Ang I Niocu ~ Jilid 21 ~ Tamat

Melihat gerakan pedang Ang I Niocu, diam-diam Sun Hauw terkejut sekali dan tahulah ia bahwa gadis itu benar-benar lihai dan ilmu pedangnya amat tinggi tingkatnya, sukar diduga gerak-gerik dan perubahannya. Akan tetapi ia masih percaya penuh bahwa tidak nanti Ang I Niocu mau melukainya, maka sambil tersenyum manis ia berkata,

“Niocu, bagaimana aku berani menyerangmu? Sejak dahulu ayahmu telah memberi tahu bahwa kepandaianmu tinggi sekali, malah lebih tinggi daripada ayahmu sendiri. Pula, pedang tidak bermata, bagaimana aku tega menyerangmu? Kalau sampai kulitmu terluka pedang, bukankah aku akan menyesal setengah mati?”

Ang I Niocu yang tadinya bersikap manis, kini mengeluarkan suara ketus, “Orang she Liem, kita dalam pibu, luka atau mati adalah soal biasa! Aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!”

Sun Hauw masih saja tidak sadar akan perubahan suara ini. Ia masih tersenyum dan berkata manis,

“Niocu, aku tidak percaya kau akan melukaiku. Tegakah kau melihat tunangan sendiri menjadi korban ujung pedangmu? Kalau kau tega, silakan, aku rela mati dalam tangan orang yang paling kucinta…”

Ang I Niocu tak dapat menahan marahnya lagi. Ia menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan dengan muka merah ia menudingkan pedangnya ke arah muka Sun Hauw.

“Bangsat rendah! Kaukira kau ini orang macam apakah berani sekali bicara seperti itu di depanku? Ketahuilah, buka telingamu lebar-lebar, jangankan kau tak dapat menangkan pedangku, andaikata kau dapat menangkan juga, belum tentu aku sudi menjadi isteri seorang kejam macam kau!”

Kali ini benar-benar Sun Hauw terkejut. Mukanya berubah pucat ketika ia bertanya,

“Eh, Niocu, mengapa kau marah kepadaku? Apakah kesalahanku?”

“Manusia rendah, kau pandai berpura-pura! Tentu Ayah dahulu juga sudah tertarik oleh gerak-gerik dan kata-katamu yang palsu, mengira kau seorang baik-baik tidak tahunya kau menyimpan hati yang palsu. Apa yang kau sudah lakukan terhadap Siok Lan?”

Sun Hauw merasa semangatnya terbang.

“Siok Lan…? Bagaimana kau bisa tahu…?”

Ang I Niocu tersenyum akan tetapi kini senyumnya mengiris jantung, senyum mengejek dan memandang rendah.

“Kau sanggup menghancurkan hati seorang gadis suci seperti Siok Lan, kau telah mempermainkan perasaan cintanya. Kemudian, setelah gadis itu membunuh diri, masih hangat jenazahnya, kau sudah berani beraksi dihadapanku seolah-olah aku ini kekasihmu. Cih, laki-laki tak tahu malu!” Setelah berkata demikian, dengan sikap menghina sekali Ang I Niocu membalikkan tubuh dan meninggalkan pemuda itu.

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Sun Hauw di saat itu. Malu dan marah karena terhina, kecewa dan berduka karena ditolak cintanya, menyesal sekali atas perbuatannya terhadap Siok Lan, semua perasaan ini teraduk-aduk menjadi satu dalam hati dan pikirannya. Kemudian melihat Ang I Niocu meninggalkannya, ia mengejar sambil rnembentak,

“Ang I Niocu, ayahmu telah menjanjikan aku menjadi suamimu! Apakah kau hendak melanggar janji ? Apakah hendak mencemarkan nama baik ayahmu dengan mengingkari janji?”

Tiba-tiba Ang I Niocu membalikkan tubuh menantangnya dengan pandang mata berapi-api.

“Kau masih berani menyebut-nyebut ayahku? Bangsat rendah, aku tidak membunuh kau seperti anjing saja sudah amat untung bagimu. Kau berani menuduh aku mengingkari janji? Kaulah yang menipu Ayah, kau sudah bertunangan dengan Siok Lan masih berani menerima uluran tangan Ayah! Kau yang sudah menginngkari janjimu terhadap keluarga Siok Lan. Adapun aku, aku sama sekali tidak mengingkari janji. Sudah kukatakan tadi bahwa orang yang hendak menjadi suamiku harus dapat mengalahkan pedangku. Nah, sanggupkah kau mengalahkan pedangku?” Kata-kata ini disusul dengan tarikan pedang yang dilintangkan di depan dada dengan gaya menantang sekali.

Hati Sun Hauw yang sudah remuk dan putus asa yang merasa kebahagiaannya jatuh dan hancur berantakan, kini menjadi panas dan membuatnya nekad. Ia rela mati kalau tidak bisa mendapatkan Ang I Niocu I sebagai isterinya. Maka cepat dihadapinya Ang I Niocu dengan pedang di tangan dan katanya,

“Baiklah, Niocu. Kalau begitu besar keinginanmu hendak mengadu ilmu, mari kulayani kau!”

Sun Hauw kini menerjang dengan sengitnya dan sebentar kemudian dua orang muda itu sudah bertanding dengan seru. Ilmu pedang dari Sun Hauw memang lihai sekali, karena di dalam ilmu pedang yang berdasar pada ilmu pedang Go-bi-pai ini terdapat pukulan-pukulan aneh yang dahulu diwarisi oleh Thian Mo Siansu dari orang sakti Hok Peng Taisu. Pedang di tangannya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung, bagaikan seekor naga mengejar awan.

Namun kini ia menghadapi Ang I Niocu, dara perkasa ahli pedang yang mewarisi ilmu pedang dari keluarga Kiang, kemudian yang sudah menerima petunjuk dari orang sakti Bu Pun Su. Dalam menghadapi pemuda lihai ini, Ang I Nio tidak berani main-main dan cepat memainkan limu pedang Sian-li Kiam-sut yang amat indah gerakan-gerakannya namun di dalamnya mengandung tangan maut yang setiap saat mengancam nyawa lawannya.

Setelah mendapatkan kenyataan betapa tangguh ilmu pedang Ang I Niocu dan bahwa gadis itu benar-benar hendak merobohkannya, Sun Hauw menjadi marah dan hatinya sakit sekali. Ia merasa dipermainkan oleh gadis ini yang tadinya dikira “ada hati” kepadanya. Dengan seluruh tenaga dan kepandaian yang ada padanya, ia tidak sungkan-sungkan lagi dan kini ia benar-benar ingin mengalahkan Ang I Niocu, baik dengan melukainya maupun kalau perlu membunuhnya! Pertempuran menjadi makin seru dan hebat di luar kampung Peng-kan-mui. Beberapa orang kampung yang melihat pertempuran ini memberi kabar kepada lain orang dan sebentar saja di tempat itu banyak berkumpul orang kampung. Akan tetapi mereka itu hanya menonton saja, tidak ada yang berani mencampuri. Apalagi dua orang itu bertempur bagaikan telah saling libat dengan sinar pedang, seperti menjadi satu.

Kalau bukan seorang ahli, mana bisa mencampuri mereka? Disamping ini, biarpun Sun Hauw orang kampung itu, akan tetapi ia telah mendatangkan kesan buruk pada penduduk kampung itu dengan peristiwa yang terjadi pada diri Siok Lan.

Seratus jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Ang I Niocu mengeluarkan bentakan nyaring, disusul oleh robohnya tubuh Liem Sun Hauw yang telah tertusuk dada kirinya oleh pedang dara baju merah itu. Aneh sekali, dalam menghadapi maut ini, tiba-tiba Sun Hauw teringat kepada Siok Lan dan seperti dalam mimpi ia berseru,

“Siok Lan… kautunggulah aku…!” Dan tewaslah ia dengan pedang masih di tangan. Melihat ini, Ang I Niocu merasa terharu juga, terharu karena pemuda ini tewas sebagai akibat mencintainya. Ia menoleh kepada orang-orang kampung yang masih berdiri memandangnya.

“Yang menewaskan Liem Sun Hauw adalah aku, Ang I Niocu. Aku membalaskan sakit hati Nona Siok Lan.” Setelah berkata demikian, Ang I Niocu berjalan pergi dengan langkah tenang dan lambat, akan tetapi anehnya, sebentar saja ia telah lenyap dari pandangan mata orang-orang kampung.

***

Ang I Niocu langsung menuju ke Thai-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang diadakan oleh susiok-couwnya. Memang ia sebetulnya tidak diharuskan ke sana, akan tetapi setelah sekarang ia menjadi seorang perantau, peristiwa ini menarik hatinya dan ingin ia melihat dan bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama.

Ketika ia tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Thai-san, selagi ia berjalan perlahan, tiba-tiba terdengar bentakan!

“Perempuan rendah, sudah lama aku menunggu di sini!”

Ang I Niocu tenang memandang dan ia melihat Koai-tung Toanio muncul bersama seorang kakek tua yang bermuka hijau. Ang I Niocu maklum bahwa Koai-tung Toanio tentu akan membalas sakit hati karena telah dua kali ia kalahkan, apalagi akhir-akhir ini ia telah melukai pundak seorang puterinya, bahkan telah membunuh dua orang anaknya yang menjadi anggauta Min-san Sam-kui, yakni Kwan Liong dan Kwan Bi Hwa. Maka tahulah ia bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian. Terhadap Koai-tung Toanio ia tidak takut, akan tetapi ia dapat menduga bahwa kakek yang menyertai nenek galak itu tentulah seorang berkepandaian tinggi.

“Toanio, kita berjumpa pula di sini. Kali ini apa kehendakmu?” tanya Ang I Niocu tenang akan tetapi siap sedia.

Sementara itu, kakek bermuka hijau itu sejak tadi sudah memandang dengan bengong kepada Ang I Niocu. “Ci Im, inikah nona yang bernama Ang I Niocu?” tanya kakek itu kepada Koai-tung Toanio yang sebetulnya bernama Kwan Ci Im.

“Betul, Susiok. Dia inilah siluman betina yang telah membunuh dua orang anakku,” jawab Koai-tung Toanio penuh kebencian.

“Kau keliru, Ci Im. Dia ini tidak seperti siluman, lebih patut menjadi bidadari. Hemm, alangkah cantik manisnya. Aku telah hidup lima puluh tahun lebih, baru sekarang ini melihat seorang wanita secantik ini…! Bukan main…!”

Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar kata-kata bandot tua itu. Dari kata-katanya sudah dapat dinilai orang macam apa yang sekarang ia hadapi.

“Anjing-anjing tua tak tahu malu!” makinya sambil mencabut pedangnya. “Kalian menggonggong di sini mau apakah?”

“Setan perempuan, kuhancurkan kepalamu!” Koai-tung Toanio sudah tak dapat menahan marahnya lagi dan tongkatnya menyambar. Ang I Niocu cepat menangkis sehingga tongkat itu terpental kembali.

“Ci Im, jangan! Biarkan aku menangkapnya. Sayang kalau sampai kulitnya yang putih halus itu lecet oleh tongkatmu! Aku akan menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya. Nona manis, marilah ikut dengan aku!” Kakek tua bermuka hijau itu melompat maju. Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya seperti cakar setan.

Ang I Niocu marah sekali. Pedangnya berkelebat membabat dua lengan itu. Kakek itu tertawa bergelak, tangannya disampokkan ke arah pedang. “Triiing…!”

Kedua pihak kaget. Ang I Niocu terkejut sekali karena pedangnya telah ditangkis oleh kuku jari-tangan kakek itu! Benar-benar kepandaian yang luar biasa dan hebat. Agaknya kakek ini telah melatih jari tangannya berikut kukunya untuk menghadapi senjata tajam lawan. Di lain pihak, kakek itu pun kaget setengah mati karena bukan saja ia tidak dapat merampas pedang seperti yang ia duga semula, bahkan jari tangannya terasa sakit ketika bertemu dengan pedang.

“Eh, eh, kau ternyata berisi juga, Nona manis. Akan tetapi sekarang bertemu dengan Tiat-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Besi), jangan harap kau dapat berlagak!” Setelah berkata demikian, ia mencabut keluar sebatang golok yang memakai gelangan-gelangan kecil pada punggung golok, gelangan yang bisa mengeluarkan bunyi gemerincing yang gunanya untuk mengacaukan lawan.

Ang I Niocu diam-diam terkejut juga. Ia pernah mendengar nama julukan Tiat-sim Lo-mo ini, yaitu seorang tokoh besar Kong-thong-pai yang menyeleweng dan sudah tidak diakui di partainya. Tiat-sim Lo-mo terkenal sebagai seorang penjahat cabul yang kejam sekali. Selain ini ia pun seringkali merampok rumah orang dan dalam melakukan semua kejahatan ini, ia bisa berlaku kejam dan membunuh seisi rumah tanpa berkedip mata, dari yang tua sampai anak-anak kecil. Oleh karena itulah maka ia diberi julukan Iblis Tua Berhati Besi untuk menggambarkan betapa kejam hatinya.

“Ah, kiranya kau iblis jahat. Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan sakit hati puluhan orang yang menjadi korbanmu!” kata Ang I Niocu sambil mainkan pedangnya.

“Ha, ha, ha, ha, kau sendiri akan menjadi korban baru, bagaimana kau akan membalas sakit hati? Ha, ha, ha, lebih baik kau menyerah dengan tenang daripada harus lecet-lecet kulitmu!”

Ang I Niocu tidak mau melayaninya bicara lagi, pedangnya bergerak hebat dan mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang lihai, Ang I Niocu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Sebetulnya tingkat dari Tiat-sim Lo-mo ini lebih tinggi dari Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena ia seorang pemogoran sehingga lwee-kangnya banyak berkurang, pula karena ilmu pedang dari Ang I Niocu memang luar biasa, sebentar saja ia terdesak hebat dan goloknya hanya mampu menangkis saja. Baiknya ia masih mempunyai andalan tangan kirinya yang kadang-kadang melakukan serangan mencengkeram yang berbahaya sekali sehingga Ang I Niocu harus berlaku hati-hati sekali dan tidak mudah merobohkan iblis tua ini.

Melihat Tiat-sim Lo-mo belum juga mampu mendesak, apalagi mengalahkan Ang I Niocu, Koai-tung Toanio menjadi kecewa dan nenek ini lalu menyerbu dengan tongkatnya, membantu Tiat-sim Lo-mo dan mengeroyok Ang I Niocu!

Kali ini Ang I Niocu benar-benar terdesak hebat. Kepandaian nenek bertongkat itu sudah tinggi. Menghadapi kakek muka hijau itu saja sudah amat berat baginya, apalagi sekarang nenek itu ikut-ikut mengeroyok. Terpaksa Ang I Niocu mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya melindungi tubuhnya sehingga jangan kata baru senjatat lawan, biar angin dan air pun takkan mampu menembus benteng sinar pedangnya! Akan tetapi, pertempuran seperti ini kalau dilanjutkan tentu ia akan kalah juga, kalah karena kehabisan tenaga. Ia hanya mampu melindungi diri tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali.

Telah delapan puluh jurus lebih Ang I Niocu bertahan diri. Ia mulai lelah karena untuk menangkis serangan-serangan kedua lawannya, ia harus mengerahkan tenaga lwee-kang. Ang I Niocu merasa gemas sekali. Untuk membalas serangan lawan, ia tidak mampu karena dirinya sudah dikurung hebat. Untuk melarikan diri, memang dapat karena dalam hal gin-kang ia masih menang, akan tetapi ia tidak sudi melakukan hal ini. Ia bertahan terus.

Seratus jurus telah lalu dan kini peluh telah membasahi jidat dan leher gadis itu. Tiat-sim Lo-mo sudah tertawa-tawa mengejek dan mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah kemarahan Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Dua orang siluman bangkotan sungguh tak tahu malu! Ang I Niocu, jangan khawatir, aku datang membantumu!” Berkelebat bayangan yang cepat dan gesit gerakannya, sebatang pedang menyerang dan menahan tongkat Koai-tung Toanio. Serangan ini cukup kuat dan cepat sehingga terpaksa Koai-tung Toanio meninggalkan Ang I Niocu dan menghadapi lawan baru ini yang ternyata adalah seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan. Biarpun gerak-geriknya lemah, namun ternyata ilmu pedang ini cukup kuat dan tenaga lwee-kangnya cukup hebat.

Ang I Niocu melirik dan melihat pemuda tampan ini, ia menjadi heran. Belum pernah ia bertemu dengan pemuda ini, mengapa begitu datang terus membantunya dan telah mengenal namanya? Akan tetapi segera nona baju merah ini mengerutkan kening. Biarpun ia sudah ditinggalkan Koai-tung Toanio sehingga ia kini dapat membalas dan mendesak Tiat-sim Lo-mo, akan tetapi sebaliknya, pemuda itu terdesak oleh tongkat Koai-tung Toanio yang hebat dan ganas. Sekali pandang saja Ang I Niocu dapat mengenal ilmu pedang pemuda itu, yakni ilmu pedang dari Bu-tong-pai, dan biarpun ilmu pedang pemuda itu cukup baik, namun masih belum cukup kuat untuk mengalahkan Koai-tung Toanio.

Di lain pihak, ia sendiri biarpun mengurung lawan dengan sinar pedangnya, ternyata bahwa Tiat-sim Lo-mo benar-benar seorang yang luar biasa. Kakek ini sudah banyak sekali pengalamannya bertempur, maka ia tak mudah ditipu oleh gerakan pedang dan dapat menjaga diri dengan baiknya, bahkan kadang-kadang tangan kirinya masih melakukan serangan yang berbahaya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring,

“Ha, ha, iblis tua berani mengganggu Sumoi? Ini artinya kau akan segera mampus!” Berbareng dengan ucapan itu sinar pedang gemerlapan menyambar leher Tiat-sim La-mo yang menjadi kaget sekali karena serangan ini benar-benar cepat dan ganas.

“Giok-gan Kui-bo (Biang Iblis Bermata Kemala)!” teriak Koai-tung Toanio ketika ia melihat gadis yang baru datang.

“Enci Kim Lian…!” Ang I Niocu berseru girang dan juga heran. Dengan majunya Kim Lian mengeroyok Tiat-sim Lomo sebentar saja kakek itu menjadi kewalahan. Ilmu pedang Kim Lian biarpun tidak sehebat ilmu pedang Ang I Niocu, namun memiliki keganasan sesuai dengan wataknya dan dalam lain-lain hal, kepandaian gadis ini hanya kalah sedikit saja oleh sumoinya. Karena rangsakan dua orang gadis ini, tak lama kemudian pedang Ang I Niocu telah dapat membabat lehernya, dan pedang Kim Lian membabat putus lengan kirinya. Kakek itu roboh tanpa dapat berteriak lagi dan tewas di saat itu juga!

Ang I Niocu tidak segera menyambut sucinya, melainkan terus saja menyerang Koai-tung Toanio, membantu pemuda itu.

Mana Koai-tung Toanio dapat menahannya? Dalam lima jurus kemudian, ia pun roboh binasa oleh pedang Ang I Niocu.

Setelah itu, baru Ang I Niocu menoleh kepada sucinya, Kim Lian tertawa akan tetapi sepasang mata yang indah sekali itu menjadi basah air mata! Ang I Niocu memandang terharu dan di lain saat dua orang gadis itu saling berpelukan.

“Im Giok… aku girang sekali kau sudah pulih kembali, sudah gembira dan bertambah cantik!” kata Song Kim Lian atau dengan julukan baru Giok-gan Kui-bo sambil memandang wajah sumoinya. Sebaliknya, Ang I Niocu juga memperhatikan sucinya yang sekarang kelihatan amat pesolek, jauh melebihi dahulu. Bahkan pipi dan bibirnya juga diberi merah-merah! Pakaiannya indah dan terbuat dari sutera mahal.

Ang I Niocu teringat akan pemuda itu, lalu ia menoleh dan menghadapinya.

“Tuan siapakah? Sungguh gegabah sekali berani menyerang Koai-tung Toanio. Kalau tidak cepat-cepat Suci datang membantu, bukankah kau hanya akan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma?” tegurnya, akan tetapi suara dan pandang matanya manis.

Pemuda itu menjura dan sepasang matanya yang bening dan menyinarkan watak jujur dan halus itu berseri,

“Niocu,” katanya tersenyum, “andaikata aku tewas dalam membantumu, aku rela! Aku adalah Kang Ek Sian dan aku mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di Thai-san. Di Bu-tong-pai aku telah banyak mendengar tentang kau, Niocu, kau sudah berjasa mengakurkan kembali Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Budimu terlalu besar dan nyawaku tidak berharga!”

Mendengar ini, diam-diam Ang I Niocu menjadi senang dan memuji pemuda yang pandai bicara ini. Akan tetapi tiba-tiba Giok-gan Kui-bo membentaknya,

“Bocah lancang! Awas jangan kau berani main gila. Kau sudah jatuh cinta kepada sumoiku, ya? Jangan kau main-main, orang seperti kau ini mana ada harga untuk mencinta Sumoi?”

“Suci!” Ang I Niocu menegur gadis itu. “Jangan kau bicara sembarangan dan menghina orang tanpa alasan. Kalau Susiok-couw mendengarnya, kau akan menerima hukuman!”

Nama Bu Pun Su amat ditakuti Kim Lian. Ia menjadi pucat dan menengok ke sana ke mari. “Apakah Susiok-couw berada di sini?” tanyanya.

“Apa kau tidak tahu?” Ang I Niocu menjawab. “Susiok-couw sedang mengadakan pertemuan di puncak Gunung Thai-san ini. Sewaktu-waktu Susiok-couw bisa muncul di sini. Maka jangan kau bicara sembarangan!”

Song Kim Lian menjadi makin ketakutan. Ia buru-buru pergi sambil berkata, “Aku pergi dulu, Sumoi, ada urusan penting sekali. Biar lain kali kita bertemu kembali.” Akan tetapi setelah agak jauh, ia mengamang-ngamangkan tinjunya ke arah Kang Ek Sian sambil berkata, “Awas kau, aku tahu kau tergila-gila pada Sumoi!” Dan di lain saat Giok-gan Kui-bo Song Kim Lian lenyap dari situ.

Kang Ek Sian berdiri seperti patung, mukanya agak pucat. Ang I Niocu merah mukanya dan ia merasa malu sekali atas sikap sucinya.

“Harap kau suka memaafkan Suci, memang wataknya aneh sekali,” katanya kepada pemuda itu.

Kang Ek Sian memandangnya dengan tajam. “Tidak ada yang harus dimaafkan, Niocu. Bahkan aku diam-diam memikirkan apakah kata-katanya itu tidak tepat sekali.”

Sepasang mata Ang I Niocu memancarkan api kemarahan, akan tetapi melihat wajah yang jujur dan terbuka itu, ia menahan kemarahannya. Hanya ia merasa mendongkol sekali. Dalam saat yang sama, dua orang laki-laki telah tergila-gila kepadanya. Tadi si tua bangka bermuka hijau itu tergila-gila, sekarang pemuda ini! Akan tetapi di samping kemendongkolannya, timbul perasaan aneh dalam hatinya. Perasaan seperti orang gembira dan puas. Puas melihat orang-orang lelaki yang tergila-gila kepadanya karena ia maklum bahwa mereka akan tergila-gila dengan sia-sia belaka, takkan menerima balasan darinya. Biar mereka itu menjadi korban cinta, pikirnya. Biar laki-laki bodoh itu makan hati biar sengsara karena kebodohan sendiri telah mabuk oleh cinta, seperti yang pernah ia alami…!

Kang Ek Sian sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang kurang patut, maka ia lalu berkata cepat-cepat, “Maaf, Niocu. Aku… aku hendak mengurus dua jenazah ini lebih dulu.” Pemuda itu lalu menggali lubang dan mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio. Ang I Niocu melihat ini semua dengan hati memuji. Pemuda ini benar-benar seorang yang berbudi luhur, biarpun Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio adalah penjahat-penjahat keji, namun setelah mereka tewas, pemuda itu suka mengubur jenazah mereka. Jarang terdapat pemuda yang demikian baik hati, pikirnya.

“Anak baik, kau siapakah?” tiba-tiba terdengar suara halus.

Belum juga orangnya nampak, Ang I Niocu sudah cepat menjatuhkan diri berlutut dan betul saja tak lama kemudian, tiba-tiba di situ berdiri Bu Pun Su, pendekar sakti yang kini pakaiannya penuh tambalan seperti pengemis. Kakek sakti itu memandang kepada Ang I Niocu yang memberi hormat sambil menyebut, “Susiok-couw!” mengangguk-angguk senang lalu menoleh kepada Kang Ek Sian yang sudah selesai dengan pekerjaannya.

Ketika Kang Ek Sian mendengar bahwa kakek ini adalah Sin-taihiap Bu Pun Su, ia menjatuhkan diri memberi hormat dan menjawab,

“Boanpwe adalah Kang Ek Sian, anak murid Bu-tong-pai. Suhu Lo Beng Hosiang menyuruh boanpwe mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di puncak Thai-san. Harap Locianpwe maafkan kalau boanpwe tidak melihat kedatangan Locianpwe sehingga tidak sempat menyambut.”

“Tidak apa, tidak apa. Kau mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio, itu amat baik! Terima kasih, orang muda. Dengarlah, dan kau juga Im Giok, pertemuan di puncak tidak jadi diadakan. Perang sudah meletus, para pemberontak sudah bergerak di sana-sini. Celakanya, banyak orang-orang gagah di dunia kang-ouw membantu mereka! Benar-benar dunia kang-ouw telah terpecah dua dengan adanya pemberontakan ini.” Bu Pun Su menghela napas dan memandang ke angkasa.

“Kehendak Thian, siapakah orangnya dapat membantah? Im Giok, kau jagalah di lereng bukit sebelah barat, tunggu selama tiga hari. Jika ada orang datang, sampaikan terima kasih dan salamku, dan katakan bahwa pertemuan tak mungkin diadakan karena banyak tokoh-tokoh kang-ouw sudah turun tangan, terjun dalam peperangan. Tidak pertu dirunding-runding lagi. Dan kau, Kang Ek Sian, kau jagalah di lereng timur, jaga sampai tiga hari dan lakukan seperti yang kukatakan kepada Im Giok tadi. Aku sendiri hendak meninjau keadaan di mana terjadi perang agar rakyat jangan terlalu menderita oleh kerusuhan yang timbul karenanya.” Dua orang muda yang berlutut itu menyatakan kesanggupan mereka. Ketika hendak pergi, Bu Pun Su berkata,

“Im Giok, kelak kau harus awasi baik-baik sucimu Kim Lian itu. Aku sekarang tidak sempat, sampaikan peringatanku kepadanya supaya dia menjaga langkah hidupnya jangan menyelewengi!” Sebelum Ang I Niocu menjawab, kakek itu berkelebat lenyap! Dua orang muda itu bangkit berdiri, saling pandang dan Kang Ek Sian berkata,

“Alangkah besar untungku, dapat bertemu dengan pendekar sakti itu. Niocu, setelah kita melakukan tugas ini dalam tiga hari, bolehkah aku menemuimu di lereng barat? Aku merasa bahagia dan terhormat sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, dan sudikah kau menerimaku berkunjung di lereng barat untuk bercakap-cakap?” Permintaan ini cukup pantas, bagaimana ia dapat menolaknya?

“Apa salahnya? Tentu saja aku suka menerima kunjunganmu, asal saja aku masih berada di sana,” jawabnya menyimpang, kemudian gadis itu berlari cepat menuju ke lereng barat, Kang Ek Sian memandang ke arah bayangan merah itu dengan bengong, semangat dan hatinya seakan-akan ikut melayang bersama bayangan merah itu.

Benar seperti dugaan Bu Pun Su, hanya sedikit saja orang yang datang mengunjungi puncak Thai-san untuk pertemuan. Mereka ini segera turun kembali setelah diberitahu oleh Ang I Niocu atau Kang Ek Sian. Tidak seorang pun di antara mereka berani mengganggu dua orang muda ini karena siapakah orangnya berani main-main terhadap orang kepercayaan Bu Pun Su?

Tiga hari telah lewat dan pada hari ke empat, pagi-pagi sekali Kang Ek Sian telah berlari-lari menuju ke lereng sebelah barat untuk bertemu dengan gadis baju merah yang selama tiga hari tiga malam telah membuat ia tidak dapat memejamkan mata barang semenit! Akan tetapi setelah tiba di tempat itu, ia tidak melihat lagi bayangan Ang I Niocu.

“Niocu…!” ia memanggil. Tidak ada jawaban.

“Ang I Niocu…!” ia memperkeras suaranya. Hanya kumandangnya saja yang menjawab. Sambil berseru memanggil-manggil nama gadis yang telah merampas hatinya itu Kang Ek Sian mencari terus di daerah itu, makin lama suaranya yang memanggil-manggil nama Ang I Niocu makin jauh sampai akhirnya tidak kedengaran lagi.

Bayangan merah berkelebat dari balik gerombolan pohon dan Ang I Niocu berdiri di situ menarik napas panjang berkali-kali. Ia tidak mau mendekati Kang Ek Sian. Pemuda ini orang baik-baik dan memiliki watak yang mulia. Kalau ia dekati, mungkin akan menjadi berubah seperti halnya Liem Sun Hauw. Bukankah Sun Hauw tadinya juga seorang pemuda gagah perkasa yang berbudi mulia? Akan tetapi menjadi buta dan tidak kenal pribudi setelah tergoda oleh cinta. Ia tidak mau melihat Kang Ek Sian menjadi seperti itu.

Setelah berpikir sebentar, Ang I Niocu lalu berlari-lari cepat turun gunung. Tujuannya adalah Pek-tiauw-san (Bukit Rajawali Putih) di mana ia akan mencari telur Rajawali Putih untuk dibuat obat anti tua agar ia tetap cantik jelita seperti Pek Hoa Pouwsat dahulu! Ang I Niocu tidak mau melayani kasih sayang pria akan tetapi ia pun tidak mau menjadi tua, hendak muda selalu, cantik jelita selalu, dan menjatuhkan hati laki-laki.

Setelah mendapatkan telur Pek-tiauw dan meminumnya bersama obat sebagaimana yang diajarkan oleh mendiang Pek Hoa Pouwsat, benar saja Ang I Niocu menjadi makin cantik jelita, mukanya menjadi makin halus kemerahan dan bercahaya, dan biarpun tahun demi tahun usianya meningkat, namun wajah dan bentuk tubuhnya masih tetap seperti seorang remaja berusia tujuh belas tahun!

Tidak terbilang banyaknya pria yang tergila-gila kepadanya, tua muda, ahli silat dan sastrawan, bangsawan dan petani, hartawan dan miskin. Namun, Ang I Niocu tetap tak mau menerima seorang di antara mereka, hanya tersenyum makin manis sambil meninggalkan mereka yang kehilangan semangat dan hati, pergi meninggalkan mereka yang bertekuk lutut mengharapkan balasan cintanya. Di samping semua ini, Ang I Niocu tidak lupa melakukan pekerjaan sebagai seorang pendekar wanita menolong orang-orang yang tertindas, membasmi si jahat dan si penindas.

Oleh karena itu beberapa tahun kemudian, terkenallah nama Ang I Niocu sebagai seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, kadang-kadang ganas sekali dan tak mengenal ampun menghadapi penjahat, seorang pendekar wanita yang cantik jelita seperti bidadari akan tetapi yang berhati batu, dingin membeku tidak menghiraukan segala bujuk rayu kaum pria.

Demikianlah, cerita“ANG I NIOCU” berakhir sampai di sini dan pengalaman-pengalaman selanjutnya dari Ang I Niocu dan tokoh-tokoh lain dalam cerita ini dapat dibaca dalam cerita,PENDEKAR BODOH .

TAMAT

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: