Ang I Niocu ~ Jilid 16

“Kabar girang…?? Gila betul! Kim Lian, keluarlah kau, biar aku bicara sendiri dengan Im Giok!” kata Kiang Liat makin marah mendengar kata-kata ini Kim Lian membungkuk dan berkata,

“Baiklah, Suhu.” Kemudian ia keluar dari kamar itu dan dari pinggir Im Giok dapat melihat bayangan senyum di sudut bibir sucinya.

Setelah Kim Lian pergi, Kiang Liat menjatuhkan diri di atas kursi dan berkatalah dia, suaranya kini agak sabar,

“Coba kauberi penjelasan, Im Giok. Kuharap saja cerita Kim Lian tadi tidak betul adanya. Benarkah kau mempunyai hubungan dengan seorang siucai she Gan dan yang kini datang untuk melamarmu?”

Muka Im Giok sebentar pucat sebentar merah. Macam-macam perasaan teraduk-aduk dalam hati dan pikirannya. Akan tetapi ia segera dapat menetapkan hatinya dan berkatalah ia dengan suara tenang,

“Ayah, harap kau suka tenangkan hati dan bersabar. Hal ini ada ceritanya panjang lebar.”

“Tidak peduli aku akan cerita panjang lebar, pendeknya apakah benar kau ada hubungan dengan kutu buku terkutuk yang bisanya cuma membaca menulis dan menjual tampang itu?”

Mata Im Giok menjadi merah. Ia tahu bahwa kadang-kadang ayahnya juga suka marah-marah seperti itu, akan tetapi belum pemah terhadap dia ayahnya marah-marah tanpa alasan. Sebaliknya dia sejak kecil dibawa oleh Pek Hoa Pouwsat dan setelah kembali bersama ayahnya, ia dimanja secara luar biasa oleh ayahnya, maka ia pun agak berani membantah ayahnya.

“Ayah, bagaimana kau bisa memaki-maki orang yang sama sekali tidak pernah kaulihat dan kenal?” kini gadis itu membantah marah. Biasanya kalau sudah melihat puterinya berdiri menentangnya dengan alis terangkat, mata berapi dan dada dibusungkan ini, hati Kiang Liat menjadi lemah. Alangkah besar persamaan wajah Kiang Im Giok dengan Song Bi Li, isterinya! Dan biasanya kalau Im Giok sudah menentang dan marah, Kiang Liat selalu mengalah dan menuruti kehendak gadis itu. Akan tetapi sekarang tidak demikian, Kiang Liat bahkan berkata keras,

“Tak usah dilihat, tak usah dikenal! Laki-laki kutu buku dan cacing tinta tidak ada yang baik, semua berhati palsu bermulut manis tak dapat dipercaya! Jangan kau dekat-dekat dengan dia!”

“Akan tetapi, Ayah. Gan-siucai bukan orang macam itu. Dan aku bahkan diberi tugas oleh Susiok-couw untuk mengantarnya ke Tiang-hai!”

Kiang Liat tertegun. Dia sudah mendengar dari Bu Pun Su ketika kakek sakti itu datang mengunjunginya bahwa Im Giok memang diberi tugas mengawal utusan Kaisar ke Tiang-hai? Jadi utusan Kaisar itu pemuda inikah?”

“Hemmm, mana ada utusan Kaisar kutu buku yang lemah?” ia berkata kepada Im Giok, agak tak percaya.

“Ayah terlalu mengandalkan kepandaian menggerakkan pedang! Sebetulnya di antara para penggerak pensil juga tidak kurang terdapat orang-orang berjiwa kesatria dan bersemangat api! Gan-siucai betul-betul utusan Kaisar biarpun dia memang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Akan tetapi jiwanya besar, Ayah.” Melihat ayahnya diam saja, Im Giok lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya ketika ia mengantar Gan Tiauw Ki ke Tiang-hai lalu ke kota raja. Dituturkan semua pengalamannya itu dengan singkat dan terutama sekali ia menonjolkan sikap kekasihnya yang gagah berani dalam membelanya.

Kiang Liat tidak kelihatan tertarik. Ia hanya beberapa kali menggeleng kepala, bahkan memberi komentar tidak puas setelah penuturan puterinya selesai. “Kalau dia bukan kutu buku, kalau dia seorang yang berkepandaian tinggi, tak mungkin kau sampai dihina orang, tak mungkin kau menghadapi ancaman bahaya besar. Dan sekarang dia datang hendak melamarmu?”

Im Giok menundukkan mukanya, lalu menjawab lirih. “Demikianlah kehendaknya.”

“Tidak bisa! Kausuruh saja pelayan memberi tahu dia bahwa dia boleh lekas-lekas pulang dan jangan sekali-kali berani datang lagi ke sini!”

Im Giok mendengar kata-kata ini menjadi pucat. “Ayaaaahhh…!” serunya, setengah marah setengah terkejut.

Ayahnya menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak bisa, kau sudah mempunyai calon suami. Kau sudah kujodohkan dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, murid terpandai dari Go-bi-pai yang bernama Liem Sun Hauw. Dia gagah perkasa, berkepandaian tinggi, berwajah tampan, pendeknya tidak kalah oleh ayahmu di waktu muda. Dia patut menjadi suamimu, sama rupawan, sama perkasa. Apa itu kutu buku yang lemah terkena angin sedikit saja jatuh sakit? Tidak…!”

Makin lama sepasang mata Im Giok makin berapi-api ketika ia mendengarkan kata-kata ayahnya.

“Tidak…!” katanya keras sekali sambil membanting kakinya ke atas lantai, dan saking kerasnya gadis ini mengerahkan tenaga, lantai itu sampai hancur dan kakinya melesak ke dalam. “Sekali lagi tidak! Aku tidak sudi menikah dengan dia!”

“Im Giok…!”

“Aku yang hendak menikah, bukan Ayah! Kalau Ayah memaksa, aku akan lari, minggat bersama Gan-siucai!” Setelah berkata demikian, sambil terisak menangis Im Giok lari memasuki kamarnya di mana ia membanting tubuhnya di atas pembaringan, menyembunyikan muka di bawah bantal dan menangis tersedu-sedu.

Kiang Liat berdiri tak bergerak seperti patung, mukanya pucat dan matanya memandang ke arah pintu kamar anaknya tak berkedip. Kata-kata lari minggat meninggalkannya amat menusuk hatinya dan mendatangkan rasa sakit bukan main. Lalu menimbulkan rasa takut dan khawatir kalau-kalau anaknya benar akan pergi meninggalkannya.

Dengan langkah terhuyung-huyung ia pergi ke kamar anaknya, memasuki kamar itu dan hampir saja ia terguling kalau tidak cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di tengah kamar, dekat pembaringan anaknya.

Pikirannya tidak karuan rasanya, matanya dipejamkan dan di dalam otak ia merasa segala sesuatu terputar-putar. Jantungnya berdenyut-denyut keras amat nyeri dan telinganya penuh oleh suara seperti angin badai mengamuk. Bibimya bergerak-gerak dan terdengar kata-katanya seperti mabuk,

“Jangan tinggalkan aku… jangan tinggalkan aku seorang diri…!”

Im Giok sudah duduk di atas pembaringan dengan muka pucat. Tangisnya dalam sekejap berhenti dan kini ia memandang kepada ayahnya. Tadinya ia tidak tahu apa artinya sikap ayahnya seperti ini, akan tetapi akhimya ia mengerti.

Selama ini ayahnya memang bersikap aneh dan kadang-kadang mendekati sikap gila, menangis dan tertawa seorang diri di dalam kamar. Kadang-kadang memanggii-manggil nama ibunya. Dan sekarang, ayahnya bersikap seperti ini karena dia hendak meninggalkan ayahnya!

“Ayaah…” Im Giok menubruk dan menangis di dada ayahnya “Ayaah, tidak… aku tidak akan meninggalkanmu, Ayah…”

Dua titik air mata turun membasahi pipi Kiang Liat ketika ia membuka matanya. Didekapnya kepala anaknya itu pada dadanya erat-erat, seperti orang merasa takut kalau-kalau mustikanya dirampas orang.

“Im Giok, anakku sayang benar-benar kau tidak akan meninggalkan aku…” tanyanya dengan suara berbisik.

Im Giok terisak menahan tangisnya. “Tidak Ayah, asal saja Ayah jangan memaksa aku menikah dengan Liem Sun Hauw murid Go-bi-pai itu…”

Kiang Liat menarik napas panjang, lalu menarik anaknya berdiri. Dipandangnya wajah anaknya dan bentuk tubuhnya, lalu ia menghela napas lagi.

“Im Giok, kau serupa benar dengan ibumu… Aku tidak rela memberikan engkau kepada orang yang tidak pantas menjadi suamimu…”

“Tapi aku tidak mau menikah dengan anak Go-bi itu, Ayah,” kata Im Giok manja.

Kiang Liat tersenyum pahit. “Dan kau masih suka kepada cacing buku itu?”

Im Giok tidak berani menjawab, hanya menundukkan muka. Kembali Kiang Liat menarik napas panjang, lalu menjauhkan diri dari anaknya dan berkata perlahan,

“Sebagai ayah aku harus menjaga agar kelak kau hidup bahagia, anakku. Baiklah, akan kulihat bagaimana macamnya kutu buku itu…” Ia lalu keluar dari kamar meninggalkan Im Giok yang duduk melamun di atas pembaringannya. Diam-diam gadis ini berdoa mudah-mudahan ayahnya akan suka melihat Tiauw Ki dan ia percaya bahwa kekasihnya itu akan cukup pandai membawa diri di hadapan ayahnya sehingga menimbulkan rasa suka dalam hati ayahnya.

Sekarang ayahnya masih belum tenang, maka Im Giok tidak berani memberi kabar kepada Tiauw Ki, karena ia pikir betum tepat waktunya bagi pemuda itu untuk menemui ayahnya. Malam itu Kiang Liat terdengar mendengkur di dalam kamarnya dan hati Im Giok menjadi lega.

Pada keesokan harinya, Kiang Liat memanggil Im Giok dan berkata-kata, “Im Giok, aku hendak pergi ke rumah penginapan Liok-nam.”

“Apakah tidak sebaiknya dia kuundang ke mari, Ayah?” tanya Im Giok.

“Tak usah. Kalau ia datang berarti dia akan meminang dan aku tidak ingin mengecewakan hatimu. Lebih baik kulihat lebih dulu sebelum mengambil keputusan.”

Kalau menurutkan kehendak hatinya, ingin sekali Im Giok ikut pergi dengan ayahnya. Akan tetapi kesopanan melarangnya, karena sungguh tidak patut kalau ia ikut ayahnya mengunjungi Tiauw Ki di rumah penginapan. Terpaksa ia menanti di rumah dengan hati berdebar dan ia merasa kecewa tidak melihat Kim Lian, karena kalau ada sucinya itu tentu ada kawannya bercakap-cakap untuk menekan berdebarnya hatinya.

Dengan langkah lebar Kiang Liat menuju ke rumah penginapan Liok-nam yang berada di ujung kota sebelah barat. Semalam suntuk Kiang Liat tidak bisa tidur nyenyak. Dengkurnya itu bukan tanda bahwa tidurnya enak, bahkan sebaliknya. Dengkurnya bukan dengkur sewajarnya dan dahulu ketika baru-baru ia kehilangan isterinya dan pergi merantau mencari Im Giok yang diculik orang, setiap malam ia mendengkur seperti itu. Boleh dibilang bahwa dengkur itu adalah tanda bahwa penyakitnya yang lama kambuh pula. Ia seperti orang mabuk dan sinar matanya juga sudah berbeda dengan biasanya. Hal ini adalah karena ia merasa kecewa dan bingung sekali menghadapi persoalan puterinya, soal perjodohan yang sama sekali tidak mencocoki hatinya.

“Dia harus kuusir jauh-jauh, kuancam agar jangan berani menemui anakku lagi!” Pikiran inilah yang semalam tadi memenuhi otaknya dan kini Kiang Liat berjalan cepat tanpa menghiraukan orang-orang yang sudah kenal dengannya dan yang memberi salam di sepanjang jalan.

Setelah tiba di penginapan Liok-nam Kiang Liat disambut oleh seorang pelayan. Kiang Liat sudah terlalu amat terkenal maka sekali pandang saja pelayan itu mengenalnya. Dengan ramah tamah dan penuh hormat, pelayan itu menyambut dan menjura,

“Selamat pagi, Kiang-taihiap. Sepagi ini Tai-hiap sudah mengunjungi penginapan kami, sungguh sebuah penghormatan besar sekali. Apakah yang dapat kami lakukan untuk Tai-hiap?”

“Apakah di sini ada seorang tamu bernama Gan Tiauw Ki?”

Pelayan itu mengerutkan kening, menempelkan telunjuk pada ujung hidungnya selaku orang mengumpulkan ingatan. Kemudian ia menurunkan telunjuknya dan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang tidak rata, kuning-kuning kehitaman.

“Ah, ada… ada… Tai-hiap. Tentu yang kaumaksudkan Gan-siucai yang muda dan tampan wajahnya.”

“Ya, lekas kaupanggil dia keluar menemuiku.”

“Baik, silakan Tai-hiap menanti di kamar tamu,” kata pelayan itu sambil mempersilakan pendekar itu duduk di ruangan depan. Kiang Liat mengambil tempat duduk karena ia merasa kedua kakinya gemetar dan dada kirinya sakit menghadapi ketegangan ini. Macam apakah pemuda sastrawan yang telah memikat hati puterinya?

Sementara itu, pelayan mengetuk pintu kamar Tiauw Ki. Begitu pintu itu dibuka, pelayan itu cepat memberi hormat dan berkata dengan muka menjilat,

“Ah Gan-kongcu mengapa tidak sejak dulu memberitahu bahwa Kongcu adalah sahabat baik atau sanak dari Kiang-taihiap? Kalau kami tahu tentu kami akan memberi kamar yang lebih baik. Harap Kongcu maafkan apabila selama ini kami melakukan kesalahan atau berlaku kurang hormat karena sungguh mati kami tidak mengira bahwa Kongcu adalah kerabat Kiang-taihiap.”

“Eh, Lopek. Apakah kau pagi-pagi buta mengetuk pintu kamarku hanya untuk menyatakan ini saja?” Tiauw Ki berkata agak kurang senang karena dari kata-katanya saja sudah menunjukkan jelas bahwa pelayan ini bukan orang yang berwatak baik, melainkan seorang penjilat yang menjemukan.

“Mana hamba berani begitu kurang ajar memanggil Kongcu kalau tidak ada peristiwa amat penting?” Pelayan itu tertawa dan kulit-kulit di pinggir kedua matanya ikut tertawa. “Kongcu didatangi oleh seorang tamu agung.”

“Siapa dia?” Tiauw Ki bertanya penuh gairah karena memang sudah lama ia mengharapkan kedatangan pelayan dari Im Giok yang membawa berita bahwa ayah gadis itu sudah pulang.

“Masa Kongcu tidak bisa menduga siapa?” tanya pelayan itu dengan sikap mengajak berkelakar untuk menyenangkan hati tamunya.

“Dari keluarga Kiang?” tanya Tiauw Ki tak sabar lagi. Pelayan itu tertawa dan mengeluarkan jempolnya. “Kongcu menebak jitu, benar-benar cerdas sekali!”

“Suruh dia lekas ke sini!” seru Tiauw Ki.

Pelayan itu melenggong. “Suruh ke sini? Dia…”

Mendengar suara dan melihat sikap pelayan ini, Tiauw Ki terkejut dan cepat bertanya, “Bukankah dia itu seorang pelayan dari rumah keluarga Kiang?”

“Ah, bukan… bukan…! Dia adalah Kiang-taihiap sendiri, yang minta supaya Kongcu keluar. Dia menanti di ruangan tamu di depan!”

Kalau ada petir menyambarnya, belum tentu Tiauw Ki akan sekaget itu. Kiang Liat ayah Im Giok sendiri datang mengunjunginya? Benar-benar ia hampir tak dapat mempercayai kata-kata pelayan ini.

“Harap Kongcu cepat menyambutnya, aku takut kalau-kalau Kiang-taihiap marah kepadaku apabila Kongcu terlambat,” kata pelayan itu yang cepat pergi lagi ke depan.

Tiauw Ki yang ditinggal sendiri merasa tubuhnya panas dingin. Ia sudah sejak tadi bangun, akan tetapi belum sempat bertukar pakaian karena memang tidak mempunyai maksud pergi ke mana-mana. Untuk menghadap ayah kekasihnya dalam pakaian kumal seperti itu, ia merasa malu. Maka cepat-cepat ia berganti pakaian yang paling baru dan menyisir rambutnya. Kemudian tergesa-gesa ia keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Hatinya berdebar ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi tegap dan berwajah keren duduk di atas bangku dalam kamar tamu itu.

Ia cepat-cepat maju menjura dengan amat hormat dan berkata,

“Mohon dimaafkan banyak-banyak bahwa boanpwe telah membuat Tai-hiap menanti sampai lama.”

Kiang Liat perlahan-lahan berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan kening berkerut. Mulutnya pun terbuka perlahan. Ia mengangkat tangan ke atas dan menggosok-gosok kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Akan tetapi setelah ia memandang lagi, penglihatannya tidak berubah. Tak salah lagi, pemuda sastrawan yang halus dan lemah-lembut yang kini memberi hormat kepadanya, bukan lain adalah Cia Sun! Cia Sun sastrawan yang dulu mempermainkan isterinya dan yang telah dibunuhnya! Baik wajah maupun bentuk badan dan gerak-geriknya pemuda sastrawan di hadapannya sekarang ini tidak ada bedanya dengan mendiang Cia Sun.

“Kau… Cia Sun…” tak terasa lagi Kiang Liat berkata perlahan, dadanya berdebar dan jantungnya terasa sakit.

Tiauw Ki memandang heran. “Boan-pwe adalah Gan Tiauw Ki…”

“Jadi kau yang diantar oleh anakku Im Giok ke Tiang-hai?”

“Betul, Tai-hiap”

“Dan kau… kau yang hendak meminang anakku sebagai calon jodohmu…?” Suara Kiang Liat setengah berbisik dan sepasang matanya memandang dengan cara yang menakutkan sekali.

Tiauw Ki memandang dengan hati berdebar gelisah. Kemudian ia dapat menetapkan hatinya dan berkata dengan suara tegas,

“Kalau Tai-hiap tidak menolak, memang boanpwe mohon persetujuan Tai-hiap untuk meminang tangan Adik Kiang Im Giok…”

“Kau…? Kau Cia Sun jahanam keparat telah menjelma pula di dunia ini untuk mengganggu kepadaku? Kau masih belum puas dengan kematian isteriku dan hancurnya hidupku? Kau bahkan masih hendak merusak hidup anakku?” Sambil berkata demikian, Kiang Liat berjalan maju menghampiri Tiauw Ki perlahan-lahan, sikapnya mengancam dan menyeramkan.

Tiauw Ki melangkah mundur, “Kiang-taihiap, apa artinya kata-katamu itu? Boanpwe adalah Gan Tiauw Ki dan boanpwe tidak kenal siapa itu Cia Sun…”

“Jahanam! Biarpun kau memakai nama siapapun juga, aku selamanya akan mengenal macam mukamu. Kau boleh pianhoa (berganti muka) seribu kali, aku Kiang Liat akan tetap mengenalmu dan membunuhmu!”

Setelah berkata demikian, sambil mengeluarkan suara keras Kiang Liat menubruk maju, kedua tangannya bergerak cepat bertubi-tubi memukut dada dan kepala Tiauw Ki.

Kasihan sekali nasib pemuda ini. Dia seorang sastrawan yang bertubuh lemah. Seorang jagoan sekalipun belum tentu akan dapat menghindarkan diri dari serangan Kiang Liat itu, apalagi seorang pemuda lemah seperti Tiauw Ki. Ia tak berdaya sama sekali dan sekali terkena pukulan pada dada dan kepalanya, ia hanya dapat mengeluarkan keluhan lemah dan tubuhnya terlempar ke belakang, menumbuk dinding dan roboh tak berkutik lagi. Nyawanya telah melayang berbareng dengan keluhannya tadi!

“Ha, ha, ha, anjing Cia Sun! Anjing macam engkau ini hendak melamar puteriku? Ha, ha, ha!” Sambil tertawa-tawa lebar di sepanjang jalan, Kiang Liat berjalan pulang.

Para pelayan kaget dan gemparlah keadaan di rumah penginapan itu. Sebentar saja ruangan tamu itu telah dikerumuni banyak orang untuk melihat pemuda sastrawan yang rebah tak bernyawa di atas lantai.

Di antara para penonton ini terdapat gadis menerobos masuk. Orang-orang memberi jalan ketika melihat bahwa gadis ini bukan lain adalah Giok-gan Niocu Song Kim Lian.

Kim Lian hanya memandang sebentar dan mukanya berubah. Kemudian ia cepat berlari-lari pulang, napasnya terengah-engah. Langsung ia berlari memasuki kamar Im Giok di mana gadis itu tengah bersisir menghadapi cermin.

“Su-moi, celaka besar…!” Kim Lian memeluk adik seperguruannya dan menangis terisak-isak.

Im Giok biasanya memiliki watak yang tenang dan tabah, akan tetapi akhir-akhir ini setelah bertengkar dengan ayahnya mengenai kekasihnya, ia menjadi gampang gugup. Mukanya berubah pucat melihat keadaan sucinya itu, maka tanyanya tak sabar lagi,

“Suci, apakah yang terjadi?”

Akan tetapi Kim Lian hanya menangis terisak-isak sehingga Im Giok hilang sabar. Digoyang-goyangnya dua pundak Kim Lian.

“Apa yang terjadi?”

“Celaka… Sumoi… Gan-siucai… oleh Suhu…”

“Apa? Gan-siucai mengapa? Bagaimana Ayah…?” Im Giok mendesak, wajahnya pucat, jantungnya berdebar keras.

“Suhu telah membunuh Gan-siucai di rumah penginapan…”

Im Giok mengeluarkan suara menjerit, akan tetapi cepat didekapnya mulutnya sendiri, lalu bagaikan kilat ia melompat keluar dan berlari seperti gila menuju ke rumah penginapan Liok-nam.

Ruangan depan atau ruangan tamu dari rumah penginapan Liok-nam masih dikerumuni orang ketika Im Giok tiba di situ.

“Minggir…!” Serunya dan kedua tangannya membuka jalan sehingga empat orang laki-laki terpelanting ke kanan kiri. Im Giok terus menerjang masuk dan ia berdiri terpaku di atas lantai ketika ia melihat tubuh kekasihnya menggeletak miring di dekat dinding ruangan itu. Dengan isak tertahan ia menghampiri, berlutut dan sekali raba saja tahulah ia bahwa kekasihnya telah tewas, kepalanya retak dan tulang dadanya patah-patah.

“Gan-ko…” Bisiknya. Dipejamkannya kedua matanya dan ditahannya napasnya karena pukulan hebat sekali mengguncangkan jantungnya. Kalau tidak kuat-kuat ia menahan tentu Im Giok sudah roboh pingsan! Sampai lama ia berlutut sambil memejamkan mata, kemudian setelah kepalanya yang pening menjadi sembuh kembali, ia membuka matanya. Bagaikan hujan gerimis, air matanya bertitik turun, menetes melalui pipi dan dagu dan ada yang jatuh bertitik di atas muka Tiauw Ki. Dilihat sekelebatan, dengan air mata di atas pipi, mayat pemuda itu seperti ikut menangis.

“Koko…” kembali Im Giok berbisik. Makin deras turunnya air matanya ketika ia teringat betapa besar cinta kasih pemuda ini kepadanya, dan kini dalam menghadapi keputusan perjodohan mereka, pemuda ini telah terbunuh oleh ayahnya.

“Ayah…!” Im Giok menahan isaknya ketika ia teringat kepada ayahnya. Tubuhnya berkelebat dan kembali tiga orang pemuda terguling roboh ketika gadis itu mendesak keluar dengan cepat lalu berlari-lari menuju ke rumah gedungnya. Tanpa mempedulikan kepada Kim Lian dan para pelayan yang memandangnya dengan mata terbelalak, Im Giok berlari terus menuju kamar ayahnya.

Pintu kamar ayahnya terpentang lebar-lebar dan Im Giok melompat ke ambang pintu, berdiri di situ dengan kedua kaki terpentang lebar dan mata berapi-api memandang ke dalam. Ia melihat ayahnya sedang duduk di atas kursinya dan memegang pedang terhunus yang dipukul-pukulkan ke atas meja!

“Ayah…!” Suara Im Giok terdengar nyaring, penuh sesal dan nafsu amarah.

Ayahnya memandang. Dua pasang mata berpandangan, dua pasang mata yang sama tajam, sama berapi-api pandangannya.

Sunyi di situ. Hanya terdengar ketukan-ketukan pedang pada meja, makin lama makin melambat.

“Kau mau apa??” akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat-lambat dan setengah digumam, seakan-akan lidah dan bibirnya sukar digerakkan.

“Ayah, mengapa kau membunuh Gan-siucai?” Suara Im Giok nyaring tinggi dan tergetar.

Kiang Liat diam saja untuk beberapa saat, kemudian secara tiba-tiba ia bangkit berdiri, membacokkan pedangnya ke arah meja yang menjadi terbelah dengan mudah dan roboh menimbulkan suara berisik.

“Ha, ha, ha, ha, memang kubunuh mampus anjing itu! Ha, ha, betapa mudahnya, sekali pukul saja jahanam keparat pemakan tinta itu mampus!”

“Ayaahhh…!” Im Giok tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Tangan kanannya digerakkan dan tahu-tahu pedangnya telah ia cabut dan tangan yang memegang pedang menggigil. “Kau… kau pengecut besar! Kau… kau membunuh dia yang tidak berdosa. Kau manusia tidak tahu malu, membunuh orang yang kau tahu tak dapat melawan, seorang yang tidak mempunyai kepandaian ilmu silat. Kau pengecut!” Bagaikan gila Im Giok memaki-maki ayahnya sendiri.

Untuk sejenak ayahnya memandang kepadanya dengan mata terbelalak, kemudian mulut pendekar itu meringis, seakan-akan ia merasa sakit yang hebat sekali. Mukanya menjadi pucat sekali. Kemudian ia membuka matanya dan mata itu sekarang berputaran amat mengerikan. Dari bibirnya keluar busa dan ia tertawa kembali terbahak-bahak.

“Ha, ha, ha, cacing buku yang busuk itu hendak menikah dengan puteriku? Ha, ha, ha, menjadi tukang membersihkan lantai kamarnya saja masih terlalu rendah. Ha, dia patut mampus, anjing Cia Sun harus mampus biarpun beberapa ratus kali dia menjelma. Puteriku harus menjadi isteri Liem Sun Hauw pemuda gagah perkasa…”

“Tidak sudi! Kau manusia keji, kau dan Liem Sun Hauw itu harus masuk neraka!”

Mendengar makian ini, Kiang Liat menjadi marah sekali. Dalam pandangan matanya, yang berdiri di depannya itu sudah bukan anaknya lagi, melainkan seorang yang berani menentangnya.

“Kau hendak membunuh aku dan Sun Hauw? Ha, ha, ha, bocah lancang, kaulah yang akan mampus lebih dulu!” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menyerang puterinya sendiri.

Im Giok pada saat itu juga sudah seperti orang kemasukan iblis dan sudah tidak ingat apa-apa lagi, tahunya hanya marah dan duka teraduk menjadi satu dalam hatinya. Melihat ayahnya menyerangnya, ia pun cepat menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Maka terjadilah pertempuran yang hebat di dalam kamar itu antara ayah dan anak gadisnya sendiri! Kepandaian mereka berimbang, bahkan Im Giok kini telah memperoleh kemajuan pesat sehingga ia bahkan melampaui ayahnya. Hal ini adalah karena ilmu-ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su kepada Im Giok melalui Kiang Liat, oleh Kiang Liat hanya dipelajari teorinya saja, akan tetapi tidak berani ia melatih diri dengan ilmu itu. Maka tentu saja Im Giok yang dapat memetik sari pelajaran ilmu silat tinggi dari Bu Pun Su itu, sedangkan Kiang Liat hanya tahu “kulitnya” belaka. Maka makin lama pedang Im Giok mendesak makin hebat, gulungan sinar pedangnya makin menekan gulungan sinar pedang ayahnya.

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar pekik, “Im Giok!”

Akan tetapi dua orang yang sedang bertempur ini seakan-akan tidak mendengar pekik ini dan melanjutkan pertempuran mereka dengan hebat dan mati-matian.

“Im Giok…!” Orang itu yang bukan lain Kim Lian adanya, mengeluarkan suara jeritan lagi, dan kali ini ia menerjang masuk ke dalam gelanggang pertempuran dengan nekad. Pedangnya menangkis gulungan pedang Im Giok dan terkejutlah ia karena ia terpental ke belakang.

“Im Giok… Sumoi… apakah kau sudah gila melawan ayahmu sendiri…?” Kim Lian menegur dengan suara nyaring.

Tangkisan dan jeritan ini membuyarkan permainan pedang Im Giok dan ayahnya yang tadinya sudah saling menempel. Apalagi seruan ini membuat Im Giok sadar dari keadaannya seperti kemasukan iblis tadi, akan tetapi masih belum melenyapkan kemarahan dan nafsu membunuhnya. Ia melompat mundur dan masih memasang kuda-kuda dengan tangan kiri terbuka jari-jarinya menengadah ke atas dan tangan kanan memegang pedang di depan dada, dalam sikap hendak menusuk.

Adapun Kiang Liat juga berdiri memasang kuda-kuda seperti patung, tangan kiri menempel di dada kiri dan tangan kanan memegang pedang melintang di dada. Wajahnya meringis seperti orang kesakitan dan hidungnya kembang kempis.

“Sumoi, kau gila! Bagaimana kau menyerang ayahmu sendiri? Lepaskan pedangmu!” teriak Kim Lian, akan tetapi Im Giok seperti dalam mimpi, tidak mau melepaskan pedang dan memandang ke depan dengan mata terbelalak marah.

“Sumoi, lepaskan pedang! Kalau tidak terpaksa aku akan menyerangmu, aku harus membantu Suhu!” teriak pula Kim Lian dengan suara keras sambil melangkah maju dengan pedang di tangan. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah kalau dibandingkan dengan sumoinya, akan tetapi dalam keadaan seperti ini ia harus berani membantu suhunya.

Ketika Im Giok tetap tidak bergerak, Kim Lian bergerak menyerang sambil berkata, “Kau membandel? Baik, lihat serangan pedangku!”

“Traangg…!” Pedang di tangan Kim Lian terlepas dari pegangan dan gadis itu berseru kaget.

“Kim Lian, pergi kau! Jangan ikut-ikut!” Kiang Liat membentak setelah menangkis pedang muridnya sehingga terlepas. Dengan wajah kecewa dan juga gelisah Kim Lian terpaksa mengundurkan diri keluar dari kamar itu.

Sementara, tadi ketika menangkis pedang muridnya, Kiang Liat telah sadar kembali dari keadaan gilanya sehingga mukanya menjadi biasa, bahkan nampak ia berduka bukan main. Sepasang matanya memandang sayu dan mulai membasah dengan air mata, bibirnya bergerak gemetar seperti menahan isak tangis. Melihat ini, Im Giok tiba-tiba sadar dan teringat betapa kurang ajarnya kelakuan melawan ayahnya ini. Ia bahkan terkejut sekali mengapa ia sampai bisa menyerang ayahnya seperti itu. Melihat ayahnya seperti orang hendak menangis, runtuhlah hatinya dan ia tidak berani memandang lebih lama lagi. Ia berdiri seperti patung dan memejamkan matanya, air matanya bercucuran bagaikan hujan.

“Ayah… aku berdosa… kaubunuhlah aku… Ayah, jangan kepalang tanggung, tusuk dadaku… biar aku ikut kekasihku.” Im Giok melepaskan pedangnya yang jatuh berkerontangan di atas lantai, lalu ia melangkah maju sambil meramkan mata, memasang dada untuk ditusuk pedang.

“Gan-koko… kautunggulah aku…” bisiknya sayu.

Akan tetapi tusukan yang dinanti-nantinya tak kunjung tiba. Bahkan terdengar keluhan panjang, disusul oleh suara muntah-muntah dan robohnya tubuh yang berat di atas lantai. Im Giok membuka matanya dan… ayahnya telah menggeletak, dan dari mulutnya mengalir darah yang dimuntahkannya tadi.

“Ayaaaahhh…!” jerit Im Giok menubruk dan memeluk tubuh ayahnya. Diangkat kepala ayahnya yang sudah lemas itu dan dipangkunya, tidak peduli betapa darah yang dimuntahkan oleh ayahnya tadi menodai pakaiannya. Diraba-rabanya jidat ayahnya kemudian dadanya…

“Ayaaaahhh…!” Dunia serasa gelap kamar itu seperti terputar-putar dan Im Giok roboh pingsan di dekat ayahnya yang ternyata telah putus nyawanya. Karena tekanan batin yang luar biasa, Kiang Liat yang semenjak ditinggal mati isterinya telah menderita sakit jantung, tak kuat menahan, jantungnya pecah dan ia meninggal dunia di saat itu juga.

Kim Lian datang berlari-lari dan menubruk Im Giok sambil menangis. Diperiksanya keadaan Kiang Liat dan ia pun memanggil-manggil dengan suara mengharukan.

“Suhuuu…!” Kim Lian benar-benar berduka kali ini. Di dalam hatinya ia memang memuja suhunya dan menganggap suhunya sebagai pengganti orang tuanya. Bahkan lebih dari itu, dahulu pernah ia mengagumi suhunya dan “ada hati” kepadanya. Sekarang melihat keadaan suhunya yang meninggal dunia secara demikian menyedihkan, bagaimana hatinya tidak merasa hancur?

Setelah puas menangisi Kiang Liat dan semua pelayan datang bertangisan pula, Kim Lian lalu menubruk dan memeluki sumoinya. Ia amat sayang kepada Im Giok yang semenjak kecil menjadi saudara seperguruan, kawan bermain-main dan dianggap sebagai adik kandungnya sendiri. Kini ia hanya hidup berdua dengan Im Giok, tak berayah tak beribu, tidak berhandai taulan pula. Dengan hati hancur Kim Lian memondong tubuh adik seperguruannya, dibawa ke kamarnya dengan langkah sempoyongan.

Setelah siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya berada di dalam pelukan Kim Lian di atas pembaringang, Im Giok teringat akan semua yang terjadi dan cepat ia bangkit duduk dan bertanya,

“Ayah…? Bagaimana…?”

Kim lian tidak dapat menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi sambil memeluk pundak Im Giok. Im Giok seketika menjadi ingat akan semuanya dan ia melompat turun dari atas pembaringan.

“Ayaaaahhh!”

Akan tetapi Kim Lian cepat memeluknya dan sambil menciuminya berkata, “Adikku… adikku sayang… tenangkanlah hatimu, ayahmu sudah… meninggalkan kita dan sekarang sedang dirawat. Tenanglah Sumoi, tenanglah, pergunakan kekuatan batinmu…”

Im Giok memejamkan matanya. Ia teringat bahwa bukan laku seorang gagah untuk kalap terhadap desakan hati, maka ia lalu mengatur napasnya dan kedua orang gadis dengan berdiri saling berpelukan untuk beberapa diam tak bergerak. Akhirnya Im Giok berkata lemah,

“Suci, aku harus dekat dengan jenazahnya…”

Kim Lian mengangguk dan dengan masih saling peluk dua orang gadis ini lalu berjalan ke ruangan tengah di mana jenazah Kiang Liat sedang dirawat. Mereka duduk berlutut memandang dengan wajah pucat, mata sayu dan kadang-kadang air mata menggelinding keluar. Sampai jenazah dimasukkan peti mati, Im Giok dan Kim Lian tidak meninggalkan tempat itu, bahkan malamnya mereka tidak mau pergi dari situ, biarpun dibujuk-bujuk oleh para pelayan dan tetangga yang datang melayat. Lewat tengah malam, setelah para penjaga mengundurkan diri dan sebagian yang bertugas menjaga duduk di ruangan luar, di dalam ruangan jenazah itu hanya tinggal Im Giok dan Kim Lian berdua! Mereka duduk di dekat peti mati, menjaga agar hio tidak padam, demikian pun api lilin, dan kemudian terdengar mereka berbisik-bisik,

“Suci, sekarang aku tahu…”

Kim Lian memandang kepadanya, matanya bertanya,

“Aku tahu mengapa Ayah membunuhnya.” Air matanya mengucur deras dan cepat-cepat ia mempergunakan saputangan untuk menyusut air matanya.

“Mengapa, Sumoi?”

“Aku ingat akan riwayat ibuku dahulu. Kematian Ibu yang membuat Ayah seperti menjadi gila itu adalah karena perbuatan seorang siucai bernama Cia Sun. Karena itu Ayah membenci para siucai dan kiranya… kiranya wajah Gan-siucai hampir serupa dengan wajah Cia Sun.” Im Giok menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Kim Lian tidak berkata apa-apa, karena ia tidak tahu bagaimana harus menghibur adik seperguruannya. Ia tahu betapa hebat derita batin yang menimpa perasaan hati sumoinya.

“Aku berdosa besar terhadap Ayah… dahulu sering kali Ayah batuk-batuk dan sering kali dadanya terasa sakit… tentu Ayah telah menderita penyakit jantung semenjak kehilangan ibu. Dan tadi… ah…” Im Giok kembali menutupi mukanya seperti orang merasa ngeri membayangkan kejadian tadi pagi, “biarpun ayah meninggal karena penyakit itu, akan tetapi sebenarnya aku yang membunuhnya… Ayah, ampunkan anakmu yang berdosa, Ayah…” Im Giok lalu berlutut dan memeluk peti mati ayahnya, menangis tersedu-sedu.

Kim Lian memeluknya dan menariknya. “Sudahlah, Sumoi, segala kejadian sudah ditentukan oleh Thian.”

Im Giok mengangguk-angguk dan mengerahkan tenaga untuk menenteramkan hatinya yang berguncang keras.

“Aku berdosa kepada Ayah… akan tetapi Ayah… Ayah juga berdosa terhadap Gan-koko… kasihan sekali Gan-koko yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa. Dibunuh dalam keadaan penasaran. Ahhh, Suci, tolong kau menyuruh seorang pelayan untuk mengirim hio dan lilin secukupnya, kirimkan ke rumah penginapan Liok-nam. Biar arwah Gan-ko tahu betapa aku menderita karena kematiannya…”

Kim Lian mengangguk dan perlahan meninggalkan sumoinya untuk melakukan permintaan sumoinya itu. Adapun Im Giok sepeninggal Kim Lian lalu berlutut di depan peti mati ayahnya dan diam tak bergerak seperti patung. Hanya bayangannya saja yang bergerak-gerak karena api lilin bergerak perlahan tertiup angin, yang dapat menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

***

Enam bulan telah lewat semenjak peristiwa itu terjadi. Akan tetapi Im Giok masih saja berkabung, berpakaian serba putih sederhana sekali dan setiap hari orang tentu mendapatkannya di tanah pekuburan, di mana ia bersembahyang di depan kuburan ayahnya atau di depan kuburan Gan Tiauw Ki secara bergiliran.

Kadang-kadang nampak ia menangis tersedu-sedu di depan dua kuburan itu atau hanya duduk bengong seperti orang kehilangan semangat. Hiburan-hiburan yang diberikan oleh Kim Lian sama sekali tidak ada artinya karena tidak pernah diacuhkan. Selama enam bulan ini, Im Giok tidak mempedulikan pula makan dan tidur sehingga hidupnya tidak teratur, mukanya kurus pucat dan rambutnya awut-awutan.

Sebaliknya, Kim Lian dengan cepat dapat melupakan kesedihannya. Setelah lewat tiga bulan, ia telah melepas pakaian berkabung dan kembali memakai pakaian yang indah-indah. Bahkan kini ia kembali menjadi binal karena tidak ada yang mengawasinya. Suhunya sudah meninggal dan Im Giok orang satu-satunya yang disegani keadaannya seperti gila dan tidak peduli. Maka kembali Kim Lian menyeleweng dan melakukan hal-hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang gadis baik-baik.

Pada suatu hari pagi-pagi sekali Im Giok sudah kelihatan duduk di atas batu di depan bong-pai (batu nisan) kuburan ayahnya, duduk bengong dan tidak pernah bergerak sehingga kelihatan dari jauh seperti sebuah arca penghias bong-pai. Ia tenggelam dalam lamunannya sendiri sampai-sampai tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Gadis ini, tak dapat melupakan wajah kekasihnya dan wajah ayahnya. Dua orang ini adalah orang-orang yang dicintanya, dan sekarang keduanya telah meninggalkannya, dan keduanya tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Tiba-tiba terdengar suara halus di belakangnya,

“Im Giok, kau masih hidup mengapa semangatmu berkeliaran di alam baka? Kembalilah ke dunia!” Kalimat terakhir diucapkan sebagai perintah dan suaranya mengandung tenaga dan pengaruh yang luar biasa sekali sehingga Im Giok bagaikan disambar petir dan sadar seketika itu juga. Gadis ini terkejut dan menengok.

“Susiok-couw…!” Im Giok menjatuhkan diri berlutut di depan seorang kakek yang ternyata bukan lain adalah Bu Pun Su. Kakek ini mengelus-elus jenggotnya sambil menundukkan muka memandang kepada gadis yang bercucuran air mata di depannya itu. Terdengar helahan napasnya sampai tiga kali.

“Hemmm, memang banyak hal-hal yang aneh di dunia ini, keanehan yang merupakan kekuasaan indah dari kekuasaan Thian! Manusia boleh berdaya upaya sekuat tenaga, akan tetapi tak dapat keluar dari ikatan karena yang menimbulkan nasib tersendiri.”

Im Giok masih menangis terisak-isak dan Bu Pun Su tidak mengganggunya karena kakek sakti ini maklum bahwa obat yang paling baik di saat itu bagi Im Giok adalah menangis sepuasnya, tangis yang sungguh-sungguh sebagai peluapan perasaan yang mendesak memenuhi dada, sebagai pelepas hawa berbahaya yang mengancam isi dada. Bu Pun Su sendiri mengenang segala peristiwa yang ia hadapi selama enam bulan ini dan berkali-kali ia menghela napas. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dalam usahanya untuk menolong negara dan mencegah pemecah-belahan di antara orang-orang gagah agar tenaga dapat disatukan untuk memperkuat keadaan negara dan menjaga negara dari ancaman musuh, Bu Pun Su menyuruh Kiang Liat pergi ke Go-bi-pai, menemui Twi Mo Siansu.

Dia sendiri pergi ke Pulau Pek-le-tho untuk mencari Han Le yang hendak ia suruh pergi ke Thian-san dengan maksud yang sama, karena setelah itu ia pun mau pergi ke Kun-lun-pai. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia menemui kekecewaan luar biasa di Pulau Pek-le-tho, di mana ia mendapatkan Han Le berada di bawah pengaruh Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, dijadikan kekasihnya dan bahkan dengan bantuan Han Le, Pek Hoa Pouwsat telah membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang tokoh Kun-lun-pai di Pulau Pek-le-tho! Kemudian dalam marahnya, Bu Pun Su menghajar Han Le dan mengusir Pek Hoa Pouwsat, kemudian menghukum Han Le tidak boleh keluar dari pulau itu selamanya. Setelah ini dengan hati mengkal sekali Bu Pun Su pergi melakukan perjalanannya ke Kun-lun-san. Akan tetapi, baru saja ia tiba di kaki pegunungan Kun-lun-san, ia bertemu dengan serombongan tosu Kun-lun-pai yang begitu melihat dia terus saja mengepung dan menyerangnya!

Tosu-tosu Kun-lun-pai ini adalah tosu-tosu tingkat tinggi yang berkepandaian lihai, jumlah mereka ada tiga puluh orang. Bu Pun Su terkejut sekali.

“Tahan…! Aku Bu Pun Su mempunyai kesalahan apakah?” serunya akan tetapi ia harus mengelak ke sana ke mari karena pedang dan golok beterbangan menyambarnya dari segala jurusan dalam gerakan yang luar biasa cepatnya. Para tosu Kun-lun-pai ini sudah mendengar tentang kelihaian Bu Pun Su, maka mereka tidak mau memberi hati, tidak mau memberi kesempatan dan mendahului dengan serangan serentak.

Akan tetapi mereka kecele kalau mengira bahwa dengan mengandalkan banyak orang akan dapat merobohohkan Bu Pun Su begitu saja. Melihat betapa para tosu itu tidak ada yang mau menjawabnya dan melanjutkan serangan-serangan mereka yang dahsyat, timbul penasaran dalam hati kakek ini. Ia lalu mulai menggerakkan ilmu silatnya yang aneh dan luar biasa. Tangan kanannya digerakkan dengan jari tangan terbuka merupakan cakar burung, yang aneh sekali gerakannya dan tiap kali menyambar dan menyambut pedang atau golok, senjata itu dengan mudah kena dirampasnya dan dicengkeram sampai patah-patah! Adapun tangan kirinya digerakkan dengan gerakan berlainan lagi lambat-lambat dan seperti orang menulis huruf-huruf besar, akan tetapi dari tangan ini keluar uap putih mengepul dan tiap kali senjata lawan terlanggar oleh hawa pukulan tangan kiri ini, menjadi terpental dan orangnya menjerit kesakitan lalu melompat mundur! Inilah dua macam ilmu silat yang tiada keduanya di dunia persilatan waktu itu. Tangan kanan Bu Pun Su telah bergerak dan mainkan ilmu silat ciptaannya sendiri yang bernama Kong-ciak Sin-na (Ilmu Silat Burung Merak Sakti) sedangkan tangan kirinya memainkan bagian ilmu silat Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Sekaligus dua tangan dapat mainkan dua macam ilmu silat yang amat berlainan sifat dan gerakannya, benar-benar hanya Bu Pun Su seorang yang kiranya dapat melakukannya!

Akan tetapi, sesuai dengan sifatnya Bu Pun Su sama sekali tidak melukai para pengeroyoknya, kalaupun ada yang terluka, itu hanya luka di kulit yang tidak berarti saja. Namun, tetap saja para pengeroyok menjadi kacau-balau karena pedang dan golok mereka dengan cara yang aneh sekali dapat terampas, dipatahkan ataupun dibikin terpental entah ke mana.

Sedangnya ribut-ribut dengan para tosu mulai gencar, tiba-tiba dari puncak bukit berlari seorang kakek tua. Kakek ini seorang tosu yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, pakaiannya sederhana dan kelihatannya seperti seorang tua renta yang amat lemah. Akan tetapi kalau melihat cara ia menuruni bukit itu, orang akan terheran-heran karena biarpun ahli silat yang bertubuh tinggi tegap takkan mungkin dapat melakukan hal ini. Bagaikan terbang cepatnya kakek itu berlari cepat, seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak bumi dan jubahnya berkibar-kibar di belakangnya saking cepatnya ia lari.

“Bu Pun Su, apakah kau hendak memamerkan kepandaianmu di Kun-lun-san?” Kakek itu menegur setelah tiba di tempat pertempuran dan para murid Kun-lun-pai itu cepat-cepat berdiri di pinggiran sambil memberi hormat.

Bu Pun Su tertawa bergelak,

“Ha, ha, ha, Keng Thian Siansu. Baru bertemu pertama kali kau sudah mengenalku, benar-benar lihai sekali matamu.”

“Kaupun datang-datang sudah dapat mengenalku, Bu Pun Su. Sekali lagi aku bertanya, apakah kau datang-datang hendak memamerkan kepandaianmu di Kun-lun-san?”

“Ha, ha, ha, Keng Thian Siansu, alangkah jauh bedanya antara engkau dan mendiang Seng Thian Siansu sahabat baikku yang sudah mendahului kita kembali ke alam bebas itu. Agaknya kau harus banyak belajar dari mendiang suhengmu Seng Thian Siansu itu, meneliti diri sendiri sebelum menyalahkan lain.”

“Apa maksudmu?”

“Sudah puluhan tahun semenjak Seng Thian Siansu masih hidup, aku tidak pernah menginjakkan kaki di sini. Akan tetapi sekarang, dengan maksud baik aku datang. Eh, tidak tahunya kau sudah menyambut kedatanganku secara berlebihan, dengan tiga puluh orang lebih anak murid Kun-lun-pai, dan masing-masing menghadiahi sebatang golok atau pedang! Bukankah kau sudah membadut secara berlebihan sekali?”

Ucapan Bu Pun Su ini memang merupakan sindiran karena ia merasa mendongkol juga, tiada hujan tiada angin tahu-tahu ia diserang begitu hebat oleh begini banyak tosu Kun-lun-pai, tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kalau dia tidak pandai menghindarkan diri dari serangan-serangan itu, bukankah tubuhnya sudah hancur dan nyawanya menghadap Giam-kun tanpa mengetahui apa kesalahannya?

Keng Thian Siansu tersenyum sindir sambil memukul-mukulkan tongkatnya di depan kakinya. Para tosu yang lain juga memandang penuh nafsu amarah terbayang di pandangan mata mereka. Diam-diam Bu Pun Su terkejut melihat ini dan tidak mau main-main lagi melainkan mendengarkan dengan penuh perhatiannya apa yang akan diucapkan oleh Ketua Kun-lun-pai.

“Bu Pun Su, sudah lama pinto mendengar bahwa engkau adalah seorang penekar sakti yang bijaksana dan pembela keadilan. Akan tetapi sekarang pinto kecewa. Tadi kau menyatakan bahwa orang harus meneliti diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain, bukankan begitu?”

“Benar, Kheng Thian Siansu.”

“Kalau begitu mengapa kau menyalahkan anak murid Kun-lun-pai dan tidak lekas-lekas mengakui dosa-dosamu?” Bu Pun Su tercengang, akan tetapi ia masih tersenyum ramah.

“Eh, eh, jangan kau main-main, tosu tua! Memang aku banyak dosa, manusia hidup siapakah yang tidak menumpuk dosa? Akan tetapi kalau dosaku tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, apakah aku harus mengakui semua dosaku dan rahasia hidupku yang dulu-dulu dihadapanmu? Memangnya siapakah kau ini? Wakil dari Giam-lo-ong?”

“Bu Pun Su, tak perlu kau membadut untuk menutupi kedosaanmu terhadap kami! Kau telah membunuh murid keponakan pinto Cin Giok Sianjin, dan kau masih bilang tidak mempunyai dosa terhadap Kun-lun-pai?”

Bu Pun Su yang mempunyai kecerdikan yang luar biasa dan jalan pikirannya amat tangkas dan cepat, maka seketika tahulah ia bahwa ini tentu ada hubungan dengan kematian Cin Giok Sianjin di pantai Pulau Pek-le-tho! Akan tetapi bagaimanakah Kun-lun-pai demikian cepat mendengar tentang hal ini dan mengapa pula menuduh dia? Padahal yang membunuh tokoh Kun-lun-pai itu adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, dibantu oleh Han Le. Karena ia merasa bahwa betapapun juga, Han Le ikut bersalah dalam hal ini dan Han Le adalah adik seperguruannya, terpaksa ia mengalah dan berlaku sabar.

“Keng Thian Siansu, nanti dulu. Tentang kematian Cin Giok Sianjin aku dapat memberi penjelasan. Akan tetapi yang aneh sekali, bagaimana kalian bisa tahu begitu cepatnya? Dan mengapa pula menuduh aku yang melakukan perbuatan itu?”

“Dari mana pinto mengetahui, bukanlah persoalan. Pendeknya kami tahu bahwa Cin Giok Sianjin telah tewas olehmu di dalam pulau di mana dahulu kau bertapa.” Bu Pun Su menarik napas panjang. Ia dapat menduga setelah otaknya yang luar biasa bekerja cepat.

“Hemm, tentu siluman betina itu baru saja meninggalkan puncak Kun-lun-san! Keng Thian Siansu, apakah kau begitu mudah mau percaya omongan seorang seperti Pek Hoa Mo-li (Iblis Wanita Pek Hoa) itu?” Bu Pun Su sengaja merubah sebutan Pek Hoa Pouwsat menjadi Pek Hoa Mo-li. Pouwsat berarti Dewi sedangkan Mo-li berarti Iblis Betina.

“Apakah ketika dia bercerita bahwa aku yang membunuh Cin Giok Sianjin, dia bicara sambil menggoyang-goyang tubuh seperti pohon yang liu tertiup angin musim chun, matanya mengerling-ngerling seperti bintang-bintang di langit dan bibirnya tersenyum-senyum manis sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi percaya penuh?”

Wajah Keng Thian Siansu menjadi merah sekali. Memang, biarpun agak berlebih-lebihan semua dugaan Bu Pun Su ini cocok dengan keadaannya. Pagi hari itu memang Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat mengunjungi Kun-lun-san dan bercerita dengan sikapnya yang genit sekali bahwa Cin Giok Sianjin dibunuh oleh Bu Pun Su, dan bahwa Pek Hoa Pouwsat sendiri yang hendak mencegah perbuatan itu sampai terluka pula oleh Bu Pun Su!

“Bu Pun Su, pinto sendiri memang masih meragukan keterangan dari Pek Hoa Pouwsat. Akan tetapi selain kau, siapakah yang sanggup membunuh Cin Giok Sianjin dan dua orang tokoh Siauw-lim-si yang berkepandaian tinggi? Dan pula, apa perlunya Pek Hoa Pouwsat datang-datang ke Kun-lun-san dan membohong? Ditambah lagi kedatanganmu di sini benar-benar kesemuanya menimbulkan kecurigaan kami. Kalau kau beri penjelasan, katakanlah apa yang terjadi di Pek-le-tho. Apakah betul-betul Cin Giok Sianjin terbunuh?”

“Betul, sayang sekali karena kedatanganku ke Pek-le-tho terlambat,” jawab Bu Pun Su. Keterangan ini disambut oleh suara menyatakan marah dari para tosu Kun-lun-pai.

“Siapa yang membunuhnya?” tanya Keng Thian Siansu.

“Ketika aku mendarat di Pek-le-tho, aku melihat tiga mayat orang yang setelah kuperiksa ternyata adalah jenazah-jenazah dari Cin Giok Sianjin dan dua orang tokoh Siauw-lim-pai. Dan orang yang tinggal di Pulau Pek-le-tho itu kulihat adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat sendiri!”

Keng Thian Siansu mengeluarkan suara ketawa aneh,

“Bu Pun Su, jangan kau main-main. Pinto bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Orang macam Pek Hoa Pouwsat itu bagaimana bisa membunuh Cin Giok Sianjin bersama dua orang tokoh Siauw-lim-pai?”

“Memang ada yang membantu…” kata Bu Pun Su, suaranya mengandung kepahitan dan kekecewaan.

“Siapa…” Keng Thian Siansu mendesak.

Bu Pun Su menarik napas panjang lalu memandang kepada wajah Ketua Kun-lun-pai itu.

“Keng Thian Siansu, aku datang dengan maksud yang amat penting, apakah kau hanya menyambut aku seperti ini saja? Haruskah kita bercakap-cakap sambil berdiri di tempat panas ini? Ah, benar-benar tak kusangka bahwa Kun-lun-pai sekarang merupakan tuan rumah yang tidak manis budi…”

Keng Thian Siansu tersadar dan wajahnya berubah merah. Ia menjura dan berkata,

“Maaf, maaf, pinto terlalu pusing memikirkan soal Cin Giok Sianjin sehingga lupa akan tatasusila. Mari, Bu Pun Su, silakan kau naik, menjadi tamu kami di Kun-lun-san!”

Bu Pun Su balas menjura. “Terima kasih!” Dan cepat tubuhnya berkelebat dalam perjalanannya naik ke puncak. Melihat ini semua tosu Kun-lun-pai meleletkan lidah saking kagum menyaksikan ilmu lari cepat dan ilmu meringankan tubuh sedemikian hebatnya. Keng Thian Siansu berseru,

“Kau memang hebat Bu Pun Su.” Akan tetapi tubuhnya sendiri juga berkelebat menyusul dan sekejap mata dua orang itu telah lenyap dari pandangan mata para tosu yang saling pandang dan kemudian beramai-ramai naik ke puncak.

Setelah berada di kuil Kun-lun-pai di puncak gunung itu, Bu Pun Su diterima oleh Keng Thian Siansu di ruangan tengah yang amat luas. Selain Keng Thian Siansu terdapat pula tiga orang tokoh Kun-lun-pai yang ikut mendengarkan penuturan Bu Pun Su. Mereka ini yang dua orang adalah murid Keng Thian Siansu, sedangkan yang seorang lagi adik seperguruan dari Cin Giok Sianjin. Dengan terus terang Bu Pun Su menuturkan tentang peristiwa di Pulau Pek-le-tho.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: