Ang I Niocu ~ Jilid 18

Bu Pun Su mengerti akan kehendak gadis itu. Memang, melakukan sebuah tugas penting, tugas yang sukar, merupakan hiburan, yang menarik dan dapat melupakan orang akan kedukaannya, mendatangkan, perasaan bahwa dirinya masih penting dan dibutuhkan oleh orang banyak.

“Baiklah, Im Giok. Aku pun sedang membutuhkan bantuanmu, maka kebetulan sekali kalau kau menyediakan tenagamu. Tugas ini bukan ringan dan selain membutuhkan kepandaian lahir, juga perlu sekali dengan sikap yang tepat dan bijaksana. Ketahuilah bahwa pada waktu sekarang, pada saat kita semua harus menggalang persatuan, terjadi hal yang amat mengecewakan. Aku mendengar bahwa antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terjadi bentrok dan pertentangan. Bu-tong-pai adalah sebuah partai besar dan berpengaruh dan Lo Beng Hosiang ketua Bu-tong-pai adalah seorang berwatak gagah dan menjunjung tinggi keadilan. Sebaliknya, Kim-san-pai kabarnya juga dipimpin oleh orang-orang pandai dan terkenal sebagai orang-orang gagah yang mempunyai welas asih karena mereka itu adalah pemuja Kwan Im Pouwsat, Dewi Welas Asih. Aku sendiri masih sibuk mempersiapkan pertemuan besar antara para pemimpin dan tokoh-tokoh kang-ouw, maka kau wakili aku dan pergilah ke Kim-san. Coba kau selidiki tentang pertentangan antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai itu dan sedapat mungkin usahakanlah supaya kedua partai itu dapat menyelesaikan urusan mereka dengan jalan damai.”

Im Giok merasa terhibur mendengar perintah ini dan menyatakan kesanggupannya.

“Teecu akan segera berangkat memenuhi perintah Susiok-couw,” katanya, kemudian dengan hati lega ia bersembahyang untuk berpamit di depan kuburan ayahnya, juga di depan kuburan Gan Tiauw Ki. Ia merasa heran dan juga girang bahwa kini tidak ada lagi kedukaan hebat yang membikin gelap hati dan pikirannya, setelah ia bertemu dan bercakap-cakap dengan Susiok-couwnya.

“Di mana adanya sucimu?” tiba-tiba Bu Pun Su bertanya setelah Im Giok selesai bersembahyang.

“Kalau tidak pergi, tentu ada di rumah,” jawab Im Giok yang selama ini seakan-akan sudah lupa akan sucinya itu.

“Hemm, aku ingin bertemu dengan dia.”

Maka pergilah kakek dan gadis itu menuju ke rumah Im Giok di kota Sian-koan, rumah besar yang kini hanya ditinggali oleh dua orang gadis, Im Giok dan Kim Lian, dibantu oleh beberapa orang pelayan.

Setelah tiba di rumah, ternyata Kim Lian tidak berada di situ. Menurut para pelayan, gadis itu sudah pergi dua hari yang lalu, entah pergi ke mana karena tidak memberitahu kepada siapapun juga. Ketika Im Giok memasuki kamar, ia mendapat kenyataan bahwa sucinya itu telah membawa semua pakaian dan perhiasan, tanda bahwa sucinya itu pergi jauh dan mungkin sekali takkan kembali. Ia menarik napas panjang dan segera keluar lagi dan menceritakan hal ini kepada Bu Pun Su.

“Im Giok, disamping tugasmu ke Kim-san-pai, selanjutnya kau bertugas mengamat-amati sucimu itu. Jangan sampai dia melakukan kejahatan-kejahatan dan penyelewengan-penyelewengan yang akan menyemarkan nama baik kita. Betapapun juga, dia adalah murid mendiang ayahmu dan karena dia mempelajari ilmu silat yang bersumber dari aku dan sute Han Le, berarti bahwa dia itupun anak muridku. Ini berarti bahwa aku bertanggung jawab pula atas sepak-terjangnya dan karenanya aku sendiri yang akan menghukumnya kalau ia mempergunakan ilmu kita untuk perbuatan jahat.”

Setelah banyak-banyak memberi nasi hat yang merupakan hiburan dan pembangkitan semangat bagi gadis itu, Bu Pun Su lalu meninggalkan Sian-koan. Setelah kakek ini pergi, Ang I Niocu lalu menjual rumah dan seluruh perabot rumah, membagikan sebagian uang pendapatannya kepada para pelayan, kemudian pergilah ia melakukan perjalanannya ke Kim-san. Ia memang tidak ingin kembali pula ke Sian-koan, tempat yang dianggapnya hanya mendatangkan kedukaan belaka, maka ia menjual rumah dan semua isinya. Sekarang yang menjadi cita-citanya hanya merantau, merantau sejauh mungkin, menjelajahi dunia yang masih asing baginya, disamping memperluas pengetahuannya, juga untuk melakukan tugas sebagai seorang pendekar pembela rakyat tertindas.

***

Kalau semenjak ayahnya meninggal sampai bertemu dengan Bu Pun Su, Kiang Im Giok selalu mengenakan pakaian putih sederhana sekali, adalah sekarang dalam perjalanannya, ia kembali mengenakan pakaiannya yang dahulu, yakni serba merah! Pulih kembali kecantikannya dan kesegarannya yang dahulu dan setiap orang yang melihat gadis baju merah ini lewat, pasti akan menengok dan memandang penuh kekaguman.

Ang I Niocu memang seorang gadis jelita yang jarang keduanya. Mukanya bulat telur dengan dagu meruncing manis dan pipi tanpa cat selalu kemerah-merahan, merah sewajarnya yang membayang di balik kulit yang halus. Rambutnya digelung model puteri istana dengan jambul tinggi di tengah atas dan rambut yang panjang itu masih ada sisanya yang dibiarkan menggantung di belakang leher.

Untuk mengikat gelung rambutnya, dipasang hiasan-hiasan rambut yang indah, yang dahulu selalu dibelikan ayahnya yang memanjakannya. Hiasan ini membuat rambutnya yang hitam mulus itu nampak indah karena batu-batu kemala penghias rambut nampak lebih cemerlang dengan dasar rambut hitam itu. Sepasang telinganya yang sebagian atas tertutup rambut, digantungi anting-anting panjang yang terbuat dari emas bermata kemala. Anting-anting ini bergerak-gerak selalu, bermain-main di antara leher dan dagu yang halus, amat manisnya dipandang mata.

Wajahnya merupakan sesuatu yang selalu menarik pandang mata orang, penuh kemanisan dan keindahan yang tidak membosankan. Alis matanya hitam kecil memanjang, bentuknya membayangkan kegagahan, demikian pula sepasang mata yang cemerlang itu. Mata ini sekarang agak berbeda dengan dahulu. Kalau dahulu selalu membayangkan kejenakaan, kegembiraan, dan kegagahan, sekarang di situ terbayang sesuatu yang menjadi cermin kematangan jiwa, sifat yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah pernah mengalami kesengsaraan batin yang hebat. Mungkin dahulu orang masih berani memandang rendah kepadanya melihat sinar matanya seperti sinar mata kanak-kanak nakal, akan tetapi sekarang, orang akan berpikir masak-masak dulu sebelum berbuat sesuatu terhadap dirinya kalau sudah bertemu pandang dengan Ang I Niocu. Di dalam sorot mata ini tersembunyi sesuatu yang dahsyat sesuatu yang merupakan ancaman dan yang akan membuat orang menundukkan muka dengan hati ngeri karena bagi yang tajam pandang matanya, akan dapat menangkap kekerasan hati yang luar biasa dari sinar mata Ang I Niocu.

Akan tetapi, kekerasan ini tersembunyi di balik kejelitaan yang ditimbulkan oleh hidungnya yang kecil mancung, oleh sepasang bibirnya yang kecil penuh dan selalu merah, di mana kadang-kadang waktu sedikit terbuka nampak berkilauan gigi putih yang selalu bersembunyi. Demikian manisnya bentuk mulut Ang I Niocu sehingga sukarlah ditentukan mana yang lebih indah matanya ataukah mulutnya.

Baju dalamnya, yang nampak hanya bagian leher dan lengan baju, berwarna biru. Kemudian bajunya terbuat dari sutera berwarna merah muda, amat lemas dan membayangkan bentuk tubuhnya yang molek. Kemudian pakaian luarnya berwarna merah darah seluruhnya dan pada pinggangnya yang ramping sekali itu diikatkan sabuk berwarna biru terhias benang emas.

Ikat pinggang ini yang membuat pakaiannya melengket pada tubuhnya dan membuat bentuk tubuhnya nampak nyata, mempesonakan tiap orang yang melihatnya. Akan tetapi, betapapun menariknya gadis jelita ini, orang tidak berani sembarangan berlaku kurang ajar karena Ang I Niocu selain bersikap agung, juga selalu membawa pedang yang gagangnya kelihatan, tersembul dari balik pundaknya.

Ang Niocu menjual semua barang-barangnya, kecuali Pek-hong-ma, kuda bulu putih kesayangannya. Dalam perjalanannya menuju ke Kim-san, ia pun menunggang Pek-hong-ma. Setelah kini meninggalkan Sian-koan, timbul kegembiraan hati Ang I Niocu dan dibalapkannya kudanya. Kuda Pek-hong-ma memang seekor kuda pilihan yang dulu dibeli ayahnya dari selatan dengan harga mahal sekali. Kuda ini selain mempunyai kaki yang ringan dan cepat, juga tubuhnya penuh otot-otot yang kuat dan napasnya panjang.

Ketika dahulu Ang I Niocu masih suka bepergian dengan Kim Lian, pernah sucinya ini yang agaknya mengenal semua orang di Sian-koan, mengumpulkan semua pemilik kuda yang baik-baik di kota itu dan mengajak mereka berpacu kuda! Ternyata tidak ada seekor pun kuda yang dapat menandingi Pek-hong-ma. Hal ini membuat Ang I Niocu makin sayang kepada Pek-hong-ma.

Pada suatu hari ketika ia tiba di sebuah dusun, ia mendengar suara orang wanita menangis dan suara laki-laki memaki-maki. Ang I Niocu cepat melompat turun dari kuda kemudian berlari menuju ke arah suara itu. Kuda Pek-hong-ma adalah kuda yang sudah jinak dan mengerti, maka ia berani meninggalkannya begitu saja tanpa mengikatkan kendalinya pada pohon.

Ternyata bahwa yang ribut-ribut itu adalah sepasang suami isteri yang masih muda. Si isteri menangis tersedu-sedu di depan pintu, dan si suami berdiri tegak di ambang pintu, menghadang dan agaknya mencegah isterinya masuk.

“Perempuan tak tahu malu! Aku sudah mengusirmu dan kau masih ada suka untuk merengek-rengek? Benar-benar anjing yang tidak tahu malu!” laki-laki itu memaki dan kakinya menendang sehingga perempuan itu roboh terguling. Akan tetapi perempuan itu merangkak kembali dan diantara tangisnya terdengar ia berkata,

“Suamiku, mengapa kau begini kejam? Setelah kau terpikat oleh perempuan lain, mengapa kau mengusirku? Suamiku, tidak ingatkah kau betapa dahulu kau membujuk rayu ketika hendak meminangku? Kau menikah lagi, aku pun tidak keberatan, dan aku mau hidup sebagai bujang di rumahmu, asal kau jangan mengusirku. Aku sudah menjadi isterimu, kalau kau mengusirku… di mana aku harus menempatkan mukaku?”

“Cukup! Tutup mulutmu dan pergilah, aku bukan suamimu lagi! Pergi dan ikut saja orang lain, aku tidak sudi melihat macammu lagi!”

Perempuan itu terisak-isak dan sambil berlutut ia berkata, “Suamiku, mengapa kau begitu keji…?”

“Siapa keji? Kaulah yang mendatangkan sial? Kau perempuan yang tidak menyambung keturunanku, kau mendatangkan cemar pada keluargaku. Pergilah!” Kembali laki-laki itu menendang, dan kali ini agak keras sehingga perempuan itu terguling-guling dan mengaduh-aduh. Timbul penasaran dan marahnya. Kini dengan muka meringis menahan sakit perempuan itu merangkak dan berdiri, matanya berapi-api.

“Laki-laki berhati iblis, kau berlaku sewenang-wenang kepadaku. Memang aku seorang lemah, akan tetapi Thian Maha Adil dan Maha Kuasa, manusia iblis macam engkau pasti akan dikutuk oleh Thian…!”

“Jangan banyak cerewet….”

Kata-kata si suami ini terhenti dan ia berdiri melongo ketika tiba-tiba ia melihat seorang gadis baju merah yang cantik luar biasa seperti bidadari, tahu-tahu telah berdiri di depannya dengan alis terangkat dan mata berapi. Selama hidupnya, laki-laki itu belum pernah melihat seorang wanita secantik ini, dan melihat munculnya yang tiba-tiba itu, ia akan percaya kalau ada yang bilang bahwa Si Baju Merah ini adalah seorang bidadari yang baru turun dari kahyangan! Gadis itu adalah Ang I Niocu yang kini menoleh kepada perempuan yang tersiksa tadi.

“Toaci yang baik, bajingan ini telah berbuat apakah?”

Perempuan itu pun kaget melihat munculnya Ang I Niocu secara tiba-tiba itu, dan sebagai seorang dusun ia pun percaya akan tahyul dan mengira bahwa Ang I Niocu tentulah sebangsa dewi! Maka ia segera berkata dengan suara ketakutan,

“Ampunkan hamba… dia itu, adalah suami hamba. Sekarang dia hendak menikah dengan gadis lain dan gadis itu mengajukan permintaan agar hamba lebih dulu dicerai. Suami hamba menggunakan alasan bahwa karena hamba belum juga mempunyai turunan setelah menikah lima tahun, sekarang hendak mengusir hamba…”

Sejak tadipun Ang I Niocu sudah dapat menduga apa yang menyebabkan perlakuan suami yang kejam itu terhadap isterinya. Ia sudah marah sekali dan ingin ia turun tangan membunuh suami yang berlaku sewenang-wenang terhadap isterinya. Akan tetapi Ang I Niocu bukanlah seorang gadis yang berpikiran pendek. Ia tahu bahwa kalau ia melakukan hal ini, bukan berarti ia memberi pengobatan kepada penyakit itu, karena kalau suaminya meninggal, bagaimana kelak nasib isterinya? Jalan terbaik adalah mengakurkan kembali suami isteri ini dan mencegah si suami menikah kembali dan menyia-nyiakan isteri pertama. Akan tetapi bagaimana jalannya?

“Toaci, apakah kau masih suka menjadi isterinya?”

“Hamba memang isterinya yang sah, bagaimana tidak suka?” perempuan itu bertanya heran.

“Biarpun andaikata ia menjadi buruk rupa atau… sepasang telinganya hilang sekalipun?”

“Apapun juga yang terjadi dengan dia, dia tetap suamiku dan hamba tetap akan menjadi isterinya…” jawab isteri yang setia ini.

Ang I Niocu menoleh kepada laki-laki itu dengan mata marah

“Jahanam berhati binatang! Isterimu begini setia, begini mulia hatinya dan kau hendak mengusirnya? Jahanam busuk, kau mengandalkan apamukah? Orang macam engkau harus diberi hajaran. Rasakan ini!” Tiba-tiba laki-laki yang sejak tadi masih bengong itu melihat sinat berkelebat menyilaukan mata. Terpaksa ia menutup matanya dan tiba-tiba ia berteriak keras ketika merasa sakit sekali pada bagian kanan kiri kepalanya. Ketika kedua tangannya diangkat meraba ke bagian yang sakit, ternyata bahwa dua buah daun telinganya telah lenyap! Darah mengucur dan laki-laki ini sekarang memandang ke bawah, melihat dua buah daun telinganya telah menggeletak di atas tanah.

“Lihat baik-baik daun telingamu!” kata Ang I Niocu sambil menyimpan kembali pedangnya. “Lain kali kalau kau masih hendak menyia-nyiakan isterimu, aku datang mengambil kepalamu!”

Sementara itu, isteri yang melihat suaminya kehilangan dua daun telinganya, menjerit dan menubruk maju. Cepat ia memeluk suaminya yang hendak roboh pingsan dan di lain saat perempuan itu telah menangisi suaminya yang pingsan dengan kepala di atas pangkuannya.

Ang I Niocu mengeluarkan bebetapa potong uang perak, memberikannya kepada gadis itu sambil berkata, “Aku sengaja membuntungi telinganya agar ia kapok. Pula kiraku perempuan yang lain itu takkan sudi lagi ia kawini setelah ia menjadi cacat. Kau rawat dia dan belikan obat untuk lukanya. Selamat tinggal dan mudah-mudahan rumah tanggamu baik kembali.” Tanpa memberi kesempatan kepada perempuan itu menghaturkan terima kasihnya, Ang I Niocu sudah berkelebat pergi, tidak tahu bahwa perempuan itu saking kaget dan mengira dia betul-betul seorang dewi, berlutut dan mulutnya berkemak-kemik mengucapkan doa seperti kalau ia bersembahyang di depan patung Kwan Im Pouwsat!

Sambil duduk di atas kudanya yang berjalan perlahan, Ang I Niocu membayangkan semua peristiwa yang tadi dilihatnya. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan dari bibirnya yang merah itu keluar keluhan-keluhan pendek,

“Hemmm, ngeri kalau melihat suami isteri seperti itu…! Alangkah banyaknya suami isteri yang tidak bahagia hidupnya. Ayah sendiri karena terlalu mencinta ibu sampai menjadi sengsara, Twako Gan Tiauw Ki terbunuh karena mencintaiku. Perempuan tadipun karena cintanya kepada suaminya, mengalami perlakuan yang keji.” Memikirkan ini semua, makin tawar hati Ang I Niocu dan seakan-akan rasa cinta di dalam hatinya telah terbawa mati pula oleh kematian ayahnya dan kematian Gan Tiauw Ki. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk tidak menikah selama hidupnya, untuk hidup sebatang kara di dunia ini, melakukan perbuatan-perbuatan besar sebagai seorang li-hiap (pendekar wanita).

Pandangannya terhadap cinta kasih, menjadi rendah dan remeh, dan di dalam pikirannya timbul kesan bahwa cinta kasih hanya mendatangkan sengsara belaka, bahwa di dunia ini lebih banyak cinta palsu daripada cinta kasih murni. Cinta kasih murni saja banyak mendatangkan kesengsaraan, apalagi yang palsu! Bergidik kalau ia teringat akan peristiwa suami isteri yang baru saja dilihatnya tadi.

Perjalanan menuju ke Kim-san, gunung yang menjadi pusat partai silat Kim-san-pai, melalui daerah perbatasan antara Propinsi Secuan dan Cing-hai. Daerah ini adalah daerah Pegunungan Min-san dan pada waktu itu daerah ini terkenal sebagai daerah yang amat liar dan berbahaya. Tidak saja berbahaya karena jalannya sukar ditempuh dan banyak terdapat binatang buas, akan tetapi terutama sekali karena sudah berpuluh tahun tempat ini dijadikan sarang gerombolan penjahat yang terkenal kejam.

Gerombolan perampok ini dipimpin oleh tiga orang bersaudara yang terkenal dengan nama poyokan Min-san Sam-kui (Tiga Setan dari Bukit Min-san). Tiga orang kepala perampok bersaudara ini terkenal lihai ilmu silatnya dan mereka memiliki kepandaian tinggi dan keistimewaan masing-masing. Pernah ada beberapa orang gagah di dunia kang-ouw yang mendatangi Min-san dan menyerbu Min-san Sam-kui ini, akan tetapi para pendekar itu terpukul mundur dan terpaksa lari turun gunung menderita luka-luka. Selanjutnya tidak ada pendekar yang berani naik lagi.

Orang-orang yang kepandaiannya tanggung-tanggung saja, amat berbahaya kalau berani mengganggu Min-san Sam-kui. Sebaliknya, tokoh-tokoh besar tidak mau mengganggu mereka oleh karena memang tiga orang ini merupakan tokoh-tokoh golongan liok-lim (berandal) yang gagah perkasa dan tidak pernah melanggar peraturan liok-lim dan kang-ouw. Mereka melakukan perampokan tidak membuta tuli dan hanya beroperasi di daerah Min-san saja, tidak pernah mengganggu daerah atau wilayah orang lain.

Orang pertama dari Min-san Sam-kui ini adalah Toa-to Ang Kim, seorang tinggi besar bermuka brewok berusia kurang lebih lima puluh tahun. Sesuai dengan julukannya Toa-to yang berarti Golok Besar, Ang Kim adalah seorang ahli golok yang lihai, bertenaga besar dan mengandalkan tenaga gwa-kang (tenaga luar) yang amat hebat.

Dengan kedua tangannya, Ang Kim ini sanggup menumbangkan sebatang pohon siong yang besarnya sepelukan orang dan goloknya saja yang amat tebal besar dan tajam, beratnya tidak kurang dari seratus kati! Dapat dibayangkan betapa besarnya tenaga Ang Kim, karena orang dengan tenaga biasa saja, jangankan harus memainkan golok yang sedemikian beratnya, baru mengangkat saja kiranya sukar dilakukan.

Orang ke dua bernama Kwan Liong berjuluk Pek-ciang (Tangan Putih). Dia ini seorang pemuda berusia tiga puluh tahun yang berwajah putih dan tampan sekali. Juga kedua telapak tangannya berkulit putih seperti kulit tangan wanita, maka ia dijuluki Si Tangan Putih. Sikapnya juga lemah lembut seperti seorang wanita, akan tetapi lebih baik tidak dekat-dekat dengan Kwan Liong kalau sedang marah.

Sifatnya yang lemah lembut berubah beringas dan ia kejam sekali. Berbeda dengan suhengnya, Ang Kim, pemuda ini adalah seorang ahli lwee-kang dan pedangnya amat tangguh dan lihai. Memang dahulu guru mereka yang melihat bakat Ang Kim, menurunkan kepandaian yang berdasarkan gwa-kang kepada Ang Kim, sebaliknya melihat dasar dari Kwan Liong, menurunkan ilmu-ilmu silat berdasarkan lwee-kang kepada pemuda tampan ini.

Adapun orang ke tiga adalah adik perempuan Kwan Liong yang bernama Kwan Bi Hoa, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun. Seperti juga Kwan Liong, Bi Hoa mempunyai wajah yang cantik dan manis dengan bentuk tubuh ramping berisi yang selalu ditutup oleh pakaian yang ketat dan sepan mencetak bentuk tubuhnya. Bedanya, kalau Kwan Liong kelihatan pendiam, adalah Bi Hoa amat genit dan suka bicara, lagi pula galak dan telengas.

Hanya dalam satu hal gadis dan kakaknya ini mempunyai watak yang sama, yakni mata keranjang! Biarpun kakak beradik ini belum pernah menikah, namun kekasih mereka banyak sekali. Seperti kakaknya pula, Kwan Bi Hoa adalah seorang ahli pedang, akan tetapi kalau Kwan Liong mainkan pedang tunggal, adalah Bi Hoa mainkan sepasang pedang dan karenanya ia diberi julukan Siang-kiam Sian-li atau Bidadari Dengan Sepasang Pedang!

Agaknya kehidupan tiga orang pimpinan gerombolan ini akan berlangsung aman dan tak seorang pun berani mengganggu mereka, kalau saja Ang I Niocu tidak lewat di situ, atau kalau saja Ang I Niocu tidak secantik itu atau Kwan Liong bukan seorang mata keranjang!

Ketika Ang I Niocu menjalankan kudanya perlahan-lahan mendaki jalan yang berliku-liku dan menanjak di pegunungan Min-san, gadis ini tertarik sekali akan keindahan pemandangan alam di sekitar tempat ini. Ia sengaja membelokkan kudanya ke arah sebuah puncak yang nampak indah penuh dengan pohon Pek dan bunga-bunga merah-putih kemudian ia melompat turun dan menikmati pemandangan indah dan hawa gunung yang sejuk yang bermain-main dengan rambutnya.

“Indah nian tempat ini…” pikirnya dan tak terasa pula Ang I Niocu lalu mengambil tempat duduk di atas sebuah batu. Keindahan tamasya alam yang terbentang luas di depan kakinya menggugah jiwa seninya dan perlahan-lahan Ang I Niocu bernyanyi. Serangkaian sajak tidak terasa telah dijalinnya dalam keadaan termenung dan terpesona oleh keindahan alam itu, sambil melihat burung-burung beterbangan di atas jurang.

“Berkawan sebatang pedang

Menjelajah ribuan li tanah dan air

Tanpa maksud, tiada tujuan

Hanya mengandalkan kaki dan hati!”

Ang I Niocu merasa betapa kata-kata ini cocok sekali maka dengan girang ia lalu mengulang-ulang kata-kata itu. Saking asyiknya menikmati pemandangan-pemandangan indah dan hawa sejuk, ia sampai tidak tahu bahwa semenjak tadi, beberapa pasang mata mengintainya dari balik gerombolan pohon, agak jauh dari situ. Makin lama orang-orang yang mengintainya ini makin mendekat, menyelinap diantara pohon-pohon. Setelah mereka datang dekat, tentu saja mata Ang I Niocu yang berpemandangan tajam itu dapat melihat mereka.

Dengan tenang gadis ini tersenyum seorang diri, lalu berkata, suaranya merdu akan tetapi nyaring dan tinggi menusuk telinga,

“Siapakah kalian yang mengintai dari balik batang pohon? Kalau kalian bukan binatang buas, keluarlah dan katakan apa maksud kalian mengintai aku!”

Sampai lama suara ini tidak ada yang menjawab. Kemudian, tiba-tiba terdengarlah suara suitan dan dari balik batang-batang pohon itu berlompatan dua belas orang laki-laki yang bertubuh tegap dan bersikap kasar.

“Kalian ini siapakah dan apa maksud kalian mengintai aku yang sedang duduk seorang diri?”

Seorang diantara mereka, agaknya pemimpinnya, yang bertubuh tinggi dan berhidung hitam, tertawa bergelak, cengar-cengir, seperti monyet memandang kepada kawan-kawannya.

“Seorang tamu menegur dan bertanya kepada tuan rumah. Ha-ha-ha, sungguh lucu. Nona, dengan sesuka hatimu kau melanggar wilayah kami, maka terbaliklah kalau kau yang bertanya siapa kami. Sepatutnya kau yang mengaku siapa kau ini dan apa maksudmu memasuki wilayah Min-san. Kau membawa-bawa pedang, tentu kau seorang pandai. Siapakah gurumu dan dari golongan manakah kau?”

Mendengar pertanyaan ini, Ang I Niocu tersenyum dan dua belas pasang mata makin kagum memandangnya karena memang bukan main manisnya kalau gadis ini tersenyum. Beberapa orang sampai menelan ludah dengan hati penuh gairah. Tiba-tiba saja gadis ini teringat akan kata-kata yang dinyanyikan seorang diri tadi, maka kini ditanya nama dan asal usulnya, ia pun membuka bibir bersyair sambil menengadah ke langit.

“Berkawan sebatang pedang

Menjelajah ribuan li tanah dan air

Tanpa maksud, tiada tujuan

Hanya mengandalkan kaki dan hati

Kau masih bertanya maksud.keperluan?

Tanyalah kepada burung di puncak pohon

Terbang ke sini berkehendak apakah ?

Dua belas orang itu adalah anak buah gerombolan perampok di bawah pimpinan Min-san Sam-kui. Tentu saja mereka ini adalah bangsa kasar yang tidak peduli tentang sajak, akan tetapi mereka pun sudah banyak tahu tentang keanehan orang-orang kang-ouw, maka biarpun mereka merasa mendongkol mendengar jawaban ini, tetap saja mereka masih menahan kesabaran. Pemimpinnya maju selangkah dan berkata dengan suaranya yang parau,

“Nona, kau begini muda, begini cantik seperti bukan manusia, kau seorang diri berada di tempat ini benar-benar merupakan hal yang aneh dan sukar dipercaya. Kalau kami melihat seekor singa betina, atau seekor ular betina atau binatang-binatang buas yang lain lagi, kami takkan merasa heran. Akan tetapi melihat kau seorang diri saja berada di tempat ini benar-benar merupakan hal yang hampir tidak mungkin! Ketahuilah bahwa kami bukannya orang-orang yang tidak menghargai persahabatan di dunia kang-ouw dan pemimpin-pemimpin kami adalah Min-san Sam-kui yang terkenal gagah perkasa. Mungkin kau juga seorang kang-ouw, melihat lagakmu dan pedangmu, maka kami sudah bertanya dengan baik. Harap kau suka menjawab pertanyaan kami, Nona manis.”

Biarpun kata-kata yang keluar dari mulut orang ini seperti kata-kata sopan dan tahu aturan, akan tetapi pandang mata mereka itu semua menimbulkan muak dalam hati Ang I Niocu, maka ia lalu bangkit berdiri dan berkata singkat,

“Aku tidak peduli tentang Min-san Sam-kui dan aku tidak kenal mereka. Aku tidak ada urusan dengan kalian!” Setelah berkata demikian Ang I Niocu lalu berjalan pergi dari puncak itu, kegembiraannya yang tadi lenyap oleh gangguan ini.

Akan tetapi dua belas orang itu serentak mengejar dan menghadang di depannya. Pemimpin yang berhidung hitam tadi berkata,

“Nanti dulu, Nona. Mengapa terburu-buru? Kalau kau kenal dengan Min-san Sam-kui, kau pergi begitu saja masih tidak mengapa. Akan tetapi kau sendiri menyatakan tidak kenal. Hemm, kalau begitu kau seorang asing dan karenanya kau harus membayar pajak jalan kepada kami!”

Ang I Niocu mengerti bahwa ia berhadapan dengan perampok-perampok kasar, akan tetapi ia tetap tenang. Ia juga mengerti akan peraturan di kalangan liok-lim ini, yakni siapa yang dianggap bukan kawan atau kenalan, apabila lewat di daerah mereka harus “membayar pajak jalan” atau kasarnya dirampok barang-barang bawaannya!

“Berapa aku harus membayar pajaknya?” tanya Ang I Niocu. Sebagai seorang pengembara ia harus mengindahkan peraturan-peraturan di dunia kang-ouw agar jangan dianggap tidak mengerti aturan, maka nona ini sudah bersedia mengeluarkan uang untuk sekadar menyokong mereka.

Akan tetapi, orang-orang itu saling pandang dengan muka cengar-cengir, kemudian terdengar seorang di antara mereka majukan usul kepada pemimpin Si Hidung Hitam.

“Twako, minta ia tinggalkan pakaian yang dipakainya!”

“Setuju…! Biar hilang sombongnya!”

“Serahkan kepadaku saja untuk membikin jinak kuda betina liar ini!”

Kata-kata yang tak sopan mulai terdengar dan pemimpin hidung hitam itu menghadapi Ang I Niocu sambil tertawa-tawa dan berkata,

“Kau dengar sendiri, Nona manis. Kawan-kawanku berlaku murah, karena kau cantik jelita dan masih muda, kami tidak mengharapkan barang-barang bawaan atau bekalmu. Akan tetapi kami hanya menghendaki pakaian yang menempel di badanmu itu supaya kautanggalkan dan kau berikan kepada kami.”

Kata-kata ini disambut sorak-sorai para perampok itu. Ang I Niocu tetap tersenyum akan tetapi kalau diperhatikan benar-benar, orang akan melihat belahan bibirnya yang bawah tergetar dan kedua matanya mengecil, mengeluarkan cahaya berapi-api. Inilah tandanya bahwa Ang I Niocu menahan amarah yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Dengan gerakan tenang sinar matanya mencari-cari ke bawah. Ia tidak mau menghadapi orang-orang kasar ini dengan tangan, segan ia menggunakan tangan menyentuh mereka. Untuk menggunakan pedang ia malu kepada diri sendiri. Masa menghadapi tikus-tikus busuk macam ini saja ia harus mencabut pedangnya? Akhirnya matanya melihat sebatang ranting kering yang berada di bawah pohon, maka tersenyumlah ia, senyum manis yang membuat hati dua belas orang laki-laki itu makin tergiur hatinya.

“Kalian ini tikus-tikus hutan berani bermain gila di depan Ang I Niocu? Bagus, terimalah pembayaran pajakku ini!”

Tiba-tiba dua belas orang itu berseru kaget ketika gadis baju merah itu lenyap dari depan mereka. Sebagai gantinya, nampak berkelebat bayangan merah yang menyambar ranting di tanah, kemudian menjerit-jeritlah mereka, disusul tubuh mereka roboh tumpang tindih. Si Hidung Hitam tahu-tahu kehilangan sebelah hidungnya dan hidung itu sekarang berubah merah karena darah, ada pula yang daun telinganya pecah dan ada yang lengannya tertusuk ranting, dan sebentar saja dua belas orang itu melarikan diri sambil menjerit-jerit kesakitan dan penuh rasa takut!

Ang I Niocu melempar rantingnya, mengebut pakaian yang terkena debu, lalu dengan senyum manis dan langkah tenang ia turun dari tempat itu menghampiri kudanya. Dengan perlahan ia menjalankan kudanya menuruni Bukit Min-San. Ia mengira bahwa para perampok itu tentu sudah tobat dan tidak muncul lagi. Akan tetapi ternyata dugaannya ini keliru.

Baru saja ia turun dari puncak itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan tahu-tahu dari segala jurusan muncul banyak orang. Mereka ini adalah anak buah perampok yang tentu saja lebih hafal akan keadaan di situ dan dapat mengambil jalan pendek menghadang perjalanan Ang I Niocu. Mereka terdiri dari puluhan orang, dipimpin oleh Min-san Sam-kui yang menghadang di tengah jalan dengan sikap sombong.

Melihat tiga orang yang pakaiannya serba mewah dan sikapnya jauh berbeda dengan para perampok itu, Ang I Niocu bersiap-siap dan sengaja melompat turun dari atas kudanya.

“Pek-hong-ma, kau tunggu aku di bawah sana!” katanya sambil menepuk punggung kuda itu. Kuda Pek-hong-ma ini sudah bertahun-tahun dipelihara oleh Ang I Niocu, maka menjadi amat penurut dan karena dilatih, maka ia mengerti akan kehendak nona majikannya. Mendapat tepukan itu, ia lalu berlari-lari turun gunung! Dengan tenang Ang I Niocu lalu menghadapi para perampok itu, terutama tiga orang yang menjadi pemimpin mereka.

Toa-to Ang Kim dan Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa memandang kepada Ang I Niocu dengan mata mengandung kemarahan besar, sungguhpun kemarahan Ang Kim tercampur oleh keheranan dan kekaguman melihat gadis muda cantik jelita itu. Adalah Pek-ciang Kwan Liong yang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut celangap, menahan napas dan dadanya berdebar-debar.

“Demi Iblis!” katanya perlahan dengan mata tak pernah berkedip menatap wajah dan bentuk tubuh gadis baju merah di depannya itu, penuh takjub. “Kalau dia itu manusia dan bukan dewi kahyangan, tidak tahu lagi aku apa bedanya antara gadis dan dewi!”

Mendengar ini, Bi Hoa adiknya membantah perlahan, “Apakah dewi kahyangan saja yang memiliki kecantikan luar biasa? Juga siluman rase memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan manusia biasa. Jangan kau salah duga, siluman rase disangka dewi kahyangan.”

“Biarpun ia siluman rase atau siluman tikus, kalau bisa mendapatkan dia, aku akan merasa bahagia sekali… alangkah manisnya, eh, Bi-moi pernahkah kau melihat bibir semanis itu? Hemm…”

Percakapan antara kakak dan adik yang dilakukan bisik-bisik dan dari jarak jauh ini kiranya takkan dapat terdengar oleh telinga Ang I Niocu kalau saja gadis ini bukan seorang pendekar yang berilmu tinggi. Pendengarannya jauh lebih tajam daripada pendengaran manusia biasa, maka ia dapat menangkap semua percakapan itu dan diam-diam ia tersenyum geli.

Sementara itu, Toa-to Ang Kim sudah menegur dengan kata-kata keras dan ketus, “Nona yang lewat di daerah kami! Kau mengaku berjuluk Ang I Niocu dan sudah melukai orang-orang kami secara kejam. Sebetulnya siapakah kau, dari golongan mana dan apa maksudmu datang ke wilayah kami melakukan penghinaan? Apakah sengaja kau mencari permusuhan dengan Min-san Sam-kui?”

“Kepala berandal, enak saja kau bicara! Anak buahmu bersikap kurang ajar sekali sehingga terpaksa aku turun tangan memberi hajaran. Kau yang tidak bisa mendidik anak buahmu, tidak menegur mereka dan minta maaf kepadaku, sebaliknya hendak menegurku? Aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun juga, andaikata aku tidak suka kepada kalian ini orang-orang kasar, agaknya Susiok-couwku Bu Pun Su takkan membolehkan aku mencari permusuhan dengan kalian. Akan tetapi ini bukan berarti aku takut! Biar kalian sekalipun kalau bertindak kurang ajar dan keterlaluan, tak urung akan mendapat bagian!”

“Bocah sombong rasakan, pedangku!” Bi Hoa sudah menjerit marah dan sepasang pedangnya bergerak cepat menyerang Ang I Niocu.

Hanya nampak sinar pedang berkelebat, disusul pekik kaget dari Bi Hoa. Ternyata Ang I Niocu telah mencabut pedang dan menangkis serangannya, tangkisannya demikian cepat dan kuat sehingga pedang di tangan kiri Bi Hoa terlepas dan menancap di atas tanah, sedangkan pedang kedua kalau ia tidak buru- buru melompat ke belakang dengan muka pucat, tentu akan terlepas pula!

“Sumoi, tahan…!” Toa-to Ang Kim yang melihat gelagat berseru keras. Kemudian kepala rampok yang tinggi besar ini maju menjura memberi hormat kepada Ang I Niocu sambil berkata ramah,

“Ah, tidak tahunya Li-hiap adalah cucu murid Sin-taihiap (Pendekar Sakti) Bu Pun Su! Maaf, maaf, kami mempunyai mata tetapi tidak melihat tingginya Bukit Thai-san. Harap Li-hiap sudi memaafkan perbuatan kurang ajar dari anak buah kami dan kelancangan Sumoi tadi.”

Diantara tiga orang kepala rampok ini, tentu saja Toa-to Ang Kim yang tertua memiliki pandangan yang lebih luas dan sikap yang lebih hati-hati. Tidak saja ia menjadi terkejut bukan main mendengar nama Bu Pun Su disebut-sebut oleh Ang I Niocu, juga melihat betapa sekali gerakan Ang I Niocu sudah dapat merampas sebatang pedang dari tangan sumoinya, maklumlah ia bahwa gadis baju merah ini benar-benar tidak boleh dipandang ringan, maka ia cepat-cepat mengeluarkan diplomasinya.

Ang I Niocu adalah puteri seorang pendekar besar, juga murid dari orang-orang ternama di dunia kang-ouw, maka gadis ini dapat membawa diri. Melihat sikap orang tertua dari Min-san Sam-kui, ia pun merobah sikapnya dan membalas penghormatan itu.

“Kalau mau bicara tentang maaf, siauwmoi juga mohon maaf sebanyaknya bahwa kedatangan siauwmoi di Bukit Min-san yang sesungguhnya hanya kebetulan lewat belaka, mendatangkan banyak gangguan kepada Sam-wi. Karena kesalahpahaman telah diatasi, perkenankan siauwmoi melanjutkan perjalanan turun gunung mencari kudaku yang sudah lari lebih dulu tadi.” Memang bagi Ang I Niocu, tidak perlu ia menanam bibit permusuhan dengan segala macam penjahat rendah, apalagi kalau tidak ada sebab-sebabnya yang kuat. Ia takut akan mendapat marah dari Bu Pun Su karena dalam perjalanan berusaha mendamaikan permusuhan antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, amat tidak baik kalau usaha itu ia mulai dengan permusuhannya dengan golongan lain! Maka ia hendak menghabiskan perkara itu sampai di situ saja dan melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi dasar harus terjadi keributan, tiba-tiba Pek-ciang Kwan Liong, orang ke dua dari Min-san Sam-kui yang berwajah tampan, dengan sikap halus dan penuh hormat menjura ke depan Ang I Niocu sambil mengeluarkan suaranya yang merdu halus,

“Lihiap Ang I Niocu, aku yang. rendah Pek-ciang Kwan Liong, ikut menghaturkan terima kasih atas ketinggian budimu yang telah memaafkan anak buahku dan adikku tadi. Kita baru saja berjumpa, akan tetapi kau telah mendapat kedudukan tinggi dalam pandangan kami. Kelihaianmu dan pribudimu yang luhur benar-benar membuat kami kagum dan tunduk. Oleh karena itu, atas nama semua kawan-kawan, aku mohon dengan hormat dan sangat, sudilah kiranya Li-hiap singgah di tempat kami untuk mempererat perkenalan ini. Siapa tahu kalau kelak kita akan dapat saling membantu dalam urusan besar.”

Ang I Niocu merasa ragu-ragu. Menurutkan suara hatinya, ia harus menolak dan cepat-cepat pergi dari situ. Akan tetapi, orang telah mengajukan permintaan demikian penuh hormat dan merendah, tidak enak juga kalau ditolak begitu saja. Selagi ia ragu-ragu, ia mendengar ucapan Kwan Bi Hoa,

“Ah, Koko, kau ini tidak bisa melihat gelagat. Lihiap Ang I Niocu biarpun sudah memaafkan kita, akan tetapi tadi bermusuh dengan kita, mana ia percaya kepada undanganmu? Tentu disangka kita hendak menjebaknya!”

Merah muka Ang I Niocu mendengar ini. Dengan suara mengejek ia berkata,

“Hemm, sesungguhnya aku hendak menolak undangan ini. Akan tetapi karena khawatir disangka takut akan jebakan, biarlah aku melihat-lihat sarang kalian.”

Berseri wajah Pek-ciang Kwan Liong. Ia segera memberi perintah kepada para anak buah berandal untuk mempersiapkan segata sesuatu di “pesanggrahan” untuk menyambut datangnya tamu agung, dan mempersiapkan meja perjamuan!

Setelah itu, dengan langkah tenang dan gagah Ang I Niocu diiringkan naik ke sebuah puncak tak jauh dari situ, puncak yang penuh dengan pohon-pohon liar. Di tengah-tengah hutan di puncak bukit ini terdapat sebuah rumah kayu yang besar. Inilah tempat tinggal dari Min-san Sam-kui, adapun para anak buah rampok itu tinggal di sekeliling puncak, di dalam gubuk-gubuk kecil yang dibangun di sana-sini.

Ketika mulai mendaki puncak bukit ini, di kanan kiri lorong berdiri para perampok dengan senjata di tangan, berdiri tegak seperti barisan memberi hormat seorang jenderal yang lewat. Keadaan amat angker dan menakutkan, akan tetapi Ang I Niocu tetap tenang-tenang saja, berjalan tanpa menoleh ke kanan kiri.

Iring-iringan ini masuk ke dalam bangunan besar dan diam-diam Ang I Niocu merasa kagum karena keadaan di dalam bangunan kayu ini jauh bedanya dengan keadaan di luar. Belasan pemuda dan pemudi yang nampak di ruangan tamu dan kelihatan sebagai pelayan-pelayan tidak kasar-kasar seperti para perampok itu, bahkan boleh dibilang rata-rata para pemudanya tampan-tampan dan para gadisnya cantik-cantik.

Sama sekali ia tidak mengira bahwa para pemuda ini adalah orang-orang culikan yang dipaksa dan dibawa ke tempat itu sebagai kekasih Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa dan juga gadis-gadis itu adalah orang-orang culikan yong dipaksa menjadi kekasih Pek-ciang Kwan Liong! Mereka ini selain bertugas menghibur hati kakak beradik mata keranjang ini, juga bekerja sebagai pelayan dan selalu berada di dalam bangunan, tidak pernah keluar, apalagi ikut merampok. Mereka ini pendiam tidak banyak bicara, dan pucat-pucat, muka orang-orang yang putus harapan.

Di ruangan tamu yang lebar itu telah sedia meja panjang penuh dengan hidangan-hidangan lezat. Kembali Ang I Niocu terheran-heran karena bagaimana di tengah hutan dan di puncak gunung itu orang bisa mendapatkan hidangan-hidangan seperti di rumah makan di kota saja? Ia tidak tahu bahwa memang di tempat ini disediakan bahan-bahah masakan yang serba lengkap, juga di situ terdapat sebuah dapur yang besar dan lengkap, bahkan terdapat pula seorang koki culikan. Kesukaan Toa-to Ang Kim yang terutama adalah makanan enak, maka untuk memenuhi selera dan memuaskan hatinya Ang Kim setiap hari diadakan pesta besar memotong ayam dan babi.

“Untuk menghormati kedatangan Li-hiap, sebelum melanjutkan perjalanan kami mengadakan sekedar makan-minum. Setelah mengaso sebentar baru Li-hiap dapat melanjutkan perjalanan,” kata Ang Kim sambil tertawa ramah.

“Mana bisa begitu sebentar? Kami harap Li-hiap suka bermalam di tempat kami yang buruk ini barang semalam dua malam,” Kwan Liong menyambung cepat-cepat, sedangkan Kwan Bi Hoa hanya tersenyum-senyum saja dan kadang-kadang memandang kepada seorang pelayan tampan dengah mata mendelik kalau pelayan ini mengerling ke arah Ang I Niocu dengan pandang mata kagum. Agaknya perempuan ini besar sekali cemburunya!

“Undangan makan kuterima dengan senang hati dan terima kasih. Akan tetapi untuk bermalam di sini betul-betul tak mungkin. Aku harus segera melanjutkan perjalanan,” jawab Ang I Niocu dan tanpa malu-malu ia segera mengambil tempat duduk ketika pihak tuan rumah mempersilakannya. Mereka lalu mulai makan minum. Ang I Niocu berlaku seolah-olah ia makan dan minum semua hidangan tanpa ragu-ragu dan tanpa sangsi-sangsi. Padahal sebenarnyalah amat hati-hati dan waspada, hidungnya bekerja keras mencium bau setiap makanan dan minuman sebelum makanan atau minuman itu memasuki mulut dan perutnya. Akan tetapi ia sengaja tidak pernah mengeringkan cawan araknya sehingga setelah pihak tuan rumah menghabiskan tujuh delapan cawan, ia baru menghabiskan tiga cawan saja.

Pek-ciang Kwan Liong yang mukanya sudah mulai kemerahan akibat pengaruh arak berdiri dan tertawa-tawa sambil memegang seguci arak yang baru didatangkan oleh pelayan.

“Lihiap Ang I Niocu mengapa sungkan-sungkan? Arak kami adalah arak simpanan, arak wangi yang sudah puluhan tahun usianya, amat baik untuk menyehatkan tubuh dan menambah semangat. Harap Li-hiap sudi menerima secawan arak untuk menghormati pertemuan yang amat membahagiakan hati ini!”.

Tentu saja Ang I Niocu tak dapat menolak dan memberikan cawannya untuk diisi penuh. Arak kali ini adalah arak berwarna merah yang baunya harum sekali, mengalahkan arak yang tadi-tadi. Ang I Niocu mengikuti mereka mengangkat cawan arak dan meminumnya. Sebelum arak itu memasuki mulutnya, hidungnya mencium bau keras diantara bau harum, akan tetapi tanpa memperlihatkan tanda sesuatu, Ang I Niocu menenggak arak itu. Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya, berdiri, dan memegang kepala sambil menundukkan mukanya, lalu terhuyung-huyung seperti orang pusing.

Ia mendengar Ang Kim bertanya, “Eh, eh, Li-hiap kenapakah…?” Juga ia mendengar suara ketawa Kwan Bi Hoa, kemudian ia mendengar suara yang diharap-harapkan, yakni suara Kwan Liong yang berkata perlahan penuh kegembiraan, “Aha, sudah kena… roboh… roboh…”

Ang I Niocu terguling miring dan roboh tak bergerak lagi! “Sute apa yang kaulakukan?” terdengar Ang Kim membentak sutenya.

Kwan Liong tidak menjawab akan tetapi yang menjawab adalah Kwan Bi Hoa yang tertawa-tawa genit, “Twa-suheng seperti tidak tahu saja, mana Liong-ko mau melepaskan orang begini cantik?”

“Bi-moi benar, Twa-suheng,” kata Kwan Liong, “belum pernah selama hidupku aku melihat seorang gadis secantik ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkan dia, tentu selamanya aku akan terkenang dan tergila-gila.”

Ang Kim menarik napas panjang. “Asal kau berhati-hati saja. Dia itu lihai sekali…”

“Jangan khawatir, Suheng. Aku sudah biasa menundukkan singa-singa betina liar. Kalau sekali ia sudah menjadi punyaku, tentu ia akan menjadi penurut dan dia akan menjadi pembantu kita yang amat boleh diandalkan.”

Ang Kim mengomel sambil menghirup araknya. “Sesukamulah, kesukaanmu main-main seperti ini tidak akan menambah panjangnya usiamu. Aku lebih baik makan dan minum…” terdengar dengan lahapnya ia mengunyah daging dan mendorongnya ke dalam perut dengan arak beberapa teguk.

Kwan Bi Hoa yang sudah setengah mabuk, membelai-belai rambut seorang pemuda pelayan yang berlutut di dekatnya, sedangkan Kwan Liong sambil tertawa haha-hihi mendekati Ang I Niocu, dan berlutut.

Ang I Niocu yang kelihatan seperti orang pingsan tak berdaya itu, tiba-tiba membuka mulutnya dan arak tadi menyembur keluar dari mulutnya, mengenai muka Kwan Liong.

“Ayaaa…!” Kwan Liong menjerit sambil melompat mundur dan kedua tangannya menutupi muka yang terasa pedas sekali terkena semburan arak tadi. Akan tetapi di lain saat, sinar pedang berkelebat dan kepala Pek-ciang Kwan Liong terpisah dari lehernya yang terbabat putus oleh pedang di tangan Ang I Niocu!

Dara baju merah ini berdiri dengan mata berapi-api, pedang di tangan dan sikapnya mengancam sekali. Toa-to Ang Kim berdiri seperti patung di atas kursinya, terlampau kaget sehingga untuk beberapa lama ia tak dapat bergerak. Siang-kiam Sian-li Kwah Bi Hoa juga melompat berdiri dengan mata terbelalak, kaget setengah mati melihat kakaknya sudah menggeletak dengan leher putus.

“Bagus, kalian memang buta, akan tetapi tadinya kukira kalian sudah sembuh dan dapat melihat. Tidak tahunya kalian ini tikus-tikus busuk yang tidak pandai menggunakan mata. Orang-orang macam kalian ini kalau tidak dibasmi, untuk apalagi aku sejak kecil mempelajari ilmu?” kata Ang I Niocu dan sekali kakinya menendang, sebuah meja penuh piring dan mangkok melayang ke arah Kwan Bli Hoa. Perempuan ini cukup gesit, melompat ke samping dan yang menjerit roboh adalah pelayan yang tadi dibelainya, terpukul meja.

Para pelayan menjerit dan lari ke sana ke mari mencari tempat sembunyi. Para anak buah perampok yang menjaga di luar, cepat menyerbu masuk dengan senjata di tangan. Toa-to Ang Kim dan Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa sudah sadar dari kagetnya dan kini Ang Kim memegang goloknya yang besar sedangkan Bi Hoa memegang sepasang pedang siap menggempur Ang I Niocu.

Ang I Niocu mengeluarkan suara ketawa yang merdu akan tetapi yang membangkitkan bulu tengkuk para perampok ketika gadis ini berkata,

“Rakyat Min-san, saksikanlah aku Ang I Niocu membebaskanmu dari gangguan perampok-perampok Bukit Min-san!” Di lain saat, tubuh Ang I Niocu berkelebat lenyap berubah menjadi sinar merah yang menyambar ke sana ke mari, dikeroyok oleh Ang Kim, Kwan Bi Hoa, dan puluhan orang perampok yang biasanya berlaku sewenang-wenang kepada rakyat di sekitar daerah itu. Pedang di tangan Ang I Niocu luar biasa sekali ganasnya, setiap kali meluncur pasti merobohkan seorang perampok yang tewas di saat itu juga.

Medan pesta berubah menjadi medan pertempuran yang hebat. Meja kursi yang tadi dipakai pesta, melayang ke sana ke mari terkena terjangan dan tendangan. Mangkok piring yang pecah tertumbuk dinding kayu atau jatuh di lantai menerbitkan suara hiruk-pikuk. Ini semua masih ditambah oleh orang-orang berteriak kesakitan. Darah membanjiri ruangan itu.

Akhirnya hanya lima orang tangan kanan mereka saja yang masih melakukan pengepungan. Yang lain-lain tidak ada lagi. Banyak yang menggeletak tak bernyawa, akan tetapi lebih banyak pula yang melarikan diri karena gentar menghadapi pendekar wanita baju merah yang kosen itu.

Golok besar yang dimainkan oleh Ang Kim cukup kuat dan tangguh. Golok ini diputar mengeluarkan angin dan sinar pedang Ang I Niocu sukar menembus benteng sinar goloknya yang bergulung-gulung. Juga Kwan Bi Hoa berdaya upaya membalas kematian kakaknya, sepasang pedangnya diputar cepat, membalas serangan Ang I Niocu dengan serangan maut. Lima orang perampok yang ikut mengeroyok benar-benar merupakan anak buah yang setia, karena sungguhpun mereka ini kewalahan benar, namun mereka tidak mau melarikan diri meninggalkan dua orang pemimpin mereka itu.

Ang I Niocu tadinya mengharapkan mereka ini melepaskan senjata dan minta ampun. Kalau terjadi hal demikian, kiranya ia pun tidak tega untuk membunuh mereka, asal saja mereka mau berjanji untuk mengubah cara hidup, ia bersedia untuk memberi ampun. Akan tetapi melihat kekerasan kepala mereka, timbul amarah di dalam hatinya.

“Bangsat-bangsat kecil, kalian tak boleh dikasih hati!” bentaknya dan tiba-tiba permainan pedangnya berubah. Kalau tadi permainan pedangnya cepat menyilaukan mata, adalah sekarang menjadi lambat dan gerakan tubuhnya amat indah seperti orang menari-nari. Akan tetapi kini setiap kali pedangnya digerakkan, bukan hanya sebagai main-main belaka, melainkan merupakan serangan yang tak dapat ditangkis lagi. Sekali pedangnya berkelebat ke arah dua orang perampok, biarpun dua orang itu sudah menangkis dengan golok, tetap saja pedang itu menyeleweng dan meneruskan serangannya tanpa dapat dielakkan lagi. Dua orang itu menjerit dan roboh mandi darah! Ang I Niocu melanjutkan serangannya dan dalam beberapa jurus saja tiga orang perampok yang lain roboh juga.

“Apakah kalian masih belum mau bertobat!” Ang I Niocu memberi kesempatan terakhir kepada Toa-to Ang Kim dan Siang-kiam Sian-li Kwan Bi Hoa.

Jawaban yang diterimanya hanya sabetan golok besar pada lehernya dan tusukan sepasang pedang pada dada dan leher!

“Kalian sudah bosan hidup!” bentak Ang I Niocu yang tiba-tiba lenyap menjadi bayangan merah yang melesat ke sebelah kiri tubuh Kwan Bi Hoa. Sebelum perempuan cabul ini dapat menangkis, pedang Ang I Niocu sudah memasuki lambungnya, membuat ia terguling roboh. Sebuah jeritan ngeri merupakan perbuatan terakhir yang dapat ia lakukan.

Melihat sumoinya roboh, Toa-to Ang Kim menjadi nekat. Goloknya diputar dalam penyerangan mati-matian. Akan tetapi, seorang lawan seorang, dia ini bukanlah lawan tanding dari Ang I Niocu. Dalam tiga jurus kemudian, pedang Ang I Niocu telah memasuki rongga dadanya dan matilah kepala rampok yang sudah menumpuk dosa selama bertahun-tahun ini.

Ang I Niocu memandang ke kanan kiri. Tidak kelihatan seorang pun anggauta perampok. Ia berjalan memasuki ruangan dalam. Tiba-tiba belasan orang laki perempuan berlari keluar dan berlutut di depannya sambil menangis. Mereka ini ternyata adalah pelayan-pelayan tadi yang sudah bersembunyi di belakang dan kini mereka berlutut di depan Ang Niocu dengan ketakutan.

“Mohon ampunkan hamba sekalian, Li hiap. Hamba sekalian hanya orang-orang culikan yang tidak berdosa…” mereka meratap..

Ang I Niocu menjadi terharu sekali dan diam-diam ia mengutuk kejahatan para perampok dan merasa girang bahwa yang dibasminya benar-benar segerombolan orang jahat pengganggu rakyat.

“Jangan takut, aku memang akan menolong kalian. Sekarang kumpulkan semua barang-barang berharga, bagi-bagi di antara kalian, kemudian kalian boleh pulang ke kampung masing-masing.”

Dengan girang sekali belasan orang laki-perempuan itu lalu berserabutan lari ke dalam kamar-kamar di mana terdapat barang-barang berharga dan tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di luar, masing-masing membawa bungkusan besar. Ang I Niocu lalu membakar bangunan besar itu yang sebentar saja menjadi lautan api karena bangunan itu terbuat dari kayu.

“Kalian pulanglah ke rumah masing-masing,” kata pula Ang I Niocu.

Rombongan orang muda itu menjatuhkan diri berlutut untuk menghaturkan terima kasih, kemudian mereka berlari-lari turun gunung dengan kegirangan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka, kegirangan burung-burung yang dilepas dari sangkarnya yang sempit.

Ang I Niocu lalu turun gunung lagi melalui lereng yang tadi, untuk mencari kudanya. Akan tetapi, alangkah heran dan cemasnya ketika ia tidak dapat menemukan Pek-hong-ma. Ia telah memanggil-manggil nama kuda itu dengan suara keras, akan tetapi tetap saja Pek-hong-ma tidak mau muncul.

“Eh, kemanakah dia?” Ang I Niocu menjadi cemas. “Apakah ada kuda lain di sini yang menariknya?” Gadis itu mempergunakan kepandaiannya, berlari cepat ke sana ke mari, melompati jurang-jurang kecil yang kiranya dapat dilompati kudanya. Tiba-tiba ia mendengar suara ringkik Pek-hong-ma di balik gunung kecil. Cepat ia berlari ke tempat itu dan ketika ia tiba dibelokan gunung ini, ia melihat pemandangan yang membuat bibir dan pelupuk matanya gemetar saking marahnya.

Kuda Pek-hong-ma telah rebah miring, dalam keadaan berkelojotan hampir mati. Leher dan dadanya mengucurkan darah. Ketika mata kuda itu melihat Ang I Niocu, binatang ini mengeluarkan suara lagi menggelogok, kakinya berkelojotan keras seperti hendak meronta-ronta, kemudian menjadi lemas. Binatang itu telah menjadi bangkai.

Dengan sinar mata tajam berapi, Ang I Niocu memandang kepada orang-orang yang berada di tempat itu, yang semua berdiri seperti patung dan memandang kepadanya dengan sinar mata menantang. Di dekat kuda itu berdiri tiga orang wanita, yaitu seorang nenek dan dua orang gadis. Sekali pandang saja Ang I Niocu mengenal mereka. Nenek itu bukan lain adalah Koai-tung Toanio tokoh besar Kong-thong-pai dan dua orang gadis itu adalah anak-anaknya yang terkenal dengan sebutan Kim-jiu Siang-eng Kwan Ci-moi! Tiga orang wanita itu dahulu pernah bertempur dengannya ketika ia melakukan perjalanan bersama Gan Tiauw Ki.

Apakah kehendak tiga orang wanita yang sekarang datang bersama serombongan orang yang berpakaian seperti pasukan pemerintah? Dahulu tiga orang wanita ini sengaja mencari gara-gara dan memusuhinya dan sekarang, begitu muncul mereka agaknya sengaja membunuh kudanya Pek-hong-ma, apakah artinya semua ini?

Saking marahnya melihat Pek-hong-ma dibunuh, Ang I Niocu membentak sambil menudingkan pedang yang sudah dicabutnya ke arah tiga orang wanita itu.

“Kalian ini tiga siluman wanita ibu dan anak mengapa selalu memusuhiku? Dahulu kalian sudah menjadi pecundang, mengapa ada orang-orang begitu tidak tahu malu, menimpakan sakit hati kepada kudaku? Sungguh keji dan pengecut besar!”

Koai-tung Toanio yang dahulu pendiam sekarang nampak marah sekali. Ia menudingkan tongkatnya ke arah Ang I Niocu dan berkata marah,

“Manusia keji Ang I Niocu! Baru saja kau telah membunuh anak-anakku Kwan Liong dan Kwan Bi Hoa, masih saja kau berkata tidak mempunyai kesalahan kepada kami? Manusia celaka, dahulu kau melakukan penghinaan terhadap kami masih boleh kami lupakan, akan tetapi sekarang, kau berani membunuh mati dua orang anakku dan kawan-kawan mereka. Benar-benar aku tidak bisa hidup bersamamu di muka bumi ini, seorang diantara kita harus mampus sekarang dan di sini juga!”

Ang I Niocu kaget dari baru sekarang ia melihat beberapa diantara pelayan yang tadi ia bubarkan berada di situ, berlutut dan bajunya robek-robek, agaknya tadi dicambuki dan disuruh mengaku. Tidak tahunya dua orang Min-san Sam-kui adalah anak dari Koai-tung Toanio atau kakak-kakak dari dua orang gadis yang sekarang menghadapinya bersama mereka. Ia menjadi marah dan biarpun tiga orang wanita itu datang bersama pasukan yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, semuanya nampak tegap-tegap dan merupakan tentara terlatih, ia sama sekali tidak menjadi gentar.

“Pantas… pantas …! Hari ini aku bertemu dengan keluarga besar penjahat dan pengecut! Majulah kalian, biar aku tidak kepalang tanggung dan biar pedangku kenyang dan puas membabat iblis-iblis bermuka manusia!”

Di lain saat Ang I Niocu sudah dikeroyok dan sebuah pertempuran yang seru terjadi di lapangan itu. Saking marahnya melihat kuda kesayangannya dibunuh, kini Ang I Niocu mengamuk hebat. Ia mengeluarkan ilmu pedangnya Sian-li Kiam-sut atau ilmu Pedang Tari Bidadari, yang nampaknya indah namun amat berbahaya bagi lawan. Sukar sekali mata mengikuti gerakan-gerakannya, nampaknya hanya sebagai seorang dewi cantik menari-nari, akan tetapi di sekeliling tubuh dewi ini nampak sinar terang. Inilah sinar pedang yang menyambar-nyambar tanpa dapat diketahui ke mana gerakan selanjutnya sehingga musuh yang sedemikian banyaknya itu menjadi bingung dan pengeroyokan menjadi kacau-balau.

Akan tetapi, para pengeroyok sekarang ini jauh bedanya kalau dibandingkan dengan para pengeroyok di puncak gunung tadi. Tadi para pengeroyok Ang I Niocu hanya terdiri dari kaum perampok yang kasar dan hanya mengandalkan tenaga besar belaka dalam pertempuran. Kali ini para pengeroyok yang membantu Koai-tung Toanio dan dua orang anaknya adalah pasukan terlatih dari Gubernur Lie Kong gubernur yang mempunyai cita-cita memberontak di Propinsi Shansi. Mereka ini terdiri dari perajurit-perajurit pilihan yang sedikit-banyak mengerti ilmu silat, maka pengepungan dan penyerbuan mereka teratur sekali. Mereka dapat bekerja sama, baik dalam penyerangan maupun dalam pertahanan sehingga sebegitu lama Ang I Niocu belum berhasil merobohkan seorang lawan pun, sedangkan pengepungan makin lama makin rapat.

Baru beberapa jam yang lalu, Ang I Niocu sudah melakukan pertempuran hebat, dikeroyok oleh banyak orang dan di dalam pertempuran membasmi kawanan perampok di Bukit Min-san itu telah membutuhkan banyak tenaga. Oleh karena itu, ia sudah amat lelah. Sekarang, ia menghadapi keroyokan musuh yang lebih tangguh, tentu saja keadaannya menjadi terancam. Namun Ang I Niocu adalah seorang gadis yang tidak mengenal apa artinya takut.

Sedikit pun ia tidak menjadi gentar dan khawatir, bahkan kini pedangnya diputar makin cepat sehingga dalam beberapa gebrakan ia berhasil merobohkah tiga orang anggauta pasukan yang mengepungnya. Hasil ini membuat para pengepungnya terkejut dan kacau-balau, sedangkan semangat Ang I Niocu bertambah. Biarpun ia sudah merasa lemas kaki tangannya, ia memaksa diri, memutar-mutar pedangnya dengan gerakan-gerakan lincah sekali sehingga kembali ia merobohkan dua orang.

“Serbu dan bunuh saja!” Koai-tung Toanio kini berseru keras dengan penasaran dan marah sekali. Tadinya ia memang berpesan kepada anak buah pasukan itu untuk menangkap hidup-hidup Ang I Niocu, karena ia mempunyai maksud untuk menyerahkan gadis baju merah itu kepada majikan mudanya, yakni Lie Kian Tek putera gubernur. Akan tetapi melihat sepak-terjang Ang I Niocu yang demikian hebat, ia merubah niatnya. Orang dengan kepandaian seperti gadis baju merah ini kiranya tidak mungkin ditawan hidup-hidup.

Benar saja, setelah ia mengeluarkan aba-aba ini, para anak buah pasukan yang juga khawatir akan menjadi korban kalau berlaku lemah terhadap gadis cantik jelita yang kosen itu, mulai mendesak dengan serangan-serangan maut. Barulah sekarang Ang I Niocu terdesak, karena ia harus menjaga diri betul-betul terhadap desakan dan serangan puluhan batang senjata yang melancarkan serbuan-serbuan mengancam keselamatan itu. Betapapun juga, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan dan bilamana saja terdapat lowongan, pasti pedangnya merobohkan seorang dua orang lawan.

Namun, pasukan itu adalah pasukan terlatih dan di dalam ketentaraan Gubernur Shansi, pasukan ini disebut Pasukan Maut. Mereka itu telah dilatih, tidak saja latihan jasmani, akan tetapi juga dilatih untuk bertempur sampai orang terakhir! Menghadapi pasukan yang semua tidak takut mati ini, Ang I Niocu menjadi kewalahan juga. Akan tetapi ia pun tidak kenal artinya takut atau mundur.

Bagaikan seekor naga betina ia mengamuk dan pedangnya berkelebat-kelebat tubuhnya menyambar ke sana ke mari, sepak-terjangnya benar-benar hebat. Biarpun Ang I Niocu mengerti bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, tak mungkin ia dapat menewaskan sekian banyaknya lawan dan akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan roboh, namun ia masih belum mau menyerah dan tidak sudi melarikan diri sebelum tenaganya habis betul-betul!

“Kaum pemberontak hina-dina sungguh tak tahu malu mengandalkan orang banyak mengeroyok seorang dara!” tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda gagah perkasa, yang diiringkan oleh belasan orang berpakaian seperti jago-jago silat. Sikap mereka gagah sekali dan atas isyarat pemuda gagah itu mereka menyerbu dengan pedang mereka. Permainan pedang mereka serupa, menandakan banwa mereka datang dari satu partai, ilmu pedang yang menyambar-nyambar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dibarengi bentakan-bentakan nyaring.

Ang I Niocu seperti pernah melihat ilmu pedang seperti ini, kalau tidak salah ilmu pedang partai Bu-tong-pai. Sebentar saja pasukan Gubernur Lie menjadi kalang-kabut dan Ang I Niocu kini hanya menghadapi keroyokan Koai-tung Toanio dan dua orang gadisnya saja. Biarpun dengan datangnya pemuda tampan gagah bersama kawan-kawannya itu merupakan pertolongan baginya, namun diam-diam Ang I Niocu merasa mendongkol sekali.

Gadis ini memang mempunyai watak yang tinggi hati dan tidak mau kalah. Biarpun berada di dalam bahaya dia tidak mengharapkan pertolongan orang lain, apalagi pertolongan serombongan orang laki-laki yang tak pernah dikenalnya. Seorang diantara dua gadis puteri Koai-tung Toanio yang melihat datangnya bala bantuan ini, memaki marah dan kecewa, “Dasar perempuan jalang, di mana-mana ada laki-laki yang membantu. Cih, tak tahu malu!”

Naik darah Ang I Niocu mendengar makian ini. Tanpa mempedulikan serangan lain, pedangnya menyambar ke arah orang yang memakinya. Ketika tongkat Koai-tung Toanio menyodok dadanya, ia tidak mengelak dan tidak menunda serangannya, hanya menyampok dengan tangan kiri. Tongkat itu terpental, akan tetapi Ang I Niocu merasa lengannya sakit sekali. Ia menggigit bibir dan melanjutkan serangannya sampai ujung pedangnya mengenai pundak gadis yang memakinya tadi. Gadis itu memekik dan roboh dengan pundak kanan hampir putus!

Koai-tung Toanio dan puterinya yang seorang lagi cepat mendesak sehingga Ang I Niocu tidak ada kesempatan untuk mengirim tusukan kedua, namun ia telah puas, wajahnya berseri dan ia melayani para pengeroyoknya dengan tenang. Ketika ia melihat pemuda gagah yang membantunya mengamuk hebat dan berada dekat dengan tempat di mana ia bertempur, ia berseru kepada pemuda itu, “Aku tidak membutuhkan bantuan kalian. Pergilah!”

Pemuda itu tertegun dan menengok, mengeluarkan seruan kaget dan menjauhkan diri dari pertempuran, berdiri seperti patung memandang kepada Ang I Niocu dengan penuh kekaguman. Agaknya baru sekarang ia melihat wajah orang yang dibantunya dan penglihatan ini membuat ia tercengang.

Melihat ini, Ang I Niocu makin mendongkol. Gadis ini sudah terlalu sering menyaksikan laki-laki berlaku seperti itu apabila memandang kepadanya dan ia menjadi mendongkol sekali, disamping keinginan hendak mempermainkan laki-laki yang tergila-gila kepadanya. Senyumnya penuh ejekan dan ia sengaja memainkan ilmu silatnya dengan gerakan dan gaya yang indah sekali seperti orang menari-nari.

Adapun Koai-tung Toanio yang melihat betapa pihaknya terdesak dan jatuh banyak korban, lalu memberi aba-aba keras dan ia sendiri menyambar tubuh puterinya yang terluka, lalu melarikan diri dari tempat itu. Ang I Niocu yang sudah lelah bukan main tentu saja tidak mau mengejar, demikian pula orang-orang yang datang membantunya tidak mau mengejar.

Semua orang itu kini menoleh dan memandang kepada Ang I Niocu dengan sinar mata kagum, bukan hanya kagum melihat ilmu silat gadis ini, akan tetapi terutama sekali kagum akan kecantikannya yang memang jarang bandingnya itu. Melihat ini, Ang I Niocu tersenyum mengejek lalu memutar tubuhnya dan lari dari tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada mereka!

Melihat ini, pemuda tampan dan gagah tadi lalu melompat dan mengejarnya sambil berseru, “Li-hiap yang gagah perkasa, harap kau tunggu dulu, mari kita bicara!”

Akan tetapi Ang I Niocu hanya menoleh sebentar dan berkata, “Aku tidak ada urusan dengan kau!” Dan ia berlari terus, kini makin cepat.

Pemuda itu penasaran mengerahkan gin-kangnya. Sekali melompat ia telah maju dua puluh kaki lebih! Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu pun melompat, bahkan lebih jauh daripada lompatannya.

“Nona yang baik, harap kau berhenti dulu, aku hanya ingin berkenalan!” serunya pula, akan tetapi Ang I Niocu tidak mempedulikannya, bahkan mempercepat larinya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: