Ang I Niocu ~ Jilid 3

“Song-loya, harap suka mengampunkan puteraku yang masih belum tahu aturan. Percayalah, aku yang akan melarangnya pergi ke sana. Terima kasih banyak atas hati Song-loya. Sun-ji (Anak Sun), hayo lekas ucapkan terima kasih kepada Song-loya.”

Cia Sun menjadi pucat dan hanya karena takut kepada ibunya maka ia terpaksa menjura dan mengucapkan terima kasih dengan suara perlahan. Kakek Song menjadi puas dan segera pergi dari situ, pulang ke gedungnya. Cia Sun menjatuhkan diri di atas kursi, dua titik air mata turun membasahi pipinya. Hancurlah cita-citanya untuk menjadi suami Bi Li, untuk mewarisi seluruh harta benda itu!

“Anakku, bagaimana sih kau ini? Song-siocia tentu saja bukan jodohmu, bagaimana katak bisa mencapai bulan? Kau benar-benar lancang dan sembrono sekali berani mengganggu gadis dari keluarga demikian hartawan. Masih untung bagi kita bahwa Song-loya berhati pemurah dan sabar sehingga sebaliknya daripada marah kepada kita, ia memberi peringatan dengan halus dan malah memberi uang begini banyak.”

Namun Cia Sun masih terbenam dalam lamunannya yang sedih. Apakah artinya uang sekantung ini dibandingkan dengan diri Bi Li berikut harta benda dan rumah gedung ditambah sawah ladang yang demikian banyaknya? Ia memutar-mutar otak mencari jalan yang baik, akhirnya ia berkata seorang diri, “Hanya Ceng Si yang akan dapat memecahkan hal ini! Ceng Si manisku… kekasihku… sebenarnya kaulah yang patut menjadi isteriku. Tanpa kau yang cerdik aku merasa tak berdaya…”

Adapun Kakek Song yang pulang ke rumah gedungnya, diam-diam menyuruh beberapa orang pelayan untuk mengamat-amati dan menjaga agar jangan sampai ada orang luar bisa masuk ke dalam taman dan agar supaya mengusir setiap orang muda yang mendekati tembok sekitar gedung dan pekarangannya. Dengan penjagaan ini, maka baik Cia Sun maupun Ceng Si sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk saling bertemu atau menyampaikan berita.

Sementara itu, sepekan kemudian, datanglah utusan dari Sian-koan, dan Kakek Song terkejut bercampur girang bukan main, juga ia merasa heran sekali. Utusan yang datang itu adalah seorang setengah tua yang berpakaian mewah, datangnya membawa sebuah kereta penuh dengan barang-barang berharga. Tadinya Kakek Song mengira bahwa yang datang ini tentulah seorang saudagar kaya, akan tetapi ia menjadi mlelongo ketika tamu ini memperkenalkan diri sebagai utusan dari keluarga Kiang di Sian-koan!

“Saya datang atas perintah dari Kiang-kongcu untuk membawa sekedar hadiah bagi Song-siocia, dan juga untuk membicarakan tentang hari pernikahan,” kata utusan itu.

Ketika barang-barang hadiah itu dibongkar, semua orang terheran-heran dan kagum bukan main. Lima belas kayu kain sutera yang paling halus dan mahal dan yang jarang sekali dilihat oleh orang-orang seisi rumah, lima buah barang ukiran dari perak yang amat indahnya, untuk hiasan dinding kamar, empat peti besar terisi kain-kain untuk muili, kelambu, dan lain-lain keperluan rumah tangga, sekantung uang emas dan sekantung pula uang perak, kemudian yang terakhir, sebuah hiasan rambut terbuat dari emas dan dihiasi batu kemala yang amat indahnya, berbentuk seekor kupu-kupu yang hinggap di atas setangkai bunga Cilan.

Jangankan para pelayan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak dan menahan napas, bahkan Kakek Song sendiri sampai melongo. Hanya orang yang kaya-raya, yang jauh lebih kaya daripada dirinya sendiri, yang akan dapat mengirimkan hadiah kepada calon pengantin seroyal ini.

Ia segera menjamu tamu itu dan dari tamu ini ia mendapat keterangan bahwa Kiang-kongcu adalah ahli waris satu-satunya dari keluarga Kiang yang amat terkenal kekayaannya. Juga ia mendengar bahwa nenek moyang Kiang Liat adalah orang-orang ternama belaka, bangsawan-bangsawan tinggi yang bernama besar. Maka bukan main girangnya hati Kakek Song mendengar ini. Mereka mengobrol sambil minum arak dan makan hidangan yang mahal, kemudian utusan itu menyampaikan pesan dari Kiang-kongcu tentang hari pernikahan yang akan dilangsungkan dalam bulan itu juga.

Sementara itu, Ceng Si yang cerdik segera mendengar bahwa pemuda she Kiang yang dahulu berpakaian sebagai orang pengemis itu, ternyata seorang pemuda yang kaya-raya, lebih kaya dari pada keluarga Song sendiri! Apalagi setelah ia melihat barang-barang hadiah yang dibawa oleh utusan keluarga Kiang, hatinya berdebar dan matanya yang indah itu berseri-seri. Diam-diam ia meremas-remas tangan sendiri dan mengatur siasat. Kemudian ia berlari menuju ke kamar Bi Li, diikuti oleh para pelayan yang memanggul barang-barang hadiah itu, karena Kakek Song memberi perintah agar supaya barang-barang itu langsung dibawa ke kamar Bi Li.

“Siocia, kionghi!” Ceng Si berseru sambil memeluk nona majikannya.

“Ceng Si, apakah kau gila? Aku lagi berduka, kau datang-datang memberi selamat.”

“Kionghi, Siocia! Tidak tahunya, pemuda she Kiang yang kelihatan seperti pengemis itu, ternyata adalah seorang pangeran!”

“Apa katamu? Seorang pangeran?” Bu Li menggerakkan alis karena terheran-heran.

“Lihat saja, lihat saja barang-barang hadiahnya!” Pintu terbuka dan mengalirlah barang-barang itu memasuki kamar.

Bi Li juga kagum sekali melihat benda-benda mahal itu, apalagi melihat hiasan rambut yang indah sekali itu, ia benar-benar amat suka, hanya merasa malu untuk menjamahnya. Ia hanya duduk dan melihat satu demi satu semua benda itu yang diambil dari tempatnya oleh Ceng Si. Gadis pelayan ini sambil memamerkan benda-benda itu, tiada hentinya bercakap-cakap.

“Siocia, kau benar-benar berbahagia sekali. Memang orang baik selalu mendapat perlindungan dengan Thian. Siapa kira pemuda berpakaian tambalan itu ternyata adalah seorang yang kaya-raya, yang jauh lebih kaya daripada Song-loya sendiri? Lihatlah, begini indah dan mahalnya barang-barang ini.”

“Ceng Si, aku bukan seorang yang haus akan benda-benda indah dan mahal.”

“Akan tetapi orangnya pun amat gagah dan tampan! Siocia, terus terang saja, kalau diingat-ingat, Kiang-kongcu itu malah lebih tampan daripada… pemuda she Cia itu. Dan tentu saja jauh lebih gagah, ingat saja, ia pernah menolong nyawa Song-loya!”

“Ceng Si!” Bi Li membentak dan mukanya menjadi pucat. “Aku bukan seorang yang begitu mudah lupa akan sumpah sendiri!”

“Siocia, dalam hal ini kita harus jangan menurutkan perasaan dan nafsu sendiri. Ingatlah dan pertimbangkan masak-masak. Memang betul Siocia sudah bersumpah, namun semua itu dilakukan dalam keadaan melamun dan tidak sadar. Siocia bersumpah tidak di depan Cia-kongcu dan hubungan kalian juga hanya dengan surat-surat sajak belaka. Sebaliknya, cobalah pikir baik-baik. Pemuda hartawan dan gagah perkasa she Kian itu, pertama-tama dia sudah menolong nyawa kong-kongmu, kedua kalinya dia memang patut menjadi suami Siocia karena ia memang tampan dan gagah sekali, ketiga kalinya, ia seorang hartawan besar, jadi seribu kali lebih cocok dari pada Cia-siucai yang miskin itu.”

“Ceng Si…! Aku… aku kasihan kepadanya, juga karena ia tidak berdaya dan miskin.”

Berseri wajah Ceng Si, memang inilah yang dinanti-nanti. “Kalau begitu, Siocia, mudah saja untuk menolongnya! Dia miskin, membutuhkan uang. Kalau Siocia selalu memberi sesuatu yang berharga kepadanya, bukankah itu berarti sudah menolongnya?”

“Ceng Si, bagaimana kau bisa bilang begitu? Kalau aku sudah menjadi isteri orang lain, bagaimana aku sudi dan berani mengadakan hubungan dengan laki-laki lain?”

“Mudah saja Siocia. Kalau aku Ceng Si yang bodoh selalu menjadi pelayan pribadi Siocia, selalu berada di samping Siocia, apa sih sukarnya? Kalau Siocia masih selalu menolong pemuda she Cia itu, pendeknya mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan kalau perlu membiayai dia melanjutkan pelajarannya, di kota raja, bukankah itu berarti bahwa Siocia mempunyai pribudi yang tinggi?”

Bi Li berpikir dan ia berkali-kali menarik napas panjang. “Akan tetapi aku khawatir sekali, Ceng Si. Surat-suratku banyak yang berada di tangannya! Kalau kelak… orang yang menjadi suamiku mengetahui akan hal ini, bukankah ini akan mendatangkan malapetaka hebat!”

Di dalam hatinya, Ceng Si tersenyum seperti iblis. Akan tetapi pada wajahnya yang manis itu, tersungging senyum manis yang penuh hiburan. “Jangan khawatir, Siocia. Akulah yang akan minta kembali semua tulisan-tulisan itu.”

Akhirnya Bi Li dapat dibujuk dan dihibur. Gadis ini mengeluarkan surat-surat dari Cia Sun yang tadinya disimpannya, menyerahkan semua surat itu kepada Ceng Si dengan perintah agar semua surat ini dibakar. Ceng Si memang melakukan perintah ini, akan tetapi tidak semua surat dibakarnya, ada beberapa helai yang diam-diam ia sembunyikan dan simpan. Dua helai surat dari Cia Sun ini merupakan senjataku yang paling ampuh terhadap Song-siocia, pikirnya.

Kita tunda dulu dan membiarkan nona Song Bi Li melamun tentang pernikahannya yang dihadapi, dan mari kita mengikuti peristiwa lain yang amat hebat.

***

Di lembah Sungai Huang-ho, nampak dua orang setengah tua berjalan perlahan. Mereka ini adalah Bu Pun Su dan Han Le, dua kakak beradik seperguruan yang berilmu tinggi. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka berdua baru saja meninggalkan Kiang Liat dan kini mereka jalan bersama-sama sambil bercakap-cakap,

“Lu-suheng, mengapa kau sekarang banyak berubah? Kau kelihatan seperti orang yang menderita kesedihan besar,” pertama-tama Han Le menegur suhengnya.

“Sute, sebelum kita bicarakan lebih lanjut, kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali lagi kau menyebut Lu-suheng kepadaku. Jangan sekali-kali nama Lu Kwan Cu disebut lagi. Nama itu sudah mampus dan sekarang aku adalah Bu Pun Su, tidak ada sambungannya lagi, mengerti?” Suaranya terdengar keras dan kaku, tanda bahwa ia tidak suka mendengar nama kecilnya disebut-sebut.

Han Le beberapa kali memandang kepada wajah Bu Pun Su penuh perhatian. Biasanya, pandangan mata Han Le tajam sekali dan dengan melihat wajah orang, ia akan dapat membaca isi hatinya. Akan tetapi tarikan wajah Bu Pun Su demikian sukar dimengerti, seakan-akan kulit muka orang sakti itu memakai kedok. Hanya garis-garis yang memenuhi muka dan rambut serta alis yang sudah tidak begitu hitam lagi saja yang bercerita bahwa selama ini, Bu Pun Su mengalami tekanan dan penderitaan batin yang hebat.

“Suheng, kau telah banyak mengalami penderitaan. Maafkan Sute, biarpun Sute seorang yang bodoh dan lemah, namun Sute menyediakan raga dan nyawa untuk membantu Suheng memecahkan semua kesulitan itu.”

Bu Pun Su menoleh kepada adik seperguruan ini, untuk beberapa detik sepasang matanya hanya memandang, seakan-akan hendak mengalirkan air mata. Akan tetapi tiba-tiba sepasang mata itu berseri-seri dan meledaklah suara ketawa Bu Pun Su. Suara ketawanya demikian nyaring dan keras sehingga kalau di situ terdapat orang lain yang tidak berilmu tinggi, pasti orang ini akan lumpuh terkena daya tenaga lwee-kangnya yang disalurkan dalam suara ketawa ini! Baiknya Han Le sendiri telah memiliki tenaga lwee-kang yang tinggi, namun tetap saja ia merasa jantungnya memukul keras dan terpaksa ia menahan napasnya agar jangan terkena getaran hebat dan melukai jantungnya.

“Ha, ha, ha, kau masih tidak berubah, Sute! Kau masih dikuasai oleh perasaanmu, kau lemah dan baik hati. Tidak, Sute. Aku tidak menderita sesuatu. Bagaimana Bu Pun Su bisa menderita? Kalau si lemah Lu Kwan Cu yang sudah mampus memang dia itu lemah hati, mudah dikuasai oleh nafsu, dia buta dan tuli, terlalu mengandalkan kepandaiannya yang tidak berarti, terlalu membanggakan tenaganya yang sebetulnya lemah. Ha, ha, Lu Kwan Cu sudah mampus demikian pula orang-orang yang seperti dia. Akan selalu mengalami suka duka dan hidup bagaikan benda mati yang dipermainkan oleh alam. Akan tetapi aku sekarang bukan seperti dia, aku sudah menguburkan Lu Kwan Cu. Aku Bu Pun Su hidup bukan sebagai bujang perasaan, aku hidup bebas, mempergunakan akal budi dan pertimbangan, mengeluarkan segala yang pernah kupelajari untuk membantu pekerjaan alam!”

Han Le dapat mengerti akan kata-kata yang kedengarannya tidak karuan ini. Dia sendiri sudah banyak mengalami kepahitan hidup, sudah banyak menderita dan kecewa. Maka ia dapat menduga bahwa suhengnya ini tentu telah mengalami hal-hal yang hebat sekali, hal-hal yang menghancurkan hatinya, mungkin sekali telah melakukan dosa yang dianggapnya amat berat dan besar sehingga suhengnya ini mematikan diri sendiri, mematikan dan menghilangkan semua ingatan tentang diri Lu Kwan Cu, dan seakan-akan hidup baru merupakan seorang bernama Bu Pun Su atau Si Tiada Kepandaian, manusia aneh yang hidupnya hanya untuk membantu pekerjaan alam, yakni tegasnya membantu manusia lain.

Han Le menjura kepada suhengnya dan berkata girang, “Kalau begitu, aku mengucapkan selamat, Suheng. Dan demi Thian Yang Maha Kuasa, aku pun hendak mencoba sedapat mungkin untuk meniru perbuatanmu yang mulia ini. Tadi suheng bilang hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting, apakah gerangan urusan itu?”

Karena sudah lupa lagi akan hal-hal dahulu mengenai diri Lu Kwan Cu, Bu Pun Su kembali pula kegembiraannya.

“Sute, aku perlu sekali bantuanmu, juga bantuan semua orang yang masih berbangsa dan berkebudayaan.”

“Eh, apakah yang terjadi, Suheng?” tanya Han Le terkejut, karena kata-kata suhengnya ini terdengar menyeramkan.

Bu Pun Su mengajak sutenya duduk di dekat pantai Sungai Huang-ho di mana tumbuh sebatang pohon besar yang akarnya bergantungan dan bermain-main di permukaan air sungai. Tempat itu amat indahnya dan setiap orang, apalagi para pemancing ikan, pasti akan suka sekali duduk di situ.

“Sute, di dunia kang-ouw telah terjadi hal yang hebat dan amat membahayakan kedudukan orang-orang kang-ouw yang termasuk golongan putih. Apalagi bagi mereka yang menganut sesuatu kepercayaan atau agama.”

“Mengapa, Suheng? Bukankah golongan Mo-kauw (Agama Sesat) pada hakekatnya tidak begitu kuat dan selalu dapat dikendalikan oleh golongan Beng-kauw (Agama Asli), sedangkan golongan Beng-kauw biarpun agama dan kepercayaannya berlainan dan banyak sekali macamnya namun dapat menjaga kerukunan dan menghormati kepercayaan masing-masing?”

“Betul kata-katamu itu, akan tetapi hal itu adalah keadaan pada beberapa tahun yang lalu. Memang jarang ada orang kang-ouw yang mengetahui kejadian ini, karena hal itu mereka sembunyikan dan menjaga penuh rahasia agar jangan sampai bocor.”

“Eh, apa sih sebetulnya yang terjadi, Suheng? Aku menjadi tertarik dan ingin sekali lekas mendengar penjelasanmu.”

Bu Pun Su 1alu menceritakan apa yang telah ia ketahui. Di dalam dunia kang-ouw terbagi menjadi dua golongan yang biasa disebut golongan putih dan hitam. Golongan putih adalah para pendekar atau mereka yang memiliki kegagahan dan yang sepak terjangnya selalu bersih, sebaliknya golongan hitam adalah mereka yang selalu disebut pengikut hek-to (jalan hitam) atau lebih tepat lagi orang-orang yang mempunyai pekerjaan jahat seperti perampok-perampok, bajak-bajak, maling, copet dan lain-lain. Antara kedua golongan itu telah dapat diselesaikan dengan kemenangan pihak golongan putih. Untuk dapat mengendalikan golongan hitam ini banyak tokoh besar dunia kang-ouw yang sengaja menjadi perampok atau maling, yakni menjadi ketuanya dan selalu mengawasi sepak terjang anak buahnya sehingga mereka itu tidak menyeleweng, yakni dengan lain kata, tidak merampok atau mengganggu orang-orang yang dianggap tak patut diganggu. Bagi orang-orang gagah di waktu itu, merampok harta orang kaya yang pelit, membunuh mati orang yang berwatak jahat dan kejam, dianggap sebagai perbuatan yang bersih dan mulia juga. Pendeknya golongan penjahat pun terpecah dua, yakni jahat yang dilakukan demi memberantas kejahatan, dan jahat karena memang pada hakekatnya jahat dan keji.

GOLONGAN-GOLONGAN ini hanya kecil saja, atau boleh disebut golongan perorangan yang meliputi tokoh-tokoh yang hidup menyendiri. Akan tetapi ada pula golongan-golongan besar seperti perkumpulan-perkumpulan, terutama sekali perkumpulan agama dan partai-partai besar persilatan yang tidak lepas dari agama dan kepercayaan, dan justeru golongan-golongan besar ini yang menjadi induk dari golongan-golongan kecil. Dan di dalam golongan-golongan besar ini terdapat perpecahan pula!

Perpecahan ini tadinya meluas sehingga antara partai dengan lain partai terjadi bentrokan dan permusuhan hebat, hanya karena kepercayaan atau agama mereka berlainan. Akan tetapi, ratusan yang lalu, ketika muncul tokoh-tokoh besar seperti Tiat Mouw Couwsu dan lain-lain tokoh dari See-thian (Dunia Barat), bentrokan-bentrokan ini dapat diselesaikan dengan jalan rukun, sungguhpun kepercayaan mereka, bahkan ajaran limu silat mereka berlainan. Dan oleh tokoh-tokoh besar itu diletakkan garis yang memisahkan antara golongan yang disebut penganut Beng-kauw dan mereka yang menganut Mo-kauw.

Golongan Beng-kauw atau agama aseli ini tentu saja mempunyai anggauta yang paling banyak. Semua partai persilatan, seperti Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain menyebut diri sebagai golongan Beng-kauw. Hal ini tentu saja dapat dimengerti karena siapakah yang mau menyebut diri bukan penganut “agama aseli”? Golongan ini terdiri dari partai-partai besar yang menganut Agama Buddha, penganut ajaran Locu atau To-kauw, penganut ajaran Khong Hu Cu, penganut Kwan Im Pouwsat, dan lain-lain.

Siapakah gerangan yang termasuk agama Mo-kauw? Sebetulnya tidak ada golongan yang mau mengaku sebagai penganut Agama Sesat, akan tetapi golongan-golongan yang tidak beragama atau orang~orang kasar, atau juga mereka yang pernah melakukan pelanggaran dan dianggap jahat, mereka inilah yang disebut golongan Beng-kauw, sebagai golongan Kaum Sesat! Mereka ini sebagian besar merupakan kelompok orang yang menyembunyikan diri, yang bersakit hati dan karena mereka didesak ke sudut oleh mereka yang menganggap diri bersih, mereka ini dengan sengaja lalu berlaku keaneh-anehan, sengaja mereka membentuk sekumpulan tokoh-tokoh yang lihai ilmu silatnya, memisahkan diri dan tidak mau peduli lagi dengan urusan agama. Mereka melakukan apa saja yang mereka suka, dan hidup berkeliaran tidak tentu tempatnya akan tetapi mereka tidak pernah mendengar atau mencari perkara dengan golongan Beng-kauw, karena maklum bahwa golongan ini mempunyai banyak orang pandai. Akan tetapi, jangan kira bahwa golongan Mo-kauw ini sedikit jumlahnya anggautanya. Mereka makin lama makin banyak, sebagian besar terdiri dari orang-orang yang putus asa, sakit hati, dan orang-orang yang berwatak aneh.

Beberapa tahun yang lalu, muncullah tiga orang aneh dari See-thian (Dunia Barat) yang sebentar saja sudah dapat merebut kekuasaan di golongan Mo-kauw. Tiga orang ini memiliki kepandaian yang amat tinggi, tidak saja kepandaian limu silat mereka tinggi sekali juga mereka adalah ahli-ahli hoatsut (ilmu sihir) yang aneh. Dalam beberapa bulan saja mereka dapat mengangkat diri di dalam golongan Mo-kauw sehingga semua orang penganut agama sesat ini menganggap mereka bertiga sebagai ketua atau pemimpin.

Tiga orang aneh ini tahu akan keadaan orang-orang kang-ouw di golongan Mo-kauw yang amat terdesak dan dianggap orang-orang jahat oleh orang-orang kang-ouw umumnya, maka mempergunakan rasa dendam dan sakit hati ini, mereka sebentar saja dapat membentuk sebuah perserikatan yang amat kuat. Hal ini terjadi tanpa banyak ribut, karena memang penghidupan para penganut Mo-kauw ini tersembunyi, tidak diketahui oleh masing-masing kang-ouw.

Kalau sampai di situ saja persoalannya, kiranya tidak akan ada perubahan dan tidak akan menggegerkan, akan tapi ternyata bahwa tiga orang aneh ini mempunyai niat dan cita-cita yang lebih besar. Mereka ingin menguasai seluruh dunia kang-ouw ingin menaklukkan partai-partai besar dan ingin mengangkat diri menjadi ketua perkumpulan yang paling berpengaruh di Tiongkok! Setelah orang-orang Mo-kauw ini berada di bawah pimpinan mereka, terjadilah hal-hal yang aneh di dunia kang-ouw. Kitab pelajaran limu silat yang amat dipuja-puja oleh partai Siauw-lim-pai, yakni kitab peninggalan dari Tat Mouw Couwsu, pada suatu hari telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!

Selagi Siauw-lim-pai, geger dan semua tokoh Siauw-lim-pai berusaha mencari kitab yang hilang ini, tiba-tiba puncak Kun-lun-pai juga geger karena hilangnya pedang pusaka Pek-kong-kam yang ditaruh di ruangan suci kelenteng partai besar itu!

Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai adalah partai-partai besar yang sudah berpuluh tahun terkenal sebagai partai persilatan yang berpengaruh dan mempunyai banyak orang pandai. Oleh karena itu, kehilangan dua benda pusaka ini tentu saja membuat mereka menjadi amat penasaran dan juga malu. Mereka menjaga rapat peristiwa ini agar jangan sampai tersiar di luaran, dan di samping itu mereka mengerahkan orang-orang pandai untuk mencari benda pusaka yang lenyap itu.

Akan tetapi, betapapun rapat mereka menjaga rahasia, berita itu tetap bocor juga dan sebentar saja seluruh kang-ouw mendengar bahwa kitab peninggalan Tiat Mouw Couwsu dari Sauw-lim-pai dan pedang pusaka Pek-liong-kiam dari Kun-lun-pai telah dicuri orang dan ini merupakan hal yang menggegerkan pula, karena biasanya tidak seorang pun anggauta Siauw-lim-pai atau Kun-lun-pai yang berani membocorkan hal yang dirahasiakan. Maka timbullah dugaan bahwa hal ini memang sengaja dibocorkan oleh orang atau orang-orang yang melakukan pencurian itu. Akan tetapi apa kehendak mereka?

Tokoh besar di dunia persilatan, yang baru belasan tahun muncul namun namanya sudah dijunjung tinggi dan disegani dengan penuh kekaguman dan hormat oleh semua ketua partai besar, yakni Bu Pun Su mendengar pula akan hal ini dan ia cepat menyelidiki. Dengan kepandaiannya akhirnya Bu Pun Su menaruh hati curiga kepada golongan Mo-kauw. Bahkan ia mendengar pula akan adanya tiga orang aneh di golongan Mo-kauw ini yang kabarnya memiliki kepandaian luar biasa tingginya.

“Demikianlah, Sute,” kata Bu Pun Su kepada Han Le setelah menuturkan itu semua. “Kiranya tidak akan meleset terlalu jauh dugaanku bahwa tiga orang aneh itu mempunyai hubungan dengan dua pencurinya ini. Siapa lagi kalau bukan mereka yang berani dan begitu gegabah mencuri dua barang pusaka keramat yang dipuja-puja oleh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai? Dan aku mendengar kabar pula, bahwa Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko, itu tokoh Mo-kauw yang berkepandaian tinggi dan bertabiat ganas, telah diambil murid oleh tiga orang itu. Kalau Hek Pek Mo-ko dua saudara yang berkepandaian begitu tinggi masih menjadi murid mereka, dapat diduga bahwa kepandaian mereka memang betul-betul tinggi. Selain ini, aku masih mendengar kabar lagi bahwa kecuali Hek Pek Mo-ko, mereka bertiga masih mempunyai seorang murid perempuan yang jauh lebih jahat, bahkan lebih pandai daripada Hek Pek Mo-ko. Kalau pihak Mo-kauw mempunyai begitu banyak orang-orang pandai, sedangkan sepak terjang mereka selalu disembunyikan, aku merasa kuatir sekali.”

“Suheng, urusan itu sebetulnya tidak amat besar, akan tetapi mengapa tadi Suheng menyebut-nyebut tentang kebangsaan dan kebudayaan? Apa hubungannya kehilangan kitab dari Siauw-lim-pai dan pedang dari Kun-lun-pai itu dengan kebangsaan dan kebudayaan?”

Bu Pun Su menarik napas panjang, “Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute. Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini telah menguasai golongan Mo-kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri ini. Mereka adalah orang-orang dari barat, dan mereka berhasil menaklukkan semua orang kang-ouw, dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Tidak ingatkah kau betapa orang orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orang-orang kang-ouw berada di bawah kekuasaan tiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita sendiri bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh kebudayaan asing pula? Ini bukan soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu agar kau suka membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua partai persilatan itu untuk bersama-sama menghadapi mereka itu.”

“Siapakah sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu.”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba terbatas tentang mereka. Kabarnya mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama bernama atau berjuluk Hek-te-ong (Raja Tanah Hitam), yang kedua berjuluk Pek-in-ong (Raja Awan Putih) dan yang ketiga berjuluk Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari barat dan begitu datang mereka merobohkan semua tokoh Mo-kauw sehingga para tokoh Mo-kauw itu takluk dan mengangkat mereka menjadi pemimpin dan menyebut mereka Thian-te Sam-kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit). Selain itu, rnereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi, Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri.”

“Sekarang apa yang hendak kaulakukan Suheng?”

“Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid dari Thian-te Sam-kauwcu.”

“Sarang dari muridnya? Di sini?”

“Ya, di lembah Huang-ho sebelah selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-te Sam-kauwcu menyebar anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampaidi mana kelihaian mereka, namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-te Sam-kauwcu, aku tidak mau berlaku sembrono dan lebih menguntungkan kalau kau ikut serta.”

Han Le merasa agak terheran. Ia percaya akan kepandaian suhengnya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada kepandaiannya, mengapa suhengnya mengajaknya?

“Suheng, bukankah kau mengajak aku untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka itu tidak akan disalah-tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?”

Bu Pun Su tersenyum. “Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek Mo-ko biarpun menjadi tokoh Mo-kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-kauw yang selalu menjauhkan diri dan menjaga agar jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan Beng-kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka, maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya.”

Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su. Tempat yang dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di tepi Sungai Huang-ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil dan kelihatannya menyeramkan. Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun mereka berjalan biasa saja. Berturut-turut, beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani ada pula seperti nelayan, bertemu dengan mereka. Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan bercuriga. Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam mengikuti Han Le dan Bu Pun Su. Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka berpura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.

Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan rumah-rumah penduduk yang kecil lagi miskin. Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya, yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah hwesio-hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain, melainkan orang-orang dusun, laki-laki perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di dalam kelenteng itu!

Mereka ini ketika melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, segera melarikan diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan. Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le, “Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu.”

Han Le memandang ke dalam kelenteng. Dari pintu yang terbuka, kelihatan tiga buah arca sebesar manusia, merupakan tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti hwesio-hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi besar dan angker. Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, sedangkan yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan matanya sipit sekali seperti meram.

“Itulah agaknya patung-patung Thian-te Sam-kauwcu yang dipuja-puja semua pengikutnya,” kata Bu Pun Su pula kepada Han Le.

Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika ia melihat dua orang itu. Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar seperti telinga gajah, pakaiannya serba hitam. Adapun orang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus, sedangkan pakaiannya serba putih. Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, Han Le dapat menduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lwee-keh yang memiliki kepandaian tinggi. Juga, melihat pakaian mereka biarpun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.

“Ha, ha, ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Tai-hiap! Sungguh kami mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan berterima kasih sekali!”

Bu Pun Su dan Han Le tertegun. Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat mengenal mereka? Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam putih ini dan keadaan Bu Pun Su maupun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga mudah dikenal orang.

Berbeda dengan Hek Mo-ko yang suka tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut dan wajahnya murung.

“Kalian ini orang-orang Beng-kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai orang-orang busuk dari Mo-kauw?” tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang sipit.

Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan ia selalu bicara dan bertindak secara langsung. Sambil tersenyum ia berkata terus terang,

“Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan suteku ini datang ke sini karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-thian yang kini mencengkeram Mo-kauw, tiga orang See-thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula tentang hilangnya kitab rahasia dari Siauw-lim-pai dan pedang pusaka dari Kun-lun-pai, dan aku mendengar pula bahwa banyak tokoh Mo-kauw yang tadinya biarpun berbeda paham dengan Beng-kauw namun tetap menjaga kegagahan, sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis muda, yang tentu saja dipaksanya! Dan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah menikah.”

Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli. Suara ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama makin meninggi dan nyaring sehingga menyakitkan telinga. Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa lwee-kangnya dari Hek Mo-ko ini amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.

“Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-kauw! Ada apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang guru besar kami telah datang, sengaja dari barat mereka datang untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha, ha, ha, agaknya kau benar-benar iri hati, apalagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha, ha, ha!”

“Ngaco!” Han Le membentak marah. “Bagaimana jawabanmu tentang hilangnya kitab rahasia Siauw-lim-pai dan pedang pusaka Kun-lun-pai?”

Hek Mo-ko memandang kepada Han Le dan tersenyum sindir. “Hilangnya kitab dan pedang, ada hubungan apakah dengan kami? Kau dan suhengmu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai.”

“Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!” kata Bu Pun Su.

“Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami…!” kata Pek Mo-ko marah dan ia bergerak untuk menghalangi. Akan tetapi ia melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Mo-ko tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!

Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko. “Sute, tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!”

Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.

Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng. Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau pembantu Hek Pek Mo-ko, orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat dan kuat, maju menubruknya. Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang! Bu Pun Su tidak pedulikan mereka, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang awas dan tajam. Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kalau kitab dan pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya takkan terlepas dari pandang mata pendekar ini.

Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat. Mereka ini tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandang dengan mata terbelalak.

“Apakah kau isteri Hek Mo-ko?” tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama.

Wanita itu menggeleng kepalanya, “Aku isteri Pek Mo-ko, kau siapakah berani berlancang memasuki kamarku?” Kemudian wanita ini tertawa menyeringai sehingga muka yang tadinya cantik ini berubah seperti muka iblis. Bu Pun Su berdebar kaget. Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya! Ia tidak bertanya lebih lanjut dan ketika ia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lain ia bertanya pula,

“Hm, kau agaknya isteri Hek Mo ko.”

“Benar,” jawab wanita itu, “Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?”

Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat menahan hatinya untuk tidak bertanya.

“Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?”

Untuk sejenak wanita itu diam saja, kemudian ia berdiri dan berkata marah, “Kau ini manusia dari manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara baik-baik dan sah, ada sangkut-paut apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: