Ang I Niocu ~ Jilid 20

Demikianlah, para hwesio Kim-san-pai bersorak-sorak girang dan para tosu yang tinggal lima orang itu lalu memondong tubuh susiok mereka dan berlari turun gunung. Adapun para hwesio Bu-tong-pai lalu mengantar Sun Hauw naik ke puncak di mana ia disambut oleh Lo Beng Hosiang yang mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang telah terjadi. Hwesio tua ini menggeleng-geleng kepalanya dan berkata penuh sesal,

“Ah, mengapa terjadi hal seperti itu di lereng sini dan tak seorang pun memberi laporan kepada pinceng? Kalau pinceng tahu sejak tadi, tentu pinceng akan mencegah terjadinya pertempuran.”

“Mereka terlalu menghina, Suhu,” kata seorang hwesio. “Dua orang Suheng telah roboh terluka dan kiranya teecu semua takkan ada yang dapat melawan dan terpaksa menelan hinaan orang-orang Kim-san-pai kalau saja Liem-enghiong ini tidak keburu datang menolong dan membersihkan nama kita.”

Lo Beng Hosiang memandang kepada pemuda tampan yang hadir di situ dan tadi memberi hormat kepadanya.

“Sicu dari manakah?” tanyanya singkat.

“Teecu bernama Liem Sun Hauw, anak murid Go-bi-pai. Teecu diutus oleh Susiok Twi Mo Siansu untuk menghadap Locianpwe dan untuk berusaha mendamaikan pertikaian yang terjadi antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Susiok berpesan bahwa semua ini adalah atas usul desakan Sin-taihiap Bu Pun Su yang menghendaki agar pada waktu sekarang ini kita melupakan segala kesalahpahaman dengan golongan sendiri, menghimpun persatuan guna membela negara dan melindungi rakyat dari ancaman perang.

“Karena hal itu, Susiok lalu menunjuk teecu untuk datang ke sini. Dan kebetulan sekali tadi teecu melihat pertempuran antara serombongan tosu Kim-san-pai dengan para hwesio di sini. Teecu sudah berusaha memisah, memohon kepada tosu-tosu Kim-san-pai untuk pulang, akan tetapi siapa kira, mereka itu berkeras memperlihatkan kepandaian, sehingga terpaksa teecu menghadapi mereka. Selanjutnya mohon petunjuk Locianpwe, bagaimanakah pendapat Locianpwe dan usaha apa yang kiranya dapat dilakukan untuk mendamaikan pertikaian ini.”

Lo Beng Hosiang menghela napas lagi.

“Kau datang hendak mendamaikan urusan, akan tetapi kau bahkan melukai dua orang tosu Kim-san-pai. Bagaimana ini?”

“Teecu bertanggung jawab sepenuhnya akan hal ini” jawab Sun Hauw gagah. “Teecu akan datang ke Kim-san-pai dan akan teecu jelaskan kepada Ketua Kim-san-pai disertai permintaan maaf.”

“Bagus, seorang laki-laki harus berani memikul akibat dari perbuatannya sendiri. Sayang kedua orang muridku Kang Bok Sian dan Kang Ek Sian sudah turun gunung, kalau mereka masih ada di sini, biarpun mereka itu bukan orang-orang yang menggunduli kepala mereka kiranya takkan terjadi keributan-keributan ini.” Lo Beng Hosiang menulis sepucuk surat kepada Thian Beng Cu, memanggil murid kepalanya, yakni hwesio gemuk pendek Ki Keng Hosiang dan menyuruh muridnya ini membawa surat dan membawa semua hwesio yang pernah melakukan pertempuran dengan pihak Kim-san-pai, bersama Liem Sun Hauw menuju ke Kim-san!

“Serahkan surat pinceng ini kepada Thian Beng Cu, sampaikan salamku dan serahkan pula semua anak murid Bu-tong-pai yang pernah bertempur. Katakan kepada Thian Beng Cu bahwa dia boleh menghukum anak-anak murid Bu-tong-pai ini sebagai seorang paman guru!”

Liem Sun Hauw memuji kebijaksanaan Guru Besar Bu-tong-pai ini yang hendak melenyapkan permusuhan sekaligus dengan jalan menyuruh semua anak muridnya datang ke Kim-san-pai menerima hukuman. Demikianlah Liem Sun Hauw lalu pergi ke Kim-san-pai bersama anak murid Bu-tong-pai itu dan seperti telah dituturkan di bagian depan, rombongan ini ketika sampai di lereng Bukit Kim-san, disambut oleh Ang I Niocu!

***

Liem Sun Hauw ketika melihat Ang I Niocu berdiri di situ dengan pedang di tangan, menjadi terkejut, heran dan girang sehingga ia menyapanya. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang I Niocu sebaliknya menyindirnya, mengatakan pemuda ini menjadi “jago” pihak Bu-tong-pai dan bermaksud untuk menghina Kim-san-pai. Liem Sun Hauw menolak semua tuduhan itu dan menyatakan bahwa ia pun bertugas sama, yaitu mendamaikan antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, tetapi Ang I Niocu marah bukan main.

Marah karena sekarang ia tahu bahwa pemuda tampan ini adalah pemuda yang diusulkan oleh almarhum ayahnya untuk menjadi calon suaminya! Pemuda yang dicap menjadi penyebab kematian kekasihnya, Gan Tiauw Ki beserta kematian ayahnya. Ang I Niocu menahan-nahan nafsu marahnya dan hanya memaki Sun Hauw dengan kata-kata pedas,

“Kau bilang hendak mendamaikan, tetapi mengapa kau justru melukai dua orang tosu Kim-san-pai? Dan mengapa kau menghadang rombongan utusan Kim-san-pai ke Bu-tong-san? Mengapa pula sekarang kau datang ke sini? Hendak menyerbu Kim-san-pai? Hemm, kau mengandalkan apakah demikian sombong?”

Sun Hauw seperti orang tuli. Ia tidak memperhatikan semua kata-kata itu dan sepasang matanya seperti kena hikmat, menatap bibir indah yang berkata-kata tanpa berkedip. Kecantikan Ang I Niocu yang luar biasa itu benar-benar membikin Sun Hauw seperti gila. Apalagi kalau ia ingat betapa ayah dari gadis jelita ini telah memilihnya menjadi calon mantu!

“Jawab pertanyaanku!” Ang I Niocu membentak marah, mukanya agak merah karena ia maklum apa artinya pemuda itu menjadi termenung seperti patung.

Adapun tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang terpilih sebagai orang-orang bertanggung jawab dalam pertikaian terhadap Kim-san-pang adalah hwesio-hwesio yang tingkatnya sudah tinggi, yakni anak murid Lo Beng Hosiang sendiri. Mendengar desakan Ang I Niocu kepada Liem Sun Hauw, seorang diantara mereka membela Sun Hauw yang kelihatannya “mati kutunya” menghadapi nona baju merah itu.

“Ang I Niocu, harap jangan salah sangka terhadap Liem-sicu. Dia ini betul-betul penolong kami dan bermaksud baik….”

“Siapa menyangkal bahwa dia itu penolong Bu-tong-pai? Akan tetapi sekali-kali aku tak percaya dia ini menjadi pendamai! Menolong sepihak memusuhi pihak lain sama sekali bukan sifat seorang pendamai, karena dia berat sebelah dan menghina orang mengandalkan kepandaiannya yang ia kira tidak ada keduanya di kolong langit! Aku datang sebagai pendamai antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, sudah pasti sekali aku tidak mau menghina Bu-tong-pai juga tidak mau memusuhi Kim-san-pai.”

Liem Sun Hauw menjadi serba salah dan memang kepandaian kata-katanya sudah lenyap entah ke mana setelah ia berhadapan dengan Ang I Niocu. Dalam pandangannya, segala gerak-gerik Ang I Niocu menarik hati dan menambah kemanisan dan kecantikannya. Kini dimarahi oleh Ang I Niocu, ia hanya tundukkan mukanya yang sebentar merah sebentar pucat, seperti seorang anak nakal dimarahi oleh ibunya.

“Li-hiap, untuk meredakan permusuhan, pinceng sekalian datang ke sini, hendak menghadap Locianpwe Thian Beng Cu, dan Liem-sicu yang bertugas sebagai pendamai dari Go-bi-pai, ikut sebagai perantara,” kembali hwesio itu membela Sun Hauw.

“Losuhu bertujuh kalau hendak menghadap Ketua Kim-san-pai untuk menjernihkan suasana, hal itu amat baik dan patut dipuji, dan memang demikianlah seharusnya kalau orang hendak memperbaiki hubungan satu sama lain. Aku pun sedang hendak berangkat menemui Lo Beng Hosiang untuk mendamaikan urusan. Akan tetapi orang she Liem ini biar di sini jangan ikut masuk, dia tidak akan mendamaikan urusan bahkan mungkin akan mengacau lagi!”

“Niocu harap kau suka maafkan aku…” akhirnya Sun Hauw dapat bicara kembali setelah menenteramkan hatinya yang berguncang.

“Memang aku sudah berlaku terburu nafsu dan melukai dua orang tosu Kim-san-pai dalam pibu yang terjadi di Bu-tong-san. Oleh karena itu maka kedatanganku ini pun hendak memohon ampun kepada Locianpwe Thian Beng Cu dan bersama para Suhu ini hendak menyerahkan diri menerima hukuman. Sekarang baru Niocu saja sudah tidak dapat memaafkan, apalagi para tosu Kim-san-pai. Biarlah kalau begitu kau bunuh saja aku untuk menebus dosaku terhadap Locianpwe Sin-tai-hiap Bu-Pun Su…” Sambil berkata demikian, Sun Hauw melolos pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Ang I Niocu.

Gadis itu tidak mau menerima pedang, agak heran dan terkejut mendengar pemuda itu menyebut-nyebut nama Bu Pun Su.

“Mengapa pula kau menyebut-nyebut nama Susiok-couw Bu Pun Su?” tanyanya wajar.

“Sesungguhnya, tugasku ini adalah kehendak Sin-tai-hiap Bu Pun Su yang menyampaikan pesannya kepada Susiok Twi Mo Siansu melalui utusannya, yakni Lo-enghiong Kiang Liat yang akhirnya menjadi sahabat baikku. Aku dipilih oleh Susiok untuk mengerjakan tugas ini, tidak tahunya karena kebodohanku aku bahkan memburukkan keadaan. Kalau Sin-taihiap Bu Pun Su mendengar akan hal ini, apakah aku dapat diampuni, lagi? Kalau Kiang Lo-enghiong yang baik hati dan mulia itu mendengar, bukankah aku bisa mati saking maluku?”

Tentu saja Sun Hauw sengaja menyebut-nyebut nama Bu Pun Su dan Kiang Liat untuk mengambil hati gadis yang kecantikannya telah merobohkan hatinya itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa semua kata-katanya itu bahkan merupakan garam yang diulaskan pada luka di dalam hati Ang I Niocu, mendatangkan rasa perih dan sakit karena mengingatkan ia akan semua peristiwa duka yang dialaminya. Hal ini bahkan menambah kebenciannya terhadap Sun Hauw sehingga kalau mungkin di saat itu juga ia memenggal leher pemuda itu.

Akan tetapi pada saat itu, dari puncak bukit datang Thian Beng Cu ketua Kim-san-pai, diiringi oleh tosu-tosu muridnya, merupakan rombongan yang keren dan agung. Para tosu Kim-san-pai yang berada di situ cepat memberi hormat kepada ketua mereka.

Dengan air muka tenang dan ramah, Thian Beng Cu memandang kepada para hwesio Bu-tong-pai yang tujuh orang itu, melempar pandang tak acuh kepada Sun Hauw, lalu berkata kepada para hwesio itu,

“Cu-wi Suhu dari Bu-tong-pai, harap tidak kecil hati kalau pinto terlambat menyambut. Pesan apakah yang Cu-wi bawa dari sahabat Lo Beng Hosiang?”

Melihat sikap dan mendengar kata-kata Ketua Kim-san-pai ini, para hwesio Bu-tong-pai menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri dan heran mengapa Ketua Kim-san-pai yang selama ini disangka sombong, ternyata seorang kakek yang baik hati dan ramah tamah. Serta merta mereka berlutut memberi hormat. Kakek Kim-san-pai itu sudah begitu merendahkan diri, maka kini tanpa ragu-ragu lagi para hwesio Bu-tong-pai maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang tua yang berhati mulia dan tunduklah mereka.

Ki Keng Hosiang, pendeta gemuk pendek yang memimpin rombongan Butong-pai itu, lalu berkata, “Teecu bertujuh menerima titah Suhu untuk menghadap kepada Susiok, selain untuk menyerahkan surat dan menyampaikan salam dari Suhu, juga teecu yang telah melakukan banyak dosa menghina saudara-saudara dari Kim-san-pai, sengaja datang menyerahkan diri untuk menerima hukuman.”

Thian Beng Cu menarik napas panjang, mengelus-elus jenggotnya dan wajahnya nampak gembira sekali dan kalau diperhatikan orang akan melihat sepasang matanya menjadi basah.

“Gurumu Lo Beng Hosiang seorang bijaksana, kalian tidak salah apa-apa, bahkan saudara-saudara mudamu dari Kim-san-pai yang keliru. Kesinikan surat dari suhumu agar pinto dapat segera mengetahui petunjuk apa yang diberikan kepada pinto yang bodoh.”

Pada saat itu, Liem Sun Hauw yang merasa terharu menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh dari kedua pihak yang saling mengalah, merasa malu terhadap Thian Beng Cu yang ternyata seorang kakek yang begitu halus dan baik hati. Ia pun lalu, berlutut dan berkata,

“Locianpwe, teecu Liem Sun Hauw utusan dari Go-bi-pai, karena cupat pengetahuan dan lancang, telah salah tangan melukai dua orang tosu Kim-san-pai. Sekarang teecu sudah insyaf akan kesalahan sendiri dan menghadap untuk menerima hukuman.”

Thian Beng Cu menunda niatnya membaca surat dari Lo Beng Hosiang, memandang kepada Liem Sun Hauw dan mengangguk-angguk.

“Anak murid Go-bi-pai memang amat mengagumkan, begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi, dan berani pula bertanggung jawab atas perbuatannya. Liem-sicu, kalau kau tidak datang mengakui kesalahanmu, memang nama baik Go-bi-pai akan tercemar, akan tetapi dengan pengakuanmu ini, segala apa sudah beres. Di dalam pibu, kalah menang sudah lumrah, terluka atau tewas bukan hal aneh. Antara kau atau Go-bi-pai dengan kami tidak ada urusan apa-apa, habis sampai di sini saja.”

Sun Hauw menjadi girang sekali, akan tetapi kata-kata itu membuat ia makin tunduk dan malu. Thian Beng Cu lalu membuka surat dari Lo Beng Hosiang. Selain permintaan maaf bagi murid-muridnya, di dalam surat itu Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa tentang pembunuhan atas diri Lai Tek, sesungguhnya bukanlah perbuatan anak murid Bu-tong-pai, dan menurut dugaan Lo Beng Hosiang, tentu dilakukan oleh pihak ke tiga yang ingin mengadu-dombakan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Oleh karena itu, Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa penjahat atau pihak ke tiga inilah yang harus dicari.

Thian Beng Cu menghadapi Ang I Niocu yang masih berdiri di situ. Gadis ini ketika melihat betapa para hwesio mengaku salah dan betul-betul datang hendak menerima hukuman, juga menjadi girang dan terharu. Tak disangkanya bahwa tugasnya selesai dengan demikian mudahnya, apalagi ketika ia melihat Sun Hauw juga menerima salah dan rela dihukum, kebenciannya terhadap pemuda ini agak berkurang.

“Ang I Niocu, kau sebagai utusan Sin-taihiap Bu Pun Su, kau telah mendengar dan melihat sendiri keadaan anak-anak murid Bu-tong-pai yang ternyata jauh lebih baik daripada anak-anak murid Kim-san-pai. Oleh karena kedatangan mereka inilah, maka segala kesalahpahaman telah dapat dibikin beres dan dihabiskan sampai di sini saja. Di dalam suratnya ini, Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa pihak Bu-tong-pai betul-betul tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap diri Lai Tek, dan menduga bahwa tentu ada pihak ke tiga yang melakukan perbuatan itu untuk mengadu domba antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tidak tahu bagaimanakah baiknya kalau menurut pendapat Niocu?”

“Soalnya sudah jelas bahwa memang tentu ada penjahat yang membunuh Lai Tek dan berbuat seolah-olah yang melakukan hal itu dari pihak Bu-tong-pai. Akan tetapi, perbuatan penjahat itu lebih banyak mendatangkan kerugian kepada Bu-tong-pai daripada kepada Kim-san-pai. Lai Tek anak murid Kim-san-pai tewas sebagai orang gagah dan tidak ada kecewanya, sebaliknya dengan perbuatan itu, nama baik Bu-tong-pai tercemar. Oleh karena itu, menurut pikiranku, sudah menjadi kewajiban Bu-tong-pai untuk menyelidiki hal ini dan menangkap pembunuhnya. Biarpun begitu, demi kebaikan kembali hubungan antara kedua partai yang sudah menjadi tugas yang kupikul menurut perintah Susiok-couw, aku akan berusaha pula untuk membongkar rahasia ini dan membekuk penjahatnya.”

Sun Hauw melompat berdiri, menjura kepada Thian Beng Cu, lalu menghadapi Ang I Niocu sambil berkata cepat,

“Niocu, cocok sekali petunjukmu tadi. Memang sudah seharusnya Bu-tong-pai mencuci bersih namanya dari perbuatan terkutuk penjahat yang membunuh Lai Tek itu. Dan untuk pekerjaan ini, biarlah aku yang akan melakukannya. Aku telah berlaku lancang dan biar pun aku diberi tugas menjernihkan suasana antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, ternyata aku bahkan mengeruhkan suasana. Sekarang ada pekerjaan ini, biar aku yang diwajibkan, hutang-hutang menebus dosaku!”

Ang I Niocu memandang kepada pemuda itu dengan tajam dan diam-diam ia harus akui bahwa Liem Sun Hauw adalah seorang pemuda yang bersemangat dan gagah. Pantas saja ayahnya suka kepada pemuda ini dan hendak menjodohkannya dengan aku, pikirnya. Kebenciannya terhadap pemuda itu makin berkurang saja.

“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe menyetujui kalau teecu yang mencoba untuk menangkap penjahat pembunuh Lai Tek-enghiong itu?” Sun Hauw bertanya kepada Thian Beng Cu dengan suara mendesak.

Thian Beng Cu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Liem-sicu, kau memang gagah dan kiranya tepat kalau kau yang mencarinya. Untuk hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ang I Niocu tadi, pinto serahkan saja kepada pihak Bu-tong-pai. Pinto hanya bisa menyampaikan terima kasih atas maksudmu yang mulia ini, Liem-sicu.”

“Kalau begitu, perkenankan teecu berangkat sekarang untuk membekuk batang leher pembunuh Lai Tek-enghiong!” kata Sun Hauw penuh semangat sambil mengerling kepada Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar suara orang, lemah-lembut terdengarnya, “Tidak usah, tidak usah… penjahat itu telah tertangkap…!” Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di situ berdiri seorang tosu yang usianya kurang lebih lima puluhan tahun, gerak-geriknya halus dan sinar matanya tajam berpengaruh.

“Eng Yang Cu-sute… kau baru datang…?” kata Thian Beng Cu dengan suara girang. “Dan betulkah penjahat itu telah tertangkap?”

Tosu itu yang bukan lain adalah Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai yang menjadi sute termuda dari Thian Beng Cu dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada tokoh-tokoh Kim-san-pai lainnya, akan tetapi yang selalu merantau, memberi hormat kepada suhengnya lalu berkata,

“Memang betul, penjahat itu bukan lain adalah Siang-hek-pian (Sepasang Pian Hitam) Bwee Cat. Seperti Suheng tentu masih ingat, Siang-hek-pian Bwee Cat pernah memusuhi Kim-san-pai dan pernah jatuh oleh siauwte. Agaknya ia mengandung dendam sakit hati dan melihat salah paham yang timbul antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, ia turun tangan, menewaskan muridku Lai Tek kemudian mempergunakan nama Bu-tong untuk mengadu domba.”

“Sute yang baik, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua dan bagaimana kau bilang bahwa dia itu sudah tertangkap?” tanya Thian Beng Cu dengan girang, sedangkan wajah Liem Sun Hauw menjadi muram sekali mendengar bahwa penjahat yang rnenjadi biang keladi pertikaian itu telah tertangkap.

“Dalam perantauan siauwte mendengar tentang pertikaian Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai dan siauwte mendengar pula sebab-sebab pertikaian itu, Siauwte tidak percaya bahwa Bu-tong-pai akan berlaku sekeji itu, maka siauwte teringat akan Siang-hek-pian Bwee Cat. Kalau ada orang yang hendak mencelakakan Kim-san-pai, kiranya hanya penjahat itulah yang menaruh dendam dan pernah menjadi pecundang.

Siauwte lalu mencarinya dan setelah berjumpa, betul saja dia yang melakukan pembunuhan terhadap Lai Tek, katanya untuk memancing siauwte supaya mencarinya. Kami bertempur dan ternyata selama ini ia telah mempertinggi ilmunya sehingga hampir saja siauwte kalah dan celaka dalam tangannya. Tidak heran apabila Lai Tek mudah saja ia tewaskan, tidak tahunya penjahat itu telah berguru lagi semenjak kalah di Kim-san-pai. Masih baik nasib siauwte, pada saat itu datang dua orang bersaudara, yakni Kang Bok Sian dan Kang Eng Sian. Dua orang pendekar muda ini ternyata adalah anak murid Bu-tong-pai dan mereka pun mendengar pula tentang pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Dari orang-orang kang-ouw mereka mendengar tentang Siang-hek-pian Bwee Cat yang menyombongkan perbuatannya, yakni membunuh Lai Tek murid Kim-san-pai. Karena dua orang saudara Kang yang gagah perkasa itu telah mendengar pula akan sebab pertikaian kedua partai mereka lalu mengerti bahwa biang keladinya adalah Bwee Cat dan mencarinya. Kebetulan sekali siauwte terdesak dan mereka berdua turun tangan membantu. Barulah penjahat itu dapat dirobohkan, sayang sekali dalam keadaan tewas sehingga tidak mungkin siauwte seret ke sini untuk membuat pengakuan.”

Thian Beng Cu menggeleng-geleng kepalanya. Kemudian ia menoleh kepada para anak muridnya dan kepada tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang berada di situ, lalu berkata dengan suaranya yang halus berpengaruh,

“Kalian murid-murid Kim-san-pai dan murid-murid Bu-tong-pai dengarlah baik-baik. Penuturan suteku Eng Yang Cu ini menjadi cermin bagi kalian. Kalian yang berada di sini, ribut-ribut saling menuduh dan saling menyerang, menurutkan hati panas. Sebaliknya Eng Yang Cu dan dua orang saudara Kang sebagai murid-murid Kim-san-pai dan Bu-tong-pai yang jauh dari sini, bahkan sudah bekerja sama untuk menangkap penjahat. Murid-murid Kim-san-pai, kalian tirulah sikap susiok kalian ini dan murid-murid Bu-tong-pai harap meniru perbuatan kedua saudara Kang yang gagah perkasa.”

Sementara itu, Liem Sun Hauw lalu berkata kepada Thian Beng Cu dengan muka muram,

“Locianpwe, ternyata bahwa teecu seorang yang tidak ada gunanya sama sekali, kalau lebih lama di sini hanya akan mengotorkan tempat saja. Mohon maaf sebanyaknya dan perkenankan teecu pergi. Cuwi Suhu dari Bu-tong-pai, tolong sampaikan hormatku kepada Locianpwe Lo Beng Hosiang di Bu-tong-pai. Nona Ang I Niocu, aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadapmu, maaf…” Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Liem Sun Hauw melompat dan pergi dari situ, berlari turun dari lereng Bukit Kim-san-pai.

Semua orang memandang dengan bengong dan diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda tampan dan gagah itu yang sebetulnya bukan bertindak salah, hanya kurang teliti dan kurang hati-hati.

“Saudara Liem, tunggu dulu!” Ang I Niocu berseru dan di lain saat ia sudah melompat sambil berkata, “Totiang, maafkan aku tak dapat lebih lama lagi tinggal di sini!” Sebelum Ketua Kim-san-pai menjawab, tubuhnya sudah lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebat dan meluncur turun gunung.

“Siapa mereka itu?” tanya Eng Yang Cu kagum sekali melihat kehebatan dua orang muda itu.

“Yang pertama adalah Liem Sun Hauw, murid mendiang Thian Mo Siansu dari Go-bi-pai untuk mendamaikan urusan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Yang ke dua tadi adalah Ang I Niocu, puteri dari Jeng-jiu-sian Kiang Liat, Bu Pun Su adalah susiok-couwnya dan ia pun datang perintah atas perintah Bu Pun Su untuk maksud yang sama, yakni mendamaikan kedua partai.”

Eng Yang Cu menarik napas panjang. “Ahhh, anak-anak muda sekarang memang hebat. Kepandaian mereka tadi benar lihai, apalagi nona baju merah tadi, gin-kangnya sudah sampai ditingkat yang melebihi kita…”

***

Liem Sun Hauw yang merasa kecewa sekali karena usahanya melakukan tugas yang diserahkan kepadanya oleh Twi Mo Siansu selalu menemui kegagalan, merasa amat malu. Ia telah mengeruhkan suasana dan sebelum ia dapat menebus kesalahannya, dengan menangkap biang keladi permusuhan, ia telah didahului oleh Eng Yang Cu!

Saking malu dan kecewanya ia lalu meninggalkan Kim-san-pai. Yang membuat ia malu sesungguhnya bukan terhadap orang lain, melainkan terhadap Ang I Niocu. Ia telah tertarik dan jatuh hati kepada gadis ini, apalagi setelah ia tahu bahwa gadis itulah yang dicalonkan menjadi isterinya oleh Kiang Liat. Dan sekarang di depan gadis itu ia kelihatan sebagai seorang yang bodoh!

Biarpun ia berlari cepat sekali, sebentar saja ia tersusul oleh Ang I Niocu. Tadi Sun Hauw mendengar suara panggilan Ang I Niocu, akan tetapi ia mengira bahwa gadis yang cantik tapi galak itu akan menyalahkan dan menyindirnya, maka ia tidak mau berhenti sebelum jauh dari para tokoh Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Selain ini ia pun henidak menguji ilmu lari cepat dari gadis itu dan diam-diam ia mengerahkan ilmu lari cepat yang paling diandalkan, yakni Liok-te-hui-teng (Lari Seperti Terbang di Atas Bumi), karena ia tahu bahwa gadis itu mengejarnya.

Akan tetapi alangkah kagumnya ketika tak lama kemudian, gadis itu telah menyusulnya. Bayangan merah berkelebat di samping kanannya dan di lain saat gadis itu telah berdiri beberapa tombak jauhnya di sebelah depan, tersenyum menghadang di jalan.

Ang I Niocu sengaja mengejar Sun Hauw karena gadis ini ingin sekali mendengar dari pemuda ini tentang hubungan ayahnya dengan pemuda ini. Ingin ia mengetahui bagaimana pemuda ini bertemu dengan ayahnya dan bagaimana pula ayahnya sampai mempunyai maksud menjodohkan dia dengan pemuda itu.

Selain ini, ia pun agak menyesal atas sikapnya yang menghina dan keras terhadap Sun Hauw, dan sekarang ternyata bahwa sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang yang menyombongkan kepandaian dan sengaja membantu Bu-tong-pai melakukan penghinaan terhadap Kim-san-pai. Semua pertengkaran yang terjadi hanya timbul oleh kesalah-pahaman.

Sungguhpun pada mukanya terbayang kemuraman, namun di dalam hatinya Sun Hauw merasa girang sekali melihat gadis itu. “Nona, apakah kau masih merasa penasaran? Aku sudah mengaku salah dan…”

“Saudara Liem, jangan kau salah sangka. Tadi kau menyebut nama ayahku. Di mana kau pernah bertemu dengan dia dan kapankah? Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang Ayah.” Seketika wajah Sun Hauw berseri, hatinya berdebar-debar girang dan ia menarik napas lega.

“Aku bertemu dan berkenalan dengan ayahmu yang gagah perkasa dan mulia itu di Go-bi-san,” ia mulai bercerita, “ketika aku menghadap Susiok Twi Mo Siansu, kebetulan ayahmu datang dan menyampaikan pesan kepada Susiok dari Sin-taihiap Bu Pun Su. Susiok lalu memilih aku untuk berusaha mendamaikan pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai dan hal ini menimbulkan iri hati dan tidak senangnya beberapa orang anak murid Go-bi-pai. Aku sendiri biarpun anak murid Go-bi-pai, akan tetapi suhuku adalah seorang perantau dan hampir tidak mempunyai hubungan lagi dengan Go-bi-pai.”

emudian Sun Hauw menuturkan bagaimana ia telah diserang oleh tokoh Go-bi-pai Tek Le Tojin dan hampir celaka kalau saja tidak ditolong oleh Kiang Liat. Dan bagaimana perjalanannya ke Bu-tong-pai tertunda dan terlambat karena ia singgah di kampungnya dan terpaksa menunda perjalanannya ke Bu-tong-san karena ia harus merawat dulu ayahnya yang sedang sakit payah. Semua ini telah dituturkan di bagian depan dan kiranya tak perlu diulang pula.

Demikianlah, Nona. Apakah ayahmu sudah pulang dan apakah kau sudah bertemu dengan orang tua yang mulia itu?” Sun Hauw menutup penuturannya dan balas bertanya. Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya mengangguk. Hatinya seperti ditusuk-tusuk karena teringatlah ia akan segala peristiwa antara dia dan ayahnya yang menyebabkan kematian ayahnya.

Sun Hauw makin berdebar. Kalau gadis ini sudah bertemu dengan ayahnya, tentu sudah mendengar pula tentang maksud pertalian jodoh itu. Matanya bersinar-sinar, mukanya merah ketika ia menatap wajah dara cantik jelita yang berdiri sambil menundukkan muka di depannya itu.

“Syukurlah kalau ayahmu sudah pulang, Nona. Kuharap saja orang tua yang gagah perkasa itu dalam sehat-sehat dan selamat. Ah, alangkah inginku menghadap Kiang-lo-enghiong, alangkah rindu hatiku bertemu muka dengan dia lagi. Aku amat menghormat dan memujanya, Nona, selembar nyawaku ini masih berada di dalam tubuhku hanya berkat pertolongan ayahmu.”

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh ini, Ang I Niocu menjadi amat terharu. Ia meramkan kedua matanya dan merasa hatinya perih sekali. Ketika ia membuka lagi kedua matanya, ia tidak dapat menahan air matanya yang mengucur deras. Cepat-cepat ia mempergunakan ujung lengan baju untuk menutupi matanya dan mengusap air matanya.

“Ang I Niocu… kau kenapa…? Maafkan kalau aku kesalahan bicara…” Sun Hauw berkata kaget.

Ang I Niocu dapat menekan perasaannya dan kini menjadi tenang kembali.

“Saudara Liem, harap kaumaafkan kelemahanku. Sesungguhnya, perlu kiranya kauketahui bahwa Ayah telah meninggal dunia tujuh bulan yang lalu.”

Tiba-tiba muka Sun Hauw menjadi pucat dan ia merasa seperti kehilangan semangatnya. Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan biarpun ia tidak mengeluarkan suara, kedua pundaknya bergerak-gerak dan tahulah Ang I Niocu bahwa pemuda ini telah menangis! Diam-diam ia menjadi terharu hadap pemuda ini, sekarang perasaan ini lenyap dan ia harus mengaku bahwa kecuali mendiang Gan Tiauw Ki, pemuda ini merupakan seorang pemuda pilihan dan baik, yang pernah ditemuinya. Hanya kata-kata perlahan sekali “gakhu…” terdengar dari mulut pemuda itu. Wajah Ang I Niocu menjadi merah sekali ketika mendengar pemuda itu mengeluarkan kata-kata sebutan gakhu (ayah mertua) itu, akan tetapi kata-kata itu diucapkan perlahan sekali dan agaknya pemuda itu menahan hatinya agar tidak mengeluarkan suara. lagi. Memang Sun Hauw di samping keharuan dan kesedihannya, juga merasa bimbang dan gelisah. Calon mertuanya sudah meninggal dunia, apakah nona ini sudah tahu tentang perjodohan yang diikat? Bagaimana kalau Nona ini belum diberi tahu oleh ayahnya. Ingin sekali ia bertanya kepada Ang I Niocu tentang ini, akan tetapi tentu saja ia merasa malu dan sungkan. Sebaliknya ia lalu membikin tenang hatinya, diam-diam ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri lagi. Sepasang matanya masih basah dan mukanya merah.

“Niocu,” suaranya serak dan pandang matanya kepada Ang I Niocu penuh perasaan kasih dan iba, “sungguh aku ikut berdukacita dan alangkah kaget hatiku mendengar warta menyedihkan ini. Niocu, ayahmu demikian sehat dan gagah perkasa ketika bertemu dengan aku, bagaimana ia bisa meninggal dengan mendadak? Apa sebabnya?”

Kalau saja masih ada kemarahan dan kebencian dalam hati Ang I Niocu terhadap pemuda ini, tentu ia akan menjawab dengan makian dan tuduhan bahwa pemuda inilah yang menjadi gara-gara kematian ayahnya. Akan tetapi sikap Sun Hauw mendatangkan kesan baik dalam hati Ang I Niocu dan gadis itu hanya menjawab singkat,

“Ayah meninggal karena sakit bagian jantungnya.”

Keduanya berdiam diri agak lama. Sun Hauw tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur nona itu. Akhirnya ia hanya dapat bertanya dengan perlahan,

“Niocu, apakah… apakah mendiang ayahmu ada meninggalkan sesuatu pesanan untuk aku…?”

Tentu saja Ang I Niocu dapat menangkap maksud pertanyaan itu, tentu pemuda ini hendak bertanya tentang maksud perjodohan yang direncanakan ayahnya. Akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan tidak berkata apa-apa.

“Niocu, apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?” Kembali Ang I Niocu menggeleng kepalanya. “Kau sebatang kara di dunia ini?” pertanyaan ini penuh perasaan iba.

Ang I Niocu mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara karena tahu bahwa suaranya tentu akan gemetar. Pertanyaan-pertanyaan ini membangkitkan kesedihan hatinya. Sampai lama Sun Hauw diam saja, penuh bimbang, ragu dan iba.

“Niocu, aku hendak melaporkan urusan Bu-tong-pai dan Kim-san-pai yang sudah selesai itu kepada Susiok di Go-bi-pai, setelah itu aku akan menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Sin-taihiap Bu Pun Su. Kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke mana?”

“Aku juga harus menghadiri pertemuan di puncak Gunung Thai-san, seperti yang dipesan oleh Susiok-couw Bu Pun Su.”

Wajah Sun Hauw berseri. “Kalau begitu, Niocu, apabila kau tidak menganggap aku terlalu lancang dan kurang ajar, maukah kau mengijinkan aku mengiringkan perjalananmu? Kita sejalan, dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau boleh melakukan perjalanan bersamamu.”

Karena sikap pemuda itu memang amat baik dan menyenangkan hatinya, Ang I Niocu tidak merasa keberatan. Di atas dunia ini ia memang hidup sebatang kara, tiada keluarga tiada teman, sekarang ada pemuda ini yang baik hati dan sopan, mengapa menolak perjalanan bersama? Sedikitnya ia akan dapat menyelidiki dan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya dari pemuda yang menjadi pilihan ayahnya ini.

Berangkatlah dua orang muda itu menuruni Bukit Kim-san dan dengan kepandaian mereka yang tinggi, mereka perjalanan cepat sekali. Sikap Sun Hauw benar-benar amat sopan dan baik sehingga Ang I Niocu makin suka kepadanya,. sungguhpun sukar dikatakan bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya. Setelah kehilangan Gan Tiauw Ki dan ayahnya, memang amatlah sukar bagi Ang I Niocu untuk dapat mencinta pemuda lain.

Memang, Sun Hauw seorang pemuda yang baik dan gagah. Tidak saja ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi juga ia pandai membawa diri. Perjalanan berbulan-bulan bersama Ang I Niocu menjadi ujian baginya. Biarpun ia tergila-gila kepada Ang I Niocu, mabuk oleh kecantikan gadis ini yang memang luar biasa sekali sehingga ia mencinta gadis ini dengan sepenuh hati dan perasaan, namun belum pernah ia memperlihatkan sikap yang kurang ajar dan melanggar tatasusila.

Bahkan, biarpun sepasang matanya selalu menyorotkan sinar cinta kasih yang berkobar-kobar, bibirnya tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang perasaan yang terkandung dalam hatinya itu. Tiap malam, kalau Ang I Niocu sudah pulas di dalam kamar lain di penginapan, atau di dalam kamar di sebuah kelenteng kosong di mana mereka bermalam, Sun Hauw gelisah tak dapat tidur dan kadang-kadang ia duduk bersandar pada meja sembahyang di dalam kelenteng dan melamun! Tentu saja yang terbayang hanyalah Ang I Niocu yang gagah perkasa dan cantik jelita, dan terbayanglah pula pertemuannya yang pertama kali dengan dara pujaan hatinya itu.

Kadang-kadang pemuda ini menjadi muram wajahnya, penuh kegelisahan dan kedukaan, kalau ia teringat betapa akan sengsara hidupnya kalau gadis itu kelak menolaknya! Ia pun bingung mencari jalan bagaimana untuk bicara dengan Ang I Niocu tentang kehendak mendiang Kiang Liat mengenai tali perjodohan itu.

Karena nama Ang I Niocu sudah mulai terkenal, apalagi semenjak ia membasmi gerombolan perampok di Bukit Min-san itu, tidak ada penjahat yang berani sembarangan mengganggunya dalam perjalanan itu. Lebih-lebih karena di situ ada Liem Sun Hauw dan pemuda ini yang sudah sudah lama merantau di dunia kang-ouw bersama mendiang suhunya, juga merupakan tokoh yang terkenal dan ditakuti penjahat. Para kaum liok-lim mempunyai mata yang awas dan telinga yang tajam, dan mereka tidak mau mengganggu orang-orang gagah yang sekiranya akan merugikan mereka sendiri.

Ketika mereka tiba di jalan simpangan yang dekat dengan kampung tempat tinggal Sun Hauw, pemuda itu berkata,

“Nah, di sinilah jalan yang menuju ke rumah ayahku, Niocu. Kau tentu tidak keberatan kalau kita singgah sebentar, bukan? Aku harus menengok keadaan Ayah karena ketika kutinggalkan, dia baru saja sembuh dari sakit.”

Hal ini memang seringkali dikemukakan oleh Sun Hauw dalam perjalanan, yakni bahwa pemuda itu hendak singgah di kampung halamannya. Ang I Niocu tidak keberatan dan ia memang ingin sekali melihat keadaan keluarga pemuda ini.

Mereka membelok dan dengan cepat menuju ke kampung Peng-kan-mui. Akan tetapi, ketika mereka tiba di luar kampung itu, tiba-tiba Sun Hauw menghentikan kakinya dan mukanya berubah. Ang I Niocu juga berhenti dan menoleh, memandang heran kepada pemuda itu.

“Mengapa kita berhenti di sini?” tanyanya.

Sun Hauw teringat akan sesuatu yang membuat hatinya berdebar cemas dan yang membuatnya tiba-tiba berhenti itu. Ia teringat akan Siok Lan, gadis yang oleh ayahnya dicalonkan menjadi isterinya! Ia mengajak Ang I Niocu ke rumahnya, bahkan bermaksud minta kepada ayahnya supaya melamar gadis ini sebagai calon isterinya. Akan tetapi bagaimana dengan Siok Lan? Karena dahulu ayahnya sudah menetapkan perjodohannya dengan Siok Lan, maka urusan ini menjadi sulit dan harus dipecahkan dengan perlahan. Kalau ia mengajak Ang I Niocu ke rumah ayahnya, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tidak dikehendakinya? Bagaimana kalau andaikata ayahnya marah-marah dan Ang I Niocu mendengar tentang pertunangannya dengan Siok Lan? Bisa ribut dan tentu Ang I Niocu akan tersinggung, akan marah!

“Niocu, baru sekarang aku ingat dan betapapun besar malu dan kecewaku kepadamu, terpaksa hal ini kukemukakan secara terus terang kepadamu. Kau tahu bahwa Ayah adalah seorang dusun yang kuno dan pendiriannya masih kolot. Kalau tiba-tiba saja aku datang bersama engkau, tentu ia akan menyangka yang bukan-bukan dan mengira bahwa aku telah menyeleweng. Hal ini bukan saja tidak baik bagiku, juga akan menyinggung perasaanmu. Oleh karena itu, aku harap kau sudi memaafkan aku, Niocu. Biarlah aku yang masuk lebih dulu, memberitahukan tentang perjalananku dan tentang kunjunganmu, agar orang tua itu tidak salah paham dan dapat menyambut kunjunganmu.”

Wajah Ang I Niocu menjadi merah. Akan tetapi bagaimana ia bisa marah? Pemuda ini bicara dengan begitu terus terang dan secara terbuka, sehingga sama sekali tidak dapat disebut menghinanya, bahkan telah melindunginya dari keadaan yang benar-benar akan dapat menyinggung dan menghinanya, misalnya kalau tiba-tiba ayah pemuda itu memaki-maki puteranya di depannya, tentu hal ini akan membuat dia merasa terhina. Oleh karena itu ia pun, tersenyum manis sekali dan berkata,

“Aku mengerti, Saudara Liem. Tidak apa, karena memang aku tidak berhak mengganggu orang tua itu. Kau masuklah ke kampung dan tengok orang tuamu. Biar aku berjalan-jalan di kampung ini melihat-lihat. Kiranya setengah hari cukup untuk melepas rindu kepada ayahmu, bukan? Nah, sekarang masih pagi. Nanti lewat tengah hari kita bertemu pula di luar kampung ini untuk melanjutkan perjalanan.”

Sun Hauw tidak berani banyak membantah. Masuklah dua orang muda itu ke kampung Peng-kan-mui dalam keadaan berpisah. Sun Hauw membelok ke kanan dan Ang I Niocu membelok ke kiri. Kampung itu besar juga sehingga Ang I Niocu takkan merasa kesepian selama menanti Sun Hauw menyelesaikan kunjungannya ke rumah. Ia berjalan perlahan di sepanjang jalan kampung itu, tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang terheran-heran dan kagum melihatnya.

***

Di bawah sebatang pohon di belakang rumahnya, Tang Siok Lan berdiri termenung. Gadis manis ini kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang membelai-belai batan pohon dengan jari-jari tangannya yang halus. Baru saja ia mendengar warta girang, warta yang dianggapnya paling baik di antara segala berita. Warta tentang datangnya Liem Sun Hauw, kekasih dan tunangannya! Ia telah “jatuh hati” kepada Liem Sun Hauw semenjak ia masih kecil! Teringat ia ketika dahulu, sama-sama masih seorang anak berusia enam tujuh tahun, ia selalu bermain-main dengan Sun Hauw di tempat ini, di kebun rumahnya di mana Sun Hauw setiap hari datang mengajaknya bermain-main.

Semenjak kecilnya, Sun Hauw memang sudah gagah atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi seorang gagah. Sering kali Sun Hauw membuat kuda-kudaan dari batang pohon, lalu berlari-lari “naik kuda” dengan lagak seorang pahlawan berangkat ke medan perang! Dan di tengah jalan dia melambai-lambaikan tangan kepada Siok Lan yang dibalas dengan lambaian tangan pula. Sering kali mereka bermain-main, Sun Hauw menjadi pangeran dan Siok Lan menjadi puterinya, sang pangeran menolong sang puteri yang ditawan oleh penjahat!

Siok Lan tersenyum dan kadang-kadang tertawa kecil menutupi mulut dengan tangannya kalau ia teringat akan semua ini. Sekarang Sun Hauw sudah pulang! Sedangkan ayah Sun Hauw dan ayahnya sendiri sudah setuju bahwa kalau Sun Hauw pulang, pernikahan antara dua orang muda ini akan dilangsungkan segera.

Tiba-tiba pintu belakang rumah itu terbuka dan seorang wanita muda yang cantik juga datang berlari-lari sambil tertawa,

“Siok Lan, kau sedang apa di situ? Mengapa tidak lekas-lekas berganti pakaian dan membereskan rambutmu? Sebentar lagi tentu dia akan datang ke sini…!” kata wanita itu yang ternyata adalah kakak ipar dari Siok Lan.

“Ahhh… Soso suka menggoda orang…” jawab Siok Lan dan mukanya yang putih halus meniadi merah, lesung di atas tahi lalat yang berada di dagu kirinya membayang menambah kemanisannya.

Dua orang wanita ini lalu bersendau-gurau dan Siok Lan digoda terus oleh kakak iparnya. Keduanya tertawa-tawa gembira tidak tahu bahwa tak jauh dari situ dua orang mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

Kalau di tempat ini terjadi hal yang menggembirakan, sebaliknya di rumah Sun Hauw terjadi hal yang ribut. Terdengar ayah pemuda itu berteriak-teriak marah, diseling suara Sun Hauw yang tenang dan lemah-lembut, agaknya hendak menghibur ayahnya. Akhirnya dengan suara menyatakan kekecewaan, kemarahan, dan kedukaan, ayah pemuda itu berkata,

“Sudahlah, Sun Hauw. Kalau kau berkukuh, aku pun tak dapat memaksa, karena kaulah yang akan menikah. Akan tetapi, untuk membatalkan ikatan jodoh dengan keluarga Tang, harus kau sendiri yang datang memberitahukan. Aku tidak sampai hati, aku tidak tega membikin malu dan susah Siok Lan, anak yang baik itu… Baru saja ia masih demikian lincah gembira… penuh harapan, sekarang kau hendak menghancurkan hatinya…”

“Ayah, sesungguhnya anak pun merasa amat kasihan kepada Siok Lan. Akan tetapi apa daya, Ayah. Anak merasa lebih cocok dan anak mencinta Ang I Niocu seorang wanita gagah yang lebih sesuai dengan keadaan anak sendiri. Tentang Siok Lan, biarlah anak anggap sebagai adik sendiri dan kelak anak yang akan mencarikan calon suami.”

“Masa bodoh… masa bodoh… anak muda sekarang memang tidak kenal budi!”

Biarpun secara terpaksa sekali harus mendapat persetujuan ayahnya, Sun Hauw girang juga bahwa akhirnya ayahnya menyerahkan hal perjodohan ini kepadanya. Ia lalu cepat meninggalkan rumahnya, menuju ke rumah Siok Lan. Ia harus cepat-cepat karena khawatir kalau membuat Ang I Niocu terlalu lama menunggu. Akan tetapi setelah tiba di dekat rumah Siok Lan, ia merasa berdebar juga hatinya. Bagaimana ia harus menyampaikan hal yang amat pahit bagi Siok Lan itu? Lebih baik kusampaikan kepada Siok Lan sendiri, pikirnya. Untuk menyampaikan hal ini kepada ayah Siok Lan, atau kakak Siok Lan, ia merasa lebih sukar lagi karena hubungannya dengan mereka ini kurang erat. Semenjak kecilnya memang kakak Siok Lan itu bekerjaa di kota lain dan pulang-pulang sudah membawa isteri. Akan tetapi kalau dengan Siok Lan, semenjak kecil ia memang sudah kenal baik sehingga biarpun amat berat rasa hati menyampaikan hal yang menghancurkan perasaan gadis itu, namun masih lebih mudah apabila dibandingkan dengan menyampaikan kepada ayah atau kakaknya.

Ketika Sun Hauw melompati pagar belakang rumah, ternyata ia mendapatkan Siok Lan tengah duduk seorang diri di bawah pohon. Kebetulan sekali, setelah bergurau dengan kakak iparnya yang menggodanya, kakak ipar itu kembali kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga, dan Siok Lan melamun seorang diri di dalam kebunnya, mengambil keputusan di dalam hatinya, hanya akan keluar kalau Sun Hauw sudah datang berkunjung ke rumahnya.

Akan tetapi kini ia telah berganti pakaian seperti yang dinasihatkan oleh kakak iparnya tadi, dan rambutnya yang hitam halus dan panjang sudah disisirnya rapi. Mukanya yang jarang dibedaki, karena ia memang bukan seorang pesolek, akan tetapi yang putih dan halus, kini bertambah menarik dengan bedak tipis-tipis dan senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya. Saat-saat seperti ini, menanti datangnya kekasih hati, memang merupakan saat paling bahagia bagi seorang dara.

Ketika melompat turun ke dalam kebun itu, untuk sesaat Sun Hauw berdiri tertegun. Ia terharu. Teringat ia akan masa kanak-kanak dahulu. Setiap kali ia pun memasuki kebun Siok Lan seperti ini. Hanya bedanya, kalau dahulu ia masuk menerobos pagar kebun yang rusak, adalah sekarang dengan mudahnya ia melompati pagar tanpa mengeluarkan suara.

“Siok Lan…” Ia memanggil dengan nada suara seperti dahulu ketika masih kecil pula. Gadis itu terkejut, serasa dalam mimpi. Seperti pada dulu, ia pun tersenyum, menoleh dan memandang ke Sun Hauw.

“Hauw-ko… kau baru datang…?” Kemudian ia teringat bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka merahlah mukanya dan disambungnya dengan kata. kata itu, “Eh, mengapa kau datang dari belakang?”

Sun Hauw makin terharu melihat wajah wanita itu tersenyum bahagia, sepasang mata yang sudah dikenalnya baik semenjak kanak-kanak itu berseri seri, akan tetapi ia tidak bisa membalas senyum dan wajahnya nampak muram.

“Aku sengaja datang dari belakang untuk bertemu dan bicara dengan kau, Siok Lan.” Ia lalu menghampiri gadis itu dan diucapkanlah kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkannya di sepanjang jalan tadi.

“Siok Lan, semenjak kita masih kanak-kanak, kita telah menjadi sahabat baik, bahkan boleh dibilang sudah seperti kakak beradik saja. Oleh karena itu, biarlah sekarang kauanggap aku bicara selaku kakakmu dan bagi aku, lebih baik aku bicara sendiri denganmu daripada dengan ayah atau kakakmu. Sebagai seorang kakak aku hendak bicara terus terang saja, demi kebaikan kita berdua dan demi kebaikan keluarga kita.

Kau tahu bahwa selamanya aku menganggap kau sebagai adikku, karena aku sendiri tidak mempunyai saudara. Akan tetapi, ketika aku pulang tadi, aku mendengar dari Ayah bahwa antara kita telah diikat tali perjodohan.”

Mendengar ini Siok Lan menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali sampai ke telinga dan lehernya. Ia tidak berani bergerak, hanya tersenyum-senyum malu dan ujung kasutnya menggurat-gurat tanah di bawah kaki, hanya itulah gerakan satu-satunya yang ia berani lakukan. Ia merasa malu, jengah, dan juga… girang bukan main.

“Siok Lan, kau sendiri tentu tahu bahwa aku selalu akan merasa girang dan berterima kasih, bahwa aku tentu akan menerimanya dengan tangan terbuka dan haiti terbuka, karena kau memang seorang yang kutahu amat bijaksana, amat mulia, dan seorang dara pilihan, kalau saja…”

Tiba-tiba wajah menunduk yang kemerahan itu menjadi pucat dan diangkat, sepasang mata yang bingung dan kaget, seperti mata seekor kelinci melihat harimau menatap wajah Sun Hauw, membuat Sun Hauw merasa kerongkongannya tersumbat! Akan tetapi pemuda itu mengeraskan hati dan ia harus mengakhiri kalimat yang paling sulit diucapkannya itu.

“Kalau saja aku belum mempunyai seorang kekasih, Siok Lan. Memang ini salahku. Aku sudah jatuh cinta kepada seorang gadis gagah perkasa bernama Ang I Niocu Kiang Im Giok, dan aku… aku bahkan sudah bertunangan dengan dia, aku pulang untuk meminta Ayah meminangnya, maka tali perjodohan antara kau dan aku ini tentu saja tak mungkin…! Kau tahu Siok Lan, aku sayang kepadamu seperti seorang kakak menyayang adiknya, dan terhadap Ang I Niocu… dia itu pilihan hatiku, tak mungkin diganti oleh lain orang…”

Kalau ada geledek menyambarnya di saat itu, kiranya Siok Lan takkan begitu kaget seperti ketika mendengar kata-kata ini. Sepasang matanya terbelalak, mukanya pucat, bibirnya gemetar dan bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata pun, kakinya menggigil dan akhirnya air mata membanjir keluar dibarengi keluhan suaranya, “Hauw-ko…” dan gadis ini berlari dengan limbung, memasuki rumahnya.

Sun Hauw menarik napas panjang dengan perasaan kasihan tercampur lega. Akhirnya kata-kata itu dapat juga dikeluarkan dan nona itu tentu akan menyampaikannya kepada kakaknya dan ayahnya dan semua bereslah! Ia lalu membalikkan tubuh dan melompati pagar kebun itu, kembali ke rumah ayahnya, untuk menyampaikan bahwa hal itu sudah beres.

Biarpun kebun itu sudah ditinggalkan oleh Siok Lan dan Sun Hauw akan tetapi orang yang semenjak tadi mengintai di situ masih belum pergi. Ia berdiri bersembunyi, seperti patung, rupa-rupanya terpengaruh oleh semua yang telah didengarnya, semenjak Siok Lan bergurau dengan kakak iparnya tentang Sun Hauw sampai pertemuan antara Siok Lan dan Sun Hauw.

Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dari dalam rumah sederhana, rumah keluarga Tang itu. Orang yang tadi bersembunyi, cepat sekali berkelebat, berubah menjadi bayangan merah dan di lain saat ia telah naik ke atas genteng rumah itu. Dilihatnya dari atas betapa Siok Lan berlari dikejar oleh kakak dan iparnya. Bayangan merah di atas genteng hendak melompat turun mengejar, akan tetapi terlambat, Siok Lan sudah sampai di dinding dan dengan sekuat tenaga gadis yang malang ini membenturkan kepalanya pada dinding.

Terdengar suara keras dan gadis itu roboh terkulai, darah mengalir dari pelipisnya, keluar pula dari mulut, hidung, dan matanya yang terbuka lebar tanpa cahaya, mata seorang yang sudah tewas…! Kakak Siok Lan menggereng-gereng, isterinya menjerit-jerit dan seorang kakek tua, yakni ayah Siok Lan, terbungkuk-bungkuk lari dari dalam, lalu menubruk jenazah puterinya sambil menangis dan berkata-kata tidak karuan seperti orang yang sudah berubah ingatannya, seperti orang gila saking sedihnya.

Bayangan merah itu menggigit bibir dan menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkelebat pergi.

***

Sun Hauw menjadi terkejut dan menyesal sekali ketika mendengar tentang perbuatan Siok Lan yang nekad. Tak terasa lagi air matanya turun bertitik, karena betapapun juga, ia sesungguhnya amat sayang kepada Siok Lan. Kalau di sana tidak ada Ang I Niocu, kiranya ia akan menerima Siok Lan sebagai isteri dengan perasaan gembira dan bahagia.

Ayahnya juga menangis sesenggukan, membanting diri di atas pembaringan sambil memaki-maki anaknya,

“Sun Hauw, dasar kau manusia tak kenal budi! Kau telah melakukan perbuatan yang membikin kotor nama keluarga kita, kau telah melakukan dosa besar sekali, dan sesungguhnya kaulah yang membunuh Siok Lan…!” Setelah memaki-maki, ayah ini berkata, “Kau boleh mencari isteri yang mana saja, akan tetapi bagiku, kau sudah mempunyai isteri Siok Lan! Aku tidak sudi melamarkan lain orang gadis untuk menjadi isterimu!”

Tentu saja Sun Hauw merasa amat berduka. Akan tetapi, disamping kedukaannya ini, ia pun diam-diam merasa girang karena kini perjodohannya dengan Ang I Niocu tidak terhalang oleh apapun juga lagi! Kalau ayahnya tidak mau meminang, ia dapat minta perantaraan susioknya. Memang, seorang yang sudah dimabuk cinta kadang-kadang sampai lupa akan kebajikan, yang diingat hanyalah kesenangan diri sendiri saja.

Setelah meninggalkan sebagian besar uangnya untuk disumbangkan kepada keluarga Tang, Sun Hauw lalu berpamit kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan. Tak dapat dilukiskan betapa remuk perasaan hati ayahnya. Ayah ini hanya mempunyai seorang putera dan sekarang, putera ini telah mengecewakan hatinya, bahkan hanya setengah hari saja pulang, dan hendak pergi lagi.

Sebaliknya, setelah keluar dari rumahnya, Sun Hauw merasa seakan-akan seekor burung terlepas dari sangkar yang sempit. Ia berlari-lari menuju ke luar kampung di mana tadi ia berpisah dari Ang I Niocu. Kemuraman wajahnya yang tadi sudah lenyap terganti seri penuh harapan dan kegembiraan. Masa depannya penuh madu dan kebahagiaan bersama Ang I Niocu, dara perkasa yang cantik seperti bidadari, mengapa ia harus berduka?

Dengan hati gembira ia berlari keluar dari pintu gerbang dusunnya dan dari jauh ia sudah melihat dara baju merah itu menanti kedatangannya, berdiri tegak dengan gagah dan cantiknya. Gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya bersinar-sinar menatap wajah Sun Hauw.

“‘Kuharap aku tidak terlalu lama pergi sehingga kau tidak menjadi kesal hati,” kata Sun Hauw.

“Tidak sama sekali,” jawab Ang I Niocu dengan suara merdu dan sikap menarik. “Saudara Liem, mengapa selama ini kau tidak pernah bercerita kepadaku tentang maksud-maksud mendiang ayahku?”

Sun Hauw terkejut, hatinya berdebar. “Apa yang kaumaksudkan, Niocu?” Ang I Niocu tersenyum manis. “Ayah sebelum menutup mata meninggalkan pesan kepadaku tentang kita.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Sun Hauw. Jadi kalau begitu selama ini Ang I Niocu sudah tahu bahwa dia adalah pilihan ayahnya? Dan gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia. Ah, kalau begini dapat diharapkan sembilan dari sepuluh bagian cita-citanya terlaksana!

“Jadi kau… kau sudah tahu, Niocu? Aku diam saja karena tidak ingin membikin kau tak enak hati dan malu. Memang, mendiang ayahmu dahulu telah… mengusulkan tentang… ikatan jodoh antara kita…”

“Saudara Liem, apakah kau suka kepadaku?” tanya Ang I Niocu, sepasang matanya menatap tajam, mulutnya tetap tersenyum manis. Diam-diam Sun Hauw terheran-heran juga mengapa gadis inni tidak kelihatan likat dan sungkan, dan bicara tentang ikatan jodoh nampaknya demikian biasa!

“Suka kepadamu, Niocu? Ah, kiranya tak perlu kujelaskan dan Niocu yang berpandangan tajam tentu sudah mengetahui akan isi hatiku. Semenjak pertemuan kita yang pertama kali, aku… aku sedetik pun tak pernah dapat melupakanmu, Niocu. Aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwaku…” Senyum di mulut Ang I Niocu melebar sehingga nampak sekilas giginya yang putih dan rapi.

“Begitukah? Akan tetapi kau harus tahu bahwa sebelum Ayah menyatakan keinginannya agar kau berjodoh denganmu, aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan pedangku. Nah, Saudara Liem, kalau kau memang benar-benar cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku, coba kaukalahkan pedangku ini!” Sambil berkata demikian Ang I Niocu mencabut pedangnya dan menanti dengan sikap garang.

Liem Sun Hauw tentu saja menjadi terkejut, tertegun dan tak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, melihat senyum Ang I Niocu tadi, hatinya menjadi besar. Melihat gelagatnya, nona ini pun membalas cinta kasihnya. Sudah tentu saja Ang I Niocu memegang harga diri dan mengadakan “sayembara” ini untuk mempertinggi harga dirinya, akan tetapi kalau nona ini membalas cintanya, masa Ang I Niocu akan bertempur sungguh-sungguh?

Dan pula, andaikata Ang I Niocu bersungguh-sungguh, ia pun tidak takut karena biarpun dalam hal gin-kang ia harus mengakui masih kalah oleh nona baju merah ini, namun dalam ilmu pedang, ia tidak percaya kalau kalah. Ia telah menerima gemblengan dari mendiang Thian Mo Siansu dan telah mempelajari ilmu pedang yang lebih lihai daripada ilmu pedang Go-bi-pai.

“Begitukah kehendakmu, Niocu? Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,” katanya sambil mencabut pedang dan memasang kuda-kuda. Ia sengaja memasang pertahanan untuk memberi kesempatan kepada Ang I Niocu menyerang lebih dulu. Ang I Niocu tidak sungkan-sungkan lagi.

“Lihat pedang!” serunya dan di lain saat Sun Hauw harus cepat-cepat membuang diri ke kiri sambil menyampok karena pedang gadis itu lenyap berubah sinar bagaikan kilat menyambarnya, cepat bukan main.

“Hebat…!” tak terasa lagi Sun Hauw mengeluarkan seruan terkejut dan kembali sinar pedang di tangan Ang I Niocu menyambarnya. Dalam beberapa jurus Sun Hauw terus terdesak hebat dan serangan-serangan Ang I Niocu benar-benar luar biasa ganasnya. Akan tetapi Sun Hauw tidak mau membalasnya, hanya memutar pedang sedapat mungkin melindungi tubuhnya.

“Balaslah, aku paling tidak suka melihat orang berlaku mengalah. Memangnya ilmu pedangmu jauh lebih menang?” kata Ang I Niocu. Sambil berkata-kata, ia melanjutkan serangan-serangannya dengan cepat.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: