Ang I Niocu ~ Jilid 17

Ia tidak menyembunyikan kenyataan bahwa Han Le telah terpikat dan terbuai oleh Pek Hoa Pouwsat sehingga mau membantu siluman betina itu merobohkan dua orang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang tokoh Kun-lun-pai yang mendarat di Pulau Pek-le-tho.

“Hm, kalau begitu sutemu itu yang menjadi pembunuh!” kata Keng Thian Siansu.

“Bukan, sahabatku, bukan Han Le. Memang benar bahwa Han Le yang mengalahkan dan membuat tak berdaya Cin Giok Sianjin dan dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu, akan tetapi pembunuhnya adalah Pek Hoa Pouwsat yang telah datang ke sini dan menipu kalian di sini. Bukan aku membela suteku yang juga berdosa, akan tetapi harus diingat bahwa suteku telah roboh bukan hanya oleh kecantikan Pek Hoa dan oleh pandainya ia bergaya, melainkan terutama sekali oleh semacam ilmu sihir yang luar biasa. Pernah siluman betina itu mencoba ilmunya kepadaku, dan memang benar-benar hebat:

Kalau orang tidak memiliki ketabahan dan kebersihan hati ditambah tenaga batin yang kuat sekali, kiraku pasti akan roboh, seperti halnya Han Le. Mengingat bahwa Han Le telah membantu Pek Ho Mo-li dan membuat roboh tiga orang itu di Pulau Pek-le-tho dalam keadaan tidak sadar seperti dibawah pengaruh sihir dari Pek Hoa Mo-li, maka aku telah menghukum suteku melarang dia keluar selamanya dari Pulau Pek-le-tho. Apakah kau tidak menganggap hukuman itu sudah cukup berat baginya?”

Kiang Thian Siansu dan anak-anak muridnya mengangguk-anggukkan kepala dan mereka terpaksa mengaku bahwa hukuman itu memang berat, cukup berat. Hukuman itu sama dengan hukuman buang selama hidup, karena selama hidupnya, Han Le takkan dapat melihat dunia ramai lagi, takkan dapat bertemu dengan orang lain lagi. Hukuman ini pada hakekatnya bahkan lebih berat daripada hukuman mati.

“Bu Pun Su, kami memang sudah mendengar penuturanmu dan kami percaya penuh kepadamu. Akan tetapi masih ada satu hal yang kaulah orangnya yang harus membereskannya. Yakni tentang Pek Hoa Pouwsat. Kalau memang betul dia itu yang membunuh Cin Giok Sianjin dan benar-benar telah datang ke sini untuk memburukkan namamu, maka untuk bukti kebenaran semua penuturanmu, kau harus mencari dan membunuh Pek Hoa Mo-li!”

Bu Pun Su nampak terkejut. “Keng Thian Siansu! Aku sudah lama melakukan pantangan membunuh!”

“Kalau begitu cari dan tangkap dia, seret ke sini agar pinto dapat mendengar pengakuan dosanya. Kalau kau melakukan barulah selamanya Kun-lun-pai percaya kepadamu, Bu Pun Su.”

Bu Pun Su tertawa bergelak, “Ha, ha, ha, kau memang orang cerdik, Keng Thian Siansu. Akan tetapi tidak apalah, aku akan menangkap siluman betina itu untukmu dan sekarang kuharap tamu agung Kun-lun-pai yang sejak tadi berdiri di luar sudi masuk. Keng Thian Siansu, mengapa kau tidak menyambut datangnya tamu?”

Keng Thian Siansu juga tersenyum dan berkata, “Saudara dari Siauw-lim-si berlaku sungkan-sungkan di luar, bagaimana pinto berani menyambut sembarangan?”

Tiga orang tosu lain yang hadir situ kaget sekali dan memuji kelihaian penglihatan Bu Pun Su dan Keng Thian Siansu, karena mereka bertiga tidak melihat sesuatu, juga tidak mendengar sesuatu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dan berkelebat bayangan orang tinggi besar memasuki ruangan itu dengan gerakan yang cepat, akan tetapi biarpun kedua kakinya tidak menimbulkan suara apa-apa ketika menginjak lantai ruangan itu, ternyata bahwa semua orang merasa lantai tergetar hebat seakan-akan dijatuhi benda yang ribuan kati beratnya!

Semua orang memandang dan yang orang ini adalah seorang hwesio gundul yang bertubuh tinggi tegap, kepalanya gundul licin, demikian pun mukanya licin limis seperti kedok. Kulit mukanya berwarna putih seperti dikapur dan yang amat memburukkan rupanya adalah telinga kirinya yang sudah buntung tidak ada sisanya sama sekali. Mulutnya selalu cemberut dan sepasang matanya nampak seperti orang murung dan duka. Usianya sebetulnya sudah enam puluh tahun lebih akan tetapi oleh karena muka dan kepalanya guncul licin, ia nampak lebih muda.

Melihat hwesio ini, diam-diam Bu Pun Su dan Keng Thian Siansu merasa heran. Melihat gerakannya tadi, tak dapat disangkal lagi bahwa hwesio ini tentulah ahli silat dari Siauw-lim-pai akan tetapi siapakah dia ini? Bu Pun Su dan Keng Thian Siansu sudah banyak mengenal tokoh Siauw-lim-pai, bahkan ada pertalian persahabatan dengan ketua Siauw-lim-pai, Hok Bin Taisu. Akan tetapi hwesio ini belum pernah mereka kenal.

Kalau yang datang ini seorang anak murid Siauw-lim-pai yang rendah tingkatnya, tidak mengherankan apabila dua orang sakti ini tidak mengenalnya. Akan tetapi melihat lwee-kang dan gin-kang yang baru saja diperlihatkan oleh tamu ini, mudah saja dilihat bahwa dia adalat seorang yang berkepandaian tinggi sekali, jadi bukan seorang murid rendahan saja dari Siauw-lim-pai.

“Bu Pun Su,” kata hwesio itu dengar muka tidak berubah akan tetapi suaranya menggeledek dan menggetarkan anak telinga. “Biarpun kaum Kun-lun-pai berlaku lemah, akan tetapi pinceng dari Siauw-lim-pai tidak nanti melepaskan kau begitu saja! Kau menyerahlah untuk pinceng bawa ke Siauw-lim-pai menerima hukuman atas dosa-dosamu!”

Kata-kata ini diterima oleh Bu Pun Su dengan adem saja, akan tetapi membuat panas hati Keng Thian Siansu dan tiga orang muridnya. Sikap hwesio ini mereka anggap keterlaluan sekali. Apa yang hendak dilakukan oleh hwesio itu terhadap Bu Pun Su, mereka tidak ambil pusing, akan tetapi sikap hwesio itu yang sama sekali tidak mempedulikan pihak tuan rumah, benar-benar sudah melanggar peraturan kang-ouw dan peraturan kesopanan antara partai-partai besar.

Hwesio itu telah masuk ke Kun-lun-pai tanpa memberi tahu lebih dulu dan tentu telah mempergunakan kepandaiannya, sehingga dapat melampaui para penjaga dan sampai di ruangan lian-buthia tanpa terlihat. Hal ini saja merupakan pelanggaran pertama.

Ke dua, hwesio ini sama sekali tidak mengacuhkan Keng Thian Siansu yang menjadi ketua Kun-lun-pai dan hal ini benar-benar merupakan kekurangajaran yang menyinggung rasa kehormatan ciangbunjin dari Kun-lun-pai. Bukan ini saja, bahkan, datang-datang hwesio hendak menangkap Bu Pun Su yang saat itu menjadi tamu Kun-lun-pai, hal ini berarti bahwa hwesio itu sama sekali tidak memandang mata kepada Kun-lun-pai dan merupakan pelanggaran ke tiga.

Sun Giok Sianjin, murid keponakan dari Ketua Kun-lun-pai yang ikut hadir di situ, menjadi marah dan cepat ia melompat berdiri menghadapi hwesio itu. Tanpa banyak peradatan lagi ia menudingkan jari telunjuknya ke arah dada hwesio itu sambil berkata,

“Kami mengenal Hok Bin Taisu Ketua Siauw-lim-pai sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, keadilan, dan peraturan. Juga kami tahu betapa Siauw-lim-si adalah partai persilatan di kolong langit yang paling menjaga peraturan sehingga memasuki Kuil Siauw-lim-si kabarnya sama sukarnya dengan memasuki pintu langit! Akan tetapi mengapa kau ini hwesio yang mengaku-aku dari Siauw-lim-si begini tidak tahu aturan dan menganggap Kun-lun-pai sebagai tempat apakah?”

Hwesio itu memandang kepada Sun Giok Sianjin dengan mata mencorong, kemudian terdengar suaranya yang keras dan parau,

“Apakah kau ini yang bernama Keng Thian Siansu Ketua Kun-lun-pai?”

Sun Giok Sianjin tersenyum mengejek,

“Hwesio, kelirunya denganmu ini saja membuktikan bahwa kau bukan seorang yang banyak mengenal dan dikenal di dunia kang-ouw! Pinto sudah banyak mengenal hwesio di Siauw-lim, akan tetapi selamanya belum pernah bertemu dengan kau. Ketahuilah, pinto adalah Sun Giok Sianjin, dan kau ini siapakah?”

“Pinceng Kong Mo Taisu. Orang seperti kau ini mana mengenal pinceng?” Setelah berkata demikian hwesio itu tertawa bergelak dan kagetlah Sun Giok Sianjin karena kedua telinganya terasa sakit sekali. Makin lama hwesio itu ketawa, makin sakit telinganya sampai hampir tak tertahankan lagi. Baiknya ia cepat-cepat mengerahkan lwee-kangnya untuk menjaga keselamatan bagian halus dari telinganya dari kerusakan akibat suara yang mengandung getaran tenaga lwee-kang ini.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa halus yang sekaligus membuyarkan tenaga serangan merusak dari suara ketawa Kong Mo Taisu. Yang ketawa ini adalah Bu Pun Su. Dalam suara ketawanya yang halus, Bu Pun Su telah mengerahkan tenaganya dan dapat menolak tenaga serangan Kong Mo Taisu yang disalurkan melalui suara ketawanya.

“Pernah dahulu Suhuku Ang-bin Sin-kai bercerita kepadaku tentang seorang bocah yang menjadi kacung di Siauw-lim-si dan kemudian pada suatu hari bocah itu mencuri kitab simpanan peninggalan Tat Mo Couwsu. Sampai belasan tahun bocah itu dapat mempelajari isi kitab tanpa persetujuan para ketua Siauw-lim-si. Akhirnya ia diketahui juga dan dijatuhi hukuman, yakni selamanya tidak boleh mempergunakan ilmunya untuk memperkenalkan diri di dunia kang-ouw dan di samping itu dibuang ke luar kuil dan bertapa seorang diri dalam gua di hutan. Sekarang tahu-tahu muncul seorang hwesio tak ternama yang memiliki tenaga I-kin-keng demikian tingginya. Eh, hwesio, apa hubunganmu dengan bocah bengal itu?” Juga Keng Thian Siansu mengeluarkan seruan kaget,

“Pinto juga teringat akan sebuah dongeng yang pinto dengar dari mendiang Suheng Seng Thian Siansu. Puluhan tahun yang lalu, bersama beberapa orang sahabatnya, Suheng bertemu dengan seorang hwesio yang melakukan perbuatan tidak patut di sebuah dusun tak jauh dari Siauw-lim-si. Hwesio itu mengganggu seorang gadis kampung dan tentu saja Suheng dan sahabatnya tidak membiarkan hal itu terjadi.

Hwesio keparat ditegur dan terjadilah pertempuran hebat. Dari pertempuran ini tahulah Suheng bahwa hwesio itu memiliki sari kepandaian dari Siauw-lim-si. Akhirnya, hwesio itu dapat dikalahkan oleh Suheng dan sahabat-sahabatnya dan biarpun tidak dapat dibinasakan, sudah diberi peringatan dengan terbabatnya sebuah daun telinga sebelah kiri. Entah apa hubungannya hwesio cabul itu dengan saudara yang sekarang hadir dan mengaku bernama Kong Mo Taisu!”

Hwesio itu mukanya tidak berubah akan tetapi sinar matanya makin berapi-api. Tiba-tiba Sun Giok Sianjin tertawa bergelak, “Aha, kiranya kaulah yang telinganya sudah dibuntungi oleh Suhu!”

“Sun Giok Sianjin, awas!” teriak Bu Pun Su dan tosu ini cepat melompat ke belakang ketika merasa ada angin mendesir. Ternyata bahwa hwesio gundul itu sudah menyerangnya dengan pukulan tangan kanan yang mendatangkan angin pukulan luar biasa sekali. Sun Giok Sianjin adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi, setingkat dengan kepandaian Cin Giok Sianjin dan lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian murid-murid Keng Thian Siansu.

Akan tetapi menghadapi pukulan dari Kong Mo Taisu tadi, ia terkejut bukan main. Biarpun ia dapat menghindarkan diri, namun ia maklum bahwa lwee-kang dari Si Gundul ini masih jauh melampaui tingkatnya. Cepat tangan kirinya bergerak dan tahu-tahu ia telah mencabut pedang yang tadinya menggemblok di punggugnya. Sun Giok Sianjin terkenal lihai dengan senjata pedang yang dimainkan dengan tangan kirinya.

Memang tosu ini adalah seorang kidal yakni seorang yang semenjak kecilnya lebih trampil menggunakan tangan kiri daripada tangan kanannya. Oleh karena itu, dalam hal ilmu pedang, ia juga selalu menggunakan tangan kiri. Namun hal ini menambah kelihaiannya karena bagi lawan memang merupakan suatu kesukaran menghadapi seorang yang mainkan senjata dengan tangan kiri.

Terdengar Kong Mo Taisu tertawa bergelak lagi. Benar-benar mengerikan muka dari hwesio telinga buntung ini. Biarpun suara ketawanya bergelak, akan tetapi hanya mulutnya saja yang terbuka sedangkan lain-lain bagian mukanya sama sekali tidak memperlihatkan gerak ketawa, seperti sebuah mayat tertawa saja!

“Tosu bulukan kau mengandalkan pedangmu? Lebih baik kau mundur dan biarkan Keng Thian Siansu saja menghadapi pinceng. Kau lebih baik pulang dan belajar sepuluh tahun lagi baru menghadapi pinceng!” Bukan main marahnya Sun Giok Sianjin mendengar ejekan ini.

“Hwesio siluman lihat pedang!” Secepat kilat pedangnya di tangan kiri menyambar, dengan gerak tipu Hek-in-koan-goat (Awan Hitam Menutup Bulan) gerakan ini disusul oleh gerakan berantai Ngo-cu-sam-kiam (Lima Kali Tikaman Berantai). Akan tetapi sambil mengeluarkan suara ketawa aneh, Kong Mo Taisu menggerakkan kedua tangannya dengan lembut ke arah pedang dan ke mana saja pedang di tangan tosu itu menyerang, begitu bertemu dengan hawa pukulan dari kedua tangan hwesio itu, lalu mandeg serangannya, tertolak oleh hawa pukulan yang dahsyat sekali.

Sun Giok Sianjin terkejut sekali dan setelah semua serangannya dapat dielakkan dan disampok oleh hawa pukulan ahli lwee-kang I-kin-keng ini, ia lalu berseru keras dan tiba-tiba pedangnya meluncur cepat menyabet ke arah pundak dan leher dari samping! Sambil melakukan bacokan ini, Sun Giok Sianjin mengerahkan seluruh tenaga lwee-kangnya sehingga apabila hwesio itu berani menangkis, sungguhpun tidak dapat ia menangkan tenaga lwee-kang hwesio itu, akan tetapi kecepatan gerakan dan ketajaman pedang setidaknya tentu akan melukai tubuh lawannya!

Akan tetapi hwesio itu benar-benar lihai sekali. Sambil merendahkan tubuhnya yang tinggi berat itu, ia mengelak cepat dan begitu pedang menyambar lewat, tangan kirinya menyusul pedang dengan dorongan ke bawah. Inilah gerakan tangan kosong macam Siok-lui-kak-teng (Petir Menyambar di Atas Kepala) yang dahsyat, akan tetapi bukan digerakkan untuk menyerang lawan, melainkan untuk menindih pedang. Sungguh luar biasa sekali.

Biarpun hanya didorong oleh hawa pukulan, betapapun Sun Giok Sianjin berusaha, pedang itu tak dapat ditariknya kembali, terus terdorong ke atas lantai dan di lain saat kaki kiri hwesio itu telah menginjak pedang, tenaga lwee-kang dikerahkan dan “krakk!” pedang itu telah patah-patah empat potong di atas lantai! Di lain saat kaki kanan hwesio itu menendang dan tubuh Sun Giok Sianjin terlempar dan terbanting pada dinding ruangan itu yang jauhnya ada empat tombak lebih!

Kong Mo Taisu tertawa bergelak sedangkan Sun Giok Sianjin yang tidak menderita luka berat merangkak bangun dengan muka pucat. Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus telah kalah oleh hwesio itu, benar-benar adalah hal yang amat mengherankan, memalukan dan juga membuktikan bahwa hwesio itu benar-benar luar biasa lihainya.

Hal ini diketahui pula oleh Keng Thian Siansu. Dia sendiri biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada murid keponakannya itu, namun kalau disuruh mengalahkan Sun Giok Sianjin dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, ia masih tidak sanggup. Maka ia tahu bahwa hwesio itu merupakan lawan yang amat berat.

Akan tetapi sebagai seorang ciangbunjin ia harus menjaga nama dan kehormatan partai Kun-lun-pai. Apalagi yang datang mengacau ini bukanlah wakil Siauw-lim-pai, melainkan seorang hwesio Siauw-lim yang murtad. Sambil tersenyum pahit ia bangkit dari kursinya dan menggerak-gerakkan tongkatnya yang panjang.

“Hwesio, harap kau bicara terus-terang. Kedatanganmu ini untuk keperluan apakah?”

Kong Mo Taisu memandang tajam. “Kau yang bernama Keng Thian Siansu ketua dari Kun-lun-pai?”

“Betul dugaanmu. Kau ini hwesio murtad dari Siauw-lim-pai, sekarang datang memancing keonaran, sebenarnya apakah kehendakmu? Pinto tidak bisa turun tangan tanpa dasar yang kuat dan alasan yang tepat.” Keng Thian Siansu menyeringai.

“Bagus, Keng Thian Siansu, kau masih tanya-tanya lagi? Kau tidak tahu malu, yang sudah kehilangan anak murid terbunuh oleh Bu Pun Su, akan tetapi sekarang, setelah Bu Pun Su datang kau karena takut kepadanya bahkan bersobat dengan dia, kau masih ingin tahu apa maksud kedatangan pinceng? Pertama-tama memang pinceng hendak mengetahui sampai di mana tingginya puncak Kun-lun-san dan sekedar memuaskan hatiku menebus hinaan waktu dahulu. Kedua, sengaja pinceng hendak menangkap Bu Pun Su atas kedosaannya membunuh dua orang cucu muridku!”

Orang yang tidak tahu, tentu akan heran dan mengira hwesio itu bicara sombong ketika mengaku bahwa dua orang tokoh Siauw-lim-pai, yakni Bok Beng Hosiang yang dianggap sebagai tokoh ke dua dan ke tiga, murid-murid Hok Bin Taisu Ketua Siauw-lim-pai, sebagai cucu muridnya. Akan tetapi sebetulnya dalam hal ini hwesio ini berkata benar. Memang Kong Mo Taisu memiliki kedudukan ilmu silat yang lebih tinggi tingkatnya daripada Hok Bin Taisu sendiri dan kalau menurut keadaan pelajaran ilmu silat mereka, Ketua Siauw-lim-pai itu bahkan masih menyebut susiok kepadanya. Hal ini adalah karena Kong Mo Taisu yang sudah berhasil mencuri kitab-kitab peninggalan Tat Mo Couwsu dan mempelajari isinya yang tidak sembarang murid Siauw-lim-pai dapat melihatnya, tingkat kepandaiannya menjadi seimbang atau boleh disebut sebagai murid seperguruan yang setingkat dengan guru dari Hok Bin Taisu, yang membuat Kong Mo Taisu pernah paman guru Ketua Siauw-lim-pai. Sudah barang tentu Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang murid-murid Hok Bin Taisu ini boleh disebut cucu-cucu muridnya.

Keng Thian Siansu mendengar betapa hwesio ini terus terang menyatakan hendak mengetahui sampai di mana tingginya puncak Kun-lun-san, menjadi mendongkol sekali. Kata-kata ini mengandung sindiran dan yang dimaksudkan tinggi itu bukan puncak bukitnya, melainkan puncak kepandaiannya, yakni tentu saja kepandaian Keng Thian Siansu yang boleh dibilang puncak kepandaian Kun-lun-pai pada saat itu. Kata-kata ini sama halnya dengan menantangnya, apalagi setelah ditambah bahwa hwesio itu ingin memuaskan hatinya menebus hinaan di waktu dulu. Tentu yang dimaksudkan hinaan potong telinga oleh mendiang suhengnya, Seng Thian Siansu.

“Hwesio, kau sombong sekali. Pantas saja mendiang suhengku membuntungi telinga kirirnu. Kau mau membalas dendam dahulu? Baikiah, di sini pinto bersiap mewakili mendiang Suheng untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum sempurna, yaitu membuntungi telinga keledaimu yang sebelah lagi!”

Keng Thian Siansu biasanya tidak suka berkelakar, tidak pula menjadi wataknya untuk bersombong dan menghina orang. Kali ini ia sengaja mengeluarkan kata-kata pedas, bukan saja untuk membalas kesombongan Kong Mo Taisu, akan tetapi juga sengaja hendak memanaskan hati dan membuat hwesio itu marah, karena hanya kalau hwesio itu marah-marah kiranya ia akan dapat menghadapinya dengan harapan menang. Bagi para ahli silat tinggi yang mendasarkan kekuatan perlawanan terhadap musuh berat pada tenaga lwee-kang, nafsu amarah adalah pantangan besar karena nafsu amarah ini dapat mengurangi banyak tenaga. Dalam keadaan marah, sukar sekali untuk mengumpulkan hawa di dalam tubuh dan karenanya hawa sin-kang di dalam tubuh pun buyar tidak dapat terkumpul sehingga akibatnya tenaga pun banyak berkurang.

Ejekan tentang telinga itu benar-benar tepat melukai hati Kong Mo Taisu, membuat hwesio ini marah bukan main. Kedua matanya sampai melotot lebar dan sambil berseru keras ia yang tadinya tidak mencabut senjatanya yang tadinya tidak kelihatan dari luar, yakni sebatang ring rantai yang dibuat ikat pinggang. Rantai ini terbuat dari baja lembek, panjangnya tiga kaki, besarnya sekepalan tangan warnanya hitam.

“Tosu keparat, mampuslah kau menyusul suhengmu!” bentaknya sambil mengirim serangan. Bukan main hebatnya serangan ini. Ketika Keng Thian Siansu mengelak dan melompat ke belakang, ujung rantai menghantam lantai dan debu berhamburan ke atas karena lantai yang terpukul menjadi hancur lebur! Hwesio ini terus mendesak dengan serangan lain yang ditujukan kepada kepala Ketua Kun-lun-pai.

“Traangg…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika rantai itu ditangkis oleh tongkat di tangan Keng Thian Siansu. Keng Thian Siansu adalah seorang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Kalau ia tidak memiliki kepandaian tinggi, tidak nanti ia dapat menjadi Ketua Kun-lun-pai yang besar.

Kiranya tidak sembarang orang kang-ouw dapat menyamai kepandaiannya, baik dalam hal ilmu silat, tenaga lwee-kang, maupun gin-kang yang sudah mendekati puncak kesempurnaan. Namun kali ini begitu tongkatnya beradu dengan rantai Kong Mo Tosu, tosu tua ini maklum bahwa benar-benar lawannya memiliki tenaga warisan I-kin-keng dari Tat Mo Couwsu yang luar biasa hebatnya.

Telapak tangannya menjadi panas sekali dan kalau saja ia tidak memiliki sin-kang yang kuat tentu kulit dan daging tangannya sudah robek dan pecah-pecah. Rantai itu mengandung getaran tinggi yang hampir tidak terasa, akan tetapi yang mendatangkan hawa panas bagaikan api membara. Rantai itu sudah menyambar lagi, kini menyabet ke arah kaki Keng Thian Siansu. Ketika Ketua Kun-lun-pai itu melompat ke atas sehingga rantai itu lewat di bawah kakinya, tahu-tahu rantai itu sudah menghadang pula dan kini meluncur ke arah kepalanya! Benar-benar Ketua Kun-lun-pai dibikin kagum oleh gerakan ini. Kecepatan perubahan gerakan rantai yang dari serangan kaki tiba-tiba dapat dirubah menjadi serangan ke arah kepala ini benar-benar luar biasa dan berbahaya sekali.

Keng Thian Siansu tidak berani berlaku lambat dan ia segera mengeluarkan ilmu tongkat yang berdasarkan ilmu silat Kun-lun-kun-hoat. Ujung tongkatnya tergetar mengeluarkan bunyi berdering dan ujung itu kanan kiri tergetar menjadi tujuh bagian. Pertempuran menjadi makin sengit dan seru karena Kong Mo Taisu juga tidak mau kalah, mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Karena maklum bahwa tenaganya kalah jauh, Keng Thian Siansu mengandalkan kegesitan tubuhnya. Tujuh getaran tongkatnya itu yang lima bagian dipergunakan untuk pertahanan diri, sedangkan ia membalas serangan lawan yang hanya dengan dua bagian saja. Hal ini adalah karena hanya dengan pengerahan tenaga sekuatnya saja baru dia dapat menangkis serangan lawan yang tentu saja mempergunakan sistim setengah bertahan setengah menyerang. Karena kepincangan ini, maka segera kelihatan betapa Ketua Kun-lun-pai itu hanya berada di pihak penahan belaka, dan hanya sedikit sekali melakukan serangan, itu pun kalau benar-benar ada lowongan.

Seratus jurus telah lewat dengan cepatnya dan kini tempat itu telah terkurung oleh puluhan orang-orang Kun-lun-pai yang datang menonton dan siap sedia menghadapi semua perintah ketua mereka. Kini mereka semua merasa gelisah karena sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka maklum bahwa ketua mereka menghadapi bencana. Akan tetapi di antara mereka sudah ada kesepakatan, bahwa kalau sampai Ketua Kun-lun-pai roboh binasa, tentu hwesio gundul itu takkan dapat keluar dari situ dalam keadaan selamat.

Biarpun hwesio itu lebih kosen lagi dan ditumbuhi sepasang sayap, takkan mungkin dia dapat menghadapi pengeroyokan puluhan orang tosu Kun-lun-pai yang rata-rata berkepandaian tinggi itu.

Mereka pun tidak akan ragu-ragu atau malu-malu untuk mengeroyok dan membunuh hwesio itu kalau sampai ketua mereka tewas, oleh karena kedatangan hwesio itu bukan sebagai seorang tamu terhormat, melainkan sebagai seorang pencuri yang datang secara sembunyi-sembunyi. Kalau tamu mereka itu terhormat dan pertandingan itu adalah pibu yang sewajarnya, tentu kalah menang, mati hidup takkan dipersoalkan lagi oleh semua kaum Kun-lun-pai. Akan tetapi sekarang lain lagi soalnya, maka mereka bersiap-siap dengan senjata di tangan.

Adapun Kong Mo Taisu yang sampai seratus jurus belum dapat mengalahkan lawannya, menjadi penasaran bukan main. Dahulu memang ia kalah oleh Seng Thian Siansu, akan tetapi ia kalah karena dikeroyok oleh lima orang, yakni Seng Thian Siansu dan empat orang lain yang kepandaiannya juga tinggi. Kalau hanya Seng Thian Siansu seorang diri yang maju, dahulu juga Seng Thian Siansu pasti kalah olehnya. Padahal setelah menderita hinaan itu, ia telah berlatih lagi sampai belasan tahun, melatih I-kin-keng sampai hampir sempurna.

Kini ia mendapat kenyataan bahwa ia telah salah duga. Kiranya, hanya dengan tenaga dalam I-kin-keng yang luar biasa saja ia takkan dapat memenangkan musuh kalau ilmu silatnya tidak mengatasi kepandaian lawan. Ia harus akui bahwa dengan tenaganya, ia dapat menangkan Keng Thian Siansu hanya saja dalam ilmu silat, ternyata ketua dari Kun-lun-pai ini masih mengatasinya!

Aku harus menangkan dengan tenaga, pikirnya dan tiba-tiba ketika ia melihat tongkat menyambar dengan sodokan ke arah dada, ia tidak mengelak, bahkan sodokan tongkat itu dengan pengerahan tenaga lwee-kang dan dengan ujung rantai melibat ujung tongkat.

“Buk!” ujung tongkat menotok dada, akan tetapi seakan-akan menotok bola baja saja, licin dan keras sehingga meleset tanpa mendatangkan akibat apa-apa, dan sebaliknya, ujung tongkat itu telah kena dilibat oleh rantai. Betapapun Keng Thian Siansu mencoba untuk membetotnya, sia-sia belaka. Tiba-tiba terdengar suara ketawa keras dari mulut Kong Mo Taisu, dibarengi dengan datangnya kepalan tangan kirinya yang menyerang dengan jari-jari terbuka, mencengkeram ke arah batok kepala tosu Kun-lun-pai!

Keng Thian Siansu tadinya telah membetot-betot tongkatnya. Tongkat itu adalah senjata merangkap lambang kekuasaannya sebagai ketua besar maka sudah tentu kehilangan tongkat terampas lawan sama artinya dengan kehilangan nyawa. Akan tetapi sekarang melihat datangnya cengkeraman ke arah batok kepala, terpaksa ia mengangkat tangan kanannya, menggunakan gerak tipu Hauw-jiauw-kang (Cengkeraman Harimau) menyambut tangan kiri hwesio itu sehingga di lain saat dua tangan itu jari-jarinya telah saling cengkeram!

Kini pertandingan dilanjutkan mengandalkan lwee-kang. Sebelah tangan berebut tongkat yang terlibat rantai, tarik-menarik dan sebelah lagi saling cengkeram.

Muka hwesio tetap tidak berubah, hanya matanya mengeluarkan sinar bengis. Tangan kirinya yang mencengkeram makin lama makin kuat sehingga kuku-kukunya telah mulur menancap pada kulit tangan Keng Thian Siansu, sedangkan rantainya makin lama makin hebat tarikannya sehingga tangan kiri Ketua Kun lun-pai sudah gemetar. Muka tosu itu sudah berpeluh dan pucat, dari kepalanya sudah mengepul uap, tanda pengerahan lwee-kang sekuatnya dan keadaannya berbahaya sekali.

Tenaga lwee-kang dari hwesio itu yang terdapat karena latihan I-kin-keng secara mendalam sekali, memang masih menang setingkat lebih, maka setelah kini pertandingan dilakukan dengan cara mengandalkan lwee-kang sudah dapat dipastikan bahwa nyawa Ketua Kun-lunpai itu takkan tertolong lagi! Pertandingan lwee-kang biarpun dilakukan tanpa mengeluarkan suara, tanpa bergerak namun bahayanya melebihi silat.

Dalam pertandingan silat, setiap serangan dapat ditangkis, dielakkan, bahkan kalau mengenai tubuh juga, asal tidak telak belum tentu akan menewaskan. Sebaliknya dalam pertandingan lwee-kang, orang bertanding mengandalkan tenaga di dalam tubuh, hawa kekuatan yang “tidak kelihatan” namun yang amat berbahaya karena serangannya dapat dilawan dengan kekuatan di dalam tubuh pula dan siapa yang kalah pasti ia akan menderita luka parah di sebelah dalam tubuh yang tentu saja akan mendatangkan maut.

Bu Pun Su maklum akan hal ini. Kalau saja Ketua Kun-lun-pai itu mau melepaskan tongkatnya, kemudian tangan kirinya membantu tangan kanan, mendorong atau memukul hwesio itu, kiranya cengkeraman itu akan dapat dilepaskan dan biarpun tongkatnya lenyap, berarti ia akan selamat nyawanya. Akan tetapi ketua itu tidak mau dan hal ini pun Bu Pun Su mengerti, maka diam-diam ia yang kagum kepada Keng Thian Siansu yang lebih menghargai kehormatan sebagai ketua partai besar daripada nyawanya! Sambil batuk-batuk Bu Pun Su bangkit dari duduknya. Batuknya makin keras dan tiba-tiba kakek sakti ini meludah. Ludahnya menyambar ke depan dan mengenai tubuh hwesio yang sedang mengerahkan tenaga lwee-kang hendak membunuh Ketua Kun-lun-pai itu. Kong Mo Taisu terkejut setengah mati. Air ludah yang mengenai kedua pundaknya itu seakan-akan mengandung tenaga listrik yang membuat kedua lengannya kesemutan dan otomatis tenaganya yang dikerahkan ke arah kedua lengan menjadi buyar tidak karuan!

“Ayaaaa…” Ia berteriak sambil melepaskan cengkeraman, menarik kembali rantainya dah melompat ke belakang. Dengan demikian maka Keng Thian Siansu selamat dari bahaya maut. Tosu tua ini terhuyung-huyung dan cepat menuju ke sudut ruangan di mana ia lalu duduk bersila, meramkan mata dan mengatur napas. Tadi ia telah mempergunakan lwee-kang melampaui batas kemampuannya sehingga di antara urat yang kurang kuat ada yang pecah dan ia menderita luka dalam yang berat namun tidak membahayakan nyawanya.

Kini Kong Mo Taisu menghadapi Bu Pun Su, matanya melotot dan mulutnya agak terbuka, nampaknya seperti iblis yang marah sekali.

“Bu Pun Su, kau memang pengecut dan tak tahu malu!” Ia memaki dan bibirnya bergerak-gerak akan tetapi tidak ada kata-kata lanjutan, saking marahnya ia sampai sukar mengeluarkan kata-kata! Bu Pun Su tersenyum mengejek,

“Kong Mo Taisu, kalau roh suci dari Tat Mo Couwsu melihat betapa ilmu ciptaannya terjatuh ke dalam tangan seekor siluman bulus dan dipergunakan untuk perbuatan sewenang-wenang, tentu beliau akan menangis. I-kin-keng adalah sebuah ilmu yang tinggi dan bersifat suci, ilmu yang termasuk ilmu putih dan yang diajarkan demi kemajuan dan kesehatan manusia. Akan tetapi setelah terjatuh ke dalam tanganmu, berubah menjadi ilmu hitam yang keji!”

“Bu Pun Su manusia rendah! Ternyata watakmu tiada bedanya dengan watak seorang maling hina. Kau sendiri seorang keji yang sudah membunuh dua orang cucu muridku dan sekarang kau masih berusaha untuk membersihkan diri dan juga mencoba-coba menghinaku? Kau tadi juga memperlihatkan sifatmu yang licik dan tak tahu malu. Pinceng bertanding dengan Keng Thian Siansu, mengapa kau membantu dengan cara menggelap? Apakah itu perbuatan laki-laki?”

Bu Pun Su tidak marah mendengar ejekan ini. “Terhadap lain orang gagah di dunia kang-ouw sama artinya dengan menghadapi orang segolongan sendiri, karenanya memang harus diadakan aturan kesopanan dan harus menjaga kehormatan diri dengan taruhah nyawa! Akan tetapi menghadapi seekor anjing gila, siapa pun juga boleh menendang, memukul, atau meludahi sesuka hati tanpa kesopanan pula.”

“Jahanam, kau memaki aku anjing?”

“Siapa memaki? Aku hanya menyatakan cengli (aturan) dari dunia kang-ouw. Kong Mo Taisu, benar-benarkah kau datang ini untuk menangkap aku karena kaubilang aku membunuh dua orang cucu muridmu?”

“Bukan hanya menangkap, sekarang pinceng sudah merubah keputusan. Pinceng hanya akan membawa kepalamu ke Siauw-lim-si agar dijadikan sam-seng, untuk menyembahyangi roh kedua orang cucu muridku Bok Beng dan Kok Beng.”

Bu Pun Su tertawa geli. “Aduh, alangkah senangnya kalau aku bisa melihat dengan mata kepala sendiri betapa kepalaku dijadikan sam-seng di atas meja sembahyang! Apakah akan direbus lebih dulu? Akan tetapi sayang, mukaku kurus tidak ada dagingnya mana ada setan yang suka?”

Kong Mo Taisu menggerakkan rantainya. “Bu Pun Su, bersiaplah kau untuk mampus!”

Bu Pun Su mengangkat tangannya menyetop. “Nanti dulu, Kong Mo Taisu. Aku yang hendak kaubunuh tidak tergesa-gesa, mengapa kau yang mau membunuh begitu tidak sabaran? Kau bilang aku telah membunuh Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang, mengapa sekarang kau yang datang membalas dendam dan bukan Hok Bin Taisu sendiri dan tokoh-tokoh Siauw-lim-si yang lain? Sejak kapan kau menjadi hakim di Siauw-lim-pai? Dan pula, dari siapa kau mengerti bahwa aku telah membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu?”

“Tak usah banyak cerewet. Pendeknya, pinceng tahu bahwa kaulah yang membunuh Bok Beng dan Kok Beng, juga membunuh Cin Giok Sianjin dari Kun- lun-pai! Pinceng adalah seorang Siauw-lim-pai, sudah semestinya pinceng yang membalas dendam.”

Tiba-tiba Bu Pun Su tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh dan lapat-lapat suara ini yang mengejutkan binatang-binatang hutan di sekitar puncak, dijawab oleh auman binatang-binatang buas!

“Kong Mo Taisu, kaukira aku tidak dapat menduga? Kiranya siluman betina Pek Hoa telah mengunjungi Siauw-lim-si pula! Dan aku percaya, para pendeta di Siauw-lim-si pasti tidak mau percaya hawa busuk yang keluar dari bibir merah siluman itu. Kemudian siluman itu lari memasuki guamu dan membujuk rayu dengan matanya yang bening dan bibirnya yang merah. Dan kau… ah, mana bisa lain? Kau dengan segala senang hati melaksanakan permintaannya, untuk membunuhku. Bukankah itu cocok sekali?”

Untuk sesaat hwesio itu berdiri tercengang. Kalau mendengar omongan Bu Pun Su, seakan-akan kakek sakti ini telah melihat dan menyaksikan semua! Memang dugaan Bu Pun Su ini tepat sekali. Pek Hoa setelah berhasil memanaskan hati orang-orang Kun-lun-pai, lalu langsung menuju ke Siauw-lim-si dan di kuil Siauw-lim-si yang besar ia hanya diterima di ruang depan sekali, tidak diperbolehkan masuk. Di mana wanita ini mengarang cerita, menyatakan bahwa ia telah menyaksikan dibunuhnya Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang oleh Bu Pun Su di Pulau Pek-le-tho. Akan tetapi, ketika para hwesio penyambut menyampaikan hal ini kepada Hok Bin Taisu, hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang tidak mau menjumpai Pek Hoa ini menyatakan ketidakpercayaannya.

“Apapun juga yang terjadi, pinceng lebih percaya kepada Bu Pun Su daripada kepada Pek Hoa Pouwsat. Suruh perempuan itu cepat-cepat pergi meninggalkan Siauw-lim-si!” kata Hek Bin Taisu.

Demikianlah, tepat seperti dugaan Bu Pun Su, Pek Hoa lalu meninggalkan Siauw-lim-si dan mengunjungi tempat pembuangan atau pertapaan Kong Mo Taisu.

Kong Mo Taisu yang mendengar omongan dan ejekan Bu Pun Su, selain terheran-heran, juga ia merasa malu sekali. Terbayang olehnya betapa Pek Hoa Pouwsat memang telah datang ke guanya di mana ia bertapa untuk menebus dosanya terhadap Siauw-lim-si. Tentu saja tadinya ia menolak keras untuk keluar dari gua dan untuk menolong wanita itu membalas sakit hatinya terhadap Bu Pun Su. Akan tetapi Pek Hoa adalah seorang wanita cantik jelita seperti bidadari, dan pula dalam menggoda, membujuk dan merayu hati pria, ia sudah terlatih dan karenanya pandai sekali. Kong Mo Taisu biarpun telah menjadi seorang hwesio dan sudah bertapa bertahun-tahun akan tetapi pada dasarnya ia mempunya kelemahan batin.

Digoda hebat oleh Pek Hoa yang cantik, runtuhlah pertahanan imannya dan akhirnya ia kalah juga. Apalagi ketika dalam bujuk rayunya ini Pek Hoa menyinggung-nyinggung bahwa Bu Pun Su telah membunuh dua orang anak murid Siauw-lim-pai, Kong Mo Taisu serta-merta lalu menyetujui untuk menolong wanita cantik itu!

Demikianlah, dan sekarang Bu Pun Su bicara demikian tepat seakan-akan orang aneh ini melihat dengan mata sendiri. Tentu saja Kong Mo Taisu menjadi heran dan malu yang menimbulkan marahnya.

“Bu Pun Su, jangan mencoba berputar lidah. Betapapun juga, kau telah membunuh dua orang anak murid Siauw-lim-si dan karenanya harus membayar dengan nyawa!” Setelah berkata demikian, rantai di tangannya menyambar ke arah kepala Bu Pun Su.

Bu Pun Su maklum bahwa hwesio ini selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga memiliki tenaga lwee-kang dan ilmu I-kin-keng, maka serangan-serangannya tentu amat berbahaya. Akan tetapi di samping ini, ia pun maklum bahwa limu silat dari Kong Mo Taisu adalah ilmu silat curian, karenanya tentu cara melatih diri tidak sempurna, tidak menurut cara bagaimana mestinya atau boleh juga dibilang secara ngawur.

Dengan gerakan yang seenaknya Bu Pun Su dapat menghindarkan serangan rantai itu, kemudiah berkatalah Bu Pun Su,

“Kong Mo Taisu, satu kali kau sudah melakukan pelanggaran dan penyelewengan sehingga kau dihukum oleh Siauw-lim-si, kemudian untuk ke dua kalinya kau berbuat jahat sehingga telingamu dibuntungi oleh mendiang Seng Thian Siansu. Sekarang kau belum bertobat bahkan telah mau diperalat oleh Pek Hoa Pouwsat. Hwesio, kedosaanmu sudah memuncak dan kau perlu diseret ke Siauw-lim-si!”

Kata-kata yang panjang ini diucapkan oleh Bu Pun Su sambil menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh Kong Mo Taisu. Serangan-serangan itu hebat dan setiap sambaran rantai atau pukulan tangan dapat mengundang maut, akan tetapi oleh Bu Pun Su hanya dilawan dengan kegesitan dan kelemasan tubuhnya saja. Sekali saja kakek ini menggeser kaki, miringkan tubuh atau menundukkan kepala, menekuk lutut atau menggoyang pinggang, serangan-serangan itu mengenai tempat kosong, dan hanya sejari terpisah dari anggauta tubuh! Dalam penglihatan para tokoh Kun-lun-pai, seakan-akan Bu Pun Su tidak mengelak, melainkan tubuhnya menjadi ringan seperti kapas dan selalu terdorong oleh angin serangan sehingga semua pukulan tidak mengenai sasaran.

“Kong Mo Taisu, tahukah kau apa maksudnya hwesio digunduli kepalanya?” Bu Pun Su bicara terus dan cepat menggunakan tenaga Pek-in-hoat-sut untuk mengebut pergi ujung rantai yang kali ini menyambar cepat sekali ke arah lehernya sehingga tak mungkin dapat dielakkan pula. Ujung rantai itu bagaikan terdorong oleh tenaga aneh sehingga arahnya menyeleweng dan leher Bu Pun Su terluput dari sabetan.

“Rambut merupakan bagian penting dalam kebagusan rupa manusia, dan sifat pesolek terutama kelihatan dalam cara mengatur rambut. Karena seorang hwesio itu wajib membersihkan hati, maka melenyapkan sifat mempesolek diri menjauhkan nafsu berahi didahului dengan penggundulan rambut kepala.”

Kembali Bu Pun Su mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menolak serangan rantai yang hendak membabat pinggangnya, kemudian melanjutkan kata-katanya,

“Akan tetapi kau biarpun kepalamu gundul kelimis, masih saja kau terpengaruh oleh wajah cantik Pek Hoa Pouwsat, benar-benar amat memalukan!”

Dengan kemarahan makin meluap, rantai di tangan Kong Mo Taisu menyambar dengan pukulan dahsyat ke arah kepala Bu Pun Su. Hwesio ini merasa penasaran dan juga kaget bukan main. Ia telah memiliki kepandaian yang tinggi dan boleh dibilang di kalangan Siauw-lim-si, kepandaiannya telah mencapai tingkat tertinggi. Mengapa sekarang menghadapi Bu Pun Su yang bertangan kosong saja, sampai dua puluh jurus lebih serangan-serangannya tak pernah berhasil? Apalagi Bu Pun Su masih ada kesempatan untuk bercakap-cakap dalam menghadapi serangan-serangannya itu!

Pukulan rantai ke arah kepala kali ini amat kuatnya, dilakukan dengan pengerahan tenaga I-kin-keng sepenuhnya. Biarpun rantai itu masih jauh, akan tetapi Bu Pun Su sudah merasai sambaran angin pukulan yang benar-benar dahsyat.

“Siancai… sayang sekali ilmu hebat terjatuh ke dalam tangan jahat…” kata kakek sakti ini dan cepat ia mengulur tangan kanan menangkap ujung rantai yang menyambar ke arah kepalanya. Perbuatan seperti ini kiranya hanya Bu Pun Su saja yang berani melakukannya, karena jangankan kalah besar tenaganya oleh Kong Mo Taisu, andaikata setingkat saia, cara menangkap ujung rantai yang sedang menyambar itu merupakan bahaya maut yang nyata!

Akan tetapi Bu Pun Su bukan manusia dengan kepandaian biasa saja. Untuk masa itu, kiranya tidak ada keduanya. Kakek ini adalah ahli waris tunggal dari kitab pusaka Im-yang-bu-tek-cin-keng, kitab yang sudah diperebutkan oleh seluruh tokoh besar di dunia kang-ouw, ketika Bu Pun Su masih menjadi seorang anak kecil (baca Pendekar Sakti).

Dalam menerima dan menangkap rantai lawannya ini, biarpun kelihatannya gerakannya biasa saja, namun lengan yang digerakkan itu mengeluarkan uap putih dan jari-jari tangannya berbentuk cakar. Ujung rantai yang berat dan menyambar cepat itu dapat ditangkapnya dengan mudah dan tanpa mengeluarkan suara ujung baja itu sudah digenggamnya.

Di lain saat, rantai itu berbunyi kerotokan dan menegang, gagangnya dipegang oleh Kong Mo Taisu dan ujungnya oleh Bu Pun Su. Benar-benar amat aneh. Rantai itu biarpun terbuat dari baja, akan tetapi karena bersambung-sambung, tentu saja dapat berbengkok-bengkok.

Anehnya, ketika dua orang sakti itu memegang ujungnya, mereka saling mendorong dan rantai itu menegang seperti sebuah tongkat baja saja! Inilah saluran tenaga lwee-kang tinggi yang membuat rantai itu menegang. Jangankan rantai, biarpun yang dipegang itu sehelai sabuk sutera, dapat juga menjadi kaku dan keras melebihi baja.

Pertempuran ini benar-benar menegangkan. Semua pendeta Kun-lun-pai yang berada di situ mengerti belaka apa artinya pertandingan ini. Pertempuran yang dilakukan oleh tangan kaki, bahkan dengan senjata sekalipun, masih belum begitu menegangkan seperti pertempuran adu tenaga dalam seperti yang dilakukan oleh Kong Mo Taisu dan Bu Pun Su pada saat itu. Semua ahli silat tinggi maklum belaka bahwa dalam adu tenaga dalam, kalah menang hanya diputuskan oleh kematian seorang di antaranya!

Akan tetapi bagi Bu Pun Su tidak demikian. Kakek sakti ini sudah memiliki tingkat yang tak dapat diukur lagi tingginya, maka mengandalkan kepandaiannya ia dapat menundukkan Kong Mo Taisu tanpa membahayakan nyawa lawannya itu.

“Kong Mo Taisu, insyaflah kau akan kesesatanmu dan kalau kau mau berjanji kelak takkan melakukan pelanggaran-pelanggaran sebagai seorang pendeta, aku akan melupakan hinaan-hinaan tadi. Kau boleh ambil kembali rantaimu!” Sambil berkata demikian, Bu Pun Su sengaja mengendurkan pegangannya pada ujung rantai, memberi kesempatan kepada Kong Mo Taisu untuk menarik kembali rantainya.

Kalau saja Kong Mo Taisu bukan seorang sombong dan mempunyai dasar yang buruk, tentu ia tahu bahwa kepandaiannya masih kalah jauh oleh Bu Pun Su. Dalam pergulatan mengadu tenaga dalam ini saja, dia sendiri sudah mengerahkan seluruh tenaga I-kin-keng yang ada padanya, akan tetapi sebaliknya Bu Pun Su masih dapat berkata-kata dengan suara seenaknya saja, tanda bahwa di pihak Bu Pun Su, tenaga yang dikerahkan paling banyak hanya setengahnya.

Akan tetapi Kong Mo Taisu ternyata tidak mau menerima usul Bu Pun Su ini. Ia maklum bahwa dengan menarik kembali rantainya, sama halnya dengan mengaku kalah dan hal ini akan menjatuhkan namanya.

Maka, melihat Bu Pun Su mengurangi tenaganya, ia hendak mengambil keuntungan dari kesempatan baik ini dan tiba-tiba sambil berseru keras ia mendorong dengan segenap tenaga yang ada dalam dirinya! Semua tosu Kun-lun-pai melihat ini dan mengerti bahaya besar mengancam diri Bu Pun Su.

“Curang…!” Keng Thian Siansu Ketua Kun-lun-pai berseru marah melihat kelicikan Kong Mo Taisu ini. Akan tetapi maklum bahwa tenaganya jauh kurang kuat untuk dapat menolong Bu Pun Su, kakek Kun-lun-pai ini hanya mencekal tongkatnya erat-erat, siap untuk menyerbu Kong Mo Taisu.

Akan tetapi kekhawatirannya ini sebetulnya tidak perlu, Bu Pun Su adalah seorang yang cerdik dan waspada. Ia tadi mengurangi tenaganya bukan sekali-kali karena bodoh dan lengah, melainkan hendak memberi kesempatan kepada lawannya kalau-kalau lawan itu sadar dan mau merubah wataknya. Diam-diam ia telah menyediakan tenaganya di pundak. Kini melihat betapa Kong Mo Taisu dengan nekat mendorong dengan seluruh tenaga, Bu Pun Su menyalurkan tenaganya, dari kedua pundak tangan, menyambut datangnya tenaga dorongan lawan.

Akibat pertemuan dua tenaga raksasa ini hebat sekali. Terdengar suara “krek… krek… krek….!” dan satu demi satu mata rantai itu hancur! Akhirnya Kong Mo Taisu mengeluarkan pekik mengerikan ketika mata rantai terakhir di dekat telapak tangannya hancur dan tubuhnya seperti didorong ke belakang. Ia jatuh terduduk, wajahnya pucat sekali, kedua lengannya tergantung lemas di dekat tubuhnya, kedua matanya meram.

“Siancai… siancai… Kong Mo Taisu, kau melenyapkan ilmumu sendiri.” kata Bu Pun Su menarik napas panjang, Keng Thian Siansu yang melihat ini pun menyebut nama Thian dan menggeleng-geleng kepalanya. Biarpun sepak terjang Kong Mo Taisu amat jahat dan tak tahu diri, akan tetapi sekarang melihat hwesio itu telah kehilangan seluruh tenaga lwee-kangnya, bahkan menderita luka-luka pada pundak dan lengan yang berarti bahwa selamanya ia takkan dapat menjadi seorang ahli silat lagi, Ketua Kun-lun-pai ini menaruh hati kasihan.

Bu Pun Su lalu melanjutkan perundingannya dengan Keng Thian Siansu. Kedua orang kakek ini akhirnya mencapai persetujuan. Kun-lun-pai menyanggupi permintaan Bu Pun Su untuk melakukan pengawasan dan penjagaan di tapal barat untuk mencegah musuh-musuh negara menyerbu dari barat memasuki wilayah Tiongkok. Sebaliknya Bu Pun Su menyanggupi untuk menangkap dan membawa Pek Hoa Pouwsat ke kuil Kun-lun-pai untuk menerima hukuman.

Setelah perundingan beres, Bu Pun Su berpamit dan turun gunung sambil membawa Kong Mo Taisu. Ia pergi ke Siauw-lim-si, menyerahkan Kong Mo Taisu ke pada Hok Bin Taisu Ketua Siauw-lin-pai dan menjelaskan semua persoalan, sampai-sampai tentang kematian dua orang anak murid Siauw-lim-pai oleh Pek Hoa Pouwsat.

Hok Bin Taisu sudah maklum siapa adanya Bu Pun Su, maka hwesio tua ini percaya penuh. Dengan ramah-tamah pihak Siauw-lim-pai menyanggupi permintaan tolong Bu Pun Su untuk menggalang persatuan di antara orang-orang gagah demi menolong rakyat jelata yang terancam bahaya perang. Kemudian Kong Mo Taisu mereka masukkan ke kamar hukuman di dalam kuil. Bu Pun Su tidak lama tinggal di Siauw-lim-pai dan segera berpamit pergi, diantar sampai di luar pintu oleh Ketua Siauw-lim-pai sendiri, hal yang jarang terjadi.

***

Demikianlah pengalaman-pengalaman Bu Pun Su dituturkan dengan singkat. Kakek sakti ini lalu melakukan perjalanan untuk memenuhi janjinya kepada Keng Thian Siansu Ketua Kun-lun-pai, yakni mencari dan menyeret Pek Hoa Pouwsat ke puncak Kun-lun untuk diadili oleh pihak Kun-lun-pai.

Akan tetapi, di dalam perjalanannya ini, akhirnya Bu Pun Su mendengar berita bahwa Pek Hoa Pouwsat telah tewas ketika menolong Ang I Niocu Kiang Im Giok dari tengah kaum pemberontak. Bu Pun Su menarik napas panjang dan ia terheran-heran. Bagaimana siluman wanita itu mau menolong Ang I Niocu Kiang Im Giok yang ia tahu sedang mengantar utusan Kaisar yang bernama Gan Tiauw Ki? Benar-benar aneh sekali. Karena ingin mendengar sendiri dari Im Giok, ia segera menuju ke Sian-koan, selain hendak menanyakan tentang Pek Hoa Pouwsat kepada Ang I Niocu, juga hendak bertanya kepada Kiang Liat tentang tugas yang diserahkan kepada pendekar itu.

Akan tetapi, alangkah terkejut dan tertusuk perasaan Bu Pun Su ketika ia tiba di Sian-koan ia mendengar tentang peristiwa hebat yang terjadi dalam keluarga Kiang. Kemudian ia mencari makam Kiang Liat dan di tanah kuburan itu ia melihat Ang I Niocu Kiang Im Giok yang duduk melamun seperti patung.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu yang kaget mendengar suara teguran Bu Pun Su, lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu mencurahkan seluruh kesedihan hatinya.

“Susiok-couw… teecu seorang yang put-hauw (tak berbakti), teecu seorang jahat yang mengakibatkan matinya Twako Gan Tiauw Ki, teecu pula yang… membunuh Ayah…” Ia terisak-isak sampai suaranya tak dapat terdesak lagi.

Bu Pun Su mengejap-ngejapkan matanya, terharu dan ikut berduka. Sebelum ia menjumpai Im Giok, lebih dulu kakek ini telah mencari keterangan tentang terjadinya peristiwa itu, maka tahulah ia apa yang sesungguhnya telah menimpa keluarga gadis ini.

“Susiok-couw… harap Susiok-couw turun tangan menghukum teecu… sirnakan saja teecu dari muka bumi ini… teecu tidak kuat menanggung dosa…” gadis ini melanjutkan kata-katanya yang dicampur dengan tangis.

“Kiang Im Giok, omongan apakah yang kaukeluarkan itu? Bukan demikian sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan! Bangunkan semangatmu, usir semua kelemahan yang menyelubungi kegagahanmu seperti mendung menutupi matahari. Angkat muka dan dada, arahkan pandang ke depan. Apa semua kedukaan dan keharuan ini? Bukan engkau saja yang hidup sebatang kara di muka bumi ini. Mengerti?”

Kata-kata Bu Pun Su benar-benar mengandung sesuatu yang gaib, yang membantu Ang I Niocu menemukan kembali dirinya, mengangkatnya dari jurang kedukaan dan lamunan, membuatnya sadar kembali. Diangkatnya mukanya yang pucat sekali dan rambutnya yang awut-awutan itu sebagian menutupi mukanya, akan tetapi yang masih luar biasa cantiknya itu, dan ia memandang kepada guru besar di depannya dengan mata penuh harap dan tanya. Melihat gadis ini diam-diam Bu Pun Su merasa amat kasihan. Ia harus akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang gadis yang secantik ini, akan tetapi yang mempunyai nasib seburuk ini.

“Im Giok, seperti kukatakan tadi, di dunia ini bukan hanya engkau yang sebatang kara hidupnya. Aku sendiri semenjak kanak-kanak sudah menjadi yatim piatu dan dibandingkan dengan aku, nasibmu ini tidaklah amat buruk. Aku tahu bahwa kau kehilangan ayahmu dan juga bahwa kau berduka karena kematian Gan Tiauw Ki. Akan tetapi, kita manusia ini dapat berdaya apakah terhadap ketentuan mati hidup? Setiap pertemuan pasti akan diakhiri perpisahan, demikian pula setiap perpisahan pasti akan mendatangkan pertemuan lain.”

Im Giok yang mendengarkan ucapan Bu Pun Su dengan perhatian sepenuhnya karena ia sudah sadar kembali, lalu menjawab,

“Teecu mengerti, Susiok-couw. Hanya yang menghancurkan perasaan teecu adalah cara meninggalnya dua orang yang telah merebut kasih sayang teecu di semua orang di dunia ini. Twako Gan Tiauw Ki jauh-jauh datang untuk mengajukan pinangan untuk teecu kepada Ayah, akan tetapi siapa kira, dia tewas dibunuh oleh Ayah. Kemudian Ayah… Ayah meninggal dunia dalam keadaan… sebagai… sebagai musuh teecu…” Mata yang sudah dikuras air matanya itu kembali menjadi basah.

“Semua itu hanya dijadikan lantaran saja, Im Giok. Tentu saja kematian menjadi tidak sewajarnya kalau terjadi tanpa sebab. Dan sebab-sebab ini sudah ada yang mengaturnya lebih dulu, kau tak perlu penasaran. Adapun semua sebab-sebab yang mengakibatkan akibat-akibat yang terjadi di dunia ini, merupakan cermin, merupakan contoh bagi yang masih hidup. Kita harus dapat melihat, menangkap intisari semua sebab dan akibat, mempelajari pertalian-pertaliannya sehingga mata kita terbuka dan dapat mengatur langkah dalam hidup agar tidak sampai menyeleweng. Kau semenjak kecil dilatih tentang kegagahan, kau pun harus memiliki kegagahan lahir batin, berlaku tenang dalam menghadapi semua kejadian, tetap teguh dan kokoh kuat batinnya, inilah sikap seorang gagah. Terseret ke dalam lembah duka dan berlarut-larut menyiksa diri sendiri lahir batin, ini bukanlah sikap seorang gagah, melainkan kelemahan seorang bodoh! Tugas hidupmu masih cukup banyak di dunia ini, mengapa terbenam dalam lamunan dan duka untuk hal-hal yang sudah lenyap, sebaliknya membiarkan saja tugas-tugas suci yang berada di depan mata? Beginikah sikap seorang pendekar?”

Kata-kata ini membangkitkan semangat Ang I Niocu. Ia memberi hormat sambil berlutut lalu berkata,

“Susiok-couw, maafkan kelemahan teecu. Apakah yang teecu selanjutnya harus lakukan? Teecu mohon petunjuk karena hanya Susiok-couw yang menjadi harapan teecu untuk memberi petunjuk.”

“Banyak sekali yang dapat kaulakukan, Im Giok. Kepandaianmu sudah cukup dan kiranya pedangmu akan melakukan banyak perbuatan baik, menolong sesama manusia yang tertindas, mengulurkan tangan untuk menarik sesama hidup keluar dari jurang kehinaan dan penindasan, membasmi orang-orang jahat yang banyak berkeliaran di dunia ini.”

“Teecu mohon diberi tugas tertentu agar teecu dapat mencurahkan perhatian seluruhnya terhadap tugas itu, Susiok-couw.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: