumput yang hijau dan gemuk. Im Giok meniru perbuatannya dan setelah dua ekor kuda itu makan rumput dengan lahapnya, mereka lalu mencari tempat duduk. Kebetulan sekali tidak jauh dari situ, di pinggir sungai kecil terdapat sebatang pohon yang teduh dan di bawah pohon tetdapat batu-batu sungai yang besar dan bersih licin. Kesitulah kedua orang ini berjalan perlahan.

Tiauw Ki duduk di atas sebuah batu besar, merenung ke arah air sungai. Im Giok juga duduk di atas batu tak jauh dari tempat pemuda itu duduk, bermain-main dengan ujung daun pepohonan yang tumbuh di dekatnya.

“Adik Giok, rasa-rasanya janggal dan aneh sekali kalau kita harus berpisah di sini. Benar-benar heran sekali, bagiku terasa seakan-akan kita sudah berkumpul selamanya, sudah semenjak kecil, semenjak lahir… Giok-moi, benar-benar berat untukku harus berpisah darimu, tak sampai hatiku…”

“Habis, bagaimana, Twako. Kita harus mengambil jalan masing-masing. Kau ke kota raja dan aku pulang ke Sian-koan.”

“Memang seharusnya demikian. Akan tetapi… ah, rasanya aku sedikitpun juga tidak ada keinginan sama sekali untuk pergi ke kota raja. Kalau saja kau dapat pergi bersamaku ke kota raja atau aku pergi bersamamu ke Sian-koan…”

Im Giok melirik, mukanya merah dan hatinya berdebar senang.

“Mana boleh begitu, Gan-ko? Kau mempunyai tugas penting. Apa sih sukarnya? Kau ke kota raja dan setelah selesai tugasmu, bukankah kau dapat mengunjungi aku di Sian-koan?”

Di dalam kata-kata ini terkandung sindiran yang dalam, seakan-akan Im Giok menyatakan bahwa ia akan menanti kedatangan pemuda itu di Sian-koan! Tiauw Ki yang cerdik dapat mengerti arti yang terkandung dalam kata-kata ini, maka saking girang dan perasaannya, ia menangkap kedua tangan gadis itu.

“Giok-moi…” suaranya gemetar.

Selama hidupnya baru kali ini Im Giok merasai sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Menurut kata hatinya, ingin ia menarik kembali kedua tangannya yang dipegang oleh jari-jari yangan yang gemetar dari pemuda itu, akan tetapi ia tidak kuasa menarik tangannya seakan-akan telah hilang semua tenaganya! Ia hanya menundukkan muka dan bibirnya tersenyum malu.

“Giok-moi, betulkah kau akan menerimaku kalau aku sewaktu-waktu datang ke Sian-koan!” suara Tiauw Ki perlahan dan halus penuh perasaan.

“Mengapa tidak?” Im Giok hanya menjawab singkat karena ia sendiri takut untuk bicara terlalu panjang, mendengar betapa suaranya sendiri gemetar!

“Tidak… tidak ada halangannya kalau… kalau aku…” Tiauw Ki tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Ada apakah, Gan-twako? Lanjutkanlah, mengapa begitu sukar?”

Tiauw Ki makin gagap menerima teguran ini. Ia mengigit bibirnya menenangkan hatinya lalu berkata nekad, “Bagaimana kalau kelak aku datang ke Sian-koan… dan…”

“Dan apa…!”

“Aku… aku hendak… meminangmu!” Lega hatinya setelah kata-kata yang mengganjal di kerongkongannya ini akhirnya terlepas juga.

Im Giok sejak tadi sudah menduga, akan tetapi setelah kata-kata itu diucapkan, mukanya yang cantik itu menjadi merah sekali, membuat sepasang pipinya kemerahan seperti buah tho masak, membikin ia nampak makin cantik jelita. Memang jarang ada gadis secantik Im Giok, apalagi kalau yang memandangnya seorang yang jatuh hati kepadanya, ia seperti bidadari dari kahyangan saja!

“Bagaimana, Giok-moi…?” tanya Tiauw Ki.

Im Giok mengerling dengan sudut matanya kepada pemuda itu, bibirnya yang manis tersenyum malu, lalu ia menundukkan muka kembali sambil berkata lirih, “Entahlah…”

Tiauw Ki menjadi makin berani melihat sikap gadis itu. Ia menggenggam kedua tangan yang kecil halus itu dengan erat dan menarik Im Giok mendekat. Karena gadis itu duduk di atas batu yang lebih rendah, maka setelah ditarik ia bersandar kepada paha Tiauw Ki.

“Giok-moi, bagaimana? Apakah kau keberatan kalau kelak kupinang?”

Bukan main malunya Im Giok dan ia tidak dapat membuka mulut menjawab. Sambil tersenyum-senyum malu dan matanya ditundukkan, ia hanya menjawab dengan gelengan kepala perlahan.

Tiauw Ki merasa diayun di sorga ke tujuh. Ingin ia melompat turun dari atas batu dan menari-nari kegirangan atau ingin ia mengangkat tubuh Im Giok dalam pondongannya dan diputar-putar. Akan tetapi sebagai seorang pemuda terpelajar yang sopan ia tidak berani melakukan hal ini. Sebagai seorang pemuda yang tahu akan arti kesopanan dan kesusilaan, Tiauw Ki hanya memandang kepada wajah kekasihnya dengan mata bersinar, wajah berseri dan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, bagaimana kalau saudara-saudaramu tidak suka kepadaku dan tidak mau menerima?” Di dalam ucapan ini terkandung suara yang penuh kecemasan, maka Im Giok cepat mengangkat muka dan berkata tegas,

“Aku tidak mempunyai saudara kandung. Aku anak tunggal. Yang ada hanya suciku Giok-gan Niocu Song Kim Lian!”

Tiauw Ki tersenyum lega, lalu tertawa kecil. “Ah, sucimu itu benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa dan berhati mulia, biarpun agak galak. Akan tetapi tentu saja tidak melawan kau baik dalam hal kegagahan, kemuliaan maupun kecantikan.”

Im Giok hanya melempar senyum menghadiahi pujian kekasihnya ini.

“Akan tetapi, bagaimana kalau… kalau ayah bundamu tidak suka kepadaku? Ayahmu seorang gagah, tentu dia tidak suka mempunyai calon mantu seorang pemuda sekolah yang lemah….!” Kembali dalam suara pemuda itu terkandung kekhawatiran besar.

“Ibuku sudah tidak ada, dan Ayah… dia amat sayang kepadaku, tak mungkin Ayah membiarkan aku kecewa dan berduka.” Im Giok mengambil tusuk kondenya dan memberikan benda itu kepada Tiauw Ki dengan suara halus, “Koko, inilah tusuk kondeku, harap kausimpan baik-baik.”

Tiauw Ki menerima benda itu dan menekannya di dada, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Moi-moi. Benda ini selamanya takkan berpisah dariku, akan kuanggap sebagai penggantimu. Dengan adanya tusuk kondemu ini, Moi-moi, akan terhibur hatinya. Hanya menyesal sekali, aku adalah seorang yang bodoh dan miskin, tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk diberikan kepadamu kecuali ini…” Pemuda itu mengeluarkan sebuah kipas yang tidak begitu baik dari dalam saku bajunya. Sudah menjadi kebiasaan para siucai untuk selalu menyimpan kipas di sakunya.

“Kipas ini tadinya masih kosong, Moi-moi, seperti kosongnya hatiku. Sekarang kipas ini tidak seharusnya dibiarkan kosong seperti juga hatiku yang kini sudah penuh…” Sambil berkata demikian, dari dalam saku bajunya, pemuda itu “menyulap” keluar sebatang pit dan arang tintanya. Diambilnya sedikit air dari sungai untuk membasahi arang tinta dan di atas batu itu ia menulis huruf-huruf indah di atas kipasnya yang putih bersih. Im Giok hanya memandang saja semua yang dilakukan oleh kekasihnya ini dengan bibir tersenyum dan hati bungah. Dengan hati berdebar Im Giok membaca tulisan yang indah gayanya itu :

Tusuk konde dan kipas

menjadi saksi

bertemunya dua hati

di bawah pohon, di tepi sungai…

semoga cinta kasih kita

kekal abadi takkan berpisah,

sehidup semati…

Tiauw Ki memberikan kipas itu kepada Im Giok yang menerimanya dengan wajah berseri.

“Aduh indahnya tulisanmu, Koko…” katanya.

Akan tetapi Tiauw Ki hanya menatap wajahnya, nampaknya berduka.

“Kau mengapa, Twako?”

“Sayang pertemuan seindah ini diputuskan oleh perpisahan…” kata Tiauw Ki sambil memegang pundak gadis itu ditariknya sehingga kembali Im Giok bersandar kepadanya.

“Hanya untuk sementara waktu, Koko. Bukankah kau segera akan ke Sian-koan setelah tugasmu selesai? Aku selalu menantimu di sana, Koko…”

Kata-kata ini terdengar begitu manis dan merdu oleh Tiauw Ki sehingga saking terharunya kedua mata pemuda itu sampai basah. Didekapnya kepala gadis itu ke dadanya lebih erat lagi dan sampai lama mereka tak bergerak, tenggelam ke dalam lautan madu asmara. Biarpun keduanya diam tak bergerak, biarpun suasana di sekitar mereka sunyi senyap, namun suara daun pohon tertiup angin dan air sungai mengalir bagi mereka seperti suara musik mengiringi nyanyian surga yang amat merdu. Pohon, daun, batu apa saja yang nampak di sekeliling mereka seakan-akan tertawa-tawa dan ikut beriang gembira. Tiauw Ki dan Im Giok bagaikan mabuk oleh buaian ombak perasaan yang paling indah di antara segala macam perasaan, namun keduanya masih sadar sepenuhnya dan ingat akan kesopanan dan kesetiaan.

Sungguh mengagumkan mereka ini, tauladan bagi muda-mudi beradab. Mereka pun diombang-ambingkan oleh ombak asmara yang memabukkan, namun, mereka pantang melakukan pelanggaran dan mereka teguh bagaikan karang di pantai samudra. Apapun juga yang terjadi, mereka berpegang kepada semboyan nenek moyang mereka, yang bagaimanapun juga, ATURAN (Lee) di atas segala apa! Kesopanan dan kesusilaan termasuk dalam Lee ini dan karenanya mereka tetap sadar dan menjaga jangan sampai mengecewakan hati kekasihnya dengan pelanggaran tatasusila yang mereka junjung tinggi!

Dalam keadaan bagaikan setengah pulas itu, ternyata kelihaian Im Giok tidak berkurang. Pendengarannya memang amat tajam sehingga Tiauw Ki menjadi terheran ketika tiba-tiba Im Giok renggutkan kepalanya yang tadinya bersandar pada dadanya sambil berkata,

“Koko, ada penunggang kuda datang…”

Tiauw Ki memperhatikan dan sampai lama setelah suara itu makin mendekat baru ia mendengar derap kaki kuda.

“Ada tiga orang penunggang kuda,” kata pula Im Giok yang sudah dapat membedakan suara itu sebelum orang-orangnya kelihatan, siap karena mengira bahwa yang datang ini tentulah pihak musuh yang selalu mengancam keselamatan Tiauw Ki. Akan tetapi setelah tiga orang penunggang kuda itu muncul, ia bernapas lega. Mereka itu ternyata adalah tiga orang wanita yang membalapkan kuda dan membuktikan bahwa ketiganya adalah ahli-ahli penunggang kuda yang mahir. Apalagi ketika tiba di dekat Tiauw Ki dan Im Giok, ketiga orang penunggang kuda itu dapat menghentikan kuda mereka dengan serentak, hal ini lebih-lebih membuktikan bahwa mereka bertiga memiliki lwee-kang yang cukup kuat.

Setelah mereka dekat, barulah Im Giok dan Tiauw Ki melihat dan mengenal mereka sebagai tiga orang wanita yang malam tadi ikut hadir dalam pesta di rumah Suma-huciang, yakni wanita nenek yang kepalanya diikat kain putih dan memegang tongkat bersama dua orang gadis manis yang sikapnya galak. Kini dua orang gadis itu memandang kepada Tiauw Ki kemudian kepada Im Giok dengan pandang mata terbelalak membenci.

Pada saat itu, Im Giok sedang berada dalam keadaan gembira dan bahagia, maka tentu saja muka cemberut dari dua orang gadis itu tidak terlihat olehnya. Sebaliknya, dengan senyum manis ia lalu menjura kepada mereka sambil berkata,

“Selamat bertemu di tempat ini! Apakah Sam-wi baru pulang dari rumah Suma-taijin?”

Nenek itu menjawab cepat-cepat,

“Kau bermalam di rumah Suma-taijin. Kami bermalam di rumah penginapan.”

Im Giok menggerakkan alis agak heran melihat sikap ini, akan tetapi tetap tersenyum dan melanjutkan katanya dengan ramah,

“Ah, maaf. Maksudku, tentu Sam-wi baru meninggalkan Tiang-hai dan hendak ke manakah?”

Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu, yang ada tahi lalatnya di dagu, membentak,

“Siapa sudi bicara dengan segala perempuan gila lelaki!”

Tiauw Ki menjadi pucat saking marahnya, dan Im Giok menjadi merah mukanya. Sepasang matanya yang indah itu kini menyambar bagaikan cahaya kilat ke arah gadis itu, dan suaranya tetap halus dan ramah, akan tetapi di dalam suara ini terkandung sesuatu yang dingin dan tajam menembus jantung.

“Cici yang baik, kau bilang apa?”

“Aku bilang kau perempuan cabul, gila lelaki!” Gadis bertahi lalat dagunya itu membentak lagi sambil mengangkat hidungnya, mengejek.

Im Giok masih tersenyum lebar.

“Alasannya?”

“Dari semula kau datang, kau sudah berdua dengan pemuda ini, sungguh memalukan. Kemudian kau bermanis-manis dengan Suma-huciang dan kau mencoba pula untuk memikat hati Lie-kongcu. Menyebalkan sekali!”

Im Giok memang cerdik luar biasa. Dari ucapan ini saja ia sudah dapat menerka apa yang menyebabkan gadis ini marah-marah seperti kemasukan setan. Senyumnya makin lebar dan sinar matanya berseri.

“Ah, Cici yang baik, kau memutarbalikkan kenyataan. Jelas sekali kulihat bahwa kaulah yang tergila-gila kepada Lie-kongcu yang tidak memperhatikan tahi lalatmu yang menjijikkan itu, kau jadi marah-marah kepadaku!”

Mendengar ini, wajah gadis itu menjadi pucat dan sebentar berubah merah. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak saking marahnya ia sampai tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara. Diangkatnya cambuknya ke atas, dipukulkan kepala Im Giok didahului makiannya,

“Perempuan rendah, kau berani sekali memaki aku? Tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?”

“Hei, jangan pukul dulu!” Im Giok membentak, suaranya demikian berpengaruh sehingga wanita bertahi lalat itu kaget dan otomatis cambuk yang sudah diangkat itu tidak dipukulkan! “Teruskan dulu keteranganmu, sebenarnya siapakah kalian ini yang bersikap tengik?”

Wanita itu menahan marahnya dan sengaja memperkenalkan nama dengan maksud agar Im Giok menjadi ketakutan. “Buka telingamu lebar-lebar, kami berdua adalah Kim-jiauw-siang-eng Kwan Ci-moi (Kakak Beradik Kwan yang Berjuluk Sepasang Garuda Berkuku Emas)! Dan dia itu adalah ibu kami Koai-tung Toanio. Siapa tidak mengenal kami dari Kong-thong-pai?”

Im Giok merasa geli sekali melihat gadis yang dogol dan otak-otakan ini, akan tetapi ia mengangkat kedua mata seakan-akan orang terkejut dan ketakutan.

“Aduh… tak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang sakti dari Kong-thong-pai…” kata Im Giok.

“‘Ji Kim, jangan menyombong!” tegur nenek yang mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura saja ketakutan, sebetulnya sikap gadis baju merah itu adalah ejekan belaka.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: