Ang I Niocu ~ Jilid 5

Kiang Liat terkejut sekali dan ia membelalakkan matanya. “Eh, apa, apa yang kauucapkan ini? Bagaimana kau bisa bicara seperti ini, isteriku? Bagaimana kau bisa bicara tentang aku mengambil bini muda?”

Bi Li memeluk suaminya dan terseyum. “Mengapa begitu saja kau kaget? Bukankah sudah menjadi kebiasaan umum di kalangan bangsawan dan hartawan untuk mengambil bini muda sampai tiga empat orang? Tentu saja aku lebih bersukur kalau kau tidak melakukan ini, akan tetapi kalau terpaksa… ambillah Ceng Si, pelayanku yang setia itu.”

“Omongan apa ini? Aku takkan menikah lagi dengan siapapun juga! Aku cinta kepadamu dan kau seorang bagiku sudah cukup. Mengapa mesti menurut kebiasaan gila itu? Apalagi harus mengambil Ceng Si? Ah…! Tidak, seribu kali tidak!” kata-katanya ini diucapkan keras-keras dan mereka tidak tahu bahwa Ceng Si mendengarkan di luar jendela. Gadis ini menjadi pucat mendengar ucapan keras dari Kiang Liat dan untuk kedua kalinya, ia menangis di kamarnya.

Setelah yakin bahwa usahanya mendekati Kiang Liat tidak berhasil dan harapannya untuk menjadi isteri ke dua dari Kiang Liat sudah tidak mungkin lagi, Ceng Si mengambil jalan ke dua. Kini ia mengalihkan perhatiannya kepada Cia Sun dan mulailah ia mengadakan hubungan dengan siucai itu. Mulailah ia memeras Bi Li untuk memberi uang dan perhiasan kepada Cia Sun melalui dia. Bahkan ia berani menyampaikan pesan Cia Sun, minta perhiasan rambut kupu-kupu dan bunga cilan yang amat indahnya itu.

Bi Li tidak berani menolak. Nyonya muda ini maklum bahwa ia telah berada dalam kekuasaan Ceng Si dan Cia Sun. Sekali saja ia menolak permintaan mereka dan mereka menyampaikan rahasianya kepada suaminya, akan celakalah dia! Bi Li terlalu mencinta suaminya dan baru sekarang terbuka matanya bahwa dahulu dia tertipu. Bahwa Cia Sun mencintanya karena dia cantik dan terutama sekali karena dia kaya. Dan ia pun kini tahu pula bahwa antara Cia Sun dan Ceng Si terdapat perhubungan yang kotor. Baru terbuka matanya betapa rendah dan jahatnya siasat dua orang itu terhadapnya, dan dia menyesal. Pernikahannya dengan Kiang Liat membuat Bi Li merasa berbahagia sekali, akan tetapi ia menjadi gelisah kalau teringat akan ancaman-ancaman dari Ceng Si dan Cia Sun.

Ia tahu bahwa nasibnya terletak di dalam genggaman tangan Ceng Si, pelayan ini telah berhasil mendapatkan surat yang dahulu ia tulis untuk Cia Sun, dan dengan surat inilah Ceng Si selalu mengancamnya apabila minta sesuatu.

Bi Li tidak berani membuka semua rahasia ini kepada suaminya. Kalau saja ia berani melakukan hal ini, kiranya semua akan beres dan takkan timbul urusan besar. Ia belum dapat menyelami jiwa yang gagah dari suaminya, tidak mengenal akan watak orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang menjunjung tinggi kegagahan dan menghargai kejujuran. Bi Li merasa ngeri untuk menceritakan tentang urusannya dan kesulitannya itu kepada suaminya. Ia takut kalau-kalau disangka yang bukan-bukan, disangka berlaku tidak senonoh di waktu dahulu. Padahal, kalau ia bercerita terus terang, Kiang Liat akan dapat mempertimbangkannya dengan bijaksana. Sayang seribu sayang bahwa Bi Li tidak berani membuka rahasia, bahkan menutupinya dengan penuh rasa khawatir, dan ia memberikan apa saja yang dikehendaki oleh Ceng Si dan Cia Sun sehingga banyak uang dan perhiasan mengalir keluar!

Keadaan ini berlangsung terus tanpa diketahui oleh Kiang Liat dan beberapa bulan kemudian Kiang Liat mengajak isterinya pindah ke Sian-koan. Tadinya Kiang Liat segan mengajak Ceng Si, akan tetapi atas desakan Bi Li, terpaksa Ceng Si ikut juga, menjadi pelayan pribadi Bi Li.

Setahun kemudian, Bi Li melahirkan seorang anak perempuan yang mungil sekali. Suami isteri itu merasa girang dan Kiang Liat memberi nama puterinya itu Kiang Im Giok. Mula-mula Bi Li memang khawatir kalau suaminya kecewa, karena pada masa itu, para ayah ingin melihat anaknya lahir laki-laki. Namun ternyata Kiang Liat berbeda dengan orang lain. Ia sama sekali tidak kelihatan kecewa dan untuk ini Bi Li merasa amat berterima kasih. Cinta kasihnya terhadap suaminya makin menebal. Hidup nyonya muda ini tentu akan penuh kebahagiaan kalau saja ia tidak diganggu oleh Ceng Si dan Cia Sun.

Cia Sun telah mendapatkan banyak uang yang diperasnya dari Bi Li melalui Ceng Si, berubah menjadi seorang pemuda pemogoran dan pemalasan. Uang itu cepat sekali habisnya, dihambur-hamburkannya seperti orang membuang pasir belaka. Setelah Bi Li dan suaminya pindah ke Sian-koan, ia pun menyusul ke kota itu, menyewa kamar di dalam sebuah hotel itu. Ia membeli seekor kuda yang bagus dan kerjanya setiap hari hanya berpesiar! Perhubungannya dengan Ceng Si dilanjutkan tanpa ada halangan.

Pada suatu hari, ketika Bi Li dan suaminya sedang menimang-nimang puteri mereka, Bi Li berkata dengan nada penuh keheranan,

“Suamiku, Im Giok mempunyai muka yang hampir sama dengan Enci Pek Hoa.”

Kiang Liat terkejut bukan main. “Apa katamu? Pek Hoa siapa…?”

Bi Li juga terkejut, merasa bahwa ia telah kelepasan bicara, maka dengan muka kemerahan ia berkata,

“Enci Pek Hoa adalah seorang dewi dari kahyangan. Suamiku, jangan kau mentertawakan aku dan mengira aku tahyul dan bicara yang bukan-bukan. Kejadian itu amat ajaib maka selama ini aku tak pernah mengatakan kepadamu, takut kalau-kalau kau akan mentertawakan aku.”

“Coba ceritakan, isteriku. Aku takkan mentertawakanmu. Siapakah dewi itu dan bagaimana kau bisa bertemu dengan dia?” tanya Kiang Liat dan hatinya berdebar gelisah.

Bi Li lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat yang dipuji-pujinya sebagai seorang dewi yang amat cantik jelita. Kiang Liat mendengarkan penuturan isterinya itu dengan mata terbelalak dan hatinya merasa tidak enak sekali. Tahulah dia sekarang bahwa dahulu Pek Hoa dapat datang mencarinya ke Sian-koan setelah mendengar dari Bi Li bahwa dia adalah murid dari Han Le!

“Pek Hoa-cici baik sekali, suamiku. Dia bilang bahwa kelak dia akan datang menjenguk kalau aku sudah mempunyai anak…”

Makin gelisah hati Kiang Liat. Akan tetapi dia diam saja, tidak berani ia menerangkan kepada isterinya yang lemah itu bahwa sebenarnya orang yang dikira dewi oleh isterinya itu bukan lain adalah seorang iblis wanita yang amat jahat!

Semenjak mendengar penuturan isterinya itu, Kiang Liat selalu bersikap waspada. Tiap malam ia diam-diam melakukan penjagaan, takut kalau-kalau iblis wanita itu datang mengganggunya. Oleh karena kewaspadaannya inilah maka ia mulai melihat sesuatu yang amat mencurigakan di waktu malam. Kadang-kadang ia mendengar suara kaki kuda yang datang dari jauh kemudian berhenti di belakang rumahnya, agak di luar pagar kebun bunga kecil yang berada di belakang rumah. Kadang-kadang pula ia mendengar suara orang bercakap-cakap di tengah malam menjelang pagi!

Hatinya mulai curiga dan pada malam hari itu, ketika mendengar suara kuda berhenti di belakang, ia diam-diam turun dari pembaringan lalu berjalan keluar melalui pintu belakang. Waktu itu telah menjelang fajar dan ia membuka pintu perlahan-lahan, mengintai keluar.

Ia melihat sesosok bayangan keluar dari pintu samping, berlari-lari ke arah taman bunga. Kemudian, bayangan ini bertemu dengan bayangan lain yang memasuki pintu pagar yang agaknya sudah dibuka dari dalam. Hati Kiang Liat berdebar gelisah. Melihat gerak-gerik dua orang itu, mereka adalah orang-orang biasa dan sama sekali tidak seperti gerakan orang yang pandai ilmu silat, apalagi kalau yang datang Pek Hoa tentu tidak demikian caranya.

Ketika ia menyelinap dan bersembunyi di balik batang pohon kembang, Kiang Liat merasa mendongkol bukan main karena ia mengenal bahwa bayangan yang keluar dari pintu samping itu adalah Ceng Si. Pelayan wanita yang muda, genit dan cantik ini telah mengadakan pertemuan dengan seorang laki-laki muda yang datang menunggang kuda!

“Hm, benar-benar sial!” pikirnya. “tidak tahunya pelayan kita ini adalah seorang yang tidak tahu malu sekali. Mengadakan pertemuan dengan laki-laki di tengah malam, mencemarkan nama kehormatan keluargaku! Dia harus diusir pergi!

Dua orang itu bicara bisik-bisik dengan mesra sekali sehingga Kiang Liat malu untuk muncul. Ia menanti sampai Ceng Si yang kelihatan memberikan sesuatu kepada laki-laki itu kembali ke dalam rumah, kemudian ia mendengar laki-laki itu menunggang kudanya kembali yang dibalapkan cepat-cepat pergi dari situ.

Kiang Liat menjadi bingung. Haruskah hal ini ia beritahukan kepada Bi Li? Isterinya kelihatan begitu cinta dan sayang kepada Ceng Si dan kalau saat ini ia beritahukan, apakah tidak akan membikin isterinya berduka?

Kemudian ia teringat akan sesuatu. Ada hal yang amat mengherankan hatinya, yakni persediaan uangnya cepat sekali berkurang bahkan isterinya yang ia tahu mempunyai banyak uang, cepat sekali kehabisan uang. Apakah Ceng Si tidak melakukan pencurian? Tadi ia melihat gadis pelayan itu memberi sesuatu kepada kekasihnya, apakah itu bukan uang atau benda berharga?

Berpikir sampai di sini, kembali Kiang Liat tertegun. Ia sudah lama tidak melihat isterinya memakai perhiasan! Bahkan perhiasan berupa kupu-kupu dan bunga cilan yang dulu ia berikan kepada Bi Li sebagai emas kawin, tak pernah menghias rambut isterinya itu? Ia memang seorang laki-laki yang tidak begitu peduli tentang segala macam perhiasan, maka hal ini terlewat begitu saja dari perhatiannya. Memang pernah secara iseng-iseng ia bertanya kepada isterinya mengapa tidak pernah memakai perhiasan, akan tetapi isterinya menjawab,

“Untuk apakah semua perhiasan itu? Aku sudah menikah dengan kau, bahkan sekarang sudah menjadi ibu, tak perlu lagi kiranya bersolek.”

Jawaban ini menyenangkan hatinya, karena Kiang Liat sendiri suka akan kesederhanaan, maka ia tidak bertanya lebih lanjut. Sekarang melihat peristiwa yang terjadi di taman bunga timbul berbagai dugaan di dalam hatinya. Tak salah lagi, mungkin sekali Ceng Si melakukan pencurian. Siapa tahu kalau isterinya kehilangan semua perhiasan itu, akan tetapi tidak berani bilang karena takut. Isterinya begitu lemah dan begitu sayang kepada Ceng Si.

Kiang Liat tidak dapat tidur. Pada keesokan hatinya, ia bangun dengan kepala pusing. Pagi-pagi sekali Ceng Si sudah datang membawa segala keperluan isterinya, bahkan dengan amat rajin dan telaten pelayan ini mengurus Im Giok dengan penuh kasih sayang. Isterinya juga kelihatan begitu berterima kasih kepada Ceng Si sehingga ia tidak tega untuk menimbulkan urusan itu.

“Lebih baik kutangkap jahanam itu!” pikir Kiang Liat dengan gemas. Benar, itulah jalan satu-satunya agar tidak menyinggung perasaan isterinya. Ia harus menangkap laki-laki yang sering kali datang menemui Ceng Si, kemudian memaksanya mengaku!

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi, Cia Sun mengaburkan kudanya dengan cepat. Seperti biasa, malam tadi ia mengadakan pertemuan dengan Ceng Si di taman bunga dan setelah meninggalkan tempat pertemuan rahasia itu, ia membawa sekantung uang dan beberapa potong benda berharga. Sambil membalapkan kudanya, Cia Sun tersenyum-senyum gembira. Betapa ia takkan merasa girang? Ceng Si telah menjadi kekasihnya, dan dengan bantuan kekasihnya ini, ia dapat menggerogoti kekayaan keluarga Kiang. Song Bi Li atau Nyonya Kiang yang sudah berada di dalam cengkeramannya itu tidak berdaya dan terpaksa menuruti segala permintaannya.

“Ceng Si memang manis dan cerdik,” pikir Cia Sun sambil memperlambat larinya kuda karena ia telah tiba di luar kota dan merasa aman. “Surat Bi Li padaku masih ada disimpannya dan dengan surat itu, ia dapat menakut-nakuti Bi Li. Sekali saja surat itu diperlihatkan kepada suaminya, tentu ia akan celaka.”

Biarpun sudah banyak uang yang diperasnya dari Bi Li, namun tetap saja Cia Sun merupakan seorang miskin. Semua uang itu dihabiskan di atas meja perjudian, dipakai foya-foya dengan sahabat-sahabatnya dan pendeknya, Cia Sun hidup sebagai pemuda kaya-raya yang royal dan mata keranjang.

Tentu saja Ceng Si tidak tahu akan hal ini dan sama sekali tidak pernah menduga. Pelayan yang cantik ini mabuk oleh janji-janji Cia Sun yang menuturkan bahwa semua uang dan barang itu disimpannya baik-baik untuk dipergunakan sebagai modal dan bekal hidup kelak apabila mereka telah hidup sebagai suami isteri!

Selagi Cia Sun enak-enak mencongklang kudanya, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda yang dilarikan cepat sekali. Cia Sun tidak menyangka buruk dan mengira bahwa ada orang berkuda hendak lewat mendahuluinya, maka ia minggirkan kuda tunggangannya. Benar saja, seorang penunggang kuda membalapkan kudanya menyusul, akan tetapi, tiba-tiba orang itu setelah berada di depan Cia Sun, menghentikan kuda sambil menarik kendali sehingga kudanya berputar dan menghadapi kuda Cia Sun.

Melihat orang muda gagah yang menunggang kuda itu, seketika wajah Cia Sun menjadi pucat dan dadanya berdebar keras. Biarpun belum berkenalan namun diam-diam ia sering kali melihat dan memperhatikan suami Bi Li dan orang yang kini mencegatnya bukan lain adalah Kiang Liat, suami Bi Li! Akan tetapi, sastrawan muda ini dapat menenangkan hati dan memaksa diri tersenyum.

“Tuan siapakah dan ada keperluan apa dengan siauwte?” tanya Cia Sun dengan suara ramah-tamah, sikap seorang terpelajar yang sopan-santun.

Akan tetapi Kiang Liat tidak tertipu oleh sikap ini. Telah beberapa kali Kiang Liat mengintai di dalam taman dan tahulah ia bahwa pemuda itu diam-diam telah mengadakan hubungan rahasia dengan Ceng Si dan gadis pelayan itu memberi barang-barang berharga kepadanya. Tentu saja Kiang Liat merasa marah dan curiga. Dari mana Ceng Si bisa mendapatkan barang-barang berharga dan uang?

“Bangsat kecil, tak perlu kau berpura-pura dan bermanis mulut. Aku sudah melihat dan tahu akan semua perbuatanmu di dalam taman rumahku. Ayo sekarang kau mengaku, siapa namamu dan mengapa kau berani mampus memasuki taman mengadakan pertemuan dengan pelayan kami!” Kiang Liat melompat turun dari kudanya dan memandang kepada Cia Sun dengan sinar mata mengandung ancaman, sedangkan pecut kudanya dipegang erat-erat di tangan kanan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Cia Sun mendengar ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa suami Bi Li ini sudah melihatnya mengadakan pertemuan dengan Ceng Si. Sampai di manakah pengetahuan orang she Kiang ini? Tanpa disadarinya, saking gelisah dan kagetnya, Cia Sun mengerling ke arah kantung uang yang berada di atas punggung kuda.

“Ya, itu pun kauterima dari Ceng Si! Hendak kulihat, apakah isinya!” kata pula Kiang Liat sambil melangkah maju.

Tentu saja Cia Sun tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia tahu bahwa barang-barang dan uang yang kini dibawanya adalah milik hartawan muda ini yang diterima oleh Ceng Si dari Bi Li. Maka ia lalu mengambil sikap seakan-akan ia marah besar.

“Manusia kurang ajar! Apakah kau hendak merampok?” bentaknya sambil mencambuk kudanya. “Aku tidak kenal padamu dan aku tidak mempunyai urusan denganmu. Pergi!”

Akan tetapi Kiang Liat mana mau melepaskannya? Sekali mengulur lengan, Kiang Liat sudah menangkap pergelangan tangan Cia Sun dan sebelum sastrawan bermoral bejat ini tahu apa yang terjadi, ia telah diseret turun dari atas kuda!

“Keparat busuk, kau tidak lekas-lekas mau mengaku?” bentak Kiang Liat yang sudah menjadi marah melihat sikap orang itu.

Cia Sun yang terbanting dari atas kuda merasa pantatnya sakit sekali. Sambil meringis ia merayap bangun. Ia maklum bahwa pengakuan berarti mencari celaka, maka ia memberanikan diri, mengangkat dada dan berkata,

“Kau ini orang gila atau orang mabuk? Kalau kau hendak merampok, carilah saudagar-saudagar yang kaya, jangan mengganggu seorang siucai yang miskin seperti aku!”

Makin mendongkol hati Kiang Liat. Melihat sikap pemuda sastrawan ini, terang sekali baginya bahwa ia menghadapi seorang yang curang dan palsu.

“Jahanam, jangan kau berpura-pura lagi. Sudah beberapa kali aku melihat kau mengadakan pertemuan dengan pelayan kami di taman. Kau tidak mau lekas-lekas mengaku? Atau menanti sampai aku turun tangan memukulmu?”

“Mengaku apa? Aku tidak pernah melakukan hal yang kausebutkan tadi. Aku tidak bersalah apa-apa…”

Kiang Liat marah sekali. Kaki kirinya bergerak menendang dan tersungkurlah Cia Sun. Baiknya Kiang Liat masih belum tahu akan semua perbuatan Cia Sun yang disangkanya hanya seorang pemuda yang main gila dengan gadis pelayannya saja. Maka tendangannya itu perlahan saja dan hanya cukup membikin Cia Sun roboh tanpa menderita luka berat. Akan tetapi cukup membikin Cia Sun merintih-rintih karena pahanya yang tertendang terasa sakit bukan main. Beberapa kali ia mencoba untuk bangun, akan tetapi tak dapat sehingga akhirnya ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil memandang kepada Kiang Liat dengan muka pucat.

“Hayo lekas mengaku! Jangan menanti sampai aku naik darah dan memukul kepalamu sampai hancur!”

Cia Sun mulai ketakutan. Tempat itu sunyi dan masih pagi sekali, dan melihat sepak terjang Kiang Liat, ia maklum bahwa ia takkan mungkin dapat melawan. Apalagi, memang ia telah mendengar bahwa hartawan muda she Kiang ini adalah seorang ahli silat yang amat tinggi kepandaiannya.

“Ampunkah hamba Wangwe…” katanya dan tiba-tiba sastrawan muda ini berlutut! Kiang Liat memandang dengan hati merasa sebal sekali. Benar-benar ia menghadapi seorang pemuda yang mempunyai martabat rendah sekali.

“Jangan banyak aksi, lekas mengaku!” bentaknya.

“Hamba akan mengaku terus terang. Sesungguhnya, telah lama hamba berkenalan dengan Nona Ceng Si. Hubungan hamba dengan dia sudah berjalan beberapa tahun, semenjak dia belum pindah ke Siang-koan. Hamba tidak melakukan sesuatu yang jahat, dan hubungan hamba dengan Ceng Si berdasarkan suka sama suka… harap Wangwe sudi memberi maaf.”

“Kau selalu menerima bungkusan dan kantung dari Ceng Si, apakah isinya?”

Cia Sun menyembunyikan rasa takutnya. “Hanya… hanya makanan dan masakan, Wangwe. Ceng Si seringkali memberi makanan kepada hamba…”

“Dusta!” bentak Kiang Liat dan dua kali ia menggerakkan tangan, kantung yang masih di atas sela kuda Cia Sun telah diambilnya. Ia membuka kantung itu dan berjatuhanlah isinya ke atas tanah. Uang emas, perak yang jumlahnya tidak sedikit.

“Makanan kaubilang? Hayo bilang, dari mana kau mendapatkan ini semua?”

“Dari… dari… Ceng Si, katanya itu uang simpanannya selama ia bekerja… dia berikan kepada hamba untuk… untuk…”

“Untuk apa?” Kiang Liat tidak sabar lagi.

“Wan-gwe, Ceng Si dan hamba mengambil keputusan untuk menikah dan karena hamba seorang miskin, Nona Ceng Si yang baik itu memberikan uang simpanannya ini kepada hamba untuk mempersiapkan dan memilih hari pernikahan.”

Kiang Liat percaya akan keterangan ini. Memang ia pun sudah menyaksikan sendiri bahwa pemuda ini mengadakan hubungan asmara dengan Ceng Si, maka semua keterangannya tadi masuk di akal. Yang mencurigakan hatinya adalah Ceng Si. Dari mana pelayan itu mendapatkan uang begini banyak? Mungkinkan uang simpanannya?

“Siapa namamu?” tanyanya tiba-tiba.

“Hamba bernama Cia Sun…”

“Sekarang dengarlah. Aku Kiang Liat bukan orang yang boleh kau permainkan begitu saja. Kau sudah berani lancang memasuki taman rumah kami tanpa ijin, pada malam hari pula. Ini saja sudah menjadi alasan cukup kuat untuk membunuhmu sebagai seorang maling atau penjahat. Akan tetapi aku maafkan kau dengan satu syarat bahwa besok pagi kau harus datang ke rumahku dan dengan resmi kau mengajukan pinangan untuk diri Ceng Si. Kau boleh menyuruh seorang perantara wanita untuk mengajukan pinangan itu kepada Hujin (Nyonya). Kalau besok kau tidak melakukan hal ini, awas, aku akan mencarimu dan mengambil nyawamu!”

“Baik, Wan-gwe… baik…” Cia Sun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berlutut terus.

Kiang Liat mencemplak kudanya dan membalapkan kuda itu menuju pulang. Hatinya lega. Ia memang tidak suka sekali melihat Ceng Si menjadi pelayan isterinya. Gadis pelayan ini terlalu genit dan terlalu cantik, pula amat berani. Dengan terang-terangan gadis pelayan itu mencoba untuk menjatuhkan perhatiannya, mencoba untuk menjatuhkan hatinya dengan pelbagai aksi dan gaya, lebih celaka lagi, isterinya entah mengapa, nampak suka sekali kepada Ceng Si sehingga bahkan rela kalau Ceng Si menjadi bini mudanya! Sekarang ia dapat menangkap Cia Sun dan memaksa sastrawan muda itu mengawini Ceng Si. Inilah jalan terbaik.

Kiang Liat amat cinta kepada isterinya, ia tidak mau menyinggung perasaan Bi Li dan biarpun ia merasa curiga dan heran melihat sikap isterinya yang berlebihan terhadap Ceng Si, akan tetapi ia tidak tega untuk bertanya atau mendesak. Ia sudah percaya penuh akan kesetiaan dan kecintaan isterinya kepadanya, maka ia tidak mau memperlihatkan sesuatu sikap yang kurang percaya. Oleh karena ini, setibanya di rumah, ia tidak bercerita sesuatu kepada isterinya teritang pertemuannya dengan Cia Sun.

Pada keesokan harinya, betul saja di rumah gedung keluarga Kiang Liat datang seorang wanita setengah tua yang terkenal di kota Sian-koan sebagai seorang perantara perjodohan. Wanita ini datang untuk mengajukan pinangan atas diri Ceng Si untuk sasterawan Cia Sun! Mendengar ini, Bi Li nampak terheran-heran, akan tetapi juga girang dan ia tidak tahu bahwa diam-diam suaminya memandangnya dengan kerling tajam. “Panggil Ceng Si ke sini…!” kata Bi Li kepada seorang pelayan lain, suaranya nyaring dan jelas sekali bahwa ia bergembira.

Ceng Si tergopoh-gopoh. Gadis ini sudah mendengar dari pelayan yang memanggilnya karena pelayan ini tadi telah mendengar tentang peminangan itu. Ceng Si juga terheran-heran dan bingung ketika Bi Li berkata kepadanya,

“Ceng Si, Bibi ini datang untuk meminangmu atas nama seorang sastrawan muda yang bernama Cia Sun. Biarpun aku dan suamiku berhak mengambil keputusan karena kau tidak berkeluarga lagi, akan tetapi merasa lebih baik kami menanyakan pendapatmu sendiri. Bagaimana?”

Ceng Si kebingungan. Sebentar ia memandang kepada Bi Li dan di lain saat ia menatap wajah pelamar itu. Semua ini diikuti oleh pandangan mata Kiang Liat yang duduk di sudut dan agaknya tidak mau tahu tentang persoalan perjodohan ini.

“Akan tetapi…” kata Ceng Si bingung, “bagaimana ini, Hujin? Saya… saya masih suka melayani Hujin dan belum ada pikiran untuk menikah…” Dari tempat duduknya Kiang Liat dengan heran sekali melihat betapa pandang mata pelayan itu amat tajam dan berpengaruh ketika memandang kepada Bi Li!

“Ceng Si, bukankah hal ini amat baik sekali? Lebih baik daripada kau bekerja di sini? Ingat, usiamu sudah dua puluh tahun dan pelamar ini bukan orang sembarangan. Kiranya sudah amat cocok apabila kau menjadi isteri seorang siu-cai…”

“Betul sekali kata-kata Kiang-hujin,” perantara itu berkata cepat-cepat. “Cia-siucai seorang pemuda yang tidak saja tampan sekali, akan tetapi juga amat terpelajar, sopan-santun dan berbudi mulia. Biarpun dia bukan dari keluarga kaya, akan tetapi ia bukan tidak beruang. Ia menyediakan semua biaya untuk upacara pernikahan!”

“Akan tetapi… aku belum suka berumah tangga sendiri!” kata Ceng Si dan di dalam kata-katanya ini terkandung suara demikian keras dan menentukan. Kiang Liat terkejut sekali karena ia melihat betapa isterinya menjadi berubah air rnukanya dan agaknya isterinya itu tidak berani menentang keputusan Ceng Si! Hal ini menimbulkan kemarahan di dalam hatinya dan berkatalah Kiang Liat,

“Ceng Si, dalam hal ini sekali-kali tidak betul kalau kau berkeras kepala! Agaknya memang kau sudah berjodoh dengan pelamar ini, karena malam tadi aku bermimpi melihat kau bertemu dengan seorang sastrawan muda di dalam taman bunga. Bukankah ini tanda bahwa kau memang berjodoh padanya? Maka kau tidak boleh menampik!”

Perantara itu tertawa dan nampaklah giginya yang ompong. Ia menepuk-nepuk tangan dan berkata, “Bagus sekali! Itulah impian yang amat baik artinya. Nona Ceng Si, setelah Kiang-wangwe sendiri bermimpi seperti itu, jelas bahwa perjodohan ini adalah kehendak Thian! Kau tidak bisa menolak kehendak Thian.”

Hanya Kiang Liat yang tahu betapa wajah pelayan itu menjadi pucat sekali dan jelas nampak kegugupannya ketika mendengar kata-kata Kiang Liat tadi. Hanya untuk sekilas gadis pelayan itu mengerling kepadanya, akan tetapi di dalam kerlingan ini, Kiang Liat menangkap pandang mata yang penuh keheranan, kekagetan, dan kebencian. Adapun Bi Li memandang kepada suminya dengan berterima kasih.

Ceng Si menundukkan mukanya. “Baiklah. Kalau Wan-gwe dan Hujin mendesak, saya pun tak dapat membantah. Nasib hidupku memang berada di tangan kedua majikanku.” Kata-kata yang perlahan ini diikuti oleh mengalirnya air mata.

Hari pernikahan ditetapkan dan beberapa pekan kemudian, dilangsungkan pernikahan antara Cia Sun dan Ceng Si. Setelah pelayan itu dibawa pergi oleh suaminya, Bi Li merasa seakan-akan batu yang selama ini menggencat hatinya telah dilenyapkan. Ia merasa lega sekali dan mukanya yang selama ini agak pucat, kini menjadi agak kemerahan dan bercahaya. Sikapnya terhadap suaminya makin manis dan setiap hari ia nampak gembira sekali. Biarpun terheran-heran dan ingin sekali tahu rahasia apakah gerangan yang tersembunyi di dalam hubungan antara isterinya dan Ceng Si, namun Kiang Liat tidak tega untuk mendesak isterinya membuka rahasia itu. Ia terlalu cinta dan terlalu sayang kepada Bi Li, kepercayaannya sudah bulat.

***

Setelah Ceng Si meninggalkan rumah gedung itu, Bi Li benar-benar kelihatan seperti hidup baru. Ia nampak berbahagia sekali, perhatiannya kepada puterinya bertambah, dan kasih sayangnya terhadap suami pun makin mesra. Tentu saja Kiang Liat merasa beruntung sekali dan sepasang suami isteri ini hidup dalam keadaan tenteram dan penuh kebahagiaan. Puteri mereka, Kiang Im Giok, nampak makin mungil dan manis. Memang luar biasa sekali anak ini. Tubuhnya montok dan sehat, kulitnya halus dan putih kemerahan, bentuk tubuhnya demikian sempurna sehingga sukarlah mencari cacatnya. Biarpun masih kecil, sudah kelihatan betapa sepasang matanya bercahaya dan bening, rambutnya hitam dan subur. Tidak mengherankan apabila ayah bundanya amat sayang kepadanya.

Beberapa bulan lewat tanpa ada peristiwa yang luar biasa. Pada suatu hari, ketika sepasang suami isteri ini sedang duduk makan angin di ruang depan dan menimang-nimang Im, Giok, dari pekarangan luar masuk seorang laki-laki setengah tua berpakaian pengemis. Kiang Liat yang berpendengaran tajam, cepat menoleh dan begitu melihat pengemis itu, wajahnya berubah girang sekali.

“Suhu Han Le datang…” bisiknya kepada Bi Li yang juga memandang dengan heran.

Keduanya berdiri dan menyambut dengan penuh kehormatan. Han Le tersenyum-senyum dan pendekar sakti ini memandang kepada Im Giok dengan pandang mata kagum.

“Aduh, puterimu ini benar-benar mengagumkan sekali, Kiang Liat!” katanya sambil mengelus-elus kepala Im Giok yang baru berusia dua tahun.

Setelah dipersilakan duduk dan dikeluarkan hidangan, Han Le makan minum tanpa sungkan-sungkan lagi, kemudian ia menuturkan maksud kedatangannya.

“Muridku, sekarang ada pekerjaan penting sekali untuk kita. Ketahuilah, dunia kang-ouw sedang menghadapi ancaman dan bahaya hebat dan pada bulan Lak-gwe (bulan enam) nanti adalah saat penentuan apakah dunia kang-ouw akan dapat menyetamatkan diri atau tidak.” Han Le lalu menuturkan tentang pergerakan dari kaum Mo-kauw yang dipimpin oleh Thian-te Sam-kauwcu, tiga orang tokoh besar aneh yang menjadi guru dari Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko. Di samping mereka ini, masih banyak sekali tokoh-tokoh Mokauw yang berilmu tinggi. Kini pihak Mo-kauw mulai dengan gerakan mereka memusuhi dunia kang-ouw, dengan jalan mencuri kitab ilmu silat dari Siauw-lim-pai dan pedang dari Kun-lun-pai.

“Supekmu Bu Pun Su telah turun tangan dan siap sedia menghadapi mereka. Kita boleh percaya penuh akan kelihaian Bu Pun Su Suheng, akan tetapi, Thian-te Sam-kauwcu dan kawan-kawannya bukanlah orang-orang biasa, melainkan iblis-iblis dan siluman-siluman yang sakti. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu supekmu Bu Pun Su.”

“Akan tetapi, Suhu. Mungkin Suhu merupakan bantuan yang amat berharga bagi Supek, sedangkan teecu…? Baru menghadapi Pek Hoa Pouwsat saja teecu tidak berdaya. Tentu saja teecu sama sekali tidak merasa takut dan untuk membela Supek, teecu siap mempertaruhkan jiwa raga teecu.”

“Betul kata-katamu itu, Kiang Liat. Aku pun tidak begitu bodoh untuk minta kau menghadapi mereka. Aku hanya minta kau membantuku mencari beberapa orang yang kiranya akan merupakan tandingan yang setimpal menghadapi pihak Mo-kauw.”

“Siapakah mereka itu, Suhu? Teecu siap untuk mencari mereka.”

“Orang pertama adalah Swi Kiat Siansu yang kini berada di barat. Orang ke dua Pok Pok Sianjin yang kabarnya berada di utara. Mereka ini takkan mau turun gunung kalau tidak aku sendiri yang datang dan membujuk mereka. Kiranya hanya dua orang inilah yang kepandaiannya sudah setingkat dengan pihak Mo-kauw. Selain mereka berdua, alangkah baiknya kalau bisa mendatangkan Bun Sui Ceng dan The Kun Beng.” Han Le menghela napas panjang ketika menyebut nama dua orang ini.

“Siapakah mereka dan di mana tempat tinggal mereka, Suhu?” Kiang Liat tertarik mendengar nama orang-orang yang amat dipuji oleh gurunya dan yang belum ia kenal itu.

“Mereka adalah orang-orang luar biasa. Keduanya mempunyai hubungan erat dengan supekmu Bu Pun Su. Bun Sui Ceng adalah reorang pendekar wanita gagah perkasa, murid tunggal dari mendiang Kiu-bwe Coa-li tokoh wanita nomor satu di dunia kang-ouw. Adapun yang bernama The Kun Beng adalah murid ke dua dari mendiang Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yakni sebenarnya ia adalah sute (adik seperguruan) dari Swi Kiat Siansu. Namun seperti juga Bun Su Ceng, dia memiliki watak yang amat aneh dan sukar diajak berunding. The Kun Beng dahulu menjadi tunangan Bun Sui Ceng, akan tetapi mereka berpisah dan entah bagaimana keadaan mereka sampai saat ini. Aku tidak sanggup menghadapi mereka, maka kaulah yang kuminta menemui dua orang aneh itu. Kalau kau berhasil membawa mereka pada bulan Lak-gwe menghadapi pihak Mo-kauw, kau berjasa besar sekali, Kiang Liat.”

“Akan tetapi, murid belum pernah mengenal mereka dan tidak tahu di mana mereka berada, Suhu. Bagaimana teecu dapat mencari mereka?”

“Mereka memang orang-orang aneh dan sukar sekali mencari tahu di mana mereka berada. Baiknya aku belum lama ini mendengar bahwa Bun Sui Ceng sekarang bertapa di sebuah pulau kosong yang terletak tidak jauh dari pantai timur di mana Sungai Huai-kiang memuntahkan airnya ke laut. Dan aku percaya bahwa di mana ada Bun Sui Ceng, tentu tak jauh dari situ kau dapat menjumpai The Kun Beng, karena dia ini selalu membayangi bekas tunangan yang dicintanya.”

“Baik, Suhu. Teecu akan berusaha mencari mereka. Akan tetapi kalau sudah bertemu, apakah yang harus teecu katakan?”

“Katakan tentang munculnya tiga iblis yang sekarang menjadi pucuk pimpinan Mo-kauw, tentang perbuatan mereka mencuri kitab Siauw-lim-pai dan pedang Kun Lun-pai. Beritahukan pula bahwa pada nanti hari-hari pertama dari bulan Lak-gwe, pihak Mo-kauw itu menantang kepada kita untuk menentukan keunggulan di tikungan Sungai Yalu Cangpo, di mana sungai itu membelok ke barat, yakni di sebelah barat Gunung Heng-tuang-san.”

“Bagaimana kalau mereka menolak, Suhu?”

“Itulah yang kukhawatirkan. Akan tetapi, coba kau membujuknya. Terutama sekali katakan bahwa supekmu Bu Pun Su yang diancam oleh pihak Mo-kauw, dan bahwa pihak Mo-kauw lihai sekali sehingga Bu Pun Su Suheng takkan kuat menghadapi lawan kalau mereka berdua tidak mau membantu.”

Setelah menceritakan semua maksud kedatangannya, Han Le lalu pergi untuk mencari Swi Kiat Siansu dan Pok Pok Sianjin. Para pembaca cerita Pendekar Sakti tentu masih ingat akan nama-nama ini. Swi Kiat Siansu adalah murid pertama dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, sedangkan Pok Pok Sianjin adalah murid dari Hek I Hui-mo.

Kiang Liat sendiri lalu meninggalkan pesan kepada isterinya agar supaya baik-baik menjaga Im Giok. Bi Li menangis dan merasa berat sekali ditinggal pergi oleh suaminya.

“Jangan khawatir, isteriku yang baik. Aku pergi bukan untuk melakukan hal yang berbahaya, melainkan untuk minta bantuan orang pandai. Sungguhpun demikian, tugasku ini penting sekali. Sekarang sudah bulan dua, tinggal empat bulan lagi waktunya, maka aku harus cepatcepat pergi mencari dua orang pandai itu sebagaimana yang diperintahkan oleh Suhu.”

Akhirnya Bi Li melepas suaminya pergi dan Kiang Liat berangkat menunggang seekor kuda yang baik.

***

Sebulan kemudian, Kiang Liat sudah menukar kudanya dengan sebuah perahu yang membawanya terapung-apung di laut sebelah timur. Dari para nelayan ia mendapat keterangan bahwa di dekat pantai di mana air Sungai Huai-kiang mengalir ke laut itu hanya terdapat tiga buah pulau kosong yang tidak ada penghuninya. Hatinya girang karena kalau hanya tiga saja pulau yang berada di situ, mudah kiranya mencari wanita sakti yang bernama Bun Sui Ceng.

Perahu yang dibeli oleh Kiang Liat adalah perahu yang baru dan kuat sekali, layarnya juga masih baru, terbuat dari kain yang tebal. Dayungnya juga baik sekali, maka pelayarannya maju dengan laju. Belum jauh ia meninggalkan pantai, tiba-tiba ia mendengar suara orang bernyanyi. Kiang Liat merasa heran sekali karena dari manakah datangnya suara nyanyian di atas lautan yang sunyi itu? Ia menengok dan terlihatlah olehnya sebuah perahu butut dengan layar bertambal-tambal sedang berlayar meninggalkan pantai. Jarak antara dia dan perahu butut itu masih amat jauh, sehingga orang yang duduk di dalam perahu itu tidak kelihatan jelas, akan tetapi suara orang yang bernyanyi itu demikian jelas terdengar olehnya. Ia merasa terkejut sekali. Mungkinkah ada orang memiliki lwee-kang demikian hebatnya? Atau barangkali kebetulan saja suara itu terbawa oleh angin laut yang meniup kencang?

Karena tertarik, ia memandang penuh perhatian. Setelah perahu butut yang ternyata cepat sekali gerakannya itu datang mendekat, ia melihat samar-samar bahwa penumpangnya adalah seorang laki-laki setengah tua yang pakaiannya tidak karuan, seperti seorang pengemis. Orang. itu mendayung perahunya dan Kiang Liat melihat hal yang amat aneh. Ia tahu bahwa angin bertiup kencang dan perahunya sendiri pun amat laju oleh tiupan angin pada layar. Dalam keadaan seperti ini, dayung tidak perlu digunakan lagi, karena betapapun kuatnya orang mendayung perahu, takkan dapat melawan kekuatan tenaga angin meniup layar. Akan tetapi anehnya, perahu butut yang sudah digerakkan oleh layar yang melengkung terhembus angin, masih terdorong cepat ke depan tiap kali orang itu menggerakkan dayungnya. Ini menandakan bahwa tenaga dorongan dayung itu masih lebih hebat dan lebih kuat daripada tenaga tiupan angin pada layar tambal-tambalan itu!

Tiba-tiba Kiang Liat yang sudah memandang terheran-heran itu, mengeluarkan seruan kaget. Betapa ia takkan kaget kalau melihat perahu butut itu tiba-tiba amblas dengan kepala lebih dulu ke dalam air dan sekejap mata kemudian, perahu berikut layar dan orangnya lenyap dari permukaan air!

“Celaka…!” serunya. “Perahu itu telah karam…!” Akan tetapi ia merasa heran sekali. Bagaimana perahu dapat karam seperti itu? Lebih tepat kalau dikatakan bahwa perahu itu sengaja menyelam dengan kepala di depan. Akan tetapi mungkinkah ini? Mana bisa ada orang menyelam berikut perahu dan layarnya!

“Dukk!” Kiang Liat tersentak kaget. Tanpa ia ketahui karena sejak tadi ia menoleh ke belakang, tahu-tahu kini perahunya menumbuk sebuah benda yang keras, besar dan berat. Ia memandang dan melihat bahwa perahunya telah bertumbukan dengan sebuah perahu besar dan terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh di atas perahu besar itu.

Baiknya Kiang Liat cepat-cepat menggerakkan dayung untuk mengatur gerak perahunya sehingga perahunya tidak sampai tenggelam. Akan tetapi terdengar suara keras dan tiang layarnya patah. Bukan main mendongkolnya hati Kiang Liat. Ia berdiri di dalam perahunya dan berdongak memandang ke atas. Dari perahu besar itu ia mendengar suara tertawa lagi, kemudian lapat-lapat ia mendengar suara khim (alat tetabuhan) yang dimainkan orang, lalu disusul oleh suara nyanyian wanita.

“Kurang ajar! Siapa berani main-main dan sengaja menabrak perahuku?” seru Kiang Liat marah. Tidak ada jawab dari petahu besar yang kini tidak bergerak lagi dan masih menempel dengan perahunya. Saking jengkelnya, Kiang Liat mengayun dayungnya, memukul badan perahu besar sekuat tenaga.

“Krakk!” Perahu besar bergoyang keras, akan tetapi badan perahu tidak apa-apa, sebaliknya dayung yang dipegangnya patah dan ujungnya hancur berkeping-keping. Ketika ia meraba dengan tangannya, ternyata olehnya bahwa badan perahu besar itu berlapiskan besi.

Suara khim berhenti dan sebuah kepala yang besar nongol dari atas pinggiran perahu besar, diikuti makian,

“Demi setan air! Siapakah yang berani mampus memukul perahu!” Suara itu parau dan ketika Kiang Liat memandang ke atas, ia melihat muka yang kulitnya kasar dan bopeng, dengan sepasang mata bundar dan hidung pesek.

“Jahanam!” Kiang Liat balas memaki. “Perahumu yang menabrak perahuku. Apakah kau buta?”

Si Muka Bopeng menyeringai dan Kiang Liat mendengar suara wanita dari atas perahu besar, “Tiat-thouw-gu (Kerbau Kepala Besi), apakah orang she Kiang yang berada di bawah itu?”

Kiang Liat terkejut sekali. Bagaimana ada orang dapat mengenalnya? Siapakah wanita itu?

Si Muka Bopeng yang disebut Tiat-thouw-gu menjawab, “Agaknya betul dia, Wi Wi Toanio. Apakah aku boleh menabrak dan menggulingkan perahunya agar ia mampus di perut ikan?”

“Jangan! Undang ia ke atas, aku ingin menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu silatnya,” jawab suara wanita itu.

Tiat-thouw-gu memandang kepada Kiang Liat, menyeringai, “Eh, bukankah kau orang she Kiang dari Sian-koan?”

“Babi muka hitam, aku betul Kiang Liat dari Sian-koan! Apakah alasannya maka manusia-manusia rendah macam engkau berani menghinaku?”

“Ha, ha, ha, suaramu besar sekali, bocah. Kau mendengar sendiri tadi, Wi Wi Toanio minta kau naik. Beranikah kau?”

“Mengapa tidak berani?” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menggenjot tubuhnya dan dengan gerakan ringan sekali ia telah melompat ke atas. Untuk menjaga diri agar jangan ia dibokong musuh, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang sambil melompat ke atas perahu besar. Ketika ia sudah berdiri di dalam perahu, ia menghadapi banyak orang yang kelihatannya rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Di tengah rombongan orang yang menumpangi perahu besar itu, ia melihat seorang wanita setengah tua yang cantik sekali, berdiri dengan sepasang pedang di tangan, sedangkan di sebelahnya berdiri seorang laki-laki setengah tua berpakaian mewah yang juga tampan dan gagah. Dan di kepala perahu terdapat tiga patung sebesar manusia, patung tiga orang laki-laki yang aneh, yang seorang tinggi kurus seperti tengkorak, yang kedua kurus bongkok bermata sipit dan yang ke tiga, di tengah-tengah, tinggi besar, seperti raksasa. Kiang Liat tidak tahu patung siapakah itu. Akan tetapi melihat wanita dan laki-laki yang nampaknya halus gerak-geriknya itu ia tidak berani sembarangan, bahkan menjura dengan hormat.

“Tidak tahu siapakah Cu-wi sekalian dan mengapa pula mengganggu aku orang she Kiang.”

Wanita itu tersenyum dan nampak ia manis sekali. Kiang Liat dapat menduga bahwa dahulu di waktu mudanya, wanita ini tentu cantik sekali.

“Kiang-enghiong, bukankah kau murid Han Le dan kau disuruh oleh gurumu untuk mencari bala bantuan guna membantu Bu Pun Su?”

Kembali Kiang Liat tertegun. Bagaimana orang ini dapat mengetahui semua urusannya?

“Apa yang sedang kukerjakan, sedikitpun tidak ada sangkut-pautnya dengan Cu-wi sekalian. Sekarang, apa yang Cuwi kehendaki maka menghadang perjalananku?” kata Kiang Liat, sedikit pun tidak merasa gentar menghadapi orang yang dua puluh lebih banyaknya itu.

Terdengar suara orang-orang itu tertawa, dan wanita itu berkata,

“Kiang-enghiong, aku adalah Wi Wi Toanio dan gurumu tentu akan mengerti mengapa aku menghadang pelayaranmu di sini. Sudah lama aku mendengar akan kelihaian Han Le, maka sekarang bertemu dengan kau yang menjadi muridnya, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu. Sesungguhnya, kewajibanku ialah untuk melenyapkan kau di tempat ini, akan letapi aku tidak mau berlaku kejam terhadap seorang muda seperti kau ini. Marilah kita main-main sebentar sebelum aku mengajak kawan-kawanku berunding apa yang akan kami lakukan atas dirimu.”

Kiang Liat menjadi marah sekali. Terang bahwa ia dipandang ringan, dan ia maklum pula bahwa orang-orang ini tentulah bukan kawan, dan kalau bukan musuh besar gurunya, tentu musuh besar Bu Pun Su atau setidaknya anak buah Mo-kauw yang dipimpin oleh Thian-te Sam-kauwcu. Teringat akan ini tiba-tiba ia menoleh ke arah tiga buah arca di kepala perahu dan ia berkata,

“Hm, salahkah dugaanku bahwa tiga buah patung itu adalah arca-arca dari Thian-te Sam-kauwcu?”

“Matamu awas sekali, Kiang-enghiong. Memang, mereka itu adalah arca-arca dari ketiga ketua kami yang mulia,” kata Wi Wi Toanio.

“Kalau begitu, kalian adalah anggauta-anggauta Mo-kauw!”

“Benar, bersiaplah kau dengan pedangmu!”

Kiang Liat maklum bahwa tidak ada lain jalan baginya kecuali bertempur mati-matian. Ia sudah banyak mendengar dari suhunya akan kekejaman orang-grang Mo-kauw yang tidak mau memberi ampun kepada orang yang mereka musuhi. Sambil menggereng hebat, Kiang Liat menggerakkan pedang menangkis tusukan Wi Wi Toanio yang sudah mulai menyerangnya. Segera terjadi pertempuran sengit antara dua orang ini. Yang lain-lain berdiri mengelilingi dan menonton.

Sepasang pedang di tangan Wi Wi Toanio benar-benar lihai sekali. Gerakannya cepat dan aneh, tenaga lwee-kangnya pun hebat sekali. Bahkan, dengan terus terang Kiang Liat harus mengaku bahwa dalam hal kecepatan dan tenaga dalam, ia masih kalah oleh lawannya ini. Baiknya ia memiliki ilmu pedang warisan Kiang yang sudah diperkuat dan diperhebat oleh gurunya, maka ia dapat melakukan penjagaan diri yang kuat.

Wi Wi Toanio penasaran dan terheran-heran. Sudah tiga puluh jurus mereka bertempur, belum juga ia mampu mendesak orang muda itu. Laki-laki tadi berdiri di dekatnya, mengeluarkan seruan heran dan berkata dengan suaranya yang halus,

“Aneh sekali, aku berani bertaruh bahwa ini bukan Hun-khai-kiam-hoat Ang-bin Sin-kai!”

Mendengar seruan ini, diam-diam Kiang Liat mengeluh. Tidak saja wanita yang menjadi lawannya ini tangguh sekali, juga seruan laki-laki tadi menyatakar bahwa laki-laki itu pun seorang ahli silat yang pandai. Tidak sembarangan ahli silat dapat mengenal Hun-khai-kiam-hoat, dan laki-laki itu dapat menyatakan bahwa ilmu pedangnya bukan Hun-khai-kiam-hoat. Karena tahu bahwa ia dikepung oleh orang-orang Mo-kauw yang tinggi kepandaiannya, Kiang Liat menjadi nekat. Pedangnya digerakkan dengan cepat dan ia mengeluarkan seluruh kepandalan yang ia dapat dari Han Le selama satu tahun.

Usahanya berhasil baik. Wi Wi ‘I’oanio mengeluarkan seruan kaget dan dalam beberapa gebrakan, Wi Wi Toanio dapat terdesak mundur oleh serangan Kiang Liat, orang muda ini telah mengeluarkan tiga jurus ilmu pedang yang disempurnakan oleh Han Le, yakni pertama-tama ia menyerang dengan gerak tipu Pek-in-koan-goat (Awan Putih Menutup Bulan), lalu disambung dengan Sin-eng-liap-in (Garuda Mengejar Awan), dan akhirnya ia menyerang terus tanpa menghentikan pedangnya dengan gerak tipu Sian-jin-hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan). Tiga serangan berantai ini merupakan puncak dari ilmu pedangnya yang oleh Han Le disebut Lian-cu-sam-kiam (Tiga Tikaman Pedang Berantai) dan amat lihai gerakannya. Tiga jurus serangan ini dapat dilakukan terus-menerus dan ganti-berganti karena dari jurus pertama ke jurus ke dua atau ke tiga mempunyai hubungan yang amat dekat dan dapat disambung menurut sesuka hatinya.

Wi Wi Toanio adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi. Pembaca dari cerita Pendekar Sakti tentu masih ingat bahwa Wi Wi Toanio adalah isteri dari An Kai Seng, keturunan dari An Lu Shan. Juga Wi Wi Toanio inilah yang dengan kecantikannya yang luar biasa telah menjatuhkan hati Bu Pun Su dan menyeret Pendekar Sakti itu ke dalam lumpur kehinaan. Semenjak dikalahkan oleh Bu Pun Su, suami isteri ini mempelajari ilmu silat tinggi dan akhirnya mereka bersekutu dengan pihak Mo-kauw, menjadi anggauta pimpinan yang disegani. Pihak Mo-kauw memang mempunyai banyak orang pandai dan mempunyai pengaruh yang luas sekali. Maka tidak begitu mengherankan apabila mereka sudah dapat mencium bau tentang tugas yang dijalankan oleh Kiang Liat untuk mengundang dua orang pandai untuk membantu Bu Pun Su. Maka Wi Wi Toanio bersama suaminya dan beberapa orang Mo-kauw segera ditugaskan untuk mencegat perjalanan Kiang Liat dan kalau perlu membunuh orang muda ini.

Akan tetapi, kini menghadapi serangan Lian-cu Sam-kiam dari Kiang Liat, Wi Wi Toanio terkejut bukan main. Ia masih bergerak cepat untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi gerakan yang aneh dari pedang Kiang Liat masih berhasil membabat ujung lengan bajunya yang hampir membabat putus jari tangan kiri sehingga sambil berseru kaget wanita ini melompat ke belakang dan melepaskan pedang kirinya!

“Gempur dia!” bentak An Kai Seng marah sambil menyerang dengan pedangnya. Di lain saat, Kiang Liat sudah dikeroyok oleh dua puluh orang lebih yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Kiang Liat kewalahan, apalagi perahu ltu bergoyang-goyang karena gerakan banyak orang. Dalam amukannya Kiang Liat berhasil merobohkan dua orang dan ia terdesak sampai ke pinggir perahu.

Tidak ada lain jalan bagi Kiang Liat. Di atas perahu yang berguncang itu, ia tidak dapat bersilat sebagaimana mestinya, maka untuk mencegah agar ia jangan terjengkang ke dalam air, ia lalu melirik ke bawah. Girang hatinya melihat perahunya masih menempel di pinggir perahu besar, maka sambil memutar pedang sehingga para pengeroyoknya mundur, ia lalu melompat ke arah perahu kecilnya itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat tiba-tiba perahu kecilnya bergerak, meluncur maju cepat sekali sehingga tak dapat dicegah lagi, Kiang Liat jatuh ke dalam air! Air muncrat tinggi dan Kiang Liat menelan air asin. Cepat ia menahan napas dan mumbul lagi ke permukaan air, menggerak-gerakkan kaki tangan sehingga ia dapat bertahan mengambang di atas air. Ia bukan seorang ahli renang, namun kalau hanya menahan diri agar jangan tenggelam saja, ia masih bisa.

Dengan hati mendongkol dan juga heran, Kiang Liat melihat bahwa yang membikin perahu kecilnya terdorong maju adalah seorang laki-laki setengah tua. Laki-laki ini tiba-tiba saja muncul di permukaan air bersama perahu kecilnya berikut layar tambal-tambalan dan ia ini bukan lain adalah laki-laki yang tadi bernyanyi-nyanyi dan kemudian tenggelam bersama perahunya!

Dengan enaknya, laki-laki itu mempergunakan perahu mendorong perahu Kiang Liat. Ketika Kiang Liat melihat perahunya, ia bergidik. Perahunya telah penuh dengan anak panah yang menancap di seluruh badan perahu. Kalau tadi la berhasil melompat ke dalam perahu, ia bersangsi apakah ia akan dapat menangkis hujan anak panah itu.

Kini ia melihat orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh kepadanya. Orang setengah tua ini rambutnya awut-awutan, tubuhnya panjang kurus dan mukanya berkeriput. Namun bentuk mukanya masih dan gagah. Ia hanya satu kali terkekeh kepada Kiang Liat, kemudian tubuhnya tiba-tiba saja melayang naik ke perahu besar.

Kiang Liat ternganga keheranan. Ia sudah sering kali melihat ahli-ahli silat tinggi bergerak, akan tetapi baru kali ini ia melihat orang melompat seperti kakek itu. Perahu kecil yang ditinggalkannya sama sekali tidak bergoyang dan ketika kakek tadi melompat, seakan-akan ia bersayap dan terbang ke atas begitu saja!

Terdengar suara gaduh di atas perahu, disambung oleh suara ketawa dan jerit kesakitan. Tak lama kemudian, sesosok bayangan melayang turun dan tahu-tahu kakek tadi telah berada di atas perahu Kiang Liat yang penuh anak panah.

“Locianpwe harap tinggalkan nama!” terdengar suara Wi Wi Toanio dari atas perahu.

Orang tua itu tertawa bergelak. “Wi Wi Toanio, aku datang dan pergi tak pernah memperkenalkan nama!”

“Kau tetah menghina dan merusak patung Sam-kauwcu!” terdengar suara lain, suara laki-laki.

Orang itu tertawa bergelak, “Ha,ha, beritahukan kepada Thian-te Sam-kauwcu supaya mereka jangan terlalu sombong dengan patung-patungnya!”

Perahu besar itu tadinya tidak bergerak, akan tetapi kini perahu itu mulai bergerak pergi setelah orang-orangnya memasang layar. Agaknya mereka takut sekali menghadapi orang aneh tadi. Orang itu pun hanya tertawa saja melihat perahu itu pergi dari situ. Kiang Liat memandang kagum dan heran, akan tetapi tak lama kemudian ia mendongkol sekali karena tanpa menoleh kepadanya, laki-laki itu mendayung perahu dan pergi dari situ.

Kiang Liat hendak memperingatkan orang itu bahwa perahu mereka tertukar, akan tetapi ia menahan niatnya. Agaknya orang itu sengaja menukar perahu yang butut itu dengan perahunya yang masih baik, akan tetapi mengingat orang itu telah menolongnya, pantaskah kalau ia ribut-ribut urusan perahu tertukar? Kekuatan orang itu luar biasa sekali dan sebentar saja perahunya telah lenyap dari pandangan matanya.

Biarpun mendongkol, Kiang Liat merasa beruntung juga bahwa peristiwa itu lewat tanpa mendatangkan bencana kepadanya. Perahu yang ia duduki itu butut, akan tetapi layarnya yang tambal-tambalan masih ada. Ia benar-benar tak dapat mengerti bagaimana orang itu tadi dapat menyelam bersama perahunya termasuk layar-layarnya! Angin bertiup dan cepat-cepat Kiang Liat memegang tali layar untuk mengemudikan perahunya, menuju ke pulau kecil yang kelihatan samat-samar dari situ.

Tak lama kemudian sampailah ia di sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon-pohon liar. Ketika ia mendaratkan perahunya dan menurunkan layar, ia melihat sebuah perahu penuh anak panah di tepi pantai. Hatinya berdebar. Tak salah lagi, orang setengah tua yang aneh tadi telah mendarat pula di pulau itu!

Baru saja Kiang Liat melompat ke darat, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu ia berhadapan dengan seorang wanita baju putih yang kurus. Wanita itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya agak pucat akan tetapi masih kelihatan cantik. Sepasang alisnya dikerutkan dan bibirnya ditekuk sedemikian rupa sehingga kelihatannya galak dan gagah sekali. Tangan kanan wanita itu memegang sebatang cambuk yang ujungnya bercabang-cabang.

“Bocah lancang kurang ajar, berani sekali kau mendarat di pulau tanpa ijin!” wanita itu berseru marah dan cambuknya menyambar ke arah Kiang Liat.

Kiang Liat kaget sekali. Sambaran cambuk itu mendatangkan angin dingin dan cepat ia melompat ke belakang sambil mencabut pedangnya, karena ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang yang lihai. Akan tetapi, cambuk itu aneh sekali gerakannya. Biarpun sabetan pertama tidak mengenai sasaran, namun seakan-akan lengan wanita itu bisa terulur panjang dan cambuk itu kembali menyerang. Kini ujung cambuk yang begitu bercabang-cabang itu bergerak-gerak seperti ular, menyerang ke jalan darah di tujuh bagian!

Kiang Liat berseru keras dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuh. Akan tetapi, tiba-tiba ia merasa tubuhnya kaku. Pedangnya terlilit oleh sebatang ujung cambuk dan pundaknya kena ditotok, membuat ia seketika merasa kaku tubuhnya dan di lain saat itu rebah lemas, pedangnya terampas!

Wanita itu tertawa mengejek, memasukkan pedang rampasan ke dalam sarung pedang yang tergantung di pinggang Kiang Liat, kemudian menyeret tubuh Kiang Liat pada lengannya, dibawa naik ke atas bukit. Di atas bukit itu, seorang laki-laki setengah tua telah menantinya dan Kiang Liat melihat bahwa laki-laki itu adalah orang aneh yang tadi telah menolongnya di atas laut ketika ia dikeroyok orang-orang Mo-kauw.

“Sui Ceng, apakah benar-benar kau begitu tega hati dan berkeras membiarkan aku bersengsara dan mati dalam keadaan hidup?” terdengar laki-laki itu berkata. Kiang Liat menjadi kaget sekali. Tidak tahunya bahwa wanita yang ganas dan lihai ini adalah Bun Sui Ceng, orang dicari-carinya dan yang disebut oleh gurunya sebagai wanita yang lihai. Memang ia wanita lihai sekali, akan tetapi kalau wataknya demikian ganas, tipis sekali harapan minta tolong kepada orang macam ini, pikir Kiang Liat.

“Kun Beng, kau sudah tua, akan tetapi mengapa hatimu tetap muda? Cih, benar-benar tidak tahu malu!” jawab wanita itu.

Kun Beng menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya. “Sui Ceng jangan kau salah duga. Sudah lama aku dapat mengalahkan nafsu dan semua kata-kataku terhadapmu bukan sekali-kali didorong oleh nafsu, melainkan didorong oleh hasratku hidup seperti manusia biasa. Apakah kau juga ingin mati dan meninggalkan dunia begitu saja tanpa meninggalkan keturunan yang akan menyambung riwayat hidupmu?”

Sui Ceng, atau lengkapnya Bun Sui Ceng murid Kiu-bwee Coa-li, membanting-banting kakinya dan keningnya dikerutkan. “Menyebalkan, menyebalkan! Kun Beng, seperti kau tidak tahu saja. Apa sih baiknya hidup? Penuh penderitaan, penuh kepalsuan, penuh penyesalan dan penuh keributan-keributan! Siapa ingin mempunyai keturunan untuk merasakan semua penderitaan ini? Tidak, cukup diderita oleh kita sendiri, jangan menurunkan nyawa lain untuk mengalami pahit getir seperti yang kita alami. Sudahlah mari kita habiskan hidup dengan berlumba, siapa yang lebih cepat maju!”

Kun Beng kelihatan sedih sekali. “Sui Ceng, tak kusangka bahwa kau berhati yang dingin dan keras. Akan tetapi, aku tetap tidak percaya. Kau sengaja mengeraskan hati, padahal aku yakin bahwa kau masih mencinta padaku. Sui Ceng, apakah sampai puluhan tahun kau masih saja belum dapat mengampuni kesalahan-kesalahanku?”

Mendengar percakapan ini, Kiang Liat menjadi terharu dan juga jengah. Tanpa disengaja, ia mendengarkan percakapan dari dua orang tua tentang cinta kasih, dua orang yang bicara mengenai hal demikian gawat secara begitu saja di depannya, tanpa tedeng aling-aling!

“Kun Beng,” suara Sui Ceng terdengar lembut, agaknya kata-kata Kun Beng tadi mengharukan hatinya. “Bukan aku yang keras hati, melainkan kaulah. Cinta kasihmu sampai puluhan tahun belum padam, benar-benar menandakan bahwa kau berhati sekeras baja. Akan tetapi, seperti juga dulu telah kukatakan kepadamu berkali-kali, kalau tidak salah sudah empat belas kali kau datang menyusul dan membujukku, aku akan menuruti kehendakmu kalau kau sudah bisa mengalahkan cambukku!”

Kun Beng menundukkan kepalanya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala itu. “Sui Ceng, ke mana saja kau pergi, aku mencari dan menyusulmu. Sampal kau lari ke Go-bi-san, ke perbatasan Mongol, ke rimba raya di lembah Huang-ho, aku menyusulmu. Akan tetapi kau tahu bahwa aku tidak dapat menurunkan tangan untuk bertanding silat denganmu, aku tidak dapat mengalahkanmu. Andaikata aku dapat, aku pun tidak akan tega mengalahkanmu. Aku tidak ingin menjadi suamimu karena kekerasan, atau karena kau terpaksa, aku menghendaki kau suka menerimaku sebagai suamimu dengan cinta kasih.”

“Jangan ngaco-belo!” Sui Ceng membentak marah, akan tetapi Kiang Liat maklum bahwa wanita sakti itu terharu sekali, buktinya dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya. “Kun Beng, sudah dua tahun kita tidak bertemu, mari kau melayani cambukku barang seratus jurus!”

Kun Beng menarik napas panjang. “Kau memang doyan berkelahi. Biasanya aku melayanimu supaya kau gembira. Akan tetapi, sekarang aku akan berusaha mengalahkanmu. Siapa tahu kalau-kalau dengan kekalahanmu, akan kalah pula kekerasan kepalamu, Sui Ceng.” Setelah berkata demikian, Kun Beng membuka baju luarnya dan mengeluarkan sebatang tombak yang kelihatannya butut dan kotor, akan tetapi di antara batang yang kotor itu kelihatan kilauan dari logam aselinya.

Sui Ceng mengeluarkan seruan girang dan dengan kaki kirinva ia menendang tubuh Kiang Liat yang tadi menggeletak di depannya karena orang muda ini masih tidak berdaya dan berada dalam keadaan tertotok. Tubuh Kiang Liat terguling sampai lima tombak lebih, akan tetapi ia dapat melompat bangun karena tendangan itu ternyata adalah obat untuk membebaskannya dari totokan. Ia tidak berani sembarangan bergerak hanya duduk di atas tanah dan memandang dengan hati tertarik dan penuh perhatian. Hatinya berdebar. Ia diutus oleh gurunya untuk mencari dan minta bantuan agar dua orang aneh itu, akan tetapi sekarang ia menjumpai mereka dalam keadaan hendak bertarung untuk memperebutkan kebenaran pendapat masing-masing! Benar-benar aneh sekali dua orang ini.

Sui Ceng adalah murid tunggal terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja ilmu silatnya tinggi sekali. Kepandaian tunggal yang istimewa dari Kiu-bwe Coa-li, yakni permainan cambuk, diturunkan kepadanya, maka dalam hal permainan senjata aneh ini, Sui Ceng amat pandai dan tidak kalah lihainya dari mendiang Kiu-bwe Coa-li. Cambuknya itu ujungnya bercabang sembilan dan setiap ujung merupakan senjata maut yang mengerikan. Jangankan sampai kena pukul, baru terkena totokan saja, setiap ujung cabang dapat mencabut nyawa lawan!

Di lain pihak, kepandaian The Kun Beng sudah disaksikan oleh Kiang Liat. Pendekar ini adalah murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, yang telah mewarisi ilmu tombak dari mendiang suhunya. Maka ilmu tombaknya juga jarang ada yang dapat menandingi pada masa itu. Ujung tombak ketika digerakkan tergetar sehingga ujung itu seakan-akan berubah menjadi belasan banyaknya, mengeluarkan suara mendenging yang menyakitkan anak telinga. Setiap tusukan, tangkisan, atau pukulan dari tombak dan gagangnya disertai tenaga lwee-kang yang luar biasa kuatnya.

Demikian, dua orang itu bertempur dengan amat hebatnya. Kadang-kadang keduanya lenyap dari pandangan mata, tertutup oleh selimut dari gulungan sinar senjata mereka. Bahkan Kiang Liat sendiri yang terhitung seorang ahli silat kelas tinggi, menjadi pening dan tidak dapat mengikuti gerakan-gerakan mereka dengan baik. Akan tetapi, setelah bertempur dengan cepat ini sampai puluhan jurus, tiba-tiba mereka kelihatan lagi dan kini pertempuran dilangsungkan tanpa mengalihkan kedua kaki. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak dekat dan hanya kedua tangan mereka saja yang bergerak dan senjata mereka yang menyambar-nyambar pergi datang!

Kiang Liat melongo. Selama hidupnya belum pernah ia melihat pertempuran sehebat ini. Memang pernah ia menyaksikan kepandaian istimewa dari gurunya, Han Le, terutama ia pernah pula mengagumi kehebatan supeknya, Bu Pun Su. Pernah pula ia menghadapi orang-orang lihai seperti Pek Hoa Pouwsat dan lain-lain, akan tetapi belum pernah ia melihat dua orang sakti bertanding sehebat ini! Padahal pertandingan mereka itu hanya “main-main” belaka, bukan untuk saling membunuh, hanya sekedar mengadu limu atau menguji tingkat saja.

Setelah beberapa puluh jurus dilewatkan dengan pertempuran lambat, kembali mereka bertempur cepat. Tiba-tiba terdengar suara “brett” dan melayanglah sehelai robekan kain.

“Sui Ceng, aku mengaku kalah…” kata Kun Beng yang melompat keluar dari kalangan pertandingan. Yang melayang tadi adalah robekan ujung bajunya, rupa-rupanya terkena sabetan cambuk Sui Ceng.

Sui Ceng merengut, mukanya yang agak pucat itu menjadi merah.

“Kau memang laki-laki tahu! Selalu memperlihatkan sifat lemah dan mengalah. Siapa tidak tahu bahwa kau tadi sengaja miringkan gagang tombakmu sehingga ujung cambukku dapat merobek ujung bajumu? Cih, kau selalu mengecewakan hatiku!”

“Aku memang kalah, Sui Ceng,” kata Kun Beng, wajahnya nampak berduka sekali.

Sui Ceng membanting-banting kedua kakinya. Tiba-tiba ia dan Kun Beng menengok ke arah Kiang Liat ketika mendengar orang muda itu berkata,

“Ji-wi telah memperlihatkan kepandaian yang tiada keduanya di kolong langit. Kepandaian Ji-wi Locianpwe seperti kepandaian dewa saja. Boanpwe Kiang Liat yang bodoh merasa beruntung sekali dapat menyaksikan kepandaian hebat itu.” Sambil berkata demikian, Kiang Liat menjura dengan penuh penghormatan.

Sui Ceng tiba-tiba tertawa senang, “Ah, benar juga, Kun Beng. Kau selalu sungkan dan mengalah kalau mengadu kepandaian denganku. Sekarang ada orang muda ahli pedang ini, biar dia yang menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita. Eh, orang she Kiang, cabutlah pedangmu!”

Kiang Liat ragu-ragu, akan tetapi melihat sinar mata wanita sakti itu, ia tidak berani membantah. Dicabutnya pedangnya dan ia memandang kepada Sui Ceng dengan mata bertanya.

Kiang Liat tertegun. Selama hidupnya baru satu kali ini ia menghadapi perintah seaneh ini, yaitu ketika ia bertemu dengan Bu Pun Su, supeknya. Sekarang, lagi-lagi ia menghadapi perintah serupa dari Bun Sui Ceng!

“Boanseng mana berani berlaku kurang ajar?” katanya perlahan.

“Bodoh! Aku sedang menguji kepandaian dengan Kun Beng. Hendak kami lihat di antara kami, siapa yang lebih dulu dapat merobohkanmu. Hayo serang!”

Panaslah perut Kiang Liat. Ia merasa dihina sekali, hendak dijadikan permainan oleh dua orang aheh itu, maka tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia lalu menggerakkan pedangnya, menyerang dengan gerak tipu yang paling lihai dari ilmu pedangnya, yakni Lian-cu Sam-kiam. Serangannya ini hebat dan ilmu pedang ini adalah petunjuk dari Han Le, maka tingkatnya sudah tinggi sekali. Kalau tadi Kiang Liat dengan mudah ditawan oleh Bun Sui Ceng dalam segebrakan saja, adalah karena Kiang Liat diserang tiba-tiba dan ia tidak menyangka sama sekali akan kelihaian Sui Ceng. Akan tetapi sekarang, ia sudah maklum bahwa ia menghadapi seorang yang kepandaiannya jauh mengatasinya, maka begitu menyerang, ia mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa dan mengerahkan semua tenaga lwee-kangnya.

“Ayaaa… bagus sekali ilmu pedang ini!” seru Bun Sui Ceng gembira. Ia melompat, cambuknya terayun dan di tengah udara terdengar suara “tarr-tarr-tarr!” berkali-kali dari ujung-ujung cambuknya. Sui Ceng benar-benar kagum karena ia tidak mengira bahwa orang muda itu mempunyai kiam-hoat yang demikian lihai. Akan tetapi, betapapun hebat ilmu pedang keluarga Kiang yang sudah disempurnakan oleh petunjuk-petunjuk Han Le, tingkat kepandaian Kiang Liat memang jauh lebih rendah. Ia kalah banyak dalam gin-kang, lwee-kang, dan kemahiran gerakan silat. Apalagi memang senjata di tangan Sui Ceng itu benar-benar aneh dan hebat. Dengan mati-matian Kiang Liat membela diri dan membalas dengan jurus-jurus pilihan, namun pada jurus ke tiga belas ia tak dapat mempertahankan diri lagi. Sebatang ujung cambuk di tangan Sui Ceng bagaikan seekor ular telah membelit kaki kanannya dan tanpa dapat dicegah lagi, Kiang Liat terpelanting roboh ketika Sui Ceng menarik cambuknya!

Kiang Liat bangkit berdiri dengan muka merah. Ia tidak merasa sakit. sama sekali, hanya pakaiannya yang menjadi kotor. Setelah mengebut-ngebut pakaiannya, ia menjura kepada Sui Ceng. “Terima kasih atas pelajaran dan petunjuk Locianpwe.”

Sebaliknya, Sui Ceng memandang kepadanya dengan tersenyum girang.

“Baru sekarang aku bertemu dengan seorang muda yang kepandaian ilmu pedangnya demikian tinggi. Tak malu aku mengaku bahwa sampai sekarang pun aku belum dapat mengenal ilmu pedangmu,” katanya.

Terdengar The Kun Beng tertawa terkekeh, “Sui Ceng, biarpun ilmu pedang bocah she Kiang ini lihai, tetap saja dalam tiga belas jurus ia roboh olehmu. Aku mana bisa melakukan hal itu? Sudahlah, aku pun mengaku kalah dalam pertandingan ini.”

“Kau curang!” Sui Ceng membentak, “Mana bisa pertandingan dianggap kalah kalau belum dilakukan? Eh, orang she Kiang, sekarang kaupergunakan pedangmu, seranglah dia si tua bangka itu!”

Diam-diam Kiang Liat merasa kasihan dan terharu mendengar semua percakapan antara dua orang setengah tua ini. Dia sendiri sudah merasakan kebahagiaan berumah tangga, hidup penuh kasih sayang dan saling mencinta dengan Bi Li. Mengapa dua orang aneh ini tak dapat mengecap kebahagiaan itu? Kalau saja aku dapat menjadi perantara atau jembatan agar supaya mereka saling mendapatkan, pikir Kiang Liat.

“Baik, Boanpwe akan menyerang. Awaslah, Locianpwe!” katanya dan pedangnya bergerak cepat menyerang Kun Beng.

“Eh, eh, lihai sekali…” Kun Beng juga memuji dan suaranya gembira. Ahli silat manakah yang tidak gembira menghadapi pertandingan ilmu silat? Ia mengerakkan tombaknya dan terdengar suara berdencing ketika tombak bertemu dengan pedang. Biarpun Kun Beng menangkis perlahan saja, namun Kiang Liat merasa telapak tangannya pedas dan tergetar hebat. Ia terkejut sekali dan bersilat lebih hati-hati. Ia tidak membiarkan pedangnya bertemu dengan tombak.

Akan tetapi setelah bertanding beberapa jurus, tahulah Kiang Liat bahwa lagi-lagi kakek ini mengalah terhadap Sui Ceng. Kalau tadi dengan cambuknya, Sui Ceng menyerangnya dengah hebat, penuh nafsu untuk cepat-cepat merobohkan, adalah Kun Beng ini lebih banyak bertahan daripada menyerang. Kiang Liat tidak mau membiarkan hal ini terjadi, maka pada jurus ke sepuluh, ia tidak menarik kakinya yang kena diserampang oleh tombak dan tergulinglah dia!

Kun Beng berdiri terpaku, Sui Ceng tertawa geli, dan Kiang Liat merayap bangun.

“Kun Beng, kali ini kau menang!” kata Sui Ceng.

“Benar, dan Ji-wi Locianpwe sekarang dapat melanjutkan perjodohan itu!” kata Kiang Liat.

“Bocah lancang, apa maksudmu?” Sui Ceng membentak dan ia telah melompat ke depan Kiang Liat dengan sinar mata bernyala penuh ancaman.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: